May 31, 2010

Sastra: Asarpin Menerima Rancage 2010

YOGYAKARTA (Ant/Lampost): Sastrawan Lampung Asarpin Aslami menerima Hadiah Sastra Rancage 2010 untuk kumpulan cerpennya Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong (BE Press, 2009). Penghargaan Rancage ini adalah yang kedua bagi sastra Lampung setelah Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi tahun 2008.

Penyerahan hadiah Sastra Rancage 2010 dilakukan oleh Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahab, Ketua Pembina Yayasan Sastra Rancage Ajip Rosidi, Ketua Pelaksana Erry Riyana Hardjapamekas, dan Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu (29-5).

Tujuh pengarang dan penggerak sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung menerima Penghargaan Rancage 2010 karena dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah.

"Tujuh orang itu masing-masing menerima piagam penghargaan dan uang Rp5 juta dari Yayasan Kebudayaan Rancage," kata Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Erry Riyana Harjapamekas.

Menurut dia, di sela pemberian Penghargaan Rancage 2010, penerima penghargaan karya sastra Sunda adalah Usep Romli H.M. dengan karya sastra Sanggeus Umur Tunggang Gunung dan jasa adalah Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Mingguan Bahasa Sunda Mangle, Karno Kartadibrata.

Penerima penghargaan kategori sastra Jawa adalah Sumono Sandi Asmoro dengan karya sastra Layang Panantang dan Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa, Surabaya Bonari Nabobenar. Penghargaan kategori sastra Bali diterima oleh Agung Wiyat S. Ardi dengan karya Leak Pamoroan dan penggerak sastra I Wayan Sadha.

Ia mengatakan Penghargaan Rancage adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan itu diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage.

"Pada awalnya (1989-1993), hadiah sastra itu hanya mencakup sastra Sunda, kemudian juga diberikan kepada sastra Jawa sejak 1994, sastra Bali (1998), dan sastra Lampung (2008)," kata dia.

Pada 1990, Penghargaan Rancage dibagi menjadi dua, yakni untuk karya yang terbit berupa buku dan untuk jasa bagi mereka (perorangan atau lembaga) yang berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah.

Menurut dia, sejak 1993 penghargaan itu juga dilengkapi dengan Penghargaan Samsudi, yakni penghargaan khusus untuk penulis buku bacaan anak berbahasa Sunda.

"Namun, Penghargaan Samsudi untuk karya sastra anak terbaik tahun ini tanpa penerima, karena tidak ada karya sastra bertema anak-anak yang dianggap layak menerima," ujarnya. (S-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 31 Mei 2010

May 30, 2010

[Pustaka] Hadiah Rancage Mengupayakan Sastra Daerah Terus Tumbuh

Oleh Susie Evidia Y

IDENTITAS dari suatu suku atau daerah, salah satunya tecermin dari bahasanya. Namun kini bahasa daerah semakin tergerus, bahkan beberapa bahasa masuk katagori nyaris punah akibat tidak lagi diturunkan ke generasi penerus. Penggunaan bahasa daerah hanya dipakai para orang tua, tak sampai mengalir kepada anak-anaknya.

Kekhawatiran nasib bahasa daerah terlukis pula di dunia sastra. Terbukti, semakin minim kalangan sastra di daerah yang tertarik mengembangkan bahasanya ke dalam bentuk buku. Terbukti dari penilaian panitia Penghargaan Sastra Rancage 2010, jumlah buku yang diterbitkan pada 2009 masih dalam hitungan jari. Para pengarangnya pun mayoritas dikuasai kalangan senior.

Menurut Erry Riyana Hardjapamekas, ketua Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancagé, betapa memprihatinkannya produk sastra daerah. Dari sisi kuantitas minim, masih sedikit karya sastra dalam bentuk buku. ''Memang kondisinya berat, tapi kita harus terus berjalan mempertahankan dan mengembangkan karya-karya sastra di daerah-daerah,'' kata dia.

Sebenarnya, lanjut Erry, kondisi ini tak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara mengalami masalah yang sama, yaitu semakin tergerusnya bahasa daerah setempat.

Pada 2009, karya sastra berbahasa daerah terbanyak disumbang oleh bahasa Sunda sebanyak 30 judul. Namun, yang benar-benar buku baru hanya 13 judul buku, sisanya ada terjemahan dan cetak ulang. Yang patut disyukuri, dari 30 judul berbahasa Sunda, empat di antaranya ditujukan untuk anak-anak sebagai generasi penerus bahasa ibunya.

Bacaan anak-anak yang diterbitkan berupa dongeng sasakala, yaitu Cadas Pangeran, Candi Cangkuang, Karajaan Arcamanik, dan Pajajaran. Karya untuk para buah hati ini disumbangkan oleh Aan Merdeka Permana. Tapi, Hadiah Samsudi untuk bacaan anak-anak berbahasa Sunda, tidak ada penerimanya. Empat judul buku itu tak ada yang layak untuk mendapatkannya.

Bagaimana dengan sastra berbahasa Jawa? Pada 2009 jumlah buku yang diterbitkan ada 12 judul, terdiri dari kumpulan sajak, cerpen, dan roman. Yang menarik, penulis sastra Jawa ini tak hanya mereka yang tinggal di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Rahmat Ali yang tinggal di Depok termasuk yang menyumbangkan karya sastra berbahasa Jawa. Lainnya, masih didominasi para pengarang dari Jawa Timur; Suparto Brata (Surabaya), David Hariyanto(Malang), Sumono Sandy Asmoro (Ponorogo).

Tersebarnya para pengarang sastra Jawa bisa membuat napas lega. Minimal dengan tersebarnya para pengarang di daerah dan dari berbagai kalangan, tak akan membuat sastra Jawa punah. Didukung para pengarang yang sangat produktif menulis ke dalam buku. Salah satunya, pengarang Suparto Brata --sebagai aset berharga bagi sastra Jawa. Setiap tahun, ide cemerlangnya pasti dituangkan ke dalam buku dengan jumlah lebih dari satu.

Pengarang-pengarang di Bali termasuk yang eksis menelurkan karya-karya sastra ke dalam bahasa Bali. Tahun lalu, sembilan buku bahasa Bali beredar di pasaran. Bentuk bukunya berupa roman saduran, kumpulan puisi, dan yang terbanyak adalah cerita pendek.

I Nyoman Mandra tahun lalu menyumbang karya mengejutkan berupa kumpulan puisi terdiri dari empat jilid. Jilid pertama hingga ketiga masing-masing berisi lebih dari seribu halaman, sedangkan jilid keempat menipis kurang dari 10 halaman. Karya ini bisa dikatakan termasuk kumpulan sajak paling tebal di ndonesia.

Dari Jawa dan Bali, Rancage menelusuri kawasan sastra yang ada di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan daerah-daerah lain. Pada 2007, didapat oleh-oleh dari Sumatra, yaitu sebuah buku dalam bahasa Lampung. Setahun berikutnya, 2008, tak ada lagi karya sastra berbahasa Lampung.

Pada 2009, dua karya sastra berbahasa Lampung kembali hadir. Karya pertama dalam bentuk kumpulan sajak Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya. Mahasiswa Jurusan Kimia Universitas Lampung ini menyajikan 57 sajak yang isinya membangun imajinasi berkenaan hal-hal bersahaja.

Sastra berbahasa Lampung lainnya, berupa kumpulan cerita pendek, yaitu Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami. Berisi 17 cerpen melukiskan berbagai kebiasaan, adat-istiadat, perilaku dan polah masyarakat di Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Hadiah Sastra Rancage merupakan penghargaan tahunan yang diadakan sejak 1989. Pencetusnya sastrawan sunda Ajip Rosidi yang juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia. Tujuan Rancage ini, menurut Ajip, untuk ikut mendorong tetap hidupnya kegiatan di bidang penulisan dan penerbitan karya sastra dalam bahasa daerah.

Karya sastra yang diterbitkan ke dalam bentuk buku sangat sedikit. Ajip memahami banyak fakor yang menyebabkan orang malas menulis karya sastra daerah. Kurangnya media daerah, honor yang minim, serta tak ada penghargaan bagi penulis bahasa daerah. Dari situ tebersit memberikan penghargaan bagi para penulis sastra daerah.

Awalnya, pada 1989 hanya sastra Sunda yang diberi penghargaan. Lima tahun berikutnya buku-buku sastra Jawa mulai diterbitkan. Akhir 1990-an, sastra Bali ambil bagian, sedangkan sastra Lampung andil tahun 2008. Ajip berharap karya-karya sastra daerah lainnya bisa ikut berperan meraih penghargaan ini.


Yang Meraih Rancage

Karya-karya para pengarang dari Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung telah diseleksi oleh tim penilai Rancage. Hasilnya, dari sastra Sunda terpilih karya H Usep Romli, dengan buku Sanggeus Umur Tunggang Gunung, terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung.

Penulis berbahasa Sunda, Karno Kartadibrata diberi penghargaan atas jasanya memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan-tulisan bersifat sosial-politi. Karno kini menjabat sebagai wapemred mingguan bahasa Sunda Mangle.

Untuk sastra Jawa, terpilih Layang Panantang karya Sumono Sandi Asmoro terbitan Bahasa, Surabaya. Kategori jasa, Rancage diberikan kepada Bonari Nabobenar yang aktif melakukan perjalanan diskusi berkenaan sastra Jawa dan Indonesia. Saat ini Bonari duduk sebagai ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya. Dia juga termasuk penggerak Kongres Sastra Jawa dan penyelenggara Festival Sastra Jawa dan Desa.

Leak Pemoroan karya I Wayan Sadha menjadi pilihan juri untuk hadiah Rancage 2010 sastra berbahasa Bali. Buku tersebut memuat 41 cerita beragam, di antaranya kisah leak, kehidupan pelacuran, korban pascapariwisata massa. Penghargaan untuk kategori jasa pengembang bahasa Bali adalah Agung Wiyat S Ardhi. Pria kelahiran Gianyar tahun 1946 ini sebagai penulis kreatif sastra Bali tradisional, maupun modren. Ia juga aktif sebagai pembina bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Dari dua buku yang berbahasa Lampung, para juri Rancage tampaknya tertarik dengan karya kumpulan karya Asapin Aslami. Alasannya, karya lulusan IAIN Raden Intan ini sebagai kumpulan cerpen modern pertama dalam bahasa Lampung yang banyak mengandung nilai-nilai tradisional dan modern.

Penghargaan diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancagé ini digelar di kampus Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FBS Universitas Negeri Yogyakarta, 29 Mei 2010. Berbarengan dengan penyelenggaraan Konferensi Internasional Kebudayaan Daerah 2010 yang diikuti dari berbagai negara.

Sumber: Republika, Minggu, 30 Mei 2010

Penulis Muda Mulai Muncul

ORANG Sunda di perkampungan dilanda pembangunan. Bukan saja alam dan lingkungan yang berubah, tetapi alam dan pikiran mereka pun sudah berubah. Tokoh-tokohnya yang sudah tunggang gunung (menjelang usia senja) membandingkan pembangunan ini saat masa kecil dengan kondisi alam yang masih utuh.

Begitulah salah satu isi dari kumpulan antologi cerpen Sanggeus Umur Tunggang Gunung karya penulis sekaligus wartawan senior, H. Usep Romli H.M. yang berhasil meraih penghargaan Sastra Rancage 2010.

Selain Usep, hadiah Sastra Rancage untuk bidang jasa diberikan kepada Karno Kartadibrata. Karno yang dikenal sebagai mantan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Sunda Mingguan Mangle dinilai untuk jasa-jasanya yang besar dalam memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan-tulisan yang bersifat sosial-politik.

Penyerahan hadiah Sastra Rancage 2010 dilakukan oleh Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., Ketua Pembina Yayasan Sastra Rancage Ajip Rosidi, Ketua Pelaksana Erry Riyana Hardjapamekas, dan Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu (29/5). Setelah penyerahan hadiah, acara dilanjutkan dengan Konferensi Internasional "Local Wisdom of Character Building".

Ketua Pelaksana Erry Riyana Hardjapamekas dalam sambutannya mengatakan, hadiah Sastra Rancage diberikan selama 22 tahun berturut-turut. Hadiah diberikan Yayasan Kebudayaan Rancage berdasarkan pada kecintaan terhadap bahasa dan sastra daerah, walaupun tak terlepas pula dari berbagai kendala.

Lomba ini, kata Erry, berhasil mengembangkan wilayah (daerah) penerima hadiah Sastra Rancage. Semula hanya diberikan kepada sastra daerah Sunda, Jawa, dan Bali. Akan tetapi, setelah tiga tahun terakhir ini, hadiah Sastra Rancage diberikan juga kepada sastra daerah Lampung.

Selain hadiah sastra, Yayasan Rancage juga akan memberikan Hadiah Hardjapamekas kepada para guru kreatif dalam pengajaran bahasa daerah. Pada tahun ini pula, Yayasan Rancage akan memperbarui Ensiklopedia Sunda yang sudah diterbitkan pada tahun 2000.

Para pemenang hadiah Sastra Rancage 2010 yaitu untuk sastra daerah Sunda H. Usep Romli H.M. (Sanggeus Umur Tunggang Gunung) dan untuk jasa Karno Kartadibrata, untuk sastra daerah Jawa Sumono Sandy Asmoro (Layang Panantang), dan untuk jasa Bonari Nabonenar, untuk sastra daerah Bali I Wayan Sadha (Leak Pemoroan) dan untuk jasa Agung Wiyat S. Ardhi, sedangkan untuk sastra daerah Lampung diberikan kepada Asarpin Aslami (Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong), tanpa penghargaan untuk jasa.

Bertumbuh

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi kepada "PR" menjelaskan, keberadaan hadiah Sastra Rancage telah berhasil menumbuhkan semangat menulis di kalangan para penulis. Bukan hanya penulis-penulis senior yang sudah lama menulis buku-buku sastra daerah, tetapi juga penulis-penulis dari kalangan muda.

Menurut Ajip, hal ini bagus karena isi dan tema yang disampaikan menjadi sangat beragam. Tidak hanya karya sastra yang berisi nuansa dan pesan-pesan lokal kedaerahan, tetapi juga karya sastra dengan gaya eksperimental yang ditulis para penulis dari generasi muda.

Pemberian hadiah Sastra Rancage, kata Ajip, telah mendorong bertumbuhnya penerbit buku berbahasa daerah. Penerbit ini tidak hanya menerbitkan buku-buku baru tetapi juga mencetak ulang buku lama. "Rupanya, banyak pula para pembaca muda yang ingin membaca kembali karya-karya lama yang terbit bukan pada zamannya," ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. dalam sambutannya mengatakan, pemberian hadiah Sastra Rancage yang diprakarsai Yayasan Kebudayaan Rancage merupakan upaya berharga bagi terselenggaranya pemeliharaan dan pelestarian bahasa sebagai bagian dari budaya daerah. Apalagi jumlah daerah penerima hadiah ini terus bertambah. (Eriyanti/"PR")

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 30 Mei 2010

[Buku] Lolongan Anjing Dini Hari

Judul : Anjing Dini Hari

Penulis : Isbedy Stiawan Z.S.

Penerbit : Rumah Aspirasi Rakyat, Bandar Lampung

Cetakan : I Februari 2010

Tebal : 124 halaman

SEORANG penyair Jerman Friedrich Schiller pernah mengatakan "...hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan". Tak berlebihan kiranya seorang Isbedy Stiawan Z.S. yang sekian lama bergelut dan bertualang dalam mandala kesusasteraan setelah pada mulanya mempertaruhkan dengan melepas kehidupan "enaknya" seorang pegawai negeri sipil. Ia kembali membukukan sajak-sajaknya (kalau saya tidak salah yang kesepuluh untuk kumpulan puisi), Anjing Dini Hari.

Buku setebal 124 halaman ini berisi 83 sajak-sajaknya yang ditulis dalam rentang tahun 2008--2009, waktu yang cukup panjang (dan tentu saja membutuhkan vitalitas demi kemampuan memproduksi) untuk mengunduh dan mengolah puisi yang ia �ekstrak� baik dari pengalaman keseharian maupun sebagai tanggapan kritisnya terhadap kehidupan dan lingkungan yang melingkupinya.

Sajak-sajak dalam buku ini seolah mengajak kita untuk menyelami (dan tentu saja menikmati) ekstase perjalanan, sikap, dan tanggapan hidup yang kebanyakan bersudut pandang dan beroposisi sebagai aku-kau yang memang terkesan mempribadi dan mau tak mau menampakkan keterlibatan langsung. Bila kita mau berendah hati memasuki sajak-sajak dalam buku ini, niscaya menemukan semacam cermin bagi diri sendiri.

Kita dapat melihat upaya sang penyair bergulat, memaknai, dan menangkap hikmah di balik apa yang ia alami dalam kehidupannya dan mengabadikannya dalam waktu "kini". Kita sebagai pembaca tentu akan memasuki sebentang medan yang sesungguhnya adalah medan kita sendiri, kemudian memberi tanggapan atau menarik kesimpulan dan bercermin berdasarkan apa-apa yang hidup dalam diri kita melalui sajak-sajak yang dihampar-bagikan kepada kita sebagai pembaca oleh sang penyair.

Dari pilihan judul buku yang diambil dari salah satu nama kepala sajaknya, sang penyair seolah menyugestikan suatu gambaran kesunyian (mungkin kesendirian) yang teramat sekaligus keliaran dan keberanian yang eksistensial sebagaimana dilukiskan melalui citraan "anjing" dalam waktu "dini hari" setidaknya begitulah asosiasi yang membangkit dalam imajinasi dan emosi saya.

Buku ini nikmat juga sebagai bahan bacaan dan perenungan, meski penyair dalam hal ini seperti tidak berkehendak menemukan kata atau frasa yang ajaib. Kalau tidak mau secara bombas disebut memukau dan membaharu sebagaimana yang menjadi "tren" dalam sajak-sajak yang hadir di berbagai media belakangan ini. Tapi mungkin, memang penyair tidak berpretensi mencari yang puitik dalam kata-kata yang mengilap tapi dalam kesederhanaan lirik: suasana, peristiwa sehari-hari, dan kisah-kisah.

Kepekaan kitalah yang kemudian menuntun untuk menemukan sebentuk makna di balik suasana, peristiwa, atau kisah-kisah tersebut-- seandainya kita (pembaca) berkehendak menuntut makna. Atau seandainya tidak, cukuplah kita menikmati keheningan, sublimitas, nada, musik, emosi dan menghayatinya dalam pembacaan kita. Seturut yang dikatakan Hasif Amini, sebuah puisi, dalam medium apa pun, menempatkan pembaca sebagai penulis (pencipta) juga, yang bisa (mungkin harus) mengolah dan merangkai makna sendiri dari komposisi tanda (bahasa) yang ada di hadapannya.

Setidaknya dalam pilihan tetanda bahasa: majas, metafor, dan diksi pada sajak-sajak dalam buku ini kita dibawa kepada beragam pergulatan eksistensial aku lirik terhadap kenangan, masa silam, harapan, kampung halaman, rasa takut, dendam, keberanian, tekad, cinta dan asmara, rumah, hubungan keluarga, dan lainnya yang menyediakan semacam ruang berwarna-warni yang kebanyakan menebarkan bau ironi. Dan memahami ironi berarti menangkap apa yang dikatakan dan tak dikatakan.

Mengutarakan ironi berarti tidak menyampaikan sesuatu secara langsung, tetapi menciptakan sebuah versi, sebuah rentang, sebuah ruang. Sebagaimana ucapan Hasif Amini, peran pembaca dalam memetik dan memasak makna tentu menjadi niscaya. Bisa saja, proses itu melewati rute-rute yang tampak jauh dari apa yang biasa disebut akal waras. Ia bisa tampak bersungguh-sungguh sekaligus bermain-main. Ia bisa tampak khusyuk sekaligus kurang ajar.

Sajak-sajak dalam buku ini, sebelumnya, beberapa secara terpisah telah dibagikan melalui media Facebook, selain di antaranya melalui perantara media-media massa lokal dan nasional, dengan sampul yang diperbagus dengan sebuah lukisan sumbangan karya dari Dirot Kadirah, seorang pelukis Jakarta. Namun, seandainya boleh disebut sedikit ketidakelokan (yang mungkin disebabkan ketidaksengajaan) adalah ditemukannya kesalahan pengetikan pada beberapa judul dan isi. Ini dapat berpotensi mengaburkan atau mengganggu pembacaan. Akan tetapi secara keseluruhan buku ini terkemas secara apik dengan warna sampul (yang berupa lukisan tersebut) terasa seperti kegairahan yang sekaligus muram, dan ini menimbulkan daya rangsang yang saya kira cukup memancing kepenasaran.

Dengan terlebih dahulu menepiskan gaya, nada, atau genre yang dirpilih sang penyair dalam mencipta karya-karyanya, dan bukankah setiap pencipta memang memiliki cara ungkap yang tersendiri? Saya ingin sekali mengutip ujaran Octavio Paz yang disampaikan dalam kuliah Nobel Kesusasteraan tahun 1990, �Maka jika karya-karya begitu beragam dan tiap rute adalah lain, apakah yang mempersatukan seluruh penyair? Bukan estetika, melainkan pencarian...

Arya Winanda, penyuka buku, tinggal di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Mei 2010

[Perjalanan] Berburu ‘Blue Marlin’ di Laut Krui

MUSIM panen ikan tiba bagi warga Pesisir Barat, Lampung Barat. Blue marlin, jenis ikan favorit yang dikenal warga sekitar sebagai ikan tukuhuk ini cukup melimpah. Memancing blue marlin menjadi pengalaman perjalanan yang luar biasa.

Awan pekat bergelayut mengikuti arah angin malam dua pekan lalu. Samar-samar lampu nelayan terlihat di kejauhan menghiasi panorama Laut Krui menjelang pagi. Waktu itu sekitar pukul 03.00, Khoirul (34) tidak menyelipkan sedikit pun keraguan untuk mengarungi Laut Krui meskipun malam masih begitu pekat.

Khoirul dibantu rekannya sedang berjuang menundukkan gelepar tuhuk (blue marlin) yang memakan umpan pancingnya di perairan Krui, Lampung Barat, pekan lalu. Drama babak akhir mengangkat ikat favorot ini menjadi momen yang paling menegangkan. (LAMPUNG POST/ANSORI)

Lampung Post yang ikut bersamanya juga merasa tegar, apalagi Khoirul ditemani Iswan yang sudah terbiasa mengarungi kerasnya ombak Krui dalam mencari ikan. Kali ini tujuannya adalah menangkap sebanyak mungkin ikan blue marlin atau dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama ikan tukuhuk.

Dimulai dari Pantai Labuhan Jukung yang terletak di Pekon Labuhanmandi, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Lampung Barat, dan berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota liwa, diperlukan waktu lebih kurang satu jam untuk mencapai Pantai Labuhan Jukung tersebut. Melihat jarak tempuh antara Kota Liwa dan Pantai Labuhan Jukung, seharusnya dengan waktu 30 menit sudah bisa tiba di lokasi. Namun kondisi jalan yang berliku dan terjal membuat setiap pengendara harus ekstra hati-hati sehingga waktu yang tadinya bisa setengah jam harus ditempuh selama satu jam.

Sebelum berangkat, Khoirul bersama Iswan memeriksa kembali peralatan yang harus dibawa untuk berburu blue marlin. Maklum, saat ini nelayan banyak yang mendapat tangkapan jenis ikan migrasi tersebut setelah semuanya komplet.

Perahu fiber berkapasitas 2,5 ton tersebut tancap gas. Mesin tempel memacunya menembus gelombang dan gelapnya malam.


Seorang nelayan meregangkan sayap ikan blue marlin yang biasa muncul ke permukaan laut seperti terbang. (LAMPUNG POST/ANSORI)

DUA ekor ikan blue marlin terbujur di geladak perahu Khoirul. Saat ini adalah musim panen ikan blue marlin bagi warga nelayan Krui, Lampung Barat. (LAMPUNG POST/ANSORI)


Sekitar pukul 04.00 Khoirul menghentikan mesin. Tempat itu dianggapnya strategis dan banyak disukai ikan-ikan blue marlin. Maka dengan sigap keduanya melemparkan sekitar 40 kawil apung (pancingan) yang di masing-masing ujung pancing itu sudah dipasang ikan tongkol sebagai umpannya. Kawil apung adalah pancing yang diikatkan pada sebuah jeriken sebagai pelampung. Tujuannya, jika umpan dimakan ikan blue marlin, hal itu akan terlihat dari jeriken ukuran lima liter-an yang bergerak. Setelah semua kawil apung disebar, tinggal menunggu dari atas perahu sambil mengamati pergerakan jeriken yang dihempas ombak.

Pagi mulai menyapa. Sunrise tampak jelas muncul dari arah barat, cahaya keemasan di antara perbukitan sebuah pertanda bahwa hari ini akan cerah. Tak lama berselang, salah satu jeriken berwarna kuning yang berjarak sekitar 50 meter dari perahu tampak bergerak. Saat itu juga Khoirul langsung menghidupkan mesin perahunya untuk mendekati.

Setelah bisa digapai dengan tangan, jeriken tersebut langsung diangkat kemudian senarnya langsung digulung. Menyadari ikan tangkapannya besar, Iswan pun tidak tinggal diam. Ia membantu Khoirul dengan menarik senar tersebut. Sesekali keduanya tampak hanya menahan senar ketika ikan yang sudah memakan pancing itu memberontak. Lampung Post mencoba ikut menarik senar tersebut dan wow, inilah puncak atraksi yang paling menarik dan menjadi sensasi yang sulit terlupakan.

Hasilnya, setelah sekitar 1 meter lagi dari kapal, ikan blue marlin yang masih terlihat beringas langsung dipukul dengan balok agar tidak lepas. Lega rasanya menyaksikan pergulatan itu. Ternyata tidak mudah menangkap ikan blue marlin. "Ini ukurannya sedang, ukurannya sekitar 60 kg," kata Khoirul.

Di bawah terik matahari yang cukup penat, kedua nelayan itu tidak sedikit pun lengah untuk mengamati Kawil Apung yang telah ditebar itu. Di sekeliling di mana lokasi keduanya menebar sejumlah kawil apung, tampak nelayan lain juga sedang melakukan aktivitas yang sama, yaitu memancing ikan blue marlin.

Di tengah samudera, yang ada hanya pandangan jauh ke depan. Masih terlihat bibir pantai yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Tampak juga Pulau Pisang yang dikenal jaya akan cengkeh puluhan tahun silam.

Menurut penjelasan Khoirul, di Pulau Pisang terdapat kampung nelayan yang dihuni sekitar 300 kepala keluarga dan di sepanjang pantai tersebut terdapat pohon-pohon kelapa dan beberapa pohon besar berbagai jenis. Menjelang sore harinya, Khoirul bersama Iswan berhasil mengumpulkan hasil tangkapanya sebanyak enam ekor, empat di antaranya adalah jenis ikan blue marlin. Tidak berlebihan jika di pusat Kota Krui terdapat sebuah monumen tugu dengan miniatur ikan blue marlin.

Menjelang sore, kembali salah satu pancing yang diberi umpan ikan tongkol tersebut tampak terseret dibawa oleh ikan blue marlin. Itu pertanda bahwa keberuntungan kembali akan berpihak terhadap kedua nelayan tersebut. Seperti sebelumnya, Khoirul kembali menghidupkan mesin perahu dan mengejar apung yang dibawa oleh ikan yang telah terkena pancing itu.

Dengan bersusah payah Khoirul dan Iswan menaklukkan ikan yang tersangkut pada pancing mereka dan ternyata ikan yang didapat adalah ikan serupa jenis blue marlin, namun dengan ukuran yang lebih besar, yaitu sekitar 90 kg. Hari itu kedua nelayan tersebut hanya berhasil membawa hasil tangkapan ikan jenis blue marlin sebanyak dua ekor. n ANSORI/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Mei 2010

May 29, 2010

Menyebarkan Virus Kebaikan

Oleh Jauhari Zailani

Dalam suatu masyarakat dan negara terdapat sedikit orang yang unggul karena memiliki motif berprestasi. Dan virus berprestasi itu harus terus disebarkan guna mempengaruhi dan mengubah orang-orang dalam masyarakat tersebut. (MC. Lelland)

1.

KEBAIKAN adalah norma yang harus terus ditularkan. Dulu para leluhur kita mengajarkan dan menularkan norma kebaikan melalui cerita lisan, seni lisan, dan seni pertunjukan. Proses penanaman nilai bergerak di antara ruang-ruang yang sempit dan personal, seperti kamar mandi dan tempat tidur, dapur-ruang makan. Atau ruang publik seperti musala-surau, gardu ronda, nuwo-balak, Sesat, dan aneka tempat musyawarah dan tempat pertunjukan seni. Warisan sosial itulah yang menjadikan kita menjadi seperti sekarang. Meski dalam banyak hal kita berbeda, norma dan nilai itu telah menyatukan kita dan dalam taraf tertentu membuat kita sama. Warisan nilai dan norma menjadi penuntun dan pengikat hidup dan kehidupan sosial kita.

Media sebagai agen. Sebagai surat kabar tertua di Lampung, Lampost melanjutkan tradisi baik leluhur kita; mewariskan nilai-nilai kepada masyarakatnya. Nilai-nilai dan etos para pendahulu itu dari hari ke hari diteruskan dan tergambar dalam racikan apik Bambang dalam tokohnya, Amir dan Umar, di antara dua tokoh (?) BURAS. Koran ini gabungan kerja antara pekerja, pemikir, dan pengkhayal budaya seperti Djadjat, Wardoyo, dan Udo Karzi. Paduan kelembutan dan kenyinyiran para Srikandi seperti Yuni, Hesma, dan Sri Agustina diwarnai ketekunan Sinaga, Nasir, Iskak, dan Iskandar. Maaf, untuk menghemat ruang, orang-orang hebat seperti Mas Darmono dan kawan yang lain tidak disebut. Padahal melalui kerja merekalah kerja dan agenda harian Lampost eksis dan bersinambung dalam mengerjakan agenda tahunan: menulis dan mencetak buku. Hasilnya, Buku Buras, Buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung, dan kini Buku Apa dan Siapa 550 Wakil Rakyat Lampung (2009-2014). Mereka telah, sedang, dan akan terus (?) menorehkan jejak-jejak anak negeri ini. Untuk apa?

2.

WAKIL rakyat sebagai agen penyebaran. Kalau saya harus memuji, pujian itu bermaksud agar pekerjaan baik dan kebaikan ini terus berkembang biak. Menurut saya, terbitnya buku-buku tersebut adalah sebuah langkah strategis menuju masyarakat yang baik dan membaikkan. Menulis dan mengabarkan adalah pekerjaan insan pers, tetapi dengan buku ini, mereka menghargai dan menyebarkan kebaikan dan prestasi. Kita mengetahui dan mengapresiasi kiprah dan prestasi putra Lampung pada pentas nasional dan global dalam berbagai bidang kehidupan: politik, militer, pemikiran, bisnis, diplomatik, seni, dan lain-lain. Melalui buku yang baru, koran ini mencatat dan menghargai prestasi 550 orang wakil rakyat. Hal itu ini diharapkan menjadi tonggak bagi mereka untuk mengukir prestasi sama atau melebihi para pendahulunya.

Saya membayangkan sebuah jaringan budaya yang raksana dengan agen utamanya 550 orang ini. Untuk menjadi agen kebaikan, terlebih dahulu mereka harus membaikkan dirinya. Kebaikan personal itu akan menyebarkan dalam keluarga kasur dan keluarga “sumur”, kemudian merembes pada keluarga batih dan keluarga ratih. Dalam pandangan saya, menjadi wakil rakyat itu mungkin dan dimungkinkan untuk berprestasi dan menyebar kebaikan. Buku ini telah menanamkan sekaligus menyebarkan kebaikan tersebut. Bahwa sebagai putra Lampung, mereka akan berkata, “Aku baik dan akan membaikkan masyarakatku.”

Kini kita, masyarakat Lampung, memiliki 550 orang agen penyebar virus sukses. Semangat “aku mampu dan memampukan” yang tertanam dalam dada para agen ini akan tertanam pada setiap dada anak muda di Lampung. Perasaan mampu kemudian memampukan orang lain ini akan menyebar dan terus menyebar sehingga Lampung akan memiliki orang-orang muda yang senantiasa optimistis. Melalui buku ini mereka juga menyebarkan virus sukses. Sebab, kesuksesan agen ini diharapkan menjadi virus yang menyebar dan menjadikan etos anak negeri, bukan saja di lapangan politik melainkan juga dalam segala bidang lapangan pengabdian.

3.

KACA retak janganlah karena kita. Harus diakui buku ini untuk mengaku dan mengakui orang-orang yang kini menjadi wakil rakyat. Untuk mencapai posisi sekarang ini, mereka telah bekerja keras dengan penuh pengorbanan. Kini mereka menjadi penikmat banyak fasilitas negara dan meningkat statusnya dalam bidang sosial-masyarakat, dalam politik, dan sudah tentu dalam ekonomi diri dan keluarganya. Semoga pengakuan ini membaikkan dirinya dan menjadi pemandu perilakunya sehingga virus kebaikan dan virus sukses yang telah dibuat Lampost dapat menjadi bibit kesuksesan putra-putra Lampung. Sebab, tonggak batas itu telah dibuat dan dimulai hari ini. Bukankah mereka berusia muda dan penuh vitalitas yang akan menjadikan legislator hanyalah awal prestasi?

Melalui buku ini mereka bukan saja telah dan akan terjalin dengan konstituen, melainkan juga dengan leluhurnya, teman dan saudara, dan dengan anak cucunya. Oleh karena itu, kebaikan menjadi kata kunci dan modal untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Sebab, masyarakat hanyalah memantulkan gambaran diri dan wajah kita. Maka, janganlah cermin retak karena ulah kita. Akhirnya, saya berharap buku ini tidak direvisi kecuali ada yang mati, bukan dimatikan apalagi “mematikan diri”. Semoga sukses. Salam.

* Jauhari Zailani, Dosen FISIP Universitas Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 29 Mei 2010

May 26, 2010

Pustaka: Buku '550 Wakil Rakyat' Punya Manfaat Ganda

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Buku Apa & Siapa 550 Wakil Rakyat Lampung (2009-2014) memiliki manfaat ganda bagi anggota DPRD, yakni membangun komunikasi dengan masyarakat dan sesama anggota Dewan.

PELUNCURAN BUKU WAKIL RAKYAT. Pemimpin Media Group Surya Paloh bersama Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. dan perwakilan anggota DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan bupati dan wali kota se-Lampung usai peluncuran buku Apa & Siapa 550 Wakil Rakyat Lampung (2009-2014) di Ballroom Hotel Novotel, Bandar Lampung, Selasa (25-5) malam. (LAMPUNG POST/*)

Di pihak lain, masyarakat bisa mengenali wakilnya di parlemen. "Buku ini bisa memberikan informasi kepada masyarakat tentang siapa dan bagaimana wakilnya yang duduk di lembaga legislatif," kata Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. pada peluncuran buku tersebut di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Selasa (25-5) malam.

Menurut Gubernur, buku yang diterbitkan Lampung Post itu ikut memberi andil dalam pembangunan Lampung. "Dengan mengetahui siapa wakilnya di lembaga legislatif, masyarakat tahu kepada siapa harus harus mengadu," kata dia.

Buku 550 Wakil Rakyat, kata Sjachroedin, juga membawa manfaat kepada sesama anggota Dewan. Dalam buku ini terdapat profil para wakil rakyat sehingga anggota Dewan bisa melihat siapa saja mitranya di lembaga legislatif. Adanya buku ini akan membuat sesama anggota Dewan saling mengenal. "Buku ini bisa lebih merekatkan tali silaturahmi sesama anggota DPR dan DPRD," kata dia.

Acara peluncuran buku juga dihadiri para anggota DPR, DPD, DPRD Lampung, dan DPRD kabupaten/kota. Hadir pula sejumlah pejabat dan serta unsur Muspida di Lampung serta pemimpin Media Group Surya Paloh dan jajaran direksi Media Group.

Sementara itu, Surya Paloh mengatakan buku 550 Wakil Rakyat merupakan sumbangsih Lampung Post kepada masyarakat agar lebih dekat dengan buku. "Masyarakat harus dekat dengan buku," kata Surya.

Ia berharap buku ketiga Lampung Post ini bisa meningkatkan minat baca masyarakat. Bahan bacaan adalah salah satu aspek yang mampu meningkatkan kemampuan diri seseorang. "Meningkatkan kemampuan diri bisa dilakukan dengan banyak membaca, banyak melihat, dan mendengar," kata Surya.

Menurut Surya, buku ini dapat dijadikan sebagai referensi masyarakat. Indonesia, ujarnya, semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Mengejar kemajuan untuk Indonesia bukan pekerjaan satu kelompok. "Perlu ada semangat kesatuan, kebersamaan, dan semangat solidaritas. Perilaku sosial dan rasa saling curiga harus dihilangkan," kata dia. (MG2/CR3/*/U-1)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 26 Mei 2010

May 25, 2010

Pustaka: 'Lampung Post' Luncurkan Buku 'Apa dan Siapa 550 Wakil Rakyat Lampung'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lampung Post hari ini meluncurkan buku Apa dan Siapa 550 Wakil Rakyat Lampung di Hotel Novotel. Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan warga Lampung untuk mengenal wakil mereka di parlemen.

"Pemimpin Media Group Surya Paloh yang akan meluncurkan buku ini dalam suasana Hari Kebangkitan Nasional," kata Ketua Tim Buku Lampung Post Iskandar Zulkarnain pada konferensi pers di Rumah Makan Gubuk Mas, Bandar Lampung, Senin (24-5).

Menurut Iskandar, buku Apa dan Siapa 550 Wakil Rakyat Lampung ini merupakan buku ketiga yang diterbitkan koran terbesar di Lampung ini setelah kumpulan tulisan Buras (2005) karya Bambang Eka Wijaya dan buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung yang diluncurkan dua tahun lalu.

Iskandar menjelaskan buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung pernah menjadi buku daerah paling laris di Gramedia, Bandar Lampung. "Kami berharap buku ketiga ini juga bisa selaris buku sebelumnya," kata dia.

Untuk edisi perdana, buku yang diterbitkan dalam bentuk hard cover dan soft cover ini dicetak 5.000 eksemplar. Buku ini berisi berisi biodata singkat serta visi dan misi 18 anggota DPR dan 4 anggota DPD asal Lampung, 75 anggota DPRD Lampung, dan sisanya anggota DPRD kabupaten/kota. "Mudah-mudahan buku ini bermanfaat untuk warga Lampung," kata dia.

Wakil Ketua Tim Buku Iskak Susanto menambahkan anggota DPR Tulangbawang Barat dan Mesuji tidak dimasukkan karena pelantikannya berlangsung akhir April 2010, sementara naskah buku sudah harus dikirim ke percetakan di Jakarta. Sedangkan untuk DPRD Pringsewu hingga kini masih dalam tahap pengajuan nama-nama ke provinsi. "Semua akan dimasukkan dalam edisi revisi," kata Iskak.

Menurut Iskak, jumlah total wakil rakyat di Lampung sebanyak 556 orang. Namun, di judul buku hanya ditulis 550 untuk memudahkan penyebutan. Ia berharap buku dokumentatif ini bisa manjadi panduan bagi masyarakat untuk mengenal wakil rakyat Lampung. (MG2/U-1)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 25 Mei 2010

May 23, 2010

[Kehidupan] Kesadaran: Situs? Wah, Apa Itu?

Oleh Mahdi Muhammad & Ilham Khoiri

”SITUS megalitik Sekala Berak! Wah, apa itu?” Seorang warga balik bertanya sambil garuk-garuk kepala. Saat itu, kami tengah minta tolong ditunjukkan arah menuju lokasi situs megalitik yang kerap disambangi peneliti arkeologi Sumatera.

Anak-anak bermain di sekitar situs kuburan batu di Tanjung Aro, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Rabu (28/4). (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Jawaban serupa dilontarkan sejumlah warga lain. Beberapa orang mencoba memberi arah, tapi kadang malah menyesatkan. Perjalanan dari Kota Liwa menuju Situs Sekala Berak, di kawasan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat, akhir Mei itu pun tersendat-sendat.

Begitu tiba di lokasi, kami menyaksikan batu-batu besar megalitik yang mengesankan. Sejumlah warga tengah berjalan-jalan sore. Meski tinggal berdekatan dan kerap main ke situ, ternyata mereka juga kurang mengerti soal artefak bernilai tinggi itu.

”Maaf, saya tak tahu apa-apa soal batu-batu itu,” kata Maman Hakiki (50), warga Sumberjaya, sambil menunjuk batu menhir setinggi empat meteran. Sementara beberapa anak muda setempat nongkrong di areal situs yang lapang itu.

Situasi serupa juga berlangsung di Pagar Alam. Masyarakat yang tinggal di sekitar situs batu kubur atau arca ular melilit manusia di Tanjung Aro juga tak tahu-menahu soal benda bersejarah itu. Mereka malah sering mengaitkannya dengan legenda Si Pahit Lidah. ”Itu, kan, sepasang kekasih yang berhubungan intim yang dililit ular, terus dikutuk Si Pahit Lidah jadi batu,” kata Sunainah (60), warga Tanjung Aro, Pagar Alam.

Di Kerinci juga ditemui hal serupa. Begitulah, masyarakat di Lampung, Sumsel, dan Jambi memang tak banyak tahu soal kekayaan tinggalan sejarah di kampung halamannya sendiri. Kalaulah menyadari keberadaannya, mereka kerap meyakininya sebagai bagian tempat sakral dan perlu diberi sesajen.

Jelas tak sepenuhnya mereka salah. Soalnya, informasi yang tertera di situs-situs itu juga sangat minim atau malah kadang tidak ada sama sekali. Bahkan, ada juru pelihara yang tak tahu-menahu soal peninggalan bersejarah yang dijaganya.

”Saya baru ditunjuk jadi jupel. Saya juga tak bisa menerangkan apa-apa,” kata Pengke Aguslan Munteh (20), juru pelihara (jupel) Situs Tegur Wangi, Dempo Utara, yang ditunjuk Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian situs itu dibiarkan terbengkalai begitu saja. Masyarakat malah iseng mengusili peninggalan masa lalu itu. Candi Bahal I di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, misalnya, dipenuhi coret-coretan. Sisa-sisa pembakaran makanan serta sisa pakaian tertinggal di halaman candi.

”Masyarakat belum punya rasa memiliki atas artefak-artefak sejarah yang membuktikan kejayaan masa lalunya,” kata Stanov Purnawibowo, arkeolog asal Balai Arkeologi Medan, saat ditemui di Candi Bahal.

Ironi

Ironi lebih besar menyangkut kehidupan di sekitar situs-situs bersejarah di pantai barat Sumatera. Bertolak belakang dengan kejayaan masa lalu, kehidupan masyarakat saat ini justru memprihatinkan. Keterbelakangan terpampang jelas dari kota-kota yang dulu pernah jadi pusat kebudayaan masa lalu, seperti Liwa, Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, atau Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Infrastruktur dan fasilitas publik di kota-kota itu minim. Selain jalan raya yang rusak parah, sebagian lokasi harus ditempuh dengan perahu lewat sungai. Rumah-rumah penduduk tak terawat dan ekonomi merayap lamban.

Peradaban masa lalu itu seperti terputus begitu saja dengan masa kini. Masyarakat pantai barat Sumatera dulu sudah mengembangkan teknologi perikanan laut dan perdagangan internasional. Kini, pamor jalur laut dan perikanan itu meredup.

Para nelayan di Pasar Pantai, Bengkulu, misalnya, tak mewarisi teknologi penangkapan ikan laut dari masa lalu. Pada zaman modern ini, mereka masih mengandalkan perahu kecil, pancing, dan jaring terbatas.

”Katanya, nelayan dulu melaut sampai ke mancanegara. Sekarang, kami melaut hanya beberapa mil dari pantai. Hasilnya juga pas-pasan,” kata Edison (55), nelayan di Pasar Pantai.

Situasi serupa juga terjadi di Barus. Di kota yang terkenal dengan produksi kapur barus ini, sekarang malah sulit mencari kayu penghasil kapur barus. ”Kalaupun ada, kayu itu sudah tersembunyi. Butuh dua atau tiga hari berjalan ke dalam hutan untuk menemukannya,” ujar Habibudin Pasaribu (56), tokoh masyarakat Barus.

Lebih mengenaskan, pelabuhan kuna yang kini tak difungsikan dengan baik lagi. Singkil, pelabuhan kuna yang menjadi jalur internasional abad pertengahan, kini seperti menjadi kota yang ditinggalkan. Adakah ini penanda kemunduran peradaban?

Potensi

Zaman sudah berubah dan orang tak bisa terus dibuai romantisme sejarah. Masyarakat setempat berharap pemerintah pusat dan daerah mau menjawab tantangan untuk membangkitkan kemajuan pantai barat Sumatera yang kini tertinggal dibandingkan dengan kawasan tengah dan timur Sumatera. Apalagi, kawasan ini menyimpan banyak potensi, terutama perkebunan, perikanan laut, pertambangan, dan wisata.

Ada beberapa kebun teh besar dirintis sejak zaman Belanda sekitar tahun 1928 dan terus berproduksi sampai kini. Sebut saja perkebunan teh Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan, dan di Kayu Aro, Kerinci, Jambi. Teh olahan dari sini masih menjadi langganan negara-negara Eropa.

Kebun kopi terhampar luas di wilayah Pagar Alam, Lampung, dan Bengkulu. Pala berkembang di Aceh Selatan, sementara karet di Aceh Barat. Pertambangan diwakili Sawah Lunto yang merupakan kota tambang batu bara tua sejak zaman Belanda. Perikanan sudah lama ditekuni masyarakat nelayan pantai barat, seperti di Krui, Lampung Barat, dan Bengkulu.

Soal wisata, jangan tanya lagi. Kawasan barat Sumatera dikaruniai pantai indah, gunung, hutan taman nasional, air terjun, danau, ngarai, atau lembah menawan. Di beberapa tempat, berbagai obyek itu menyatu dalam satu area penuh pesona, seperti Kerinci, Jambi, yang kerap dijuluki ”sekapal tanah surga di dunia”.

”Banyak potensi wisata yang seharusnya bisa digarap di pantai barat Sumatera. Sayang, masih sia-sia karena ditelantarkan begitu saja,” kata Nurdin Ahmad, Ketua Dewan Pariwisata Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Sumber: Kompas, Minggu, 23 Mei 2010

[Kehidupan] Situs Sejarah: Taman Arkeologi di Barat Sumatera

Oleh Ilham Khoiri & Mahdi Muhammad

KAWASAN Bukit Barisan, perbukitan yang membentang dari Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, hingga Jambi, adalah taman arkeologi yang kaya. Situs-situs megalitik atau zaman batu besar di situ menggambarkan kawasan itu pernah menjadi salah satu pusat budaya masa prasejarah hingga permulaan Masehi. Apa artinya bagi masa kini?

Situs megalitik Batu Berak di Kabupaten Lampung Barat, Lampung, Selasa (27/4). (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Puluhan batu besar berwarna coklat-kehitaman itu seperti dibariskan dalam empat jalur sepanjang ratusan meter. Beberapa batu berbentuk tinggi-tegak (biasa disebut menhir) sampai empat meter. Sebagian mirip meja yang lebar (dolmen). Ada yang berbentuk datar, juga bulat-bulat seperti umpak.

Kuna, magis, menggetarkan! Kesan itu meresapi kami saat menyaksikan deretan batu-batu Situs Sekala Berak di atas bukit di Purajaya, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat, Lampung, akhir Mei lalu. Serakan batu monolit di areal tiga hektar itu seperti menghadirkan dongeng kehidupan manusia zaman batu yang gemar menggelar upacara sakral.

”Ada 50 menhir, 30 dolmen, tiga batu datar, dan banyak batu umpak di sini,” kata Sapran (52), juru pelihara di Batu Berak yang juga dikenal sebagai situs Kebuntebu itu.

Brosur Dinas Pendidikan Provinsi Lampung menyebutkan, situs Batu Berak merupakan peninggalan dari masa megalitik alias zaman batu besar prasejarah (sebelum Masehi). Situs ini juga dikelilingi beberapa peninggalan lain, seperti situs Batutameng, Telagamukmin, Batujaya, Air Ringkih, dan Batujajar. Semuanya menggambarkan kehidupan, upacara pemujaan, penguburan, dan permukiman manusia zaman batu besar.

Situs serupa juga tersebar di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Di Tegur Wangi, Dempo Utara, misalnya, ada beberapa arca manusia, dolmen, menhir, dan kubur batu. Di Tanjong Aro, terdapat kubur batu besar dan arca manusia ular. Arca di dua situs itu diukir dengan wajah agak jelas, bahkan tampak mengenakan anting-anting.

Situs yang diekskavasi arkeolog Belanda, Van Der Hoop, pada tahun 1931 itu memperlihatkan upacara pemakaman dan pembuatan kuburan. Satu kuburan bisa digunakan untuk beberapa orang sekaligus.

Di Kerinci, Jambi, juga terdapat sejumlah peninggalan megalitik, seperti di perbatasan antara Kerinci dan Kabupaten Merangin, di daerah Lempur, Ranah Kemumu, Jangkat, dan Gunung Raya. Temuan di kawasan ini umumnya berupa batu silindrik atau bulat memanjang dengan hiasan serta menhir.

Situs di Lampung Barat, Kerinci, dan Pagar Alam berada di wilayah perbukitan bernama Bukit Barisan yang terhampar melintasi tiga provinsi itu. Bisa dibilang, kawasan ini merupakan taman arkeologi zaman megalitik dari budaya zaman prasejarah dan awal Masehi.

Peneliti Edwin M Loeb, dalam buku Sumatera, Its History and People (1935), menyebutkan, situs di wilayah Paemah (Pagar Alam dan sekitarnya) merupakan budaya megalitik dan perkembangan lanjutannya. Arca-arca batu dipahat dengan keahlian mengukir, menggambar wajah, dan bentuk binatang. Komunitas masyarakat telah menetap dan punya organisasi sosial.

Temuan perkakas logam dan perunggu membuktikan mereka telah mengadopsi teknologi pengolahan logam dari budaya Dongson di Vietnam. Mereka telah membangun hubungan internasional dengan mengandalkan jalur pantai barat Sumatera.

Kosmopolit

Bergeser ke Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam, banyak tersebar peninggalan dari peradaban tua. Salah satunya Barus, kota kuna di Kabupaten Tapanuli Tengah yang masyhur di dunia internasional sejak abad ke-6 Masehi.

Kota ini punya prasasti Lobu Tuwa bertuliskan tahun 1010 Saka (sekitar 1088 Masehi). Dicatat dalam bahasa Tamil—diyakini dibuat pedagang asal Kerajaan Cola, India Selatan—prasasti menuturkan adanya kegiatan perdagangan antara daratan India dan masyarakat Barus. Produk yang digemari adalah kamper atau kapur barus.

Ada juga kompleks Makam Tuanku Batu Badan yang mencantumkan nama seorang perempuan yang meninggal tahun 602 H. Uka Tjandrasasmita, dalam buku Arkeologi Islam Nusantara (2009), mencatat, nisan itu menunjukkan keberadaan komunitas Muslim di pantai barat Sumatera yang lebih dahulu dibandingkan Kerajaan Samudera Pasai (Nanggroe Aceh Darussalam).

Menurut arkeolog Balai Arkeologi Medan, Ery Soedewo, peradaban di Barus sudah sangat maju pada zamannya. Temuan keramik dan porselen memperlihatkan, geliat bisnis di situ melibatkan pedagang India, Persia, China, dan Jawa. ”Barus merupakan kawasan urban yang heterogen kala itu,” katanya.

