April 18, 2008

Khazanah Budaya: Kain Tapis Lampung Harus Segera Dipatenkan

Bandarlampung, 18/4 (ANTARA) - Kain Tapis khas Lampung, yang merupakan salah satu kekayaan seni budaya daerah setempat secara turun temurun, harus tetap dipelihara dan dilestarikan, serta perlu segera dipatenkan untuk melindunginya.

"Kain Tapis Lampung itu harus segera dipatenkan, agar tidak menjadi klaim daerah atau negara lain, seperti terjadi pada sejumlah kekayaan tradisi negara kita," kata jurubicara FKB DPRD Lampung, KH A Zuhri, pada paripurna penetapan sembilan Raperda menjadi Perda, termasuk Perda tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung, di Bandarlampung, Jumat (18/4).

Dalam rapat paripurna itu, FKB meminta Pemda Provinsi Lampung untuk lebih serius melakukan upaya pengembangan, perlindungan dan pelestarian kekayaan adat, tradisi dan seni budaya daerahnya.

"Karena itu, Kain Tapis Lampung harus dipatenkan untuk melindunginya," kata Zuhri.

Kain Tapis Lampung merupakan salah satu jenis kerajinan tradisional masyarakat Lampung dalam menyelaraskan kehidupannya, baik terhadap lingkungan maupun Sang Pencipta.

Proses pembentukan kain Tapis itu ditempuh melalui tahap-tahap waktu yang mengarah kepada kesempurnaan teknik tenunnya, maupun cara-cara pemberian ragam hias yang sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat.

Menurut beberapa ahli sejarah, orang Lampung telah menenun kain Brokat yang disebut Nampan (Tampan) dan kain Pelepai sejak abad kedua Masehi.

Motif kain itu ialah kait dan konci (Key and Rhomboid shape), serta pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal. Juga terdapat motif binatang, matahari, bulan serta bunga melati.

Dikenal juga tenun kain tapis yang bertingkat, disulam dengan benang sutera putih yang disebut Kain Tapis Inuh.

Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain.

Hal ini terlihat dari unsur-unsur pengaruh tradisi Neolithikum yang memang banyak ditemukan di Indonesia.

Masuknya agama Islam di Lampung, ternyata juga memperkaya perkembangan kerajinan tapis ini dengan memberi ide penggunaan motif hias pada kain kapal.

Ragam motif kapal pada kain kapal menunjukkan adanya keragaman bentuk dan konstruksi kapal yang digunakan.

Dalam perkembangannya, ternyata tidak semua suku Lampung menggunakan Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup.

Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas.

Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam.

Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun.

Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.

Di Museum "Ruwa Jurai" Provinsi Lampung disimpan sejumlah jenis dan motif kain Tapis Lampung yang telah berusia ratusan tahun.

Diperkirakan di kalangan masyarakat adat dan warga asli secara turun temurun masih menyimpan koleksi kain Tapis khas Lampung berusia ratusan tahun yang bernilai sejarah sangat tinggi itu.

Para kolektor benda seni dan budaya, termasuk dari luar negeri, kerapmengincar koleksi kain Tapis Lampung berusia tua untuk dibeli dengan harga sangat tinggi.

Hingga kini tradisi menenun kain Tapis masih berlanjut di sejumlah daerah di Lampung, bahkan telah berkembang menjadi kerajinan seni tenun tradisional yang bersifat komersial.

Sumber: Antara, 18 April 2008

Lingkungan: Pesisir Bandar Lampung Lebih Mudah Ditata

MAKASSAR (Lampost): Pembangunan dan penataan kawasan pesisir Bandar Lampung dinilai jauh lebih mudah dibandingkan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.

Revitalisasi Pantai Losari bukan tanpa hambatan, tetapi dengan semangat budaya malu sebagai kota kumuh dan berkomitmen "Selamatkan Losarita", penataan dapat dilaksanakan dengan baik.

Wartawan Lampung Post Lukman Hakim yang mengikuti kunjungan kerja Pemkot Bandar Lampung ke Makassar melaporkan, Kamis (17-4), pengembangan kawasan pesisir itu mengandalkan APBN dan APBD hingga terlaksana kegiatan Rp55 miliar dan komitmen dari PU Rp30 miliar. Saat ini, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) tidak lagi konsentrasi ke Makassar, tapi beralih ke penataan pesisir Bandar Lampung.

"Sekarang, kami ditanya masyarakat, mengapa sampai kini belum selesai. Jika tidak ada anggaran untuk menyelesaikan, masyarakat siap membantu pemkot dalam penataan kawasan Pantai Losari," kata konsultan penataan kawasan pesisir Pantai Losari, PT Dann Bintang Galarrancana, Dani Pomanto.

Pada 2002, saat pertama sosialisasi dilakukan, reklamasi Pantai Losari sempat tidak mendapat persetujuan banyak pihak. Bahkan, sejumlah media massa di Makassar menulis reklamasi Pantai Losari sama dengan menjual Makassar.

Hal itu lebih disebabkan penataan kawasan pesisir sangat minim sosialisasi. Untuk itu, dibutuhkan transpransi dalam penataan kawasan pesisir Bandar Lampung.

"Kami dituduh, dicurigai. Padahal, dalam mengantisipasi bencana, reklamasi merupakan salah satu solusi. Akibat dari reklamasi, berapa investasi muncul. Hasil survei Bank Indonesia (BI) Rp8,9 triliun, setelah dilakukan reklamasi penataan kawasan pesisir. Bahkan, pemerintah pusat pun memberikan dukungan," kata Dani.

Untuk itu, sangat dibutuhkan adanya peran serta media massa menyosialisasikan penataan kawasan pesisir yang semula hanya 1,1 hektare. "Jumlah penduduk semula hanya 4.400 KK. Sekarang kami membangun 2 unit rusunawa dengan 6 twin block. Pedagang kaki lima (PKL) di Pantai Losari dapat ditertibkan," kata dia.

Sehingga, penataan kawasan pesisir dilakukan menata tanpa menggusur. Yaitu, dengan melakukan reklamasi. "Alhamdulillah, di Bandar Lampung itu sudah mencanangkan penataan tanpa menggusur. Dan, kami sudah memiliki Perda RT/RW yang melegalkan reklamasi pantai. Akhirnya, persentase tahun 2006, tahun itu juga anggaran pembangunan rusunawa direalisasikan," kata dia.

Bahkan, setelah pantai Losari mampu ditata dengan indah, investasi di Makassar meningkat. "Penataan dan reklamasi yang hanya 1,1 hektare, justru menghasilkan investasi yang muncul, bahwa pemkot konsentrasi dalam penataan kota. Dan, mampu memberikan masukan PAD kepada Pemkot sebesar Rp36 miliar/tahun. Bahkan, Bakrie Group sudah menginvestasikan ratusan hektare reklamasi," kata Dani.

Sumber pembangunan Pantai Losari ada empat sumber. Pemerintah pusat, Pemkot, Pemda Provinsi, dan investor. Pemerintah pusat menangani kontruksi, Pemkot menangani timbunan, Pemprov menangani saluran tangkap. "Semua terfokus pada kawasan prioritas Pantai Losari yang dilengkapi dengan adanya payung hukum di segala tingkatan dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat," kata dia.

Asisten I Pemkot Bandar Lampung Amami Amila menjelaskan penataan kawasan pesisir sudah dilakukan sejak tahun 2006. Saat ini, sudah dalam tahap pembuatan masterplan dan detail engineering design (DED). Bahkan, Pemerintah Provinsi Lampung dan pemerintah pusat sudah sangat menyetujui pembangunan tersebut.

Penataan kawasan pesisir yang banyak penolakan masyarakat, akhirnya pun banyak yang mendukung, diperlukan adanya persamaan persepsi. Sehingga, komunikasi merupakan salah satu faktor dalam melaksanakan kebijakan pemerintah. "Untuk itu, kami mengajak teman-teman wartawan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam penataan kawasan pesisir," kata Amami.

Sehingga, infomasi kepada masyarakat tidak menjadi hambatan dan tantangan bagi penataan kawasan pesisir. "Justru, bagaimana membuat masyarakat menuntut agar penataan kawasan pesisir dapat cepat dilaksanakan dan dapat berhasil dengan baik sesuai dengan harapan masyarakat," kata dia. n KIM/K-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 18 April 2008

April 17, 2008

Opini: Taman Enggal, Taman Kota

-- Jauhari Zailani*

INI malam keempat. Ia bingsal tidak keruan. Jarum jam menunjuk angka dua, tapi mata masih terang, masih nanar. Guling sudah beberapa kali dipeluk dan dibanting. Di tempat tidur salah. Di kursi salah. Ia tidak ingin bed dan kursi menjadi kambing hitam. Sepeda, ia tahu persis ini menyangkut persoalan cinta, boleh jadi menjadi pi'il, harga diri. Jika keliru, ia akan kehilangan gadis idamannya.

Sabar ia menunggu jawaban dari sang buah hati. Tidaklah elok, jika ia menolak pinta Roro Jonggrang, dan ia ingat ketika gadis pujaannya mengajukan syarat: "Kakanda, sebagai gadis sungguh aku tersanjung. Di kawedanaan ini, banyak gadis cantik dan ningrat menanti pinangan Kakanda. Tapi izinkanlah saya gadis yang bodoh ini mengajukan syarat". Tidak sabar menunggu, sang Pangeran menyela. "Jangan ragu Adinda, silakan kemukakan apa syaratnya. Kalau harus menyeberang laut dan melintas gunung, kan suka hati kujalani. Kalau Adinda inginkan gunung atau pulau, pasti kubeli".

Dalam benak sang Pangeran, terpikir. Kian banyak permintaan, sang Putri akan menjeratnya. Tapi, ia ingin memastikan bahwa syarat itu bukan alasan untuk menolaknya. "...tapi, apakah syaratnya itu, Diajeng?"

Setelah menarik napas berkali-kali akhirnya sang Putri berkata "...Kakanda, maafkanlah patik, jika tidak elok pintaku. Kakanda, elok nian jika Lapangan Enggal dapat menjadi taman kota."

Bak disambar guntur di siang bolong, sang Pangeran terdiam mlongo. Pasalnya lapangan itulah yang menjadi modalnya. Jika sukses ruilslag, ia dapat membeli pulau atau pergi ke mana saja, ke mana sang Putri mau. Tapi menolak syarat itu, jelas mustahil. Tapi ingin mengetahui alasannya, "Kenapa taman?"

"Ya Kakanda, lapangan itu menyimpan kenangan bagi komunitas kita. Sejak empat keturunan, Lapangan Enggal menjadi bagian kita. Kita semua tidak bisa dipisahkan dengan lapangan itu. Kakek kita, lahir, tumbuh dan mati di sini. Dan sejak sono-nya memang dirancang sebagai ruang publik. Jika kita mengubah menjadi milik privat, bisnis, saya khawatir para leluhur menyebut kita sebagai pengkhianat. Bukankah kita selalu mengeluhkan macetnya lalu lintas, bukankah mal itu pasar, dan pasar identik dengan kemacetan?"

Sang Pangeran tidak bisa hanya mendengar, "Bukankah zaman telah berubah. Zaman kita dan anak-anak kita, mereka main di mal. Bersama mereka kita dapat main di mal yang akan segera dibangun dengan semua fasilitasnya".

Sang Putri tersenyum sabar mendengar argumen sang Pangeran. Kemudian ia meneruskan, "Iya Kakanda, kita lahir dan besar di kota ini. Sejak tahun delapan puluhan, supermaket muncul yang baru, mematikan yang lama. Supermarket Flora di Radin Intan, ia mati menyusul hadirnya King. Kehadiran Artomoro membunuh King, bahkan Queen. Dan Artomoro mati seiring hadirnya Moka."

Sembari tetap tersenyum, dia melanjutkan, "Kakanda, daya beli kita lemah sekali. Betapa tidak? Kini, kecuali Chandra, semua dimiliki orang Jakarta. Artinya uang kita tersedot ke Jakarta. Lengkap sudah derita rakyat Lampung. Sistem ekonomi kita, uang tersedot ke Jakarta. Orang kaya, pejabat kita kalau belanja ke Jakarta. Orang setengah kaya atau yang sok kaya belanja di supermarket. Linear banget kan, kalau menjamurnya mart itu mematikan pasar tradisional."

Mengubah Enggal menjadi ruang bisnis tidak saja menggerogoti ruang publik, tetapi juga menyakiti perasaan kolektif warga Lampung. GOR Saburai, menjadi tempat alternatif selain mal bagi anak-anak remaja karena di sana menjadi ajang kompetisi olahraga dan pentas seni. Pembangunan tidak berdimensi tunggal, ekonomi saja. Masih ada sisi lain; perspektif lingkungan, humanisme, budaya, sosial, dan memori kolektif orang Lampung. Kecuali kita menuruti nafsu hewani yang yang menggelegak buas pada dada pengusaha dan penguasa kita.

Sang Pangeran kini puyeng, antara cinta dan kekuasaan. Dia sadar sesadar-sadarnya, simbol kekuasaan yang melekat pada dirinya adalah daya tariknya. Sebagai anak demang, ia terlahir gagah nan rupawan. Seluruh fasilitas yang dimiliki eksekutif muda Jakarta ada padanya. Sudah lusinan ia tundukkan dara di kota dan desa hingga mancanegara. Tapi kini ia dibuat tak berkutik oleh gadis Enggal; Roro Jonggrang. Ego telah mendorongnya hingga ke jurang dilema. Dia tidak mungkin surut. Sebagai laki-laki ia pantang kalah. Tapi gimana caranya?

Mulailah ia gunakan otaknya hasil besutan Universitas London dan Melbourne. Mulailah ia menganalisis, tanganya mencatat dan memilah; pertama, bisnis saling memakan, rakyat kecil yang terjepit. Jadi, jika dibuat mal benarkah rakyat diuntungkan? Dua, birokrasi dan politisi lebih melayani kepentingan saudagar sehingga tak memihak rakyat kecil dan rakyat banyak. Jelas, Ki Demang, ayahnya, telah bersekongkol dengan pengusaha. Apa pun dalihnya. Tiga, tidak ada pihak yang dirugikan jika Lapangan Enggal dikembalikan ke pangkuan ibu pertiwi. Kemudian dia teringat, setiap event pameran bunga, selalu rame. Maka, inilah ide yang membuatnya cerah itu; Pameran Bunga.

Pameran Bunga


Setelah panitia dibentuk, iklan dipasang; di koran lokal dan nasional, televisi lokal dan televisi nasional, tidak lupa di internet. Pameran dan bursa bunga terbesar di Lampung. Berlangsung sepanjang 2008. Syarat mengikuti pemeran; harus mengikuti sepanjang tahun, setiap stan membuat taman sebagai pajangan dan contoh kembang yang dijual, setiap stan harus memadukan jenis tanaman keras dan tanaman hias. Ini yang terpenting; setiap stan tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus terintegrasi sedemikian rupa agar pengunjung merasa seperti di taman, bukan di pasar. Usai pameran, pohon dan kembang yang sudah ditanam menjadi milik panitia. Lokasi pameran; Lapangan Enggal, Bandar Lampung, Indonesia.

Pembukaan pameran soal mudah apalagi menjelang pilkada. Pagi itu, tanggal 5 Januari 2008, pameran dibuka ibu demang Lampung. Lapangan Enggal tumpah ruah. Peserta datang dari penjuru negeri. Kembang tidak kepalang elok variasi rupa, jenis, dan harganya. Karena menjelang pikada, pameran adalah ajang kampanye. Psikologi inilah yang dimanfaatkan sang Pangeran.

Pameran dibuka sang Ibunda Nyi Demang. Pas betul karena Ki Demang ingin bertarung dalam pilkada. Dalam sambutanya Nyi Demang menyatakan, "...Pameran ini diadakan anak-anak muda yang peduli dengan keindahan. Ketika mereka menghadap saya, saya sambut dengan sukacita ide yang luar biasa ini. (gayanya kampanye) Karena sesuai dengan program Pak Demang, sebagai pemimpin yang berpihak pada pengusaha kecil, dan peduli pada keindahan kota."

"Melalui pameran ini, kami mendukung ide sang Pangeran, bahwa pameran bunga ini akan berlangsung sepanjang tahun, bahkan saya punya usul, kenapa tidak sepanjang massa? Setelah menggeser kacamatanya yang aduhai, ia menarik napas dan melanjutkan lagi, bahkan saya setuju sekali jika lapangan ini menjadi taman kota."

Maka, gemuruhlah tepuk tangan hadirin, tanpa menyimak apa yang diucapkan Nyi Demang. Pak Demang dan tim suksesnya senyum simpul. Meski mukanya saling pandang penuh tanda tanya.

Peserta dan pengunjung datang dari berbagai negara dan daerah. Pameran berlangsung aman, preman tidak berani bertingkah karena tidak mau berurusan dengan sang Pangeran yang terkenal pemurah dan terlebih lagi sebagai ketua organisasi pemuda. Anggotanya mengamankan stan dengan baju loreng dan aksesorinya, khas paramiliter. Bahkan, aparat keamanan pun dikerahkan.

Hari-hari selanjutnya, sepanjang hari Taman Enggal menjadi tempat pertemuan yang nyaman bagi segala orang dari semua lapisan. Kaya, miskin, tua, muda. Apalagi hari Minggu dan hari libur. Gedung olahraga, di sebelahnya, bukan saja untuk olahraga, melainkan berbagai pertunjukan kesenian berkembang marak dan semarak. Olahraga Lampung pun maju.

Pagi-pagi sekali, pada 21 April 2008, rombongan ibu-ibu berkebaya berkumpul, mereka merayakan Hari Kartini di lapangan eh di Taman Enggal. Setelah kumpul hingga ribuan orang, mereka bergerak menuju gedung PKK ingin menyaksikan perkawinan agung abad XXI, perkawinan Putri Roro Jonggrang dengan Pangeran, Putra Ki Demang. Apa emas kawinnya? Dengan mantap Pangeran menjawab, "Taman Enggal sebagai maharnya."

Sejak itu, Enggal menjadi taman kota. Semua senang, dan bahagia. Selamat menempuh hidup baru.

* Jauhari Zailani, Dosen UBL, Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Rabu, 16 April 2008

April 14, 2008

Duta Bahasa: Pendaftaran Masih Buka

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kantor Bahasa Provinsi Lampung masih menerima pendaftaran peserta Pemilihan Duta Bahasa tingkat Provinsi Lampung yang rencananya digelar Mei mendatang. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut Tahun Bahasa 2008.

Ketua Panitia Kegiatan, Bambang Kartono, Minggu (13-4), mengatakan pihaknya masih menerima pendaftaran peserta. Kegiatan ini pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya dan hasilnya telah dikirimkan mewakili Lampung berlomba di tingkat nasional.

"Di ajang Pemilihan Duta Bahasa tahun 2006 tingkat nasional yang diikuti seluruh provinsi di Indonesia, perwakilan Provinsi Lampung menjadi pemenang II," kata Bambang.

Untuk itulah, menurut Bambang, kegiatan yang bertujuan mendapatkan generasi-generasi muda yang tangguh di bidang kebahasaan sekaligus sebagai ajang pengenalan budaya Lampung di tingkat nasional ini kembali digelar. Kegiatan ini hampir serupa dengan ajang-ajang pengembangan bakat remaja seperti muli-mekhanai yang diselenggarakan Provinsi Lampung.

Bambang menambahkan bagi yang terpilih berkesempatan menjadi ikon dan mitra kerja Kantor Bahasa Provinsi Lampung selama setahun. Selain itu, mereka menjadi wakil Provinsi Lampung pada pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional di Pusat Bahasa Jakarta. Apabila memenangkan ajang di tingkat nasional, pemenang akan menjadi ikon dan mitra kerja Pusat Bahasa Jakarta selama setahun.

Pendaftaran peserta dibuka pada 1 April 2008 dan akan berakhir pada 9 Mei 2008. Tempat pendaftaran di Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Persyaratan yang dikenakan di antaranya menguasai bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa Lampung secara proporsional, dan berusia antara 17 dan 25 tahun.

"Mereka wajib menyertakan fotokopi KTP atau kartu identitas lain, foto close up, serta memiliki wawasan budaya Lampung yang memadai," tambah dia.

Peserta yang akan mengikuti seleksi di bidang kebahasaan akan dilaksanakan pada 13 Mei 2008. Jenis tes yang akan diberikan berupa tes tertulis uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI), bahasa asing, dan bahasa Lampung.

"Berdasar pada tes inilah nantinya terpilih 30 peserta terdiri dari putra dan putri yang nantinya masuk babak akhir pada 28 Mei 2008," ujarnya. n TYO/K-2 

Sumber: Lampung Post, Senin, 14 April 2008

April 13, 2008

Wisata Bahari di Lampung

OBJEK wisata bahari di Lampung tersebar mulai dari Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Tanggamus, hingga ke Kabupaten Lampung Barat.

Salah satu objek wisata yang kini sangat digandrungi oleh wisatawan mancanegara adalah Pantai Tanjung Setia yang terletak di Pekon (Desa) Bumi Agung, Kecamatan Biha Kabupaten, Lampung Barat. Lokasi itu berjarak sekitar 273 km dari Kota Bandar Lampung. Pantai Tanjung Setia sangat diminati turis asing, terutama bagi mereka yang memiliki hobi berselancar. Biasanya pada Mei hingga Agustus ketinggian ombaknya bisa mencapai 7 meter.

Karena melihat begitu banyaknya turis asing yang datang, Pemkab Lampung Barat kini sudah membangun sarana jalan yang dilapisi batu koral sehingga memudahkan pengunjung mendatangi lokasi. Terdapat pula tempat penginapan dan sudah berdiri dua guest house di Karangimbor.

Sebagian besar turis asing yang datang berasal dari Australia dan Amerika Serikat. Karena ombaknya tinggi dan panjang, wisatawan betah berlama-lama tinggal di sini. Rata-rata mereka tinggal satu hingga dua minggu.

Berdasarkan data yang ada, pada 2005, sebanyak 250 wisatawan asing berkunjung ke Tanjung Setia. Mereka berasal dari Australia dan Amerika Serikat. Ada juga yang berasal dari Prancis, Italia, dan negara Eropa lainnya.

Guntur, salah seorang pemandu wisata, mengatakan para turis tersebut mengagumi ombak Pantai Tanjung Setia yang begitu menantang dan mengasyikkan untuk berselancar jika dibandingkan dengan ombak di Pantai Nias. Tapi, Tanjung Setia belum begitu dikenal sehingga jika bosan ke Bali, wisatawan masih memilih Nias.

Oleh karena itu, dia berharap Pemkab Lampung Barat meningkatkan promosi Tanjung Setia, termasuk melengkapi sarana dan prasarananya.

''Selama ini kami tahu mengenai Tanjung Setia lebih banyak dari mulut ke mulut,'' ujarnya.

Pantai Tembakak

Bagi pengunjung yang tidak ingin berselancar di Lampung Barat, terdapat pantai dengan hamparan pasir putih dan bentangan laut membiru yakni Pantai Tembakak di Kecamatan Karya Punggawa. Ombak besar tidak henti menyisir pasir-pasir di pantai itu, seperti tidak sabar mengajak pengunjung bermain-main.

Pantai putih dengan laut biru yang terlihat dari pinggir jalan sungguh menarik. Sementara itu, di kejauhan terlihat Pulau Pisang nan hijau yang terlihat begitu kecil. Di sini juga terdapat sebuah pantai dengan batu-batu hitam berukuran besar.

Di Pantai Tembakak, warga setempat juga mengumpulkan batu hitam yang biasa digunakan untuk hiasan taman ataupun bangunan. Pantai Tembakak adalah satu-satunya pantai yang memiliki batu hitam di Indonesia.

Lampung Post/Zukri Fahmi


Selain panorama pantai, ternyata alam di Kabupaten Lampung Barat sangat mengasyikkan dijadikan arena untuk olahraga paralayang.

Menurut Anwar Soerya, penerbang yang memiliki sertifikasi internasional, Lampung Barat sangat layak dan potensial jika dikembangkan kegiatan paralayang sebagai pendukung pariwisata. Apalagi dengan karakteristik wilayah dan topografi tanah yang didominasi perbukitan dan view yang sangat indah, seperti Danau Ranau di Pekon Lumbok dan daerah pesisir. ''Pantai Lampung Barat ini sangat fantastik sekali jika parayalang terus dikembangkan,'' ujarnya.

Ketua Klub Paralayang Lampung Barat Abdul Rosyid mengatakan saat ini pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan paralayang. Salah satu upayanya adalah pembentukan Klub Paralayang Lampung Barat dan menurut rencana dideklarasikan pada kegiatan Gebyar Pesona Lumbok Ranau sekitar Agustus mendatang.

Selain itu, sesuai dengan potensi pariwisata yang cukup besar di Lampung Barat, diharapkan, paralayang akan berkembang untuk mendukung pemerintah dalam memasarkan dan mengemas pariwisata.

Pulau Sebesi

Sementara itu, di Kabupaten Lampung Selatan beberapa objek wisata bahari yang sudah cukup dikenal dan banyak diminati, di antaranya Pulau Sebesi. Pulau yang memiliki luas sekitar 1600 hektare ini dikenal karena letaknya sangat berdekatan dengan Anak Gunung Krakatau dan tidak kurang dari 700 kepala keluarga tinggal di pulau ini.

Dari Pulau Sebesi, pengunjung dapat mengamati aktivitas gunung berapi yang meletus pada 27 Agustus 1883. Saat itu, letusan Krakatau terdengar hingga 4.500 km dari titik letusan, antara lain Australia, Ceylon, dan negara-negara di Asia Tenggara.

Saat meletus, ketinggian ombak mencapai 40 meter yang menghancurkan sekitar 295 desa dan memakan korban lebih dari 39 ribu orang meninggal, khususnya mereka yang tinggal di sekitar daerah Selat Sunda hingga pantai Teluk Lampung.

Pulau Sebesi juga dikenal dengan daerah wisata buru. Bagi mereka yang memiliki hobi menyelam, bisa menyalurkan hobinya menyelam di Laut Teluk Lampung dengan kedalaman yang mencapai 10 sampai 30 meter. Wisatawan bisa menikmati keindahan pemandangan bawah laut dan mesranya bercumbu dengan berbagai jenis ikan serta biota laut lainnya.

Wisata di Pantai Pasir Putih, Lampung Selatan (Antara)

Pantai Pasir Putih

Masih di daerah Kabupaten Lampung Selatan, objek wisata yang sudah menjadi kunjungan rutin masyarakat Lampung terutama pada hari-hari libur adalah Pantai Pasir Putih. Pantai ini memiliki pemandangan laut yang indah. Kegiatan yang bisa dilakukan di pantai ini adalah bersantai, berenang, dan berperahu menuju Pulau Condong Sulah yang terkenal dengan kebeningan air lautnya.

Satu lagi objek wisata yang banyak dikunjungi adalah Pantai Wartawan dan sumber air panas. Sebenarnya lokasi pantai ini menempati areal sempit antara jalan lingkar Gunung Rajabasa, lereng gunung, dan laut.

