November 30, 2009

[Sosok] Yon Haryono dan Secarik Guntingan Koran

Oleh A Tomy Trinugroho

SECARIK guntingan koran yang memuat berita keberhasilan lifter Eko Yuli Irawan terpasang di dinding. Foto Eko sedang mengangkat barbel ada dalam guntingan koran itu. Di dekatnya, rak kayu butut berdiri kokoh, disesaki sederetan sepatu bekas yang kusam.

Yon Haryono (KOMPAS/A TOMY TRINUGROHO)

Saya memasang foto ini supaya anak-anak terpacu. Kalau ingin seperti Eko, mereka harus latihan,” kata Yon Haryono, pemilik sasana angkat besi di Metro, kota kecil di Lampung.

Sasana milik Yon sangat bersahaja. Berdinding kayu, sasana itu menempel di samping rumah Yon. Tak ada barang baru di dalam sasana, semuanya bekas.

Dengan fasilitas seadanya, Yon gigih melatih anak-anak yang datang ke sasana. Ada 25 anak usia sekolah dasar yang rutin berlatih tiga-lima kali seminggu. Tanpa dipungut bayaran, anak-anak bebas berlatih sesuai program yang disusun Yon.

Profesi orangtua anak-anak itu antara lain tukang batu dan petani. Mereka tinggal tak jauh dari rumah Yon. ”Tidak ada bantuan sama sekali. Ini betul-betul pekerjaan sukarela. Saya ingin nasib mereka berubah,” kata Yon.

Yon, yang mencari nafkah dari usaha penggilingan padi, berambisi menemukan ”Eko baru” dan ”Triyatno baru”. Ambisi ini menjadi sumber utama kegairahan dia melatih anak-anak di tengah kondisi seadanya.

Ambisi Yon bukan ambisi kosong yang tidak realistis. Hampir satu dekade lalu ia melakukan hal serupa, mengumpulkan anak-anak berusia sekolah dasar di Metro dan mengenalkan mereka kepada olahraga angkat besi. Dua di antara mereka adalah Eko dan Triyatno.

Delapan tahun setelah Yon memperkenalkan olahraga angkat besi untuk pertama kalinya, Eko dan Triyatno mengharumkan nama Indonesia dengan merebut medali perunggu Olimpiade Beijing 2008. Eko waktu itu mendapatkannya dari kelas 56 kilogram, sedangkan Triyatno dari kelas 62 kilogram.

Joko Buntoro

Yon tertarik dunia angkat besi karena sosok almarhum Joko Buntoro, tetangganya. Suatu hari Joko Buntoro pulang dari pemusatan latihan nasional (pelatnas) angkat besi di Jakarta dengan memakai jaket.

Joko Buntoro tampak gagah dengan jaket itu. Joko lantas bercerita kepada Yon tentang enaknya menjadi atlet angkat besi karena bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Yon lantas bergabung dengan sasana angkat besi Gajah Lampung pada 1981, atau saat dia duduk di kelas V SD. Yon cilik ingin seperti Joko yang memakai jaket pelatnas dan jalan-jalan ke negeri orang.

Gajah Lampung terkenal di Pringsewu. Sasana atau pedepokan ini dikelola Imron Rosyadi, nama besar dalam kancah angkat besi Indonesia. Didirikan pada 1960-an, Gajah Lampung terus eksis, bahkan kini memiliki asrama bagi puluhan lifter binaannya.

Setelah satu tahun berada di bawah gemblengan Imron yang sangat keras, Yon merebut perak untuk semua kategori angkatan (snatch, clean and jerk, serta total) dalam kejurnas remaja yunior. Pada 1983 Yon hijrah ke Jakarta karena mendapat beasiswa bersekolah sembari latihan di SMP Ragunan, sekolah khusus atlet.

Saat duduk di SMA Ragunan, Yon bergabung dengan pelatnas persiapan Olimpiade Seoul 1988. Turun di kelas 56 kilogram, Yon menempati urutan ke-12. Pada 1988 ia juga menjajal kejuaraan dunia dan mendapati dirinya berada di peringkat ketujuh.

Dalam persiapan mengikuti Olimpiade 1988, Yon ditangani pelatih Polandia, Waldemar Basanovsky, selama dua tahun. Ia mendapat pelajaran berharga yang kelak berguna dalam pelatihan angkat besi untuk anak-anak, yakni metode snatch on the box. Dengan metode ini, anak-anak berlatih angkatan snatch memakai kotak penyangga sehingga mereka fokus terhadap teknik mengangkat barbel secepat mungkin dari posisi lutut ke pangkal paha.

”Saya lihat tidak ada daerah lain yang menerapkan metode latihan ini untuk anak-anak,” katanya.

Yon lalu ditangani pelatih China, Huang. Darinya, ia mendapatkan pelajaran berharga berupa metode latihan untuk meningkatkan kemampuan tenaga (power). Jadi, dari Basanovsky dan Huang, Yon memperoleh metode efektif gabungan untuk latihan teknik dan latihan peningkatan tenaga bagi anak-anak.

Pada 1991 Yon mengalami cedera saat mengikuti kejurnas senior. Tulang siku tangan kirinya lepas. Selama 1991 ia tidak berlatih. Yon baru berlatih lagi tahun 1992 dibimbing Imron.

Setahun kemudian Yon mendapat panggilan bergabung dengan pelatnas SEA Games 1993. Ia menolak. Ia memilih berkonsentrasi mengikuti PON 1993 agar bisa menyumbangkan emas bagi Lampung. Meski Imron menasihatinya agar tak bertanding, Yon ngotot.

Ia mengikuti PON 1993 di kelas 59 kilogram. Saat Yon melakukan angkatan snatch 110 kilogram guna memburu emas, cederanya kambuh. Ia gagal menyumbangkan medali. Inilah pertandingan angkat besi terakhir yang diikutinya sebagai atlet. Setahun kemudian Yon menikah.

Tak bertindak keras

Tahun 1999 ide membuka tempat latihan muncul di kepalanya. Yon mencari peralatan awal pada 2000. Joko Buntoro membantunya dengan menghibahkan sejumlah besi dan barbel. Persiapan semakin lancar karena Yon menemukan pihak yang bersedia menjadi penyandang dana, yaitu Pengurus Daerah Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (Pabbsi) Kalimantan Selatan. Ketua Pengda Pabbsi Kalimantan Selatan kala itu adalah Karli Hanafi.

Pada Februari 2000 peserta sasana milik Yon berdatangan. Ada sembilan anak yang bertahan berlatih di sasananya. Dua di antaranya Eko dan Triyatno. Satu orang lagi, Edi Kurniawan, kelak juga menjadi lifter nasional peraih emas SEA Games dan ikut dalam Olimpiade 2008.

”Saya memotivasi mereka, dengan menjadi atlet angkat besi bisa jalan-jalan ke negeri yang jauh,” kenangnya.

Yon mengontrak rumah sederhana di Metro sebagai tempat berlatih. Tak berapa lama, ia pindah ke rumah kontrakan lain. Setidaknya dua kali ia berganti rumah kontrakan. Eko dan Triyatno ikut bersamanya, tinggal satu atap dengan Yon dan keluarga.

Yon sedapat mungkin menerapkan metode latihan yang efektif untuk anak-anak. Ia tak mau bertindak keras terhadap anak asuhnya. Mereka memanggil Yon dengan sebutan Mas.

Pada 2001 atau setahun setelah dilatih Yon, Eko dan kawan-kawan mengikuti Kejurnas Remaja Yunior di Indramayu, Jawa Barat, dengan mengusung bendera Kalimantan Selatan, bukan Lampung. Mereka berhasil mendulang lima emas.

Akhir 2002 Eko dan kawan-kawan meninggalkan Lampung. Kepergian Eko dan kawan-kawan tak membuat Yon patah arang. Ia tetap mencintai angkat besi. Sekitar sebulan sekali Yon naik motor bebek dari Metro ke Pringsewu yang berjarak 70-an kilometer selama dua jam, untuk membantu melatih anak-anak di pedepokan Gajah Lampung.

Ia juga tetap berupaya menggelar latihan di sasananya sendiri walau kondisinya sangat bersahaja. Mengandalkan peralatan bekas dan secarik guntingan koran yang memuat foto Eko, Yon terus berjuang untuk menghasilkan lifter muda yang pada masa depan diharapkan dapat mengharumkan nama bangsa.


YON HARYONO

• Lahir: Pringsewu, Lampung, 16 Februari 1969

• Istri: Yati (35)

• Anak:
- Yolanda Haryono (14)
- Yordan Haryono (11)
- Yosefi Haryono (3)


Sumber: Kompas, Senin, 30 November 2009

November 29, 2009

[Perjalanan] Percik Wisata Alam Kubuperahu

TAMAN Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menyimpan banyak keindahan alam yang spektakuler. Adalah kawasan taman Wisata Alam Kubu Perahu di Lampung Barat yang menjadi salah satu etalase spektakulasi kawasan "tanggul" Pulau Sumatera itu.

Air Terjung Sepapah Kiri yang masih alami. (LAMPUNG POST/ANSORI)

Gerimicik air jatuh di bebatuan, rimbunnya daun pohon-pohon yang tumbuh secara alamiah memberi nuansa sejuk di lokasi air tejun Sepapah Kanan dan Kiri. Ciptaan Tuhan nan indah ini berada di dalam hutan kawasan Taman Nasional
Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Yakni, berada di wilayah Kubu Prahu Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat.

Perjalanan sekitar 4 jam dari gerbang Wisata Alam Kubu Perahu menuju lokasi air terjun itu bukan sekadar perjalanan. Indahnya panorama dan kesejukan alam yang dibayangi oleh rindangnya pepohonan ditambah dengan gemuruh aliran sungai dan kicauan adalah spekta yang lain.

Nuansa alami dan indahnya pemandangan di Wisata Alam Kubu Perahu menjadikan daerah tersebut merupakan salah satu obyek wisata unggulan yang ada di Kabupaten Lampung Barat (Lambar). Terlebih letaknya yang tidak jauh dari pusat Kota Liwa.

Selain mudah dijangkau, pengunjung juga bisa menentukan sediri tujuan wisata alam sesuai dengan keinginan. Sebab, di dalam Wisata Alam Kubu Perahu ada tantangan lain. Di antaranya, petualangan menelusuri hutan, memancing, menikmati indahnya air terjun, dan wisata alam fauna.

Serombongan wisatawan mancanegara bergabung dengan petualang lokal dalam kamping di Wisata Alam Kubuperahu. (DOKUMENTASI LAMPUNG POST)

Sekelompok siswa SMA berfoto bersama saat melakukan perjalanan menuju Wisata Alam Kubu Perahu. (LAMPUNG POST/ANSORI)

Gerbang Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Kubuperahu, Liwa, Lampung Barat (LAMPUNG POST/ANSORI)




Pada saat menelusuri keindahan alam hutan kawasan TNBBS, pengunjung akan dituntun oleh para instruktur (guide) yang berpengalaman. Sehingga selain bisa menikmati keindahan alam, pengunjung juga dapat menambah pengetahuan karena pemandu juga akan menjelaskan segala jenis yang berada di hutan tersebut.

Tofografi Wisata Alam Kubu Perahu merupakan daerah perbukitan yang dikelilingi oleh hutan dan sungai yang masih alami. Satu sungai besar, Way Sindalapai, mengalirkan air jernih yang ditampung dari ratusan anak sungai di atasnya. Warga sekitar menyebut anak-anak sungai itu sebagai Way Sepapah Kanan dan Kiri serta Way Menterang. Sungai-sungai itu juga merupakan sumber dari air terjun yang berada di dalam Wisata Alam Kubu Perahu tersebut.

Untuk fasilitas penunjang Wisata Alam Kubu Perahu, di sekitar lokasi ada beberapa selter (tempat istirahat) dan juga ada Pusat Bumi Perkemahan (Buper). Di tempat-tempat ini, pengunjung dapat melakukan kamping atau bermalam dengan mengelar tenda di areal Buper.

Selama ini, tempat yang banyak diminati para pengunjung yaitu ketiga air terjun yang berada di dalam Wisata Alam Kubu Perahu. Yaitu, air terjun Sepapahan kiri dengan ketinggian 20 meter dan air terjun Sepapahan Kanan yang memiliki dua tingkatan dengan ketinggian 60 meter. Juga air terjun Way Asah yang tingginya sekitar 70 m. Ketiga air terjun ini merupakan tujuan favorit para pengunjung.

Pemandangan sekitar lokasi Wisata Alam Kubuperahu, Liwa, Lampung Barat. (http://nestina.wordpress.com)

Dalam perjalanan menuju lokasi itu, pengalaman yang mengesankan lainnya bisa mengejutkan Anda. Berbagai hewan liar masih dapat ditemukan. Antara lain, menjangan, beruk, kera ekor panjang, gajah sumatera, dan banyak jenis fauna lain.

