May 15, 2008

Lingkungan: Kerusakan Hutan Bakau Sulit Ditekan

Bandar Lampung, Kompas - Tingkat kerusakan hutan bakau di pesisir timur Lampung sulit ditekan. Rehabilitasi hutan bakau sulit dilakukan karena kesadaran masyarakat untuk menanami hutan bakau yang gundul dan memelihara kawasan rehabilitasi sangat rendah. Selain itu, dipengaruhi faktor alam.

Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Lampung, dari rehabilitasi 5.000 batang bakau di lahan seluas 5 hektar di Desa Sri Minosari, Labuhan Maringgai, Lampung Timur, pada tahun 2007, hanya 5 persen yang bertahan dan berkembang. ”Warga seolah tidak mau peduli terhadap bibit- bibit yang ditanam di kawasan bakau yang rusak,” ujar Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Lampung (Unila) KES Manik, Rabu (14/5).

Wilayah hutan bakau di pantai timur Lampung terbentang dari Way Mesuji di Kabupaten Tulang Bawang hingga wilayah antara Kuala Penet dengan Bakauheni di Lampung Selatan sepanjang 270 kilometer. Pada data dari Dinas Kehutanan Lampung disebutkan, seluas 7.000 hektar dari 18.000 hektar hutan bakau di pesisir timur Lampung rusak berat.

Bisnis udang

Kerusakan hutan bakau di pesisir timur Lampung sudah berlangsung sejak 1980. Saat itu, penduduk menebang bakau untuk dijadikan arang. ”Dengan kegiatan itu, kerusakan hutan bakau masih terkendali karena penduduk melakukan tebang pilih. Kerusakan itu mulai parah sejak 1985, tepatnya sejak bisnis udang mulai bangkit,” kata Manik.

Kepunahan hutan bakau semakin cepat karena bukan hanya penduduk lokal yang mengusahakan tambak, melainkan juga pemodal dari luar Lampung. Dengan demikian, kondisi kerusakan dan penyebab kerusakan hutan bakau di pantai timur Lampung itu dapat dikelompokkan berdasarkan wilayah geografis.

Di wilayah antara Way Mesuji (perbatasan dengan Sumatera Selatan) dan Way Tulang Bawang, hutan bakau di sekitar usaha pertambakan PT Dipasena Citra Darmaja atau sekarang bernama PT Aruna Wijaya Sakti rusak berat. Kerusakan tersebut terjadi sebagai dampak dari penjarahan lahan oleh masyarakat pada tahun 1998, dan dijadikan tambak udang.

Wilayah kedua, hutan bakau di pesisir timur Lampung terbentang antara Way Tulang Bawang dan Way Seputih di Kabupaten Tulang Bawang. Sekitar 85 persen hutan bakau sudah rusak karena digarap penduduk menjadi tambak-tambak udang tradisional. Sejak era reformasi, kerusakan makin parah seiring upaya penduduk menggarap kawasan hutan menjadi tambak udang sehingga fungsi hutan bakau menghilang.

Wilayah hutan ketiga terbentang antara Way Seputih dan Kuala Penet, Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Sama seperti di dua wilayah lainnya, wilayah hutan bakau di kawasan itu juga digarap penduduk menjadi tambak udang. Adapun di wilayah keempat, di antara Kuala Penet dan Bakauheni Lampung Selatan, sekitar 90 persen hutan bakau sudah hilang karena dijadikan tambak udang tradisional dan semi-intensif.

Di seluruh kawasan tersebut, lanjut Manik, hutan bakau sulit direhabilitasi karena masyarakat tidak peduli. Masyarakat masih sulit diajak bekerja sama merehabilitasi hutan bakau. (hln)

Sumber: Kompas, Kamis, 15 Mei 2008

Pariwisata: Kaya Potensi akan Percuma Jika Tidak Menjual

KALIANDA (Lampost): Meskipun Provinsi Lampung memiliki potensi pariwisata yang luar biasa untuk menarik wisatawan, akan percuma jika tidak bisa menjual potensi itu kepada pengunjung.

Karena itu, dibutuhkan kekuatan untuk membangun kemajuan potensi pariwisata di Sang Bumi Ruwai Jurai ini.

"Kekuatan itu adalah planning, infrastruktur, SDM (sumber daya manusia) , leadership, dan promosi. Tanpa lima poin itu, pariwisata tidak akan maju," ujar Muhajir Utomo, ketua Majelis Pengurus Daerah (MPD) Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Provinsi Lampung.

Ia mengatakan itu pada pada Seminar Pendidikan dan Pariwisata Lampung Selatan menyongsong Visit Lampung 2009 di Aula Bappeda Pemkab Lamsel, Rabu (15-5).

Muhajir menjelaskan program yang tidak dipikirkan dengan matang hanya akan menghamburkan uang negara. Misalnya, Festival Krakatau (FK). "Berapa biaya yang dikeluarkan untuk sebuah FK tersebut, jika tidak sesuai income (pendapatan). Untuk itu, ke depan perlu dikaji untuk bagaiamana dengan planning, infrastruktur, SDM, dan leadership yang memadai," ujar cagub independen tersebut.

Menurut mantan Rektor Unila itu, lima poin yang merupakan kekuatan untuk membangun pariwisata di Lampung itu tidak akan berhasil jika eksekutif, legislatif, dan elemen masyarakat tidak mampu menarik pihak swasta (investor).

Lampung memiliki nilai jual yang tinggi seperti Bali di bidang pariwisata. Tapi kenapa objek wisata yang ada di Lampung tidak menimbulkan gairah bagi para wisatawan.

"Itu karena kita tidak mampu mengelola aset alam dan budaya," kata dia.

Seminar yang dihadiri Wakil Bupati Lamsel Wendy Melfa, Ketua MPC ADI Lamsel Abdul Khabir, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Lamsel Erlan Murdiyantono, Sitorus mewakili Kadis Pendidikan Provinsi Lampung, dan sejumlah mahasiswa dari Kalianda menjadi menarik ketika dibuka sesi tanya jawab.

