March 20, 2017

Bincang-Bincang Bersama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Oleh Nanien Yuniar 

 

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam peluncuran novel "Semua Ikan di Langit" yang menjadi pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2016. (ANTARA News/Nanien Yuniar)


/1/

 

KARYA pertama Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie di dunia literasi muncul pada 2010 melalui novel berjudul "Indigo Girl". Setelah novel perdana, setiap tahun Ziggy meluncurkan buku-buku baru secara produktif. Dalam tujuh tahun, ia sudah menerbitkan 27 judul novel.

 

Pada 2015, "Di Tanah Lada" keluar sebagai juara kedua Sayembara Buku Novel Dewan Kesenian Jakarta.



Tahun berikutnya, novel "Semua Ikan di Langit" jadi pemenang utama. Para dewan juri memutuskan tidak ada pemenang kedua dan ketiga karena perbedaan mutu tajam antara karya Ziggy dengan naskah lain.

 

Salah satu juri, Zen Hae, memuji "Semua Ikan di Langit" yang disebutnya sebagai gabungan kompleks dengan ramuan banyak jurus cerita, sebuah adukan antara cerita anak, fantasi, fiksi ilmiah, dongeng hingga mitos penciptaan dunia.

 

Ziggy sendiri mengatakan novel yang ditulis hanya dalam tiga pekan itu sebenarnya berisi curahan hatinya sendiri, bukan tulisan kontemplatif seperti komentar sebagian pembaca.

 

Penulis kelahiran Bandar Lampung 23 tahun silam itu berbincang dengan ANTARA News mengenai awal mula terjun di dunia menulis hingga skripsi yang tak kunjung usai.

 

Bagaimana cerita di balik penerbitan buku pertama Indigo Girl?

Aku waktu itu lagi sakit, jadi tiga hari enggak sekolah. Selama tiga hari biar enggak nganggur aku nulis. Terus aku sebenarnya habis ke Gramedia dan memang ada pengumuman soal salah satu penerbit buku, (aku berpikir) tapi kan karena penerbit kecil mungkin mau kali ya menerima (naskah). Ya sudah kukirim saja.

 

 

Sebelum menerbitkan buku pertama Indigo Girl (2010), apakah kamu sudah membuat banyak tulisan sebelum akhirnya terbit?

Enggak. Aku bahkan enggak bisa nulis diary. Enggak suka. Enggak bisa. (tertawa). Jadi ini betul-betul kayak out of nowhere saja.

 

Kamu enggak nulis diary, tapi bilang "Semua Ikan di Langit" adalah isi curhat?

Kan save personal life for the public. Kalau diary tuh apa sih, cuma dibaca sendiri, enggak ada yang apresiasi (tertawa).

 

Waktu kecil pernah bercita-cita jadi penulis?

Enggak, aku waktu kecil ingin jadi kondektur bus seperti yang saya tulis di "soal penulis". Tapi mama bilang itu karena saya suka lihat kondektur bus punya banyak uang. Saya pikir "oh berarti orang itu orang kaya". Logic. Tapi… enggak… Tidak berminat jadi penulis.

 

Sejak kapan mulai menulis?

Mungkin kelas 5 SD, tapi enggak serius juga sih. Ini enggak pernah diseriusin sampai lulus SMA.

 

Setelah lulus SMA, fokus menulis?

Saya tidak fokus. Sama sekali tidak fokus. Enggak tahu, kalau nulis itu kayak sebetulnya memang dibilang bisa setiap saat, tapi betul-betul kayak angin-anginan saja. Enggak tahu sih, aku enggak fokus kuliah, enggak fokus nulis, enggak ada fokusnya. Betul-betul kayak divided.

 

Berarti kamu bukan tipe orang yang membuat jadwal menulis?

Oh, tidak. Aku dulu kayak begitu terus aku stres sendiri. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.

 

Kamu butuh situasi khusus untuk bisa menulis?

Sebetulnya enggak ada situasi khusus, cuma aku paling enggak bisa kalau ada orang yang ngeliatin. Soalnya keluarga gue itu lumayan nosy jadi kalau mulai ngerjain sesuatu di laptop pasti suka ada yang ngintip gitu di belakang, paling enggak suka (tertawa). Jadi, selama enggak ada keluarga bisa di mana saja.

