February 21, 2012

Budaya dan Wisata Lampung Bisa Dijual

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lampung berpotensi mengunggulkan budaya dan wisata daerah untuk menunjukkan jati diri di tingkat nasional, meskipun harus dibenahi aksesibilitas untuk menunjang pengembangan potensi yang ada.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwanda mengatakan Lampung memiliki dua modal besar, yakni alam dan budaya yang menarik untuk diunggulkan.

Menurut dia, nuansa alam Lampung sangat bagus dan asri, begitu juga budaya Lampung yang menawan. Hal itu tentu dapat menarik minat wisatawan nusantara (wisman) untuk mengunjungi Lampung.

Dia menambahkan di samping Lampung banyak menyimpan potensi wisata, Kota Bandar Lampung juga banyak menyajikan berbagai macam jajanan kuliner khas Lampung yang banyak diburu para wisatawan.

"Wisata kuliner Lampung juga banyak diburu wisatawan. Namun, yang perlu dibenahi adalah aksesibilitas saja, baik darat, laut, maupun udara," kata dia, usai menghadiri pelantikan Wakil Ketua DPRD Bandar Lampung M.W. Heru Sambodo yang menggantikan Khairul Bakti di ruang sidang paripurna DPRD, Senin (20-2).

Dia menambahkan untuk menunjang pariwisata di Lampung, perlu ada penataan serta perbaikan infrastruktur, seperti sarana dan prasarana jalan dan pemandu wisatanya. Meskipun di sisi lain dia mengakui sarana-prasarana di Lampung cukup baik dibanding daerah lain.

Lampung telah memiliki beberapa persyaratan dasar untuk pengembangan wisata, yakni tersedianya hotel, taksi, maupun pemandu wisata yang mumpuni. "Sudah baik untuk sarana dan prasarananya jika dibanding dengan daerah lain, karena sarana wisata, seperti hotel dan lainnya sudah banyak. Tapi, untuk tour guide dan informasi pariwisata perlu diperbaiki," ujar dia.

Selain itu, kata Sapta, pengembangan tapis Lampung juga telah mengalami peningkatan yang cukup membanggakan. Sebagai putra daerah Lampung, dia akan mendorong busana tapis untuk masuk salah satu busana nusantara.

Bahkan, kini tapis menjadi satu corak busana yang dinanti penikmat busana pada Batik Fashion Week dan Jakarta Fashion Week. Dia juga bertekad membangun Provinsi Lampung terutama di bidang pariwisata agar nama Provinsi Lampung bisa dikenal baik di nusantara maupun mancanegara. (VER/K-2)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 21 Februari 2012

February 20, 2012

[Arsip] Hujan Sastra (Sastrawan) Lampung Memang Tak Merata*

Cybersastra.net, Rabu, 9 Januari  2002**


Esai Udo Z. Karzi


MEMBACA esai Kuswinarto "Sastra Lampung Merindukan Hujan Sastrawan" (Cybersastra.net, Selasa, 8 Januari 2002), saya sempat terkesima. Pertanyaan Kuswinarto: adakah sastrawan Lampung dalam arti sastrawan yang menulis sastra dalam bahasa Lampung, cukup mengusik saya. Kekhawatiran akan punahnya bahasa-sastra Lampung memang telah lama menggelisahkan jelma (orang) Lampung, tak kecuali mereka yang -- setidaknya mengaku -- seniman, budawan atau sastrawan Lampung.

Namun, sebaiknya pertanyaan ini kita tanyakan langsung saja kepada jelma Lampung. Mengapa mereka tidak mau mengembangkan bahasa-sastra Lampung yang kabarnya sebenarnya sangat potensial berkembang menjadi bahasa-sastra modern seperti halnya sastra Melayu, Jawa, Sunda, dan Bali? Mengapa jelma  Lampung malah merasa malu dengan bahasa dan sastranya sendiri? Padahal dalam berbagai kesempatan di perbagai aktivitas jelma Lampung selalu memakai tata bahasa (bahasa Jawa: totokromo) yang menunjukkan keluhuran dan kehalusan bahasa mereka.

February 19, 2012

[Buku] Sebuah Oasis Tentang Budaya Lampung

Judul : Piil Pesenggiri, Etos dan Semangat Kelampungan

Penulis : Christian Heru Cahyo Saputro

Penerbit : Jung Foundation Lampung Haritage dan Dinas Pendidikan

Lampung, Bandar Lampung

Cetakan : I, 2011

Tebal : x + 91 hlm.

APA yang terbayang ketika menyebut nama Lampung? Seorang teman yang sering berjalan ke daerah lain bercerita bagaimana Lampung itu identik dengan gajah, binatang buas, dan hutan belantara. Menyaksikan televisi betapa Bumi Ruwa Jurai "babak-belur" dengan berbagai cerita kejahatan. Betapa juga Lampung bertahun-tahun menjadi provinsi termiskin nomor dua se-Sumatera. Sebenarnya nomor satu kalau saja Nangroe Aceh Darussalam tidak terkena tsunami tahun.

Kopi Lampung yang terkenal hingga mancanegara hampir saja tinggal kenangan manakala harganya semakin terpuruk. Berbagai potensi agrobisnis Lampung seperti tenggelam oleh kabar-kabar buruk mengenai Lampung. Masih untung Lampung mempunyai seniman, sastrawan terutama, yang setidaknya bisa menyelamatkan citra Lampung dari sisi budaya.

Sekarang kalau ada pertanyaan seperti apakah kebudayaan Lampung, rasanya memang sulit menjelaskan. Lampung, boleh dibilang, memang minim sosialisasi. Di tengah langkanya publikasi tentang budaya Lampung itu, maka kehadiran buku Piil Pesenggiri, Etos dan Semangat Kelampungan karya Christian Heru Cahyo Saputro ini seolah menjadi oasis bagi mereka yang haus informasi tentang budaya, kesenian, tradisi, dan kebiasaan orang Lampung.

Buku bunga rampai yang berisi 12 artikel (12 bab) dengan tema berbeda-beda ini dibuka dengan prinsip hidup ulun (orang) Lampung yang disebut piil pesenggiri. Meskipun dalam realitasnya sulit menemukan fakta apakah prinsip hidup ini benar-benar terejawantahkan, Christian Heru mengatakan piil pesenggiri ini sebagai cara hidup (way life). Artinya, setiap gerak dan langkah kehidupan ulun Lampung dalam kehidupan sehari-hari (hlm. 1).

Orang Lampung Pesisir menyebut piil pesenggiri itu adalah ghepot delom mufakat (prinsip persatuan), tetengah tetanggah (prinsip persamaan), bupudak waya (prinsip penghormatan), ghopghama delom beguai (prinsip kerja keras), dan bupiil bupesenggiri (prinsip bercita-cita dan keberhasilan). Sedangkan orang Lampung Pepadun menyebut piil pesenggiri terdiri dari: piil pesenggiri (prinsip kehormatan), juluk adek (prinsip keberhasilan), nemui nyimah (prinsip penghargaan), nengah nyappur (prinsip persamaan), dan sakai sambayan (prinsip kerja sama) (hlm. 2)

Menurut Christian Heru, suku Lampung tercatat sebagai salah satu suku bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Bukti konkretnya adalah Lampung memiliki aksara sendiri (aksara Kaganga), Kitab Kuntara Raja Niti yang mengatur secara perinci tata adat, tradisi, arsitektur, serta adat istiadat yang bertahan dan bertumbum kembang.

Pada bab lain, Christian Heru berbicara tentang arsitektur Lampung. Rumah tradisional Lampung yang berbentuk panggung sarat simbol, filosofi, dan muatan kosmologi budaya Lampung (hlm. 7). Sayang, seiring perkembangan zaman, banyak rumah tradisional Lampung yang tergusur rumah modern. Namun, di beberapa tempat seperti Kampung Wana, Negeri Olok Gading, Kedamaian, Blambangan Pagar, Kenali, Menggala, dan Talangpadang, rumah tradisional ini masih dipertahankan masyarakat setempat.

Christian Heru juga berbicara tentang sastra lisan Lampung, di antaranya yang disebut dadi dengan maestronya, Masnuna (hlm. 17-22) dan warahan yang berada diambang kepunahan (hlm. 29-38). Lalu, cerita tentang kearifan lokal Lampung di daerah pesisir barat, Lampung Barat dalam mengelola dan melestarikan lingkungan sembari memetik hasilnya dengan budaya repong. Yang paling terkenal adalah repong damar (hlm. 45-52).

Ada juga pesta topeng rakyat di daerah Lampung Barat yang disebut sakuraan—di Lampung Selatan disebut tupping. Pesta sekura digelar setiap Idulfitri sebagai ungkapan syukur setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dan sebagai sarana silaturahmi, bahkan pencarian jodoh bagi kalangan muda-mudi (hlm. 53-58).

Lampung ternyata menyimpan tarian klasik yang ekspresif, yaitu tari melinting. Tari melinting merupakan tari adat tradisional Kagungan Keratuan Melinting yang diciptakan Ratu Melinting Pengeran Penembahan Mas yang ditampilkan pada acara Gawi Adat. Tari ini mengalami perjalanan yang lama sejak masuknya Islam ke Indonesia hingga kini mengalami pergeseran fungsi dari tari adat yang sakral menjadi tarian sekuler dan menghibur (hlm. 23).

Tradisi ulun Lampung lain yang juga dibahas dalam dalam buku ini adalah anjau muli (anjangsana bujang mengunjungi gadis di Sungkai), canggot bagha (acara bujang-gadis saat bulan purnama tiba), dan ngumbai lawok (tradisi bersih laut untuk tolak bala di pesisir Lampung).

Kalau boleh mengkritik, kelemahan buku ini—seperti hal-halnya buku-buku budaya Lampung lainnya—adalah ketiadaan sumber data, daftar pustaka, dan catatan kaki dalam setiap artikel. Ini penting bagi yang ingin mendalami lebih lanjut mengenai topik yang dibahas.

Terlepas dari kelemahan ini, buku ini cukup penting bagi yang ingin tahu mengenai adat istiadat, kesenian, dan kebiasaan ulun Lampung secara umum. n

Reni Permatasari
, praktisi pendidikan, tinggal di Bandar Lampung.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Februari 2012

February 14, 2012

Mungkinkah Lampung Seterkenal Bali?

Oleh Nely Merina



KONFLIK Sidomulyo antara suku Lampung dan Bali bisa menjadi tolok ukur bahwa ada kesenjangan antara yang populis dan yang kurang populis. Atau bahasa kasarnya antara si kaya dan si miskin.

Kita memang tak bisa menutup mata bahwa Bali lebih jauh populer dibandingkan Lampung sehingga wajar jika terjadi kecemburuan. Sampai saat ini Lampung masih terpuruk dengan peringkat provinsi termiskin kedua di Sumatera. Sedangkan Bali kini sudah melebarkan sayapnya hingga mancanegara. Bahkan lebih terkenal dibandingkan negaranya sendiri, yakni Indonesia.

Namun, Lampung tak boleh berkecil hati. Siapa bilang Lampung tak bisa terkenal seperti Bali, Lampung bisa jauh lebih terkenal, karena potensi Lampung amat beragam. Namun, kurang dioptimalkan dan banyak yang perlu dibenahi. Tak ada salahnya kita menyontek sistem Pulau Dewata itu untuk mengetahui apa yang menyebabkan Lampung masih belum dikenal, bahkan oleh provinsi tetangganya sendiri.

Potensi Lampung

Bali sangat terkenal dengan pariwisatanya. Pantainya yang indah menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Di Lampung, pantai pun cukup banyak dan tak kalah menarik. Sebut saja Pantai Mutun, Sebalang, Queen Artha, Kelapa Rapat, Pasir Putih, Kalianda Resort, Pantai Wartawan, Merak Belatung.

Jadi apa bedanya dengan pantai di Bali? Yang membedakan adalah perawatannya. Pantai di Lampung terkesan kotor karena terlalu banyak sampah di pinggir pantainya. Pantai di Lampung kebanyakan dikelola pihak swasta sehingga terkesan asal-asalan. Jika Pemerintah Lampung dapat berkerja sama dengan pihak swasta untuk perawatan pantai, penulis rasa pantai di Lampung akan sama indahnya dengan pantai di Bali.

Wisata Anak Gunung Krakatau yang sejarahnya telah mendunia pun bernasib sama. Pemprov Lampung seakan tak siap untuk memperkenalkan objek wisata itu kepada masyarakat. Terbukti minimnya keberadaan hotel yang representatif di daerah tersebut. Alhasil yang menikmati hasil dari promosi wisata adalah Provinsi Banten.

Begitu juga dengan Teluk Kiluan. Pesonanya yang indah ditambah pertunjukan lumba-lumba ternyata belum mampu membuat Lampung terkenal seperti Bali.

Hambatannya hanya satu, yaitu pada infrastruktur jalan yang rusak. Kini turis pun tahu bahwa banyak jalan yang rusak di Lampung (Lampung Post.com, edisi 6 Februari 2012)

Namun, Lampung tak perlu berkecil hati, karena Bumi Ruwa Jurai ini ternyata memiliki potensi pertanian yang luar biasa. Tak banyak orang yang mengetahui bahwa Lampung merupakan produsen gula pasir yang memasok 35% produksi nasional, produsen tapioka (60% produksi nasional), penghasil nanas kaleng (26% pemasok kebutuhan dunia), pengekspor udang ke AS dan Jepang (terbesar di Indonesia), penjual sapi terbesar ke Pulau Jawa. Lumbung padi nasional, serta penghasil utama jagung dan kopi nasional (Dermiyati, Guru Besar Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung).

Ketua DPD Irman Gusman dalam seminar Revitalisasi Pertanian dan Perkebunan Lampung pun mengakui Lampung memiliki potensi pertanian yang luar biasa sehingga tidak menutup kemungkinan bila nanti Lampung bisa dinobatkan sebagai Provinsi Pertanian (Lampung Post, edisi 7 Februari 2012).

Kerajinan Tapis

Kerajinan khas Lampung, tapis, juga sudah dilirik Dosen Seni Universitas of Michgan Amerika Serikat Mary Lousie Toton. Ia menerbitkan buku yang berjudul Wearing Wealth Styling Identity Tapis from Lampung, South Sumatera Indonesia, yang pernah dipamerkan di Hood Museum of Amerika.

Hal ini membuktikan kebudayaan Lampung pun bisa menarik peneliti luar negeri. Berarti sebenarnya Lampung memiliki potensi yang sama seperti Bali, tapi belum terpublikasi. Atau bisa dikatakan Lampung ibarat mutiara yang terpendam di lautan dalam. Dan kemungkinan suatu saat Lampung bisa ditemukan oleh penyelam, yaitu wisatawan, dan bisa lebih terkenal dari Bali.

Namun, untuk mencapai semua itu banyak yang harus dibenahi Pemprov Lampung. Sebaiknya pemerintah menyontek Bali yang bisa menyinergikan antara pertanian dan pariwisata. Karena di balik tempat wisata yang indah, terdapat sistem pertanian yang baik. Dan kini hasil pertanian Lampung telah melimpah, tak ada salahnya produk-produk pertanian itu kita jadikan pemikat untuk menarik minat wisatawan. Misalnya menjadikan sentra pertanian sebagai tempat wisata. Kemudian hasilnya diolah untuk memperbaiki infrastruktur jalan yang rusak sehingga tak ada alasan jalan rusak bagi wisatawan yang berkunjung ke Lampung.

Nely Merina, Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Pemimpin Redaksi UKPM Teknokra Unila

Sumber: Lampung Post, Selasa, 14 Februari 2012

February 12, 2012

[Inspirasi] Sutanto, Dorong Pelukis Muda

PASAR Seni Enggal terlihat ramai pekan lalu. Berbagai pondok sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang beramain musik atau hanya sekadar ngobrol. Salah satu pondok yang cukup ramai adalah pondok pelukis Sutanto.



Dalam pondok bertumpuk lukisan karya Sutanto. Ada lukisan impresionis, realis, dan campuran keduanya yang memadukan kesan dan kenyataan.

Meskipun sempit, beberapa pemuda begitu asik menggoreskan kuas di atas kanvas. Sutanto memperhatikan dan kadang memberikan arahan. “Melukis itu mudah, asal tahu caranya,” kata dia memulai pembicaraan.

Pondok lukis Sutanto selalu dipenuhi anak-anak yang mau belajar. Dia selalu berbagi ilmu dan pengalaman melukis. Pemuda-pemuda di Pasar Seni begitu dekat dengan Sutanto. Kesan tidak kaku dan mudah bersahabat membuat Sutanto menjadi sahabat sekaligus bapak bagi pemuda yang biasa nongkrong di Pasar Seni. Mereka memanggil ayah satu anak ini dengan sebutan “pak de”. Sore itu pria kelahiran Salatiga 61 tahun lalu ini ditemani istri tercinta, Rini Rostifa. Rini, kata Sutanto, menjadi manajernya.

Rinilah yang melayani orang yang mau membeli lukisan. Istrinya jugalah yang menjelaskan lukisan-lukisan karya Sutanto kepada calon pembeli dan para kolektor. Rini membekali diri dengan pengetahuan tentang lukisan dengan membaca majalah-majalah seni yang sudah dibeli suami.

Pemuda yang ingin melukis di Pondok Sutanto tidak perlu memikirkan peralatan. Semua alat lukis di pondoknya lengkap. Jenis cat air pun banyak. Dia merelakan alat dan cat airnya dipakai untuk orang yang mau belajar.

Sutanto sangat ringan dalam berbagi ilmu, terutama berbagi ilmu untuk anak-anak muda yang mau belajar. Bila ada teknik melukis dengan alat dan bahan baru, dia langsung tularkan kepada pemuda di Pasar Seni.

Dia ingin agar pelukis muda bisa muncul. Perlu ada regenerasi supaya pelukis-pelukis yang lebih muda hadir dan berani tampil.

Dia pun menemukan ide melukis dengan ampas kopi. Melukis juga tidak melulu dengan kuas. Kini dia menggunakan cara melukis dengan pisau palet untuk menghasilkan lukisan yang hidup. Lukisan impresionis bisa didapat menggunakan pisau palet ini.

“Lukisan impresionis yang dihasilkan berupa harimau. Impresionis menimbulkan kesan yang jelas. Orang tidak perlu melihat dengan teliti dan lama untuk mengetahui isi lukisan. Cukup dengan melihat sekilas, orang akan tahu lukisan apa itu,” ujarnya.

Baru-baru ini ada teknik melukis baru dengan bahan yang murah, tapi harga jualnya bisa sangat mahal. Teknik baru itu menghasilkan lukisan realis yang begitu hidup. Namun, jika dilihat lebih dekat ada retak-retak seperti tanah kering di musim kemarau. “Ide lukisan itu saya buat sendiri, ternyata bahannya sangat murah. Anak-anak pun sudah saya kasih tahu supaya mereka belajar dan bisa membuat lukisan yang mahal,” katanya.

Dalam mencari ide lukisan-lukisan baru, Sutanto kerap membaca dan melihat lukisan karya pelukis luar negeri di majalah-majalah. Dalam majalah tidak disebutkan cara membuat dan bahan yang digunakan. Dia pun mencari cara sendiri untuk menghasilkan lukisan serupa.

Melukis dengan ampas kopi pun sudah mulai marak dikembangkan. Sutanto bisa disebut sebagai pelukis pertama yang mengembangkan metode ini.

Lampung sebagai penghasil kopi terbesar di Indonesia menjadi inspirasi untuk membuat lukisan ampas kopi. “Melukis tidak harus menggunakan bahan mahal. Pakai ampas kopi yang murah juga bisa diolah menjadi lukisan mahal,” katanya.

Bahkan, lukisan ampas kopi karya Sutanto ada yang dibeli orang dekat Ibu Any Yudhoyono. Saat ini beberapa kolektor menunggu dan meminta dia untuk membuat lukisan ampas kopi lagi.

Bagi kalangan kolektor dan penikmat lukisan, karya Sutanto sudah banyak dikenal dan ditunggu. Tidak hanya kolektor dalam negeri, beberapa kolektor luar negeri seperti Singapura dan Australia juga mengoleksi karya Sutanto. Malahan, ada seorang kolektor yang hanya mengoleksi karya-karya Sutanto, bukan pelukis lain. “Saya beri tahu ke kolektor supaya mengoleksi juga karya pelukis yang lain agar koleksi lukisan beragam,” ujar dia.

Pria yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Satyawacana ini juga membuka kelas lukis di rumahnya, di Kelurahan Sumurbatu. Kebanyakan yang belajar melukis adalah anak SMP dan SMA. Jumlah peserta dibatasi hanya beberapa karena kondisi rumah yang sempit.

Kelas melukis dibuat dengan kurikulum yang dirancang sendiri oleh Sutanto. Kelas ini tidak gratis, siswa dikenakan biaya yang digunakan untuk membali peralatan melukis. Siswa tidak hanya dari Lampung, ada yang dari Jakarta dan Aceh.

Kemampuan melukis Sutanto bukan didapat dari pendidikan formal. Dia murni belajar sendiri dengan mengamati lukisan para maestro, seperti Basuki Abdullah. Dia mengamai bagaimana para pelukis hebat membuat karya dan Sutanto pun mencobanya. “Ilmu melukis saya dapat dari mencuri dan mengamati.”

Dia pun mempersilakan pelukis-pelukis muda untuk mencuri ilmunya. Saat awal belajar melukis, tidak langsung dengan kuas dan cat. Keterbatasan dana membuatnya harus melukis dengan areng dan aspal.

Saat itu, komik-komik luar juga menjadi referensi dalam melukis. Setelah merasa mampu, dia pun memutuskan untuk menjalani hidup sebagai pelukis.

Namun, menjadi pelukis memang tidak mudah. Saat pembelian lukisan sepi, dia pun sempat beralih menjadi pelukis dengan menggunakan air brush atau cat semprot untuk keperluan pemasangan iklan. Pembuatan reklame out door sempat menjadi palariannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Selama tujuh tahun, Sutanto meninggalkan dunianya sebagai pelukis, dan lebih menekuni pembuatan reklame. Menurutnya, saat itu billboard masih dibuar secara manual dengan tangan. Beberapa perusahaan besar, seperti Coca-Cola dan Djarum sempat mengontraknya untuk membuat iklan di beberapa daerah. “Saya menjadi orang pertama yang memopulerkan melukis billboard. Saat menukuni dunia iklan, tujuh tahun saya tidak pernah melukis, bahkan istri pun sempat ragu bahwa saya bisa melukis,” katanya.

Profesi sebagai pembuat reklame luar ruanganlah yang membawanya hingga ke Lampung. Tahun 1990, Sutanto pindah ke Lampung karena ada tugas membuat reklame.

Dunia rekalame air brush pun digeser dengan reklame digital. Pemasang iklan pun memilih billboard digital yang lebih praktis. Dari perjalanan hidup yang sudah dilalui, Sutanto menegaskan kemampuan melukis tidak akan membuat orang kesulitan mencari uang. Banyak hal yang bisa dikerjakan. Dengan melukis jugalah ia bisa menyekolahkan anaknya dan adik iparnya hingga sarjana.

Di usia yang sudah tua, Sutanto masih menyimpan kegusaran tentang regenerasi pelukis di Lampung. Belum banyak pelukis muda yang muncul. Menurutnya, jumlah pelukis di Lampung lebih banyak dibandingkan pelukis di daerah lain di Sumatera. Namun, dari sisi produktivitas
karya, Lampung masih ketinggalan. Jarang sekali pameran lukisan di Lampung.

Pendidikan seni lukis harus mulai digiatkan. Dewan Kesenian Lampung (DKL) harus lebih banyak menggelar workshop. “Harus workshop,
workshop , dan workshop,” kata dia.

Sutanto mengatakan pendidikan seni di sekolah masih terlalu umum dan itu pun hanya satu kali dalam seminggu. Guru seni rupa tidak ada di sekolah. Pelajaran seni kurang mendapatkan tempat di sekolah.

Anak-anak didik hanya mengasah kecerdasaan otak untuk hal yang bersifat eksak, sementara kecerdasan rasa tidak pernah diasah. Hal inilah yang membuat orang suka korupsi karena kecerdasan rasa tidak pernah diajarkan. Pendidikan hanya mengajarkan kecerdasaan pada satu bagian otak, sehingga kecerdasan anak didik menjadi tidak seimbang. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Februari 2012

February 9, 2012

Aksara Lampung serta Bahasanya*

DARI semua aksara Surat Ulu (aksara Kaganga), aksara Lampung lain sendiri. Aksara ini telah dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle, Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan walau selintas disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975). Prof. K.F.Holle berpendapat, cuma sedikit suku-suku di Nusantara yang memiliki aksara sendiri, dan sebagian besar suku-suku tidak memiliki aksara, dan baru mengenal aksara setelah menerima Islam, yaitu huruf Arab-Melayu.

Aksara Lampung terdiri dari dua puluh huruf: ka–ga–nga–pa–ba–ma–ta–da–na–ca–ja–nya–ya–a –la–ra–sa–wa–ha–gha. Aksara Lampung ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan. Aksara ini terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambang, angka, dan tanda baca.

Bentuk, nama, dan urutan huruf induk bisa dilihat pada tabel di bawah.

Bentuk tulisan yang masih berlaku di daerah Lampung pada dasarnya berasal dari aksara Pallawa, India Selatan, yang diperkirakan masuk ke Pulau Sumatra semasa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Macam-macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam aksara Arab, dengan menggunakan penanda fathah di baris atas dan kasrah di baris bawah, tetapi tidak memakai penanda dammah di baris depan melainkan di belakang. Masing-masing tanda memunyai nama tersendiri. Dengan begitu, aksara Lampung dipengaruhi dua unsur, yakni aksara Pallawa dan huruf Arab.

Aksara Lampung memiliki banyak kesamaan dengan aksara Batak, Bugis, dan Sunda Kuno. Tetapi bukan berarti yang satu meniru yang lain, melainkan aksara-aksara tersebut memang bersaudara, sama-sama diturunkan dari aksara India. Persis sama halnya dengan aksara Latin dan aksara Rusia yang sama-sama diturunkan dari aksara Yunani, yang pada mulanya berasal dari aksara Phoenisia. Jadi di dunia ini tidak ada aksara yang murni, sebab pembauran antarbudaya di muka bumi berlangsung sepanjang masa.

Berikut contoh naskah aksara Lampung dari kulit kayu lipat.

Karya-karya ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung semuanya memakai “r” untuk menuliskan huruf atau fonem ke-16 aksara Lampung. Gelar (adok) dan nama tempat harus dituliskan dengan ejaan r, meski dibaca mendekati bunyi kh, misalnya Pangiran Raja Purba, Batin Sempurna Jaya, Radin Surya Marga, Minak Perbasa, Kimas Putera, Marga Pertiwi. Penulisan “radu rua rani mak ratong” merupakan ejaan baku, sedangkan penulisan “khadu khua khani mak khatong” tidaklah baku.

Sementara itu, penelitian ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung dipelopori oleh Prof. Dr. Herman Neubronner van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche Tongvallen” dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG), volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, dalam TBG, volume 18, 1872, hal. 118-156, kemudian diikuti oleh penelitian Prof. Dr. Charles Adrian van Ophuijsen melalui artikel “Lampongsche Dwerghertverhalen” dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI), volume 46, 1896, hal. 109-142. Juga Dr. Oscar Louis Helfrich pada 1891 menerbitkan kamus Lampongsch-Hollandsche Woordenlijst. Lalu ada tesis Ph.D. dari Dale Franklin Walker pada Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang berjudul A Grammar of the Lampung Language (1973).

Menurut Prof. C.A. van Ophuijsen, bahasa Lampung tergolong bahasa tua dalam rumpun Melayu-Austronesia, sebab masih banyak melestarikan kosakata Austronesia purba, seperti: apui, bah, balak, bingi, buok, heni, hirung, hulu, ina, ipon, iwa, luh, pedom, pira, pitu, telu, tuha, tutung, siwa, walu, dsb. Prof. H.N. van der Tuuk meneliti kekerabatan bahasa Lampung dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Bahasa Lampung dan bahasa Sunda memiliki kata awi (bambu), bahasa Lampung dan bahasa Sumbawa memiliki kata punti (pisang), bahasa Lampung dan bahasa Batak memiliki kata bulung (daun). Hal ini membuktikan bahwa bahasa-bahasa Nusantara memang satu rumpun, yaitu rumpun Austronesia yang meliputi kawasan dari Madagaskar sampai pulau-pulau di Pasifik.

Kepustakaan

McGlynn, John H. dkk. 2002. Indonesian Heritage 10 (Bahasa dan Sastra). Jakarta: Buku Antar Bangsa.

Anshory, Irfan. 2009. “Bahasa dan Aksara Lampung” dalamhttp://irfananshory.blogspot.com/2009/12/bahasa-dan-aksara-lampung.html

http://rejang-lebong.blogspot.com/2009/04/history-of-rencong-script.html

http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/30/mengenal-tulisan-kagana/


* Dikutip dari Surat Ulu (Aksara Kaganga): Aksara Rencong, Aksara Kerinci, dan Aksara Lampung oleh Tim Wacana Nusantara dalam http://wacananusantara.org, 27 Februari 2010

February 3, 2012

Runtutan Sejarah Budaya Lampung Dimulai

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Sejarah Paksi Pak Sekala Berak bersumber dari kebudayaan suku Tumi di Gunung Pesagi. Keempat paksi yang ada, yakni Buay Nyerupa, Buay Blunguh, Buay Bejalan, dan Buay Pernong, bersifat otonom dan independen, serta saling menghormati dan tidak saling menguasai antarsatu dan lainnya.

Demikian kesimpulan dari seminar dan dialog Sejarah Budaya Lampung bertema Paksi Pak Sekala Berak, menguak jejak muasal dan menguntai sinergi mengawal adat budaya Lampung di kampus FKIP Unila, Kamis (2-2).
Dalam seminar itu disimpulkan kebudayaan Paksi Pak Sekala Berak bermula dari kebudayan suku Tumi di Gunung Pesagi, tetapi teori membutuhkan kajian ilmiah yang lebih mendalam.

Upaya menguak sejarah utuh Paksi Pak Sekala Berak mutlak dilakukan, dan upaya tersebut harus dilakukan secara objektif serta tidak menghilangkan runtutan sejarah secara utuh.
"Sejarah ini harus ditulis secara utuh. Harus diakui asal muasal Paksi Pak Sekala Berak berasal dari suku Tumi yang telah ada terlebih dahulu dengan kebudayaan animisme dan dinamisme," kata Anshori Djausal, pembicara dalam dialog tersebut.

I Wayan Mustika sebagai salah satu peneliti yang intens meriset Sekala Berak menuturkan menguak asal muasal sejarah masyarakat Lampung, termasuk sejarah Paksi Pak Sekala Berak, harus dilakukan secara utuh dan menyeluruh.

Penulisan sejarah juga harus bernilai objektif, tidak menghilangkan unsur-unsur tertentu serta berpegang pada metode penulisan sejarah yang cermat dan akurat berdasarkan bukti-bukti dan referensi sejarah yang ada.

Seminar ini dibuka langsung Rektor Universitas Lampung Sugeng P. Harianto dengan menghadirkan empat tokoh sebagai pembicara utama, yakni Salman Alfarsi dari Buay Nyerupa, Yanuar Fermansyah dari Buay Belunguh, Wirda D. Puspanegara dari Buay Bejalan di Way, dan Erlina Rupaidah dari Buay Pernong.

Dalam sambutannya, Rektor menyatakan miris rasanya jika kita yang lahir, hidup, tinggal, dan mencari nafkah di bumi Lampung tidak mengetahui sejarah asal usulnya daerahnya, serta tidak mengakui bahwa dia merupakan bagian dari masyarakat Lampung.

Dialog juga menghadirkan Ali Imron selaku antropolog Unila, Hendri Susanto selaku sejarawan Unila, Abdul Sani selaku sosiolog Unila, dan I Wayan Mustika selaku peneliti kebudayaan yang telah menghabiskan tujuh tahun hidupnya untuk meriset kebudayaan masyarakat Lampung. (MG1/S-2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 3 Februari 2012

February 2, 2012

HUT KE-44 FKIP: Jejak Adat Budaya Lampungm Diseminarkan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Geografi keratuan atau persekutuan adat di Pemanggilan yang meliputi wilayah Dataran Tinggi Sekala Brak (Ranau dan Lereng Gunung Pesagi) sampai kini masih diakui sebagai tempat asal suku Lampung.

Wilayah ini dikenal dengan sebutan Keratuan Paksi Pak Sekala Brak karena di dalamnya terdapat empat keratuan atau persekutuan adat yang saling independen, yaitu Keratuan Buay Pernong, Keratuan Buay Belunguh, Keratuan Bejalan Di Way, dan Keratuan Buay Nyerupa.

Namun, sejauh ini bagaimana asal serajah keberadaan keratuan dan bukti apa saja (senjata pusaka, benda pusaka, plakat, maupun tambo) belum diketahui secara detail.

Sehubungan dengan itu, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unila bekerja sama dengan Pemprov Lampung menggelar Seminar dan Dialog Sejarah dan Budaya Lampung dengan tema Paksi Pak Sekala Beghak.

Seminar dalam rangka hari jadi ke-44 FKIP Unila tersebut mengambil subtema Menapak jejak muasal dan menguntai sinergi mengawal adat budaya Lampung. Seminar akan dilaksanakan hari ini (2-2) di aula FKIP dan dibuka Asisten III Bidang Kesra Rellyani. Juga hadir Rektor Unila Sugeng P. Harianto.

Dekan FKIP Unila Bujang Rahman mengatakan Seminar dan Dialog Budaya Lampung ini akan menghadirkan keturunan langsung dari Kerajaan Sekala Brak yakni dari Keratuan Buay Pernong, Keratuan Buay Belunguh, Keratuan Bejalan Di Way, dan Keratuan Buay Nyerupa.

Seminar yang akan dimoderatori Mirzali (tokoh adat Lampung Barat) itu juga menghadirkan pembahas ahli Abdul Sani (budayawan Lampung), Ali Imron (antropolog Lampung), Hendru Susanto (sejarawan Unila), dan Wayan Mustika.

Bujang mengatakan seminar dan dialog Budaya Lampung ini diagendakan enam kali secara bertahap dan berkesinambungan. Diharapkan, dapat diperoleh rangkaian sejarah jejak asal dan untaian sinergi secara keseluruhan dari enam kelompok geografis keratuan suku Lampung dalam rangka mengawal adat budaya Lampung sehingga mampu tetap eksis melintasi perjalanan zaman.

Juga dibahas bagaimana bentuk nyata sinergi yang dapat dan telah dilakukan antara Keratuan Buay Pernong, Keratuan Buay Belunguh, Keratuan Bejalan Di Way, dan Keratuan Buay Nyerupa dalam mengawal adat budaya Lampung? Apa saja hambatan-hambatan yang muncul dalam proses sinergi serta bagaimana mengatasinya?

Nantinya hasil seminar ini dapat dijadikan sumbangan dokumentasi sejarah kebudayaan lokal Lampung yang diharapkan memperkaya khazanah dokumentasi sejarah kebudayaan pada tingkat nasional. (TRI/S-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, -2 Februari 2012

Multikulturalisme Lampung

Oleh Asarpin


PARA pendiri Republik ini dapat dijadikan cermin mencerahkan dalam konteks multikulturalisme. Dewasa ini isu multikulturalisme cukup hangat dibicarakan, baik di level internasional, nasional, atau lokal (provinsi).

Di Lampung ada beberapa kali pertemuan dan seminar membahas multikulturalisme dalam hubungannya dengan kebudayaan. Beberapa perguruan tinggi, terutama Unila dan IAIN, pernah mengadakan diskusi dengan tema serupa. Harian lokal juga beberapa kali menurunkan opini soal ini.

Dengan bukti semacam itu, mungkinkah kita pantas berbicara tentang Lampung sebagai cermin multikulturalisme? Tak mudah menjawab pertanyaan itu. Sebagai provinsi plural dari segi etnik, agama, bahasa, budaya, dan sebagainya, sepintas Lampung dapat dijadikan model multikulturalisme yang penuh simpatik. Tak ada konflik besar akibat perbedaan di Lampung.

Kalaupun ada konflik, skalanya amat kecil dan penyebab utamanya bukan karena ketidaksiapan mengelola perbedaan. Konflik lebih sering dipicu soal ekonomi (walaupun kita tak sepenuhnya mengambinghitamkan faktor ekonomi terus-menerus).

Lampung ibarat Indonesia kecil. Ia dapat menjadi ikon bagi relasi antaragama, antaretnik, antarbudaya, dan relasi lainnya. Tapi, kalau menyebut Lampung sebagai cermin multikulturalisme, mungkin amat berat atau hanya akan jadi beban pemikiran saja.

Kalau memang mau bercermin, saya mengusulkan kita bercermin kepada para pendiri Republik ini yang telah menanamkan tonggak penting multikulturalisme. Hasilnya, kita memiliki falsafah negara yang amat mulia, semboyan, dan ideologi yang tangguh.

Dengan bercermin ke latar sejarah berdirinya republik ini, kita memang menyadari betul realitas kemajemukan Indonesia sebagai cermin pendidikan dan kebudayaan. Sudah saatnya membumikan pendidikan multikultur. Bukan sekadar multikultur, melainkan multikultur dalam konteks pembebasan.

Begitu juga soal kebudayaan. Tak mudah membumikan kebudayaan multikultur sekalipun dasar-dasar bernegara sudah menunjukkan semangat merangkul keragaman tanpa meleburnya menjadi keseragaman.

Proses Penyeragaman

Semboyan Republik kita memang cukup tegas, tapi apalah artinya jika tidak dihayati dan diamalkan. Bhinneka Tunggal Ika memang semboyan yang siap menyongsong keharmonisan hidup berdampingan dalam bingkai perbedaan. Namun, untuk apa punya semboyan indah kalau keseragaman dan proses penyeragaman terus kita paksakan lewat lembaga pendidikan dan kebudayaan?

Dalam keseharian sering terjadi kesenjangan antara semboyan dan falsafah negara dengan laku hidup kita sebagai bangsa multikultur. Di hari-hari ini begitu mudah bangsa ini kita marah. Begitu mudah kita terpancing untuk berkelahi hanya karena perbedaan. Begitu cepat emosi kita membara hanya karena tersinggung.

Sekalipun demikian, kalau ada yang bertanya apakah pendidikan multikultural mampu menjawab problem kita sebagai bangsa ke depan? Saya akan menjawab “ya”. Sebab, terlepas dari masih rapuhnya wacana pendidikan multikultural itu sendiri, saya kira sudah saatnya kita untuk terus berusaha mewujudkannya dalam kehidupan nyata, mulai dari rumah tangga hingga sekolah dan perguruan tinggi.

Memang, dengan pendidikan dan kebudayaan multikultur tidak serta-merta konflik akibat perbedaan agama, suku, aliran dan keyakinan, dapat kita sumbat sepenuhnya, namun minimal dapat kita tekan sekecil mungkin. Kita mesti menemukan jawaban bersama tentang pendidikan multikultural yang dapat menjawab kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Selanjutnya, sebagai pendidik mampukah kita menerapkan gagasan multikulturalisme kepada peserta didik? Tujuannya tak hanya meyakinkan mereka untuk mengakui perbedaan, tapi menjadikan perbedaan sebagai rahmat bagi semesta alam?

Artikel ini mencoba mengolaborasi lebih jauh tentang pendidikan multikultural dan bagaimana penerapannya dalam lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan yang berbasis keislaman.

Pendidikan multikultural mengakui adanya keragaman kultural, etnik, dan bahasa suatu bangsa. Di Indonesia, sebagai contoh, muncul serangkaian konsep tentang pendidikan Islam yang toleran dan pluralis, mulai dari gagasan Islam inklusif sampai dengan gagasan Islam pluralis yang merupakan cikal-bakal lahirnya konsep pendidikan Islam multikultural.

Paham multikulturalisme, secara etimologis, digunakan secara semarak pada tahun 1950-an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary istilah "multiculturalism" merupakan deviasi dari kata "multicultural". Kamus ini menyitir kalimat dari surat kabar Kanada, Montreal Times, yang menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat "multicultural dan multilingual".

Tanpa Perbedaan

Pendidikan multikultural lahir sebagai tanggapan terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah. Secara luas pendidikan multikultural mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok seperti gender, etnik, ras, budaya, strata sosial, dan agama.

Namun, menurut saya, kalau kita bicara soal pendidikan multikultural, kita mesti mengambil satu fokus yang disiapkan secara sungguh-sungguh. Mengenai fokus pendidikan multikultural, fokusnya tidak lagi mesti selalu diarahkan semata-mata kepada kelompok rasial, agama, dan kultural domain atau yang dominan.

Fokus seperti ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi kelompok minoritas terhadap budaya mainstream yang dominan, yang akhirnya menyebabkan orang-orang dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream.

Pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap yang bukan cuma peduli dan mau mengerti perbedaan budaya serta pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok minoritas. Tetapi, lebih jauh dari itu, kita mesti siap untuk terus-menerus memperjuangkannya dari berbagai tantangan dan upaya penyempitan terhadap makna dan aplikasi dari pendidikan multikultural itu sendiri. Baik yang sengaja dilakukan oleh negara lewat dinas-dinas tertentu, atau oleh lembaga tertentu, maupun oleh kelengahan kita semua.

Asarpin, Esais dan pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Selasa, 17 Januari 2012

February 1, 2012

Lampung Gagal Raih Hadiah Sastra Rancage 2012

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Tahun ini Hadiah Sastra Rancage kembali lepas dari pelukan sastrawan Lampung. Hal itu karena Irfan Anshory yang mensponsori hadiah untuk bahasa Lampung dan selama ini menjadi juri meninggal tahun lalu dan belum ada penggantinya.

Padahal, tahun lalu ada dua buku bahasa Lampung yang terbit, yakni Raden Intan II karya Rudi Suhaimi Kalianda dan Warahan Radin Jambat suntingan karangan Iwan Nurdaya Djafar. Namun, kedua buku yang terbit tahun 2011 itu bukan karya sastra baru sehingga tidak mendapat Hadiah Rancagé.

"Hadiah Sastra Rancage tahun 2012 tidak diberikan untuk Lampung," demikian keputusan Hadiah Sastra Rancage 2012 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi yang diterima Lampung Post, Selasa (31-1).

Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada sastrawan yang menulis karya sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Hawe Setiawan dari Yayasan Kebudayaan Rancage mengatakan, sudah 24 tahun Hadiah Sastra Rancagé diberikan setiap tahun.

Di samping Hadiah Sastra Rancagé untuk sastra Sunda sejak 1994, hadiah Rancagé untuk sastra Jawa sejak 1997 juga sastra Bali, sejak 2008 diberikan untuk sastra dalam bahasa Lampung. Kecuali untuk bahasa Lampung yang kadang-kadang tidak diberikan karena tidak ada buku yang terbit pada tahun bersangkutan. Hadiah Sastra Rancagé untuk bahasa Sunda, Jawa, dan Bali selama ini secara tetap diberikan setiap tahun.

Hadiah Sastra Rancagé 2012 untuk bahasa Sunda diberikan kepada Acep Zamzam Noor dengan kumpulan sajaknya, Paguneman terbitan Nuansa Cendekia (Bandung).

Sedangkan yang terpilih memperoléh Rancage buat jasa dalam bahasa Sunda ialah Etti R.S., "Etti pernah mendapat Hadiah Sastra Rancagé untuk kumpulan sajak Maung Bayangan (1995) dan untuk Serat Panineungan (2009). Di samping menulis sajak, Etti juga menulis guguritan yang sering dijadikan tembang dalam tembang Sunda Cianjuran," kata Hawe.

Hadiah Sastra Rancagé 2012 untuk karya dalam bahasa Jawa, kata Hawe, diraih Yusuf Susilo Hartono dengan kumpulan puisi Ombak Wengi yang diterbitan Elmatera, Jakarta.

Untuk jasa diberikan kepada Sucipto Hadi Purnomo. Di samping menjadi dosen di Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Sucipto juga menjadi redaktur tabloid Yunior Suara Merdéka dan membina rubrik budaya Sang Pamomong, yaitu lembar khusus bahasa Jawa.

Rancage 2012 untuk karya dalam bahasa Bali diberikan kepada Meték Bintang (Menghitung Bintang) karya Komang Adnyana yang diterbitan Jnana Aksara Bali. Sedangkan Rancagé 2012 untuk jasa dalam mengembangkan bahasa dan sastra Bali diberikan kepada I Made Sugianto.

Sedang Hadiah Samsudi 2012 untuk bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda diberikan kepada Tatang Setiadi atas karyanya yang berjudul Asal-Usul Hayam Pelung jeung Dongéng-dongéng Cianjur Lianna yang diterbitan Kiblat Buku Utama, Bandung.

"Penyerahan Hadiah Sastra Rancagé 2012 dan Hadiah Samsudi 2012 akan dilaksanakan dalam suatu upacara khusus di tempat dan pada waktu yang ditetapkan kemudian," kata Hawe Setiawan. (MG5/S-3)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 1 Februari 2012