November 11, 2015

Wisata Pusaka Industri

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
DI Indonesia wisata pusaka industri memang belum banyak diwacanakan, apalagi digerakkan.  Padahal potensi dan asetnya sangat besar. Apalagi setidaknya banyak industri  strategis milik negara di bawah wewenang kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha milik Daerah (BUMD). Selain itu tentunya juga industri-industri yang juga dipelopori oleh perusahaan swasta dan masyarakat.
Padahal sekaitan dengan tantangan dunia global idustri strategis itu harus mengikuti perkembangan zaman baik karena pertimbangan soal lokasi maupun  fasilitas pendukungnya. Akibatnya aset-aset lamanya  sering tidak dipergunakan lagi, mulai dari area perkebunan,pabrik-pabrik dan perkantoran terkadang dibiarkan mangkrak.

Aset-aset ini tentunya merupakan saksi sejarah dan bisa untuk pembelajaran masyarakat mengenai perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi kawasan jika diberdayakan dengan benar dan optimal sebagaimana telah dibuktikan di negara lain. Jika aset-aset ini tidak diberdayakan dan dilestarikan akan mangkrak  pada gilirannya hancur sia-sia. Padahal industri-industri tersebut pernah bisa jadi menjadi ikon dan denyut sebuah kota.


Persepsi  Pusaka Industri
Komite Internasional untuk Pelestarian Pusaka Industri (The International Committee for the Conservation of the Industrial Heritage) disebut TICCIH (dibaca “ticky”) telah menghasilkan kesepakatan mengenai pengertian pusaka industry dan arkeologi industry yang mengacu pada The Nizhny Tagil Charter For The Industrial Heritage,  yang dihasilkan  Pusaka Industri terdiri dari peninggalan budaya industri yang mempunyai nilai sejarah, teknologi, sosial, arsitektur dan ilmiah.

Peninggalan ini bisa berupa bangunan, mesin, bengkel, pabrik, pertambangan, tempat pengolahan dan pemilahan, gudang, toko, tempat yang menghasilkan, menyalurkan dan menggunakan enerji seberta seluruh infrastrukturnya, begitu juga tempat-tempat yang digunakan untuk kegiatan sosial dan lingkungan berkaitan dengan industri seperti perumahan, rumah ibadah atau pendidikan.

Sedangkan pengertian arkeologi industri adalah disiplin ilmu yang mendalami peninggalan, teraga maupun tak teraga, dokumen, artefak, stratigrafi, struktur, pemukiman, lansekap alam dan perkotaan yang dibangun untuk atau oleh proses industri. Arkeologi industri merupakan disiplin ilmu paling sesuai untuk meningkatkan pemahaman tentang industri di masa lalu maupun masa kini.
Sidang majelis  umum TICCIH  ke-15 tahun 2012 di Taipe menunjukkan meningkatnya perhatian  TICCIH tentang pusaka industri di Asia yang terancam.
Sidang umum ini menghasilkan rumusan kesepakatan tentang pelestarian pusaka industri di Asia yang sifat dan jenisnya berbeda dengan pusaka industri di Barat.

Pusaka Industri di Lampung

Pusaka industri bentuk intangible berupa proses kegiatan peninggalan budaya industri (termasuk ritual), pengetahuan dan ketrampilan peninggalan budaya industri, dan objek yang berkaitan dengan kegiatan peninggalan budaya industri (berupa produk, instrumen yang digunakan untuk handicrafts, dan sebagainya), sedangkan bentuk tangible berupa bengkel/ruang kerja, perusahaan dan pabrik (termasuk bangunan kantor), kawasan atau kampung, dan rumah sekaligus sebagai tempat produksi.

Provinsi Lampung memiliki banyak potensi wisata pusaka industri. Tetapi selama ini sama sekali belum tersentuh dan dibincangkan. Provinsi di ujung pulau Sumatera sejak sebelum  era kemerdekaan di kenal sebagai daerah penghasil kopi dan lada sampai-sampai  menyita perhatian kompeni untuk menguasainya. Pemerintah Hindia Belanda setelah berhasil dengan pilot proyek kolonisasi pertama di Indonesia yang dimulai tahun 1905 di Bagelen,Tataan,  Belanda membuka perkebunan karet (afdeling) di sejumlah lokasi di Lampung.  Untuk mendukung infrastruktur Belanda membangun jaringan kereta api dan pelabuhan.

Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki kegiatan industri yang beragam diantaranya; berupa perkebunan, pabrik dan industri pengolahan. Pusaka industri bentuk tangible di Lampung adalah gedung kuno di perumahan  PTPN VII Kedaton, Way Galih, Pabrik Pematang Kiwah (Pewa) Natar, dan sejumlah area perkebunan peninggalan Belanda yang kini di kelola PTPN VII,   Gedung kantor Musin Dasaad Concern di jalan Kotaraja yang kini dimiliki Gereja Kristus Raja. Gedung ini merupakan tengaran dan bukti kalau Lampung sudah punya konglomerat sebelum era kemerdekaan pengusaha berdarah Menggala Agus Musin Dasaad.

Kemudian deretan gudang-gudang CV Bakrie Brothers yang berlokasi sepanjang jalan Yos Sudarso. Tentunya bisa juga dilacak dimana kantor pengusaha asal Kalianda Achmad Bakrie mengawali membangun perusahaan Bakrie Group yang kini menjadi salah satu raksasa industri di Indonesia.

Ada juga Gedung Parwitayasa Sari Petojo bekas pabrik Es yang dibangun tahun 1927 dan kini jadi kantor PD Wahana Raharja. Di seputaran jalan Malahayati ada pabrik pengolahan lada dan kopi milik CV .Sumberjaya Group. Bisa jadi masih banyak pabrik di kawasan Telukbetung yang direlokasi ke kawasan industri Lampung (KAIL) Tanjungbintang. 

Kemudian di jalan Yos Sudarso ada pabrik milik Sungai Budi Group yang muasalnya dari CV Bumi Waras yang didirikan Inteng pada tahun 1947 dan kini berkembang PT Tunas Baru Tbk yang menambah jajaran taipan dari Lampung.

Dan perusahaan ini dikenal sebagai pelopor eksportir hasil- hasil pertanian di Indonesia. Di Kawasan Seliri, Panjang,  juga ada bekas pabrik sepeda PT Daya Sakti milik Gajah Tunggal Group kepunyaan kolngmerat  Samsul Nursalim yang diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Oktober 1975. Pabrik sepeda ini kini mangkrak dan konon masih jadi obyek sengketa. Tentunya kalau dilacak masih banyak obyek-obyek pusaka industry yang bisa dijadikan destinasi wisata pusaka di Lampung.

Indentitas Kota

Aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat yang digerakkan perusahaan-perusahaan yang ada  tentunya menjadi salah satu bagian peninggalan sejarah kota, baik dalam bentuk tangible yang berupa sarana pewadahan aktivitasnya maupun yang berbentuk intangible yang berupa aktivitas itu sendiri beserta instrumen dan produknya.

Pusaka industri mampu memberikan bagian alur cerita sejarah perkembangan kota dari sisi perekonomian dan menjadi bagian dari nilai sosial, kehidupan  masyarakat, dan memberikan sentuhan rasa dan indentitas kota.   

Oleh karena itu, pusaka industri yang dimiliki perlu dilestarikan dalam rangka mampu mempertahankan eksistensi aktivitas ekonomi masyarakat yang telah ada sejak dulu serta mampu mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah perkembangan ekonomi Provinsi Lampung.

Diharapkan pusaka industri tak hanya jadi mesin ekonomi, tetapi juga merupakan wujud organisasi sosial dan budaya masyarakatnya. Sehingga pengembangan pusaka industri ke depan tetap berbasis pelestarian.

Ceruk Pasar
Di beberapa daerah  wisata industri ini mulai dilirik baik oleh swasta maupun BUMN. Di Semarang, beberapa perusahaan  mulai membangmendirikan living museum, seperti; PT. KAI dengan proyeknya Lawang Sewu, Museum Kereta Api Ambarawa, PT Jamu Jago dengan Museum MURI, Perusahaan Jamu Nyonya Mener dengan Museum Jamu Nyonya Mener dan PTPN IX Jawa Tengah dengan Kampung Kopi Banaran Resort, café dan paket agro wisatanya.

Kota Sawahlunto di Sumatra Barat adalah salah satu kota di Indonesia yang berusaha mengeksploitasi aset pusaka industrinya. Sejak tahun 2004, Sawahlunto memiliki kebijakan untuk menjadikan pusaka industri sebagai tujuan wisata termasuk merehabilitasi jalur kereta api. Hasilnya cukup menggembirakan karena pada tahun 2014 sepertiga pendapatan daerah berasal dari bidang pariwisata.

Wisata pusaka industri memang merupakan wisata  minat khusus. Tetapi kalau digarap dengan seriuske depan  bisa mempunyai prospek yang cerah. Dalam hal ini Dinas Pariwisata harus bisa menggandeng para pemangku kepentingan untuk mengolah potensi yang ada dan menjual ke pasar.

Pemerintah daerah  harus bisa meyakinkan perusahaan dan para konglomerat Lampung yang sudah sukses  untuk membangun rekam jejak usahanya berupa aset gedung-gedung kantor, pabrik dan aset lainnyanya sebagai living museum bagian dari Coorporate Social Responbility (CSR) nya.


Sedangkan untuk sasaran ceruk pasar khususnya adalah siswa-siswa yang diatur dalam paket wisata karya. Dari pada setiap tahun ribuan siswa dari Lampung menggelontorkan rupiah  untuk studi tour ke Jakarta, Bandung, Yogya Bali dan daerah lainnya. 


Kunjungan wisata ke obyek wisata pusaka industri ini bertujuan mengenalkan potensi daerah,  membangun semangat wira usaha (entrepreneur) yang didapat dari jejak patron konglomerat yang berhasil, menggerakkan ekonomi masyarakat dan pada gilirannya mendukung pelestarian pusaka industri di Lampung. Kita tunggu! n

Christian Heru Cahyo Saputro, Direktur Jung Foundation Lampung Heritage dan Peneliti Sekelek Institute and Publishing House


Sumber: Fajar Sumatera, Rabu, 11 November 2015









1 comment: