August 29, 2010

Jejak Islam di Lampung (18): Habib Sayid Lestarikan Makam Leluhur Waliullah

SETELAH pengikutnya bertambah banyak, Habib Sayid Ahmad mengajak penduduk merawat makam yang berada sekitar 200 meter dari telaga. Menurut Maratus Shalihah, janda Habib Sayid Ahmad, itulah tempat peristirahatan terakhir Sayid Maulana Malik Abdullah bin Ali Nurul Alam, leluhur Sunan Gunung Jati.

Makam itu pun terus dibenahi sehingga kini berupa sebuah rumah berukuran 6 x 10 meter. Kuburan itu tertutup kelambu berwarna putih. Di atasnya terdapat beberapa kitab Alquran, Majmu' Syarif, dan Yasin. Pada nisan di dalamnya terdapat tulisan bernama sosok dimaksud dalam aksara Arab.

Selain itu, di sisi kanan makam terdapat meriam terbungkus kain mori, teko, bokor, pecahan keramik, dan beberapa potong batu yang biasanya digunakan untuk mengasah senjata dan menumbuk berbagai ramuan. Benda-benda itu diyakini sebagai peninggalan Sayid Maulana Malik Abdullah yang masuk ke sana lewat laut.

Masih menurut Maratus Shalihah, sosok yang dikenal sebagai waliullah itu dulu juga tinggal di sekitar telaga. Tempat itu dijadikan sebagai sarana mandi dan berwudu. Sementara itu, salatnya di dekat lokasi yang kemudian dijadikan sebagai tempat permakamannya.

"Saya pernah ingin berziarah ke makam para wali di Jawa," ujar dia.

Namun, suaminya melarang karena waliullah yang lebih tua ada di dekatnya. Dia pun diminta untuk ikut merawat dan melestarikan perjuangan Sayid Maulana Malik Abdullah.

Selain itu, Habib Sayid Ahmad bersama penduduk kemudian menyempurnakan tempat salat Sayid Maulana Malik Abdullah menjadi sebuah masjid yang permanen. Tempat ibadah yang berada di sisi timur makam itu juga dijadikan sebagai tempat penyiaran dan pengajaran Islam, seperti yang dilakukan pendahulunya.

Uniknya, waliullah ini punya kebiasaan membuat ribuan batu bata. Hasilnya, meski tidak memiliki kekayaan, tidak pernah dijual. Bahan bangunan itu digunakan untuk membangun kepentingan umum, seperti masjid, madrasah, dan jembatan.

Pemkab Lamteng ikut melestarikan dan mengembangkan makam Sayid Maulana Malik Abdullah maupun telaga tempat lahirnya Raden Fatah sebagai objek wisata andalan. Namun, pelestarian lebih banyak dilakukan santri Habib Sayid Ahmad yang tinggal di sekitar telaga. (M. IKHWANUDDIN/R-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Agustus 2010

2 comments:

  1. mas minta alamat yang jelas latak makam sayyid ahmad

    ReplyDelete
  2. Dari tag ini timbul sebuah pertanyaan. Mungkinkah Islam lebih dulu masuk ke Lampung daripada ke Cirebon atau Banten?

    ReplyDelete