November 24, 2015

Black Heritage Tour


Oleh Dyah Merta

HARI itu aku ikut rombongan Black Heritage Tour, semacam napak tilas bekas bangunan-bangunan yang menyimpan sejarah perbudakan di Amsterdam. Berangkat dari titik-temu di Centraal Station, tur bergerak ke arah Dam Square dengan jalan kaki, membelah keramaian dengan suhu 13 derajat dan mengabaikanVenustempel dan Museum Madame Tussauds.

Tur dimulai dari Royal Palace, gedung yang dibangun pada 1648 oleh arsitek Jacob van Campen dan Artus Quellinus. “Pada tahun 1949, Muhammad Hatta melakukan penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda di situ,” ujar Wim Manuhutu, sejarawan Maluku yang ikut rombongan. Ratu Belanda Juliana didampingi Perdana Menteri Belanda Willem Drees menandatangani penyerahan kedaulatan (Sovereniteit Overdracht)atas Indonesia kepada Muhamad Hatta, Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat di ruang Burgerzaal. Momen ini menjadi babak pamungkas dari Konferensi Meja Bundar.

Berputar kesisi belakang gedung yang menghadap ke Raadhuisstraat terpampang gamblang relief yang menggambarkan peran Belanda dalam perdagangan dunia. “Di sisi kiri relief, berdiri patungTemperantia dengan sikap yang tenang, pada sisi kanan Dewi Vigilantia dan di bagian tengah atas ada Atlas yang mengangkat bola dunia,” itu penjelasan yang kutangkap dari pemandutur. Mereka adalah Nancy Jouwe dan Jennifer Tosch.

“Sedang di bagian relief paling tengah itu adalahsosok Dewi Suci Amsterdam yang mengulurkan tangannya untuk menerima harta karun. Di sebelah sisi kirinya menggambarkan wilayah Eropa dan Afrika, di sebelah kanan dari belahan Asia dan Amerika.” Aku melihat detil sesosok karakter berturban yang memegang tali kekang seekor onta, “ Kurasa itu untuk meneguhkan wilayah jangkauan Belanda kala itu!”–sebuah pesan superioritas atas dunia. Pada abad ke-16 Belanda telah membangun benteng dan pusat perdagangan di Ambon, New York, Curacao, Suriname dan Ghana.

Aku sudah diberi buku Gids Slavernijverleden Amsterdam (Slavery Heritage Guide) untuk memperdalam sendiri detil pengetahuan sejarah perbudakan di titik-titik yang akan dikunjungi.

Salah satu hal yang menarik dan menggelitik dari buku itu ketika aku menjumpai satu gambar yang berjudul Gablestone with saying about a Moor:dinding batu yang melukiskan dua perempuan Eropa dan di antara mereka ada orang setengah telanjang berdiri di tengah bak berisi air.Menurut rujukan kedua perempuan itu berkata, “kami sedang memandikan orang Moor.”

Lalu muncul olok-olok, “Apakah kulit orang Moor akan berubah warna?” Memandikan orang Moor sungguh buang-buang waktu sebab kulit mereka tak mungkin berubah putih! Ini adalah salah satu fakta visual rujukan proyek pemberadaban.

Pemberadaban adalah proyek Barat bagi negara-negara koloninya. Inggris bahkan membawa misi pemberadaban dengan sabun, mirip seperti apa yang digambarkan oleh lukisan tentang orang Moor itu. Franz Fanon melukiskan dalam “The Fact of Blacknees” bahwa orang negro dicap kotor –dirtynigger. Sehingga olok-olok bahwa mereka perlu ‘mandi’ menjadi bagian dari memberadabkan manusia yang ‘tidak beradab’.

Rasisme adalah Awal Perbudakan

Rasisme bekerja melalui sebuah mekanisme psikologis secara terus menerus demi menundukkan masyarakat kolonial untuk memunculkan perasaan inferior.Rasisme menjadi salah satu mesin pengkategori yang diciptakan untuk membentuk identitas Barat (kolonial) dalam rangka superioritas dan membedakan diri dari liyan, yang pada mulanya tidak ada. Konsep ini muncul bersama kolonialisasi: superior vs inferior, beradab vs biadab, modern vs kuno, berkulit putih vs berkulit gelap, dst.

Dampak dari itu, orang-orang Moor diperbudak dan dibawa ke perkebunan-perkebunan di Suriname atau Antilles sebagai pekerja kasar. Gula, tembakau, kopi adalah komoditas mewah di Eropa kala itu. Mereka yang sedikit terdidik atau mujur akan bekerja sebagai pelayan di rumah orang berkelas semacam di keluarga Cornelis Tromp (1621-1691), seperti seorang anak belia berkulit gelap yang berdiri di samping Margaretha van Raephorst yang dilukiskan oleh Jan Mijtens pada 1668. Di dinding depan rumahCornelis Tromp di kawasan Oudezijds Voorburgwal 136, masih bisa dilihat relief batu Tromp dengan seorang budak berkulit hitam di sebelahnya.

Lama diperbudak, orang kulit hitam tak tinggal diam. Di Eropa, di abad kita ini, konsep Negritude didengungkan olleh Aimé Césaire, Léopold Senghor dan Franz Fanon. Gerakan ituditujukan untuk mengembalikan marwah dan harga diri sebagai orang berkulit hitam yang berbudayadan membalikkan wacana yang telah sewenang-wenang membangun stereotip atas diri mereka.

Rasisme belum berakhir. Peristiwa 9/11 yang meruntuhkan menara kembar WTC membangun wacana baru bahwa“Islam adalah teroris”. Islamophobia menjadi bentuk stereotip baru yang berakar moyang dari rasisme. 13 November, bom dan serangan meledak di Paris. ISIS mengklaim diri sebagai pelaku. Lebih dari 128 nyawa melayang. Dunia tersentak. Rasisme kini bukan melulu persoalan warna kulit. Rasisme adalah upaya untuk meneguhkan identitas: aku lebih beradab dari kamu. Keberadaban adalah keunggulan, superioritas. Terorisme adalah kebiadaban. Keberadaan terorisme menjadi alasan ‘pemberadaban’ di masa kita.

Tur di Amsterdam hari itu ibarat melihat museum terbuka. Di dinding-dinding bangunannya, aku menikmati batu atau kayu yang diukir dari abad ke-17 –dulu menjadi penanda bagi pejalan untuk menemukan suatu tempat. Yawnermenjadi favorit lokal –ia digambarkan seorang pria Moor berkulit gelap berturban dengan mulut menganga lebar,miriporang menguap tapi bukan. Ia hendak menelan pil.

Pada saat itu, obat lokal terbuat dari rempah-rempah dan tanaman yang dibawa dari luar negeri. Sebuah legenda mengatakan bahwa seorang pria Moor membantu apoteker pada hari-hari pasar, mempromosikan obat dengan menelan pil di depan kerumunan orang-orang. Sosoknya sangat dikenal, lalu digunakan ia untuk menandai apotek.

Di sepanjang tur, aku menjumpai wajah-wajah serupa orang Moor atau wajah berkulit gelap yang menjadi penanda bangunan-bangunan yang melibatkan perdagangan manusia. Di abad itu, menurut hasil riset dijumpai lebih dari 100 orang adalah pelaku dalam perdagangan manusia di Amsterdam. Klaim ilegal atas transaksi manusia itu baru terjadi pada tahun 1838.

Tur historis makin menyenangkan ketika dilanjutkan dengan boat. Semilir angin kanal nyaris membikin kantuk, tapi aku tak bisa melewatkan setiap penggal sejarah yang diceritakan dengan penuh antusias oleh Jennifer, perempuan berkulit gelap, berwajah oval berhias anting bulat emas. Ia mengenakan kaos putih berbalut jaket hitam. Kacamatanya bertengger di atas rambut cepak yang dicat kuning. Kami sempat melewatibangunan yang dulunya adalah kantor-kantor dagang VOC –yangsudah tentu sangat akrab di telingaku. Kapal membelah gerimis. Disentak udara yang semakin dingin, aku merapatkan jaket.

Banyak teman turku yang orang Belanda terhenyak tidak tahuperihal sejarah perbudakanitu. “Aku baru tahu sekarang, dari tur ini!” ujar Frank. Mereka yang bisa saja setiap hari lewat di situ, di bawah bayang-bayang gedung yang menelan cahaya matahari, alpa bahwa ada sejarah perdagangan budak –orang-orang berkulit gelap yang datang dari jauh dan membangun sebagian dari peradaban mereka.Mungkin mereka dari Afrika atau Asia. Jumlah mereka tak pernah dihitung. n

Dyah Merta, Sastrawan, mahasiswi pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.


Sumber: Fajar Sumatera, Selasa, 24 November 2015

2 comments: