May 19, 2013

Batu Batu Imaji Ari Susiwa Manangisi

 -- Christian Heru Cahyo Saputro

ARI Susiwa dalam diksi rupa pilihannya berkisah tentang peristiwa Mesuji dan Sidomulyo. Lukisan batu-batu masif saling bertumbukan dan setandan kelapa sawit segar yang ditarik-menarik tali dari berbagai penjuru bertajuk Mesuji ?Amuk? Sidomulyo terpajang di antara 115 karya rupa dalam pameran bertajuk Meta Amuk di Galeri Nasional Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta, dari 7?24 Mei 2013.

LUKISAN. "Spirit the Day" karya Ari Susiwa Manangisi
FOTO: DOKPRI ARI SUSIWA
Lukisan bertajuk Mesuji ?Amuk? Sidomulyo karya perupa Lampung, Ari Susiwa Manangisi, cukup menyita perhatian pengunjung pameran, setidaknya karena ukurannya yang lumayan provokatif.

Dalam pameran dua tahunan (bienalle), Ari Susiwa Manangisi merupakan satu-satunya perupa Lampung yang berhasil lolos dan punya kesempatan menaja karyanya dalam pameran bergengsi tersebut.

Pameran yang dibuka dibuka Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti ini digawangi duet kurator Kuss Indarto dan Asikin Hasan. Pameran yang digelar secara rutin oleh Galeri Nasional Indonesia sejak 2001 ini diikuti 402 nama/kelompok seniman yang mengajukan proporsal setelah melalui tahap kurasi berhasil meloloskan 94 karya perupa/kelompok. Di tambah 21 karya seniman jalur khusus undangan.

'Amuk' dalam Kacamata Ari Susiwa

Perupa Lampung yang pernah mendapat penghargaan The Gate: Pre Discourse dari Hue Bei Art College, Wu Han, China, tahun 2007 ini mengusung peristiwa kerusuhan di Mesuji dan Sidomulyo di atas kanvasnya dalam bahasa diksi rupa.

Menurut Ari, lukisan berukuran 320 x 210 cm terbagi dalam 12 keping panel lukisan ini memvisualkan tarik-menarik kepentingan yang terjadi dalam berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di Indonesia, khususnya di Mesuji dan Sidomulyo (Lampung).

Perupa kelahiran Lubuk Linggau, 10 Oktober 1952 ini memaparkan konsepnya, diujung karut-marut pendataan lahan penduduk yang tumpang tindih, maka meletuslah segala kemelut dendam.

Membakar, merusak, melampiaskan semua kesumat menggugat persoalan hukum dan keadilan. Pasalnya, selama ini yang terjadi adalah hukum rimba. Siapa yang kuat akan memangsa yang lemah. Para penguasa dengan kekuasaannya memecundangi kaum-kaum yang tak berdaya. Ini merupakan fakta yang terjadi dalam panggung kehidupan nyata di Mesuji.

?Keluarga saya pun jadi salah satu korban di Mesuji. Tanah seluas 15 hektare yang dibeli patungan hilang karena bukti dan kekuatan hukumnya dikalahkan,? ujar Ari, salah satu yang jadi alasan mengapa dia melahirkan karya Mesuji ?Amuk? Sidomulyo.

Peristiwa Mesuji dan Sidomulyo, lanjut Ari, merupakan bencana kemanusiaan berskala provinsi, tapi mungkin bisa merembet ke daerah lain dan bisa mengguncang Indonesia. Mesuji dan Sidomulyo hanya merupakan contoh kecil.

Peristiwa semacam ini bila tidak dituntaskan secara nyata dan dicarikan solusi secara sungguh-sungguh, bakal jadi bom waktu. Penyelesaian yang dibutuhkan bukan hanya penyelesaian politis dan sesaat demi menyenangkan penguasa atau sekadar sandiwara dengan memunculkan kambing hitam.

Kemudian menganggap selesai begitu saja dengan mendiamkan api dalam sekam itu tak terlihat dari luar. Padahal, sewaktu-waktu kesumat itu bisa menyala dan membakar yang ada. ?Ini yang saya khawatirkan. Sebagai perupa saya hanya bisa membahasakan dan menyuarakan lewat karya lukisan ini,? ujar Ari memaparkan makna yang tersirat dari karyanya.

Menurut Ari Susiwa, peristiwa Mesuji dan Sidomulyo kalau dibiarkan bakal mengancam Bhinneka Tunggal Ika yang sudah diugemi bangsa kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diksi Batu Ari Susiwa

Menurut Ari Susiwa, yang juga mengakrabi dunia komik ini, dia merespons tema pameran Nusantara yang disodorkan Galeri Nasional untuk tahun 2013, Meta Amuk. Saya mencoba menangkap peristiwa amuk Mesuji dan Sidomulyo dengan diksi batu.

Peristiwa amuk Mesuji dan Sidomulyo, menurut dia, adalah penaka batu-batu yang yang bertumbukan. Kekerasan beradu kekerasan itu fakta yang ada dan terjadi. ?Mengapa saya memilih diksi berupa batu-batu dalam memvisualkan dan membingkai peristiwa itu dalam karya rupa. Karena yang ada semata adalah kekerasan dalam rimba amuk seperti batu-batu yang bertumbukan. Tak ada lagi rasa toleransi dan kasih terhadap sesama,? kata perupa yang giat mengampanyekan melukis dengan media kopi ini.

Ribuan hektare tanah dikaveling-kaveling disigi ada yang bos yang membiayai ?amuk? yang terjadi. Kasus Mesuji dijadikan tunggangan banyak pihak, kasus Mesuji dipertaruhkan oleh banyak kepentingan. Chaos yang terjadi seperti batu-batu yang bertumbukan. ?Mereka tak lagi memikirkan rakyat yang jadi korban. Mereka tak mau dengar dan peduli. Ada sistem yang salah yang mengakibatkan krisis nasionalisme,? ujar Ari Susiwa menarasikan karya.

Karya-karya Ari Susiwa yang mengusung batu-batu sebagai bahasa ungkapnya bukan baru pertama kali ini. Tetapi pada era 2008-2009, Ari sudah mengusung diksi batu dalam karya rupanya. Dalam catatan saya pada pameran Spirit The Day tahun 2008 di Taman Budaya Lampung, Ari Susiwa menyodorkan beberapa karyanya, antara lain Spirit Gelembung Sabun yang menyoal tentang supremasi hukum. Kemudian karya bertajuk Spirit The Day menggambarkan semangat hidup dengan bahasa visual seekor semut yang mengusung batu.

?Simbol batu sering saya pakai sebagai bahasa visual untuk menggambarkan kehidupan ini keras. Kita ini terkadang menghadapinya dengan berkepala batu dan berhati batu. Karena persoalan hidup yang terus berkelindan mengkristal dan membatu,? ujar Ari Susiwa yang bermimpi untuk menghidupkan komunitas komik dan juga membuat komik dengan tokoh lokal.

Christian Heru Cahyo Saputro, pengamat Seni Rupa

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Mei 2013

[Fokus] Tempat Seni tanpa Kesenian

TIDAK semua daerah punya pasar seni. Bandar Lampung patut berbangga dengan adanya Pasar Seni yang letaknya strategis di pusat kota. Namun, potensi pasar yang bisa menjadi pusat ekonomi kreatif itu seperti bak berlian yang kehilangan pesonanya. Pasar Seni Enggal jauh dari kesan tempat yang meriah, riuh, dan bergeliat.

Beberapa pihak menilai Pasar Seni sepi dan kurang menarik. Bahkan, ada salah satu penulis di situs Kompasiana yang menilai seperti kuburan. Tidak jarang juga yang memberi cap negatif sebagai tempat mesum karena saat malam kondisinya gelap.

Selain Bandar Lampung, daerah lain yang mempunyai Pasar Seni adalah Padang, Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar. Pasar Seni Ancol, Jakarta, dianggap sabagai kampung kesenian yang paling ramai dan eksis. Di sana seniman betah berkesenian karena selalu ramai dengan pengunjung.

David, salah satu penghuni pondok di Pasar Seni, Enggal, mengaku Pasar Seni di Bandar Lampung kalah jauh dengan di Jakarta. Di Pasar Seni Ancol, dalam seminggu ada tiga kali pertunjukan atau kegiatan yang digelar. Apalagi senjak Jokowi menjabat gubernur, Pasar Seni makin hidup dan ramai.

Penggiat urban art ini menilai Pasar Seni, Enggal, sepi dan terkesan kumuh sehingga pengunjung tidak betah dan tidak tertarik untuk datang. Selain pengunjung yang sepi, seniman juga tidak berani untuk menempati pondok karena biaya sewa yang mahal.

Dalam satu bulan, seniman yang menempati pondok akan dikenakan biaya sewa Rp800 ribu per bulan. Bandingkan dengan Ancol yang hanya menarik sewa Rp150 ribu per bulan.

?Di Ancol saja yang ramai dan hampir setiap malam ada kegiatan, biaya sewanya masih murah. Di Pasar Seni, Enggal, yang sepi dan jarang sekali ada kegiatan, tarifnya jauh lebih mahal. Siapa nanti yang mau menempati pondok,? kata penggiat Komunitas Lampung Street Art (LSA) ini.

Manajer Indocraft Dipo Dwi mengatakan tidak semua kota memiliki Pasar Seni. Bandar Lampung termasuk bagus karena memiliki Pasar Seni yang cukup luas. Namun, tidak dikelola dengan baik sehingga belum bisa menjadi daya tarik wisata.

Padahal, Pasar Seni bisa menjadi potensi untuk menambah pemasukan bagi pendapatan asli daerah (PAD). Menurutnya, Pasar Seni bisa dijadikan pusat kegiatan kesenian dan kerajinan yang bisa mendatangkan wisatawan domestik dan mancanegara.

Bila jumlah wisatawan meningkat, pariwisata bisa menjadi salah satu sumber PAD. ?Saat ini pemerintah daerah masih tergantung pada retribusi dan pajak daerah. Sementara pariwisata belum bisa menjadi sumber pemasukan karena tidak dikelola dengan baik. Lewat pasar senilah potensi pemasukan itu bisa dilakukan,? kata dia.

Pascarenovasi tahun 2012, pondok yang ada di Pasar Seni masih banyak yang kosong dan belum ada seniman atau perajin yang mengisinya. Tanpa ada peran dari pemerintah, berat untuk menghidupkan Pasar Seni menjadi tempat tujuan wisata.

Dwi pun menegaskan pemerintah daerah jangan berbicara dulu tentang pemasukan dari sektor wisata, jika belum ada upaya nyata yang dilakukan untuk menghidupkan sektor ini. Setelah ada usaha pendampingan yang jelas untuk pariwisata, perlahan-lahan pemasukan pun akan datang.

Dia mencontohkan Bali yang pariwisatanya hidup karena kehidupan kesenian dan aktivitas perajinnya didukung pemerintah. Pemerintah bukan membebankan tarif parkir atau retribusi wisata yang besar untuk mendatangkan pemasukan, melainkan dengan merangkul semua pihak sehingga bisa maju dan berkembang.

Selain miskin kegiatan, pengelola Pasar Seni dan pemerintah daerah  dinilai tidak mendukung dinilai David tidak mendukung seniman. Seniman muda yang bergerak pada seni grafiti dan seni rupa sulit untuk meminjam panggung pertunjukan dan gedung di Pasar Seni. Akibatnya, sulit menggelar pameran yang bisa meramaikan Pasar Seni. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Mei 2013

[Fokus] Pasar Seni yang Tak Nyeni

KEBERADAAN Pasar Seni di Bandar Lampung sudah 22 tahun. Sejak mulai beroperasi pada 1991 hingga sekarang, kondisinya masih sama. Pelukis senior, Sutanto, menempati salah satu pondok di Pasar Seni, Enggal, sejak 1991. Pasar yang terakhir direnovasi tahun lalu ini masih dinilai sama dengan saat pertama kali ditempati pelukis asal Salatiga ini.

"Dari dulu kayak gini. Enggak ada yang berubah dengan Pasar Seni. Masih sama dan enggak berkembang," kata Sutanto.

Penilaian Sutanto terhadap Pasar Seni bukan dalam arti fisik. Bila dari sisi tampilan, memang lebih kinclong saat ini karena baru dicat dan diperbaiki. Namun, dari segi aktivitas seniman dan pengunjung yang tidak pernah berkembang. Sutanto menilai Pasar Seni sudah sering berganti pengelola atau event organizer (EO) tapi tetap saja tidak ada perubahan. Peran EO sebagai pengelola juga menentukan dalam menghidupkan dan meramaikan Pasar Seni.

Namun, pengelola yang ada tidak terbukti dan belum melakukan terobosan paten. Kepentingan dan keinginan pemerintah melalui Dinas Pariwisata juga membuat tidak ada program dan arah yang jelas dalam mengembangkan Pasar Seni. ?Yang ada justru tarik-menarik kepentingan di Pasar Seni. Akhirnya, Pasar Seni terbengkalai dan tidak ada kegiatan yang membuat pengunjung dan seniman bisa nyaman. Pengelola harusnya bisa belajar dari Pasar Seni yang lain,? kata dia.

Dualisme PengelolaPermasalahan di internal pengelola dan Dinas Pariwisata pun masih terus terjadi sampai saat ini. Kini ada dua pihak yang disebut mengelola Pasar Seni, Indocraft dan Panghegar.

Awalnya Indocraft diberi kepercayaan untuk mengelola keseluruhan Pasar Seni berdasarkan keputusan dari Kepala Dinas Pariwisata Bandar Lampung No. 556/125/IV.39/2013 yang dikeluarkan pada 10 Mei 2013.

Selang enam hari, keluar keputusan baru dari Kepala Dinas Pariwisata Bandar Lampung No.556/3/IV.39/2013 tentang pengalihan pengelolaan tempat yang membatalkan keputusan sebelumnya. Indocraft pun akhirnya hanya diberi kewenangan mengelola tiga pondok dari 27 pondok yang ada.

