November 19, 2015

Kembali pada Puisi

Oleh AJ Susmana

SECARA metode, tidaklah sulit untuk memahami hati suatu bangsa. Cukuplah kiranya kalau mau dengan susah payah memahami puisi-puisi yang diucapkan, ditulis, dibaca dan dilagukan oleh bangsa tersebut.  Melalui puisi-puisi tersebut akan didapat pengetahuan suka-duka kolektif suatu bangsa yang mengarungi jaman beserta ketakutan dan kegembiraan melihat masa depan.

Puisi-puisi itu pun bisa berupa peribahasa dan pesan-pesan didaktik sebagaimana bisa kita baca pada Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji atau juga Kitab Nyanyian, antologi puisi pertama dalam sejarah China meliputi periode selama 5 abad dari awal Dinasti Zhou Barat abad ke-11 SM hingga pertengahan Periode Musim Semi dan Musim Gugur abad ke-6 SM. Konon pada mulanya terdiri dari 3000-an puisi; lantas diseleksi Confusius menjadi 305 puisi. (lihat: Li Xiaoxiang, Asal Mula Sastra China Klasik, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010;6) Info lain menyebutkan, semula hasil seleksi Confusius berjumlah 311 puisi. Enam puisi hilang waktu terjadi pembakaran kitab.

Sebegitu pentingkah puisi? Ketika sudah begitu banyak dihadirkan bentuk seni pun sastra terutama prosa seperti cerita pendek dan novel yang begitu bergengsi di mata masyarakat dan lebih mendapatkan tempat dalam masyarakat Industri;  dengan  begitu juga bisa dikapitalisasi lebih cepat? Jawabannya: iya. Kalau tidak ingin kehilangan sejarah  dan sumber-sumber pengetahuan  dari para pendahulu, haruslah juga kembali pada puisi. Ketika masyarakat atau bangsa sudah tidak mengenali lagi puisi, tentu akan sulit kembali pada jalan puisi yang pernah ditempuh nenek-kakek moyang. Tanpa puisi, kehidupan memang tetap berjalan tetapi sudah jelas akan banyak pengetahuan yang hilang lenyap begitu saja. Tak kurang dari Ibnu Khaldun, cendekiawan muslim abad pertengahan, dalam Mukaddimah mengingatkan  bahwa syair merupakan kumpulan catatan bangsa Arab. Di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, informasi, dan falsafah-falsafah hidup mereka (Mukaddimah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001;1072).

Hal yang sama juga terjadi pada bangsa-bangsa di Nusantara. Dari Pustaka Jawa Kuna atau Kawi, yang ditulis dalam bentuk (puisi) Kakawin misalnya Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Kresnayana karya Mpu Triguna, Sumanasantaka karya Mpu Manoguna, Smaradahana karya Mpu Dharmaja, Bhomakawya pengarang tak diketahui, Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Hariwangsa karya Mpu Panuluh, Gathotkacasraya karya Mpu Panuluh, Wrettasancaya karya Mpu Tan Akung, Lubdaka karya Mpu Tan Akung, Brahmandapurana pengarang tak diketahui, Kunjarakarna pengarang tak diketahui, Negarakretagama karya Mpu Prapanca, Arjunawijaya karya Mpu Tan Tular, Sutasoma karya Mpu Tan Tular, Parthayajna pengarang tak diketahui, Nitisastra pengarang tak diketahui, Nirarthaprakreta pengarang tak diketahui, Dharmasunya pengarang tak diketahui dan  Harisraya pengarang tak diketahui.

Puisi-puisi bentuk Kakawin itu terentang dari awal abad ke-11 M, jaman Raja Airlangga sampai pertengahan  abad ke-16 M. Semboyan dan landasan persatuan nasional kita ketika mendirikan Republik Indonesia: Bhineka Tunggal Ika adalah baris puisi yang dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tan Tular, yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit, abad ke-14 M. Pelajaran dari Mpu Tantular mengenai keharusan saling menghargai antar umat yang berbeda keyakinan serasa mendesak kemuka ketika masih saja sampai sekarang terjadi konflik antar umat beragama di Indonesia. Bentuk Kakawin inilah yang merangsang W.S. Rendra empat abad kemudian di masa Kemerdekaan, menulis  puisi cintanya dengan memberi judul Kakawin Kawin yang terdapat dalam Empat Kumpulan Sajak, 1961. Ini menjelaskan hubungan atau perasaan Penyair Rendra yang begitu dekat dengan tradisi berpuisi para leluhurnya walau tak harus menggunakan metrum dan guru laghu sebagaimana dalam Kakawin.

***

Kematian puisi bagi suatu bangsa atau masyarakat tentu menggelisahkan. Pada Film Dead Poets Society, 1989 kita bisa belajar bagaimana puisi sebaiknya diajarkan dan bagaimana puisi menggerakkan kehidupan dan  menjadikan murid yang jujur dan berani menghadapi keadaan. Menghalangi puisi justru berujung pada kemandegan. Pada film Poetry, 2010 garapan Lee Chang-dong pun kita dihadapkan pada hal yang sama: bagaimana puisi mesti dituliskan dan kejujuran dalam kehidupan.

Sejatinya menghidupkan puisi adalah menyatukan perasaan manusia sepanjang sejarah dalam membangun peradaban; yang menjadikan manusia menjadi semakin manusiawi. Tak tinggal menjadi binatang atau pun tak berhati seperti mesin. Begitulah sejarah evolusi manusia. Karena itu revolusi mental membangun negeri haruslah juga menghidupkan puisi. Memberikan pelajaran puisi sejak dini dalam artian usia pun juga kepada masyarakat awam yang sedari dini tidak mengenal puisi adalah bagian dari kerja-kerja kebudayaan yang tak bisa ditinggalkan. Untuk itu Pemerintah  harus juga mengambil tanggung-jawab dan terlibat penuh dalam proyek ini dengan membuka pusat-pusat kebudayaan yang mengapresiasi puisi seperti mendukung penerbitan terkait puisi baik lama atau pun baru dan membuat puisi hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. n

AJ Susmana, Anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat -JAKER

Sumber: Fajar Sumatera, Kamis, 19 November 2015

2 comments: