March 16, 2012

Pondok Baca Gelar Lomba Baca Puisi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pondok Baca sebagai satu komunitas untuk meningkatkan apresiasi dan gemar membaca menggelar lomba membaca puisi. Kali ini lomba bertajuk Lomba Baca Puisi Pahlawan Rycko Menoza Awards untuk pelajar SMA se-Provinsi Lampung.

Ketua Pelaksana Syaiful Irba Tanpaka mengatakan lomba yang digelar untuk memeriahkan HUT Provinsi Lampung 2012 ini mengambil tema Kepahlawanan. "Tujuannya, meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme."

Permintaan pengiriman peserta telah disampaikan kepada kepala-kepala sekolah di Bandar Lampung maupun kabupaten/kota lainnya.

Mengenai konteks memperebutkan trofi Rycko Menoza Awards, Syaiful menuturkan karena sebagai tokoh muda, Rycko mencatat raihan prestasi yang memiliki keteladanan bagi generasi setelahnya, baik sebagai ketua Pemuda Pancasila maupun ketua KNPI Lampung.

Bupati Lampung Selatan Rycko juga memiliki apresiasi dan kepedulian terhadap pengembangan seni budaya daerah dan semangat kebangsaan untuk mempertahankan NKRI sebagai harga mati.

Lomba digelar tanggal 17—18 Maret 2012 di Plaza Lotus, Bandar Lampung. Setiap juara akan mendapatkan hadiah uang Rp1 juta (juara I), Rp750 ribu (juara II), Rp500 ribu (juara III), dan Rp250 ribu untuk juara harapan I sampai harapan III.

Sementara untuk juara favorit dipilih berdasarkan SMS dengan hadiah dari Axis. Pendaftaran dibuka sejak 16 Februari sampai 16 Maret 2012, di Sekretariat Pondok Baca, Kompleks Pasar Seni, Jalan Sriwijaya Enggal, Bandar Lampung. Persyaratannya, pelajar SMA, membawa surat keterangan dari kepala sekolah, dan membawa kartu tanda pelajar yang masih berlaku.

Selain itu, membayar biaya pendaftaran sebesar Rp50 ribu dan mendapatkan kartu perdana Axis. Pendaftaran juga dapat dilakukan secara online dengan men-donwload formulir di www.syaifulirba.blogspot.com atau hubungi 08127919446.

Materi puisi yang disediakan panitia yaitu Kerawang Bekasi (Chairil Anwar), Dialog Bukit Kamboja (D. Zawawi Imron), Akar Pohon Tanah Airku (Dorotea Rosa Herliani), Pahlawan Tak Dikenal (Toto Sudarto Bachtiar), dan Dongenglah Buat Ind (Isbedy Stiawan Z.S.). (ZUL/K-2)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 16 Maret 2012

March 12, 2012

Plagiarisme, Tragedi Pendidikan Kita

Oleh Udo Z. Karzi




SEORANG calon guru besar Univesitas Lampung (Unila)— sebelumnya disebutkan dua, tetapi kemudian diralat hanya satu—diindikasikan melakukan plagiat (Lampung Post, 9-10 Maret 2012). Sungguh ini tragedi yang memalukan dalam tradisi akademik perguruan tinggi. Wajar saja kalau Rektor Unila Sugeng P. Harianto mengatakan akan bertindak tegas terhadap calon guru besar yang terbukti menyontek karya ilmiah orang lain: dibatalkan menjadi guru besar!

Peristiwa ini belum lama berselang dari kehebohan plagiat tiga dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ketiganya, nama mereka tidak disebutkan, tepergok menyontek naskah untuk promosi menjadi guru besar. Berdasar keputusan senat UPI, meskipun tidak dipecat, ketiga dosen diberi sanksi penurunan pangkat dan jabatan serta pembatalan promosi guru besar mereka.

Disparbud Kosongkan Pasar Seni

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bandar Lampung memberi tenggat sampai Minggu (11-3) agar penghuni Pasar Seni Enggal mengosongkan lokasi, sehingga Pemkot dapat segera melakukan renovasi.

"Jika sampai Senin (hari ini) mereka tidak juga mengosongkan pondokan Pasar Seni, terpaksa kami meminta Pol. PP untuk mengosongkannya. Rehabilitasi akan kami lakukan demi penggiat seni yang selama ini sudah membuat karya yang nyata," kata Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung M. Harun kemarin.

Menurut Harun, anggaran yang diberikan Dewan untuk kegiatan seni adalah berbasis kinerja. Artinya, apa yang telah dihasilkan dari pengelolaan Pasar Seni ialah untuk pembangunan daerah. "Kalau tidak ada hasilnya, Dewan tidak akan menyetujui anggaran yang kami minta."

Untuk itu, setelah renovasi dilakukan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan menswastanisasikan pengelolaan Pasar Seni Enggal agar ada pendapatan asli daerah (PAD) yang didapat.

Namun, kata Harun, pihaknya tetap melakukan pembinaan kepada penggiat seni di Bandar Lampung yang selama ini sudah memberikan karyanya. Misalnya, memberikan 30%—40% atau 10 dari 27 pondokan di Pasar Seni untuk kegiatan seni secara cuma-cuma.

"Dalam pengelolaan Pasar Seni, bukan hanya karya yang dihasilkan. Kami juga mengeluarkan dana lebih dari Rp30 juta/bulan untuk listrik, air, dan fasilitas lainnya. Saat kami minta, mereka (oknum penggiat seni) tidak mampu," kata Harun.

Selain merenovasi pondokan Pasar Seni, pihaknya juga akan membangun gerbang Pasar Seni yang berciri khas Lampung, agar ketika para wisatawan datang ke Bandar Lampung mereka langsung mengetahui kalau Pasar Seni Enggal adalah pusat informasi wisata, budaya, dan kesenian Lampung.

Dukung Renovasi

Sementara itu, dua penggiat seni senior Lampung, Isbedy Setiawan Z.S. dan Syaiful Irbatanpaka, mendukung langkah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bandar Lampung merevitalisasi Pasar Seni Enggal.

"Saya sudah lama berkoar agar segera dilakukan penataan Pasar Seni Enggal, tapi selama ini saya kurang mendapat dukungan. Kadang usulan saya berbenturan dengan kebijakan lain," kata Isbedy yang ditemui di Pasar Seni Enggal, Sabtu (10-2).

Menurut Isbedy, dia banyak menulis tentang sejarah Pasar Seni Enggal. Tujuan dari didirikannya pasar seni agar di Bandar Lampung ada pusat seni, budaya, dan wisata, serta merangkul semua penggiat seni. "Saya setuju dengan penataan ini. Toh, semua demi kepentingan pegiat seni juga."

Sedangkan Syaiful Irba Tanpaka menginginkan Pasar Seni Enggal seperti Pasar Citra di Banjarmasin, Pasar Klewer di Jakarta, dan Pasar Malioboro di Yogyakarta.

"Bukan seperti saat ini, dibilang pasar seni, tapi banyak orang malu ke pasar seni. Saya sangat mendukung langkah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk merevitalisasi pasar ini," kata dia. (KIM/K-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Maret 2012

Sulaman Usus: Karya Aan Ibrahim Dipakai Miss Universe

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Busana khas Lampung, sulaman usus, kini mulai dikenal di tingkat nasional dan internasional. Sehingga, hasil karya putra-putri terbaik Provinsi Lampung (Aan Ibrahim dan Rahayu) mendapat penghargaan dari Museum Tekstil Indonesia sebagai salah satu warisan budaya Nusantara yang harus dilestarikan.

"Ini penghargaan yang sangat surprise bagi Bandar Lampung. Terlebih, sulaman usus yang dihasilkan perajin adalah binaan Dekranasda Kota Bandar Lampung," kata Ketua Dekranasda Kota Bandar Lampung Eva Dwiana Herman H.N. kemarin.

Sulaman usus rancangan Aan Ibrahim sebenarnya sudah lama dikenal. Bahkan, Putri Indonesia tahun 2006 Agni Pratistha memakai baju sulaman usus karya Aan Ibrahim saat menerima mahkota putri kecantikan itu.

Yang lebih membanggakan, Miss Universe 2006 dari Poerto Riko, Zulyka Rivera, juga mengenakan busana yang sama saat menyematkan mahkota kepada pemenang Putri Indonesia saat itu.

"Prestasi ini yang harus kita pertahankan agar ke depan sulaman usus dan tapis Lampung menjadi pakaian wajib di ajang nasional apa pun. Bila perlu, kita terus promosi ke tingkat dunia," kata Eva.

Menurut dia, sebenarnya tidak hanya sulaman usus yang masuk Museum Tekstil Indonesia, tapi juga ada tapis yang lebih dulu sudah dikenal banyak orang, baik nasional maupun internasional. "Tapi, kita patut bangga, hasil kerja keras Dekranasda mempromosikan sulaman usus ke tingkat nasional dan internasional kini membuahkan hasil," ujar dia. (VER/K-2)

Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Maret 2012

March 11, 2012

[Perjalanan] Sepanjang 27,01 Km Teluk Lampung

HAWA lautan Teluk Lampung tidak terlalu panas, cukup cerah. Matahari nyaman bersembunyi dalam dekapan awan. Suasana seperti itu sangat asyik untuk menelusuri pesisir Bandar Lampung.






Dengan perahu kecil bertenaga 16 pk, perjalanan mengelilingi pesisir Bandar Lampung dimulai dari daerah Kecamatan Panjang, tepatnya di dekat kilang milik Pertamina. Sebanyak 15 wartawan dan beberapa aktivis NGO lingkungan, Mitra Bentala, dan beberapa anak buah kapal naik dalam satu kapal suatu siang pekan lalu.

Saat naik dari kapal pemandangan yang menjadi pusat perhatian berupa sampah-sampah yang mengambang di pantai. Air pantai pun agak
kehitaman.

Mengelilngi pesisir Bandar Lampung ini bukan agenda wisata. Hanya menyaksikan kebersihan pantai. Pemkot Bandar Lampung memang belum menjadikan berkeliling pesisir menjadi kegiatan wisata.

Bandar Lampung memiliki hamparan pesisir yang cukup panjang. Membentang dari Lempasing hingga Srengsem yang panjangnya 27,01 km. Teluk Lampung yang berada di Kota Tapis Berseri dikenal dengan bentang alam yang indah karena dikeliling bukit. Pemandangan ini sangat terlihat ketika berada di atas kapal.

Perbukitan mengelilingi pesisir. Sayang, bukit yang menjadi mitigasi alam ini dihancurkan oleh manusia. Seperti yang terlihat di Bukit Kunyit yang hampir sebagian sudah hancur. Bukti di pinggir pantai bisa menjadi pelindung bila terjadi tsunami.

”Sudah lama para aktivis lingkungan menolak penghentian penambangan batu di Bukit Kunyit, tapi terus saja jalan sampai sekarang,” kata aktivis Mitra Bentala, Supriyanto.

Sebetulnya, pesisir Bandar Lampung lebih bagus ketimbang Pantai Losari, Makassar. Hal ini diakui pada saat pengkajian water front city (WFC) Bandar Lampung oleh beberapa ahli. Keunggulan pesisir Bandar Lampung adalah bukit-bukit yang menjulang tinggi bak penjaga pantai.

Topografi pesisir pun sangat unik karena bentuknya menyerupai tapal kuda, atau seperti pantai yang berbentuk huruf ”U”. Topografi pantai ini tidak ditemukan di daerah lain.

Saat berada di perairan wilayah Panjang, banyak sekali kapal-kapal besar yang bersandar. Perahu kami pun harus berlayar tepat di samping kapal-kapal raksasa yang sedang berlabuh.

Menurut salah satu ABK, banyaknya kapal di perairan Panjang karena menunggu giliran untuk berlabuh di Pelabuhan Panjang. Kapal besar ini terkadang menunggu berhari-hari untuk bisa masuk ke pelabuhan. ”Kapal itu lagi pada ngetem sebelum masuk ke Pelabuhan Pelindo,” kata dia.

Perjalanan lewat laut begitu dekat dengan kilang Pertamina dan Pelabuhan Panjang. Kita dapat menyaksikan langsung bagaimana aktivitas pelabuhan internasional ini. Alat-alat pelabuhan, seperti jib crane, untuk mengangkat peti kemas dari kapal, begitu dekat.

Pemandangan berlanjut dengan melihat perkampungan nelayan tradisional, seperti Pulau Pasaran, Keteguhan, dan Bumi Waras. Kapal-kapal nelayan berbaris bersandar di pantai. Rumah-rumah yang berdiri di atas pantai masih banyak terlihat. Sampah menumpuk menjadi pelengkap dan simbol keberadaan daerah nelayan.

Aktivis Mitra Bentala, Mashabi, menuturkan sampai pesisir sudah mulai berkurang melalui program bersih pantai yang dilakukan gabungan LSM lingkungan dengan Pemkot. Ribuan karung sampah berhasil diangkut dari pantai.

Sampah juga masih terlihat di jalur yang kapal kami lalui. Sampah plastik mengambang dan membentuk pola garis melingkar-lingkar. Sampah ini seperti berbaris rapi dari pinggir pantai hingga beberapa ratus meter ke tengah laut.

Sampah inilah yang membuat kapal macet beberapa kali. ”Sampah menyangkut di baling-baling kapal,” kata seorang ABK. Dia pun langsung turun dan menyelam untuk membersihkan sampah di baling-baling.
Banyaknya sampah ini membuat ABK harus beberapa kali menyelam dan membersihkan baling-baling dari sampah. ABK yang lain pun harus mengengkol untuk menghidupkan kapal kembali.

Sampah inilah yang terasa mengganggu perjalanan. Naik kapal dari Panjang ke Lempasing memerlukan waktu hingga satu jam lebih.

Pemandangan yang tidak kalah mewah adalah pulau-pulai kecil yang ada di sekitar Teluk Lampung. Pulau yang sangat jelas dan dekat adalah Pulau Kubur. Pulau kecil yang tidak berpenghuni ini memang menjadi daerah wisata dari pesisir Bandar Lampung.
Tempat wisata lain yang dilalui adalah Pantai Puri Gading dan Pantai Duta Wisata. Kedua pantai ini memang berdekatan. Pondok-pondok

sekitar pantai berjajar rapi. Beberapa pondok ditempati oleh pengunjung pantai yang sedang bersantai.

Teluk Lampung masih menyimpan populasi tumbuhan mangrove. Letaknya di dekat Pantai Puri Gading. Namun, belum ada upaya pelestarian mangrove oleh Pemkot Bandar Lampung.

Pantai dengan panjar mencapai 27 km ini ternyata tidak ramah lagi bagi nelayan dan orang yang suka memancing. Sepanjang perjalanan, kami menemukan hanya ada dua kapal nelayan kecil yang sedang memancing.
Teluk Lampung hampir tidak memiliki ikan karena rusaknya ekosistem pantai. Nelayan di pesisir Bandar Lampung harus berlayar hingga puluhan kilometer dari Teluk Lampung untuk mencari ikan.

Perjalanan kembali ke Panjang sudah hampir sore, pukul 14.00 lebih. Rasa lapar memang tidak bisa dikompromikan. Beruntung salah satu warga di Panjang Selatan, Rini, sudah menyiapkan. Nasi panas, ikan asin, tempe goreng, sayur asam, dan aneka lalapan. Suasana siang yang lumayan panas menambah selera makan. Bahkan, seorang wartawan radio menambah nasi hingga tiga kali.
Ikan asin yang disuguhkan begitu mantap. Tapi yang pasti ikan itu bukan dari Teluk Lampung. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Maret 2012 06:16

March 10, 2012

Pustaka: Gubernur Luncurkan Dua Buku Sekaligus

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dua buku terkait Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. diluncurkan di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (17-3) malam.

Kedua buku yang ditulis wartawan Lampung Post Hesma Eryani tersebut berjudul Inspirator Tanpa Kultus: Biografi Sjachroedin Z.P. dan Lampung Kemarin, Hari Ini, dan Esok: Refleksi 8 Tahun Pemerintahan Sjachroedin Z.P.

Selain undangan umum, dia juga mengundang sejumlah rekan-rekannya sesama mantan polisi, antara lain 25 berpangkat jenderal purnawirawan dan 25 purnawirawan perwira menengah.

