May 18, 2011

Sastra: Novel PPH, Alarm Sejarah Masyarakat Lampung

LIWA (Lampost): Novel Perempuan Penunggang Harimau (PPH) karya M. Harya Ramdhoni bisa menjadi alarm sejarah bagi masyarakat Lampung untuk memperhatikan masa silamnya yang saat ini masih menyimpan banyak misteri. Novel ini merupakan upaya rintisan untuk membaca masa lalu.




DISKUSI DAN NAPAK TILAS. Diskusi Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni dan napak tilas Kerajaan Sekala Brak di Liwa, 10-11 Mei lalu. (FOTO-FOTO: ISTIMEWA)

Pujangga Binhad Nurrohmat yang menjadi pembicara bersama penulisnya, Harya Ramdhoni, mengatakan hal itu dalam diskusi di Hotel Sahabat Utama, Liwa, Selasa pekan lalu. ""PPH menjadi semacam pasword memasuki masa silam Lampung yang sebenarnya merupakan masyarakat berperadaban besar berdasarkan peninggalan-peninggalan yang masih tertinggal saat ini misalnya tambo dan prasasti," kata penyair asal Lampung ini.

Acara diskusi ini merupakan rangkaian acara setelah sehari sebelumnya penulis bersama Binhad Nurrohmat dan para pembaca PPH dari Bandar Lampung, Kotabumi, Metro dan Liwa melakukan napak tilas ke beberapa lokasi peninggalan kerajaan Sekala Brak Hindu dan kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Islam.

Tempat-tempat yang dikunjungi, di antaranya adalah Prasati Bunuk Tenuagh berisi pemindahan Ibu Negeri Kenali ke Bunuk Tenuagh yang berangka tahun 997 Masehi, Makam Ratu Sekeghumong yang terletak di Perbukitan Bedudu-Belappau, Belalau dan Gedung Dalom Kepaksian Pernong di Batu Brak, Lampung Barat.

Sementara itu, menurut M. Harya Ramdhoni, penulis PPH yang juga dosen FISIP Unila, novel ini dan empat novel lainnya yang belum diterbitkan ia tulis selama enam tahun dan melalui berbagai sumber data yang beragam versinya. "Tentu saya memilih di antara data-data itu yang menurut saya punya landasan yang jelas secara historis. Informasi-informasi yang kabur atau tak kuat asal-usulnya tidak saya hadirkan dalam PPH dan novel-novel selanjutnya."

Diskusi ini berlangsung meriah dan memancing sejumlah tanggapan dan kritik. Seorang peserta diskusi, Selamet P, menyatakan tokoh utama novel ini, Sekeghumong, bukanlah perempuan seperti yang digambarkan dalam novel itu. "Saya kaget Sekeghumong dalam novel ini perempuan. Yang sering saya dengar sejak kecil, Sekeghumong itu laki-laki. Namun, saya percaya novel ini punya tujuan tulus dan penulisnya punya sumber referensi sendiri," ujarnya.

Menangapi pertanyaan Selamet, Ramdhoni berpendapat, gambarannya tentang Sekeghumong berdasarkan cerita rakyat yang juga berkembang sejak dahulu dan kisah-kisah lama yang masih tersimpan di dalam ingatan orang-orang keturunan Sekala Brak di sekitar perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan.

"Mereka (keturunan Sekala Brak) yang tinggal di seputar Sumur Batu, Minanga, Kayu Agung hingga pinggiran Danau Ranau percaya bahwa raja terakhir Sekala Brak adalah seorang perempuan yang gagah berani," kata Ramdhoni.

Ia tak menampik perbedaan kelamin Ratu terakhir Sekala Bgha itu memang ada sejak dulu dan dapat memancing sejumlah kontroversi. Namun Ramdhoni berharap bahwa perbedaan pendapat yang muncul kemudian justru akan dapat memperkaya khazanah cerita rakyat Sekala Brak yang terlupakan sejak 900 tahun silam.

Menyambung masalah ini Binhad mengatakan, penulisan kembali masa silam memang sering menanggung risiko perbedaan pendapat. "Hal ini terjadi karena data empiris dan informasinya sangat terbatas. Namun, novel ini berani dihadirkan oleh pengarang sebagai upaya menemukan kebenaran. Diskusi ini merupakan ruang representatif untuk mewadahi kritik, tanggapan, maupun koreksi," kata Binhad Nurrohmat.

Binhad mengatakan, Lampung memiliki peradaban yang besar. Indikasinya, masyarakat Lampung memiliki aksara yang telah ada sejak abad VII Masehi. "Artinya, masyarakat Lampung di masa lalu sudah memiliki peradaban yang besar. Dan inilah membedakan Lampung dengan daerah lainnya di Indonesia ini," kata Binhad. (ZUL/D-3)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 18 Mei 2011

1 comment:

  1. dimana saya bisa dapatkan novelnya ? trims.

    ReplyDelete