April 21, 2009

Opini: Fenomena Sastra(wan) Lampung

Oleh Asarpin


BICARA soal sastra Lampung adalah bicara soal sastra lisan. Sebagian besar sastra Lampung masih dalam bentuk lisan. Jika kita hendak memahami fenomena sastra Lampung dengan baik, semestinya berangkat dari sastra lisan yang ada. Sayangnya, beberapa pemerhati sastra dan budaya di Lampung selama ini tidak dibekali pemahaman yang baik tentang lokalitas dan subkultur sehingga apa saja ingin didesakkan sebagai tradisi.

Fauzi Nurdin dalam buku barunya tentang muakhi (saudara) dalam masyarakat adat Lampung yang dipuji-puji Firdaus Muhammad tanpa pemahaman apa sesungguhnya muakhi itu adalah contoh distorsi budaya yang parah. Apa muakhi itu? Traidisikah? Budayakah? Sastrakah? Atau hanya istilah biasa yang dibesar-besarkan agar dianggap tradisi adiluhung?

Oky Sanjaya beberapa waktu lalu di harian ini juga menulis soal ilat yang kesan saya juga sama: Oky memaksakan sesuatu yang hanya bagian kecil di permukaan tradisi dan adat-istiadat seakan-akan tradisi dan adat-istiadat seakan-akan tradisi itu sendiri. Apa yang disebut muakhi dan ilat bukanlah tradisi, tapi turunan dari tradisi.

Kata muakhi bahkan sama sekali tak ada dalam konsep adat Lampung. Seseorang menyebut kham muakhi artinya adalah kita bersaudara. Artinya hanya terjemahan, bukan konsep adat.

Sudah lama saya mendengar pengakuan tentang Lampung sebagai lumbung sastra dan budaya yang membutuhkan proses pemaknaan kembali. Sebagian pengamat merasa gelisah dan menyerukan pada penyair atau budayawan Lampung untuk menakik seni tradisi lisan yang beragam itu. Sayangnya, mereka tak dibesarkan oleh tradisi itu. Apalagi menulis dengan semangat tradisi yang unik itu.

Entah mengapa saya merasa tak terprovokasi oleh provokasi Maman S.Mahayana di harian ini (9/9/2007) yang seperti berteriak: Dicari: Novelis Lampung! Maman bilang: Lampung punya sejarah panjang mengenai tradisi bersastra. Tak percaya? Datang saja ke Kabupaten Waykanan, maka kalian akan bertemu begitu banyak sastra lisan yang menarik.

Bahkan nyeleneh dibandingkan sastra lisan di daerah lain di nusantara. Lampung pun punya aksara sendiri, sejajar dengan aksara Bali, Jawa, Sunda, Melayu, dan sejumlah aksara daerah lain di Nusantara. Jadi, secara kultural wilayah ini punya kekayaan tradisi yang membanggakan. Lalu, mengapa tak ada novelis dari negeri ini yang mencatatkan diri dalam peta sastra Indonesia.

Oky Sanjaya dalam tulisannya yang telah disinggung, berusaha pamer tradisi di wilayah Teluk Semangka dan sekitarnya dengan hanya menyebut nama-nama pekon. Cukuplah dengan hanya pamer begitu? Sudah cukup kita mengeluh miskinnya pemerhati yang serius tentang sastra lisan di Lampung, kawan. Sudah terlalu banyak saya dengar orang-orang meratap nasib tradisi dan seni lisan kita. Tapi, sepanjang tahun kita hanya mengeluh. Keluhan yang sayangnya cuma memperpanjang impotensi.

Tak ada maksud untuk mengotak-atik perbedaan sastrawan asli Lampung dan sastrawan pendatang yang bermukim di Lampung. Tidak sama sekali. Bahkan, saya termasuk orang yang mengucap terima kasih kepada para penyair papan atas kita, seperti Isbedy, Iwan Nurdaya Djafar, Iswadi, Oyos, Ari Pahala, Syaiful Irba, Jimmy, Inggit, dll. Merekalah yang telah mengharumkan (kopi) Lampung.

Marilah kita kubur harapan agar penyair di Lampung tidak mendurhaka pada bahasa ibunya. Marilah kita enyahkan keinginan melihat pengarang Lampung menakik seni dan tradisi sarang ini. Saya khawatir kita akan terjebak seperti Fauzi Nurdin yang merasa bagaikan budayawan Lampung, tapi hanya menghasilkan buku yang belum kelas disertai doktor yang telah diraih. Saya khawatir, kian banyak saja orang yang tebal ke Lampung-annya dan melupakan semangat Sumpah Pemuda yang telah berjasa memberi kita bahasa nasional.

Kalau kita mau jujur, sastra lokal di mata para penyair Lampung sendiri sudah tak relevan lagi untuk bisa menjadi salah satu jalan menyelesaikan masalah menghadapi arus budaya pop-hedonis mancanegara.

Isbedy dan Iswadi mungkin akan merasa kembali ke belakang jika harus menulis dengan bahasa Lampung. Demikian juga yang lain, termasuk saya.

Kehidupan masyarakat Lampung di desa-desa tak lagi dilandasi oleh nilai-nilai lokal. Berbagai subkultur yang menjadi ciri dalam mengambil keputusan sudah terputus. Seutas tali globalisasi tengah berlangsung intensif di desa, sehingga untuk menanamkan yang lokal saja sudah payah. Bajunya bisa lokal, tapi jiwanya sangat "maju". Jiwa pemuda di pekon saya mungkin masih tradisional, tapi celananya Levi's 505 bahkan 501.

Marilah mengakhiri keluhan miskinya seni-budaya lisan Lampung. Sebab, hal itu hanya akan menjelma soliloque. Sebabnya tentu banyak. Tidak banyak sastrawan dan budayawan (di) Lampung tertarik serta tak lagi mengenal dan mengerti bahasa sastra lisan yang ada.

Mereka semua sudah jadi pendurhaka! Mereka semua masih melantangkan manusia perbatasan, si Malin Kundang atau yatim piatu. Padahal, mereka hidup pada era neoliberalisme.

Aksara Kaganga tak ada gunanya. Bahkan tak perlu lagi diajarkan di sekolah. Apalah artinya bagi siswa. Sekalipun mereka menguasi dengan baik, aksara itu hanya pajangan, tidak ada yang mau menulis puisi atau cerpen pakai aksara Kaganga.

Siapa yang sudi menulis karya sastra dengan aksara zaman kuda gigit besi itu? Udo Z. Karzi saja mana betah berlarah-larah menulis puisi menggunakan bitan-bitan a atau ulan-ulan u itu, masih mending jika mirip imlak atau mengeja alif di atas a alif dibawa bi alif depan u: a-i-u (begitu ejaan saya mengaji kitab suci dulu).

Akhirnya, tak pernah ada krisis sastra Lampung. Sebab, tak pernah ada penyair yang menulis sastra tradisi Lampung. Debat tentang krisis sastra Lampung selama ini yang banyak dilontarkan oleh kalangan sastrawan dan budayawan Lampung sendiri bukan soal krisis.

Tuduhan krisis sastra Lampung hanya melingkar-lingkar pada persoalan dan keluhan yang sama dari tahun ke tahun. Hal ini anehnya sering dikait-kaitkan dengan generasi muda yang tidak tahu lagi tradisi lokal jenis simbatan, adi-adi, segata, simbatan, daduaian, wakhahan, badok, butatangguh, siahan, wawancan, mamang hati, pantun, tari bedana, dan lain sebagainya.

Ada tiga kecenderungan yang masing-masing memiliki argumennya sendiri mengenai keluhan sastra lokal di Lampung. Pertama, tradisi lokal sering (hanya) dipahami sebagai kelanjutan atau sebuah metamorfosis dari sastra zaman nenek moyang. Kedua, tradisi lokal mesti dirawat, dijaga, dilestarikan, dilindungi, dilap agar mengilat, untuk kemudian ditransformasi dan digali sesuai konteks kekinian dan di sini. Ketiga, tradisi lokal harus diambil yang baiknya saja, sementara yang jeleknya dibuang (seolah-olah memang demikianlah kenyataan seni dan budaya Lampung. (*)

* Asarpin, Pemerhati sastra-Budaya Lampung

Sumber: Radar Lampung, Selasa, 21 April 2009

No comments:

Post a Comment