Menurut Sjachroedin, penulisan biografi semata merekam jejak perjalanan hidupnya mulai dari masa kanak-kanak hingga hari ini. Catatan ini diharap menjadi dokumentasi, apalagi pada kenyataannya sulit mencari dokumentasi dari Gubernur Lampung sebelumnya. "Mudah-mudahan buku ini memberi manfaat dan mampu menginspirasi para pembaca."

Sedangkan buku Lampung Kemarin, Hari Ini, dan Esok selain menggambarkan perjalanan pemerintahan selama 8 tahun, juga menjaring berbagai pendapat masyarakat atas pelaksanaan pembangunan maupun yang akan datang.

"Pendapat dan pandangan masyarakat akan menjadi masukan bagi saya dan jajaran dalam menjalankan pemerintahan, termasuk di sisa dua tahun pemerintahan saya. Jadi, tak ada niat ria atau maksud menyombongkan diri," kata Gubernur.

Menurut Hesma, penulisan buku biografi menghabiskan waktu hampir 9 bulan. Selain melakukan diskusi dengan banyak pihak, dia juga melakukan riset, khususnya riset pustaka dan wawancara dengan narasumber terkait. Hesma juga mengikuti dan merekam berbagai kegiatan Sjachroedin, baik di Lampung, luar Lampung, dan luar negeri.

"Meskipun subjektivitas saya sangat mungkin masuk, tapi saya berupaya menggunakan pendekatan secara profesional."

Menurut Hesma, banyak sisi positif dari buku ini. Rekam jejak seorang Sjachroedin sangat layak dijadikan referensi bagi siapa saja. "Beliau memiliki sikap moral yang jelas. Karakternya sangat kuat. Itu sesuatu yang sangat jarang dimiliki para pemimpin."

Buku ini juga mengungkapkan sisi filosofis atas berbagai keputusan penting dalam kebijakannya sebagai gubernur. Selain itu, terungkap banyak peran penting Sjachroedin dalam perjalanannya di negara ini, khususnya ketika negara dalam situasi genting lantaran Presiden Gus Dur akan mengeluarkan Dekrit Presiden yang berakhir dengan tergulingnya Gus Dur dari kursi presiden RI.

"Saya kira itu catatan penting dalam sejarah republik ini dan layak diketahui banyak orang termasuk generasi mendatang," kata Hesma.

Selain dua buku ini, pada tahun lalu Hesma juga menulis buku Jejak Langkah Si Anak Desa; Biografi Prof. Ir. H Machmud Hasjim, M.M.E. (mantan Rektor Unsri) dan menulis teks buku Profil Investasi Lampung. (KIM/K-1)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 10 Maret 2012

Patung ZAP: Gubernur Tak Mau Kalah dengan Orang Tuanya

KALIANDA (Lampost): Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. menyatakan akan membuka akses jalur penerbangan Lampung—luar negeri melalui Bandara Radin Inten II pada 2012 ini. Dia tidak mau kalah dengan apa yang telah diperbuat mantan Gubernur Lampung yang juga orang tuanya, Zainal Abidin Pagaralam (ZAP) berjuang untuk memajukan Lampung.

Pernyataan itu dikatakan Gubernur saat meresmikan patung ZAP di jalur dua, persisnya depan jalan lintas Sumatera (Jalinsum), Jumat (9-3) malam. "Beliau (ZAP, red), telah memprakarsai pembangunan Pelabuhan Bakauheni, Bandara Radin Inten II, Unila, dan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung. Kini saya juga telah berbuat untuk Lampung. Karena, kini orang bisa melihat dengan berdirinya Menara Siger sebagai ikon Lampung yang ada di Bakauheni," ujarnya.

Menurut Sjachroedin, masyarakat Lampung tidak boleh melupakan sejarah. Patung Zainal Abidin Pagaralam dibangun bukan untuk diagung-agungkan, melainkan bukti kepedulian pemerintah terhadap jasa-jasanya yang telah membangun Lampung hingga seperti saat ini.

Selain itu, kata Sjachroedin, pembangunan patung Zainal Abidin Pagaralam bukan karena kebetulan cucunya Rycko Menoza S.Z.P. sebagai Bupati Lampung Selatan dan anaknya Sjachroedin Z.P. sebagai Gubernur Lampung. Namun, ini kehendak Tuhan.

"Jadi, kita tidak boleh melupakan sejarah dan jasa-jasa ZAP. Untuk membuktikan adanya sejarah perjuangan ZAP, kini masih ada saksi hidupnya. Silakan boleh ditanya kepada sahabat beliau, yakni Zahidin Muchtar, warga Kalianda," kata dia.

Gubernur berharap patung ini dapat memberikan semangat kita ke depan untuk membangun Lampung, khususnya Kabupaten Lampung Selatan. "Atas berdirinya patung ZAP ini, saya mengucapkan terima kasih kepada para tokoh masyarakat, anggota DPRD, dan para pejabat di Kabupaten Lamsel yang telah ikut membantu berdirinya patung ZAP ini. Selain itu, saya juga berterima kasih kepada tim penulis buku sejarah ZAP," kata Gubernur.

Pemantauan Lampung Post, suasana peresmian patung Zainal Abidin Pagaralam cukup meriah. Apalagi, acara itu dipandu pembawa acara artis Ibu Kota Anya Dwinov.

Acara juga dimeriahkan dengan penampilan tarian khas Lampung asal Sanggar Tari Beringinraya binaan Ketua Penggerak PKK Lamsel Pitka R. Menoza dan penampilan siswi SDN 1 Way Urang yang membacakan puisi tentang perjuangan anak negeri, yang telah menjadikan Lampung bisa maju seperti saat ini. (TOR/U-2)

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 10 Maret 2012

March 8, 2012

Seniman Dukung Renovasi Pasar Seni Enggal

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pelaku seni di Pasar Seni, Enggal, Bandar Lampung, mendukung rencana Pemkot Bandar Lampung yang akan merevitalisasi pusat kesenian itu. Menariknya, penataan tersebut adalah kebijakan yang telah ditunggu-tunggu para seniman.

Seperti diketahui, Pemkot akan melakukan penataan dan penertiban penghuni pondokan di Pasar Seni. Renovasi Pasar Seni Enggal akan mulai dilakukan pada 10 Maret.

Pembenahan yang diproyeksikan untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus lebih menghidupkan pusat kesenian dan UMKM di kawasan tersebut.

Langkah penataan itu mendapatkan sambutan positif dari pelaku seni penghuni Pasar Seni Enggal. Meskipun di satu sisi mereka meminta kepastian Pemkot jika renovasi sudah dilakukan.

Menurut Rudi, pelaku seni musik, pihaknya mendukung rencana Pemkot dengan sepenuh hati. Dia mengatakan kebijakan Pemkot yang ingin merenovasi dan menertibkan penghuni Pasar Seni adalah kebijakan yang ditunggu-tunggu seniman.

"Mengapa kami menunggu kebijakan seperti ini, karena kami pun ingin memajukan Pasar Seni. Sekaligus memajukan kesenian di Kota Bandar Lampung yang selama ini mati suri," kata dia, Rabu (7-3).

Rudi menegaskan kebijakan Pemkot harus didukung sebab penataan Pasar Seni merupakan salah satu terobosan atau perubahan demi perbaikan kesenian ke depan. Mengingat, jika Pasar Seni ramai, pelaku seni juga akan mendapatkan keuntungan.

Ia berharap sebelum Pemkot melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menata pasar seni, pihaknya bersama para seniman yang menghuni Pasar Seni turut diperhatikan.

"Ke depan kami akan ditempatkan di mana, apakah kami masih diperbolehkan menghuni pondokan Pasar Seni. Semuanya harus jelas sehingga kami sebagai seniman bisa terus berkarya tanpa ada rasa khawatir," kata dia. (VER/K-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 8 Maret 2012

March 7, 2012

Pameran Kain Tradisional Lampung di Museum Tekstil

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna & Robert Adhi Ksp


JAKARTA, KOMPAS.com - Beragam kain tradisional Lampung dipamerkan dalam "Pameran Wastra Lampung: Warisan Budaya Melintas Zaman" di Museum Tekstil Jakarta, Rabu (7/3/2012).



Pameran Kain Tradisonal Lampung di Museum Tekstil (Raditya Helabumi Jayakarta/KOMPAS)

Pameran yang digelar atas kerjasama Museum Tekstil Jakarta dan Himpunan Perajin Kain Tapis Lampung dan Lampung Sai ini untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kain tradisional Lampung.

Saat pembukaan pameran juga dimeriahkan dengan peragaan busana kombinasi kreasi kain tapis lampung dan ulam usus.

Tapis merupakan kain berbentuk selongsong yang dikenakan wanita Lampung yang ditenun dengan lajur lajur berwarna sepanjang kain. Pameran ini akan berlangsung hingga 14 Maret 2012.

Sumber: Oase, Kompas.com, Rabu, 7 Maret 2012
|

March 5, 2012

200 Bahasa Daerah Terancam Punah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak warisan budaya, termasuk bahasa daerah. Lebih dari 750 bahasa daerah berada di Indonesia, tapi sekitar 200 bahasa terancam punah karena penuturnya tidak lebih dari 500 orang.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila Bujang Rahman mengatakan hal itu pada pembukaan lokakarya Penelitian dan Penulisan Akademik di Aula K FKIP Unila, Sabtu (3-3). Hadir dalam acara tersebut Ketua Masyarakat Lingusitik Indonesia (MLI) Pusat Faizah Sari, Wakil Ketua MLI Rindu Parulian, dan Tim MLI Pusat Bambang Kaswanti.

Selain untuk mengadakan workshop, kedatangan Tim MLI Pusat ke Unila untuk membicarakan penyelenggaraan Kongres Internasional MLI yang akan diadakan di Unila pada 2014 mendatang. “Unila akan menjadi tuan rumah acara bertaraf internasional yang diadakan setiap 2 tahun ini,” kata ketua MLI Lampung Cucu Sutarsyah.

Workshop yang dihadiri dosen, mahasiswa, dan peneliti ini bertujuan mengembangkan kualitas penelitian bahasa dan keterampilan menulis akademik untuk publikasi ilmiah. “Pelatihan ini adalah upaya mendukung peneliti lokal dan meningkatkan keterampilan menulis para peneliti,” ujar Cucu.

Menurut Bambang, dalam lokakarya ini peserta diajar mengolah data sampai menjadi karya ilmiah, sehingga dapat mengangkat hal menarik dari penelitian yang dibuatnya. “Saat ini banyak peneliti yang mengalami kesulitan mengolah data, padahal mereka sudah memiliki cukup data,” kata Bambang.

Terkait dengan Indonesia yang memiliki beragam bahasa daerah, Bambang menilai hal ini sebagai tantangan untuk dapat melestarikan kekayaan budaya tersebut. Usaha melestarikan bahasa dapat dilakukan melalui penelitian bahasa.

“Saya mendapat informasi bahwa bahasa Lampung merupakan salah satu bahasa yang terancam punah.” Menurutnya, banyak potensi yang dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk melestarikan bahasa daerahnya, salah satunya melalui kawin campur.

Suami-istri yang menikah dan berasal dari suku berbeda memiliki potensi melestarikan bahasa daerahnya lebih besar dengan mengajarkan bahasa daerah masing-masing kepada anak. “Misalnya, ayahnya Batak dan ibunya Manado, ayah dan ibu dapat mengajarkan kedua bahasa tersebut kepada anak mereka,” ujar dia.

Sayangnya, keluarga yang kawin campur justru lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia untuk bercakap-cakap kepada anaknya, padahal bahasa Indonesia pasti akan dimengerti anak melalui pergaulan sehari-harinya.

Menurutnya, anak yang diajari banyak bahasa justru akan memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dibanding anak yang hanya diajarkan satu bahasa, terutama usia sebelum sekolah. Pasalnya, masa tersebut merupakan masa emas bagi seorang anak sehingga orang tua dapat memanfaatkan masa ini untuk mengajar banyak bahasa kepada anak, termasuk bahasa daerah.

Terkait dengan Kongres Internasional MLI, Ketua MLI Faziah menjelaskan kongres ini akan dihadiri peneliti linguistik baik dari seluruh Indonesia maupun dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan negara lain dari Asia Tenggara.

Terdapat sidang pleno dan paralel yang di dalamnya membahas berbagai hasil penelitian linguistik. Hasil kongres tersebut dimasukkan Jurnal Linguistik Indonesia yang terbit 2 kali setahun dan sudah memiliki versi online. (MG4/S-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 5 Maret 2012