May 31, 2011

Malam Apresiasi: UKMBS Mengenang Franky Sahilatua

Acara Malam Apresiasi Mengenang Franky Sahilatua yang diselenggarakan UKMBS Universitas Lampung, Sabtu (28-5) malam, berlangsung meriah. Acara yang digelar di gedung PKM, Unila, ini dihadiri para seniman dari Komunitas Berkat Yakin, Edi Samudra Kertagama, Jimmy Maruli Alfian, Fitri Yani, dan komunitas-komunitas seni kampus lainnya.


MALAM APRESIASI. Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila menyelenggarakan Malam Apresiasi Mengenang Franky Sahilatua di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Sabtu (28-5). (ISTIMEWA)


Ketua Pelaksana, Didi Arsandi, mengatakan kegiatan ini merupakan persembahan UKMBS Unila untuk mengajak rekan-rekan, khususnya di Lampung, agar lebih apresiatif terhadap momen kesenian yang aktual, misalnya kepergian Franky Sahilatua.

"Kami berharap rekan-rekan lain juga berinisiatif menyelenggarakan kegiatan yang mampu menyerap partisipasi secara lebih aktif dari komunitas-komunitas seni lain demi terjalinnya kekeluargaan yang lebih erat antarpara pelaku seni di Lampung," kata Didi.

Acara diawali dengan slide-slide tentang riwayat Franky. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Edy Samudra Kertagama yang membawakan sajak W.S. Rendra, Sajak Sebatang Lisong, dan disambung dengan monolog singkat karyanya sendiri yang ditujukan kepada Franky. Pembaca puisi berikutnya adalah Riki Putra Jumara dari UKMBS Unila.

Memasuki sesi menyanyi bersama, UKM Senior Umitra menggugah tepuk tangan penonton dengan lagu Orang Pinggiran, lalu dilanjutkan menyanyikan lagu Lelaki dan Rembulan. Penampil kedua adalah UKM IMPAS STAIN Metro yang membawakan lagu Pekerja, Pelabuhan, dan Kampung Halaman. Sebagai penampil ketiga, UKM Mentari UM Metro mengajak penonton bernyanyi bersama dengan lagu Terminal serta lagu Dan Ketuk Semua Pintu.

Dari para hadirin, ada juga yang meminta untuk diberi kesempatan bernyanyi, yaitu Andi Rahman dan Shandy Yustanto, yang menyanyikan lagu Untukmu Gadisku. Selanjutnya tampil Kompeni Metro yang membawakan lagu Mengalir Tak Tentu dan Kemesraan. Sebagai penampil ke-6, UKM SBI IAIN Raden Intan menyanyikan lagu Perjalanan dan Anak Petani. Sebagai penutup, grup musik dari Unila yang menamakan diri Suarat membawakan lagu Bis Kota, Nyanyian, dan Perahu Retak.

Pada akhir acara, dilakukan penandatanganan kaus bergambar Franky sebagai aksi simbolis dalam acara tersebut. Rencananya, kaus tersebut beserta dokumentasi kegiatan akan dikirimkan ke rumah keluarga Franky Sahilatua di Bintaro, Tangerang Selatan. (MG2/L-2)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 31 Mei 2011

May 29, 2011

Di Mana Letak Kerajaan Sekala Brak?

Oleh Febrie Hastiyanto

HAMPIR dipercaya oleh sebagian (besar) masyarakat Lampung bahwa asal-usul orang Lampung bermula dari Sekala Brak, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan. Kepercayaan ini banyak bersumber dari cerita tutur (mitologi). Mitologi dalam metodologi penelitian etnografi merupakan sumber literatur yang tergolong lemah, karena itu ia perlu didukung oleh bukti-bukti arkeologis berupa prasasti, surat-surat kerajaan, hingga analisis konteks internal dan eksternal. Lemahnya derajat validitas metodologi Sekala Brak bukan berarti hendak menegaskan bahwa Sekala Brak tidak ada. Sekala Brak mungkin ada, namun bukti pendukungnya belum lengkap. Pertanyaannya kemudian, bila Sekala Brak benar ada, apa sumbernya dan di mana kira-kira letaknya. Penelitian etnografi pada dasarnya adalah metode rekonstruksi. Sehingga, validitas dalam riset etnografi banyak didasarkan pada kekuatan analisis. Artinya, semakin analisis tersebut tidak dapat dibantah melalui alternatif metode lain, maka rekonstruksi etnografis tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan, sebelum muncul informasi dan analisis baru.

Bukti Keberadaan

Selain bersumber pada mitologi, sebenarnya sejumlah kalangan mulai membuka tabir missing link dalam metodologi etnografi Sekala Brak. Prof. Dr. Louis-Charles Damais, dalam Epigrafi dan Sejarah Nusantara, (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hh. 26-45) menyebutkan terdapat prasasti yang ditemukan di Liwa, masih termasuk kawasan Gunung Pesagi Lampung Barat. Prasasti ini disebut Hujung Langit (ada juga yang menyebut Harakuning, Bunuk Tenuar maupun Prasasti Bawang) bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997). Dalam prasasti ini disebutkan nama seorang raja pada baris ke-7, yang menurut pembacaan Prof. Damais namanya adalah Sri Haridewa. Oleh Drs. Irfan Anshory (Lampost, 9 dan 16 Desember 2007) prasasti ini dimungkinkan berhubungan dengan Sekala Brak, dilihat dari letak ditemukannya prasasti.

Dalam tradisi sejarah Dinasti Liang (502-556), yang diterjemahkan Prof. W.P. Groeneveldt disebutkan bahwa di Asia Tenggara terdapat Kerajaan Kan-to-li yang “terletak di sebuah pulau besar di laut selatan. Adat istiadatnya kira-kira sama dengan Kamboja dan Siam. Negeri ini menghasilkan pakaian yang berbunga, kapas, dan pinang”. Kawasan ‘Asia Tenggara’ tentu terlalu luas untuk mengidentifikasi di mana letak Kan-to-li. Prof. Oliver W. Wolters dari Universitas Cornell mengerucutkan kemungkinan posisi Kan-to-li dengan mengatakan bahwa ada dua kerajaan di Asia Tenggara yang mengembangkan perdagangan dengan Cina pada abad kelima dan keenam, yaitu Kan-to-li di Sumatera dan Ho-lo-tan di Jawa. Gabriel Ferrand menduga bahwa Kan-to-li terletak di Singkil (Barus), pantai barat Aceh, berdasarkan keterangan musafir Arab, Ibnu Majid, bahwa tahun 1462 Pelabuhan Singkil dahulu disebut “Kandari”. Prof. Slametmulyana berpendapat bahwa Kan-to-li transliterasi dari nama asli “Kuntali” (Kuntala), kemudian nama Kuntal mengalami metatesis menjadi Tungkal, nama daerah di Jambi. Oleh Irfan Anshory, Kan-to-li dapat diduga sebagai “Kenali”, satu wilayah kecamatan yang dekat dengan wilayah yang diyakini sebagai sisa peninggalan Sekala Brak. Irfan Anshory mendasarkan analisisnya pada kemungkinan transliterasi “Kan-to-li” menjadi “Kenali”.

Apakah Prasasti Hujung Langit berhubungan dengan Sekala Brak, tentu membutuhkan analisis arkeologis lebih lanjut, mengingat prasasti itu tentu memuat serangkaian tulisan yang dapat diterjemahkan untuk dianalisis maknanya. Namun sayang, Irfan Anshory tidak mengutip isi prasasti tersebut secara lengkap karena prasasti tersebut memang belum dapat diterjemahkan dengan sempurna. Bagian yang dapat terbaca diantaranya menyebut kata ‘tatkala’, ‘sa-tanah’, ‘sa-hutan’, ‘Sri haji’, dan penanggalan. Prasasti tesebut tidak menyebut nama kerajaan. Berdasarkan bentuk huruf dan penanggalan yang menyebut istilah ‘wuku’ mengindikasikan adanya pengaruh Jawa. Gelar Sri haji yang tertera dalam prasasti merujuk pada istilah kedudukan di bawah Maharaja. Kuat dugaan prasasti ini dibuat oleh raja bawahan.

Menurut Nanang Saptono, dari Balai Arkeologi Bandung mengutip Soekmono (1985:49) menyebutkan bahwa: “Prasasti Hujung Langit berdasarkan unsur penanggalan dan paleografisnya memberi arah dugaan pada adanya pengaruh kekuasaan Mpu Sindok dan Erlangga”. Bila analisis ini benar, Prasasti Hujung Langit mengindikasikan keberadaannya berhubungan dengan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Mpu Sindok menurut catatan memerintah tahun 929-947 M, dan Erlangga (Airlangga) memerintah antara 1028-1035 M. Sepeninggal Airlangga Kahuripan kemudian dibagi menjadi dua, Jenggala dan Kediri (Daha/Panjalu), sebelum kekuasaan beralih ke Singasari (Tumapel) dan kemudian Majapahit. Dilihat dari akurasi masa pemerintahan Mpu Sindok hingga Erlangga antara 929-1035 M dan Prasasti Hujung Langit tahun 997, dugaan bahwa Prasasti Hujung Langit berhubungan dengan Kahuripan perlu diteliti lebih lanjut.

Menghubungkan Sekala Brak hanya karena lokasi prasasti berada dalam lokasi yang dimungkinkan sama tampaknya belum merupakan analisis yang kuat. Keberadaan Prasasti Hujung Langit di Liwa belum serta merta mengindikasikan prasasti tersebut menegaskan bahwa kerajaan (kalau prasasti itu bercerita tentang kerajaan) itu berada di lokasi prasasti ditemukan. Jejak Kerajaan Sriwijaya misalnya dibuktikan dari antara lain sejumlah prasasti, yakni Kota Kapur (Bangka), Karang Berahi (Jambi) dan Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di Lampung (Selatan). Prasasti Palas Pasemah ditemukan 200 km jauhnya dari Sriwijaya, yang diduga berada di tepi Sungai Musi, Palembang. Karena itu, usaha memberi makna dari keberadaan Prasasti Hujung Langit harus dilakukan dengan terlebih dahulu menerjemahkan aksara dari prasasti tersebut. Sayangnya (lagi), informasi Nanang Saptono maupun Soekmono kita ketahui setelah menjadi ‘kesimpulan’, bukan transkrip terjemahan prasasti.

Begitu juga dengan ‘kesimpulan’ Kan-to-li sebagai Kenali masih perlu dilakukan penelitian lanjut, meliputi pertanyaan-pertanyaan, apakah Kenali beragama Budha, sebagaimana Kamboja dan Thailand. Serta apakah Kenali juga penghasil kapas dan pinang sebagaimana deskripsi Kan-to-li oleh Groeneveldt, karena selama ini Lampung dikenal sebagai wilayah penghasil lada dan kopi.

Letak Kerajaan

Selain merekonstruksi kemungkinan keberadaan Sekala Brak, perlu direkonstruksi pula kemungkinan di mana letaknya. Dalam satu pelatihan di Universitas Gadjah Mada pada sesi Sistem Informasi Geografi (Geographic Information System) saya sempat berdiskusi dengan Drs. Suharyadi, M.Sc dosen Fakultas Geografi UGM. Suharyadi pernah membuat peta dari deskripsi penelitian Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM terhadap sekira 40-an kerajaan-kerajaan di nusantara. Informasi yang menarik sekaligus mengagumkan bagi kita adalah kenyataan bahwa hampir seluruh (kalau tak boleh disebut 100%) kerajaan kuno di nusantara berada pada posisi paling baik dan strategis (best site). Posisi strategis ini memiliki tiga makna, yakni memiliki daya dukung, aksesibilitas, dan pertahanan wilayah yang baik.

Daya dukung memiliki makna bahwa umumnya kerajaan di nusantara menggantungkan hidupnya pada ketersediaan sumber daya alam terutama yang bersifat subsistensi dasar (bahan pokok). Umumnya kerajaan-kerajaan di nusantara memiliki sumber daya pangan yang cukup, baru melakukan ekspor komoditas nonpangan. Hal ini berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Eropa yang mampu menghidupi dirinya hanya dari perdagangan luar negeri pada komoditas nonpangan atau industri (merkantilisme). Daya dukung kerajaan nusantara bersumber pada wilayah penyangga/satelit (hinterland) yang subur. Umumnya topografi hinterland yang subur untuk tanaman pangan adalah dataran rendah hingga pesisir yang cukup air. Sangat jarang ditemukan kerajaan yang berada di gunung atau pegunungan. Kalaupun ada jejaknya, kuat diduga peninggalan itu mengindikasikan sebagai pesanggrahan (tempat peristirahatan), maupun tempat peribadatan. Borobudur, dan kompleks candi Ratu Boko di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang berlokasi di perbukitan misalnya menegaskan tesis ini. Kerajaan yang berlokasi di pegunungan juga terbilang riskan bagi pertumbuhan kota. Bila wilayah hulu telah berkembang, wilayah tersebut dapat kehilangan sumber-sumber air maupun kesuburan tanah mengingat eksplotasi dilakukan di hulu. Bila eksploitasi dilakukan di wilayah hilir, pertumbuhan kota kerajaan dapat disokong hinterland-nya di hulu.

Aksesibilitas yang baik berarti kerajaan tersebut berada pada jalur transportasi, yang saat itu berbentuk sungai maupun laut. Catatan yang ada terhadap lokasi kerajaan-kerajaan nusantara membenarkan tesis ini. Kita tahu Majapahit berpusat di Trowulan, dekat Sungai Brantas. Begitu juga Sriwijaya (Sungai Musi), Demak (Pesisir Utara Jawa), Makassar, Ternate, Tidore, Malaka (pesisir laut), Surakarta (Sungai Pepe dan Bengawan Solo), Yogyakarta (Kali Progo), Melayu (Sungai Batanghari), hingga Mesir (Sungai Nil) maupun Mesopotamia yang kini menjadi Irak (Sungai Eufrat dan Tigris).

Fungsi pertahanan sangat berhubungan dengan daya dukung lahan dan aksesibilitas. Dalam strategi pertahanan, pertahanan paling baik adalah menyerang, atau sekurang-kurangnya menahan laju serangan saat ‘menyambut’ musuh. Prinsip ini dikuatkan oleh sejumlah bukti benteng-benteng pertahanan yang dibangun di ‘muka kerajaan’ yang biasanya berada di kawasan pantai atau muara.

Dari ketiga tesis kecenderungan lokasi kerajaan-kerajaan di nusantara, kita dapat membandingkan dugaan letak Sekala Brak di Lampung Barat. Lampung Barat saat ini memiliki kontur pegunungan. Beberapa wilayah bahkan hingga saat ini masih menemui kesulitan aksesibiltas dengan daerah tetangga. Sehingga dugaan letak Sekala Brak masih memerlukan serangkaian diskusi akademik lagi. Dari catatan Berita Cina yang menyebutkan nama-nama kerajaan yang diduga berada di Lampung yakni To-lang-po-hwang (Tulangbawang) dan Yeh-po-ti (Seputih) keduanya menunjukkan lokasi di pesisir dan muara sungai besar. Sehingga, bila benar Sekala Brak ada, letaknya bias jadi tidak berada pada wilayah pegunungan dengan mempertimbangkan analisis posisi paling baik dan strategis (best site) serta membandingkan dengan posisi kerajaan sezaman (Tulangbawang dan Seputih). Namun saya juga tidak dapat memastikan letaknya di mana, karena informasi yang saya miliki masih terbatas. Setidaknya analisis ini menjadi alternatif tesis bagi usaha-usaha membuktikan secara akademik keberadaan Sekala Brak. Tabik.

Febrie Hastiyanto
, alumnus Sosiologi FISIP UNS. Menulis naskah Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Etnografi Kebuayan Way Kanan Lampung.

Sumber: Dinamikanews No. 251/Mei 2011.

May 26, 2011

UKMBS Helat Apresiasi untuk Franky Sahilatua

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila mengajak komunitas seni kampus untuk menggelar malam apresiasi seni bagi musisi legendaris Franky Sahilatua. Demikian dikatakan Ahmad Hidayat selaku ketua UKMBS Unila kepada Lampung Post di Sekretariat UKM-BS Unila, Rabu (25-5).

Pada 20 April lalu, Indonesia kehilangan seorang musisi besar, Franky Sahilatua. Dia tutup usia setelah bergelut dengan kanker sumsum tulang belakang yang telah lama dideritanya.

"Musisi ballads yang banyak digemari generasi muda tahun 80-an itu sudah banyak mewariskan lagu-lagu monumental, seperti Perahu Retak, Musim Bunga, Di Bawah Tiang Bendera, Untukmu Gadisku, atau Bis Kota," kata dia.

Ia mengatakan sebagai seniman, Franky menyerap inspirasi dari masyarakat, lalu menggubahnya menjadi lagu-lagu. Di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan lagu-lagu Franky sebagai sumber inspirasi untuk gairah hidup setiap individu dalam menjalani rutinitas sehari-hari.

"Oleh karena itu, UKMBS Universitas Lampung pada malam Minggu ini (28-05) di gedung PKM, Unila, akan menggelar Malam Apresiasi Mengenang Franky Sahilatua sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengajak insan-insan penggemarnya di Lampung untuk berkumpul bersama," ujar dia.

Ia mengatakan acara ini akan menampilkan komunitas-komunitas seni kampus untuk menyanyikan lagu-lagu Franky, antara lain UKM SBI IAIN Raden Intan, UKM Senior Umitra, Mentari UM Metro, Kompeni Ma’arif 29 Metro, dan beberapa rekan dari Unila.

Selain itu, juga akan hadir penyair senior Edi Samudra Kertagama untuk membacakan puisi. Pada akhir acara akan dilangsungkan penandatanganan bersama kaus bergambar Franky yang nantinya dikirimkan beserta dokumentasi kegiatan tersebut ke rumah duka di Bintaro, Tangerang. (MG1/S-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 26 Mei 2011

May 25, 2011

Guru Bahasa Lampung: Pemprov Lampung akan Berikan Insentif

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung akan memberikan uang tambahan di luar gaji atau insentif kepada guru Bahasa Lampung.

Menurut Kepala Biro Bina Sosial Provinsi Lampung Choiria Pandarita, besaran insentif ini sedang dikaji dan akan diupayakan masuk dalam APBD Perubahan 2011. Pemberian insentif ini diharapkan bisa memotivasi guru Bahasa Lampung untuk meningkatkan kinerjanya serta menarik minat masyarakat untuk menjadi guru Bahasa Lampung.

"Seperti yang kita ketahui, Lampung kan masih kekurangan guru bahasa daerah. Jadi Pemprov akan berupaya menarik minat masyarakat menjadi guru Bahasa Lampung. Pengembangan studi ini juga sedang dibahas dengan pihak Universitas Lampung," kata Choiria usai menghadiri rapat rintisan lembaga pembinaan dan pengembangan bahasa daerah di Ruang Abung Balai Keratun, Selasa (24-5).

Kekurangan guru Bahasa Lampung ini dibenarkan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. Menurut dia, Lampung kekurangan 4.000 guru bahasa Lampung yang latar belakang pendidikannya adalah pendidikan Bahasa Lampung. Hal ini menyebabkan guru Bahasa Lampung di sekolah-sekolah kurang kompeten dan tidak maksimal saat mengajar.

Padahal, kata Gubernur, bahasa daerah merupakan pembentuk jati diri daerah yang patut dijaga agar tidak mudah terdegradasi dengan masuknya pengaruh budaya dari luar.

"Waktu itu kan pernah ada seminar yang mengatakan 60 tahun lagi bahasa Lampung akan punah jika tidak dilestarikan. Kita memang tidak bisa memaksa semua orang menggunakan bahasa Lampung. Tapi paling tidak bisa dijadikan mata pelajaran yang dikelola dengan sungguh-sungguh di sekolah," kata Gubernur. (LIN/K-1)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 25 Mei 2011

Bahasa Lampung Terancam Punah

BANDARLAMPUNG – Pemprov Lampung diam-diam menyimpan kekhawatiran terhadap ancaman kepunahan bahasa Lampung. Padahal, bahasa daerah merupakan bagian dari jati diri bangsa.

’’Pernah ada seminar yang menyatakan 70 tahun atau mungkin sekarang 60 tahun ke depan akan punah,” ujar Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. usai membuka Rintisan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Daerah Lampung di Balai Keratun kemarin (24/5).

Sebenarnya, menurut Oedin –sapaan akrab Sjachroedin Z.P.–, permasalahan bahasa daerah juga dialami oleh sejumlah daerah lain. Seperti bahasa Sunda di Jawa Barat. Dirinya menuding, salah satu faktor penyebab kepunahan bahasa lokal adalah pengaruh kencang dari budaya asing.

Karena itu, lanjutnya, harus dicari cara agar bahasa Lampung sebagai identitas budaya dapat tetap eksis. ’’Saya dengar juga masih dibutuhkan empat ribu guru bahasa Lampung. Tentu ini yang sedang dibahas. Bagaimana dengan modal yang ada bisa berjalan? Bukan berarti menunggu dahulu baru berjalan. Jalan dahululah pelan-pelan,” ujar pimpinan daerah yang dikenal terbuka dengan kalangan awak media itu.

Sementara itu, Kepala Biro Bina Sosial Pemprov Lampung Choiria Pandarita menegaskan, Pemprov Lampung kini tengah merencanakan skema untuk memberi stimulan pada para guru bahasa Lampung. Antara lain, melalui pemberian insentif untuk guru bahasa Lampung.

Nantinya hal itu akan diusulkan pada APBD Perubahan. ’’Nanti kita akan usulkan. Kita akan bahas selanjutnya. Insya Allah diusulkan pada APBD Perubahan,” kata mantan kepala Dinas Tata Kota Bandarlampung itu.

Dijelaskan, insentif itu diutamakan akan diberikan kepada guru bahasa Lampung yang telah menjadi PNS. Lalu, bagaimana perhitungannya? ’’Belum ada perhitungan. Nanti akan dibahas dahulu dengan instansi terkait supaya dianggarkan,” katanya.

Diharapkan, lanjutnya, insentif itu akan menjadi pemacu motivasi bagi para pengajar. (wdi/c2/fik)

Sumber: Radar Lampung, Rabu, 25 Mei 2011

May 24, 2011

Budaya Lampung Harus Dilestarikan

Bandarlampung, 24/5 (ANTARA)- Gubernur Lampung Sjahroedin ZP mengatakan, budaya Lampung harus dilestarikan, agar tidak tergerus arus perkembangan zaman.

"Budaya adalah jati diri satu daerah atau bangsa, sehingga harus dijaga kelestariannya," kata dia, usai membuka temu koordinasi rintisan lembaga pembinaan dan pengembangan Bahasa dan Budaya Lampung, di Bandarlampung, Selasa.

Menurut dia, seiring perkembangan zaman, 60 tahun ke depan, budaya di Indonesia khususnya Lampung akan punah, karena fenomena saat ini menunjukkan budaya asing jauh diminati oleh generasi bangsa Indonesia, ketimbang budayanya sendiri.

Dia juga menambahkan, untuk melestarikan dan mengembangkan budaya dan bahasa Lampung, pemerintah harus mendukung gerakan rintisan budaya dan bahasa.

"Untuk mengatasi permasalahan itu, pemerintah berusaha memenuhi kekurangan untuk menjaga kelestarian budaya tersebut," tambah dia.

Sjachroedin melanjutkan, modal utama yang diperlukan dalam melestarikan budaya itu adalah menambah tenaga pengajar.

Dia mengatakan, kekurangan tenaga pengajar bahasa Daerah Lampung saat ini adalah sebanyak 4.000-an tenaga.

Selain itu, dia menjelaskan, saat ini Pemerintah Provinsi Lampung sedang menggiatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memasyarakatkan dan melestarikan bahasa Lampung.

Sementara itu, sejumlah warga Lampung yang berasal dari luar daerah tersebut mengaku sulit mempelajari bahasa asli setempat.

"Jujur saja saya lahir dan besar di sini sulit mempelajari, karena memang tidak dibudayakan dalam pergaulan sehari-hari," ujar Sardi, warga Lampung yang orang tuanya berasal Jawa Timur.

Bahkan, ia pun mengakui lebih mudah mempelajari bahasa daerah lainnya seperti Palembang atau Sunda.

Karena itu, ia berharap pemerintah setempat terus mengembangkan budaya dan bahasa Lampung, selain agar tidak punah juga bisa menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Sumber: Antara, Selasa, 24 Mei 2011

May 23, 2011

Konflik Makin Panas, Seekor Gajah Tewas

WAY JEPARA (Lampost): Konflik petani dan gajah liar asal hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memanas. Akibatnya, satu ekor gajah liar tewas, Minggu (22-5).

Menurut Eko (32) warga Desa Brajasakti, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, sekitar 15 ekor gajah liar keluar dari hutan pada Sabtu (21-5) sore. Rombongan satwa tambun itu merangsek tanaman padi dan singkong di Desa Brajaasri, Kecamatan Way Jepara.

Kemungkinan warga Brajaasri telah menggiring belasan gajah liar tersebut ke Desa Brajasakti, yang letaknya bergandengan. Sekitar pukul 21.00, belasan gajah berada di areal perkampungan warga Desa Brajasakti mengamuk sehingga ribuan warga panik dan berusaha mengusir kawanan satwa dilindungi tersebut.

"Saat itu belasan gajah berpencar, panik karena diburu oleh ribuan warga yang berusaha mengusir," Kata Eko.

Alhasil sekitar pukul 03.00 seekor gajah ditemukan warga tewas di parit milik warga Desa Brajasakti. Menurut Eko, saat ditemukan, gajah yang diperkirakan berumur dua tahun dengan berat badan 700 kg itu, menginjak comberan yang ditutup dengan semen tanpa dicor. Karena beratnya tak mampu ditopang beban semen, gajah itu masuk dalam comberan sedalam dua meter.

"Kebetulan yang masuk kepalanya dulu sehingga gajah itu tersungkur ke dalam lumpur," kata Eko.

Menurut Eko, diduga kuat penyebab binatang berbelalai panjang itu tewas karena tidak bisa bernapas lantaran kepala hingga setengah badan masuk dalam lumpur. Sekitar pukul 03.00, puluhan warga berusaha menarik gajah menggunakan alat berat.

Setelah diangkat dari comberan, anggota Polhut dibantu warga menaikkan gajah ke mobil patroli Polhut dan dibawa ke Pusat Latihan Gajah (PLG) untuk dikuburkan.

Akibat puluhan gajah merangsek tanaman di tiga desa, Ketua Komisi B Gunawan bersama anggotanya Yusran Amirullah dan Darmawan turun ke lapangan.

"TNWK harus bertanggung jawab. Tidak menutup kemungkinan hal seperti ini ada anggarannya dari Pusat tapi oleh TNWK tidak disalurkan kepada korban," kata Gunawan. (GUS/U-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 23 Mei 2011

May 22, 2011

Sekali Lagi, Musikalisasi Puisi

Oleh Agus Sri Danardana

DI DUNIA seni, sesungguhnya musikalisasi puisi bukanlah barang baru. Sebagaimana yang dilansir F. Moses melalui tulisannya di harian ini, Bunyi-Bunyian Plus dalam Musikalisasi Puisi (Lampung Post, 15 Mei 2011), bunyi (instrumen musik) dan teks puisi sudah hadir sejak zaman nabi, seperti teks wahyu yang dimazmurkan.

Musikalisasi puisi juga sudah menjadi perhatian bagi para komponis besar, seperti Franz Schubert (1797—1828), yang membuat komposisi musik vokal berdasar syair-syair gubahan pujangga-pujangga besar Eropa di zaman itu serta Maurice Ravel (1875—1937) yang membuat sebuah karya piano (berjudul Gaspard de la Nuit) berdasar puisi karya pujangga Prancis, Aloysius Bertrand (1807—1841).

Begitu pula di Indonesia. Kelompok musik Bimbo, misalnya, secara sangat ekspresif telah menyanyikan (memusikalisasi) puisi-puisi Taufiq Ismail, seperti Tuhan dan Dengan Puisi Aku. Sementara itu, Ebiet G. Ade pun selalu membawakan puisi-puisi ciptaannya sendiri ke dalam bentuk musik yang melodi baladis. Tak ketinggalan Yan Hartlan, Rita Rubi Hartlan, dan Ully Sigar Rusady, mereka pun gemar memusikalisasi puisi-puisinya. Yang menarik adalah pemusikalisasian itu telah berhasil mengantarkan puisi-puisi yang dimusikalisasi ke khalayak (masyarakat) tanpa terkurangi maknanya.

Oleh banyak orang, musikalisasi puisi masih sering dianggap sebagai salah satu teknik dalam pembacaan puisi. Orkestrasi musik (baik yang sederhana [dengan satu gitar] maupun yang tidak sederhana [orkes ansambel atau simponi]) hanya dijadikan latar atau pengiring pembacaan puisi. Artinya, antara puisi dan musik masih ada jarak. Puisi dan musik masih diperlakukan sebagai dua hal yang berbeda sehingga hasilnya pun baru sampai pada tahap mengiringi pembacaan/penyanyian puisi dengan beberapa alat musik seperti gitar, piano, dan alat ritmik yang lain. Musikalisasi puisi, dengan demikian, belum dipahami sebagai karya kreatif (cara lain) dalam apresiasi puisi.

Sebagai karya kreatif dalam apresiasi puisi, musikalisasi puisi semakin hari semakin mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya di kalangan kawula muda. Banyaknya penyelenggaraan kegiatan musikalisasi puisi di berbagai sekolah dan daerah membuktikan hal itu. Bahkan, belakangan ini muncul pula komunitas-komunitas (sanggar) baru yang secara intens menggeluti musikalisasi puisi. Komunitas-komunitas itu, baik secara lokal maupun nasional, kemudian berhimpun membentuk wadah baru: Komite Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi). Di samping di tingkat nasional, konon, Kompi juga telah berdiri di banyak provinsi, seperti Kompi Menado, Kompi Medan, Kompi Lampung, dan Kompi Jambi. Sementara itu, kegiatan musikakisasi puisi pun digelar di mana-mana. Sekadar contoh, di Sumatera, misalnya, setiap tahun (sejak 2006) digelar Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA Se-Sumatera. Tahun ini (2011) festival itu akan digelar di Palembang pada 5 dan 6 Juli 2011 oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan.

Mengapa Musikalisasi Puisi Menarik?

Musikalisasi puisi pada hakikatnya adalah kolaborasi apresiasi seni antara puisi, musik, dan pentas. Melalui musikalisasi puisi, seseorang tidak hanya mendapat kesempatan mengapresiasi puisi dan musik, tetapi juga mendapat kesempatan mengekspresikan apresiasinya itu di depan khalayak. Musikalisasi puisi, dengan demikian, adalah sebuah karya yang jelas membutuhkan daya kreativitas tinggi. Barangkali dua hal terakhir (musik dan pentas) itulah yang menjadikan musikalisasi puisi menarik minat banyak orang (terutama kawula muda) karena dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media/cara alternatif dalam pengembangan kreativitas mereka.

Seperti yang telah kita ketahui, belakangan ini banyak bermunculan kelompok musik (grup band) dengan berbagai corak dan jenisnya. Pada umumnya, tanpa harus mengabaikan proses kreativitas mereka, syair lagunya terkesan sederhana, polos, dan vulgar. Artinya, untuk menangkap makna syair itu seseorang tidak perlu banyak buang energi, begitu mendengar sudah tahu maksudnya, tanpa proses panjang untuk menafsirkannya. Di sinilah sesungguhnya mereka dapat memanfaatkan puisi, seperti yang pernah dilakukan Iwan Fals (bersama Kantata Taqwa) atas puisi Rendra, Kesaksian, God Bless atas puisi Taufiq Ismail, Panggung Sandiwara", dan Gigi atas puisi Taufiq Ismail, Pintu Surga.

Model Musikalisasi Puisi

Harus diakui hingga kini masih terjadi pro dan kontra terhadap bentuk/model musikalisasi puisi yang dianggap standar. Setidaknya ada tiga model musikalisasi puisi yang dapat diamati. Pertama, model musikalisasi puisi lagu. Dalam model ini puisi digubah menjadi syair lagu. Fokus utama model ini cenderung pada musiknya. Model musikalisasi puisi semacam ini dapat dilihat pada syair-syair lagu yang dibawakan Bimbo atas puisi-puisi Taufiq Ismail serta syair-syair lagu yang dibawakan Reda Gaudiamo dan Tatyana atas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Kedua, model musikalisasi puisi iringan. Dalam model ini puisi dibawakan (dibaca atau didendangkan) dengan diiringi oleh permainan alat-alat musik. Fokus utama model musikalisasi puisi ini adalah keahlian olah vokal pembaca/pendendang puisi. Model ini biasanya dilakukan oleh masyarakat umum dalam lomba-lomba/kegiatan baca puisi. Ketiga, model musikalisasi puisi total. Dalam model ini puisi dan musik dikolaborasikan. Pengikut model ini beranggapan bahwa pada hakikatnya puisi sudah memiliki musiknya sendiri.

Oleh sebab itu, tugas utama dalam musikalisasi puisi adalah mentransformasikan unsur musik yang ada dalam puisi itu ke bentuk yang lebih konkret, melalui alat musik. Dengan kata lain, musikalisasi puisi bukanlah kerja menciptakan musik untuk puisi, melainkan kerja mengonkretkan puisi dalam bentuk musik. Alat musiknya pun tidak harus berupa alat musik yang sudah lazim, tetapi dapat berupa apa saja. Model inilah, yang pada awalnya dilakukan oleh Devies Sanggar Matahari (Jakarta) dan menyebar melalui Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi), rupanya yang berkembang dengan baik.

Terlepas dari pro dan kontra (tiga model) itu, proses musikalisasi puisi (sebagai cara lain mengapresiasi puisi) mau tidak mau harus diawali dari pemahaman puisi. Setelah puisi benar-benar dipahami, langkah berikutnya adalah mencoba mengonkretkan pemahaman itu ke bentuk bunyi (musik). Untuk itu, unsur-unsur musik: nada, melodi, irama, tangga nada, dinamika, serta unsur pendukung lain seperti ekspresi dan harmonisasi perlu dikuasai. Berikut adalah penjelasn singkat mengenai unsur-unsur musik dan pendukung lainnya itu.

(1) Nada (tone) merupakan bagian terkecil dari lagu. Dalam pengertian musik, nada adalah suara yang mempunyai getaran tertentu dan mempunyai ketinggian tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi nada merupakan unsur dasar.

(2) Melodi adalah susunan nada secara horizontal dengan lompatan (interval) tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi melodi inilah yang akan mengonkretkan larik-larik puisi menjadi lagu.

(3) Irama adalah ukuran waktu atau tempo. Dalam musikalisasi puisi, irama menjadi sangat penting untuk memberi jiwa pada puisi yang diapresiasi. Puisi yang bersemangat seperti Aku-nya Chairil Anwar, misalnya, akan menjadi lebih bermakna jika dikemas dalam irama yang bervariatif: tempo sedang dengan perubahan (dipercepat dan diperlambat).

(4) Tangga nada berpengaruh besar terhadap penjiwaan puisi. Tangga nada minor, misalnya, cocok dipakai untuk puisi-puisi yang berjiwa melankolis, sendu, sedih, duka, dan pesimistis, sedangkan tangga nada mayor lebih cocok digunakan untuk puisi-puisi yang berjiwa optimistis, gagah, berani, riang, dan gembira.

(5) Dinamika berkaitan dengan keras-lembutnya lagu. Kadangkala suatu lagu dinyanyikan dengan sangat lembut pada awal penyajian, kemudian berangsur-angsur keras, atau mendadak keras, kembali melembut pada bagian tertentu, kemudian mengeras atau melembut pada bagian akhir (ending). Perubahan keras-lembutnya lagu ini akan memberikan nuansa penjiwaan pada penyajian lagu.

(6) Ekspresi adalah pengungkapan atau proses menyatakan. Dalam musikalisasi puisi, ekspresi menjadi bagian yang sangat penting karena melalui ekspresi inilah menarik tidaknya sebuah musikalisasi puisi. Celakanya, ekspresi tidak hanya terkait dengan pemahaman puisi, tetapi juga terkait dengan karakter orang (keaktoran) apresiator.

(7) Harmonisasi adalah keselarasan. Harmonisasi menjadi sangat dibutuhkan ketika musikalisasi puisi sudah sampai pada tahap orkestrasi yang melibatkan unsur instrumen musik iringan. Pada tahap ini peran iringan adalah memadukan unsur melodi, ritme, tempo, dinamika, serta ekspresi lagu.

Begitulah, jika sejak dulu dunia puisi adalah dunia yang sunyi, musikalisasi puisi dapat dijadikan sebagai salah satu pintu pembuka harapan menuju dunia yang lebih semarak. Di tengah ingar-bingar kawula muda yang sedang gandrung pada seni musik, musikalisasi puisi memiliki peluang untuk menggaet mereka. Jika itu terwujud, mudah-mudahan puisi (dan sastra pada umumnya) tidak lagi seperti diikat dan dipojokkan ke sudut sejarah yang berdebu. Semoga.

Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Mei 2011

May 21, 2011

Penerjemah Aksara Kaganga Bengkulu Semakin Langka*

Bengkulu, 21/5 (ANTARA) - Kepala Museum Negeri Bengkulu Ahadin mengatakan, penerjemah naskah kuno yang ditulis dengan aksara Kaganga semakin langka sehingga banyak koleksi museum yang belum diterjemahkan.

"Hingga saat ini hanya Profesor Sarwit Sarwono dari Universitas Bengkulu yang pernah menerjemahkan sejumlah naskah kuno aksara Kaganga koleksi museum," katanya di Bengkulu, Sabtu.

Aksara Kaganga, adalah huruf daerah Bengkulu.

Minimnya penerjemah naskah kuno yang sebagian besar diperoleh dari tangan masyarakat tersebut, katanya, membuat baru lima persen dari 126 koleksi naskah kuno yang ada di museum itu.

Hingga saat ini, kata dia, baru 10 naskah yang sudah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagian besar naskah kuno tersebut juga tidak diketahui identitas penulisannya (anonim).

Koleksi naskah kuno yang sudah diterjemahkan tersebut antara lain berisi pantun, ramuan obat, sejarah dan wejangan yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.

"Koleksi ini sangat berharga, tapi kelemahannya penerjemah sangat minim. Pak Sarwit juga membawa naskah itu ke daerah asalnya dan mencari orang tua yang masih bisa mengerti aksara Kaganga," jelasnya.

