August 25, 2015

Musik tradisional Lampung jadi mata kuliah ISI Yogyakarta

Oleh Budisantoso Budiman


Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan ISI Surakarta akan memasukan musik tradisional Lampung dalam kurikulum dan menjadi salah satu mata kuliah Musik Daerah Nusantara di kedua perguruan tinggi seni tersebut.


Beberapa remaja memainkan gamolan, alat musik tradisional Lampung (ANTARA Lampung/Gatot Arifianto)
Sedangkan di ISI Denpasar, mata kuliah Musik Tradisional Lampung baru dijadikan mata kuliah ekstrakurikuler, kata I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Moccoh, seniman Lampung asal Bali, di Bandarlampung, Senin.


Menurut Moccoh, penulis buku "Gamolan Pekhing, Musik Bambu dari Sekala Berak", tekad untuk mewujudkan musik tradisional Lampung menjadi mata kuliah di perguruan tinggi seni di Indonesia akan menjadi kenyataan.

Moccoh yang menemukan laras Gamolan Pekhing dan Cetik Lampung pada tahun 2003 ini yang menamakan pelog 6 nada, yakni 1, 2, 3, 5, 6, 7, (1) oktaf, terus berusaha menyosialisasikan musik ini, baik di daerah maupun di luar Lampung.

"Sasaran strategis adalah kalangan akademis dari anak sekolah sampai perguruan tinggi, juga guru dan dosen," ujar Moccoh.

Moccoh bersama Syafril "Rajo Cetik" Yamin, A Barden, dan Riki dari kelompok Penggiat Cetik Lampung, juga terus berupaya memasyarakatkan musik tradisional Gamolan Pekhing alias Cetik lewat TVRI, memberikan workshop untuk pelajar, guru-guru kesenian di Lampung dan FKIP Universitas Lampung (Unila).

Sedangkan keluar Lampung, Moccoh mengaku akan terus memperkenalkan Gamolan Pekhing, dengan menggelar workshop ke perguruan-peguruan tinggi seni di Indonesia, antara lain STSI Bandung, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan ISI Denpasar.

Selain itu, dia pernah juga mementaskan musik Gamolan Pekhing ke Festival Musik Anak Anak di Gedung Kesenian Jakarta.

Menurut Moccoh yang kini jadi pekerjaan rumahnya adalah untuk mendorong Pemerintah Provinsi Lampung segera merealisasikan bantuan alat musik tradisional Lampung Talo Balak dan Gamolan Pekhing untuk praktik mahasiswa.

Menurut dia, Pembantu Rektor I ISI Yogyakarta Prof Dr I Wayan Dana SST MHum menyatakan bahwa perangkat alat musik tradisional ini sangat diperlukan untuk kebutuhan praktik mahasiswa.

Hal senada juga diungkapkan Dekan Seni Pertunjukan ISI Surakarta, Sigit Astono SKar MHum yang menyatakan, tidak mungkin mahasiswa mempelajari musik hanya teorinya tanpa praktik.

"Mudah-mudahan Pemprov Lampung segera merealisasikan bantuan perangkat musik tradisional Lampung Talo Balak dan Gamolan Pekhing ini," ujarnya.

"Saya merasa bersyukur dan bangga, akhirnya musik tradisional Lampung bisa bersanding dengan musik daerah lainnya menjadi mata kuliah di perguruan tinggi seni bergengsi. Langkah strategis ini sebagai upaya promosi musik Lampung ke seantero nusantara, bahkan dunia, sekaligus sebagai salah satu media pelestarian," imbuh Moccoh.

Sumber: Antara, Selasa, 25 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment