February 21, 2016

Les Manuscrits Lampongs

Oleh Arman AZ


BARON Sloet van de Beele menjabat Gubernur Jenderal di Hindia Belanda tahun 1861 sampai 1866. Pada era itu, dia mengoleksi sejumlah naskah beraksara Lampung. Naskah yang ditulis di kulit kayu, kulit hewan, rotan, tanduk, dan kertas itu berasal dari beberapa tempat, seperti Krui dan Menggala. Oleh Baron, sekitar 40 naskah itu diserahkan kepada Van der Tuuk untuk  diteliti dan ditransliterasi ke bahasa Prancis. Hasil telaah Van der Tuuk atas permintaan Baron itu kemudian menjadi manuskrip berjudul Les Manuscrits Lampongs.

Dalam buku Khazanah Naskah, Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia, karya Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman, terbitan YOI-Ecole Francaise d’Extreme-Orient (1999) diterakan bahwa ”Sampai sekarang ini, buku tesebut merupakan sumber utama tentang tulisan Lampung”. Istilah “sumber utama” ini  nampaknya terburu-buru, jika tidak ingin disebut keliru, karena dari penelusuran data, sampai saat ini belum ditemukan hasil kajian atau hasil penelitian mengenai isi Les Manuscrits Lampongs.

Di lain buku, Redjang Ka-Ga-Nga Texts, Folk Literature of South Sumatra, karya M. A. Jaspan, The Australian National University, Canberra (1964), Jaspan menjelaskan di  pendahuluan: “ The only substantial collection of South Sumatran ka-ga-nga texts thus far published is that of Baron Sloet van de Beele, edited by Van der Tuuk in 1868. This monumental collection – with its transliteration and translation it the texts – laid the foundation for the systematic study of the indigenous syllabic script literature of South Sumatra.” Pernyataan Jaspan ini pun unik. Dia mengetahui dan menyebut Les Manuscrits Lampongs sebagai “monumental collection” namun dia memilih tinggal beberapa tahun di Rejang (Bengkulu) untuk meneliti aksara-bahasa di sana.

Dalam sebuah paper yang ditulis Titik Pudjiastuti (FIB UI) berjudul Lampong Scripts: The Writing tradition that almost disappear diterangkan: “Based on information from various sources, there is only limited writing that specialized in talking about Lampong scripts, one of them is writing of van der Tuuk (1868) called Les Manuscrits Lampongs.

Di Lampung, Van der Tuuk menetap sekitar satu tahun (1868-1869). Saat di Sumatera Utara, dia memang bekerja pada lembaga alkitab NBG dan tugasnya menerjemahkan bibel ke dalam bahasa setempat. Namun saat dia di Lampung dan Bali, sudha berbeda. Segelintir kalangan berasumsi atau menggeneralisir bahwa apa yang dilakukan Van der Tuuk di Lampung dan Bali sama seperti yang dilakukannya di Sumatera Utara. Faktanya, dalam surat pribadinya yang dibuat 14-8-1868 bisa diketahui bahwa Van der Tuuk ditugaskan ke Lampung dan Bali oleh pemerintah Hindia Belanda, untuk mempelajari bahasa setempat. Jadi, semenjak di Lampung dan Bali, dia tidak lagi bertugas di NBG, tapi pada pemerintah Hindia Belanda.

Perkembangan teknologi informasi begitu deras. Info dan data mengenai Lampung masa silam yang sekian lama tidak diketahui publik, muncul satu per satu. Termasuk info bahwa tahun 2014 Les Manuscrits Lampongs yang didominasi bahasa Prancis itu telah diretransliterasi ke bahasa Inggris oleh seseorang di Montreal (Canada) bernama Christopher Miller. Ah, sebuah manuskrip Lampung yang dibuat tahun 1868, tidak banyak diketahui masyarakat Lampung, “diurus” oleh seseorang di benua jauh. Dengan catatan, sampai saat ini belum ditemukan data ada pihak lain yang “mengopeni” Les Manuscrits Lampongs.

Akhir tahun 2015, saya berkomunikasi via surel dengan Miller. Pertanyaan saya simpel saja, apa yang membuatnya mau susah payah meretransliterasi manuskrip itu? Tujuan Miller sederhana: agar memudahkan siapa saja yang berminat mengetahui isi Les Manuscrits Lampongs, ketimbang kesusahan membacanya dalam bahasa Prancis.

Yang telah dilakukan Miller memang sangat membantu. Manuskrip yang bersumber dari naskah beraksara Lampung, oleh Van der Tuuk ditranskripsi dan transliterasi ke bahasa Prancis, 146 tahun kemudian oleh Miller ditransliterasi ke bahasa Inggris sehingga lebih mudah dipahami isinya.

Miller yang juga intens meneliti manuskrip dan aksara Sulawesi, Sumatra, dan Filipina, menjelaskan bahwa ia melakukannya berbarengan dengan mentranskripsikan Hikayat Nur Muhamad (naskah aksara Lampung, bahasa Melayu, isinya tentang agama). Menurut Miller, naskah HNM telah diakuisisi British Museum tahun 1630. Naskah HNM ini jadi bahan tesis Lisa Misliani (Kantor Bahasa Prop Lampung) tahun 2012.

Membaca retransliterasi Miller, isinya lumayan mengejutkan. Dalam pertemuan di Royal Academiy of Science di Amsterdam, 8 April 1867, Baron Sloet van de Beele menjelaskan bahwa salah satu manuskrip beraksara Lampung itu didapatnya dari orang pribumi bernama Pangeran Jalil di Menggala. Pada saat itu usia Jalil 80 tahun, dan manuskrip itu sudah disimpan Jalil turun temurun, empat generasi, diperkirakan umur manuskrip sekitar 200 tahun. Jadi bisa diperkirakan naskah itu dibuat tahun 16an. Tidak ada keterangan apakah naskah-naskah koleksi Baron itu masih tersimpan di suatu tempat atau sudah raib.

Di bagian belakang Les Manuscrits Lampongs ada sejumlah prosa pendek (Bandoeng Tangis Lampong, Tjarita Badan Miskin, Tjarita Miskin, Bandoeng Lampong, Soerat Sama Moelie, dan beberapa tanpa judul). Di sebuah prosa tanpa judul, ditemui Puteri Sinjar Bulan, nama tokoh folklore daerah Lahat (Sumsel) sekaligus kompleks megalitik di sana. Naskah tanpa judul lainnya, berisi ratapan seorang lelaki (anonim) yang ditujukan kepada seorang wanita bernama Putri Tanjar Kerangan. Cinta si lelaki pada Tanjar Kerangan terhalang beratnya jujur (uang atau barang yang harus diserahkan pihak lelaki kepada pihak perempuan untuk perkawinan). Jika dicermati transliterasi yang semuanya bersumber dari naskah aksara Lampung itu, banyak kosa kata Melayu, Jawa, Arab, dan Banten.

Di penjelasan mengenai manuskrip lainnya, ada formula magis penangkal racun, pengusir roh jahat dan binatang buas. Ada juga jampi-jampi penangkal penyakit, pemikat lawan jenis, pereda marah orang lain, juga jampi menang melawan musuh.

Transliterasi naskah Pancalima dan Manuscript N menarik. Di Lampung pada masa lampau, hari-hari dalam satu bulan diidentikkan dengan hewan. Dalam transliterasi, hari pertama diidentikkan dengan kuda - hari kedua, kijang - hari ketiga, harimau - hari keempat, kucing - hari kelima, macan - hari keenam, gajah - hari ketujuh, tikus, dan seterusnya; disertai sedikit keterangan tentang ihwal tersebut. Ini pun menarik untuk di kaji lebih dalam dalam konteks budaya Lampung. Bagian akhir transliterasi berisi penjelasan mengenai rincian aksara berdasar ringkasan per naskah.

Jika bicara bahasa dan kelampungan; manuskrip ini patutnya “diurus” oleh orang Lampung, yang masih bisa membaca aksara Lampung dan pihak-pihak berkompeten. Sekecil apa pun dampaknya (juga data dan temuan baru berikutnya tentang Lampung masa silam), itu ibarat keping puzzle yang bisa mengisi ruang-ruang kosong historiografi “Lampung”.  n


Arman AZ, Peneliti dan peminat bahasa-budaya



Sumber: Lampung Post, Minggu, 21 Februari 2016

3 comments:

  1. Melalui blog ini, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Mbah Suro atas bantuan anka togel nya, yg di berikan saya kemarin alhamdulillah benar2 tembus, berkat bantuan Mbah saya sudah bisa melunasi semua hutang2 saya sama tetangga bahkan saya juga sudah punya modal sedikit buat usaha kecil-kecilan, sekali lagi terima kasih banyak Mbah atas bantuannya kpd saya.. Jika anda ingin seperti saya hubungi aja beliau di nmr 082 354 640 471 atas nama Mbah Suro Ninggil........

    ReplyDelete
  2. Numpang tulisan blog saya tentang Lampung juga ya Pak, terima kasih banyak.. -- http://indraekspresi.blogspot.co.id/2016/05/lamban-panggung-di-lampung-selatan.html

    ReplyDelete