May 24, 2008

Pasar Wisata: Kepentingan Pedagang Harus Diakomodasi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pembangunan Pasar Wisata Bambu Kuning Square (BKS) disetujui banyak pedagang kaki lima (PKL). Asalkan Asosiasi pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) dan Himpunan Pedagang Kaki Lima Bambu Kuning (HPKL-BK) yang akan membangun BKS mengakomodasi semua kepentingan pedagang.

Ketua Perhimpunan Pedagang Kaki Lima Bandar Lampung (PPKL-BL) Agus Pranata Siregar mengatakan rencana pembangunan Pasar Wisata BKS di lahan PT KA--depan Stasiun KA Tanjungkarang--rencananya akan dibangun kios, mal, dan kafe.

Atas rencana itu, PPKL-BL, lanjut Agus, pihaknya meminta seluruh lantai dua dari BKS diserahkan kepada Pemkot Bandar Lampung.

Tujuannya, untuk memberikan kesempatan kepada PKL yang tidak mampu menebus kios agar tetap mendapatkan lapak dan mendapat subsidi menebus lapak dari Pemkot Bandar Lampung. Hal itu sesuai janji Pemkot yang akan memberikan subsidi kepada PKL untuk menebus lapak dari dana APBD 2008 sebesar Rp1,8 miliar.

"Jika Pemkot tidak mendengar tuntutan kami, kami siap akan menggelar unjuk rasa menolak pembangunan Pasar Wisata BKS. Jika permintaan kami ditanggapi oleh Pemkot, kami juga ingin tahu subsidi yang diberikan apakah tidak membatasi ruang lingkup PKL di luar Bambu Kuning," kata Agus, saat dihubungi, Jumat (23-5).

Terlebih, lanjut Agus, sudah dipastikan PKL yang sudah tergusur, akan sulit menebus harga kios yang nilainya cukup tinggi. "Artinya, APPSI dan HPKL-BK juga harus mampu mengakomodasi kepentingan kami yang berada di luar Bambu Kuning. Sebab, kalau lapak yang diberikan kepada kami khusus untuk lantai III dan lantai IV, tentu akan membuat kami tambah sengsara," kata dia.

Sebelumnya, Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengatakan pihaknya memberikan rekomendasi pembangunan BKS kepada APSSI dan HPKL-BK karena ada kesepakatan akan mengakomodir semua kepentingan. Artinya, pembangunan BKS jangan sampai menimbulkan masalah baru.

"Atas dasar itu, kami memberikan rekomendasi pembangunannya dan tidak akan mempersulit proses perizinannya," kata Eddy.

Terlebih, lanjut Eddy, pembangunan BKS akan membantu penataan PKL, hingga persoalan PKL di Tanjungkarang sekitar 75 persen dapat teratasi. Sisanya, penataan PKL sudah dilakukan di Plaza Bambu Kuning lantai II dan rencana Pemkot menata PKL di lantai dasar Ramayana, serta penataan yang sedang berjalan di Terminal Pasar Bawah.

"Jika memang ada PKL yang tidak mampu menebus lapak atau kios, secara teknis akan kami pikirkan," kata dia.

Sebelumnya, Ketua HPKL-BK Zulkarnain mengatakan dengan adanya izin dan rekomendasi dari Wali Kota tersebut, pihaknya memperkirakan pembangunan BKS akan dilaksanakan awal Juli 2008. "Artinya, peletakan batu pertama akan kami laksanakan awal bulan Juli. Dan, awal tahun depan, Bambu Kuning Square sudah berdiri dan dapat menampung PKL yang ada," kata dia.

Zulkarnain mengatakan BKS akan dibangun pada lahan seluas kurang lebih 6.000 meter persegi dengan dana diperkirakan sebesar Rp21,7 miliar. Dana tersebut, selain dari APPSI juga akan didanai dari HPKL-BK sebesar 25 persen dari total anggaran Rp21,7 miliar.

Ditanya, apakah dengan pembangunan BKS akan mengakomodasi semua kepentingan PKL yang ada di lingkungan Pasar Kambu Kuning, Zulkarnain menjelaskan jumlah anggota HPKL-BK sebanyak 634 orang. Sementara itu, BKS untuk tahap awal pembangunannya hanya mampu menampung sekitar 30 orang. "Tapi, yang 30 orang pedagang itu akan kita akomodasi dalam pembangunan tahap kedua. Jadi, semuanya tidak ada masalah," kata dia. n KIM/K-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 24 Mei 2008

May 23, 2008

Pariwisata: Kawasan Siger akan Dikembangkan

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Ketua Umum Pengelola dan Pengembangan Kawasan Wisata Menara Siger (PPKWMS) Erwin Nizar, mengatakan pihaknya akan mengembangkan kawasan tersebut untuk kegiatan daerah, nasional, dan internasional.

"Kita telah memiliki ikon daerah. Dengan dibentuknya pengelola dan pengembangan kawasan tersebut, akan lebih efektif untuk melakukan kegiatan dan menjalankan program," kata dia di Bandar Lampung, Kamis (22-5).

Usai pelantikan organisasi yang membawahi Sekprov Lampung, mantan Bupati Lampung Barat itu mengatakan Provinsi Lampung memiliki potensi wisata cukup banyak, tapi belum dioptimalkan.

Guna menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri, salah satunya bisa dimulai dari Menara Siger, yang terletak di titik kilometer nol selatan Pulau Sumatera.

"Nanti akan terpikirkan oleh anggota pengelola, apa yang bisa digulirkan untuk menjadi tempat kegiatan bertaraf internasional," kata dia.

Ketua Harian PPKWMS, Anshori Djausal, mengatakan momen yang bisa dijual dari kawasan tersebut adalah saat pagi menunggu matahari terbit.

"Kami akan upayakan setiap kendaraan yang tiba di Pelabuhan Bakauheni pagi hari, bisa singgah ke lokasi itu. Selain untuk salat subuh juga bisa sarapan pagi dengan makanan murah dan sehat," kata dia.

Objek yang akan ditawarkan, lanjutnya, yakni menyongsong matahari terbit dari Menara Siger. Sebab, kalau siang hari suhu udara termasuk panas di sana.

Menurut Anshori yang juga arsitek Menara Siger tersebut, bangunan ikon Lampung itu akan menjadi titik awal pembangunan di daerah tersebut.

"Setelah itu akan ada pemancangan Jembatan Selat Sunda yang merupakan pembangunan jembatan terpanjang abad ini," kata dia.

Dari proses pemancangan tiangnya saja, sudah bisa menarik minat orang untuk melihatnya dan ini sebagai objek wisata.

Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. pada peresmian Menara Siger akhir April lalu, mengatakan akan mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) hingga 15 persen.

"Kalau setiap tahun ada 15 juta orang dan 3.500 unit kendaraan melintas di Bakauheni dan 15 persennya saja singgah, maka akan ada perputaran uang yang diperkirakan mencapai Rp12,5 miliar," kata dia. n K-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 23 Mei 2008

May 22, 2008

Seni Rupa: Perupa Lampung Ikuti Pameran Nasional

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bertepatan dengan momen satu abad Kebangkitan Nasional, dua perupa Lampung, Pulung Swandaru dan Subardjo, terpilih menjadi peserta pameran nasional di Galeri Nasional Indonesia. Pameran bertema Manifesto Pameran Seni Rupa 2008 itu digelar mulai hari ini (21-5) hingga 14 Juni mendatang.

Pameran tersebut diikuti 60 pelukis yang dipilih panitia. Lukisan Pulung Swandaru yang terpilih ke tingkat nasional berjudul Merahnya Merah Putih. Lukisan itu menggambarkan zamrud yang dililit selendang merah dengan latar belakang gua penuh stalaktit.

Menurut Pulung, selendang merah menggambarkan semangat kebangkitan dan zamrud adalah simbol bangsa Indonesia yang terkenal dengan julukan zamrud khatulistiwa. "Indonesia memiliki banyak potensi, tetapi belum diolah secara maksimal."

Untuk itu, bangsa Indonesia harus bangkit menghadapi tantangan zaman. "Cahaya di ujung gua menyimbolkan keberhasilan. Sedangkan kegelapan di bawah gua menggambarkan kesuraman atau kegagalan," ujar Pulung.

Sedangkan lukisan Subardjo berjudul Potret. Di sisi sebelah kiri terlihat foto anak berpakaian sekolah lengkap dengan topinya. Bingkai foto hitam-putih itu digerogoti dua ekor bekicot. Sedangkan di sisi kanan terdapat 10 layar monitor yng menampilkan bagian-bagian tubuh perempuan berpenampilan seksi. "Lukisan ini menggambarkan ketimpangan antara kemajuan teknologi dan dunia pendidikan," ujar Subardjo.

Menurut dia, dalam satu abad Kebangkitan Nasional ini, Indonesia cukup maju di bidang teknologi, tetapi dunia pendidikannya makin hancur. "Bekicot itu kalau memakan sesuatu pasti sampai habis, itulah potret pendidikan kita yang semakin lama kualitas pendidikan makin terkikis," kata Subardjo.

Sementara itu, Sapto Wibowo mewakili Dewan Kesenian Lampung (DKL) mengatakan terpilihnya perupa Lampung ke pameran tingkat nasional adalah sebuah kebanggaan bagi Lampung. "Kebangkitan perupa Lampung ini dimulai pada 1999, setiap tahun selalu ada perupa kita yang maju ke tingkat nasional."

Pada 2006, dua perupa Lampung (Subardjo dan Ari Susiwa) terpilih sebagai peserta pameran di China. "Pelukis Lampung sudah setara dengan pelukis di daerah lain. Tidak perlu minder dengan Yogyakarta atau Bandung, yang selama ini dijadikan parameter perupa," ujarnya. n RIN/S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 22 Mei 2008

May 21, 2008

Bahasa Daerah: Sembilan Bahasa Punah, 65 Bahasa Terancam

Bandar Lampung, Kompas - Pusat Bahasa mencatat sembilan bahasa daerah di Indonesia sudah punah dan 65 bahasa daerah lainnya terancam punah. Hal itu terjadi sebagai dampak berkurangnya jumlah penutur bahasa daerah serta pengaruh bahasa-bahasa utama dalam kehidupan modern.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Bahasa Nasional Dendy Sugono, akhir pekan lalu, saat kunjungan kerja ke Lampung.

Jumlah bahasa daerah di seluruh Indonesia mencapai 746 bahasa daerah.

Menurut Dendy, sebagai sarana pengungkap ataupun sarana komunikasi, bahasa daerah bertahan apabila digunakan oleh masyarakat pendukungnya. Bahasa daerah juga bertahan karena sempat diturunkan dari satu generasi ke generasi penutur berikutnya serta memiliki peran strategis bagi masyarakat pendukungnya.

Dalam perkembangannya, kata Dendy, bahasa daerah menjadi tergusur ketika harus berhadapan dengan bahasa-bahasa utama yang dipakai dalam kehidupan modern. Bahasa utama itu di dalamnya termasuk penggunaan bahasa Indonesia.

Data Pusat Bahasa menunjukkan, di Papua terdapat sembilan bahasa daerah yang sudah punah.

Bahasa daerah yang punah itu adalah bahasa Bapu, Darbe, dan Wares yang pernah berkembang di Kabupaten Sarmi. Dari Jayapura dua bahasa sudah punah, yaitu Taworta dan Waritai. Dari Jayawijaya ada dua bahasa yang punah, yaitu Murkim dan Walak. Di Manokwari, bahasa daerah Meoswar sudah punah dan dari Rajaampat bahasa daerah Loegenyem sudah punah.

Untuk bahasa-bahasa daerah yang masih bertahan, Pusat Bahasa tengah mencari strategi guna mempertahankan bahasa-bahasa daerah tersebut. (HLN)

Sumber: Kompas, Rabu, 21 Mei 2008

Kerajinan Khas: Cantumkan Label 'Lampung-Indonesia'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Karya perajin Lampung dinilai sangat indah dan membanggakan, apalagi jika dijadikan cendera mata bagi tamu yang berkunjung ke Lampung. Untuk itu, perajin diminta memberikan label "Lampung-Indonesia" pada setiap produk yang dihasilkan.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung Ny. Truly Sjachroedin pada Pameran dan Lomba Seni Kerajinan Lampung di Gedung PKK Enggal, Senin (19-5).

"Seperti yang sering saya sampaikan, saya selaku pribadi maupun sebagai ketua Dekranasda Provinsi Lampung, selalu bangga menggunakan hasil karya perajin Lampung. Bahkan, dalam memberikan cendera mata kepada tamu-tamu yang berkunjung ke Lampung. Untuk itu, saya menganjurkan perajin memberikan label Lampung-Indonesia pada setiap produk yang dihasilkan," kata Truly.

Menurut Truly, pada setiap momentum yang ada, dapatlah dimanfaatkan memperkenalkan atau mempromosikan sekaligus memasarkan kerajinan Lampung. "Saya berharap Dekranasda dapat menangkap peluang dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya dalam memperkenalkan kerajinan Lampung," kata dia.

Ketua Dekranasda Kota Bandar Lampung Hj. Nurpuri Eddy Sutrisno mengatakan salah satu upaya dalam meningkatkan sektor pariwisata adalah mengembangkan sektor kriya yang merupakan salah satu sektor wisata. Sebab, hingga kini, kriya khas Lampung masih dipandang belum ekonomis karena harganya yang sangat mahal.

Nurpuri mencontohkan karya andalan Lampung masih terpaku pada kain tapis dan sulaman usus. Begitu juga patung gajah ukiran ataupun dari bahan fiber, ternyata masih dijual dengan harga yang relatif mahal. Di bagian lain, perkembangan dunia fashion yang berkembang dengan pesat telah menuntut pengerajin busana khas Lampung mengembangkan karya rancangan sesuai dengan tuntutan zaman.

"Meskipun demikian, karya tersebut tidak boleh menghilangkan unsur kedaerahan yang menjadi ciri khas melekat atas kriya Lampung. Bila semua dikembangkan, otomatis sektor perekonomian masyarakat dapat ditingkatkan," kata Nurpuri.

Berdasar pada pemikiran itu, Dekranasda Kota Bandar Lampung menggelar berbagai lomba yang melibatkan para pelajar dan masyarakat umum. Tujuannya, agar seni budaya yang ada di Lampung dapat tersosialisasi dengan baik di masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan dua hari (18--20-5), kata Nurpuri, dilaksanakan bertepatan dengan seabad Hari Kebangkitan Nasional. "Kegiatan ini diharapkan menjadi titik pemicu pengembangan sektor pariwisata, terutama berkaitan dengan seni kerajinan yang ada di Kota Bandar Lampung khususnya dan Provinsi Lampung pada umumnya," kata dia. n KIM/*/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 21 Mei 2008

Pariwisata: Yawisal Bentuk Desa Wisata

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Yayasan Wisata Alam (Yawisal) Lampung menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Manajemen Desa/Kampung Wisata.

Ketua Dewan Pembina Yawisal Lampung Ahmad Sibli Rais mengatakan salah satu sektor unggulan yang bisa mendongkrak sumber pendapatan devisa negara yang sangat tinggi adalah pariwisata. Salah satu terobosan membuat desa wisata sebagai basis pengelolaan pariwisata daerah.

Menurut Sibli, desa atau kampung wisata menjadi salah satu konsentrasi utama bagi daerah maupun negara manapun yang sangat diminati. Apalagi, kini ikon back to village sudah menjadi paradigma baru pengelolaan pariwisata.

"Desa wisata akan dapat menjadi garda terdepan untuk mendongkrak PAD," kata Sibli, pada pembukaan Diklat Manajemen Desa/Kampung Wisata di Pusdiklat Yawisal, Kelurahan Kedaung, Kemiling, Selasa (20-5).