Menurut Manajer Indocraft Dipo Dwi, dualisme pengelolaan memang terjadi sejak dahulu. Pengelola pertama belum sempat menjalankan programnya, tapi langsung diputus di tengah jalan oleh Dinas Pariwisata. Akibatnya, rencana yang sudah dipersiapkan batal karena ada perbedaan kebijakan dari dinas.

Kondisi ini membuat Festival Pasar Seni pun terganggu sehingga tidak maksimal. Acaranya yang diharapkan sebagai awalnya membuka kembali Pasar Seni justru tidak bisa maksimal.

Sutanto menilai Dinas Pariwisata dan pengelola tidak jarang sekali duduk bersama untuk menyatukan langkah dalam memajukan Pasar Seni. Semua pihak jalan sendiri-sendiri. Sekalipun ada pertemuan antara seniman, pengelola, dan dinas, yang terjadi justru pemaksaaan kehendak. Aspirasi para seniman dimentahkan bahkan cenderung tidak didengar.

Seniman yang ada merasa tidak ada komunikasi yang terjalin antara pengelola dan dinas. Sutanto menjelaskan tidak ada komunikasi ini bisa dilihat dengan masih banyaknya pondok yang kosong dan dibiarkan tanpa penghuni.

Pengelola mestinya bisa berdiskusi dengan seniman melalui Dewan Kesenian yang ada di kabupaten/kota. Banyak seniman, perupa, dan perajin di Dewan Kesenian yang bisa diajak untuk menempati dan meramaikan Pasar Seni.

Tarif Komersial

Penyebab Pasar Seni sepi akan seniman adalah uang sewa yang dianggap terlalu mahal, Rp800 ribu per bulan per pondok. Mustahil bisa mendapatkan pemasukan besar jika Pasar Seni masih sepi pengunjung. Seniman pun merasa berat untuk membayar sewa bulanan.

Seniman muda yang tergabung dalam komunitas reggae pun terpaksa meninggalkan pondok karena tidak mampu membayar sewa. Mereka lebih memilih pindah ke tempat lain yang lebih murah dan mewakili.

Awalnya komunitas reggae punya satu pondok yang biasa dipakai untuk berjualan kerajinan tangan dan aneka suvenir. Bahkan mereka membuka jasa untuk memperbaiki alat musik dan mengubah penampilan ala reggae.

Seniman muda, David, yang masih bertahan menempati satu pondok di Pasar Seni, mengaku jika pengelola hanya fokus pada seni musik dan tari. Kegiatan yang dilangsungkan hanya kedua kesenian tersebut dengan tujuan bisa menarik banyak massa.

Namun, seni rupa jarang sekali ditampilkan dan diberi ruang untuk pameran. Padahal seni rupa juga bisa mendatangkan banyak pengunjung.

Selain itu, penggiat pop art ini menilai Indocraft sebagai salah satu pengelola hanya menaungi kerajinan tangan saja. Tidak semua kegiatan hasilnya craft, seperti fotografi dan grafiti. Mau dikemanakan mereka yang bukan membuat handycraft.

Dia pun mengeluhkan penutupan pintu belakang Pasar Seni. Penutupan tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah pengunjung yang datang. Pondok yang ditempati David dan kawan-kawan letaknya di pojok dan dekat pintu belakang. Penutupan tersebut tidak berpihak pada kepentingan seniman.

Dwi mengatakan uang sewa yang terlalu besar memang bisa merugikan seniman atau perajin. Perlu ada pengujian transaksi terlebih dahulu sebelum nenentukan harga sewa. Jika sudah diketahui pemasukan setiap seniman atau perajin di masing-masing pondok, baru bisa dipatok harga yang sesuai dengan kemampuan mereka.

?Jika tarif terlalu tinggi perajin bisa rugi dan meninggalkan Pasar Seni,? kata dia.  (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Mei 2013

[Fokus] Menghidupkan Kembali Pasar Seni

PASAR Seni, Enggal, Bandar Lampung, yang selama ini identik dengan kesan negatif, kini melawan takdir. Para pihak ingin mengembalikan fungsi ruang publik di tengah kota itu sesuai namanya.

PASAR SENI. Suasana Pasar Seni Enggal, yang sudah dibenahi, Bandar
Lampung, Sabtu (18-5). Pasar Seni Enggal, Bandar Lampung yang selama
ini  identik dengan kesan negatif, kini melawan takdir. Para pihak
ingin mengembalikan  fungsi ruang publik di tengah kota itu sesuai
namanya. (LAMPUNG POST/ IKHSAN DWI NUR SATRIO)
Tepuk tangan membahana ketika musik cetik yang dibawakan dua orang bocah mulai hilang dari pendengaran. I Nyoman Arsana, mengiringi pukulan cetik dua anaknya itu dengan jimbey. Di atas panggung kecil yang luasnya tidak lebih dari 4 x 4 meter ini, keduanya lincah memukul alat musik tradisional Lampung itu.

Ada lima lagu Lampung yang mereka bawakan dalam pembukaan Festival Pasar Seni di Enggal, Bandar Lampung, Jumat (17-5) malam. Selain cetik, festival selama tiga hari itu ada beberapa kesenian tradisional Lampung lainnya yang akan tampil.

?Tabik pun,? kata Nyoman mengawali penampilannya. Sayup-sayup terdengar balasan salam dari para penonton. Seniman Lampung kelahiran Bali ini menyebut putranya sebagai putra Lampung yang akan mengembangkan dan melestarikan kesenian Lampung.

Festival Pasar Seni menjadi acara pembuka untuk menghidupkan kembali Pasar Seni di Bandar Lampung yang sempat direnovasi selama 2012. Pascarenovasi hampir tidak ada acara yang digelar untuk memeriahkan kembali tempat berkesenian dan para perajin yang letaknya di pusat kota ini.

Dari sisi fisik, kondisi Pasar Seni memang sudah lebih baik setelah direnovasi oleh Pemkot Bandar Lampung melalui Dinas Pariwisata. Pondok-pondok, tempat pertunjukan, dan gedung utama lebih bersih dan cerah dengan polesan cat baru. Namun, saat malam kondisi penerangan belum maksimal karena banyak bagian di dalam Pasar Seni yang gelap dan belum tersentuh cahaya lampu.

Festival Pasar Seni yang diselenggarakan Indocraft didukung Lampung Post bertujuan memeriahkan dan menghidupkan kembali Pasar Seni yang sudah lama mati suri.

Aprilianti, pimpinan Indocraft, dalam sambutannya di sela-sela pertunjukan festival, mengungkapkan keberadaan Pasar Seni sangat penting sebagai wadah kegiatan kesenian dan para perajin di Lampung. Berbagai kegiatan kesenian dan aktivitas handycraft bisa dilangsungkan bersama untuk mengangkat potensi parawisata Lampung. ?Perlu kita hidupkan lagi Pasar Seni dengan berbagai kegiatan,? kata dia.

Pembukaan festival cukup sederhana. Setting panggung minimalis yang didukung dengan pencahayaan standar tanpa ada kesan mewah seperti pertunjukan konser. Tidak ada tempat duduk khusus untuk para tamu yang hadir. Para pengunjung yang datang duduk di fondasi semen yang terhampar di taman-taman Pasar Seni.

Meskipun tidak terlalu ramai, kemeriahan tetap terpancar dari para pengunjung menyaksikan hiburan seni tradisional dan musik modern yang disampaikan oleh band-band lokal. Tidak ada instansi pemerintah yang hadir. Seniman-seniman Lampung pun banyak yang tidak hadir. Pengunjung lebih didominasi remaja dan anak muda. Aprilianti sempat menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan dalam Festival Pasar Seni. Ada beberapa kendala teknis sehingga festival tidak maksimal.

Di tengah hambatan yang ada, Aprilianti bersama Indocraft tetap menggelar festival sebagai acara pembuka untuk menjadikan Pasar Seni menjadi pusat kegiatan kesenian guna melestarikan seni dan budaya. ?Keberadaan Pasar Seni yang meriah dan hidup akan membantu para seniman dan perajin,? kata dia.

Kemeriahan Festival Pasar Seni tidak didukung dengan kegiatan yang ada di dalam pondok-pondok. Hampir semua pondok dalam Pasar Seni tertutup dan gelap tanpa ada kegiatan dan karya yang bisa disaksikan pengunjung. Lukisan, foto, dan kerajinan tangan yang lainnya tidak muncul. Praktis, festival pun hanya didominasi oleh pertunjukan musik saja.

Nyoman menyambut baik dengan kegiatan yang berusaha untuk memeriahkan kembali Pasar Seni. Pasar Seni akan menjadi tempat yang representatif bagi semua seniman untuk tampil dan berkarya. Selama ini hanya Taman Budaya saja yang banyak dipakai. Dengan hadirnya kembali Pasar Seni, bisa menjadi wadah kesenian yang merakyat.

Untuk meramaikan Pasar Seni, menurutnya, harus dihilangkan dahulu eksklusivitasnya. Pengelola Pasar Seni jangan sampai menempatkan seniman hanya berdasarkan kedekatan saja. Namun, harus dipilih seniman atau perajin yang memang punya karya dan layak untuk ditampilkan.