Rp20 Miliar

Sementara itu, Zainal Arifin Tiang Negara, salah seorang anggota DPRD Lamsel, sangat mendukung pertumbuhan sektor pariwisata di Lamsel.

Namun, legislatif tidak setuju jika anggaran untuk sektor pariwisata tersebut tidak jelas. "Sudah Rp20 miliaran kami anggarkan untuk kemajuan pariwisata Way Belerang di Sukamandi, Kalianda. Tapi apa, dari dulu hingga sekarang kontribusinya hanya Rp50 juta setiap bulan," ujar dia.

Menyinggung masalah investor untuk membangun potensi pariwisata di Lamsel, menurut Zainal, tergantung Pemkab.

Sementara, Wendy Melfa mengajak seluruh masyarakat untuk membangun budaya lokal guna mencapai target Visit Lampung 2009. "Tugas pemerintah adalah melengkapi. Dan yang utama dalah bagaimana kita bisa ramah dan menjaga kebersihan di masing maisng tempat wisata, mengingat Lamsel memiliki 44 objek wisata dan 9 objek wisata alam," kata dia. n AL/D-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 15 Mei 2008

May 13, 2008

Dina Oktaviani: The lost biography of a young poet

-- Daniel Rose*

City lights picked me up/and we tried to forget all the things/that had shredded the solitude back in that room//we may never understand/why old calendars/could change history/as easily and quickly as a highway rush


Dina Oktaviani (JP/JB. Djwan)

HOW do you feel after reading the lines above? How would you feel if you were told that the verse, an excerpt from a poem titled Silent Calendars, was written by a 15 year old? Dina Oktaviani composed it in February 2001. She had never before submitted her work to a national publication, but a year after Silent Calendars was written, Media Indonesia decided to print it in its Sunday edition, along with her other poems.

And how did she feel about it? "I was happy about the pay," she said, laughing. "But seriously, back then, I had to pay my own school fees, and I enjoyed spending money. My parents were proud too. They said they didn't want me to be an artist, but they bragged about my printed poems to the neighbors anyway."

Born in Tanjungkarang, Bandar Lampung, on Oct. 11, 1985, Dina used to dream about being a spy. Today, the mother of a 3-year-old boy has written poems and short stories for various publications, and published two books, Como Un Sue*o (anthology of short stories, Orakel, 2005), and Biografi Kehilangan (A Biography of Losses, anthology of poems, Insist Press, 2006). Her piece of poetry Hantu-hantu Tanjungkarang (The Ghosts of Tanjungkarang) was recently included in 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 (100 Best Indonesian Poems 2008, Gramedia Pustaka Utama).

In regard to Dina's poems, acclaimed poet Sapardi Djoko Damono commented on the back cover of Biografi Kehilangan: "She entices us to experience the secrets of life in unique ways, ways that have never been captured by other poets. Her experiences are arranged in sharp metaphors and imageries, a characteristic of modern poetry."

Sitting in a quiet cafe in Yogyakarta, smoking clove cigarettes and occasionally taking a sip of her iced lemon tea, Dina recalled falling in love with literature, particularly poetry. It all started in junior high school.

(JP/JB. Djwan)

"In third grade, I watched a play that made me want to continue my studies at a school that had a theater group. One day, the play's director came to my school and staged a production, and I found out that Teater Satu, his theater group, had just formed a theater forum for senior high students. I often came to the forum, and I guess Iswadi Pratama, the director, observed my passion for theater and asked me to join the group. A few weeks later, he came to me and whispered in my ear: 'Would you like to learn about poetry?'" Dina embraced the opportunity, despite all the rules her mentor had laid out for her.

"I wasn't allowed to read teen magazines or comics. I couldn't watch sinetrons or band gigs. Oh, I wasn't allowed to have a boyfriend either. Falling in love was OK, but not boyfriends. After my poems were published in Media Indonesia and Republika, he then said I could break all of those rules, that I was free to do all the things that had been out of my reach in the last nine months. But I was no longer able to enjoy the things that I had deprived myself of," she said with a weak smile.

It was a coincidence that her mentor was also an editor with the Lampung Post. "Sometimes he asked me to edit the work of his reporters. And then he suggested that my friends from the theater forum and I work on a supplementary page for teenagers. My friends got bored, so I did the whole thing myself."

However, she sometimes misused the column for her own satisfaction and benefits. "I would make up questions and answers for the discussion section, though I was supposed to get the answers from real people. I was so selfish, I wanted people to read nobody else's opinions but mine. I also wrote poems under my friends' younger brothers' or sisters' names. When it was time for payment, I borrowed their IDs and told the treasurer's desk that those kids had asked me to get the money for them. I was such a criminal."

Dina took out a laptop from her bag. "Hey, you have a laptop too, don't you? This place has got a wireless connection. Let's chat via Yahoo Messenger," she said in a playful tone, adding, "just for the hell of it."

Time for the next question, through the internet, just for the hell of it: Why Yogyakarta?

(JP/JB. Djwan)

After graduating from her senior high school in Lampung, Dina went to Jakarta to study French at the Jakarta State University. Realizing she could learn much more from books than from her French classes, she decided that Yogyakarta was the right place for her. "I had imagined Yogya to be a quiet place, and it turned out to be true. Here I also found BlockNot Poetry, which offered more than I had expected." Blocknot was a journal that published short stories and poems. At the end of 2003, Dina became one of its editors.

Since writing is her passion, does Dina call herself a writer, someone who turns writing into a primary source of income? "I do other sorts of jobs. Translating pays quite well, and I also take short-term projects like joining a creative team for events, etcetera. But I had 'writer' typed in the occupation column of my ID card. It wasn't easy. I had a quarrel with the village official. He insisted that 'writer' wasn't an occupation, so I told him: Women get to have 'housewife' written on their ID card. Is that an occupation? Do women get paid for being a wife and a mother? I do have other jobs, but unless you are ready to have me here every month to get my occupation column changed, just put 'writer' there. It's my permanent job."