Kota Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, Kota Natal, dan Portibi di Provinsi Sumatera Utara juga pernah menjadi kota perdagangan internasional yang kosmopolit. Maklum saja, Singkil dan Natal berlokasi di muara sungai sehingga cukup strategis sebagai jalur lalu lintas masyarakat dunia.

Sejarawan Denys Lombard mencatat, seorang pelaut dari Perancis, Admiral Augustin de Beaulieu, dalam perjalanannya ke Hindia Timur (1619-1622) menyebutkan, Singkil merupakan salah satu kota pelabuhan Sultan Aceh sekitar abad ke-17. Beaulieu menyebut Kota Singkil dengan Cinquel. Bersama Pasaman, Tiku (Pariaman), sampai ke Padang, kota ini merupakan salah satu pemasok lada, kemenyan, kapur barus, dan ikan.

Kota Singkil di masa lalu juga jadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Aceh. Itu ditandai oleh adanya makam Syekh Abdurrauf Singkil, tokoh intelektual Muslim. Makam di tepi Sungai Alas, Kecamatan Kilangan, Kota Singkil, itu masih saja ramai dikunjungi peziarah.

Inspirasi

Apa arti sejarah megalitik dan peradaban abad pertengahan itu bagi kita saat ini?

Semua itu mengingatkan kita akan dinamika dan kreativitas budaya pantai barat Sumatera pada masa itu. Selain menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri, fakta itu bisa menjadi bahan pelajaran dan inspirasi bagi bangsa ini untuk membangun kebudayaan lebih baik lagi. Jika pada masa lalu kawasan itu sudah demikian maju, semestinya saat ini bisa lebih melesat lagi.

Sayang, kenyataannya justru terbalik. Nasib kawasan itu masih terpuruk, persis seperti peninggalan megalitik dan kota-kota perdagangan tua di sana yang kumuh tak terurus. ”Semestinya peninggalan bersejarah itu dipelihara agar jadi pengingat buat kita semua,” kata Aspawi (47), guru di Canggu, Kecamatan Batu Berak, Lampung Barat.

Sumber: Kompas, Minggu, 23 Mei 2010

[Kehidupan] Matinya Kota Pusaran Peradaban

Oleh Ilham Khoiri & Mahdi Muhammad

PANTAI barat Sumatera saat ini bagaikan kawasan tak bertuan. Kota-kota yang berjajar dari Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, hingga Nanggroe Aceh Darussalam itu tertinggal dalam beberapa aspek kehidupan. Padahal, dulu kawasan ini pernah menjadi titik pusaran peradaban dan jalur perdagangan internasional.

Hamparan tanaman teh terlihat di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Rabu (28/4). Selain memiliki keindahan alam yang elok, Kota Pagar Alam juga menyimpan peninggalan megalitik yang tersebar di beberapa tempat. (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Kota Singkil, kota di pantai barat Sumatera, saat ini menyerupai kota mati. Permukaan tanahnya menurun sekitar 1,5 meter pascagempa Desember 2004. Wilayah ini pun kerap digenangi air dan rumah-rumah terkepung rawa. Banyak pula rumah kosong yang dibiarkan tergenang air atau tertutup ilalang.

Kondisi Kota Singkil Lama lebih mengenaskan. Sisa-sisa bangunan tua tertutup lumpur dan semak belukar. ”Kota lama ini makin tidak terawat, seperti nasib kota Singkil Baru yang juga akan begitu,” kata Tuanku Abdul Rahman (35), warga setempat.

Kesan ”tak bertuan” segera terasa begitu menyusuri jalan yang menghubungkan kota-kota itu. Ekspedisi Wisata Lintas Barat Sumatera oleh National Geographic Traveler-Kompas, akhir April-awal Mei, menemukan jalan lintas barat Sumatera yang hancur. Ada lubang-lubang besar, aspal terkelupas, bahkan longsor di jalur dari Lampung hingga Banda Aceh.

Kerusakan itu sangat parah di beberapa titik. Sebut saja ruas antara tanjakan Sedayu, Kabupaten Tanggamus, sampai Pemerihan dan Krui, Lampung Barat. Begitu pula jalan dari Kota Bengkulu menuju Mukomuko hingga Tapan, Sumatera Barat.

Di Air Punggul, sebelum Mukomuko, jalanan mirip kubangan kerbau. Lubang-lubang selebar lima meter lebih yang dipenuhi lumpur menganga di tengah jalan. Melewati jalan rusak ini, truk- truk kerap terperosok lubang, mogok, atau malah terjungkal ke jurang.

”Itu sudah biasa,” papar Sanyo (40), sopir truk asal Bengkulu.

Kehidupan kota-kota di sepanjang pantai barat juga memprihatinkan. Selain Kota Singkil, kondisi serupa tampak di Kota Natal, Kabupaten Mandailing Natal; juga di Kota Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ketiga kota itu dulu pernah menjadi jalur perdagangan internasional.

Di Kota Natal, beberapa peninggalan lama di sekeliling alun- alun kota sudah rusak. Pantainya tak terurus dan kotor. Kegiatan ekonomi sepi. Barus, kota yang dulu terkenal dengan kapur barus atau kamper, tidak jauh berbeda. Beberapa bangunan, perumahan, tempat pelelangan ikan, dan pangkalan pendaratan ikan di pelabuhan lama itu kusut tak terawat.

”Lama sudah kota ini tak disentuh pembangunan,” kata Jufri (37), salah satu warga. Satu-satunya bangunan terbaru dalam beberapa tahun terakhir hanya stasiun pengisian bahan bakar untuk umum.

Pernah gemilang

Bisa dibilang, kehidupan pantai barat Sumatera saat ini mundur dibandingkan sejarahnya yang gemilang. Pada masa prasejarah hingga awal Masehi, kawasan Bukit Barisan yang membentang dari Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi merupakan salah satu pusat kebudayaan megalitik. Banyak situs yang meninggalkan batu-batu besar untuk upacara, penguburan, permukiman, dan perkakas logam.

Bagi arkeolog di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, Agus Widiatmoko, beberapa peninggalan itu mencerminkan masyarakat zaman itu mulai mengenal hidup menetap dan teknologi pembuatan perkakas dari logam. ”Mereka berhubungan dengan budaya Dongson di Vietnam lewat pantai barat Sumatera,” katanya.

Pada abad ke-16 hingga ke-20 Masehi, kawasan pantai barat Sumatera menjadi jalur perdagangan internasional. Seperti dicatat Gusti Asnan dalam buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (2007), masyarakat di pantai yang berhadapan dengan Samudra Hindia itu berhubungan dengan beberapa negara, seperti Belanda, Portugis, Inggris, China, dan India.

Kota Barus, Singkil, dan Kota Natal merupakan titik-titik pusaran peradaban, termasuk pusat penyebaran agama Islam dan Buddha pada masa itu. Posisi di muara sungai membuat kota-kota ini menjadi pintu masuk yang strategis bagi dunia.

Timpang

Kenapa pusat peradaban Sumatera masa lalu itu kini justru terbelakang? Menurut Kepala Departemen Antropologi Universitas Sumatera Utara Zulkifli Lubis, perubahan moda transportasi laut ke darat, terutama dengan pembangunan jalan oleh Belanda, mendorong masyarakat beralih dari perahu atau kapal ke mobil atau kereta api. Setelah kemerdekaan, kota-kota tua itu tidak diberi peran sebagai pusat pemerintahan. Sementara para pengambil kebijakan tak punya kesadaran merawat kota-kota bersejarah itu.

Masalah lain yang hingga kini jelas-jelas dirasakan masyarakat adalah timpangnya pembangunan. Perhatian pemerintah yang kurang membuat wilayah ini jauh tertinggal ketimbang kawasan tengah atau di pantai timur Sumatera, seperti Palembang, Pekanbaru, dan Medan. Padahal, kawasan barat juga berpotensi, mulai dari perkebunan, perikanan, wisata, dan seni budaya.

”Jika pemerintah mau adil meratakan pembangunan, kami juga bisa maju,” kata Zainal Arifin, warga Bengkulu. Kapankah harapan ini terpenuhi?

Sumber: Kompas, Minggu, 23 Mei 2010

[Perjalanan] Menyelam di Tanjungputus, Pesawaran

PERAIRAN Teluk Lampung sudah rusak? O, belum semua. Masih ada fakta alam bawah laut di Desa Sukarame, Kecamatan Punduhpidada, Pesawaran, yang masih aduhai. Terumbu karang, padang lamun, ikan hias, bahkan jenis ikan pelagis masih lestari. Ingin mencoba spot diving?

Orang kebanyakan menyebut daerah ini sebagai perairan Tanjungputus. Perairan di sini relatif tenang, permukaannya nyaris seperti danau. Pulau Helok yang berhadapan dengan tanjung ini seolah menutupi arus kuat dari arah Selat Legundi.

Airnya yang biru kehijauan dan bening sungguh menggugah untuk diselami. Arus di bawahnya juga relatif tenang.

Sekumpulan ikan hias seperti ikan badut (clown fish) atau nemo berenang ke sana kemari di kedalaman kurang dari 20 meter.

Atau beragam jenis ikan karang, seperti moorish idol atau banner fish dan angel fish, bat fish, damsel fish, parrot fish, surgeon fish, sergeant fish, lion fish, trumpet fish, frog fish, dan anemon fish begitu melimpah di perairan ini karena terumbu karang sebagai habitasi dari ikan-ikan jenis ini tumbuh dengan baik dan relatif masih belum terlalu tercemari.

Bersama dengan Rana Susianti dan tiga temannya yang penggila selam dari Bogor, mereka menjadikan Tanjungputus sebagai wilayah eksplorasi hobi selam mereka di Lampung. Mereka menyukai spot di sini karena arusnya tak terlalu kuat. Selain itu, kehidupan lautnya relatif lengkap.

"Spot diving-nya masih baik, arusnya tak terlalu kuat, asosiasi terumbu karangnya lengkap dan masih baik. Uniknya, setiap sumber seperti memiliki lokasi sendiri-sendiri," kata Rana.

Kami menyelam selama hampir 30 menit lebih sesuai dengan kapasitas oksigen di tabung selam. Meski terbilang amatiran dalam menyelam, arus bawah Tanjungputus yang relatif tenang tidak membuat kami lantas berada dalam kondisi uncomfortable (tak nyaman). Terlebih, kami didampingi oleh tiga perempuan yang memiliki hobi menyelam dengan pengalaman menyelam yang sudah memadai.

Rata-rata tingkat kedalaman spot menyelam di tanjung ini tidak terlalu jauh, antara 15 sampai 20 meter. Bahkan dengan kontur di beberapa titik yang cenderung bertingkat, hanya di kedalaman 10 meter saja kami sudah melihat gugusan terumbu karang meski tak terlalu banyak variasi.

Semakin ke bawah, koloni ikan-ikan hias mulai terlihat. Beberapa jenis bahkan terkesan jinak, berenang mendekat atau seperti mencium-cium tabung oksigen kami. Sementara itu, yang lainnya seolah mengiringi kami. Ketika salah satu dari kami menjulurkan tangan ke arah sekumpulan ikan, serta-merta ikan-ikan hias dengan bentuk yang lucu dan variasi warna yang begitu banyak ini berusaha merubung.

Di “dunia bawah” ini kami benar-benar dibuat takjub. Betapa tidak, ekosistem laut di sini masih sangat alami. Sekadar membelai-belai terumbu karang atau mencari ikan Nemo di antara padang lamun dan melihat lobster yang terlihat bersembunyi malu-malu di antara karang yang padat membuat suasana begitu eksotis.

Padang-padang lamun yang rapat di dasar laut yang berkontur landai seolah berusaha melengkapi varian biota laut di Tanjungputus ini. Komunitas lamun dihuni oleh banyak jenis hewan bentik, organisme demersal serta pelagis yang menetap maupun yang tinggal sementara di sana. Spesies yang sementara hidup di lamun biasanya adalah juvenil dari sejumlah organisme yang mencari makanan serta perlindungan selama masa kritis dalam siklus hidup mereka, atau mereka mungkin hanya pengunjung yang datang ke padang lamun setiap hari untuk mencari makan. Banyak spesies epibentos, baik yang tinggal menetap maupun tinggal sementara yang bernilai ekonomis. Udang adalah yang bernilai ekonomis paling tinggi.

"Terumbu karangnya pun relatif lengkap. Saya masih bisa melihat terumbu karang sebesar meja makan dengan kondisi yang sangat baik," ujar Rana.

Untuk ukuran sebuah perairan yang di sekitarnya telah tercemar oleh limbah tambak udang dan aktivitas eksploitasi terumbu karang, ikan hias sampai reklamasi pantai, kondisi Tanjungputus, lanjut Rana, memang masih baik. Meski demikian, ancaman tetap terus ada. "Karena, sangat mungkin pencari terumbu karang memperluas daerah mereka hingga ke Tanjungputus ini dan yang paling mengkhawatirkan kemungkinan rusak dan terancamnya biota laut justru disebabkan oleh pencemaran limbah."

Terumbu karang, menurut dia, merupakan ekosistem yang amat peka atau sensitif. "Jangankan semuanya dirusak, di rusak satu saja semua terumbu dalam satu gugusan rusak dan mati semua," kata Rana.

Karena kehidupan terumbu karang didasari oleh hubungan saling bergantung antara ribuan makhluk, rantai makanan adalah salah satu dari bentuk hubungan tersebut. Tidak cuma itu, proses terciptanya pun tidak mudah. Terumbu karang membutuhkan waktu berjuta-juta tahun hingga dapat tercipta secara utuh dan indah. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam.

Sebagai ekosistem, terumbu karang sangat kompleks dan produktif. Keanekaraman jenis biota ini amat tinggi. Variasi bentuk pertumbuhannya di Indonesia sangat kompleks dan luas sehingga bisa ditumbuhi oleh jenis biota lain. (MG7/SWA/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Mei 2010

Hadiah Sastra "Rancage" Akan Diserahkan di Yogyakarta

BANDUNG, (PRLM).- Hadiah sastra Rancage 2010 akan diserahkan Sabtu (29/5) di Universitas Negeri Yogyakarta. Hadiah ini akan diberikan Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi. Kepada para penulis buku sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung serta kepada orang-orang yang berjasa di bidang budaya. Selain penyerahan hadiah, akan digelar pula Konferensi Internasional Budaya Daerah dengan menghadirkan narasumber dari berbagai negara.

Ketua Harian Yayasan Kebudayaan Rancage Erry Riyana Hardja Pamekas menyampaikan hal itu kepada media, di RM Dago Panyawangan, Jln. Ir. H. Juanda, Kota Bandung, Sabtu (22/5). Hadir pada kesempatan tersebut kolumnis Hawe Setiawan, Ketua Prodi S2 Sastra dan Budaya Sunda UPI Dr. Ruhaliah, dan Direktur Penerbit Buku "Kiblat" Rahmat Taufik Hidayat.

Erry menyebutkan, Hadiah Sastra Rancage untuk sastra Sunda sudah diberikan untuk yang ke 22 kali, Jawa 17 kali, Bali 14 kali, dan Lampung baru 2 kali. Diberikannya Hadiah Sastra Rancage kepada sastra Lampung, menunjukkan adanya perkembangan baik di daerah dalam menerbitkan buku-buku sastra daerah. Walaupun diakuinya, jumlah penerbitan buku tersebut masih terbilang sedikit.

"Tapi dengan adanya penambahan hadiah untuk sastra Lampung, ini menggembirakan karena ada daerah lain yang mau memulai penerbitkan karya-karya sastra setempat ke dalam buku," demikian Erry.

Disebutkan, selain Lampung, ada juga Madura yang mulai menerbitkan beberapa buku sastra setempat. Namun demikian, Yayasan Kebudayaan Rancage selaku pemberi hadiah, masih akan melihat konsistensinya dalam menerbitkan buku-buku tersebut. Sebab menurut Erry, penilaian Hadiah Sastra Rancage dilakukan setahun penuh. "Jadi untuk hadiah Rancage 2010 merupakan hasil penjurian terhadap buku-buku sastra daerah yang terbit sepanjang tahun 2009," ujarnya menambahkan.

Sastra Sunda Pesat

Sementara itu, kolumnis sekaligus anggota Yayasan Kebudayaan Rancage, Hawe Setiawan kepada wartawan, di RM Dago Panyawangan, Jln. Ir. H. Juanda, Kota Bandung, Sabtu (22/5) mengatakan, penerbitan buku-buku sastra Sunda jauh lebih pesat dibandingkan dengan daerah lain. Sepanjang tahun 2009 saja terdapat 30 judul buku yang masuk penilaian juri. Buku tersebut merupakan buku baru maupun cetak ulang.

Dia menyebutkan, kalau dilihat dari rata-rata jumlah penerbitan buku setiap tahun, buku-buku sastra Sunda cenderung stabil berkisar antara 10-20 judul buku. Namun pernah terjadi hanya 2 judul buku yang terbit dalam setahun. Tetapi ada masa mencetak jumlah penerbitan cukup banyak saat pemerintah mengadakan lomba penulisan buku ajar bahasa Sunda.

Kendati begitu, kata Hawe, kuantitas ini belum sebanding dengan kualitas bahasa yang digunakan para penulis. Bahasa yang digunakan cenderung standar. Belum memakai bahasa-bahasa yang di luar pada umumnya. Begitu juga dari segi tema, belum banyak buku yang mengusung tema cerita yang bersifat eksperimental. Kalaupun ada hanya beberapa gelintir saja.

Hal itu, kata dia, karena para penulis buku sastra Sunda sebagian besar sudah berusia tua. Walaupun bila dibandingkan para penulis daerah lain, penulis sastra Sunda dari kalangan muda masih lebih banyak.

(A-148/das)

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 23 Mei 2010

May 19, 2010

Rancage 2010 Diumumkan

Pengembangan Sastra Daerah Tersendat

JAKARTA, KOMPAS - Yayasan Kebudayaan Rancage untuk ke-22 kalinya, tahun ini, memberikan Hadiah Sastra Rancage pada pengarang dan penggerak sastra Sunda, Jawa, Lampung, dan Bali. Hadiah karya diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku tahun sebelumnya.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi mengatakan, meskipun masih merupakan kegiatan rumahan, belum menjadi industri yang sesungguhnya, penerbitan buku bahasa Sunda, Jawa, dan Bali secara tetap setiap tahun masih berjalan. Selalu ada buku sastra, baik baru maupun cetak ulang yang terbit. ”Adanya cetak ulang merupakan pertanda bahwa masyarakat menyerap buku tersebut. Sayang dalam kasus bahasa Sunda, buku cetak ulang merupakan buku-buku lama terbitan sebelum perang,” katanya, Selasa (18/5) di Jakarta.

Ajip Rosidi menjelaskan, setelah melakukan penilaian terhadap 30 judul buku bahasa Sunda yang terbit tahun 2009, terpilih untuk mendapat Hadiah Sastra Rancage 2010 adalah Sanggeus Umur Tunggang Gunung (terbitan Kiblat Buku Utama. Bandung), karya H Usep Romli HM. Adapun untuk jasa diraih Karno Kartadibrata, Wakil Pemimpin Redaksi mingguan bahasa Sunda Mangle.

Untuk sastra bahasa Jawa, terbit 12 judul buku. Yang meraih Hadiah Sastra Rancage adalah Layang Panantang (terbitan Balai Bahasa Surabaya), karya Sumono Sandi Asmoro. Untuk jasa diberikan kepada Bonari Nabobenar, Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya.

Hadiah Sastra Rancage untuk karya sastra bahasa Bali—setelah 9 buku yang terbit dinilai—diraih buku Leak Pemoroan (terbitan Balai Bahasa Denpasar) karya I Wayan Sadha. Kategori jasa diraih Agung Wiyat S Ardhi, penulis kreatif yang aktif sebagai pembina bahasa, sastra, dan aksara Bali.

Untuk karya sastra bahasa Lampung hanya ada dua buku yang terbit. Setelah dinilai dan ditimbang dewan juri, buku Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong (terbitan BE Press, Bandarlampung) karya Asarpin Aslami ditetapkan sebagai peraih Hadiah Sastra Rancage.

Tak ada yang layak

Ajip Rosidi menjelaskan, Hadiah Samsudi 2010 untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, tidak ada penerimanya. Hal itu karena dari 4 judul buku bacaan anak-anak yang terbit, tak ada yang layak mendapatkannya.

”Upacara penyerahan Hadiah Sastra Rancage 2010 akan diberikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 29 Mei 2010,” kata Erry Riyana Hardjapamekas, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage.

Ajip Rosidi mengatakan, pengembangan sastra daerah tersendat karena, antara lain, kurangnya dukungan pemerintah. Anggaran untuk pembelian buku sangat minim, apalagi untuk buku-buku sastra daerah.

”Padahal, buku-buku tersebut bisa ditempatkan di perpustakaan sekolah sehingga bisa digunakan oleh guru dan siswa,” ujarnya.

Rahmat Taufik Hidayat dari Penerbit Kiblat mengatakan, tidak mudah menerbitkan buku-buku berbahasa daerah karena pasarnya sangat terbatas. Selain itu, sangat sedikit toko buku, apalagi toko buku besar, yang mau menjual buku-buku berbahasa daerah. ”Kalaupun mau, persyaratannya sangat berat,” kata Taufik yang tahun 2009 menerbitkan 40 buku berbahasa Sunda. (NAL/THY)

Sumber: Kompas, Rabu, 19 Mei 2010

May 18, 2010

Konservasi: TNBBS Berencana Kembangkan Wisata

LIWA (Lampost): Dalam rangka menanggulangi perambahan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Balai Besar TNBBS berencana melaksanakan program pengembangan wisata alam, budaya, dan adat.

Kepala Balai Besar TNBBS Kurnia Rauf menjelaskan pengembangan wisata akan dilaksanakan dengan bekerja sama dengan Pemprov dan Pemkab Lampung Barat dengan melibatkan masyarakat.

Sebagai langkah awal, pihak TNBBS sudah membuka objek wisata gajah di Pekon Pemerihan, Kecamatan Bengkunat-Belimbing. "Saat ini sedang dalam uji coba,” kata Kurnia Rauf kemarin (17-5).

Rencananya objek wisata naik gajah ini masuk dalam program pengembangan wisata. Program ini, kata Kurnia, selain untuk pemanfaatan jasa lingkungan yang berkaitan dengan konservasi, juga sebagai upaya untuk memberantas perambahan dalam kawasan konservasi yang telah terjadi selama ini.

Dia berharap dengan dilibatkannya masyarakat dalam pengembangan objek wisata, aktivitas masyarakat yang selama ini berada dalam kawasan akan segera hilang.

Program ini direncanakan akan diawali Daro Tour Operator. Program ini sendiri juga masih akan disosialisasikan kepada seluruh dinas dan instansi terkait. (ELI/D-1)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 18 Mei 2010

May 16, 2010

Bangkitnya Kearifan Lokal

PADA 29 Mei 2010 ini, Yayasan Kebudayaan Rancage kembali akan memberikan Hadiah Sastra "Rancage" kepada para sastrawan. Hadiah ini diberikan yang ke-22 kali untuk sastra dan bahasa Sunda, yang ke-17 kali untuk sastra bahasa Jawa, yang ke-14 kali untuk sastra bahasa Bali, dan yang ke-2 kali untuk sastra bahasa Lampung.

“WONDERFUL World” 180x40 cm arkrilik di atas kanvas karya Arifien Neif.*

Untuk sastra bahasa Sunda dan bahasa Bali diberikan setiap tahun tanpa putus. Untuk sastra Jawa pernah tidak diberikan pada 1995 karena tidak ada buku sastra yang terbit pada 1994. Untuk sastra Lampung juga begitu, tahun pertama diberikan (2008). Tahun berikutnya tidak diberikan karena tidak ada karya sastra yang terbit dalam bahasa tersebut.

Hadiah sastra "Rancage", menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage Ajip Rosidi, diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku pada tahun sebelumnya. Untuk hadiah sastra "Rancage" 2010 akan diberikan kepada para sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Hadiah berupa uang Rp 5.000.000.

Hadiah sastra "Rancage" tetap diberikan setiap tahun walaupun penerbitan buku sastra daerah masih berupa kegiatan rumahan dan belum menjadi industri sesungguhnya. Kendati begitu, ada saja buku yang dicetak ulang penerbit. Hal ini pertanda masyarakat menyerap buku-buku tersebut.

Malah muncul fenomena menarik, buku bahasa Sunda yang dicetak ulang adalah buku-buku lama yang terbit sebelum perang. Ini menunjukkan, banyak pembaca buku lama yang ingin membaca ulang buku-buku tersebut. Bahkan, buku-buku itu juga ternyata dibaca anak-anak muda sehingga mereka tahu buku bahasa Sunda yang terbit sebelum mereka lahir. Tentu saja ini sangat positif, karena generasi masa kini menjadi tahu perkembangan sastra bahasa ibunya.
**

SELAMA 2009, buku bahasa Sunda yang terbit, baik asli maupun terjemahan, baik baru maupun cetak ulang, ada 30 judul, termasuk 4 judul buku bacaan anak-anak. Namun, buku baru hanya 13 judul dan yang bukan terjemahan atau kumpulan karya bersama hanya 4 judul.

Buku sastra Sunda yang terpilih mendapat Hadiah Sastra ”Rancage” 2010 untuk karya adalah Sanggeus Umur Tunggang Gunung karya H. Usép Romli H.M. terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung. Sementara yang terpilih mendapat Hadiah Sastra ”Rancage” 2010 untuk jasa karena besar jasanya dalam memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan-tulisan yang bersifat sosial-politik adalah Karno Kartadibrata.

Untuk buku bahasa Jawa yang pada 2009 sebanyak 12 judul, terdiri atas kumpulan guritan yaitu sajak "Gurit Panuwuning Urip" karya David Hariyono, "Gurit Abang Branang" (Rachmat Djoko Pradopo), "Layang Panantang" (Sumono Sandy Asmoro dan Wong Agung), "Gurit Punjul Rong Puluh" (Budi Palopo); sebuah kumpulan cerita pendek "Tembangé Wong Kangen" (Sumono Sandy Asmoro) dan sejumlah roman "Trétes Tintrim, Kunarpa Tan Bisa Kandha, Garuda Putih, Ser! Randha Cocak" (Suparto Brata), "Mis, Koncoku Sinarawedi" (Rahmat Ali), dan "Carang-carang Garing" karya Tiwiek SA.

Hadiah Sastra “Rancagé” 2010 sastra Jawa untuk karya, diberikan kepada Layang Panantang karya Sumono Sandi Asmoro (terbitan Balai Bahasa Surabaya). Sementara Hadiah Sastra “Rancage” 2010 sastra Jawa untuk jasa diberikan kepada Bonari Nabobenar.

Untuk buku sastra dan bahasa Bali yang terbit 2009 sebanyak sembilan buku. Kumpulan puisi "Gerip Maurip Ngridip Mekedip" karya I Nyoman Manda, roman saduran "Cokorda Darma" (I Gusti Putu Antara), tujuh kumpulan cerita pendek "Cor karya I Wayan Paing, Da Nakonang Adan Tiange" (Agung Wiyat S. Ardhi), "Jangkrik Maenci" (I Gusti Putu Bawa Samar Gantang), "Bli Kadek" (Putu Nopi Suardani), "Dasa Tali Dogén" (I Gdé Darma), "Léak Pemoroan" (I Wayan Sandha), dan "Warisan Jagal" karya IBW Keniten.

Hadiah Sastra ”Rancage” 2010 sastra Bali untuk karya diberikan kepada Léak Pemoroan karya I Wayan Sadha (terbitan Balai Bahasa Dénpasar). Sementara yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastra ”Rancage” 2010 sastra Bali untuk jasa ialah Agung Wiyat S. Ardhi.

Buku sastra Lampung yang terbit 2009 ada dua. Berupa kumpulan sajak "Di Lawok Nyak Nélépon Pelabuhan" karya Oky Sanjaya dan kumpulan cerita péndék "Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong" karya Asarpin Aslami. Hadiah sastra ”Rancage” 2010 diberikan kepada "Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong" karya Asarpin Aslami.

Selain hadiah sastra "Rancage", Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan hadiah "Samsudi" untuk sastrawan yang menulis bacaan anak dalam bahasa Sunda. Namun meski pada 2009 terbit empat judul buku bacaan anak, tetapi tidak ada hadiah "Samsudi" yang diberikan tahun ini.

Dari penilaian Ajip Rosidi, keempat bacaan anak itu semuanya dongeng sasakala, yakni "Sasakala Cadas Pangeran", "Sasakala Candi Cangkuang", "Sasakala Karajaan Arcamanik", dan "Sasakala Pajajaran". Semuanya ditulis Aan Merdeka Permana. Akan tetapi, pengarang memasukkan unsur sejarah ketika menulis cerita yang disebutnya sasakala. Di satu pihak seakan hendak mengesankan ceritanya itu benar-benar sesuai dengan sejarah. Di pihak lain, kalau ada yang mempertanyakan data sejarah yang digunakannya, dia akan mengelak karena yang ditulisnya adalah sasakala.
**

AGENDA lain yang akan digelar bersamaan de-ngan penyerahan hadiah sastra "Rancage" adalah Konferensi Internasional Kebudayaan Daerah bertema "Membaca kembali, menafsirkan, dan mengkreasikan makna serta memanfaatkan kearifan lokal dalam rangka pembangunan karakter bangsa".

Kongres ini diselenggarakan atas kerja sama Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FBS Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ikadbudi (Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia), dan Yayasan Kebudayaan Rancage, Sabtu (29/5). Konferensi digelar berdasar pada kesadaran bahwa kearifan lokal dengan segenap keilmuannya mulai bangkit secara global.

Ketua Panitia Penyelenggara Konferensi, Dr. Suwarna, M.Pd. mengatakan, konferensi digelar untuk dapat mengimbangi perkembangan dunia yang semakin kompleks, yang diharapkan dapat membangkitkan kembali kesadaran kearifan lokal untuk mengimbangi perkembangan dunia yang semakin kompleks.

Dengan keseimbangan antara jagad global dan jagad lokal, kata Suwarma, diharapkan dapat menciptakan ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan dengan rasa aman dan nyaman manusia dalam menjalani kehidupan secara personal, sosial, dan profesional. (Eriyanti/"PR")

Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 16 Mei 2010

Cerpen, Dialog, Naratif

Oleh Asarpin

SUATU hari saya ditanya oleh seorang teman yang kebetulan merasa mengikuti perkembangan cerpen kita. Katanya: apakah yang membedakan cerpen dengan naskah drama? Saya jawab: tidak ada bedanya, dan banyak cerpen itu berupa drama dan drama itu berupa cerpen.

Tentu saja teman saya itu tak puas dengan jawaban itu. Ia tetap penasaran. Lalu, setelah sejenak berpikir, ia pun mengajukan pertanyaan yang lain lagi: Apa perbedaan antara cerpen yang selama ini dimuat di Kompas dengan cerpen yang dimuat di Koran Tempo?

Terus terang saya tak berhak menjawab pertanyaan semacam itu. Selain harus membutuhkan penelitian serius, sementara tak ada ruang di sini untuk memaparkan secara panjang-lebar persoalan itu. Tapi kalau mau dipaksakan untuk dijawab, maka perbedaan cerpen yang terbit di dua media nasional itu, adalah:

Pertama, cerpen di Kompas banyak dialog, sedangkan di Koran Tempo jarang dialog, atau hanya naratif. Kedua, cerpen Kompas realis, sedangkan cerpen Koran Tempo tidak.

Tentu saja jawaban saya itu tak bisa dipertanggungjawabkan. Tapi saya kira, sebagian besar orang melihat perbedaan yang sama, di samping perbedaan yang lain. Saya cukup sering mengikuti cerpen yang dimuat di dua harian nasional itu, dan tentu saja saya pernah mendengar kritikus sastra mengungkapkan kecenderungan tema dan gaya cerpen yang dimuat di kedua media itu.

Jawaban itu tak perlu dianggap sebagai kesimpulan ilmiah. Ia hanya generalisasi berdasarkan gejala luar yang tampak menonjol. Dan bukan soal ini yang ingin saya bicarakan. Sebab, seperti sudah banyak diketahui, cerpen yang banyak menampilkan dialog dengan yang monolog atau naratif sama-sama punya peluang sebagai cerpen yang baik atau jelek. Nilai sebuah cerpen tidak diukur dengan itu.

Seorang bijak di bidang penulisan cerpen pernah bersaran: sekarang ini dirasakan perlu adanya porsi yang seimbang antara cerpen yang menampilkan dialog dengan cerpen tanpa dialog. Terlalu banyak menekankan dialog tentu saja bisa menjadi cerpen yang cengeng dan terasa ringan, dan minus dialog bisa menjadi serius dan lambat.

Jarang ada cerpenis yang lihai dan piawai membangun dialog. Banyak dialog dalam cerpen yang ternyata lemah. Hanya beberapa pengarang yang berhasil menampilkan dialog yang cerdas dan mengejutkan, seperti Umar Kayam, Sutardji, dan Seno. Selebihnya gagal. Dialog yang dibuat justru membuat cerita kehilangan nyawa dan karakter menjadi lemah.

Sementara itu, cerpen naratif cukup digemari akhir-akhir ini. Kelebihannya terletak pada narasi dan tuturan yang segera akan memperlihatkan apakah si penulis cerpen berbakat atau tidak. Saya termasuk jatuh cinta pada cerpen yang tidak ada dialog.

Cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma sebagian besar bermain di wilayah eksperimen berbahasa dan satu-dua cerpen dialognya cukup berhasil. Seno menampilkan dialog dan naratif yang cukup seimbang. Ada kalanya ia melonggarkan dialog, tapi sering juga ia mengetatkan dialog itu hingga iramanya jadi unik dan menarik. Kedua-duanya cukup diperhitung. Seno kadang memberontak terhadap asas penulisan cerpen sehingga cerpen-cerpennya terasa bebas. Sementara itu, cerpen-cerpen Isbedy terasa ringan dan enteng karena begitu banyak dialog yang fungsinya kurang diketatkan. Andaikan dialog-dialog itu diketatkan, maka ia akan bunyi dan iramanya akan menggema.

Karena Koran Tempo banyak menampilkan cerpen eksperimen, maka ada anggapan bahwa cerpen-cerpen yang dimuat di koran ini lebih banyak yang bagus dibandingkan dengan yang dimuat di Kompas. Apakah ini bukan sebuah perbandingan nilai yang kacau? Ya, tapi betapa sulit membahas sebuah cerpen tanpa penilaian. A. Teeuw saja melakukan penilaian. Yang namanya penilaian sudah pasti akan bicara soal baik dan buruk, gagal dan berhasil.

Bagaimana cerpen-cerpen di Lampung Post? Izinkan saya menyampaikan sedikit pengalaman membaca cerpen di harian ini. Tentu saja banyak cerpen yang justru menampilkan dialog karena ada anggapan bahwa cerpen tanpa dialog bukan cerpen. Tapi beberapa kali pula harian ini menurunkan cerpen tanpa dialog, dan bagus.

Saya merindukan ruang untuk cerpen dan kolom di Lampung Post diisi oleh tulisan naratif. Rubrik Buras dan Nuansa sayangnya jarang atau tidak pernah menghadirkan tulisan naratif. Kualitasnya pun makin lama makin merosot dan jadi rutin. Membacanya cepat letih karena dialog yang ditampilkan menjadi seperti kuda beban yang sayangnya tidak serbabisa. Eksplorasi berbahasa tidak pernah jadi pertimbangan. Hanya kolom Refleksi Djadjat Sudrajat yang muncul tiap Minggu itu yang dapat diandalkan. Dan Djadjat memang bukan lagi berbakat, tapi ia adalah Goenawan Mohamad-nya Lampung.

Iswadi pernah menulis beberapa cerpen di Koran Tempo yang naratif dan enak dibaca, walau belum tentu perlu. Arman beberapa kali menurunkan cerpen naratif, dan bagus. Muhammad Amin, di pendatang baru di jagat cerpen di Lampung, juga punya bakat menghadirkan cerpen naratif yang kuat.

Edgar Allan Poe adalah cerpenis yang sangat bakhil dengan dialog. Cerpen-cerpennya jarang sekali ada dialognya. Mungkin ia tak percaya dengan dialog sebagai kunci yang membuat tokoh cerita jadi hidup, konflik bisa terbuka secara bebas, dan emosi bisa bangkit. Minusnya cerpen kita yang menampilkan konflikpenokohan selama ini karena terlampau girang pada dialog.

Seandainya gaya Allan Poe diterapkan dalam esai, saya membayangkan esai naratif ternyata juga cerpen naratif. Prosa naratif -- baik berupa esai maupun cerpen -- adalah prosa tertua yang di mulut nenek moyang kita berwujud penuturan-penuturan atau dongeng-dongeng. Sarana mendongeng yang ampuh adalah dengan mengurangi dialog.

Salah satu pengarang yang pandai mendongeng, dan dongengannya selalu berhasil, adalah Salman Rushdie. Salah satu prosanya yang menebar pesona adalah Harun dan Lautan Dongeng. Novel ini berkisah di sebuah kota yang sedih, tentang seorang sobat muda bernama Harun. Bapaknya adalah Rasyid Khalifa, lelaki yang dikenal sebagai Raja Dongeng paling masyhur di sentero Alifbay. Sementara ibunya, Soraya, adalah perempuan yang pintar bernyanyi.

Rasyid Khalifa dikenal juga sebagai Rasyid Sang Samudera Khayal. Namun bagi musuhnya, yang alergi terhadap sebuah dongeng, Rasyid Khalifa adalah Raja Omong Kosong. Apa yang didongengkannya hanya omong kosong. Tak ada kebenaran, semuanya khayalan ompong yang membuai dan menghanyutkan. Mungkin juga sebuah kemewahan terselubung. Kalau bukan sebuah laku-borjuis.

Keluarga kecil itu tinggal di sebuah lantai bawah rumah sederhana yang berdinding merah muda dan berjendela warna hijau limau. Sementara di lantai atas tinggal Pak Sengupta dan istrinya, Oneeta. Keduanya tak memiliki anak. Sang istri begitu perhatian pada si Harun. Tapi Pak Sengupta tak peduli pada Harun. Namun, ia selalu bercakap-cakap dengan Soraya, ibunya Harun. Dan Harun merasa kurang suka lantaran lelaki ini begitu kritis terhadap ayahnya.

Pernah, pada suatu hari Pak Sengupta menjelek-jelekkan si Raja Omong Kosong kepada Soraya, dan Harun mendengar dengan jelas kata-kata penuh kebencian yang meluncur dari mulut lelaki itu. "Sumimu itu, kepalanya terpaku di udara dan kakinya melayang di atas bumi. Apa gunanya dongeng-dongeng itu? Hidup bukanlah sebuah buku cerita atau toko lelucon. Semua kenangan ini akan berujung tidak baik. Apalah gunanya dongeng-dongeng yang tak mungkin terjadi di alam nyata?"

