September 19, 2013

[Fokus] Spirit Krakatau dan Sejarah yang Terabaikan

SEBUTLAH Krakatau, yang segera terbayang adalah sebuah kekuatan mahadahsyat. Mungkin karena ingin mengambil spirit Krakatau, yang diselenggarakan Pemprov Lampung mengambil nama Festival Krakatau.

Namun, yang terjadi besar nama tapi kosong isi. "Festival Krakatau telah kehilangan ruh. Kalau FK mau membumi, tidak bisa tidak spirit Krakatau harus dikembalikan. Event ini harus punya daya ledak yang mampu menghentak dan memukau banyak orang. Jangan elitis," kata mantan Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Syaiful Irba Tanpaka.


Ya, kita harusnya tidak abai dengan sejarah. Krakatau adalah sejarah yang melahirkan peradaban baru. Dua abad lebih, tepatnya 26?27 Agustus 1883 Gunung Krakatau. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36 ribu jiwa. Sampai sebelum 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia.

Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia, dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 km. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30 ribu kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Selat Sunda
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru, dan Gunung Katmal di Alaska. Namun, gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sangat sedikit.

Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian, dapat dikatakan saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Apa yang patut dikenang dari letusan Gunung Krakatau? Festival Krakatau jauh dari tendensi itu. Malahan, dalam banyak hal festival dan penyelenggaranya cenderung abai dengan hal-hal penting.

Sastrawan Arman A.Z. (2013), dalam sebuah tulisannya, menyebutkan kapal uap Berouw berselancar di atas tsunami Krakatau lalu nyungsep di sekitar Sumurputri atau Kaliakar di Telukbetung. Banyak asumsi sejak 1980-an tidak ada lagi peninggalan kapal itu karena telah dipreteli. Sebenarnya, masih ada yang tersisa dari Berouw, yaitu semacam tuas.

Benda berat ini terongok di tanah milik penduduk; untuk menuju ke sana hanya bisa dilalui sepeda motor. Bisa juga menyeberangi sungai kecil di belakang kantor PDAM Telukbetung. Menurut pemilik lahan tempat tuas itu berada, sekian kali FK diadakan, belum pernah ada rombongan pejabat plus turis melihat langsung benda itu. Nasib tuas itu menjadi ironi.

Letusan Krakatau juga melahirkan karya-karya fotografi dan literasi. Di antara karya itu ada Syair Lampung Karam yang ditulis Muhammad Saleh, puisi berjudul St. Telemachus dibuat Alfred Tennyson, penyair Eropa yang terinspirasi dari perubahan atmosfer dan iklim di Eropa setelah Krakatau meletus, dan masih banyak lagi buku yang membahas Krakatau.

Kesadaran Sejarah

Sebuah festival sejatinya bukan sekadar seremoni. Ia harus bisa menjadi sarana hiburan, pendidikan, sekaligus juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Sastrawan Asaroedin Malik Zulqornain menuturkan bagaimana banyaknya pemuda Lampung berkumpul di halaman kantor gubernur, halaman Masjid Agung di depan kantor Wali Kota Bandar Lampung. Kondisi ini menandakan masyarakat Lampung haus hiburan.

Karena itu, kata Zulqornain, acara FK dituntut menyentuh masyarakat kalangan bawah.

Sebagai sarana pendidikan, menurut Syaiful Irba Tanpaka, Pemprov Lampung sebagai penyelenggara festival seharusnya memikirkan segi-segi kesejarahan. Misalnya, upaya perintisan Museum Krakatau (yang dalam kenyataannya ternyata keberadaan museum ini sudah diresmikan di Provinsi Banten), Museum Tapis, dan penyelenggaraan seminar internasional tentang Krakatau.

Tapi, masalahnya, kata Zulqornain, jangankan membuat Museum Krakatau, gedung kesenian dan pasar seni saja tak rampung-rampung.

Isbedy Stiawan Z.S. mengusulkan lebih baik FK ditiadakan dulu dua?tiga tahun. "Daripada dihambur-hamburkan untuk festival yang tak jelas juntrungannya, lebih baik dananya digunakan untuk memperbaiki akses ke objek wisata, memelihara cagar budaya, dan memberdayakan kampung tua," kata Paus Sastra Lampung ini.

Ia menyebutkan perkampungan tua Pagardewa di Tulangbawang Barat, Gunung Pesagi di Lampung Barat, Pantai Marina di Lampung Selatan, Telukkiluan di Tanggamus, dan berbagai situs purbakala yang tersebar di berbagai tempat di Lampung. Lokasi-lokasi bersejarah bisa menjadi wahana wisata sejarah dan juga wisata religi.

Objek wisata Lampung itu sebenarnya bagus-bagus, tetapi akses ke tempat tersebut yang masih sulit. "Saya tak habis pikir kenapa jalan ke lokasi wisata tak diperbaiki. Saya pernah ke Desa Wana, desa wisata itu seperti tidak terurus. Ada beberapa rumah panggung tua yang hampir rubuh tetapi tak mendapat bantuan dari pemerintah daerah," kata dia.

Isbedy melihat Sumatera Barat lebih maju dalam soal pelestarian rumah adat. Pemda mendorong masyarakat menjaga rumah adat, sejalan dengan itu, Pemdanya memberikan bantuan bagi pemeliharaan rumah-rumah adat tersebut.

Kalau di Lampung, kata dia, rumah adat mau rubuh sekalipun, Pemdanya tidak punya kepedulian. Tak ada anggaran untuk itu.

Penyair Panji Utama menuding Pemdalah yang mengecilkan kesejarahan dan kebudayaan Lampung. ?Kita ini mak pandai mencari problem dan solusi di Festifal Krakatau. Apa yang mau diambil (goal) dari festival krakatau tak pernah jelas. Jika ada festival di Hongkong yang fokus pada pengelolaan seni rupa,? ujarnya.

Panji mengaku meskipun baru sekali datang ke Hongkong, e-mail untuk mengajaknya datang lagi ke Hongkong terus masuk ke inbox-nya hingga enam tahun belakangan ini. Ia menilai manajamen budaya di Hongkong sudah baik, begitu pula dengan promosinya.

?Dengan festival-festifal domba di Garut pun kita kalah. Di sana pemangku kepentingan terlibat dan sejahtera. Enggak penting mendatangkan duta besar,? kata Panji.

Teguh Prasetyo, dari Lampung Haritage, mengatakan kalau Festival Krakatau tidak menyentuh masayarakat padahal potensi ke arah itu ada. Ia mencontohkan beberapa tahun sebelumnya ada acara yang melibatkan masyarakat luas, seperti Pesta Topeng Sekura dan Napak Tilas Krakatau.

Karlina Lin, seorang pengamat budaya sosial, menilai akses jalan yang terus harus diperbaiki hingga menjadikan tempat wisata di Lampung bisa terakses dengan waktu cepat. ?Orang luar negeri lebih menyukai transportasi massal layaknya busway di Jakarta,? ujar wanita yang aktif di AJI Lampung ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lampung Masri Yahya mengapresiasi masukan dan ide sastrawan dan pemerhati budaya di Lampung. "Kita memang mak pandai, tapi harapan untuk Lampung harus tetap ada," kata Masri. Semoga kalau begitu. (DIAN WAHYU/P1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 19 September 2013

No comments:

Post a Comment