August 12, 2012

[Hobi] Ibu-Ibu Jago Menulis

SIAPA saja bisa menjadi penulis, membuat tulisan yang bagus dan menarik hanya butuh ketekunan dan latihan.

Hal ini dibuktikan oleh ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IDN). Tidak tanggung-tanggung, selain mengirimkan tulisan ke media-media lokal dan nasional, tulisan para ibu ini juga diterbitkan dalam bentuk buku. Penghasilannya juga cukup tinggi, dalam satu bulan bisa mendapat penghasilan tetap Rp500 ribu—Rp700 ribu. Jika mendapat orderan membuat buku, bayarannya lebih tinggi sekitar Rp5 juta—Rp6 juta.

IDN Lampung dibentuk pada Mei 2010 bersamaan dengan pembentukan di beberapa daerah di Indonesia. Di luar negeri, seperti Singapura dan Jepang, juga memiliki komunitas ibu-ibu jago menulis ini. Di Lampung sendiri, anggotanya sudah mencapai 41 orang tersebar di Bandar Lampung dan Lampung Selatan.

Menurut Koordinator IDN Lampung Sri Rahayu, komunitas ini baru sekali melakukan kopi darat, yaitu pada 2011. Selanjutnya pertemuan lebih banyak dilakukan secara online melalui facebook. “Anggota IDN menyebar di berbagai daerah, jadi sulit kalau harus kopi darat,” kata dia.  Menurutnya, sebagian besar anggota komunitas ini memang ibu-ibu rumah tangga, tapi ada juga yang remaja putri dan penulis. IDN tidak memungut uang pendaftaran, siapa pun bisa bergabung.

Diskusi dan sharing tentang kepenulisan dilakukan dalam grup facebook. IDN memiliki tema diskusi berbeda setiap harinya, mulai dari penulisan resensi, persoalan penerbitan, pembuatan outline tulisan, dan penulisan biografi. “Biasanya diskusi dilakukan setelah jam 7 malam. Pada jam ini, ibu-ibu sudah santai dan tidak ada lagi pekerjaan rumah,” kata Sri, yang juga guru SD IT Permata Bunda III ini.

Sharing juga bisa dilakukan dengan memosting tulisan di facebook, selanjutnya anggota lain akan memberi masukan dan komentar agar tulisan lebih baik. Para anggota saling mendukung dan memberi semangat kepada teman-teman yang lain supaya terus menulis dan berkarya. Bila ada yang berhasil menulis di media atau membuat buku, anggota yang lain pun memberikan apresiasi dan pujian. “Dari sini bisa tumbuh semangat, kalau yang lain bisa kenapa saya tidak,” ujar ibu dua anak ini.  

Menulis yang Dipahami

Tema yang dipilih untuk menulis sesuai dengan keseharian ibu-ibu rumah tangga. Misalnya tentang bagaimana mengurus anak, pengalaman dalam memelihara binatang, atau pengalaman memasak. Sri menjelaskan yang ditulis ibu-ibu adalah yang sudah mereka pahami dan kuasai sehingga menulis terasa lebih mudah dan menyenangkan. “Dalam komunitas ini hanya mengarahkan supaya tulisannya lebih enak dibaca,” kata dia.

Beberapa ibu-ibu dalam IDN Lampung sudah berhasil membuat buku, baik yang ditulis sendiri maupun yang ditulis keroyokan. Buku yang sudah berhasil dibuat oleh IDN di Lampung, antara lain tentang cerita anak. 

Sri mengungkapkan IDN memiliki agensi yang akan menghubungkan tulisan yang sudah dibuat ibu-ibu dengan penerbit. Jika memang tulisan bagus dan layak, akan ada penerbit yang membeli naskah. Terkadang, ada juga permintaan tulisan dari beberapa penerbit, dan ibu-ibu tinggal mengerjakan saja dengan batasan waktu yang sudah ditentukan.

Lulusan sarjana kehutanan ini memiliki 30 buku antalogi yang dia buat bersama ibu-ibu yang lain. Tidak lama lagi akan terbit buku Sri yang ditulis secara solo. Dia pun beberapa kali mendapat permintaan menulis buku dari penerbit. “Pernah nulis buku berdua dan saya dapat jatah 40 halaman. Semua bisa dikerjakan dalam lima hari. Asalkan mau, bisa kok menulis buku hanya dalam hitungan hari,” katanya.

Menulis bisa menjadi profesi yang sangat menjanjikan, ibu-ibu rumah tangga yang produktif menulis bisa menghasilkan tambahan penghasilan yang jumlahnya jutaan rupiah tiap bulan. “Kalau sudah bisa menulis, tidak perlu lagi minta tambahan uang dari suami. Untuk beli keperluan anak pun bisa ditutupi dari honor menulis,” kata Sri, yang juga merupakan ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung ini.

Peluang mendapatkan honor juga bisa dari media cetak, seperti majalah dan koran. Banyak sekali majalah khusus keluarga yang bisa menerima artikel yang dibuat ibu-ibu rumah tangga. Menulis di media cetak ini bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp450 ribu. Bila rutin menulis di beberapa media cetak, akan mendapat penghasilan yang teratur.

Menurut Naqiyyah Syam, nama pena Sri, makin banyak berkarya, maka penghasilan yang didapat makin besar. Jika sudah sering menulis buku dan menulis di media, nama penulis makin terkenal dan honor yang diterima makin tinggi. Dia mencontohkan untuk penulis pemula honor yang diterima dari buku yang diterbitkan hanya Rp3 juta—Rp4 juta. “Kalau sudah banyak buku yang ditulis, honornya bisa sampai Rp6 juta/buku,” kata dia.

Sri menceritakan ada ibu pekerja yang keluar dari pekerjaannya dan menekuni dunia menulis saja karena sudah mendapatkan penghasilan yang lebih dari karya yang dibuat. Ada juga ibu rumah tangga yang bisa menyelesaikan S-2 hanya dengan honor menulis. Menulis menjadi pengisi waktu luang yang menjanjikan bagi ibu-ibu. Piawai menulis tidak hanya menyenangkan, tapi juga menguntungkan! (PADLI RAMDAN/M-2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Agustus 2012

August 11, 2012

Masjid Al Anwar Bandar Lampung Berdiri Pertengahan Abad 19

SALAH satu masjid tertua di Provinsi Lampung yaitu Masjid Jami Al Anwar yang berada di Jalan Laksamana Malahayati, Telukbetung Selatan, Bandarlampung, dibangun pada pertengahan abad ke-19 atau tahun 1839 Masehi.

Pengurus masjid tersebut, Tjek Mat Zain, di Bandarlampung, Sabtu, mengatakan bangunan awal masjid itu merupakan masjid kecil atau musala yang dibangun tahun 1839 Masehi dan bernama Musala Angke.

Ia menjelaskan, surau tersebut pembangunannya dimotori seorang ulama keturunan Kesultanan Bone, Sulawesi Selatan bernama Muhammad Saleh bin Karaeng.

"Rombongan Muhammad Saleh diperkirakan orang Bugis pertama yang bermigrasi ke Lampung. Keturunan mereka kini terus berkembang dan umumnya mendiami wilayah Telukbetung atau pesisir di sini," kata Tjek Mat pula.

Surau tersebut, lanjut dia, menjadi pusat peribadatan dan pembinaan agama Islam bagi nelayan, pedagang, serta masyarakat setempat.

Ketika Gunung Krakatau meletus tahun 1883, surau itu pun rusak parah tertimpa kayu besar dengan panjang lebih dari 20 meter, seperti kebanyakan bangunan di Lampung ketika itu yang rusak binasa.

Kemudian tahun 1888, lanjut dia, tokoh Bugis lainnya, Daeng Sawijaya, mengajak sejumlah saudagar dari Banten, Bugis, Palembang, dan tokoh Lampung membangun kembali dan menjadikan bekas musala itu sebagai masjid.

Bangunan baru itu pun dinamai Masjid Jami Al Anwar yang berdiri dan terus digunakan sampai sekarang.

"Saya sempat melihat pemugaran tahun 1962 dan terus berkembang hingga kini. Namun, ciri khas berupa tiang penyangga sebanyak enam buah, dan masing-masing setinggi delapan meter masih tetap utuh dipertahankan," kata pengurus masjid itu.

Dia menjelaskan, enam tiang yang dibangun tanpa semen tersebut sebagai bentuk simbol Rukun Islam yang enam.

Namun ia tidak bisa menjelaskan siapa orang yang merancang model bangunan tersebut, mengingat tidak ada catatan yang bercerita soal itu.

Boleh jadi, kata dia, bentuk masjid dirancang bersama-sama ketika pembangunan sedang berlangsung.

Selain memiliki nilai sejarah tinggi, ia menambahkan, masjid itu juga memiliki berbagai peninggalan keramat, yakni Alquran kuno dan meriam peninggalan zaman kolonial Belanda.

"Di sini ada sekitar 480 kitab kuno, dan meriam peninggalan zaman penjajahan Belanda yang terletak di halaman depan masjid ini," kata dia menambahkan.

Kini masjid ini telah berkembang dan berada di kawasan permukiman serta pertokoan dan kantor di sekitarnya.

Namun fungsinya sebagai pusat ibadah umat Islam di sekitarnya masih terus berjalan, terutama setiap kali Salat Jumat, dan juga saat Ramadan seperti sekarang ini selalu ramai didatangi umat Islam untuk menjalankan ibadah mereka.

Sumber: Antara, Sabtu, 11 Agustus 2012

August 9, 2012

HUT KE-38: Lampost Harus Pertahankan Kepercayaan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Segenap awak redaksi Lampung Post harus mempertahankan faktor kepercayaan (trust) dalam setiap kebijakan pemberitaan. Faktor kepercayaan tersebut merupakan unsur utama untuk survive di tengah persaingan bisnis era globalisasi.

"Lampung Post harus menjaga kepercayaan agar tetap berada pada jalur yang benar sesuai dengan tugas fungsinya sebagai pers," kata guru besar Universitas Lampung Sudjarwo dalam diskusi di kantor redaksi harian ini, Rabu (8-8).

Diskusi menyambut peringatan ulang tahun ke-38 Lampung Post itu juga menghadirkan pembicara dosen FISIP Unila Syarief Makhya, Pembantu Dekan I FKIP Unila Toha B. Sampurnajaya, dan dosen Fakultas Pertanian Unila Bustomi Rosadi. Pembicara lain, Yuria Putra Tubarat (Kadin Lampung), Yusuf Kohar (Apindo Lampung), dan Agus Nompitu (KAHMI Lampung).

Sudjarwo juga melihat banyak "lulusan" Lampung Post yang kini bekerja di tempat lain masih memiliki gaya tulisan yang khas. "Saya bersahabat dengan Lampung Post sejak 1970-an. Jadi saya hafal betul gaya tulisan wartawan Lampung Post dan itu tidak dimiliki media massa lainnya," ujarnya.

Agus Nompitu mengingatkan jajaran Lampung Post agar pada usia ke-38 tahun mewaspadai kecenderungan penurunan performa yang mengikuti pola diminishing return. Dalam situasi inilah, Lampung Post membutuhkan peranan divisi penelitian dan pengembangan (litbang) yang kuat.

"Litbang memegang peranan penting untuk menjaga kinerja Lampung Post," ujarnya.

Dari aspek bisnis, Yusuf Kohar melihat Lampung Post berhasil menjaga eksistensi sebagai harian tepercaya bagi kalangan pengusaha. Penyajiannya juga cukup lengkap dari berbagai sisi, seperti politik, hukum, dan pendidikan.

"Pengusaha yang baik tidak hanya melulu membaca berita ekonomi dan bisnis, tetapi mengikuti juga perkembangan berita lain karena semua aspek saling terkait dengan situasi bisnis," kata Yusuf.

Sumber: Lampung Post, Kamis, 9 Agustus 2012

August 8, 2012

Sarjana Hukum

Oleh Sudarmono


SAYA kenal dia lebih lima belas tahun lalu. Namanya Heri Wardoyo. Tapi, baru tahu kalau dia punya gelar sarjana hukum sejak beberapa pekan lalu, saat melihat baliho Pemilukada Tulangbawang. Saat ini, dia sedang berikhtiar menjadi wakil bupati Tulangbawang berpasangan dengan Hanan A. Razak.

Saya mengenal dia sebagai guru jurnalistik, redaktur, teman diskusi, dan muara terakhir saat buntu. Soal intelektual, siapa yang meragukan. Ketika menjadi penengah diskusi (moderator) ia bahkan kerap terlihat lebih brilian dari narasumber. Saat diminta komentar tentang—hampir semua hal—, ia menjelaskan dengan perinci, detail, dan rasional.

Banyak mahasiswa, aktivis, bahkan demonstran berguru kepada dia. Urusannya juga macam-macam. Dari konsultasi skripsi, minta akses ke tokoh-tokoh, hingga minta tombokan sangu.

Soal akses, teman satu ini memang paling menggurita. Ilmu saat ia menjadi wartawan Tempo tampaknya menjadi jimatnya. Inti ilmu itu adalah; "Bertemu siapa saja, baik jenderal maupun pemulung, catat namanya dan minta nomor kontaknya. Setelah itu, sapalah minimal setahun sekali. Suatu saat, kita akan butuh dia."

Sebenarnya, saya bukan mau cerita soal kehebatannya. Saya hanya merasa abai, mengapa tidak tahu apa gelar kesarjanaannya, jebolan universitas mana, dan berapa IP-nya.

Ini penting supaya ketika menjadi pemandu suatu acara tidak ada yang merasa cedera karena tidak disebut gelarnya. Sebab, sebagian orang begitu merasa gundah jika semua atribut akademik dan keagamaannya tidak disebut. "Biaya kuliah itu mahal, woi!"

Tapi, saya tidak merasa berdosa. Tradisi di tempat saya bekerja memang tidak melihat siapa lulusan apa dan apa gelarnya. Saya tidak tahu alasannya. Jangan-jangan, karena konon pimpinan tertinggi kami cuma lulus SMA?

Yang pasti, di kantor, saya bersahabat dengan orang-orang cerdas, berwawasan, intelek, dan punya visi yang kuat. Analisisnya luar biasa, argumentasinya ilmiah dan cukup komprehensif.

Supaya tidak kultus tidak terkesan menjelang Lebaran, saya harus menyebut nama-nama beken lain. Ada Bambang Eka Wijaya, penjaga Buras. Ada Djadjat Sudrajat yang tulisan refleksinya begitu mencengangkan. Ada Udo Z. Karzi, pemenang hadiah sastra Rancage. Ada Dominikus Widodo, dalang yang memainkan watak serdadu kompi berandal yang rekonstruksinya sangat detail. Dan masih banyak lagi, kalau ada teman yang tidak disebutkan namanya jangan marah. Semua adalah teman saya. Keteledorannya, saya tidak tahu gelar akademik kawan-kawan.

Ah, betapa beratnya kawan-kawan saya yang lain dengan gelar doktor, MM, MH, MT, dan lainnya. Tapi, saya masih ingat dan percaya dengan apa yang diucapkan Heri suatu saat: "Ini Lampung, Lik Dar. Low profile, enggak laku!"


Sumber: Lampung Post, Rabu, 8 Agustus 2012

August 5, 2012

[Perjalanan] Memeluk Sepi di Danau Ranau

ANGIN Danau Ranau menerpa nyiur yang tak seberapa. Riaknya pun lembut bergumul dengan sepi tiada akhir.


Di bulan Ramadan, danau ini benar-benar hening. Hanya satu dua pengunjung meramaikan danau yang terletak di perbatasan Lampung Barat dan Sumatera Selatan ini. Hanya beberapa penduduk tampak asik dengan aktivitas harian mereka. Anak-anak pulang sekolah, dan nelayan yang menarik jaring ikan. Entah karena saat ini bulan puasa, atau memang beginilah potret Danau Ranau sehari-harinya.

“Sepi memang di sini, kalau cuma memancing dan bakar-bakar ikan, kayaknya jauh amat mau ke sini,” kata salah satu pengunjung yang ikut bersama tim Lampung Post. Padahal, dia sendiri adalah orang Lampung Barat yang tinggal di Liwa.

Penasaran dengan curhat-nya, perbincangan berlanjut tentang harapan pengelolaan Danau Ranau ini. “Coba di sini dibuat waterboom, tempat main anak-anak, ada banana boat, ya apalah yang bisa buat rekreasi keluarga. Apa danau ini tidak cukup aman kali ya,” ujarnya menyangsikan sendiri keinginannya itu.

Setelah melewati papan bertulis “Selamat Datang di Pekon Lumbok”, kami bertemu dengan beberapa rumah penduduk yang menyediakan pendopo dan tempat pemancingan. Akhirnya, kami pun mampir di salah satu pemancingan yang dikelola oleh pemerintah daerah bersama penduduk setempat.

Ada tiga kolam besar yang dibuat dengan cara disekat jaring-jaring besar. Dua pendopo di bagian depan, dan tempat berteduh untuk pemancingan dibangun sepanjang pinggiran kolam. Kembali, yang kami temukan hanya hening. Bahkan, ikan pun seperti enggan memakan umpan di hari itu. Hanya satu ikan yang berhasil ditangkap. Seekor ikan emas kecil yang mengalami sakit di matanya. Karena kasihan, ikan itu pun dilepaskan lagi.

FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/HENDRIVAN GUMAY

Tidak tampak nelayan memancing di tengah danau, hanya ada dua nelayan yang menjaring ikan di pinggiran saja. “Apa danau ini tidak aman kali ya. Sepertinya tidak ada yang berani mencari ikan ke tengah-tengah,” kata penduduk asli Liwa yang ikut bersama kami itu.

Menurut dia, memang pernah ada rumor yang beredar tentang keangkeran Danau Ranau yang menyebabkan hilangnya pengunjung yang bermain ke tengah danau. Makanya, lanjut dia, di Danau Ranau itu tidak ada orang yang berani mandi dan berenang. “Mungkin hal ini yang menyulitkan pemerintah mengembangkan potensi-potensi di danau ini ya,” katanya masih terus memikirkan pariwisata danau itu.

Dia juga menawarkan solusi untuk itu. “Sebaiknya pemda menyurvei dulu kondisi danau ini, baru kemudian dikembangkan wahana-wahana untuk keluarga itu ya,” ujarnya seolah-olah meminta persetujuan dari kami.

Begitulah kondisi Danau Ranau saat itu. Bisa saja nasib kami yang lagi sial, berkunjung di waktu yang tidak tepat sehingga kami hanya bisa menikmati keindahan alam, riak air, bagan nelayan, dan semilir angin danau yang melelapkan.