?Saya pun kalau berencana ingin ikut bergabung di Pasar Seni. Saya punya kerajinan cetik yang bisa diperjualbelikan, tapi belum tahu karena melihat kondisinya yang masih sangat sepi,? kata dia.

Selain pengelola, ada peran Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk mempromosikan dan meramaikan Pasar Seni. Nyoman menilai wisatawan perlu diarahkan untuk ke Pasar Seni supaya bisa melihat dan membeli karya seniman lokal Lampung. Jangan dibiarkan Pasar Seni sepi. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Mei 2013

May 18, 2013

Bangkitkan Kreativitas di Pasar Seni

BANDAR LAMPUNG (Lampost) Membangkitkan seni dan budaya di Lampung dapat dilakukan dengan meningkatkan kreativitas anak bangsa melalui ketersediaan wadah bagi pelaku dan hasil karya seni. Namun, penampung bakat dan hasil kesenian itu perlu dukungan semua pihak, mulai dari pelaku seni hingga pemerintah daerah.

SENIMAN CILIK. Gusti Ngurahrai Mahardika (kanan) dan Gusti Ngurahrai Pradiva
Jayastu (kiri) membawakan lima lagu daerah lampung menggunakan cetik pada
pembukaan Festival Pasar Seni 2013 di Pasar Seni Enggal Bandar Lampung, Jumat (17-5).
Acara itu memberikan ruang para  seniman Lampung untuk berapresiasi dalam
kegiatan seni Lampung. (LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY)
Hal itu dikatakan Manajer Indocraft Dipo Dwi saat pembukaan Festival Pasar Seni, Jumat (17-5) malam. Acara yang digelar Indocraft bersama Lampung Post itu diikuti para penggiat seni di Lampung.

Sayang, meskipun diundang, unsur pemerintah daerah tidak ada yang hadir. "Sudah saatnya seni dan budaya di Lampung ini kita bangkitkan. Mudah-mudahan kebangkitan ini dimulai dengan acara ini," kata Dipo.

Menurut dia, meskipun pemerintah daerah kurang mendukung kebangkitan budaya dan kesenian, para pencinta seni tidak boleh patah semangat. Mengingat dengan pendekatan budaya dan kesenian semua persoalan yang ada di Lampung dapat diselesaikan.

Selain itu, hasil kesenian juga bisa menjadi pendapatan (penghasilan) masyarakat. Bahkan, bisa menjadi pendapatan asli daerah (PAD) di sektor perdagangan dan kepariwisataan.

"Pasar Seni ini adalah wadah berkumpulnya para seniman. Kami juga siap memasarkan semua hasil kreasi seni warga Lampung kepada daerah lain, baik tingkat nasional maupun internasional."

Pemilik Pasar Seni, April, dalam sambutannya menjelaskan dengan dibukanya festival itu bisa menghidupkan kesenian dan kebudayaan Lampung mengingat selama ini para pelaku seni belum terakomodasi bakat dan hasil karyanya. "Dengan menghidupkan Pasar Seni ini saya yakin kesenian Lampung akan bangkit dan berkembang," kata April. Menurut dia, acara tersebut berlangsung selama tiga hari dan akan menampilkan hasil-hasil kesenian para penggiat seni Lampung, mulai dari seni tari, musik, seni rupa, dan kesenian lainnya. "Masyarakat bisa melihat hasil-hasil kesenian para penggiat seni di festival ini sehingga jangan sampai terlewatkan," ujar dia. (CR-2/CR-4/U-1)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 18 Mei 2013

Merenungkan Keluhuran Adat Lampung

Oleh Novan Saliwa


BAGI seorang pemuda yang ingin belajar banyak tentang makna Lampung dan kelampungan, sangat baik kiranya dapat menjalin komunikasi terhadap sosok Udo Z. Karzi yang telah lebih dahulu berkecimpung di berbagai forum dan analisis tentang Lampung. Dia juga mendokumentasikan segala bentuk persepsi masyarakat mengenai Lampung melalui blog ulunlampung. Bahkan, Udo Zul telah menerbitkan buku tentang kelampungan.

Komunikasi itu mampu membuka cakrawala kita mengenai Lampung dari sudut pandangnya selaku sastrawan, yang juga telah lama hidup berdampingan dengan tradisi Lampung di tanah kelahirannya, Pekon Negarabatin, masuk wilayah adat Marga Liwa. Ini terbukti dengan terbitnya buku Feodalisme Modern Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (diterbitkan Indepth Publishing, April 2013).

Ini sempat menjadi perbincangan berbagai pihak, baik di media sosial maupun Lampung Post. Sebuah seremoni Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) 24 Juli 2010, yaitu pelantikan Gubernur Lampung sebagai pimpinan adat tertinggi Lampung dengan penganugerahan adok (gelar) Kanjeng Yang Tuan Suntan Mangkunegara Junjungan Pemangku Sai Bumi Ruwa Jurai.

MPAL mencoba melegitimasi dirinya layaknya begawan yang mampu merangkum semua elemen adat di seluruh Lampung. Padahal, sejatinya tidak begitu masuk akal jika bayi yang baru belajar merangkak mencoba menuntun kakek buyutnya berjalan.

Keberadaan lembaga adat Lampung pada setiap masing-masing daerah di Lampung jauh lebih dahulu ada dan terus mempertahankan tradisinya mengayomi setiap masyarakat adatnya, menyentuh langsung kepersoalan masyarakat adat ketimbang menampung aspirasi kepentingan para elite penguasa.

Merayakan (Kembali) ‘Adok’

Wacana tentang Lampung yang begitu seksi sehingga menjadi perhatian publik. Selain tentang perdebatan mengenai sejarah asal-mula Lampung, yang perlu disikapi nasib bahasa (kebudayaan) Lampung  di tengah zaman modern adalah masalah penganugerahan adok. Sebab, yang lebih gencar muncul di media dan digembar-gemborkan sebagai bagian dari kebanggaan program MPAL adalah penganugerahan gelar kebangsawanan.

Hal yang menarik bagi penulis adalah mengapa adok yang dijadikan sarana untuk memberikan kesan kepada seseorang terhadap Lampung? Siapa pun orang yang dianggap penting bagi segelintir kepentingan, yang muncul sebagai pengikat adalah pemberian adok. Setidaknya banyak tokoh yang diberikan MPAL adok, tetapi apa pula yang mampu didapat adat atas disumbangkannya adok tersebut. Itu pula yang harus menjadi perhatian.

Dari pertanyaan tersebut, harus pula menghadirkan pertanggungjawaban yang memuaskan bagi adat itu sendiri. Sebab, selama ini adat telah dihadirkan, Udo menyebutnya diobral habis, dengan kesan sebagai pemuas nafsu mereka para penganugerah adok atau penyimbang kemawasan (meminjam istilah Irfan Anshory, tokoh adat dari Talangpadang, Tanggamus).

Untuk perenungan kita, tulisan Udo dihadirkan kembali sebagai santapan pemikiran yang dihidangkan di depan mata. Tata petiti adok sering dipersonifikasikan oleh orang tua dahulu seperti tungku, yaitu tiga buah batu perapian untuk memasak. Berposisi segitiga sama sisi, satu batu di utara, satu batu di barat, dan yang satu lagi di timur. Sedangkan dari selatan adalah untuk kayu bakarnya.

Itulah penggambaran suatu perapian yang dapat dipergunakan untuk memasak, letak dan posisi ketiga batu itu haruslah seimbang tidak boleh ada yang lebih tinggi. Sebab, jika permukaan dari ketiga batu tersebut tidak rata, belanga atau apa pun yang ada di atas tungku itu tidaklah kokoh. Apalagi bila salah satu dari batu itu tidak ada atau tidak tercukupi, dapat dipastikan sesuatu yang di taruh di atasnya tidaklah bisa dipergunakan.

Demikianlah adok bisa disandangkan kepada seseorang yang jika dan hanya jika ketiga syarat tungku itu terpenuhi. Menuruti kaidahnya tata petiti itu berbunyi, “Adok nitutuk tutor, tutor nutuk dijujjor” yang terjemahannya adalah gelar diikuti panggilan, panggilan mengikut kedudukan/nasab/garis keturunan. Jadi, antara adok, tutor, dan jujjor adalah tiga hal yang saling keterkaitan satu dengan yang lainnya.

Penulis berharap pemuda bisa belajar memahami Lampung secara menyeluruh. Setidaknya, mampu memandang keberagaman sebagai rahmat dari Tuhan sehingga segala bentuk kreativitas selalu menghormati aturan adat yang beragam dan tidak mengusik rasa kebersamaan satu sama lainya. Neram Sang Bumi Juraini Wat Ruwa (kita sebumi jurainya ada dua). Lampung itu satu, tetapi ada berbagai macam keragaman yang patut dihormati.

Adok-tutor jadi kehangguman, adok dan tutor menjadi kebanggaan sebagai bagian dari adat istiadat Lampung. Sebab, di dalam adat ada kesetiaan, saling menghormati, bertanggung jawab atas amanah, kesadaran diri menjadi pemimpin, dan menjadi yang dipimpin. Tiga tungku di dalam adok sejatinya mengajarkan kita untuk itu. n

Novan Saliwa, seniman asal Liwa, Lampung Barat, saat ini tinggal di Yogyakarta

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 18 Mei 2013

May 16, 2013

Genta Kencana Open Casting Film

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Genta Kencana Entertainment (GKE), sebuah Rumah Produksi (Producion House) hadir menyemarakkan kehidupan dunia perfilman di Lampung. Komitmennya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan karakter bangsa.

