January 31, 2011

Hadiah Sastra Rancage 2011

Keputusan

HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2011


Dengan rido Allah SWT, alhamdulillah Hadiah Sastera ”Rancagé” tahun ini akan diserahkan untuk ke-23 kalinya buat sastera Sunda, yang ke-18 kalinya buat sastera Jawa, dan ke-15 kalinya untuk sastera Bali. Untuk sastera Lampung tahun ini tidak ada hadiah, karena tahun 2010 tidak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung. Penerbitan buku, apalagi dalam bahasa ibu, tidak bisa berlangsung terus kalau tidak ada masyarakat yang membacanya. Penerbit buku dalam bahasa ibu sampai sekarang, kecuali dalam bahasa Sunda, terutama berupa perwujudan rasa cinta para anggota masyarakat yang mempunyai bahasa tersebut, umumnya atas usaha yayasan-yayasan atau perseorangan yang kebetulan punya uang. Tapi biasanya buku-buku yang diterbitkan itu tidak sampai kepada masyarakat, karena yang menerbitkannya merasa puas setelah menyaksikan bukunya terbit, tidak memikirkan bagaimana mendistribusikannya supaya sampai kepada tangan pembaca. Belakangan sasterawan Jawa yang sudah tiga kali mendapat hadiah Sastera “Rancagé”, Suparto Brata, memakai uang hadiah yang diterimanya untuk membiayai penerbitan bukunya, tapi pelaksanaannya diserahkan kepada penerbit komérsial. Cara demikian mémang salah satu jalan yang bisa ditempuh, tapi sebenarnya kehidupan penerbitan buku bahasa ibu itu harus digarap oléh penerbit komérsial secara profésional. Yang menjadi masalah, penerbit komérsial atau orang yang mempunyai modal, tidak percaya bahwa penerbitan buku dalam bahasa ibu bisa menguntungkan – paling tidak bisa “jalan”. Kebanyakan penerbit komérsial baru menerbitkan buku dalam bahasa ibu kalau ada “proyék” besar.

Tapi kasus penerbitan buku bahasa Sunda yang dilaksanakan oléh penerbit komérsial Kiblat Buku Utama secara profésional membuktikan bahwa menerbitkan buku bahasa ibu merupakan lapangan usaha yang rasional meskipun harus dihadapi dengan sabar. Yang penting harus menerbitkan buku dahulu sebanyak-banyaknya, sebab adanya buku itulah yang akan membangkitkan minat untuk membaca buku dalam bahasa ibu. Bagaimana masyarakat akan gemar membaca buku dalam bahasa ibu kalau bukunya tidak tersedia?


Hadiah sastera “Rancagé” 2011 untuk sastera Sunda

Dalam tahun 2010 penerbitan buku bahasa Sunda ada 24 judul, tidak dihitung kamus. Tapi banyak yang merupakan cétak ulang. Yang merupakan buku baru dua kumpulan sajak (Nu Nyusuk dina Sukma karya Chyé Rétty Isnéndés dan Sajak-sajak Rosyid E. Abby), tiga kumpulan cerita (Sapeuting di Cipawening oléh Usép Romli H.M., Layung Katumbiri oléh Nunung Saadah dan Halis Pasir oléh Us Tiarsa), sandiwara sebuah (Kabayan Ngalanglang Jaman oléh Rosyid E. Abby), dua roman (Didodoho Lahar oléh Adjat Sudradjat dan Cahaya Gumawang dina Ati oléh Ningrum Djulaéha), dua kumpulan éséy (Nyusur Galur Mapay Raratan oléh Hana Rohana Suwanda dan Léngkah-léngkah Urang Sunda dina Pulitik jeung Budaya oléh Karno Kartadibrata. Adapun buku bacaan anak-anak hanya satu judul yang baru ialah Rasiah Kodeu Binér oléh Dadan Sutisna.

Yang merupakan cétak ulang adalah Jajatén Ninggang Papastén kumpulan cerita Yus Rusyana yang mendapat Hadiah “Rancagé” yang pertama (1989), Tanjeur na Juritan Jaya di Buana oléh Yoséph Iskandar yang mendapat Hadiah “Rancagé” 1992; Ménak Baheula oléh Tjaraka, Rajapati di Pananjung oléh Ahmad Bakri, Pangantén oléh Dédén Abdul Aziz yang mendapat Hadiah “Rancagé” 2004; Abunawas Saémbara oléh Rachmat M. Sas. Karana, dan Nu Maranggung dina Sajarah Sunda oléh Édi S. Ekadjati. Ada empat judul karya baru Ajip Rosidi, yaitu Gerakan Kasundaan, Oyong-oyong Bangkong, Kamerdikaan jeung Démokrasi dan Babasan & Paribasa jilid 2. Seperti yang sudah diumumkan, cétak ulang dan karya Ajip Rosidi tidak dinilai untuk Hadiah “Rancagé”.

Nu Nyusuk dina Sukma adalah kumpulan sajak Chyé Rétty Isnéndés yang kedua. Kumpulan sajaknya yang pertama Kidang Kawisaya mendapat Hadiah “Rancagé” 2000. Rétty yang mendalami téori sastera sesuai dengan tugasnya sebagai dosén, seperti yang kehilangan spontanitas dalam sajak-sajaknya. Sajak-sajak Rosyid E. Abby memperlihatkan usahanya memperoléh cara pengucapan yang khas, meskipun tak selalu tercapai. Tapi melihat semangatnya yang haram padam, ada harapan untuk masa depan.

Usép Romli dalam cerita-cerita péndeknya dalam Sapeuting di Cipawening tetap mengemukakan téma utama karya-karyanya yang lebih dahulu, yaitu masalah perubahan sosial di perkampungan, pemerintah yang tidak memikirkan kehidupan rakyat, orang yang kehilangan étika, kian tipisnya rasa keagamaan, dan semacamnya. Selain dari “Lain Baheula”, semua cerita yang dimuat dalam Sapeuting di Cipawening cukup bagus.
Nunung Saadah dalam bukunya yang pertama Layung Katumbiri, memperlihatkan bahwa dia masih harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam menggunakan bahasa Sunda, baik éjaan maupun ungkapan. Ia tidak bisa membédakan akhiran “eun” dan “keun”, tak bisa menuliskan kata “kusabab”, “kadinya”, “kadieu” dll. yang seharusnya dipisahkan. Tidak bisa membédakeun “tempoeun” dengan ”tempokeuneun”, dll. Ungkapan bahasa Indonésia “kedua biji matanya” jadi “kadua siki panonna”, “kedua tangannya” menjadi “kadua leungeunna”. Banyak menggunakan kata-kata yang dia dengar seléwat sehingga dia tak tahu benar artinya seperti “teu béda digerihan ku hinis karék meunang maut”, “kuring teu bisa narah”, “teu antaparah deui ngan burudul baé pangeusina tarurun” (dari atas bis). Demikian juga dalam menyusun cerita dia masih harus banyak belajar.

Us Tiarsa meskipun sudah lebih dari 30 taun menulis dalam bahasa Sunda, buku kumpulan cerita péndéknya baru terbit tahun 2010 berjudul Halis Pasir. Isinya 13 cerita péndék. Yang dia ceritakan bermacam-macam, ada hal-hal yang biasa dialami sehari-hari seperti cerita “Halis Pasir”, “Buah” atau “Incok”; ada yang agak anéh seperti “Diantos di Sarajévo”, “Nu Ngaraliwat” atau “Karémbong Srangéngé”. Begitu juga latarnya, ada yang terjadi di tanahair, ada yang di mancanegara.

Yang penting dalam cerita bukanlah apa yang dikisahkan saja, melainkan juga bagaimana cara menceritakannya. Dalam hal itulah keunggulan cerita-cerita Us Tiarsa. Dalam “Halis Pasir” umpamanya, antara fokus pengisahan, sudut pandang, alur dan latar, bersatu menjadi téma yang mandiri. Perkara pentingnya bekerja bukan dilakukan oléh anak muda sembada, melainkan oléh perempuan tua yang sudah rapuh. Yang berkisah “kuring” (aku) yang menjadi salah seorang anak perempuan tua itu, melukiskan bahwa ibunya kukuh pada pekerjaannya yang sudah dia lakukan selama puluhan tahun, yaitu membuat genting dan bata di perusahaan genting milik haji yang pernah menjadi anak pungutnya namun tidak mau diberi upah lebih tinggi daripada pegawai lainnya. Ajakan anak-menantunya agar berhenti bekerja pindah hidup bersama meréka di kota, ditolak. Alasannya tidak mau jauh dari “bapa” – suami yang sebenarnya tinggal nisannya saja. Pada waktu mengakhiri cerita Us memperlihatkan keunggulannya. Dalam “Halis Pasir” itu, “ema” tidak mau meninggalkan kampungnya berpisah dengan “bapa”. Waktu perusahaan genting itu ditutup “ema” berkata bahwa dia terus bekerja di situ karena selamanya dikawani oléh “bapa”. Malah “bapa” waktu itu datang menjemputnya. “Ema” meninggal.

Sandiwara Kabayan Ngalanglang Jaman karya Rosyid E. Abby, tadinya berjudul Mesin Waktu berupa naskah longsér (semacam téater rakyat Sunda) yang sudah berkali-kali dipentaskan. Waktu dibukukan dirubah menjadi lebih berupa ”drama komédi”. Tokoh Kabayan jadi profésor yang berhasil menciptakan mesin waktu serta masuk ke jaman sang Kuriang dan Nyai Dasima. Lucu, tapi dibuat-buat.

Didodoho Lahar karya Adjat Sudradjat menceritakan gunung Galunggung meletus (1984) tapi sebenarnya hendak menjelaskan soal gunung, maklum pengarangnya mémang ahli perkara gunung. Sedangkan Cahaya Gumawang dina Ati karya Ningrum Djulaéha melukiskan sepasang suami-isteri yang baru menikah namun awalnya dipengaruhi oléh prasangka yang bukan-bukan. Pengarang bagus dalam melukiskan secara psikologis perubahan sikap yang berpangkal pada prasangka itu sehingga keduanya menjadi lebih saling mengerti.

Nyusul Galur Mapay Raratan adalah kumpulan tulisan Hana Rohana Suwanda tentang sejarah yang pernah dimuat dalam majalah Manglé. Hana menguraikan sejarah seperti yang dia baca atau dengar dari orang tanpa mengadakan pemeriksaan sejauh mana kebenarannya. Disebut sebagai tulisan sejarah populér, seharusnya berupa uraian sejarah secara populér, namun apa yang dikisahkannya adalah sejarah yang benar. Karangan dari majalah Manglé dikumpulkan langsung jadi buku tanpa mengalami éditing, sehingga karangan pertamanya dimulai dengan “Minggu pengker dipedar........” Isinya menunjukkan bahwa penerbitnya tidak melakukan éditing maupun koréksi terhadap téks sehingga pada setiap halaman bertebaran salah cétak dan kesalahan lainnya. Sungguh memalukan untuk buku yang mendapat bantuan Pemda disertai dengan sambutan dari Gubernur Jawa Barat.

Léngkah-léngkah Urang Sunda dina Pulitik jeung Budaya merupakan kumpulan pilihan tulisan Karno Kartadibrata yang sejak sekian puluh tahun yang lalu muncul setiap minggu dalam majalah Manglé. Seperti yang ditulis oléh Hawé Setiawan dalam pengantarnya, Karno menempatkan dirinya sebagai advisor yang bertugas mengingatkan atau menyampaikan saran baik kepada pemerintah maupun kepada élit poltik, juga kepada lembaga-lembaga kesundaan yang ada. Sayang bahwa pihak yang diberinya peringatan dan saran itu nampaknya tidak ada yang memperhatikannya.

Setelah ditimbang dengan matang, karya sastera Sunda terbitan tahun 2010 yang pantas mendapat Hadiah Sastera “Rancagé 2011 untuk karya, adalah

Halis Pasir
Kumpulan cerita péndék karya Us Tiarsa
Terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung

Dengan demikian kepada Us Tiarsa akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 buat karya berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Sedangkan yang terpilih untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 sastera Sunda buat jasa berdasarkan kréativitasnya yang panjang serta telah memperkaya sastera Sunda, ialah

H. Usép Romli H.M.
(lahir di Limbangan, Garut, 16 April 1949)

Setelah tamat SPG (1966), Usép ditempatkan menjadi guru SD di wilayah Kadungora, Garut. Kegemarannya menulis terutama dalam bahasa Sunda yang dimulai ketika masih duduk di SPG, dilanjutkan, banyak dimuat dalam majalah Kalawarta Kudjang, Manglé, Hanjuang, Giwangkara, dan Galura, baik berupa sajak maupun cerita péndék. Sambil menjadi guru Usép sempat menjadi koréspondén untuk kabupatén Garut mingguan Fusi (1972), Giwangkara (1972-76), sk. Pelita (1977—1979), sk. Sipatahunan (1979-1980). Ketika hendak dipindahkan menjadi pegawai Dinas P dan K di Bandung dia memilih keluar dari PNS lalu bekerja sebagai wartawan sk. Pikiran Rakyat sampai pensiun. Karena kemampuannya berbahasa Arab (ayahnya memimpin pesantrén), sebagai wartawan Usép pernah dikirimkan ke Afganistan (meliput perjuangan kaum mujahiddin melawan pasukan Soviet), ke Paléstina dan ke Bosnia dan negara lainnya. Setelah pensiun, Usép setiap tahun memimpin rombongan haji atau umrah ke Tanah Suci. Dia juga biasa memberikan khutbah di masjid-masjid baik di Bandung maupun tempat lainnya.

Usép banyak menulis bacaan kanak-kanak baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonésia, al. Si Ujang Anak Peladang (1973), Pahlawan-pahlawan Hutan Jati (1974), Nyi Kalimar Bulan (1982), Oray Bedul Macok Mang Konod (1983), Bongbolongan Nasrudin (1983), Aki Dipa (1983), Pertaruhan Domba dan Kelinci (1984), Dongéng-dongéng Arahéng (1993), dll.

Pada tahuh 1979 terbit kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Sebelas Tahun, yang diikuti oléh roman péndék Béntang Pasantrén (1983), kumpulan cerita péndék Ceurik Santri (1985), Nganteurkeun (1986), Jiad Ajengan (1991), Sanggeus Umur Tunggang Gunung (2009) dan Sapeuting di Cipawening (2010). Kumpulan sajak yang kedua, Nu Lunta Jauh terbit tahun 1992.

Usép pernah mendapat Hadiah Sastera Manglé (1977), Hadiah Sastera LBSS (1995) dan Hadiah Sastera “Rancagé” untuk karya 2010 berdasarkan Sanggeus Umur Tunggang Gunung.

Berdasarkan pengabdiannya kepada dunia sastera Sunda yang berlangsung selama puluhan tahun terus menerus, dan telah memperkaya khazanah sastera Sunda, Usép berhak menerima Hadiah Sastra “Rancagé” 2011 untuk jasa. Kepadanya akan dihaturkan hadiah berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).


Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 untuk sastera Jawa

Dalam tahun 2010 buku sastera Jawa yang terbit ada 15 judul, yaitu lima kumpulan sajak (Sanja karya Nono Warnono, Garising Pepesthén karya Bambang Nursinggih, Salam Sapan saka Gunung Gamping karya Naryata, Geguriatn Alam Sawegung karya Sudi Yatmana dan Bakal terus Gumebyar karya Sucihadi), tiga kumpulan cerita péndék (Pulo Asu karya Hérwanto, Tunggak Jarak Mrajak kumpulan karya beberapa pengarang dan Putri Tuwa kang Nyalawadi kumpulan terjemahan dari bahasa asing karya R. Muchtar). Dan tujuh roman (Babad Jipang Panolan saduran dari cerita rakyat Jawa oléh J.F.X. Hoery, Sadrajat Coro & Tikus karya Rahmat Ali, dan Cintrong Paju Papat, Nona Sékertaris, Pawéstri Tanpa Idéntiti, Spookhuis (Gedhong Sétan) dan roman-biografi R.M..T.R. Suryo gubernur Jawa Timur yang pertama, kelimanya karya Suparto Brata).

Geguritan Alam Sawegung adalah penerbitan kembali semua guritan Sudi Yatmana yang sebelumnya pernah terbit, jadi semacam cétak ulang. Garising Pepesthén kumpulan guritan Bambang Nursinggih yang kedua setelah Aja Kokijoli Warisanku. Hampir semua guritannya menyuarakan isi hati pengguritnya tentang perubahan masyarakat Jawa tentang nilai-nilai tradisinya. Kritiknya terhadap masyarakat terutama anak-anak muda digambarkan melalui imaji-imaji visual auditif, sehingga selain pikiran penggurit menjadi lebih jelas, guritan itu énak dibaca karena rima dan iramanya menciptakan alunan perasaan seniman (pangrawit). Namun nafas puisinya hampir selalu panjang dan penggunaan tipografi sering tak ada hubungannya dengan substansi yang ingin disampaikan.

Bakal Terus Gumebyar karya Sucihadi yang kedua. Sucihadi, usianya 74 tahun, perhatiannya luas sekali, dalam guritannya ada yang mengenai politik, ékonomi, budaya dan lainnya, namun yang bagus-bagus adalah yang mengenai kehidupan sehari-hari ibu rumahtangga, terutama yang berurusan dengan dapur.

Salam Sapan saking Gunung Gamping karya Naryata, pegawai Puskesmas (biasanya yang menulis dalam bahasa Jawa itu guru) yang mulai menulis guritan sejak tahun 1994. Ada yang panjang, tapi kebanyakan péndék-péndék, isinya padat, tidak banyak menggurui seperti tulisan guru, seperti “Kulit-kulit Kacang”, “Nalika Liwat Alas Jatén” dan “Topéng-topéng”.

Sanja karya Nono Warnono berisi 115 guritan. Banyak yang menyampaikan pengalaman jiwa, tanggapan mengenai kejadian-kejadian, mengenai perubahan sosial dan keyakinan hidup transédéntal. Salah sebuah guritan yang menyentuh hati adalah “Nalika Sandal Jepit Pedhot” yang melambangkan rahayat kecil dengan sendal jepit yang biasa meréka pakai.

Rahmat Ali sudah banyak menerbitkan buku dalam bahasa Indonésia. Sudrajat Coro & Tikus adalah roman kedua yang dia tulis dalam bahasa Jawa. Tapi masih belum ada bédanya dengan yang pertama Mis, Koncoku Sinorowedi, yang banyak salah dalam menggunakan éjaan, umpamanya kata “lara” (sakit) ditulis “loro” (dua); kata “isa” (dapat) ditulis “iso” (tembusu), begitu juga dalam bahasa Jawa harus dibédakan antara “t” dalam “tutuk” (mulut) dengan “th” dalam “thuthuk” (memukul), “d” dalam “duduk” (bukan) dengan “dh” dalam “dhudhuk” (menggali). Kesalahan éjaan seperti itu disebabkan pengarang kurang banyak membaca buku bahasa Jawa, terdapat hampir pada setiap halaman, sehingga mengganggu kelancaran membaca.

Kumpulan cerita péndék Hérwanto yang berjudul Pulo Asu, memuat 16 cerita yang obyéknya serba baru, soal-soal kecil, namun hampir tak pernah disinggung oléh pengarang lain serta oléh Hérwanto digarap dengan apik. Umpamanya “Ibu” yang menggunakan konflik batin tokoh aku-serta dengan cinta dan baktinya kepada ibunya pada saat kondisi yang terjepit. Dalam cerita itu nampak kontras-kontra ékspresi cinta kasih para tokoh dengan posisi masing-masing dalam keluarga. Begitu juga cerita-cerita “Kenthongan”, “Pulo Asu”, “Gumiyem”, “Grobag”, “Untu Palsu”, dll. Hampir semua cerita dalam Pulo Asu mengangkat masalah rakyat kecil yang seakan-akan tak seberapa, namun bagi meréka sangat penting terutama bagi hubungan antar-manusia.

Tonggak Jarak Mrajak merupakan kumpulan bersama sehingga tidak dinilai untuk Hadiah “Rancagé’.

Babad Jipang Panolan menghidupkan kembali tokoh Arya Penangsang yang melawan kepada Sultan Pajang. Cara Hoery mengisahkannya kembali sangat memikat, bisa membangkitkan minat anak-anak muda terhadap cerita rakyat daérahnya. Sayang sekali sering terganggu oléh uraian tentang tempat-tempat yang sering dikunjungi orang dari mana-mana seperti Gunung Purwosari dan Gua Sentolo.

Dengan lima judul roman yang terbit tahun 2010, Suparto Brata meskipun sudah lanjut usia (l. 1932) masih memperlihatkan keterampilannya menulis berbagai macam fiksi. Ada yang mengenai kehidupan importir dan bisnis di kota, ada yang mengenai anak-anak muda yang penuh dengan romantisme menghadapi hidup yang penuh tantangan, ada biografi, dan ada cerita horor. Suparto Brata seperti yang sengaja hendak membuktikan bahwa umur tua bukan berarti berhenti berkarya.

Setelah dipertimbangkan dengan seksama karena ada beberapa buku terbitan 2010 yang sebenarnya pantas mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” buat sastera Jawa, namun akhirnya diputuskan bahwa yang mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 sastera Jawa buat karya ialah

Pulo Asu
Kumpulan cerita karya Hérwanto
(terbitan Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro)

Sedangkan orang yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa dan sastera Jawa terutama dialék Tegal ialah

Lanang Setiawan

Lanang mulai kelihatan usahanya memajukan bahasa Jawa dialék Tegal pada tahun 1984. Dia menterjemahkan sajak Réndra “Nyanyian Angsa” menjadi “Tembangan Banyak”. Usahanya itu diikuti oleh kawannya Rofie Dimyati yang menterjemahkan sajak Réndra “Rick dari Corona”. Lanang juga menterjemahkan sajak-sajak Chairil Anwar, antaranya “Karawang Bekasi”. Terjemahannya dalam bahasa Jawa dialék Tegal itu sering dibacakan di panggung di berbagai daérah, antaranya di Taman Budaya Jawa Tengah (Solo) dan di Kabupatén Indramayu. Lanang menulis dalam bahasa Jawa dialék Tegal antaranya roman Tegal Bledugan, kumpulan guritan Nggayuh, naskah drama Surti Gandrung, Lenggaong, Ni Ratu dan Kén Arok Gugat. Lanang sering menyelenggarakan pertunjukan baca guritan dalam bahasa Jawa dialék Tegal dan pernah berhasil mengajak bupati, walikota dan Ketua DPRD Tegal membaca guritan Tegalan di Warung Aprésiasi Sastra di Bulungan yang kegiatannya tidak hanya membaca sajak saja, melainkan juga mengadakan pertunjukan lagu-lagu dialék Tegal. Lanang menyusun Wangsalan Tegalan, Kamus Tegalan, Kumpulan Puisi Tegalan dan membina Koran Tegal. Setiap hari Lanang menulis kolom “Anéhdotegalan” dalam sk. Nirmala Post yang terbit di Tegal. Dalam tahun 2008 Lanang menerima Anugerah Seni dari Déwan Kesenian kota Tegal.

Sebagai penghargaan terhadap usahanya membina dan mengembangkan bahasa serta sastera Jawa dialék Tegal, Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 sastera Jawa untuk jasa, dihaturkan kepada Lanang Setiawan berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).


Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 untuk sastera Bali

Buku sastera Bali yang terbit tahun 2010 ada 13 judul, lebih banyak daripada tahun sebelumnya (9 judul). Ada enam roman sejarah oléh Nyoman Manda. Tiga mengenai Puputan Badung yang merupakan trilogi Biyar-biyur ring Pesisi Sanur, Kulkul Bulus dan Tyaga Wani Mati. Puputan Badung itu perang habis-habisan Raja Badung melawan penjajah Belanda (Séptémber 1906). Raja dan ratusan rakyatnya gugur. Roman yang tiga lagi Gendhing Pengalu mengenai berdirinya kerajaan Gianyar, Suara Saking Batukaru mengenai pertempuran rakyat Batikaru, Tabanan, melawan tentara Nica tahun 1946, dan Gusti Ayu Kedangan mengisahkan ékspédisi Gajah Mada ke Bali pada abad ke-14.

Sesuai dengan permintaan pengarangnya, keenam roman itu tidak dinilai untuk Hadiah “Rancagé” 2011. Nyoman Manda pernah tiga kali menerima Hadiah “Rancagé”. Satu kali untuk jasa (1998), dua kali untuk karya (2003 dan 2008). Beliau memberi kesempatan kepada yang muda-muda untuk memperoléh Hadiah “Rancagé”.

Jénggot Kambing karya Bawa Samar Gantang memuat 13 cerita péndék yang banyak menggarap téma sosial seperti mengenai tsunami di Acéh, mengenai kawin campur laki-laki Bali dengan wanita Amérika, prasangka rélasi antar-étnis, kian berkurangnya sawah di Bali karena banyak membangun fasilitas pariwisata, dll. Dalam cerita-cerita Samar Gantang itu kritik sosial lebih dominan, sehingga terasa tidak ada bédanya dengan berita yang lebih banyak memuat fakta daripada fiksi.

Préman (13 cerita) dan Bikul (14 cerita) keduanya karya Madé Sugianto, pengarang baru dalam bahasa Bali, kebanyakan pernah dimuat dalam Bali Orti. Sebagai “sastera koran” selain péndék-péndék, témanya mengenai hal-hal yang aktual seperti “Élpiji” dan “Sértifikasi”. “Préman” melukiskan betapa amburadulnya kehidupan démokrasi yang menimbulkan politik uang dan prémanisme.

Kania karya Ida Bagus Wayan Wadiasa Keniten adalah roman tentang gadis yatim piatu kasta brahmana yang hendak menjadi pendéta dengan latar belakang politik kejadian tahun 1965. Tokohnya, Dayu Latri. Ayahnya dibunuh karena dituduh PKI. Pembunuhan itu didalangi oléh adiknya sendiri yang ingin merebut warisan. Témanya mengenai konflik antara yang baik dengan yang jahat. Yang baik, Dayu Latri, yang jahat, pamannya. Sampai akhir cerita, konflik itu tidak selesai. Si paman berusaha sekeras-kerasnya merusak kehidupan kemenakannya yang sudah menjadi pendéta. Akhir terbuka demikian seperti hendak menunjukkan bahwa yang baik dengan yang jahat itu tak bisa saling mengalahkan, sebab keduanya selalu hadir dalam hidup manusia. Sesuai dengan hukum rwa bhinéda yang menjadi kepercayaan orang Bali, dalam hidup selamanya ada dua kekuatan yang baik dan yang jahat.

Bahasa Bali yang digunakan dalam Kania indah, kuat serta amajinatif. Déskripsi dan narasinya memukau. Sayang struktur narasinya rusak sebab ada bagian yang menganga karena tidak dimanfaatkan, misalnya prosési penobatan Dayu Latri menjadi pendéta yang sesungguhnya bisa diéksplorasi lebih dalam konflik antara kebaikan dengan kejahatan.

Dalam Kania, tragédi politik 1965 menjadi latar, tapi dalam Rasti karya Raka Kusuma menjadi téma utama. Tokoh utamanya, Rasti, siswa SMA di Bali yang oléh kawan-kawannya diéjék sebagai anak Gerwani (Gerakan Wanita Indonésia, organ PKI). Rasti berusaha mencari kebenarannya, namun gagal, karena keluarganya menutupi hal itu untuk kebaikannya sendiri. Tapi akhirnya Rasti menemukan bukti, yaitu surat ibunya kepada ayahnya yang sudah bercerai. Ibunya mengakui bahwa dia aktivis Gerwani, sedangkan ayahnya anggota PNI. Ibunya ditolong oléh tentara yang kemudian menikahinya dan membawanya ke Jawa. Selain sedikit mengungkapkan tentang huru-hara politik 1965 di Bali, Rasti juga melukiskan remaja yang tak berdosa menjadi korban “dosa politik” orang tuanya. Roman itu mempertanyakan kemutlakan hukum karma. Prinsip hukum karma setiap orang menanggung akibat perbuatannya sendiri. Rasti seakan mempertanyakan mengapa anak yang tak tahu apa-apa harus menanggung dosa politik yang tak pernah dia perbuat?

Selain Rasti, Raka Kusuma juga dalam tahun 2010 menerbitkan kumpulan sajak Sang Lelana yang bahasanya indah dan imajinatif. Isinya sembilan judul sajak panjang, yang bahasanya sangat liris. Kesembilan sajak itu merupakan kesatuan, sebab mengisahkan Sang Lelana yang berangkat dari rumah sampai pulang kembali ke rumah lagi, dikawani oléh kawannya setia “bayang-bayangnya sendiri”. Dalam pengembaraan dia bertemu dengan orang bijak, sasterawan, meléwati pantai yang sunyi, bukit yang indah, hutan yang gundul, kota yang warganya terperangkap konflik sosial dan aksi kekerasan. Semuanya meningkatkan kesadaran Sang Lelana mengenai hidup, kesetiaan, kebijakan, sikap rendah hati dan spiritualitas. Péndéknya idéntik dengan usaha sang subjék untuk mengenali éksisténsinya. Sajak-sajak dalam Sang Lelana mencoba melakukan interprétasi terhadap konsép sangkan paraning dumadi, yaitu mengenai asal dan tujuan hidup, ajaran filosofis mengenai jalan untuk bersatu dengan Tuhan.

Kumpulan sajak lain, Komédi Birokrat karya DG Kumarsana, nama baru dalam sastera Bali. Sebelumnya dia aktif dalam sastera Indonésia. Dari judulnya ada kesan bahwa isinya terutama mengenai kritik sosial, tapi meskipun ada juga yang demikian jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan sajak mengenai cinta, kasih sayang, kesepian dan réfléksi tentang arti hidup. Sayang bahasa dan éksprésinya banyak yang sukar dimengerti. Mémang banyak métafora yang kréatif, tapi sulit merangkai-rangkainya untuk menjadikan makna sajak.

Karena itu Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 buat sastera Bali untuk karya, dihaturkan kepada

Sang Lelana
Kumpulan sajak IDK Raka Kusuma
Terbitan Sanggar Buratwangi

IDK Raka Kusuma pernah mendapat Hadiah Sastera “Rancagé sastera Bali untuk jasa (2002). Kepada IDK Raka Kusuma akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Sedangkan yang akan memperoléh Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 buat jasa dalam memelihara dan mengembangkan bahasa dan sastera Bali adalah

Bali Orti
Sisipan bahasa Bali sk. Bali Post Minggu

Sisipan Bali Orti (Kabar Bali) mulai terbit dalam Bali Post Minggu tg. 20 Agustus 2006 sedang gagasannya lahir dalam saraséhan bahasa dan sastera Bali di Taman Budaya Dénpasar awal tahun 2006. Dengan adanya Bali Orti para sasterawan Bali mempunyai tempat untuk menerbitkan karyanya. Sebenarnya sk. Bali Post pernah membuka rubrik sastera Bali Sabha Sastra Bali tapi hanya satu halaman setiap pekan serta berlangsung hanya dua tahun (1969—1971). Setelah Sabha Sastra Bali berhenti, para sasterawan Bali memuatkan karyanya dalam majalah Kulkul, Buratwangi dan Canang Sari. Kulkul hanya sebentar. Yang dua lagi sirkulasinya terbatas. Béda dengan Bali Orti yang karena menumpang dalam Bali Post Minggu, tersebar ke seluruh Bali.

Bali Orti dikelola oléh A. Mas Ruscitadéwi dan Wayan Juniartha yang pernah mengelola Kulkul, ditambah dengan I Nyoman Manda, Madé Madé Adnyana, I Madé Sujaya, Wayan Suardiana, Gedé Tapayasa dan Ni Madé Ari Dwijayanthi. Bali Orti besar jasanya dalam mengembangkan sastera modéren Bali. Banyak pengarang lama yang aktif menulis di dalamnya, seperti Gdé Dharma, Samar Gantang dan Tusthi Éddy. Begitu juga muncul yang muda-muda seperti Widiasa Keniten dan I Madé Sugianto. Sajak dan cerita péndek yang dimuat dalam Bali Orti banyak yang kemudian dibukukan.

Sebagai penghargaan kepada usaha membina dan mengembangkan bahasa dan sastera Bali, Hadiah Sastera “Rancagé” 2011 untuk jasa dalam sastera Bali, dihaturkan kepada Bali Orti berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).


Hadiah “Samsudi” 2011 untuk bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda

Buku bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda yang terbit tahun 2010 ada lima judul, tapi hanya satu yang baru. Empat judul lainnya merupakan cétak ulang, yaitu Nyi Kalimar Bulan dan Oray Bedul Macok Mang Konod oléh Usép Romli, Sasakala Bojong Emas oléh Aan Merdéka Permana, Syéh Kuro jeung Dongéng Karawang Lianna oléh Darpan dkk. dan Mistéri Haur Geulis oléh Dadan Sutisna. Yang baru adalah Rasiah Kodeu Binér oléh Dadan Sutisna.

Seperti buku Dadan yang terdahulu, Rasiah Kodeu Binér merupakan cerita mistéri. Ada seorang anak, Diran namanya, menemukan kertas di gudang yang isinya senarai angka satu dan nol. Ada orang yang sedang mencari kertas itu. Diran, Rina, Anis dan Emod empat sahabat bersama-sama membongkar rahasia angka itu. Setelah mengalami berbagai kejadian seperti diculik, akhirnya keempat sahabat itu dapat membongkar rahasia kode binér itu. Yang menginginkan mendapatkan kertas itu adalah Ibu Ening, bekas isteri kedua Pak Sukaya. Ia ingin mewarisi harta Pak Sukaya. Dadan pandai menjaga kepenasaran pembaca sampai akhir. Cocok untuk bacaan kanak-kanak supaya aktif memikirkan ke mana cerita akan menuju.

Karena itu, Hadiah “Samsudi” 2011 akan diberikan kepada pengarang buku bacaan kanak-kanak

Rasiah Kodeu Binér
Karya Dadan Sutisna
Terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung

Sebelumnya Dadan Sutisna pernah mendapat Hadiah “Samsudi” dua kali, tahun 2002 (Nu Ngageugeuh Legok Kiara) dan tahun 2004 (Mistéri Haur Geulis).

Kepada Dadan Sutisna akan dihaturkan Hadiah “Samsudi” 2011 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

*

Upacara penyerahan Hadiah “Rancagé” 2011 dan Hadiah “Samsudi” 2011 akan diselenggarakan atas kerjasama Yayasan Kebudayaan “Rancagé” dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Gunung Jati Bandung pada akhir Apil 2011.


Pabélan, 31 Januari 2011.

Yayasan Kebudayaan “Rancagé’,


Ajip Rosidi
Ketua Déwan Pembina

January 29, 2011

Perpustakaan, Siapa Peduli?

Oleh Dwi Rohmadi Mustofa

BERITA tentang eksistensi perpustakaan di sekolah tampaknya jarang muncul ke ruang publik. Ketika muncul berita Lampung Post (Rabu, 26 Januari 2011) yang memuat data tentang 75% SD/MI di Lampung tak memiliki perpustakaan, tentu saja mengejutkan bagi sebagian pihak yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan perpustakaan. Bagi sebagian masyarakat yang lain mungkin dianggap biasa saja.

Diberitakan, untuk tingkat SMP dan SMA jumlah sekolah yang memiliki perpustakaan relatif lebih baik. Secara umum dapat dikatakan bahwa dari sisi kuantitatif jumlah perpustakaan itu sangat minim. Lalu bagaimana kategori kualitas perpustakaan dari SD/MI yang sudah memilikinya? Pertanyaan lain yang pantas diajukan adalah bagaimana perpustakaan itu dikelola, seberapa banyak sumber daya yang dimiliki, bagaimana pengembangan dan pembinaannya, dan bagaimana warga sekolah memanfaatkannya? Apa saja kontribusi yang diberikan atas eksistensi perpustakaan itu?

Dari yang sedikit SD/MI yang telah memiliki perpustakaan itu, tentu menghadapi berbagai problematika teknis. Tapi itu masih lebih baik, karena tinggal memperbaiki atau meningkatkannya. Yang susah adalah berbicara yang tidak ada. Kalau suatu sekolah tidak memiliki perpustakaan, solusi pertama adalah membangun perpustakaan terlebih dahulu.

Berita Lampung Post juga menyebutkan angka yang agak lebih bagus terungkap dari sekolah-sekolah di Bandar Lampung. Disebutkan dari 245 SD di Bandar Lampung, hanya 151 sekolah yang memiliki perpustakaan; dari 88 MI hanya 26 yang memiliki perpustakaan, dari 114 SMP (91) dan dari 22 MTs (11). Untuk tingkat SMA angka sekolah yang memiliki perpustakaan hampir 100%, yaitu dari 54 SMA ada 53 sekolah yang memiliki perpustakaan.

Walaupun begitu, jumlah perpustakaan di sekolah tersebut dapat dikatakan tidak terlalu menggembirakan. Sebab, data tersebut dari ibukota provinsi. Lalu bagaimana data perpustakaan sekolah dari kabupaten/kota yang lain, jika Bandar Lampung dijadikan tolok ukur?

Berbagai literatur mengungkapkan problematika perpustakaan, baik itu perpustakaan umum, perpustakaan institusi pendidikan, perpustakaan desa, perpustakaan tempat ibadah, dan sebagainya adalah kurangnya perhatian dan komitmen dari para penentu keputusan. Permasalahan ini memberi dampak ikutan pada problem teknis seperti pengadaan bahan pustaka, penyelenggaraan pelayanan, pemeliharaan, dan pengembangan.

Sedangkan di antara institusi yang bertanggung jawab terhadap eksistensi suatu perpustakaan, prakteknya masih kurang sejalan dengan kebutuhan penggunanya. Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga berkembang. Bagaimana perpustakaan dapat memanfaatkan kemajuan itu untuk mamkin memperkokoh peran dan kontribusinya bagi kepentingan belajar warganya. Upaya mewujudkan masyarakat belajar dan masyarakat yang berbudaya membaca harus ditopang dengan penyediaan perpustakaan yang memadai.

Perpustakaan pada dasarnya adalah institusi yang harus memiliki karakteristik progresif dan demokratis. Progresif artinya mengikuti kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, menyediakan sumber bacaan yang relevan dengan kebutuhan penggunanya. Apalagi dewasa ini konsep perpustakaan telah berkembang. Jika dahulu perpustakaan dideskripsikan sebagai ruangan atau gedung dengan buku-buku dan rak-rak, sekarang konsep perpustakaan adalah sarana untuk belajar yang mencakup segala sesuatu yang terkait bahan dan materi belajar. Materi koleksi perpustakaan dapat berupa data digital, audio, video, dan sebagainya yang disimpan dalam berbagai medium penyimpanan; kaset, disket, CD, hard disc, flashdisc, dan sebagainya.

Perkembangan mutakhir di bidang teknologi informasi dan komunikasi menjadikan perpustakaan tidak terbatas pada gedung/ruangan. Sumber belajar yang digambarkan sebagai koleksi perpustakaan bisa berada di tempat lain dan diakses melalui internet. Dalam konteks demikian, maka perpustakaan merupakan jaringan data sumber informasi.

Walaupun demikian, perpustakaan dalam arti fisik seperti gedung/ruangan dan buku-buku koleksi masih merupakan kebutuhan masyarakat kita. Keberadaan perpustakaan dalam arti sebagai suatu tempat tidak akan hilang oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Bahkan keduanya saling melengkapi.

Perpustakaan memiliki karakteristik demokratis artinya perpustakaan merupakan suatu tempat di mana setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan aktualisasi dirinya. Perpustakaan bersifat demokratis artinya terbuka dalam memberikan pelayanan, dan senantiasa melakukan perbaikan. Perpustakaan menjadi tempat di mana setiap orang dapat bertemu dengan orang lain yang memiliki kesamaan maksud, yaitu menambah pengetahuan. Mereka dapat berinteraksi dalam suasana saling belajar.

Dalam konsep pendidikan, perpustakaan adalah salah satu sumber belajar. Apa saja yang ada di perpustakaan adalah sumber belajar; orang (pustakawan dan staf perpustakaan, koleksi perpustakaan, sarana penunjang perpustakaan, dan setting ruang).

Dari sudut pandang pelayanan, perpustakaan merupakan suatu urusan jasa layanan. Hal ini mengisyaratkan bahwa perpustakaan harus memberikan pelayanan yang terbaik. Untuk itu diperlukan upaya perbaikan yang terus menerus. Salah satu unsur kunci dalam memberikan pelayanan yang terbaik adalah unsur manusia (pustakawan dan staf perpustakaan).

Pustakawan dan kalangan yang berkecimpung dalam dunia perpustakaan menyadari bahwa kebutuhan pengguna perpustakaan juga terus berkembang. Kebutuhan pengguna jasa layanan perpustakaan akan selalu meningkat seiring perkembangan yang terjadi di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Pengguna jasa kian memiliki alternatif untuk memenuhi kebutuhannya akan data dan informasi. Jadi agar eksistensi perpustakaan dapat memberikan kontribusinya yang bermakna bagi penggunanya yang bermaksud belajar, maka perpustakaan harus menjadi perhatian utama institusi induk yang bertanggung jawab.

Membicarakan keberadaan perpustakaan, dari segi jumlah yang memprihatinkan tersebut, kita tidak boleh pesimistis apalagi apatis. Diharapkan, para pihak yang memiliki kewenangan menentukan keputusan terhadap kemajuan dan keberlanjutan suatu perpustakaan memiliki komitmen untuk mewujudkan perpustakaan yang “memadai”.

Dari sisi landasan hukum, perpustakaan memiliki angin segar dengan diundangkannya Undang-undang No 43 Tahun 2007. Sayangnya, sepanjang pengetahuan penulis, efek langsung dan hasil dari UU tersebut belum begitu terasa manfaatnya. Bahkan hingga kini aturan pelaksanaannya masih dalam bentuk rpancangan peraturan pemerintah.

Di kalangan orang-orang yang berkecimpung di dunia perpustakaan, tetap digelorakan semangat dan optimisme untuk membangun perpustakaan yang mampu memberikan kontribusi bagi penggunanya. Berbagai komunitas dan jaringan perpustakaan dibentuk dalam rangka memberikan pelayanan masyarakat yang membutuhkan jasa perpustakaan.

Dwi Rohmadi Mustofa
, Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan, FKIP Universitas Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 29 Januari 2011

January 26, 2011

75% SD/MI Tak Miliki Perpustakaan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sebanyak 4.070 atau 75% sekolah dasar/madrasah ibtidaiah (SD/MI) di Provinsi Lampung belum memiliki perpustakaan.

Berdasar data Dinas Pendidikan Provinsi Lampung tercatat 4.722 sekolah belum memiliki perpustakaan dengan baik; SD/MI 4.070 sekolah (75%), SMP/MTs 564 sekolah (32%), SMA/SMK/MA 88 sekolah (10%).

Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Herlina Warganegara, Selasa (25-1), menyatakan untuk tahun anggaran 2011 Pemerintah Provinsi Lampung menganggarkan Rp1,36 miliar untuk pembangunan serta perbaikan perpustakaan dan laboratorium di sekolah.

"Terkait dengan persoalan ini, Pemerintah Provinsi Lampung dalam hal ini Dinas Pendidikan mengeluarkan kebijakan perbaikan sarana-prasarana sekolah," ujarnya.

Namun, menurut mantan Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan Provinsi Lampung itu, jumlah tersebut masih sangat terbatas dan kuota pembangunan gedung perpustakaan setiap tahunnya juga terbatas.

"Harus ada komitmen dari pemerintah kabupaten/kota agar seluruh sekolah terutama SD dan SMP di Lampung memiliki perpustakaan yang baik. Jika mengandalkan anggaran provinsi dan pusat tidak akan cukup," kata dia.

Secara terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah (Kabid Dikdasmen) Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung Bustami mengatakan di Bandar Lampung masih banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan yang layak.

Berdasar data Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung dari 584 sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA baik negeri maupun suwasta hanya 372 sekolah yang telah memiliki perpustakaan sekolah, sedangkan 212 sekolah belum memiliki.

Dari 245 SD di Bandar Lampung, hanya 151 sekolah yang memiliki perpustakaan. Kemudian, dari 88 MI hanya 26 yang memiliki perpustakaan, dari 114 SMP (91). Selanjutnya, dari 22 MTs (11), dari 54 SMA (53) memiliki perpustakaan, dari 11 MA sebanyak 9 sekolah memiliki perpustakaan dan dari 41 SMK sebanyak 31 SMK memiliki perpustakaan.

"Harus diakui untuk SD/MI di Bandar Lampung memang masih banyak yang belum memiliki perpustakaan. Hal ini lantaran dari awal pembangunan, pemerintah belum mengarah kepada pengadaan perpustakaan," kata Bustami.

Bustami menjelaskan program SD Inpres pada masa lampau lebih ditujukan agar rakyat tuntas menerima pendidikan dasar dan belum kepada peningkatan minat membaca. "Sekarang baru disadari kegiatan membaca dalam pembelajaran adalah penting," ujarnya.

Kegiatan membaca, menurut dia, berpengaruh positif terhadap peningkatan mutu hasil belajar anak. Sebab, sumber pembelajaran tak hanya dari guru, tetapi dapat diperoleh dari buku di perpustakaan sekolah.

"Adanya perpustakaan juga merupakan sarat pelayanan minimal yang harus dipenuhi sekolah. Jika saat ini sekolah belum memiliki ruang atau gedung perpustakaan khusus, setidaknya sekolah memiliki pojok membaca di sekolah," kata dia.(MG14/S-2)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 26 Januari 2011

Kunjungan Wisatawan ke Lampung Meningkat

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kunjungan wisatawan ke Lampung terus meningkat. Bandar Lampung dan Lampung Selatan menjadi dua daerah yang paling banyak dikunjungi wisatawan di sepanjang 2010.

Data yang Lampung Post peroleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Lampung, Selasa (25-1), menunjukkan sejak Januari hingga Desember 2010 terdapat 2.173.606 wisatawan yang mengunjungi berbagai destinasi wisata di Lampung.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan jumlah kunjungan wisatawan pada 2009 lalu yang hanya 2.019.852 orang. "Walaupun naik sedikit, ini menjadi tanda bahwa objek wisata kita sudah cukup dikenal dan diminati wisatawan," kata Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Disbudpar Lampung Baihaqqi di ruang kerjanya kemarin.

Dia menjelaskan wisatawan yang berkunjung ke Lampung tahun lalu didominasi wisatawan nusantara, yakni 2.136.103 orang. Sedangkan wisatawan mancanegara yang datang hanya 37.503 orang.

Tahun ini Baihaqqi berharap ada kenaikan kunjungan wisatawan ke Lampung antara 5%--10%. Untuk mencapai target tersebut, Baihaqqi berharap berbagai instansi di Pemerintah Provinsi Lampung seperti Dinas Perhubungan, Dinas Bina Marga, dan lainnya bisa ikut melengkapi berbagai fasilitas penunjang di sekitar objek wisata.

Fasilitas itu khususnya di kawasan yang menjadi prioritas seperti bahari Tanjung Setia, Taman Nasional Way Kambas, ekowisata Teluk Kiluan, Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sebesai, Bumi Kedaton, dan Menara Siger.

"Masih banyak lokasi lainnya. Tapi yang diprioritaskan ya enam lokasi itu," ujarnya.

Disbudpar sudah menyiapkan rencana pengembangan berbagai kawasan tersebut seperti pembangunan surfing camp di Tanjung Setia, penyediaan sarana snorkling dan diving di Teluk Kiluan.

Selain itu, penyediaan kapal wisata di Pelabuhan Canti menuju Gunung Anak Krakatau, serta pembangunan convention hall di Menara Siger, Bakauheni.

Pengembangan seperti inilah, kata Baihaqqi, yang butuh dukungan satuan kerja terkait lainnya di Lampung. "Seperti yang kita ketahui saat ini DPRD Provinsi sedang menyusun Raperda tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah atau Rippda. Dari Rippda inilah nanti diketahui siapa yang berbuat apa. Dengan demikian kami yakin pengembangan wisata bisa maksimal," kata Baihaqqi. MG3/D-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 26 Januari 2011

January 24, 2011

Sinergi Sosial Memerangi Kemiskinan

Oleh Dinda Lina

JURANG kesenjangan sosial antara kaum kaya dan mereka yang terjerat kemiskinan memang tidak terlepas dari sistem ekonomi kapitalistik. Sementara itu, dengan melambungnya kenaikan harga pangan dan lonjakan inflasi, penduduk miskin di Indonesia kini diperkirakan melonjak di atas 15%.

Mereka yang selama ini masuk kelompok hampir miskin, yakni sedikit di atas garis kemiskinan, langsung turun hidup di bawah garis kemiskinan dan semakin menderita. Agar kesenjangan sosial akibat gejolak harga pangan tak melebar, inflasi harus diperangi secara total. Jika tidak, target penduduk miskin 8% pada 2014 tidak akan tercapai.

Namun, sindrom awal tahun baru masih memicu keinginan kaum the haves untuk merayakannya dengan penghamburan uang. Hal ini juga berpotensi sebagai ajang dan momen bagi kaum the haves untuk unjuk kemampuan dan kekayaan mereka. Dampak psiko-sosialnya, beban hidup kaum miskin yang kian terasa berat di tengah kesenjangan ekonomi yang sangat tajam menciptakan frustrasi sosial.

Ekses dari gaya hidup konsumtif memicu keserakahan yang mudah menjerumuskan aparatur negara pada tindak pidana korupsi. Maka pola hidup sederhana untuk setiap pejabat dirumuskan pemerintah c.q. Men-PAN No.357/M.PAN/13/2001. Disebutkan, pola hidup sederhana merupakan sikap, tingkah laku, dan perbuatan aparatur negara, baik dalam kedinasan maupun pergaulan hidup masyarakat, wajar, tidak mewah, dan sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat setempat.

Budaya Konsumtif

Dalam Consumer Culture and Postmodernism, Theory, Culture and Society (1991), Mike Featherstone memberikan tiga pendekatan utama dalam menganalisis budaya konsumtif dan fenomena konsumtifisme: (1) Budaya konsumtif sebagai luapan hasrat terpendam dari warga masyarakat yang kelebihan uang dan waktu; (2) Budaya konsumtif adalah anak kandung dari perluasan produksi komoditas kapitalis dalam bentuk barang-barang konsumsi. Situs-situs pembayaran dan konsumsi, mal, supermarket, serta pasar modern merupakan contoh yang nyata; dan (3) Budaya konsumtif merupakan sebuah gejala sosiologis, di mana kegiatan konsumtif merupakan akibat dari ekspresi unjuk status sosial dalam masyarakat.

Dalam sistem ekonomi kapitalistik, yang terjadi adalah perubahan titik berat relasi karena menitikberatkan relasi dengan benda, bukan pada interelasi sesama manusia. Gencarnya promosi/iklan telah direkayasa agar para konsumen masuk dalam perangkap instrumen kapitalisme yang memanipulasi ideologi dan kesadaran manusia.
Dalam kondisi masyarakat semacam itu, kebebasan individual diartikan sebagai logika kebebasan untuk memilih produk-produk industri yang glamour, namun hampa dari nilai-nilai ajaran agama. Celakanya, gaya hidup hedonis yang memanjakan kesenangan pribadi ini tidak peduli akan norma-norma dan relasi sosial dengan warga masyarakat, terutama terhadap keluarga miskin yang berada di sekelilingnya.

Sinergi Sosial

Menurut informasi Migrant Care, sampai Rabu (12-1), sudah genap tiga bulan sekitar 200 buruh migran Indonesia telantar di kolong jembatan di Arab Saudi dalam kondisi yang memprihatinkan. Dengan segala keterbatasannya, terutama kaum perempuan, sejak lama bertahan hidup di sana selagi pemerintah belum melakukan tindakan konkret terhadap nasib buruh migran Indonesia itu. Mereka tidur di trotoar kolong jembatan hanya beralaskan tikar sambil menanti uluran tangan untuk sekadar makan.

Tentunya patut disambut baik usaha Migrant Care bersama koalisi masyarakat sipil lainnya yang telah mengajak masyarakat Indonesia bergabung dalam "Rp1.000 untuk pemulangan TKI". Estimasinya, biaya pemulangan 200 TKI itu sekitar Rp1,7 miliar.

Seperti diketahui, setiap tahun tenaga kerja Indonesia (TKI) memberikan pemasukan penghasilan negara bukan pajak (PNBP) sekitar Rp600 miliar dari biaya perlindungan 15 dolar AS per orang yang dibayarkan setiap akan berangkat. Selain itu, tahun 2010, TKI juga menyumbangkan devisa dari keringat mereka sebesar 7,1 miliar dolar.

Prinsip keadilan dalam gagasan Rawls menyebutkan ketimpangan sosial dan ekonomi juga perlu diatasi melalui sinergi sosial untuk memberikan keuntungan terbesar bagi kelompok miskin yang terpuruk dalam kesenjangan sosial. Implementasi dari prinsip keadilan ini akan mudah dilakukan jika ada peluang, peran dan campur tangan pemerintah dalam mengatur aktivitas ekonomi sehingga memberikan keuntungan bagi kelompok masyarakat marginal, terutama untuk warga negara yang didera kemiskinan.

Di satu sisi, pemerintah berpotensi untuk mengambil langkah-langkah signifikan yang konkret guna mencegah timbulnya akumulasi kekayaan pribadi yang berlebihan dengan menerapkan pajak kekayaan dan penghasilan. Di sisi lain, pemerintah harus menjamin realisasi bagi sistem jaminan sosial untuk keluarga miskin atau kurang/tidak mampu.

Dalam buku Poverty and Deviance in Early Modern Europe, Robert Jüte mengungkapkan hasil risetnya tentang keberhasilan sinergi sosial untuk membantu kaum miskin yang pernah menjadi persoalan serius pada sejumlah negara di Eropa meskipun sistem ekonominya kapitalistik. Kemiskinan dinilai sebagai masalah sosial yang juga menuntut kepedulian dari warga masyarakat sesuai dengan kemampuannya.

Sinergi sosial ternyata memberikan peluang besar bagi setiap warga untuk mengubah nasibnya. Kasus 200 buruh migran Indonesia di kolong jembatan Arab Saudi itu harus dijadikan momentum untuk memacu perbaikan nasib kaum miskin di negeri kita.

Hal ini bisa dilakukan melalui sedekah, zakat, dan penggalangan dana sosial yang diorganisasi secara profesional. Dalam upaya pengentasan kemiskinan tentunya dengan analogi “lebih baik memberikan kail ketimbang ikan.” Terutama kedermawanan dari kaum the haves sangat dinantikan. Kerja sama sosial yang solid juga merupakan sikap yang elegan untuk ikut berpartisipasi dalam mengikis kemiskinan.

Dinda Lina, Ketua Jaringan Perempuan Pekerja Domestik (JPPD) Jakarta, alumnus UGM

Sumber: Lampung Post, Senin, 24 Januari 2011

January 23, 2011

Musikalitas Teater Tutur Lampung

Oleh Iwan Nurdaya Djafar

DALAM tulisan Sastra Lampung Bukan Sastra Lisan (Lampung Post, 19-12-2010), saya menandaskan bahwa sastra Lampung klasik adalah sastra tulis. Sementara metode penyebarannya dalam bentuk teater tutur merupakan seni yang mandiri (otonom). Teater tutur Lampung klasik, hemat saya, termasuk ke dalam wilayah seni suara dan/atau musikalisasi puisi. Dalam bahasa Lampung disebut bedendang atau belagu.

Orang Lampung mengenal teater tutur yang tersebar di seluruh Lampung dengan namanya masing-masing. Teater tutur ialah bentuk teater tradisional yang menyampaikan atau memaparkan sastra lisan kepada penonton/pendengarnya. Cara penyampaiannya diungkapkan dengan nyanyian atau dituturkan lewat bahasa berirama. Teater tutur umumnya bersifat hiburan dan edukatif (Vademikum Direktorat Kesenian, Jakarta, 1984). Definisi barusan tidak sepenuhnya tepat bila dikaitkan dengan sastra Lampung. Meskipun dalam metode penyebarannya sastra Lampung dituturkan, sastra Lampung bukanlah sastra lisan, melainkan sastra tulis. Baru kemudian sastra tulis itu dituturkan. Nama teater tutur orang Lampung antara lain ringget, ngadio, pisaan, wawancan, kitapun, warahan, bubandung, tangis, mardinei, dan lain-lain.

Terdapat perbedaan di dalam menuturkan aneka ragam teater tutur orang Lampung di atas. Menuturkan salah satu teater tutur itu, bubandung, misalnya, harus dengan lafal dan intonasi yang tepat. Di berbagai tempat, intonasi atau lagu yang menyertai ucapan ketika menuturkan bubandung berbeda-beda. Beda dialek beda pula intonasinya.

Demikian pula dengan pisaan, yang berasal dari kata pesi yang berarti periksa. Karena pisaan mengandung maksud yang tersembunyi maka harus diperiksa (dipesi). Pisaan dituturkan tanpa terikat oleh tempat dan waktu tertentu dan dikenal pada masyarakat Lampung Pubian, Sungkai, dan Way kanan. Pisaan ialah seni suara, lagu klasik atau sejenis pantun yang mengandung kata-kata sindiran atau berupa rangkaian cerita kuno. Adakalanya pisaan dipergunakan pada saat melepas keberangkatan seorang gadis menuju rumah calon suaminya dan pada saat bujang gadis dalam suatu pertemuan muda-mudi untuk menyatakan kasih cinta.

Menilik isinya, ada bermacam-macam pisaan, yaitu pisaan sedih, gembira, riwayat, peristiwa, sindiran, ungkapan hasrat bujang kepada gadis, atau apa saja dapat menjadi tema pisaan. Sebelum menuturkan pisaan lazimnya diawali dengan kata: "Kita puuun...” maksudnya, sebagai pertanda seseorang akan ber-pisaan.

Menilik bentuknya, pisaan dapat disebut pantun berantai atau pantun berkait: baris keempat pada bait pertama menjadi baris pertama pada bait kedua, baris keempat bait kedua menjadi baris pertama bait ketiga, dan seterusnya.

Teater tutur lain, yaitu incang-incang. Jumlah baitnya tidak terikat, antara lima sampai sembilan bait. Tiap bait terdiri atas empat larik dan bersajak a-b-a-b. Larik pertama dan kedua berupa sampiran, sedangkan larik ketiga dan keempat berupa isi. Maka, incang-incang sama dengan pantun. Isinya bukan hanya berupa senandung untuk meninabobokan anak dalam bentuk petuah, pesan, nasihat yang bersifat jenaka dan menghibur, namun bisa meluas sampai ke pantun cinta-kasih atau tema lain. Incang-incang terpelihara pada marga Lampung Pubian. Manakala dituturkan, irama incang-incang ada bermacam-macam, di antaranya: irama pubian daghak (pubian darat), irama pubian doh (pubian hilir), dan irama pisaan.

Adapun pada ragam babagh bunyi sughat yang berarti menyampaikan sesuatu melalui surat, sering juga disebut ngehidu, karena pada setiap pergantian kalimat (ganti pematang) sang pelantun akan melontarkan kata hi … du …-- atau jeda untuk mengambil napas panjang untuk melantunkan kalimat selanjutnya.

Begitu pula dengan muayak (wayak) yang berasal dari kata waya berarti senang atau gembira. Senang karena pekerjaan dilaksanakan sambil melantunkan pantun atau lagu dengan nada yang nyaring.

Muayak biasanya dilakukan pada saat acara kebuah kecambay, papulangan, jebus, belin muli meghanai, nattak teba (gotong royong), pesta sekura (topeng), atau dalam suatu acara pertunjukan di luar itu. Muayak dituturkan oleh orang yang sudah dewasa atau remaja yang akan meningkat dewasa (muli meghanai tameghanjak). Sesuai dengan fungsinya, muayak sering dikatakan masak layu (matang sebelum waktunya) atau anak bergaya bujang, karena tidak sesuai dengan pelantunnya.

Sebagaimana halnya pantun, muayak terdiri atas empat baris per bait, bersajak a-b-a-b, dua baris pertama merupakan sampiran, dan dua baris terakhir adalah isi. Jumlah bait bergantung pada muayak itu sendiri, tapi biasanya antara 8-12 bait.

Pada masyarakat Belalau, Lampung Barat, muayak terdiri dari tiga macam sujak (jenis) yaitu muayak sujak jebus, muayak sujak pulangan, dan muayak sujak kecambay. Muayak sujak jebus adalah muayak yang dilantunkan dengan nada tinggi yang dikenal dengan istilah nguin (melengking) mulai dari awal hingga akhir. Maksudnya, agar apa yang dilantunkan terdengar oleh orang walaupun dari jauh. Muayak jebus dilaksanakan pada saat kita akan berkunjung ke suatu desa (pekon), sebagai tanda kita akan berkunjung ke desa itu. Pada jarak kira-kira 40 meter menjelang desa yang dikunjungi, muayak sujak jebus dilantunkan sebagai pemberitahuan kepada gadis-gadis yang ada di desa tersebut bahwa akan ada tamu yang datang sehingga mereka bersiap-siap untuk menerimanya.

Muayak sunjak pulangan adalah muayak yang dilantunkan dengan nada sedang dan lazimnya diawali dengan kata "ai ... ai ..." serta di antara bait demi bait diselingi dengan kata "ai.. ai..." pula. Muayak pulangan ini dilantunkan oleh bujang dan gadis pada saat berlangsungnya acara perpisahan seorang gadis yang akan berumah tangga terhadap teman-temannya yang ditandai dengan saling memaafkan. Acara pulangan dilaksanakan di suatu tempat yang telah ditentukan. Bujang gadis saling melantunkan muayak pulangan yang berisi pesan-pesan dan harapan-harapan yang bukan hanya ditujukan kepada gadis yang akan berumah tangga, tetapi juga kepada teman-teman yang lain.

Muayak sujak kecambay yaitu muayak yang dilantunkan dengan nada bervariasi antara nada tinggi dan nada rendah, atau menggunakan sujak jebus dan sujak pulangan dan biasanya dibawakan secara bersamaan antara kelompok bujang dengan kelompok gadis.

Fungsi muayak seirama dengan isi, lagu dan cara melantunkannya. Pertama, sebagai sarana informasi yang komunikatif dan bersifat mendidik karena dalamnya terkandung pesan, nasihat dan ajaran yang berguna dalam membentuk perilaku manusia untuk berperilaku jujur, berbuat baik dan memiliki rasa tanggung jawab dalam kehidupan dan penghidupan. Kedua, sebagai sarana hiburan; karena dilantunkan dengan menggunakan lagu dan irama yang disebut sujak. Ketiga, sebagai sarana ekspresi nilai-nilai kehidupan, misalnya menyatakan betapa pentingnya kebersamaan, toleransi dan rasa persatuan dalam mencapai suatu tujuan.

Menilik riwayatnya, pada zaman dahulu muayak dilantunkan pada saat tertentu saja dengan suara lepas tanpa musik pengiring. Namun dalam perkembangannya muayak dapat dilantunkan dalam bentuk bersahutan (dialog) dan disertai musik pengiring berupa gamolan/kulitang peghing (bambu), talo (tala) dan ghujih. Pada tahap ini, yang terjadi adalah suatu musikalisasi puisi, karena kegiatan bedendang atau belagu di situ sudah dilengkapi dengan alat musik.

Selanjutnya kita lihat teater tutur bubandung. Secara harfiah bandung berarti "bertemu" (butungga). Bentuk puisi tersebut disebut bandung karena disampaikan pada suatu perjumpaan (pertemuan). Bubandung terdapat di Lampung Selatan, berupa sejenis pantun klasik yang biasa dipakai dalam acara bujang gadis menurut adat yang disebut ngediyow, yaitu upacara cangget atau tarian yang dilakukan bujang gadis; seraya menari mereka bubandung atau pantun bersahut. Isi bubandung seringkali merupakan kata kiasan tanam tumbuhan, dilakukan dengan irama naik turun dan keras.

Terdapat lima macam bubandung. Pertama, bubandung usul yang berisi suatu ajaran terutama keyakinan atau ideologi yang perlu ditanamkan kepada pendengarnya, kadangkala merupakan ajaran agama dari sabda Rasul (taghosul). Kedua, bubandung santeghi, berisi nasihat tentang keimanan atau nasihat tentang keyakinan dalam menjalankan perintah agama atau nasihat keagamaan. Ketiga, bubandung amanat, yang berisi pesan-pesan atau amanat, hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan fisik dan mental.

Keempat, bubandung kediyoan, yang berisi curahan hati perasaan seseorang, pemecahan persoalan yang dihadapi dan dilaksanakan pada malam ngediyo (malam yang keesokan harinya berlangsung begawi adat). Kelima, bubandung cerita, misalnya kisah seorang anak yang melalaikan perintah orang tua, dll.

Ciri-ciri bubandung: (1) umumnya tiap bait terdiri atas empat larik, (2) pada bait awal terdapat mukadimah (pembukaan), (3) berisi amanat, nasihat keagamaan atau kemasyarakatan; (4) bersajak a-b-a-b (sajak silang), (5) berirama/nada minor, (6) semua baris merupakan isi/pesan yang ingin disampaikan.

Bubandung dituturkan pada acara pernikahan, peringatan hari besar Islam, pada saat keluarga besar berkumpul, upacara khitanan dll. Menuturkan bubandung harus dengan lafal dan intonasi yang tepat. Di berbagai tempat, intonasi atau lagu yang menyertai ucapan ketika menuturkan bubandung berbeda-beda. Beda dialek beda pula intonasinya.

Berikut contoh lagu atau intonasi pada bubandung amanat. Karena pola persajakannya bersifat statis maka lagu atau intonasi untuk bait-bait selanjutnya sama dengan bait pertama:

Untuk kepentingan pengajaran, disarankan agar semua bentuk teater tutur orang Lampung dituangkan dalam bentuk notasi seperti contoh di atas, sehingga diperoleh takaran suara yang tepat, baik tinggi-rendah atau panjang-pendek nadanya, cepat-lambat temponya, dan lain-lain. Untuk itu, diperlukan penelitian yang menyeluruh atas aspek musikalitas teater tutur Lampung.

Iwan Nurdaya Djafar
, budayawan

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 dan 30 Januari 2011

‘Coffee Morning’, ‘Coffee Day’, dan Kopi Dangdut

BANDAR LAMPUNG—Secara resmi acara minum kopi yang rutin dilakukan para pejabat di Lampung baru sekali sebulan. Nama resminya Coffee Morning Pemerintah Provinsi Lampung. Bergulir dari satu tempat ke tempat lain.

Tapi jangan salah, belum tentu kopi yang disediakan di meja peserta, kebanyakan malah air mineral. Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan Anshori Djausal menjelaskan meski mulai digemari masyarakat, angka konsumsi kopi masyarakat Lampung masih sangat rendah, yakni 0,5 kg/kapita/tahun.

Bandingkan dengan masyarakat Eropa yang tanahnya tak tumbuh kopi. Angka konsumsinya mencapai 12—14 kg/kapita/tahun. Malangnya, kata Anshori, kopi yang banyak dinikmati masyarakat Lampung khususnya di hotel, restoran, dan kafe dengan harga mahal bukan berasal dari Lampung.

Padahal kalau diolah dengan sungguh-sungguh, kualitas kopi Lampung, menurut dia, tidak kalah dengan kopi di daratan Eropa dan Amerika. Untuk itu, Anshori berharap masyarakat Lampung mulai menerapkan semboyan Cintai Kopi Lampung.

"Rasa cinta ini, bukan hanya ditunjukkan dengan mengonsumsi kopi dengan jumlah besar, melainkan juga memperbaiki tata cara pengolahan, saat menanam, memetik, hingga mengolah biji kopi yang dipetik sesuai standar yang berlaku," kata Anshori.

Pelaku industri perkopian pun, menurut dia, jangan takut mem-blending (mencampur) kopi lampung dengan kopi asal daerah lain, seperti arabika atau dengan campuran susu. Asalkan kopi itu tetap dijual dengan membawa nama Lampung.

"Tidak masalah jika di-blend. Tapi mem-blending sini. Setelah itu dijual dengan nama Lampung. Kalau kopi Lampung itu enak, pasti tingkat konsumsinya tinggi. Jika konsumsinya tinggi, perekonomian petani kopi bisa ikut meningkat," kata Anshori.

‘Coffee Day’

Jalan panjang menjadikan seruput kopi lampung enak di lidah masih panjang. Gengsi kopi lampung tak bisa dibesut hanya lewat kopi dangdut alias warung kopi. Para pengelola kafe di Bandar Lampung menilai perlu gerakan bersama, seperti menggelar satu hari dalam seminggu sebagai hari minum kopi (coffee day).

"Ya, paling tidak nantinya masyarakat Lampung bisa ingat ada coffee day dan dengan sendirinya bisa membangkitkan semangat minum kopi lampung," kata Niko Demos, pemilik The Coffee, di Bandar Lampung, Sabtu (22-1).

Apalagi produksi kopi lampung masih baik. Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Bambang G.S. menjelaskan pada 2007 produksi kopi lampung mencapai 140.099 ton, tahun 2008 jumlahnya tidak terlalu bergeser banyak, yakni 140.046 ton, dan pada 2009 jumlahnya meningkat hingga 145.191 ton. "Tahun 2010 juga naik tipis," ujar Bambang, Kamis (20-1). (MG18/MG3/R-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Januari 2011

Seruput Kopi Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampung): Banyak cerita dalam secangkir kopi. Ada kehangatan, candu, dan gengsi. Akan tetapi, cerita kopi di Lampung baru sebatas eksportir kopi terbesar Tanah Air.

‘NGOPI’ BARENG. Sejumlah penikmat kopi berkumpul untuk ngopi bareng di sebuah kafe di Pahoman, Bandar Lampung, Sabtu (22-1). Tumbuhnya banyak kafe di Lampung diharapkam mampu mendongkrak angka konsumsi kopi masyarakat Lampung yang masih sangat rendah, yakni 0,5 kg/kapita/tahun. (LAMPUNG POST/IKHSAN)

Kebanggaan mampu mengekspor kopi rata-rata 300 ribu ton per tahun baru menghiasi laporan statistik. Sudut-sudut gengsi Sang Bumi Ruwai Jurai belum berwajah kopi.

Kopi lampung baru dimaknai sekadar buah tangan. Kopi belum menjadi identitas Lampung, meskipun mantan Presiden Megawati menyematkan predikat Lampung etalase kopi nasional. Kenyataannya, etalase itu baru di rak-rak toko oleh-oleh.

Kehangatan, candu, dan gengsi minum kopi memang belum berpihak pada kopi robusta, jenis kopi yang banyak dihasilkan Lampung. Penyeduh kopi kelas dunia seperti Starbucks dan lusinan jaringan kafe dunia masih mengandalkan kopi arabika.

Bersyukur belakangan geliat minum kopi di Lampung mulai tumbuh. Merebaknya kafe di berbagai sudut Bandar Lampung, setidaknya memberi harapan, suatu saat Lampung menjadi tujuan wisata minum kopi. Meski masih mengandalkan kopi arabika, pemilik kafe Kopi Item, Adrizal Sutandar, mengaku cukup optimistis melihat minat minum kopi.

"Jujur lo, di daerah lain, kopi lampung itu sangat terkenal. Tapi kami masih mengandalkan jenis arabika dari Aceh, Papua, Toraja, dan Bali. Untuk kopi lampung, hingga kini kami belum dapat penyuplai kopi berkualitas sehingga belum menjualnya," kata Adri, Sabtu (22-1).

Sebenarnya, minat warga minum kopi cukup tinggi. Dia mencontohkan, dalam sehari, pengunjung yang datang ke kafe Kopi Item mencapai 50—100 orang dengan mayoritas remaja dan dewasa. "Namun banyak yang justru belum mengerti kualitas kopi bagus," ujarnya.

Kafe The Coffee di bilangan Pahoman, Bandar Lampung, juga mengaku belum menjual kopi lampung karena masalah kualitas. "Kami ingin ada tempat minum kopi berkualitas. Lampung terkenal sebagai sentra kopi, namun belum banyak tempat khusus menyediakan aneka jenis kopi pilihan," kata pemilik The Coffee, Niko Demos.

Kopi Luwak

Beruntung, ketiadaan kopi specialty di Lampung dalam setahun terakhir ditutupi para musang alias luwak (Paradoxorus hermaphroditus). Ya, kopi luwak yang menempati peringkat pertama dari 10 jenis kopi paling diburu di dunia, kini muncul dari Lampung Barat. Kopi yang diolah dalam sistem pencernaan musang ini memiliki citarasa khas dan bebas pestisida.

Namun, pengembangannya masih terbatas karena hanya ada satu daerah yang memproduksi kopi luwak, yakni di Kampung Way Mengaku, Balikbukit, Lampung Barat. Hasil fermentasi kopi berupa kotoran luwak dihargai Rp200 ribu/kg dan yang menjadi bubuk lebih dari Rp700 ribu/kg. Ketika diseduh di kafe, secangkir kopi luwak bisa seharga Rp35 ribu.

Menurut Kardi, pengusaha kopi luwak dari Lampung Barat, seekor luwak dapat menghabiskan 0,88—1,15 kg kopi gelondong per hari. "Buah kopi yang diberikan harus masak merah dan segar. Setiap ekor luwak dewasa dapat menghasilkan biji kopi kering 0,16—0,20 kg per hari," kata Kardi. (MG18/CR-3/CK-7/R-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Januari 2011

Peluncuran Buku: Konsistensi Konvensi Bahasa 'Dermaga Tak Bernama'

BANDAR LAMPUNG—Sajak-sajak yang terangkum dalam buku berjudul Dermaga Tak Bernama karya Fitri Yani mengandung konsistensi dalam hal konvensi bahasa yang cukup baik.

PELUNCURAN BUKU PUISI. Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat (kanan) membahas sajak-sajak Fitri Yani (kiri) yang terhimpun dalam Dermaga Tak Bernama dengan moderator Jimmy Maruli Alfian (tengah) di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (22-1). (LAMPUNG POST/IKHSAN)

Demikian disampaikan Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat saat menjadi pembicara pada diskusi yang dirangkum dalam acara peluncuran buku Dermaga Tak Bernama karya Fitri Yani, di gedung Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung, tadi malam (22-1).

Hadir pada acara peluncuran dan diskusi bedah buku tersebut, di antaranya Anshori Djausal (Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan) serta penyair asal Lampung seperti Isbedy Setiawan Z.S. dan Edi Samudera Kertagama. Acara itu dimoderatori Jimmy Maruli Alfian.

Menurut Djadjat, penulisan sajak-sajak dalam buku Dermaga Tak Bernama juga memenuhi unsur-unsur persajakan dengan baik, sehingga saat pembaca baru membaca judul, seolah sudah dapat mengisyaratkan isinya.

Djadjat memberikan saran dan masukan mengenai isi dan tampilan buku, di antaranya mengenai judul, kemudian nama penulis yang terkesan lebih tereksplor dibandingkan judul buku.

Menurut Djadjat, ada beberapa sajak yang sebenarnya bisa dijadikan judul karena dapat mewakili sisi kedaerahan asal penulis, antara lain sajak berjudul Muli, Penggembala Kerbau, atau Kafetaria Tanjungkarang.

Sedangkan Anshori Djausal mengatakan sajak-sajak Fitri Yani memiliki pilihan kata yang sangat mengagumkan. Meskipun demikian, kata Ansori, masih ada beberapa pengelompokkan puisi yang belum saaatnya untuk diterbitkan. "Untuk kumpulan puisi, buku ini terbilang tebal, dan bahkan bisa dijadikan dua buku," ujarnya.

Ansori sangat mengapresiasi peluncuran buku tersebut. Ia mengatakan ke depan tantangan yang harus dihadapi Fitri Yani sebagai penyair muda Lampung adalah bagaimana menjaga kedaerahan untuk terus dapat dieksplorasi melalui bait-bait sajak.

Sementara itu, Fitri Yani yang ditemui di sela-sela acara tersebut mengatakan buku setebal 83 halaman dan berisikan 62 puisi yang terbagi menjadi tiga bagian tersebut di buat sejak 2006. "Ini adalah buku pertama saya. Saya berharap buku ini bisa mendapat apresiasi dan memberikan inspirasi yang positif," kata Fitri. (MG18/K-2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Januari 2011)

[Perjalanan] ‘Spekta’ Kampung Tua Gedungbatin

PEMERINTAH Kabupaten Way Kanan menetapkan Kampung Tua Gedungbatin sebagai daerah cagar wisata sejarah. Sayang, pembinaan tak sampai pada pengelolaan dan tindak lanjutnya.

Puluhan rumah yang berjajar di kanan-kiri jalan kampung Gedungbatin itu terlihat usang. Selintas, permukiman etnis Lampung ini seolah menghindari kemapanan yang identik dengan rumah beton dan warna-warna cerah mutakhir. Namun, di dalam kompleks inilah sesungguhnya spektakulasi sejarah Lampung masih dapat disaksikan.

Meskipun masih diharapkan agar tetap lestari, sulit bagi sebagian yang lain untuk tetap teguh pada pakem sejarah. Seiring menurunnya kualitas dan konstruksi bangunan, beberapa rumah mulai direhabilitasi. Bentuk-bentu rumah modern mulai merangsek perkampungan.

Kampung tua di Kecamatan Blambangan Umpu, Way Kanan, itu dipilih sebagai kampung wisata. Banyak sejarah yang tersimpan di kampung tersebut. Bahkan rumah-rumah tua yang masih terlihat berdiri dengan ornamen lama terlihat asri.

Perjalanan menuju di kampung wisata tersebut, masuk dari Kampung Gunungkatun, Baradatu. Kemudian kita mengarah ke jalan Kecamatan Negeriagung. Sekitar 35 menit kita akan memasuki jalan menuju ke kampung wisata tersebut.

Terlihat SMPN berdiri di pinggir jalan itu, tetapi arah yang hendak dituju untuk masuk kampung wisata itu kita harus mengerahkan kendaraan masuk ke jalan aspal yang sudah rusak. Di kiri jalan terlihat perkebunan karet milik warga sedangkan di sebelah kanan jalan tampak belukar, tetapi beberapa plang tertulis di lokasi itu.

Tulisan besar berbunyi “Bank Pohon Langka”, ternyata memang betul langka alias tidak ada. Proyek ratusan juta itu tidak terealisasi.

Dalam pelukan jalan masuk kampung yang parah, rumah-rumah tua mulai terlihat jelas. Satu tugu mini dengan desain sekenanya berdiri di tengah jalan, sehingga jalan dibentuk sedikit membelah untuk melalui tugu tersebut. Lalu, satu unit rumah tua yang besar dan panjang menyambut. Rumah yang dibangun puluhan tahun lalu, masih menggunakan bahan papan berkelas, dan tiang-tiang bulat besar menambah keindahan rumah tersebut.

Beberapa ukiran menghiasi teras rumah berbentuk panggung itu. Selanjutnya deretan rumah juga berdiri di sepanjang jalan itu. Sekitar dua kilometer rumah-rumah berdiri dan semua berbentuk panggung. Hanya ada beberapa rumah baru yang dibangun biasa (tidak panggung).

Satu rumah tampak usang dan atap mulai berjatuhan, penyangga atap rapuh dan tampak kumuh, karena tidak lagi ditempati. Tetapi rumah lain yang seharusnya sudah mulai direhabilitasi juga masih dibiarkan, padahal puluhan, bahkan ratusan juta dana APBD Way Kanan pernah dialokasikan untuk rehabilitasi rumah-rumah itu.

Ketika kita melewati beberapa rumah arah masuk kampung tersebut, akan terlihat sebuah bangunan gapura mini dengan hiasan canang. Gapura kecil itu menuju permakaman warga dan permakaman nenek moyang kampung tersebut. Sayang sekali gapura itu juga dibangun asal jadi dan penempatannya tidak sesuai, karena gapura yang seharusnya dibangun indah dan dapat dilewati kendaraan roda empat itu ternyata sangat sempit.

Kompleks bangunan tua itu memang cikal-bakal kampung, seperti sudah pasangan, kompleks itu bersanding dengan sungai besar yang masih tampak asri dan sejuk. Air yang tenang dan besar itu dihiasi pepohonon yang rimbun di pinggir-pinggir sungai tersebut.

Jika hendak menyeberangi sungai itu, pengunjung harus melewati jembatan ayun yang masih terlihat kokoh. Terasa dingin dan sejuk di pinggir sungai itu, bahkan akan menarik hati untuk sekadar mandi atau berenang di air lepas.

Salah satu harapan tempat wisata yang asri itu, memang hanya sebuah kenangan. Proyek pencanangan kampung menjadi objek wisata lebih sekadar mencairkan dana pemerintah. Sebab, tidak ada realisasinya sebagai tempat yang layak untuk dikunjungi.

Kampung tua di Gedungbatin, Blambangan Umpu, yang banyak meninggalkan sejarah itu, banyak kalangan mengkhawatirkan hanya tinggal kenangan. Atap rumah yang seharunya direhabilitasi menggunakan genting, ternyata karena ingin mengeruk keuntungan pribadi, dipasang beberapa atap seng.

Dari penuturan warga setempat, dahulu, di lokasi tersebut ada penjara Belanda. Perahu bersandar di tempat itu. Namun, petilasan itu sudah tidak ada tanda-tandanya.

Di kampung tersebut sekitar 14 rumah tua yang berbentuk panggung dan merupakan kampung pertama di Way Kanan, dan diprioritaskan menjadi kampung wisata. Bahkan sudah ratusan juta dana yang dianggarkan untuk melestarikan rumah-rumah di kampung itu.

“Kami sangat kecewa, ternyata dana yang dianggarkan 2009 itu kok hanya digunakan untuk pembelian 30 lembar seng, beberapa keping papan,” kata dia. (WARSENO/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Januari 2011

Fitri Yani Terinspirasi Karya-karya WS Rendra

Penulis: Lea Febriany Editor: Taryono


"DERMAGA Tak Bernama" merupakan tafsiran, makna, dan pencarian kegelisahan- kegelisahan (penulis) dalam pencarian jati diri. Sebab, sampai saat ini, bila ada yang bertanya apakah sudah menemukan jati diri dan kepuasan, pasti tidak pernah cukup."

DEMIKIAN Fitri Yani mengungkapkan maksud antologi puisinya yang bertajuk Dermaga Tak Bernama. Ia meluncurkannya dalam Bilik Jumpa Sastra (Bijusa) ke-22 di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Sabtu (22/1) malam.

Tema antologi puisi Fitri lebih banyak menceritakan berbagai pengalaman kehidupan dan pencarian jati dirinya. Karya antara 2006-2010 ini merupakan seleksi dari berbagai karyanya.

Antologi puisi tersebut terbagi dalam tiga sub bab, yaitu Ihwal Perjumpaan, Menunggu, dan Suara-Suara Sebelum Terjaga. Ia terinspirasi karya-karya WS Rendra. "Dia sangat berani. Anak-anak muda zaman sekarang patut meniru sepak terjangnya dalam berkarya," ujar Fitri.

Penyair muda Lampung kelahiran 28 Februari 1986 ini menyelesaikan buku pertamanya yang berisi 64 puisi hanya dalam waktu lima bulan. Meski demikian, ia merasa waktu tersebut belumlah cukup saat memutuskan menyelesaikannya.

Dengan penerbit Siger Publisher, sejumlah penyair kondang Lampung membacakan puisi-puisi Fitri dalam bijusa, seperti Isbedy Stiawan Z.S., Edy Samudra Kertagama, dan Ari Pahala Hutabarat. Mereka membawakan puisi, seperti Menjelang Subuh, Sebuah Kereta, Dermaga Tak Bernama, Kafetaria Tanjung Karang, dan Suara-Suara Dari Balik Jendela.

Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat membedah antologi puisi Fitri. Djadjat menitikberatkan pada upaya menafsirkan tanda. Ia 'menyingkirkan' godaan untuk membaca biodata penyair (Fitri) sebelum membaca karya agar tidak 'tersandera' sang penyair.