Dalam kegiatan yang dihadiri Asisten II Pemkot Bandar Lampung Prayitno, Sibli menjelaskan diklat diikuti 100 peserta dari perwakilan kelurahan, utusan akademi pariwisata, mahasiswa pencinta alam, dan warga di daerah dekat kawasan wisata.

Asisten II Prayitno mengatakan Bandar Lampung memiliki potensi budaya dan pariwisata yang tidak kalah dari daerah lainnya di Indonesia. Hanya, potensi yang ada belum dikembangkan secara maksimal.

Kini Pemkot Bandar Lampung bersama Pemprov Lampung tengah giat-giatnya menggali potensi wisata yang ada di Kota Tapis Berseri. Apalagi dalam rangka menyambut Tahun Kunjungan Wisata Lampung 2009 (Visit Lampung Years 2009).

"Sebagai tuan rumah, kita menginginkan masyarakat tidak menjadi penonton di rumahnya sendiri. Dalam event Visit Lampung Years 2009, masyarakat Bandar Lampung diharapkan dapat terlibat aktif di dalamnya," kata Prayitno.

Oleh karena itu, lanjut Prayitno, atas nama Pemkot Bandar Lampung, mengucapkan banyak terima kasih kepada Yawisal yang telah peduli membangun pariwisata kota, termasuk mengadakan Diklat Manajemen Desa/Kampung Wisata ini. Menurut dia, Bandar Lampung memiliki cukup banyak wilayah yang berpotensi untuk dijadikan desa/kampung wisata.

Di antaranya, Pulau Pasaran di Telukbetung Barat, kawasan Batuputu di Telukbetung Utara, kawasan Sukadanaham di Tanjungkarang Barat, serta Desa Kedaung dan Sumber Agung di Kemiling. n KIM/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 21 Mei 2008

May 19, 2008

Seni: SMAN 11 Juara Pertama Musikalisasi Puisi se-Sumatera

BANDAR LAMPUNG(Lampost): Tim SMAN 11 Bandar Lampung berhasil membawa kemenangan bagi Provinsi Lampung pada festival musikalisasi puisi tingkat SMA se-Sumatera 2008.

Tim itu terdiri atas Linda Lestari, Septi Rahayu, Retno Kusuma P., Rizki Kurniaawan, Rizki Ramadhan, dan Edi Suhaidi. Tim membawakan puisi Ia akan Mengecupmu karya Isbedy Stiawan Z.S. Enam siswa SMAN 11 tersebut berhasil memukau juri dan penonton festival yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Sabtu (17-5).

Sedangkan juara II jatuh kepada Provinsi Jambi, dan juara III diraih Sumatera Barat. Juara harapan I diraih Sumatera Selatan, dan harapan II diraih Nangroe Aceh Darusalam.

Pendamping SMAN 11 Bandar Lampung, Ahmad Jusmar, mengatakan anak didiknya memang menampilkan performa terbaik. Walaupun pada penilaian, juri memberikan kritikan kecil, tim tersebut berhasil membawa kemenangan bagi Lampung.

Ahmad menjelaskan terdapat lima kriteria penilaian pada festival dengan tim juri yang terdiri dari Fredie Arsi (pengasuh Teater Matahari Jakarta), Ari Pahala Hutabarat (penyair Lampung), dan Rusly Sukur (penggiat seni Taman Saburai Bandar Lampung) itu.

Kelima kriteria itu ialah penafsiran puisi, komposisi musikal, harmonisasi atau keselarasan, vokal, dan penampilan.

Puisi yang dibawakan Linda Lestari dengan iringan musik yang didominasi alat tradisional Lampung itu mampu memukau ketiga juri. Menurut Ahmad, selain rebana, mereka juga memasukkan unsur musik Melayu pada pembukaan.

"Anak-anak (tim SMAN 11, red) menemukan sendiri bunyi alat tradisional itu, lalu muncullah harmoni yang dapat dipadukan dengan alat musik modern seperti gitar sehingga timbul perpaduan yang sangat unik pada musik pengiring puisi itu," kata dia.

Menurut Ahmad, adanya harmonisasi musik dan puisi itu menjadi penilaian khusus juri bagi anak didiknya. Selain itu, interpretasi teks puisi yang dapat disampaikan dengan lugas juga menambah poin lebih bagi tim dengan kostum hitam putih itu.

"Walaupun juri mengatakan mereka masih belum rileks, kemenangan dapat kami raih," kata guru Seni Budaya di SMAN 11 Bandar Lampung. n */K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 19 Mei 2008

May 17, 2008

Kangen Band Luncurkan Lagu Terbaru SBY

Jakarta, Kompas - Kelompok musik pop manis asal Lampung, Kangen Band, meluncurkan lagu baru, yang syairnya dibuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Hotel Mulia, Jakarta, Jumat (16/5). Lagu baru berjudul ”Lorong Berujung” yang dibuat Presiden untuk menyambut 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Lagu ”Lorong Berujung” dinyanyikan Kangen Band dalam ulang tahun kesembilan Rakyat Merdeka. Lagu ini merupakan lagu baru kedua yang diluncurkan ke masyarakat setelah satu album karya SBY berjudul Rinduku Padamu diluncurkan, November 2007, yang melibatkan beberapa artis, seperti kelompok musik Kerispatih.

Lagu karya SBY terakhir yang diluncurkan berjudul ”Save Our Planet” untuk menyambut KTT Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007. Menurut produser album Rinduku Padamu, Dharma Oeratmangun, Presiden sudah siap meluncurkan album kedua dengan beberapa lagu baru. Video klip beberapa lagu di album pertama juga telah disiapkan, tinggal menunggu masa tayangnya.

Lagu ”Lorong Berujung” yang dinyanyikan dengan tempo lambat dan sendu itu bertutur tentang ajakan bersatu dalam kondisi apa pun. Di tengah masa transisi yang panjang saat ini, ada harapan dan ada cahaya di ujung lorong. Presiden didampingi Ny Ani Yudhoyono yang mengenakan batik berwarna biru menikmati lagu karyanya dinyanyikan.

Dihibur Tukul

Dalam acara ulang tahun kesembilan harian Rakyat Merdeka itu, tampil juga pelawak Tukul Arwana yang terkenal dengan acara bincang-bincang Empat Mata di televisi. Tukul tampil lepas dan menghibur saat mewawancarai Ketua KPK Antasari Azhar. Presiden dan Ny Ani sempat tertawa terpingkal-pingkal beberapa kali saat Tukul bertanya dan berdialog dengan Antasari.

Tukul, misalnya, bertanya kenapa KPK memeriksa kado pernikahan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Apakah KPK sudah berubah menjadi Komisi Pemeriksa Kado? (INU)

Sumber: Kompas, Sabtu, 17 Mei 2008

May 16, 2008

Kriminalitas di Lampung: Berawal karena Kolonisasi

PEMBERITAAN mengenai tindak kejahatan dengan pelaku kejahatan asal Lampung di luar Lampung ataupun di wilayah Lampung sangat marak akhir-akhir ini. Sebagai provinsi termiskin kedua di Sumatera, ternyata dorongan memenuhi kebutuhan ekonomi bukan satu-satunya alasan pelaku kejahatan asal Lampung melakukan kejahatan di Lampung dan di luar Lampung.

Truk dan kendaraan melintas pelan di jalan lintas timur (jalintim) ruas Pidada, Bandar Lampung, pertengahan Februari 2008. Di ruas jalan nasional itu kerusakan berupa lubang lebar dan dalam terjadi secara terpisah-pisah namun merata sepanjang 500 meter. (KOMPAS/HELENA F NABABAN)

Timbulnya kriminalitas atau angka kejahatan di Lampung berhubungan erat dengan masa awal pembukaan dan pengembangan Lampung. Apalagi, di masa selanjutnya, pengembangan Lampung yang tidak disertai dengan distribusi pembangunan yang merata di semua wilayah.

Saksi sejarah kolonisasi Lampung, Raja Bastari Wijaya Sinungan (73), dalam sebuah wawancara awal Mei lalu, kepada Kompas menjelaskan, berbicara mengenai tindak kriminalitas di Lampung harus dirunut ke belakang saat Pemerintah Belanda mulai membuka Lampung.

”Tindak kriminalitas tidak semata-mata terjadi karena dorongan memenuhi kebutuhan ekonomi. Ada faktor pendorong lain yang secara signifikan membedakan penyebab kriminalitas yang dilakukan penduduk Lampung bersuku Jawa dan bersuku Lampung asli,” ujar Sinungan.

Sinungan menuturkan, bagi penduduk Lampung bersuku Jawa—masyarakat Lampung asli menyebut mereka Lampung baru—tindak kejahatan tidak dimulai saat penduduk Lampung baru datang ke Lampung, melainkan sesudah mereka datang dan menetap cukup lama di Lampung.

Tahun 1900-an dikenal sebagai era Pemerintah Belanda giat membangun dan mengembangkan perkebunan di wilayah Sumatera. Pemerintah Belanda menilai wilayah Lampung dengan kondisi tanah yang subur sangat tepat dikembangkan menjadi perkebunan karet.

Rencananya, perkebunan karet itu hendak dikembangkan di wilayah Rotterdam, wilayah itu sekarang menjadi wilayah Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, dan di Bergen yang sekarang dikenal sebagai Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Wilayah calon perkebunan itu terletak di sepanjang Sungai Way Sekampung yang mengalir dari wilayah barat ke timur Lampung.

Perkebunan

Belanda mendatangkan banyak masyarakat Jawa ke Lampung tahun 1905 sebagai buruh perkebunan karet dan langsung menempatkan mereka di Kolonisasi Gedong Tataan atau kolonisasi pertama. Mereka merupakan penduduk yang dikategorikan Belanda sebagai aktivis pergerakan politik waktu itu, yaitu Jong Java, dan membahayakan pemerintahan sehingga perlu disingkirkan. Mulai tahun 1905, era kolonisasi di Lampung pun mulailah.

Sebagai calon buruh perkebunan, Pemerintah Belanda tidak melengkapi penduduk Jawa yang dipindah ke Lampung dengan peralatan atau perbekalan layaknya transmigran pada era Orde Baru. Penduduk Jawa yang dipindah ke Lampung harus bisa mempertahankan hidup dengan bekal yang dibawa dari Jawa. Di Lampung mereka membuka lahan dan membangun rumah dan pertanian sendiri.

Penduduk Jawa yang dipindah ke Lampung akhirnya mampu membangun perkebunan dengan kondisi permukiman yang utuh. Pada perkembangannya, mereka minta kepada Pemerintah Belanda untuk tidak menjadikan mereka sebagai buruh perkebunan. Melihat sumber air yang melimpah, mereka minta izin kepada Pemerintah Belanda untuk membangun irigasi dan membangun sawah.

Situasi mantap itu mendorong Pemerintah Belanda mengembangkan wilayah perkebunan Bergen tahun 1928. Pemerintah Belanda kembali mengumpulkan masyarakat Jawa untuk didatangkan ke Lampung sebagai buruh perkebunan.

Kali ini bukan masyarakat yang aktif di pergerakan politik, melainkan masyarakat yang memiliki latar belakang meresahkan masyarakat yang dikumpulkan. Di Jawa mereka terbiasa melakukan judi, minum minuman keras, mencuri, ataupun tindakan-tindakan yang meresahkan. ”Namun, saat itu masyarakat asli Lampung tidak diberi tahu mengenai jati diri asli penduduk Jawa yang didatangkan pada kolonisasi kedua itu,” ujar Sinungan.

Dengan alasan mendatangkan mereka sebagai buruh perkebunan, kepala-kepala marga di Lampung mengizinkan penduduk Jawa gelombang kedua untuk menempati tanah-tanah adat milik masyarakat asli Lampung yang diminta Belanda. Mereka ditempatkan di lokasi kolonisasi yang dikenal sebagai Kolonisasi Sukadana atau yang sekarang disebut sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Timur dan diatur oleh seorang mantri kolonisasi.

Kedatangan penduduk Jawa itu membuat penduduk asli Lampung minggir ke arah sungai. Dalam kelompok-kelompok marga, masyarakat asli Lampung bermukim di sepanjang sungai yang melintas di wilayah Lampung di antaranya di Jabung dan Labuhan Maringgai, Lampung Timur.

Sistem hidup dengan cara berkelompok juga dilakukan penduduk Lampung baru. Mereka tinggal berkelompok di lokasi Kolonisasi Sukadana. Hanya saja, saking luasnya lokasi tersebut, kelompok-kelompok itu tersebar dan tidak memunculkan sikap gotong royong.

Transfer penduduk Jawa ke Lampung terus terjadi dari 1928 hingga 1930. Di Kolonisasi Sukadana ada satu kelompok yang dianggap gagal, yaitu kelompok yang tinggal di wilayah yang disebut Gedung Wani atau yang sekarang terletak di wilayah Way Jepara, Lampung Timur. Lokasi tersebut menghubungkan Jabung dengan Sukadana.

Kolonisasi baru

Lokasi kolonisasi yang baru itu terletak di Lampung Tengah sekarang, yaitu mulai dari Bumi Jawa mengarah ke barat hingga di Tegineneng. Lokasi itu diapit dua sungai besar, Way Rahman dan Way Sekampung. ”Dari sini berubahlah nama Kolonisasi Sukadana menjadi Kolonisasi Gedung Dalam,” ujar Sinungan.

Kolonisasi Gedung Dalam cukup luas dan mencakup 70 kelompok. Ke-70 kelompok tersebut merupakan percampuran penduduk Jawa yang didatangkan hingga 1937 serta penduduk yang sudah datang pada Kolonisasi Sukadana. Ke-70 kelompok itu akhirnya berkembang menjadi desa dan berkembang lagi menjadi kecamatan.

Mulai dari Kolonisasi Gedung Dalam tersebut, lanjut Sinungan, terutama ketika penduduk dari Pulau Jawa sudah mapan, segala bentuk kejahatan yang dilakukan Lampung baru marak. ”Kalau Kolonisasi Sukadana boleh saya katakan cukup bersih dari kejahatan. Namun untuk Kolonisasi Gedung Dalam, inilah era munculnya bentuk-bentuk kejahatan itu,” kata Sinungan.

Apabila dirunut, penduduk dari Pulau Jawa yang didatangkan pada dua kolonisasi terakhir sejatinya sudah memiliki bibit 5M atau singkatan dari bahasa Jawa minum, main, madat, madon, dan maling. Itu adalah istilah dalam masyarakat Jawa untuk menyebut perilaku tidak benar seperti suka minum minuman keras, suka berjudi, suka mengisap candu, suka bermain perempuan, dan mencuri. Sejak itu, segala bentuk kejahatan mulai terjadi.

Hal tersebut dibenarkan oleh tokoh masyarakat Metro yang sangat memahami seluk-beluk aksi kejahatan dan pelaku di wilayah Metro dan Lampung Timur namun tidak bersedia disebut namanya. Ia mengatakan, sebelum kedatangan penduduk dari Pulau Jawa, bisa dikatakan Lampung merupakan tempat yang paling aman.

Selain tanah sangat subur, penduduk juga hanya sedikit. Penduduk yang sangat sedikit itu tinggal dalam kelompok marga dengan keadatan dan keislaman yang kuat. Kehidupan masyarakat Lampung betul-betul enak. Mereka tidak perlu bersusah payah bekerja. Untuk hidup, mereka tinggal memetik kopi atau lada yang ditanam nenek moyang. Hidup mereka sangat nyaman sehingga mereka tidak mungkin berbuat jahat.

”Bisa dikatakan, Lampung sebelum kolonisasi sangat aman dan kaya. Namun akhirnya kekayaan alam itulah yang nantinya jadi bumerang,” kata tokoh masyarakat yang juga turunan kedua kolonisasi 1928 tersebut.

Hal yang memungkinkan terjadi perubahan sikap hidup masyarakat Lampung adalah pergeseran tata nilai. Pergeseran tata nilai itu terjadi begitu saja, tepatnya setelah kolonisasi mantap pada tahun 1930-1940.

Pada tahun-tahun itulah penduduk asli Lampung baru mengenal kejahatan. Sikap jahat itu mereka pelajari dari pendatang dari Pulau Jawa.

Selama kolonisasi, penduduk dari Pulau Jawa datang tanpa modal. Mirip seperti seleksi alam, penduduk yang ulet akan berhasil, yang tidak ulet akan gagal.

Dari komunitas yang bercampur tadi, di antaranya termasuk kelompok masyarakat Jawa yang memiliki bibit sikap jahat dan lantas mendirikan sindikat-sindikat. Sindikat itu bisa terdiri atas kelompok asal Pulau Jawa atau campuran Jawa-Lampung dan mereka berbuat jahat untuk mempertahankan hidup.

Kemunculan sindikat-sindikat itu dibarengi dengan perubahan tata nilai pada masyarakat Lampung yang sangat signifikan.

Masyarakat Lampung dianugerahi kehidupan yang enak dan cenderung menjadikan mereka hidup dalam kehidupan adat berbiaya tinggi. Sementara masyarakat Jawa tergolong ke dalam masyarakat yang harus bekerja keras. (hln/wad)

Sumber: Kompas, Jumat, 16 Mei 2008

Kriminalitas di Lampung: Kejahatan Berawal dari Kemiskinan

-- Wisnu Aji Dewabrata dan Helena F Nababan

NAMA Kecamatan Jabung sudah pasti tidak setenar Taman Nasional Way Kambas, meskipun keduanya terletak di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sayangnya, jika Way Kambas terkenal akan gajahnya, Jabung belakangan terkenal karena hal-hal yang negatif terkait dengan tindakan kriminalitas warganya.

Kondisi permukiman warga yang sangat sederhana di Desa Jabung, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, Minggu (4/5). Kemiskinan di daerah tersebut menyebabkan sebagian warga merantau ke Jawa dan ada yang menjadi pelaku kriminalitas. (KOMPAS/WISNU AJI DEWABRATA)

Belakangan, banyak penjahat yang tertangkap di Jawa atau daerah lain di Sumatera mengaku dari Lampung Timur atau Jabung. Akibatnya, Jabung dicap sebagai daerah ”hitam” yang menghasilkan pelaku kriminalitas.

Bahkan, saat Kompas merencanakan perjalanan jurnalistik untuk melihat langsung kondisi daerah Jabung, banyak yang berpesan agar berhati-hati. Pasalnya, untuk pergi ke Jabung disarankan jangan naik sepeda motor, apalagi pada malam hari. Sepeda motor merupakan sasaran empuk para begal. Selain itu, jangan keluyuran di Jabung sendirian, carilah teman yang juga warga Jabung asli.

Ketika sampai di Jabung, ternyata kondisi di daerah tersebut tidak seseram yang diceritakan orang. Jalan menuju Jabung lumayan mulus meskipun sempit dan minim penerangan. Suasana di Jabung tak berbeda dengan suasana pedesaan umumnya, yaitu deretan rumah panggung gaya Lampung di pinggir jalan utama yang diselingi kebun lada, jagung, durian, dan lain-lain.

Tujuan pertama adalah rumah salah satu tokoh masyarakat sekaligus tokoh adat Jabung bernama Ismail Umar yang bergelar Pangeran Is. Lewat seorang penghubung, Pangeran Is sudah mengetahui maksud kedatangan Kompas.

Setelah beramah-tamah dan beberapa kali mengembuskan asap rokok, Pangeran Is mengakui wilayah Jabung sejak lama dikenal rawan kriminalitas dan sejumlah warganya menjadi pelaku kriminalitas.

”Semua itu karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap Jabung. Jabung jarang disentuh pembangunan. Padahal untuk mengurangi kriminalitas, cukup dengan membuka lapangan pekerjaan di Jabung,” kata Pangeran Is.

Menurut Pangeran Is, di sekitar Jabung terdapat dua perusahaan yang cukup besar, tetapi keduanya hanya membuka sedikit kesempatan kerja bagi pemuda Jabung. Karena menganggur dan salah bergaul, akhirnya pemuda-pemuda Jabung terlibat kriminalitas.

”Kriminalitas merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah dan terdesak kebutuhan ekonomi. Di sini sarana kesehatan minim, dokter hanya dua jam di puskesmas. Membuat KTP saja perlu waktu enam bulan,” kata Mustofa, pemuka adat di Jabung.

Mustofa mengungkapkan, potensi kriminalitas bisa meningkat karena luas lahan pertanian dan perkebunan di Jabung yang berstatus tanah ulayat makin sempit. Ini disebabkan adat istiadat Lampung, yaitu membeli gelar adat, yang membutuhkan banyak uang. Warga terpaksa merelakan tanah demi membiayai upacara adat.

Cap sebagai daerah penghasil pelaku kriminalitas ternyata membuat warga Jabung gerah. Kata Mustofa, para pelaku kriminalitas yang tertangkap boleh saja mengaku dari Jabung, tetapi mereka belum tentu warga Jabung asli. Menurut Mustofa, karena cap Jabung yang buruk, setiap penjahat asal Lampung pasti disebut dari Jabung.

Disebut ”pemain”

Faktor terdesak kebutuhan ekonomi yang membuat warga Lampung Timur menjadi pelaku kriminalitas dibenarkan oleh salah satu pelaku kriminalitas antarnegara yang ditemui Kompas di Sukadana, ibu kota Kabupaten Lampung Timur.

Pria tersebut bernama Wawan (bukan nama sebenarnya), umurnya sekitar 35 tahun, berbadan tegap, dan tinggi sekitar 170 sentimeter. Melalui seorang penghubung, Kompas dapat melakukan wawancara dengan Wawan di rumahnya.

Wawan mengungkapkan, para pelaku kriminalitas dari Lampung Timur, yang sering disebut ”pemain”, tidak hanya beraksi di Indonesia, tetapi sampai ke luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Kolombia, bahkan Rusia.

Wawan kembali menegaskan pernyataan Pangeran Is dan Mustofa bahwa kemiskinan merupakan biang keladi munculnya pelaku kriminalitas dari Lampung Timur. Wawan mengatakan, pemerintah harus menyadari penyebab munculnya pelaku kriminalitas dari Lampung Timur.

Menurut Wawan, para pemain yang beraksi di luar negeri sebenarnya merupakan aset Lampung Timur. Mereka adalah orang yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi memanfaatkan kelebihannya untuk kejahatan karena tidak ada lapangan pekerjaan.

”Para pemain dari Lampung Timur yang pergi ke luar negeri biasanya terlibat perampokan, pencurian, atau menjadi pembunuh bayaran. Hasil kejahatan di luar negeri dibawa pulang untuk mendirikan usaha,” kata Wawan.

Kehebatan para pemain dari Lampung Timur di luar negeri sudah teruji, bahkan mirip mafia karena terorganisasi. Kata Wawan, para pemain antarnegara dari Lampung Timur sangat pandai menghilangkan jejak. Para pemain menganggap jadi buronan polisi sebagai kegagalan. Mereka yang dikejar polisi biasanya tidak akan pulang ke kampung atau memilih bunuh diri karena aib.

”Para pemain antarnegara terdiri dari ’tukang gambar’ dan eksekutor. Tukang gambar bertugas memetakan sasaran dan lokasi selama dua tahun, setelah itu tugas eksekutor yang akan beroperasi selama lima tahun,” kata Wawan.

Untuk menghindari pelacakan polisi, para pemain tidak langsung menuju negara sasaran, tetapi berpindah dari satu negara ke negara lain. Ada pula yang berkedok sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

Keinginan melepaskan diri dari kemiskinan, kata Wawan, menyebabkan orang-orang di Lampung Timur memilih risiko terberat, yaitu kematian. Sanak saudara tidak menyesali anggota keluarga yang mati sebagai pemain. Menurut Wawan, selama tahun 2002 ada 70-an peti mati dari Jawa dikirim ke berbagai daerah di Lampung. Isinya jenazah para pemain yang ditembus peluru aparat.

Kepala Polres Lampung Timur Ajun Komisaris Besar Dedi Jumadi membenarkan bahwa wilayahnya memiliki stereotip sebagai kawasan menakutkan. Budaya masyarakat yang saling melindungi ikut mendukung suburnya kriminalitas.

”Susah mendapat informasi tentang pelaku kriminalitas di Lampung Timur karena mereka dilindungi tetangganya. Jangan menangkap tersangka di desanya, tangkap di luar desanya. Informasi keberadaan tersangka harus jelas,” kata Dedi, yang pernah mengerahkan 200 polisi hanya untuk merazia minuman keras di sebuah desa di Lampung Timur.

Menurut Dedi, ada dua macam pelaku kejahatan dari Lampung Timur. Pertama, pelaku kejahatan lokal yang melakukan kejahatan hanya untuk foya-foya sesaat. Biasanya pelaku adalah remaja belasan tahun. Kedua, pelaku kejahatan di luar Lampung Timur yang melakukan kejahatan sebagai profesi.

Fenomena kejahatan dikatakan Dedi sebagai fenomena gunung es yang terapung di air. Jika bagian puncak dikikis, bagian bawah yang lebih besar justru akan muncul ke permukaan.

”Untuk menangani kriminalitas tidak bisa hanya dengan menyikat habis pelakunya. Faktor lain yang mendorong orang berbuat kriminal harus diperhatikan,” ujarnya.

Kemiskinan dan kriminalitas saling terkait seperti lingkaran setan. Kriminalitas bukan sebab, tetapi akibat dari kemiskinan. Kriminalitas terbukti bisa menjadi budaya yang dianggap lumrah oleh masyarakat.

Warga di Jabung ataupun di Sukadana sudah menjerit bahwa kemiskinan menyebabkan banyak generasi muda mereka menjadi pelaku kriminalitas. Bahkan pelaku kriminalitas pun mengakui bahwa kemiskinan adalah biang keladi.

Pemerintah harus menyadari bahwa kemiskinan menjadi pendorong yang luar biasa terhadap meningkatnya kriminalitas. Pemerintah harus bertindak nyata mengatasi kemiskinan, jangan sampai penduduk miskin di negeri ini memperoleh pembenaran untuk menjadi ”pemain”.

Sumber: Kompas, Jumat, 16 Mei 2008