Berbagai jenis burung langka dan dilindungi juga bisa bertemu. Antara lain, burung rangkong, sesep madu, elang, dan lainnya. Juga berbagai jenis kupu-kupu yang beraneka ragam.

Keindahan Wisata Alam Kubu Perahu bukan hanya diminati oleh wisatawan lokal. Wisatawan mancanegara sering melakukan perjalanan wisata ketempat tersebut. Bahkan tidak jarang wisatawan asing tersebut melakukan penjelajahan wisata alam serta sengaja mengambil dokumentasinya berhari-hari.

Berdasarkan penelitian, Wisata Alam Kubu Perahu termasuk ekosistem hutan hujan pegunungan yang relatif masih ditumbuhi oleh jenis pohon langka. Pengunjung juga akan melihat pepohonan yang berukuran raksasa yang telah berumur ratusan tahun.

Pohon-pohon besar yang berukuran raksasa tersebut, di antaranya pohon kruing, meranti, rengas dan masih banyak lagi jenis pohon yang saat ini dilindungi oleh pemerintah.



Kondisi alam yang sejuk dan alami menjadikan tempat wisata alam sebagai habitat bagi berbagai jenis anggrek alam liar. Penelitian yang dilakukan oleh pihak TNBBS, ada sekitar 60 jenis anggrek yang tumbuh di daerah tersebut. Saat ini ke 60 anggrek tersebut telah dikumpulkan di satu tempat sehingga setiap pengunjung dapat meninkmati keindahannya anggrek tersebut dari dekat.

Untuk melakukan perjalanan ke Wisata Alam Kubu Perahu, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp1.500/orang untuk wisatawan lokal. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan Rp15 ribu/orang. Pengunjung diwajibkan mengikuti peraturan yang telah ditentukan yaitu tidak boleh merusak dan mengambil tumbuhan yang berada di tengah hutan.

Data TNBBS Seksi II Krui, setiap bulan tidak kurang 50 pengunjung yang datang ke lokasi tersebut. Pada musim libur sekolah, pengunjung akan meningkat terutama bagi pengunjung anak sekolah dan turis mancanegara. n CK-7/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 November 2009

Fragmen Sepi Manusia

SUNYI dan gelap, hanya cahaya samar yang menjadi penerang.Serumpun bunga dalam pot yang tergantung di ketinggian menambah rasa sepi dan cekam. Itulah fragmen kehidupan yang disuguhkan oleh Teater Berkat Yakin asal Lampung lewat lakon Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu.

TEATER LAMPUNG WU WEI. Sejumlah seniman teater melakukan tearitikal pada pertunjukan teater berjudul Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu di Galeri Salihara, Jakarta.

Pementasan yang dilangsungkan di Komunitas Teater Salihara, Jalan Salihara,Pasar Minggu, Jakarta Selatan tersebut dimainkan hampir dua jam. Diawali suasana gelap dan sunyi. Satu demi satu aktor teater memasuki panggung sambil membawa koper, tas juga ransel yang disandang di punggung.Kesibukan orang lalu lalang yang resah menunggu kapal terlihat jelas. Sebuah tiang penunjuk arah, juga menjelaskan bahwa orang-orang dengan koper, tas, dan ransel tersebut tengah menunggu kapal yang akan membawa mereka ke suatu tujuan.

“Mana kapalnya, mana kapalnya?” tanya mereka dari atas panggung sambil sibuk berjalan hilir mudik sambil tetap menjinjing barang bawaan mereka yang berat. Sesekali 12 orang calon penumpang kapal itu melihat ke kejauhan sambil berharap ada sebuah kapal yang datang dan akan mengantarkan mereka pergi dan juga pulang ke tempat yang dituju. “Kenapa kita tidak dipanggilpanggil untuk naik kapal. Benar bukan nama kapal kita Purnama Dibelah Tiga,” tanya mereka yang masih bingung menunggu kapal. Suasana panggung yang semula ramai oleh calon penumpang kapal,berganti dengan kesunyian.

Muncul seorang laki-laki dengan sebuah koper, bertopi rotan dan mengapitpengerassuara.Disisilain seorang perempuan menyapu lantai dengan perlahan.Tidak lama dengan iringan musik berupa detakdetak berirama teratur, datang seorang calon penumpang yang duduk di tiang papan penunjuk arah dan melamun. Tidak lama berselang, datang pula seorang laki-laki membawa sebuah kertas.Kertas itu ternyata sebuah peta yang menunjukkan jalan pulang.Dialog dua penunggu kapal terjadi dalam kesunyian yang pekat.

“Apa yang kau tunggu,” katanya. Dalam dialognya dengan sesama calon penumpang kapal, lakilaki itu bercerita tentang kerinduannya pada sebuah rumah. Di rumah itu terdapat sebuah sumur,tempat dia dan ayahnya menimba air. “Pernah suatu waktu tali timba sumur itu hampir putus, aku berniat menggantinya dengan yang baru. Namun, ayah menolaknya. Katanya, jangan sekali-kali kau ganti tali sumurku, cukup diikat dengan kawat maka dia akan kuat lagi,” katanya bercerita tentang kerinduannya pada rumah. Kerinduan yang sama juga diceritakan oleh lelaki lain.Kerinduan pada seorang teman pada masa lalu.

“Aku rindu bertemu seorang teman yang dulu pernah samasama melihat cakrawala,” ujarnya dalam dialog yang sunyi. Tiba-tiba terdengar merdu suara harmonika diiringi dengan suara musik country. Properti di panggung kembali berubah. Suasana yang semula sepi,mulai ramai dengan botol-botol infus yang bergelantungan dari ranting-ranting pohon. Orang-orang yang tersambung dengan infus yang mengalirkan cairan berwarna merah hadir di atas panggung.Walaupun tengah sakit bahkan sekarat, orang-orang itu bercerita tentang kerinduan pada sebuah kampung yang berasal dari kenangan.

“Kampung kubangun engkau dari sungai di pinggir jalan,dari secarik kain ibu dan sehektar tanah peninggalan Opung. Kampung kubangun kau dari sisa nasi basi kemarin. Kampung kucari kau walau cuma lewat igau,” katanya meneriakkan kerinduan yang terpendam. Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu yang disutradarai oleh Ari Pahala Hutabarat itu merupakan pentas yang terdiri dari fragmen-fragmen yang menggali tema tentang pulang, pergi,rumah,ibu,dan apa saja yang sering dihubungkan dengan tempat asal juga tujuan.

“Dalam teater ini kami berusaha untuk menghadirkan keheningan yang ada pada beberapa situasi kritis ketika identitas asal,tujuan dan keinginan untuk berbahagia dipertanyakan kembali,” kata Sutradara Teater Berkat Yakin,Ari Pahala Hutabarat. Pentas yang juga menghadirkan sosok perempuan bertopeng tradisional tersebut dilanjutkan dengan konflik di antara sepasang kekasih. Kisah sedih pasangan itu bermula ketika si perempuan berusaha keras hendak merantau.

Sambil membawa koper perempuan itu duduk di sebelah kekasihnya yang terikat selang infus. “Kenapa kau mau pergi? Mau ke mana? Kapan kau mau pergi? apa bekalmu? Apa ada ongkos?” tanya si laki-laki sambil menggenggam tangan kekasihnya. Bujukan si lelaki agar kekasihnya tidak pergi, tidak diacuhkan oleh si perempuan.Silau kota besar telah membuatnya bertekat dan nekat untuk mengubah nasib di perantauan.“Aku lelah menunggu di pintu nasib.Bagaimana ada yang akan membukakan pintu, jika aku mengetuknya dari dalam.

Maaf,” katanya sambil memeluk kekasihnya ketika berpamitan. Fragmen kehidupan dengan kisah berbeda hadir di panggung. Kali ini fragmen bercerita tentang kegundahan seorang laki-laki yang meragukan bahwa surga terletak di bawah telapak kaki ibu. “Dari rahimmu ibu,tersesat waktu,engkau sembilu, tertancap di kalbu,”katanya sambil terus bercerita tentang wanita, laki-laki perantau itu mengatakan bahwa surga tidak terletak di kaki ibu. “Surga menurutku terletak 77 cm dari kakimu kekasihku. Maaf ibu, karena aku meragukan kalau surga terletak di bawah kakimu,” katanya menyesali apa yang dirasakannya.

Sebuah pintu berukuran besar muncul di panggung. Namun, dengan pintu yang terkunci rapat.Kerinduan akan rumah tergambar dengan kehadiran seorang laki-laki yang berusaha membuka pintu.Namun, tidak bisa. “Berilah aku kesempatan untuk pulang, tapi kenapa rumah tetap lepas dari jangkar, dan tak kunjung kutemukan rumah yang dulu kudiami,”keluhnya. Pentas fragmen ini ditutup dengan berkumpulnya para calon penumpang kapal yang masih menunggu kedatangan kapal.

Ketika perpecahan di antara mereka mulai mencuat karena kesulitan memutuskan untuk terus menunggu atau tidak. Untunglah, ketika pertentangan itu semakin meruncing dari kejauhan muncullah siluet kapal yang membuat wajah mereka berseri-seri. Karena kapal itu diyakini akan membawa mereka ke tujuan,entah pergi atau pulang. (bernadette lilia nova)

Sumber: Seputar Indonesia, Minggu, 29 November 2009

November 23, 2009

'Topi Sarjana' Siap Gebrak Film Tanah Air

BANDAR LAMPUNG--Satu lagi karya anak muda Lampung siap menggebrak dunia perfilman Tanah Air. Topi Sarjana garapan sutradara Paksi Anom dan diproduseri Dede Safara yang menggandeng rumah produksi berlabel nasional, Kenfindo, ini siap dirilis pada Desember nanti.

Film bertema pendidikan mengusung cerita tentang peliknya kehidupan seorang pria (Anwar) dari keluarga tak mampu yang menjalani hidup dengan ibu dan adiknya yang cacat. Karena semangatnya tinggi dan tak mengenal putus asa, plus prestasi pendidikan yang sangat baik, Anwar dapat menjadi seorang sarjana. Untuk pemain, sutradara berpengalaman yang pernah menggarap Seleb Juga Manusia ini mendapuk pemain dan kru dari Lampung. Lokasi syuting dilakukan di beberapa kabupaten/kota di Sang Bumi Ruwa Jurai.

Menurut produser film Topi Sarjana, Dede Safara, Sabtu (20-11), film ini dibuat dengan dua setting, yakni perkampungan dan perkotaan. Untuk setting di perkampungan, menggambarkan bagaimana tokoh film ini, Anwar yang selalu disudutkan teman-temannya lantaran dari keluarga tak mampu. Tapi karena prestasinya, Anwar mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di kota. Sedangkan di perkotaan, menurut Dede, menceritakan bagaimana kehidupan Anwar yang hidup dengan multikonflik. Mulai dari teman satu kamar yang gay, hingga kehidupan percintaannya yang rumit.

Dede yang juga jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jurusan Sinematografi itu berharap Topi Sarjana nantinya bisa menjadi kebanggaan masyarakat Lampung karena memiliki karya daerah yang mampu go national. "Mudah-mudahan film ini juga dapat memotivasi sutradara dan kreator film di Lampung agar makin aktif membuat film," ujar junior sutradara kondang Hanum Bramantyo itu sewaktu di IKJ.

Film yang penggarapannya sangat apik dan menelan biaya lebih dari Rp200 juta itu rencananya didistribusikan secara nasional dan diluncurkan di Lampung. Juga akan dicetak dalam bentuk compact disc (CD) sebanyak 80 ribu kopi. Bahkan CD-nya dijual seharga Rp10 ribu per keping. "Film ini segmennya menengah ke bawah, tapi untuk kualitas dijamin orizinal dan bukan burning," kata Dede. */L-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 23 November 2009

November 22, 2009

[Apresiasi] Masih Adakah Budaya Lampung?

Oleh Hardi Hamzah*

"Kita harus berdamai dengan keadaan". Begitu Zainal Abidin Domba mengungkapkan keresahannya atas kondisi internal kehidupan sosok manusia.

WARAHAN. Seniman sastra tutur Lampung, Humaidi Abbas sedang membawakan warahan Cerita Labu Handak pada penutupan Liga Teater SLTA 2009 di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung (TBL), Kamis (19-11). (LAMPUNG POST/M. REZA)

PEMAIN teater yang penampilannya memukau ketika bermain dalam salah satu karya Arifin C. Noor itu agaknya benar. Namun, dalam konteks menumbuhkembangkan kebudayaan, sukar rasanya kita harus berdamai dengan keadaan. Karena elastisme kebudayaan yang terkadang terasa bagai jalan tak berujung menuntut kita untuk mengaktualisasikan titik masuk baru bagi kebudayaan itu sendiri.

