June 12, 2015

[Cerita Kenangan] Tentang Wartawan dan Seniman Itu...

Oleh Anton Bahtiar Rifa'i


Beberapa aktivis Surat Kabar Mahasiswa Teknokra 1990-an.
Dari ke kanan (depan): Udo Z Karzi dan Anton Bahtiar Rifa'i
(belakang): Ari Wahyu, Affan Zaldi Erya, Mohammad Ridwan.
“SENIMAN gagal adalah manusia yang cocok jadi wartawan.” Ucapan itu muncul dalam perbincangan saya dengan Udo Z Karzi, suatu hari, di Bandar Lampung, belasan tahun lalu.

Tentu, bukan “seniman gagal” dalam arti sesungguhnya, yang kami maksud. Kami cuma meyakini: untuk jadi wartawan, dibutuhkan keindahan merangkai kata ala seniman, tapi tetap menghadirkan rasionalitas yang terang benderang –tidak segelap karya seniman. Itulah yang kami maksud dengan “seniman gagal” atau setengah seniman.


Saat itu, saya dan Udo Z Karzi masih aktif sebagai wartawan kampus. Sekali-kali kami juga menulis puisi yang dimuat di media lokal. Setelah menjadi wartawan di pers umum kami tetap mencintai seni, terutama karya sastra. Tapi Udo bergerak lebih jauh: ia benar-benar menjadi seniman. Tentu bukan seniman gagal, tapi seniman dalam arti sesungguhnya.

Ia menulis puisi dalam bentuk antologi. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Dan yang lebih hebat, lelaki yang bernama lengkap Zulkarnain Zubairi itu menjadi pelopor kesusastraan Bahasa Lampung, lewat buku-buku yang diterbitkannya.

Saya selalu mengagumi orang yang bisa berbagi peran sebagai jurnalis dan seniman. Suatu hari, saat sajak-sajak Udo Z Karzi dimuat di sebuah media nasional, saya memberi ucapan selamat, seraya berkomentar, “Wartawan memang harus menulis puisi, supaya nuraninya tetap peka dan terasah.”

Dan hari ini, kawan saya ini berulang tahun. Tentu saya berdoa, semoga kesehatan dan kebahgiaan selalu menyertai hidupnya. Selamat ulang tahun, Udo Z. Karzi.


Sumber: https://www.facebook.com/antonbr, 12 Juni 2015

No comments:

Post a Comment