December 7, 2009

Pemda Kurang Serius Kembangkan Sastra Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Lampung masih kurang berkomitmen mengembangkan bahasa dan sastra Lampung.

SASTRA LAMPUNG. Buku-buku sastra (berbahasa) Lampung yang diterbitkan BE Press, Bandar Lampung (LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMALA)

Penilaian tersebut disampaikan Direktur BE Press Y. Wibowo, Senin (08-12). BE Press merupakan penerbit karya sastra berbahasa Lampung Mak Dawah Mak Dibingi (2007) yang berhasil meraih Hadiah Sastra Rancage 2008.

Ia dihubungi Lampung Post terkait terbitnya dua buku sastra berbahasa Lampung. "Kami telah menyiapkan kado akhir tahun bagi perkembangan sastra dan budaya Lampung. Dua buku sastra Lampung kita terbitkan," kata dia.

Y. Wibowo menjelaskan dua buku itu adalah kumpulan sajak Oky Sanjaya berjudul Di Lawok, Nyak Nelepon Pelabuhan dan kumpulan cerita buntak (pendek) karya Asarpin Aslami bertitel Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuang.

"Kedua buku ini akan menjadi nominasi karya sastra berbahasa daerah yang akan diikutsertakan dalam Rancage Award tahun 2010 di Bandung. Kedua buku ini juga diharapkan akan mengisi kekosongan buku sastra berbahasa Lampung yang terjadi dalam dua tahun terakhir," kata dia.

Menurut Wibowo, setelah Mak Dawah Mak Dibingi, praktis tak ada naskah yang masuk untuk diseleksi dan diterbitkan BE Press. Namun, tahun 2009 empat buah naskah akhirnya masuk ke meja redaksi untuk kemudian diseleksi dan diterbitkan.

"Tim seleksi diketuai Udo Z. Karzi. Redaksi BE Press memilihkan naskah berdasarkan aspek nilai sastra dan budaya serta aspek kebahasaan," kata dia.

Menjadi Tantangan

Wibowo yang juga penyair ini mengakui, pengalamannya menerbitkan buku berbahasa ibu di Provinsi Lampung menjadi kerja yang cukup menantang. Apalagi respons dan apresiasi masyarakatnya masih minim. Komitmen pemerintah daerah dalam pelestarian sastra dan budaya juga jauh dari kata memuaskan.

"Beberapa waktu lalu kami telah beberapa kali melakuan audiensi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung terkait rencana memasukkan sastra dan budaya sebagai muatan lokal bahasa Lampung," kata dia.

Namun sayangnya, menurut dia, hingga kini usulan tersebut tidak mendapat respons dari Dinas Pendidikan. Padahal, untuk melestarikan sastra dan budaya Lampung yang efektif adalah melalui jalur pendidikan.

Y. Wibowo berpendapat dengan masuknya bahasa Lampung sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah, buku sastra berbahasa Lampung diharapkan menjadi bahan bacaan bahasa Lampung bagi siswa yang hingga kini terasa masih sangat minim.

"Pemerintah provinsi telah mewujudkan komitmennya dengan menerbitkan perda mengenai kewajiban daerah untuk melestarikan bahasa dan budaya Lampung. Namun, perda tersebut tidak ditindaklanjuti dengan tindakan dan kerja-kerja nyata," kata dia. n MG14/S-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 8 Desember 2009

8 comments:

  1. bukunya ada di gramedia tak???

    ReplyDelete
  2. di gramedia lampung mas.

    ReplyDelete
  3. Tabik Pun....apakah BE Press sebagai satu-satunya penerbit buku berbahasa lampung? Apakah hanya terbitan BE Press yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti ajang Rancage Award? kemudian untuk naskah yang masuk ke BE Press, tehnisnya bagaimana, apakah naskah yang diseleksi hanya dari kalangan sendiri, atau menerima naskah dari masyarakat umum? terima kasih atas tanggapannya.