Sebuah sumber air panas berada pada sisi pantai karang bukit gunung botak yang terus-menerus mengeluarkan uap panas (suhu air laut antara 80 sampai 100 derajat celsius). Pantai wartawan dan sekitarnya diharapkan berkembang dan menjadi desa wisata dengan pemandangan lepas ke arah Gunung Krakatau.

Wisata Batu Putu

Di Kota Bandar Lampung, sebagai ibu kota provinsi, banyak juga terdapat objek wisata, salah satunya adalah objek wisata Batu Putu. Di sini, pengunjung dapat menikmati wisata alam dengan keindahan air terjun dan gunung dengan kumandang suara satwa. Kawasan wisata Batu Putu

yang dikelola Pemerintah Kota Bandar Lampung dikelola Yayasan Wisata Alam (Yawisal) ini letaknya di pinggir kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura WAR). Taman Wisata Batu Putu terletak di Kelurahan Batu Putu, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandar Lampung. Lokasi wisata tersebut berjarak sekitar 10 km dari pusat Kota Bandar Lampung didukung dengan kondisi infrastruktur yang representatif.

Gerbang masuk taman wisata itu ditandai sepasang gapura bertuliskan, 'Selamat Datang' dan langsung ditemui sebuah portal masuk. Pengunjung wisata diminta membayar karcis tanda masuk senilai Rp3.000. Namun jika ingin bermalam atau berkemah di alam terbuka, pengunjung dikenai tambahan biaya Rp5.000/orang/malam. Pengelola tempat wisata tidak menyediakan alat kelengkapan kemah.

Di kawasan tersebut juga ditemui kandang kuda dengan enam kuda di setiap pintu kandang. Kuda-kuda tersebut merupakan bantuan Pemerintah Provinsi Lampung. Bahkan, seekor kuda telah melahirkan seekor kuda putih sekitar empat bulan lalu. Selain disediakan makan, kuda-kuda itu juga ditambatkan di areal taman wisata untuk mencari makan sendiri. Di tempat itu juga disediakan lokasi utama penyelenggaraan ajang tahunan Festival Batu Putu, mulai lomba makan durian, seminar, lokakarya, hingga diskusi.

Di arah utara, pengelola menyediakan hamparan luas yang menjadi tempat pemandangan ke kawasan Telukbetung. Yang juga terlihat sampai Pantai Teluk Lampung yakni Pelabuhan Panjang, Srengsem, dan laut lepas. Ke depan, lahan ini akan dijadikan agrowisata dengan ditanamnya beraneka ragam pohon dan buah-buahan.

Kemudian ke arah barat dari lahan parkir utama kendaraan, terdapat objek air terjun Way Pampangan. Dengan jarak sekitar 500 meter dari parkir utama, pengunjung dapat mencapainya melalui jalan setapak.

Jalan menurun tersebut menjadi akses jalan kaki satu-satunya bagi pengujung untuk mencapai air terjun dengan waktu sekitar 15 menit. Namun, jalan itu terhenti sampai di tebing terakhir menuju air terjun sehingga untuk mencapai air terjun harus menuruni tebing yang kemiringannya mencapai sekitar 35 derajat.

Kucuran air terjun dengan ketinggian mencapai sekitar 10 meter berasal dari mata air Way Pampangan. Di bawah air terjun, selain bebatuan besar, terdapat gua selebar 3 meter dan tinggi 1,5 meter. Gua yang tak terlalu dalam itu ternyata banyak dihinggapi kelelawar.

Di hilir air terjun tersebut, ternyata alirannya bertemu dengan aliran sungai kecil. Menurut warga sekitar, sungai tersebut bernama Way Sukamaju, ada juga yang menyebutnya Cimati karena mata airnya hanya dari aliran irigasi masyarakat di lereng Tahura. Namun air di kedua aliran itu terlihat jernih dengan ikan kecil dan keong. (Muhammad Naviandri/Lampung)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 13 April 2008

Pergelaran Seni Budaya Lampung 2008: Seremoni Budaya tanpa Penjiwaan Seni

JUMAT (4-4), Lapangan Parkir Gedung Saburai Bandar Lampung tampak meriah. Aneka grup kesenian seolah berebut penonton. Dan, hajat bertajuk Pagelaran Seni Budaya Lampung dalam rangka HUT Provinsi Lampung ke-44 itu menyelesaikan tugasnya; sekadar tampil.

Parade kesenian dari kabupaten dan kota yang ditumplek di satu lokasi itu benar-benar tontonan. Semuanya tampil tak berbeda dengan penampilan yang diberikan dalam setiap event yang digelar pemerintah, baik itu dalam rangka Festival Krakatau, Begawi Kota Bandar Lampung, ataupun kegiatan seni budaya lainnya.

Satu yang membuat suasana berbeda. Yakni, seluruh penampil mengenakan tuping (topeng) sekura, sebuah tradisi dari Lampung Barat. Ini menjadi tema dan mendominasi. Namun, dominasi ini seolah menjadi upaya Melampung Baratkan Lampung.

Pemaksaan tema ini membuat ciri Lampung yang heterogen menjadi tenggelam dalam homogenitas. Ini juga membangun kesan monoton, meskipun gerak dan pakaian yang dikenakan berbeda.

Kota Metro yang mengusung tema Metro Bersih, para penari Tuping yang ada menggenakan pakaian kebersihan lengkap dengan sapu sebagai alat kebersihan. Begitu juga dengan mobil hias milik kota Metro yang menggambarkan tugu Adipura hasil kerja sama seluruh masyarakat kota Metro dalam menjaga kebersihan. Begitu juga dengan daerah lainnya.

Terkecuali memang ada satu tema besar yang diusung dalam kegiatan ini. Misalnya sengaja mengangkat satu seni budaya yang khas yang ada di Lampung untuk diangkat setiap tahunnya dalam penyelenggaraan HUT Provinsi Lampung, dan untuk tahun ini tarian Tuping yang terpilih. Makanya Tuping menjadi satu roh dalam sleuruh penampilan setiap peserta. Tapi ini tidak terjadi. Ataupun kalau memang begitu, ini yang tidak tersosialisasikan.

Meskipun Koordinator Seni Tuping dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, Yusuf Rusman mengatakan tari Tuping yang diusung masing-masing daerah kabupaten dan kota memiliki karakter dan tema yang berlainan sesuai dengan ciri daerah tersebut. Tuping ini menurut dia, menggambarkan menggambarkan berbagai karakter manusia.

Begitu juga dengan parade kesenian dari masyarakat Lampung yang berasal dari luar daerah yang selalu ditampilkan. Meski tujuannya melakukan akulturasi budaya yang ada, hendaknya kegiatan kesenian ini tidak menjadi suatu suguhan yang utama. Karena apa pun yang ditampilkan tetap kalah dengan kesenian asli yang ada di daerahnya. Misalnya, wisatawan ingin menyaksikan tambur minang, mereka akan lebih memilih menyaksikannya di Sumatera Barat, atau juga kesenian kuda lumping, reog ponorogo, barongsai, serta kesenian daerah lainnya. Sebagai penampil penyerta mungkin bisa dilakukan, tapi untuk kegiatan utama, tentu saja mesti disuguhkan yang menjadi khas dari Lampung. Selain itu juga, ada satu kelemahan yang amat terasa dalam penyelenggaraan kegiatan ini serta kegiatan ajang budaya yang ada di Lampung, yakni hanya sekadar menjadi kegiatan seremoni semata-mata. Kegiatan ini hanya digelar untuk menghibur para pejabat serta undangan yang tampil. Tanpa memedulikan apakah masyarakat turut terlibat berpartisipasi ataupun menjadi satu macam kegiatan yang dinanti oleh masyarakat. Sehingga yang terlihat penonton yang menyaksikan adalah para pejabat, undangan, serta masyarakat sekitar tempat penyelenggaraan acara saja. Padahal seharusnya kegiatan ini akan dimeriahkan oleh duyunan masyarakat dari berbagai pelosok yang ingin menyaksikannya. Tapi ini sama sekali tidak terjadi.

Pengamat budaya dari Jung Foundation, Christian Heru, mengatakan penyelenggaraan event kebudayaan yang ada di Lampung selama ini sekaan-akan tidak menyertakan masyarakat. Ajang dan kegiatan yang diambil bukan berasal dari satu budaya yang ada di masyarakat dan rutin digelar agendanya, tapi hanya sebatas seremoni dan menjalankan kegiatan yang sudah diagendakan pemerintah.

"Kesannya selama ini nggak ada gereget bahkan masyarakat kesannya adem-ayem saja. Bahkan yang terlihat hanya kegiatan seremonial. Berbeda halnya dengan kegiatan Sekaten di Yogyakarta yang begitu ditunggu masyarakat. Karena ada satu macam ikatan yang kuat dari masyarakat Yogya, sehingga akhirnya dikenal masyarakat luas dan menjadi suatu yang khas," kata Heru.

Dan dia melihat tidak ada sama sekali terlihat suatu yang khas yang ditawarkan dalam setiap event kebudayaan yang ada di Lampung. "Semuanya sama, tidak berbeda."

Tentu saja ini mesti menjadi perhatian pemerintah daerah, tidak hanya Dinas Pariwisata dan Kebuadayaan semata-mata, tapi juga menjadi pekerjaan rumah seluruh pihak. Apalagi di tahun ini, beberapa core event yang ada di Lampung masuk menjadi agenda nasional dalam rangka Visit Indonesia Year 2008 yakni FK, Festival Teluk Stabas, Festival Way Kambas, dan Begawi Kota Bandar Lampung. Hendaknya ada kekhasan seni budaya yang ditawarkan, tidak hanya sekedar seremonial semata-mata.

Sebab, menurut Wakil Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu saat memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut, melestarikan seni budaya Lampung menjadi satu persoalan yang penting terutama dalam rangka menyambut Tahun Kunjungan Wisata Lampung 2009 yang akan datang.

Dia mengatakan persolan pelestarian kebudayaan akan sangat erat hubungannya dengan penyelenggaraan aktivitas kebudayaan. "Kegiatan kebudayaan menjadi sangat penting dalam rangka melakukan promosi budaya dan juga pariwisata yang ada di Lampung kepada masyarakat luas, wisatawan, dan juga dunia usaha," kata Syamsurya.

Untuk itulah, dia mengharapkan adanya penumbuhan nilai-nilai kelokalan khas Lampung sehingga menarik bagi siapa pun yang hadir. "Karena itu, kegiatan ini merupakan satu kegiatan positif dalam mengapresiasikan budaya Lampung."

Hal senada juga dikemukakan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung Tibrizi Asmarantaka, kegiatan pagelaran diadakan sebagai ajang penyaluran bakat menyatukan budaya Lampung sebagai tuan rumah di Provinsi Lampung. "Selain itu juga sebagai acara silaturahmi antarbudaya berbeda di Provinsi Lampung. Dan juga sebagai sarana promosi dan menyukseskan Program Visit Lampung Year 2009," ujar Tibrizi.

Visit Lampung Year 2009

Penyelenggaraan kegiatan parade budaya tersebut, selain digelar dalam rangka HUT ke-44 Provinsi Lampung juga sebagai momentum pencanganan logo dan moto penyelenggaraan Visit Lampung 2009 yang telah dicanangkan Gubernur Lampung sejak FK tahun 2007 yang lalu.

Namun ada beberapa catatan yang sangat mengganggu berkaitan dengan logo dan moto yang ditetapkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Lampung. Misalnya untuk logo, tidak lagi digunakannya gajah yang sudah menjadi ikon Lampung selama ini. Konon menurut sumber yang ada bahwa tidak dipilihnya gajah karena binatang tersebut sudah identik dengan negara Thailand. Makanya yang akan coba dikedepankan adalah rhino atau badak sumatera.

Padahal untuk menjadikan gajah sebagai ikon dari Lampung membutuhkan

waktu yang tak sebentar. Selain itu juga Thailand identik dengan gajah putih karena binatang ini dianggap suci. Jadi bukan pada keseluruhan binatang gajahnya tapi pada sosok gajah putihnya.

Begitu juga dengan moto yang dijual yakni menjadikan Lampung sebagai your second home. Menurut Fransisca, warga Bandar Lampung yang baru saja pulang dari Kuala Lumpur, moto tersebut sudah digunakan Malaysia dalam rangka kunjungan wisata ke negaranya.

"Bahkan moto itu sangat terpampang jelas dan besar di Bandara Internasional Kuala Lumpur yakni Your Second Home. Moto ini digunakan sebagai pengganti moto Malaysia terdahulu The Trully Asia," kata Fransisca.

Karena itu, dia sangat menyesalkan bila moto tersebut yang digunakan Lampung dalam rangka tahun kunjungan wisata. "Terlebih lagi katanya ini dibuat oleh para konsultan. Tapi kok bisa luput begitu saja. Jadinya ini terkesannya mengekor. Makanya moto ini mesti diganti dengan yang lebih menunjukkan kelokalan dan ciri khas Lampung yang dijual. Misalnya Yogya Never Ending Asia, atau lainnya."

Sedangkan Kuasa Usaha at Interim KBRI Kuala Lumpur, Tatang B. Razak pernah mengemukakan dengan moto Malaysia Trully Asia telah berhasil menarik wisatawan asal Indonesia setiap tahunnya sebanyak dua juta orang.

"Selain itu juga, infrastruktur wisata yang ada di Malaysia sudah siap 10 tahun sebelum pencanangannya. Bahkan dana yang dihabiskan untuk promosi ratusan miliar rupiah."

Sementara untuk Lampung menjadi satu pertanyaan tersendiri? Bukan hanya berkaitan dengan kesiapan infrastruktur wisata yang ada di sini, tapi juga kesiapan dari berbagai sektor penunjang lainnya. Sehingga jangan sampai Lampung hanya mengikuti apa yang dilakukan Sumatera Selatan dengan tahun kunjungan wisata 2008 saat ini. Sumatera Selatan memiliki Tantowi dan Helmi Yahya yang bisa menarik banyak pihak bahkan memboyong artis untuk menggelar acara di Palembang guna berpromosi. Sedangkan Lampung punya siapa? Masyarakat Lampung yang sukses di luar akan kembali ke Lampung hanya untuk ikut pilkada ataupun ketika berpulang ingin dikebumikan di tempat asal. Semoga saja anggapan tersebut tak terbukti. Sehingga Lampung bukan sekadar latah. n TEGUH PRESETYO/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 13 April 2008

Landmark: Menara Siger Akhir April Diresmikan

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Peresmian Menara Siger di dekat Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan, di Provinsi Lampung yang diharapkan menjadi landmark atau ikon daerah Lampung direncanakan pada akhir April 2008 ini.

"Saat ini panitia terus mempersiapkan dapat mengemas acara sebaik mungkin," kata Sekprov Lampung Irham Jafar Lan Putra, di Bandar Lampung, Sabtu (12-4).

Menurut Irham, sebagai ikon Lampung, keberadaan Menara Siger itu diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan bagi masyarakat daerahnya secara luas.

Dia menyebutkan Lampung harus memiliki penanda dan ciri khas monumen seperti telah dikenal di daerah lain, di antaranya Palembang di Sumatera Selatan dengan Jembatan Ampera, atau Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.

Pada Menara Siger, lanjut dia, masing-masing kabupaten/kota akan menempatkan informasi tentang daerahnya, seperti objek dan potensi pariwisata, kebudayaan dan potensi investasi lainnya.

Menara Siger dibangun juga dengan menandakan ciri khas Lampung, seperti di sekitar tugu dibangun ruang-ruang yang menampilkan khazanah budaya daerah serta sarana-prasarana pariwisata lainnya.

Tugu Siger berwarna emas itu dibangun di kawasan bukit yang berada di sebelah kiri (timur) pintu masuk Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni yang dilengkapi dengan ruangan, tempat bagi wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni serta keindahan panorama laut dan alam sekitarnya.

Panjang menara tersebut sekitar 50 meter dengan lebar 11 meter, dan tinggi mencapai 30 meter yang tertulis "Anda Berada di Titik Nol Pulau Sumatera".

Pembangunan Menara Siger menggunakan dana sekitar Rp7,3 miliar itu, sempat menjadi polemik dan kontroversi, baik di kalangan masyarakat, politisi dan lainnya.

Namun Gubernur Lampung Sjachroedin ZP terus melaksanakannya, mengingat konsep tersebut tercetus jauh hari sebelum dirinya menjadi kepala daerah.

"Saya menyampaikan gagasan tersebut kepada Pak Anshori Djausal, pengajar di Fakultas Teknik Unila yang juga pemerhati masalah kebudayaan daerah Lampung yang kemudian merancangnya," kata dia, dalam beberapa kesempatan. n K-2

Sumber: Lampung Post, Minggu, 13 April 2008

April 12, 2008

Seni Peran: Bupati Kagumi Pentas Teater Pierta SMAN 1 Liwa Lambar

Liwa, Lampung Barat, 12/4 (ANTARA) - Penampilan drama tiga babak oleh Teater Pierta, beranggota siswa SMAN 1 Liwa, Kabupaten Lampung Barat (Lambar), Provinsi Lampung, mengundang decak kagum dan dukungan dari Bupati Mukhlis Basri.

Sebanyak 15 siswa anggota teater SMAN 1 Liwa itu menampilkan kebolehan mereka pada pencanangan Kampanye Anti Bullying (Kekerasan) yang dilaksanakan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Lambar bekerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat di Terminal Pasar Liwa, Jumat (11/4).

Saat para siswa itu tampil berperan dalam drama tiga babak, menggambarkan tindak kekerasan oknum guru kepada siswanya, kekerasan para senior di sekolah kepada juniornya, dan perkelahian massal (tawuran) antar gank (geng) di sekolah, Bupati serius menikmatinya.

Mukhlis yang juga Ketua DPC PDIP Lambar, yang sebelumnya adalah Wakil Bupati di sana, nampak sempat pula tersenyum dan tertawa lepas, menyaksikan adegan demi adegan ditampilkan teater pelajar yang dibina para guru SMAN 1 Liwa dan telah berjalan sekitar setahun ini.

Bupati didampingi Wakilnya, Dimyati Amin dan pejabat lain, termasuk Kepala Dinas Pendidikan Nukman, serta merta menyampaikan kekaguman penampilan teater itu secara terbuka.

Bupati berterima kasih kepada para guru yang telah membimbing dan mendorong anak didiknya mengembangkan aktivitas yang baik dan terpuji seperti itu, selain tugas utama untuk terus belajar dengan baik yang tidak dilupakan.

Bupati minta Dinas Pendidikan Lambar dapat menampilkan teater pelajar itu dalam berbagai event penting di daerahnya, sekaligus mendorong dan membinanya agar bisa berkembang dan berprestasi lebih baik.

Para siswa anggota teater itu, didampingi guru pembinanya, Yunita, menyatakan, selama sekitar setahun berjalan mereka telah beberapa kali tampil dan mengikuti festival teater termasuk pada Pekan Seni Pelajar Lampung di Bandarlampung beberapa waktu lalu.

"Kami akan terus berteater dan berharap bisa mencapai prestasi lebih baik, di sela waktu belajar kami yang juga tidak boleh diabaikan," kata salah satu siswa anggota teater itu pula.

Saat pencanangan Kampanye Anti Bullying itu, ke-15 siswa anggota Teater Pierta itu menutup pula pementasan mereka dengan meneguhkan komitmen "Belajar Yes, Tawuran No!" serta menyatakan bersama-sama mendukung prinsip "Hormatilah Gurumu, Sayangi Temanmu dan Cintai Kekasihmu" serta menjalankan semboyan "Remaja Nggak Oke, Berantem dengan Sesama."

Prinsip dan komitmen itu, diikrarkan di hadapan Bupati dan Ketua PKBI Lambar Helwiyati Komala Dewi, pejabat yang hadir, beserta warga masyarakat yang berada di sekitar Terminal Pasar Liwa yang aktivitasnya tetap berjalan seperti biasa di tengah pencanangan Kampanye Anti Bullying itu.

Sumber: Antara, Sabtu, 12 April 2008

April 10, 2008

Kantor Bahasa Gelar Pemilihan Duta Bahasa

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dalam rangka menyambut Tahun Bahasa 2008, Kantor Bahasa Provinsi Lampung akan menggelar Pemilihan Duta Bahasa tingkat Provinsi Lampung, Mei mendatang.

Ketua Panitia Kegiatan, Bambang Kartono, saat ditemui Selasa (8-4), mengatakan kegiatan ini pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, hasil pemilihan telah diikutkan lomba tingkat nasional.