 

Kalau bukan keluarga, siapa pun, enggak terganggu?

Soalnya jarang hangout juga sih sama teman-teman. Dan kalau hangout sama teman-teman ya konteksnya hangout, bukan ingin buka laptop dan main-main. Jadi ya memang fokus ke orang. Tapi kalau keluarga kan kayak nyantai sambil ngerjain, karena setiap saat di rumah kan, jadinya ya terganggu. Tapi kalau sama teman-teman sih enggak tahu, enggak pernah merasakan. Karena memang enggak pernah kerja di depan teman-teman.

 

Jadi biasanya menulis di rumah?

Di mana saja sih. Di kosan, di kafe juga kadang-kadang, tapi lebih nyaman di kosan sih memang, bisa dikondisikan sesuai keinginan.

 

Kalau bikin buku, judul duluan atau belakangan?

Belakangan. Saya tidak suka bikin judul.

 

Ada judul buku yang paling sulit dibikin?

Apa ya? Enggak ada yang spesifik sih soalnya kalau judul selalu under pressure. Aku enggak suka ngasih judul. Kalau bisa enggak dikasih judul sih aku enggak kasih judul. Ini (menunjuk ke poster "Semua Ikan di Langit") juga ceritanya out of nowhere. "Ikan di langit", ya sudah, kayaknya oke. Ini satu-satunya judul yang dipuji sama orang soalnya sisa-sisanya memang betul-betul crap.

 

Kalau buku yang paling susah bikinnya apa?

Sebetulnya aku suka sih pas nulis ini (Semua Ikan di Langit) tapi situasinya sedang tidak mendukung jadi enggak tahu sih bisa dibilang suka atau tidak. Soalnya waktu nulis cerita ini aku lagi depressed banget. Tapi yang paling aku suka secara overall mungkin "Saving Ludo" yang diterbitkan Mizan. Soalnya itu memang pertama kalinya aku nulis soal yang agak spiritual.

 

Suka baca komentar netizen?

Biasanya sebulan pertama aku baca, setelahnya aku bosan. Soalnya secara overall opini publik bakal kayak begitu saja. Kira-kira tahu gambaran kasarnya seperti apa.

 

Komentar negatif?

Tidak usah dipikirkan. Namanya juga selera orang. Banyak buku terkenal yang aku enggak suka, memang namanya selera.

 

Paling suka menulis genre apa?

Agak lebih suka fantasi sih. Enggak ada alasan macam-macam. Mungkin yang paling enggak suka romance soalnya enggak connect. Sebenarnya enggak spesifik juga sih. Tergantung memang ceritanya kayak gimana dan mau cerita apa.

 

Horor? Thriller?

Biasa saja. Soalnya aku enggak percaya hantu jadi agak gimana ya kalau menulis (horor).

 

Kalau thriller nonhantu, misalnya detektif?

Dulu aku suka, tapi ke belakang aku jadi suka insecure sendiri karena di Hukum belajar forensik. Aku jadi tahu 'kayaknya ini bakal salah' jadi aku kayak self concious dan sudah enggak mau ngerjain kayak gitu lagi.

 

Di keluarga apakah ada yang suka menulis juga?

Enggak juga sih. Kakakku yang pertama dulu sempat suka nulis puisi tapi memang enggak diseriusin. Kalau kakakku yang kedua enggak suka tapi dia… dia yang nulis diary. Dan diary-nya selalu dibacakan tiap malam. Jadi sangat tidak private (tertawa). Jadi kami tahu semua mengenai… tidak ada rahasia lagi di dalam kehidupan beliau. Tapi.. enggak sih, mereka enggak ada yang serius menulis. Kalau mama dulu lumayan suka puisi tapi dia juga sama kayak mbakku, memang enggak mendalami. Cuma hobi saja. Tapi dia dulu orang teater sih, enggak tahu juga sih, sebenarnya enggak ada hubungannya sama menulis, cuma… ya…

 

Ziggy awalnya merahasiakan karya tulisnya pada keluarga karena merasa malu. Ketika rahasia itu terbongkar dan sang ayah membaca bukunya, Ziggy mogok bicara dengan ayahnya selama dua pekan.

 

Kamu katanya dulu malu saat novel dibaca keluarga…

Sampai sekarang juga sebenarnya.

 

 … Sampai sekarang? Buku yang baru sudah dibaca?

Ya makanya saya sangat tertekan tiba di sini (peluncuran). Aku sebenarnya launching ini aku bilang enggak usah ada aja. Tapi dari promosi ya… pasrah saja. Aku kalau nerbitin novel enggak suka ngomongin, makanya…

 

Andai ada kesempatan mengadaptasi buku kamu jadi film, pilih yang mana?

Aku enggak memikirkan akan difilmkan… (berpikir) kok sulit ya pertanyaannya. Enggak tahu. Tapi mungkin kalau yang mau yang realistis untuk produksi Indonesia aku pilih "Jakarta Sebelum Pagi".

 

Setelah "Semua Ikan di Langit", mau nulis apa lagi?

Mau menyelesaikan skripsi, sudah dimarahi dosen, sudah satu semester bolos.

 

Bolos gara-gara mengerjakan "Semua Ikan di Langit"?

Enggak juga.

 

Ada target lulus?

Tidak, tidak punya target apa-apa. Nanti kalau pasang target, stres lagi.

 

Semoga cepat lulus ya.

Terima kasih, dosen saya juga sudah bosan (tertawa).

 


 

/2/

 

Namanya yang unik kerap menimbulkan tanda tanya, apakah itu asli atau identitas samaran?

 

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie mengaku sudah bosan membahas soal itu.

 

"Saya enggak mau jawab soal itu," katanya pada ANTARA News usai peluncuran novel "Semua Ikan di Langit" yang menjadi pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2016, pekan lalu.

 

Anak ketiga dari empat bersaudara ini bukan satu-satunya Ziggy di keluarganya. Orangtuanya memberi nama "Ziggy" untuk semua anak-anaknya, yang membedakan hanya nama belakangnya.

 

Dalam sebuah wawancara, penulis 23 tahun ini pernah mengatakan orangtuanya suka dengan album karya David Bowie "The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders from Mars" yang kelak jadi inspirasi dalam menamai anak-anaknya.

 

"Itu hanya salah satu spekulasi yang saya berikan," timpal Ziggy saat dikonfirmasi soal itu.

 

Novelis yang telah menerbitkan 27 buku sejak 2010 itu berbincang dengan ANTARA News, mulai dari nama uniknya hingga niat awal terjun ke dunia literasi.

 

Kamu dipanggil apa di rumah?

Tidak mau berbagi. Soalnya nanti orang-orang akan mulai memanggil saya dengan nama itu dan saya tidak suka (tertawa).

 

Kakak-kakakmu nama belakangnya juga panjang seperti kamu?

Iya.

 

Setidaknya enggak akan ada nama yang sama di kelas, ya?

Siapa tahu ada yang terinspirasi?

 

Iya, ya. Apalagi zaman sekarang nama anak-anak semakin beragam.

Kasihan anak-anak itu (tertawa).

 

Kamu juga merasa sebagai yang dikasihani?

(mengangguk sambil tersenyum lebar)

 

Kalau bisa milih nama sendiri, namanya siapa?

Enggak tahu, enggak pernah memikirkan ganti nama. Soalnya namanya sudah fix. Kayaknya enggak bisa diganti lagi.

 

Waktu SD, kalau mengisi lembar jawaban komputer, enggak ribet?

Isi aja. Waktu SD sebetulnya aku nulis nama itu dengan salah. Aku pisah-pisah per .. hmm.. per dua-tiga suku kata itu aku pisah. Tapi setelah melihat akta kelahiran ternyata disambung. Jadi sepanjang SD itu sebenarnya gampang, dua "Z" di belakang itu tinggal disingkat.

 

Meski punya nama unik yang bisa jadi pilihan untuk username di media sosial, Ziggy memilih nama @monamiCROISSANT untuk akun Twitter.

 

Kenapa nama Twitter kamu @monamiCroissant? Suka croissant?

Aku sebetulnya enggak suka. Suka sih, cuma aku enggak suka mentega (tertawa). Kenapa ya? Sebetulnya itu tadinya mau dijadikan nama password, tapi kata mbak-ku itu aja yang dijadikan username soalnya lucu. Ya sudah. Jadi mbakku yang milih sebenarnya. Bukan saya, dan dia memang penggemar croissant.

 

Hobi saat senggang?

Menonton laptop, streaming. Nonton TV series yang western.



