February 4, 2016

Tiga Prodi untuk FIB

Oleh Eko Sugiarto


ANGIN surga” kembali berembus dari Universitas Lampung. Dalam tulisan berjudul “Unila Matangkan Fakultas Ilmu Budaya” (www.harianfajarsumatera.com), disebutkan bahwa Unila akan mewujudkan Fakultas Ilmu Budaya dan dua fakutas lain, yaitu Fakultas Teknologi Pertanian serta Fakultas Kemaritiman dan Perikanan.

Lagi-lagi, penulis menangkap sebuah keraguan yang secara tidak langsung muncul justru dari pemangku kepentingan, yaitu apakah adanya fakultas tersebut (dalam konteks tulisan ini FIB) sesuai dengan kebutuhan untuk pembangunan?

Saya memang tidak tahu sudah sampai di mana kajian yang dilakukan Unila dan hasil dari kajian tersebut seperti apa. Meskipun demikian, sebagai orang yang lahir dan pernah hidup di Lampung, setidaknya ada hal yang ingin saya sampaikan lewat tulisan singkat ini, khususnya terkait dengan FIB. Sekadar sebuah saran yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk kian mematangkan kelahiran FIB di Unila.

Sebagaimana sudah diungkapkan oleh berbagai kalangan (termasuk melalui petisi pada Maret 2014), saya juga berpendapat bahwa pembukaan FIB di Unila memang diperlukan. Berdasarkan masukan dari berbagai kalangan tersebut, setidaknya ada tiga program studi yang mendesak untuk dibuka jika nanti FIB benar-benar terwujud.

Pertama, Program Studi Bahasa dan Sastra Lampung (murni/nonkependidikan). Program studi ini dibutuhkan sebagai salah satu upaya penyelamatan bahasa dan sastra Lampung dari kemungkinan punah di kelak kemudian hari. Bahasa Lampung merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia dengan penutur yang relatif banyak. Sebuah artikel yang dimuat situs web kompas.com pada pertengahan Juni 2015 menyebutkan bahwa ada 14 (lagi) bahasa daerah di Indonesia yang dinyatakan punah. Dalam tulisan tersebut juga dinyatakan bahwa dari 726 bahasa daerah yang ada di Indonesia (versi Unesco 640 bahasa daerah), hanya 13 bahasa daerah yang memiliki penutur di atas satu juta orang. Tiga belas bahasa daerah tersebut adalah bahasa Minangkabau, Batak, Rejang, Lampung, Sunda, Makassar, Aceh, Jawa, Bali, Sasak, Bugis, Madura, dan Melayu. Senyampang masih memiliki penutur yang relatif banyak, kajian terhadap bahasa Lampung seyogianya terus digencarkan sehingga diharapkan bahasa ini bisa tetap lestari, tidak ikut punah seperti beberapa bahasa daerah lain. Oleh karena itu, Program Studi Bahasa dan Sastra Lampung diharapkan bisa memberi kontribusi terhadap upaya pelestarian bahasa dan sastra Lampung.

Kedua, Program Studi Antropologi Budaya. Lampung multietnis, terdiri atas berbagai suku bangsa. Dalam masyarakat (Lampung yang) seperti ini, pemahaman lintas budaya (dalam hal ini antarsuku) yang ada (di Lampung) sangat diperlukan. Jika berbagai suku yang ada di Lampung saling memahami antara yang satu dengan yang lain, citra Lampung sebagai “Indonesia mini” bisa benar-benar terwujud, bukan sebatas slogan. Pemahaman lintas budaya inilah yang akan memperkuat persatuan di antara masyarakat Lampung yang multietnis tersebut sehingga bisa dijadikan sebagai modal untuk membangun Lampung secara bersama-sama. Oleh karena itu, Program Studi Antropologi Budaya diharapkan bisa memberi kontribusi terhadap upaya pemahaman lintas budaya di Lampung yang akan menjadikan masyarakat Lampung memiliki rasa persatuan yang kuat.

Ketiga, Program Studi Pariwisata. Potensi Lampung di sektor pariwisata sangat luar biasa, khususnya wisata berbasis alam dan budaya. Sementara itu, perguruan tinggi yang mencetak sumber daya manusia di bidang pariwisata masih sangat kurang. Di situs web Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (www.hildiktipari.org), hanya ada satu perguruan tinggi swasta di Lampung yang menjadi anggota. Pertanyaan penulis adalah apakah memang di Lampung hanya ada satu perguruan tinggi yang memiliki prodi pariwisata atau sebenarnya sudah ada perguruan tinggi lain di Lampung yang sudah membuka prodi pariwisata tetapi belum bergabung dengan Hildiktipari? Wallahu ‘alam. Satu hal yang pasti, Program Studi Pariwisata adalah salah satu program studi yang saat ini (di berbagai perguruan tinggi di Jawa) peminatnya membeludak karena memang kebutuhan terhadap lulusan program studi ini masih sangat dibutuhkan untuk sekian waktu ke depan. Padahal, di Lampung masih sangat jarang perguruan tinggi yang membuka prodi pawiwisata.

Tiga prodi di atas menurut penulis merupakan prodi yang layak dipertimbangkan untuk dibuka. Jika selama ini muncul keraguan apakah pembukaan FIB sesuai dengan kebutuhan untuk pembangunan, ketiga prodi tersebut mungkin bisa menjawab keraguan tersebut. Untuk prodi yang lain, mungkin bisa menyusul. n

Eko Sugiarto,  Lulusan Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Magister Kajian Pariwisata UGM, Dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo, Yogyakarta


Fajar Sumatera, Kamis, 4 Februari 2016

2 comments: