April 1, 2012

Memaknai (Ulang) 'Piil Pesenggiri'

Oleh Febrie Hastiyanto

DALAM sayup-sayup kerinduan di tanah seberang, menyaksikan pertikaian antarkelompok warga di Lampung baru-baru ini (yang kemudian diidentifikasi berasal dari dua etnis berbeda) membuat saya terluka. Kita semua tentu sepakat seharusnya konflik dan pertikaian tak boleh ada di bumi Lampung.Untuk sampai pada situasi ini tampaknya kita harus banyak memaknai ulang perspektif filsafat kehidupan masing-masing kelompok. Pada dasarnya semua filsafat kehidupan berlaku universal sehingga dapat disebut bahwa filsafat kehidupan seluruhnya setia pada kebaikan. Namun tafsir, penghayatan, dan implementasi filsafat hidup yang dikodifikasi dalam sistem nilai kebudayaan sering menyebabkan distorsi atas nilai-nilai luhur yang dikandung sistem-sistem nilai yang ada.

Mendiskusikan isu-isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) hari-hari ini memang riskan. Namun, bersikap menghindari diskusi soal-soal SARA juga tak taktis. Betapa pun pahitnya dan kita tutupi (misalnya dalam konteks jurnalisme perdamaian atau wawasan kebangsaan) realitasnya isu etnisitas adalah isu yang aktual terjadi dalam masyarakat. Sudah saatnya kita memberanikan diri mendiskusikan soal etnisitas karena kebiasaan kita menghindari diskusi soal etnisitas justru membuat salah pengertian semakin berpotensi terjadi. Sudah tentu diskusi soal etnisitas mula-mula hendak memperoleh pengetahuan masing-masing etnografi yang ada untuk kemudian mencari formula bagaimana etnis-etnis yang ada dapat hidup berdampingan, saling memahami serta menghargai.

Masyarakat Heterogen

Kesadaran mula-mula yang perlu ditumbuhkan di antara kita adalah pengakuan bahwa Lampung dihuni oleh masyarakat yang heterogen. Hubungan antarbudaya dalam masyarakat heterogen setidaknya dapat berujud tiga formula: etnosentrisme, peleburan (melting pot), atau pluralisme/multikulturalisme (Nurdaya, 2012). Rasa-rasanya kita semua sepakat model hubungan etnosentrisme hampir-hampir mustahil terjadi tanpa paksaan (coercion) dalam masyarakat heterogen hari ini. Pilihannya kemudian adalah formula peleburan (melting pot) atau pluralisme. Dalam konteks keindonesiaan, saudara kita etnis Tionghoa pernah berada pada persimpangan-budaya: masuk dalam melting pot Indonesia melalui gerakan pembaruan/asimilasi melalui wadah Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB)—antara lain dengan mengubah nama diri ke dalam bahasa Indonesia, maupun mereka yang tetap setia pada kebudayaan Tionghoa, bahkan sebagian memilih menjadi WN China ketika tahun 1950-1960-an pemerintah menerbitkan kebijakan naturalisasi.

Relasi yang sejajar dalam masyarakat heterogen dan multikultur adalah penghormatan terhadap pluralitas. Pluralitas mengandaikan masing-masing kultur saling menghormati, tidak ada kultur yang dependen terhadap kultur lain (dalam skema asimilasi, misalnya), sekaligus masing-masing kultur mendapat tempat yang sama untuk melakukan internalisasi dan pewarisan nilai-nilai. Ikatan yang yang menyatukan masyarakat heterogen adalah kedudukan yang sama sebagai penduduk/warga dalam satu wilayah. Nilai-nilai, cita-cita dan tujuan wilayah (dalam hal ini nasionalisme Indonesia) adalah nilai yang mengikat masing-masing warga (negara)-nya.

‘Nemui Nyimah’

Dalam Kuntara Raja Niti, disebutkan nilai-nilai yang diwariskan dalam tradisi masyarakat etnis Lampung adalah piil pesenggiri (perilaku yang memantulkan nilai-nilai yang luhur, berjiwa besar, tahu diri, serta tahu kewajiban), bejuluk beadek (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya), nemui nyimah (sikap terbuka serta ramah menerima tamu), nengah nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), dan sakai sembayan (gotong royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).

Ketika terjadi konflik warga (yang berasal dari etnis berbeda) kita sering mendengar konsepsi nemui nyimah dan piil pesenggiri menguat untuk dibincangkan.

Dalam konsepsi nemui nyimah umumnya disebutkan agar tuan rumah mampu bersikap terbuka dan ramah, serta sebaliknya tamu bersikap tahu diri dan menghargai tuan rumah. Sedang konsepsi piil pesenggiri yang kerap dibincangkan adalah distorsi pemaknaan perilaku (Arab: fiil) dan keharusan bermoral tinggi (pesenggiri) yang bergeser menjadi perasaan ingin besar, ingin dihargai, tak ingin lebih rendah/kalah dari orang lain—yang disebut sebagai ijdelheid dalam bahasa Belanda (Hadikusuma, 1989). Padahal praktek piil pesenggiri sebagaimana dirilis Kuntara Raja Niti tidak lepas dari pedoman untuk berlaku arif dan bijaksana dalam memecahkan masalah (way ni dang robok, iwa ni dapok), termasuk memahami anggota masyarakat yang kehendaknya tidak sama (pak huma pak sapu, pak jelma pak semapu, sepuluh pandai sebelas ngulih-ulih, sepuluh tawai sebelas milih-pilih) (Anshory, 2007).

Untuk mendudukkan konsepsi nemui nyimah dalam masyarakat multikultur agaknya kita perlu memahami karakteristik “tamu” yang kini bermukim di Lampung. "Tamu" di Lampung hari ini adalah penduduk keturunan generasi keempat, kelima, keenam bahkan ketujuh bila kita rujuk dari kontingen pertama transmigrasi tahun 1905, maupun gelombang transmigrasi tahun 1950-an, 1960-an, dan 1970-an. "Tamu" dari Bali datang ke Lampung paling tidak sejak 1962 ketika mereka ditransmigrasikan sebab Gunung Agung meletus. Mulanya imigran dari seberang ini memegang teguh tradisinya, bahkan bermukim di daerah-daerah kantong (enklave) transmigran.

Seiring perkembangan, tradisi kultural yang dilakukan semakin tergerus modernisasi. Mereka yang telah beberapa generasi di Lampung selalu dianggap "tamu", sementara di tanah leluhurnya di Jawa dan Bali, mereka tak lagi dianggap "Jawa dan Bali". Mereka tak lagi menjadi Jawa atau Bali (atau etnis-asal lain), kecuali satu-dua tetes darah secara genealogi. Praktek kultural mereka, termasuk saudaranya etnis Lampung semakin kosmopolit seiring introduksi kebudayaan yang sudah sama sekali "nasional". /Kondisi psikologis-kultural ini tak menguntungkan bagi kedua pihak. Sering mereka berlaku sebagai "tamu" karena selalu diperlakukan sebagai "tamu".

Dalam konteks masyarakat multikultur dengan semangat pluralisme, sudah saatnya konsepsi nemui nyimah ditafsir ulang. Siapa pun penduduk yang bermukim di Lampung adalah warga Lampung dan tak lagi dianggap sebagai “tamu” oleh sebab genealogi atau etnisnya sepanjang ia dapat hidup dan menjadi bagian masyarakat Lampung yang setia pada nilai-nilai luhur filsafat kehidupan universal. Tabik. n

Febrie Hastiyanto, Putra Way Kanan, kini mukim di Tegal. Alumnus Sosiologi FISIP UNS

Sumber: Lampung Post, Minggu, 1 April 2012

March 25, 2012

[Perjalanan] Air Belerang Kaki Gunung Rajabasa

WAY BELERANG di kawasan Gunung Rajabasa Register 3, Lampung Selatan, masih alami. Sebab, tempat wisata itu belum dikelola secara maksimal.






Wisata alam Way Belerang yang berada dekat dengan Desa Kecapi dan Babulang, Kecamatan Kalianda, itu hingga kini masih dikelola para pemuda dua desa itu. Objek yang berada di Kecamatan Kalianda tersebut menyimpan panorama keindahan alam yang cukup menakjubkan.

Keasrian tempat wisata alam menambah daya tarik tersendiri. Apalagi, posisinya tidak jauh dari air terjun Way Kalam yang hanya beberapa meter saja. Way Belerang yang kerap disebut masyarakat Kalianda ada Way Belerang Simpur itu, berada di dekat perkebunan cokelat dan durian milik masyarakat setempat.

Untuk dapat mencapai Way Belarang Simpur, hanya dibutuhkan waktu 15 menit dengan menggunakan kendaraan sepeda motor atau mobil dari Kota Kalianda yang berjarak hanya 10 km. Apalagi, kini sarana infrastruktur, seperti jalan beraspal mulus dari Desa Kecapi, Kecamatan Kalianda, telah dibangun.

Bahkan, pada 2011 lalu, Kementerian Kehutanan RI melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp4 miliar telah membangun jalan setapak (jalan lingkar, red) di Gunung Rajabasa Register 3 itu sepanjang 20 km.

Jalan masuk ke Way Belerang Simpur, dari Desa Kecapi hanya berjarak 4 km. Setelah itu, pengujung yang menggunakan kendaraan mobil bisa berjalan kaki untuk sampai Way Belerang Simpur karena akses jalan masuk hanya berupa jalan setapak yang telah dicor dengan lebar kurang lebih 1 meter. Jaraknya dari tempat parkir kurang lebih 1 km. Namun, jika pengujung memakai sepeda motor bisa langsung ke lokasi.

Way Belerang Simpur kini tidak hanya bisa dilewati dari Desa Kecapi. Sebab, kini dari daerah pesisir pantai Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, pun juga sudah bisa dilalui, misalnya dari Sukaraja, Canti, dan Cuggung. Bahkan, akses jalan masuk menuju Way Belerang Simpur juga bisa melalui Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni.

Begitu memasuki jalan setapak, para pengunjung langsung disuguhi panorama keindahan alam dan pepohonan besar. Bahkan, di bagian sisi kiri kita bisa melihat tanaman kakao milik masyarakat sekitar sehingga ketika melintasi jalan setapak pun pengunjung tidak akan merasakan kepanasan. Sebab, rindangnya daun dari pepohonan yang ada bisa menghalangi teriknya matahari.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan objek wisata alam di sekitar Way Belerang pun sangat cocok untuk tempat outbound, haiking, dan kamping. Oleh sebab itu, ke depan gagasan ini harus dimunculkan. Kalaupun anggaran dari Pemkab Lampung Selatan tidak cukup, Pemerintah Pusat nanti yang akan mendanainya.

“Kan sayang tempat objek wisata alam yang indah ini tidak dikelola dengan baik. Saya ingin di Kabupaten Lampung Selatan punya ciri khas tersendiri dari sektor pariwisata,” katanya, ketika melakukan kunjungan ke lokasi wisata Way Belerang Simpur di Desa Kecapi, Jumat (23-3).

Roni (30), warga Desa Kecapi, mengatakan objek wisata alam Way Belerang Simpur sudah lama ada. Namun, hingga kini belum dibangun Pemkab Lampung Selatan. Sebab, tempat pemandian itu masih alami karena hanya berupa kolam-kolam kecil yang dibuat oleh masyarakat.

Meskipun demikian, Way Belerang Simpur cukup banyak dikunjungi masyarakat, baik dari wilayah Lampung Selatan maupun daerah kabupaten lainnya.

“Pada hari libur atau Minggu, wisata Way Belerang Simpur banyak dikunjungi masyarakat. Tapi, kalau hari-hari biasa sepi. Bahkan, tidak sama sekali ada pengunjung yang datang,” ujar dia, Kamis (22-3), ketika ditemui pada lahan parkir, tepatnya di jalan masuk ke Way Belerang Simpur.

Roni mengatakan rata-rata pengunjung yang datang ke sini untuk berobat. Sebab, Way Belerang Simpur juga dipercaya bisa mengobati penyakit kulit, seperti panu dan kudis.

“Untuk biaya masuk ke wisata alam Way Belerang Simpur, pengunjung hanya diminta memberikan imbalan sukarela oleh para pemuda sebagai penjaga keamanan. Pengunjung yang menggunakan sepeda motor diminta biaya masuk Rp15 ribu. Sedangkan pengunjung yang menggunakan mobil diminta membayar Rp35 ribu. Karena, dari biaya masuk para pengunjung ke sini, kami juga setor ke desa,” katanya.

Demi menjaga kerukunan dan keamanan antardua desa, lanjut Roni, di wilayah Way Belerang Simpur tersebut telah diatur secara bergantian, yakni dua minggu untuk pemuda Desa Kecapi dan berikutnya adalah pemuda Desa Babulang.

“Untuk uang hasil menjaga keamanan pun pembagiannya telah disepakati, yakni 40% untuk para pemuda dan 60% untuk uang kas desa,” kata dia. (JUWANTORO/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 25 Maret 2012

Karna, Tersisih Lantaran Perbedaan

Oleh Abdurrahman Hakim


TEATER Satu mementaskan Kisah Lain Kurusetra atawa Karna Gugur karya Goenawan Mohamad. Adipati Karna yang disisihkan lantaran perbedaan kasta, warna darah, dan asal usulnya yang tak jelas.

Hari ke-16 perang Baratayuda di padang Kurusetra. Kedua seteru kembali bertemu dalam pertempuran hidup dan mati. Anak panah dan tombak beterbangan di udara. Mayat-mayat prajurit bergelimpangan.

Sebuah anak panah Arjuna melesat memburu sasarannya. Adipati Karna (diperankan Budi Laksana) tak dapat menghindarinya. Karna tahu ia akan kalah. Maka ia pun berkata dengan lantang di tengah medan pertempuran.

"Arjuna, aku tak bisa mengingat mantera itu. Mantera yang dapat menyelamatkan hidupku. Bramastra tak ada di tanganku. Maka, laksanakanlah tugasmu karena itulah jalan dharma bagimu," ujar Karna menyongsong kematiannya sendiri.

Arjuna (diperankan Gandi) berdiri sigap dengan pedang terhunus. Ia melangkah mendekat, bersiap melakukan satu tebasan mematikan. "Maafkan aku Karna," ucapnya dingin disertai satu kali ayunan pedang. Tubuh Karna terhempas ke tanah.

Sejurus kemudian, dalam deraian air mata, permaisuri Kunti (Ruth Marini) memeluk putra tertuanya yang tengah meregang nyawa itu. "Putraku, jika engkau mati maka tak ada lagi yang dapat mengisi kekosongan hatiku, namun kau telah pasrah," ucapnya lirih.

Karna menatap paras ibunya lekat-lekat. Tangannya perlahan berupaya menggapai wajah sang ibu. "Aku pun sungguh ingin mencintaimu, Ibu," ucapnya. Namun, gerak perlahan itu terhenti tiba-tiba. Alunan musik nan pilu kemudian mengambil peran mengharukan suasana pemanggungan.

Kemudian dari sisi kiri atas panggung, muncul sosok lelaki tua mengenakan jubah brahmana. Dialah Parasurama (Hendri Rosfelt), guru yang mengutuk muridnya sendiri-Karna. "itulah akhir hidup murid pendusta itu. Jika kulengkapi mantra itu, sejarah mungkin akan berbeda," ujarnya.

Demikianlah akhir dari lakon Kisah Lain Kurusetra atawa Karna Gugur karya Goenawan Mohammad yang dipentaskan Teater Satu sejak 20 hingga 23 Maret lalu di Taman Budaya Lampung (TBL). Kalau boleh dibilang, inilah kisah lain dari Kisah Lain Kurusetra.

Sutradara Iswadi Pratama berhasil mengadaptasi naskah yang mulanya terdiri dari empat monolog para tokohnya Radha, Resi Parasurama, Kunhti, dan Surtikanti, menjadi sebuah cerita utuh yang terbagi dalam 13 pengadegan para tokoh.

Momen-momen penting seperti halnya ketika Karna dinobatkan sebagai kesatria oleh Suyodana (Lutfan), bertemunya Karna dan Kunthi, serta gugurnya Karna di tengah tengah perang Baratayuda ditampilkan dengan pengadeganan yang utuh oleh sang sutradara.

Meskipun demikian, penonton tetap bisa menikmati keampuhan para aktor utama membawakan monolog. Hendri Rosfelt ketika memerankan Resi Parasurama pada adegan flashback mampu membantu kita menangkap citra para resi ketika itu dalam keluwesanya berolah peran.

Karna kembali ke padepokan menemui guru yang ia cintai. Namun, pengangkatannya sebagai kesatria memicu amarah sang guru yang menghakiminya sebagai pendusta. Sehingga terlontarlah kutuk yang menentukan itu. "Kau tak akan mampu merapal mantera yang dapat menyelamatkanmu dari kehidupanmu," serapah sangguru. Sumpah telah terucap. Karna pun undur diri.

Seisi gedung pertunjukan hening. Musik menjadi perangkat paling minim yang digunakan, walaupun tetap jadi unsur penting. Sementara, tata lampu menjadi pendukung utama menciptakan suasana "suram" pementasan Karna. Satu hari sebelum pertepuran yang menentukan hidupnya itu Karna berkirim surat pada ibu dan istrinya.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Selalu saja ada pertempuran. Raja-raja menghendakinya." Mimik Radha sendu. Radha mengenang masa lalu. Sedari kecil, cita-cita Radheya paling besar adalah menjadi kesatria. "Menurutnya kesatria itu manusia sempurna. Lalu kita yang bukan kesatria ini makhluk apa," ujarnya terkekeh-kekeh.

Iringan musik yang mengawang awang dalam adegan ini membantu penonton menyelami perasaan Radha yang penuh kerinduan akan putra satu satunya yang akan berperang. "Dulu para resi dan brahmana menampuknya menjadi murit. Kini Parasurama pun menampiknya. Ibu sudah pasrah Nak, akan jalan yang telah kau pilih," ujarnya lirih.

Suratnya kepada Surtikanti kian mengukuhkan alasannya untuk berperang. Bahkan dalam suratnya Karna bahagia menyambut pertempurannya esok. Inilah jalan yang telah ia pilih. Ia tak takut akan kutuk dan ramalan para penujum. "Jangan khawatir istriku. Jika harus mati kan kujemput kematian itu," tulis Karna.

Baginya manusia ditentukan karena ilmu dan kemampuan. Bukan karena kodrat yang disabdakan para dewa di kahyangan. Pada akhirnya di pengujung surat Karna berucap. "Seseorang ada karena tindakan, seseorang menjadi karena pilihan. Bukan karena ia selesai dirumuskan," ucap Karna dalam surat.

Keyakinan Karna tak goyah, bahkan ketika Kunthi mengungkap asal-usulnya. Kunthi mengatakan Karna adalah putranya yang terpaksa dibuang. Jika bertempur Karna akan terbunuh atau dibunuh oleh saudara-saudaranya sendiri. Karna terguncang, tetapi pilihannya mengenai masa depan telah pasti. "Hamba bukan anak yang hilang. Hamba anak yang dihilangkan," ujarnya sebelum pamit.

Adegan perang Bharatayuda oleh Iswadi sangat apik. Panggung minimalis dipenuhi kubik kubik, anak tangga dalam balutan warna kelabu yang mendominasi. Para serdadu dipersenjatai tombak, panah, dan pedang berupa sapu lidi yang mencirikan pementasan kontemporer. Namun, hal ini mampu menghasilkan desis suara, menghidupkan adegan perang.

Naskah garapan Goenawan Mohammad ini membuat perjalanan hidup Karna begitu mudah dicerna. Membuat penonton mengerti, Karna memilih tetap berada di pihak Kurawa karena punya alasan kuat, dan semua tergambar logis. Di luar itu, rangkaian kata yang dibuat Goenawan Mohammad ini terasa hidup, bermakna dalam, hingga akhirnya berkesan dan mampu menggetarkan.

Tema seputar persoalan jati diri, identitas dan pertentangan kelas juga cukup kuat menopang lakon yang berdurasi lebih dari dua jam tersebut. Tokoh Karna yang terampil dan mahir dalam memanah itu seolah terpaksa kalah dalam perang lantaran identitas yang ia sandang.

"Seperti halnya orang miskin di negeri ini, yang hilang kesempatan mengenyam pendidikan layak, bukan karena tak mampu secara akademik, melainkan terpaksa kalah karena faktor ekonomi," ujar Iswadi usai pementasan.

Abdurrahman Hakim, penikmat seni

Sumber: Lampung Post, Minggu, 25 Maret 2012

March 21, 2012

Pentas Teater: Gugur Karna Tersebab Identitas yang Tak Terumus

BANDAR LAMPUNG—Falsafah hidup Adipati Karna dalam perang Kurusetra menjadi inti pertunjukan Teater Satu di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung (TBL) kemarin. Dalam pentas tiga hari, 20—22 Maret, lakon ini yang disajikan sarat pertentangan kelas.










Panggung sore kemarin, dipenuhi kubik-kubik, anak tangga dalam balutan warna kelabu yang mendominasi. Iswadi Pratama, sang sutradara, menerjemahkan Kisah Lain Kurusetra atawa Karna Gugur karya Goenawan Nohammad dalam konsep minimalis.

Dalam naskah asli, konsep pemanggungan gugurnya Karna ini sejatinya berisikan kumpulan monolog dari lima tokoh: Radha, Radheya atau Karna, Resi Parasurama, Kunthi, dan Surtikanti. Namun, Iswadi mencoba melengkapinya dengan menggambarkan momen-momen penting.

"Seseorang mengada, seseorang menjadi, dan dirumuskan adalah karena ilmu, kemampuan, serta tindak dan pilihannya. Bukan karena asal usulnya, bukan dari mana dia berasal," demikian pesan Karna, dalam suratnya kepada Surtikanti, istrinya.

Dikisahkan, Karna, seorang anak yang lahir dari hubungan Kunthi dengan seorang laki-laki asing. Namun, demi menjaga kemurnian silsilah, dia harus rela dibuang ke sungai dan akhirnya ditemukan Radha, istri kusir kereta, kaum Sudra.

Karna mencoba melawan takdir yang tak adil. Ia lahir dengan identitas yang tak bisa dirumuskan, dalam silsilah dan masa lalu yang tak jelas. Ia memilih bertempur dalam perang Kurusetra karena ia telah memilih untuk mengukuhkan jati dirinya, meski harus bertempur dengan adik-adiknya sendiri.

Seisi gedung pertunjukan hening. Alunan musik yang lirih menjadi perangkat paling minim yang digunakan, tapi tetap jadi unsur penting pertunjukan. Sementara itu, tata lampu menjadi pendukung utama menciptakan suasana suram dari pertunjukan yang kaya akan dialog kontemplatif para tokoh.

"Karya ini, tergolong sulit karena berisikan monolog para tokohnya. Saya khawatir hal ini membuat pononton bosan mengikuti kisahnya. Maka, momen-momen penting yang tak ada dalam naskah asli coba kami hidupkan dalam pementasan seperti momen pengukuhan Karna sebagai adipati," ujar Iswadi.

Namun, Budi Laksana yang memerankan tokoh Karna, Hendri Rosfel sebagai mahaguru Parasurama, Ruth Marini sebagai Kunthi, Desi Susanti sebagai Radha, dan Yeli Shinta Laras Utami sebagai Surikanti, berhasil memukau para penonton, meski pementasan berlangsung dalam tempo cukup lambat.

Di akhir cerita, di padang Kurusetra, dalam perang tanding dengan Arjuna itu, Karna kalah melawan kodratnya. Ia mati karena ia lahir dengan identitas yang sulit dirumuskan, tetapi oleh sang guru, ia ditunjuk dengan pasti sebagai kaum kesatria yang oleh sang guru dibenci. Karna pun berperang dalam kutuk dan mantera sang guru yang tak sempurna.

Tokoh Karna yang terampil dan mahir dalam memanah itu, seolah terpaksa kalah dalam perang lantaran identitas yang ia sandang. "Seperti halnya orang miskin di negeri ini, yang hilang kesempatan mengenyam pendidikan layak, bukan karena tak mampu secara akademik, tetapi terpaksa kalah karena faktor ekonomi," ujar Iswadi. (ABDUL GOFUR/U-2)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 21 Maret 2012

March 20, 2012

Sastra: Dwi Fadhila Rebut Rycko Menoza Award

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pelajar SMAN 2 Kalianda Dwi Fadhila Rahma merebut Rycko Menoza Award dalam memperingati HUT ke-48 Provinsi Lampung. Dwi menang dalam lomba baca puisi yang ditujukan bagi siswa SMA se-Provinsi Lampung, di Plaza Lotus, Bandar Lampung, Sabtu (17-3).

Beberapa puisi yang ditentukan panitia untuk dibacakan oleh para peserta yaitu Karawang-Bekasi, Dialog Bukit Kamboja, Akar Pohon Tanah Airku, Mendongenglah buat Ind yang Berulang Tahun, dan Pahlawan Tak Dikenal.

Dewan juri yang terdiri dari Isbedy Stiawan Z.S., Iin Mutmainnah, dan Udo Z. Karzi juga menetapkan M. Rendra Saputra dari SMAN 1 Menggala meraih juara kedua dan juara ketiga diraih Meutia Martha Shabina dari SMAN 2 Bandar Lampung. Juara harapan pertama diraih oleh Windara Insan Mayo, sedangkan juara favorit yang ditentukan menurut hasil polling SMS yaitu Nadya Mariesta dari SMAN 3 Bandar Lampung. Para pemenang berhak atas tabanas dari Bank Lampung, sedangkan untuk juara favorit mendapatkan hadiah dari Axis.

Ketua Pelaksana Acara Syaiful Irba Tanpaka mengatakan penilaian dewan juri meliputi vokal, penghayatan, dan performance. "Ketepatan peserta lomba dalam mengucapkan kata per kata dalam puisi akan menyumbangkan poin yang cukup besar," kata dia.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Lampung Selatan Sulpakar yang hadir mewakili Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza menjelaskan sulitnya menanamkan semangat patriotisme pada generasi muda saat ini. Arus globalisasi saat ini dapat menghanyutkan siswa dalam kebiasaan-kebiasaan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai perjuangan bangsa.

"Semoga acara ini dapat menginspirasi siswa melalui ketokohan yang ada dalam puisi pahlawan itu," ujar dia. (MG4/D-2)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 20 Maret 2012

March 19, 2012

Sastra: Puisi Menginspirasi Siswa

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Minat siswa terhadap puisi terus menurun. Padahal, melalui puisi siswa dapat mengekspresikan dirinya secara total. Untuk meningkatkan apresiasi dan minat sastra bagi siswa, Pondok Baca mengadakan lomba baca puisi pahlawan Rycko Menoza Award, di Plaza Lotus, Bandar Lampung, Sabtu (17-3).

Pesertannya siswa SMA se-Provinsi Lampung dan digelar dalam hari ulang tahun Provinsi Lampung.

Ketua Pelaksana Acara Syaiful Irba Tanpaka mengatakan sasaran acara ini untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap nilai-nilai juang pahlawan serta nasionalisme terhadap bangsa.

Panitia menentukan lima puisi yang akan dibacakan peserta, yaitu Karawang Bekasi, Dialog Bukit Kamboja, Akar Pohon Tanah Airku, Mendongenglah buat Indonesia yang Berulang Tahun, dan Pahlawan Tak Dikenal.

Dia mengatakan subjektivitas pembaca puisi akan berbeda dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, ini merupakan tantangan bagi para peserta. Dengan interpretasi yang berbeda tersebut, pembaca dapat menangkap pesan moral yang ada dalam puisi.

Total peserta yang berjumlah 40 orang ini didominasi perempuan. Syaiful berpendapat, siswa laki-laki umumnya merasa canggung untuk mengeluarkan totalitas dalam berekspresi untuk membaca puisi.

“Dari beberapa lomba yang saya lihat, jika siswa perempuan dan laki-laki digabung dalam satu perlombaan yang sama, biasanya yang menang siswa perempuan. Sehingga guru-guru di sekolah akan mengirimkan siswa perempuan untuk lomba baca puisi,” ujar dia.

Dewan juri terdiri dari tiga orang yang berasal dari kalangan profesional. Beberapa hal yang dinilai yaitu teknik vokal yang meliputi artikulasi, intonasi, dan penghayatan. Selain itu performance yang meliputi kerapian dan gerak tubuh.

Tantangan bagi dewan juri adalah menentukan pemenang melalui subjektivitas yang akhirnya bisa diterima menjadi objektivitas bagi orang lain. “Yang pasti juri akan mengapresiasi peserta yang karismatik,” kata Syaiful.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Lampung Selatan Sulpakar, yang hadir mewakili Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza, mengatakan generasi muda harus memiliki prinsip cinta Tanah Air dan menghargai jasa pahlawannya dalam menghadapi arus globalisasi saat ini. Salah satu caranya dengan keikutsertaan dalam lomba baca puisi pahlawan semacam ini.

Selain itu, ia mengatakan sulitnya menanamkan nilai-nilai patriotisme di kalangan siswa saat ini.

“Semoga acara ini dapat menginspirasi siswa melalui ketokohan yang ada dalam puisi pahlawan yang dibacakan,” ujar Sulpakar.

Dewan juri akan menentukan juara I, II, III dan juara harapan. Sedangkan untuk memilih juara favorit, masyarakat dapat memilih peserta favoritnya melalui SMS. Acara yang diikuti SMA dari tujuh kabupaten/kota se-Lampung ini merupakan hasil kerja sama Dewan Kesenian Lampung, Bank Lampung, Balai Pengembangan Teknologi Pendidikan, dan Axis. (MG4/S-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 19 Maret 2012

Dusta Akademis

Oleh Ali Murtadho


SUNGGUH saat ini kejujuran dalam ancaman serius. Kejujuran telah menjadi—meminjam ungkapan Goenawan Mohamad—sejenis makhluk yang harus dilindungi. Mungkin lebih terancam kelanjutan nasibnya ketimbang tokek dan ular sawah.

Argumen tersebut didasarkan pada fakta bahwa akhir-akhir ini kejujuran ilmiah ternodai merebaknya perilaku plagiarisme di dunia akademis.

Merujuk tulisan opini Zulkarnain Zubairi: Plagiarisme, Tragedi Pendidikan Kita (Lampung Post, 12 Maret 2012) disebutkan bahwa sebanyak 21 perguruan tinggi di Tanah Air tersandung praktek plagiarisme yang dilakukan sejumlah guru besar, termasuk salah satunya calon guru besar dari perguruan tinggi negeri ternama di Lampung (Lampung Post, 9—10 Maret 2012). Tindakan plagiat pada hakikatnya telah mencederai nilai-nilai pendidikan.

Virus Pendidikan

Aforisme "jalan pintas dianggap pantas" yang pernah dilontarkan salah satu produk rokok kretek dalam salah satu iklannya, yang pernah tayang di televisi beberapa tahun lalu, setidaknya bisa memvisualisasikan sekaligus menjadi satire atas kondisi tersebut.

Tindakan menerobos norma hukum dan etika mudah ditemui di masyarakat kita yang hanya mementingkan tampilan kulit luar pendidikan. Inilah cermin sebuah kondisi masyarakat yang terjebak pragmatisme.

Dusta akademis dengan melakukan tindak plagiarisme tak ubahnya virus yang selalu menggerogoti sendi-sendi pendidikan nasional. Padahal, pendidikan sejatinya mengajarkan nilai-nilai adiluhung. Tetapi, dengan adanya tindakan penjiplakan tersebut, kondisi pendidikan di negeri ini akan semakin jauh dari martabat dan kesuciannya.

Semangat bertarung untuk menjalani proses pendidikan yang benar berikut tantangan-tantangannya sepertinya kian menipis. Masyarakat lebih cenderung mengutamakan hasil dan ujung-ujungnya—meminjam istilah Koentjaraningrat—mentalitas menerabas dijadikan pilihan.

Dalam tinjauan Belinda Rosalina, sejarah plagiarisme berasal dari istilah plagium, yang artinya penculikan anak atau budak. Istilah ini kemudian dipakai Mancus Valerius Martialis untuk menyindir seorang penyair bernama Fedentinus, bahwa ia telah melakukan plagiat atas syair-syairnya. Pasemon Mancus Valerius Martialis ini sangat memesona, karena telah mengisyaratkan posisi ciptaan sesungguhnya menjadi "anak kandung" penciptanya. Oleh sebab itu, tidak dibenarkan mencurinya.

Bahkan, Eddy Damian (2009) memiliki beberapa catatan historis mengenai istilah plagiarisme. Istilah ini asalnya dari bahasa Latin plagiarus yang secara harfiah berarti penculik (kidnapper). Dapat pula istilah ini diartikan mensenover (perampok manusia) atau zielverkoper (penjual nyawa manusia).

Sedangkan istilah yang paling mendekati makna yang dikenal saat ini yaitu pendapat Fockema Andreael yakni letterdievery (pencurian tulisan atau pencurian ciptaan yang dilindungi hak cipta).

Secara akademis, plagiarisme merupakan tindakan menjiplak ide, gagasan, atau karya orang lain untuk diakui sebagai karya sendiri, atau menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Artinya, tindakan plagiarisme sesungguhnya telah melawan kejujuran intelektual.