Selain keterbatasan penerjemah, ketersediaan anggaran juga menjadi kendala untuk menerjemahkan naskah kuno tersebut.

Keterbatasan anggaran tersebut membuat kegiatan penerjemahan naskah kuno dilakukan terakhir pada 2003.

"Sejak itu belum pernah ada lagi kegiatan penerjemahan naskah kuno karena kendala dana, setidaknya kami membutuhkan Rp150 juta hingga Rp200 juta," ujarnya.

Anggaran tersebut selain menerjemahkan naskah kuno yang membutuhkan bantuan dari masyarakat yang masih mengenal aksara Kaganga, juga untuk mencetak terjemahan tersebut.

Ahadin mengaku selalu mengusulkan anggaran tersebut setiap tahun dalam APBD provinsi tapi belum terealisasi.

"Kami berharap pemerintah daerah juga memperhatikan kegiatan menggali informasi dari naskah kuno yang ditulis nenek moyang kita, karena banyak ilmu dan pelajaran yang tercantum di dalamnya," katanya.

Selain naskah kuno, museum yang berdiri atas lahan seluas 9.974 meter persegi tersebut juga menyimpan 6.000 jenis koleksi lainnya antara lain tenunan kain tradisional Bengkulu, mesin cetak Drukkey Populair dengan merek "Golden Press" yang digunakan Pemerintah Indonesia untuk mencetak "uang merah".

Sumber: Antara, Sabtu, 21 Mei 2011


* Catatan ini di bawah ini perlu diberikan untuk menjelaskan bahwa aksara Kaganga tidak hanya dipakai di Bengkulu, tetapi juga beberapa daerah seperti Lampung.

Aksara Kaganga
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Aksara-aksara yang termasuk kelompok ini adalah antara lain aksara Rejang, Lampung, Rencong, dan lain-lain.

Nama kaganga ini merujuk pada ketiga aksara pertama dan mengingatkan kita kepada urutan aksara di India.

Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull (Inggris) dalam buku Folk literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan adalah Surat Ulu.

Aksara Batak atau Surat Batak juga berkerabat dengan kelompok Surat Ulu akan tetapi urutannya berbeda. Diperkirakan zaman dahulu di seluruh pulau Sumatra dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara Kaganga (Surat Ulu) ini. Tetapi di Aceh dan di daerah Sumatra Tengah (Minangkabau dan Riau), yang dipergunakan sejak lama adalah huruf Jawi.

Perbedaan utama antara aksara Surat Ulu dengan aksara Jawa ialah bahwa aksara Surat Ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara Jawa, dan sangat mudah untuk dipelajari .

Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan aksara Kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan.

May 20, 2011

Musim Angin Tenggara, Turis Asing Mulai Padati Krui

PESISIR SELATAN (Lampost): Memasuki musim angin tenggara, pesisir Krui, Lampung Barat, sejak dua pekan terakhir mulai ramai dikunjungi wisatawan asing yang berlibur di wilayah itu.

Iswandi, tokoh masyarakat Pekon Tanjungsetia, Kamis (19-5), mengatakan sejak sepakan terakhir pesisir mulai banyak dikunjungi wisatawan yang berlibur dan berselancar.

Bahkan, hampir seluruh penginapan yang ada di Kecamatan Pesisir Selatan telah penuh dipesan turis. "Inikan sudah mulai angin tenggara dan ombaknya sangat baik untuk berselancar sehingga sekarang turis sudah mulai berdatangan," kata pemilik penyewaan ojek itu.

Menurut Iswandi, hingga kemarin setidaknya terdapat 100 wisatawan yang menghabiskan waktu berlibur dan memesan penginapan di Pekon Tanjungsetia. Antara lain, di Losmen Ombak Indah sebanyak 40 orang, Losmen Damai Bunga (12), Parades (20), Hotel Family (14), Karang Ngimbor (8), Kahuna (10), dan penginapaan Tafokan (7).

"Di Pekon Tanjungsetia saja sudah hampir penuh, belum lagi di kecamatan lain yang juga banyak penginapan," ujarnya.

Biasanya, kata Iswandi, setiap turis yang berlibur di wilayah tersebut satu minggu hingga satu bulan. Mereka memesan penginapan terlebih dahulu melalui internet kepada pemilik hotel.

Kemudian, pemilik hotel memberitahukan kepada perangkat pekon dan warga yang memiliki usaha penyewaan sepeda motor untuk menyiapkan kendaraan untuk disewa. "Biasanya turis ini sebelum berangkat ke Krui, saya sudah dikasih tahu pemilik penginapan untuk menyiapkan kendaraan sewaan," kata dia.

Banyaknya turis asing yang berlibur ke Krui, memberikan penghasilan tersendiri bagi warga sekitar, terutama pada usaha penyewaan sepeda motor. "Lima motor saya dipesan selama 5 hari oleh turis, dan punya tetangga juga terpaksa disewakan atas nama saya kepada turis karena kekurangan motor."

Hal senada juga diungkapkan pemilik penginapan, Andre. Menurut dia, sejak sepakan terakhir kunjungan turis mulai ramai dan pemesanan penginapan oleh turis melalui internet juga meningkat.

"Biasanya kami menyewakan penginapan hanya kepada turis asing karena sistemnya bukan harian, melainkan dipesan selama satu minggu hingga satu bulan," kata Andre. (HEN/D-3)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 20 Mei 2011

May 19, 2011

[Surat Pembaca] Pentingnya Menjaga Budaya Tradisi

INDONESIA yang beragam tradisi budayanya adalah pesona luar biasa yang mampu menarik perhatian masyarakat domestik maupun mancanegara untuk berkunjung sekadar berwisata ataupun melakukan kegiatan kegiatan ilmiah lainnya. Daerah kunjungan wisata terkenal seperti Yogyakarta pun terus berbenah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Berdasarkan pengalaman tahun 2010 data dari Dinas Pariwisata Yogyakarta, pada November saja tingkat kunjungan wisatawan di Kota Yogyakarta sudah mencapai 2,167 juta orang, begitu juga di Bali yang merupakan kunjungan wisata yang begitu menarik bagi turis mancanegara.

Di Lampung, pada Januari 2011 kapal pesiar Odessy Clipper asal Amerika Serikat yang membawa 103 wisatawan mancanegara merapat di pantai Krui, Lampung Barat. Dari sinilah kita dapat menarik sedikit kesimpulan bahwa kesejahteraan rakyat juga dapat bergantung pada kunjungan wisatawan ke suatu daerah manakala daerah tersebut layak dan baik untuk disebut sebagai daerah kunjungan wisatawan.

Melihat dari daerah-daerah kunjungan wisata, seperti Bali dan Yogyakarta, selain dari fasilitas yang memadai juga tidak bisa lepas dari daya tarik tradisi yang tumbuh di sana, bagaimana rumah adatnya dengan masih terawat dan rapih, upacara atau tradisi masyarakat masih sering digelar, dan faktor penting keberlangsungan adat tradisi adalah masyarakat dan pemerintahnya yang terus berperan aktif untuk menjaga dan mengembangkan adat tradisi tersebut.

Membangun sarana tradisi tidaklah sama dengan membangun adat tradisi itu sendiri. Karena membangun sarana hanyalah salah satu dari banyak hal yang harus diperhatikan dalam rangkaian pembangunan adat tradisi. Sebab, yang sangat dikhawatirkan adalah pembangunan sarana yang tak profesional, apalagi untuk selanjutnya memanfaatkan sarana tersebut ke arah pelestarian adat tradisi.

Tradisi daerah, seperti kesenian, upacara, dan rumah-rumah adat, selain bernilai pariwisata juga merupakan ciri-ciri keagungan dan kebanggaan budaya suatu daerah, karena di setiap keunikan rumah adat dan tradisi lain di Nusantara tersimpan kearifan lokal di dalamnya, juga sebagai warisan leluhur bangsa ini yang memang pantas dijaga dan dilestarikan.

Karena itu, perlu upaya bersama untuk mengembangkan dan melestarikan budaya adiluhung (tinggi mutunya: seni budaya yang bernilai—wajib dipelihara) yang dimiliki oleh bangsa dan negara Indonesia, seperti yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Beragam wujud warisan budaya lokal memberi kita kesempatan untuk mempelajari kearifan lokal dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi di masa lalu. Masalahnya, kearifan lokal tersebut sering diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Dampaknya adalah banyak warisan budaya yang lapuk dimakan usia, telantar, dan terabaikan. Padahal banyak bangsa yang kurang kuat sejarahnya justru mencari-cari jati dirinya dari tinggalan sejarah dan warisan budayanya yang sedikit jumlahnya. Semoga bangsa kita khususnya masyarakat lampung terus mencintai adat tradisinya sendiri.

Lampung sebagai salah satu penyumbang khazanah budaya Nusantara, bumi yang memiliki keragaman tradisi, seperti Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak dan tradisi kepenyimbangan lainnya, sudah selayaknya membangun kembali adat tradisi yang mungkin sudah terlupakan seperti rumah-rumah adat dan kebudayaan lainnya, disajikan dalam bentuk yang lebih baik dan menarik guna menjawab tantangan kepariwisataan juga tantangan kelestarian yang dinamis.

Selain itu juga tidaklah cukup hanya sebatas membangun kembali, tapi sangat diperlukan adanya kerja ekstra dari seluruh komponen baik pemerintah, tokoh masyarakat dan pemuda, agar apa yang dibangun dapat bermanfaat bagi masyarakat pemilik tradisi budaya setempat.

Novan Adi Putra

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Lampung

Sumber: Lampung Post, Kamis, 19 Mei 2011

Budaya Lampung Harus Pancarkan Kepribadian

TERBANGGIBESAR (Lampost): Bupati Lampung Tengah A. Pairin mengharapkan kebudayaan Lampung, khususnya di Kabupaten Jurai Siwo mampu menembus dimensi ruang dan waktu pergaulan antarbangsa dengan memancarkan kepribadian yang agamis.

"Sebab, arus budaya global yang semula diharapkan mampu menjadi pendorong bagi kemajuan berbagai aspek kehidupan ternyata justru menjadi penghancur nilai-nilai luhur budaya yang ada," kata Pairin, Rabu (18-5).

Dia juga mengatakan tidak bisa dimungkiri muncul dan berkembangnya kecenderungan sekelompok manusia yang sengaja meninggalkan, bahkan lari dari budaya dan nilai-nilai luhur yang dibangun dan begitu diagungkan oleh para pendahulu.

"Karena itu, mari kita lestarikan budaya kita," ujar Bupati, ketika mengukuhkan pengurus organisasi budaya Bumi Meccak Batin Lamteng di Hotel Lee, Bandarjaya, Terbanggibesar.

Organisasi budaya itu dipimpin H.M.M. Herman Indrapati selaku ketua umum; Ibrahim Suttan Junjungan Suttan (sekretaris), dan Fathurrahman Sutan Dulu Pengiran (bendahara).

Organisasi itu juga diharapkan dapat membangun dan membangkitkan kembali seni dan adat istiadat Lampung. Selanjutnya, dapat menangkal dan menjadi filter atas kebudayaan dari luar, yang sangat berbeda dengan budaya sendiri dan nilainya lebih rendah.

Sementara itu, Herman mengatakan Bumi Mecak Batin adalah wadah tunggal bagi masyarakat Lamteng dalam mewujudkan keinginan dan perhatiannya terhadap kelangsungan adat Lampung. Organisasi itu merupakan wujud nyata kepedulian masyarakat dan Pemkab dalam memelihara adat dan budaya Lampung.

Hadirnya organisasi itu, kata dia, diharapkan bisa membakukan semua aspek adat istiadat Lampung. "Dengan begitu, bisa diperankan seluruh masyarakat Lampung, asli maupun pendatang, dalam mengatur lalu lintas masyarakat dan budaya," kata dia.

Jika hal itu berhasil diwujudkan, kata Herman, akan terdapat keseragaman dalam penyelenggaraaan adat dan budaya. Dengan demikian, kelak tidak muncul kerancuan di tingkat lokal maupun nasional. (NUD/D-3)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 19 Mei 2011

May 18, 2011

Sastra: Novel PPH, Alarm Sejarah Masyarakat Lampung

LIWA (Lampost): Novel Perempuan Penunggang Harimau (PPH) karya M. Harya Ramdhoni bisa menjadi alarm sejarah bagi masyarakat Lampung untuk memperhatikan masa silamnya yang saat ini masih menyimpan banyak misteri. Novel ini merupakan upaya rintisan untuk membaca masa lalu.




DISKUSI DAN NAPAK TILAS. Diskusi Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni dan napak tilas Kerajaan Sekala Brak di Liwa, 10-11 Mei lalu. (FOTO-FOTO: ISTIMEWA)

Pujangga Binhad Nurrohmat yang menjadi pembicara bersama penulisnya, Harya Ramdhoni, mengatakan hal itu dalam diskusi di Hotel Sahabat Utama, Liwa, Selasa pekan lalu. ""PPH menjadi semacam pasword memasuki masa silam Lampung yang sebenarnya merupakan masyarakat berperadaban besar berdasarkan peninggalan-peninggalan yang masih tertinggal saat ini misalnya tambo dan prasasti," kata penyair asal Lampung ini.

Acara diskusi ini merupakan rangkaian acara setelah sehari sebelumnya penulis bersama Binhad Nurrohmat dan para pembaca PPH dari Bandar Lampung, Kotabumi, Metro dan Liwa melakukan napak tilas ke beberapa lokasi peninggalan kerajaan Sekala Brak Hindu dan kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Islam.

Tempat-tempat yang dikunjungi, di antaranya adalah Prasati Bunuk Tenuagh berisi pemindahan Ibu Negeri Kenali ke Bunuk Tenuagh yang berangka tahun 997 Masehi, Makam Ratu Sekeghumong yang terletak di Perbukitan Bedudu-Belappau, Belalau dan Gedung Dalom Kepaksian Pernong di Batu Brak, Lampung Barat.

Sementara itu, menurut M. Harya Ramdhoni, penulis PPH yang juga dosen FISIP Unila, novel ini dan empat novel lainnya yang belum diterbitkan ia tulis selama enam tahun dan melalui berbagai sumber data yang beragam versinya. "Tentu saya memilih di antara data-data itu yang menurut saya punya landasan yang jelas secara historis. Informasi-informasi yang kabur atau tak kuat asal-usulnya tidak saya hadirkan dalam PPH dan novel-novel selanjutnya."

Diskusi ini berlangsung meriah dan memancing sejumlah tanggapan dan kritik. Seorang peserta diskusi, Selamet P, menyatakan tokoh utama novel ini, Sekeghumong, bukanlah perempuan seperti yang digambarkan dalam novel itu. "Saya kaget Sekeghumong dalam novel ini perempuan. Yang sering saya dengar sejak kecil, Sekeghumong itu laki-laki. Namun, saya percaya novel ini punya tujuan tulus dan penulisnya punya sumber referensi sendiri," ujarnya.

Menangapi pertanyaan Selamet, Ramdhoni berpendapat, gambarannya tentang Sekeghumong berdasarkan cerita rakyat yang juga berkembang sejak dahulu dan kisah-kisah lama yang masih tersimpan di dalam ingatan orang-orang keturunan Sekala Brak di sekitar perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan.

"Mereka (keturunan Sekala Brak) yang tinggal di seputar Sumur Batu, Minanga, Kayu Agung hingga pinggiran Danau Ranau percaya bahwa raja terakhir Sekala Brak adalah seorang perempuan yang gagah berani," kata Ramdhoni.

Ia tak menampik perbedaan kelamin Ratu terakhir Sekala Bgha itu memang ada sejak dulu dan dapat memancing sejumlah kontroversi. Namun Ramdhoni berharap bahwa perbedaan pendapat yang muncul kemudian justru akan dapat memperkaya khazanah cerita rakyat Sekala Brak yang terlupakan sejak 900 tahun silam.

Menyambung masalah ini Binhad mengatakan, penulisan kembali masa silam memang sering menanggung risiko perbedaan pendapat. "Hal ini terjadi karena data empiris dan informasinya sangat terbatas. Namun, novel ini berani dihadirkan oleh pengarang sebagai upaya menemukan kebenaran. Diskusi ini merupakan ruang representatif untuk mewadahi kritik, tanggapan, maupun koreksi," kata Binhad Nurrohmat.

Binhad mengatakan, Lampung memiliki peradaban yang besar. Indikasinya, masyarakat Lampung memiliki aksara yang telah ada sejak abad VII Masehi. "Artinya, masyarakat Lampung di masa lalu sudah memiliki peradaban yang besar. Dan inilah membedakan Lampung dengan daerah lainnya di Indonesia ini," kata Binhad. (ZUL/D-3)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 18 Mei 2011

Disbudparpora Kenalkan Tari dan Lagu Daerah di Menara Siger

BAKAUHENI (Lampost): Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Budparpora) Pesawaran memperkenalkan seni tari dan lagu pop daerah Lampung untuk menghibur pengunjung di Menara Siger, Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Minggu (15-5).

Kasi Seni dan Budaya Dinas Budparpora Pemkab Pesawaran, Mursalin mengatakan pihaknya memanfaatkan objek wisata Menara Siger untuk memperkenalkan seni dan budaya yang ada di kabupatennya.

Di antaranya menampilkan seni tari bedana, tari kreasi, lagu-lagu pop daerah Lampung, dan lagu klasik Lampung. "Kesenian yang kami tampilkan ini merupakan kreasi dari Sanggar Tibinta, Kecamatan Kedondong, Pesawaran," kata Mursalin, di Manara Siger, Minggu (15-5).

Dia juga menjelaskan pentas seni khas Lampung di Menara Siger ini merupakan komitmen Pemkab Pesawaran untuk melestarikan kesenian Lampung dan memperkenalkan objek wisata Menara Siger kepada masyarakat luas. "Keberadaan kami di sini sekaligus menikmati keindahan ikon Lampung yang dibangun sejak 2007," ujar dia.

Sebagai kabupaten baru, ujar Mursalin, Pemkab Pesawaran berkomitmen memajukan pembangunan di segala bidang agar mampu bersaing dengan kabupaten lain di Provinsi Lampung. Dia mengaku hal ini merupakan wujud antusias Bupati Pesawaran dalam membangun Bumi Andah Jejama.

"Melalui Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Bupati Pesawaran sangat antusias membangun Bumi Andah Jejama. Untuk itu kita tidak boleh ketinggalan dengan kabupaten lainnya," kata dia.

Sementara itu, Kepala UPT Dinas Pengelola Menara Siger, Dinas Kebudayaan, dan Pariwisata Provinsi Lampung A. Taufik Hidayat mengungkapkan telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut liburan panjang sekolah di Menara Siger. Persiapan itu di antaranya membersihkan lingkungan Menara Siger dan menyiapkan perlengkapan out bound bagi pengunjung. (KRI/D-3)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 18 Mei 2011

May 16, 2011

PSRN 2011: Lampung Tampilkan Kegamangan Dunia

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Pelukis Lampung asal Tanggamus, Nurbaito, menampilkan lukisan bertemakan kegamangan dunia dalam Pameran Seni Rupa Nasional (PSRN) 2011 yang saat ini berlangsung di Galeri Seni Nasional, Jakarta.

"Lukisan tersebut saya beri judul Imaji Ornamen Terapan yang menggambarkan keadaan dunia yang gamang, tentang modernitas yang belum tercapai namun sudah melangkah meninggalkan tradisi dan budaya," kata dia pekan lalu.

Lukisan berukuran 140 x 195 cm dengan media minyak di atas kanvas itu digarap Nurbaito pada 2010. Dalam karya lukisnya, Nurbaito melukis objek berupa traktor yang biasanya untuk membajak sawah justru tertatih menarik delman dengan ekspresi sang kusir yang gamang dalam mengendalikan laju delman.

Ia mengangkat konsep tersebut karena melihat bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan geografis sangat luas, dengan ribuan pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke, serta kaya akan aneka corak seni budaya sejak zaman prasejarah.

"Kebenaran itu dapat kita lihat pada sekujur tubuh bangunan candi Hindu dan Buddha yang bertebar di seluruh Indonesia yang di dalamnya banyak terdapat arca, relief, dan guratan-guratan ornamen yang sangat detail dengan daya pukau dan mengagumkan," ujarnya.

Nurbaito menambahkan seiring bergulirnya waktu, seni arca berkembang menjadi seni patung monumental dan seni ornamen pun turut berkembang pula menjadi seni ornamen terapan atau seni pakai. "Hal itu dapat ditengarai, misalnya, pada seni batik, seni ukir pada perabotan rumah tangga, bahkan termodifikasi untuk konstruksi alat transportasi klasik sebagai contoh dokar," kata Nurbaito.

Perupa kelahiran Gisting, Kabupaten Tanggamus, pada 10 Mei 1961 itu mengaku mengirim dua karya lukisan dalam event dua tahunan itu, tetapi hanya satu yang lolos. "Ini karya ketiga saya yang lolos seleksi, yang sebelumnya pada 2007 dan 2009."

Nurbaito merupakan satu-satunya perupa yang dipastikan bakal mewakili Lampung dalam Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 hingga 29 Mei 2011 mendatang. Ia menampilkan karyanya bersama 153 perupa dan berasal dari 24 provinsi di Indonesia yang lolos seleksi dan perupa undangan Pameran Seni Rupa Nusantara 2011

Para perupa yang menampilkan karyanya itu merupakan hasil undangan tim kurator Galeri Nasional Indonesia dan hasil seleksi dari sekitar 550-an proposal aplikasi yang masuk ke panitia. (K-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 16 Mei 2011

May 15, 2011

'Bunyi-Bunyian Plus' dalam Musikalisasi Puisi

Oleh F. Moses

MUSIKALISASI puisi bukan semata adalah pengertian, melainkan peristiwa dunia proses kreatif. Semacam metamorfosis dari tiap instrumen; musik dan puisi itu sendiri. Maka untuk memahami musikalisasi puisi dapat dikatakan "mudah tapi sulit"; semacam dibutuhkan usaha konkret dari "bunyi yang abstrak".

Mudah kita memberikan bunyi konkret ke dalam puisi itu sendiri, semisal pemusik. Ia akan dengan mudah memasukkan instrumen menjadi pengiring puisi itu sendiri. Atau bukan pemusik sekalipun, asalkan saja ia mampu menghadirkan bunyi bagi puisi itu sendiri. Sementara kesulitan yang acap terjadi adalah kekeliruan dalam bertafsir. Selain faktor lainnya. Seperti keterampilan dalam penguasaan instrumen, keselarasan, vokal, dan penampilan.

Dalam puisi itu sendiri, ada beberapa unsur di dalamnya; seperti rima, irama, maupun tipografi. Selain itu, dalam tradisi berpuisi atau bersajak juga terdapat aksentuasi (penekanan makna) dari bahasa puisi itu sendiri—yang disampaikan oleh si penyair, tentunya. Seperti kebutuhan akan tanda baca (pungtuasi). Untuk bunyi, wilayahnya pun tak sebatas alat musik; bahkan, bila perlu, dari "tubuh kita sendiri pun adalah kehadiran bunyi itu sendiri"—seperti bertepuk-tangan ataupun bunyi ketukan dari tangan pada kepala, misalnya.

Lantas, adakah contoh puisi dalam musikalisasi puisi itu? Atau hanya beberapa saja untuk kesungguhan puisi yang dapat dimusikalisasikan. Menurut saya tak hanya beberapa, karena sesungguhnya semua puisi berhakikat untuk dimusikalisasikan, tinggal bagaimana pemusikalisasi berstrategi dalam menafsirkan puisi itu sendiri ke dalam bentuk musikalisasi. Intinya, seyogianya, puisilah yang dimusikalisasikan dan bukan musik yang dipuisikan.

Musikalisasi memang bukanlah sesuatu yang baru. Sepengamatan saya, bunyi (instrumen musik) dan teks puisi sudah hadir sezak zaman lampau –kalau boleh dikatakan/ditambahkan—sejak zaman nabi, seperti teks wahyu yang dimazmurkan. Juga dalam dunia musik (khususnya klasik), musikalisasi puisi sudah menjadi perhatian bagi para komponis sejak dahulu. Sebut saja Franz Schubert (1797-1828), yang membuat komposisi musik vokal berdasarkan syair-syair gubahan pujangga-pujangga besar eropa di zaman itu. Atau Maurice Ravel (1875-1937), komponis yang membuat sebuah karya piano (berjudul Gaspard de la Nuit) berdasarkan puisi karya pujangga Prancis, Aloysius Bertrand (1807-1841).

***

Musik puisi pernah menghias jagat musik era 70-an, beberapa seniman mencoba untuk memusikalisasikan puisi antara lain, puisi Sanusi Pane, Chairil Anwar, Kirdjomulyo, dan Ramadhan K.H. Karya sastra tersebut digubah menjadi lagu oleh komponis dan penulis lagu, salah satunya F.X. Sutopo. Syair pada lagu bercerita tentang persoalan hidup, tentang lingkungan hidup, dan keindahan alam. Bimbo, bisa dikatakan sebagai penggebrak "avant garde" musik puisi di Indonesia. Mereka bekerja sama dengan penyair Taufiq Ismail "Dengan puisi aku bernyanyi".

Sikap awal mereka—sepengamatan saya—itulah, seperti sejarah musik puisi yang mesti diingat.