Itulah sebabnya ketika membaca tulisan Ansyori Djausal (Konservasi Kebudayaan Lampung) pada harian ini, Sabtu, 31 Oktober 2009, yang kemudian disahuti Christian Heru Cahyo Saputro (Piil Pesenggiri: Semangat Kelampungan) pada Sabtu 14 November 2009, saya merasa perlu menuliskan esai ini. Bang An (panggilan Ansori Djausal, red) mengesankan memotivasi kita untuk "mengonservasi" kebudayaan. Sedangkan yang saya tangkap dari Heru lebih pada upaya mengkristal pada semangat institusi, yakni terbentuknya Lampungologi.

Dari dua tulisan di atas, secara makro, terus terang saya kecewa dengan Bang An. Kekecewaan itu muncul karena Bang An yang selama ini piawai dalam mengukir esensi kebudayaan dalam semangat nilai-nilai, ternyata tulisannya hanya bak lukisan berbingkai bagus, tetapi dalam kanvas yang kosong. Saya katakan demikian karena tak ada refleksi yang konkret, bagaimana kebudayaan Lampung harus diaktualisasikan bahkan ditawarkan secara universal dalam masyarakat yang multietnik dan yang notabene tidak berbahasa Lampung di Lampung.

Dalam kosakata yang amat umum, Bang An lebih melihat kebudayaan Lampung sebagai romantisme universal, historikal universal, dan warisan komprehensif ketimbang kebudayaan sebagai suatu pembentukan nilai terhadap kesamaan sikap dan perilaku yang pada gilirannya menjadi peradaban. Di sinilah mungkin titik lemah itu.

Sementara itu, Heru lebih melihat secara institusional. Pengamat pariwisata dan budaya ini, secara gamblang mengkritisi lembaga masyarakat adat Lampung (LMAL/MPAL) yang mestinya terkristal dalam sakralisasi, kenyataannya hanya menjadi instrumen politik. Yang cukup menarik bagi penulis, yakni ketika Heru mengusulkan adanya Lampungologi. Ini menarik, mengingat dalam struktur kelembagaan resmi elemen penting dari kebudayaan dapat dirangkum dalam struktur kelembagaan secara resmi. Namun, ini tentu saja menuntut kerja keras.

Kendati penulis tidak ingin masuk secara esensial, ya, katakanlah berpolemik dalam menyikapi dua tulisan yang telah muncul di harian ini, mengingat penulis sendiri "masih gamang", bahwa adakah kebudayaan Lampung itu sebenarnya. Selama ini kita hanya berbangga bahwa orang Lampung punya aksara; orang Lampung punya situs; orang Lampung punya berbagai unsur kebudayaan, tetapi penulis tidak melihat bahwa elemen kebudayaan itu terpadu dalam suatu kekuatan yang abash. Sederhananya, semua elemen yang ada hanya ornamen-ornamen yang terpisah, tak pernah menjadi mozaik.

Padahal, manakala kita bicara tentang kebudayaan, semestinya keberanian untuk menggugah cakrawala dan menyatukan unsur yang ada adalah entry point yang terpenting. Misalnya, di Lampung kita harus berbahasa Lampung, meski ini hampir musykil karena banyaknya jenis bahasa Lampung itu sendiri (?).

Nah, dalam kondisi kesederhanaan pengetahuan penulis tentang budaya Lampung, ternyata apa yang dikatakan oleh Zainal Abidin Domba, yaitu "Kita harus berdamai dengan keadaan", justru menjadi titik masuk strategis bagi aktualisasi budaya Lampung itu sendiri. Dengan kata lain, perwatin yang sakral itu diprofankan oleh seorang koruptor yang ingin mengambil gelar sultan. Semangat agem-agem lima pasal, kita singkirkan untuk memproyeksikannya ke dalam suatu proyek. Di sinilah kemudian tokoh-tokoh Lampung justru merampok unsur-unsur kebudayaan itu sendiri.

Kendati terasa klise, barangkali penulis ingin melihat esensi kenapa budaya Lampung terseret dalam arus global. Apakah kita yang sangat terbuka? Ataukah kita yang tidak mampu mentransformasikan agem-agem 5 pasal, atau agem-agem 5 pasal itu sendiri yang value free (bebas nilai), dus tidak value loaded (padat nilai).

Penulis mencoba membandingkan, norma-norma yang kita bangun lewatl agem-agem 5 pasal memang terlalu sarat nilai, di mana nilai itu terjebak dalam siklus globalisasi yang pragmatis. Agaknya komparasi antara agem-agem 5 pasal dan falsafah Jawa patut kita introdusir di sini.

Dalam prespektif agem-agem 5 pasal, piil pesenggiri di mana idiom yang mengharuskan kita menaikkan derajat cenderung deviasi karena bepiil bagi orang Lampung kebanyakan justru menaikkan gengsi (baca: persaingan antara materi). Nemui nyimah, yang kita sakralkan sebagai beramah-tamah terhadap pendatang justru kita kemudian membuka diri seluas-luasnya dan tak mampu lagi mempertahankan bahasa, kalau tidak ingin mengatakan, "Kita malu berbahasa Lampung".

Sedangkan, nengah nyeppur, hal mana prospeknya membangun akulturasi budaya dengan mengooptasi elemen-elemen lain. Dus, justru kita lebur dalam "kebudayaan lain" itu. Maka kita pun kehilangan arah. Bejuluk beadok, hanya bersemangat dalam masyarakat perdesaan. Kita berkutat pada pak, mas, abang, adik, dan sirnalah minak, daying, batin, dan sebagainya. Kalaupun ada, itu hanya bersifat internal an-sich.

Demikian pula dengan sakai sambayan. Ia menjadi jargon paling strategis bagi penguasa untuk mengajak bersama dalam proyek bersama dalam politik dan bergotong-royong dalam penindasan, setidaknya penindasan terhadap perwatin dan elemen turunannya.

Hal di atas memang tidak patut kita vonis secara frontal karena agem-agem 5 pasal lebih banyak berbicara normatif spiritual ketimbang fragmentasi konkret untuk menjawab siklus kemajuan zaman. Asumsi ini penulis tawarkan bila kita bandingkan dengan falsafah Jawa yang lebih pragmatis.

Sebagai salah satu contoh, dalam falsafah Jawa yang sering kita dengar dalam mocopat-mocopat-nya, terdapat juga agem-agem 5 pasal itu. Semisal, sosok laki-laki Jawa, mereka harus mempunyai kutilo (alat kelamin/ilmu), tanpa kutilo mereka tidak absah menjadi laki-laki. Setelah mempunyai kutilo, mereka didaulat untuk mengaktualkan eksistensinya dalam makaryo (pekerjaan).

Kemudian, laki-laki Jawa secara pragmatis juga dituntut harus mempunyai wismo (rumah). Berikutnya, barulah mereka ditasbihkan bisa mempunyai garwo (istri), yang pada gilirannya mereka baru absah bisa mendapatkan turonggo atau tumpakan (kuda/mobil).

Mengapa saya mengomparasikan dua nilai di atas? Penulis ingin mengatakan bahwa kebudayaan Jawa lebih konkret. Dengan semangat konkret itu pula mereka mampu bermain dalam ranah di berbagai siklus, apakah itu globalisasi, liberalisasi, dan berbagai aspek lain yang pada gilirannya membangun peradaban.

Sementara dalam agem-agem 5 pasal, masyarakat Lampung yang sarat nilai justru "berdamai dengan keadaan". Budaya Lampung terjebak dalam kerangka jeratan hedonisme masyarakat Lampung yang terbuka dan consumer. Inilah yang kemudian menggeser setting kebudayaan Lampung menjadi ke arah yang sangat deviatif, selain kita pun patut jujur, bahwa di Lampung yang ada hanya ornamen secara fakta. Pun kita tidak mempunyai situs-situs konkret yang menandai bahwa Lampung itu besar. Lalu, apa yang kita harapkan dalam budaya Lampung kalau kita sendiri sudah menjadi sangat profan dalam menyikapi elemen sakral yang ada? Atau memang budaya Lampung itu sudah tidak ada, tergeser oleh arus dan debur ombak kebudayaan lokal dan regional? Atau kita telah celaka ditabrak oleh para elite politik yang menjadikan budaya Lampung hanya sebagai instrumen? Ini memang pesimistis. Kalau tidak pesimistis, dari mana kita mendatangkan optimistis untuk membangun budaya Lampung yang unsur mozaiknya kita hancurkan sendiri?

* Hardi Hamzah, peneliti Madya pada Institute for Studies and Consultation of Social Sciences (INSCISS)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 November 2009

Buku: Wanita Islam, antara Rumah Tangga dan Pekerjaan

Judul: Wanita Islam dan Transformasi Sosial Keagamaan
Penulis : Dr. A. Fauzi Nurdin, M.S.
Penerbit : Gama Media, Yogyakarta, Cet. I, 2009
Tebal : x + 210 hlm

PERBINCANGAN terhadap perempuan agaknya tidak akan pernah habis. Apalagi kalau berkaitan dengan peran dan kesempatan kerja. Persoalan kesempatan kerja, kini menjadi persoalan tersendiri bagi kaum perempuan. Banyak faktor yang mengelilinginya.

Albert Berry (1987) dalam Less Developing Countries (LDCs) misalnya, mengemukakan bahwa masalah partisipasi tenaga kerja wanita dalam perekonomian sangat relevan untuk dianalisis karena beberapa hal. Menurut dia, paling tidak ada tiga hal penyebabnya. Pertama, wanita merupakan faktor penentu partisipasi yang penting dalam perekonomian saat ini. Tetapi diskriminasi pasar tenaga kerja akan merugikan wanita.

Kedua, tinggi rendahnya partisipasi tenaga kerja wanita akan memengaruhi distribusi pendapat perseorangan dan keluarga dan pendidikan kaum wanita. Tingkat kesenjangan antara wanita dan pria di perkotaan sering berkisar antara 20--40 persen.

Ketiga, urbanisasi kaum wanita sekarang ini dari desa ke kota-kota secara proporsional bertambah, tidak saja karena ikut suami, tetapi juga dari golongan angkatan usia muda (15--24 tahun), yang mandiri. Ini berarti potensi pengangguran di sektor perekonomian kota akan meningkat jika sumber-sumber penyedia lapangan kerja (pertumbuhan industri) tidak mampu menyerap pertambahan penduduk kota tersebut.

Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kaum wanitanya tidak terlepas dari persoalan kerja ini. Perkembangan tenaga kerja wanita dewasa ini, berdasarkan Data Biro Pusat Statistik yang diolah Dwi Rachmina dkk. (1990), memperlihatkan tenaga kerja wanita yang terlibat di sektor primer (pertanian) pada tahun 1971 ternyata 74,16 persen dan tahun 1985 turun menjadi 61,51 persen. Penurunan persentase wanita yang bekerja di sektor primer (pertanian) diimbangi dengan kenaikan pada sektor sekunder dan tersier. Artinya, terdapat perubahan pekerjaan dari pertanian ke luar pertanian dalam masyarakat yang merupakan fenomena perubahan pola pencaharian nafkah dari yang bersifat agraris ke masyarakat industrial.

Dalam perkembangan berikutnya, ternyata banyak perubahan yang terjadi di perdesaan, baik di bidang ekonomi, sosial, dan keagamaan. Fenomena menunjukkan banyak wanita yang semula berperan sebagai ibu rumah tangga atau istri di rumah, dan kini bekerja di luar rumah. Demikian pula yang semula bekerja di bidang pertanian berubah ke perdagangan, industri, buruh, dan jasa.

Atas dasar itu, A. Fauzi Nurdin, dosen IAIN Raden Intan Lampung ini, mencoba mengangkat permasalahan sejauh mana peranan wanita Islam yang berubah pekerjaan dalam proses transformasi sosial kegamaan di perdesaan. Fauzi Nurdin mengambil studi kasus dua desa di Kabupaten Lampung Selatan dan membanding kasus di satu desa di Jawa Barat sebagai sasaran studi. Alasannya, daerah perdesaan itu merupakan daerah pinggiran kota (suburban) yang padat penduduknya. Di samping perluasan kota mengarah ketiga desa di mana tumbuhnya kawasan permukiman baru, juga dua desa dari tiga sasaran penelitian terdapat Lapangan Udara Branti. Di daerah ini terdapat Sekolah Perawat Kesehatan dan Perguruan Al Kautsar.

Dalam kenyataanya, pendidikan bagi warga desa merupakan masalah penting dan tentunya dapat berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya; dari aspek kesempatan belajar maupun peluang bekerja dan berusaha bagi pria dan wanita di perdesaan. Bagaimanapun memberi kesempatan bagi wanita untuk mengikuti pendidikan pelatihan keterampilan yang lebih luas merupakan upaya konkret untuk melepaskan mereka dari kemiskinan.