    ReplyDelete
  4. >>Astaga! Berarti berita-berita tentang bahasa, sastra dan budaya Lampung selama ini tidak sampai ke mana-mana. Tidak pernah dilarang penerbit mana pun menerbitkan buku berbahasa Lampung. Tidak pernah ada ucapan yang mengatakan hanya buku-buku BE Press yang memenuhi persyaratan untuk diikutkan Rancage. Kalau punya naskah silakan aja kirim ke BE Press.

    Tapi, kami lebih bergembira kalau naskah itu diterbitkan sendiri untuk menghindari kesan bahwa hanya BE Press yang boleh menerbitkan buku berbahasa Lampung dan hanya BE Press yang memenuhi persyaratan ikut Rancage.

    Kami sudah terlalu lama berkeluh-kesah soal sepinya terbitan buku berbahasa Lampung. Kami akan sangat apresiasi kalau ada pihak yang hendak menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung.

    Sampai hari ini -- setidaknya dalam pantauan kami -- baru ada empat buku sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan sejak tahun 2002.

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  5. Sekali lagi saya minta maaf, mungkin seharusnya setelah kata ''tabik pun'' pertanyaan saya di atas didahului kata ''nanya dong'' atau ''boleh nanya tidak'' agar lebih sopan dan tidak diartikan yang bukan-bukan(ini hanya masalah bahasa saja), karena sesungguhnya dari hati yang paling dalam itu murni pertanyaan. Jujur saja kalau masalah akses informasi, bagi kami yang tinggal jauh di luar kota memang sangat minim akses, maka ketika saya membuka ''ulun lampung'' yang meskipun hanya ''memungut dari yang terserak'' dan walaupun sedikit terlambat saya menemukannya, itu merupakan informasi yang sangat berarti bagi saya, dan mungkin juga bagi minak muwakhi yang lain, karena menurut saya, apapun yang berhubungan dengan budaya lampung terlebih lagi sastra dan bahasa lampung, maka yang jadi sasaran ''bidik'' adalah pakhwatin(masyarakat) pekkon/tiyuh/aneq/kampung, yang tidak hanya sebagai ''tambang galian'' tetapi juga dituntut peran aktifnya dalam pelestarian bahasa lampung, dan hal ini hanya akan terjadi jika tersedia akses informasi yang seluas-luasnya bagi masyarakat lampung. Kesekian kalinya saya minta maaf atas kesilapan saya, mencintai lampung akan terasa lebih indah jika diliputi suasana ''sejuk'' dan tanpa ''perang dingin'' (semoga tidak terjadi) amin.

    ReplyDelete
  6. >>guwaYBettik: Maaf benar kalau begitu. http://ulun.lampunggech.com hanyalah sebuah upaya dokumentasi tentang manusia Lampung. Ini pun boleh dibilang sangat terlambat. Usia blog ini baru kurang dari tiga tahun. Sumbernya pun kebanyakan dari Lampung Post. Itu karena keterbatasan kami. Setiap postingan kami kategorikan dalam beberapa "rubrik". Semua berkaitan dengan Lampung dan Kelampungan. Per 25 Desember 2009, setidaknya ada 21 berita/artikel soal adat, 104 bahasa, 73 Buku, 189 Sastra, .... dst selengkapnya di data rubrik sebelah kiri halaman blog ini.
    Ada juga polemik (perang kata) mengenai topik-topik tertentu dalam blog ini. Silakan nikmati. Nama "Udo Z. Karzi" yang tercantum di bawah judul setiap postingan hanyalah pengumpul saja. Sesekali menulis... Trims.

    ReplyDelete
  7. Senang sekali bisa dapat banyak info tentang lampung lewat blog ini, semoga pemerintah lebih perduli dengan berbagai perkembangan yang mengangkat nama Lampung. omong2 buku sastra lampung tersebut cuma bisa dibeli langsung ya? dan hanya gramedia lampung?apakah bisa on line? thanks infonya.

    ReplyDelete
  8. Anonymous3:11 AM

    wah wat buku na mamak oky...

    ReplyDelete