December 3, 2015

Bambu sebagai Ikon Wisata

Oleh Eko Sugiarto


AKHIR Minggu lalu, sebuah festival nasional digelar di Kabupaten Pringsewu. Festival yang digelar untuk mengapresiasi para seniman bambu ini diberi nama Festival Bambu Nusantara (FBN). Festival tahun ini adalah yang kesembilan. Tahun sebelumnya, festival ini juga digelar di Pringsewu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu definisi festival adalah “pesta rakyat”. Merujuk pada pengertian ini, sebuah festival seyogianya adalah sebuah pesta yang digelar oleh dan untuk (dinikmati) rakyat atau orang kebanyakan. Dengan kata lain, jika ada sebuah acara menggunakan kata “festival” tetapi tidak bisa (baca: sulit) diakses oleh orang kebanyakan, kita patut bertanya apakah masih pantas acara tersebut disebut sebagai festival?


December 1, 2015

Etika dan Estetika Berpadu dalam Zapin Nusantara

TARI BEDANA. Sanggar Angon Saka dari Lampung mengusung Tari Bedana Tradisi dalam Temu Zapin Nusantara 2015 di Kemendikbud, Jakarta, Sabtu (28/11). 
GELARAN pentas tari Zapin dari seluruh daerah dalam Temu Zapin Nusantara 2015 yang ditaja di Plasa Insan Berprestasi, Gedung A Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Sabtu (28/11)  Jalan Sudirman, Jakarta, yang dibuka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan, berlangsung meriah.
 
Mendikbud Anis Baswedan dalam sambutannya mengatakan, dengan digelarnya Temu Zapin Nusantara hari ini, kita bersama menorehkan kembali perjalanan Zapin di kancah budaya nasional setelah hampir 30 tahunan. Diharapkan dengan gelaran ini kita memiliki perasaan keindonesian yang lebih kuat dan menghargai kebhinekaan.


November 30, 2015

Kreativitas Kunci Menulis Esai

MENULIS ESAI. Redaktur Pelaksana Fajar Sumatera Udo Z Karzi menyampaikan materi dalam Pelatihan Menulis Esai yang diselenggarakan LPM Natural FMIPA Unila, Sabtu (28/11). (FOTO: FAJAR SUMATERA/M BURHAN)
BANDARLAMPUNG, FS --Menulis esai memerlukan kreativitas penulisnya. Sebab, muatan imajinatif harus beriringan dengan kecerdasan. Selain itu juga dibutuhkan kemampuan menyatukan tiga seni menulis yaitu ilmiah, sastra, dan jurnalistik.

Redaktur Pelaksana Fajar Sumatera Udo Z Karzi  mengatakan itu saat menjadi pemateri pelatihan menulis esai yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Pers Natural FMIPA Universitas Lampung (Unila), di kampus FMIPA Unila, Sabtu (28/11).

November 24, 2015

Black Heritage Tour


Oleh Dyah Merta

HARI itu aku ikut rombongan Black Heritage Tour, semacam napak tilas bekas bangunan-bangunan yang menyimpan sejarah perbudakan di Amsterdam. Berangkat dari titik-temu di Centraal Station, tur bergerak ke arah Dam Square dengan jalan kaki, membelah keramaian dengan suhu 13 derajat dan mengabaikanVenustempel dan Museum Madame Tussauds.

Tur dimulai dari Royal Palace, gedung yang dibangun pada 1648 oleh arsitek Jacob van Campen dan Artus Quellinus. “Pada tahun 1949, Muhammad Hatta melakukan penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda di situ,” ujar Wim Manuhutu, sejarawan Maluku yang ikut rombongan. Ratu Belanda Juliana didampingi Perdana Menteri Belanda Willem Drees menandatangani penyerahan kedaulatan (Sovereniteit Overdracht)atas Indonesia kepada Muhamad Hatta, Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat di ruang Burgerzaal. Momen ini menjadi babak pamungkas dari Konferensi Meja Bundar.

November 23, 2015

Membaca Potensi Siswa di Daerah Pebatasan

: Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra SMAN 1 Sukau

Oleh Udo Z Karzi

SEBENARNYA saya sudah kirimkan power point untuk diskusi pada Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra memperingati Bulan Bahasa 2015 di SMAN 1 Sukau, Lampung Barat, Jumat, 13 November lalu. Tapi karena keterbatasan sarana, power point dan sejenisnya tidak bisa dipergunakan di Pekon Pagardewa yang berbatasan dengan Desa Kotabatu di Provinsi Sumatera Selatan ini.

Kepala SMAN 1 Sukau Eva Oktarina (kanan) menyampaikan pendapat dalam Hari Apresiasi Bahasa dan Sastra di aula SMAN 1 Sukau, Jumat, 13/11/2015. Tampil sebagai nara sumber: penulis Udo Z Karzi dan Yandigsa dengan moderator Ahmadi Putera Syahpalewi. (FOTO: EKA FENDI ASPARA)
"Listrik sering mati di sini," kata Ahmadi Putera Syahpahlewi, seorang guru bahasa Lampung.


Menggagas Wadah Promosi Wisata Bersama

Oleh Eko Sugiarto


PEMPROV mengakui wisata di Lampung masih belum banyak dikenal karena sistem promosinya yang masih kurang maksimal. Oleh karena itu, Pemprov Lampung berencana memakai kode respons cepat atau QRC (quick response code).

Hal itulah yang antara lain dilaporkan www.harianfajarsumatera.com usai acara Sosialisasi Pengenalan Sistem QRC kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Kota di Kantor Gubernur Lampung, beberapa waktu lalu. Rencana memanfaatkan kode respons cepat untuk bisa terhubung ke situs web (mungkin Dinas Pariwisata Provinsi Lampung) adalah sebuah langkah yang patut diapresiasi.

Diakui atau tidak, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian maju membuat komunikasi antardaerah bahkan antarnegara menjadi seakan tidak berjarak. Sebagian besar wilayah di dunia seolah sudah terhubung. Hal ini membuat batas-batas wilayah antardaerah bahkan antarnegara menjadi semakin tidak berarti, khususnya dalam hal pertukaran informasi. Dengan kata lain, dalam hal informasi, dunia seakan menjadi tanpa sekat.

November 22, 2015

[Wawancara] Catatan Sejarah Harus Terbuka

Frieda Amran
MENGUPAS tentang daerah Lampung memang sangat menarik, terlebih sangat sedikit sekali tulisan terkait provinsi paling ujung selatan Pulau Sumatera ini. Karena lewat tulisan inilah yang akan menjadi pegangan buat generasi mendatang untuk mengenal daerah Lampung yang kaya akan sumber daya alam dan manusia.

Frieda Amran pun kemudian menuliskan beragam hal mengenai Bumi Ruwa Jurai sejak zaman pendudukan Belanda yang dituangkan dalam rubrik Lampung Tumbai di Lampung Post.


November 19, 2015

Kembali pada Puisi

Oleh AJ Susmana

SECARA metode, tidaklah sulit untuk memahami hati suatu bangsa. Cukuplah kiranya kalau mau dengan susah payah memahami puisi-puisi yang diucapkan, ditulis, dibaca dan dilagukan oleh bangsa tersebut.  Melalui puisi-puisi tersebut akan didapat pengetahuan suka-duka kolektif suatu bangsa yang mengarungi jaman beserta ketakutan dan kegembiraan melihat masa depan.

Puisi-puisi itu pun bisa berupa peribahasa dan pesan-pesan didaktik sebagaimana bisa kita baca pada Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji atau juga Kitab Nyanyian, antologi puisi pertama dalam sejarah China meliputi periode selama 5 abad dari awal Dinasti Zhou Barat abad ke-11 SM hingga pertengahan Periode Musim Semi dan Musim Gugur abad ke-6 SM. Konon pada mulanya terdiri dari 3000-an puisi; lantas diseleksi Confusius menjadi 305 puisi. (lihat: Li Xiaoxiang, Asal Mula Sastra China Klasik, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010;6) Info lain menyebutkan, semula hasil seleksi Confusius berjumlah 311 puisi. Enam puisi hilang waktu terjadi pembakaran kitab.

Figur Perempuan Indonesia: Nyai Dahlan dan Nyai Sholihah

Oleh Akhmad Syarief Kurniawan


TANPA menafikan sejarah, jasa-jasa ormas Islam lain, belum lengkap rasanya ketika menceritakan sejarah perjalanan bangsa ini tanpa ikut menyertakan peran dua ormas terbesar di Indonesia, yaitu: Persyarikatan Muhammadiyah dan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (NU).    

Tokoh pendiri Muhammadiyah diwakili oleh KH. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis, 1912 dan dari barisan jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (NU) diwakili dengan tokoh sentralnya Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’arie, 1926.

Penulis tidak akan menjelaskan sejarah Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama’, melainkan tentang peran, pengabdian, jasa-jasa para tokoh istri kedua ormas tersebut, yakni Nyai Siti Walidah atau yang lebih populer dikenal Nyai Dahlan dan Nyai Munawaroh atau yang lebih akrab disapa Nyai Sholihah A. Wahid Hasyim.


November 18, 2015

Studi Interteks dalam Konservasi Situs Manusia Purba

Oleh Febrie Hastiyanto


PARADIGMA pengembangan situs purbakala termasuk di dalamnya situs manusia purba telah memasukkan konsep pelibatan masyarakat sebagai bagian integral pengembangan situs. Bila sebelumnya pelibatan masyarakat lebih banyak dimaknai pada aspek-aspek pemanfaatan potensi ekonomi-pariwisata situs oleh masyarakat, kini usaha pelibatan masyarakat mulai diperluas pada aspek konservasi. Situs-situs yang semula hanya dikonservasi oleh para ahli, kini membuka diri terhadap peran masyarakat untuk turut melakukan konservasi. Pada periode-periode awal konservasi situs purbakala, masyarakat dilibatkan sebagai tenaga teknis lapang penemuan dan pengumpulan koleksi. Namun kini, seharusnya masyarakat dilibatkan dalam skema yang lebih strategis, misalnya konservasi dalam konteks memaknai koleksi-koleksi situs.

Dalam konteks situs manusia purba, paradigma yang menjadi arus utama dalam melakukan konservasi dan pemaknaan koleksi banyak mendasarkan pada teori-teori evolusi. Ketika mengunjungi Museum Nasional Jakarta maupun Museum Situs Sangiran Sragen-Karanganyar misalnya, saya mendapati diorama-diorama yang ada menggambarkan bahwa fosil-fosil manusia purba merupakan evolusi bentuk spesies dari yang arkaik hingga yang progresif dan kemudian menjadi manusia modern nenek moyang manusia generasi saat ini. Nyaris tidak ada wacana lain dalam memaknai fosil yang ada padahal sesungguhnya pengetahuan-pembanding itu ada dan hidup di dalam masyarakat.


November 16, 2015

Merebaknya Gejala Narsisme

Oleh Riza Multazam Luthfy

DALAM dasawarsa terakhir, gejala-gejala narsisme mudah ditemukan dalam kehidupan artis, politikus, dan dai selebritis. Dengan cara dan pola masing-masing, mereka ingin menampilkan segi positif-materialistis dari diri manusia. Mereka berhasrat menunjukkan sisi-sisi kesempurnaan di balik sosok makhluk yang tidak pernah sempurna (nobody perfect).

Ciri khas narsisme yang seringkali tampak yaitu terlalu percaya diri. Atas dasar inilah, bagi sebagian orang, narsisme berdampak positif. Namun demikian, tidak semua yang diasumsikan publik tentang narsisme bisa dibenarkan.

Tanpa pertimbangan logis, para artis gemar menyajikan keglamoran. Bagi mereka, ada semacam konsensus tak tertulis, “uang bisa membeli segalanya”. Dengan konsensus ini, mereka sibuk menampilkan capaian duniawi yang profan, meskipun banyak orang yang saban hari makan nasi aking.

November 12, 2015

Dongeng yang Merawat Kewarasan

Oleh Aris Kurniawan

BAGI sebagian orang, penyair adalah filsuf dan filsuf adalah penyair; seseorang yang senantiasa merawat kesadaran masyarakatnya; ialah yang mengasah kegelisahan dan penderitaan dirinya untuk menyuarakan kecemasan zamannya; yang terus menerus  menjaga  keseimbangan dan mengajak kita menjenguk ke dalam diri. Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy tampaknya termasuk yang mempercayai kekuatan puisi semacam itu, sehingga dia mengatakan, apabila politik kotor, maka puisi yang membersihkannya. 

Tetapi, teori sastra modern menepis anggapan yang menempatkan penyair serupa sosok filsuf dan puisi sebagai rujukan untuk mencari kejernihan menangkap realitas. Membersihkan politik yang kotor terlalu berat sebagai tugas yang dibebankan kepada puisi. Dalam drama keseharian yang makin banal kita melihat, puisi terus dilahirkan para penyair seiring dengan kejahatan yang dilalukan secara terang benderang oleh para politisi. Karena puisi hanya permainan kata-kata. Bahkan Sapardi Djoko Damono mengatakan, puisi pada dasarnya adalah deretan kata-kata, tak beda dengan  seperti teks laporan jurnalistik, catatan harian, dan status di media sosial sekalipun.

November 11, 2015

Strategi Kebudayaan dan Multikulturalitas

Oleh Febrie Hastiyanto

TELAH menjadi realitas sejarah bahwa bangsa kita, Indonesia berdiri di atas lansekap keberagaman. Etnis, agama, kelompok kepentingan yang ada berbeda sekaligus banyak jumlahnya. Sejak lama pula kita merumuskan dan menerapkan strategi kebudayaan memaknai keberagaman yang ada. Secara sosiologis, tak dapat dihindarkan sentimen-sentimen in group dan out group; orang “sini” dan orang “sana.” Pada mulanya, politik kebudayaan cenderung ingin mengelompokkan orang sana” menjadi orang “kita.” Sejarah pembentukan nasion banyak bangsa seringkali diwarnai oleh politik aneksasi. Strategi kebudayaan ini dapat disebut sebagai etnosentrisme (Nurdaya, 2012). Padahal hampir pasti setiap kebudayaan selalu ingin independen, selalu ingin mengaktualisasikan dirinya sendiri, serta selalu menolak menjadi orang lain. Konflik kemudian menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Perasaaan-perasaan identitas yang berlebihan cenderung memicu peniadaan identitas lain. Genosida-genosida atas nama etnis, agama, atau ideologi mewarnai perjalanan peradaban manusia. Sudah tentu kita tak ingin mengulangi dampak terburuk perasaan identitas yang berlebihan ini. Strategi kebudayaan alternatif, sebagai antitesis etnosentrisme kemudian disusun dan coba diamalkan. Bentuknya paling tidak ada dua: integrasi budaya (melting pot, cawan peleburan) dan pluralisme atau multikulturalisme (Nurdaya, 2012).
   
Strategi integrasi kebudayaan merupakan pendekatan politik terhadap budaya yang mulanya hendak diterapkan di Indonesia. Realitas keberagaman hendak diikat oleh satu entitas baru, yang disebut bangsa. Bangsa atau nasion merupakan entitas yang melingkupi dan melampau entitas dan identitas primordial yang ada. Bangsa menjadi konstruksi imajiner yang mengidentifikasi identitas yang satu dan baru. Secara sosiologis pula, sentimen atau perasaan identitas akan menguat ketika entitas dihadapkan pada dua kondisi: adanya musuh bersama (common enemy) dan tujuan bersama (goal enemy).
   

Wisata Pusaka Industri

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
DI Indonesia wisata pusaka industri memang belum banyak diwacanakan, apalagi digerakkan.  Padahal potensi dan asetnya sangat besar. Apalagi setidaknya banyak industri  strategis milik negara di bawah wewenang kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha milik Daerah (BUMD). Selain itu tentunya juga industri-industri yang juga dipelopori oleh perusahaan swasta dan masyarakat.
Padahal sekaitan dengan tantangan dunia global idustri strategis itu harus mengikuti perkembangan zaman baik karena pertimbangan soal lokasi maupun  fasilitas pendukungnya. Akibatnya aset-aset lamanya  sering tidak dipergunakan lagi, mulai dari area perkebunan,pabrik-pabrik dan perkantoran terkadang dibiarkan mangkrak.

Aset-aset ini tentunya merupakan saksi sejarah dan bisa untuk pembelajaran masyarakat mengenai perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi kawasan jika diberdayakan dengan benar dan optimal sebagaimana telah dibuktikan di negara lain. Jika aset-aset ini tidak diberdayakan dan dilestarikan akan mangkrak  pada gilirannya hancur sia-sia. Padahal industri-industri tersebut pernah bisa jadi menjadi ikon dan denyut sebuah kota.


November 9, 2015

Keberaksaraan dan Eksistensi Manusia

Oleh Tjahjono Widarmanto

KEBERAKSARAAN sudah lama membedakan diri dengan ketertinggalan melalui tradisi aksara. Kelisanan dianggap sebagai hal yag tidak ideal dan menutup berbagai akses komunikasi dan pengetahuan. Adapun, keberaksaran membukakan peluang tak hanya bagi kata, kalimat atau informasi pengetahuan namun juga menguatkan eksistensi manusia yang membedakannya dengan mahluk lain. Tak bisa terbayangkan bagaimanakah wujud eksistensi manusia tanpa tradisi keberaksaraan.

Sungguh pun demikian bukan berarti kelisanan merupakan kehinaan. Kelisanan dapat menghasilkan karya dan renungan-renungan diluar jangkauan orang melek aksara, misalnya Odyssey. Namun, keberaksaraan membantu mendorong permata-permata kelisanan menjadi lebih dikenal, menjadi lebih luas penyebarannya, menjadi mudah diakses, dan yang lebih penting menjadi lebih terbuka dan memungkinan ditafsir ulang.

Seni Budaya Lampung, Mau Dibawa ke Mana?

Oleh Riyan Hiyatullah


SENI dan budaya merupakan dua kata yang selalu akan berdampingan, karena seni adalah produk budaya, dan budaya tak akan terbentuk tanpa ada seni di dalamnya. Indonesia memiliki ribuan ragam seni dan budaya yang tidak  habis dibahas hanya dalam sebuah kitab saja. Di dalam budaya, ada berbagai produk seni, diantaranya: seni tari, drama, teater dan musik. Lampung memiliki keempat produk di atas dan tersalurkan dengan baik.

Seni Komersial

Sebagai contoh, pada bulan Ramadan (2015) lalu, salah satu stasiun televisi swasta Trans 7 menyiarkan acara bertajuk Tabur Ramadan. Dalam acara bertemakan kompetisi alat musik tabuh tersebut Gilang Ramadhan didaulat sebagai salah satu juri dan diikuti oleh beberapa peserta yang tersebar dari seluruh Provinsi di Indonesia. salah satunya adalah Lampung. Siger adalah nama peserta yang berasal dari Provinsi Lampung di acara tersebut mampu meraih juara ke- 2 pada saat itu. Padahal, seluruh peserta yang mengikuti acara tersebut membawa musik tradisi dari daerahnya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa seni musik tradisi Lampung memiliki potensi baik dalam segi pengembangan budaya maupun industri komersil.


Menikmati Sensasi Minggu dengan Foto-foto Asyik

BANDARLAMPUNG -- Menikmati keindahan karya anak bangsa lewat pameran PFI Lampung dapat dijadikan referensi bagi kaula muda yang ingin menikmati suasana malam minggu. Pameran PFI ini sangat cocok untuk muda mudi baik bersama teman, pacar atau kerabat dekat.

Seorang pengunjung sedang menikmati foto-foto yang dipamerkan PFI.
Dalam pameran PFI ini setidaknya pengunjung akan dimanjakan oleh 80 foto menarik yang dapat menimbulkan sensasi malam minggu yang kece juga tentunya dapat membangkitkan decak kagum akan hasil jepretan para pewarta baik Nasional maupun lokal.


November 6, 2015

Unila Siap Buka S1 Bahasa Lampung

BANDARLAMPUNG, FS - Universitas Lampung (Unila) mendesak ketegasan pemprov terkait rekruitemen formasi pegawai berlatar belakang sarjana (S-1) program studi bahasa Lampung. Bila tidak, maka para alumninya bakal menganggur.

Guru Besar Ilmu Pendidikan Bujang Rahman mengatakan ketegasan itu sangat diperlukan dan mendesak, saat ini. ”Bisa tidak pemda itu jangan mengandalkan formasi. Kan ada nomenklaturnya guru tetap non PNS. Kalau guru PNS gaji dari APBN tapi kalau guru tetap dari APBD,” kata dia.

November 5, 2015

Dari Annie MG Schmidt ke Gustaaf Peek

Oleh Dyah Merta


Di Oleanderstraat, ada sebuah toko buku mungil. Pemiliknya seorang perempuan yang ramah. Awalnya aku ke situ untuk mencari buku Jip en Janneke. Aku pernah membaca buku itu beberapa tahun silam di perpustakaan Karta Pustaka –sebelum akhirnya lembaga itu gulung tikar lalu menebar koleksi perpustakaannya yang sangat berharga ke orang-orang: ini menjadi peristiwa paling menyedihkan dari akhir sebuah lembaga kebudayaan. Kudengar, kurangnya pendanaan membuat lembaga yang menjembatani budaya antara Indonesia-Belanda di Yogyakarta itu akhirnya tutup. Sungguh tidak istimewa.

Aku terpesona pada Jip en Janneke atas kesederhanaan, keluguan dan kelucuannya. Buku itu ditulis oleh Annie MG Schmidt dan terbit pertama kali pada tahun 1971. Schmidt lahir di Zeeuwse Kapelle pada 20 Mei 1911. Ia memperoleh Hans Christian Andersenprijs pada tahun 1988 atas karya-karyanya. Pada 21 Mei 1995, Schmidt tutup usia di Amsterdam. Sosok perempuan yang menghidupkan visual Jip en Janneke hingga ke cerita-cerita Schmidt berikutnya adalah Fiep Westendorp. Satu sama lain membangun jalinan antara kata-gambar tak terpisahkan.

3 Sastrawan Lampung Terbang ke Belanda

BANDARLAMPUNG, FS -- Tiga sastrawan Lampung, Isbedy Stiawan ZS, Arman AZ dan Juperta Panji Utama akan bertolak ke Belanda, Kamis (5/11).

Ketiga sastrawan itu akan membaca puisi dan diakusi di Universitas Leiden dan di hadapan mahasiswa-civitas akademik yang tergabung di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Roterdam.

"Di Roterdam kami akan baca puisi dan diakusi pada Minggu, 9 November. Sedangkan  di Universitas Leiden, 13 November," jelas Isbedy dalam rilis yang diterima Fajar Sumatera, Rabu (4/11).

November 4, 2015

Akademia dan Aktivisme

Oleh Virtuous Setyaka

SELAMA ini akademia identik dengan para akademisi yang berada di ranah kampus dengan tugas pokok dan fungsinya di bidang pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sedangkan aktivisme identik dengan gerakan sosial yang berada di luar kampus dan kerja-kerja advokasi berbagai isu atau permasalahan masyarakat. Gerakan sosial dalam perspektif yang luas adalah bagian dari politik, sehingga aktivisme adalah aktivitas yang secara langsung maupun tidak langsung termasuk dalam aktivitas politik. Menarik untuk mendiskusikan keterkaitan bahkan keterikatan academia dengan aktivisme di Indonesia.

Keterkaitan Akademia-Aktivisme
Titik hubung antara akademia dan aktivisme menurut Flood, Martin dan Dreher (2013) secara akademis dapat ditelusuri diantaranya dengan pemikiran Zerai (2002) serta Downs dan Manion (2004). Akademia dapat menjadi situs bagi aktivisme setidaknya dalam empat cara: (1) sebagai sarana untuk menghasilkan pengetahuan untuk menginformasikan perubahan sosial yang progresif; (2) sebagai sarana untuk melakukan penelitian yang melibatkan perubahan sosial itu sendiri; (3) sebagai situs untuk strategi pengajaran dan pembelajaran progresif; dan (4) sebagai institusi yang relasi kekuasaannya sendiri mungkin ditantang dan direkonstruksi. Akademisi dapat menghasilkan pengetahuan, sengaja atau tidak, menginformasikan perubahan sosial yang progresif.

October 30, 2015

Sastra Melawan Stagnasi Bahasa

BANDARLAMPUNG, FS – Fungsi sastra adalah untuk menghidupkan kata-kata yang dalam keseharian terancam stagnan karena banalisasi kehidupan sosial politik. Bahasa Indonesia yang di tangan politisi dan birokrat terasa kehilangan makna menjadi segar dan hidup dalam olahan penyair atau sastrawan.

DISKUSI SASTRA. Penyair Ahmad Yulden Erwin (kedua dari kiri) menyampaikan pandangan dalam sesi diskusi Wisata Seni Baca Sastra 2015 di Taman Budaya Lampung, Bandarlampung, Kamis, 29/10/2015. (FOTO: FAJAR SUMATERA/UDO Z KARZI)
Penyair Joko Pinurbo mengatakan hal itu dalam Wisata Seni Baca Sastra 2015 di Taman Budaya Lampung (TBL), Bandarlampung, Kamis (29/10). Selain Joko Pinurbo, tampil juga dalam kegiatan yang diisi baca puisi dan cerpen ini sastrawan AS Laksana, Ahda Imran, Ari Pahala Hutabarat, Ahmad Yulden Erwin, Iswadi Pratama, dan  Wicaksono Adi.


October 15, 2015

Aku Rindu Matahari

Esai Dyah Merta

SATU hal yang kurindukan beberapa hari belakangan adalah matahari. Itu serupa dada seorang pria yang menebar kehangatan sekaligus keteduhan. Mungkin itu kamu.

Minggu siang, akhirnya aku bisa kembali berpeluh. Di Candi Sewu, di antara samar ingatan pada Golek Surung Dayung, tubuhku mencari cara untuk membebaskan diri -meski gerak ritmis itu terpakem-sayup masih ada suara Edith Piaf yang tersisa di akhir perjalananku dengan Shinta Ridwan dan suami, dan ada kamu yang menjelma sebagai kebajikan.

September 21, 2015

Lampung Barat, Kopi, dan Pariwisata

Oleh Eko Sugiarto


FESTIVAL Kopi Liwa atau Liwa Coffee Festival di Kecamatan Air Hitam cukup mengangkat nama Kabupaten Lampung Barat. Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Perkebunan setempat dalam rangkaian peringatan HUT Ke-24 Kabupaten Lampung Barat ini tercatat di Museum Rekor-Dunia Indonesi (Muri) sebagai rekor ke-7.084 untuk kategori sangrai kopi terbanyak (http://lampost.co).

Berdasarkan catatan MURI (http://www.muri.org), setidaknya ada empat kabupaten yang pernah memegang rekor menyangrai kopi terbanyak. Tahun 2011 rekor ini dipegang Kabupaten Banyuwangi (270 tungku oleh 300 peserta), tahun 2012 dipegang Kabupaten Malang (561 peserta), tahun 2014 dipegang Kabupaten Tabanan (735 peserta), dan tahun 2015 dipegang Kabupaten Lampung Barat (1.049 tungku).


August 31, 2015

Wahrul Fauzi Raih Kamaroeddin Award 2015

BANDARLAMPUNG, FS -- Direktur LBH Bandar Lampung yang juga legal Fajar Sumatera, Wahrul Fauzi Silalahi mendapat Kamaroeddin Award 2015 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung dalam malam puncak HUT ke-21 AJI di Cafe Dawiels, Bandarlampung, Sabtu (29/8).

KAMAROEDDIN AWARD. Legal Fajar Sumatera dan Direktur LBH Bandar Lampung Wahrul Fauzi Silalahi (kanan) menerima Kamaroeddin Award 2015 yang diserahkan Wali Kota Bandarlampung Herman HN pada malam puncak HUT ke-21 AJI di Cafe Dawiels, Bandar Lampung, Sabtu (29/8). .
Dewan Juri yang terdiri dari Oyos Saroso HN (jurnalis The Jakarta Post), Firman Sponada (mantan Ketua AJI Bandarlampung), dan Toni Wijaya (akademisi) menilai Wahrul Fauzi memiliki komitmen menjaga dan mengawal kebebasan pers, demokrasi, dan penegakan hak asasi manusia di Lampung.


August 30, 2015

FLP Lampung Undang Udo Z Karzi Isi Training Menulis Asyik di Lampung Post

Oleh Adian Saputra


Duajurai.com, Bandar Lampung – Penulis senior yang juga penyair Lampung, Udo Z Karzi, Minggu, 30/8/2015, menjadi pembicara dalam kelas “Menulis  Asyik” yang diadakan di ruang pertemuan harian umum Lampung Post. Acara ini diadakan Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung.

Suasana pelatihan “Menulis Asyik” di ruang pertemuan Lampung Post yang diadakan FLP Lampung. ISTIMEWA
Udo memaparkan beberapa kiat menulis sehingga menjadi keasyikan tersendiri. Penyair bernama asli Zulkarnain Zubairi ini adalah penulis buku yang produktif. Selain kumpulan puisi Mak Dawah Mak Debingi, Udo juga menulis beberapa buku lain, di antaranya Menulis Asyik.

August 28, 2015

Menjadi Sarjana atau Cendekia?

Oleh Slamet Sudaryono


DUNIA pendidikan tingkat perguruan tinggi telah memasuki tahun ajaran baru. Prosesi penerimaan calon mahasiswa baru pun telah digelar melalui berbagai jalur yang tersedia, dan hanya menyisakan jalur mandiri. Dari berbagai lulusan sekolah menengah atas (SMA), yang jumlahnya puluhan ribu, berebut posisi di berbagai perguruan tinggi pilihan masing-masing, baik lokal maupun luar daerah.

Di Lampung, Universitas Lampung (unila) menjadi Universitas yang selalu banyak diburu oleh lulusan SMA dan sederajat. Sekitar 46.123 calon mahasiswa mengkuti seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) untuk masuk Unila. Namun, universitas bergengsi di Lampung tersebut hanya akan menerima sekitar 2.328 calon mahasiswa (Lampost, 10/7/2015).

Bahasa Lampung Kian Tergerus

BANDARLAMPUNG, FS -- Tidak dapat dihindari saat ini Kota Bandarlampung menuju kota metropolis. Keragaman warga Kota Tapis Berseri semakin memberi warna budaya. Dalam proses itu, budaya asli Lampung sedikit banyak mengalami pergeseran, termasuk pemahaman masyarakat akan bahasa dan aksara Lampung.

Menurut anggota Komisi II DPRD Kota Bandarlampung, Erdiansyah Putra, untuk tetap mempertahankan budaya asli Lampung diperlukan langkah strategis dan upaya yang nyata sebagai bentuk kepedulian agar adat istiadat warisan nenek moyang tetap lestari.

Gubernur Gagas Sail Krakatau

BANDARLAMPUNG,FS — Pemerintah Provinsi Lampung meminta pemerintah pusat menyelenggarakan kegiatan bahari internasional di Lampung dengan nama Sail Krakatau.  Kegiatan tersebut akan membantu program kelautan Lampung yang kini menjadi konsen Pemprov Lampung, yaitu Optimalisasi kekayaan Laut yang dimiliki seperti optimalisasi pariwisata kelautan Lampung.

LEPAS KONTINGEN. Gubernur Lampung M Ridho Ficardo melepas kontingan Saka Bahari Pramuka Lampung untuk mengikuti Pelayaran Lingkar Nusantara (Pelantara) dalam rangkaian Sail Teluk Tomini di Sulawesi Tengah di Ruang Abung Balai Keratur Kantor Gubernur Lampung, Kamis (27/8). (GEDE SETIYANA)
"Kalau sekarang kita masih jadi tamu. Ke depan, kita akan jadi tuan rumah. Oleh karena itu buat saka bahari di Lampung untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk penyelenggaran Sail Krakatau ke depan," kata Gubernur Lampung Ridho Ficardo saat melepas kontingen Saka Bahari dari gerakan Pramuka Lampung untuk mengikuti Pelayaran Lingkar Nusantara (Pelantara) 2015 dalam kegiatan bahari tingkat Internasioanl Sail Teluk Tomini di Sulawesi Tengah.


August 27, 2015

Pariwisata, Medsos, Kearifan Lokal, dan PAD

Oleh Eko Sugiarto


TULISAN berjudul Mengembangkan PAD Lampung melalui Pariwisata (Fajar Sumatera,5/8/2015) mendorong saya untuk membuat tulisan ini. Tulisan Saudara Muswir tersebut memang agak sulit saya pahami. Meskipun demikian, ada beberapa catatan kecil atas tulisan tersebut dan perlu saya sampaikan di sini. Tentu sebatas yang bisa saya pahami dari tulisan Saudara Muswir tersebut.

Pertama, di awal tulisan tersebut Saudara Muswir mengemukakan bahwa Provinsi Lampung punya potensi untuk meraup PAD melalui pariwisata, namun banyak destinasi wisata yang cukup sulit dikembangkan. Saya bersepakat bahwa masih banyak destinasi wisata di Lampung yang sulit dikembangkan. Akan tetapi, sulit bukan berarti tidak mungkin, bukan? Saya kira Saudara Muswir juga bersepakat dengan hal ini. Satu hal yang saya khawatirkan dari tulisan Saudara Muswir ini adalah pengembangan destinasi wisata yang semata-mata hanya bertumpu pada aspek ekonomi (dalam hal ini meraup PAD).

August 26, 2015

Budaya Lampung segera Dibukukan

Oleh Firman Luqmanulhakim
BANDAR LAMPUNG -- Peneliti dan budayawan Lampung Profesor Margareth Kartomi kini sedang mempersiapkan buku budaya Lampung yang berisi tentang tarian, musik, dan drama Lampung. “Buku ini merupakan hasil observasi yang juga bagian dari penelitian yang saya gagas bersama suami sejak tahun 80-an," jelas Margareth seusai diterima Sekretaris Provinsi (sekprov) Lampung, Arinal Djunaidi di ruang kerjanya, Kantor Gubernur Lampung, Selasa (25/8/2015).

Dia mengatakan pada tahun 2016 mendatang akan ada enam peneliti budaya yang berasal dari Australia yang akan secara mendalam meneliti kebudayaan di Provinsi Lampung. “Kegiatan penelitian ini merupakan dedikasi untuk tetap terus membantu dalam menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam adat istiadat budaya Lampung,” jelas wanita yang akrab disapa Margareth ini.


August 25, 2015

Musik tradisional Lampung jadi mata kuliah ISI Yogyakarta

Oleh Budisantoso Budiman


Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan ISI Surakarta akan memasukan musik tradisional Lampung dalam kurikulum dan menjadi salah satu mata kuliah Musik Daerah Nusantara di kedua perguruan tinggi seni tersebut.


Beberapa remaja memainkan gamolan, alat musik tradisional Lampung (ANTARA Lampung/Gatot Arifianto)
Sedangkan di ISI Denpasar, mata kuliah Musik Tradisional Lampung baru dijadikan mata kuliah ekstrakurikuler, kata I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Moccoh, seniman Lampung asal Bali, di Bandarlampung, Senin.


Peneliti Australia Buat Buku Budaya Lampung

Oleh Agus Wira Sukarta


Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Prof Margareth Kartomi peneliti budaya Lampung asal Australia akan membuat buku terkait budaya, tarian, musik, dan drama di daerah itu.


Prof Margareth Kartomi peneliti budaya Lampung asal Australia (FOTO ANTARA Lampung)
"Buku ini merupakan hasil dari observasi yang juga bagian dari penelitian yang digagas bersama suami saya semenjak tahun 80-an," kata dia, di Bandarlampung, Selasa.


August 20, 2015

Duta Wisata Masa Depan

Oleh Eko Sugiarto

KEDUA anak saya begitu antusias ketika saya ajak berkunjung ke sebuah kompleks pemakaman, sekitar dua minggu yang lalu. Kompleks pemakaman yang kami kunjungi adalah Taman Makam Seniman Budayawan Girisapto di Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Dr. Liberty Manik. Komponis,” ucap seorang anak saya ketika membaca tulisan di sebuah nisan. Dia juga menanyakan apa itu komponis.

August 19, 2015

Teater Satu Hadirkan Lampung dalam Festival Darwin

DARWIN, FS--Teater Satu Lampung akan berkolaborasi dengan Brown's Art Theatre menmpilkan sebuah pertunjukan bertajuk The Ages of the Bones dalam Festival Darwin, pada 23 Agustus mendatang. Teater Satu diundang dalam perhelatan yang telah diselenggarakn sejak 1980-an itu, sebagai salah satu grup teater yang saat ini cukup diperhitungkan di Indonesia dan Asia.

TEATER SATU LAMPUNG. Salah satu pentas Teater Satu Lampung.
Dalam festival yang digelar di wilayah paling utara benua Australia itu, Teater Satu akan menyajikan beberapa bentuk seni tradisi Lampung juga sumatera dan jawa. "Untuk kebutuhan eksplorasi ini, kami akan menyajikan nyubuk, tuping sekura, warahan, silat serta beberapa bentuk musik dan tari dari sumatera dan jawa," ujar Direktur Artistik Teater Satu Lampung Iswadi Pratama.


DKL Diminta Gali Potensi Kebudayaan Lampung

Oleh Agus Setyawan


Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Berbagai potensi kebudayaan yang hingga kini belum dikenal oleh masyarakat harus digali. khususnya yang mempunyai nilai jual, demikian permintaan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo.

TARI NGEJAGA TUPING. Siswa SMAN Kotagajah menyajikan Tari Ngejaga Tuping dalam pengukuhan DEwan Kesenian Lampung (DKL) di Balai Keratun Kantor Gubernur, Rabu (19/8). FAJAR SUMATERA/TOMMY SAPUTRA
"Banyak kebudayan kita yang berasal dari leluhur Lampung, tetapi belum dikenal khalayak atau masyarkat luas," kata Ridho saat pengukuhan pengurus DKL di Bandarlampung, Rabu.


Pengurus DKL Dikukuhkan

Oleh Agus Wira Sukarta


Bandarlampung,  (Antara) - Gubernur Lampung M Ridho Ficardo mengukuhkan pengurus Dewan Kesenian Lampung periode 2015--2019 di Balai Keratun Komplek Perkantoran Gubernur Lampung, Rabu.

PEMASANGAN PIN. Gubernur Lampung M Ridho Ficardo memasangkan pin kepada Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung (DKL) Aprilani Yustin Ficardo dalam pengukuhan pengurus DKL 2015-2019 di Balai Keratun, Kantor Gubernur, Bandarlampung, Rabu (19/8).
Pelantikan berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/393/III.01/HK/2015 tanggal 18 Agustus 2015.


August 10, 2015

Melampungkan Bahasa Lampung

Oleh Erzal Syahreza Aswir


SETIAP daerah memiliki ciri khas tersendiri yang tak bisa disamakan dengan daerah yang lain. Ciri-ciri tersebut pun beraneka ragam mulai dari warna kulit, jenis rambut, pakaian adat, tradisi warisan leluhur, juga bahasa daerah. Ciri yang berbeda menjadikan hal tersebut sebagai sebuah identitas yang patut dijunjung tinggi.

Di bumi Nusantara ini terdapat berbagai macam identitas daerah yang beranekaragam lantaran negeri ini merupakan sebuah kepulauan, dengan tingkat multikulturalitas yang tinggi. Sebuah kekayaan yang patut dijadikan kebanggan setiap putera-puteri bangsa ini, yang juga berpotensi menjadi sumber kekayaan nasional selain sebagai sebuah identitas nasional.

Quo Vadis Pariwisata Daerah?

Oleh Eko Sugiarto


TULISAN ini terinspirasi dari keluhan kawan-kawan di bebeberapa daerah, khususnya yang berasal dari luar Pulau Jawa. Dalam beberapa kali perbincangan, muncul beberapa hal terkait dengan pariwisata di daerah mereka. Dua di antaranya adalah masalah kelembagaan dan masalah sumber daya manusia di bidang pariwisata.

Dalam hal kelembagaan, dengan berbagai pertimbangan (antara lain untuk alasan efektivitas), penggabungan beberapa dinas dalam satu lembaga adalah hal yang wajar dilakukan oleh daerah. Misal, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan digabung menjadi satu adalah sesuatu yang memang sudah umum dan masuk akal. Namun, ada daerah yang menggabungkan Dinas Pariwisata dengan dinas lain yang terkesan dipaksakan.

August 5, 2015

Mengembangkan PAD Lampung melalui Pariwisata

Oleh Muswir
PROVINSI Lampung, sesungguhnya sangat berpotensi untuk meraup PAD melalui pariwisata. Namun, sayangnya masih banyak destinasi wisata yang cukup sulit dikembangkan.

Oleh karena itulah, kita memerlukan strategi yang interaktif untuk lebih menggiatkan kekuatan dunia wisata, misalnya saja destinasi yang jauh, kita harus memakai strategi diplomasi interaktif, baik melalui promosi, seperti brosur brosur yang mengembangkan wisata secara baik.

July 28, 2015

Menjadi Wisatawan Cerdas

Oleh Eko Sugiarto

MASA libur Lebaran sudah usai. Orang mulai kembali kepada rutinitas semula. Meskipun demikian, pengalaman selama mengisi libur Lebaran masih diperbincangkan di banyak tempat. Salah satu perbincangan yang sempat penulis dengar adalah perbincangan antara dua orang berikut.

Salah seorang bertanya kepada yang lain ke mana saja saat liburan Lebaran yang lalu. Orang yang ditanya menjawab di Yogyakarta saja dan mencari tempat yang tidak begitu ramai antara lain dengan berkunjung ke sebuah candi yang memang belum begitu dikenal bersama keluarga. Lantas si penanya kembali bertanya apakah candi yang dikunjungi bagus? Jawaban orang yang ditanya sangat sederhana, “Sebagus-bagus candi ya cuman batu ditumpuk-tumpuk.”

Rektor Logam Mulia

Oleh Fathoni


TAHUN ini adalah tahun yang istimewa bagi Universitas Lampung (Unila) karena di tahun ini Unila memasuki usianya yang ke-50. Usia 50 tahun sering diidentikkan dengan tahun emas, perlambang pencapaian gilang-gemilang bagi seseorang, institusi, bahkan suatu negara.

Emas yang digolongkan sebagai logam mulia memang setua peradaban manusia. Tetapi, tulisan ini tentu tidak berbicara tentang emas sebagai logam. Ini hanya metafora saja untuk tahun emas dies natalis Unila (1965—2015).

July 20, 2015

Anjau Silau Buka

Oleh Umpu ni Hakim

KEDATANGAN Kapolda Lampung yang baru, Brigjen Edward Syah Pernong, yang digambarkan sebagai mulang pekon (pulang kampung)-nya seorang raja Lampung, seperti mengembalikan ingatan pada sesuatu yang sebenarnya sudah lazim dan menjadi kebiasaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat adat Lampung.

Ya, tanpa harus menyebutkan anjau silau, ulun (masyarakat) Lampung memang sudah lazim melakukannya: ajau (manjau) dan silau (nyilau). Anjau atau manjau berarti berkunjung, bertamu. Sedangkan silau atau nyilau berarti menjenguk, menengok sesuatu yang barangkali jarang dilihat. Dalam bahasa Edward Syah Pernong, anjau silau adalah datangi dan sambangi.

July 7, 2015

Aprilani Yustin Nakhoda Baru Dewan Kesenian Lampung

BANDARLAMPUNG -- Seperti sudah diduga sebelumnya, Aprilani Yustin Ficardo akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum terpilih Dewan Kesenian Lampung (DKL) Periode 2015--2019.


Aprilani Yustin Ficardo, Ketua Umum terpilih DKL yang baru (kedua dari kanan), menggantikan Syafariah Widianti (paling kanan). (FOTO: ANTARA Lampung/Humas Pemprov Lampung)
Dalam Musyawarah DKL VII pada Senin (6/7), di Ruang Abung kantor gubernur Lampung di Bandarlampung, Aprilani Yustin terpilih secara aklamasi memimpin DKL.


July 3, 2015

Membumikan Konsepsi Anjau Silau

Oleh Yuswanto
BEBERAPA waktu yang lalu Brigadir Jenderal Polisi Edward Syah Pernong, ketika berkunjung (manjau) ke redaksi Lampung Post mengemukakan gagasan beliau anjau silau sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Lampung yang baru. Gagasan ini menarik untuk diperbincangkan karena sebagai slogan tentu mengandung makna sebagai filsafat pandangan hidup (way of life, weltanschauung, wereldbeschouwing).

Sebagai pandangan hidup, slogan tersebut merupakan petunjuk arah aktivitas atau kegiatan polisi di segala bidang tugas dan fungsinya ke depan. Sebagai Kapolda Lampung, tentu beliau akan menjadikan anjau silau sebagai petunjuk arah atau kegiatan kepolisian di Sai Bumi Ruwa jurai ini.


July 1, 2015

Antisipasi Konflik dengan Anjau Silau

Oleh Edward Syah Pernong

SAYA duga banyak warga Lampung yang tidak mengenal anjau silau. Bahkan, mendengar istilahnya pun mereka belum pernah. Karena itu, saya akan meringkas makna filsafat sosial Lampung ini, yang sesungguhnya merupakan kearifan lokal yang sangat bernilai, khususnya dalam mengantisipasi dan meredam konflik sosial, horizontal maupun vertikal.

Dari segisemantik, anjau silau berarti “berkunjung untuk menjenguk”. Jika seseorang melakukan anjau silau kepada kerabatnya, berarti dia mengunjungi untuk menjenguk kondisi tuan rumah. Sudah tentu dalam pertemuan itu terjadi saling tukar kabar dan gagasan tentang berbagai masalah. Jadi, unsur silaturahmi sangat kental di dalamnya, meski anjau silau dapat mengandung tujuan yang lebih spesifik.

June 25, 2015

Promosi Wisata Berbasis Komunitas

Oleh Eko Sugiarto


BEBERAPA waktu lalu media ini memuat pernyataan Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lampung Budhi Roswati. Inti pernyataan tersebut adalah dalam Festival Krakatau tahun ini panitia tidak akan mengundang duta besar dari negara-negara sahabat.

Duta besar dari negara-negara sahabat tidak diundang, menurut Budhi, karena kehadiran mereka dinilai tidak memberikan efek yang signifikan terkait promosi wisata Lampung. Dalam Festival Krakatau tahun ini panitia justru akan lebih fokus menggandeng berbagai komunitas yang ada di Lampung maupun di luar Lampung yang diharapkan akan lebih efektif untuk mempromosikan wisata Lampung.

Kemilau Anjau Silau

Oleh Moh Mukri


TABIK pun. Sosok Brigjen Edward Syah Pernong manarik untuk dikaji. Dia adalah putra daerah asal Lampung Barat yang menjadi Kapolda Lampung pertama kali dari tanah kelahirannya. Lebih menarik lagi karena ia juga seorang raja Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Paksi Buay Pernong bergelar Sultan Sekala Brak yang Dipertuan XXIII. Tidak sampai di situ, program baru yang ia gulirkan juga menarik. Dalam kepemimpinannya, pria kelahiran 27 Januari 1958 itu akan menggunakan program anjau silau untuk mengantisipasi tindak kejahatan dan pelanggaran hukum.

Dalam bahasa Lampung, anjau silau berarti saling datang berkunjung. Dalam pengertian umum, melalui anjau silau, polisi dan masyarakat saling berkunjung untuk menjalin komunikasi sebelum terjadi gangguan keamanan (konflik). Sementara silau merupakan suatu kegiatan menengok dan memantau keadaan tertentu yang biasanya dilakukan berulang-ulang, sehingga dapat diartikan anjau silau merupakan kegiatan silaturahmi, berkunjung, sekaligus memantau keadaan.


FIB dan Bahasa Lampung

Olh Faris Yursanto


TULISAN Eko Sugiarto (Fajar Sumatera, 17 Juni 2015) yang kembali mempertanyakan kemungkinan berdirinya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sejatinya memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan fakultas ini untuk Lampung. Ide ini sebenarnya sudah lama dan mencuat setelah Kedutaan Besar Belanda menyerahkan Kamus Bahasa Lampung karya H.N. Van Der Tuuk.

Pendirian FIB memang mendesak untuk dilakukan jika melihat realita yang ada bahwa budaya Lampung khususnya bahasa terancam hilang. FIB diharapkan nantinya dapat menjadi tempat pusat pembelajaran budaya Lampung.


June 23, 2015

[Buras] Anjau Silau, Menguasai Lapangan!

Oleh H Bambang Eka Wijaya

Kapolda Lampung Edward Syah Pernong menggulirkan program anjau silau untuk mengantisipasi tindak kejahatan dan pelanggaran hukum. Dalam program tersebut, aparat mendatangi masyarakat untuk menjalin komunikasi sebelum terjadi tindakan kriminal.

Dengan jalinan komunikasi yang mengedepankan kearifan budaya lokal, setiap masalah diupayakan bisa diselesaikan sedini mungkin, ujarnya di kantor Lampung Post, Jumat (19/6).

Badak Andatu, Momentum Lestarikan Habitat

Oleh MD Wicaksono


BULAN ini kita memperingati hari badak. Hari badak sebagai sebuah peringatan keberhasilan kelahiran badak sumatera (Dicerorhinus sumatraensis). Tiga tahun lalu tepatnya tanggal 23 Juni 2012 berhasil lahir badak jantan sumatera di Pusat Konservasi Badak (Suaka Rhino Sumatra/Sumatran Rhino Sanctuary) Taman Nasional Way Kambas Lampung. Badak jantan tersebut diberi nama Andatu oleh Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan RI waktu itu. Nama Andatu merupakan singkatan dan berarti ANugerah DAri TUhan, yang juga merupakan perpaduan nama induknya Andalas dan raTU.

Seorang pengunjung memberikan makanan kepada Andatu, badak yang tepat berusia tiga tahun pada 23 Juni 2015. (FOTO:  WIDODO S RAMONO)
Kelahiran anak badak sumatera jantan saat itu begitu menggemparkan dunia. Hal ini dikarenakan setelah menunggu hampir 124 tahun lamanya, Indonesia berhasil mengembangbiakan badak sumatra yang termasuk satwa hampir punah pada tahun 2012 yang juga merupakan Tahun Badak Internasional. Ahli Badak Indonesia mencatat sejarah mampu mengembangbiakan badak sumatera secara alami di habitatnya.


June 22, 2015

Sentuhan Budaya Program ala Pun

Oleh Yulianto dan Selvi Diana Meilinda

MENARIK sekali mengikuti pemberitaan mengenai Kapolda Lampung di Lampung Post, terlebih setelah kunjungan Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong ke Lampung Post pada Jumat (19/6). Dalam kunjungan tersebut, Kapolda sekaligus Raja Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak akan menerapkan program anjau silau.

Bagi masyarakat Lampung, anjau atau manjau adalah salah satu kegiatan bertamu, silaturahmi, dan berkunjung atas dasar emosi kekeluargaan nan kuat dengan tujuan tertentu. Ada tiga istilah manjau dalam Lampung, manjau pedom, manjau maju, dan manjau mulli.

[Tajuk] Menguji Anjau Silau

PEMIMPIN baru selalu datang membawa program baru. Program tersebut digulirkan untuk memperbaiki program lama yang belum sepenuhnya sempat terealisasi.

Program baru tentu saja akan membawa suasana baru di lingkungan kerja. Kebaruan itu pula yang dibawa Brigjen Edward Syah Pernong setelah dilantik sebagai kepala Kepolisian Daerah Lampung di Jakarta dua pekan lalu.

Mak Ganta Kapan Lagi

Oleh Ali Rukman


TULISAN ini tidak bermaksud menggurui dan atau memojok etnis tertentu dengan mengangkat ulun Lampung, tetapi  lebih kepada refleksi atas kejadian dan peristiwa yang telah ramai diperbincangkan banyak orang mengenai Lampung dan orang Lampung dari sudut pandang penulis sebagai pelaku pemberdayaan masyarakat.

