April 25, 2012

Akademisi Australia segera Luncurkan Buku Keindahan Lampung

Waykanan -- Akademisi dari Monash University, Melbourne, Australia, Prof Dr Margaret J Kartomi, segera melucurkan buku "Keindahan Seni Lampung, Dulu dan Sekarang?" yang menggambarkan sejarah, sifat dan arti seni daerah ini.

"Sejak kembali ke Melbourne, saya banyak diwawancarai oleh radio dan pers nasional dan pers setempat mengenai Lampung," kata Margaret, didampingi dosen Program Studi (Prodi) Seni Tari Universitas Lampung (Unila), Hasyimkan, di Blambanganumpu yang berada sekitar 220 km utara Kota Bandarlampung, Rabu.

Buku tersebut, menurut dia, akan memuat banyak foto berwarna dan berukuran besar, dengan kualitas yang baik.

"Rencana isi buku itu sudah kami selesaikan secara mendetail, dan separuh besar naskahnya sudah ditulis," kata dia lagi.

Margaret yang kembali mendapatkan gelar adat "Ratu Petinggi Ilmu Budaya" dari Buay Baradatu, Kecamatan Baradatu, Waykanan itu menagatakan, bagian naskah yang lain akan diselesaikan sesudah perjalanan keliling Provinsi Lampung, termasuk di Kabupaten Waykanan.

"Seni dan budaya Lampung sampai sekarang agak diabaikan di luar Lampung, walaupun sifat dan kualitasnya luar biasa bagus dibandingkan dengan seni dari daerah lain di dunia," ujar dia.

Halaman buku yang sedang disiapkan tersebut, berukuran 30x30 cm, dan memuat banyak foto dari objek seni dan pemandangan alam Lampung yang dikenal indah.

"Penerbit Universitas Monash akan menerbitkan buku tersebut dengan kertas yang bermutu tinggi, memakai kulit muka dari kulit imitasi dan huruf-huruf emas," kata dia menerangkan lagi.

Ia mengharapkan, buku yang ditulis bersama anaknya, Dr Karen Sri Kartomi Thomas yang juga mendapat gelar adat "Ratu Suri Marga" dari Buay Pemuka Pangeran Tua, Pakuanratu tersebut, dapat segera diterbitkan dan dijual untuk umum pada saat "Pameran Seni Lampung" yang sedang dirancang pelaksanaannya.

"Sekitar 3 September hingga 26 Oktober di Galeri Fo Guang Yuan di 141 Queen Street, Melbourne, buku itu akan dipamerkan," ujar dia lagi.

Peneliti alat musik tradisional Lampung, "Gamolan", sebelumnya telah mendapatkan gelar adat "Ratu Berlian Sanggun Anggun" dari Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) itu, menyatakan, akan mengadakan Seminar Internasional Gamolan Lampung yang kedua.

"Seminar direncanakan berlangsung 7-8 September di Monash University, bersamaan Festival Indonesia yang juga biasanya diadakan pada bulan September di Melbourne," ujar dia menambahkan.

Sumber: Antara, Rabu, 25 April 2012

April 22, 2012

SKM Teknokra Harus Jaga Eksistensi

Bandarlampung - Para pendiri Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) yang kini telah berusia 35/37 tahun, berharap eksistensi pers mahasiswa itu tetap terjaga hingga akhir zaman.

Harapan itu disampaikan para pendiri pers mahasiswa Unila, pada Reuni Akbar sekaligus perayaan HUT ke-35/37 SKM Teknokra Unila, di Kampus Gedongmeneng, Bandarlampung, Sabtu (21/4) malam.

Asep Unik SE ME, salah satu pendiri Teknokra Unila menegaskan bahwa koran kampus itu dirintis dengan inisiatif sekelompok mahasiswa Unila yang tergolong idealis pada saat itu, dengan dukungan fasilitas seadanya.

"Ternyata Teknokra yang kami rintis saat itu, masih terus eksis hingga kini, dan diharapkan terus eksis hingga akhir zaman," ujar dosen pascasarjana Fakultas Ekonomi Unila itu pula.

Asep juga mengisahkan perjalanan perintisan Teknokra, dan pasang surut dialami pada masa awalnya, sehingga harus berganti-ganti nama menghadapi aturan hukum kampus dan ketentuan perizinan dari pemerintah pada saat itu.

Teknokra sempat berganti nama menjadi "Teknokrat", lalu berubah lagi menjadi "Cendekia", dan akhirnya kembali menjadi "Teknokra" dengan akronim "Teknologi, Inovasi, Kreativitas, dan Aktivitas" yang terus dipertahankan sampai saat ini meskipun harus melalui pasang surut regenerasi mahasiswa dalam kepengurusannya.

Bersamaan Reuni Akbar dan peringatan HUT ke-35/37 Teknokra itu, diberikan penghargaan kepada para pendirinya, yaitu Prof Dr Ir Muhajir Utomo MSc (mantan Rektor Unila), Dr M Thoha BS Djaya MS (mantan Pembantu Rektor III Unila), dan Asep Unik SE ME (pengelola pasca sarjana Fakultas Ekonomi Unila) oleh Pemimpin Umum Teknokra Dian Wahyu Kusuma.

Pembantu Rektor Unila, Dr Sunarto DM SH MH, mewakili Rektor Prof Dr Sugeng P Harianto MS, menegaskan bahwa SKM Teknokra itu merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampus tersebut yang masih terjaga eksistensinya sampai saat ini.

Dia mengharapkan, eksistensi dan peran Teknokra terus ditingkatkan oleh para pengelolanya, termasuk untuk mendukung promosi dan mengangkat keberhasilan serta prestasi di kampus Unila itu.

"Jangan isi beritanya yang jelek-jelek saja, sebaiknya hal-hal yang positif termasuk prestasi dan keberhasilan yang dicapai di Unila dapat disebarluaskan melalui SKM Teknokra," ujar Sunarto lagi.

Salah satu alumni Unila yang aktif di Teknokra dan kini menjadi dosen serta pengelola lembaga pendidikan Teknokrat Lampung, Dr Nasrullah Yusuf SE MBA, bersepakat bahwa Teknokra Unila harus dapat ikut mengembangkan potensi dan prestasi di kampusnya serta ikut memberi sumbangsih bagi pembangunan daerah maupun negara, melalui pemberitaan dan tulisan yang dihasilkannya.

"Kampus memerlukan dukungan angkat potensi dan prestasi yang dicapai keluar, sehingga makin dikenal dan dihargai masyarakat. Sedih rasanya mendengar Kampus Unila ini kalau sampai tidak dikenal di luar," ujar dia pula.

Sejumlah pengelola Teknokra dari era awal hingga masa berikutnya, nampak hadir dalam Reuni Akbar itu, termasuk para lulusan Unila yang pernah aktif di pers mahasiswa itu dan kini menjadi jurnalis profesional di sejumlah media massa di Jakarta maupun berbagai daerah lainnya termasuk di Lampung.

Selain menjadi jurnalis dan pekerja pers profesional maupun bidang teknologi informasi lainnya, para lulusan Unila yang pernah aktif di Teknokra juga berhasil menekuni sejumlah profesi, di antaranya pendidik/dosen, peneliti, birokrat, politisi, pegiat LSM, pengusaha, dan profesi lain yang tersebar bekerja di berbagai daerah termasuk di beberapa negara lain.

Sumber: Antara, Senin, 22 April 2012

[Perjalanan] Mengintip Sumber Air Sungailangka

LERENG Gunung Betung di bilangan Kabupaten Pesawaran bisa menjadi “kawasan Puncak” untuk warga Bandar Lampung. Dengan sumber air dari gunung, vila-vila mulai tumbuh di sini.

Melintas di jalan lintas barat, dari Bandar Lampung menuju Gedongtataan, kontur menanjak mulai terasa sejak perbatasan kota. Setelah itu, suasana perbukitan mulai menghadirkan kesejukan suasana.

Sebelum sampai ke Gedongtataan, lintasan tertinggi dicapai di Desa Bernung. Dari desa ini, menengoklah ke kiri, maka tatapan akan terantuk dengan hijau-membirunya dinding Gunung Betung.

Jika Anda penasaran, ada jalur mulus yang dapat digunakan untuk mengakses gunung yang masih dikenal dengan sebutan Gunung Sukmahilang itu. Dinamakan Sukmahilang karena dulu ada satu peleton tentara Belanda hilang tanpa bekas di desa ini. Melalui Desa Sungailangka, gunung yang menyimpan berbagai misteri dan terdapat sumber air dari perut bumi tanpa henti itu bisa dinikmati.

Menyebut Sungailangka, bagi sebagian warga Lampung bagian selatan mungkin sudah tidak asing. Desa itu berada di “bahu” sebelah utara Gunung Betung dalam Kecamatan Gedongtataan.

Masuk desa itu melalui Desa Bernung, jalan aspal mulus terlihat lurus menembus jajaran rumah-rumah yang halamannya rimbun oleh pepohonan kakao. Suasana sudah mengademkan hati. Sayang, jalan desa itu kurang lebar sehingga setiap kendaraan roda empat yang akan berpapasan harus berhati-hati.

Desa Sungailangka potensial dengan komoditas perkebunan yang amat subur. Ada kakao, salak pondoh, durian, avokad, pisang, petai, dan komoditas lainnya. Tak heran saat harga kakao sedang tinggi dan desa ini sedang panen raya, kemakmuran di sini begitu terasa.

Sungailangka ternyata punya riwayat panjang dengan sejarahnya. Penjajah Belanda pernah menempatkan lokasi ini sebagai lokasi perkebunan karet yang potensial. Ada beberapa tilas yang ditinggalkan VOC dan hingga kini masih bertahta. Ada bekas benteng yang berada di bukit Batu Lapis menjelang trek pendakian ke Gunung Betung. Ada seonggok pondasi bekas pabrik karet yang posisinya sekarang berada di sekitar balai desa.

Cerita-cerita warga juga menyimpan misteri-misteri tentang masa lalu itu. Ada sebutan SD Markas untuk menyebut SDN 2 Sungailangka. Sebab, lokasi SD itu dulunya adalah bekas markas tentara Belanda. Juga ada pemandian yang berada di kaki bukit yang di atasnya mengalir air dari sumber air alami yang tak pernah berhenti dengan debit cukup besar.

Di antara cerita-cerita yang masih diingat warga adalah suara-suara gaib yang kerap muncul pada malam-malam tertentu. “Dulu, tahun ‘70-an, kalau malam Jumat, orang di daerah sini mendengar suara-suara aneh seperti tetabuhan di arah atas. Kalau didekati, ternyata tidak ada. Orang sini sendiri malah mendengar suara yang sama ada di bagian bawah,” kata Ayu, salah seorang penduduk dekat SDN 2 Sungailangka.

Areal Desa Sungailangka dan sekitarnya, kata Ayu, memang bekas kebun karet Belanda. Tak heran ketika sudah berubah menjadi kebun warga, desa itu subur untuk tanaman apa saja. Itu juga karena ketersediaan air alami dari gunung yang tak pernah sat.

Hidup atau sekadar ngadem di Sungailangka bisa menjadi cara murah menikmati suasana alami. Naik ke arah Gunung Betung yang kerap dijadikan trek pramuka atau pencinta alam masuk Gunung Betung, suasana benar-benar segar.

Di bagian awal, ada pemandian umum yang memanfaatkan sumber air dari mata air dari gunung yang cukup besar. Air itu ditampung dalam bak tertutup, lalu dipasang pipa, untuk kemudian didistribusikan kepada warga. Jangan heran, di pinggir-pinggir jalan, terdapat bak terbuat dari semen yang “berakar” selang-selang kecil. Itu adalah bak sentral pembagi air ke rumah-rumah warga.

Di pemandian itu, pihak desa sempat membuat kolam renang sedalam 2 meter sepanjang sekitar 30 meter terbuat dari semen. Menurut Ayu, kolam itu dulu sangat ramai dikunjungi warga. Airnya sangat dingin dan segar karena merupakan air dari sumber yang langsung ditadahkan dari atasnya.