"Saya baca daftar isinya, saya pilih puisi yang berjudul Dermaga Tak Bernama. Ini tentu tanda yang menggoda," kata Djadjat. "Mengapa penyair memilih ini (Dermaga Tak Bernama) sebagai representasi seluruk sajak? Mengapa tidak memilih sajak yang lain, yang lebih bercerita tentang Lampung?" terusnya.

Djadjat menilai, Dermaga Tak Bernama menjadi tanda yang berbeda dari puisi-puisi Fitri. Penikmat sastra tak sekadar menikmatinya sebagai sebuah kode rahasia. "Sebuah tamasya batin dan pikiran, seperti kata Tzvetan Todorov? Ada interaksi intim yang melahirkan teks-teks baru," ujarnya.

Dunia tafsir, sambung Djadjat, sebuah lautan yang tak bertepi. Karya-karya Chairil Anwar, juga WS Rendra, ia mencontohkan, melahirkan teks-teks baru jauh lebih banyak dari teks utama.

Menurut Djadjat, penyair seakan ingin menegaskan, dirinya tak ingin membebankan sejumlah persoalan yang mengemuka dalam puisi-puisinya kepada pembaca. "Dia cukup menjawabnya (persoalan) sendiri, meski dengan sekadar gumam. Penyair gelisah dan bergulat dengan kerisauan, tapi dia atasi sendiri dengan sekuatnya. Adakah wanita Lampung yang punya tradisi kemandirian, yang tak membebankan problemnya kepada orang lain?" jelas Djadjat.

Sumber: Tribun Lampung Online, Minggu, 23 Januari 2011

January 21, 2011

Anatomi Kemiskinan dan Infrastruktur Pedesaan

Oleh Hardi Hamzah


KEMISKINAN di pedesaan, bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, hal ini dikarenakan masyarakat kita yang mayoritas tinggal di pedesaan selalu mengalami fluktuasi sebagai akibat adanya policy. Di satu pihak terdapat kebijakan yang linear dan kurang antisipatif, dipihak lain adanya jeratan para tengkulak.

Dalam kaitan itulah, kali ini penulis mencoba mengangkat perihal kemiskinan, meski tidak hanya berbicara tentang spesifik di pedesaan, namun pokok bahasan lebih bermuara pada hal-hal yang diharapkan mampu mencari jawab dan solusi kemiskinan yang ada pada masyarakat desa.

Mengapa desa menjadi skala prioritas, karena desa merupakan lumbung utama dari berbagai komoditi yang nota bene komoditi tersebut dinikmati masyarakat kota, dan elite perkotaan pula yang membuat policy (kebijakan), sehingga apakah masyarakat desa hanya menjadi obyek policy, dan bagaimana pula agar mereka menjadi subject dari negara ini, mengingat mereka merupakan anak bangsa mayoritas.

Apabila kita memahami kemiskinan sebagai suatu aspek yang rawan, maka korelasi terpenting yang harus kita kaitkan, adalah antara persepsi tentang kemiskinan itu terlebih dahulu. Demikian, ekonom sekaligus Ustad, Syafii Antonio mengatakan, bahwa standar BPS yang mengungkap adanya 31 juta jiwa lebih penduduk miskin di Indonesia, tidak relevan bila standar kemiskinan itu dibanding dengan apa yang dikemukakan World Bank dalam Annual Report (Laporan Tahunan).

Kita ketahui bersama, bahwa standar penduduk miskin di Indonesia, adalah sosok manusia yang berpenghasilan Rp.220.000,- per bulan. Sementara Word Bank menstandarisasi, bahwa masyarakat di Asia, Afrika dan Amerika Latin dapat dikategorikan miskin apabila berpenghasilan 2 US dolar per hari, ini berarti sekurangnya Rp. 18.000 per hari, yakni Rp.540.000 per bulan, kalau mengikuti standarisasi ini, berarti terdapat lebih dari sembilan puluh juta penduduk miskin, belum lagi yang berda di bawah garis kemiskinan. Kalau perhitungan itu disamaratakan, pun akan terdapat kejanggalan mengapa demikian, karena, dalam masyarakat kota, fluktuasi penghasilan pengangguran terselubung, sangatlah tidak jelas. Mulai dari pemulung, LSM, pers, kelompok penekan, dan para pekerja serabutan, menunjukkan angka yang destruktif antara kebutuhan mereka di perkotaan dengan penghasilannya, dan inilah, yang menurut sosiolog Dr. Imam Prasodjo cenderung melahirkan kriminalitas dan berbagai aspek negatif lainnya. Angka kemiskinan yang menunjuk pada kelipatan tiga (90 juta jiwa lebih), hal ini hendaknya menyadarkan kita sebagaimana yang dikatakan Syafii Maarif, bahwa perahu repbulik ini sedang oleng. Akan halnya kalau kita merujuk dengan hitungan World Bank, angka kemiskinan menjadi 90 juta jiwa lebih, bahkan bisa saja lebih dari itu. Desa kita yang berjumlah 72 ribu lebih , apabila 80% penduduk pedesaan berada pada garis kemiskinan,ini berarti dalam masyarakat pedesaanlah kemiskinan itu terbanyak.

Survei Divisi Penelitian MAHAR Foundation, menunjukkan bahwa 65,8 juta jiwa di pedesaan mengalami kemiskinan Absolut, dan lebih dari 15 juta jiwa mengalami kemiskinan antara struktural dan Absolut. Survei itu juga menunjukkan, bahwa angka masyarakat miskin di pedesaan dapat membludak . MAHAR Foundation yang mengikuti secara cermat laporan tahunan (annual Report) World Bank maka dapatlah dijelaskan lebih rinci, angka kemiskinan di pedesaan sudah sangat akut. Kenyataan ini, ternyata bukan karena pemerintah yang tidak mempunyai program, tetapi dalam survei MAHAR Foundation itu, bahwa Rakyat dan Kemiskinannya kurang Antisipatif terhadap program pemerintah, seperti KUR, UKM, dan beberapa BLK yang ada. Survei MAHAR Foundation kemudian juga melihat, bahwa titik rawan yang paling membahayakan hampir membawa perahu Indonesia oleng tak tentu Arah. Asumsi ini, setidaknya bila kita melihat angka survei, ternyata lebih banyak pengangguran “tidak kentara” (disguest unemployement) di pedesaan ketimbang di perkotaan. Di pedesaan menunjukan angka 47%, sementara di perkotaan hanya 17%.

Rapat koordinasi pemerintah dengan melibatkan 15 kementrian, menunjukan bahwa pemerintah antisipatif terhadap kemiskinan yang ada. Namun demikian, kita tidak memahami secara struktural, bahwa kemiskinan yang dirumuskan oleh 15 kementrian tersebut masih pada standar yang ada dewasa ini, yakni 31 juta jiwa. Kalau demikian halnya, maka benar apa yang dikatakan oleh sekjend PBB Bankimun , bahwa kalau dalam 2 triwulan di Tahun 2010 ini negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, tetap berstandar pada katagori kemiskinan yang rawan,bila ini terus terjadi, lanjut sekjend PBB itu maka dominasi politik arus bawah akan menguat.Penulis sendiri melihat, bahwa kemiskinan di pedesaan lebih besar implikasinya, dikarenakan masyarakat pedesaan belum banyak yang memahami komunikasi sosial, sangat boleh jadi mereka akan mendapat informasi yang salah, yang akan melahirkan selain ketidak pahaman tentang program pemerintah, juga akan cepat memicu potensi konflik.

Kemiskinan, memang tidak dapat dibiarkan, kita harus merubah culture Institusi dari bawah sampai atas. Apabila culture birokrasi kita tidak diubah, maka kebijakan akan menyediakan “karpet merah” pada elite politik dan pelaku ekonomi di pusat. Inilah yang kemudian, membuat kemiskinan di pedesaan disorientasi. Penduduk yang disorientasi, akan menampilkan bentuk-bentuk skeptis, tidak produktif terhadap SDA dan mencelakakan negara.

Penulis melihat bahwa kemiskinan, yang kemudian menjadi dua sisi mata uang, sesungguhnya akan terus menerus absolut, apabila kita melihat dari aspek matrerial (fisik) saja. Dalam kaitan ini untuk mengatasi kemiskinan, nampaknya yang dapat menjadi rujukan adalah kemiskinan di pedesaan harus dilihat dari Infra struktur sosial yang ada di pedesaan, perlu dipertimbangkan infra struktur sosial pedesaan, karena infra struktur sosial di pedesaan mencerminkan tingkat kemampuan masyarakat desa didalam mengelola pedesaan. Dalam tahapan ini, pertanyaan pertanyaan penting yang harus kita jawab bersama, adalah, apakah sistem organisasi masyarakat di suatu desa sudah cukup mapan atau setidaknya mampu untuk mengantisipasi suatu proses pembangunan yang dicanangkan pemerintah, atau justeru masih lemah sama sekali.

Hal ini perlu dipertanyakan, karena dengan memahami infra struktur sosial, kita akan memahami, sampai sejauh mana kesiapan masyarakat pedesaan untuk menghadapi dan menjalankan program pemerintah, ini berarti dalam upaya mengentaskan kemiskinan di pedesaan tidak hanya dengan pendekatan kuantitatif semata, tetapi juga pendekatan sosial, dimana, kita perlu memahami sejauh mana kelompok sosial, seperti pemuka agama, pemilik tanah atau kelompok elite pedesaan bisa diberdayakan untuk turut berperan serta aktif sebagai suatu instrumen sosial agar dapat ikut aktif bersama pemerintah dalam melakukan perubahan. Dan, yang juga amat penting kita perhatikan, apakah sarana seperti bank, pusat pasar, jalan dan fasilitas angkutan, baik di dalam desa, kota kota terdekat di pedesaan telah dapat dimanfaatkan secara baik. Nah, kalau hal ini kita maknai, bahwa pengentasan kemiskinan di pedesaan equivalen dengan kerja sama seluruh elemen, maka program yang telah dikoordinasikan oleh lima belas kementerian terkait untuk mengentaskan kemiskinan, khususnya di pedesaan akan berjalan baik pula.

Hardi Hamzah, Staf Ahli Mahar Foundation

Sumber: Lampung Post, Jumat, 21 Januari 2011

January 20, 2011

Pustaka: GBK Bantu Wujudkan Metro Kota Pendidikan

METRO (Lampost): Wali Kota Metro diwakili Kepala Dinas Pendidikan Chaidar Mansyah meresmikan pembukaan dan pemakaian Griya Baca Komunitas (GBK) Nurul Huda di Kecamatan Margorejo, Metro, Senin (17-1).

Sebelum peresmian digelar diskusi tentang strategi mewujudkan Metro sebagai kota pendidikan berbasis komunitas dengan pembicara Bambang Irawan (Kabid Pendidikan Luar Sekolah Diknas Metro), Hesma Eryani (praktisi pers Lampung Post), dan Agus Riyanto (Ketua Ma'arif Institute Metro).

Wali Kota mengatakan GBK Nurul Huda yang digagas Ma'arif Institute bersama elemen-elemen lain di Metro merupakan salah satu upaya mewujudkan Metro sebagai kota pendidikan. Peran GBK sangat penting sebagai partisipasi elemen masyarakat dan warga lantaran Pemkot tak mungkin mampu mewujudkan visi itu sendiri.

Ketua Ma’arif Institute, Agus Riyanto, mengatakan lahirnya program GBK juga didasarkan pentingnya percepatan kualitas masyarakat melalui sektor pendidikan nonformal. Dia juga melihat perlu inisiatif lokal dari kelompok-kelompok masyarakat yang secara mandiri bergerak dan peduli untuk mempercepat pencapaian tujuan Metro sebagai kota pendidikan.

GBK sendiri, ujarnya, menjadi wahana belajar masyarakat yang berbasis kebutuhan dan potensi dari, oleh, dan untuk komunitas itu sendiri untuk mengembangkan kearifan dan kecerdasan lokal.

"Kami menargetkan ada 10 GBK di Metro, dan ini yang kedua. Yang pertama sudah diresmikan di Yosodadi," kata dia. Pihaknya juga menargetkan terkumpul 1.001 buku untuk setiap GBK.

Pengelolaan GBK ini menyesuaikan kebutuhan dan potensi komunitas di sekitar GBK dengan kegiatan pendukung yang produktif, edukatif, dan menyenangkan.

Agus mengharapkan warga yang memiliki buku tak dipakai lagi tetapi layak baca agar disumbangkan ke GBK sehingga masyarakat setempat memiliki peluang lebih besar untuk memperkaya dirinya dengan banyak membaca. (UNI/S-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 20 Januari 2011

Bedah Buku: Sejarah Islam ke Lampung Ditelaah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni akan dibedah. Kegiatan ini dilakukan untuk menelaah sejarah masuknya Islam ke Lampung.

Ketua Bidang Pembinaan Keumatan PKS Lampung Ahmadi Surmaryanto menerima cenderamata dari Asisten RedakturPolitik Lampung Post Kristianto disaksikan Redaktur Opini dan Budaya Udo Z. Karzi, Pemimpin BE Press Y. Wibowo, dan pengurus PKS lain. Dari diskusi, tersirat keinginan PKS untuk membedah novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni, Maret nanti. (LAMPUNG POST/SYAIPULLOH)

"Kami tertarik untuk membedah buku tersebut karena kami melihat di dalam buku tersebut terdapat sejarah tentang awal mula masuknya Islam ke tanah Lampung," kata Kepala Bidang Pembinaan Umat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPW Lampung Akhmadi Sumaryanto saat bersilaturahmi ke Lampung Post kemarin (19-1).

Rombongan diterima oleh Redaktur Opini Zulkarnaen Zubairi dan Asisten Redaktur Politik Kristianto.

Hal tersebut menjadi menarik untuk dibahas, kata Akhmadi, karena selama ini sejarah awal masuknya Islam ke Lampung hanya diketahui dari mulut ke mulut saja. "Hanya cerita lisan turun-temurun saja," kata dia.

Meskipun karya sastra tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, ujarnya, terdapat banyak fakta-fakta menarik yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam novel setebal 525 halaman tersebut. "Bisa memicu kajian akademis juga, karena kita dapat melihat data-data yang ada di dalam novel itu," ujarnya.

Selain itu, terdapat pula kekayaan Lampung dalam cerita Perempuan Penunggang Harimau yang baru saja diluncurkan pada Sabtu (16-1) lalu.

"Kekayaan lokal yang diceritakan pada buku tersebut sangat penuh dan ini masih sangat jarang diangkat oleh penulis-penulis lokal Lampung," kata Akhmadi.

Y. Wibowo dari Penerbit BE Press yang juga hadir dalam pertemuan tersebut mengatakan menyambut baik niat mengenai bedah buku ke-17 yang diterbitkan oleh penerbit lokal Lampung itu.

"Saya menyambut baik untuk bedah buku. Bedah buku dapat mengemukakan pemikiran dari masing-masing individu mengenai novel tersebut," kata dia.

Perempuan Penunggang Harimau bercerita secara fiksional tentang sejarah Kerajaan Sekala Brak, Lampung Barat. Tentang kehebatan Ratu Sekeghumong yang mempertahankan adat leluhurnya tetapi bangga dengan hidup kesederhanaan. (MG13/K-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 20 Januari 2011

January 19, 2011

Sastrawan Lampung Jadi Dewan Kurator TSI Ternate

Bandarlampung, 19/1 (ANTARA) - Sastrawan Lampung Isbedy Stiawan ZS, bersama sepuluh sastrawan Indonesia lainnya mendapat kehormatan dari Wali Kota Ternate, Maluku Utara, ditunjuk menjadi Dewan Kurator Temu Sastrawan Indonesia (TSI) IV, di kota tersebut pada 27-29 Oktober 2011 yang akan datang.

"Penunjukan saya sebagai salah satu dewan kurator merupakan kehormatan. Tidak saja bagi diri saya, tetapi juga untuk Lampung," ujar Isbedy Stiawan, di Bandarlampung, Rabu.

Isbedy menjelaskan, dari Sumatera yang diminta yaitu Tarmizi Rumahhitam (Kepulauan Riau), D Keumalwati, Linda Christianty (Aceh).

Sedangkan yang lain, Jamal D Rahman, Zen Hae, Sihar Ramses Simatupang, Nukila Amal (Jakarta), Joko Pinurbo (Yogyakarta), Triyanto Triwikromo (Semarang), dan Rudi Fofid (Maluku Utara).

Ia pun menjelaskan, menurut panitia, Dino Umahuk, penyair asal Ternate, para kurator akan bersidang kali pertama pada Maret 2011. Selanjutnya, dijadwalkan Agustus-September 2011.

Sastrawan Lampung yang giat menulis buku dan puisi itu menyambut gembira atas penunjukan tersebut, dan akan bekerja semaksimal mungkin menyukseskan TSI IV di Ternate.

"Pada TSI III di Tanjungpinang, saya hadir sebagai peserta, pembaca puisi di panggung utama, dan menulis puisi tentang Tanjungpinang. Kali ini, saya dipercaya sebagai Dewan Kurator. Karena itu harus jaga kepercayaan panitia TSI IV, apalagi yang menandatangani SK kami adalah Wali Kota Ternate," ujarnya.

Isbedy mengharapkan sastrawan Lampung lainnya bisa diundang dan pemerintah daerah setempat mendukungnya, karena tanpa dukungan pemerintah sulit bagi penggiat sastra untuk menenuhi undangan di luar daerah tersebut.

"Apalagi TSI IV itu kegiatan nasional, jadi pemerintah semestinya harus memberikan dukungan yang positif. Apalagi, para sastrawan atau seniman yang diundang karena kualitas karyanya sudah diakui," kata dia.

Isbedy yang juga aktif di Dewan Kesenian Lampung (DKL) itu memprediksi, sastrawan Lampung yang diundang ke TSI IV Ternate Oktober yang akan datang, sekitar delapan orang.

Mereka adalah Arman AZ, Fitri Yani, Inggit Putria Marga, Agit Yogi Subandi, Ari Pahala Hutabarat, Alexander Gb, S.W Teofani, Ferdinand Moses.

"Ini hanya perkiraan, sebagai salah satu kurator TSI saya tak bisa sendiri menetapkan. Pilihan dan ketetapan dari suara terbanyak Dewan Kurator," tuturnya.

Isbedy menjelaskan lebih lanjut, ia pun diminta panitia Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V di Palembang, 15-18 Juni 2011, untuk editor buku PPN V.

Selain editor buku puisi PPN V, lanjut dia, ia pun sebenarnya salah satu kurator atau tim delegasi untuk Indonesia, di samping Ahmadun Yosi Herfanda, Chavchay Syaifullah (Jakarta), Anwar Putra Bayu (Sumsel), dan Fakhrunnas MA Jabbar (Riau).

PPN adalah kegiatan bagi penyair serumpun melayu: Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand bagian Selatan. PPN pertama berlangsung di Medan, kedua di Kediri, Jawa Timur, selanjutnya Malaysia, dan ke empat di Brunei tahun 2010.

Sumnber: Antara, Rabu, 19 Januari 2010

Dewan Kesenian Lampung Masih Butuhkan Atu Ayi

Bandarlampung, 19/1 (ANTARA) - Dewan Kesenian Lampung (DKL) masih membutuhkan Sjafariah Widianti (Atu Ayi) untuk memimpin organisasi tersebut kurun waktu empat tahun ke depan, karena pada periode empat tahun sebelumnya dinilai berhasil.

"Dengan dipimpinnya DKL oleh Atu Ayi, sapaan akrab beliau, beberapa program berjalan dan bisa menjembatani keinginan seniman dan penggiat seni lainnya," kata Ketua Badan Pembina DKL, Berti Moghni pada rapat pleno akhir kepengurusan DKL periode 2007-2010, di sekretariat DKL Kompleks PKOR Wayhalim, Bandarlampung, Rabu.

Sementara itu, rencananya akan dilakukan Musyawarah Daerah (Musda) DKL pada 16 Februari 2011 untuk memilih dan menetapkan pengurus DKL periode 2011-2014.

Pada rapat pleno terakhir itu juga dihadiri antara lain Badan Pembina A.M. Zulqornain Ch., Ketua Harian DKL Syaiful Irba Tanpaka, Sekretaris Umum Hary Jayaningrat, Ketua Bindang Isbedy Stiawan ZS, Hermansyah GA, Dana E Rachmat, dan seluruh komite.

Berti Moghni mengakui selama ini yang telah dilaksanakan DKL sudah berjalan baik. Hanya, ia tetap berpesan, ke depan seluruh pengurus DKL harus semakin kokoh dan menjalin kekompakan.

"Selain itu, DKL diharapkan dapat menjalin kerja sama dengan instansi dan lembaga lain. Dengan demikian, pekerjaan akan semakin ringan jika dipikul bersama-sama," ujarnya.

Meski begitu, sesepuh penari/koreaografer Lampung itu tetap mengkritik kinerja pengurus DKL.

Dia menyebut, program DKL sudah bagus namun kurang terdengar gaungnya di masyarakat. Hal itu disebabkan publikasi kegiatan yang kurang.

"Kita harus merangkul media sehingga kegiatan kesenian dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas.," ujarnya.

Sementara AM Zulqornain, salah satu anggota Badan Pembina DKL, juga mendukung Berti Moghni untuk meminta kesediaan Atu Ayi kembali menjadi ketua umum.

"Figur Atu Ayi masih kita perlukan sekali," kata Zul menegaskan.

Sejumlah pengurus DKL juga mengharapkan Atu Ayi masih berkenan memimpin DKL pada empat tahun ke depan. Alasannya, pada periode sebelumnya DKL sudah banyak berbuat bagi kegiatan kesenian dan kemajuan seniman di Provinsi Lampung.

"Saya kira Atu Ayi paling tepat sebagai figur di pucuk DKL. Dan ini periode terakhir, kalau kepemimpinan hanya dua periodesasi," jelas Isbedy, ketua bidang I (sastra dan teater).

Syaiful Irba Tanpaka, Ketua Harian dua periode DKL itu, jauh-jauh hari sudah mengharap kesedian Atu Ayi. Alasannya daerah itu belum memiliki figur yang bisa 'menjembatani' antara seniman dengan pemerintah daerah.

"Dia sangat mengayomi," ujar Syaiful lagi.

Sumnber: Antara, Rabu, 19 Januari 2010

January 18, 2011

[Sosok] Gunawan Supriadi: "Raja" Kopi Luwak

Oleh Yulvianus Harjono

GUNAWAN Supriadi (41) pernah memiliki reputasi yang buruk. Pada masa lalunya, ia dikenal sebagai ”preman” yang menguasai sejumlah lahan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. Namun, kini, warga lebih banyak mengenalnya sebagai pengusaha kopi luwak yang disegani.

Gunawan Supriadi (KOMPAS/LASTI KURNIA)


Gunawan merupakan salah satu produsen kopi luwak di Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, dengan merek dagang Raja Luwak. Kopi luwak yang dihasilkan lewat pemeliharaan luwak di pekarangan rumahnya kini mampu menembus kafe-kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di Tanah Air.

Bahkan, kopi luwak yang dihasilkan dari ”kampung” ini menjelma sebagai komoditas termasyhur di dunia. Bekerja sama dengan sejumlah eksportir, kopi luwak yang dihasilkan itu kini dinikmati pencinta kopi di beberapa negara, antara lain, Korea, Jepang, Hongkong, dan Kanada.

Kopi luwak produksi Gunawan telah menambah khazanah kekayaan kopi-kopi eksotis Nusantara. Di mata dunia internasional, kopi luwak asal Indonesia, khususnya dari Liwa, memiliki reputasi teramat baik, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kopi termahal dan terlangka di dunia.

Di luar negeri harga bisa mencapai Rp 5 juta-Rp 8 juta per kilogram dalam bentuk bubuk. Bandingkan dengan biji kopi Hacienda dari Panama dan kopi St Helena, Afrika, yang masuk di dalam jajaran kopi dunia termahal dengan harga masing-masing Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per kg. Gunawan menjual kopi luwak dalam bentuk bubuk dengan harga tidak lebih dari Rp 600.000 per kg.

Nilai tambah

Selain mengharumkan nama daerah, bagi Gunawan, hal yang lebih penting adalah keberadaan kopi luwak dapat memberikan nilai tambah, yaitu penghidupan yang lebih layak bagi dirinya dan para perajin atau produsen kopi luwak lainnya. Pada gilirannya, para petani kopi juga bisa lebih terangkat kesejahteraannya.

”Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat- marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini,” ujar Gunawan.

Ketua kelompok perajin kopi Raja Luwak ini sekarang membina dan mengoordinasikan 10 produsen kopi luwak lainnya di Gang Pekonan, Way Mengaku, Liwa. Sebagian besar di antara mereka adalah para pemula yang tidak memiliki pasar ataupun merek dagang sendiri.

”Saya menampung sebagian kopi dari mereka, lalu membantu menjualnya, terutama jika kebetulan ada pesanan yang besar,” ujarnya. Setiap perajin diharuskan menyetor 5 kg kopi luwak dalam bentuk brenjelan (masih berupa kotoran) dan pemotongan hasil keuntungan.

Iuran-iuran ini memiliki banyak fungsi, di antaranya bantuan pinjaman permodalan, termasuk untuk membeli kandang dan luwak. Gunawan berpikir sebaliknya jika dibandingkan banyak produsen kopi luwak yang berpandangan bahwa usaha itu lebih baik dimonopoli mengingat kerasnya persaingan.

Liwa akan dikenal sebagai sentra kopi luwak budidaya. Pada gilirannya, Gunawan berharap usahanya juga akan menyelamatkan luwak yang populasinya sempat terancam akibat diburu dan dibunuh. ”Luwak ini dahulu sering dianggap hama karena suka menghabisi kopi. Di kebun-kebun (kopi), mereka diracun pakai Timex (racun babi),” kisah Gunawan.

Gunawan mulai menekuni usaha kopi luwak sekitar tiga tahun lalu. Itu berawal dari hobinya memelihara hewan-hewan liar, salah satunya luwak. Dua luwak pertamanya diberi nama Inul dan Adam, mengambil nama pasangan penyanyi dangdut beken dan suaminya. Waktu itu, luwak-luwak ini hanyalah dipelihara.

”Luwak-luwak saya ini kemudian sering dipinjam seorang kawan. Ia minta izin mengurus dan memberi makan kopi. Lalu, anehnya, kotorannya kok dikumpulkan. Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?” ungkapnya menceritakan pengalamannya merintis usaha kopi luwak.

Dari penelusurannya, ia kemudian memperoleh informasi bahwa di China, 0,5 kg kopi luwak bubuk dihargai Rp 3,2 juta. Dia melihat ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Gunawan ketika itu masih bekerja serabutan. Kadang sebagai petugas satpam, kadang mengumpulkan uang parkir dari pasar-pasar. Ketika itu dia memiliki 16 anak buah.

Gunawan kemudian meminta anak buah dan jaringannya mencarikan luwak sebanyak-banyaknya untuk dipelihara dan mencoba memproduksi kopi luwak. Namun, pada awal usahanya, dia terganjal persoalan pemasaran. Ia terpaksa menawarkan dagangannya dari pintu ke pintu kafe dan hotel-hotel.

”Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet,” ujarnya.

Perlahan, usahanya berkembang. Jumlah luwak yang dipeliharanya bisa mencapai 60 ekor saat musim kopi. Namun, saat ini yang dipelihara hanya 26 ekor. Sebagian luwak dia serahkan kepada perajin lainnya dan dilepasliarkan ke alam. Rata-rata ia memproduksi 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal bentuk brenjelan tiap bulan.

Sempat masuk sel

Kini, setelah perlahan mulai mapan, dia meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai koordinator parkir. ”Usaha ini jauh lebih aman dan menjanjikan, terutama untuk masa depan saya dan keluarga,” tutur pria yang sempat dua kali masuk sel akibat perselisihan soal parkir ini.

Dari hasil usahanya itu, kini ia bisa membeli sebuah kendaraan dan tengah membangun kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku.

Usaha kopi luwak yang ditekuninya bersama belasan warga Way Mengaku lainnya merupakan suatu bentuk kemandirian ekonomi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya dilakukan mandiri, tak ada bantuan dari pemerintah ataupun pengusaha swasta.

”Dulu pernah ada pengusaha kaya dari Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru ’ditendang’. Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita ’dijajah’ asing lagi,” ujar Gunawan.

Sumber: Kompas, Rabu, 19 Januari 2011