September 1, 2013

Djadjat Sudradjat Ajak Lampung Bersatu

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Akademisi harus memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang terjadi dalam masyarakat. Salah satunya mencari solusi terbaik terkait konflik horizontal yang terjadi berulang-ulang di Lampung, beberapa waktu terakhir.

Hal itu dikatakan Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat saat memberi orasi ilmiah di hadapan ratusan mahasiswa Pascasarjana Universitas Lampung (Unila) di Gedung Serbaguna (GSG) perguruan tinggi itu, Sabtu (31-8).


Orasi Djadjat mengusung tema Konflik memisahkan, pers menginformasikan, budaya menyatukan. "Sudah saatnya Lampung bersatu dan membangun fondasi yang kuat dalam tatanan masyarakatnya," kata dia.

Lampung terdiri dari multietnis dan multikultur. Dengan kondisi itu, justru terjadi konflik horizontal, seperti masalah Register 45 di Mesuji, konflik warga Desa Napal-Kotadalam dan Balinuraga-Sidoreno di Lampung Selatan.

Hal itu menjadi bukti ikatan sosial masyarakat pendatang dengan penduduk lokal sangat rapuh. "Konflik laten sering berkembang menjadi konflik manifes," kata Djadjat.

Di tatanan masyarakat lokal, polemik belum juga selesai. Meski sudah mempunyai bahasa dan aksara sendiri, mereka masih dalam pencarian diri yang belum kunjung selesai.

Adanya masyarakat adat Saibatin dan Pepadun, dengan dialek A, O, dan E, serta terdiri dari 84 marga, sampai kini masih belum memiliki kesepakatan bersama. "Nyaris tidak ada lembaga adat yang mendapat pengakuan bersama," ujarnya.

Menurutnya, untuk menciptakan harmoni sosial dan membangun kohesi sosial yang kokoh di Lampung harus dimulai dari menyelesaikan masalah kelampungan terlebih dulu. Djadjat menyarankan Unila untuk membuka fakultas ilmu budaya karena Lampung multikultur, termasuk membuka kembali jurusan bahasa dan sastra Lampung.

Direktur Pascasarjana Unila Sudjarwo dalam sambutannya pada acara itu mengatakan program yang dikelolanya itu berupaya mendekatkan kondisi riil yang terjadi di masyarakat dengan para mahasiswanya. Agar mahasiswa sebagai agen perubahan bisa memanfaatkan ilmunya untuk memberi perubahan yang lebih baik di tengah dinamika sosial.

"Salah satu unsur yang bisa memaparkan kondisi riil di masyarakat adalah pers. Itulah kami meminta praktisi pers yang mumpuni memberi orasi," kata dia. (IMA/U1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 1 September 2013


No comments:

Post a Comment