"Malahan di ajang Pemilihan Duta Bahasa tahun 2006 di tingkat nasional yang diikuti seluruh provinsi di Indonesia, perwakilan Provinsi Lampung menjadi pemenang kedua," kata Bambang.

Untuk itulah, kata Bambang, kegiatan yang bertujuan mendapatkan generasi-generasi muda yang tangguh di bidang kebahasaan sekaligus sebagai ajang pengenalan budaya Lampung di tingkat nasional ini kembali digelar.

Adapun bentuk kegiatan ini hampir serupa dengan ajang-ajang pengembangan bakat remaja seperti muli mekhanai yang diselenggarakan Provinsi Lampung.

Bambang menambahkan bagi yang terpilih berkesempatan menjadi ikon dan mitra kerja Kantor Bahasa Provinsi Lampung selama setahun. Selain itu juga, mereka menjadi wakil Provinsi Lampung pada Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional di Pusat Bahasa Jakarta. Apabila wakil Lampung menang di tingkat nasional, akan menjadi ikon dan mitra kerja Pusat Bahasa Jakarta selama setahun.

Pendaftaran dibuka pada 1 April 2008 dan akan berakhir pada 9 Mei 2008. "Tempat pendaftaran dilakukan di Kantor Bahasa Provinsi Lampung yang beralamat di Jalan Beringin No. 40 Kompleks Gubernuran, Telukbetung, Bandar Lampung."

Persyaratan yang dikenakan di antaranya menguasai bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa Lampung secara proporsional. Lalu berusia antara 17 dan 25 tahun, berpenampilan menarik, serta memiliki tinggi dan berat badan yang ideal, yakni 157 sentimeter untuk putri dan 162 sentimeter untuk putra.

"Mereka wajib menyertakan fotokopi KTP atau kartu identitas lain, foto close up, serta memiliki wawasan budaya Lampung yang memadai," tambah dia.

Peserta yang akan mengikuti seleksi di bidang kebahasaan akan dilaksanakan pada 13 Mei 2008. Jenis tes yang akan diberikan berupa tes tertulis uji kemahiran berbahasa Indonesia (UKBI), bahasa asing, dan bahasa Lampung.

"Berdasar pada tes inilah nantinya dipilih 30 peserta terdiri dari putra dan putri yang masuk babak akhir pada 28 Mei 2008," ujarnya. TYO/K-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 10 April 2008

April 9, 2008

Iin Mutmainah: Promoting importance of story-telling

-- Oyos Saroso H.N., The Jakarta Post, Bandarlampung

TO ensure the survival of their art, theatrical actors and actresses in Indonesia need to explore their creativity.

Iin Mutmainnah (JP/Oyos Saroso HN)

As did Iin Mutmainah, 31, a theatrical actress from Lampung, who since 2002 has performed as story-teller.

Initially, Iin took up story-telling to earn some extra cash so she could continue her theater activities. But eventually Iin decided to set up a story-telling group called "Sanggar Dakocan" (Dakocan Studio).

Through this group, Iin found a channel for her acting talent and has been able to carry out a story-telling campaign for kindergarten pupils and teachers.

"It turns out that the story-telling business has no market. A survey we conducted indicated that many parents were not in the habit of telling stories to their children. Worse still, many kindergarten teachers cannot tell stories. That's why I decided to devote myself to story-telling," said Iin, who is a mother of four.

She said it was not easy for her and her group to convince teachers and parents that story-telling is important for children.

"Once, we offered to do story-telling in schools, one of the teachers thought we were sales promotion girls. Some headmasters even refused our offer on the grounds their teachers were all busy," she said.

The questionnaires that Sanggar Dakocan distributed to the parents of kindergarten and elementary school students in the 23 schools the group have performed at, greatly surprised Iin.

"It turns out that parents very rarely tell stories at home. Generally, their reason is that they have no time to tell stories to their children or that they are too tired or even that they do not know what stories to tell the children and so forth," she said.

Aside from story-telling at schools, Iin and her group also tell stories in outdoor areas, such as on sports fields.

"Listening to stories is very important for kindergarten pupils as story-telling teaches them values and helps build their character. Not surprisingly, children prefer to watch TV than listen to stories. One of the reasons is, perhaps, the way a story is told," said Iin, who is a graduate of the School of Agriculture of Lampung University.

Iin and the Sanggar Dakocan story-tellers ensure their stories are attractive and interactive.

"The story-tellers at Sanggar Dakocan also learn child psychology. We also broaden the minds of our story-tellers by offering various themes."

Iin said story-telling was also very useful in regard to emotional contact between parents and children.

"Regular story-telling will lead to an emotional proximity between children and parents. This emotional proximity will improve the mutual confidence between parents and children. In addition, children will also learn to listen to their parents," she added.

Aside from being useful to a child's emotional development, Iin said, story-telling was also useful in the development of children's imaginations.

"Therefore, I often feel sad when I see kindergarten teachers shout at their pupils when they want them to sit properly while listening to a story. I tell stories to make the kids happy and help develop their imaginations, not to make them afraid.

"One of the books that has influenced me, and members of the group, is a Japanese book called Small Girl at the Window by Tetsuko Kuroyanagi, or better known as Toto Can."

To be able to tell stories attractively, Iin has developed her own gestures and voice, with only a few props and costumes used.

"The purpose is to attract children so they can respond to the emotions evoked by our gestures and voices. The use of props and costumes is limited to accustom the children to giving more of their attention to the story rather than to the costumes and the props," Iin said.

In their story-telling activities, Iin and her group use live music; mostly traditional Lampung music. "We make a theme song for each story that we tell," she said.

Iin said it was very difficult to make children remain seated while they listened to stories. "That's why, as a story-teller, my colleagues and I must be creative. We tell stories interactively. The children are not mere objects that should listen to our stories ... they are also involved in the stories.

"Let's say there is a scene about a fish being chased by a shark -- we will ask the children to pretend to be a coral reef to protect the fish," said Iin.

Iin also provides story-telling training to teachers. In 2007, for example, she gave story-telling training sessions to some 200 kindergarten teachers from Bandarlampung city.

"Nowadays, my colleagues and I at Sanggar Dakocan are conducting story-telling training for kindergarten teachers from all over Lampung. This training will be held over ten sessions and each session will be attended by 50 teachers. The first batch of teachers started their training in January 2008," said Iin, who, as a story-teller, has won several prizes in national-level poetry-reading contests.

"It is necessary to remind teachers of their choice to become educators, which involves a great deal of professional responsibility," said Iin, who is also a member of the executive board of the Lampung Arts Council.

The most difficult thing about her job, Iin said, was telling stories in front of thousands of children or in front of government officials.

"If the audience is made up of thousands of people, my fellow story-tellers and I cannot just remain on the stage. We must move around the arena. We often find ourselves crowded by children, until we can hardly move," she said.

Sumber: The Jakarta Post, Wed, 04/09/2008