Huahhh, bulan puasa tamasya ke Danau Ranau, bikin ngantuk, tidak bisa memancing, tidak bisa bakar-bakar ikan. Ini barangkali yang membuat danau ini terasa sepi. Bisa saja, di hari-hari lain, danau ini ramai dikunjungi wisatawan. Sebab, potensi pemandangan alam yang amat menyegarkan itu adalah komoditas amat berharga jika dikelola dengan serius. Semoga! (RINDA MULYANI/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 5 Agustus 2012

[Inspirasi] Hak Paten Ageng Sadnowo

DOSEN Teknik Elektro Universitas Lampung ini membuat alat bantu salat dan menciptakan permainan untuk mendidik anak-anak agar mau berzakat.

Semua inovasi buatannya banyak diminati, khususnya oleh umat muslim. Dia merasa ada semacam ilham untuk membuat alat-alat tersebut.

Dia adalah Ageng Sadnowo Repelianto. Sosoknya sederhana dan masih terlihat sangat muda. Sebagai dosen muda, dia sudah memiliki hak paten, hak cipta, dan hak merek atau teknologi dan inovasi ciptaannya.

Alat bantu salat diciptakan saat masih menyelesaikan pendidikan S-2 Teknik Elektro di UGM. Alat ini membantu orang yang salat untuk mengingat berapa jumlah rakaat. Alat sederhana yang ditempatkan di sajadah ini bisa membantu orang yang sedang sakit, orang pelupa, dan orang yang sudah pikun untuk mengingat jumlah rakaat salat.

Alat sejenis headpad ditempatkan di sajadah dan kemudian dihubungkan dengan layar kecil untuk melihat jumlah rakaat. Ageng menciptakan alat ini saat mengalami cobaan yang cukup berat. Istri dan orang tuanya sakit, dirawat di rumah sakit. Pada saat bersamaan dia pun dituntun untuk menyelesaikan tesis.

Saat kondisi penuh tekanan ini, dia kerap salah dalam mengerjakan salat. Ageng yang kerap jadi imam di masjid ini selalu lupa jumlah rakaat salat dan selalu ditegur oleh makmum di belakang.

Dia pun tidak berani ke masjid dan memilih untuk salat di rumah. Pria kelahiran Malang, 43 tahun lalu ini pun akhirnya mencari alat di toko-toko elektronik di Yogyakarta yang bisa mengingatkan rakaat salat. Setelah berkeliling, tapi tidak juga menemukan alat itu. “Saya pikir kenapa enggak buat alat sendiri saja,” kata Ageng.

Akhirnya dibuatlah model alat bantu salat. Hanya satu jam Ageng membuat model alat tersebut. Namun, pembuatan alatnya membutuhkan waktu sampai tiga minggu. Setelah alat tercipta, justru dia tidak lagi lupa akan rakaat salat. “Orang lain menyebut bahwa saya memang ditugaskan untuk membuat alat bantu salat. Allah mengamanatkan lewat saya untuk membuat alat ini,” kata dia.

Ayah tiga anak ini berharap agar alat bantu salat ini bisa dibuat dengan desain yang lebih kecil dan menarik. Kini dia sedang mengembangkan agar alat bantu salat ini bisa menjadi program dalam handphone supaya lebih praktis. Hak paten alat salat pun langsung didaftarkan lewat Kanwilkumham. Hampir selama enam tahun patennya baru selesai.

Permainan untuk membangun kesadaran berzakat anak-anak juga diilhami saat Ageng menjadi pengurus lembaga zakat di Masjid Alwasii. Meskipun sudah mengajak banyak orang berzakat, sedikit sekali orang yang mau berzakat ke masjid. Dia berpikir bahwa keinginan berzakat perlu dibiasakan dari kecil. Penanaman hal itu bisa dilakukan lewat permainan.

Zakati adalah permainan yang dia ciptakan untuk menanamkan kesadaran berzakat pada anak-anak. Permainan seperti monopoli ini pun sudah mendapat hak cipta dan hak merek. Perlu waktu sekitar 2 tahun untuk mendapatkan sertifikat hak cipta dan merek tersebut.

Kemampuannya dalam bidang elektronika didedikasikan untuk membantu menyelesaikan masalah keseharian yang dihadapi umat Islam. “Lewat ilmu elektro inilah saya bisa berkontribusi. Tapi kalau untuk memasarkan produk yang sudah saya ciptakan, saya tidak bisa,” kata dia.

Zakati pernah ditawar oleh salah satu penerbit besar di Jakarta untuk diproduksi dan diperjualbelikan secara massal. Namun, Ageng menolak karena bila dibuat oleh penerbit besar harga jual permainan zakati mencapai Rp200 ribu. Padahal dia ingin agar semua anak bisa memainkannya. “Kalau harganya mahal, hanya anak orang kaya saja yang bisa membeli,” kata dia.

Zakati pun diproduksi oleh mahasiswanya dan dijual dengan harga Rp75 ribu. Mahasiswa mengerjakan zakati sekaligus sebagai lahan mereka untuk berwirausaha dan menghasilkan pendapatan. Permainan ini pun sedang  dikembangkan menjadi game online.

Ageng menjadi satu-satunya dosen yang sudah memiliki sertifikat hak paten, hak merek, dan hak cipta. Banyak dosen-dosen hebat dan sudah menghasilkan banyak karya, tapi belum tentu memiliki hak paten dan hak cipta. “Saya hanya ingin jadi yang pertama memiliki hak paten dan hak cipta. Kalau jadi yang pertama yang lain kan mengikuti. Kalau jadi yang terbaik selalu ada saingan dan tandingannya. Saya hanya bisa jadi yang pertama untuk mengawali,” kata dia.

Suami dari Ana Andriani ini pun terus berkarya dan menciptakan inovasi baru. Dia sudah membuat program pendeteksi penyakit di tubuh. Dengan program ini, orang bisa memeriksa kesehatan sendiri di rumah melalui komputer atau laptop dan tidak perlu cek ke rumah sakit. Namun, penelitian yang sudah dikerjakan hilang bersama laptop milik Ageng. “Saya harus mulai lagi dari awal,” kata dia. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 5 Agustus 2012

"Terasing di Negeri Sendiri" Gugatan Warga Moromoro

-- Budisantoso Budiman

Bandarlampung - Indonesia sebagai negara hukum dan memiliki konstitusi, semestinya berkewajiban melindungi hak-hak konstitusional seluruh warga negaranya, termasuk warga Moromoro yang bermukim di kawasan hutan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung.

