May 8, 2011

[Reporter Cilik] Suka Duka Menjadi Seorang Anak Koran

TEMAN-TEMAN, di sela-sela wawancara Pak Bambang sempat cerita lo tentang masa kecil beliau. Wah ternyata bos koran Lampung Post ini dulunya adalah anak koran. Itu lho, anak-anak yang biasa menawarkan koran di pinggir-pinggir jalan.

LAMPUNG POST/ZAINUDDIN

Menurut Pak Bambang, sejak sekolah dasar beliau sudah menjadi anak koran. Bahkan, cara Pak Bambang dulu terbilang unik. Setiap berita utama dibaca kuat-kuat, agar menarik pembeli yang mendengar. Hihi, kreatif juga ya Pak Bambang ini.

Menurut Pak Bambang, menjadi anak koran itu sungguh menyenangkan. Terutama karena dengan menajdi anak koran Pak Bambang lebih dahulu tahu tentang segala informasi daripada orang lain. Karena anak koran zaman dulu suka membaca koran, tidak seperti anak koran zaman sekarang yang belum tentu tahu apa isi berita di koran.

Pak Bambang bilang menjadi anak koran itu juga belajar mandiri. Karena penghasilan yang didapat bisa memenuhi kebutuhan sendiri. "Tiap hari kita bisa megang uang. Apa saja bisa dibeli waktu itu," kata Pak Bambang.

Tapi, kira-kira apa yah suka dukanya menjadi anak koran itu?

"Dukanya kalau lagi mau jualan koran hujan, jadi enggak bisa jualan koran. Koran enggak laku, ya enggak dapet penghasilan," ujar pak Bambang.

Lalu kira-kira bagaimana ya cara Pak Bambang membagi waktunya? Beliau mengatakan setiap pagi beliau sekolah, siang membantu ibu di warung, kemudian sore berjualan koran. Nah, malam dipakai untuk mengaji dan belajar. Hayoo, temen temen suka membantu ibu tidak di rumah? Pasti suka membantu semua kan? hehehehe. (Nurul, Dewi, Laili)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Mei 2011

No comments:

Post a Comment