Namun, dari aspek yang berbeda, tumbuh dan berkembangnya lembaga pendidikan tidak selalu berarti mampu menciptakan peluang kerja dan berusaha bagi pria dan wanita yang cocok bagi mereka yang berubah pencaharian nafkah dari bidang pertanian ke luar pertanian. Justru tumbuhnya permukiman baru, berbagai lembaga pendidikan, pertokoan, dan beragama jenis usaha di sepanjang jalan utama itu semakin lama dikhawatirkan mempersempit lahan usaha pertanian untuk rumah tangga dari lapisan menengah dan bawah. Sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak dan bertambahnya pengangguran sebagai akibat terjadinya pemutusan hubungan kerja karena krisis ekonomi yang berkepanjangan, yang berakibat juga terhadap semakin banyaknya penduduk miskin di perdesaan.

Kajian dalam buku ini menarik karena di dalamnya memuat berbagai kemungkinan mengenai strategi pemberdayaan wanita yang telah menjadi arus besar mewarnai modernisasi Indonesia di segala bidang. Artinya, mau tidak mau para wanita Islam harus pula menyadari bahwa kodrat, fungsi, dan profesi seorang perempuan dapat dikembangkan guna mewujudkan peri kehidupan pribadi dan keluarga yang lebih baik. Dan kini, jutaan wanita Indonesia, baik di kota maupun perdesaan telah melakukannya.

Imron Nasri, Peminat masalah-masalah sosial, politik dan kegamaan, tinggal di Yogyakarta.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 November 2009

[Perjalanan] Menonton 'Ngumbai Lawok' Teluk Semaka

SELAMA tiga hari sejak Selasa (17-11), adalah "Lebaran" bagi nelayan Teluk Semaka, Kotaagung, Tanggamus. Ngumbai lawok, ritual tahunan yang digelar penuh kemeriahan itu menjadi spirit baru.

Orang menyebut "Lebaran" campur "Agustusan" untuk menggambarkan suasana sekitar dermaga pelabuhan laut dan tempat pelelangan ikan (TPI) Pasar Madang, Kotaagung, selama tiga hari itu. Ratusan kapal motor dan perahu tradisional ikut ambil bagian dalam pesta nelayan, yang dikenal dengan ruwatan laut atau larung atau ngumbai lawok 2009.

Ribuan masyarakat nelayan itu mengekspresikan rasa suka citanya dengan mengibarkan ratusan umbul-umbul dan menghiasi perahu-perahu mereka dengan aneka dekorasi warna-warni.

Pesta laut tahunan ini merupakan perwujudan dari rasa syukur nelayan Teluk Semaka atas berkah yang mereka dapatkan selama ini. Diawali dengan doa dan istigasah, pergelaran wayang golek semalam suntuk, lalu hiburan orkes dangdut. Puncak acara ada pada Kamis (19-11), yakni larung dongdang yang berisi sesaji dan kepala kerbau di Karang Kuku, suatu tempat di tengah perairan Teluk Semaka. Tempat itu dipercaya sebagai tempat bersemayam penunggu laut Teluk Semaka.

Ritual ngelarung kepala kerbau lengkap dengan sesaji, antara lain makanan, minuman, kue, rokok, uang, kembang, dan ayam itu menjadi puncak pesta nelayan ruwatan laut Teluk Semaka 2009. Dan menjadi daya tarik bagi para nelayan dan warga lainnya di Kotaagung dan sekitarnya. Juga kehadiran pengunjung dari luar yang juga ingin menyaksikan rangkain ritual dalam pesta laut ini.

Wayang Golek pada Rabu (18-11) membawakan lakon khusus yang diperuntukan bagi pesta laut. Kemudian, di puncak lakon, sesaji utama berupa kepala kerbau dan sesaji yang diletakkan di dalam dongdang, di arak keliling oleh sekelompok muda-mudi berpakaian adat khas nusantara. Bupati Tanggamus Bambang Kurniawan, wakil Bupati Sujadi Saddad, Dandim 0424/Tanggamus Letkol Kav. Robert Owen Tambunan, Kapolres AKBPD Deny Pujianto dan para pejabat ikut berpartisipasi.

Dongdang ini kemudian dibawa oleh kapal utama, diringi ratusan kapal motor dan perahu nelayan yang penuh penumpang di belakangnya, mengihasi laut Teluk Semaka yang hari itu tenang dan damai. Pengunjung dari luar boleh menumpang dan berbaur dengan perahu lain jika ingin ikut melarung sasaji ke tengah laut. Arak-arakan ini menjadi prosesi yang dinilai sakral dalam rangkaian ritual pesta laut ini.

Karang Kuku berada sekitar 10 mil dari PPI Pasar Madang. Di situ, ritual penglepasan sesaji pun dilaksanakan. Setelah dilepas, ribuan nelayan yang sudah siap dengan alat timba memperebutkan sesaji dan air yang bercampur darah dari kepala kerbau. Suasanapun menjadi riuh-rendah, kapal-kapal pun berbenturan satu sama lain. Bahkan, ada nelayan yang jatuh ke dalam laut. Setelah itu, kemudian semua kapal pun beranjak kembali ke muara meninggalkan dengan ikhlas sesaji tersebut.

Sesaji yang didapat dipercaya membawa berkah serta keberuntungan. Para nelayan juga menyirami kapal-kapal mereka dengan air laut di sana, sebagai simbol kapal mereka dicuci bersih untuk menghadapi hari esok yang lebih cerah. Dengan acara selamatan dan syukuran ini bagi para nelayan dan masyarakat luas, secara batin membawa rasa tenang melaut untuk mencari ikan.

Setelah penglepasan sesaji, di sekitar tempat lelang rangkaian acara masih tetap berlangsung. Hiburan muusik dangdut yang diselenggarakan sponsor, menghibur para pengunjung yang masih memadati lokasi. Selama prosesi ruwatan laut ini, nelayan memilih libur melaut dan tidak ada aktivitas jual beli ikan di pelelangan selama pesta berlangsung.

Pesta laut ini cukup sakral jika direnungi. Selain mempertahankan warisan budaya dan adat istiadat, pesta ini mengandung pesan dan pelajaran tentang arti penting dari bersyukur, kebersamaan, kekeluargaan antarwarga (nelayan), gotong royong dan berbagai sisi positif lainnya.

Daya Tarik Wisata

Sudah menjadi tradisi tahunan para nelayan mengungkapkan syukur dan terima kasih kepada Sang Mahakuasa atas keberhasilan dan keselamatan dalam menangkap ikan dari laut melalui pesta laut. Tokoh masyarakat nelayan Teluk Semaka, H.M. Nasir Ambo Ase, mengungkapkan pesta nelayan diikuti warga pesisir, sehingga menjadi sangat meriah. "Syukuran nelayan ini sudah menjadi pesta tradisional nelayan Teluk Semaka," kata dia.

Teluk Semaka merupakan salah satu pelabuhan dagang terkenal sejak zaman kolonial Belanda di pantai barat Lampung. Teluk Semaka juga menjadi pelabuhan terapung bagi kapan tanker dan supertanker yang khusus minyak mentah dan LPG.

Setiap hari Teluk Semaka selalu ramai oleh aktivitas bongkar muat, baik hasil perikanan maupun hasil bumi dari Pulau Tabuan, dan pesisir Tanjung China serta Belimbing di Lampung Barat. Selain itu, Teluk Semaka adalah sebuah daerah tujuan wisata, dengan pantai sebuah teluk yang luas dan pemandangan alamnya yang indah.

Sepanjang pesisir ini memang memesona. Debur ombak panjang bergulung-gulung tiada henti, berpadu hutan lebat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, julang Gunung Tanggamus nan biru, dan Teluk Semaka dengan sunset-nya adalah anugerah indah yang sayang dilewatkan.

Laut yang biru dengan kekayaan hayati di dalamnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan berkunjung Teluk Semaka. Ikan blue marline dan lumba-lumba juga hidup di Teluk Semaka ini.

Tahun depan, jika Anda berkesempatan untuk menyaksikan pesta laut atau pesta nelayan itu, sebaiknya jangan melewatkan berbagai objek wisata di sepanjang pesisir Teluk Semaka. Antara lain kegiatan bongkar muat di pelabunan laut Kotaagung, kesibukan nelayan di TPI Pasar Madang, pantai Terbaya, pantai Curug, pantai Batu Balai, pantai Harapan Way Gelang, pantai Sawmil, dan sebagainya. n SAYUTI/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 November 2009

November 21, 2009

Masyarakat Adat di Pringsewu

Oleh Peran Antoni*

KEDATANGAN (transmigrasi) masyarakat dari Pulau Jawa ke Provinsi Lampung--termasuk Pringsewu--sudah dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Kala itu Pemerintah Kolonial mendatangkan penduduk dari Pulau Jawa untuk menjadi buruh perkebunan yang ada di Lampung. Itu yang kita kenal dengan proyek kolonisasi hampir di seluruh wilayah Lampung sekitar tahun 1930-an.

Gelombang besar transmigran ke Lampung juga terjadi setelah Indonesia merdeka di luar program transmigrasi resmi pemerintah. Meskipun Lampung menjadi wilayah percontohan untuk program transmigrasi yang dinilai berhasil, diakui atau tidak "proyek" transmigrasi ini masih menyisakan masalah.

Dalam tulisan ini saya hendak membicarakan keberadaan masyarakat adat Lampung di Pringsewu, yang sepertinya luput dari perhatian pemerintah untuk mengatakan termarginalkan.

Hilangnya Tanah Pertanian

Hilangnya tanah untuk lahan pertanian untuk masyarakat adat Lampung dimulai dengan kehancuran tatanan hukum tentang pertanahan yang dimiliki masyarakat adat Lampung. Kondisi ini menyebabkan hilangnya keterjaminan penguasaan tanah di masa depan untuk masyarakat adat Lampung.

Ketika Belanda berhasil memenangkan perlawanan masyarakat Lampung dari kesatuan marga-marga yang ada di Lampung--seperti Raden Inten II yang memimpin perlawanan marga-marga di Lampung Selatan--Belanda secara de facto menguasai Lampung. Otomatis semua produk hukum yang berlaku adalah hukum produk kolonial yang dibuat untuk kepentingan kolonial dan hukum adat Lampung sudah tidak berlaku.

Demikian pula dengan hukum pertanahan yang diatur pemerintahan marga. Hukum pertanahan ini adalah untuk menjamin hak perlindungan untuk masyarakat adat Lampung untuk menguasai tanah yang jelas dengan batas- batas marga jelas dan untuk keberlangsungan kepemilikan di masa yang akan datang. Pergantian pemerintahan dari pemerintahan Belanda ke Indonesia setelah merdeka pun tetap sama ibarat pinang dibelah dua karena tak mempertimbangkan masyarakat adat di masa yang akan datang.

Khusus di Kabupaten Pringsewu, kondisi ini semakin parah mengingat dari segi jumlah masyarakat adat Lampung sangat minoritas. Tanah adalah alat produksi orisinal masyarakat Lampung, yaitu untuk bertani dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Kini semua sudah tidak ada lagi.

Masyarakat adat Lampung di Kabupaten Pringsewu terpaksa dengan ketulusan dan keiklasan harus menerima kondisi ini dengan lapang dada dan berbesar hati.

Dalam pandangan saya, masalah akan dapat terselesaikan jika pemerintah melaksanakan Reforma Agraria dengan memberikan tanah khusus untuk masyarakat adat (miskin) Lampung yang ada di wilayah Kabupaten Pringsewu.

Melestarikan Budaya Leluhur?

Pemerintah Provinsi Lampung dan masyarakat adat Lampung adalah yang paling bertanggung jawab dalam melestarikan dan menjaga warisan budaya leluhur, yaitu budaya Lampung. Begitu juga pemerintah Kabupaten Pringsewu. Tapi, hampir sama sekali tidak terlihat kebijakan ke arah itu. Tak ada rumah adat atau sessat di Kabupaten Pringsewu, baik yang dimiliki pemerintah kabupaten maupun oleh masyarakat adat Lampung. Apa boleh buat, perkembangan budaya Lampung sangat fakir dan miskin di Pringsewu.

Oleh karena itu, pemerintah harus segera memfasilitasi dengan membangun rumah adat Lampung sebagai pusat sarana dan kegiatan dalam pengembangan dan pelestarian budaya Lampung. Dengan melihat keadaan ekonomi masyarakat adat Lampung di Pringsewu saat ini, sulit untuk membangun sessat sendiri. Rumah adat Lampung atau sessat merupakan simbol adanya masyarakat adat Lampung di Kabupaten Pringsewu.

Kebijakan Khusus

Untuk siapa saja begitu aman, tenteram, dan nyamannya tinggal di Kabupaten Pringsewu karena masyarakat adat tak pernah mengganggu dalam segala bidang. Menghargai dan menghormati masyarakat adat (baca: asli?) Lampung adalah pantas sekali dan juga sangat Pancasila sekali.

Pemerintah harus memberikan kebijakan khusus sebagai wujud penghargaan, yaitu kebijakan khusus dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya dari Pemerintah Kabupaten Pringsewu dan "pendatang" untuk masyarakat adat Lampung di Pringsewu. Kira-kira begitu.

Pertimbangannya, keadaaan masyarakat adat Lampung yang minoritas di Kabupaten Pringsewu dan parahnya mereka ini kebanyakan miskin. Pemudanya kebanyakan adalah pengangguran. Kepemilikan di pusat-pusat ekonomi di kota Kabupaten Pringsewu nyaris tidak ada. Apalagi dengan pembangunan ekonomi pemerintah sekarang yang sangat kapitalis neoliberal sehingga menyebabkan mereka sulit bersaing. Kehadiran orang (masyarakat) adat Lampung menjadi pegawai negeri pun di pemerintahan kabupaten juga sangat sedikit.

Jadi, sangat masuk akal dan nalar dan dapat dirasa di hati bila harus ada suatu kebijakan khusus. Ada ketimpangan yang terlampau lebar tentu sangat tidak baik. Kebijakan khusus ini juga untuk meredam, menghilangkan dan mengubur semua akar dan sebab terjadinya konflik.

Semoga kebijakan khusus dapat dilahirkan pemerintah kabupaten. Misalnya, memberikan subsidi dan fasilitas untuk perbaikan pendidikan, ekonomi dan budaya asli Lampung, melaksanakan reforma agraria untuk masyarakat atau petani miskin Lampung. Yang lebih penting, kebijakan khusus ini harus didukung pula oleh pemerintah provinsi dan pusat, untuk dapat mengangkat derajat dan martabat masyarakat adat Lampung secara keseluruhan di Kabupaten Pringsewu. n

* Peran Antoni, Mahasiswa DCC Lampung, aktivis SMI (Serikat Mahasiswa Indonesia)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 21 November 2009

November 20, 2009

Liga Teater SLTA: SMAN 9 Sabet 5 Penghargaan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Kolastra SMAN 9 Bandar Lampung mendapat lima penghargaan dari 10 kategori penghargaan dalam Liga Teater SMA se-Lampung 2009. Kegiatan diadakan 12--19 November 2009.

GRUP TEATER TERBAIK. Anggota Teater Kolastra dari SMAN 9 Bandar Lampung meluapkan kegembiraannya usai terpilih sebagai Grup Terbaik dalam Liga Teater SLTA 2009 se-Provinsi Lampung di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung Kamis (19-11). (LAMPUNG POST/M. REZA)

Lima penghargaan tersebut yaitu, Grup Terbaik, Penata Rias dan Busana Terbaik, Penata Musik Terbaik, Penata Artistik Terbaik, serta Aktris Pembantu Terbaik.

Selain lima kategori tersebut terdapat juga kategori lain, yaitu. Sutradara Terbaik yang diraih oleh Teater Insyaallah (SMA Perintis 2); Grup Favorit diraih oleh Teater Lintang Sri Bawono; Aktor Terbaik (Teater Pelopor SMA Perintis 1); Aktris Terbaik (Teater 4 SMA 4 Kotabumi); dan Aktor Pembantu Terbaik (Teater 4 SMA 4 Kotabumi).

Yani Mae, salah satu juri, mengatakan penampilan para peserta Liga Teater tahun ini sudah lebih meningkat dibanding tahun lalu. "Ada beberapa yang sudah bisa menginterpretasikan naskah dengan bagus," kata dia.

Berkaitan dengan pemilihan grup terbaik, Yani mengatakan hal tersebut tidaklah terlalu penting, karena bukan berdasarkan baik atau buruknya suatu grup. Melainkan grup mana yang lebih bisa memenuhi kriteria penilaian dari para juri.

Untuk itu, Yani mengingatkan hal yang lebih penting adalah kecintaan para peserta terhadap dunia teater sudah berani ditunjukan dalam penampilan suatu grup tersebut. "Soal kalah menang itu bukan masalah. Ilmu dan pengalaman adalah yang utama."

Oyos Saroso yang juga menjadi juri mengatakan penampilan para peserta sudah lumayan bagus. "Bahkan saya lihat, ada beberapa grup yang permainannya sudah lebih bagus dibandingkan para peserta Lomba Teater Remaja Jakarta," kata dia. n MG13/K-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 20 November 2009

Liga Teater SLTA 2009

LIGA Teater SLTA 2009 se-Provinsi Lampung di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung 12-19 November 2009. Gelaran teater yang diadakan setiap tahun ini, diikuti oleh 22 grup teater SLTA se-Provinsi Lampung. Berikut beberapa penampilan grup teater yang sempat diabadikan M. Reza dari Lampung Post.




Teater Empat dari SMAN 4 Kotabumi, Lampung Utara mementaskan lakon "Lena Tak Pulang" karya Muram Batubara.



Teater Jabal dari Nurul Falah, Tanggamus mementaskan lakon "Wek Wek" karya Apris.



Teater Lintang dari SMAN Sribawono mementaskan lakon "Lena Tak Pulang" karya Muram Batubara.



Teater Ranting dari SMKN 4 Bandar Lampung mementaskan lakon "Wek Wek" karya Apris.

November 18, 2009

Liga Teater SLTA: Teater Pelopor Tampil Mengesankan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Pelopor SMA Perintis 1 Bandar Lampung tampil mengesankan pada hari terakhir Liga Teater SMA se-Lampung 2009, di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Rabu (18-11).

LIGA TEATER SLTA. Teater Pelopor dari SMA Perintis 1 Bandar Lampung mementaskan lakon Lena Tak Pulang karya Muram Batubara dalam Liga Teater SLTA 2009 se-Provinsi Lampung di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung Rabu (18-11). Penampilan teater Pelopor mendapat sambutan dari ratusan penonton yang mengikuti pementasan terakhir dalam Liga Teater SLTA tahun ini. (LAMPUNG POST/M. REZA)

Naik pentas pada pertunjukan kedua, Teater Pelopor memainkan naskah Lena Tak Pulang karya Muram Batubara dan disutradarai oleh Lintang dengan sangat apik.

Pada awal pertunjukan, penonton sudah dibuai dengan permainan musik akustik yang sederhana tapi memiliki nada-nada memikat dan setting tempat yang bagus. Adegan demi adegan yang dimainkan terasa mengalir. Tiap-tiap pemeran pun memainkan karakternya dengan porsi yang pas.

Menonton Lena Tak Pulang yang dimainkan oleh Teater Pelopor ini terasa sangat menyegarkan. Kehadiran karakter Suri, seorang waria yang berperan sebagai pembantu dalam keluarga Lena, membuat naskah asli yang terkesan serius menjadi gaya yang humoris, meski tidak keluar dari fondasi asli cerita.

Sehingga, tidak berlebihan untuk mengacungi dua jempol untuk kelompok teater yang juga menjadi peserta favorit Liga Teater SMA se-Lampung 2007 silam ini.

Lena Tak Pulang yang merupakan juara I Lomba Naskah Teater Jawa Timur ini bercerita tentang kehidupan sepasang suami-istri yang beranakkan seorang gadis beranjak dewasa. Dengan pengalaman "kekangan" dari kedua orang tua, suami-istri itu pun sama-sama memiliki komitmen untuk tidak mengekang anak mereka di kemudian hari.

Besar tanpa "kekangan" dan kebebasan dari orang tua membuat Lena tumbuh besar serasa tanpa orang tua dan kehangatan keluarga. Semua kebutuhan telah terpenuhi, uang. Semuanya berkisar dan dinilai dengan uang. Orang tuanya selalu memberikan uang yang lebih untuk kebutuhannya. Orang tuanya selalu merasa uang dan materi adalah penjamin kehidupan yang bahagia.

Naskah-naskah yang digunakan pada Liga Teater tahun ini, menurut Imas Sobariah (panitia Liga Teater), adalah karya-karya penulis naskah muda yang menjadi juara di Lomba Naskah Teater 2008.

Selain Lena Tak Pulang karya Muram Batubara (juara II Lomba Naskah Teater Jawa Timur), naskah lain yang dipergunakan yaitu, Pengagum Bintang karya Dadi Reza Pujiadi (juara harapan I Lomba Naskah Teater Jawa Timur), dan Kongres Unggas karya Apris (juara I Lomba Naskah Teater Jawa Timur), serta Wek Wek karya Djaduk Djayakusuma. n MG13/K-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 19 November 2009

Lomba Mendongeng: Menghidupkan Cerita Nusantara

BANDAR LAMPUNG--"Makan-makan sendiri. Minum-minum sendiri, cuci baju sendiri, tidur pun sendiri," demikian Muhammad Yulian bersenandung ketika memerankan karakter Pak Toba dalam lomba mendongeng tingkat SMP se-Bandar Lampung, Rabu (18-11).

Tatkala mendongeng, Yulian memerankan empat karakter sekaligus, Pak Toba, tetangga Pak Toba, Putri Ikan, dan si Samosir putra Toba. Semuanya diperankan dengan atribut berbeda. "Petir pun menyambar di mana-mana. Air deras mengalir dari kaki Pak Toba. Akhirnya terbentuklah danau Toba," kata Yulian mengakhiri cerita.

Muhammad Yulian merupakan satu dari 48 peserta yang turut andil dalam perlombaan membacakan dongeng nusantara antarsiswa SMP se-Bandar Lampung. Kegatan itu ajang tahunan yang diselenggarakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dalam merayakan Bulan Bahasa.

"Sengaja kita memilih jenis perlombaan mendongeng, karena kisah-kisah dongeng nusantara mulai ditinggalkan orang," kata Ketua Pelaksana Kegiatan Nurhasanah.

Nurhasanah mengatakan kegiatan ini diikuti 150 dari sekitar 106 SMP negeri dan swasta yang ada di Bandar Lampung. Selain memperingati Bulan Bahasa, tujuannya menggali potensi siswa.

"Kami memang belum menentukan juaranya, tapi Yulian merupakan salah satu peserta yang unik, kreatif, memiliki bakat dan potensi, caranya mendongeng berbeda dari teman-teman yang lain," kata Nurhasanah.

Ia mengatakan peserta tahun ini meningkat jika dibandingkan tahun- tahun sebelumnya. "Tahun ini 57 anak mengikuti lomba mengarang puisi, 48 anak mengarang cerpen, dan sisanya mendongeng," kata dia.

Mengenai teknis perlombaan, Sekretaris Panitia Kegiatan Fauziah Eryani mengatakan untuk cerpen dan puisi karya yang diperlombakan adalah karya orisinal siswa. "Mereka tidak boleh membawa karya dari rumah," kata dia. n MG14/S-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 19 November 2009

Liga Teater: 'Wek-Wek', Intrik Zaman Modern

BANDAR LAMPUNG--Petruk berdiri telanjang dada. Matanya jauh menerawang. Hatinya perih tetapi tak berdaya. Tak satu pun yang punyai di dunia ini. Hanya tubuh kurus tak berbaju itulah miliknya. Sawah di depannya bukanlah punya dia, meski ia yang menanam. Pun begitu dengan bebek dan telur-telur, tak sebutir pun miliknya.

Itulah adegan pembuka dalam lakon Wek Wek yang dimainkan oleh Teater Azga (SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung) pada hari ketujuh Liga Teater SMA se-Lampung di gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Selasa (17-11).

Naskah drama yang ditulis oleh Djaduk Djayakusuma ini bercerita tentang tipu menipu, sebuah intrik yang mudah kita temukan di zaman modern sekarang ini, yakni Bagong sebagai bos (juragan) bebek dengan Petruk sebagai pengagon (penggembala) bebek. Konflik tuan dan hamba itu juga akhirnya menjangkau Gareng yang berprofesi sebagai pengacara dengan Semar sebagai penguasa kelurahan.

Kemudian muncul permasalahan dalam lakon penuh komedi satir tersebut ketika Bagong kehilangan dua bebek. Petruk yang miskin tak dapat mengganti kerugian sang majikan. Lalu, datanglah Gareng. Setelah bersepakat soal imbalan, Gareng berjanji membantu Petruk untuk mengatasi persoalan tersebut.

Pada persidangan yang dipimpin Semar, Gareng merencanakan akal-akalan untuk mengelabui Bagong dengan bahasa Wek-Wek. Akal-akalan Gareng berhasil. Semar memutuskan Petruk tidak bersalah. Sebaliknya, Bagong harus mengganti segala kerugian Petruk yang merasa diperlakukan tidak adil selama bekerja.

Gareng yang berhasil memenangkan Petruk pun datang menagih janji. Dia tak cuma meminta uang, tetapi juga seekor bebek yang ternyata disembunyikan Petruk. Saat Gareng sibuk mencari-cari bebek, Petruk membawa pergi semua uang dari Gareng.

Masalah yang menimpa Petruk tidak sederhana, persoalan telur dan bebek adalah persoalan bahasa. Persoalan bahasa adalah persoalan komunikasi. Persoalan tersebut adalah persoalan lambang dan pemahaman.