Oki Hajiansyah Wahab, penulis buku Terasing di Negeri Sendiri, saat pembahasan bukunya di Moromoro, Mesuji, Lampung (FOTO: ANTARA LAMPUNG/Dok. Indepth Publishing)

Namun, menurut Oki Hajiansyah Wahab, penulis buku "Terasing di Negeri Sendiri", justru warga Moromoro itu merupakan potret fakta selama belasan tahun telah kehilangan hak-hak konstitusional mereka.

Pemda setempat tidak pernah mengakui keberadaan sebagai penduduk yang sah, hanya karena mereka berdiam di dalam kawasan hutan yang kini pengelolaannya di tangan pihak swasta itu.

"Akibatnya, hak yang seharusnya dinikmati dan dirasakan sebagai warga negara, tidak dapat dirasakan warga Moromoro ini," ujar Oki, penulis yang sedang melanjutkan studi doktor di Universitas Diponegoro Semarang itu pula.

Padahal, kata dia, hak-hak konstitusional merupakan hak setiap warga negara yang seharusnya dijamin penuh oleh konstitusi di negeri ini.

Aktivis yang juga aktif di Yayasan Bimbingan Mandiri (Yabima) dan juga pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung itu pun, terinspirasi untuk menuliskan kisah kepahitan yang dialami masyarakat Moromoro dalam sebuah buku yang kemudian diterbitkan pula dalam edisi bahasa Inggris, "Alienated in Their Own Homeland".

Dia pun mengutip pendapat Prof Wertheim, Indonesianis, dalam bukunya "Elite dan Massa", untuk menggambarkan secara sistematis perlakuan para elite terhadap massa rakyat.

Sadar atau tidak, para elite seringkali mengabaikan dan menyingkirkan keberadaan massa rakyat.

Para elite, baik pejabat maupun ilmuwan, seringkali menganggap rakyat dan kaum yang paling miskin sebagai "orang biasa yang tak perlu dianggap penting dan massa rakyat yang bodoh dan tak tahu apa-apa," kata Oki, mengutip buku tersebut.

Mereka menutup mata terhadap apa yang terjadi maupun dirasakan rakyatnya.

Para elite itu pun cenderung mengabaikan, membiarkan, dan meminggirkan atau bahkan menindas rakyatnya sendiri.

Oki mengakui, penulisan buku "Terasing di Negeri Sendiri" itu, terinspirasi dari kenyataan sosial dan juga pengalamannya selama membantu mendampingi masyarakat Moromoro dalam memperjuangkan hak mereka, menghadapi konflik yang boleh jadi terpanjang di Provinsi Lampung, berlangsung belasan tahun dan sudah melahirkan banyak korban, serta terdedah luas diekspose media massa nasional dan dunia.

Namun permasalahan yang dihadapi warga Moromoro itu, hingga kini belum juga dapat diselesaikan dengan baik.

   
                                       Perlindungan Warga Negara
Saat membahas buku "Terasing di Negeri Sendiri" yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Umitra, di Bandarlampung, belum lama ini, terungkap benang merah bahasan bahwa konstitusi itu tidak begitu saja identik dengan konstitusionalisme.

Menurut Rudi, doktor ilmu hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung, lulusan Kobe University di Jepang, semangat perlindungan seluruh warga negara Indonesia yang ada dalam konstitusi tidak serta-merta berarti otomatis jaminan itu tersedia.

Kondisi perlindungan warga negara yang belum berjalan dengan baik itulah yang dialami warga Moromoro di Mesuji, Lampung, kata dia.

Rudi menggambarkan bahwa negara demokrasi modern, seperti Amerika Serikat, juga membutuhkan waktu untuk mewujudkan apa yang disebut dengan konstitusionalisme itu.

Selaku pembahas buku itu, dia menilai pengabaian hak-hak warga negara seperti yang terjadi di Moromoro adalah potret belum terinternalisasinya semangat konstitusionalisme di kalangan para penyelenggara negara.

Sedangkan Andi Surya, politikus yang juga pimpinan Perguruan Tinggi Umitra Lampung menyatakan keprihatinannya atas apa yang dialami oleh masyarakat Moromoro selama belasan tahun itu.

Dia berharap akan adanya perubahan kebijakan dialami warga Moromoro itu di bawah kepemimpinan Bupati Mesuji yang baru, Khamamik.

"Saya juga akan mencoba menanyakan kepada Pak Khamamik yang kebetulan dulu rekan saya di DPRD Lampung agar kiranya segera ada solusi yang memadai bagi masyarakat Moromoro itu," ujar politikus Partai Hanura Lampung itu pula.

Khamamik, Bupati Mesuji yang sebelumnya adalah anggota DPRD Lampung, diharapkan dapat mengambil kebijakan yang tidak lagi diskriminatif dan terus saja mengabaikan hak-hak warga Moromoro itu.

Oki Hajiansyah, selaku penulis buku itu, mengungkapkan bahwa penulisannya merupakan bagian dari upaya advokasi dan kampanye terhadap apa yang terjadi dan dialami warga Moromoro, di samping juga merupakan bagian dari rencana penelitian disertasinya. 

Ia berharap buku itu kelak akan menjadi "general knowledge" bagi masyarakat Moromoro yang berjuang untuk pemenuhan hak-haknya.

Dr Tisnanta SH MHum, pakar hukum Unila mengungkapkan, perlu adanya hati nurani dalam menjalankan negara hukum.

Hukum hendaknya membahagiakan bagi rakyat, ujar doktor lulusan Universitas Diponegoro ini pula.

Dalam pengantar buku ini, Tisnanta mengutip jaminan konstitusi (Pembukaan UUD 1945) bahwa negara wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa...dan seterusnya sebagai rumusan pesan dari para pendiri bangsa Indonesia yang diletakkan dalam kerangka Negara Hukum Pancasila.

"Namun, ketika atas nama hukum, pedang keadilan dihujamkan ke jantung hati anak negeri, maka menjadi kewajiban bagi semua orang untuk menggugat tindakan itu," kata dia pula.

Menurut dia, buku karya Oki ini adalah sebagian kecil gugatan penulisnya atas kehilangan hurani negara di Register 45 Mesuji, Lampung.

Dia menegaskan bahwa hidup di atas tanah sengketa itu, bukan berarti hak-hak yang dijamin konstitusi menjadi hilang atau bahkan dikriminalisasikan.

"Moral Negara Hukum Pancasila harus tetap meletakkan martabat warga negaranya dalam nurani atau kepedulian," ujar dia.

Menurut Tisnanta, bila para petinggi negara ini memahami konsep "a state with conscience and compassion", maka warga negara yang "terasing" di negerinya sendiri ini tak akan ada.

Namun sekalipun tidak menikmati jasa negara (terutama dalam bentuk pemenuhan hak politik dan pelayanan publik), warga Moromoro tetap melakukan kewajiban sebagai warga untuk mematuhi hukum, kata dia pula.

Buku ini memberikan gambaran bahwa sebenarnya warga Moromoro tidak merasa bahagia dengan menjadi warga negara Indonesia.

Tapi, mereka menyadari dan memahami bahwa negara bukan satu-satunya faktor yang memberi manfaat bagi warga negara, tertib sosial sebagai kerangka terciptanya keadilan sosial, mereka bangun melalui pelaksanaan kewajiban natural bagi sesama.

Tisnanta berharap buku yang merupakan sebuah bentuk tanggung jawab akademis dari penulisnya atas proses advokasi yang telah dilakukan, dapat membuat para petinggi negeri ini dapat belajat bagaimana mengelola negeri dan sekaligus belajar apa yang akan terjadi bila mereka gagal.

Doktor yang juga memberikan kata pengantar dalam buku itu, mengungkapkan bahwa sudah sepatutnya masyarakat Moromoro mendapatkan hak-hak konstitusionalnya, mengingat mereka juga warga negara Indonesia.
  
                                       Kehilangan Hak
Selama belasan tahun masyarakat Moromoro kehilangan hak-haknya sebagai warga negara, akibat berdomisili di kawasan hutan Register 45 yang dikuasai oleh PT Sylva Inhutanni Lampung.

Laporan Akhir Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Mesuji, juga menyatakan bahwa terjadi pengabaian hak-hak konstitusional selama belasan tahun di Moromoro.

Akibatnya, tidak seperti warga negara lainnya, warga Moromoro kehilangan hak-hak dasarnya.

Semua fasilitas sosial dan umum di sini dibangun secara swadaya oleh masyarakat, ujar Syahrul Sidin, Sekjen Persatuan Petani Moromoro Way Serdang (PPMWS).

Oki Hajiansyah menjelaskan bahwa penjualan buku itu, termasuk di luar negeri ini, untuk mendukung keberadaan Pos Kesehatan Masyarakat Moromoro sebagai bentuk kontribusi bagi mereka.

Sebulan setelah peluncuran buku "Terasing di Negeri Sendiri", penerbit Indepth Publishing Bandarlampung meluncurkan edisi Inggris buku tersebut dengan judul "Alienated in Their Own Homeland", kemudian mendistribusikannya ke beberapa negara.

Manager Indepth Publishing, Tri Purna Jaya, menjelaskan bahwa pihaknya kini mencoba peruntungan dengan mendistribusikan buku-buku terbitannya itu ke luar negeri.

"Khusus untuk buku 'Alienated in Their Own Homeland' karya Oki Hajiansyah Wahab, jejaring kami di Hong Kong, Macau, Taiwan, dan Belanda, sudah menyatakan kesediaannya untuk mendistribusikan buku tersebut," kata dia.

Tri menjelaskan bahwa beberapa negara, seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Australia, masih dalam tahap penjajakan mengingat semua masih terkendala dengan mekanisme pengiriman buku.

Khusus negara-negara yang sudah tidak ada masalah lagi, pihaknya memanfaatkan jaringan organisasi swadaya masyarakat dan juga mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Belanda dan kebetulan pulang mudik pada Lebaran kali ini, ujar dia pula.

Menurut dia, buku edisi Inggris itu sedikit berbeda dengan edisi bahasa Indonesia sebelumnya.

Dalam buku itu, kata dia, pihaknya melengkapi dengan peta Kabupaten Mesuji, Register 45, posisi masyarakat Moromoro dan foto-foto dokumentasi masyarakat Moromoro.

"Kami mencetak 1.000 eksemplar edisi bahasa Inggris," ujar Tri.

Menurut dia, di Hong Kong, buku itu akan dipasarkan dengan harga 100 dolar Hong Kong (Rp118 ribu), dan di Eropa akan dijual 10 Euro (Rp120 ribu).

Penulis buku tersebut, Oki Hajiansyah Wahab, menjelaskan bahwa penerbitan buku edisi bahasa Inggris itu adalah upaya untuk menggalang dukungan bagi keberlanjutan Pos Kesehatan Masyarakat Moromoro yang dananya diperoleh dari hasil penjualan buku tersebut.

Selain itu, dia berharap buku sederhana itu akan menjadi pengantar untuk memahami apa yang terjadi di Moromoro di Register 45 Mesuji, Lampung.

Rudi, doktor di Fakultas Hukum Unila, lulusan Kobe University Jepang yang beberapa kali menjadi pembahas buku ini berharap, isi buku tersebut akan terus dikembangkan sehingga menjadi sumbangan bagi pengembangan ilmu hukum di Indonesia.

Rudi berharap pula, akan semakin banyak lagi penulis yang berani mempublikasikan karyanya di luar negeri.

Buku ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak, dan segera pula mendorong negara dan pemerintah untuk mengoreksi kebijakan diskriminatif terhadap warga Moromoro, agar tidak menjadi terus berkepanjangan tanpa akhir seperti sekarang ini. n

Sumber: Antara, Minggu, 5 Agustus 2012

August 4, 2012

Warga Bandarlampung Antusias Menyambut Malam Kunutan

Bandarlampung, 4/8 (ANTARA) - Warga Bandarlampung antusias menyambut malam kunutan atau biasa dikenal malam pertengahan bulan Ramadhan dengan membuat jajanan dan makanan yang akan disajikan di masjid-masjid usai pelaksanaan salah tarawih.

Halimah (70) warga Kaliskawat, Enggal, Bandarlampung, Sabtu, mengatakan, ia beserta keluarga membuat menu istimewa yang akan disajikan untuk jemaah masjid terdekat rumahnya.

"Saya membuat rendang dan opor ayam, nanti setelah salat tarawih akan disajikan kemudian dibagikan kepada warga sekitar," kata Halimah.

Aktivitas yang sama dilakukan oleh Iyah (50) warga Jagabaya II, dia juga membuat makanan yang telah dibagi menjadi lima besek untuk diserahkan ke masjid terdekat rumahnya.

Kunutan, menurut tradisi turun-temurun umat muslim Indonesia, tradisi itu sebagai ungkapan rasa syukur karena telah menjalankan setengah bulan ibadah puasa.

Biasanya, imam masjid membaca doa kunut pada witir rakaat terakhir saat salat tarawih, namun demikian, tidak semua umat muslim menjalankan tradisi pertengahan bulan puasa itu.

Meskipun kunutan menjadi tradisi di Indonesia, namun, ada juga sebagian umat muslim yang memaknai pertengahan bulan puasa dengan meningkatkan amal ibadah di bulan Ramadhan. Pertengahan bulan Ramadhan, dijadikan sebagai peringatan, bahwa Ramadhan akan berakhir dan harus dimanfaatkan dengan peningkatan amal ibadah yang lebih banyak lagi untuk meraih pahala.

Sementara itu, tokoh agama di Lampung Arief Mahya mengimbau  masyarakat untuk menjadikan malam pertengahan Ramadhan sebagai ajang introspeksi.

"Kita tidak pernah tahu, apakah tahun depan masih berjumpa dengan Ramadhan. Maka dari itu perlu kita melakukan muhasabah diri, jangan sampai kita tidak merasakan adanya perbedaan antara bulan Ramadhan dengan bulan lainnya, " katanya menambahkan.

Sumber: Antara, Sabtu, 4 Agustus 2012

August 3, 2012

'Terasing di Negeri Sendiri' Edisi Inggris Terbit

Bandarlampung, 3/8 (ANTARA) - Sebulan setelah peluncuran buku "Terasing di Negeri Sendiri", penerbit Indepth Publishing Bandarlampung meluncurkan edisi Inggris buku tersebut dengan judul "Alienated in Their Own Homeland", kemudian mendistribusikannya ke beberapa negara.

Manager Indepth Publishing, Tri Purna Jaya, di Bandarlampung, Jumat, menjelaskan bahwa pihaknya kini mencoba peruntungan dengan mendistribusikan buku-buku terbitannya itu ke luar negeri.

"Khusus untuk buku 'Alienated in Their Own Homeland' karya Oki Hajiansyah Wahab, jejaring kami di Hong Kong, Macau, Taiwan, dan Belanda, sudah menyatakan kesediaannya untuk mendistribusikan buku tersebut," kata dia.

Tri menjelaskan bahwa beberapa negara, seperti Kanada, Amerika Serikat, dan Australia, masih dalam tahap penjajakan mengingat semua masih terkendala dengan mekanisme pengiriman buku.

Khusus negara-negara yang sudah tidak ada masalah lagi, pihaknya memanfaatkan jaringan organisasi swadaya masyarakat dan juga mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Belanda dan kebetulan pulang mudik pada Lebaran kali ini, ujar dia pula.

Menurut dia, buku edisi Inggris itu sedikit berbeda dengan edisi bahasa Indonesia sebelumnya.

Dalam buku itu, kata dia, pihaknya melengkapi dengan peta Kabupaten Mesuji, Register 45, posisi masyarakat Moro Moro dan foto-foto dokumentasi masyarakat Moro Moro. "Kami mencetak 1.000 eksemplar edisi bahasa Inggris," ujar Tri.

Menurut dia, di Hong Kong, buku itu akan dipasarkan dengan harga 100 dolar Hong Kong (Rp118 ribu), dan di Eropa akan dijual 10 Euro (Rp120 ribu).

Penulis buku tersebut, Oki Hajiansyah Wahab, menjelaskan bahwa penerbitan buku edisi bahasa Inggris itu adalah upaya untuk menggalang dukungan bagi keberlanjutan Pos Kesehatan Masyarakat Moro Moro yang dananya diperoleh dari hasil penjualan buku tersebut.

Selain itu, dia berharap buku sederhana itu akan menjadi pengantar untuk memahami apa yang terjadi di Moro Moro di Register 45 Mesuji, Lampung.

Sambutan atas penerbitan buku edisi Inggris disampaikan oleh dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila), Dr. Tisnanta, S.H., M.H. yang menyambut baik penerbitannya.

Doktor yang juga memberikan kata pengantar dalam buku itu  mengungkapkan bahwa sudah sepatutnya masyarakat Moro Moro mendapatkan hak-hak konstitusionalnya mengingat mereka juga warga negara Indonesia.

Rudi, doktor di Fakultas Hukum Unila, lulusan Kobe University Jepang yang beberapa kali menjadi pembahas buku ini berharap isi buku tersebut akan terus dikembangkan sehingga menjadi sumbangan bagi pengembangan ilmu hukum di Indonesia.

Rudi berharap akan semakin banyak lagi penulis yang berani mempublikasikan karyanya di luar negeri.

Lindungi Warga Negara 

Sebelumnya, saat membahas buku "Terasing di Negeri Sendiri" yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Umitra, di Bandarlampung, Rabu (1/8), terungkap benang merah bahasan bahwa konstitusi tidak begitu saja identik dengan konstitusionalisme.

Menurut Rudi, semangat perlindungan seluruh warga negara Indonesia yang ada dalam konstitusi tidak serta-merta berarti otomatis jaminan itu tersedia. Kondisi perlindungan warga negara yang belum berjalan dengan baik itulah yang dialami warga Moro Moro di Mesuji, Lampung, kata dia.

Rudi menggambarkan bahwa negara demokrasi modern, seperti Amerika Serikat, juga membutuhkan waktu untuk mewujudkan apa yang disebut dengan konstitusionalisme itu.

Selaku pembahas buku itu, dia menilai pengabaian hak-hak warga negara seperti yang terjadi di Moro Moro adalah potret belum terinternalisasinya semangat konstitusionalisme di kalangan para penyelenggara negara.

Sementara itu, Andi Surya, politikus yang juga pimpinan Perguruan Tinggi Umitra Lampung menyatakan keprihatinannya atas apa yang dialami oleh masyarakat Moro Moro selama belasan tahun itu.

Dia berharap akan adanya perubahan kebijakan dialami warga Moro Moro itu di bawah kepemimpinan Bupati Mesuji yang baru, Khamamik.

"Saya juga akan mencoba menanyakan kepada Pak Khamamik yang kebetulan dulu rekan saya di DPRD Lampung agar kiranya segera ada solusi yang memadai bagi masyarakat Moro Moro itu," ujar politikus Partai Hanura Lampung itu pula.

Oki Hajiansyah, penulis buku itu, mengungkapkan bahwa penulisannya merupakan bagian dari upaya advokasi dan kampanye terhadap apa yang terjadi dan dialami warga Moro Moro, di samping juga merupakan bagian dari rencana penelitian disertasinya.

Ia berharap buku itu kelak akan menjadi "general knowledge" bagi masyarakat Moro Moro yang berjuang untuk pemenuhan hak-haknya.

Tisnanta, pakar hukum Unila yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan perlu adanya hati nurani dalam menjalankan negara hukum.

Hukum hendaknya membahagiakan bagi rakyat, ujar doktor lulusan Universitas Diponegoro ini pula.

Acara bedah buku yang dimoderatori Adolf Ayatullah Indrajaya, Pemimpin Redaksi Harian Umum Lampung Ekspres Plus ini diikuti oleh kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, organisasi-organisasi mahasiswa yang ada di Bandarlampung, jurnalis, dan berbagai kalangan lainnya.

Menurut Tri Purna Jaya, selaku pihak penerbit, buku "Terasing di Negeri Sendiri" karya mahasiswa Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Diponegoro-Unila ini, selain menerbitkan edisi Inggris berupa buku "Alienated in Their Own Homeland", pihaknya juga merencanakan akan mencetak edisi kedua buku ini yang hampir habis.

Sumber: Antara, 3 Agustus 2012

August 1, 2012

Udo Z Karzi Penyelamat Tradisi Berbahasa Lampung

SOSOK Udo Z Karzi (42), yang terlihat biasa-biasa saja, tidaklah kita menyangka bila penyair yang juga jurnalis ini memiliki sejumlah karya yang mengagumkan banyak orang dan telah dihargai sejumlah lembaga.

Udo Z Karzi (FOTO: ANTARA LAMPUNG/DOK UDO Z KARZI)

"Udo Zul memiliki sesuatu kemampuan yang berakar pada tradisi Lampung, untuk dikembangkan dan tetap dilestarikan," ujar Drs Iqbal Hilal MPd, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila), saat menjadi pembahas buku Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh karya Udo Z Karzi itu, di Kampus Unila, beberapa hari lalu.

Bedah buku Zul digelar Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila, sekaligus acara buka bersama dihadiri Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Unila, Prof Dr Sunarto DM SH MH dan sejumlah peserta undangan lainnya, sekitar 70-an orang.

Menurut Iqbal, dalam buku yang merupakan kumpulan tulisan kolom "Nuansa" karya Zul yang telah dimuat Harian Umum Lampung Post dalam kurun waktu beberapa tahun sebelumnya (2002, 2003, 2004), menunjukkan gambaran siapa penulisnya yang sebenarnya.

Udo Zul adalah sosok yang tajam daya analitisnya, kritis, dan mampu belajar dari berbagai hal yang berkembang di tengah masyarakat, semuanya mampu dituliskannya dengan baik, ujar Iqbal pula.

Kendati tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam tulisan di buku itu merupakan rekaan, menurut Zul yang nama lengkapnya Zulkarnain Zubairi, sebenarnya menggambarkan keberadaan tokoh aktual yang berada di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Dia berupaya merekam fakta sosial di sekelilingnya dan permasalahan yang membelit bangsa dan negeri serta daerahnya, untuk dituangkan dalam tulisan, agar menjadi perhatian banyak orang.

"Saya juga mengagumi sejumlah penulis Indonesia yang mampu bersikap kritis dan tajam dalam tulisannya, tapi menyajikannya dengan bahasa dan gaya yang memikat," kata dia.

Zul menegaskan, dalam semua tulisan itu, sebanyak 101 buah tulisan berbagai tema, semuanya menyajikan kondisi faktual fenomena di lingkungan masyarakat baik di Lampung, nasional maupun global.

"Di dalamnya saya selalu bicara tentang nilai-nilai, tentang mana yang baik dan buruk, mana yang jahat dan baik, serta mana yang pantas ditiru atau tidak," ujar bapak dari dua putra itu pula.

Ia juga mengaku tak bisa menjelaskan pada bagian mana dalam karya bukunya itu dinilai banyak kalangan sebagai mengandung kearifan lokal (local wisdom) dan tradisi Lampung.

"Yang jelas, saya menuliskan apa adanya, mengalir saja, dengan penjelmaan digambarkan melalui tokoh-tokoh rekaan itu, ada Mamak Kenut, Mat Puhit, Minan Tunja, Pithagiras, Udien, Radin Mak Iwoh, dan Paman Takur," ujar dia lagi.

Penerima hadiah sastra "Rancage" dari karya buku kumpulan sajaknya, "Mak Dawah Mak Dibingi" (2008) ini, dinilai sejumlah pengamat dan kritikus sastra sebagai salah satu aset penyelamat tradisi lokal Lampung dalam kepenulisannya.

Dalam kumpulan sajak itu, Zul menuliskan sajak-sajak berbahasa daerah Lampung yang memang dikuasainya selama ini.

"Saya berusaha dan bertekad sekuat tenaga menjadikan bahasa Lampung menjadi tuan di rumahnya sendiri, serta berupaya terus menyebarluaskannya melalui karya tulis maupun lewat media massa tempat saya bekerja," kata dia.

Tekad dan bukti kerja kerasnya selama ini itulah yang mendapatkan pujian dan penghargaan, termasuk meraih penghargaan hadiah sastra Rancage itu.

"Sosok Udo Zul memang langka di Lampung, dan dengan usia yang masih terbilang muda masih sangat diharapkan untuk dapat terus berbuat mempertahankan tradisi lokal Lampung untuk dilestarikan, terutama menyelamatkan dan melestarikan bahasa Lampung agar dapat digunakan sehari-hari sehingga tidak akan punah," kata Adolf Ayatullah Indrajaya, pimpinan Harian Umum Lampung Eskpres Plus, mengomentari karya dan hasil kerja Udo Z Karzi selama ini.

Sumber: Antara, Rabu, 1 Agustus 2012