October 27, 2023

Lampung dalam Cerpen Pilihan Kompas 2022

Oleh Endriyono

 


SUDAH diumumkan. Dan, semua pecinta sastra pasti sudah tahu siapa pemenangnya. Kompas tetap menunjukkan kelasnya, penjaga gawang sastra tanah air yang ketika Orde Lama dipegang Balai Pustaka. Mungkin di zaman Orde Baru, ada perbalahan, wasit penjaga sastra antara majalah Horison atau Kementerian P & K.

Konsistensi Kompas, di tengah sepi dan pudarnya produk sastra, tetap membuka ruang kreasi yang suar. Balai Pustaka meredup, majalah sastra Horison kembang kempis, kebudayaan dinegasi jadi bagian suboordinasi pendidikan, lalu dibelah lagi antara kesenian, kesusastraan atau norma sosial? Jadi, sastra itu di bawah Perpustakaan atau Kementerian Pendidikan?


Di tengah kekacauan induk utama penaung sastra tanah air, Kompas mengambil peran startegis. Dan anggapan pemenang cerpen Kompas yang seolah sektarian (?) Sebab, tahun lalu pemenangnya "Keluarga Kudus". Tahun ini, "Ihwal Nama Majid Pucuk". Dan di berita utamanya, disebut hampir semua cerpen yang bertema realitas sosial yang dipilih.

Warga Lampung, layak bersyukur. Sebab, ada nama Yulizar Lubay masuk nominasi.

Kalau kita lihat, cerpen dia berkisah Ibrahim yang punya anak diberi nama Sabili, yang selalu diberi petuah dari cerita nabi-nabi, selalu dibacakan salawat. Membuat saya secara pribadi hanyut. Tersentuh. Bahkan bergetar ketika membaca diksi penutup cerpen anak teater Kober berjudul "Kabar Gembira" itu. Indah yang aneh. Estetika yang mistis.

Dulu, Lampung Post selalu punya sastra Minggu. Ada cerpen, puisi, dan rubrik Apresiasi yang menampung beragam esei tentang humaniora atau sastra. Ketika redakturnya Udo Z Karzi, saya pernah usul buatlah "Cerpen Pilihan Lampost" yang khusus untuk orang/karya Lampung. Entahlah, sampai sekarang belum tersusun. Sampai koran yang edisi Minggu dan Sabtunya digabung.

Sastra mungkin belum dianggap sebagai capaian kerja kebudayaan di banyak institusi atau lembaga, termasuk pemerintah. Sehingga teks sastra sedikit sekali diproduksi. Mungkin juga karena rendahnya literasi orang Indonesia yang berbasis riset, disebut; "hanya ada 1 orang dari seribu orang yang gemar membaca buku."

Kisah Ibrahim di cerpen Yulizar itu, tepatnya pada kasus bayi sakit yang dibawa ke Jakarta. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang tua yang tertatih-tatih di rumah singgah. Beruntung, ada LSM model Peduli Generasi, Budha Suci, dll yang sangat membantu mereka. Yang jika diangkat menjadi karya sastra ternyata luar biasa memberi pengajaran pada hikmah kehidupan. Tentu, tanpa memperbandingkan dengan karya jurnalistik, sastra jelas jauh lebih punya daya sublim ke nurani pembaca. Setidaknya itu yang saya tangkap dari fenomena manusia gerobak di berita beberapa tahun lalu, jika disandingkan dengan pentas teater Potlot almarhum Bang Conie yang mementaskan Majhi di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.

Cerpen Realisme Sosial Mencuri Perhatian jadi headline Kompas, Sabtu, 28 Oktober 2023. Ia menabalkan kredo Pablo Neruda bahwa sastra mesti terlibat. Sastra adalah bentuk perlawanan dan perubahan sosial. Pablo Neruda yang aktif dalam politik dan diplomasi, menggunakan puisi-puisinya sebagai alat untuk menyuarakan aspirasi dan protes terhadap ketidakadilan dan penindasan. Ia juga mendukung gerakan-gerakan revolusioner di Amerika Latin dan dunia. Ia pernah berkata: "Saya tidak bisa tetap diam di hadapan apa yang terjadi di dunia."

Begitu juga Pramudya Ananta Toer, WS Redra, Taufik Ismail, yang secara tegas menyuarakan realitas dalam karya-karyanya sebagai bentuk perlawanan pada kebobrokan sekaligus menegaskan posisi teks sastra sebagai salah satu pemandu moral.

Dan pada Ihwal Nama Majid Pucuk: Cerpen Pilihan Kompas 2022 ini, kita saksikan realitas sosial yang disorot dalam beragam perspektif. Bahkan beberapa di antaranya dibiarkan menggantung pertanyaan. Siapa pembunuh, Anwar Sadat yang sebenarnya tak dijawab secara lugas pada cerpen "Ihwal Nama Majid Pucuk". Namun itulah sastra, kadang pada proses ambigunya dan menyerahkan kesimpulan benar salah pada pembaca, jadi magnet yang lebih dramatis. Yang berhasil. Sebab, lebih memberikan divergensi makna.

Selamat bagi semua cerpenis yang terpilih. Terutama, selamat bagi Yulizar Lubay. []

 

---------
Endriyono, Esais, Tinggal di Bandarlampung

 

Sumber:
Inilampung.com, Sabtu, 28 Oktober 2023


No comments:

Post a Comment