April 30, 2009

Kala Sumatera: 'Hidup Memang Tak Seperti Dibayangkan'

BANDAR LAMPUNG -- Hidup memang tak seperti dibayangkan. Maka, hidup sajalah mengikuti jalan yang telah digariskan. Tapi, hidup tak sekadar menanti kematian.

WANCI. Ruth Marini, aktor Teater Satu tampil mengesankan saat membawakan monolog Wanci karya Imas Sobariah dalam penutupan Kala Sumatera, Panggung Perempuan se-Sumatera di Taman Budaya Lampung, Bandar Lampung, Rabu (29/4). (LAMPUNG POST/M. REZA)

Kesan ini sangat terasa saat menyaksikan monolog Wanci karya Imas Sobariah yang dipentaskan Teater Satu, menutup rangkaian Kala Sumatera di Gedung Tertutup Taman Budaya Lampung (TBL), Bandar Lampung, Rabu (29-4).

Dibawakan Ruth Marini dan disutradari Iswadi Pratama, lakon ini mampu memukau penonton yang menyesaki Gedung Teater Tertutup. Usai sudah rangkaian pentas Teater Kala Sumatera yang berlangsung lima hari sejak Sabtu (25-4).

Pemimpin Umum Teater Satu Iswadi Pratama menilai penulis skenario dan perempuan sutradara dalam Panggung Perempuan Se-Sumatera, bagian dari kegiatan Kala Sumatera, memiliki potensi. Namun, tema yang diangkat belum menyampaikan gugatan terhadap isu perempuan.

Sebagian sutradara dan penulis lakon dalam Panggung Perempuan Se-Sumatera, kata Iswadi, merupakan orang-orang baru dalam teater. Tapi penampilan mereka sudah cukup bagus. Mereka sudah menguasi aspek-aspek pemanggungan. Namun, ada beberapa penulis lakon yang masih lemah.

Iswadi mengatakan Kala Sumatera merupakan ajang pembelajaran bagi sutradara dan perempuan penulis lakon di Sumatera.

Para peserta Kala Sumatera mamiliki potensi yang bisa dikembangkan. Melalui kegiatan ini diharapkan akan tampil sutradara dan perempuan penulis lakon. Selama ini peran perempuan dalam teater masih berkutat pada bagian yang identik dengan dunia kaum hawa, seperti penataan kostum atau penata rias. Jarang sekali perempuan tampil sebagai sutradara dan penulis lakon.

Iswadi menyebut ajang ini by women and about women. Dari delapan peserta Panggung Perempuan Se-Sumatera, Iswadi menyebut penampilan Teater Sakata Sumatera Barat dan Komunitas Seni Intro Payakumbuh cukup baik. Iswady menilai Teater Selembayung Riau merupakan salah satu peserta yang tampil cukup bagus.

Aktor Teater Selembayung sangat terlatih dan aspek panggung sangat tergarap dengan baik. Iswadi menilai penampilan kurang baik tejadi pada Teater Kurusetra UKMBS Universitas Lampung dan Teater Andung Bengkulu. "Penampilan mereka terlihat tidak kompak dan terkadang tidak konsisten," kata Iswadi.

Menurut Iswadi, masih ada beberapa kekurangan dari para peserta, terutama dalam penyempaian simbol di panggung. Setiap benda dan gerak yang diletakkan di panggung merupakan sebuah simbol yang bertujuan untuk menyampaikan sebuah realitas. "Simbol yang disampaikan dalam panggung terkesan asal nempel," kata dia.

Sebatas Curahan Hati

Faiza Mardzoeki dari Institut Ungu menilai tema yang ditampilkan para peserta dalam Panggung Perempuan Se-Sumatera adalah isu perempuan dalam konteks lokalitas dan domestik. Tema yang disampaikan hanya sebatas curahan hati para perempuan. Belum sampai pada gugatan terhadap permasalahan yang dihadapi kaum perempuan.

Para peserta hanya menampilkan kelemahan dan stereotip kaum perempuan. Kesuksesan dan kelebihan yang dimiliki perempuan tidak diungkapkan. Faiza mengungkapkan para perempuan penulis lakon dan sutradara dalam Kala Sumatera sudah berusaha menggali isu perempuan dalam pertunjukan yang disampaikan, tapi belum bisa memberikan tawaran baru. "Mereka masih gagap dalam merumuskan permasalahan yang dihadapi perempuan," ujarnya.

Menurut Faiza, para peserta memiliki potensi. Mereka cukup lumayan dan rapi dalam pertunjukan. Namun, ada beberapa kelompok teater yang masih lemah. Cukup banyak potensi perempuan sutradara dan penulis lakon di Sumatera.

Sedangkan pengamat teater Ags. Arya Dipayana mengatakan kualitas para peserta Panggung Perempuan Se-Sumatera beragam. Naskah yang baik terkadang tidak diimbangi dengan kualitas aktor yang baik. Beberapa peserta masih terlihat bimbang dalam menggarap pemain. Sebagian peserta sudah menguasai kesiapan-kesiapan pertunjukan.

Arya menilai para peserta belum mampu menyampaikan persoalan baru dalam feminisme dan gender. Panggung Perempuan Se-Sumatera, kata Arya, sangat baik diadakan sebagai ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam berteater.

Arya mengungkapkan tidak masalah para peserta menyampaikan tema seperti curhat perempuan. Namun, curhat tersebut harus dikemas dan diproses sehingga mempunyai nilai estetik dan layak untuk ditampilkan dalam sebuah seni teater. n PADLI RAMDAN/K-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 30 April 2009

April 29, 2009

Teater: Langka, Sutradara Perempuan

Bandar Lampung, Kompas- Sutradara dan penulis lakon teater perempuan di Indonesia terbilang sangat sedikit. Akan tetapi, kegelisahan untuk menambah jumlah dan meregenerasi sutradara dan penulis lakon lebih banyak muncul dari kalangan pelaku teater sendiri. Sementara itu, peran pemerintah untuk menumbuhkembangkan perteateran sama sekali tak ada.

Imas Sobariah, Kepala Bidang Operasional Program Kala Sumatera, Gelar Karya Teater Panggung Perempuan Se-Sumatera, Selasa (28/4), mengatakan, dalam aktivitas teater, pelaku perempuan cenderung lebih banyak mendapat peran kecil, bukan peran besar atau peran kunci seperti sutradara atau penulis lakon.

Hal tersebut menjadikan jumlah sutradara dan penulis lakon teater di Indonesia amat minim. Kondisi ini memprihatinkan karena pelaku teater perempuan di Indonesia juga memiliki kemampuan dan keahlian yang sama dengan sutradara ataupun penulis lakon teater laki-laki.

Kegelisahan tersebut memunculkan ide bagi para pelaku teater Lampung, khususnya Teater Satu, untuk memelopori penggalian potensi pelaku teater perempuan Indonesia, khususnya Sumatera. Kegiatan penggalian terangkum dalam program Kala Sumatera.

Iswadi Pratama, pemimpin umum Teater Satu Lampung sekaligus pemateri pada program Kala Sumatera, mengatakan, penggalian potensi pelaku teater perempuan di Sumatera dilakukan melalui diskusi dan pelatihan penyutradaraan dan manajemen pertunjukan pada November 2008. Kegiatan tersebut kemudian diikuti dengan lokakarya penulisan naskah dan penyutradaraan pada Januari 2009.

”Pada April 2009 ini kita menikmati pertunjukan yang digarap para pelaku teater perempuan se-Sumatera,” ujar Iswadi.

Ags Aryadipayana, pengamat teater Indonesia yang turut mencermati gelar karya teater panggung perempuan se-Sumatera, 25-28 April 2009, mengatakan, potensi pelaku teater perempuan di Sumatera sangat luar biasa. Sebagian besar sutradara dan penulis lakon hasil pelatihan sudah bisa menangkap aspek dan teknis pemanggungan.

”Mereka bisa menghadirkan detail dan sisi artistik sebuah pertunjukan,” ujar Ags Aryadipayana.

Menurut Ags Aryadipayana, kalaupun ada pertunjukan yang kurang mengalir, itu lebih karena faktor manajemen pertunjukan dari sutradara.

Dia memandang, cara-cara penggalian potensi semacam itu sangat menunjang munculnya sutradara dan penulis naskah perempuan baru di Indonesia. Ia berpandangan, model demikian merupakan model yang bagus untuk menambah jumlah dan meregenerasi pelaku teater perempuan, khususnya sutradara dan penulis lakon.

Namun, yang sangat disayangkan, untuk program semacam itu, pemerintah sama sekali tidak terlibat. Pemerintah seharusnya bisa terlibat melalui kegiatan pelatihan. Melalui program-programnya, pemerintah bisa mendatangkan sutradara atau penulis untuk membagi ilmu. (hln)

Sumber: Kompas, Rabu, 29 April 2009

April 28, 2009

Sastra: FLP Gelar Bedah Buku 'Ruang Lengang'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Buku kumpulan puisi berjudul Ruang Lengang, karya penyair Epri Tsaqib, diluncurkan dan dibedah dalam diskusi di Kafe Taman Beringin Unila, Minggu (26-4). Kegiatan yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung itu menghadirkan narasumber Budi P. Hatees (Dewan Penasihat FLP Lampung) dengan moderator Angga Aditya (Ketua FLP Lampung).

Dalam diskusi tersebut, Budi mengatakan ideologi penulis akan sangat memengaruhi karya-karyanya. Pengalaman juga menentukan pandangan. Penyair memiliki peranan penting dalam kehidupan dan itu telah dibuktikan sejarah.

"Karya Epri menggunakan bahasa yang dekat dengan kita, tapi memiliki pesan yang disampaikan yang dipengaruhi pemikiran dan ideologi yang diyakininya," ujar Budi yang juga Direktur Matakata, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku ini.

Menurut dia, menulis puisi dapat dilakukan dengan mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dengan penyampaian yang berbeda seperti yang dilakukan Epri. Setiap penyair memiliki keinginan untuk dapat memiliki karya yang memorian, yang dapat dikenang generasi selanjutnya seperti Chairil Anwar dengan puisi Aku dan Kerawang-Bekasi. Melakukan perubahan memerlukan kerja sama semua pihak, bukan hanya penyair.

Ketua Pelaksana Agus Utomo mengatakan acara ini bertujuan menyosialisasikan keberadaan buku kumpulan puisi tersebut sekaligus memberi wawasan kepada anggota FLP dan masyarakat umum tentang dunia perpuisian. "Melalui kegiatan ini, kami sekaligus menyosialisasikan keberadaan kami sebagai organisasi para pengarang di Lampung," kata dia.

FLP, lanjut dia, merupakan wadah bagi para penulis dan calon penulis yang berusaha memfasilitasi anggota untuk belajar mengembangkan keterampilan dan meningkatkan kualitas di bidang menulis.

FLP juga memberikan wawasan kepenulisan kepada masyarakat umum. Ini mengingat sebuah tulisan dapat mengubah peradaban suatu bangsa dan merupakan sarana berdakwah. "Tentu akan lebih baik jika tulisan-tulisan tersebut penuh makna dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik," kata dia. n MG2/K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 28 April 2009

April 27, 2009

Surat Pembaca: Semboyan Sang Bumi Ruwa Jurai

MENCERMATI aspirasi atas usulan sejumlah stakeholder yang terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, dan instansi terkait kepada DPRD Provinsi Lampung agar semboyan Provinsi Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai diubah menjadi Sai Bumi Ruwa Jurai, sebagaimana diberitakan Lampung Post, Senin, 13 April 2009, menurut hemat kami perlu direnungkan kembali dan dikaji ulang.

Hal ini antara lain disebabkan, pertama, melihat alasan yang dikemukakan, bahwa kata sang bukan merupakan kosakata asli dari bahasa Lampung melainkan dari bahasa Sansekerta. Hal ini tentu saja masih akan menjadi perdebatan. Di beberapa daerah Lampung kata sang sudah dikenal secara turun-menurun jauh sebelum Republik Indonesia berdiri apalagi terbentuknya Provinsi Lampung pada 1964. Kalaupun kata sang itu dikatakan sebagai kosakata lain yang berasal dari berbagai bahasa lain, seperti bahsa Jawa, Sunda, Palembang, bahkan bahasa asing seperti bahasa Arab, Inggris, dan Belanda.

Pada saat ini semua bahasa mengalami pengayaan dari berbagai bahasa lain. Ada orang Lampung yang menyebut lemari makan dengan sebutan kabat, kosakata ini tentu saja berasal dari bahasa Inggris.

engan demikian, alangkah naifnya (maaf) kalau hanya karena ada yang berpendapat kosakata sang berasal dari bahasa Sansekerta, lantas kita akan mengubah semboyan Lampung yang sudah mengakar pada masyarakat Lampung.

Kedua, kalau kita bermaksud mengubah kata sang dengan kata sai dengan alasan selain kosakata tersebut merupakan bahasa Lampung asli, juga mempunyai makna yang sama, yakni satu, lagi-lagi pemahaman dan pemaknaan terhadap kata sang dalam semboyan Lampung semakin menandakan kalau kita dapat memahami bahasa Lampung itu sendiri.

Menurut hemat kami yang awam, kata sai merupakan kata penunjuk bilangan dan tidak secara utuh sebagai satu kesatuan dengan kata berikutnya. Demikian juga kata sai akan diikuti oleh ruwa, telu, pak, lima, dan seterusnya.

Artinya, kalau kita menyebut sai bumi, akan muncul ruwa bumi, telu bumi dan bilangan-bilangan lainnya.

Sedangkan kata sang adalah untuk menyebut suatu ruang dan satu kesatuan secara utuh dan tidak ada kata lain. Contoh: sang bakul (sebakul), sang lamban (serumah), sang pinggan (sepiring). Secara harfiah memang bisa diartikan satu bakul, satu rumah, dan satu piring. Akan tetapi makna dengan kata sang ini tidak demikian karena semua yang ada dalam bakul yang mungkin saja berisi terong, kubis, beras, telu,r dan lain sebagainya merupakan satu kesatuan yang utuh.

Apa saja yang terdapat pada ruang bakul tersebut maka disebut sang bakul, bukan sai bakul. Artinya kata sai mempunyai arti satu dan dapat berdiri sendiri, sedangkan kata sang belum mempunyai arti yang utuh bila tidak dipadamkan dengan kata lain.

Ketiga, semboyan Lampung yang berbunyi Sang Bumi Ruwa Jurai diartikan bahwa bumi Lampung dihuni oleh dua jurai/trach, yakni Jurai Sai Batin dan Jurai Pepadun. Kedua jurai tersebut dianggap sebagai penduduk asli masyarakat Lampung. Pada perkembangan seperti sekarang di setiap daerah boleh dikata tidak ada lagi yang hanya dihuni oleh masyarakat asli, sehingga ada yang mengartikan bahwa suatu daerah biasanya dihuni oleh pendatang lama dan pendatang baru.

Oleh karena daerah Lampung seperti yang kita saksikan sekarang dihuni oleh berbagai suku yang datang dari berbagai daerah, maka menurut hemat kami penghuni Lampung sekarang tidak bisa lagi dikatakan ruwa jurai, melainkan sudah multi-jurai.

Dengan demikian pemikiran mengubah semboyan Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai menjadi Sai Bumi Ruwa Jurai tidak mempunyai dasar yang cukup kuat. Malah kalau kita mau melihat konteks kekinian, yang lebih relevan adalah Sang Bumi Lamon Jurai.

Melalui kesempatan ini, kami berharap DPRD Provinsi Lampung dapat mengkaji lebih dalam aspirasi yang mengatasnamakan stakeholder, padahal sesungguhnya hanya keinginan dari segelintir orang.

Terima kasih.

H. Hajatul Muhtadin
Jalan Sisingamangraja No. 35
Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Senin, 27 April 2009

Teater: 'Sehelai Emak', Isu Gender dari Pinggiran Sungai Musi

BANDAR LAMPUNG--Azan subuh menggema di pinggiran Sungai Musi, Palembang. Dinginnya udara pagi tidak menyurutkan langkah Emak untuk menunaikan salat subuh, dilanjutkan dengan aktivitas sebagai ibu rumah tangga.

Emak tinggal bersama suami dan seorang putranya, Ujang. Suami Emak berprofesi sebagai tukang becak. Bapak dan Ujang adalah laki-laki pemalas. Hal tersebut menyebabkan Emak sering marah dan mengomel sendiri.

Pagi itu, Emak sudah memulai aktivitas rutinnya, memasak untuk Bapak dan Ujang. Emak memukul Suami dan putranya yang belum juga bangun. Emak bekerja lebih keras sebagai tukang cuci, untuk menambah penghasilan keluarga. Kondisi Emak, yang terkena penyakit TBC itu, tidak mereduksi perannya sebagai ibu rumah tangga.

Potret kondisi keluarga miskin di pinggiran Sungai Musi tersebut coba ditampilkan oleh Teater Baru Universitas PGRI Palembang dalam lakon Sehelai Emak. Lakon Sehelai Emak tampil di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Sabtu (25-4).

Adegan dimulai dengan aktivitas keluarga Emak di sebuah gubuknya. Kemiskinan Emak dan keluarganya terus digambarkan tiap adegan. Emak bahkan tidak mampu membayar cicilan kredit barang Rp20 ribu. Konflik baru muncul saat Ujang meminta uang pada Emak untuk menonton film di bioskop. Emak tidak bisa memenuhi permintaan Ujang.

Akhirnya Ujang nekat mengambil uang Emak. Emak mencegah Ujang. Namun, putra satu-satunya itu, malah mendorong Emak ke lantai. Emak hanya bisa menangis dan akhirnya pingsan.

Lakon ditutup dengan adegan satire. Ujang dan Bapak tertawa-tawa girang di luar rumah. Mereka tidak tahu kondisi Emak, sendiri dan sakit di dalam gubuknya.

Lakon Sehelai Emak kental dengan budaya Sumatera Selatan. Lakon berdurasi 60 menit itu mengalir dengan bahasa dan logat khas Palembang.

"Sehelai Emak adalah karya perdana penulis naskah Florencia Marcelina dan sutradara Ayu Irma. Peran Emak dimainkan Cuci Mulyasari, A. Heryanto sebagi Bapak, dan Sumardoni sebagai Ujang, serta dibantu Abdullah Sani (lighting), Novisahu Aini (vokalis), dan Yasir Amri.

Florencia mengatakan Sehelai Emak merupakan gambaran nyata keluarga yang tinggal di pinggiran Sungai Musi. Para ibu rumah tangga di lokasi itu harus bekerja keras menghidupi keluarganya dan mengurus suami dan putranya yang malas. n MG2/K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 27 April 2009

April 26, 2009

Esai: Kandungan 'Gizi' Puisi Jimmy

Oleh Choirul Muslim

SETIAP membaca buku puisi, terkadang saya menikmatinya sebagai proses mencerna makanan. Ada laku fisik sebagai awal untuk memenuhi kebutuhan dalam diri, "kebutuhan metafisik" kalau boleh menyebutnya. Puisi adalah bongkahan gizi, yang hanya berguna ketika kita mampu mencerna dan menyerapnya ke dalam tubuh menjadi konstituen kesadaran batin pembaca. Jika tidak dicerna, puisi hanya lewat utuh di dalam tubuh, seperti musang memakan buah kopi. Dalam hal ini puisi dianggap bukan gizi, dibuang bersama feses diri.

Saripati puisi sampai ke sel, saripati puisi yang bergizi itulah yang kemudian diolah dan dibentuk kembali menjadi kesadaran puitik yang akan menciptakan suasana ekstasi puisi di dalam diri. Ekstasi ini menjadi kesadaran dan pemaknaan baru ketika saya mencoba mencerna Puan Kecubung, sebuah kumpulan puisi apik yang berhasil menjelmakan kepribadian seorang manusia bernama Jimmy. Ada proses negosiasi sekaligus perlawanan eksistensialisme dalam setiap karyanya, yang meng"Ada" sekaligus menihilkan dunia fana: "Sekali berarti sesudah itu mati" (Terima kasih Chairil Anwar).

Membaca puisi Jimmy adalah membaca kegundahan batin seseorang yang sedang terlempar ke dunia fana, yang terus menjeratnya dengan segala nikmat kehidupan. Kegalauan Jimmy begitu kuat, sehingga ia seolah sebuah roh yang terperangkap dalam jala kehidupan, yang semakin ia meronta maka semakin ia tercekik. Di tengah situasi demikian, Jimmy berusaha menyiasati jala kehidupan yang melingkupinya. Siasat itu terlihat dari adanya keyakinan Jimmy untuk "mengimani" bahwa tidak semua perangkap jala kehidupan itu mencekik, melainkan ada juga yang mengikat kebebasan rohnya, ada yang hanya disinggahi sejenak ada pula yang ia bongkar dan disusun kembali secara kreatif sehingga menjadi makna baru.

Puan Kecubung memberi gambaran yang jelas mengenai episode perjalanan hidup. Jimmy membagi-bagi 49 buah puisinya ke dalam tiga komposisi subjudul (yang mungkin disatukan berdasarkan kesamaan tema) yaitu: Sebelum Berangkat, Bukit Fatima, dan Jalan Pulang. Ketiga subjudul ini seolah menuntun pembaca kepada tiga fase kehidupan dalam proses pencarian eksistensi. Sebuah takdir yang tak bisa kita mengelak; antara alam rahim, duniawi dan surgawi, maka tak ada pilihan selain jalani dan hikmati saja alur kehidupan secara linier itu.

Subjudul Sebelum Berangkat, terdiri dari tujuh puisi yang mengajak kita berkemas-kemas membangun kesadaran, mempersiapkan sebuah perjalanan menuju "Entah" (dengan "E" besar), mungkin ke Bukit Fatima seperti dalil Jimmy.. Saat berkemas-kemas tersebut, Jimmy mempersiapkan bangunan kesadaran dengan pertanyaan fundamental dalam puisi pertama: "sebenarnya apa arti perang menurutmu?". Perang yang digambarkan dengan perih dan getir karena "tak ada kupu, perempuan menangis karena derap sepatu/ bulan memar karena sepi melebar/dan rama-rama acap liar/lantaran banyak anak terkena sampar". Perang yang bisa dimaknai sebagai peperangan fisik vis a vis antara satu kubu dengan kubu lainnya di suatu medan Kurusetra, yang terjadi karena niat untuk saling ekspansi atau juga bisa diartikan lebih kontemplatif yaitu peperangan di dalam diri.

Sikap kontradiktif yang selalu tawar-menawar dan tarik-menarik antara kutub satu dengan kutub lain sebelum kita mengambil sikap untuk berdamai dengan nurani sendiri. Meskipun demikian selepas menghadapi pengalaman getir dan sikap tarik menarik tersebut, Jimmy tetap mengambil sikap bahwa janji harus dibuat: "kita harus jumpa, di samping tangga taman gembiraloka" (Surat Buat Sulaiman, hal 13)

walaupun menurut Jimmy: "kelahiran adalah luka rembulan yang menharukan" tapi tak menghalangi niat dan keinginan kuat penulis untuk: "sebelum matahari terendam/ aku bertandang pada tubuhmu yang legam/" (Santa Anna, hal 14);

Pengalaman puitik berikutnya, Jimmy nyadar bahwa hidup itu berujung mati. Maka sebagai aktor di panggung kehidupan dunia, yang kadangkala juga nonton pertunjukan lain, ia telah mengetahui bahwa ending skenario kehidupan adalah mati: "ayolah, kita sudah tahu jalan pulang/ mengapa mesti menunda rencana jadi kenangan?" (Rencana Seorang Aktor, hal 15). Maka sebelum kita semua sampai pada ending itu, Jimmy mengajak kita semua mengisi dan menikmati hidup dengan hal-hal yang jasadi sekaligus ruhaniah: "Maka misalnya natal nanti kita berjumpa/ maukah kau bercerita/ muara senggama? (Sebelum Berangkat, hal 16).

Yang amat mendasar (bagi saya mencekam dan provokatif), Jimmy mempersoalkan kesalahan wanita melalui mitologi Adam-Hawa: "kenapa aku turut dihukum dan diusir pergi?/ tak ada sedikitpun sidik jari dan barang bukti. (Pengantar Ilmu Hukum, hal 17). Dalam memaknai ulang mitologi atau dongeng, Jimmy menempatkan diri pada sebuah sudut penilaian yang berbeda dengan dirinya. Tak tanggung-tanggung, "aku lirik" dalam puisi ini adalah seorang perempuan, Ibu Hawa yang mempertanyakan ulang "tragedi buah kuldi" yang dipetik Bapak Adam. Puisi ini paralel dengan puisi lain dalam subjudul kedua Bukit Fatima, yaitu Kidung Pohon (hal 72), hanya saja Jimmy mengubah sudut pandang, dari aku lirik seorang perempuan, Jimmy menjelma menjadi "Tuhan" yang menurunkan perintah: "Akulah pemilik taman, kau boleh main ayunan, kemah bermalam-malam, memetik bebuahan tapi tidak pohon yang ini!".

Pada subjudul Bukit Fatima, 35 buah puisi menggambarkan pengalaman hidup Jimmy menjadi kisah hidup yang rigid bercampur dengan imajinasi yang nakal dan majemuk. Getir tapi larut. Bahkan kadang mengolok-olok secara utuh betapa "Maut" digambarkan sebagai sesosok : "berbaju badut yang selalu tertawa gembira" (Pemain Sirkus Nonton Sirkus, hal 34). Hal ini tidak terlepas dari kesadaran puitik, bahwa ia sedang "Mencari Alamat" (Mencari Alamat, hal 29).

Dalam puisi Bukit Fatima 2 (hal 87)" ada benang juga yang terjalin dari puisi Kidung Pohon di mana Aku yang Transenden sedang berbicara kepada "aku lirik" dalam puisi ini. Puisi ini mendialogkan suasana batin “aku lirik” yang sudah hidup layak sebagai manusia bermartabat. Meskipun demikian, desain kesuksesan duniawiah tetap membukakan pintu menuju kepada hal-hal transenden.

Saya menangkap adanya kerinduan batin penyair untuk berjumpa dengan Aku yang Transenden meskipun dijawab oleh Aku yang Transenden itu bahwa pertemuan harus ditunda sampai hari besar agama (dalam hal ini Sabat yang dirayakan oleh kaum yahudi); "dan di sebuah senja, datanglah ke rumahku/...mengutip surga di bibir jendela/ diintip cahaya dari bukit fatima. Nahasnya, pada saat yang sama "si aku lirik" berani membangun kesadaran perlawanan bahwa ajakan untuk datang ke rumah-Nya itu hanya basa-basi, karena: bagaimana hendak tandang/ bila pintumu sudah terkunci dan dipalang?. Tampak sekali Jimmy merasakan kerinduan transendensial yang tak kesampaian, kecuali curhat dalam puisi.

Pada fase terakhir, Jimmy mewadahi 7 buah puisinya dalam subjudul Jalan Pulang. Sebagai pembaca, tentu banyak sekali makna yang dapat diunduh di sepanjang jalan pulang itu. Ada momen kepasrahan di sana, meskipun pada ruas jalan lain, tetap saja Jimmy melakukan perlawanan. Puisi Meditasi Laut (hal 93) misalnya, Jimmy menemukan bahwa eksistensi hidup ini begitu gamblang, takdir begitu jelas terberi (given) dan tak perlu ditafsir. Jimmy pun ndagel dengan getir bahwa: sehimpun perjalanan hanya mengantarnya pada rumahmu yang lucu (Rumah Ziarah, hal 94). Dan puisi Jalan Pulang (hal 96) menurut saya adalah sebentuk evaluasi diri "aku lirik yang feminin" (Roh yang kerap disimbolkan bergender perempuan) terhadap hidup yang maskulin (sosok lelaki yang sudah lama pergi).

"Si Aku ruh" jengkel dengan kelakuan hidup maskulin yang tak bertanggung jawab melakukan pengembaraan fisik ke punggung gunung sehingga "Si Aku ruh" yang feminin tersebut menjadi sedih menangis dan kerap berbicang sendiri dalam solilokui: "untuk tahu tajam kelokan/ dan berapa lama sampai tujuan/ kenapa melulu aku yang ditinggalkan?". Tapi Jimmy tak bergeming, ia belum juga mau pulang. Meski sudah ada "Sesosok" yang memanggil nama kecilnya untuk pulang. Jimmy masih asyik masyuk dengan dunia yang fana nan menggoda: "kuharap kau menunggu saja di beranda/ wajahku masih sarat busa dan uap senggama" (Puisi terakhir: Yang Memanggil Nama Kecilku, hal 100). Begitulah Jimmy, meski kematian adalah hal yang niscaya tetapi sebagai umat korban buah khuldi, sedapat mungkin kita jangan buru-buru melewati kehangatan duniawi.

Sungguh, Puan Kecubung merupakan paduan kreatif yang utuh. Tubuh Puan Kecubung melafalkan narasi eksistensi penulisnya. Tiga subjudul yang menjadi komposisi saling kait-mengait, berkelindan sekaligus menihilkan satu sama lain dalam sebuah perjalanan kehidupan. Bagi saya, di setiap puisinya Jimmy secara provokatif dan subversif mempengaruhi kita dengan sodokan pertanyaan dan gugatan.

Ada proses dialektik di sana, meski proses dialektik ini kerap berubah menjadi semacam "khutbah" sebagai pesan pada bait akhir di sebagian besar puisi Jimmy. Ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan karya-karya Jimmy.

Saya sebut kekuatan, karena pesan ini dapat menjadi "manifestasi politik" dan sikap positioning yang jelas, di mana sebenarnya posisi penulis berada dalam menyikapi kehidupan dengan segala realitas sosialnya. Dalam hal ini, Jimmy seperti hendak menularkan sikap penulis kepada pembacanya tanpa mesti berpusing-pusing dengan majas, sintaksis ataupun struktur kebahasaan.

Akan tetapi, di sisi lain juga menjadi kelemahan, karena seperti halnya "khotbah", sedikit banyak akan mendikte pembaca untuk mengikuti keinginan penulis tentang pesan-pesan yang diamanatkan. Tapi itulah Jimmy. Begitulah puisi. Lazimnya nilai dan kadar gizi yang masuk ke dalam tubuh, akan sangat bergantung pada daya cerap tubuh masing-masing pembaca. Jika alat-alat indera dan jaringan tubuh siap mencerna, maka di dalam diri puisi akan larut menjadi "gizi" yang merawat bentuk fisik sekaligus memperdalam pengembaraan metafisik.

* Choirul Muslim, penyair, guru besar Biologi pada FMIPA Universitas Bengkulu

Sumber:
Lampung Post, Minggu, 26 April 2009

'Local Wisdom' dalam Tradisi 'Bualih'

Oleh Febrie Hastiyanto*

DALAM pelaksanaan Festival Radin Jambat menandai ulang tahun Kabupaten Way Kanan tahun ini, panitia mengadakan mata acara yang disebut bualih (bupaluh). Bualih merupakan pesta rakyat menangkap ikan, di mana masyarakat tanpa membedakan status sosial secara bersama turun ke lebung (purus) untuk menangkap ikan.

Biasanya tradisi ini dilakukan saat air mulai surut ketika musim kemarau datang. Keberadaan tradisi bualih di Way Kanan sangat dimungkinkan. Sebab kabupaten paling utara Lampung ini dialiri sejumlah sungai besar. Namun, bualih kini sudah mulai jarang terdengar dilakukan masyarakat.

Sungai-sungai di Way Kanan seperti halnya sungai di daerah lain rawan terhadap tindak penangkapan ikan yang merusak ekosistem, di samping penambangan pasir yang dilakukan masyarakat. Akibatnya, populasi ikan menyusut. Memancing saja mulai sulit, apalagi melakukan bualih secara bersama-sama.

Usaha Panitia Pelaksana Festival Radin Jambat menghadirkan kembali tradisi bualih sudah selayaknya diapresiasi. Dalam momentum Festival Radin Jambat, panitia memang baru melakukan bualih secara artifisial: di kolam yang sengaja dibuat dan diisi ikan. Kegiatan itu diikuti seluruh unsur pimpinan daerah, masyarakat, dan wisatawan dalam program Festival Krakatau.

Bualih yang artifisial ini pun tetap harus diapresiasi. Saat ini tidak banyak ruang bagi pemimpin dan pejabat pemerintahan untuk berbaur menyatu dengan rakyat yang dilayaninya. Momentum bualih dalam Festival Radin Jambat akan menjadi perekat dalam ketahanan sosial masyarakat. Bahwa pemimpin dan yang dipimpin dapat berada dalam satu ruang yang sama. Apalagi ruang itu memiliki aspek entertaint: kolam ikan. Dapat kita bayangkan bagaimana cairnya momentum bualih itu.

Menjaga Tradisi

Dalam jangka panjang bualih harus dikelola lebih baik, tidak hanya digelar secara artifisial. Pada banyak masyarakat adat, tradisi semacam bualih juga mulai dihidupkan kembali. Masyarakat adat di Provinsi Riau, misalnya, difasilitasi Dinas Perikanan Kabupaten dan Kota se-Riau melalui program Culture Based Fisheries (CBF), mengaktifkan kembali tradisi mamucuak ikan.

Dalam satu waktu tertentu, masyarakat menetapkan zona-zona di sungai yang tidak boleh ditangkap ikannya. Pada waktu yang ditetapkan itu, Dinas Perikanan menambah bibit ikan dan memberi pakannya secara periodik. Satu tahun sekali, masyarakat beramai-ramai memanen ikan yang disebut mamuncuak ikan. Hasilnya dibagikan merata kepada semua masyarakat di wilayah itu.

Dalam mamuncuak ikan, pemimpin dan pejabat lokal turut berbaur dengan masyarakat memanen ikan. Tradisi sejenis juga banyak (di)hidup(kan) kembali di daerah-daerah lain, seperti tradisi lubuk larangan di Jambi, atau tradisi panen ikan di Sumatera Barat.

Peran Masyarakat Adat

Masyarakat adat Way Kanan telah memiliki lembaga adat yang diatur dalam Perda No. 35 Tahun 2000 tentang Pemberdayaan, Pelestarian, dan Pengembangan Adat serta Lembaga Adat. Kedudukan lembaga ini secara kelembagaan sebenarnya cukup kuat dan dianggap merepresentasikan masyarakat adat.

Dalam upaya melestarikan tradisi bualih, lembaga adat Way Kanan dapat membuat peraturan adat menetapkan sungai dan zona larangan menangkap ikan. Pemerintah Kabupaten c.q. Dinas Perikanan merespons dengan menyediakan bibit dan pakan ikan. Masyarakat adat bertanggung jawab menjaga zona-zona larangan. Untuk menguatkan, lembaga adat dapat membuat kodifikasi sanksi adat. Sanksi hendaknya bukan berupa hukuman kurungan badan, dikucilkan, atau denda berupa uang. Sanksi yang diberikan dapat disesuaikan dengan tema aturan adat: Pelestarian lingkungan.

Masyarakat yang melanggar aturan zona larangan dapat dikenai denda menanam sejumlah pohon di lahan kritis, atau menambah sejumlah bibit ikan untuk ditebar di zona yang dilanggarnya, atau modifikasi dari keduanya. Bila pelestarian tradisi ini telah melembaga, tahun depan bualih dalam Festival Radin Jambat tidak lagi diadakan di kolam, tetapi langsung di sungai.

* Febrie Hastiyanto, putra Way Kanan. Bergiat dalam diskusi pada milis etnografi_lampung.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 26 April 2009

April 25, 2009

Teater Baru dan Sakata Tampil Perdana

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Baru dan Teater Sakata akan tampil perdana dalam Panggung Perempuan Se-Sumatera yang digelar di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Lampung, Sabtu (25-4).

Teater Baru mengusung lakon Sehelai Emak karya Florencia Marcelina Ramadhona dan sutradara Ayu Irma Prasakti. Lakon ini bercerita soal eksistensi perempuan dalam masyarakat miskin yang berada di kampung miskin di tepian Sungai Musi, Palembang, yang dipersonifikasi melalui sosok Emak.

Sehelai Emak menggambarkan kekerasan terhadap perempuan secara struktural (kemiskinan) dalam kehidupan sehari-hari. Emak sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci, terkena penyakit TBC, suaminya seorang penarik becak yang pemalas, dan anaknya si Ujang terkena penyakit masyarakat kota, snobisme.

Sedangkan Teater Sakata menghadirkan lakon Tiga Perempuan karya Via Suswati dan sutradara Tya Setiawati. Lakon ini mengisahkan pergulatan hidup seorang wanita padendang (penembang, red) yang sering menanggung citra buruk di tengah masyarakat karena profesinya sebagai seniman jalanan. Melalui lakon ini, Teater Sakata menghadirkan benturan nilai antara apa yang tradisional dan yang modern, di samping konflik-konflik batin seputar kehidupan rumah tangga seorang padendang.

Dengan memadukan pendekatan tradisional dan modern, bentuk pertunjukan yang disajikan Teater Sakata ini bisa menarik.

Semangat Baru

Kepala Bidang Operasional Program Kala Sumatera Imas Sobariah mengatakan Teater Baru merupakan teater yang diusung anak muda di Palembang. Mereka produk murni dari proyek Panggung Perempuan yang diusung Teater Satu dan Hivos. Sebagian besar pengurus Teater Baru merupakan mahasiswa Universitas PGRI Palembang yang sebelumnya tidak pernah bergelut dengan teater.

Setelah mengikuti workshop teater, kata Imas, mereka memulai kerja pementasan perdana ini. Selama proses penggarapan Sehelai Emak, mereka mendapatkan masukan dari sejumlah pekerja seni di Palembang, baik mengenai manajemen maupun artistik

"Kami ingin membangun sebuah teater yang tidak hanya bagus dan menarik, tetapi juga membangun citra yang baik, terutama perilaku para pekerja teater di tengah masyarakat. Inilah semangat baru yang sederhana dari kami," kata Ayu Irma Prasakti, sutradara dan juga pimpinan Teater Baru.

Menurut Koordinator Program Panggung Perempuan Ruth Marini, Teater Sakata merupakan salah satu grup yang cukup berpengalaman. Terutama dalam hal penguasaan terhadap khazanah tradisi Minang, baik berupa gerak, syair, maupun karakter.

Selain Teater Baru dan Teater Sakata, Panggung Perempuan Se-Sumatera juga diikuti Teater Generasi (Medan), Teater Intro (Payakumbuh), Teater Orange (Jambi), Teater Selembayung (Riau), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra UKMBS Unila (Lampung), dan tuan rumah Teater Satu (Lampung).

Panggung Perempuan Se-Sumatera yang berlangsung lima hari (25--29 April), merupakan kerja sama Teater Satu dengan Hivos (Belanda). Kegiatan ini rangkaian program Kala Sumatera Teater Satu untuk pemberdayaan dan pengembangan kualitas artistik seniman-seniman teater di Sumatera.

Imas menjelaskan isu perempuan dalam ajang ini bukan sekadar diangkat dalam tataran wacana, melainkan juga pada praktek. Sebelumnya telah dilangsungkan workshop penyutradaraan, artistik, dan penulisan lakon untuk sutradara dan perempuan penulis dari masing-masing kelompok peserta yang telah lolos seleksi.

Kegiatan ini juga dihadiri para pengamat seperti kurator pertunjukan Goethe Institute Noviami, pengamat dan kritikus film Lisabona, sutradara Teater Tetas Jakarta Agus Aryadipayana, dan penulis lakon dan perempuan aktivis Faiza Marzuki. n MG2/K-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 25 April 2009

April 24, 2009

Pemkot Optimalkan Pusat Informasi Pariwisata

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, berupaya mengoptimalkan fungsi Lapangan Merah Enggal, sebagai pusat informasi pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, Fachrudin, mengatakan tengah memperbaiki sejumlah fasilitas, agar lokasi tersebut layak menjadi tujuan wisata.

Saat ini sebanyak 27 pondok ada di Pasar Seni Enggal. "Sebagian pondok sedang rehabilitasi dan dicat. Kami akan menyeleksi pengisi pondok, mana yang aktif dan tidak. Jika tidak aktif, akan diisi yang berminat," kata Fachrudin, Kamis (23-4).

Dari 27 pondok, hingga kini baru 12 yang terisi. Untuk informasi pariwisata, pihaknya bekerja sama dengan Komite Pariwisata Lampung. "Dulu pernah ada tawaran dari Telkom Kandatel Lampung yang akan menjadikan Lapangan Merah sebagai taman digital. Namun belum ada informasi apakah jadi atau tidak," kata Fachrudin.

Di sisi lain, Kabag Humas Pemkot Bandar Lampung Zainuddin, mengatakan optimalisasi Lapangan Merah Enggal sebagai alun-alun Bandar Lampung telah lama direncanakan. Pemkot terbuka bagi pihak mana pun bekerja sama dalam menghidupkannya sebagai pusat informasi pariwisata dan Bandar Lampung.

"Lapangan ini memiliki banyak fungsi sebagai area publik Bandar Lampung. Kami ingin lokasi ini dapat menjadi jendela informasi pariwisata Lampung," kata Zainuddin.n MIN/E-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 24 April 2009

April 22, 2009

Teater Satu Terbitkan Buku Panduan Guru

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Satu Lampung menerbitkan buku panduan pengajaran drama untuk guru SMA se-Lampung.

Pimpinan Teater Satu yang juga salah satu anggota tim penulis buku, Iswadi Pratama, mengatakan melalui buku ini diharapkan para guru memiliki pegangan dalam memberikan pendidikan tentang teater kepada siswanya. Sehingga pendidikan teater di setiap sekolah lebih terarah dan kemudian melahirkan aktor, aktris, sutradara, dan penulis cerita yang andal dari Lampung.

Dia mengatakan buku ini memuat bagaimana siswa menjadi sutradara, bagaimana mengajar siswa menjadi aktor, bagaimana menafsirkan naskah drama menjadikan pertujukan. Juga, bagaimana menjadi penata artistik sebuah pertunjukan.

"Buku ini juga memuat metode belajar lima menit," kata dia di sela-sela lomba cipta puisi tingkat SD se-Provinsi Lampung, di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (22-4).

Menurut Iswadi, metode belajar lima menit adalah setiap anak diajak mengulang-ulang adegan lima menit dalam waktu 3 jam. Sehingga diperoleh satu adegan yang terbaik dan sesuai dengan naskah dan interpretasi sutradara.

Dengan demikian, untuk pertunjukan satu jam, siswa cukup belajar 12 kali, karena setiap kali berlatih diperoleh lima menit adegan. Hal ini untuk mengatasi sempitnya waktu yang tersedia bagi siswa SMA dalam berlatih teater.

"Rencananya buku tersebut akan kami terbitkan bulan Juni mendatang. Dan kami bagikan secara gratis kepada semua SMA yang ada di Lampung," kata dia.

Untuk memunculkan sutradara dan penulis perempuan, teater satu bersama Hivos (sebuah lembaga dari Belanda) menggelar Kala Sumatera yang bernama Gelar Karya Teater panggung perempuan se-Sumatera. Kegiatan ini diikuti 9 kelompok teater dari berbagai provinsi.

"Dalam kegiatan ini, kami mewajibkan agar sutradara dan penulis naskah adalah perempuan. Sebab, selama ini sutradara teater dan penulis naskah perempuan masih sangat minim. Pertunjukan yang berlangsung di Taman Budaya Lampung akan berlangsung tanggal 25--29 April pukul 11.00--12.00 dan pukul 15.00--16.00. n UNI/S-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 23 April 2009

Teater: Sutradara Perempuan Unjuk Kebolehan

BANDAR LAMPUNG (Ant/Lampost): Sutradara dan penulis lakon perempuan akan unjuk kebolehan di Taman Budaya Lampung pada 25--29 April mendatang. Sebanyak 10 karya sutradara dan penulis lakon perempuan dari tujuh provinsi di Sumatera itu akan ditampilkan.

"Ini baru pertama kali dan rencananya diselenggarakan setiap tahun. Kami mendapat dukungan dari Hivos, Belanda," kata pimpinan Teater Satu Lampung Iswadi Pratama di Bandar Lampung, Rabu (22-4).

Iswadi Pratama mengatakan provinsi yang siap mengirimkan pesertanya, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Bengkulu, dan Lampung.

Menurut dia, kegiatan itu dikhususkan bagi sutradara dan penulis lakon perempuan karena selama ini banyak potensi kaum perempuan yang tidak tergarap.

"Kalaupun banyak perempuan terlibat dalam teater, lebih pada mengurusi konsumsi dan make up. Padahal dari mereka banyak yang berpotensi," kata dia.

Para peserta sebelumnya mengikuti pelatihan penulisan lakon, sutradara, dan artistik, serta diskusi kesetaraan gender pada November 2008.

"Kami berharap dari pelatihan tersebut muncul sutradara dan penulis lakon perempuan yang andal," kata Iswadi.

Selain penampilan karya peserta, juga diadakan diskusi untuk mengomentari karya-karya tersebut. Dalam diskusi itu akan tampil sejumlah narasumber, seperti Noviani (kurator dari Goethe Institute), Lisa Buana (kritisi film), Faiza Marzuki (aktivis dan seniman teater), dan G.S. Arya Dwipayana (sutradara senior).

Iswadi mengatakan seluruh karya tersebut merupakan karya baru dan kegiatan di Taman Budaya Lampung pada 25--29 April itu terbuka untuk umum. n K-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 23 April 2009

Festival Radin Jambat Jadi Penarik Wisatawan

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Festival Radin Jambat yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Way Kanan harus terus dikembangkan agar dapat menjadi penarik wisatawan mengunjungi Lampung, kata Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Thamrin Bachri.

"Festival Radin Jambat yang diselenggarakan untuk kali keempat ini telah memberikan nuansa bagus bagi perkembangan, kekayaan, dan khasanah budaya nusantara," kata Thamrin Bachri di Way Kanan, Rabu.

Menurut dia, sebagai kekayaan budaya daerah, festival semacam itu perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Sekretaris Komite Pariwisata Lampung Anshori Djausal mengatakan, festival tersebut memberikan harapan bagi perkembangan kebudayaan dan pariwisata di daerah.

"Saya akan mengusulkan agar cerita rakyat yang dikemas dalam tarian tersebut ditampilkan pada peringatan satu tahun peresmian Menara Siger," kata dia, yang juga arsitek menara tersebut.

Pada festival itu dipentaskan lakon berjudul "Radin Jambat Halang Merindu", bagian dari cerita rakyat tentang Radin Jambat yang menjadi legenda di Kabupaten Way Kanan dan dikenal hampir di seluruh Lampung.

Dalam cerita tersebut, Radin Jambat berniat meminang Putri Betik Hati dan bersama pengawalnya dia mengunjungi kediaman putri tersebut.

Dalam perjalanan, dia bertemu dengan Sindang Belawan Bumi, yang juga menaruh hati kepada perempuan yang sama.

Terjadi perselisihan di antara keduanya, sehingga untuk menentukan siapa yang berhak meminang putri tersebut, diadakanlah adu ayam jago.

Ketika ayam milik Radin Jambat menang, Sindang Belawan Bumi murka dan terjadilah pertempuran.

Radin Jambat pun keluar sebagai pemenang, sehingga ia berhak menyunting dan membawa Putri Betik Hati ke kerajaannya.

Pengamat kebudayaan Gino Vanollie mengatakan, "Radin Jambat Halang Merindu" merupakan pecahan dari cerita Radin Jambat, yang dongengnya bercerita tentang kelahiran, masa anak-anak, remaja, dewasa, hingga Radin Jambat mencapai puncaknya sebagai sosok yang taat agama. n ENO/N-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 23 April 2008

April 21, 2009

Opini: Fenomena Sastra(wan) Lampung

Oleh Asarpin*

BICARA soal sastra Lampung adalah bicara soal sastra lisan. Sebagian besar sastra Lampung masih dalam bentuk lisan. Jika kita hendak memahami fenomena sastra Lampung dengan baik, semestinya berangkat dari sastra lisan yang ada. Sayangnya, beberapa pemerhati sastra dan budaya di Lampung selama ini tidak dibekali pemahaman yang baik tentang lokalitas dan subkultur sehingga apa saja ingin didesakkan sebagai tradisi.

Fauzi Nurdin dalam buku barunya tentang muakhi (saudara) dalam masyarakat adat Lampung yang dipuji-puji Firdaus Muhammad tanpa pemahaman apa sesungguhnya muakhi itu adalah contoh distorsi budaya yang parah. Apa muakhi itu? Traidisikah? Budayakah? Sastrakah? Atau hanya istilah biasa yang dibesar-besarkan agar dianggap tradisi adiluhung?

Oky Sanjaya beberapa waktu lalu di harian ini juga menulis soal ilat yang kesan saya juga sama: Oky memaksakan sesuatu yang hanya bagian kecil di permukaan tradisi dan adat-istiadat seakan-akan tradisi dan adat-istiadat seakan-akan tradisi itu sendiri. Apa yang disebut muakhi dan ilat bukanlah tradisi, tapi turunan dari tradisi.

Kata muakhi bahkan sama sekali tak ada dalam konsep adat Lampung. Seseorang menyebut kham muakhi artinya adalah kita bersaudara. Artinya hanya terjemahan, bukan konsep adat.

Sudah lama saya mendengar pengakuan tentang Lampung sebagai lumbung sastra dan budaya yang membutuhkan proses pemaknaan kembali. Sebagian pengamat merasa gelisah dan menyerukan pada penyair atau budayawan Lampung untuk menakik seni tradisi lisan yang beragam itu. Sayangnya, mereka tak dibesarkan oleh tradisi itu. Apalagi menulis dengan semangat tradisi yang unik itu.

Entah mengapa saya merasa tak terprovokasi oleh provokasi Maman S.Mahayana di harian ini (9/9/2007) yang seperti berteriak: Dicari: Novelis Lampung! Maman bilang: Lampung punya sejarah panjang mengenai tradisi bersastra. Tak percaya? Datang saja ke Kabupaten Waykanan, maka kalian akan bertemu begitu banyak sastra lisan yang menarik.

Bahkan nyeleneh dibandingkan sastra lisan di daerah lain di nusantara. Lampung pun punya aksara sendiri, sejajar dengan aksara Bali, Jawa, Sunda, Melayu, dan sejumlah aksara daerah lain di Nusantara. Jadi, secara kultural wilayah ini punya kekayaan tradisi yang membanggakan. Lalu, mengapa tak ada novelis dari negeri ini yang mencatatkan diri dalam peta sastra Indonesia.

Oky Sanjaya dalam tulisannya yang telah disinggung, berusaha pamer tradisi di wilayah Teluk Semangka dan sekitarnya dengan hanya menyebut nama-nama pekon. Cukuplah dengan hanya pamer begitu? Sudah cukup kita mengeluh miskinnya pemerhati yang serius tentang sastra lisan di Lampung, kawan. Sudah terlalu banyak saya dengar orang-orang meratap nasib tradisi dan seni lisan kita. Tapi, sepanjang tahun kita hanya mengeluh. Keluhan yang sayangnya cuma memperpanjang impotensi.

Tak ada maksud untuk mengotak-atik perbedaan sastrawan asli Lampung dan sastrawan pendatang yang bermukim di Lampung. Tidak sama sekali. Bahkan, saya termasuk orang yang mengucap terima kasih kepada para penyair papan atas kita, seperti Isbedy, Iwan Nurdaya Djafar, Iswadi, Oyos, Ari Pahala, Syaiful Irba, Jimmy, Inggit, dll. Merekalah yang telah mengharumkan (kopi) Lampung.

Marilah kita kubur harapan agar penyair di Lampung tidak mendurhaka pada bahasa ibunya. Marilah kita enyahkan keinginan melihat pengarang Lampung menakik seni dan tradisi sarang ini. Saya khawatir kita akan terjebak seperti Fauzi Nurdin yang merasa bagaikan budayawan Lampung, tapi hanya menghasilkan buku yang belum kelas disertai doktor yang telah diraih. Saya khawatir, kian banyak saja orang yang tebal ke Lampung-annya dan melupakan semangat Sumpah Pemuda yang telah berjasa memberi kita bahasa nasional.

Kalau kita mau jujur, sastra lokal di mata para penyair Lampung sendiri sudah tak relevan lagi untuk bisa menjadi salah satu jalan menyelesaikan masalah menghadapi arus budaya pop-hedonis mancanegara.

Isbedy dan Iswadi mungkin akan merasa kembali ke belakang jika harus menulis dengan bahasa Lampung. Demikian juga yang lain, termasuk saya.

Kehidupan masyarakat Lampung di desa-desa tak lagi dilandasi oleh nilai-nilai lokal. Berbagai subkultur yang menjadi ciri dalam mengambil keputusan sudah terputus. Seutas tali globalisasi tengah berlangsung intensif di desa, sehingga untuk menanamkan yang lokal saja sudah payah. Bajunya bisa lokal, tapi jiwanya sangat "maju". Jiwa pemuda di pekon saya mungkin masih tradisional, tapi celananya Levi's 505 bahkan 501.

Marilah mengakhiri keluhan miskinya seni-budaya lisan Lampung. Sebab, hal itu hanya akan menjelma soliloque. Sebabnya tentu banyak. Tidak banyak sastrawan dan budayawan (di) Lampung tertarik serta tak lagi mengenal dan mengerti bahasa sastra lisan yang ada.

Mereka semua sudah jadi pendurhaka! Mereka semua masih melantangkan manusia perbatasan, si Malin Kundang atau yatim piatu. Padahal, mereka hidup pada era neoliberalisme.

Aksara Kaganga tak ada gunanya. Bahkan tak perlu lagi diajarkan di sekolah. Apalah artinya bagi siswa. Sekalipun mereka menguasi dengan baik, aksara itu hanya pajangan, tidak ada yang mau menulis puisi atau cerpen pakai aksara Kaganga.

Siapa yang sudi menulis karya sastra dengan aksara zaman kuda gigit besi itu? Udo Z. Karzi saja mana betah berlarah-larah menulis puisi menggunakan bitan-bitan a atau ulan-ulan u itu, masih mending jika mirip imlak atau mengeja alif di atas a alif dibawa bi alif depan u: a-i-u (begitu ejaan saya mengaji kitab suci dulu).

Akhirnya, tak pernah ada krisis sastra Lampung. Sebab, tak pernah ada penyair yang menulis sastra tradisi Lampung. Debat tentang krisis sastra Lampung selama ini yang banyak dilontarkan oleh kalangan sastrawan dan budayawan Lampung sendiri bukan soal krisis.

Tuduhan krisis sastra Lampung hanya melingkar-lingkar pada persoalan dan keluhan yang sama dari tahun ke tahun. Hal ini anehnya sering dikait-kaitkan dengan generasi muda yang tidak tahu lagi tradisi lokal jenis simbatan, adi-adi, segata, simbatan, daduaian, wakhahan, badok, butatangguh, siahan, wawancan, mamang hati, pantun, tari bedana, dan lain sebagainya.

Ada tiga kecenderungan yang masing-masing memiliki argumennya sendiri mengenai keluhan sastra lokal di Lampung. Pertama, tradisi lokal sering (hanya) dipahami sebagai kelanjutan atau sebuah metamorfosis dari sastra zaman nenek moyang. Kedua, tradisi lokal mesti dirawat, dijaga, dilestarikan, dilindungi, dilap agar mengilat, untuk kemudian ditransformasi dan digali sesuai konteks kekinian dan di sini. Ketiga, tradisi lokal harus diambil yang baiknya saja, sementara yang jeleknya dibuang (seolah-olah memang demikianlah kenyataan seni dan budaya Lampung. (*) 

* Asarpin, Pemerhati sastra-Budaya Lampung

Sumber: Radar Lampung, Selasa, 21 April 2009

April 19, 2009

Traveling: Bermimpi Memetik Buah di Agrowisata Pekalongan

BALAI Benih Induk (BBI) Pekalongan, Lampung Timur, dicanangkan sebagai agrowisata oleh Menteri Pertanian Anton Apriantono pada 2005. Impiannya, pusat penangkaran dan uji coba berbagai bibit buah itu dapat menjadi tempat wisata.

Pekalongan tahun 1978. Nama kecamatan yang waktu itu masuk wilayah Kabupaten Lampung Tengah itu menjadi kondang gara-gara buah rambutan. Buah manis nan legit dengan warna kulit merah bergairah dan berambut itu masih menjadi buah favorit. Belum terjadi booming sehingga harganya jatuh amblas pada musimnya akhir-akhir ini.

Di satu lokasi seluas sekitar 64 hektare di bilangan Desa Pekalongan itu, para peneliti bidang hortikultura melakukan berbagai uji coba pembibitan berbagai macam buah. Salah satu buah yang sedang naik daun saat itu adalah rambutan.

Selain memproduksi bibit, para peneliti itu juga melakukan uji coba penanaman. Di areal tanah sekitar lima hektare, bibit-bibit pohon rambutan itu ditanam secara intensif. Hasilnya, dalam umur lima tahun, tanaman sudah subur dan berbuah lebat.

Satu keberhasilan dalam pengembangan bibit komoditas yang relatif baru itu cukup mengejutkan. Sebab, benih unggul yang dihasilkan dari sistem kultur jaringan itu sudah berbuah dalam waktu yang cepat. Buahnya juga sangat manis, tebal, dan lebih menarik penampilannya.

Ini tidak biasa karena saat itu orang mengenal rambutan biasa yang tumbuh liar di kebun-kebun dengan sifat yang alamiah. Pohon baru berbuah setelah berumur lebih dari tujuh tahun dan setelah menjulang tinggi. Buahnya juga lebih banyak yang asam, tidak ngelotok, berkulit alot, dan penampilan kurang menggoda.

Maka, hasil yang luar biasa itu menjadi kebanggaan para peneliti. Mereka juga butuh popularitas dan pengakuan untuk mengenalkan hasil karyanya, promosi, sekaligus mamasarkan secara maksimal. Maka, ide cemerlang muncul. Yakni, mengundang semua orang untuk datang ke kebun yang sedang berbuah lebat dan ranum, dipersilakan untuk memetik langsung dan mengonsumsi, tetapi tidak boleh membawa pulang atau keluar dari kebun. Tentu, saat masuk lokasi yang sudah berpagar berduri itu, ditarik biaya.

"Waktu itu memang luar biasa. Di sini kalau pas musim rambutan menjadi tempat wisata yang ramai sekali. Orang boleh memetik rambutan dan langsung memakannya. Itu sangat menyenangkan karena pohonnya masih sangat produktif dan masih pendek-pendek. Jadi, tidak perlu memanjat," kata Jumali, penjaga Agrowisata BBI Pekalongan mengisahkan, Sabtu (18-4).

Cerita itu tetap menginspirasi. Kini, kebun yang berada di Desa Pekalongan, Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur, itu masih hijau. Sisa-sisa kejayaan kebun rambutan masih terlihat di sisi kiri jalan (dari arah Metro) itu masih ada. Namun, kondisi kebunnya tidak terurus intensif. Umur tanaman yang cukup uzur itu juga terlihat tidak subur lagi.

Berbeda di sisi kanan. Di halaman depan yang dikitari kantor, gudang, perumahan karyawan, dan fasilitas lainnya itu tampak rimbun. Berbagai pohon buah, didominasi tanaman durian, tampak subur merimbun. Dari ciri-cirinya, awampun cukup dapat menyimpulkan bahwa jika musim buah durian tiba, kebun ini adalah "surga" pemandangan yang memicu air liur keluar dengan sendirinya.

Pohon durian tampak subur, segar, dan rimbun. Juga pohon mangga, lengkeng, jambu, dan belasan tanaman buah lain yang--kami mohon maaf-- tidak dapat disebutkan satu per satu. Pendek kata, kompleks dengan udara segar itu seperti perhiasan hati yang menyejukkan mata.

Kompleks itu kini disebut Agrowisata Pekalongan. Nama itu masih melekat di semua perangkat pengenal tempat. Termasuk di gerbang pintu masuk yang berada di Jalan Raya Metro--Sukadana, samping Pasar Pekalongan, Lampung Timur. Yakni, Agrowisata Pekalongan, Lampung Timur--BBI Hortikultura. Meskipun secara resmi nama balai itu sudah berganti menjadi Unit Produksi Bibit Buah (UPBB) Pekalongan. "Sekarang namanya bukan BBI lagi, tetapi UPBB (Unit Produksi Bibit Buah) Pekalongan. Tetapi, nama publish-nya atau sebutan populernya tetap agrowisata Pekalongan, begitu saja tidak apa-apa," kata Indra, Kepala UPBB Pekalongan, Sabtu (18-4) di lokasi.

Jika Anda berminat mengunjungi tempat ini, kami pandu perjalanan dari Bandar Lampung. Lokasi agrowisata yang menawarkan kesegaran alam dan ranumnya buah (tentu jika pas musim) ini sekitar 60 kilometer dari Bandar Lampung, ibu kota Provinsi Lampung ke arah utara.

Selepas Bandara Radin Inten II, Branti, di Kabupaten Lampung Selatan, perjalanan terus ke utara, segaris dengan jalinsum yang menembus Palembang, Medan, dan seterusnya. Namun, sesaat melintasi jembatan kembar di Tegineneng, Pesawaran, berbeloklah ke kanan menuju Kota Metro.

Sekitar 15 kilometer dari pertigaan yang terdapat tugu itu, Anda akan sampai ke Kota Metro, kota kecil yang tertata apik dengan alun-alun di sentra kota.

Perjalanan teruslah ke utara menuju Sukadana, Lampung Timur. Ada yang khas ketika hendak menginggalkan Taman Kota (alun-alun Kota Metro). Anda akan merasakan suasana kota peninggalan Belanda yang khas. Yakni, jajaran rapi pohon mahoni yang rata-rata seukuran pelukan dua orang dewasa tertata rapi di sisi kanan jalan. Ini akan mengantar Anda hingga memasuki batas wilayah Kabupaten Lampung Timur. Bahkan, masih terus ada hingga beberapa kilometer di wilayah bekas karesidenan itu.

Tidak terlalu jauh dari situ, keramaian pertama yang akan ditemui adalah Kecamatan Pekalongan. Di kecamatan ini, salah satu penanda yang cukup mencolok adalah pasar yang cukup ramai. Nah, di samping pasar atau setelah pasat itu, satu gerbang cukup besar dan megah, dengan dua patung gajah sebagai ikon di samping kanan-kiri, dan tulisan besar di atas, adalah jalan masuk ke Agrowisata Pekalongan.

Dari jalan raya itu, perjalanan sekitar tiga kilometer. Memasuki jalan beraspal tidak terlalu lebar ini, memang terasa suasan agro yang mencolok. Di kanan-kiri jalan, rumah-rumah begitu apresiatif terhadap lingkungan. Yakni, dengan menanam berbagai pohon buah dan penghijauan yang membuat segar lingkungan.

DI sepanjang jalan ini, puluhan nursery (toko tanaman buah dan bunga) yang merangkap penangkaran berbagai bibit seperti keharusan setiap rumah. Ya, banyak sekali. Berbagai bibit tanaman, bahkan pohon yang sudah jadi, siap dijajakan kepada pengunjung. Juga berbagai macam bunga, berbagai tanaman penghijauan, dan berbagai tanaman obat herbal. Tak usah ke hutan atau ke Papua untuk mendapatkan buah matoa, misalnya, cukuplah di Pekalongan.

Di dalam lokasi agrowisata, setelah melewati pintu penjagaan dengan karcis Rp2.000 per orang, pemandangan kebun buah intensif akan menyegarkan pandangan Anda. Sayang, saat Lampung Post berkunjung, Sabtu (18-4), bertepatan dengan musim paceklik buah. Tidak ada musim buah apa pun, kecuali jenis buah yang berbuah sepanjang tahun seperti belimbing, kesemek, dan lainnya. Kami sempat membayangkan, bagaimana segarnya jika saat musim rambutan tiba berbarengan dengan musim durian, kelengkeng, jeruk, dan lain-lain. Pasti, Anda ikut membayangkan, kan?

Meski tidak musim buah, Anda tidak perlu terlalu kecewa jika telanjur sampai di lokasi. Dari sela-sela barisan pohon-pohon durian yang subur di atas rumput hijau yang seperti permadani digelar, terlihat kilau air embung yang cukup jernih. Tidak terlalu luas memang. Posisinya yang memanjang dan dikerumuni pohon-pohon buah yang rimbun, dilingkari oleh jalan aspal, danau ini menjadi incaran para pemancing meskipun peruntukannya bukan untuk itu.

Kami yankinkan bahwa kolam luas itu bukan untuk mancing mania itu karena terdapat dua perahu angsa bertakhta di pinggir danau dengan gazebo sebagai penutupnya. Ya, tempat ini adalah untuk bertamasya anak-anak untuk bermain-main dengan perahu bebek itu mengitari luasnya embung.

Di setiap sisi danau, terdapat tempat-tempat duduk sederhana yang dibuat dari beton. Selain orang memancing, muda-mudi tampak "khidmat" menikmati romanstime masa remaja dengan paduan alam yang sejuk.

Indra, Kepala Agrowisata Pekalongan, mengatakan selain kebun yang berada di sekitar embung, di bagian utara terdapat kebun tiga hektare kelengkeng yang mulai berbuah. Juga satu hektare kebun jeruk yang diperkirakan bulan November 2009 ini bisa dipetik buahnya.

Mengenai buah-buah yang dihasilkan, Indra mengaku ingin mengembalikan masa pamor berkilaunya rambutan petik sendiri pada 1978. Ia berencana mengintensifkan hasil buah yang ada untuk kemudian menyajikan kepada pelancong untuk menikmati spektakulernya memetik buah sendiri dan langsung memakannya di bawah pohon.

"Pengalaman seperti itu memang bukan hal baru bagi orang yang tinggal di desa. Tetapi bagi orang yang tinggal di kota, saya yakin itu adalah pengalaman yang sangat berguna," kata dia.

Kapan "mimpi" itu bisa menjadi kenyataan? Indra mengatakan semua sedang berupaya menuju ke arah sana. "Kalau pas musim buah, pengunjung sudah bisa datang dan membeli dengan memetik sendiri. Tetapi itu belum menjadi konsep yang benar-benar matang. Sebab, untuk buah seperti durian, konsep seperti rambutan pada waktu itu, atau wisata apel di Malang, tidak bisa dilakukan. Mungkin, tahun depan kalau lengkeng dan jeruk kami sudah buah sempurna, kami bisa lakukan."

Untuk pembaca tahu, kebun ini adalah milik provinsi. Asal jangan jadi kebun pribadi para pejabat saja; musim buah, datang, pulang dengan bagasi mobil penuh! Jangan ya, Pak? n SUDARMONO

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 April 2009

April 16, 2009

Rupa: 5 Perempuan Gugat Demokrasi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lima srikandi perupa Lampung akan menggelar demonstrasi di Taman Budaya Lampung, Bandar Lampung, 21--27 April. Mereka mengusung 40 karya bertema Demokrasi Kre-ASI (akan sentuhan ibu).

Lima perempuan yang dimotori Mediaart itu terdiri dari Tince Johnson, Ina Yosuha, Ayu sasmita, Sisna Ningsih, dan Lila

Juru bicara kelompok ini, Tince Johnson, mengatakan kehadiran mereka memang ingin menggugat demokrasi. Kesetaraan, emansipasi, dan kesetaraan gender tak hanya bisa diperjuangkan melalui panggung politik. Peran perempuan bisa dioptimalkan melalui berbagai bidang. "Ranah kesenian bisa jadi salah satu alternatif untuk menyuarakan dan meningkatkan peran kaum perempuan," ujar perupa yang ikut pameran me-Rupa-kan Ampas Kopi, belum lama ini.

Tince menjelaskan dengan kepekaan perempuan (sentuhan ibu), para srikandi ini lewat karya-karya kreatifnya mencoba membicarakan dunia.

Ayu Sasmita yang sudah bergiat lama menggeluti dunia rupa mengatakan aksi ini yang benar-benar dia tunggu. "Kami juga ingin bicara seperti perupa laki-laki. Lewat bahasa rupa kami ingin menyodorkan gagasan dan menawarkan olahan kreatif dan kebebasan kami," ujar Ayu.

Kalau biasanya para perempuan pelukis hanya jadi pelengkap dan pemanis, kini saatnya unjuk gigi. "Kali ini pentas benar-benar milik kami. Inilah demokrasi dan kreasi yang kami tawarkan."

Rencananya kegiatan ini dibuka Ketua Umum DKL Hj. Syafariah Widianti.

Syafariah yang lebih dikenal dengan Atu Ayi mengatakan peristiwa pameran ini akan menambah lembar catatan sejarah jagad seni rupa Lampung.

Kelima pelukis perempuan ini, lanjut Atu Ayi, patut mendapat acungan jempol. Ternyata di tengah kesibukan domestiknya sebagai ibu rumah tangga, mereka bisa unjuk peran menumbuhkembangkan ranah seni rupa di Lampung.

"Gebrakan mereka berpameran sebagai salah satu wujud emansipasi kreatif. Ini merupakan bukti perjuangan dan keseriusan mereka dalam berkarya," kata dia.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Johnson Napitupulu menyambut gembira sekaligus menghargai atas prakarsa Mediaart memprakarsai pameran lukisan ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung M. Natsir Ari mengatakan peristiwa budaya seperti pameran lukisan Demokrasi Kre-ASI ini merupakan salah satu rangkaian acara pendukung Visit Lampung Year 2009.

Peristiwa ini, selain menunjukkan perkembangan seni rupa Lampung, juga dapat dijadikan salah satu pilihan untuk mengenal Lampung lebih dekat.

"Diharapkan ke depan Lampung juga bisa dikenal lewat dunia kesenian antara lain lewat ranah seni rupa," ujar M. Natsir Ari. n TRI/K-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 16 April 2009

April 15, 2009

Budaya: Festival Radin Jambat Diharapkan Tarik Minat

BLAMBANGAN UMPU (Lampost): Pemkab Way Kanan berharap Festival Radin Jambat menjadi momentum, khususnya bagi kalangan muda, untuk lebih mencintai seni dan budaya daerah tersebut.

"Itu sebabnya, salah satunya kenapa festival ini kita adakan setiap tahun dan ini merupakan yang ke-4," ujar Kepala Dinas Pariwisata, Seni Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Parsenibudpora) Way Kanan, Hasan Basri, Selasa (14-4).

Menurut dia, Festival Radin Jambat akan dibuka Bupati Way Kanan Tamanuri, Rabu (22-4), dan berlangsung selama sepekan. Festival ini akan diisi berbagai kegiatan/lomba termasuk yang mencerminkan budaya lokal seperti warahan. Dirjen Pemasaran Departemen Pariwisata direncanakan menghadiri pembukaan tersebut.

Hasan optimistis festival ini mampu mengajak kaum muda, minimal mengenal budaya daerahnya terutama setelah melihat antusias peserta pada festival ini yang cukup banyak. Upaya-upaya melestarikan budaya asli daerah sangat penting dilakukan terutama karena banyaknya budaya luar yang lebih menarik kaum muda.

Momentum hari ulang tahun Kabupaten Way Kanan akan sekaligus dimanfaatkan untuk pelaksanaan festival tersebut. Dalam festival ini Way Kanan juga akan memunculkan bualih, yakni kegiatan adat/khas Way Kanan yang hampir usang.

"Bualih merupakan tradisi masyarakat asli kami, warga secara ramai-ramai turun ke sungai atau lebung atau purus saat air mulai surut, memasuki musim kemarau," kata dia.

Dua kolam besar tengah disiapkan untuk acara tersebut. Bualih, sebuah tradisi yang melebur status sosial dalam keramaian dan kebahagiaan bersama. Semua pejabat, termasuk bupati, nanti turut dalam acara ini.

Penangkapan ikan tersebut tanpa menggunakan alat modern. Lumpur kolam juga akan dipenuhi sebatas lutut sehingga akan tampak meriah. Menurut dia, selain bualih, juga akan digelar lomba aruhan atau warahan Raden Jambat.

Salah satu sastra tutur Lampung Way Kanan yang sangat terkenal, tapi penuturnya sudah sangat langka. "Kami akan gali semua tradisi karena ini adalah kekayaan daerah. Aruhan ini nanti diikuti semua masyarakat sifatnya terbuka dan nanti kami menggelar lomba menulis sejarah Raden Jambat. Kami mau lihat sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang Raden Jambat," ujarnya. n HES/R-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 15 April 2009

April 13, 2009

Opini: 'Enclave' dalam Peta Bahasa Lampung

Oleh Febrie Hastiyanto*

KATEGORI masyarakat adat secara etnologi sering ditandai dengan penggunaan bahasa daerah yang sama. Dengan demikian, suku bangsa Lampung dapat dimaknai sebagai kelompok suku bangsa yang menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa ibu.

Mereka disebut "orang Lampung", meskipun ada usaha-usaha dari sejumlah warga Lampung memopulerkan sebutan "ulun Lampung" maupun "tian Lampung" untuk menyebut orang Lampung.

Secara adat, penduduk yang termasuk masyarakat kebudayaan Lampung tidak terbatas pada penduduk yang tinggal di wilayah administratif Provinsi Lampung kini, tapi juga termasuk masyarakat yang bermukim di daerah Danau Ranau, Muaradua, Komering, hingga Kayuagung di Sumatera Selatan.

Dilihat secara genealogi, bahasa Lampung termasuk cabang bahasa Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat. Dengan demikian, bahasa Lampung masih berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Bali, maupun bahasa Melayu.

Seperti halnya bahasa Jawa yang terdiri dari sejumlah strata, bahasa Lampung juga terdiri dari tingkatan-tingkatan yang dibedakan menjadi dua. Pertama, bahasa Perwatin: ragam bahasa yang baku, dan umumnya dituturkan di lingkungan adat dan terhadap orang yang dituakan atau dihormati. Kedua, bahasa Merwatin adalah ragam bahasa sehari-hari, tak baku atau pasaran yang biasa digunakan sehari-hari yang dalam perkembangannya banyak dipengaruhi bahasa lain (Natakembahang, 2009).

Masyarakat adat Lampung dibedakan dalam dua kekerabatan adat besar, Saibatin dan Pepadun. Bahasa yang digunakan masyarakat pun memiliki dialek berbeda pada adat masing-masing.

Dr. Van Royen mengklasifikasikan bahasa Lampung dalam dua dialek, yaitu dialek api dalam logat Belalau, Krui, Melinting-Maringgai, Way Kanan, Pubian, Sungkai, Kayu Agung dan Jelma Daya, serta dialek nyow dalam logat Abung dan Menggala.

Berdasar pada peta adat, bahasa Lampung memiliki dua dialek dan dipergunakan masyarakat adat yang berbeda. Pertama, dialek A (api) yang dituturkan masyarakat adat Melinting-Maringgai, Pesisir Rajabasa, Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, Belalau dan Ranau, Komering, serta Kayuagung. Mereka beradat Saibatin.

Dialek api juga dituturkan masyarakat adat Waykanan, Sungkai, dan Pubian yang beradat Pepadun. Kedua, dialek O (nyow) yang dituturkan masyarakat adat Abung dan Menggala/Tulangbawang yang beradat Pepadun.

Selain penutur Bahasa Lampung, di Lampung juga terdapat masyarakat penutur bahasa ibu selain bahasa Lampung. Sebelum terjadi migrasi melalui transmigrasi yang mendatangkan masyarakat beradat dan berbahasa Jawa, Sunda, dan Bali, di Lampung juga terdapat sejumlah marga yang beradat dan berbahasa Semendo dan Ogan, di antaranya marga Rebang Pugung di Talang Padang, marga Rebang Kasui di Kasui, marga Rebang Seputih di Tanjungraya, marga Way Tenong di Way Tenong (beradat dan berbahasa Semendo), serta marga Way Tuba di Bahuga yang beradat dan berbahasa Ogan (dalam Marga Regering Voor de Lampungche Districthen, 1928).

Ada beberapa hal yang perlu dicatat dari peta bahasa Lampung. Pertama, peta bahasa tidak selalu mencerminkan wilayah adat. Jadi, jika selama ini suku bangsa Lampung dibedakan dalam adat Saibatin dan disebut berbahasa Lampung dialek api dan masyarakat adat Pepadun berdialek O, kategorisasi ini masih belum sepenuhnya tepat.

Sebab, sebagian masyarakat beradat Pepadun juga berdialek api: Masyarakat Way Kanan, Sungkai, dan Pubian. Hal ini terhitung menarik dikaji, karena menurut teori etnografi, masyarakat adat sering ditengarai dari penggunaan bahasa ibu yang sama. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat adat Pepadun karena dalam masyarakat adat ini mempergunakan dua dialek berbeda.

Kedua, peta bahasa Lampung tidak dapat disederhanakan berdasar pada peta geografi Provinsi Lampung kini secara ketat. Masyarakat adat Lampung bermukim secara menyebar, berselang-seling, dan membentuk kantong-kantong (enclave) adat dan bahasa. Kita tidak dapat mengategorikan masyarakat adat Kota Bandar Lampung beradat apa, maupun menggunakan dialek apa sebagai kesatuan adat yang tunggal.

Masyarakat adat di Telukbetung Barat, Telukbetung Selatan, Telukbetung Utara, Panjang, Kemiling, dan Rajabasa, misalnya, beradat Saibatin dan menggunakan bahasa dialek api (logat Belalau), masyarakat adat di Kecamatan Kedaton, Sukarame, dan Tanjungkarang Barat beradat Pepadun dan berbahasa dialek api (logat Pubian), sedang masyarat adat di Gedongmeneng dan Labuhan Ratu menggunakan bahasa dialek nyow (logat Abung) dan beradat Pepadun. Bahasa Lampung dialek api logat Belalau juga digunakan di sebagian wilayah Lampung Barat, Lampung Selatan, Tanggamus, dan pesisir utara Banten.

Masyarakat penutur dialek api logat Belalau membentuk enclave di sejumlah wilayah, berdampingan dengan masyarakat adat lain yang juga membentuk enclave adat dan bahasa di seantero Lampung.

* Febrie Hastiyanto, Alumnus Sosiologi FISIP UNS. Menulis naskah Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Studi Etnografi Kebuayan Way Kanan Lampung.

Sumber: Lampung Post, Senin, 13 April 2009

Apresiasi: 'Mejong Ilat', Sebuah Nilai Tradisi

Oleh Oky Sanjaya*

MASYARAKAT Lampung sedang mengalami krisis identitas terutama perilaku masyarakat marganya. Seiring globalisasi, nilai-nilai budaya juga mengalami penyusutan , semula merupakan nilai-nilai sakral, kini mengarah ke nilai kepentingan kelompok tertentu. Hal tersebut diperparah dengan kurangnya pemahaman masyarakat marga terhadap marganya sendiri, tanpa terkecuali mereka yang berada di dalam sistem marga tersebut.

Kurangnya pemahaman tersebut diakibatkan sebagian dari punyimbang adat tidak tinggal lagi di tempat tegaknya kepunyimbangan adatnya. Akibatnya, pewarisan nilai-nilai luhur yang seharusnya diberikan (diberi pendidikan budaya) kepada anak keturunannya mengalami perubahan nilai sebab anak tidak lagi menjadi pelaku budaya tetapi jauh dari budayanya.

Lingkungan menyebabkan sang anak jadi orang lain atau orang Lampung yang tidak Lampung. Meski sebenarnya proses tersebut dapat diatasi asalkan ada kalanya anak diajak bersentuhan langsung dengan budaya leluhurnya, yang terjadi sebaliknya, sebagian besar anak-anak dari para punyimbang tidak bisa berbahasa Lampung. Hal tersebut juga bisa terjadi sebagai akibat dari komunikasi kultural dan atau komunikasi bahasa yang tidak membumi di lingkungan keluarga. Selain itu juga, Kota Bandar Lampung, yang seharusnya menjadi proyek percontohan bagi kabupaten dan kota provinsi lainnya, tidak menunjukkan adanya komunikasi kultural terutama di pemerintah kota, di lingkungan pendidikan, dan di pasar, yang seharusnya menjadi tempat terjadinya lahan yang cukup baik untuk pembibitan Bahasa Lampung secara profesional.

Namun demikian, upaya pemerintah daerah untuk memperkenalkan budaya Lampung dengan jalan pariwisata tetap perlu mendapat perhatian. Perhatian tersebut berpusat pada masyarakat Lampung sendiri. Lampung sebagai daerah yang multietnis, selayaknya dinilai sebagai satu bumi dihuni oleh dua nilai budaya; budaya Lampung dan budaya pendatang, dan budaya pendatang mengalami trasformasi budaya ke-Lampung-an itu sendiri sehingga menghasilkan nilai budaya yang padu.

Sebagai sebuah nilai budaya yang padu, masyarakat Lampung adalah "masyarakat terpengaruh" oleh penyebab-penyebab perubahan nilai budaya terutama di bidang ekonomi. Dari bidang ekonomi penyebab-penyebab perubahan merambah ke bidang sosial, agama, pendidikan, dan lain-lain. Keterkaitan bidang sosial dan ekonomi misalnya dapat kita lihat pada beberapa pasar tradisional yang ada di Lampung, sebagai contoh pasar kuncoro yang ada di Desa Kuncoro, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung, di mana interaksi bahasa (orang Lampung terpaksa menggunakan bahasa Jawa [yang pada akhirnya terbiasa]) terjadi. Pemicu utama karena rasa saling membutuhkan antara kedua masyarakat yang berbeda meski sering terjadi penyimpangan sosial antara keduanya.

Perilaku sosial ekonomi masyarakat kadang mengalami kesenjangan terhadap perilaku budaya yang beragam. Yang akhirnya timbul saling tak ingin mempelajari budaya di daerah multietnis ini sehingga identitas budaya pribumi pun terabaikan apalagi bila kita mengingat pendapat Anton Kurniawan, penyair Lampung, "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tidak berlaku bagi orang Jawa," yang disampaikan pada FGD (focus group discussion) tentang pengawetan bahasa Lampung yang diadakan Lampung Post bekerja sama dengan Kantor Bahasa beberapa waktu lalu di Kantor Bahasa (dalam hal ini, pemerintah, sebagai pihak tergugat tidak hadir). Pendapat ini memberikan kesan kepada kita enggannya "ulun Lampung" meresapi nilai spiritual Lampung .

Marga Semuong adalah salah satu contoh marga yang mulai kehilangan nilai-nilai luhur budayanya, seperti yang dikatakan secara tersirat oleh Tamong Hasbulloh yang tinggal di Pekon Raja Basa, Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Kabupaten Tanggamus, Lampung, sekitar 4 jam perjalanan dari Bandar Lampung, sanak tano, anak sekarang, begitu dia melanjutkan pembicaraan kami setelah menceritakan beberapa tata adat yang jarang digunakan lagi (terutama ngebabarau dan dadi).

"Bacak tan joget jak haga bulajar dadi, ngebabarau, ngias, tari kipas, nasib, rik ngenal adat rik pakayan kak ketatang wat gawi (mereka lebih suka joget daripada belajar dadi, ngebabarau, ngias, tari kipas, nasib, dan mengenal adat dan pakaian ketika akan diadakan nayuh/pesta adat perkawinan, yang secara keseluruhan merupakan ziarah dan introspeksi perilaku keseharian masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya musyawarah, gotong royong, dan pendidikan khususnya bagi muli-mekhanai (pemudi-pemuda) Lampung.

Dadi, ngebabarau, ngias, dan sebagainya, merupakan sastra lisan Lampung yang perlu mendapat perhatian di daerah ini terutama dari pemerintah daerah; menyadarkan masyarakat Marga Semuong untuk melestarikan budayanya. Dan mengingatkan mereka pada kejayaan nilai-nilai luhur yang pernah ada di daerah ini, dalam garis kesakralan yang juga perlu dibicarakan bersama antara pemerintahan daerah dan para tokoh adat.

Sebagai pelaku budaya di daerah ini, Tamong Hasbulloh, pun perlu mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Tanggung Jawab 'Mekhanai'

Ilat dalam Bahasa Lampung merupakan bahasa khusus yang digunakan untuk mengatakan apai (tikar); belum diketahui secara pasti asal kata tersebut. Kekhususan tersebut disebabkan ilat sebagai simbol kehormatan masyarakat saibatin tertentu yang diemban oleh seorang mekhanai (bujang) terpilih dari masyarakat saibatin itu, biasanya mekhanai yang paham dengan adat dalam marganya (catatan: di daerah Lampung Semaka, marga terdiri dari beberapa masyarakat Saibatin yang dipimpin oleh seorang pengiran).

Konsekuensi dari gagalnya menjaga ilat; ilat diduduki oleh mekhanai dari masyarakat saibatin lain, adalah hilangnya ke-Saibatin-an masyarakat itu. Selain itu juga meranai tersebut dilarang masuk ke masyarakatnya sampai cakak pepadun terjadi; yaitu pemulihan kedudukan masyarakat Saibatin itu terhadap masyarakat Saibatin lain. Cakak pupadun dilaksanakan dengan resepsi pemotongan kerbau.

Mejong ilat dilaksanakan pada malam pangan yaitu hari ke-7 dari pelaksanaan adat perkawinan. Acara diawali dengan mengan pelambaran (makan bersama dengan duduk saling berhadapan) antara muli-mekhanai baya dengan muli-mekhanai jebus (muli-mekhanai di luar masyarakat Saibatin Nayuh namun masih dalam rumpun masyarakat marganya sebab ada juga muli-mekhanai jebus selang semitang yaitu muli-mekhanai bukan dalam rumpun marganya) yang dimulai dengan ngebabarau terlebih dahulu oleh perwakilan mekhanai baya.

Kemudian dengan selang waktu yang cukup dari selesainya mengan pelambaran, dilanjutkan dengan meranai baya baca dadi (�bujang saifulhajad�membaca dadi) secara bergantian sampai pada meranai jebus urutan terakhir saibatin marga. Dalam masyarakat Lampung Semaka (masyarakat yang terdiri dari beberapa marga), cacak ilat atau pembacaan dadi urutannya adalah sebagai berikut: a. mekhanai Padang Ratu, 2. mekhanai Kunyayan, 3. mekhanai Way Kerap, 4. mekhanai Raja Basa, 5. mekhanai Sanggi, 6. mekhanai Padang Manis, 7. mekhanai Negeri Ngarip, 8. mekhanai Suka Bandung, 9. mekhanai Bandar Suka Bumi, 10. mekhanai Penanggungan, 11. mekhanai Raja Basa Lupak, 12. mekhanai Gunung Doh, 14. mekhanai Gunung Aji, 14. mekhanai Raja Basa Lama. Setelah selesai cacak ilat, selanjutnya memperbolehkan mekhanai jebus selang semitang masuk, dan dadi pun dilanjutkan kembali. Acara tersebut dimulai 19.00 WIB sampai 04.00 WIB. Kemudian pagi pangan (08.00) mulai ngias, dst.

Ada yang menarik untuk kita ketahui berkaitan urutan cacak ilat yang terus dilakukan sampai akhirnya punah ditahun 1985-an (ini didasarkan perkiraan penulis terhadap beberapa informasi) bahwa setiap pekon (kampung) memiliki rumpun adat yang meninjau asal dan perserikatan adat. Dari setiap pekon diklasifikasikan ke dalam rumpun adat rumpun adat yang selanjutnya penulis sebut sementara sebagai marga dilihat dari kesamaan dan keyakinan masyarakat dari asal mereka. Marga tersebut meliputi: 1. Marga Padang Ratu terdiri dari Pekon Padang Ratu, 2. Marga Suoh terdiri dari pekon Way Kerap, Pekon Padang Manis, Pekon Suka Bandung, dan Pekon Bandar Suka Bumi, 3. Marga Semuong terdiri dari, Pekon Raja Basa, Pekon Sanggi, Pekon Penanggungan, Pekon Raja Basa Lupak, Pekon Gunung Doh, Pekon Gunung Aji, dan Pekon Raja Basa Lama (sebagai catatan pekon yang dimaksud di sini adalah kampung yang tidak dilihat secara administratif negara melainkan garis asal.

Perlu perhatian.

* Oky Sanjaya, penyair, bergiat di Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 April 2009

April 9, 2009

Pariwisata: TIC Belum Bisa Optimal

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tourism Information Centre (TIC) Lampung belum bisa digunakan secara optimal. TIC yang dibangun dalam rangka menyukseskan Visit Lampung Year (VLY) 2009 belum digunakan secara optimal. Saat ini informasi tentang pariwisata Lampung masih mengandalkan leaflet.

Sekretaris Komite Pariwisata Lampung, Citra Persada, mengatakan TIC seharusnya menjadi pusat informasi tentang pariwisata di Lampung. Namun, sangat disayangkan pusat informasi digital itu belum diisi oleh pemerintah kabupaten/kota dengan data-data terbaru dan valid. Sehingga, portal VLY 2009 hanya berisi leaflet-leaflet lama. Sedangkan, data-data penting tentang lokasi, jumlah penginapan, restoran, dan fasilitas umum lainnya di daerah belum ada.

"Padahal, informasi ini sangat penting bagi para pengunjung," kata Citra di Lampung Post, Rabu (8-4).

Dalam waktu dekat ini, TIC akan diisi dengan mapping wisata Lampung yang menjelaskan secara perinci tentang jumlah fasilitas umum, serta jarak setiap fasilitas yang ada. Mapping yang diambil dari portal Google itu dikembangkan oleh dosen Unila Anshori Djausal. Selanjutnya akan di-update di TIC sebagai sumber informasi bagi para pengunjung pariwisata Lampung.

"Mapping itu menjelaskan tentang jalur-jalur pariwisata Lampung, ada jalur barat dan timur. Nah, tidak semua jalur harus ditempuh pengunjung, mereka bisa memilih jalur yang aman dengan ketersediaan fasilitas dalam jarak yang cukup dekat, baik SPBU, hotel, restoran, dan minimarketnya. Dengan begitu, perjalanan lebih aman dan nyaman," kata Citra.

Menurut Citra, pengaksesan TIC akan lebih optimal apabila pemerintah menyediakan area khusus bagi masyarakat untuk bebas berinternet. Misalnya dengan membuat hotspot di sekitar Pasar Seni dan Enggal, Bandar Lampung. Dengan begitu, perajin dan seniman Lampung pun bisa memperluas jaringan dan mempromosikan karya-karya mereka. Sementara masyarakat di sekitar lokasi juga bisa mengakses internet dengan gratis.

"Public space akan semakin kuat dengan hotspot ini. Image Enggal yang selama ini negatif bisa berubah dengan sendirinya karena pelajar, mahasiswa, dan karyawan akan meramaikan lokasi Enggal itu," kata dia.

Menurut Citra, pihaknya sudah bekerja sama dengan pihak Telkomsel untuk menjadikan Enggal dan Pasar Seni sebagai taman digital Lampung, tentunya dengan mengoptimalkan fungsi TIC Lampung. Dia berharap semua pihak mendukung realisasi taman digital ini. n RIN/K-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 9 April 2009

April 6, 2009

Opini: Mitologi dalam Sejarah (Budaya) Lampung

Oleh Febrie Hastiyanto*

KETIKA melakukan riset mengenai etnografi kebuayan Way Kanan, naskahnya kini dikirimkan kepada Bupati Way Kanan dengan harapan dapat diterbitkan untuk meminimalkan kelangkaan pustaka etnografi Way Kanan.

Saya mendapati sejumlah realitas yang menarik untuk didiskusikan. Utamanya, banyak mitologi yang bersumber pada tradisi cerita tutur (dalam masyarakat Lampung dikenal sebagai warahan atau aruhan) dijadikan sumber penulisan sejarah (budaya) Lampung.

Celakanya, mitologi ini kemudian diyakini sebagai fakta sejarah dan dikutip secara luas dalam penulisan sejarah (budaya) sesudahnya tanpa usaha untuk mendiskusikannya secara kritis.

Hampir diyakini seluruh masyarakat adat Lampung bahwa asal-usul ulun Lampung, ada yang menyebut tian Lampung berasal dari Kerajaan Sekala Brak di Lampung Barat. Rekonstruksi Prof. Hilman Hadikusuma, pakar hukum adat Lampung, dianggap sebagai yang terbaik untuk menjelaskan Sekala Brak dan telah diterima luas sebagai fakta sejarah.

Kerajaan Sekala Brak diduga telah ada sejak abad ke-3 Masehi (Marsdn, 1779), dan pertama kali didiami Sukubangsa, ada yang menyebut Buay'Tumi. Beberapa saat kemudian terjadi migrasi dari Sekala Brak, terutama setelah kedatangan empat umpu dari Pagaruyung, yakni Inder Gajar bergelar Umpu Lapah di Way, Pak Lang bergelar Umpu Pernong, Sikin bergelar Umpu Nyerupa, Belunguh yang bergelar Umpu Belunguh, dan seorang putri Indarwati bergelar Puteri Bulan.

Kelima umpu ini kemudian melahirkan lima buay, yang kemudian berkembang menjadi sembilan kebuayan dilambangkan dalam tajuk siger, berkembang lagi menjadi 84 marga sejak 1928 oleh Pemerintah Kolonial Belanda, dan tumbuh menjadi ratusan jurai atau tiyuh.

Prof. Hilman merekonstruksi berdasar pada mitologi dan kitab Kuntara Raja Niti, babad hukum adat yang diakui seluruh penyimbang dan saibatin di Lampung.

Soal Sekala Brak telah ada sejak abad ke-3 misalnya, merupakan tesis yang terbilang "berani" mengingat masyarakat sejarawan Indonesia masih percaya kerajaan tertua di Indonesia, dan dimulainya periode sejarah adalah Kutai di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa Barat.

Kedua kerajaan ini berdasar pada pada bukti prasasti telah ada sejak abad ke-4 M. Isi prasasti itu pun umumnya singkat saja: Bahwa daerah ini dikuasai Raja Mulawarman dan Purnawarman yang sakti, berwibawa, dan seterusnya.