Dalam beberapa teori dan ungkapan tentang pembangunan manusia salah satu benang merah yang dapat diambil adalah bagaimana melaksanakan pembangunan dimaksud berangkat dari dalam.   Untuk lebih memberi gambaran akan kondisi membangun SDM dari dalam penulis mengilustrasikan proses tersebut denganmenyimak proses menetasnya telor yang telah di buahi pejantan menjadi anak unggas; dimana proses sepenuhnya terjadi atas prakarsa dan atau nilai-nilai dari dalam sedangkan pihak luar hanya memfasilitasi saja dengan taat azas. Bila tidak, telor tidak akan menetas atau kehidupan yang diharapkan dari telor akan mati.

June 18, 2015

Ketika Edward Syah Pernong Pulang Kampung

Oleh Karina Lin

PERGANTIAN pucuk pimpinan suatu institusi atau lembaga (baik pemerintah ataupun swasta) biasanya diikuti perombakan perangkatnya. Hal inilah yang terjadi pada Korps Bhayangkara Indonesia. Awal tahun 2015 ini—mereka sempat dilanda polemik mengenai penunjukan pimpinannya yang baru. Kini enam bulan kemudian, pascapolemik mereda dan Kapolri baru diangkat, perombakan terhadap susunan perangkat anak buah mereka dilakukan.

Mengutip Tajuk Lampung Post (8/6), melalui telegram rahasia Kapolri Badrodin Haiti, sejumlah pejabat tinggi dan pejabat menengah dimutasikan. Termasuk Korps Bhayangkara Lampung. Pucuk pimpinan Polda Lampung yang sebelumnya dijabat Brigjen Heru Winarko diestafetkan kepada Brigjen Edward Syah Pernong.

Apa Kabar FIB di PTN Lampung?

Oleh Eko Sugiarto


MESKIPUN tidak tinggal di Lampung, sebagai orang yang lahir dan menghabiskan masa kecil di Lampung, sesekali saya menyempatkan membaca tulisan atau berita tentang apa yang terjadi di Lampung. Tulisan atau berita itu salah satunya saya peroleh dari seorang kawan di media sosial. Kawan yang dulu pernah bekerja di sebuah media cetak di Pangkalanbun, Kalimantan, ini termasuk orang yang sangat rajin mengunggah berita tentang apa yang terjadi di Lampung via media sosial, baik yang dia tulis sendiri maupun yang ditulis oleh orang lain.

Tentu tidak semua tulisan atau berita yang dia unggah saya baca, melainkan saya pilih tulisan atau berita dengan tema-tema tertentu yang menarik minat saya. Salah satunya adalah tulisan tentang wacana pendirian Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di perguruan tinggi negeri (PTN) Lampung yang ramai diperdebatkan pada Maret-April tahun lalu di media cetak dan maya di Lampung. Akan tetapi, setelah lebih dari setahun, saya sepertinya belum mendengar lagi sampai di mana perkembangan wacana tersebut.


June 15, 2015

Apa Saja Daya Tarik Wisata Lampung?

Oleh Eko Sugiarto


SEBELUM Anda menjawab apa saja daya tarik wisata Lampung, terlebih dahulu penulis akan menguraikan secara sekilas tentang batasan daya tarik wisata. Batasan ini diharapkan bisa dijadikan sebagai salah satu acuan untuk mengidentifikasi apa saja daya tarik wisata serta potensi daya tarik wisata yang ada di Lampung.

Menurut UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Sementara Warpani dan Warpani dalam buku Pariwisata dalam Tata Ruang Wilayah (Penerbit ITB, 2007) mendefinisikan daya tarik wisata sebagai segala sesuatu yang memicu seseorang dan/atau sekelompok orang mengunjungi suatu tempat karena sesuatu itu memiliki makna tertentu.

June 12, 2015

[Cerita Kenangan] Tentang Wartawan dan Seniman Itu...

Oleh Anton Bahtiar Rifa'i


Beberapa aktivis Surat Kabar Mahasiswa Teknokra 1990-an.
Dari ke kanan (depan): Udo Z Karzi dan Anton Bahtiar Rifa'i
(belakang): Ari Wahyu, Affan Zaldi Erya, Mohammad Ridwan.
“SENIMAN gagal adalah manusia yang cocok jadi wartawan.” Ucapan itu muncul dalam perbincangan saya dengan Udo Z Karzi, suatu hari, di Bandar Lampung, belasan tahun lalu.

Tentu, bukan “seniman gagal” dalam arti sesungguhnya, yang kami maksud. Kami cuma meyakini: untuk jadi wartawan, dibutuhkan keindahan merangkai kata ala seniman, tapi tetap menghadirkan rasionalitas yang terang benderang –tidak segelap karya seniman. Itulah yang kami maksud dengan “seniman gagal” atau setengah seniman.


May 23, 2015

Di Mana Kiblat Sejarah Kelampungan?

Oleh Karina Lin


Museum Ruwa Jurai, Lampung
TEMA tulisan yang sedang kita baca bersama ini sebenarnya sudah lama mengendap dalam benak saya. Ada sekiranya lebih dari satu tahun. Tema tulisan ini mencuat lantaran kala itu Lampung Post sedang gencar-gencarnya memberitakan, termasuk juga mengadakan event-event diskusi bertema kelampungan. Dikarenakan beberapa hal, tema ini lantas menguap dan baru sekarang terpikirkan lagi.

Kebetulan pula momennya terasa lebih pas. Hal ini dikarenakan pada 18 Mei lalu adalah peringatan Hari Museum Internasional (HMI/International Museum Day/ IMD) yang ke-38. Mungkin ada yang terperanjat, seperti seorang teman yang juga seorang penyuka sejarah. Saat mendapat informasi 18 Mei merupakan IMD, dia berkata, “Oh, ada juga Hari Museum Internasional ya?



February 15, 2015

[Buku] Demi Harga Diri dan Kejayaan Bangsa

Oleh Udo Z. Karzi


Data buku:
The Rise of Majapahit
Setyo Wardoyo
Grasindo, Jakarta, 2014
xxvi + 399 hlm.
KERAJAAN Majapahit (1293—1500) yang mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk (1350—1389) dengan Mahapatih Gajah Mada; rupanya tak henti-hentinya melahirkan inspirasi. Tak kecuali bagi para penulis prosa.

Begitulah, novel (sejarah) berlatar Majapahit terus mengalir. Sebut saja Tusuk Sanggul Pudak Wangi (Pandir Kelana), Samita: Sepak Terjang Hui Sing Murid Ceng Ho (Tasaro),  dan Kemelut di Majapahit (Kho Ping Hoo). Lalu, Pelangi di Atas Gelagahwangi (S Tidjab), Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto), Gajah Mada 1-5 (Langit Kresna Hariadi), Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit (Hermawan Aksan), Sabda Palon: Ketika Majapahit Sirna dan Islam Menaklukkan Nusantara (Damar Shashangka), Kerajaan Majapahit (Junus Satrio), Brawijaya Moksa (Wawan Susetya), Banarawa (Siwi Sang), dan banyak lagi.


January 15, 2015

[Nyuara] Bagaimana Cara Menebus Malu?*

Oleh Udo Z. Karzi


BARU saja memberitahukan Majalah Nyuara mempunyai rumah baru di http://www.teraslampung.com/search/label/Nyuara. Belum ada yang mengirimkan karya ke Ruang Berbahasa Lampung ini. Hari ini, Selasa, 13 Januari 2015, saya ditanya.

"Apa kabar, Udo? Ada tidak buku sastra Lampung yang dipilih untuk Hadiah Rancage?" tanya Ahmad Rivai dari Yayasan Kebudayaan Rancage, Bandung.