Gelar Akademik

Sikap serta tindakan seperti tampak pada paparan tersebut sepertinya sudah mewabah pada mentalitas hampir sebagian besar—untuk tidak mengatakan keseluruhan—masyarakat akademik kita. Sudah menjadi rahasia umum, yang tidak tertutup rapi, semakin menjamurnya agen-agen pembuatan skripsi, tesis, ataupun disertasi order atau pesanan. Bahkan, pangsa pasar pembuatan karya tulis ilmiah pesanan ini tampak semakin terbuka.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mewajibkan seluruh pendidik di negeri ini menyandang gelar sarjana. Ini kemudian menjadikan masyarakat terjangkiti sindrom megalomania: semangat pantang tidak tampil hebat, kemudian sekuat tenaga mengejar sederetan gelar akademik hanya untuk prestise.

Tindakan plagiarisme sesungguhnya mengandung kesalahan ganda, yakni melanggar hukum sekaligus mencederai etika. Pada aras ini, menarik untuk mengafirmasi tesis yang diajukan Henry Soelistyo (2011), kondisi tersebut dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama, karena lemahnya aspek etika akademik. Kedua, penegakan hukum tindakan plagiarisme yang belum serius. Ketiga, lemahnya mekanisme penyaringan orisinalitas dari sebuah karya.

Oleh sebab itu, untuk mewujudkan kultur akademik yang bermoral dan berintegritas, diperlukan sebuah langkah yang penting dan mendesak untuk menetapkan kebijakan yang jelas dan sikap yang tegas terhadap tindak plagiarisme.

Media Massa

Menurut Henry Soelistyo, ini berarti harus ada kebijakan yang jelas, apakah tindak plagiarisme hanya diperlakukan sebagai pelanggaran etika akademik ataukah dikategorikan sebagai pelanggaran hukum. Jika hanya dikategorikan sebagai pelanggaran etika, sanksi yang dijatuhkan hanya akan berkisar pada sanksi administratif. Selebihnya, hanya sanksi moral yang berwujud celaan dan kecaman.

Akan tetapi, seberapa keras dan seberapa tajam celaan itu bergantung pada peran pers dan media massa. Sebab, hanya di wilayah itu sanksi sosial dan moral dapat berjalan efektif.

Pada sisi lain, yang tidak kalah penting ialah bagaimana mematikan epidemi plagiarisme ini di jaringan kehidupan kampus dan masyarakat. Meminjam ungkapan Armada Riyanto dalam salah satu tulisannya, Kutuk Plagiarisme, Lalu...?, plagiarisme merupakan tindakan pencurian kreativitas intelektual.

Untuk itu, perlu diterapkan sanksi hukum yang tepat dan terukur terhadap plagiarisme. Hal ini dimaksudkan agar integritas dan kredibilitas budaya akademik di negeri ini menjadi baik. Terbebas dari hasutan "monster" plagiarisme yang antietika, mematikan kreativitas, dan menghancurkan kejujuran.

Ali Murtadho, Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Lampung

Sumber: Lampung Post, Senin, 19 Maret 2012

March 18, 2012

[Inspirasi] Wayang Bahasa Lampung Sumarlan

TERTANTANG dari satu pertanyaan, “Bisakah bahasa wayang diganti dengan bahasa Lampung?”, Sumarlan mengawali “kekurangkerjaannya”.

“Hung wilaheng sekaring bawono......, hung.....” Suluk sebagai pembuka pertunjukan wayang kulit itu mengalun lirih dengan nada basso. Tak heran, sebab intonasi hampir seluruh bahasa Jawa memang lembut.

Bayangkan jika karakter dialek orang Lampung yang cenderung tinggi bahkan agak “ngeden”—maaf, melantunkan ayat-ayat wayang. Lebih membuat penasaran lagi, dialog-dialog antarwayang itu menggunakan bahasa Lampung. Nah, itulah yang dilakukan Sumarlan (42). Ah, api ceritane niku, Lan? Nyo, caro?

Sumarlan menjadi fenomenal dengan “kelakuannya” mengganti bahasa Jawa dengan bahasa Lampung untuk memainkan lakon wayang yang ia mainkan. “Awalnya saya cuma iseng. Lalu, ingin mencoba. Ternyata memang sangat sulit, tetapi akhirnya bisa,” kata dia di Baradatu, Way Kanan, pekan lalu.

Kuatnya keinginan itu sesungguhnya dari berita soal wayang yang sudah mendunia. Seni wayang Jawa yang sudah merakyat sudah banyak yang melakonkan dalam bahasa Inggris, Jepang, Italia, Prancis, dan lainnya. “Jadi, mengapa tidak bisa pakai bahasa Lampung,” ujarnya.

Dengan modal motivasi, Sumarlan mencoba untuk membidani pertujukan seni wayang berbahasa Lampung. Dalam sebuah kesempatan, ia tampil perdana di Rumah Inspirasi Blambangan Umpu, awal Maret 2012, dengan menggunakan bahasa Lampung.

Bapak dua putri warga Kampung Tiuh Balak Pasar, Baradatu, Way Kanan, menuturkan wayang adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi yang indah serta sangat berharga kini telah mendunia di beberapa negara, seperti Jepang, India, dan Belanda.

Kecintaannya serta rasa turut bertanggung jawab melestarikan budaya bangsa, maka dirinya mencoba memberikan warna tersendiri dengan menampilkan pertunjukan wayang menggunakan bahasa Lampung.

“Waktu itu, Pak Bustami Zainudin masih menjabat wakil bupati. Dia pernah bertanya sama saya, bisa enggak bahasa wayang diganti dengan bahasa Lampung?” kata dia menirukan.

Meskipun pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyum, menjadi pikiran suami Dian Harning Suprapti ini. Ia merasa tertantang untuk berkarya dengan mencoba. Lalu, berlatih dan terus berlatih memainkan wayang dengan menggunakan bahasa Lampung. “Awalnya sulit sekali,” kata dia.

Menurutnya, pakem bahasa wayang menggunakan bahasa tinggi (kromo inggil) yang diubah menjadi sajak yang indah. Sementara, bahasa Lampung bukanlah merupakan sesuatu bagian yang asing bagi sang dalang. Bahkan, lingkungan warga pribumi itu telah menyatu menjadi bagian dari kehidupannya selama sebelas tahun bertugas sebagai seorang guru di Kecamatan Pakuanratu, Way Kanan.

Seiring dengan perkembanganya dan secara bertahap dengan sejumlah perbaikan, pertunjukan seni wayang dengan menggunakan bahasa Lampung sudah dapat disuguhkan. Dalam pertunjukan perdana itu, baru sebatas 60% menggunakan bahasa Lampung. “Saya gunakan bahasa Lampung baru sebatas dialog antartokoh-tokoh wayang saja,” kata dia.

Kepala SDN Tiuh Balak Pasar ini mengakui masih kesulitan dalam babak bagian suluk (deskripsi pembuka). Dalam babak itu sangat sulit mendiskripsikan keadaan umum cerita perwayangan. Di sisi lain, dia harus mengubah karakter suara, berganti intonasi, mengeluarkan guyonan, dan bahkan menyanyi.

Untuk menghidupkan suasana, iringan musik gamelan yang disajikan dalam sebuah pementasan, juga dikolaborasi dengan musik gitar tunggal melantunkan lagu Lampung. Gamelan dan gitar tunggal dimainkan secara bergantian.

“Waktu pementasan di Rumah Inspirasi, saya melakonkan judul Semar Boyong,” kata Sumarlan.

Dalam pergelaran perdana itu, kata dia, dihadiri Bupati Way kanan Bustami Zainudin, Kepala Dinas Pendidikan Gino Vanolie, serta hampir seluruh pejabat utama kabupaten setempat. Bahkan, dia mendapat dukungan, koreksi, dan saran untuk menampilkan sebuah pertunjukan wayang dengan bahasa Lampung dengan lebih sempurna.

Koreksi dan saran tersebut, kata dia, baginya sangat positif. Sebab, dengan semakin banyaknya masuk dan saran akan membuat dirinya lebih giat berlatih dalam mencapai kesempurnaan menyuguhkan wayang dengan berbahasa Lampung. “Dengan mendalang bahasa Lampung ini, belum berarti saya sudah mampu,” katanya.

Pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 14 Oktober 1969 itu mengungkapkan dunia perwayangan yang digelutinya baru sekitar lebih kurang lima tahun. Kegiatan itu beranjak dari kondisi wilayah Kabupaten Way Kanan yang sepi dan sunyi dari aktivitas hiburan rakyat. Sementara keberadaan Sanggar Mukti Budoyo Radio Rapansa sangat berdekatan dengan rumah tinggalnya.

Suara gamelan yang acap terdengar di belakang rumahnya membuat Sumarlan semakin tertarik dalam seni budaya perwayangan. “Awalnya saya coba-coba memainkan wayang, sambil mendengarkan cerita pewayangan,” katanya. (MAT SALEH/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Maret 2012

[Perjalanan] Kisah Penguasa Danau Suoh

SUOH menjadi nama yang fenomenal di Lampung. Daerah dengan ketinggian 1.200 dpl (dari permukaan laut) di wilayah Lampung Barat ini menyebarkan pesona keindahan alam luar biasa. Namun, untuk mencapainya, membutuhkan perjuangan yang luar biasa.

Salah satu objek yang luar biasa itu adalah sumber panas bumi di Suoh. Lokasi ini dijaga oleh pemuda kampung. Tempat spektakuler ini ramai dikunjungi pada hari libur dan Lebaran. Mereka memasang kayu-kayu pembatas area yang tidak boleh diinjak.

“Kalau lubang-lubang kecil seperti ini diinjak akan menyembur air panas, kaki bisa melepuh,” kata Alkodri, pemuda kampung yang sering memandu para pengunjung.

Dia menceritakan suatu saat ada pengunjung yang melepuh tubuhnya karena melanggar batas yang sudah dipasang. “Sudah dikasih tahu agar jangan mendekat ke sana, tapi dia tidak mau mendengar. Akhirnya tercebur ke air panas itu, ya melepuh,” kata Kodri.

Untungnya, pemuda itu sempat ditolong dan ditarik warga setempat. “Tapi saya tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang,” kata dia.

Di lokasi ini ada satu tempat yang menjadi favorit pasangan memadu cinta, yaitu hutan konservasi di belakang sumber air panas. Saat memasuki hutan, di salah satu pohon terdapat papan yang bertuliskan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Banyak bekas manusia di sini, mulai dari ukiran nama di dahan-dahan pohon sampai sampah makanan yang menumpuk.
Lokasi panas bumi ini ternyata tidak hanya di bagian depan saja. Di belakang hutan TNBBS itu juga terdapat kawah dengan air yang menggelegak. Bahkan danau kecil yang ada di samping lokasi itu berasap. “Ini masih luas ke belakang Mbak, di balik hutan sama ada sungai air panas yang bisa digunakan untuk mandi. Saya sering mengantar pengunjung ke sana,” ujar Alkodri.

Sebagian besar lokasi panas bumi sudah kami sambangi. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00, kami tak ingin menyia-nyiakan waktu. Saat ditawarkan mandi di Danau Lebar kami langsung menyambutnya dengan gembira. Jalan setapak tanah kembali kami susuri.

Saya dan Pak Emed sampai duluan di bukit atas danau, menyusul rombongan yang lain. Saat saya melangkah turun, Pak Emed melarang saya. “Sebentar Mbak, saya lihat dulu, biasanya penguasa danau keluar sore-sore begini,” ujarnya.

“Oh, iya Pak,” jawab saya.

Terlintas mitos tentang makhluk gaib penunggu danau.

“Memangnya penguasa danaunya itu apa, Pak?” tanya saya penasaran.
“Buaya,” katanya.

“Buaya beneran apa jadi-jadian,” kejar saya. “Buaya benaran, Mbak,” kata Pak Emed.

Srrrr, nyali saya langsung menciut. Apalagi, kata Pak Emed, dia sering melihat buaya-buaya itu berdiam di pinggir danau pada sore hari.

Pak Emed mengisahkan dulu Danau Lebar ini menjadi tempat favorit nelayan mencari ikan. Dalam satu hari nelayan bisa menangkap 5 kuintal ikan jenis gabus, nila, betok, udang, dan kepor (sejenis ikan tawas). Warga pinggir danau serta para pengunjung juga suka berenang di danau. Namun, danau ini mendadak sepi sejak buaya-buaya di danau bekas rawa ini sering muncul ke permukaan. Apalagi, dua warga sudah menjadi korban.

“Pernah ada yang mancing di tengah danau, tiba-tiba menghilang, perahunya ditemukan dalam keadaan terbalik,” kisah Pak Emed.

Cerita ini bukan bualan belaka, warga sering menemukan telur buaya di dalam tanah pinggiran danau. Bahkan, beberapa warga mengambil telur itu untuk ditetaskan.

“Mau telur buaya, Mbak? Kalau masih ada sih, kemarin ada yang dapat 20 butir, dia mau netasin telur itu, tapi enggak netas-netas,” kata Pak Emed.

“Hehe, enggak lah, buat apa, Pak,” ujar saya.
Setelah mengamati pinggir danau dari kejauhan, saya, Ikhsan, dan Pak Emed turun ke bibir danau. Sementara rombongan yang lain memilih duduk di atas bukit menikmati pemandangan danau dari kejauhan.
Sesampainya di bawah, Pak Emed memapas semak yang tumbuh subur di pinggiran danau.

“Udah Pak, di sini aja,” ujar saya khawatir.

Kami masih berbincang tentang Danau Lebar ini sambil menunggu Ikhsan selesai mengambil beberapa angle foto. Kresek…semak berbunyi seolah ada hewan melata yang berjalan. Ups, saya kaget, ternyata hanya seekor kadal yang keluar dari semak-semak.
“Saya pikir buaya,” ujar saya spontan.
Ikhsan dan Pak Emed tertawa melihat muka saya yang pucat pasi.

“Cuma kadal Mbak, kalau buaya kan malah seru, kita ambil fotonya,” ujar Ikhsan berkelakar.

Sekitar 10 menit, kami berlalu dari bibir danau itu.

Di daerah ini ada tiga danau yang terbentuk sejak musibah gempa Liwa 1994, selain Danau Lebar, ada Danau Minyak dan Danau Asam. Danau Asam lah yang sekarang menjadi lokasi favorit untuk mandi dan berenang. Di danau ini, kami pun menceburkan diri. Pijakan kaki di tanah dasar danau membuat air cepat keruh. Brrrr, dingin juga mandi di danau pada sore hari.

Danau Asam menjadi ujung perjalanan sore hari itu. Kami kembali ke rumah warga tempat menginap semalam. Sesampai di rumah, kami disambut dengan menu satai ayam kampung. Hmmm, nikmat! Lelah, lapar, tuntas sudah! (RINDA MULYANI/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Maret 2012

[Perjalanan] Menembus Kabut Suoh, Lampung Barat

KEPULAN asap tebal yang membubung tinggi dari sumber air panas Suoh, Lampung Barat, menjadi pesona khas dari atas Dusun Sukamarga. Keindahan ini tidak sendiri, bertemankan hamparan sawah, danau, dan pegunungan ilalang.

Pemandangan paling indah di Suoh dinikmati saat menjelang fajar. Ketika semua orang masih meringkuk dalam selimut dan mentari bersiap keluar dari peraduan. Panorama indah ini menjadi oasis di tengah gegap gempita masalah yang tak kunjung usai.

Satu tim Lampung Post yang terdiri dari Rinda, Kosim, dan Ikhsan melakukan perjalanan pekan lalu. Mereka didampingi Ahim, Padli, Bintar, dan Ali yang merupakan masyarakat sekitar.

Untuk menikmati pemandangan ini, kami menempuh perjalanan yang memacu adrenalin pada Sabtu (10-3) dini hari. Ada dua jalur yang bisa dipilih, yaitu jalur Sekincau—Suoh dan Kotaagung—Suoh. Namun, kami memilih jalur Kotaagung—Suoh karena jalannya sudah lebih baik dibandingkan jalur Sekincau.

Jalur ini memang tidak separah dulu, tetapi tetap mendebarkan. Jalan tanah merah dengan tanjakan, turunan, dan tikungan tajam membuat mobil beberapa kali terperosok lumpur basah. Memasuki Pekon Gunungdoh, kiri-kanan jalan gelap, tidak telihat rumah warga, rerimbunan pepohonan membuat bulu kuduk merinding.

Sempat terlintas apakah ada makhluk mistis yang akan menyapa kami? Ternyata di kegelapan hutan, hanya seekor induk babi bersama enam anaknya yang menampakkan diri. Keasyikan mereka mencari makan terganggu oleh lampu mobil. Keluarga babi ini langsung kocar-kacir masuk kebun kopi di seberang jalan.

Dua titik rawan, Rajabasa dan Gunungdoh, Tanggamus, juga kami lewati dengan penuh ketegangan. Tak pelak, saat pulang di siang hari berikutnya, kami dipalak preman setempat.

Kami sampai di puncak Suoh, Dusun Sukamarga, tepat sekitar pukul 05.00. Perjalanan melelahkan ini akhirnya terbayarkan. Dari badan pegunungan Cibitung ini, panorama Suoh memberi energi positif. Kepulan asap sumber air panas ibarat tungku jarangan besar yang sedang menanak air. Asap tebal tak henti-hentinya membubung tinggi ke udara.

Air panas Suoh ini merupakan sumber panas bumi terbesar di Lampung. Beberapa tahun terakhir sumber panas bumi ini mulai dilirik investor. Pemerintah Lampung ingin mengembangkan gas bumi menjadi sumber tenaga listrik.

Kami penasaran, apakah di keramikan, begitu masyarakat sekitar menyebutnya, sudah ada yang berubah? Masyarakat menyebut keramikan karena tanah yang disirami air belerang itu mengeras dan berwarna kuning seperti keramik.

Bahkan daun-daun, dahan, dan serangga yang jatuh di sana berubah menjadi karang-karang putih. Seperti formalin, kandungan air di lokasi ini bisa mengawetkan makhluk mati yang jatuh di sekitarnya.

Kami memutuskan mengunjungi lokasi menggunakan ojek khusus. Ojek ini menggunakan sok khusus sehingga mampu melewati jalan licin, tanjakan, dan turunan tajam.

Dari perkampungan penduduk, kami berkendara sekitar satu jam. Ada empat sepeda motor yang bergerak menuju lokasi. Kami diantar oleh Pak Emed, warga setempat. Sebenarnya jarak lokasi tidak terlalu jauh, tapi jalan buruk membuat waktu tempuh menjadi lama. “Maaf ini Mbak, jalannya buruk, motornya ya cuma gini,” kata Pak Emed yang memboncengkan saya. Mungkin dia agak risi karena jalan sepeda motor kerap membuat tubuh tergoncang hebat.

“Enggak apa-apa Pak, sudah biasa,” ujar saya singkat membayangkan setiap hari naik sepeda motor butut berangkat kerja. Tidak jauh beda, setiap melewati jalan berlubang atau polisi tidur, badan saya bergoncang dengan kuat.

Perjalanan menggunakan sepeda motor harus berakhir di persawahan. Selanjutnya kami berjalan kaki sekitar 2 kilometer menyusuri pematang sawah. Dari sini bau belerang mulai menyengat. Berhektare-hektare sawah yang ditanami padi masih hijau. Tanah vulkanik merupakan berkah bagi masyarakat Sukamarga. Tanaman tumbuh sangat subur.

“Kok belum ada yang dibangun ya Pak? Kan katanya mau dijadikan sumber listrik?” Tanya saya kepada Pak Emed. Padahal, saya membayangkan di sekitar sumber panas bumi ini sudah ada patok-patok atau fondasi bangunan.

“Belumlah Mbak, mereka kan baru survei aja ke sini,” kata Pak Emed. Pantas saja, enam tahun lalu saya ke sini, tidak ada yang berubah, kecuali daerah keramikan-nya yang semakin luas. (RINDA MULYANI/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Maret 2012