Singkat cerita, hasutan Sengupta berhasil. Soraya-- ibu Harun dan istri Rasyid Khalifa--minggat bersama Sengupta dan meninggalkan sepucuk surat penuh kebencian pada Raja Omong Kosong yang sedang sedih itu. Begini bunyi suratnya: "Kau hanya tertarik pada kesenangan, seorang lelaki yang bermartabat mestinya tahu bahwa hidup adalah urusan serius. Otakmu penuh dengan dongengan, sehingga tak ada lagi tempat untuk kenyataan. Pak Sengupta tak punya imajinasi sama sekali. Dan itu baik buatku."

Tetes air hujan menitik di atas surat itu, jatuh bergulir dari rambut Harun yang kebetulan ada di situ. "Apa yang musti kulakukan, Nak," Rasyid berkata mengiba di hadapan anaknya. "Mendongeng adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa kulakukan," kata Rasyid Khalifa.

Itulah dongeng yang menggetarkan, haru dan di sana sini muncul gelak tersembunyi. Kepiawaian Rushdie mendongeng mengingatkan kita pada kisah-kisah fantastis Jorges Luis Borges. Bahkan buku Harun dan Lautan Dongeng bisa memulihkan nama Rushdie di masa lalu yang heboh itu.

* Asarpin, Pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 Mei 2010

[Perjalanan] Menguji Nyali di Suoh

SUOH, satu kecamatan di Kabupaten Lampung Barat ini memiliki banyak potensi. Namun, untuk menuju ke distrik yang terletak di sebelah timur Liwa, ibu kota Kabupaten Lampung Barat, ini butuh perjuangan ekstra. Jika Anda penyuka wisata pertualangan, keindahan Suoh mengajak adu nyali.



FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/ SYAIFULLOH

Suoh adalah wilayah satelit. Saat menuju ke tempat ini, pertanyaan yang muncul saat seperempat perjalanan adalah, apa benar ada kehidupan bermasyarakat di atas sana? Sebab, sulit membayangkan, bagaimana orang-orang setiap hari harus berjuang dengan amat berat menaklukkan jalan menuju tempat itu. Atau pertanyaan lain, apakah sudah tidak ada lagi tempat yang lebih layak lagi untuk hidup bermasyarakat dan membesarkan anak-anak mereka?

Bayangkan, menuju ke Kecamatan Suoh, satu moda yang bisa digunakan adalah transportasi darat (kecuali dengan helikopter). Jika musim hujan seperti sekarang ini, kendaraan roda empat juga mbit. Memang, jika cuaca terang dan jalan kering, mobil dengan empat penggerak ban bisa menanjak. Namun, sekali lagi, nyali juga dibutuhkan. Selebihnya, pasrah kepada apa yang mungkin terjadi di jalan.

Untuk menguji nyali, perjalanan di musim hujan memang bisa membuat cerita berlembar-lembar. Satu moda yang bisa digunakan adalah dengan sepeda motor trail. Bagi Anda yang biasa ngebut dan berlagak ngesot di jalan raya Bandar Lampung, misalnya, coba dulu beradu kemampuan dengan tukang ojek di sana. Sebab, banyak pemilik sepeda motor yang menitipkan tunggangannya itu di pos bawah untuk melanjutkan perjalanan ke Suoh dengan menaiki ojek. Bukankah kendaraannya sama-sama sepeda motor?

Sejak awal mendaki, pemandangan memang sudah menyejukkan hati. Alam yang lestari dan warga yang ramah membuat pengunjung merasa menjadi tamu kehormatan. Saat rombongan DPD Peduli yang dipimpin Iswandi bersama Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Lampung melawat ke Kecamatan Suoh, Lampung Barat, beberapa pekan lalu, adu nyali itu terjadi.

Perjalanan untuk menempuh jarak puluhan kilometer itu dimulai dari Kantor Komando Rayon Militer (Koramil) Liwa, Lampung Barat. Sebanyak sebelas sepeda motor dari berbagai jenis beriringan menelusuri jalan berbatu dan tanah liat di bawah guyuran hujan, membuat perjalanan berat itu kemudian menjadi cerita tak terlupakan.

Awalnya kami bergulat dengan jalan bertanah merah yang licin, lalu menemui jalan berbatu, menyeberangi sungai dan jalan berpasir yang sering longsor. Semua tantangan itu sering membuat sepeda motor yang ditumpangi tidak bisa jalan. Tak ada pilihan kecuali sepeda motor itu dituntun dan dibantu dengan didorong. Bayangkan kalau perjalanan seperti ini adalah trip untuk suatu kebutuhan rutin, misalnya hanya untuk membeli beras atau garam, pergi-pulang sekolah, atau mengantar orang sakit atau jenazah. Maka, duka dalam akan semakin dalam.

Tetapi, perjalanan untuk suatu kebutuhan yang tidak mendesak, seperti perjalanan dalam rangka kunjungan kerja, yang mungkin hanya akan terjadi sekali ini dalam lima tahun, ini menjadi wisata. Anggap saja ini simulasi dalam permainan outbond yang sengaja diciptakan sebagai latihan untuk menguji ketahanan fisik dan mental.

Iring-iringan rombongan sepeda motor terus berjalan walau guyuran hujan terus membasahi pengendara dan penumpangnya. Seolah tak terasa lagi rasa dingin yang dirasakan, keberanian dan kelincahan roda-roda sepeda motor mengelak dari lubang-lubang dalam dan bulatan bebatuan ketika menyambangi sungai-sungai kecil. Kanan-kiri jurang dan tebing juga menjadi penambah serunya suasana.

Perjalanan terhenti sejenak ketika akan menyeberangi Sungai Way Semangka yang pada saat itu alirannya cukup deras. Setelah istirahat beberapa menit, sepeda motor rombongan bersiap-siap menaiki rakit. Terpaan angin dan gelombang sungai membuat waswas karena rakit yang ditumpangi nyaris terseret derasnya Sungai Way Semangka. Untunglah warga yang berada di sana menyeret rakit hingga bisa ke pinggir.

Akhirnya rombongan sampai juga ke tempat tujuan. Pertanyaan yang semula menggelayut, terjawab sudah. Anda benar, Suoh memang kecamatan yang cukup ramai. Meski terisolasi, kehidupan di sana seperti tidak ada perbedaan dengan daerah lain di Lampung. Semua siklus berjalan seperti lazimnya satu wilayah kecamatan.

Banyak potensi di Kecamatan Suoh yang mestinya layak untuk dikunjungi sebagai objek wisata. Perjalanan yang keras itu sudah menjadi objek wisata. Desa-desa di atas juga suatu yang layak dinikmati untuk ngadem dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang kacau. Juga ada telaga warna dan kearifan lokal yang sulit dicari padanannya. Anda berminat? n SYAIFULLOH/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 Mei 2010

[Buku] Membaca Peristiwa dalam Pesona Sastra


Judul buku : Syair Lampung Karam: Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883

Penulis : Suryadi

Editor : Yurnaldi

Penerbit : Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP)

Cetakan : II, Januari 2010

Tebal : xiii + 206 halaman

MEMBACA peristiwa melalui berita adalah hal biasa. Tapi, menyimak kejadian yang tertuang dalam syair menjadi kenikmatan tak terkira. Apalagi peristiwa yang disajikan sebuah kejadian kemanusiaan mahadahsyat yang menggegerkan jagat. Dikemas dalam bait-bait kuartet dengan irama yang teratur dan penghayatan dalam, Syair Lampung Karam mampu membuat sisi kemanusiaan kita terkesima.

Sebagai orang yang menyaksikan langsung kejadian meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883, Muhammad Saleh, penggubah Syair Lampung Karam, mampu menggambarkan kengerian kejadian itu dari awal hingga akhir. Bukan hanya rangkaian peristiwa ke kejadian berikutnya, melainkan hal-hal kecil sampai sesuatu yang penting pada peristiwa itu mampu diungkapkannya dengan lugas tanpa meninggalkan nilai estetika karya sastra.

Diungkapkan dalam 375 bait sajak empat seuntai, dengan rima AA-AA, menyuguhkan kenikmatan tersendiri bagi pembaca. Selain kenikmatan membaca, kita juga akan mendapati kedahsyatan dan penggambaran kengerian sempurna pada pesan yang disampaikan. Simak saja syair pada bait ke 38-40, berikut:

Di dalam hal demikian peri
Berbunyi meriam tiga kali
Kerasnya itu tak terperi
Bertambah gentar seisi negeri

Negeri sangat ketakutan
Keras bunyinya tiada tertahan
Turunlah angin sertanya hujan
Mengadang mata umat sekalian

Banyaklah lari membawa hartanya
Di dalam perahu sampan koleknya
Dipukul gelombang hilang dianya
Harta perahu habis semuanya

Syair ini ditulis tiga bulan setelah meletusnya Gunung Krakatau. Secara detail menggambarkan waktu kejadian, kedahsyatan letusannya, tragedi kemanusiaan yang menyertaian, hingga kenakalan manusia yang mengambil kesempatan pada masa-masa sulit itu. Syair yang digubah 127 tahun lalu itu ditulis dengan aksara Arab-Melayu atau yang biasa disebut aksara Jawi, merupakan satu-satunya bukti tertulis kesaksian penduduk pribumi pada pristiwa meletusnya Gunung Krakatau.

Syair ini bisa menjadi saksi sejarah yang tidak diragukan keautentikannya karena ditulis oleh orang yang menyaksikan peristiwa itu, sekaligus penduduk pribumi yang mengalami musibah besar ini. Membaca syair-syair ini laksana mendengar cerita langsung dari yang mengalaminya sehingga kita tidak berjarak. Selain itu syair ini mengingatkan kearifan lokal dari penduduk pribumi yang selalu mengaitkan kejadian semesta dengan kekuasaan Allah dan harapan keinsyafan manusia. Bukan data-data kering yang mengagungkan akal pikir tapi menjauhkan manusia pada Khaliknya. Sebagai mana tertuang pada syair 128--131:

Orang banyak nyatalah tentu
Bilangan lebih dari seribu
Mati sekalian orangnya itu
Ditimpa lumpur, api, dan abu.

Khabarnya tuan di pulau ini
Lebih dua hela tebalnya sini
Alangkah sakit mahluk kherani
Sedikit hidup banyak yang fani

Kata orang empunya peri
Kayu dan rumah ilang sekali
Pulaunya licin tiadalah ghari
Sudah taqdir Ilahi Roby

Khabar ini sahlah nyata
Bukan hamba membuat dusta
Malik al Rahman empunya perintah
Hamba mendengar lemah anggota

Kita yang hidup di zaman bahasa alay mungkin tak familiar lagi dengan naskah kuno itu. Tapi bukan berarti tidak bisa membaca data klasik tersebut. Dari usaha Suryadi, seorang filolog yang kini menjadi pengajar dan peneliti di Universitas Leiden, kita bisa menyimaknya dalam buku Syair Lampung Karam: Dahsyatnya Letusan Kratau 1883.

Selama dua tahun Suryadi mengadakan penelitian secara intensif pada dokumen klasik yang terpisah di enam negara, yaitu Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia. Selama dua tahun meneliti, Suryadi menemukan syair ini sebagai satu-satunya kesaksian pribumi dari peristiwa meletusnya Gunung Krakatau. Dengan gigih Suryadi menghimpun syair-syair yang terberai tersebut, kemudian mengalihaksarakan dan menyusunnya dalam sebuah buku.

Dengan kerja keras Suryadi kita bisa dengan mudah mendapatkan khazanah langka itu di toko-toko buku. Dalam buku ini, Suryadi bukan hanya mengalih aksarakan Syair Lampung Karam, melainkan memberi gambaran juga tentang kajian naskah yang tertuang pada bagian satu. Sedangkan bagian dua buku ini memuat secara utuh naskah Syair Lampung Karam. Pada bagian ketiga, Suryadi menyertakan gambar naskah asli, foto-foto atau sketsa-sketsa, dan data-data lain yang menceritakan kedahsyatan peristiwa meletusnya Gunung Krakatau.

Buku setebal 206 halaman ini sarat dengan data-data yang bisa menguatkan data lain tentang peristiwa Krakatau di masa lampau. Tiada gading yang tak retak, begitu pun dalam buku yang dieditori Yurnaldi ini. Kita akan mendapati cita sastra yang imbang jika pada bagian lain selain isi Syair Lampung Karam ditulis dengan bahasa dan pendekatan yang lebih nyastra. Dalam buku ini mempersembahkan karya sastra klasik, tapi disajikan dengan serius. Untuk sebuah kajian, mungkin sah-sah saja.

Akhirnya, bagi Anda yang ingin tahu kepiawaian penduduk pribumi menatah syair duka Ibu Pertiwi, sekaligus kegigihan anak negeri menjaga khazanah bangsanya, buku ini sangat layak untuk dibaca.

S.W. Teofani, penyuka sastra dan sejarah, tinggal di Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 Mei 2010