Seperti ayahnya yang merupakan praktisi hukum, Ziggy mengikuti jejaknya dengan mengambil jurusan fakultas Hukum di Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat. Saat ini ia sedang berkutat mengerjakan skripsi agar bisa segera lulus.

 

Kenapa enggak ambil sastra?

Memang enggak tertarik sama sastra sih. Memang enggak kepingin masuk sastra. Dan kenapa ya, kalau hukum terutama karena dorongan dari papa sih, dia kan pengacara. Tapi, mungkin memang sengaja enggak ngambil sastra karena kepingin mencoba mempelajari hal baru gitu.

Kalau buat aku kan kalau aku belajar sastra aku takutnya kayak limited gitu. Malah kayak takut menyalahi tata bahasa, segala macam. Takutnya menulisnya jadi structured. Jadi kayaknya malah justru akan mengekang kalau aku belajar sastra. Itu salah satu pertimbangannya sih. Tapi kalau secara spesifik kenapa ambil hukum, enggak ada alasan sih. Namanya juga baru lulus sekolah enggak tahu harus ngapain (tertawa).

 

Kalau ada pilihan menulis di mesin tik, mau coba?

Aku punya mesin tik di rumah.

 

Masih pakai?

Enggak juga. Terakhir pakai waktu SD. Tapi enak sih.. cuma aku enggak mengerti cara ganti pitanya. Tapi seru sih soalnya ada suara-suaranya jadi semangat. Ctak. Ctak. Ctak. (meniru gestur mengetik) Cuma kayaknya enggak bisa konsen (tertawa) jadi pingin main doang.

 

Buku non favorit?

Enggak tahu. Banyak sih baca buku yang enggak disuka tapi enggak pernah diingat.

 

Buku favorit?

Pertanyaannya sebenarnya tidak bisa dijawab soalnya banyak. Tapi mungkin salah satu yang paling impressionable itu John Callahan yang “The King of Things and the Cranberry Clown”. Itu sebenarnya kayak poetry book gitu tapi rhyme book gitu untuk anak-anak. Tapi itu message-nya dalam banget. Itu bagus banget. Itu ilustrated book. Sebenarnya bisa dicari sih di online juga ada skrip lengkapnya dan juga ada gambarnya. Itu bagus banget.

 

Selain buku itu, andai kamu cuma boleh menyimpan satu buku di rumah, buku apa?

Di rumah yang mana? Aku ada tiga rumah, gimana ya? Ada perpustakaan di Lampung (rumah orangtua), ada kosan di Bandung yang banyak sekali rak bukunya dan di Jakarta juga. Pilih yang mana?

 

Yang paling sering ditempati?

Kalau berdasarkan tingkat frekuensi belakangan ini di Bandung.

 

Kalau begitu yang di Bandung.

Di Bandung ya… Apa ya.. sebetulnya ada banyak ya… (berpikir). Aku tidak yakin.. Hehe.. banyak sekali soalnya. Tapi mungkin buku yang tadi (John Callahan) soalnya ada di Bandung.

 

Ilustrasi karya Ziggy (ANTARA News/Nanien Yuniar)

Kamu kan multitalenta, bisa main musik, menggambar…

Itu cuma hobi saja, tidak didalami. Bukan hobi sih, cuma nyoba-nyoba

 

Kalau gambar, ilustrasi di “Semua Ikan di Langit” kamu semua yang bikin?

Iya, kecuali sampul depan.

 

Otodidak?

(mengangguk)

 

Berniat menawarkan ilustrasi untuk teman-teman novelis lain?

Oh saya tidak suka menawarkan jasa.

 

Kalau diminta, mau?

Tergantung permintaannya seperti apa.

 

Ada niat bikin buku ilustrasi, misalnya ilustrasi anak?

Dulu itu cita-cita pertamaku mau nulis sebetulnya pingin nulis buku anak sih. Karena memang pasarnya susah jadi makanya aku “terjebak” di dunia ini (tertawa). Tapi memang waktu awal masuk ke dunia literasi sih kepingin nulis cerita anak, mungkin makanya ceritanya (novel-novelnya) kayak anak-anak terus mungkin karena masih obsessed sama initial wish.




 

Editor: Monalisa

 

Sumber: AntaraNews.com, Selasa, 21 Maret 2017

No comments:

Post a Comment