***

Sejak tahun 2006 hingga sekarang ini, setiap tahun Kantor Bahasa Provinsi Lampung (KBPL) mengadakan Bengkel Sastra. Bengkel yang di antaranya semacam pelatihan bagi siswa SMA terhadap musikalisasi puisi itu sendiri. Dan tiap tahunnya pula KBPL mengadakan pementasan bernama Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA. Dari situlah, sekira KBPL membentuk mereka untuk mengenal lebih jauh proses kreatif pemusikalan terhadap sebuah puisi. Mulai dari puisi ranah Lampung dan nasional diperkenalkan kepada mereka. Dan sikap mereka; siswa dan guru, bahkan masyarakat (juga kalangan seniman, tentunya), cukup apresiatif menanggapinya. Dan tak hanya KBPL, tapi juga teman-teman komunitas; Komunitas Berkat Yakin (KoBer), Komunitas Teater Satu, komunitas di Kota Metro, Lampung Barat, Lampung Utara, Lampung Timut, Lampung Selatan, hingga beberapa komunitas kesenian di sekolah-sekolah (SMA dan universitas)—yang sebenarnya juga selalu bagian dari perhatian mereka dan kerap ditunaikannya.

***

Kembali dalam musikalisasi puisi itu sendiri secara umum, dalam masyarakat pencinta seni musik maupun penyair, sikap ”pro dan kontra” terhadap musikalisasi puisi itu sendiri juga masih dalam dalam batas wajar. Sebab sepengamatan saya, inti pokok masalah itu tak lain bersifat mempertanyakan terhadap puisi itu sendiri yang sesungguhnya memiliki keutuhan bunyinya sendiri, seperti ”Mengapa, kok, puisi dimusikalkan segala?”; sebuah artian bahwa instrumen musik dianggap mengganggu puisi itu sendiri. Bahkan ada peranggapan bahwa sikap memusikalisasi justru merusak puisi dari karya penyair itu sendiri pula. Saya beranggap mereka tidaklah salah, dan hak mereka juga untuk menanggapinya demikian, kan?

Terpenting dalam musikalisasi puisi itu sendiri, sepanjang penyesuaianya pada usaha memampukan agar lebih "menjadi" utuh. Keutuhan yang dimaksud adalah usaha semaksimal, sebagus, dan sebaik mungkin, segala bunyi-bunyian pada instrumen musik (secara musikalitas) mampu dan tepat untuk menembus ruang pemaknaan dari puisi itu sendiri. Dan ketika tak mampu menghadirkan ketepatan penafsiran pemaknaan itu, barulah disebut kurang tepat. Bahkan bisa disebut merusak atau "memerkosa".

Jadi, bukan perkara salah seperti tertangkap dan teranggap. Dan tentang kesalahan itu—kalau boleh saya tekankan—akan salah besar bila kita menambahkan atau justru mengurangi teks puisi karya penyair itu sendiri. Sebab tak lain merupakan sikap perusakan atau "memerkosa" puisi itu sendiri. Dan (barangkali) itulah yang dianggap gagal. Dan justru itulah pula yang dianggap merusak.

Semoga saja, saya selalu berharap, musikalisasi puisi di ranah Lampung, Sang Bumi Ruwai Jurai, terus menggema, lewat "bunyi-bunyian plus" pemusikalisasian—seperti kehadiran puisi dari pengrajinnya, para penyair Lampung, yang selalu tak pernah lelah apalagi berkesudahan untuk selalu "bermazmur lewat puisi"—di Lampung dan wilayah sekitar hingga "seberang lautan".

F. Moses
, sastrawan, penggiat musikalisasi puisi

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Mei 2011

[Buku] Asyik Berprestasi ala Anak Smanda

Judul: Buku Penting SMA

Penulis: Awan, Farel, Darmawan, Rinta, dan Aisya

Penerbit: Good Idea

Cetakan: I, April 2011

Tebal: 168 halaman

COBA kita pikir, berapa banyak dari kita yang sudah memplot cita-cita saat usia kita memasuki fase SMA? Kata lainnya, berapa banyak dari kita yang sejak SMA sudah punya cita-cita nanti mau jadi apa? Mungkin ada, tapi hakulyakin masih sedikit. Mengapa? Sebab, model pendidikan kita masih terkungkung pada nilai yang tertera di rapor dan ijazah; tidak mengindahkan setiap potensi pada diri siswa. Padahal, masa SMA itu fase penting untuk menentukan masa depan. Siapa yang sudah merencanakan diri dengan baik di masa itu, peluang untuknya sukses pasti lebih besar? Kok bisa begitu? Ya sudah pasti karena perencanaan itu adalah awal dari keberhasilan.

Meskipun Gusti Allah yang menentukan kadar baik dan buruknya masa depan seseorang, mereka yang berikhtiar dengan baik sudah tentu modal untuk sukses lebih besar ketimbang person yang tak menyiapkannya sama sekali.

Progres menuju masa kuliah, bekerja, atau aktivitas lain selepas SMA memang tidak cuma ditentukan dengan perencanaan an sich dengan menata secara akademis. Itu mesti ditunjang dengan sikap, kepribadian, pekerti dalam pergaulan, santun terhadap guru, luwes dalam bermasyarakat, dan sebagainya.

Nah, untungnya, semua item itu tersaji lengkap dalam buku yang sedang diketengahkan dalam kolom resensi buku ini. Buku ini asyik. Asyik karena proximity-nya yang lekat dengan anak SMA, asyik karena cukup komprehensif, asyik karena bahasanya gaul tapi berbobot, asyik karena sentilannya lucu, dan asyik karena enak dibaca dan gurih diresapi maknanya.

Soal kiat belajar, bagaimana memanfaatkan waktu, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan, menata hati dalam "berpacaran", sampai kiat asyik belajar serta membina hubungan "mesra" dengan guru. Yang utama tentu saja, buku ini mampu membimbing pembacanya ke arah masa depan yang lebih baik.

***

Adalah lima anak cerdas SMAN 2 Bandar Lampung yang menulisnya. Kelimanya ialah Muhammad Ikhwan Hastanto, Fahrell Febbrio Giovanny, Muhammad Darmawan Cherlanda, Rinta Wulandari, dan Aisya Rachmadieny. Awalnya mereka menjalani seleksi draf oleh penerbit Good Idea yang pemiliknya kebetulan alumnus Smanda juga tahun lulus 1985. Mereka terpilih dari seratusan naskah yang masuk.

***

Kekuatan buku ini ada di semangatnya. Mereka mampu menyajikan apa yang anak SMA butuhkan, tanpa menafikan sisi remaja mereka yang kental. Maka itu, membaca buku ini ibarat mengurai neuron-neuron saraf semasa SMA. Penggambaran kelima anak cerdas ini begitu detail karena mereka memang memotret peristiwa yang lekat dengannya.

Sebagai sebuah buah karya intelektual, apresiasi yang pertama mesti dihaturkan. Bagaimanapun teramat jarang ada anak SMA yang mampu menulis buku nonfiksi dengan bagus. Sebuah penghargaan juga mesti dilontarkan buat Good Idea sebagai penerbit yang mau "berjudi" dengan menerbitkan buku ini. Maka itu, buat semua anak SMA, Smanda maupun bukan, ini buku yang bagus buat dimiliki. Seperti "ancaman" para penulisnya, belilah buku ini, jangan pinjam! Ada-ada saja.

Adian Saputra
, asred Bahasa Lampung Post, alumnus Smanda tahun 1997

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Mei 2011

[Perjalanan] Membasuh Hati di Tanjungchina

BERAWAL dari satu SMS “Kapan mau ke Tiromawi, Mas? Sedang musim jengkol lho. Kalau sempat, main ya. Saya tunggu”.

Pesan pendek atau SMS dari kenalan, seorang warga di Pekon (Desa) Karangberak, Pematangsawa, Tanggamus, awal April 2011 itu menuntun langkah menuju lokasi itu. Desa itu berada di Karangberak, sebuah desa terpencil di Tanjungchina, Kecamatan Pematangsawa. Pilihan melalui jalur darat yang konon sangat sulit membuat jiwa petualangan terusik untuk menjajal rute paling ditakuti ini.



FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/SAYUTI

Dari Kotaagung sepeda motor melaju cepat menuju arah Kecamatan Wonosobo. Seorang teman ikut dalam touring ini. Tiba di ujung jalan aspal di Pekon Way Nipa (ibu kota Kecamatan Pematangsawa), perjalanan sesungguhnya baru dimulai.

Tanjakan Bahar, begitu warga setempat memberi nama tanjakan cukup terjal di mana jurang paling dalam mengangga di samping jalan. Inilah awal touring yang memacu adrenalin di kawasan paling terpencil di ujung barat Kabupaten Tanggamus.

Selain berkelok, tanjakan Bahar ini juga sangat berbahaya dan licin karena di sepanjang jalan yang sebagian kecil sudah di cor beton, dipenuhi bebatuan gunung dan pasir yang sangat berbahaya bagi pengendara.

Tidak ada mobil yang berani melintas tanjakan atau jalan yang juga menuju Pekon Pesanguan, sebuah desa di pinggir hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Nasibnya sama dengan Karangberak dan sejumlah pekon lainnya di wilayah itu, seperti Telukberak, Tirom, Asahan, Kaurgading, Tampangtukha, dan Tampangmuda, yang miskin dan terpencil. Padahal wilayah ini sangat subur. Tapi karena jangkauan dan kendala lainnya membuat daerah ini tertinggal.

Meskipun memilki lahan subur, hasil pertanian dan perkebunan melimpah, ditambah hasil laut dan panorama pantai yang memukau, kehidupan sebagain besar warga di wilayah ini sangat memprihatinkan, bahkan banyak yang miskin. Padahal wilayah Tanjungchina meliputi Pesanguan, Telukberak, Karangbrak, Tirom, Kaurgading, Asahan, Tampangtukha, dan Tampangmuda, ibarat intan yang tak terasah. Intan baru akan terlihat kemilaunya bila diasah dengan serius dan dirawat secara berkesinambungan. Sudah saatnya intan tersebut diangkat dari lumpur yang menyelimutinya selama ini.

Itu baru dilihat dari sisi potensi agrobisnis, kalau dilihat dari sisi potensi wisata ternyata desa ini juga menyimpan pantai-pantai, sungai, hutan, air terjun, dan gua-gua menarik yang indah untuk dikunjungi. Kalau bisa dikelola dengan baik bukan mustahil wilayah ini bisa menjadi sumber pemasukan yang cukup besar bagi pemerintah daerah setempat di masa yang akan datang.

Wisata Pantai

Terisolasinya pekon di sepanjang gugusan Tanjungchina di Kecamatan Pematangsawa membuat objek wisata indah yang ada di sana menjadi semakin dalam terbenam. Bentangan pantai dengan panorama yang indah, pasir yang bersih, dan kekayaan laut yang melimpah masih terlihat belum tersentuh sebagai daerah wisata unggulan.

Pantai pasir putih yang bermaterialkan pasir kuarsa dan pecahan batuan gamping hasil abrasi gelombang laut ini sebenarnya sangatlah besar potensinya bila dilihat dari sisi kepariwisataan. Apalagi dengan adanya hutan suaka alam di sisi lainnya.

Berjalan menyusuri pantai Tanjungchina mulai Pekon Way Nipah—Kabu—Telukbrak—Tiromawi—Karangberak—Penengahan—Tirom—Asahan—Kaurgading—Tampangmuda—Tampangtukha, terus menyusur memasuki hutan konservasi TNBBS dan kawasan ekowisata Tambling (Tampang—Belimbing) yang penuh dengan kekayaan flora dan faunanya.

Satwa seperti lutung, siamang, kera, monyet, kerabau liar, kijang, rusa, menjangan, berbagai jenis burung, harimau, gajah, tapir, dan terkadang masih di jumpai badak serta berbagai bunga dan enggrek menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata petualangan.

Pemandangan matahari terbenam indah sekali di sini. Belum lagi ditambah siluet dari kelewar yang keluar dari gua sepanjang pantai menjelang senja, akan terasa kesyahduan matahari senja menyelimuti pikiran Anda.

Sayang kalau Anda melewatkan keindahan bintang malam di pinggir pantai di kawasan ini. Dengan hanya bermodal tenda, Anda pasti memilih menginap di pingir pantai merasakan hembusan angin laut menerpa tubuh sambil mengobrol bersama teman perjalanan Anda di depan api unggun yang tercipta dari kayu-kayu kering yang banyak terdapat di pinggir laut. Selain itu, suasana akan terasa sangat romantis.

Selain jalur darat, untuk menikmati panorama eksotis di wilayah ini pengunjung bisa melalui jalur laut melalui Pelabuhan Kotaagung dengan naik kapal taksi dengan harga tiket Rp25 ribu/orang, atau menyewa perahu londeng seharga Rp400 ribu pulang-pergi.

Setelah puas seharian menikmati objek wisata alam di wilayah ini, kita bisa membawa oleh-oleh hasil laut, baik dari hasil memancing sendiri atau membeli dari nelayan setempat. (SAYUTI/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Mei 2011

May 12, 2011

Isbedy Terbitkan Buku Puisi Cinta "Taman di Bibirmu"

Bandarlampung (ANTARA News) - Penyair Lampung Isbedy Stiawan kembali meluncurkan buku "Taman di Bibirmu" yang berisi kumpulan puisinya.

"Buku puisi ini akan saya tampilkan di sejumlah SMA dan Kampus di Lampung. Saya juga akan membawa buku ini ke Kabupaten Empat Lawang Sumsel, insya Allah bulan Juni mendatang," jelas dia, di Bandarlampung, Kamis.

Ia menjelaskan, sejumlah puisi dalam buku tersebut telah dipublikasikan di sejumlah media daerah maupun nasional.

"Saya harapkan `Taman di Bibirmu` ini akan membuka ruang diskusi yang lebih luas pada pembacanya," lanjut dia.

Lebih jauh Isbedy menjelaskan, puisi-puisi dalam buku tersebut kembali menggali tema-tema cinta dan kerinduan.

"Namun, saya tak mengabaikan nilai-nilai transendental dan spiritual," ujarnya.

Dia mencontohkan puisi pembuka "Kau Adalah Laut" (9) yang dikatakan memiliki nilai transendental: "kau adalah laut. sulit kubaca jalan anginmu. gelombangmu/menyimpan rahasia khianatmu, menyelimuti takdirku. aku/berlayar di tubuhmu dengan cemas. sebab, apakah esok/aku pun akan tenggelam di dasar karangmu//saat kau pergi ke pantai atau pulang ke maha luas biru/untuk memainkan kapalkapal tualang. menjauh dan/menggelombang//kau adalah laut. rahasiamu abadi/mati dan cintaku dalam gelombangmu"

Dia pun menambahkan, terbitnya buku "Taman di Bibirmu", melengkapi karyanya yang telah dikumpulkan sekitar 17 buku puisi dan cerpen, diantaranya "Aku Tandai Tahi Lalatmu", "Menampar Angin", dan "Perempuan Sunyi".

Sastrawan kelahiran Tanjungkarang, Provinsi Lampung, pada 5 Juni 1958 itu mengaku akan terus berkarya dan membagi kepada generasi muda khususnya pelajar dan mahasiswa.

Ia pun mengakui, geliat sastra di kalangan generasi muda kian menurun, sehingga perlu pengenalan lebih mendalam khususnya oleh penggiat dan pelakunya.

"Selama ini saya pantau siswa hanya menggeluti sastra sebagai pelajaran, belum banyak yang menyentuh lebih dalam," ujar dia.

Karena itu, perlu pembelajaran dan kurikulum tersendiri, selain perlunya menyinergikan pelajaran yang diterima dengan realita di masyarakat tentang apa itu sastra.

"Itulah perlunya sekolah sesekali mengundang pelaku sastra guna memberikan pencerahan kepada siswa. Kami sebagai pelaku siap untuk membagi ilmu," ujar dia, yang juga pengurus Dewan Kesenian Lampung itu.

Sumber: Antara, Kamis, 12 Mei 2011

Seni Rupa: Nurbaito Wakili Lampung pada PSRN

TANGGAMUS (Lampost): Nurbaito mewakili Lampung pada Pameran Seni Rupa Nusantara (PSRN) 2011. Nurbaito asal Tanggamus merupakan satu-satunya perupa yang dipastikan bakal mewakili Lampung dalam ajang pameran seni rupa dua tahunan itu.

Pameran akan dibuka Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Pameran itu akan menampilkan karya seni rupa berupa lukisan, patung, seni cetak, fotografi, video art, objek, instalation art karya seniman terpilih dari seluruh Indonesia.

Nurbaito akan menaja karyanya bertajuk Imaji Ornamen Terapan bersama 153 perupa yang lolos seleksi dan perupa undangan Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 ini. Pameran akan digelar di Galeri Nasional, Jakarta, mulai 10—29 Mei 2011.

Para perupa yang akan menampilkan karyanya ini merupakan hasil undangan tim kurator Galeri Nasional Indonesia dan hasil seleksi dari sekitar 550-an proposal yang aplikasi masuk ke panitia.

"Mereka yang yang telah tersaring sebagai seniman peserta pameran itu berasal dari 24 provinsi di Indonesia," ujar kurator pameran, Kuss Indarto.

Menurut Kuss, jalur seleksi yang dilakukan panitia karena adanya aspek keruangan Galeri Nasional Indonesia. Selain itu, lanjut pengelola situs Indonesia Art News ini, penyeleksian juga merupakan upaya untuk memberi ruang pencapaian estetik.

Pameran mengusung tajuk Imaji Ornamen ini juga harus mengusung misi dan visi GNI, antara lain memberi dukungan dan kesempatan bagi perupa dari berbagai kawasan di Indonesia untuk berpameran. "Tetapi, pola seleksi tetap mempertimbangkan aspek representasi atas kuantitas provinsi di Indonesia," kata Kuss. (ZUL/D-3)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 12 Mei 2011

Pengembangan Bahasa Lampung Terkendala Dana

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Program rintisan lembaga pembinaan, pengembangan bahasa dan aksara Lampung hanya dibiayai dengan anggaran Rp81 juta. Padahal anggaran tersebut meliputi kegiatan studi banding, koordinasi dengan pihak terkait, bedah kurikulum, dan penyusunan kamus saku.

Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat antara Komisi V DPRD Lampung dan Biro Sosial.

Perwakilan Biro Sosial, Ratna, yang hadir dalam rapat itu menjelaskan sebelumnya pihaknya mengajukan anggaran Rp150 juta untuk program rintisan lembaga tersebut. Namun, anggaran untuk program itu hanya disetujui Rp81 juta.

Menurut Ratna, dengan anggaran yang tersedia itu, pihaknya sudah merencanakan studi banding ke Bandung, mengundang MPAL, Dinas Pendidikan, DKL, Lampung Sai, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk berkoordinasi. Selain itu, dengan anggaran yang ada juga akan dibuat kamus saku untuk disebarkan ke 14 kabupaten/kota se-Lampung.

Menurut Ratna, Bandung dipilih sebagai tempat studi banding karena sudah memiliki lembaga serupa. Selain itu, lembaga yang dimiliki Bandung dinilai mampu mendorong digunakannya bahasa Sunda di hampir semua wilayah Bandung.

Ratna melanjutkan upaya mengundang pihak terkait hanya sebatas koordinasi, terutama dengan Dinas Pendidikan. Sebab, pihaknya berencana mengadakan bedah kurikulum pembelajaran bahasa Lampung dari SD hingga SMA yang hanya fokus pada aksara. Diharapkan ke depan ada keseimbangan antara fokus pembelajaran aksara dan bahasa.

"Dengan anggaran yang ada itu kami berupaya maksimal. Awalnya rintisan lembaga itu nanti menempel di Biro Sosial. Tetapi ke depan diharapkan mampu berdiri sendiri," kata Ratna.

Ketua Komisi V Yandri Nazir mengatakan akan berupaya mendukung pengajuan tambahan anggaran untuk rintisan lembaga pengembangan bahasa itu pada APBD Perubahan 2011. Jika belum bisa akan diupayakan pada APBD 2012.

Anggota Komisi V DPRD Lampung Okta Rijaya mengusulkan kegiatan pemasangan pesan moral dari berbagai bahasa di sepanjang jalan provinsi jika anggaran telah memadai. Sebab, pelestarian bahasa Lampung dengan cara itu dinilai efektif.

"Melihat dan membaca itu sangat efektif. Untuk pelestarian bahasa Lampung saya kira pemasangan pesan dengan berbagai bahasa dapat dilakukan," kata Okta. (WAH/K-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 12 Mei 2011

May 11, 2011

[Citizen Journalism] Sekeghumong Seharusnya Pria

Heikal Anugrah, Marketing Communication PT NTI Lampung Melaporkan Langsung dari Liwa, Lampung Barat

DISKUSI novel 'Perempuan Penunggang Harimau' karya M Harya Ramdhoni, digelar di Hotel Sahabat Utama, Liwa, Lampung Barat, Selasa (11/5/20110) siang.

Heikal Anugrah (ISTIMEWA)

Acara yang mendiskusikan novel berlatar belakang Lampung masa silam ini, menghadirkan pembicara Binhad Nurrohmat, penyair dari Jakarta, dan M Harya Ramdhoni.

Diskusi ini berlangsung meriah, sekaligus memancing sejumlah tanggapan dan kritik. Menurut Binhad Nurrohmat, penulisan kembali masa silam memang sering menanggung risiko perbedaan pendapat.

Karena, data empiris dan informasinya sangat terbatas. Namun, Binhad mengaku novel ini berani dihadirkan oleh pengarang, sebagai upaya menemukan kebenaran. Diskusi ini merupakan ruang representatif untuk mewadahi kritik, tanggapan, maupun koreksi.

Binhad menambahkan, novel ini merupakan alarm sejarah bagi masyarakat Lampung untuk memerhatikan masa silamnya, yang saat ini masih menyimpan banyak misteri. Novel ini merupakan upaya rintisan untuk membaca masa lalu.

Novel ini semacam password memasuki masa silam Lampung, yang sebenarnya merupakan masyarakat berperadaban besar, berdasarkan peninggalan-peninggalan yang masih tertinggal saat ini, misalnya tambo dan prasasti.

Sementara, menurut M Harya Ramdhoni, novel ini ia kerjakan melalui berbagai sumber data dari beragam versi. Data yang menurutnya punya landasan jelas secara historis, ia pakai. Sedangkan informasi yang kabur atau tak kuat asal-usulnya, tidak ia hadirkan dalam novel.

Selamet P, salah satu peserta diskusi menyatakan, tokoh utama novel ini, Sekeghumong, bukan lah perempuan seperti yang digambarkan dalam novel tersebut.

Selamet mengaku kaget, Sekeghumong dalam novel ini perempuan. Yang sering ia dengar sejak kecil, Sekeghumong itu laki-laki. Namun, Selamet percaya novel ini punya tujuan tulus dan punya sumber referensi sendiri. (*)

Disampaikan kepada Wartawan Tribunlampung.co.id, Perdiansyah

Editor: Yaspen Martinus

Sumber: Tribun Lampung co.id, Rabu, 11 Mei 2011

May 9, 2011

Wisata: Libur, Mukhlis Main Arung Jeram

SUMBERJAYA (Lampost): Untuk mengisi liburan akhir pekan, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri bersama Kapolres AKBP Hary Muharram, Wakil Ketua I DPRD Lambar Heri Gunawan, dan jajaran Pemkab setempat, Minggu (8-5), bermain arung jeram di Way Besai, Kecamatan Sumberjaya. Dengan tiga perahu karet, rombongan pejabat itu memulai petualangan yang dimulai dari Pekon Sindangpagar dan berakhir di Pekon Way Petai.


ARUNG JERAM. Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri bersama Kapolres AKBP Hary Muharram, Wakil Ketua DPRD Heri Gunawan bermain arung jeram di aliwan Way Besar, Kecamatan Sumberjaya, Minggu (8-5). Pejabat Lampung Barat itu mengisi liburan usai bekerja selama sepekan sekaligus mempromosikan wisata air di Lambar. (LAMPUNG POST/HENDRI ROSADI)

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Lambar Arif Nugroho mengatakan arung jeram yang dilakukan Bupati, jajaran Mapolres, DPRD, dan instansi itu merupakan kegiatan hiburan menghilangkan penat akibat melaksanakan kegiatan pemerintahan selama sepekan. "Meskipun menantang, kegiatan arung jeram bisa menghilangkan stres," kata dia.

Arif juga menjelaskan di Sungai Way Besai terdapat 12 lintasan jeram yang menantang. Namun, dari 12 lintasan itu, ada sekitar tujuh jeram yang harus dilalui peserta, dan dibutuhkan nyali besar untuk mengarunginya. "Selain bermain, kegiatan arung jeram yang dipimpin Pak Mukhlis tujuannya untuk memperkenalkan objek wisata yang dimiliki Lambar," ujar dia.

Arif mengatakan usai menyusuri sungai, Bupati mengajak seluruh masyarakat bersama-sama menjaga potensi wisata arung jeram di wilayah itu, yaitu dengan tidak melakukan penebangan pohon di sepanjang aliran sungai. "Kalau sungai ini tetap memiliki air yang cukup, selain bisa digunakan sebagi tempat rekreasi, juga bisa memberikan manfaat lain kepada masyarakat kita," kata dia. (HEN/D-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 9 Mei 2011

Angka Kemiskinan Lampung Turun

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Angka kemiskinan di Lampung pada 2014 ditargetkan turun menjadi 13% dari jumlah penduduk. Saat ini Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat angka kemiskinan di Lampung masih cukup tinggi, yakni 18,49% dari penduduk Lampung yang berjumlah 7,6 juta jiwa ini.

"Dua tahun belakangan kan memang angkanya terus menurun. Pada 2009, 20,22% penduduk Lampung dinyatakan miskin. Pemerintah daerah saat ini terus berupaya menurunkan angka kemiskinan dengan program yang juga diselaraskan dengan program pemerintah pusat," kata Sekretaris Bappeda Lampung Zainal Abidin pekan lalu.

Zainal menjelaskan ada tiga program besar yang sedang dilakukan Pemprov bersama dengan Pemerintah Pusat dalam upaya pengentasan kemiskinan di Lampung.

Yang pertama yaitu pemberdayaan usaha mikro di Lampung. Kegiatan ini, kata Zainal, dilaksanakan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Lampung.

Dalam program ini, masyarakat dibina untuk memulai usaha dan mengembangkannya. Berbagai program bantuan permodalan hasil kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perbankan seperti kredit usaha rakyat (KUR), kredit lunak, dan lainnya juga terus dioptimalkan.

Upaya ini dilakukan agar masyarakat memiliki usaha yang bisa menopang perekonomian keluarga dan mengeluarkan mereka dari garis kemiskinan.

Upaya lainnya yaitu program pemberdayaan masyarakat yang disinergikan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Beberapa jenis PNPM dilaksanakan di Lampung seperti PNPM Mandiri perdesaan, perkotaan, daerah tertinggal, dan lainnya itu diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Ini kan anggarannya dari Pusat. Tapi daerah juga ada sharing," ujarnya.

Upaya selanjutnya yakni program bantuan dan perlindungan sosial. Beberapa kegiatan yang dilakukan yakni memberikan jaminan kesehatan baik Jamkesmas, Jamkesda, atau Jampersal kepada masyarakat tidak mampu.

Selain itu ada juga program keluarga harapan dari Pemerintah Pusat yang dilaksanakan Dinas Sosial Provinsi. Dalam program ini, ibu rumah tangga miskin yang memenuhi persyaratan diberi bantuan Rp600 ribu—

Rp2,2 juta per tahun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

"Tahun ini program keluarga harapan baru dilaksanakan di Lampung Timur, Bandar Lampung, dan Lampung Selatan. Tahun depan mungkin daerah lainnya," ujarnya. (LIN/K-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 9 Mei 2011

May 8, 2011

Apakah Segalanya Harus Amerika?

Amerika adalah negeri impian. Semua peluang terbuka dari setiap ruang. Ya, Amerika adalah negeri ideal. Di sana kebebasan dijunjung di atas tiap kepala dan pemegang palu keadilan untuk seluruh dunia. Tapi, apakah semuanya harus Amerika?




LAMPUNG POST/ZAINUDDIN

ITU (mungkin) pertanyaan yang coba diangkat Teater Satu Lampung dalam lakon Visa karya Goenawan Muhamad yang dipentaskan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Jumat (6-5).

Lakon ini bercerita tentang orang-orang yang sedang mengantre untuk membuat visa dengan setting di Kedutaan Amerika. Dalam naskah Visa ini, sebuah kolase tergambarkan dari berbagai pikiran, image, peristiwa yang (pernah atau akan) dialami tokoh-tokohnya di dalamnya.

Antrean panjang. Orang-orang berdesakan. Riuh ramai celoteh-celoteh keluar dari antrean. Berbagai karakter menyusun jalan cerita dari potongan-potongan senandika ataupun dialog yang tumpang tindih antarkarakter dengan setting panggung yang penuh.

Seperti halnya sebuah kerumunan yang memiliki tujuan yang sama, terjadi interaksi antarkarakter. Semua terbentuk oleh tiga pertanyaan dasar: "Siapa Anda?", "Apa tujuan Anda pergi ke Amerika?", dan "Mengapa hendak pergi?"

Lalu cerita-cerita atau lebih tepatnya alasan berkumpul di Kedutaan Amerika tersebut mengemuka. Ada aktivis gagap yang ingin membuat sejarah di negeri yang menganut freedom and democrachy itu. Ada artis yang ingin mencoba peruntungan dengan go international. Ada pengusaha berdarah China necis tipikal businessman yang ingin melebarkan usahanya. Ada seorang ibu tua yang ingin menengok cucu. Dan karakter-karakter lain dengan sejuta alasannya ingin ke Amerika.

Ya—sekali lagi—Amerika adalah negeri tujuan semua orang, apa pun alasannya.

Namun, tidak semudah itu pergi ke Amerika, terlebih sejak peristiwa luluh lantaknya menara kembar World Trade Centre (WTC) yang seperti membuat negara adidaya itu paranoid dengan kata "teroris".

Dan, seperti halnya naskah Visa ini, urusan membuat visa menjadi sebuah urusan yang njlimet. Verifikasi yang sangat hati-hati, bahkan dengan semangat prasangka berlebihan.

"Untuk apa ke Amerika," ujar petugas kedutaan kepada karakter ibu tua yang hendak membuat visa.

"Untuk menengok cucu," jawab ibu tua itu.

"Apa pentingnya cucu!?" sidik petugas dengan nada keras.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu lalu seakan menjadi pertanyaan standar dan utama dalam sebuah formulir permohonan visa, seperti hendak meringkas sejarah hidup, ideologi serta diri seseorang.

Lakon ini seperti hendak menyajikan ironi sebuah realitas berlapis-lapis yang tercampur dalam berbagai gambar, kesan atau bentuk sehingga membentuk sebuah anggapan yang dilabeli “lazim” untuk kaitannya dengan keamanan negara.

Amerika seperti sudah menjadi pusat dunia. Mulai dari ekonomi hingga menjadi polisi. Dan, menjadi sangat wajar ketika sang penguasa dunia itu menerapkan lapisan-lapisan pelindung untuk menyaring orang-orang yang ingin memasukinya, mulai dari peliknya mengurus visa.

Indonesia bagi Amerika adalah salah satu sarang teroris dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang harus diawasi setelah kehadiran musuh dengan stempel: teroris beraroma Islam. Bagi Amerika, runtuhnya menara kembar WTC dan lelehan besi beton tempat hiburan di Legian menjadi potret betapa sekelompok teroris Islam adalah musuh bersama.

Imbasnya adalah menjadi ruwetnya birokrasi pengurusan visa. Amerika harus sangat hati-hati, jangan sampai kemasukan orang dari negara lain, terlebih dari negara-negara Timur, apalagi berdalih kunjungan wisata. Mencegah lebih baik daripada mengobati, walau upaya pencegahan itu dilakukan dengan ketakutan dan prasangka teramat sangat.

Kemudian terjadi pergolakan batin dalam diri setiap karakter, perihal penting atau tidakkah, perihal perlu atau tidakkah, ataupun bisa atau tidakkah pergi ke Negeri Paman Sam tersebut. "..like a bird, feel free!" ungkapan itu akhirnya seperti menjadi titik balik dari kebimbangan setiap karakter yang sebelumnya ragu-ragu. Ending cerita menjadi absurd dengan kembalinya para karakter membentuk garis antrean, entah itu jadi pergi ke Amerika atau kembali hidup dengan nyaman di negeri sendiri.

Stereotip

Secara keseluruhan, naskah Visa yang bergumul dalam cerita-cerita dari para pembuat visa untuk dapat mendapat izin pergi ke Amerika tersebut membuat pementasan terlihat sedikit agak monoton. Namun, akting yang jempolan serta karakterisasi yang sangat pas dari para aktor dan aktris Teater Satu menjadi catatan tersendiri, meski ada beberapa blocking pemain yang terlihat mengganggu.

Kalau boleh nakal sedikit, mungkin "ketakutan" dan "kejumawaan" Amerika dapat membuat jalan cerita jadi lebih menarik, meski itu harus merombak naskah asli. Mungkin saja dapat dibuat lebih satir lagi dengan mengisahkan bagaimana (misalnya) betapa susahnya Sang Presiden Amerika Obama mendapat visa pada waktu ia masih belia dan dipanggil "Barry".

Ada catatan lain dari pementasan yang berlangsung kurang lebih 90 menit tersebut, yakni kesteorotipan situasi.

Berkunjung ke Amerika jauh berbeda dengan berkunjung ke Arab ataupun Malaysia, pun begitu dengan pengunjungnya. Calon pengunjung Amerika, kalau tidak untuk bekerja, tidak jauh untuk urusan bisnis, misi kesenian, ataupun rekreasi. Berbeda dengan rata-rata orang Indonesia yang datang ke Malaysia atau Arab untuk kepentingan yang nyaris sama, mengais rezeki dari negeri lain.

Namun, yang tampil dalam pentas tersebut tampak mencitrakan warga negara Indonesia seperti kelas pekerja rendahan yang kerap diidentikkan dengan TKI. Padahal di sana ada pengusaha berdarah China dan memiliki stereotip kaya, artis nasional yang perlente, dan lain-lain.

Saling berebut antrean tempat terdepan. Gaduh. Saling dorong. Mengejek. Ruang tunggu kedutaan tak ubahnya terminal atau ruang tunggu pelabuhan. Ah, begitu tipikal orang Indonesia. (TRI PURNA JAYA/P-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Mei 2011

[Reporter Cilik] Bedah ‘Lampung Post’: Wah Wah Wah...

INI nih salah satu hal yang paling menyenangkan usai wawancara dengan Pak Bambang. Beliau berkenan mengantarkan kami untuk berkeliling Lampung Post. Wiih, banyak sekali ruangannya. Kami sampai bingung menghapalnya.

LAMPUNG POST/ZAINUDDIN


Setelah keluar dari ruangan Pak Bambang sebagai pemimpin umum, kami diperlihatkan ruangan-ruangan lainnya; ruangan wakil pemimpin umum, ruangan pemimpin perusahaan, ruangan keuangan, bagian umum, audit. Banyak deh pokoknya.

Teman teman, kami juga berkesempatan loh masuk ke perpustakaan Lampung Post. Di sana buku buku dan dokumentasi lainnya berjejer rapi dalam rak dan lemari yang besar-besar. Pak Bambang memperlihatkan kepada kami dokumentsi terbitan Lampung Post tahun 1975. Bentuknya lebih kecil dari yang sekarang. Karena sudah termakan usia, kertasnya menguning dan lapuk. Kita harus hati hati membuka halamannya. Wah sudah tua sekali yah Lampung Post.

Nah, tempat yang tak kalah seru adalah ruang redaksi, luas bener ruangannya. Di sana banyak tempat duduk dan meja beserta komputer yang di sekat-sekat. Kami sempat diperkenalkan Pak Bambang dengan Om Adian Saputra. Kata Pak Bambang, Om Adian dan teman-teman di Kompartemen Bahasa inilah yang memperbaiki naskah berita dari segi bahasanya.

Selanjutnya Pak Bambang mengajak kami untuk mengunjungi ruang artistik. Di sini foto dan berita disusun sedemikian rupa agar tampak seperti halaman yang biasa kita baca di rumah. Hayo, siapa yang suka baca koran di rumah, tunjuk tangan.

Nah teman-teman, tibalah kami bertiga di ruangan percetakan. Wah wah wah, mesin cetaknya besar sekali. Di sinilah proses perbanyakan koran dilakukan. Setelah koran dicetak. Barulah bisa didistribusikan ke seluruh penjuru Lampung hingga bisa sampai ke tangan para pembaca Lampung Post, termasuk teman teman kan? Hehee.... (Nurul, Dewi, Laili)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Mei 2011

[Reporter Cilik] Suka Duka Menjadi Seorang Anak Koran

TEMAN-TEMAN, di sela-sela wawancara Pak Bambang sempat cerita lo tentang masa kecil beliau. Wah ternyata bos koran Lampung Post ini dulunya adalah anak koran. Itu lho, anak-anak yang biasa menawarkan koran di pinggir-pinggir jalan.

LAMPUNG POST/ZAINUDDIN

Menurut Pak Bambang, sejak sekolah dasar beliau sudah menjadi anak koran. Bahkan, cara Pak Bambang dulu terbilang unik. Setiap berita utama dibaca kuat-kuat, agar menarik pembeli yang mendengar. Hihi, kreatif juga ya Pak Bambang ini.

Menurut Pak Bambang, menjadi anak koran itu sungguh menyenangkan. Terutama karena dengan menajdi anak koran Pak Bambang lebih dahulu tahu tentang segala informasi daripada orang lain. Karena anak koran zaman dulu suka membaca koran, tidak seperti anak koran zaman sekarang yang belum tentu tahu apa isi berita di koran.

Pak Bambang bilang menjadi anak koran itu juga belajar mandiri. Karena penghasilan yang didapat bisa memenuhi kebutuhan sendiri. "Tiap hari kita bisa megang uang. Apa saja bisa dibeli waktu itu," kata Pak Bambang.

Tapi, kira-kira apa yah suka dukanya menjadi anak koran itu?

"Dukanya kalau lagi mau jualan koran hujan, jadi enggak bisa jualan koran. Koran enggak laku, ya enggak dapet penghasilan," ujar pak Bambang.

Lalu kira-kira bagaimana ya cara Pak Bambang membagi waktunya? Beliau mengatakan setiap pagi beliau sekolah, siang membantu ibu di warung, kemudian sore berjualan koran. Nah, malam dipakai untuk mengaji dan belajar. Hayoo, temen temen suka membantu ibu tidak di rumah? Pasti suka membantu semua kan? hehehehe. (Nurul, Dewi, Laili)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Mei 2011