Dina admitted to being more of a poet than a writer. Imagine the argument she would have to come up with for putting "poet" in the occupation column.

* Daniel Rose, Contributor, Yogyakarta

Source: The Jakarta Post | Sunday, 05/11/2008

May 12, 2008

Kuliner: Iwapi Terbitkan Buku Makanan Tradisional Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Untuk melestarikan dan menginformasikan seni masak-memasak (kuliner) di Lampung, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Provinsi Lampung akan menerbitkan buku seni tata boga dan makanan tradisional di Sang Bumi Ruwa Jurai.

Ketua DPD Iwapi Lampung Hj. Karlina Kirom menjelaskan buku ini akan menyajikan berbagai menu masakan, kue-kue tradisional Lampung, hingga cara membuat dan penyajiannya secara lengkap dan menarik.

"Dengan buku ini, masyarakat akan memiliki referensi tentang berbagai menu masakan dan kue-kue tradisional khas daerah," kata dia, Sabtu (11-5) usai mengikuti Festival Kuliner dan Pameran Dagang 2008 yang digelar DPP Iwapi di Kantor Deperindag Jakarta pada 6--9 Mei lalu.

Pada event dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tersebut Provinsi Lampung meraih juara III makanan khas Indonesia dan juara III jajanan pasar tradisional, serta meraih predikat sebagai stan terlaris pada kegiatan tersebut.

Selanjutnya ia menjelaskan banyak makanan khas dan kue tradisional di Lampung yang harus dilestarikan. Seperti kue legit, skubal, bebai maring (kue injak-injak), dodol ager, ketan lapis, engka, dan sebagainya. Juga masakan seruit, pindang baung, pepes tempoyak, sambel kemang, sayur letak ketuk, sambel terasi, dan sebagainya.

Untuk menyajikan makanan tersebut perlu keahlian dan keterampilan khusus. Seperti kue legit, agar terlihat lebih menarik dan tampil memikat, perlu dimodifikasi baik bentuk dan penampilannya.

"Untuk membuat karya yang bagus dan indah, kita perlu seni dan kreativitas tinggi. Karena itulah, dalam buku tersebut selain menyuguhkan menu-menu juga dilengkapi cara-cara membuat dan penyajiannya," ujar Karlina Kirom yang juga ketua Bidang Kemitraan DPP Iwapi tersebut.

Ia mengungkapkan buku ini nantinya dikumpulkan bersama seluruh makanan dan masakan tradisional dari 33 provinsi di Indonesia serta akan diterbitkan DPP Iwapi.

Ia juga mengaku bersyukur dengan diraihnya dua juara III dalam event tersebut. Tim yang dimotorinya dan beranggotakan Ny. Imram Maruf, Hernawati Mawardi, Dr. Melva Diana, Ning Sukoco meraih juara III Makanan Khas Indonesia dengan menyajikan menu pindang baung, sayur letak-latuk, pepes tempoyak, dan sambel kemang.

Kemudian untuk jajanan pasar menyajikan skubal, bebai maring, dodol ager, dan dodol sirkaya. Dengan meraihnya prestasi tersebut ini menunjukkan masakan dan makanan tradisional Lampung tidak kalah enak dan menarik dibanding dengan provinsi lain.

Tidak hanya itu, untuk meningkatkan kualitas anggota Iwapi pihaknya akan menjalin kerja sama dengan Private Enterprise Participation (PEP) Kanada untuk mengadakan berbagai pelatihan seperri pendidikan komputer dan internet. Di era global, anggota Iwapi dituntut mampu mengakses informasi-informasi baru baik perkembangan usaha maupun jenis-jenis produk yang dibutuhkan konsumen.

"Bila mereka dapat mengoperasikan internet dengan baik, transaksi dengan buyers (pembeli) bisa lebih efektif dan efisien." n AST/S-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Mei 2008

May 11, 2008

Bingkai: Festival Radin Jambat, Festival Seni Budaya?

-- Endri Y.*

ENTITAS, etnisitas, dan berbagai identitas menjadi penyedap keragaman kita sebagai daerah multikultural. Format identitas suku (ethnic identity), identitas daerah (regional identity) dan identitas agama (religious identity) di Lampung sangat mudah menguat.

Apalagi jika dipicu dengan variabel politis, bagian integral dari konsekuensi logis dilaksanakannya bebagai festival ke-Lampung-an.

Proses pencarian tentang apa sebenarnya identitas Lampung memaksa saya hadir dalam berbagai kegiatan, bermula dari Ngumbai Lawok di Krui, Festival Jukung, lalu yang masih baru kemarin, festival Radin Jambat di Way Kanan, ditambah sehari setelahnya, ada pemancangan identitas Lampung yang lain, yaitu peresmian Menara Siger di Bakauheni.

Jika sejarah Tugu Siger dapat diketahui pada rangkaian sambutan, beda dengan festival Radin Jambat, yang hanya bisa diketahui melalui studi referensi/kepustakaan.

***

Radin Jambat adalah putra mahkota yang berasal dari Kerajaan Punigaran, dengan rajanya, Kiyai Sang Ratu Jambi. Kemudian, dalam perantauan, mengembara mencari jodoh, Radin Jambat ditemani dua punakawan yang sakti mandraguna, lalu berhasil menikahi Putri Ratu Rebut Agung. Putri cantik yang menjadi pujaan banyak lelaki.

Demikian kisah Radin Jambat yang berhasil membunuh 40 tunangan Sang Putri Ratu Rebut Agung, tentu saja dibumbui dengan kesaktian mistis, cerita tentang dewa-dewa, kekuatan supranatural, dan muaranya adalah kecantikan Sang Putri yang berhasil dinikahi.

Begitulah, sejarah Radin Jambat yang terlacak dalam buku Radin Jambat; Cerita Rakyat Daerah Lampung yang dihimpun Ali Imron dan Iskandar Syah, terbitan Gunung Pesagi, 1995.

Festival Radin Jambat sudah diselenggarakan yang ketiga kali oleh Pemkab Way Kanan dengan rangkaian acara berbagai lomba seni budaya. Karena sudah ketiga kali, dipastikan acara ini terus digelar setiap tahun. Senada dengan itu, konteks penarikan wisatawan (Visit Lampung 2009) Lampung Timur dengan Festival Way Kambas, Provinsi Lampung dengan Festival Krakatau, dan sebagainya membuat sejarah dan akar kearifan lokal yang dijadikan ikon untuk mendasari kegiatan seni budaya benar-benar autentik.

Tulisan di bawah ini hanyalah refleksi kritis penulis sebagai pencinta seni budaya Lampung agar setiap kegiatan yang bercorak dan dikhususkan sebagai usaha pelestarian tidak ambigu, ahistoris, sekadar politis. Dan apalagi jika sekedar dipaksakan keberadaannya.

Menariknya, jika unsur seni budaya yang dimaksudkan sebagai landasan filosofis diadakannya acara itu tidak menyentuh substansi emosional lokal masyarakat, yang ada hanya perayaan seremoni tanpa ruh seni budaya itu sendiri.

Misalnya, di Lampung Selatan, yang bangga dengan kepahlawanan Radin Inten II, tidak mungkin menyentuh emosional masyarakat Kalianda jika yang digelar adalah festival Pangeran Diponegoro.

Pertanyaannya, apa kaitan sejarah Radin Jambat dengan Way Kanan, Way Kambas dengan Lampung Timur, Krakatau dengan Provinsi Lampung?

Sebelum sampai pada interpretasi, setidaknya dalam ilmu kebudayaan di Indonesia ada dua cara untuk kontemplasi. Pertama, dengan teori dalam sistematisasi rasional dan filsafat seni budaya. Kedua, bergumul dengan seni budaya sebagai keseharian yang diberi makna secara sederhana dan efektif agar eksistensi estetis berlangsung terus- menerus atau dengan kata lain, seni budaya dibahasakan dengan komunikasi intuitif penghayatan, pembaruan, dan perayaan.

Arah Berkebudayaan

Dari kedua pencerdasan itu, penghayatan, pembaruan, dan perayaan adalah domain tata cara kebanyakan kita menginterpretasi seni budaya. Dengan demikian, kesan artifisial, sekadar seremoni, membaca berkacamata kepentingan pragmatis, hingga perspektif politis seolah kewajaran. Padahal logika seni budaya, masuk unsur pelestarian dan inventarisasi sangat beda konteks dengan politik kebijakan.

Hal ini yang menjadikan penulis berkeyakinan, festival semacam Radin Jambat jika tidak masif dan tumbuh dari masyarakat, sangat sulit dipertahankan.

Pengertian kebudayaan dalam paradigma struktural fungsional, menurut Emile Durkheim, yaitu pertama, melihat kebudayaan sebagai kesadaran kolektif yang berada di luar individu, dan mengontrol perilaku individu dalam mewujudkan tindakan. Kedua, mekanisme kontrol dalam perilaku individu dan akibat normatif bagi pelaku yang menyimpang dari aturan-aturan dalam mekanisme tersebut.

Ketiga, sifat statis sebagai akibat dari orientasi sistemik karena ketergantungan unsur-unsur dalam membangun harmoni. Dan keempat, transmisi kebudayaan dari generasi ke generasi sehingga dapat melestaikan kebudayaan tersebut.

Dari sini, terbentang peta sebagai rute perjalanan kebudayaan kita, seperti festival semacam Radin Jambat, Way Kambas, Krakatau, Perahu Jukung, dan semacamnya dapatkah dipertahankan eksistensinya? Apakah ada langkah masif yang mengikuti, semisal masyarakat mampu berhibur dan atau tidak terhibur jika tidak ada festival itu?

Identitas Kolektif

Persoalan identitas, menjadi pertanyaan dasar, spesifik untuk identitas kolektif(nya) orang Lampung. Untuk menguji dan memetakan pertanyaan ini, ada teori Arjun Appadurai dalam buku Modernity at Large. Cultural Dimensions of Globalization (1996). Antropolog asal India itu (seperti dapat dilihat dari judul bukunya) bukan hanya tertarik fenomena nasionalisme, melainkan mencoba mengerti apa yang dewasa ini disebut dengan globalisasi budaya, yaitu fenomena kebudayaan yang tidak terikat kepada negara-bangsa lagi.

Arjun Appadurai melihat dewasa ini dunia media dan teknologi informasi sangat bervariasi dan kebanyakan dari media atau teknologi yang baru tidak lagi ditujukan kepada pasar domestik, melainkan mengalir kepada konsumen/penggunanya yang secara geografis dan atau politis hidup berjauhan.

Appadurai bertanya, kalau dahulu media cetak mendukung identitas nasional, identitas-identitas apa yang didukung media yang berperan global dewasa ini? Bahkan, pertanyaan ini dapat dipertajam, identitas apa yang disuarakan media lokal untuk mempertegas komitmen berkebudayaan Lampung?

Selain menganalisis identitas kolektif, Arjun Appadurai juga menganalisis identitas perorangan, ternyata yang disimpulkan adalah identitas ada karena didukung media global, misalnya teknologi informasi. Juga agama sebagai identitas kolektif, yang sebenarnya sudah lama ada, belakangan ini mengalami sesuatu yang transnasional oleh lebih banyak pemeluknya, hingga budaya lokal (dimana pertanyaan "Apa identitas kita sebagai masyarakat Lampung?" menjadi sangat aktual) berhadapan dengan lalu lintas global yang terus-menerus menawarkan petikan-petikan identitas dari bermacam-macam warna dunia.

Tanpa memperhatikan peran media global serta teknologi informasi, identitas kebanyakan orang dewasa ini tidak dapat dimengerti, itulah tesis Appadurai. Artinya, tanpa peran publikasi dan informasi yang dimotori media, Lampung sama sekali tidak beridentitas. Dus sebaliknya, logika apa yang dipakai sehingga muncul festival ini itu sebagai identitas seni budaya kita.

Orang Lampung dalam kaitan identitas kolektif makin berada di simpang jalan kritikal dan krusial. Dalam ikatan agama, misalnya, mampukah mendasari terbentuknya "manusia kolektif". Hingga dalam tahapan tertentu kelompok manusia kolektif ini menjadi "umat".

Hanya memang, ada sumbatan inkoherensi atas fenomena tentang misalnya, mulai ada cultural discontinuity atau keterputusan budaya-budaya tradisional.

Adanya manusia kolektif, menurut Prof. Marcel A. Boisard, minimal terikat tiga aspek pokok. Pertama, mengikuti aturan wahyu Tuhan yang menuntun manusia untuk totalitas mengabdi pada aturan Tuhan, terkait hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan makhluk. Kedua, praktek ibadat yang harus dilaksanakan sebagai pengejawantahan manusia yang beriman, berkelompok, dan terorganisir. Dan ketiga, konstruksi kelompok masyarakat yang sesuai dengan konsepsi aturan (hukum).

Untuk Lampung, persatuan adat, kekerabatan, kerajaan, (ke)marga(an), dan semacamnya memang lebih kental dalam bentukan identitas kolektif. Aspek agama Islam, ternyata memberikan warna dan pencitraan tersendiri dalam kaidah kelembagaan maupun kebudayaan.

Faktor alamiah, yang membuat identifikasi awal tentang misalnya pranata sosial masyarakat dengan mentalitas Islam, religiositas tradisi, kebajikan-kebajikan sosial, kecenderungan untuk hidup bersama, kehalusan budi, dan conformism merupakan ciri-ciri peradaban Islam yang melekat dalam adat Lampung. Aplikasi nilai-nilai agama juga ternyata berpengaruh menimbulkan transformasi manusia dan kebudayaan di Lampung.

Intisari persoalannya adalah sejauh ini kurang terdokumentasi dan terpublikasi dengan rapi, tidak sistematis dan atau sulit diakses masyarakat luas.

Pertanyaan yang muncul kemudian, mampukah berbagai festival seni budaya itu menjadi pusat informasi atau justru menjadi arena berhibur an sich tanpa substansi sejarah filosofis yang akhirnya, sudahlah masyarakat tidak tehibur, seni budayanya tidak terpopulerkan pula.

* Endri Y., Pencinta Seni Budaya Lampung, tinggal di Kalianda

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Mei 2008

Apresiasi: 'Pang Lipandang' dalam Gesekan Taman Suropati Chamber

IRAMA gesekan biola membius pengunjung gedung Wisata Makanan, JaCC, Tanah Abang, Jakarta, Sabtu, (2-5) pukul 19.00. Lagu daerah Lampung, Pang Lipandang, menjadi salah satu nomor spesial karena dikemas apik dalam simponi gesek yang amat lembut.

'Pang li pandang, pak lipang dang kik lidang, pang li pandang di pandang kaya nian....'

Bukan saja gesekan biolanya yang terdengar apik dan menghanyutkan, tetapi juga secara khusus lagu Lampung itu dimainkan oleh Ages Dwi Harso, pimpinan Komunitas Musik Taman Suropati Chamber. "Ini persembahan khusus untuk Lampung," kata Ages yang malam itu mengenakan pakaian daerah. Malam itu Lampung memang tersanjung.

Pergelaran yang melibatkan 50-an peserta musik gesek itu diberi tajuk Konser Musik Lagu Daerah, Persembahan untuk Ibu Pertiwi. Dan, inilah konser pertama Komunitas Suropati dengan mengambil momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Hampir seluruh lagu daerah yang merupakan kekayaan seni Tanah Air, yang mulai dilupakan pemiliknya sendiri, diperdengarkan dalam konser malam itu. Karenanya konser malam itu menjadi amat menyentuh, seperti menghadirkan kembali miliknya sendiri yang telah lama hilang.

Surapati Chamber lalu secara ganti-berganti mengalunkan lagu Sirih Kuning, disambung Bungong Jeumpa, Varia Jawa, Bolelebo, Burung Kaka Tua, Anak Kambing Saya, dan Manuk Dadali yang dimainkan amat kompak dan dengan spirit kebhinekaan yang kental. Lagi-lagi, decak kagum pengunjung dan riuh tepuk tangan menyambutnya.

Ratusan pengunjung pun--meskipun mereka penduduk Jakarta, mereka berasal dari berbagai daerah--seperti bernostalgia kembali mendengarkan lagu-lagu yang hampir dilupakan itu. Mereka terhanyut dan secara spontan ikut menyanyikan lagu-lagu itu. Bahkan, jika ada irama yang dinamis, pengunjung pun ikut menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu.

Dengan diselingi happening art oleh seorang penari dengan iringan gesekan maut biola seorang violis, konser kemudian menuntaskan sejumlah lagu: Selayang Pandang, Timpak Timpung, dan Hella Rotane. Menjelang lagu pamungkas, Sing Sing So dari Tanah Batak dinyanyikan secara khusus oleh Prof Payaman J Simanjuntak, anggota komunitas itu. Secara spontan para orangtua yang mengenakan ulos pun mengiringinya dengan gerak manortor.

Akhirnya, konser semakin berenergi ketika hadir bintang tamu, Nugie, yang dengan atraktif menyanyikan (sambil menari) lagu Papua, Yamko Rambe Yamko. Iringan musik gesek yang ditimpa perkusi pun menjadikan harmoni bunyi yang kian rancak.

"Bangsa yang besar, bangsa yang menghargai kekayaan budaya, kepada anak-anakku tercinta, yang sudah menjaga budaya bangsa Indonesia," kata Setiawan Djodi ketika jeda. Ia memberikan apresiasi tinggi pada pementasan Komunitas Musik Taman Suropati Chamber itu.

Cucu tokoh pergerakan Dr. Wahidin Sudiro Husodo itu, kemudian mengemukakan keprihatinannya terhadap ketidakpedulian kita terhadap seni tradisi yang dibiarkan punah. Sebab, katanya, bangsa mana pun, tak akan bisa besar tanpa menghargai miliknya sendiri. Ia menyebut Jepang dan China yang kini menjadi contoh bangsa yang menghargai kultur bangsanya sendiri.

"Selain dapat menumbuh-kembangkan apresiasi terhadap seni musik dan budaya bangsa, Komunitas Suripati juga sekaligus menumbuhkan bakat-bakat pemain musik remaja muda yang andal dan mencintai hasil karya budaya bangsa Indonesia," timpal Direktur Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kementrian Negara Perencanaan dPembangunan Nasional, Dadang Rizki.

Persembahan malam itu selain didukung oleh Lampung Post, Metro TV, dan Media Indonesia, juga oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Keterlibatan pers menjadi amat penting karena lagu-lagu daerah kerap dipandang sebelah mata oleh publiknya sendiri.

Karena itu, kepedulian Komunitas Musik Gesek Taman Suropati, mestinya harus mendapat apresiasi. Yang menjadi menarik, inilah komunitas musik pertama, khsusnya di Jakarta, yang memilih taman sebagai tempat bermain. Menurut Ages, kini sudah ada permintaan untuk membuat komunitas serupa di beberapa taman. Bulan Juni nanti komunitasnya juga diminta main di istana presiden.

Komunitas Suropati yang berdiri tahun lalu itu setiap minggu (pukul 11.00--15.00) bermain di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka bermain di alam terbuka. Sifat keterbukaannya itulah yang menjadi ciri khas, termasuk dalam hal menerima anggota.

Anggota Komunitas Suropati bisa datang dari mana saja dan dari berbagai kelompok usia. Karena itu anggota komunitas amat beragam: murid SD, SMP, SMA, mahasiswa, pengamen, dan mereka yang sudah bekerja. "Syaratnya sederhana, punya alat musik gesek dan punya spirit kebangsaan," kata Ages yang telah beberapa kali diundang ke luar negeri karena aktivitasnya bermusik.

Dengan main di alam terbuka, Komunitas Taman Suropati mempunyai spontanitas yang tinggi. "Misalnya ketika jenazah mantan Presiden Soeharto melintas, mereka spontan membawakan lagu Gugur Bunga," tutur Ny Rita Zahara, salah satu orang tua yang anaknya ikut dalam komunitas itu.

Dalam komunitas itu peran orangtua sangat menentukan. Sebab, para orangtualah umumnya yang meyakinkan kepada anak-anaknya tentang betapa pentingnya musik daerah. "Tanpa kepedulian dan pengorbanan yang tinggi, kami tak bisa jalan. Karena, kami kan harus meninggalkan waktu untuk keluarga setiap hari Minggu. Pengorbanan ini kalau tidak ada pemahaman keluarga akan sulit," kata Ny Rita lagi.

Justru karena melibatkan para orangtua, suasana Komunitas Suropati menjadi penuh kekeluargaan. "Prinsipnya masing-masing dari kami bisa menyumbangkan apa yang kami miliki. Tidak harus materi," kata Bambang, anggota komunitas yang telah berusia, tetapi punya spirit yang menggelora.

Contoh yang paling kongkret ketika latihan menjelang konser. Para orangtua berbagai tugas untuk konsumsi 50-an anggota. "Setiap latihan kami berbagi tugas membawa konsumsi. Ini supaya menghemat, tidak beli di luar," kata orangtua lain, Ny Indah. Ia mengungkapkan, anaknya yang baru kelas IV SD merasa amat happy di Komunitas Suropati karena atmosfer kekeluargaannya yang kental.

Bahkan, Konser Musik Lagu Daerah Persembahan untuk Ibu Pertiwi malam itu, sesungguhnya tak akan bisa berjalan tanpa para orangtua. Mereka benar-benar "jungkir balik": mengurus izin konser, gedung, menghubungi para undangan, mencari sponsor, memasang spanduk, dan tetek bengek lainnya. Para orangtua amatiran itu ternyata juga mampu bekerja maksimal dan profesional. Dan, konser malam itu, benar-benar kian menggelorakan anggota komunitas untuk terus menyanyikan lagu-lagu daerah. Justru karena industri musik hanya peduli pada lagu-lagu masa kini yang amat komersial.

"Sebuah konser yang mengharukan, karena ternyata itu perjuangan para orangtua yang tak kenal lelah," kata Ny To Sei, seorang pengunjung yang malam itu merasa amat bahagia menikmati lagu-lagu daerah. JUNIARDI/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Mei 2008

May 8, 2008

Seni: Baru 30% Guru Sastra Mampu Membuat Puisi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Baru sekitar 30 persen guru Sastra dan Bahasa Indonesia di Provinsi Lampung yang memiliki keahlian dalam ilmu terapan pembacaan dan pembuatan puisi terutama berkaitan dengan dunia sastra.

Penyair Lampung Edy Samudra Kertagama, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di Sekretariat Dewan Kesenian Lampung (DKL), baru-baru ini. Dia mengatakan angka tersebut diperoleh setelah dilakukan pengkajian kepada guru-guru sastra dan bahasa se-Provinsi Lampung. "Selain itu, saat ini wadah pengembangan sastra di sekolah masih sangat kurang. Wadah yang ada selama ini yang kerap digunakan siswa hanyalah majalah dinding," kata Edy.

Padahal nantinya guru sastra yang ada di sekolah bisa membuat semacam satu buletin sastra untuk pelajar ataupun guru yang terbit setiap pekan atau bulan. "Kemudian kegiatan tersebut ditambahkan dengan pembedahan karya sastra yang ada dengan mengundang para penyair ke sekolah-sekolah," tambah dia.

Edy menjelaskan kegiatan tersebut sudah diterapkan di Provinsi Riau. "Ini saya dapatkan setelah menghadiri Temu Sastrawan Sumatera yang digelar di Kota Batam, Kepulauan Riau, pada tanggal 1--7 April lalu. Bahkan untuk lanjutan akan dilaksanakan Pesta Penyair Nusantara 2008 Sempena The 2nd International Poetry Gathering di Kediri, Jawa Timur, pada 26 Juni--2 Juli mendatang," ujarnya.

Dia mengemukakan dengan dibukanya ruang tersebut, akan terbuka masyarakat luas baik itu guru, pelajar, dan lainnya untuk bisa menjadi penyair. "Paling tidak mereka akan menyukai dunia sastra. Sehingga dunia sastra akan semakin berkembang di Provinsi Lampung dengan lahirnya penyair-penyair muda dan baru," kata dia.

Meskipun, kata Edy, untuk di Lampung sudah ada satu wadah seperti Himpunan Penulis dan Pembaca Sastra untuk masyarakat umum bernama Rumah Pena. "Namun untuk di sekolah-sekolah perlu ditumbuhkembangkan lagi. Sehingga selain muridnya yang akan memiliki ruang apresiasi sastra, para guru juga akan selalu berkembang keilmuannya," tambah dia lagi.

Saat ini Edy sedang mempersiapkan 100 puisi pilihan karyanya yang dibuat dalam kurun 1979--2008 dalam bentuk satu buku yang segera diterbitkannya. n */S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 8 Mei 2008

May 3, 2008

Kesusastraan: Puisi Indonesia Masih Butuh Pengayakan

Bandar Lampung, Kompas - Selama 10 tahun terakhir, puisi Indonesia belum banyak berkembang. Puisi-puisi produk Indonesia terkini baru sebatas karya dengan tema yang jalan di tempat dan belum mampu mengomunikasikan kegelisahan masyarakat secara apik, jernih, dan gamblang.

Penyair Joko Pinurbo (tengah) didampingi Binhad Nurrohmat (kiri) dan Iswadi Pratama (kanan) menjawab pertanyaan peserta diskusi puisi yang menyertai peluncuran buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008, Rabu (30/4), di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. (KOMPAS/HELENA F NABABAN)

Demikian kesimpulan pada acara diskusi tentang puisi Indonesia yang menyertai peluncuran buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung, Rabu (30/4)

Penyair asal Lampung yang kini bermukim di Jakarta, Binhad Nurrohmat, dalam diskusi tersebut mengatakan, kemandekan atau stagnasi itu muncul lantaran banyak penyair Indonesia saat ini yang terlalu sibuk dengan estetika bunyi dalam puisi. Para penyair terlalu sibuk dan asyik mencari kata-kata indah untuk dipakai dalam puisi mereka.

”Hasilnya luar biasa,” kata Binhad. Dari pengamatan terhadap puluhan surat kabar di Indonesia, setiap tahun setidaknya bisa dihasilkan 1.000-an karya puisi. Dari sisi produktivitas, jumlah tersebut sangat luar biasa. Hanya, puisi-puisi itu tidak menunjukkan kemajuan tema.

Menurut Binhad, ketika satu penyair berkarya dengan tema tertentu, seperti tema erotisme, dan menarik perhatian publik, penyair lain akan mencoba membuat puisi yang sama. Jadi, bisa ditebak, penyair akan berputar-putar di seputar tema yang dianggap menarik itu.

Hal lainnya, ujar Binhad, ketika tema tidak berkembang, puisi-puisi Indonesia masa kini tidak memunculkan diksi atau kata baru. Padahal, bahasa bisa berkembang melalui karya sastra dari genre puisi itu sendiri.

Joko Pinurbo, salah satu penyair lain yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, mengatakan, kemandekan dalam hal diksi yang dimaksud Binhad seharusnya bisa diatasi apabila para penyair mau mengeksplorasi tema dari bidang lain.

Misalnya, sebelum berkarya seorang penyair membaca atau mengumpulkan pengetahuan dari bidang lain. Jadi, pengayakan kata atau diksi untuk mengungkapkan ekspresi bisa dilakukan. ”Sayangnya, harus kita akui penyair Indonesia cukup malas untuk menggali pengetahuan atau mengayak kata-kata dari bidang lain,” tuturnya.

Ari Pahala Hutabarat, penyair asal Lampung, mengatakan, hal yang paling memungkinkan terjadinya kemandekan tema puisi adalah ketidakmampuan para penyair mengomunikasikan berbagai realitas sosial. (HLN)

Sumber: Kompas, Sabtu, 3 Mei 2008

May 2, 2008

Ikon Lampung: Menara Siger Dorong Kemajuan

BAKAUHENI (Lampost): Setelah menyelesaikan pembangunan Menara Siger, Pemprov Lampung mencanangkan Januari mendatang dimulai pemancangan pipa gelegar jembatan Selat Sunda (JSS). Gubernur Sjachroedin Z.P. optimistis Menara Siger dan JSS akan mendorong kemajuan bagi Lampung.

RESMIKAN MENARA SIGER. Gubernur Lampung Sjachroedin ZP (memegang mikrofon) dan sejumlah duta besar negara sahabat, melepas merpati pada peresmian Menara Siger di Bakauheni Lampung Selatan, Rabu (30/4). Menara Siger yang diresmikan sebagai ikon Provinsi Lampung tersebut dibangun di atas bukit di Bakauheni, Lampung Selatan diharapkan dapat menarik wisatawan berkunjung ke sana. (ANTARA/Triono Subagyo)

Kemarin (1-5), Gubernur Sjachroedin meresmikan Menara Siger ditandai penekanan sirine dan penandatanganan prasasti. Kemudian diikuti penglepasan merpati oleh 10 duta besar berserta istri serta penerbangan helikopter rakitan mahasiswa Universitas Lampung.

Ny. Truly Sjachroedin menggunting rangkaian melati di pintu masuk bangunan menara sebagai tanda dibukanya bangunan bagi masyarakat. Semua prosesi itu diiringi lagu Mars Lampung oleh Korps Musik (Korsik) Pemprov Lampung.

Pada peresmian itu, Gubernur mengundang 32 dubes, di antaranya dubes Kroatia, Sri Lanka, Jepang, Palestina, Afghanistan, Singapura, dan Filipina. Peresmian yang diwarnai pembukaan stan dari seluruh kabupaten/kota itu juga dihadiri keluarga Sultan Banten dan Sultan Kanoman Cirebon.

Dalam sambutannya, Gubernur yakin Menara Siger akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) hingga 15%. Angka itu diperoleh dari perkiraan jumlah kendaraan setiap hari 3.500 unit dan 15 juta orang/tahun yang melintasi Pelabuhan Bakauheni. "Kita ambil 15 persen saja yang singgah ke Menara Siger, maka setiap tahun kita akan menghasilkan pendapatan Rp12,5 miliar," ujarnya.

Berdirinya Menara Siger, ujar Gubernur, mengawali pembangunan jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Bakauheni--Merak, Banten. JSS akan membuat pintu gerbang Sumatera makin dikenal dunia, khususnya Indonesia.

Pembangunan JSS juga jadi prasarana perhubungan yang akan mengatasi kemacetan di Bakau--Merak. Dalam perkiraan Gubernur, lintasan Bakau--Merak lima tahun ke depan akan jadi biang kemacetan.

"Kalau kapal tidak beroperasi karena gangguan cuaca tentu kemacetan tidak bisa dihindari. Untuk itu, saya bersama seluruh gubernur di Sumatera dan Gubernur Banten mendesak pemerintah. Alhamdulillah, ini dapat restu Presiden," kata Gubernur.

Menara Siger yang megah berada di atas bukit sebelah barat Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut dilengkapi dengan sarana informasi mengenai peta wisata yang berada di seluruh kabupaten/kota se-Lampung.

"Menara Siger bukan monumen masa lalu. Ini bangunan masa depan yang akan jadi fenomena bagi masyarakat Lampung jika dipadu dengan JSS," kata Gubernur. AAN/AL/U-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 2 Mei 2008

May 1, 2008

Ikon Lampung: Istigasah Warnai Rangkaian Peresmian Menara Siger

BANDAR LAMPUNG--Hari ini (30-4), Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. akan meresmikan Menara Siger di Bakauheni, Lampung Selatan. Peresmian menara yang jadi ikon daerah ini dihadiri 12 duta besar (dubes) negara sahabat.

Prosesi peresmian menara yang menjadi titik nol Pulau Sumatera itu dimulai kemarin dengan istigasah kubra yang melibatkan masyarakat Lampung Selatan. Istigasah juga diikuti keluarga Keraton Cirebon dan warga Kampung Cikoneng, Banten.

Kemarin malam, acara dilanjutkan hiburan rakyat menampilkan film layar tancap dan pergelaran wayang kulit oleh dalang kondang Ki Mantep Sudarsono dari Jawa Tengah.

Menara Siger dibangun di tanah milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Bakauheni. Menara sepanjang 50 meter itu berada di atas bukit di sisi barat pelabuhan.

Menara yang dibangun di perbukitan dengan ketinggian 300 meter itu menelan dana ratusan miliar rupiah. "Menara ini menjadi land mark Provinsi Lampung. Pembangunannya untuk masa depan, belonging to the future," kata Gubernur Sjachroedin, kemarin.

Dia menyadari selama ini Lampung belum memiliki ikon, tidak seperti Padang yang dikenal dengan Jam Gadang, Palembang dengan Jembatan Ampera, dan Jakarta dengan Monas. "Lampung ya Menara Siger," kata dia.

Gubernur berharap menara yang sempat ditolak anggota DPRD tersebut dapat menjadi daya tarik investasi. Jika kini investasi yang masuk Rp12 miliar, Menara Siger itu diharapkan dapat menyerap Rp200-an miliar pada masa mendatang.

Daya tarik Menara Siger makin kuat jika dikaitkan dengan rencana pembangunan jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Sumatera--Jawa, "Menara itu bisa juga menjadi tempat belajar anak-anak. Sebab, dari sana dapat terlihat aktivitas pelabuhan termasuk keluar-masuk kapal dan lainnya," kata Gubernur.

Desainer konstruksi Menara Siger, Anshori Djausal, mengatakan menara tersebut dibangun sepanjang 50 meter dengan ketinggian 30 meter di puncak jurai siger terbesar. Desain sempat berubah tujuh kali untuk mengakomodasi pemikiran Gubernur.

Awalnya, kata Anshori, gagasan membuat Menara Siger datang dari Sjachroedin sekitar tahun 1995. Sjachroedin yang saat itu masih aktif di kepolisian mempunyai pemikiran untuk membuat land mark atau penanda telah berada di Lampung. "Seperti di Sabang yang ada Tugu Nol Kilometer Indonesia atau Pontianak yang memiliki Tugu Khatulistiwa."

Saat itu, Anshori juga mengajukan desain kepada gubernur dengan biaya sekitar Rp40 miliar. Usulan itu tidak bisa dilaksanakan. "Baru terlaksana pada masa Pak Sjachroedin," kata dosen Fakultas Teknik Unila itu.

Anshori menggunakan model siger bukan sebagai lambang adat, melainkan sebagai emblem warga Lampung secara keseluruhan. n AAN/U-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 30 April 2008