January 12, 2014

[Lampung Tumbai] Kulihat Lampung di Balik Ombak

Oleh Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda


PP Roorda van Eysinga
(http://peeters429.wordpress.com)
DOKUMENTASI berbahasa Belanda yang ditulis mengenai nusantara pada abad-abad lalu banyak berupa  arsip, dokumen dan laporan pemerintahan, keagamaan atau instansi lainnya. Selain itu, juga ada dokumentasi berupa catatan perjalanan, buku harian, korespondensi pribadi, dan karya-karya fiksi.

Keempat sumber terakhir itu  merupakan sumber data sejarah sosial-budaya yang paling kusukai karena biasanya berisi gambaran mengenai rakyat biasa dan kehidupan sehari-hari.

Seorang lelaki Belanda yang menulis tentang Lampung adalah P.P. Roorda van Eysinga. Ayahnya, Sicco Ernst Willem Roorda van Eysinga, adalah anak pendeta yang lahir di Batavia pada tahun 1825.

Pada usia 15 tahun, Sicco—yang namanya lebih dikenal—dikirim orang tuanya untuk belajar di Akademi Militer Kerajaan Belanda. Begitu pendidikan itu selesai, ia segera kembali ke nusantara sebagai perwira angkatan darat KNIL selama 11 tahun. Setelah itu ia bekerja sebagai insinyur pada Jawatan Kereta Api dan Perairan Hindia-Belanda.

Pengalamannya membangun kanal dan bekerja sama serta berinteraksi dengan para kuli dan penduduk setempat menyadarkannya betapa nestapa situasi hidup inlander pada masa itu.

Kegundahan Sicco melihat kehidupan pribumi nusantara dituangkannya dalam sajak berjudul Vloekzang, de Laatste Dag der Hollanders op Java (Senandung Kutukan, Hari Terakhir Orang Belanda di Jawa).
Puisi ini (ditulis dengan nama pena: Sentot) pedas mengkritik Pemerintah Hindia-Belanda dan dimuat sebagai catatan kaki oleh Multatuli di dalam buku Max Havelaar cetakan keempat  (1875). Memang, Sicco Roorda van Eysinga berteman baik dengan Multatuli. Surat-menyurat di antara keduanya kemudian diterbitkan menjadi buku tersendiri.

Pada 1864, ia dipecat, diusir ke Belanda dan menjadi persona non grata di seluruh wilayah Hindia-Belanda karena menulis tentang kasus korupsi seorang pembesar di Batavia. Dari pengasingannya di Eropa, ia terus menulis tentang masalah-masalah sosial-ekonomi rakyat di Jawa. Karena kegigihan dan perhatiannya, ia dianggap sebagai salah satu pionir gerakan perburuhan di Eropa.

Setelah S. Roorda van Eysinga meninggal dunia pada 1887, naskah catatan perjalanannya di Jawa, Sulawesi, dan Maluku dibukukan dengan judul Verschillende Reizen en Lotgevallen van S Roorda van Eysinga oleh kakak tirinya, Philippus Peter Roorda van Eysinga. Buku itu terdiri dari empat jilid yang masing-masing berisi sekitar 350-an halaman. Jilid terakhir berisi catatan perjalanan dan pengalaman P.P. Roorda van Eysinga sebagai sekretaris di Residensi Banten. Lelaki ini juga pernah menjadi kepala polisi di Palembang. Ia juga dikenal karena membuat kamus bahasa Melayu (Maleis Woordenboek).

Awal 1828, P.P. Roorda van Eysinga bersama istri, dua anak, dan ibu mertuanya meninggalkan Batavia menuju Serang. Mereka menumpang kereta kuda yang membawa barang-barang pos dari Batavia ke daerah Banten. Ayah mertuanya sudah berangkat lebih dahulu sambil membawa beberapa ekor kerbau. Untuk apa kerbau itu? Entahlah. Hal itu tidak diceritakan oleh P.P. Roorda van Eysinga.

Perjalanan yang kini dapat ditempuh dalam waktu beberapa jam saja ditempuh dalam tiga hari. Di beberapa tempat, penduduk desa-desa yang dilalui terpaksa beramai-ramai membantu kuda-kuda kereta itu—menarik dan mendorong—kendaraan itu keluar-masuk sungai. Sekitar 50 orang bahkan dikerahkan untuk menarik kereta kuda yang terbenam lumpur di kaki sebuah bukit! Akhirnya, mereka tiba di Anyer dan tinggal di sebuah rumah panggung dari kayu.

Jabatannya sebagai sekretaris Residensi Banten sesekali memberi kesempatan bagi P.P. Roorda van Eysinga untuk mengunjungi daerah-daerah lain di Banten: Anyer, Pulau Panjang, Pulau Panaitan, daerah Badui dan, Lampung.

Bila cuaca sedang baik, di kejauhan tampak Pulau Sumatera: Lampung yang alamnya kaya, tetapi tidak banyak dikenal orang. Dari tempatnya berdiri di Banten, Lampung hilang dan timbul disapu ombak. Daerah itu terbentang luas sampai ke perbatasan wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang.

Tak banyak yang tahu sejarah daerah Lampung. Sungguh aneh, menurut P.P. Roorda van Eysinga. Padahal alamnya yang kaya dan letaknya yang begitu dekat dengan Pulau Jawa seharusnya membuatnya lebih menarik perhatian. Yang diketahui hanyalah bahwa dahulu kala, Lampung berada di bawah kekuasaan Sultan Banten.

Pada 1777, Lampung, yang sebetulnya sudah menjauhkan diri dari kekuasaan Sultan Banten, kembali dikuasai sultan itu oleh campur tangan dan bantuan VOC. Pada 1800, seorang lelaki yang dikenal dengan nama Datuk Agus mendarat di Lampung. Ia memimpin sekelompok perompak laut yang ditakuti.

Di bawah kepemimpinan Datuk Agus, daerah Lampung terlepas dari belenggu Sultan Banten—yang tidak pula berusaha mempertahankannya. Lampung merupakan daerah yang menguntungkan bagi Sang Sultan selama ia memerlukan lada sebagai komoditas yang diperdagangkan ke Negeri Belanda dan Eropa.

Akan tetapi, peperangan di daratan Eropa menyebabkan terputusnya hubungan antara Pulau Jawa (nusantara) dan Negeri Belanda sehingga lada dari Lampung terpaksa ditumpuk begitu saja. Karena itulah, ia tenang-tenang saja ketika Datuk Agus mengambil alih kekuasaannya. n

Pustaka Acuan:
P.P.  Roorda van Eysinga. Beschouwing van den staat der nog weinig bekende Lampongs dalam Verschillende Reizen en Lotgevallen van S Roorda van Eysinga (Amsterdam: Johannes van der Hey & Zn. 1832).


Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Januari 2014

No comments:

Post a Comment