Itu sebabnya Semar dan Gareng si pengacara culas mencoba menjembatani Petruk dan Bagong meski komunikasi mereka jadi aneh dan membingungkan. Perkara tersebut harus diselesaikan sebagai perkara Wek-Wek.

Terjadi tipu-menipu antartokoh, terlebih lagi pada Gareng, Semar, dan Bagong. Seakan menjadi lumrah sehingga setiap tokoh perlu memainkan tipuan di atas tipuan lain. Akhirnya, yang terjadi adalah praktek kecerdikan menipu. Ini menjadi gambaran yang nyata dalam kehidupan manusia. Memotret keculasan dan kecerdikan dalam kasus hukum.

"Zaman ini zaman edan, tidak ikut edan tidak kebagian," kata Bagong. Karakter Bagong dan Semar dalam naskah karya Anton Chekov yang diadaptasi oleh Djaduk Djayakusuma ini sedikit banyak menjadi analogi kalangan super-class, pengusaha atau pejabat, dalam kehidupan nyata. Di mana kalangan tersebut seperti tidak pernah peduli dengan apa yang telah terjadi. Menutup mata dengan hasil tindakannya. Cari aman masing-masing.

Lakon ini sebetulnya ingin menggambarkan sebuah kondisi dan situasi masyarakat yang pernah dan kini terjadi. Menjadi potret buram di mana terjadi saling tuding antarindividu atau instansi. Yah, seperti perselisihan antara cicak dan buaya. n MG13/K-1.

Sumber: Lampung Post, Rabu, 18 November 2009

November 17, 2009

'Wek Wek' Teater Ranting

LIGA TEATER SLTA 2009. Komunitas Teater Ranting dari SMK 4 Bandar Lampung mementaskan lakon "Wek-wek" karya Apris dalam Liga Teater SLTA 2009 se-Provinsi Lampung di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung Senin (16-11). (LAMPUNG POST/M. REZA)

Wisata: Batik Sanggi Meriahkan FTS II

KOTAAGUNG (Lampost): Hujan deras tak mengurangi kemeriahan pembukaan Festival Teluk Semaka (FTS) II. Bahkan, 20 model mengenakan busana batik sanggi, yaitu batik khas Tanggamus, ikut tampil dalam acara pembukaan FTS 2009 di Lapangan Merdeka Kotaagung, Tanggamus, Senin (16-11) sore.

FTS II 2009 yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tanggamus dan bekerja sama dengan Model Lampung Management tersebut dibuka Gubernur Lampung Sjahroedin Z.P.

Sekalipun hujan deras, masyarakat begitu antusias menyaksikan pesta budaya ini. Hal itu dibuktikan dengan tidak beranjaknya penonton menyaksikan pergelaran seni dan budaya dari 20 kecamatan se-Kabupaten Tanggamus dan atraksi paramotor di langit mendung Bumi Begawi Jejama.

Aneka budaya tradisional Tanggamus ditampilkan di arena FTS II 2009 yang akan berlangsung sejak hari ini (16-11) sampai Jumat (20-11).

Tidak hanya kesenian, seperti tari, gambus tradisional, wawancan, silat, lagu Lampung yang ditampilkan, peragaan busana daerah, makanan khas daerah, seni budaya, adat-istiadat serta ruwat laut juga mewarnai puncak FTS II.

Selain itu, FTS II yang ditandai dengan pencanangan Visit Tanggamus Years 2009 itu juga menampilkan dan menginformasikan khazanah kekayaan pariwisata di Bumi Begawi Jejama. "Tanggamus diciptakan saat Tuhan tersenyum karena keelokan wilayahnya, keragaman adat dan budaya serta kesejukan udaranya," kata Sjachroedin, mengagumi keelokan adat budaya Tanggamus.

Puluhan model yang mengenakan baju batik sanggi di bawah binaan Ketua Dekranasda Tanggamus Dewi Handayani Bambang Kurniawan, istri Bupati Tanggamus, juga menandai dibukanya FTS II. Peragaan busana batik sanggi ini sangat menyedot penonton dan para pejabat yang hadir. Sebab, ternyata, batik khas Tanggamus ini memiliki nilai seni yang tinggi dan begitu mewah. n UTI/D-3

Sumber: Lampung Post, Selasa, 17 November 2009

November 16, 2009

Teater Sarana Kritik Sosial

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Salah satu fungsi dari teater sebagai sarana untuk menyampaikan kritik sosial. Naskah Lena Tak Pulang karya Muram Batubara dinilai bagus karena ada pesan moral yang disampaikan.

"Tidak semua dinilai dari sisi materi," kata Yani Maemunah, dosen Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, yang menjadi salah satu juri dalam Liga Teater SMA se-Lampung pekan lalu.

Naskah Lena Tak Pulang ini adalah salah satu naskah yang menjadi naskah wajib dalam Liga Teater SMA se-Lampung 2009 yang diadakan pada 12--19 November di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung.

Berkaitan dengan Liga Teater tersebut, Yani mengutarakan dirinya sangat antusias ketika diminta untuk menjadi juri. "Liga ini bagus. Karena juga sebagai proses pembinaan terhadap bakat-bakat muda."

Tetapi, Yani menilai hendaknya proses pembinaan tersebut jangan hanya berhenti pada peristiwa-peristiwa semacam Liga Teater tersebut, melainkan kontinuitas.

"Yang terpenting itu kontinuitasnya. Jangan kalau pas ada festival atau lomba-lomba baru latihan. Pihak sekolah pun seharusnya bisa kooperatif. Ambil saja seniman teater sebagai pembimbing," kata dia.


Dua Grup

Lakon Lena Tak Pulang tersebut dimainkan oleh dua grup teater (Teater Lintang Sri Bawono dan Teater Empat SMAN 4 Kotabumi), Jumat (13-11) lalu.

Lakon realis ini ber-setting di sebuah ruang tamu. Adegan dibuka dengan dialog antara orang tua Lena. Sang ibu merasa khawatir karena Lena sudah tiga hari tidak pulang tanpa diketahui berada di mana.

Satu per satu temannya datang mencarinya ke rumah. Namun yang didapat hanyalah sepasang suami istri yang tak tahu di mana anaknya berada saat itu. Rasa khawatir tersebut pun membuat kedua orang tua Lena salah menanggapi ucapan seorang laki-laki teman main Lena, bahwa Lena telah mencuri.

Ucapan laki-laki tersebut mengejutkan kedua orang tua Lena. Mereka berkata akan mengganti segala kerugian yang telah disebabkan oleh Lena.

Hari berganti, kekhawatiran kedua orang tua Lena makin jadi. Hingga akhirnya Lena pulang dengan wajah yang kusut. Perutnya yang kosong membuatnya langsung makan tanpa memerdulikan orang tuanya. Kelegaan karena Lena akhirnya pulang malah dijawab dengan caci maki oleh Lena.

Lena mencurahkan tentang apa yang selama ini dipendamnya. Curahan hati atas segala sikap dari orang tua yang dianggapnya tak pernah memikirkan dan memberikan kasih sayang padanya. Suaranya semakin keras, air matanya hampir tumbang membasahi pipi, Bu Lena dan Pak Lena semakin bingung akan situasi yang terjadi.

Keadaan malah bertambah runyam saat seorang lelaki, teman Lena, datang dan menagih janji. Lena keluar kamar dan berdiskusi. Situasi semakin ribut dan penuh emosi.

Saat itu, suara ketukan pintu memecah kebekuan yang sedang terjadi. Satu lagi temannya datang, memperkeruh suasana.

Dengan ketidakjelasan yang terjadi, tangisan Lena semakin jadi. Kedua teman Lena menyingkir, dan hanya tinggal kebingungan dan koreksi diri yang dilakukan Bu Lena dan Pak Lena akan dirinya. Namun, beberapa detik kemudian setelah sunyi, pintu rumah kembali terketuk lagi.

Di akhir adegan, sang ayah menceritakan sedikit tentang pengalaman kekangan dari kedua orang tua, suami-istri itu pun sama-sama memiliki komitmen untuk tidak mengekang anak mereka di kemudian hari.

Sehingga Lena besar tanpa kekangan dan penuh kebebasan dari orang tua, malah membuat Lena tumbuh serasa tanpa orang tua dan kehangatan keluarga. Semua kebutuhan telah terpenuhi.

Semuanya berkisar dan dinilai dengan uang. Orang tuanya selalu memberikan uang yang lebih untuk kebutuhannya. Naskah ini menyindir tentang kehidupan zaman sekarang yang apa pun selalu dinilai dengan rupiah. n MG13/K-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 16 November 2009

Pariwisata: Hari Ini, Festival Teluk Semaka Dibuka

KOTAAGUNG (Lampost): Pemkab Tanggamus kembali menggelar kegiatan Festival Teluk Semaka, di Lapangan Merdeka, Kotaagung. Kegiatan untuk kedua kalinya sejak tahun 2008 ini, merupakan ajang promosi budaya dan pariwisata Bumi Begawi Jejama, dan rencananya akan dibuka Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P., hari ini (16-11).

Prosesi pembukaan Festival Teluk Semaka yang dirangkai dengan kegiatan sakral ruwat laut para nelayan Teluk Semaka. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanggamus, Ahmad Syafe'i, kepada Lampung Post mengatakan Festival Teluk Semaka II yang akan diselenggarakan Pemkab Tanggamus bertujuan mempromosikan khazanah budaya dan pariwisata yang ada di daerah yang dijuluki Bumi Begawi Jejama ini.

Selain itu, sekaligus dalam mempromosikan tahun kunjungan wisata Kabupaten Tanggamus 2010 atau Visit Tanggamus Years 2010. "Kegiatan ini juga dalam upaya menggali potensi pariwisata dan budaya, serta adat-istiadat yang adiluhung. Di mana, selama ini sudah mulai terkikis akibat modernisasi dan sudah mulai dilupakan masyarakat kita," kata Syafe'i.

Mulai 16--20 November, kata dia, masyarakat luas akan diberi informasi dan diperkenalkan sejumlah objek wisata di Kabupaten Tanggamus, baik melalui darat, laut maupun udara melalu kegiatan paramotor. Selain itu, juga digelar sejumlah perlombaan, di antaranya lomba memancing, lomba lagu pop daerah, lomba gambus tunggal, lomba tari kreasi, lomba pantun, dan upacara ngumbai laut (ruat laut), dan seminar bedah budaya.

"Pada acara pembukaannya juga, akan disuguhkan kreasi budaya, seperti tari budaya, atraksi para layang, dan parade pawai budaya," ujar dia.

Syafe'i menambahkan untuk acara pembukaan akan dilangsungkan di Lapangan Merdeka, Kecamatan Kotaagung, sementara untuk perlombaan yang akan diadakan, pesertanya berasal dari perwakilan dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Tanggamus. Perlombaan juga akan diselengarakan di Dermaga II Pantai Laut, Islamic Center, dan Lapangan Merdeka. n UTI/D-3

Sumber: Lampung Post, Senin, 16 November 2009

November 14, 2009

'Piil Pesenggiri': Semangat Kelampungan

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro

SUKU bangsa Lampung dalam jejak rekam sejarah tercatat sebagai salah satu suku bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Fakta ini bisa disigi dan tercermin dari warisan kebudayaan yang dimiliki ulun--sebutan untuk orang--Lampung baik yang teraga (tangible) maupun tak teraga (intangible).

Suku bangsa Lampung memiliki aksara baca-tulis yang bernama kaganga. Memiliki bahasa daerah dalam dua dialek nyow dan api, tatanan acuan pemerintahan dalam kitab Kuntara Raja Niti (Kitab Hukum Tata Negara), tradisi, arsitektur, sastra serta adat istiadat yang terus bertumbuhkembang turun-temurun.

Bagaimana posisi kebudayaan Lampung dalam pergaulan kampung global kini? Apakah Lampung dengan kekayaan ikon budaya dan kearifan lokalnya bisa ikut menyumbang dan mewarnai kebudayaan global. Atau sebaliknya, Lampung justru tenggelam dalam ikon modernitas dan budaya lokalnya tergerus dan menuju kepunahan?

Budayawan Lampung Anshori Djausal menengarai konservasi budaya Lampung berjalan dinamis. Namun, dia juga tak kalah khawatir dan mengingatkan kalau saat ini eksistensi kebudayaan Lampung dihadapkan pada dua tantangan besar.

Secara internal, kita kekeringan pemikiran dan upaya pelestarian budaya, pelaku budaya yang terbatas, pewarisan yang tersendat, banyak generasi muda yang kurang peduli, keterbatasan sarana, dana, lemahnya database, dan rapuhnya kelembagaan adat.

Sedangkan secara eksternal, budaya Lampung dihadapkan pada serbuan budaya global melalui koran, radio, internet, dan televisi yang leluasa masuk ke ruang privasi kita. (Lampung Post, 31 Oktober 2009).

Memang, benar apa yang dikatakan Anshori, kalau kebudayaan Lampung ingin tetap eksis harus menggiatkan konservasi yang lebih terarah, punya visi, dan misi yang jelas.

Menurut pengamatan penulis selama ini yang terjadi langkah konservasi dan pelestarian yang dilakukan oleh berbagai dinas dan lembaga-lembaga terkesan berjalan sendiri-sendiri, bahkan sering tumpang tindih programnya.

Program-program yang ditaja dinas dan lembaga dalam upaya pelestarian terkesan hanya copy-paste dan sasarannya hanya itu ke itu saja. Bisa jadi ini karena lemahnya koordinasi antara stakeholder atau miskinnya pemikiran para decicion maker dalam membuat program yang tepat sasaran sehingga asal proyek berjalan mulus dan tahun depan kembali APBD tetap bergulir.

Konservasi budaya Lampung bisa dilakukan bersama-sama dan bersinergi. Selain enam aspek yang ditawarkan Anshori Djausal dalam upaya konservasi budaya Lampung, penulis juga punya beberapa catatan yang bisa dijadikan acuan.

Langkah yang paling penting saat ini, kalau memang punya niatan untuk melakukan konservasi budaya Lampung dengan serius adalah memperkuat database dan membangun jejaring antarlembaga terkait dan pemangku kepentingan (stakeholder) baik yang ada di Lampung maupun di luar Lampung yang concern kepada kebudayaan (kesenian) Lampung.

Langkah selanjutnya, perlunya menginventarisasi para pelaku budaya Lampung dibarengi dengan membangun kantung-kantung kesenian di kampung-kampung atau tiyuh. Ini sekaligus bisa dipetakan sanggar-sanggar. Lembaga adat dan para pelaku budaya yang masih aktif. Kantung kebudayaan (kesenian) ini juga dapat dijadikan wadah pewarisan tradisi, kesenian, budaya, dan adat berlangsung.

Secara berkala bisa digelar festival budaya dan seni tradisi di situsnya, seperti yang dilakukan Soetanto Mendut dengan Festival Lima Gunungnya di kawasan Lembah Tidar, Magelang. Sehingga kantung-kantung kesenian (budaya) ini bisa bertumbuh kembang dan dijadikan destinasi wisata yang unik dan muaranya akan memakmurkan para pelaku budaya dan masyarakat setempat.

Penguatan Lembaga

Penguatan lembaga kesenian dan kebudayaan ini merupakan salah satu langkah penting. Lembaga-lembaga yang concern dengan budaya Lampung harus duduk satu meja sehingga tak jalan sendiri seperti selama ini menggodok konsep konservasi budaya yang bisa digarap bersama dan saling mengisi.

Menurut pengamatan penulis yang terjadi selama ini banyak bendera organisasi yang berkibar mengusung tagline budaya dan kesenian Lampung sebagai ladang pergerakan. Namun, kiprah lembaganya tak jelas, bahkan banyak yang hanya sekadar papan nama. Bahkan, akhir-akhir ini ditengarai beberapa lembaga kebudayaan (kesenian) sudah ikut larut dalam politik praktis. Fenomena ini bisa dilihat jika ada helat pilkada digelar di daerah.

Sekali lagi, penguatan lembaga ini sangat penting, karena lembaga yang profesional dan punya jejaring baik regional maupun internasional bisa menjadi sarana membawa budaya Lampung ke arena pergaulan kampung global. Penguatan lembaga bisa dilakukan baik dari segi administrasi maupun manajemen bisa menjadi bargaining power untuk fundrising dan mencari funding dalam menghidupi organisasi.

Ke depan penting digagas lahirnya lembaga Lampungologi--lembaga kebudayaan yang benar-benar berkosentrasi pada budaya Lampung. Lembaga ini tak harus lahir dari kalangan kampus (akedemisi), tetapi bisa dari kalangan independen terdiri dari budayawan, intelektual, peneliti, dan seniman.

'The Spirit of Lampung'

Selama ini konservasi budaya Lampung berjalan baru sebatas wadag belum menyentuh ruhnya. Lihat saja pada proyek mercusuar Menara Siger, gedung-gedung kantor yang berornamen Lampung dan pakaian adat Lampung yang sesekali dipakai para pejabat dalam acara-acara protokoler.

Tetapi apakah orang Lampung sudah memiliki semangat kelampungan dalam jiwanya? Kalau, ya, tak bakalan terjadi Hadiah Sastra Rancage 2009 lepas dari tangan Lampung, karena tak ada satu pun buku sastra Lampung yang ikut serta dalam seleksi.

Dan, alasannya pun sangat memprihatinkan tak ada penerbit di Lampung yang merilisnya. Di mana piil kita? Sementara miliaran rupiah menggelontor dalam kancah pilkada. Tak satu pun buku sastra Lampung yang terbit sepanjang 2008.

Padahal, orang Lampung sebagai salah satu masyarakat memiliki peradaban tinggi mempunyai falsafah hidup sebagai refleksi atas kesemestaan. Masyarakat adat Lampung pun punya piil pesenggiri, etos dan semangat kelampungan (the spirit of Lampung) sebagai dasar filosofinya.

Etos dan semangat kelampungan (spirit of Lampung) piil pesenggiri ini mendorong orang bekerja keras, kreatif, cermat, dan teliti, orientasi pada prestasi, berani kompetisi dan pantang menyerah atas tantangan yang muncul. Semua karena mempertaruhkan harga diri dan martabat seseorang untuk sesuatu yang mulya di tengah-tengah masyarakat.

Orang Lampung Pesisir menyebut: ghepot delom mufakat (prinsip persatuan); tetengah tetanggah (prinsip persamaan); bupudak waya (prinsip penghormatan); ghopghama delom beguai (prinsip kerja keras); bupiil bupesenggiri (prinsip bercita-cita dan keberhasilan).

Lampung Pepadun menyebut: piil pesenggiri (prinsip kehormatan); juluk adek (prinsip keberhasilan); nemui nyimah (prinsip penghargaan); nengah nyappur (prinsip persamaan); dan sakai sambayan (prinsip kerja sama).

Kearifan lokal ulun Lampung yang terkandung dalam semangat kelampungan piil pesenggiri ini bisa dijadikan modal dalam melakukan konservasi budaya Lampung.

Falsafah ini pula yang harus menginpirasi dan menjadi spirit dalam mengonservasi budaya Lampung yang sasarannya tak sekadar wadak, tetapi jiwa. Etos kerja dan spirit of Lampung (semangat kelampungan) piil pesenggiri harus terus digelorakan untuk membangun eksistensi budaya Lampung di tengah kampung global. Kalau Lampung tak ingin tenggelam, dengan semangat piil pesenggiri, kita harus berpikir lokal dan bertindak global. Begitu, Puaghi!


* Christian Heru Cahyo Saputro, Direktur Eksekutif Jung Foundation Lampung Heritage, penghayat kearifan lokal

Sumber: Lampung Post, 14 November 2009

Disbudpar Dinilai Tidak Inovatif

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Ketua Komisi B DPRD Bandar Lampung Septrio Frizo menilai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bandar Lampung kurang inovatif. Hal tersebut dilihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan Disbudpar cenderung monoton dan tidak kreatif.

"Dinas Pariwisata merupakan penunjang terhadap peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Promosi yang dilakukan Dinas Pariwisata belum efektif untuk menggaet wisatawan," kata Ketua Komisi B DPRD Bandar Lampung Septrio Frizo usai rapat kerja dengan Disbudpar, Kamis (12-11).

"Dinas Pariwisata kurang inovatif. Promosi yang dilakukan Dinas Pariwiata kurang bagus," ujarnya.

Septrio mengatakan Disbudpar seharusnya lebih memfokuskan pada promosi dalam negeri. Promosi ke luar negeri dengan mengikuti sebuah festival tidak efektif. Promosi ke luar negeri sebaiknya dilakukan melalui website atau kerja sama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Dalam rapat kerja dengan Disbudpar, Septrio sempat menanyakan alamat website yang dimiliki dinas. Namun, perwakilan dari Disbudpar tidak mampu menjawab. Mereka mengaku lupa dengan alamat website pariwisata Bandar Lampung.

"Dalam hearing mereka mengaku gaptek (gagap teknologi)," kata Septrio. Politisi Partai Demokrat itu menilai penghargaan yang didapat Kota Bandar Lampung saat melakukan promosi ke Belanda hanya sebagai peserta. Tidak ada dampak yang besar setelah melakukan promosi ke luar negeri.

Berdasarkan data dari Disbudpar, besar alokasi anggaran untuk promosi wisata ke luar negeri tahun anggaran 2009 mencapai Rp423 juta. Sementara itu, dana untuk mengadakan kegiatan Begawi Bandar Lampung tahun anggaran 2009 mencapai Rp239 juta.

Septrio juga mengatakan promosi pariwisata dan kegiatan yang dilakukan Disbudpar kurang bagus. Harusnya Disbudpar lebih menarik. Ia meminta agar program kerja yang dibuat Disbudpar dikonsultasikan ke DPRD. Disbudpar juga harus meminta masukan-masukan dari pihak lain agar program kerja lebih variatif.

"Selama ini kegiatan pariwisata hanya sebatas rutinitas. Tidak ada yang inovatif," kata dia.

Septrio meminta agar Disbudpar membuat profil pariwisata Bandar Lampung untuk menjadi panduan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Tapis Berseri. DPRD akan membantu anggaran promosi Disbudpar.

Pariwiata, kata Septrio, sebagai salah satu penunjang PAD. Disbudpar perlu memiliki media informasi. Namun, perlu diimbangi dengan sumber daya manusia yang bisa mengelola pariwisata Bandar Lampung.

Anggota Komisi B Dolly Sandra juga mempertanyakan promosi wisata ke luar negeri dan anggaran kegiatan Begawi. Promosi wisata ke luar negeri dan kegiatan Begawi menghabiskan dana yang cukup besar. "Begawi jangan hanya menghabiskan dana seperti itu. Harus ada dampak bagi Bandar Lampung," kata Dolly.

Kepala Seksi Rekreasi Disbudpar Bandar Lampung Ellya Saleh mengatakan kegiatan Begawi mempunyai dampak terhadap jumlah hunian hotel di Bandar Lampung. Saat kegiatan Begawi, hunian hotel meningkat. n MG2/K-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 14 November 2009

November 13, 2009

Naskah Penulis Muda Mulai Dipentaskan

Bandar Lampung, Kompas - Setelah terhenti pada 2008, Taman Budaya Lampung kembali menggelar Liga Teater SMA pada 12 sampai dengan 19 November 2009. Pada Liga Teater 2009, grup-grup teater muda Lampung ditantang untuk mampu menampilkan naskah-naskah karya penulis muda.

Pemain dari Teater Saraswati, SMAN 1 Gadingrejo, Tanggamus, Kamis (12/11), di teater tertutup Taman Budaya Lampung, Bandar Lampung, mementaskan lakon Pengagum Bintang. Grup tersebut merupakan satu dari 18 grup peserta Liga Teater SMA se-Lampung yang berlangsung mulai dari 12 hingga 19 November 2009. Liga itu sendiri bertujuan untuk memunculkan generasi baru dunia teater Lampung. (KOMPAS/HELENA F NABABAN)

Imas Sobariah, panitia Liga Teater SMA 2009, Kamis (12/11), mengatakan, berbeda dengan penyelenggaraan liga teater 2007 dan sebelumnya yang banyak mempergunakan naskah-naskah teater yang sudah ada dan dikenal, pada penyelenggaraan liga teater 2009 panitia memilih mempergunakan naskah-naskah baru karya pemenang lomba naskah teater Jawa Timur.

Naskah yang dipergunakan berjudul Pengagum Bintang karya Dadi Reza Pujiadi, juara harapan I Lomba Naskah Teater Jawa Timur; Lena Tak Pulang karya Muram Batubara, juara I Lomba Naskah Teater Jawa Timur, dan Kongres Unggas karya Apris, juara I Lomba Naskah Teater Jawa Timur. Adapun naskah lain yang juga ditawarkan panitia dan dipilih sebagian peserta adalah naskah berjudul Wak Wak karya Apris.

Imas mengatakan, naskah-naskah karya penulis muda sengaja ditampilkan untuk menantang kemampuan grup teater muda mengolah dan mengapresiasi karya-karya penulis muda. ”Selain karya-karya tersebut cenderung bukan karya serius seperti umumnya karya-karya teater yang sudah ada, kami ingin melihat kemampuan grup-grup teater muda di Lampung berkreasi,” tutur Imas.

Mengenal

Tujuan lainnya, ujar Imas, panitia menginginkan supaya grup-grup teater muda tersebut semakin mengenal ada banyak naskah atau lakon untuk teater selain karya-karya klasik atau karya serius yang sudah dikenal. Pada Liga Teater 2009, tercatat sebanyak 18 dari 20 grup teater muda dari seluruh Lampung lolos seleksi.

Yani Mae, salah satu pengamat dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung yang hadir pada liga teater tersebut, mengatakan, liga tersebut sudah dilaksanakan sejak 2000. Dibandingkan liga teater dua tahun yang lalu, peserta pada tahun ini tergolong peserta baru.

”Peserta tahun ini lebih variatif. Ini merupakan jalan yang baik untuk mencari bakat-bakat baru teater dari siswa SMA,” ujar Yani.

Lebih lanjut, Imas mengatakan, liga teater tersebut menghadirkan tiga juri, yaitu Yani Mae, aktivis teater dari Komunitas Berkat Yakin M Yunus, serta aktivis teater Oyos Saroso Hn. Berbeda dengan penyelenggaraan liga teater sebelumnya, Liga Teater 2009 akan diakhiri dengan sarasehan dan workshop. Kedua acara itu diselenggarakan pada hari terakhir liga, yaitu 19 November 2009.

Pada acara sarasehan, peserta liga akan mendapatkan masukan mengenai kekurangan dan kelebihan masing-masing dari Yani Mae. Sementara pada workshop, Yani akan melatih grup teater mengelola kekurangan dan kelebihan setiap kelompok menjadi kemampuan berteater yang lebih baik. (HLN)

Sumber: Kompas, Jumat, 13 November 2009

November 9, 2009

Tanggapan atas berita 'Penyair Lampung Diundang Malaysia'

BERITA Lampung Post, 7 November 2009 halaman 4 dengan judul Penyair Lampung Diundang Malaysia terkesan menyudutkan saya, terutama pada alinea yang mengatakan saya "mengklaim sebagai ketua rombongan".

Dalam kesempatan ini saya nyatakan saya tidak pernah mengklaim seperti itu. Alasan apa saya harus mengklaim itu. Sebab, saya diundang sendiri langsung dari panitia, yakni S.M. Zakir (Malaysia). Sebaliknya Sdr. Eddy Samudra Kertagama yang mengaku mendapat kepercayaan dari panitia untuk menentukan penyair Lampung, sehingga Arman A.Z. yang jelas-jelas cerpenis, diklaim Eddy sebagai penyair dan menentukan nama-nama penyair Lampung.

Anehnya versi Edy, saya tak terundang. Padahal, menurut panitia, undangan buat saya sudah dititip ke dia. Hal ini juga telah diketahui Syaiful Irba Tanpaka dan ia juga sempat menanyakan perihal saya kepada Edy.

Itu sebabnya ketika saya mendapat undangan yang disusul oleh panitia, saya mengajukan proposal sendiri ke Pemprov Lampung dengan mengikuti prosedur, yaitu Biro Umum, Bagian Kebudayaan, dan Sekprov Lampung. Berbeda yang dilakukan Eddy, yaitu melalui Ketua Umum DKL Atu Ayi.

Dalam pertemuan saya dengan Kepala Bagian Kebudayaan Biro Pembinaaan Mental Spiritual Pemprov Lampung, saya tak mengklaim sebagai ketua rombongan.

Demikian, terima kasih dimuatnya tanggapan saya ini.

Isbedy Stiawan Z.S.

Sumber: Lampung Post, Senin, 9 November 2009

November 8, 2009

Mengangkat Harkat Kebudayaan

Kesalahpahaman yang berlarut-larut terhadap kebudayaan membuat kita keliru menempatkan kebudayaan pada posisi yang benar. Sampai saat ini, misalnya, kita tidak memiliki strategi kebudayaan atau politik kebudayaan untuk memuliakan kebudayaan, termasuk kesenian di dalamnya.



BILIK JUMPA SENIMAN-MAHASISWA. Suasana diskusi Polemik Klaim Seni-Budaya Indonesia oleh Malaysia yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila, Rabu (4-11) malam. Tampil sebagai pembicara dari kanan ke kiri: sastrawan Udo Z. Karzi, Ketua Program Pendidikan Seni Tari FKIP Unila Dwiyana Habsary, dan dosen Fakultas Hukum Unila Lindati Dwiatin dengan moderator Didi Arsandi. (LAMPUNG POST/M. REZA)

KETIDAKMENGERTIAN tentang kebudayaan membuat nasib kebudayaan di negeri ini menjadi tidak lebih dari "sesuatu" yang bisa dinilai dengan materi belaka. Desakan dari para seniman dan budayawan agar pemerintah mulai memedulikan kebudayaan secara lebih serius seperti tidak bergema.

Pandangan-pandangan seperti ini mengemuka dalam Diskusi Polemik Klaim Seni-Budaya Indonesia oleh Malaysia pada acara Bilik Jumpa Seniman- Mahasiswa (Bijusa) yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKM-BS) Universitas Lampung (Unila) di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Rabu (4-11).

Tak kurang 50 orang duduk santai beralas karpet biru memenuhi ruang 8 x 8 meter malam itu. Mereka serius menyimak penyampaian materi yang disampaikan dosen hukum Keperdataan Fakultas Hukum Unila Lindati Dwiatin, Ketua Program Studi Pendidikan Seni Tari FKIP Unila Dwiyana Habsary, dan jurnalis-sastrawan Udo Z. Karzi.

Diskusi yang dibuka dengan tari kipas oleh penari-penari UKMBS serta pembacaan puisi oleh penyair Fitriyani dan Edy Samudra Kertagama, berlangsung santai.

Menurut Udo Z. Karzi, selama ini kebudayaan telah disempitartikan sebagai kesenian atau adat-istiadat. "Dengan anggapan seperti itu keberadaan kebudayaan menjadi dikerdilkan. Kebudayaan menjadi tak lebih dari benda-benda yang kalau tidak terasa langsung manfaatnya, langsung dilupakan," ujarnya.

Pemaknaan seperti ini hanya menempatkan kebudayaan sebatas pada bentuk fisik dari kebudayaan tersebut seperti tari, lagu-lagu tradisional, benda purbakala, dan sebagainya. Dia mengajak peserta agar tidak terjebak dalam pemikiran yang usang tentang kebudayaan. "Saya mengajak berpikir tentang kebudayaan secara komprehensif," kata Udo Z. Karzi.

Akibat kesalahpamahaman akan arti kebudayaan itu sendiri oleh bangsa Indonesia membuat bangsa ini lupa dan acuh dengan kebudayaan aslinya. "Kebudayaan sudah terlalu lama tidak dianggap lagi di negeri ini," kata dia.

Menurut Udo Z. Karzi, ketidakpedulian warga negara Indonesia terhadap kebudayaannya sendirilah yang membuat seluruh bangsa ini tergopoh-gopoh melakukan pendataan kesenian asli Indonesia. "Lalu Departemen Pariwisata dan Kebudayaan menganjurkan agar semua daerah mematenkan kebudayaan lokalnya. Tapi, benarkah sesederhana itu?"

Berkaitan dengan klaim Malaysia terhadap beberapa seni tradisional Indonesia beberapa waktu lalu, Udo berpendapat bahwa tindakan untuk mematenkan seni/budaya tersebut adalah tidak tepat. "Paten tidak ada urusannya dengan seni budaya," kata dia.

Menurut Udo, kekeliruan dalam menanggapi sepak terjang Malaysia yang mengklaim beberapa seni Indonesia dengan mematenkan seni dan budaya Indonesia, justru akan menjadi bumerang bagi keberadaan seni/budaya itu sendiri.

Hak cipta, kata dia, ada batas waktu berlakunya. Ketika habis masa berlaku hak cipta, yakni 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia, hak ciptanya hilang dan dapat diklaim siapa saja. "Kondisi ini jelas berbahaya bagi keberadaan seni-budaya itu," kata penerima Hadiah Sastra Rancage 2008 ini.

Bangsa Indonesia, ujarnya, sudah terlalu lama salah paham dengan apa yang disebut "kebudayaan" tersebut. "Pemerintah terutama, masih menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang harus dijual. Nasionalisme baru terbangun saat budaya diklaim negara lain," kata Udo.

Seorang peserta diskusi yang mengatakan bahwa kenapa bangsa ini tidak berpikir positif saja terhadap klaim Malaysia karena negeri tetangga itu lebih menghargai kesenian Indonesia, serta beranggapan bahwa klaim itu adalah salah satu usaha untuk menyelamatkan budaya dan seni Indonesia.

Menganggapi ini, Udo mengatakan bangsa ini adalah bangsa yang miskin sehingga menjadi rendah diri dan sangat susah untuk berpikir positif seperti itu. "Kita ini bangsa yang miskin karena tidak menghargai budaya sendiri. Kita harus merasa malu," kata dia.

Senada dengan itu, Dwiyana Habsary lebih menyoriti perilaku bangsa ini sebagai pemilik kekayaan seni dan budaya. "Yang utama itu dari diri kita sendiri. Bagaimana caranya menumbuhkan kecintaan terhadap budaya kita sendiri. Tidak perlu ambil pusing dengan klaim-klaim yang terjadi. Toh, yang mengerti itu (budaya dan tradisi, red) kita sendiri," kata dosen FKIP yang studi S-2-nya mengambil konsentrasi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa tersebut.

Dwiyana Habsary memaparkan bahwa seharusnya permasalahan klaim seni dan budaya saat ini dijadikan pelajaran yang sangat berharga bagi bangsa ini. "Menjadi bangsa yang kaya bukan berarti lupa akan kewajiban untuk menjaga kekayaan tersebut," kata Dwiyana dalam makalahnya.

Ia menuturkan kita harus mengingat kembali mengapa seni bisa dikatakan sebagai penyangga budaya, yakni seni mencerminkan nilai-nilai kebudayaan, seni juga dapat menjadi semacam dokumentasi tentang sejarah suatu bangsa, dan seni dapat memberikan pengaruh tentang bagaimana suatu bangsa mengatur "dunianya".

Permasalahannya, menurut Dwiyana, mampukah kita sebagai pemilik seni tersebut menjabarkan atau mengimplementasikan ketiga poin di atas berdasarkan seni yang ada. "Sudah cukupkah usaha kita sebagai pemilik kekayaan ini untuk menjaganya?" kata dia.

Dari sisi hukum, Lindati Dwiatin menegaskan kita tidak perlu khawatir akan klaim karena kebudayaan tradisional itu hak ciptanya berada di tangan negara. "Pasal 10 dan 11 UUHC (Undang-Undang Hak Cipta) memberikan perlindungan terhadap hak cipta atas suatu ciptaan yang penciptanya tidak diketahui. Negara memegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah, dan benda budaya nasional lainnya," kata dosen mata kuliah Hak Kekayaan Intelektual FH Unila tersebut.

Lindati mengatakan pada Pasal 10 Ayat (1) UUHC negara memegang hak cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah, dan budaya nasional. Sedangkan pada Ayat (2) menyebutkan bahwa negara memegang hak cipta atas floklore dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama seperti, cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya.

Menurut Lindati, tidak mudah untuk membuat brand image itu. Reog, ia menyontohkan, meskipun diklaim sebagai milik Malaysia, pengertian yang sudah tertanam di setiap kepala orang yang mengetahui reog, reog itu berasal dan asli dari Indonesia. "Kita hendaknya lebih menghargai apa yang sudah ada. Ini jadi pekerjaan rumah untuk bangsa Indonesia, bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat," kata dia.

Kepala Museum Lampung Pulung Swandaru yang hadir dalam diskusi mengatakan bangsa ini adalah bangsa yang penuh paradoks. "Di satu sisi, ketika ada pengklaiman atas seni budaya, kita seperti kebakaran jenggot. Sedangkan di sisi lain, kita seperti tidak peduli dengan budaya asli kita," kata dia.

Penyair Budi Hutasuhut berpendapat ada baiknya bangsa ini berpikir positif dalam soal klaim budaya. "Mungkin saja dengan klaim tersebut, Malaysia ingin melestarikan seni dan budaya Indonesia yang hampir punah karena selama ini sepertinya orang Indonesia sendiri acuh tak acuh dengan kebudayaannya sendiri."

Ia juga mengkritisi bahwa selama ini seni dan budaya terlalu bergantung pada pemerintah. "Jika pemerintahnya begini, maka kesenian dan kebudayannya pun cenderung mengikuti pola pemerintahnya itu," kata dia.

Namun, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Muhammad Muis menilai klaim Malaysia atas seni budaya Indonesia tersebut adalah masalah yang sangat serius. Hal tersebut adalah bukti Malaysia sudah tidak lagi menghargai Indonesia.

"Dulu kita kerap disebut sebagai 'saudara tua' oleh mereka (Malaysia, red). Tapi, sepertinya sebutan itu kini sudah tidak berlaku lagi dengan tindakan mereka itu," ujarnya.

Jadi? n TRI PURNA JAYA/P-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 November 2009