February 25, 2009

Laras Bahasa: Saya 'Ulun' Lampung Bukan Orang Lain

Oleh Udo Z. Karzi*


DULU, jauh sebelum memopulerkan ulun Lampung (ada juga yang menuliskan dengan ulun Lappung), saya sempat protes ke mana-mana soal pemakaian kata ulun. Bukankah ulun itu bersinonim dengan rumpok yang berarti orang lain? Waktu kecil, saya akrab dengan kalimat yang dianggap kurang ajar seperti ini: "Beni sapa inji (Punya siapa ini)?" Jawabnya tak kalah kurang ajar: "Beni ulun, lain beram (Punya orang/orang lain, bukan punya kita)."

Dalam konteks ini, ulun memang bukan saya, bukan kita, bukan kami, melainkan orang lain. Kata ulun di sini sinonim dengan rumpok (sama artinya, orang lain). Dalam kasus ini, ulun memang menjauhkan seseorang (out group) dari kelompok saya (in group). Ulun, dengan demikian, menjadi makhluk asing bagi seseorang atau sekelompok orang.


Anehnya, Supermarket King (Swalayan King) tahun 1980-an mempunyai moto dan bahkan jingle iklannya radio-radio: "King jak ulun Lampung". Lo? Ini swalayan di Lampung kok malah gembar-gembor mengatakan King punya orang lain dan bukan punya orang Lampung?

Belakangan saya tahu bahwa kata ulun sebenarnya sebuah kata yang juga banyak digunakan di daerah lain. Saya tanyakan kepada Heru Zulkarnain yang berasal dari Cukuh Balak, sesama bahasa Lampung dialek a (api). Kata dia, ulun berarti orang. Masih bahasa Lampung--sebagaimana dikutipkan Agus Sri Danardana--dalam kamus (Junaiyah H.M., 2001) halaman 298 tertulis ulun: "orang; seseorang". Untuk arti "orang lain" (seperti pendapat Asarpin) di kamus itu ditulis 'ulun di ulun'.

Kata ulun sering dilekatkan kata tuha (tua). Ulun tuha berarti orang tua dalam arti ibu-bapak yang melahirkan kita. Kalau yang dimaksudkan adalah orang yang sudah tua, biasanya dipakai kata jelma tuha yang artinya orang (yang sudah) tua.

Kamus Bahasa Lampung (Fauzi Fattah dkk, 1999) hlm. 79 mencantumkan ulun: orang; ulun alim: ulama; dan ulun tuha: orang tua.

Keluar dari bahasa Lampung, kata ulun juga dikenal dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Dayak, dan bahasa Banjar. Ulun dalam bahasa-bahasa itu berarti saya, aku, abdi.

Pada Laras edisi 18 Februari lalu Asarpin mengusulkan untuk menggunakan tian sebagai pengganti ulun. Ah, masak iya sih? Tian dan ulun ya jelas berbeda. Tian (mereka) adalah kata ganti orang ketiga jamak. Dalam tulisan rasanya tidak elok, menganggap pembaca sebagai kelompok lain. Mengapa Agus Sri Danardana harus mengatakan mereka (kepada orang Lampung). Kata tian bisa berhadap-hadapan dengan kata ganti orang lain seperti: nyak (saya), ram atau neram (kita), sikam (kami), niku (kamu tunggal), keti/kutti (kalian), dan ya (dia).

Sedangkan ulun adalah kata benda yang berarti orang, bisa juga orang lain. Kalau digandengkan dengan Lampung menjadi ulun Lampung. Tentu artinya, bukan orang lain Lampung atau bukan orang Lampung. Ini soal konteks saja.

Awal tahun 2000-an saya menulis judul tulisan di Lampung Post berjudul Menelusuri Jejak-Jejak 'Ulun' Lampung di Bandar Lampung. Saya juga baru tahu kalau Wikipedia pun sudah mengadopsi kata ulun Lampung dan mengartikannya sebagai orang Lampung atau orang suku Lampung. Saya berpikir, wah, malahan bagus.

Sedikit keluar dari bahasa Lampung, ke bahasa Indonesia untuk sebuah contoh. Kata "canggih" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa berarti (1) banyak cakap, bawel, cerewet; (2) suka mengganggu (ribut); (3) tidak dalam keadaan yang wajar, murni atau asli; (4) kehilangan kesederhanaan yang asli (seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang); (5) banyak mengetahui atau berpengalaman (dalam hal-hal duniawi); (6) bergaya intelektual.

Nah, dengan demikian, kata ulun dalam bahasa Lampung berarti orang atau orang lain. Dua-duanya benar berdasar pada makna leksikal.

Ya, saya memang sengaja memopulerkan ulun Lampung sebagai ganti istilah orang Lampung dan masyarakat Lampung. Ah, sebenarnya kalau mau bisa saja yang pakai kata jelma yang artinya sama, orang. Jelma Lampung artinya orang Lampung. Tapi, kan ini hanya soal rasa bahasa saja, ketimbang saya menulis jelma Lampung kok rasanya lebih sedap pakai ulun Lampung, saya orang Lampung dan bukan orang lain.

Saya juga serius! Saya sama sekali tidak tersinggung disebut ulun Lampung di tempat kelahiran saya sendiri dan dengan bangga mengatakan, "Saya ulun Lampung!"

* Udo Z. Karzi, ulun Lampung

Sumber: Lampung Post, Rabu, 25 Februari 2009

2 comments:

  1. Saya setuju, dengan Bung Udo, setahu saya ulun itu berarti orang : ulun tuho, jak ulun...
    Hidup Bhs Lampung !!!

    ReplyDelete
  2. Ulun lampung,artinya

    ReplyDelete