Saya khawatir dugaan bahwa Kerajaan Sekala Brak telah ada sejak abad ke-3 M lebih karena ingin "melebih-tuakan" Sekala Brak dibanding dengan kerajaan-kerajaan yang telah disebutkan di muka. Apalagi, berbeda dengan Tulangbawang dan Sekampung yang keberadaannya dibuktikan dari berita China, Kerajaan Sekala Brak dibuktikan nyaris hanya berdasar pada klaim.

Berita China atau laporan perjalanan Tome Pires yang banyak dijadikan referensi dalam sejarah kota-kota di Indonesia tidak menyebut nama Sekala Brak. Bila Tulangbawang dan Sekampung saja masih kesulitan dibuktikan melalui peninggalan arkeologis, Sekala Brak idem ditto.

Lalu, mengapa mitologi ini tampaknya telah disepakati sebagai fakta sejarah? Mungkin, sebagian dari kita terpengaruh pada kajian Prof. Hilman, seorang yang diterima luas sebagai pakar hukum adat Lampung.

Bila Prof. Hilman merintis etnografi Lampung sejak akhir 1970-an hingga awal 1980-an, sudah selayaknya data-data riset Prof. Hilman mestinya berkembang dengan temuan, gugatan, penguatan atau fakta-fakta baru. Bila hal ini tidak terjadi, sejatinya telah terjadi stagnasi dalam ilmu etnologi Lampung.

Silsilah Lampung

Kemudian silsilah asal-usul orang Lampung yang berhasil direkonstruksi secara sistematis dan detail semenjak kedatangan umpu dari Pagaruyung. Lengkapnya informasi mengenai asal-usul orang Lampung justru membuat saya khawatir belum optimal melakukan telaah serta kritik intern dan ekstern terhadap metodologi penulisan sejarah (budaya).

Sejarah asal usul orang Lampung banyak bersumber dari Kuntara Raja Niti dan tambo dari Pagaruyung yang diduga ditulis pada abad ke-17 atau ke-18. Menarik, karena referensi yang ditulis pada abad ke-17 mampu menjelaskan secara teperinci peristiwa-peristiwa beberapa abad sebelumnya.

Sumber sejarah Majapahit misalnya, banyak bertumpu pada Negarakertagama yang ditulis pada masa Hayam Wuruk, masih satu masa dalam kejayaan Majapahit. Negarakertagama dipercaya sebagai sumber yang relatif akurat, terutama karena ditulis pada zaman Majapahit masih berdiri.

Namun sumber lain, Pararaton menulis kisah mengenai Jawa (Singasari dan Majapahit) secara lebih detail bahkan sejak periode abad ke-12 hingga ke-16. Karena demikian detail dibanding dengan Negarakertagama justru Pararaton dikaji secara teliti. Apalagi setelah Pararaton diketahui ditulis abad ke-17, tiga abad setelah Majapahit runtuh.

Seperti halnya babad (Jawa, Bali), tambo (Minangkabau), hikayat atau silsilah (Melayu, Malaysia, Kalimantan) atau lontara (Makassar), Kuntara Raja Niti juga menulis fiksi dan fakta yang sulit dibedakan.

Kuntara Raja Niti menyebutkan dirinya digunakan tiga kerajaan: Majapahit, Sunda, dan Lampung. Dari kritik ekstern metodologi saja, sumber Kuntara Raja Niti ini tidak akurat. Pada abad ke-17 Majapahit bahkan tak ditemui lagi setelah digusur Kediri dan Demak.

Meluruskan Sejarah

Dan yang paling penting, Kuntara Raja Niti tak dikenal dalam tradisi hukum Majapahit karena kerajaan ini memiliki kodifikasi hukum yang disebut sebagai Kutaramanawa.

Kodifikasi Kuntara Raja Niti banyak bersumber pada hukum Islam, berbeda dengan Majapahit yang mendasarkannya pada agama Siwa, Hindu dan Budda. Jadi, besar dugaan Kuntara Raja Niti adalah saduran dari Kutaramanawa yang berlaku di Majapahit lima abad sebelumnya.

Sudah saatnya komunitas sejarawan, antropolog, arkeolog, sosiolog mengkaji-ulang metodologi penulisan sejarah (budaya) Lampung. Kajian lebih mendalam ini bukan berarti menegasikan riset yang telah dilakukan lebih dahulu.

Mengkaji sejarah (budaya) Lampung adalah tanggung jawab akademik intelektual dalam dinamika ilmu pengetahuan sebagai pengabdian kepada masyarakat (budaya) Lampung. Tabik.

* Febrie Hastiyanto, Alumnus Sosiologi FISIP UNS. Menulis naskah Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Studi Etnografi Kebuayan Way Kanan Lampung.

Sumber: Lampung Post, Senin, 6 April 2009

April 5, 2009

Apresiasi: Yurisdiksi Estetik Puisi Jimmy

Oleh Asarpin*

Jimmy Maruli Alfian adalah sisi lain dari para penyair lirik yang mukim di Lampung. Bisa jadi, Jimmy antipoda puisi lirik sekaligus puisi dramatik.

Syahdan, di sebuah negeri yang sedang dijiwai oleh puisi, telah lahir seorang sultan terakhir dari kebimbangan Hamlet. Si sultan itu ternyata adalah salah seorang penyair lirik sekaligus pemain drama, yang namanya sudah mulai akrab di telinga para pencinta sastra. Baru-baru ini ia menerbitkan himpunan sajaknya, yang juga memuat dua buah puisi yang bicara tentang Ophelia dan Hamlet.

Penyair muda itu konon gemar pada labirin sekaligus pada yang feminin. Karena puisi-puisi labirin dan femininnya mencoba menyuarakan dunia puan, sementara ia sendiri sang tuan, maka dengarkan pengakuan Jimmy Maruli Alfian ini: "Puan, aku tumbuh di tengah retakan/berulang kali kehilangan akar/sebatang kara antara ladang cinta/dan belantara kata-kata". Sajak Tamsil Damar Batu itu ternyata mengandung monolog batin, tapi sayang masih nenes, kenes, dan cengeng.

Berkatalah Hamlet kepada Ophelia dalam sajak Jimmy: "Ophelia, suatu saat kau merupa sarang laba-laba, memintal benang-benang kabut, lalu mengharamkan tubuhku larut, dalam perangkap tangan-tanganmu yang lembut". Ophelia menjawab: "Kekasihku Hamlet, seharusnya kau tidak lupa mematikan lampu saat hendak tidur, agar berahiku tak terlihat, yang membenamkanmu ke dalam jerat".

Apa cuma Ophelia yang punya berahi? Apa dalam kalimat-kalimat itu terjadi dialog atau monolog? Tak mudah menjawabnya. Aktor dan produser ternama Rusia, Stanislavski, sempat juga kewalahan menjelaskan secarik kalimat yang menyerupai puisi dalam naskah Shakespeare saat bicara tentang sifat solilokui di atas panggung.

Kalimat "dipegangnya pergelangan tanganku dengan erat/Lalu undur sejauh jarak lengannya/Dan dengan tangan yang lain di keningnya....", bagi Stanislavski menghadirkan pertanyaan: "apa dalam kalimat-kalimat ini dapat kalian rasakan hubungan tanpa kata-kata antara Hamlet dan Ophelia? Apakah dalam keadaan seperti itu pernah kalian alami sesuatu yang mengalir dari diri kalian, suatu arus yang datang dari mata, dari ujung jari atau yang keluar melewati pori-pori kalian?"

Jika aku diminta mengaitkan Hamlet dan Stanislavski agak panjang di sini, itu karena dalam sajak-sajak Jimmy ada gerak lakon yang diilhami oleh kedua dramawan ternama itu. Sajak Jimmy berjudul Rencana Seorang Aktor tentu bisa ditafsirkan memiliki hubungan dengan buku Persiapan Seorang Aktor, tapi bisa juga tidak. Hamlet dan Ophelia dalam sajak Jimmy memiliki persenyawaan dengan Hamlet dan Ophelia dalam drama; bisa juga tidak.

***

Dialog dan monolog memiliki banyak ruang dalam sajak-sajak Jimmy. Ketika acara peluncuran bukunya di UKMBS Unila beberapa waktu lalu, saya sempat mengajukan pengamatan tentang sajak-sajak Jimmy yang sebagian menyerupai dialog-dialog tak ubahnya dalam naskah teater. Jimmy bilang: itu wajar mengingat dia sendiri seorang yang terlibat dalam dunia teater, khususnya di Komunitas Berkat Yakin. Pengalaman Jimmy bergelut di jagad teater ternyata ikut memperkaya pengucapan sajak-sajaknya.

Syahdan, seorang aktor sedang berjalan pelan mengitari panggung pertunjukan outdoor, menuju ufuk lembut. Katanya, di sana tampak sekali matahari, memberat pada kedua matamu, seolah kau ingin melata, dari satu ufuk ke ufuk lain tubuhku (sajak Saat Sakit). Tapi matahari tak akan pernah lagi menitipkan cahaya hingga renyai yang setiap senja menghampiri kita (Rencana Seorang Aktor).

Begitulah yang dibayangkan ufuk dari pagi kemarin yang berpijar kembali kini. Makin lama kata-katanya tampak bersayap kupu-kupu yang hanya bisa betah di cuaca.

Kalimat-kalimatnya yang lembayung, yang tangkas bermain dalam dua aras tematis, gelap dan gumun, cerita dan drama, dialog dan monolog, bagikan kisah jukung tanpa arah tujuan karena telah kehilangan ufuk. Pertemuan ufuk yang gelap dan gumun, prosa dan pantun, dengan nada dasar yang kadang mendendangkan keparauan, juga kerisauan, juga ketidakpastian.

Kata-katanya seperti memiliki ekor yang bisa dipegang, bersosok, dan berbentuk--bagaikan sebuah adegan--gerak. Tak urung, Jimmy mengingatkan saya pada satu kalimat Nietzsche: "Penyair lirik adalah yang paling lama membaur dengan musisi, aktor dengan penari".

Ritme dan komposisi sajaknya tampak tertata dengan rapi. Ada warna yang berkilau embun, seni rupa kurva dan musik lirih. Aku lirik seorang yang muram, luka, duka, dan maut, dengan kalimat yang memberat oleh cerita.

***

Jimmy memang penyair yang gemar bercerita, kadang secara gamblang, kadang dengan mendadak mengejutkan oleh karena kehadiran bahana yang tiba-tiba. Dengan gaya bercerita, dengan bentuk yang menyerupai drama, sajak-sajak Jimmy hendak memenuhi tantangan lama, bahwa kisah-kisah, drama-drama, bisa menjelma masyarakat yang hidup tanpa ikatan kenyataan. Sebab, seperti pernah dituturkan Afrizal Malna, dunia kisah-kisah adalah sebuah kriminalitas dalam ingatan seorang penyair masa lampau. Maka kesusastraan kisah-kisah adalah sebuah dunia berbahaya karena ia bisa beroposisi terhadap realitas, dengan mengubahnya jadi cerita-cerita.

Untuk menegaskan bahwa puisi sebagai kisah-kisah, Jimmy memasukkan kalimat-kalimat berkisah, bahkan muncul kata syahdan sebanyak dua kali dalam buku ini (sajak Lomba Domba dan Dayang Rindu). Sebagai cerita-cerita, puisi Jimmy menjadikan yang purba bukan sebagai masa lampau, tapi justru yang menyekarang.

Sebuah kisah, sebuah tuturan, (di)hadir(kan) bukan karena disebabkan abskuritas penyairnya, melainkan karena mengaburnya posisi aku lirik dalam sajak-sajaknya. Beberapa sajak Jimmy tampak menyisakan pengucapan puisi emosi, puisi ide atau puisi suasana, dengan gaya romantik banal. Ada pertemuan lirik dan mitos, yang menghasilkan gaya penokohan, seperti munculnya tokoh Maria, Fatima, Sulaiman, dll.,

yang mengingatkan pada Patima atau Maria Zaitun dalam balada-balada Rendra.

Jimmy berusaha menggapai puncak pengalaman kreatif lewat puisi dan dramaturgi. Saya tak terlampau akrab dengan sajak-sajak Jimmy, namun ketika membaca 49 sajak dalam Puan Kecubung--judul unik yang tidak diambil dari salah satu sajak sebagaimana umumnya buku kumpulan sajak--saya baru sadar bahwa Jimmy penyair yang menyimpan bakat. Ada banyak kosakata yang asing--dalam arti yang masih jarang digunakan. Saya kira inilah salah satu kelebihan Jimmy dari penyair Lampung yang lain.

***

Penyair kelahiran 1980 ini adalah sisi lain dari para penyair lirik yang mukim di Lampung. Bisa jadi Jimmy adalah antipoda puisi lirik sekaligus puisi dramatik. Puisi liriknya ternyata sebuah migrasi dari dunia konvensi ke sumber-sumber realitas terdalam, dengan bahasa yang kadang terasa sugestif dan pasif.

Dari segi stilistika, tak ada yang mengejutkan dalam sajak-sajak Jimmy. Tak ada kamuflase atau suspens, atau yang baru, karena sebagian besar sajaknya berangkat dari metafora yang menggelorakan imaji melalui pertemuan pantun dan mantra, drama purba, dan lirik tua.

Dalam sajak-sajak Jimmy terdapat enigma, pilihan kata, pilihan tema, dan logat daerah (Lampung) dihadirkan dengan jujur di dalam penciptaan sajak-sajaknya. Seandainya hukum diksi puisi memang ada, dan berlaku pula dalam telisik ini, maka Jimmy patut disebut penyair muda yang memiliki talenta dalam jurisdiksi penciptaan. Puisi Jimmy, dengan demikian, mampu mengekspresikan dunia yurisdiksi estetiknya sendiri, tanpa mendurhaka pada kata dan makna.

* Asarpin, pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 5 April 2009