Namun, karena ada beberapa insiden yang sesungguhnya belum tentu kolam itu penyebabnya, lambat laun warga tidak mengunjungi tempat santai ini. “Airnya sangat dingin. Itu yang membuat tentara yang mandi di situ waktu itu meninggal dunia. Tempat itu dulu memang selalu dipakai oleh tentara mandi setelah latihan. Sekarang, sudah tidak dipakai lagi,” kata Ayu.

Di pemandian itu, kelestarian hutannya terjaga. Pohon-pohon besar memayungi lokasi itu. Suasana hutan itu membuat bersantai di lokasi itu amat menyejukkan hati.

Naik lagi ke atas, ada ceruk di bukit yang pada dinding sebelah atasnya terdapat bekas bangunan tua. Ayu mengatakan bangunan itu adalah bekas benteng yang dibangun Belanda untuk markas keamanan dan juga para penjaga kebun.

Di atasnya, bebatuan berlapis sedang dieksploitasi oleh pengusaha dengan menggunakan ekskavator sehingga longsoran tanah dan batu membelandang ke bawah dan terasa mengganggu ekosistem yang lestari.

Sungailangka dengan kesejukan alamnya dan lestari hijaunya, serta kemudahan aksesnya, telah menjadi pilihan para pejabat dan orang kaya membangun peristirahatan. Ada beberapa nama pejabat dan mantan pejabat yang disebut Ayu telah membangun vila di desa ini.

Melihat salah satu vila, Lampung Post mendapati mantan pejabat ini menguasai berhektare-hektare kebun dengan berbagai tanaman buah. Ada durian, avokad, petai, dan lainnya. “Mereka bikin kolam-kolam ikan untuk bersantai sambil memancing. Makanya, walaupun agak jauh dari kota, di sini peradabannya sudah seperti di kota,” kata Ayu.

Jika Anda ingin berbaur dengan warga, tidak ada ruginya. Warga yang mayoritas dari etnis Jawa ini dengan senang hati menerima tamu. Ada berbagai buah-buahan, termasuk salak pondoh, yang siap menyambut. “Di sini juga banyak peternah kambing etawa. Kita bisa minum susu kambing hangat segar yang baru diperah,” kata Ayu. Emmhhh…. (SUDARMONO)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 April 2012

April 18, 2012

"Profesor Gamolan" Dijadwalkan Kunjungi Lampung

Bandarlampung -- Peneliti gamolan (alat musik tradisional Lampung terbuat dari lempengan bambu, Red) dari Universitas Monash Australia, Margareth J Kartomi, akan mengunjungi Lampung, 19 April-1 Mei 2012.

"Kunjungan Prof Margareth kali ini untuk pembuatan buku khusus tentang Lampung," kata Ketua panitia pelaksana "road show" kunjungan Margareth, Hasyimkan, di Bandarlampung, Rabu.

Ia menambahkan, kunjungan profesor itu juga untuk memenuhi undangan Bupati Way Kanan, Bustami Zainudin, menghadiri rangkaian acara Festival Radin Jambat, April ini.

Profesor yang juga pernah berkeliling Lampung pada tahun 1981 hingga 1983 itu, juga sudah melayangkan surat kepada Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, berkaitan pembuatan buku tersebut.

"Margareth bersama anaknya Karen Sri Kartomi Thomas menyatakan terima kasih kepada Gubernur Lampung, karena sudah memberikan gelar adat `Ratu Berlian Sangun Anggun`," kata dia lagi.

Dalam surat tersebut, dia juga meminta dukungan kepada gubernur dalam persiapan pembuatan buku kesenian ("artbook") dengan judul "Keindahan Seni Lampung, Dulu dan Sekarang".

Hasyimkan menjelaskan, buku tersebut akan memuat banyak foto berwarna dan memiliki ukuran besar serta berkualitas.

"Rencana buku sudah diselesaikan secara mendetail dan separuh naskahnya sudah hampir rampung, bagian naskah yang lain akan diselesaikan sesudah perjalanan keliling Lampung termasuk Way Kanan," kata dosen Program Studi (Prodi) Seni Tari Universitas Lampung (Unila) itu pula.

Rencananya buku tersebut akan diterbitkan dan dijual untuk umum saat Pameran Seni Lampung yang berlangsung sekitar dua bulan di Galeri Fo Guang Yuan Melbourne, Australia, serta Seminar Internasional Gamolan Lampung yang kedua di Universitas Monash pada tanggal 7-8 September 2012.

"Selain itu, biasanya di Australia pada September juga mengadakan Festival Indonesia," kata dia lagi.

Ia menyebutkan, jadwal "road show" profesor tersebut, dimulai dari Kabupaten Lampung Timur pada 19 April untuk mengunjungi situs purbakala di Desa Pugung Raharjo, dan menyaksikan pertunjukan Tari Cetik di Labuhan Maringgai.

Pada 20 April, lanjut dia, rombongan yang rencananya berjumlah 10 orang itu langsung meluncur ke Kabupaten Lampung Tengah, dan keesokan harinya (21/4) masih berlanjut di kabupaten itu.

Kemudian pada 22 April, akan menyaksikan pertunjukan seni di Kampung Tradisional Kabupaten Tulangbawang Barat.

Selanjutnya, pada 23-25 April, Margareth menuju Way Kanan untuk memenuhi undangan Festival Radin Jambat.

Pada 26-27 April akan berada di Lampung Barat, dan 29 April menuju Tanggamus, serta selanjutnya ke Bandarlampung.

"Kabupaten terakhir adalah Lampung Selatan untuk berziarah ke Makam Raden Inten II," kata dia menambahkan.

Sumber: Antara, Rabu, 18 April 2012

April 17, 2012

Susunan Alfabet Lampung


Dikutip dari William Marsden. 2008. Sejarah Sumatra. Terjemahan: Tim Komunitas Bambu. Depok: Komunitas Bambu. hlm. 90-91.

Kalau melihat kutipan dari buku ini, ternyata aksara Lampung ada 19, bukan 20. Huruf ke-20, yaitu gha atau kha atau gra tidak ada. 

E-booknya: http://www.gutenberg.org/files/16768/16768-h/16768-h.htm.

April 15, 2012

Lampung-Bali Terjalin Peradaban Pesisir

Oleh Iwan Nurdaya-Djafar


MASIH segar dalam memori kolektif kita, pada 24 Januari 2012 lalu telah terjadi kasus Sidomulyo yang berona SARA antara etnik Lampung dan Bali. Perseteruan antarsuku di wilayah Lampung Selatan ini konon bak api dalam sekam yang bukan hanya sekali terjadi.

Setiap kali ada pemicu, entah soal parkir atau bersenggolan saat nonton organ tunggal, maka api itu pun kembali berkobar. Dendam kesumat ini, jika boleh disebut demikian, menegaskan bahwa seolah-olah antara etnik Lampung dan Bali adalah dua entitas yang sama sekali berbeda, bermusuhan dan siap berbenturan kapan saja dan di mana saja.

Sikap permusuhan antaretnik ini sejatinya adalah buah getir dari cara pandang kolonial pada masa silam tatkala Indonesia belum eksis sebagai negara modern, yang memang sohor dengan politik devide et impera-nya, yang hendak memisah-misahkan antara satu etnik dan yang lain, antara satu budaya dan budaya lain, misalnya Melayu, Jawa, Bali.

Menurut Andrian Vickers, pemisahan itu merupakan salah satu bentuk kesengajaan atau rekayasa yang sangat canggih dari sebuah rezim politik tempat budaya itu beroperasi untuk menghasilkan tradisi dan pengetahuan baru yang tercerabut dari kenyataan sejarah di kawasan Asia Tenggara. Namun, bagi Vickers hal itu tetap harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas karena apa sebenarnya yang terjadi bukan semata-mata persoalan tradisi rekaan kolonial melainkan menyangkut juga konstruksi lokal yang ditumpangi oleh bentuk-bentuk hegemoni kolonial.

Pandangan kolonial mengatakan bahwa berbagai kelompok etnik dan kedaerahan yang terdefinisikan dengan tegas di Asia Tenggara hanya saling berkaitan secara longgar melalui perdagangan. Padahal, di balik gambaran rapi tentang aneka budaya yang terpisah-pisah itu, bersemayam suatu prinsip interaksi dinamis, atau pergerakan dan kreasi aktif heterogenitas yang dimotori oleh sebuah proses budaya yang digambarkan sebagai "Peradaban Pesisir". Hal itu misalnya dapat dilihat dengan jelas di dalam Malat, sebuah syair kidung Bali yang amat penting pada abad ke-18 dan ke-19. Paparan tentang Melayu, Jawa, dan Bali di dalam Malat menunjukkan adanya interaksi antarbudaya yang intensif untuk membuktikan bahwa sekian banyak budaya itu adalah manifestasi dari sebuah peradaban bersama.

Karya sastra Bali juga masuk ke Lampung melalui cerita Panji yang berasal dari Jawa pada abad ke13 dan ke-14. Terdapat banyak bukti bahwa cerita Panji eksis di Lampung, belum lagi kehadirannya dalam cerita rakyat yang terhimpun di sana, misalnya cerita Radin Bangsu.

Dalam bukunya Peradaban Pesisir: Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara, secara khusus Vickers menulis satu bab, yaitu Bab III yang bersubjudul "Dari Bali ke Lampung: Perihal Pesisir". Simbolisme kapal telah mempertautkan keduanya. Membuka bab itu, Vickers melontarkan pertanyaan dengan kata-kunci kapal, yaitu: pelayaran apa yang membawa kita dari Bali ke Lampung dengan kapal? Di pantai mana kita berlabuh untuk menautkan dua budaya Indonesia ini?

Contoh yang dipakai Vickers adalah lukisan Bali yang menampilkan sebuah versi adegan cerita Panji Malat Rasmi, Malat, dan kain Lampung yang dikenal sebagai tampan pasisir. Keduanya menarik karena sama-sama menggambarkan kapal, meski secara stilistika jelas tidak memiliki kesamaan apa pun. Kedua contoh tadi adalah representasi tentang kapal, dan dapat dijelaskan dengan merujuk kepada khazanah sastra perihal simbolisme kapal di Indonesia. Sastra semacam ini berpusat pada simbolisme kapal sebagai manifestasi dari masyarakat Indonesia kuno. Pelbagai simbol terjalin melalui asal-usul bersama dan difusi.

Kapal, lazimnya dalam bentuk peti mati atau sarkofagus, digunakan di berbagai daerah Indonesia untuk merepresentasikan perjalanan jiwa. Dengan membandingkan kain tampan dan ritual Lampung, ada pendapat yang menyatakan bahwa kapal juga menyimbolkan gerak menempuh babak-babak kehidupan. Kedua argumen ini terikat pada sebuah pandangan bahwa distribusi simbol-simbol semacam itu bersumber dari asal-usulnya pada zaman kuno. Melalui sebaran simbol kapal, rumah, tanduk kerbau, ular dan burung, kita bisa menguraikan suatu budaya-Asali Indonesia megalitik.

Tampan Pasisir

Tampan pasisir Lampung berkenaan dengan masyarakat Lampung yang memperlihatkan "kelestarian" (survival) watak kultural primordial. Bentuk tampan pasisir hanyalah satu jenis kain Lampung bermotif kapal yang terbatas di wilayah selatan Lampung. Jenis lainnya adalah berbagai kain "darat" yang membentuk khazanah tekstil yang dikoleksi di Barat, dan pelbagai corak selatan setempat dari Kalianda dan Teluk Semaka. Corak Kalianda dan Teluk Semaka dapat dipandang sebagai variasi corak tampan pasisir.

Ada korelasi antara corak kain dan pengelompokan kultural di Lampung (atau "ranah Lampung", sebutan Belanda untuk kawasan ini). Corak "darat" terutama bertalian dengan wilayah-wilayah yang digolongkan sebagai adat pepadun, yaitu wilayah yang menonjolkan semacam identitas “suku pribumi” (tribal). Dalam penyebarannya, corak Kalianda tampak bertalian dengan Kerajaan Darah Putih (yang mencakup wilayah Ratu, Daratan, dan Rajabasa), sedangkan corak Teluk Semaka dapat dihubungkan dengan wilayah Kerajaan Samangka atau Semaka (di seputar kawasan Wonosobo dan Kotaagung).

Tampan pasisir terutama berasal dari kawasan atau bekas Kerajaan Teluk Betung, dan mungkin dari sejumlah wilayah Darah Putih. Ciri paling mencolok dari ragam-ragam tampan yang lebih mutakhir ini adalah penggambaran nonabstrak berbagai figur wayang dan (terutama) kapal. Kecenderungan abstraksi dan corak Kalianda dan Teluk Samaka mungkin hasil dari upaya sengaja mengembangkan corak unik untuk menandai identitas khas dua wilayah ini.

Corak tampan pasisir dibahas secara mendalam oleh Holmgren dan Spertus, yang memaparkan bahwa tekstil-tekstil tersebut sangat kuat mengusung narasi. Mereka menguraikan sebagian dari banyak ragam adegan pada tampan pasisir: penggambaran kelahiran seorang putra agung di kapal; prosesi armada raja, lengkap dengan gajah-gajah di kapal; transfer peti harta dengan kapal; dan penggambaran seorang bangsawan kerajaan bersama tiga wanita di sampan pelesir. Setidaknya sebagian dari adegan-adegan ini paralel dengan proses ritual di kalangan bangsawan Lampung Selatan yang memiliki kain-kain itu.

Sejatinya masih banyak lagi mitos-mitos Lampung lainnya perihal kapal, tapi tak cukup ruang buat diturunkan di sini. Begitu pula motif kapal bukan hanya muncul pada kain Lampung, melainkan juga pada ilustrasi teks sastra Lampung semisal Tetimbai Si Dayang Rindu, dan pada masa mutakhir tampil sebagai motif kain batik sebagi, dan bahkan lambang daerah Kota Bandar Lampung. Pun pula dalam bentuk tiga dimensi yang muncul pada arsitektur gapura atau rumah.

Simbolisme Kapal Bali

Dalam contoh dari Bali yang ditampilkan di sini, citra kapal merepresentasikan sebuah perjalanan simbolik, yaitu perjalanan menempuh babak-babak kehidupan, atau perjalanan dari kehidupan menuju kematian. Untuk memperkuat argumen ini, tidak tertutup kemungkinan ditemukan simbolisme kapal yang lain di Bali. Dalam ritual kematian, pandita yang menjadi imam, biasanya seorang padanda (pendeta tinggi Brahmana), harus "melayarkan" (ngentas) jiwa dari dunia ini ke alam baka.

Demikianlah, di sebuah desa di Bali Timur, simbolisme kapal menjadi bagian dari upacara pemurnian. Sebuah kapal dibikin dari pelepah daun kelapa dan diberi muatan simbolik. Pada saat yang bersamaan, dibuatlah falus setinggi kira-kira satu meter, disebut "lingga desa" (kleng desa). Pada gilirannya kemudian, kapal tersebut dibawa ke gundukan batu yang merepresentasikan laut, dan serta-merta dibakar ketika tetua desa meloncati falus itu.

Dari riset Vickers mengenai penggunaan episode yang digambarkan tersebut dalam beragam bentuk artistik di Bali, dia mendapati bahwa setumpuk asosiasi lain yang muncul dari narasi ini sulit diabaikan. Untuk mempertahankan penjelasan tentang “kapal mendiang” dan “ritus transisi”, ada aspek-aspek dari plot episode itu yang relevan dengan tema-tema tersebut. Akan tetapi, ada pula berbagai kemungkinan makna lain yang akan terabaikan ketika berfokus pada dua makna simbolik itu.

Dengan mengedepankan adanya kesamaan Lampung dan Bali dalam ikatan peradaban pesisir di atas, kita berharap, pertikaian antaretnik Lampung dan Bali tak lagi terjadi di masa depan. Caranya adalah dengan menyegarkan kembali ingatan kolektif kita akan hal itu dan mengembangkannya.

Upaya ini kiranya sudah ada meskipun sporadik sifatnya. Misalnya, I Wayan Sumerta Dana (Wayan Moco) yang memberi nama notasi alat musik Lampung berupa cetik (gamolan pering) dan beroleh hak atas kekayaan intelektual atasnya, I Gusti Ketut Okta Bayuna yang memenangi lomba desain lambang daerah Kota Bandar Lampung yang desainnya sarat dengan simbol adat Lampung, serta komposisi tari yang merupakan kolaborasi tari Lampung dan Bali.

Usaha-usaha sedemikian mesti terus dikembangkan agar kita bisa kembali merayakan peradaban pesisir di bumi Lampung. Jika kita tak ambil peduli atas hal ini, tidaklah keliru manakala Vickers mengatakan bahwa kita belum men-Asia Tenggara secara kultural. n

Iwan Nurdaya-Djafar, budayawan

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 April 2012


[Inspirasi] Perjuangan Emed Menerangi Suoh


ORANG kota sering mumet gara-gara listrik byarpet. Sebaliknya, warga Dusun Sukamarga, Suoh, Lampung Barat, tetap tersenyum dengan listrik kincir air karya Mang Emed.

Langkah kaki Emed (47) semakin lebar mendekati kincir air pembangkit listrik yang terletak di badan Gunung Cibitung. Walaupun harus mendaki jalan terjal, napas bapak tiga anak tidak terengah. Inilah kelebihan masyarakat desa, kebiasaan berjalan kaki membuat fisik mereka lebih sehat. Sesampainya di lokasi kincir air, Emed mengamati sejenak putaran kincir.

Lalu, dia kembali mendaki sekitar 200 meter untuk menutup saluran air. Seketika air mengalir pelan dan kecil. Emed setengah berlari turun, dengan sigap, dia mengecek turbin berdiameter 30 cm itu. Selanjutnya memeriksa kondisi kabel yang tersambung ke dinamo. “Masih bagus,” kata Emed.

Setelah memeriksa kondisi kincir mini, Emed kembali naik ke atas dan membuka saluran air. Air mengalir deras. Arus air yang kencang memutar turbin dan menggerakkan kincir. Energi gerak ini diubah menjadi energi listrik oleh sebuah dinamo kecil yang diletakkan di atas pancang kayu. “Dulu, kincir air ini adalah satu-satunya tenaga pembangkit listrik di kampung ini, tapi sekarang ada sekitar 20 kincir air milik kelompok-kelompok warga,” kata Emed.

Menurut Emed, dia tinggal di Suoh sejak 46 tahun lalu, ketika itu dia ikut bapaknya berladang di sana. Sampai Emed mendapatkan istri dan memiliki tiga anak. Awalnya, mereka tinggal di gubuk bambu di tengah pegunungan Cibitung, menjaga ladang dari serangan babi. Siang hari berladang dan malam harinya berlindung di dalam gubuk. “Puluhan tahun kami hidup tanpa penerangan listrik, hanya pakai lampu sentir yang dibuat dari bambu dan sabut kelapa,” ujarnya. Mereka tidak hanya bertarung dengan kegelapan, tapi juga keganasan hewan-hewan malam. Tak pelak, beberapa kali Emed dan keluarga berlari keluar rumah mencari tempat yang aman ketika segerombolan gajah melintasi gubuk mereka.

Dusun Sukamarga itu baru tersentuh penerangan listrik pada 2005, dan Emed menjadi pionir pembuatan kincir air mini di dusun ini. Awalnya, dia merakit alat menggunakan bahan seadanya. Emed tidak menggunakan turbin besi modern, tapi dia membuat sendiri turbin menggunakan kayu dan papan. Bahkan, dinamo pun dirakit dari kabel-kabel yang dililit-lilitkan.

Emed mengaku dinamo dari lilitan kabel ini tidak mampu menghasilkan tenaga listrik yang besar, hanya cukup untuk menghidupkan lima bohlam dengan voltase rendah. Tidak hanya dinamo yang lemah, tapi arus air yang tidak kuat juga memengaruhi energi listrik yang dihasilkan.

Akhirnya Emed memanfaatkan buluh bambu untuk membuat saluran air ke kincir. Buluh utama berukuran 8 cm, disambung dengan buluh berukuran 6 cm, dan terakhir buluh berukuran 4 cm. Degradasi ukuran buluh ini memperkuat arus air. Dari sinilah, Emed bisa berbagi listrik dengan beberapa tetangganya.

“Kalau sekarang sih hampir semua sudah bisa membuat kincir mini, dan mereka sudah memakai alat-alat modern. Seperti dinamo tinggal beli, turbin juga dibeli, terus sekarang pakai pipa, tidak pakai buluh lagi,” kata pria etnis Sunda ini.

Untuk membuat satu kincir air mini membutuhkan dana sekitar Rp16 juta. Kincir air dengan kapasitas dinamo 3.000 watt itu didistribusikan untuk 5—6 rumah. Bisa digunakan untuk menghidupkan lampu, komputer, dan televisi.

“Untuk biaya pemeliharaan kincir, warga mambayar iuran setiap bulan untuk satu lampu Rp30 ribu, kalau untuk televisi Rp100 ribu/bulan,” katanya.

Kini, semua warga Sukamarga sudah menikmati listrik di rumah masing-masing. Air pegunungan Cibitung merupakan berkah yang melimpah ruah. Di musim kemarau pun air ini tetap mengalir deras. Jadi, jangan heran, jika di siang hari pun, listrik-listrik di dusun ini tetap menyala terang. (RINDA MULYANI/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 15 April 2012


Putri Belgia peroleh gelar adat Lampung

Bandarlampung -- Putri Astrid dari Kerajaan Belgia memperoleh gelar kehormatan adat Lampung, "Suhunan Ratu Mahkota", dari Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Provinsi Lampung.

Putri Astrid (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf)

"Pemberian gelar adat ini berdasarkan surat keputusan MPAL Provinsi Lampung nomor 05/MPAL/Provinsi/IV/2012," kata Ketua MPAL Provinsi Lampung, Khadarsyah Irsa, saat membacakan surat keputusan pemberian gelar adat itu, di Bandarlampung, Sabtu malam.

Selain itu, lanjut dia, pemberian gelar adat tersebut juga bertujuan untuk mengikat persaudaraan antara Putri Astrid dan Putra Gubernur Lampung, Rycko Menoza, yang mendapat gelar Sutan Raja Kaca Marga.

Prosesi gelar adat di halaman rumah dinas Gubernur Lampung itu, berlangsung lancar dan tertib, serta dihadiri oleh para pejabat daerah yang ada di Provinsi Lampung.

Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, dalam kesempatan itu mengatakan, pemberian gelar adat tersebut bertujuan untuk mengenalkan kebudayaan Lampung ke mancanegara.

"Kalau di Palembang ada Kerajaan Sriwijaya dengan segudang peninggalannya, maka Lampung pun punya tapi memang belum banyak yang tahu," kata Sajchroedin.

Ia mengatakan, Lampung mempunyai kebudayaan yang lebih tua dari kerajaan Sriwijaya.

"Kerajaan Sriwijaya yang lebih terkenal dari Lampung tidak memiliki kebudayaan seperti ini," kata dia.

Gubernur Lampung itu mengatakan, masyarakat Lampung terus menggali dan mempromosikan kebudayaan-kebudayaan ke tingkat yang lebih luas lagi sehingga dapat dikenal.

Ia berharap dengan budaya Lampung seperti prosesi pemberian gelar adat (adok) dapat dikenal oleh masyarakat dari daerah lain maupun mancanergara karena memiliki keunikan tersendiri.

Puteri dari Kerajaan Belgia, yang juga Wakil Khusus atau Special Representative dari Roll Back Malaria menyatakan dukungannya bagi penanggulangan malaria di Indonesia.

Puteri Astrid juga sempat mengunjungi fasilitas yang dimiliki oleh pusat layanan kesehatan masyarakat di Lampung Selatan.

Dalam kunjungannya tersebut, Ratu Astrid melihat kondisi berbagai perlengkapan yang dimiliki oleh Puskesnas Way Urang Kalianda, Lampung Selatan serta penanganan pelayanan kesehatan di aderah itu.

Sumber: Antara, Minggu, 15 April 2012

April 8, 2012

‘In Memoriam’ Havizi Hasan

DI penggal akhir bulan, tepatnya Selasa, 27 Maret 2012, Lampung kehilangan salah satu putra terbaiknya. Budayawan Lampung, Havizi Hasan, dipanggil Sang Khalik. Almarhum  mewariskan sejumlah karya untuk Sang Bumi Ruwai Jurai.
DIALOG SENI. Seniman Havizi Hasan (tengah) semasa hidup bersama sastrawan Asaroedin Malik Zulqornain Ch. (kanan) dan pewawancara Don Peci (kiri) dalam sebuah dialog kesenian di sebuah televisi lokal Lampung. ISTIMEWA 

Pernikahannya dengan Halimah pada April 1970 memberinya anak-anak, yaitu Listan Feri, Desfian Nurliza, Pipia Lilik, Elysa, Filia Anami, Rizka Firdaus, dan Pita Hidayat, meninggal di RS Urip Sumoharjo, Bandar Lampung, karena mengidap penyakit jantung dikebumikan di tanah kelahirannya, Kedondong.

Pria kelahiran Kedondong, 16 Juli 1945 ini dikenal sebagai seniman tradisi yang paripurna. Kiprahnya di dunia kesenian tak diragukan lagi. Darah seni memang mengalir dari sang Ayah seniman yang menguasai musik dan sastra tradisional  Lampung. Ayahnya Hasan Basri  mengajar musik dan sastra berkeliling daerah, antara lain Cukuhbalak, Kotaagung, dan Kalianda.

Anak pertama dari 10 bersaudara pasangan Hasan Basri dan Siti Mardiah ini setamat SMEA justru tertarik jadi guru. Pada 1967, Havizi Hasan mulai mengabdi di SDN 1 Kedondong sambil menyelesaikan pendidikan di sekolah guru atas (SGA). Kemudian pada 1974 dipercaya menjadi kepala SD Sinar hingga 1976. Dan selanjutnya kariernya meningkat jadi penilik sekolah hingga 1983.

Pada 1983, karena konsistensinya di bidang kebudayaan ditarik ke Taman Budaya Lampung sebagai penilik kebudayaan di Kecamatan Telukbetung Selatan dan kemudian alih tugas ke Tanjungkarang Timur. Tahun 1985 dipercaya sebagai Kasi Peningkatan Mutu di Taman Budaya Lampung.

Selain aktif berkiprah di bidang kesenian, Havizi Hasan juga tetap mengabdikan diri di dunia pendidikan. Di samping kesibukannya mengajar dan berkesenian, dia berhasil menyelesaikan pendidikan di PGSLP pada 1975. Terakhir, Havizi menyelesaikan gelar sarjana S-1 di STKIP PGRI Bandar Lampung.

Kiprah pengabdian Havizi di dunia pendidikan tercatat  pernah mengajar di SMP Persiapan Kedondong, SMA  Persiapan Kedondong, dan Sekolah Pertanian. Bidang studi yang jadi tanggung jawabnya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kesenian.

Pada 1983, dunia pendidikan ditinggalkannya dan Havizi mulai konsen di dunia kesenian yang mulai diakrabinya sejak 1958. Pada kurun waktu itu Havizi sudah memublikasikan karyanya berupa puisi, cerita, dan lagu di koran Lampung Jaya. Salah satu lagu ciptaannya yang hingga kini populer adalah lagu Udia.

Sejak tahun 1979 Havizi mulai terlibat dalam dunia tari. Dari sentuhan tangan dinginnya terlahir tari Mapak, Tari Bedana, Pencak Khakot, Tari Keser dan Tari Mayang. Selain itu, sejak 1978 Havizi Hasan juga melakukan penelitian tentang sastra lisan daerah Lampung.

Aktivitasnya juga nampak dalam setiap kegiatan festival musik, menyanyi dan tari.Selain menjadi juri, dia juga terlibat sebagai narasumber dalam berbagai sarasehan dan workshop seni tradisi Lampung.

Pada tahun 1988 Havizi menggarap musik beduk Lampung yang ditampilkan di MTQ Nasional yang digelar di Lampung. Di sela-sela kesibukannya Havizi juga menulis beberpa deskripsi tari antara lain; tari Samroh, tari Bedana dan Kulintang.

Almarhum juga tertarik mendalami budaya Lampung, alasannya simpel, karena pertama, dirinya adalah orang Lampung. Kedua, dia hidup di lingkungan seniman. Ketiga, inilah hal yang terpenting karena dia ingin menumbuhkembangkan warisan budaya Lampung.

Menurut almarhum, budaya Lampung sulit berkembang karena ada beberapa kendala. Pertama dari internal, karena apresiasi orang Lampung masih rendah. Kedua, sifat orang Lampung masih tertutup; dan ketiga, kesenian Lampung dianggap belum bermutu.

Solusinya, menurut dia, antara lain harus meningkatkan kualitas kesenian sehingga pantas dan layak tonton. Semua itu tentunya harus dibarengi dengan meningkatkan apresiasi masyarakatnya. Selain itu, perlu memotivasi seniman Lampung hingga mau membuka diri untuk selalu belajar. Pengembangan kesenian harus sesuai dengan perkembangan zaman sehingga harus ikhlas kalau ada inovasi dan kreasi baru. Untuk itu perlu adanya kerja sama dalam upaya menggali, mengelola, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya.

Suatu kali dalam sebuah diskusi almarhum Havizi berujar,  perlu wadah pengkajian budaya Lampung. Kalau di Jawa ada Lembaga Javanologi, di Lampung perlu ada lembaga sejenis. Tetapi lembaga ini harus berbicara teknis, bukan hanya sekadar paguyuban.

Wadah semacam Lampung Sai, masih kata almarhum, boleh-boleh saja. Selama lembaga itu konsisten terhadap tujuan untuk menggali, mengelola, menumbuhkembangkan, dan melestarikan seni dan budaya Lampung. Ia menambahkan, sebaiknya biarkan ragam budaya yang ada di Lampung bertumbuh kembang dengan warnanya masing-masing. Baru nantinya saat tampil di pentas nasional, hanya ada satu Lampung yang tampil. Jadi, tidak ada lagi Lampung Abung, Lampung Pubian, Lampung Pepadun atau lainnya.

Saat ini di Lampung mulai diajarkan muatan lokal, antara lain bahasa Lampung. Tetapi perkembangan bahasa Lampung masih memprihatinkan, apalagi sastranya. Karena itu, perlu terus digalakkan dan disosialisasikan. Bahasa sangat memengaruhi seni budaya. Bahasa sebagai alat komunikasi sehingga kalau mau mengakrabi seni budaya Lampung perlu belajar bahasanya.

Almarhum Havizi menambahkan fungsi dan kedudukan sastra Lampung sangat penting. Masyarakat Lampung dalam kehidupan sehari-harinya sejak kelahiran hingga kematian diwarnai dengan sastra. Sastra berfungsi sebagai alat komunikasi, penyebaran informasi, dan juga sebagai media menyampaikan nasihat dan ajaran agama.

Almarhum juga pernah mengkritisi mengapa lagu Lampung belum memasyarakat. Pasalnya, hingga saat ini para pengarang lagu Lampung sudah banyak terpengaruh dengan lagu daerah lain sehingga roh kelampungannya tidak tampak. Ia juga menambahkan kalau lagu Lampung mau eksis harus punya ciri khas. Untuk itu tentunya, harus dipelajari dengan serius dan mendalam.

Almarhum juga pernah berujar seniman Lampung banyak yang enggan dan kurang serius menggali akar budaya dan kesenian tradisi yang dimiliki Lampung. Yang baru diangkat baru kulit-kulitnya saja, belum ada yang menggali hingga ke akar sehingga roh sebagai ciri khasnya belum muncul.

Menurut Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Hari Jayaningrat, konsistensi almarhum di dunia kesenian tak diragukan lagi. Dunia seni budaya menjadi pilihan hidupnya, maka sampai ajal menjemput almarhum tetap bersetia menjalaninya. Bahkan pada hari kematiannya, 27 Maret 2012, almarhum semestinya jadi juri dalam Lomba Musik Tradisi yang digelar Dinas Budaya Pariwisata Kabupaten Lampung Selatan di Kalianda.

"Tetapi karena beliau mendadak masuk rumah sakit tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai juri. Dunia seni dan budaya Lampung sangat kehilangan. Banyak seniman yang menganggap almarhum tidak hanya sebagai guru, tetapi sebagai orang tua yang selalu siap membimbing," ujar Hari.

Almarhum Havizi Hasan telah meninggalkan kita. Namun, karya dan pengabdiannya untuk Lampung akan terus dikenang. Beristirahatlah dalam damai, kau akan selalu dikenang. Selamat jalan, Puari.

Christian Heru Cahyo Saputro, Direktur Eksekutif Jung Foundation Lampung Heritage, Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 April 2012

April 5, 2012

Film 'Gamolan jak Sekala Brak' Mulai Diproduksi

FILM yang mengupas budaya Lampung berjudul Gamolan Lampung mulai diproduksi. Film yang dicetus Syaiful Irba Tanpaka, produser sekaligus pemilik PH MLP, dan Diandra Natakembahang, seorang penggiat budaya, juga melibatkan banyak tokoh, mulai dari seniman gamolan Syapril Yamin, Kemal, sang penggagas Muri untuk gamolan Lampung, budayawan Lampung Wirda Puspanegara, peneliti gamolan Wayan Sumertadana hingga Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri.

Film dokumenter drama ini menjabarkan gamolan Lampung sebagai warisan budaya nusantara secara dinamis dan komprehensif, mulai dari sejarah gamolan, proses pembuatan, notasi gamolan hingga pergelaran musik gamolan yang mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri).

Syuting film yang dikemas dalam bentuk dokudrama ini berjudul Gamolan Jak Sekala Bekhak benar-benar dilakukan di beberapa pekon di Sekala Brak, Lampung Barat, yang merupakan pusat kebudayaan dan peradaban Lampung sebagai daerah asli gamolan sehingga situasi dan nuansa budayanya terasa lebih kental.

Proses syuting yang berdurasi lebih kurang 40 menit ini dipusatkan di Kembahang, Liwa, Lampung Barat. Film ini bercerita dengan ilustrasi liburan sebuah keluarga pengusaha ke kampung halamannya di Lampung Barat dan di sanalah terjadi pertemuan antara keluarga kecil ini dan Mamak Lil (Syapril Yamin) sang praktisi gamolan, yang mengisi liburan anak sang pengusaha dengan berlatih dan belajar gamolan pekhing disanggar Mamak Lil.

Tiyuh, siswi kelas VI SD yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Jakarta, liburan sekolah di tempat neneknya yang berada di sebuah desa di Provinsi Lampung.

Menurut sang ayah, di samping rindu dengan nenek (ibu dari ayah yang pribumi Lampung), juga agar Tiyuh dapat menikmati suasana desa yang jelas-jelas berbeda dengan hiruk-pikuk Ibu Kota.

Di desa nenek, Tiyuh yang mudah bergaul cepat memiliki banyak teman. Tiyuh merasakan suasana keakraban, persahabatan, dan persaudaraan bersama teman-teman desanya. Di samping ia merasa senang menikmati suasana desa yang sejuk dan indah. Rencananya film ini diluncurkan dalam waktu dekat. (S-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 5 April 2012 23:26