Menurut Direktur GKE, Agus Effendi mengatakan, sebagai “gebrakan” tahun ini, GKE membuka kesempatan bagi masyarakat Lampung mengikuti “Open Casting Film” untuk mencari bintang-bintang berbakat sebagai aktor dan aktris. PH-nya telah siap memproduksi beberapa episode FTV dengan judul besar “Kembang Tanah Air”.

“Ya itu (Kembang Tanah Air) judul utamanya, selain sebagai judul satu episode. Judul ini untuk menggambarkan bahwa setiap episode memiliki narasi dasar yang sama yaitu membangun pendidikan karakter bangsa. Rencananya ada 15 episode, tapi yang siap baru tiga, yaitu episode “Kembang Tanah Air”, “Tetaplah Menjadi Bintang” dan “Receh”," jelas Agus.

Sedangkan untuk penulisan skenario Agus mengatakan pihaknya menggaet sastrawan Lampung Syaiful Irba Tanpaka yang dianggap mumpuni dalam hal olah cerita. Sehingga FTV produksi GKE ini betul-betul memiliki warna dan daya tarik tersendiri. Untuk penayangan GKE akan menjalin kemitraan dengan stasiun TV, khususnya, yang ada di daerah Lampung.

Sementara Talent Manager GKE, Wan Tanaka, mengatakan syarat pendaftaran yaitu laki-laki/perempuan usia 9-40 tahun, berbakat akting, mengisi form pendaftaran dengan konstribusi Rp100 ribu kemudian tiga lembar foto (2 Close Up dan 1 seluruh badan) ukuran 5R.

Pendaftaran dilakukan di Pondok Lampung Permai, Komplek Pasar Seni Enggal mulai 6 s.d 24 Mei 2013. Casting dilakukan 25-26 Mei dan Produksi direncanakan 6 s.d 10 Juni 2013, untuk informasi dapat menghubungi Wan Tanaka HP.081957003411 atau Icon Arts HP.081957195004.

“Adanya dana kontribusi dimaksudkan sebagai dukungan masyarakat terhadap pembangunan dunia perfilman. Lampung berbeda dengan Jakarta. Di ibukota kemitraan antara PH, Broadcast dan Sponsor sudah berjalan profesional dan kondusif. Di Lampung hal itu belum terjadi. Tanpa partisipasi masyarakat, tentu berapapun modal PH akan habis tanpa bisa berputar untuk produksi selanjutnya” papar Wan

“Kembang Tanah Air” menceritakan Laryk, seorang Mahasiswa, yang menggemari dunia fotografi. Kegemaran itu membawa Laryk mengenal berbagai karakter dan kehidupan sosial. Hingga Laryk menemukan kehidupan orang-orang yang menurutnya luar biasa. Kehidupan orang-orang yang memiliki semangat tinggi, pantang menyerah dan mengalir membangun kemaslahatan. Laryk kemudian melibatkan diri dalam kehidupan orang-orang yang dikaguminya.

Seperti Teguh misalnya, pelajar SD, anak piatu yang mengisi waktu luangnya dengan menjadi tukang semir sepatu di kantor-kantor atau menjadi pedagang asongan demi membantu kehidupan keluarganya. Keinginannya untuk bisa terus sekolah sampai menjadi sarjana membuat Teguh gemar menabung.

Atau Jantuk, remaja berusia 14 tahun yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan. Kemiskinan membuat keluarganya tidak berdaya. Ketika Jantuk berusia 5 tahun, ibunya melahirkan adiknya, ayahnya minggat entah kemana. Sejak itu ibunya sakit-sakitan. Usia 9 tahun Jantuk memulai jadi pemulung. Ia selalu menggendong adiknya sepanjang ia memulung untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Hingga usianya yang ke 14. Betul, tidak berpendidikan bisa menumpulkan wawasan tetapi tidak untuk menumpulkan kasih sayang seseorang

Laryk juga memasuki kehidupan Pitit, seorang anggota TNI muda yang mengidolakan ayahnya yang juga seorang TNI. Pitit berkisah kepada Laryk, ketika ia masih menjadi pelajar, setiap hari ketika akan pergi atau pulang sekolah selalu memandangi foto ayahnya dengan bangga. Kata Pitit, setiap orang memerlukan idola, memerlukan panutan agar impian masa depannya tetap terpelihara. (UZK/S-3)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 16 Mei 2013