February 26, 2009

Kurusetra Pentaskan Lakon 'Suara-Suara di Balik Jendela'

BANDAR LAMPUNG--Beberapa anak muda bergerak perlahan dari satu tempat ke tempat lain. Anak-anak muda tadi berpakaian rapi. Ada yang mengenakan setelan jas dan memakai baju sekolah. Kemudian, mereka bergerak cepat, bahkan berlari mengikuti iringan musik keras. Gerakan mereka berulang-ulang. Menggambarkan rutinitas sehari-hari.

Dua orang kekasih tampak bercengkerama riang. Mereka berdua saling menggoda. Iringan lagu India Kuch-Kuch makin menambah nuansa mesra. Setelah puas bercanda, mereka terdiam untuk beberapa saat. Adegan tersebut merupakan prolog dari pentas teater bertajuk Suara-Suara di Balik Jendela. Pentas tersebut disajikan Teater Kurusetra Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Unila, Senin (23-2). Pentas berdurasi 45 menit tersebut merupakan besutan sutradara Iskandar H.B.

Menurut Iskandar, pesan yang disampaikan dalam lakon Suara-Suara di Balik Jendela adalah kaum muda yang terlalu tertutup dan terkungkung dengan dunia sendiri. Lakon itu menggambarkan para pemuda yang belum mau menerima kemajuan teknologi. "Mereka tidak berani menjamah realita yang ada," kata Iskandar.

Lakon tersebut merupakan karya tiga sastrawan muda Lampung, yakni Fitri Yani, Agit Yogi, dan Didi Arsandi. Lakon itu deperankan oleh para penulis naskah dan beberapa aktor lain, Romadhona Edi Saputra, Erdalia, Noversi Mutiarani, dan Tiara.

Iskandar mengatakan kesulitan dalam mementaskan Suara-Suara di Balik Jendela adalah karakter masing-masing pemain belum keluar secara maksimal. Para pemain belum ekstrem mengeksplorasi perannya.

Penampilan Teater Kurusetra tersebut disaksikan puluhan mahasiswa, dosen, dan aktivis teater Lampung. Beberapa seniman dan sastrawan, seperti Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat, Edy Samudra, dan Muhammad Yunus turut hadir dalam acara tersebut. Usai pertunjukan, dilangsungkan diskusi atas lakon tersebut.

Iswadi mengatakan lakon Suara-Suara di Balik Jendela belum menjadi sebuah peristiwa, masih menjadi permainan kata-kata. Para penonton belum sempat merasakan peristiwa yang disajikan dalam setiap adegan, kemudian sudah berganti ke adegan lain. n PADLI/K-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 26 Februari 2009

February 25, 2009

Laras Bahasa: Saya 'Ulun' Lampung Bukan Orang Lain

Oleh Udo Z. Karzi*

DULU, jauh sebelum memopulerkan ulun Lampung (ada juga yang menuliskan dengan ulun Lappung), saya sempat protes ke mana-mana soal pemakaian kata ulun. Bukankah ulun itu bersinonim dengan ghumpok yang berarti orang lain? Waktu kecil, saya akrab dengan kalimat yang dianggap kurang ajar seperti ini: "Beni sapa inji (Punya siapa ini)?" Jawabnya tak kalah kurang ajar: "Beni ulun, lain beram (Punya orang/orang lain, bukan punya kita)."

Dalam konteks ini, ulun memang bukan saya, bukan kita, bukan kami, melainkan orang lain. Kata ulun di sini sinonim dengan ghumpok (sama artinya, orang lain). Dalam kasus ini, ulun memang menjauhkan seseorang (out group) dari kelompok saya (in group). Ulun, dengan demikian, menjadi makhluk asing bagi seseorang atau sekelompok orang.

Anehnya, Supermarket King (Swalayan King) tahun 1980-an mempunyai moto dan bahkan jingle iklannya radio-radio: "King jak ulun Lampung". Lo? Ini swalayan di Lampung kok malah gembar-gembor mengatakan King punya orang lain dan bukan punya orang Lampung?

Belakangan saya tahu bahwa kata ulun sebenarnya sebuah kata yang juga banyak digunakan di daerah lain. Saya tanyakan kepada Heru Zulkarnain yang berasal dari Cukuh Balak, sesama bahasa Lampung dialek a (api). Kata dia, ulun berarti orang. Masih bahasa Lampung--sebagaimana dikutipkan Agus Sri Danardana--dalam kamus (Junaiyah H.M., 2001) halaman 298 tertulis ulun: "orang; seseorang". Untuk arti "orang lain" (seperti pendapat Asarpin) di kamus itu ditulis 'ulun di ulun'.

Kata ulun sering dilekatkan kata tuha (tua). Ulun tuha berarti orang tua dalam arti ibu-bapak yang melahirkan kita. Kalau yang dimaksudkan adalah orang yang sudah tua, biasanya dipakai kata jelma tuha yang artinya orang (yang sudah) tua.

Kamus Bahasa Lampung (Fauzi Fattah dkk, 1999) hlm. 79 mencantumkan ulun: orang; ulun alim: ulama; dan ulun tuha: orang tua.

Keluar dari bahasa Lampung, kata ulun juga dikenal dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Dayak, dan bahasa Banjar. Ulun dalam bahasa-bahasa itu berarti saya, aku, abdi.

Pada Laras edisi 18 Februari lalu Asarpin mengusulkan untuk menggunakan tian sebagai pengganti ulun. Ah, masak iya sih? Tian dan ulun ya jelas berbeda. Tian (mereka) adalah kata ganti orang ketiga jamak. Dalam tulisan rasanya tidak elok, menganggap pembaca sebagai kelompok lain. Mengapa Agus Sri Danardana harus mengatakan mereka (kepada orang Lampung). Kata tian bisa berhadap-hadapan dengan kata ganti orang lain seperti: nyak (saya), gham atau negham (kita), sikam (kami), niku (kamu tunggal), keti/kutti (kalian), dan ya (dia).

Sedangkan ulun adalah kata benda yang berarti orang, bisa juga orang lain. Kalau digandengkan dengan Lampung menjadi ulun Lampung. Tentu artinya, bukan orang lain Lampung atau bukan orang Lampung. Ini soal konteks saja.

Awal tahun 2000-an saya menulis judul tulisan di Lampung Post berjudul Menelusuri Jejak-Jejak 'Ulun' Lampung di Bandar Lampung. Saya juga baru tahu kalau Wikipedia pun sudah mengadopsi kata ulun Lampung dan mengartikannya sebagai orang Lampung atau orang suku Lampung. Saya berpikir, wah, malahan bagus.

Sedikit keluar dari bahasa Lampung, ke bahasa Indonesia untuk sebuah contoh. Kata "canggih" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa berarti (1) banyak cakap, bawel, cerewet; (2) suka mengganggu (ribut); (3) tidak dalam keadaan yang wajar, murni atau asli; (4) kehilangan kesederhanaan yang asli (seperti sangat rumit, ruwet, atau terkembang); (5) banyak mengetahui atau berpengalaman (dalam hal-hal duniawi); (6) bergaya intelektual.

Nah, dengan demikian, kata ulun dalam bahasa Lampung berarti orang atau orang lain. Dua-duanya benar berdasar pada makna leksikal.

Ya, saya memang sengaja memopulerkan ulun Lampung sebagai ganti istilah orang Lampung dan masyarakat Lampung. Ah, sebenarnya kalau mau bisa saja yang pakai kata jelma yang artinya sama, orang. Jelma Lampung artinya orang Lampung. Tapi, kan ini hanya soal rasa bahasa saja, ketimbang saya menulis jelma Lampung kok rasanya lebih sedap pakai ulun Lampung, saya orang Lampung dan bukan orang lain.

Saya juga serius! Saya sama sekali tidak tersinggung disebut ulun Lampung di tempat kelahiran saya sendiri dan dengan bangga mengatakan, "Saya ulun Lampung!"

* Udo Z. Karzi, ulun Lampung

Sumber: Lampung Post, Rabu, 25 Februari 2009

Opini: Bahasa Lampung, Mungkinkah Punah?

Oleh Muhamad Hasim*

MENURUT UNESCO, 2.500 bahasa di dunia, termasuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia, terancam punah (Lampung Post, 21-2). Bagaimana bahasa Lampung? Kepunahan bahasa Lampung bukan tidak mungkin jika melihat tanda-tanda kini.

Sepanjang perjalanan sejarah dunia, ratusan bahasa punah. Kepunahan terakhir terjadi pada bahasa Eyak (a Na-Deno language) di Alaska dengan meninggalnya penutur terakhir bahasa tersebut, Marie Jones Smith, 21 Januari 2008 (en.wikipedia.org). Di Indonesia, dari total 726 bahasa daerah kini, 713 di antaranya terancam punah. Dengan kata lain, hanya 13 bahasa daerah di Indonesia yang kelestariannya masih aman, sekurangnya untuk lima tahun ke depan.

Menurut Guru Besar Ilmu Bahasa Universitas Indonesia (UI) Multamia Lauder dalam Kongres Bahasa Daerah Indonesia di Bandar Lampung, November 2007, kini tercatat 13 bahasa daerah yang penuturnya (orang yang terus menggunakannya) lebih dari 1 juta, yakni bahasa Jawa, Sunda, Minangkabau, Madura, Bugis, Makassar, Batak, Melayu, Aceh, Lampung, Rejang (Bengkulu), Sasak, dan Bali (okezone.com/12 November 2007). Beruntung, bahasa Lampung termasuk satu dari 13 bahasa tersebut sehingga masih termasuk kategori aman.

Menurut ahli bahasa, kalau tidak dilestarikan, bahasa Lampung akan punah dalam tempo lebih kurang 70 tahun mendatang. Sebab itu, dilakukan berbagai upaya melestarikan bahasa Lampung di antaranya dengan membuat undang-undang dan perda. Yang paling konkret dengan mengajarkan bahasa Lampung di sekolah-sekolah.

***

Mengapa bahasa bisa punah karena kebanyakan bahasa di dunia ini tidak statis. Bahasa-bahasa itu berubah seiring waktu, mendapat kata-kata tambahan baru, dan mencuri kata-kata dari bahasa lain.

Bahasa hidup dan berkembang ketika masyarakat yang menuturkannya sebagai alat komunikasi utama masih ada. Ketika tidak ada lagi masyarakat penutur asli, suatu bahasa disebut bahasa mati (dead language) atau bahasa punah (extinct language).

Bahkan, meskipun masih ada sedikit penutur asli yang masih hidup, kebanyakan generasi muda tidak lagi menjadi penutur bahasa tersebut. Bahasa tersebut bisa disebut punah atau sekarat (moribund) (wisegeek.com).

Bahasa yang diberi label punah bukan berarti tidak ada seorang pun yang masih hidup yang mampu bicara bahasa tersebut. Beberapa bahasa punah seperti Latin dan Coptic masih digunakan sebagai bahasa dalam pemujaan.

Artinya masih ada orang yang mampu menuturkan bahasa tersebut dan orang masih mempelajari bahasa tersebut di sekolah. Namun, tidak seorang pun, kecuali mahasiswa bahasa Latin dan Coptic yang akan menghabiskan banyak waktu berkomunikasi dengan kedua bahasa itu.

Ada banyak situasi yang bisa menyebabkan bahasa punah. Sebuah bahasa bisa punah ketika bahasa itu berubah bentuk menjadi bahasa baru atau masuk menjadi famili bahasa-bahasa lain. Dalam kasus bahasa Latin, bahasa ini dengan cepat bermetamorfosis dalam bahasa-bahasa Romawi seperti bahasa Prancis, Spanyol, Portugis, Rumania, Italia, dan bahasa-bahasa lain yang berasal dari bahasa Latin.

Bahasa Inggris kini berasal dari bahasa Inggris kuno yang sudah punah, Anglo-Saxon, dan dari infusi kata-kata dalam bahasa Prancis. Dengan kata lain, bahasa Inggris kuno sudah punah, berganti menjadi bahasa Inggris kini.

Kalau kita perhatikan, bahasa Melayu di surat kabar Indonesia pada awal abad ke-20 berbeda dengan bahasa Indonesia kini. Orang Indonesia kini boleh jadi tidak mengerti bahasa Melayu yang digunakan di Indonesia awal abad ke-20.

Karena bahasa Indonesia kini berasal dari bahasa Melayu yang telah mengalami perubahan drastis, membentuk kata-kata baru, dan mengalami infusi kata-kata bahasa asing. Bisa dikatakan, bahasa Melayu bermetamorfosis dalam bahasa Indonesia. Kelak, kalau bahasa Indonesia makin berkembang dan demikian pula bahasa Malaysia, kemungkinan bahasa Melayu akan punah.

***

Sebuah bahasa punah karena bermetamorfosis adalah wajar; itu terjadi secara alami, tidak disengaja atau dengan kesadaran dan tidak terhindari. Jika sebuah bahasa punah secara disengaja atau dengan kesadaran atau karena penuturnya ingin memunahkan bahasa tersebut, ini sangat tidak wajar dan sangat disayangkan.

Akan halnya bahasa Lampung, gejala punah itu sudah tampak nyata, bukan karena bermetamorfosis, melainkan secara disengaja dan dengan kesadaran penuh oleh penuturnya. Gejala itu ditandai dengan kurangnya kesadaran penuturnya melestarikan bahasa tersebut; tidak adanya kebanggaan akan sebuah identitas yang berbau etnis.

Di mana-mana, di daerah yang penduduknya pribumi Lampung yang dulu berbahasa Lampung sebagai alat komunikasi utama antarsesama, kini perlahan berubah menggunakan bahasa Indonesia. Bukan hanya dengan orang non-Lampung, kini sesama orang Lampung pun berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Ini dipelopori anak muda, yang konon karena gengsi, malu berbahasa Lampung.

Celakanya, ini diamini pula kaum setengah baya. Kini terjadi semacam gerakan "malu berbahasa Lampung" di kalangan orang Lampung sendiri, terutama oleh mereka yang tinggal di perkotaan, meskipun hanya kota kecamatan. Anggota gerakan ini sudah menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, baik di lingkungan masyarakat maupun keluarga.

Di Lampung Barat, terutama di kota kecamatan, kini keluarga muda, terpelajar atau tidak terpelajar, rata-rata menggunakan bahasa Indonesia berkomunikasi sehari-hari. Penggunaan bahasa Indonesia ini mereka tanamkan sejak anak-anak lahir sehingga bahasa pertama anak-anak adalah bahasa Indonesia.

Jika kemudian mereka pindah ke kota besar, kemungkinan anak-anak tidak bisa berbahasa Lampung sama sekali. Ironis sekali kalau mengingat mereka adalah orang Lampung yang berasal dari Lampung Barat.

Untuk mencegah punahnya bahasa Lampung diperlukan tindakan konkret, bukan sekadar UU dan perda. Misalnya dengan menciptakan gerakan "bangga berbahasa Lampung", dimulai dengan mewajibkan PNS dan pejabat berbahasa Lampung memakai bahasa Lampung di setiap sektor layanan publik sehari-hari. n

* Muhamad Hasim, Guru SKMN Pesisir Tengah

Sumber: Lampung Post, Rabu, 25 Februari 2009

February 23, 2009

Kepurbakalaan: Situs Luput dari Perhatian

KOTAAGUNG (Lampost): Sejumlah peninggalan sejarah di Kabupaten Tanggamus, seperti situs Batu Bedil, makam Islam kuno Wonosobo, Tugu Perjuangan Rakyat Kotaagung, Goa Jepang, dan sebagainya, luput dari perhatian pemerintah.

"Perhatian pemerintah terhadap keberadaan situs-situs ini sangat minim. Masyarakat Tanggamus seakan lupa sejarah mereka. Padahal, keberadaan situs-situs itu menjadi lambang, bahwa sejak zaman purbakala nenek moyang Tanggamus sudah berinteraksi dengan dunia luar," kata Akhmadi Sumaryanto, anggota DPRD Tanggamus, akhir pekan lalu.

Akhmadi mencontohkan situs purbakala Batu Bedil, di Dusun Batu Bedil, Pekon Batu Bedil, Kecamatan Air Naningan, yang terancam punah. Padahal, Batu Bedil adalah bukti sejarah adanya penduduk di wilayah ini pada masa lalu yang berhubungan dengan Kerajaan Sriwijaya. Di sini terdapat tiga kompleks megalitik dan prasasti Batu Bedil yang letaknya berdekatan di Pekon Batu Bedil Hulu dan Hilir, sekitar 10 menit berkendaraan ke arah utara dari gerbang kompleks Bendungan Batu Tegi. Yaitu, Komplek Batu Bedil seluas 5,6 hektare, Batu Prasasti (2,1 hektare), dan Batu Gajah (720 meter persegi).

Di kawasan situs Batu Bedil terdapat Prasasti Batu Bedil, menhir besar, sebuah lumping batu, arca Nandhi dari abad IX yang merupakan kendaraan Dewa Siwa, dan arca Ganesha yang merupakan arca Dewa Ilmu Pengetahuan (Dewa Wisnu).

"Kami mengharapkan Pemkab Tanggamus mulai mengalokasikan dana untuk merawat situs-situs bersejarah ini," kata Akhmadi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanggamus H. Bahagia Saputra, Jumat (20-2), membenarkan telantarnya keberadaan benda peninggalan sejarah di Kabupaten itu.

"Sebenarnya itu aset bagi Tanggamus, untuk menjaring wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke Tanggamus. Terutama dalam rangka Visit Lampung Years 2009 ini," kata Bahagia.

Menyinggung keberadaan makam Islam kuno Wonosobo, kata Bahagia, mulai APBD-P Tahun 2009 ini, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata akan mengusulkan anggaran untuk pembebesan lahan di sekitar makam. Kemudian, akan dilakukan pemugaran, dan pembangunan sejumlah fasilitas penunjang di sekitar taman. "Diharapkan nantinya makam Islam kuno ini akan menjadi wisata relegi," kata dia. UTI/N-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 23 Februari 2009

Budaya: Disbudpar Lestarikan Sastra Lisan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Lampung terus melakukan pelestarain sastra dan budaya Lampung. Pelestarian sastra dikhususkan pada sastra lisan.

Kepala Bidang Kebudayaan dan Kesenian Disbudpar Suwandi, saat dihubungi via telepon, Jumat (20-2), mengatakan Disbudpar Provinsi Lampung telah bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) untuk mengadakan siaran sastra lisan.

Selain itu, Disbudpar juga akan mendata ahli-ahli sastra lisan di setiap kabupaten. Bentuk sastra lisan di setiap kabupaten di Lampung kadang berbeda satu sama lain. "Pasti ada ahli sastra lisan di setiap kabupaten, tapi terkadang jarang muncul sehingga tidak diketahui orang lain," kata Suwandi.

Provinsi Lampung, kata Suwandi, akan menjadi tuan rumah lomba sastra lisan tahun 2010. Selain itu ada beberapa kegiatan yang bisa mendukung pelestarian satra dan budaya Lampung, seperti seminar budaya, pertemuan penghayat kepercayaan, dan seminar arkelogi. Penghayat atau penganut kepercayaan sudah masuk dalam ranah budaya sehingga ada nilai-nilai positif yang akan dilestarikan.

Menurut Suwandi, pelestarian sastra Lampung dalam penerbitan buku akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik). Penerbitan buku-buku sekolah untuk mata pelajaran muatan lokal bahasa Lampung menjadi wewenang Disdik. Namun, Disbudpar tetap mempunyai program menerbitkan media berbahasa Lampung, misalnya booklet, leaflet, dan buku. Disbudpar telah bekerja sama dengan sebuah lembaga untuk menerbitkan kamus bahasa Lampung-Indonesia. Namun, hingga kini kamus itu belum dicetak.

Mengenai pelestarian budaya, lanjut Suwandi, Provinsi Lampung telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) No.6 Tahun 2008 tentang Pelestarian Budaya. Dalam perda tersebut, setiap hari masyarakat harus menggunakan bahasa Lampung, setiap kegiatan harus menggunakan pakaian khas Lampung, dan pembuatan bangunan khas Lampung di setiap bangunan yang didirikan.

Bangunan pemerintah dan swasta harus mencirikan budaya Lampung. "Misalnya dengan pembuatan siger di atas bangunan yang didirkan. Masyarakat Bali pun selalu memberi simbol budaya pada bangunan yang dibuat," kata Suwandi.

Suwandi menambahkan, perda tersebut hanya sebatas himbauan tidak memuat sanksi. Sanksi hanya dikenakan bagi oknum yang melakukan perusakan terhadap barang peninggalan budaya. Agar perda tersebut efektif, Pemerintah Propinsi akan menyosialisasikan terlebih dahulu. Sosialisasi penting agar masyarakat tidak kaget dan menolak penerapan perda. Hasil sosialisasi akan menjadi bahan dalam pembuatan peraturn gubernurnya. Pemprop ingin agar budaya Lampung menjadi tuan rumah din negeri sendiri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Lampung Jhonson Napitupulu, saat ditanya mengenai program pelestarian budaya di sekolah, menjelaskan bahwa pelestarian budaya masuk kewenangan Disbudpar. Penerbitan buku berbahasa Lampung serta buku muatan lokal di sekolah juga masuk wilayah kerja Disbudpar. PADLI RAMDAN/K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 23 Februari 2009

February 20, 2009

Menyoal (Buku Pelajaran) Bahasa Lampung

Oleh Kuswinarto*

KETIKA saya dan rekan saya, Bambang Ismanto Ubaidilah, menyusun buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung, saat itu bahasa Lampung sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah di Lampung sebagai muatan lokal (mulok). Saat itu, Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) sebagai salah satu perangkat kurikulum sudah ada, tetapi buku ajar pendukung mata pelajaran tersebut belum ada.

Yang ada baru buku Bahasa Lampung karya Prof. Hilman Hadikusuma, yang isinya gado-gado dan tentu saja tidak sesuai dengan GBPP karena memang disusun Prof. Hilman tidak secara khusus untuk keperluan mata pelajaran Mulok Bahasa Lampung.

Jadi, saat itu ada kekosongan buku pelajaran yang sesuai dengan GBPP Bahasa Lampung. Sebab itu, buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung untuk SD kami susun.
Tidak mudah menyusun buku tersebut; saya kira lebih mudah menyusun buku pelajaran Bahasa Indonesia karena penyusun buku pelajaran Bahasa Indonesia sudah dibekali pedoman yang lengkap dan jelas, yakni (1) tata bahasa baku Bahasa Indonesia, (2) Kamus Besar Bahasa Indonesia, (e) ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, (4) pedoman pembentukan istilah, dan ditambah seabrek referensi lain baik yang berkaitan dengan bahasa Indonesia maupun teori pengajarannya.

Buku-buku pedoman semacam yang dimiliki bahasa Indonesia itu belum tersedia untuk bahasa Lampung. Referensi yang ada pun terbatas. Saya kira kondisi itu tidak saja menyulitkan penyusunan buku pelajaran bahasa Lampung, tetapi juga menyulitkan guru Bahasa Lampung.
Mata kuliah Bahasa Lampung yang kami dapatkan dari A. Effendi Sanusi di Universitas Lampung--yang bobotnya hanya 2 SKS, tetapi serasa 10 SKS--sangat membantu kami.

Beruntung juga Prof. Hilman saat itu sangat terbuka dan mendukung kami hingga kami bisa berkonsultasi dengan budayawan Lampung tersebut. Pemakaian nama dialek nyow dan dialek api (bukan dialek o dan dialek a), itu salah satu saran Prof. Hilman.

Karena memang dimaksudkan sebagai penunjang proses belajar-mengajar (PBM) mata pelajaran Bahasa Lampung, buku yang kami susun sengaja disesuaikan dengan GBPP.

Belakangan, ada beberapa kritik terhadap buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung yang saya susun bersama Bambang Ismanto tersebut. Setidaknya, kritik saya temukan dalam tulisan Oyos Saroso H.N. berjudul Problem Kultural Bahasa Lampung (Lampung Post, 24 Februari 2007). Kritik juga ada pada tulisan Udo Z. Karzi berjudul Bacaan dan Pengajaran Bahasa Lampung (Lampung Post, 4 Januari 2009).

Namun, perlu saya luruskan, buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung untuk SD yang kami susun tidak diterbitkan Penerbit Karya Media sebagaimana yang ditunjuk Oyos Saroso, tetapi oleh PT Kesain Krakatau Indah. Saya tidak merasa menerbitkan buku di Penerbit Karya Media.

Salah satu kritik Oyos Saroso soal penerapan teori pengajaran bahasa. Sebagai alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Oyos Saroso saya kira sebetulnya sudah paham bahwa teori pengajaran yang digunakan dalam buku itu adalah pendekatan komunikatif-integratif dalam pengajaran bahasa. Dan teori itulah yang diarahkan GBPP Bahasa Lampung. Materi apa saja yang harus diberikan kepada siswa, juga sudah diarahkan GBPP.

Oyos Sarono juga menyampaikan keberatan karena, menurut dia, siswa harus memahami dua logat bahasa sekaligus: logat a (api) dan logat o (nyow). Munculnya dua dialek dalam buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung karena memang bahasa Lampung belum memiliki bahasa Lampung standar. Sebab itu, saya mendukung gagasan perlunya diupayakan adanya bahasa Lampung standar sebagaimana diwacanakan Oyos Saroso, Udo Z. Karzi, dan Agus Sri Danardana. Karena belum ada bahasa Lampung standar, yang diajarkan adalah dua dialek besar dalam bahasa Lampung itu.

Meskipun buku itu berisi dua dialek sekaligus, sebagai penulis buku itu, saya tidak menyarankan dua dialek itu diajarkan sekaligus pada siswa yang sama. Adanya dua dialek dalam satu buku itu pun tidak dimaksudkan memperkenalkan dua dialek sekaligus kepada pelajar, seperti dipahami Udo Z. Karzi. Yang kami sarankan, guru memilih satu dialek. Dialek api ataukah nyow yang dipilih, itu disesuaikan dengan lingkungan siswa. Dan, itu sudah dinyatakan dalam pengantar buku, juga dalam petunjuk aktivitas siswa.

Jadi, untuk memilih dialek bahasa Lampung yang akan diajarkan, guru perlu mengamati lingkungan. Jika masyarakat di lingkungan sekolah kebanyakan berdialek api, misalnya, dialek itulah yang mestinya diajarkan. Peta bahasa-budaya Lampung yang ditunjukkan Udo Z. Karzi (Lampung Post, 16 dan 23 Maret 2008) dapat membantu guru menentukan dialek yang akan diajarkan kepada siswa.

Jika yang diajarkan guru tidak sesuai dengan yang digunakan masyarakat sekitar, terjadilah kasus seperti yang diceritakan Udo Z. Karzi, yakni kosakata bahasa Lampung yang diajarkan guru tidak sama dengan yang dipraktekkan siswa di lingkungannya. Kalau ini terjadi, pengajaran bahasa Lampung menjadi kurang bermakna.

Adanya orang berbicara dalam bahasa Lampung dengan dialek campuran api dan nyow, sebagaimana ditemukan Udo Z. Karzi, bisa jadi karena kekurangtepatan guru memilih dialek yang diajarkan. Bisa jadi juga karena guru mengajarkan dua dialek sekaligus. Namun, bukan tak mungkin juga itu terjadi karena bahasa Lampung, baik dialek api maupun dialek nyow memang belum memiliki pedoman yang jelas dan resmi.

Oyos Saroso juga menggugat karena melalui buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung yang kami susun, siswa kelas II SD sudah diajari menulis aksara Lampung, memahami wacana dalam bahasa Lampung, membuat kalimat dalam bahasa Lampung, cara menggunakan kata umum bidang pertanian, menulis surat gabungan tanda baca, bertanya kepada guru tentang pelajaran, apresiasi puisi, menulis anak surat gabungan dan tanda baca, melagukan kalimat tanya yang menggunakan kata tanya, bertanya kepada guru tentang kebersihan, dan memahami puisi dalam bahasa Lampung.

Gugatan Oyos Saroso itu sebetulnya lebih mengarah kepada penyusun GBPP Bahasa Lampung karena buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung disusun berdasar pada GBPP. Namun, saya kira tidak ada yang keliru dengan itu karena memang seperti itulah antara lain penerapan pendekatan komunikatif-integratif.

Lewat pendekatan itu, pencapaian tujuan pengajaran memang ditempuh dengan mengintegrasikan semua aspek kebahasaan (membaca, menyimak, berbicara, dan menulis). Tentu saja, materinya dipilih yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

Materi pelajaran bahasa seperti itu juga ada pada pelajaran bahasa Indonesia di tingkat yang sama. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, aspek-aspek kebahasaan, termasuk menulis dan berbicara, juga diajarkan sejak dini.

Namun, ketika hal yang sama diberikan dalam bahasa Lampung, mengapa digugat? Kalau sistem pengajaran seperti itu dianggap menyalahi prinsip-prinsip perkembangan anak, mengapa sistem pengajaran bahasa Indonesia tidak dianggap menyalahi juga? Padahal, kalau melihat eksistensi bahasa Lampung yang gawat-darurat, pengajaran bahasa Lampung mestinya mendapat perhatian lebih.

* Kuswinarto, Penulis Buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 21 Februari 2009

Jangan Sentimentil Sikapi Rancage


Sumber: Kupas Tuntas, Senin, 16 Februari 2009

February 18, 2009

Laras Bahasa: 'Ulun' Lampung

Oleh Asarpin*

BELAKANGAN, istilah ulun Lampung banyak muncul di berbagai blog. Di blog-nya Udo Z. Karzi, berserakan kata ulun Lampung. Banyak juga orang hanya ikut-ikutan memakai nama ulun Lampung tanpa memahami apa makna dan maksud kata itu. Dan parahnya adalah orang Lampung sendiri yang menggunakan kata itu.

Baru-baru ini Agus Sri Danardana juga menggunakan kata ulun Lampung di harian ini (24-1-2009). Agus Danardana menulis "kemauan ulun Lampung". Saya yakin maksudnya adalah suku Lampung atau orang Lampung. Seakan-akan tak ada sinonim dan lebih pas digunakan selain kata ulun. Padahal, akan lebih elok jika Agus menggunakan kata tian Lampung.

Wikipedia menyebut ulun Lampung sebagai orang atau suku Lampung. Namun, saya akan menerima dengan senang hati penggunaan kata ini jika ditujukan kepada saya karena saya tahu yang mengucapkan itu tepat pada tempatnya. Kalau yang mengucapkan kata itu Udo Karzi atau Ansori, saya tentu akan mempersoalkan.

Lalu apakah bahasa Lampung punya hak milik tertentu? Apakah bahasa Lampung ada kekhususan yang dapat digunakan dan tidak dapat digunakan yang lain? Kalau begitu aneh sekali bahasa Lampung itu. Artinya, suku Lampung bisa menggunakan kata itu, tetapi yang bukan suku Lampung tidak bisa menggunakan untuk kalimat yang sama.

Dalam salah satu tulisannya, Udo menulis begini: "Jika ulun Lampung masih merasa memiliki bahasa Lampung". Udo Karzi menulis dengan kalimat berbahasa Lampung begini: "Jak ipa asal ni ulun Lampung?" (Dari mana asalnya suku Lampung?). Bahkan, dalam salah satu tulisannya, Udo Karzi menulis namanya begini: "Udo Z. Karzi, ulun Lampung, tinggal di Pangkalan Bun, Borneo".

Jika seorang yang pintar bahasa Lampung sudah berani menambahkan kata ulun Lampung setelah namanya, buat saya masalah ini sangat serius. Orang tersebut tentu tidak mau jika dikatakan sedang meniadakan identitas diri sendiri. Sebab, kata "Udo Z. Karzi, ulun Lampung" di situ berarti: Udo Z. Karzi bukan Lampung.

Yang lebih parah adalah ketika orang menyebut "O, kamu ulun Lampung ya". Ada pula yang kenalan dengan menyebut namanya sambil menambahkan kata "nyak ulun Lampung (saya orang Lampung)".

Di tempat kelahiran saya tidak pernah mendengar orang menyebut istilah ulun Lampung. Bisa-bisa orang Lampung di tempat kelahiran saya akan tersinggung ketika mendengar istilah ini dipakai. Teman saya pernah bertanya: Kamu siapa? Teman yang satunya jawab: Ulun! Maksudnya bukan orang Lampung.

Saya mengernyitkan dahi setiap orang menyebut kata ulun Lampung. Bukan karena saya fanatik terhadap bahasa Lampung! Saya sedih karena orang tak pernah berusaha memahami makna kata itu dan ikut-ikutan secara buta seperti laron yang akhirnya mati terbakar!

Kata ulun sama kasarnya dengan sebutan kepada seseorang atau suku atau marga dengan menggunakan kata mereka: Mereka Jawa. Mereka Batak. Yang gaul akan menggunakan kata "dia orang", bukan mereka. Jadi, kata ulun Lampung sama dengan kata orang lain atau kata penunjuk untuk orang yang bukan suku Lampung.

Kata ini biasanya digunakan orang Lampung pesisir untuk menyebut orang lain yang bukan suku Lampung sebagai jawaban jika ada yang bertanya. Agak aneh kalau orang menyebut ulun Lampung, tetapi yang dia maksudkan adalah orang/suku Lampung. Misalnya, ada orang bertanya siapa yang berkelahi, orang Lampung akan menjawab ulun. Siapa yang mencuri akan dijawab ulun dalam arti bukan saya, melainkan orang lain yang mencuri.

Biasanya, kata ulun digunakan orang yang bukan suku Lampung kepada suku Lampung. Kalau seseorang adalah suku Lampung, tidak mungkin ia menggunakan kata itu, kecuali jika orang itu ikut-ikutan saja. Asarpin ulun Lampung, misalnya, bisa saja digunakan orang lain untuk menyebut saya. Namun, tidak mungkin saya menyebut diri Asarpin ulun Lampung. Inilah yang tidak pernah disadari para pengguna, yang semoga segera tersadarkan. n

* Asarpin, pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Rabu, 18 Februari 2009

February 17, 2009

Obituarium: Prof. Dr. Abi Kusno Pulang ke Rahmatullah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lampung kembali kehilangan seorang tokoh pendidikan dan pemikir besar. Prof. Dr. Abi Kusno berpulang ke Rahmatullah, Senin (16-2), pukul 12.30 di kediamannya di Jalan Z.A. Pagar Alam, Gang Lambang I/14, Labuhan Ratu, Kedaton.

Kepergian guru besar kedua di IAIN Raden Intan tersebut cukup mengejutkan. Pasalnya, guru besar bidang sosiologi lulusan Quensland University, Australia, tersebut, pada Sabtu (14-2) masih menguji mahasiswanya di Pascasarjana IAIN Raden Intan. Bahkan, menurut istrinya, Hj. Nurlaeli, Abi Kusno masih memenuhi undangan salah satu kerabatnya yang menikahkan putrinya.

Nurlaeli saat ditemui di rumah duka mengatakan Abi Kusno mengidap gagal ginjal sejak tiga tahun lalu. Sehingga, guru besar yang terkenal santun tetapi tegas tersebut harus menjalani cuci darah seminggu dua kali.

"Kondisi bapak mulai menurun sejak empat bulan lalu, setelah beliau terjatuh. Sehingga, saat berjalan bapak harus dibantu tongkat," kata dia.

Abi Kusno meninggalkan seorang istri dan lima orang anak, terdiri dari empat putri dan satu putra. Rencananya, jenazah dikebumikan hari ini di Tempat Permakaman Umum Jalan Z.A. Pagar Alam.

Selama hidup Abi Kusno sangat aktif pada berbagai kegiatan kemasyarakatan. Berbagai jabatan penting pernah diembannya sampai akhir hayatnya, antara lain PR II IAIN Raden Intan, Wakil Ketua MUI Lampung, Wakil Ketua ICMI Lampung, Ketua Dewan Pakar Parmusi.

Berbagai tokoh terus mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa. Tampak melayat di rumah duka, Kakanwil Depag Sya'roni Ma'shum, Rektor Unila Prof. Dr. Sugeng P. Harianto, Ketua STAIN Metro Dr. Syarifudin Basyar, dan dosen serta guru besar di IAIN Raden Intan.

PR II IAIN Raden Intan Muhammad Ikhwan mengatakan Abi Kusno merupakan guru besar IAIN yang menyelesaikan pendidikan menengahnya di pesantren.

"Perilakunya sangat mencerminkan kalau beliau memiliki tingkat keilmuan yang tinggi," kata dia. IAIN merasa sangat kehilangan dengan kepergiannya.

Hal senada diungkapkan Ketua STAIN Metro Dr. Syarifudin Basyar. Dia mengatakan Abi Kusno merupakan pribadi unik karena lahir dan besar di Sumatera tetapi memiliki karakter Jawa. Sehingga, dia bisa tegas bersikap saat harus bersikap, tetapi sangat santun saat berbicara.

"Ditunjang dengan penguasaan bahasa Inggris dan Arab yang sangat baik semakin memperkaya penyerapan ilmu yang beliau miliki," kata Syarifudin di rumah duka. Oleh sebab itu, para penerusnya di IAIN harus melanjutkan perjuangan almarhum. n UNI/K-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 17 Februari 2009

February 15, 2009

Apresiasi: Menangisi Rancage yang Lepas

Oleh Agus Sri Danardana*

Kita memang pantas menangisi Rancage yang lepas. Namun, kita akan lebih tersedu jika sastra Lampung tidak memiliki pembaca.

BERITA tentang tidak diberikannya hadiah sastra Rancage kepada sastrawan Lampung tahun 2009 telah menimbulkan keprihatinan mendalam banyak pihak. Tidak terkecuali Udo Z. Karzi dan Y. Wibowo (masing-masing penulis dan direktur penerbit Mak Dawah Mak Dibingi, kumpulan puisi berbahasa Lampung penerima hadiah sastra Rancage tahun 2008) serta Panji Utama dan Christian Heru Cahyo pun melontarkan keprihatinannya. Menurut mereka, penyebab utama lepasnya hadiah sastra Rancage untuk sastrawan Lampung pada tahun 2009 ini adalah ketiadaan dukungan pemerintah daerah dalam penerbitan buku-buku sastra Lampung (Lampung Post, 8 dan 10 Februari 2009).

Ketiadaan dukungan pemerintah daerah dalam penerbitan buku-buku sastra Lampung itu, jika benar, memang pantas disayangkan. Apalagi hadiah sastra Rancage memang diberikan hanya untuk sastrawan yang telah memublikasikan karyanya dalam bentuk buku sehingga dalam konteks ini penerbitan buku menjadi sangat penting dan menentukan: Tiada buku, tiada Rancage.

Terlepas dari hal itu, menurut saya, ada hal lain yang lebih penting daripada sekadar menerbitkan buku: Menumbuhkan tradisi baca-tulis masyarakat. Saya khawatir, jika tradisi baca-tulis masyarakat belum terbentuk, penerbitan buku (yang mendapat hadiah [seperti Rancage] sekalipun, tidak akan memiliki makna yang berarti.

Tanpa bermaksud jelek (negatif), saya bercuriga, jangan-jangan buku Udo Z. Karzi, Mak Dawah Mak Dibingi, yang mendapat hadiah sastra Rancage itu, di samping tidak dibaca, juga tidak dikenal oleh banyak orang. Penyebabnya jelas bukan karena buku itu belum terbit atau tidak bermutu, melainkan karena tradisi baca-tulis masyarakat (Lampung) masih rendah.

Rendahnya tradisi baca-tulis sebenarnya tidak hanya terjadi di Lampung. Daerah lain yang masyarakatnya relatif masih setia menggunakan bahasa daerahnya, seperti Sunda, Jawa, dan Bali, pun mengalaminya. Bedanya, mungkin di daerah lain tradisi baca-tulis itu sudah (pernah) terwujud, sedangkan di Lampung tradisi baca-tulis itu belum terwujud. Barangkali itulah sebabnya sastra Sunda, Jawa, dan Bali selalu diterbitkan: Bukan semata-mata dimaksudkan untuk memperoleh hadiah sastra Rancage, melainkan memang dibutuhkan masyarakat untuk dibaca.

***

Salah satu penyebab rendahnya tradisi baca-tulis bahasa Lampung adalah ketiadaan media. Dalam hal ini sebenarnya Lampung bisa mencontoh Sunda, Jawa, dan Bali. Setidaknya ada empat media (majalah) berbahasa Sunda: Mangle, Cupumanik, Balebat, dan Salaka; empat media berbahasa Jawa: Panyebar Semangat, Jaya Baya, Damarjati, dan Parikesit; serta

dua media berbahasa Bali: Canang Sari dan Buratwangi yang masih terbit hingga kini. Dulu, bahkan pernah terbit pula surat kabar Dharma Kandha dan Dharma Nyata serta majalah Djoko Lodhang dan Mekar Sari di Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan, beberapa sekolah, kampus, yayasan, dan pemkab/pemkot di ketiga daerah itu juga memiliki buletin berbahasa daerah.

Di samping itu, masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali secara periodik juga masih mau menggelar berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan daerah. Media-media itulah yang membuktikan bahwa bahasa Sunda, Jawa, dan Bali masih digunakan secara intensif, baik lisan maupun tulisan, oleh masyarakatnya.

Bagaimana dengan bahasa Lampung? Di sinilah masalahnya. Hingga kini tak satu pun media berbahasa Lampung terbit. Di harian Lampung Post dulu pernah ada rubrik Pah Bubasa Lappung, tetapi entah apa penyebabnya rubrik itu pun mati beberapa saat setelah Program Studi Bahasa Lampung di Unila ditutup.

Kini satu-satunya publikasi (ber)bahasa Lampung adalah melalui RRI Bandar Lampung, yang tentu saja tidak dapat secara signifikan mendorong tumbuhnya tradisi baca-tulis.

Untuk mengatasi masalah ini sebenarnya pemda (baik pemprov, pemkab, maupun pemkot) memiliki peluang besar. Di samping sudah ada Permendagri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah, Lampung juga sudah memiliki Perda Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung.

Artinya, pemda memiliki landasan hukum yang kuat untuk melakukan berbagai kegiatan yang terkait dengan pelestarian dan pengembangan bahasa daerah (dalam hal ini menumbuhkan tradisi baca-tulis bahasa Lampung), baik dari segi kebijakan maupun penganggaran. Misalnya, sebagai langkah awal, pemda dapat mendorong dan/atau mengintruksi semua media massa cetak di Lampung untuk membuka rubrik (ber)bahasa Lampung seperti yang pernah dilakukan Lampung Post.

Media massa cetak di Lampung sebenarnya juga teruntungkan jika kebijakan ini dilakukan. Di samping dapat turut serta menumbuhkan tradisi baca-tulis masyarakat (Lampung), media massa juga dapat mengolah rubriknya menjadi salah satu bentuk promosi untuk meningkatkan pangsa pasarnya. Meskipun belum terbukti, saya yakin masyarakat Lampung akan menyambut baik adanya rubrik itu.

Khusus untuk Lampung Post, kesempatan ini jangan disia-siakan. Insyaallah suplemen (ber)bahasa Lampung akan mendapat sambutan hangat masyarakat Lampung.

Begitulah, kita memang pantas menangisi Rancage yang lepas karena pada tahun 2008 tidak (belum) ada sastra Lampung yang ditulis dan diterbitkan. Namun, saya yakin, kita akan lebih tersedu jika sastra Lampung tidak memiliki pembaca.

* Agus Sri Danardana, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Februari 2009

Desain: Geliat Seni Topeng Lampung

SEBENARNYA Lampung kaya dengan karya seni dan budaya. Pesta sekura (sekuraan), misalnya yang dilaksanakan masyarakat Lampung Barat sebagai pesta rakyat setiap awal bulan Syawal.

Dalam sekuraan, terdapat sekura. Bedanya, sekuraan meliputi perayaan dengan tahap-tahapannya. Sedangkan sekura itu orang yang berusaha menutupi wajah dan badannya sedemikian rupa agar tidak dikenali dalam tradisi sekuraan.

Beberapa wilayah di Lampung Barat seperti: Belalau, Balik Bukit, Batubrak, Sukau, Kenali, dan Liwa masih menghidupkan tradisi sekuraan ini. Bahkan, di Festival Krakatau juga digelar sekuraan ini dalam acara Apresiasi Topeng Seribu Wajah, juga pada Festival Teluk Stabas (FTS) 2007.







FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/M. REZA

Dalam dua tahun terakhir ini, tidak hanya kontingen Lampung Barat yang mempersembahkan tarian topeng, tapi juga dari Tanggamus dan Bandar Lampung.

Pesta sekura berupa tarian topeng ini berlangsung selama satu pekan. Pesta ini diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur, sukacita, dan renungan terhadap sikap dan tingkah laku. Biasanya sekura dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Pesta ini dilaksanakan bergiliran dari satu kampung ke kampung lain.

Dilihat dari segi penokohannya topeng dalam sekura terdiri dari sekura anak, sekura tuha, sekura kesatria, sekura cacat, sakura raksasa, dan sekura binatang. Namun dari enam jenis penokohan tersebut sekura dapat dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama disebut sekura betik yang artinya sekura bersih. Yang kedua disebut sekura kamak yang artinya sekura kotor.

Sesuai dengan namanya, sekura betik mengenakan kostum yang bersih dan rapi. Sekura betik khusus diperankan menghanai (laki-laki yang belum beristri). Sekura ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta.

Mereka berkeliling pekon (dusun) untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaan. Selain itu sekura ini juga berfungsi sebagai pengawal sanak saudara yang menyaksikan atraksi topeng. Mereka membawa senjata pusaka sebagai simbol menjaga gadis atau muli bathin (anak pangeran) yang menyaksikan pesta topeng agar terhindar dari sekura kamak yang jahat.

Mereka juga menunjukkan kemewahan dan kekayaan materi yang dapat terlihat dari selendang yang dikenakannya. Secara simbolis banyaknya selendang mengartikan sekura itu adalah meghanai yang baik.

Versi pertama menyebutkan sekuraan sudah ada sejak zaman Hindu. Topeng-topeng yang dikenakan merupakan penjelmaan orang-orang yang dikutuk dewa karena berbuat tidak terpuji. Perbuatan tidak terpuji yang dimaksud adalah tidak mengakui adanya dewa yang patut disembah. Akibatnya, rupa mereka menjadi buruk.

Versi kedua menyebutkan sekuraan berasal dan bermula pada zaman Islam. Alasannya, pelaksanaan acara ini diadakan untuk memeriahkan dan menyambut Hari Raya Idulfitri dan umat yang merayakan Idulfitri adalah umat Islam.

Islam menyebar di Lampung Barat sekitar abad ke-13. Dengan demikian, timbul anggapan sekuraan diadakan pertama kali sekitar abad ke-13.

Pendatang yang tidak menjadi sekura dalam tradisi sekuraan pada Hari Raya Idulfitri, sekura khususnya kaum wanita dan anak-anak langsung singgah ke rumah kerabatnya yang disebut dengan tumpak'an. Setibanya di sana mereka disambut tuan rumah dengan senyum ramah dan disambut pula dengan jamuan makan kue lebaran.

Pendatang yang ingin menjadi sekura biasanya hanya singgah sebentar sebagai pemberitahuan kepada famili bahwa dia hadir dan datang dalam rangka memeriahkan acara.

Sekelompok sekura terlihat apabila calon peserta berganti kostum dan mengenakan topeng serta berbagai atribut lain. Acara sekuraan ini mulai sekitar pukul 09.00 atau bersamaan dengan berdatangannya penduduk dari berbagai pekon.

Sekelompok sekura pertama kali muncul adalah sekura yang bertindak sebagai inisiator penyelenggara. Kemudian disusul kelompok-kelompok sekura lain. Jarak antarkelompok 4--5 meter.

Pawai keliling kelompok-kelompok sekura inilah yang disebut sekuraan. Para sekura berkeliling mengikuti rute yang ditentukan, mereka berkelompok-kelompok sesuai dengan jenisnya. Sekura kecah bergabung sesama sekura kecah dan sekura kamak bergabung sesama sekura kamak.

Penonton mulai bermunculan (baik yang baru datang maupun yang lama berada di rumah tumpak'an-nya) jika sekura telah pawai keliling. Wanita dan anak-anak duduk-duduk di beranda rumah milik warga menyaksikan sekuraan disertai senda gurau, sedangkan kaum pria turun ke jalan meskipun hanya sekadar menonton, tidak menjadi sekura.

Para sekura awalnya hanya sekadar berkeliling mengikuti rute dan melihat-lihat saja. Mereka beraksi dan berusaha mencari perhatian apabila melihat banyak penonton yang menyaksikan mereka.

Sekura mulai melakukan hal-hal aneh seperti berjingkrak-jingkrak tak tentu arah atau menyanyi melantunkan lagu yang dibuat sekehendak hati si pelantunnya. Ada sekura yang bergerak-gerak seolah-olah menari, tetapi dibuat-buat sehingga memperlihatkan kelucuannya.

Ada juga sekura yang seolah-olah hamil dan mengikuti/mencontoh gerakan ibu hamil, ada pula sekura yang bertingkah layaknya wanita dan dibuat-buat seanggun mungkin dan masih banyak lagi tingkah sekura lainnya. Semua sekura mencuri perhatian penonton dengan tingkahnya. RIN/FM/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 Februari 2009

February 13, 2009

Sastrawan Harus Bersatu

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sastrawan Lampung harus duduk bersama dan bersatu agar sastra dan budaya Lampung menjadi terangkat ke pentas nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung Syapril Yamin menanggapi kegagalan Lampung mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009.

Syapril mengatakan Lampung banyak memiliki sastrawan daerah dan nasional. Para sastrawan Lampung harus duduk bersama membahas bagaimana sastra dan budaya Lampung ke depan. Akan dibawa ke mana sastra dan budaya daerah lampung.

Syapril masih melihat para sastrawan Lampung tidak bersatu dan masih jalan sendiri-sendiri. "DKL, Unila, dan komunitas sastra lain masih jalan masing-masing."

Menurut Syapril, tidak ada harmonisasi antarsastrawan Lampung. Masih ada istilah tok nyak kidang dang niku yang artinya bukan saya tapi jangan kamu, di kalangan sastrawan Lampung.

Masih kentalnya egoisme di kalangan sastrawan membuat tidak adanya rasa saling dukung. Sikap seperti itu harus dihilangakan di benak sastrawan.

"Jika ada seorang sastrawan maju mewakili nama Lampung harusnya didukung, bukan dijatuhkan," kata Syapril.

Semangat Jangan Kendur

Pengamat sastra Lampung Kuswinarto, saat dihubungi melalui telepon, mengatakan lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 yang disebabkan kesalahan teknis harusnya tidak memengaruhi semangat sastrawan Lampung untuk terus berkarya. Semangat terus berkarya dalam bahasa Lampung jangan sampai kendur.

Kuswinarto mengaku sangat menyayangkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage 2009 disebabkan kesalahan teknis. "Harus dipertanyakan apakah panitia terlambat menerima karya sastra berbahasa Lampung atau memang karya sastra berbahsa Lampung tidak dipublikasikan secara luas."

Dia menilai adanya Hadiah Sastra Rancage belum membuat sastrwan Lampung aktif berkarya dengan bahasa daerahnya. Hal itu bisa disebabkan tidak adanya media khusus yang memublikasikan karya sastra berbahasa Lampung.

Keberadaan media publikasi ini sangat penting. Adanya media yang mewadahi kreativitas sastrawan Lampung diharapkan bisa menggenjot produktivitas karya berbahasa daerah.

"Harus ada upaya untuk membuat media publikasi sehingga mampu menarik sastrawan untuk menulis karya berbahasa Lampung," kata dia.

Upaya lain yang harus dilakukan, kata Kuswinarto, adalah mengoptimalkan mata pelajaran muatan lokal bahasa Lampung di sekolah-sekolah. Melalui Muatan Lokal Bahasa Lampung, para siswa dapat belajar menulis dan berbahasa daerah. Pelajaran muatan lokal harus dimanfaatkan dengan baik untuk membudayakan kembali bahasa Lampung. n PADLI RAMDAN/K-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 13 Februari 2009

Dunia Syahnagra Tetap Idealis

TEMPO Interaktif, Jakarta: Mengenakan kemeja merah, pelukis Syahnagra Ismail melayani semua permintaan pengunjung yang ingin memotretnya. "Saya suka sekali kalau difoto," kata dia, terkekeh, sambil berpose di depan lukisan di sela-sela pembukaan pamerannya, Rabu malam lalu. Ia menegaskan tak ada yang politis dalam pemilihan warna baju malam itu. "Biar lebih energetik."

Syahnagra, 55 tahun, memamerkan sejumlah lukisannya di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki hingga 30 Januari nanti. Bertajuk "My World", ia masih setia dengan impresionisme. Merasa dirinya tetap idealis, ia pun meminta sejarawan Anhar Gonggong membuka pamerannya. "Idealisme kami sama: memperjuangkan kejujuran dalam hidup kita sekarang ini," kata Syahnagra.

Anhar menyempatkan diri mengulas kondisi bangsa terkini. "Sekarang idealisme hampir mati," ujarnya. Idealisme Soekarno-Hatta dan kawan-kawan, kata Anhar, yang membawa bangsa ini merdeka, bukan menyerah hidup dengan Belanda. Di masa merdeka, "Sikap-sikap kejujuran kita ditantang untuk selalu diperbarui," ujar Anhar.

Termasuk pula untuk para pelukis yang, kata Anhar, banyak kehilangan idealisme. Anhar berpesan pada Syahnagra agar memegang teguh pendiriannya sebagai pelukis.

Syahnagra, sebagai pelukis impresionis, tidak berkiblat ke Barat. Menurut budayawan dan penyair Abdul Hadi WM, Syahnagra kental dengan nada timur: menekankan pada intuisi dan spiritualitas. Lukisannya tak sejalan dengan obyek yang diamati. "Dalam lukisannya, yang penting adalah warna. Obyek tak berperan penting," kata Hadi.

Mengamati satu per satu lukisan Syahnagra, pemilihan warna pelukis kelahiran Teluk Betung itu segera menarik perhatian. Ada karakter warna yang berbeda-beda.

Dalam karyanya Gedung dan Pohon (2008), warna-warni cerah dan menyala mendominasi. Merah untuk tanah, kuning, jingga, putih, di gedung-gedung abstrak. Pohon di latar depan berwarna cokelat dan kuning. Untuk menegaskan kontras warna, hitam dan biru gelap pun dipakai. Hasilnya adalah lukisan yang tampak bersemangat.

Berbeda dengan Rumah Putih (1998), yang tampak suram dan monoton. Dengan dominasi warna hitam muda, sapuan putih hanya tampak di area rumah. Kesan yang timbul adalah sepi dan muram.

Ada pula karya yang menimbulkan kesan terburu-buru, seperti Gedung dan Cahaya (2007). Warna jingga, kuning, dan merah menyala menguasai lukisan. Garis dasar gedung, dengan cat ungu, masih terlihat. Itu berbeda dengan Pohon Merah Jambu (2005). Dengan warna-warna pastel yang menenangkan, lukisan ini tampak digarap lebih lembut. Gradasi warna di latar belakang dibikin lebih teliti. Kedua lukisan seolah memiliki tempo yang berbeda.

"Saya melukis langsung ke (obyek) alam," kata Syahnagra kepada Tempo. Tiap-tiap obyeknya memiliki karakter yang berbeda. Ia menangkap karakter itu, merasakannya, dan warna-warna pun keluar dari dalam dirinya. Mood Syahnagra saat melukis, kata dia, bisa terbaca dari pemilihan warnanya.

Dalam beberapa lukisannya, Syahnagra menambahkan kalimat puitis. Misalnya, di Bunga di Teras (2007). Di pojok kanan bawah, ada syair "Kau selalu bersama dalam aku". Pada lukisan Pohon dan Cinta (2007), Syahnagra menambahkan Aku mencintaimu setengah mati angin pohon dan suara.

Selain melukis, Syahnagra rupanya gemar dengan syair. Saat membuka pamerannya, ia menyempatkan diri membaca beberapa puisi. Syairnya dibaca eksplosif, dengan suara yang menggelegar dan gestur yang bersemangat.

IBNU RUSYDI

Sumber: Tempo Interaktif, Jumat, 23 Januari 2009

Baca juga:
* Dunia Syahnagra dalam Impresionis
* 100 Tokoh Terkemuka Lampung: Syahnagra Ismail

February 11, 2009

Pemekaran Wilayah di Lampung Lebih Banyak Nilai Merahnya....

TAHUN 1999, di Lampung terjadi pemekaran wilayah. Kabupaten Lampung Tengah dipecah menjadi Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, dan Kabupaten Lampung Tengah. Sementara Kabupaten Lampung Utara dipecah menjadi Kabupaten Way Kanan, Tulang Bawang, Lampung Barat, dan Lampung Utara.

Alasan utama pemekaran adalah menekan rentang kendali dan pelayanan yang terlampau jauh. ”Saat itu alasan pemekaran sangat tepat,” demikian komentar Syafarudin, pengamat otonomi daerah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Lampung, 5 Februari lalu.

Selama 10 tahun pemekaran berjalan, Metro mampu mengembangkan diri menjadi kota yang maju dari aspek pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Khusus tentang infrastruktur, Metro mewarisi peninggalan Belanda yang infrastrukturnya relatif teratur dalam tata ruang ataupun tata kota. Selain itu, Pemerintah Kota Metro melangsungkan pembangunan dengan mengikuti tata ruang yang direncanakan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Lampung, Asrian Hendi Caya, mengatakan, Metro juga menjadi kota yang terus berkembang karena didukung sumber daya manusia yang memahami kebutuhan kota.

Dampak pembangunan selama ini, sebagai kota berpenduduk 118.448 jiwa, Metro memiliki jumlah warga miskin paling sedikit di Lampung. Dilihat dari penerima beras untuk rakyat miskin (raskin), jumlahnya hanya 7.419 keluarga. Berbeda jauh dengan kabupaten/kota lainnya di Lampung, yang jumlah warga miskinnya puluhan ribu bahkan ratusan ribu keluarga.

Herdimansyah, Ketua Koalisi untuk Lampung Sehat (KULS), menambahkan, aparat pemerintah sebagai agen perubahan juga tercatat di sektor kesehatan. ”Dukungan aparat kesehatan menjadikan masyarakat memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan,” ujarnya.

Kurang berkembang

Soal pembangunan infrastruktur, menurut Syafarudin, Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Lampung Utara pun tergolong baik, sedangkan Kabupaten Tulang Bawang memiliki pusat perekonomian. ”Tapi, Kabupaten Way Kanan kurang berkembang. Lokasinya dikelilingi perkebunan swasta, sementara pemerintah kabupaten tidak memiliki keberanian untuk mencari terobosan,” paparnya.

Hal serupa dialami Kabupaten Lampung Tengah. Sebagai kabupaten induk, Lampung Tengah sampai sekarang belum bisa berkembang lantaran tidak dapat memfokuskan pembangunan sumber daya alam yang tersisa setelah pemekaran.

Satu kabupaten lainnya, Lampung Timur, pembangunannya dinilai stagnan karena aparat pemerintah kurang jeli mengembangkan potensi wilayah. Pemerintah Kabupaten Lampung Timur hanya mengembangkan pertanian tanpa berpikir untuk mengembangkan industri pengolahan.

Dari penelitian yang dilakukan, kata Syafarudin lagi, tidak berkembangnya daerah-daerah induk ataupun daerah baru di Lampung karena tidak adanya manajemen transisi. Manajemen tersebut juga tidak diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 maupun Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2000.

Di dalam manajemen transisi, daerah baru seharusnya masih menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten. ”Daerah baru masih perlu dibina dan didampingi. Setidaknya, selama lima tahun sebelum betul-betul bisa dilepas,” ujar Syafarudin.

Melalui manajemen transisi, pemerintah kabupaten baru mendapat pendampingan ketika memilih dan menempatkan sumber daya manusia untuk duduk di pemerintahan, penyusunan dan pengelolaan APBD, penetapan batas wilayah, serta pengelolaan administrasi.

Tak ada kemudahan

Ringkasnya, pemekaran wilayah di Lampung tidak seperti yang dicita-citakan, lebih banyak nilai merahnya. Rakyat pada umumnya tidak mendapat kemudahan pelayanan di berbagai bidang, di samping tak ada kemajuan pembangunan berarti.

Asrian Hendi Caya mengatakan, dampak tidak adanya pendampingan, pemerintah baru memiliki kualitas yang tidak bagus dan tidak bisa memfokuskan pembangunan yang penting untuk memicu pertumbuhan ekonomi, seperti infrastruktur.

Di samping itu, daerah pemekaran pada umumnya hanya menjadi obyek politis segelintir elite politik. Dampaknya, aparat pemerintah diisi orang yang tidak tepat karena faktor kroni.

”Faktor tersebut menjadikan pemanfaatan anggaran keuangan daerah atau APBD tidak seimbang. Sebesar 70 persen dari APBD lebih banyak dipakai untuk belanja aparatur dan 30 persen untuk rakyat,” tambah Syafarudin. (hln)

Sumber: Kompas, Rabu, 11 Februari 2009

February 10, 2009

Nasib Sastra Lampung, Penaka Kerakap di Atas Batu

Catatan Keprihatinan atas Lepasnya Hadiah Sastra Rancage 2009*


Oleh Christian Heru Cahyo Saputro**

HADIAH sastra Rancage 2009 untuk sastra berbahasa Lampung terlepas dari tangan Lampung. Padahal dengan susah payah Udo Z Karzi melalui karyanya Mak Dawah Mak Dibingi berhasil merintis dan memboyong Rancage ke Sang Bumi Ruwai Jurai tahun 2008 lalu. Apakah ini menandakan ulun Lampung yang konon punya Piil makin tak peduli dengan kehidupan sastra dan bahasanya?

Lampung sama halnya dengan daerah-daerah lainnya mempunyai tradisi sastra lisan. Di Lampung sastra lisan merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakatnya. Sastra lisan sendiri diturunkan secara turun temurun secara lisan dalam bahasa daerah Lampung dan sudah menjadi milik masyarakatnya. Tetapi kini keberadaan sastra lisan Lampung, penaka kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau.

Pada zaman dulu sastra lisan Lampung biasa disampaikan oleh para orang tua kepada anak-nanak atau cucunya pada waktu senggang, ---atau sebagai pengantar menjelang tidur. Sedangkan tujuannya adalah untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, petuah-petuah, hukum-hukum, kepada anak cucu mereka.

Selain itu, sastra lisan juga bisa didengar dan dinikmati pada acara-acara adat misalnya, pada acara upacara khitanan, mengerjakan kebun, pesta perkawinan atau begawi.

Kini karena pengaruh sarana hiburan seperti radio, televisi dan film—sastra lisan Lampung sudah sangat kurang diperhatikan oleh masyarakatnya. Dan kemungkinan besar sebagai salah satu penyebab utamanya karena bahasa Lampung sebagai bahasa pengantarnya mulai ditinggalkan oleh penuturnya (baca: penduduk Lampung asli).

Mereka nampaknya larut dengan bahasa yang dibawa oleh penduduk pendatang (transmigran) atau dalam komunikasi seharian mereka lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa ibu.

Selain itu, tentunya karena pengaruh era globalisasi informasi yang terus membombardir hingga pojok-pojok tiyuh (kampung). Hal ini berakibat merubah pola pikir dan tatanan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Lampung. Demikian juga dengan kehadiran masyarakat pendatang yag sudah tentu akan mengakibatkan perubahan struktur dan pandangan hidup masyarakat Lampung.

Masyarakat tradisional mulai meninggalkan sesuatu yang berbau “adat” --karena dianggapnya sudah ketinggalan zaman--, kuno dan ingin lebih mengejar apa yang disebutnya ‘modern’.

Sastra lisan warisan budaya tradisipun dianggap kuno untuk dijadikan media hiburan terutama oleh generasi muda. Mereka lebih senang ke diskotek, cineplek, nonton video, atau TV dengan parabola yang menawarkan seabrek pilihan program alternative ketimbang duduk berjam-jam duduk menikmati warahan –salah satu jenis sastra lisan Lampung---yang disampaikan oleh pawing pembawa cerita.

Dengan demikian dari hari ke hari sastra lisan Lampung semakin tidak ketahuan rimbanya. Dalam upacara-upacara adat (begawi) seperti pesta perkawinan, khitanan, dan upacara lainnya sastra lisan pun tidak dipakai lagi sebagai materi acaranya.

Namun hal ini bukan berarti bahwa kebiasaan mendengarkan sastra lisan itu tidak ada sama sekali. Di beberapa tempat di tyuh-tiyuh yang pandangan masyarakatnya masih memegang kuat adapt dan menganggap penting mendengarkan cerita-cerita nenek moyangnya, karena mereka menyadari banyak hal yang dapat dipetik manfaatnya dari cerita-cerita yang terkandung dalam sastra lisan itu.

Sastra lisan Lampung menurut bentuknya dapat dibagi menjadi dua yatu: prosa dan puisi. Prosa Lampung kebanyakan berupa; legenda, fable dan mythe. Jenis cerita rakyat (folklore) yang sangat dihormati oleh sebagian rakyat Lampung, karena temanya sangat baik dan luhur antara lain Warahan Radin Jambat, Radin Intan, Betan Subing, dan Anak Dalom.Sedangkan yang puisi kebanyakan berbentuk pantun, syair dan pisaan.

Sastra lisan Lampung baik yang berbentuk prosa maupun puisi mempunyai fungsi sebagai aalat pendidikan, nasehat keagamaan, adat dan juga sebagai media hiburan.

Untuk menjaga kesinambungan perkembangan sastra lisan Lampung ini sebaiknya berbagai pihak dan pemangku kepentingan harus terus berupaya mengadakan pembinaan anatar lain; dengan menggelar lomba dongeng atau baca puisi dalam bahasa Lampung. Apalagi bahasa daerah Lampung kini sudah masuk menjadi salah satu pilihan dalam kurikulum pendidikan muatan lokal (mulok) di Provinsi Lampung.

Jenis Sastra Lampung

Sebagaimana Melayu di Sumatra pada umumnya, Suku Lampung sangat kental dengan tradisi kelisanan. Pantun, syair, mantra, dan berbagai jenis sastra berkembang tidak dalam bentuk keberaksaraan, sehingga wajar jika memiliki pola-pola sastra lama yang serupa sebagai ciri dari kelisanan itu.

Sastra lisan Lampung menjadi milik kolektif suku Lampung . Ciri utamanya kelisanan, Anonim , dan lekat dengan kebiasaan, tradisi , dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sastra itu banyak tersebar dalam masyarakat dan merupakan bagian sangat penting dari khazanah budaya etnis Lampung.

Menurut pakar bahasa Lampung A. Effendi Sanusi, jenis sastra lisan terbagi lima jenis yaitu berupa peribahasa , teka-teki , mantera , puisi , dan cerita rakyat .

Nasib Sastra Lampung

Perkembangan dan kehidupan sastra Lampung memang memprihatinkan, Penaka pepatah, bak kerakap di atas batu, hidup segan mati pun tak mau . Selama ini sastra lisan Lampung hanya bertumbuhkembang di komunitasnya. Sementara ini pemasyarakatan sastra Lampung yang bisa diakses oleh banyak orang hanya melalui RRI Bandar Lampung melalui program acara Ragom Budaya Lampung (RBL) dan Manjau Dibingi serta di TVRI SPK Bandar Lampung dalam program acara Pantun Setimbalan.

Sedangkan sosialisasi yang dilakukan Dinas Pendidikan, Taman Budaya, dan Yayasan Jung Foundation sifatnya hanya program insidentil dan tak berkelanjutan, karena terkendala dana dan kebijakan. Yang lebih memprihatinkan institusi perguruan tinggi di Lampung tak ada yang peduli dan menyentuh sastra Lampung sebagai bahan kajian atau kurikulumnya. Bahkan Universitas Lampung sebagai salah satu perguruan tinggi negeri andalan justru menutup program pendidikan D-3 Bahasa Lampung yang diharapkan akan menjadi salah satu persemaian dalam menumbuhkembangkan sastra Lampung.

Tradisi Sastra Tulis

Tidak seperti sastra Jawa, Sunda, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern(teks) , sastra modern berbahasa Lampung baru bisa ditandai dengan kehadiran kumpulan sajak dwibahasa Lampung Indonesia karya Udo Z. Karzi, Momentum (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (2007)

Karya puisi Udo Z Karzi yang terdapat dalam antologi Momentum dan Mak Dawah Mak Dibingi tidak lagi patuh pada konvensi lama dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung, baik struktur maupun dalam tema. Dengan kata lain, Udo melakukan pembaruan dalam perpuisian Lampung sehingga ada yang menyebut Udo sebagai “Bapak Puisi Modern Lampung". Melalui karyanya Mak Dawah Mak Dibingi Udo Z Karzi juga berhasil membukukan prestasi dengan mengunduh Hardiah Sastra Rancage 2008.

Namun, sangat disayangkan karena pada tahun 2009 Hadiah Sastra Rancage, kembali lepas dari tangan Lampung. Pasalnya, tak satu pun buku sastra berbahasa Lampung yang diterima panitia hingga batas deadline yang ditentukan. Sangat memprihatinkan. Konon, yang jadi penyebabnya tak ada satu pun penerbit maupun sponsor di Lampung yang berminat menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung.

Padahal pejabat dan pengusaha Lampung banyak yang berkelebihan dan konon punya Piil. Tetapi Piil-nya baru keluar kalau bersaing dalam nyaleg dan Pilkada. Mereka bisa menebar banyak rupiah untuk kampanye, tetapi pelit untuk memajukan budaya daerahnya.

Jika ke depan ingin kehidupan sastra Lampung tidak punah, terus bertumbuhkembang dan eksis, Dinas Pendidikan Provinsi Lampung beserta stake holder secara simulatan dan berkesinambungan harus terus mengagendakan program untuk mengangkat sastra Lampung dari keterpurukan. Selain itu, semua ulun Lampung juga harus punya rasa memiliki bahasa dan juga budayanya.

Program sosialisasi sastra lisan maupun tulisan Lampung melalui pendidikan baik melalui program kurikulum muatan lokal (mulok) yang disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) dan pelatihan untuk guru-guru kesenian merupakan langkah yang strategis dan efektif. Semoga.


* Dikirim untuk Lampung Post, tertanggal 10 Februari 2009, tetapi tidak termuat

** Christian Heru Cahyo Saputro, Direktur Jung Foundation dan Peneliti Folklor pada SEKELEK Institute Publishing House, tinggal di Lampung.

Budaya: Pemda Kurang Dukung Sastra Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kalangan sastrawan Lampung menilai lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 disebabkan kurangnya dukungan pemerintah daerah terhadap sastra berbahasa Lampung.

Sastrawan Lampung Y. Wibowo mengatakan lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 karena masih rendahnya dukungan pemerintah daerah melalui dinas terkait terhadap perkembangan sastra Lampung. Pemerintah daerah belum mau mengangkat sastra Lampung untuk dipromosikan ke tingkat nasional.

"Pemerintah daerah mestinya mendorong sastrawan dan budayawan Lampung untuk terus berkarya bagi perkembangan sastra Lampung," kata Direktur BE Press, penerbit yang konsen dengan khazanah lokal Lampung.

Wibowo menilai karya sastra berbahasa Lampung yang dihasilkan sastrawan Lampung selama tahun 2009 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Penghargaan Rancage 2008 untuk sastrawan Lampung ternyata mampu memotivasi sastrawan lain untuk terus berkarya.

Tidak diperolahnya Rancage 2009 disebabkan keterlambatan mengirimkan karya sastra berbahasa Lampung. Selama 2008 dan awal 2009, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang sudah diterbitkan. Namun, karena kesalahan teknis, Panitia Hadiah Sastra Rancage tidak menerima terbitan karya sastra berbahasa lampung.

Menurut Wibowo, Hadiah Sastra Rancage tahun 2008 yang diraih sastrawan Lampung Udo Z. Karzi merupakan sebuah prestasi penting. Selama lebih dari 20 tahun Hadiah Sastra Rancage diadakan, Lampung merupakan daerah pertama yang mendapat hadiah sastra tersebut di luar Jawa dan Bali.

Wibowo juga mengatakan kalangan sastrawan juga harus terus mewacanakan pentingnya sastra dan budaya bagi sebuah daerah. Para pengambil kebijakan harus terus didorong untuk peduli dan perhatian kepada sastra dan budaya Lampung. "Para pengambil kebijakan harus disadarkan agar peduli pada perkembangan sastra dan budaya," ujarnya.

Penyair Lampung, Panji Utama, mengatakan pemerintah sudah seharusnya berperan aktif dalam melestarikan sastra dan budaya Lampung dengan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. Panji menilai perhatian pemda terhadap sastra dan budaya masih sangat kurang.

Selain kurangnya perhatian pemda, kata Panji, sudah seharusnya Lampung memiliki penerbit yang secara berkelanjutan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. "Para penerbit belum tertarik untuk menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung," ujarnya.

Direktur Jung Foundation Christian Heru Cahyo juga menilai Pemerintah Provinsi Lampung belum berperan optimal dalam pengembangan sastra dan budaya Lampung. Pemprov tidak mau membantu sastrawan dalam menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung.

Menurut Christian, adanya penghargaan Hadiah Sastra Rancage seharusnya membuat pemerintah daerah berusaha agar penghargaan tersebut jatuh ke Lampung. Panitia Hadiah Sastra Rancage telah melirik sastra Lampung. Namun, pemerintah daerah belum menempatkan sastra dan budaya Lampung sebagai sebuah potensi.

"Pemerintah Provinsi Lampung terlalu sibuk dengan program Visit Lampung Year. Tapi, tidak ada hal nyata yang dilakukan untuk melestarikan sastra dan budaya Lampung," kata Cristian. n PADLI RAMDAN/K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 10 Februari 2009

February 9, 2009

Lomba Puisi: Aktivis UKMBS Unila Jadi Juara Satu

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Ratusan pengunjung, pelajar, dan mahasiswa terpesona mendengarkan suara lirih Fitri Yani saat membacakan puisi berjudul Umpama Gerhana di Palestina.

Para pengunjung sudah bisa membayangkan, betapa dari ribuan korban Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Sebagai perempuan, aktivis UKMBS Unila ini mampu menghayati puisi tersebut. Tak heran ketika Fitriyani dipilih sebagai juara I dalam Lomba Puisi Pelajar dan Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda Ansor Lampung, Sabtu (7-2).

Selanjutnya, juara II Agit Yoga Subandi, juara III Yesi Arnita. Untuk kategori puisi terbaik I Didi Arsandi, puisi terbaik II Ida Munfarida, dan puisi terbaik III Bayu Setiawan.

Untuk kategori penampilan terbaik adalah Nining Suryani, kedua Zaza Pregina, dan ketiga Amelia. Sedangkan favorit I adalah V. Febriyanti Junaidi, favorit II Kadek Mela W., dan favorit III Brigis Wulandari.

Ketua panitia Yusrizal Karana mengatakan puisi menjadi wadah universal yang bisa menyampaikan suatu peristiwa dengan kedalaman dan kejernihan.

Lomba puisi itu sebagai media untuk menyampaikan rasa empati dan keprihatinan atas tragedi Palestina. Setiap peserta diminta membuat naskah puisi bertema Ansor save Palestine.

Naskah harus orisinal, tidak boleh jiplakan ataupun terjemahan. Pada seleksi tahap awal, lebih dari 200 naskah puisi diterima panitia.

Tim juri yang terdiri dari Saiful Irba Tanpaka dan Isbedy Setiawan Z.S. dari Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan Yusrizal Karana dari GP Ansor menyaring 20 finalis untuk membacakan puisi di depan dewan juri dan tamu undangan.

Ketua GP Ansor Lampung Muhammad Aqil Irham mengatakan tragedi Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang paling memprihatinkan pada abad 21 ini.

"Puisi dan sastra salah satu artikulasi nurani untuk melakukan kontrol atas tragedi-tragedi kemanusiaan, seperti tragedi yang terjadi di Palestina," kata Aqil.

Acara semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh tokoh lintas agama dan tokoh masyarat, seperti Almuzammil Yusuf (anggota DPR), Sya'roni Ma'shum (Kakanwil Departemen Agama Provinsi Lampung), Pendeta Reva Natigor, I Made Suarjaya (Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Lampung), H. Dayat Sutan Sati (tokoh masyarakat), Isbedy Stiawan (penyair), Saiful Irba Tanpaka (penyair), dan Maskut Candranegara (Wasekjen PP GP Ansor). Turut hadir Sekretaris DKL Harry Jayaningrat dan Kepala Dinas Sosial dr. H. Muhammad Farich.

Beberapa pengunjung tampak terenyuh menyaksikan pameran foto korban tragedi Palestina dan pemutaran video kekejaman di Palestina yang merupakan sumbangan Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).

Di sela acara, GP Ansor mengumpulkan tanda-tangan tokoh dan masyarakat Lampung sebagai bentuk dukungan untuk rakyat Palestina. Dari para undangan, peserta dan pengunjung Plaza Lotus terkumpul 1.500 tanda tangan dalam kain putih ukuran 4 X 3 meter, selanjutnya akan dipasang di Tugu Adipura. n RIN/K-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 9 Februari 2009

February 8, 2009

Wacana: Rancage, Sastra, dan Budaya Lampung

Oleh Udo Z. Karzi*

TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.

Kekhawatiran seperti itu sebenarnya wajar karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali juga--walaupun ada saja yang terbit setiap tahun--bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastra Rancage buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami khawatir terjadi lagi apa yang sudah terjadi dengan bahasa Lampung.

(Petikan Keputusan Hadiah Sastra Rancage 2009 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi).

Dan, lonceng kematian (semoga sementara) itu berbunyi: Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Lampung tidak diberikan kepada pengarang Lampung. Saya sungguh terpukul dengan kabar buruk ini. Dalam bahasa Irfan Anshory, ulun Lampung yang kini tinggal di Bandung, "Malu kita!"

Untungnya Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage sedikit memberikan hiburan dengan mengatakan, jika ada terbitan buku sastra berbahasa Lampung terbit 2008, bisa diikutkan Rancage 2010. Dia berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung.

Lalu, saya pun tenggelam dalam dunia idealisasi bagaimana seharusnya mengembangkan sastra berbahasa Lampung. Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) dan Hadiah Sastra Rancage 2008 sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal dua dalam setahun.

Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis. Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya "kepercayaan diri" penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali.

Sejak awal--katakanlah semenjak terbitnya buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum (2002)--sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.

Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-masyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.

Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.

Sebenarnya tidak ada kendala dalam menulis karya sastra Lampung. Masalahnya lebih terkait dengan masalah komitmen untuk--sebenar-benarnya--mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental "saya harus mendapatkan sesuatu kerja ini".

Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana.

Saya berharap bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. Sebab, bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.

Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan kepada sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal dua buku satu tahun. Tidak boleh putus.

Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!

Saya masih berharap masih ada "orang gila" dalam arti mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala risikonya. Saya tengah menanti!

* Udo Z. Karzi, buku puisinya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) menerima Hadiah Sastra Rancage 2008

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2009

Apresiasi: Seni Tanpa Jaminan Sosial: Selamat Datang!

Oleh Asarpin*

MASIH perlukah kita mempersoalkan seni dalam hubungannya dengan soal-besar kemanusiaan? Masih relevankah mengaitkan teater ke dalam sudut pandang teori fungsional? Untuk apakah sesungguhnya pertunjukan teater digelar dengan dana besar selama ini?

Saya akan menjawab: Masih! Sebab, seni--termasuk teater--berada pada wilayah yang senantiasa mengalami ketegangan antara bersifat pribadi dan komitmen sosial. Tema klasik dalam kesenian ini--juga dalam pemikiran pada umumnya--akan tetap menjadi perdebatan tak selesai.

Tak perlu disikapi dengan cemas jika Iswadi masih mempersoalkan peran dan fungsi sesungguhnya dari teater masa kini dalam esainya di harian ini. Jalankah dan jelajahi saja apa yang kau mau dari teater yang kau suguhkan pada penonton, tanpa merasa rendah diri hanya karena tak ada jaminan sosial yang ditawarkan. Seni akan terus berada dalam ketegangan antara bersifat pribadi dan komitmen sosial.

Iswadi sendiri mengalami kegamangan, kalau bukan paradoks. Di satu sisi Iswadi seperti sedang membela kesunyian seni dan menempatkan teater monolog batin sebagai pilihan dari kerja kreatif. Tapi, di sisi lain Iswadi tampak masih memberi harapan pada pemerintah untuk menjadikan teater bukan sebagai anak haram karena apa yang selama ini diupayakan terus-menerus oleh insan-insan teater itu pada dasarnya bukanlah untuk diri mereka sendiri. Melainkan pula untuk lingkungan; masyarakat dan bangsa. Jadi, sudah sewajarnya jika pemerintah, swasta, dan masyarakat turut men-support mereka untuk menunaikan perannya.

Saya khawatir Iswadi akan kecewa jika terlalu berharap pada pemerintah untuk mengurus seni. Banyak sekali urusan pemerintah kini di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Jaringan seni bukan Jaringan Pengaman Sosial (JPS), karena itu tak usahlah merengek-rengek agar pemerintah mengalokasikan program seni dalam APBD/APBN 20%! Atau agar Undang-Undang Pemilu direvisi dengan memasukkan kuota 30% bagi seniman!

Seandainya Iswadi mau jujur dengan selera estetiknya, saya kira Iswadi tak perlu gamang karena selama ini orang tahu di mana posisi Iswadi dalam seni dan pemikiran. Sudah tentu saya akan membela Iswadi jika ia bersikap emoh mengaitkan seni dengan komitmen sosial. Karena sudah pasti kerja estetiknya selama ini akan cedera jika melulu dilihat dari guna dan faedah, peran dan fungsi sosialnya.

Sejak lama kita tahu, seni bukanlah sembilan dari sepuluh bahan pokok. Seni lebih sering memakan biaya ketimbang menjadi sumber dana bagi negara. Namun, hidup tanpa seni, saya tak bisa membayangkan bagaimana sebuah negeri besar seperti Indonesia berlangsung. Seni tak serta-merta mengubah dunia. Bahkan, tak mungkin bermimpi menjadikan seni sebagai instrumen perubahan, lokomotif bagi kereta yang menggilas kemiskinan dan ketidakadilan.

Seni adalah milik senimannya, karena itu seni tak mungkin dilepaskan dari pribadi. Biarkan orang menuduh seni sebagai kemewahan terselubung seperti sering disinggung banyak orang beberapa tahun lalu, dan mungkin juga akan terus terpencil dari kehidupan yang mengejar serbabesar lewat perjuangan dan tanggung jawab.

Justru karena seni sulit ditakar dengan fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan sosial dan politik, seni bukanlah risalah sosial yang munafik. Tak perlu memaksakan seni bergema atau membahana. Seni jujur pada dirinya, termasuk jujur untuk emoh terhadap hal-ikhwal yang besar dan berguna. Saya kira sikap Goenawan Mohamad mewakili sikap seni sebagai wilayah pribadi tanpa harus memaksakan diri mengaitkan seni jadi maklumat sosial.

Justru karena seni bergerak di dalam keadaan tanpa gema itulah atau bunyi yang lain dari tepian kecil yan tak kunjung jelas itulah, kata Goenawan, seni bisa membebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas; hidup yang diinstrumentalisasi.

Tentu kata membebaskan di situ beragam maksudnya, tapi kita tahu siapa yang mengatakan itu. Goenawan tidak sedang bicara membebaskan rakyat dari kemiskinian, membebaskan ketidakadilan menjadi sama rata sama rasa. Goenawan seorang penyair yang senantiasa menaruh tanda tanya pada satuan-satuan besar. Bisa jadi kata membebaskan dimaksudkan sebagai membebaskan pikiran sendiri dari kepicikan, dari keterbelengguan paham dan aliran, menjadi diri yang kreatif dan merdeka.

Kehadiran seni di tengah-tengah percaturan sosial dan politik justru bisa memebebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas. Saya tak percaya ada sebuah negeri atau bangsa yang tak membutuhkan puisi dan pemikiran, kecuali jika bangsa itu sedang karam dalam segala bidang.

Dalam proses sejarah negeri pascakolonial ini, justru tak jarang saya merasakan bagaimana seni yang melahirkan suatu penjelajahan yang kreatif itu mampu mengejutkan dan mengguncang, seperti teater skizofrenia Rendra yang menohok sekembalinya dari studi di Amerika. Biarkan seni akan dianggap sebagai dusta atau pendurhakaan. Tak usah memaksakan diri ingin terlibat.

Iswadi bukanlah politikus yang pandai menyedot perhatian massa rakyat untuk berduyun-duyun mengepalkan tinju dan berteriak dengan mikrofon di jalan-jalan raya kota maupun desa. Iswadi seorang sunyi-diri dan pandai memintal kata, menyusun permadani kata jadi bercahaya bening terbening, mengolah nyanyian jiwa dan gebalau pikiran yang sedang memuncak.

Seni akan lebih nyeni justru karena sifatnya tidak pasti, tidak mutlak-mutlakan, ragu, dan bimbang. Tak usahlah kita meminta memaksakan diri untuk menjadikan seni memberi penyelesaian dan tanggap-darurat. Seni adalah wilayah yang abu-abu, terpecah tapi kreatif.

Mengapa saya suka pada sesuatu yang kreatif, yang membebaskan, yang merdeka, yang mengejutkan dan mengguncang, seperti teater? Bukankah cukup hidup dengan harmoni yang tenteram, seperti dulu orang menyebut "kita orang Timur" yang punya adat sopan-santun? Apakah manfaatnya keresahan, kecemasan, dan kebimbangan kecuali hanya akan mengantarkan Indonesia dalam keterpurukan? Bukankah agama-agama justru menekankan keyakinan, kepastian, penyelesaian, dan hampir tak memberi tempat pada keterpecahan, kebimbangan, kemurungan, keraguan?

Bisa jadi memang demikian, jika hidup melulu diukur dari guna dan faedah dan tata yang tenteram. Tapi sebuah negeri berdiri tak cuma ditopang risalah sosial, dogma, manfaat, tata dan guna.

Apalagi dengan sederet panjang perintah dan komando. Malah mereka yang terlampau mengejar keluhuran seni sering tak memberi apa-apa dibanding dengan mereka yang berjerih dengan kreativitas yang mengejutkan dan mengguncang ketertiban dan menohok stabilitas. Peradaban suatu bangsa Astina dibangun para Dewa dari puing-puing kesunyian dan kecemasan. Tidak ada bangsa yang jadi begitu saja. Tidak ada jalan yang lempang dan lurus ke surga, apalagi hanya satu jalan sosial.

Sudah terlampau banyak suara-suara sumbang yang kita dengar setiap hari. Di masjid, di gereja, di istana dan kantor DPRD, juga di pasar, tapi jarang orang mengakui dengan jujur untuk sekadar menarik diri sejenak ke dalam pergulatan diri yang sunyi dan refleksi melalui puisi dan pemikiran. Seakan-akan kata-kata terakhir ini tak memiliki arti bagi keduniawian. Seakan-akan hidup mesti selalu tegas, total, dan mutlak, selesai, dan bila perlu disampaikan dengan membahana.

Karena kita hidup abad ke-21, ketika manusia tak akan lagi melahirkan sebuah bintang sejak Zarahustra-nya Nietzsche lahir dari sang pencinta Tuhan yang menari, nikmati saja seni tanpa jaminan sosial. Seni cuma mencari janji, bukan memberi sesuatu yang pasti.

Bukan jalan tengah antara sens dan nonsens yang aku cari, melainkan justru karena seni lebih sering bersifat nonsens, aku suka pada seni. Karena seni sebagai nonsens pula, maka aku ucapkan selamat datang! Sebab kita tak tahu pasti apakah nonsens justru adalah sens, seperti kata Iwan Simatupang; manusia sendiri tidak pernah mengerti apakah tidur dan mimpi justru merupakan keadan bangun kita yang sesungguhnya, dan apakah yang hingga kini kita anggap sebagai keadaan bangun itu bukan keadaan kita yang sedang tidur dan bermimpi sesungguhnya.

* Asarpin, pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2009

Dunia Syahnagra dalam Impresionis

MEMBUKA pameran lukisan umumnya memiliki daya tarik tersendiri. Maka tak heran dilakukan oleh orang yang dianggap punya nama, punya jabatan penting, memiliki reputasi, artis top, sebagai tokoh, pengusaha, kolektor dan sebagainya. Ujung-ujungnya dianggap bisa mendatangkan calon kolektor atau lukisannya bakal laku dijual.

Berbeda dengan pameran tunggal Syahnagra Ismail lebih cendrung memilih orang yang idealis yaitu Anhar Gonggong, pakar sejarah. "Ketika saya diminta membuka pameran, alasan Syahnagra karena satu idealisme," ucap Anhar dalam sambutannya sebelum meresmikan pameran tunggal Syahnagra. Pameran tunggal ke-8 bertajuk My World berlangsung di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (21 - 30 Januari 2009).

Kepala Bidang Program PKJ - TIM Sri Warso Wahono dalam sambutannya, menceritakan ibarat seorang mpu membuat keris, ditempa terus, dipanasi dengan bara api tetapi hasilnya tidak jelas, belum bisa melihat seketika. Akhirnya kelelahan dan kepasrahan seorang mpu, keris itu selesai. Begitulah Syahnagra, dalam proses melukis ia tidak sadar apa yang akan dilukis, walaupun tema ada di depan mata. Kadang-kadang lukisannya sangat jelek, kadang-kadang bagus sekali.

Tetapi titik penilaiannya bukan jelek atau bagus. Menurut hemat kurator senirupa itu, lukisan Syahnagra punya sikap estetik, punya pegangan kreativitas. Sehingga gaya-gaya yang muncul dalam diri dia itu mengatas namakan apa yang tadi dikatakan sebagai jelek sekali atau baik sekali. Dengan kata lain dia memiliki keakuan yang jelas, jalan yang jelas, berbeda dengan yang ditempuh orang lain. Syahnagra seorang seniman yang patut kita banggakan karena ia hidup dari karyanya. Ia yakin dengan karyanya dan dia akan terus bergulat menghasilkan karya-karya yang baru.

Prof Dr Abdul Hadi Wiji Muthari dalam sambutannya menilai Syahnagra adalah pelukis mutakhir dari generasi 1980-an.. Dia adalah sedikit dari banyak teman segenerasinya yang tidak tergoda untuk melukis hanya untuk memenuhi tuntutan selera khalayak dan pasar.

Menurut penyair/guru besar dalam bidang Ilmu Falsafah dan Agama Universitas Paramadina itu sejak awal Syahnagra memilih impresionisme sebagai wadah pengucapan estetikanya. Pilihan itu dilakukan secara sadar. Alam memberikan daya tarik sendiri sebagai sumber renungan seninya.Obyek-obyek akan tidak ia tangkap sebagaimana obyek-obyek itu menampakan diri melalui bentuk formalnya kepada mata manusia.

Yang ditangkap dari alam dan obyek itu di dalamnya adalah suasananya yang memberikan kesan tertentu kepada jiwa penikmat lukisannya.Tidak jarang goresan Syahnagra berupa garis-garis kasar, begitu juga sapuan warnanya. Namun kesembronoan seperti itu tidak membuat lukisan-lukisannya kehilangan sifat lembut yang lahir dari perasaan dan suasana hatinya.

Dengan melakukan deformasi terhadap obyek dan sapuan warna lembut yang memancarkan kegembiraan spritual, ia berhasil menenggelamkan obyek-obyek itu ke dalam dunia perasaannya sendiri yang berada di alam lain.

Dominasi Merah

Syahnagra Ismail lahir di TelukBetung, Bandar Lampung, 18 Agustus 1953 tidak hanya seorang pelukis juga senang menulis puisi. Beberapa puisinya sempat ia bacakan pada acara pembukaan. Ia mengawali karir melukis sejak remaja ketika mengikuti pendidikan di Taman Siswa,Yogyakarta yang seterusnya memperdalam di Sekolah Seni Rupa Yogyakarta dan Institut Kesenian Jakarta.

Pengalaman melalang buana di berbagai mancanegara semakin mempertajam kepekaan mantan Ketua Himpunan Pelukis Jakarta (HIPTA) itu untuk diekspresikan di atas kanvas. Lukisannya cendrung didominasi warna merah yang merupakan warna yang memberinya spirit untuk berkarya. Namun ada sebuah lukisan : "Kaabah dan Dua Menara" didominasi warna putih merupakan rekaman kesannya ketika menunaikan rukun Islam di Tanah Suci (2002).

"Waktu itu saya melihat suasana serba putih, dan spirit itu yang saya tangkap. Sepulang dari Mekah, saya melukis. Ini bukan sekedar kenangan, tetapi saya berusaha mengekspresikan itu dengan segala hati saya," papar mantan Sekretaris I DPH Dewan Kesenian Jakarta (1996 - 2001).

Gaya lukisan Syahnagra dalam permainan warna dan garis cenderung dapat ditangkap dengan mata batin yang berbeda dengan obyek realita. Sebagai seorang yang idealis, Syahnagra melukis sesuai nurani tanpa mengikuti keinginan selera pasar.

"Saya melukis dengan jiwa. Bagi saya lukisan adalah diri sendiri. Lukisan adalah jiwa yang menggembara". Itulah prinsip Syahnagra yang merasa bahagia menjadi seorang pelukis meskipun banyak tantangan.

Sesuai dengan prinsip tadi, Syahnagra senang merekam obyek alam, kota, sosok manusia dan lingkungan. Sapuan cat minyak di atas kanvas dituangkan dengan spontan dan bebas dalam garis dan warna. Antara lain Keindahan Kota Tua, Merapi Elok, Menara Jakarta, Pelabuhan, Hutan Warna, Pohon Cinta, Perahu Merdeka, Pohon Kelapa di Lembah, Gadis Sunyi, dan Pohon di Tengah Kota.

Sejak 1975, Syahnagra mengadakan pameran tunggal sebanyak delapan kali antara lain Yogyakarta dan Jakarta. Sedangkan pameran bersama lebih dari 45 kali, Bandung, Yogyakarta, keliling berbagai kota di Jawa, Swedia dan Montana (AS). *** (Susianna)

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 7 Februari 2009

February 4, 2009

Rancage 2009 untuk Lampung Ditiadakan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Hadiah Sastra Rancage 2009 tidak diberikan kepada penulis sastra bahasa Lampung. Pasalnya selama 2008 tidak ada buku sastra berbahasa Lampung yang yang diterbitkan.

"Batas penjurian, 25 Januari lalu, panitia tidak menerima buku sastra dari Lampung. Para juri tidak bisa menunggu lebih dari 25 Januari sehingga beranggapan tidak ada buku sastra berbahasa Lampung," kata Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage Hawe Setiawan, yang dihubungi melalui telepon , kemarin (3-2).

Menurut Hawe, jika memang ada karya sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan pada 2008, akan diikutkan penjurian Hadiah Sastra Rancage tahun 2010.

Hawe berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung. "Sangat disayangkan tidak ada penulis Lampung yang mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009," kata dia.

Tahun sebelumnya, Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan Lampung Udo Z. Karzi. Udo mendapat Hadiah Sastra Rancage 2008 atas kumpulan sajaknya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007).

Disesalkan

Budayawan Lampung Irfan Anshory menyesalkan terjadinya kesalahan teknis dalam pengiriman karya sastra Lampung ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Kesalahan teknis tersebut mengakibatkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage dari Lampung.

Menurut Irfan, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang terbit tahun 2008, yaitu kumpulan cerita pendek berjudul Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami dan kumpulan sajak berjudul Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya.

Irfan mengatakan agar kesalahan teknis tidak terulang tahun depan, penerbit jangan sampai terlambat menerbitkan buku sastra Lampung.

Penerbitan buku harus dilakukan sebelum 31 Januari karena pada tanggal tersebut sudah diumumkan peraih Hadiah Sastra Rancage oleh Yayasan Kebudayaan Rancage. "Penerbit juga jangan sampai terlambat mengirimkan karya sastra ke juri Hadiah Sastra Rancage," kata Irfan.

Irfan berharap Hadiah Sastra Rancage tahun 2010 dapat kembali diraih sastrawan Lampung.

Peraih Rancage 2009

Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah ke-21 kali penghargaan itu diberikan. Pertama kali diberikan tahun 1989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda.

Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage.

Penerima Hadiah Sastra Rancage 2009 sastrawan dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibu. Mereka adalah Etti R.S. dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sunda) dan Nano S. atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda, terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya.

Kemudian S. Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya, Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.

Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.

Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana yang menulis buku Sasakala Bojongemas.

Setiap penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian. n PADLI RAMDAN/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 4 Februari 2009