December 3, 2015

Bambu sebagai Ikon Wisata

Oleh Eko Sugiarto


AKHIR Minggu lalu, sebuah festival nasional digelar di Kabupaten Pringsewu. Festival yang digelar untuk mengapresiasi para seniman bambu ini diberi nama Festival Bambu Nusantara (FBN). Festival tahun ini adalah yang kesembilan. Tahun sebelumnya, festival ini juga digelar di Pringsewu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu definisi festival adalah “pesta rakyat”. Merujuk pada pengertian ini, sebuah festival seyogianya adalah sebuah pesta yang digelar oleh dan untuk (dinikmati) rakyat atau orang kebanyakan. Dengan kata lain, jika ada sebuah acara menggunakan kata “festival” tetapi tidak bisa (baca: sulit) diakses oleh orang kebanyakan, kita patut bertanya apakah masih pantas acara tersebut disebut sebagai festival?


Festival menyimpan potensi wisata luar biasa yang jika dikembangkan bisa menyedot banyak pengunjung. Hal ini cukup beralasan mengingat sebuah festival bisa diakses oleh orang kebanyakan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di daerah tertentu festival menjadi sebuah acara yang ditunggu-tunggu. Festival Krakatau (Lampung), Festival Kasada (Jatim), Festival Budaya Dieng (Jateng), dan Festival Danau Kelimutu (NTT) adalah beberapa di antaranya.

Pringsewu dipilih (kembali) sebagai lokasi FBN Ke-9 tentu sudah dengan berbagai pertimbangan. Apa pun pertimbangan itu, satu hal yang pasti adalah Kabupaten Pringsewu kembali muncul ke permukaan. FBN Ke-9 telah menjadi salah satu media promosi bagi kabupaten ini di tingkat nasional, khususnya di sektor pariwisata.

Kesempatan yang diberikan kepada Kabupaten “Seribu Bambu” ini untuk menjadi tuan rumah adalah sesuatu yang istimewa karena tidak diberikan kepada (atau didapat oleh) daerah/kabupaten lain. Sebuah kesempatan untuk menunjukkan berbagai potensi wisata yang dimiliki kepada daerah lain baik lewat peserta yang datang ke festival maupun melalui pemberitaan di media massa, terlepas dari apakah kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya atau justru dibiarkan berlalu begitu saja.

Satu harapan muncul dari FBN Ke-9, yaitu mengangkat Pringsewu sebagai tujuan wisata bambu Indonesia. Hal ini disampaikan oleh beberapa pihak kepada berbagai media. Namun, para pemangku kepentingan sektor pariwisata di Kabupaten Pringsewu tidak usah terlena dengan pernyataan semacam itu. Tanpa aksi nyata seluruh pemangku kepentingan bersama berbagai elemen masyarakat di Pringsewu, harapan itu bakal tinggal jadi harapan. Jika ingin harapan itu menjadi kenyataan, kata kuncinya (sekali lagi) ada pada aksi nyata seluruh pemangku kepentingan bersama berbagai elemen masyarakat. Kapan hal itu akan terwujud, ini hanya soal waktu.

Para pemangku kepentingan dan masyarakat Pringsewu mungkin bisa belajar dari Saung Angklung Udjo yang ada di Bandung. Saat ini Saung Angklung Udjo sudah menjadi tujuan wisata dengan aneka produk wisata yang ditawarkan kepada pengunjung. Selain menjadi pusat pendidikan budaya Sunda bagi masyarakat setempat, Saung Angklung Udjo juga menyajikan atraksi yang terkait dengan alat musik bambu, khususnya angklung, mulai dari pembuatan angklung sampai acara pertunjukan angklung yang bahkan melibatkan pengunjung. Selain itu, disediakan juga diorama terkait dengan budaya Sunda serta toko cendera mata khas.

Saung Angklung Udjo yang notabene dirintis oleh seniman perorangan saja bisa menjadi kebanggaan masyarakat Bandung, bahkan masyarakat Jawa Barat. Jika pemangku kepentingan bersama berbagai elemen masyarakat di Pringsewu mau belajar dari Saung Angklung Udjo dalam pengembangan wisata berbasis bambu, penulis yakin Kabupaten Pringsewu suatu saat bakal menjadi kebanggan Provinsi Lampung. Penulis yakin karena Pringsewu secara historis sangat dekat dengan bambu. Selain itu, Pringsewu yang terdiri atas berbagai suku (Lampung, Sunda, Jawa) memiliki potensi budaya yang relatif beragam.

Sekali lagi, jika seluruh pemangku kepentingan bersama berbagai elemen masyarakat di Pringsewu bisa bersinergi dan bahu-membahu untuk bersama-sama memajukan wisata berbasis bambu, menjadikan bambu sebagai ikon wisata Kabupaten Pringsewu tentu bukan sesuatu yang mustahil. Saat ini yang diperlukan adalah aksi nyata karena potensi sudah ada.

Eko Sugiarto, Lulusan Magister Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber: Fajar Sumatera, Kamis, 3 Desember 2015




2 comments: