March 17, 2013

[Fokus] Harmoni dan Seni Perayaan Nyepi

HARMONI antara ritual Hindu dan kesenian orang Bali cukup terlihat di Lampung. Saat perayaan Nyepi, harmoni keterbukaan warga Lampung dengan budaya Bali amat serasi.

Ratusan warga Bali mengenakan pakaian adat tumpah ruah di Bundaran Adipura, Senin (11-3). Warga dan para tokoh adat datang dan berkumpul untuk mengarak ogoh-ogoh. Empat ogoh-ogoh berupa boneka besar berwajah seram (buto, perlambang perbuatan jahat) diarak lalu dimusnahkan.


Potensi Wisata Lampung Belum Tergali

KEMILING (Lampost) Provinsi Lampung memiliki potensi wisata yang luar biasa, tetapi belum semuanya tergali. Melihat potensi yang bisa dikembangkan untuk kemakmuran masyarakat, Itet Center bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar sarasehan di Sumberejo, Kemiling, Bandar Lampung, Sabtu (16-3).

Acara itu dihadiri masyarakat dan rekanan PNPM se-kabupaten/kota desa wisata. Selain itu, Direktur Pengembangan Destinasi Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bakri serta Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Bandar Lampung M. Harun.


March 16, 2013

Peran TBL Majukan Budaya Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Upaya pemerintah dalam melestarikan budaya di Lampung tidak terlepaskan dari peran kuat pihak Taman Budaya Provinsi Lampung. Sebagai tempat para seniman berkumpul, seharusnya Taman Budaya difungsikan secara maksimal oleh para tokoh seni di Lampung.

Kepala Taman Budaya Provinsi Lampung Helmi Azheharie mengatakan saat ini Taman Budaya Lampung (TBL) sendiri masih dalam tahap persiapan untuk kegiatan yang akan dimulai awal April mendatang. "April nanti, kami akan mengadakan workshop di beberapa kota dan kabupaten yang potensial untuk dikembangkan seninya, seperti seni tari di Tanggamus dan beberapa tempat lainnya," kata helmi


Malam Pesona Tampilkan Pemenang II Sastra Lisan

PRINGSEWU (Pringsewu) Festival Bambu Seribu yang digelar Pemkab Pringsewu akan diakhiri dengan penyelenggaraan malam pesona yang berlangsung Sabtu (16-3) malam.

Acara tersebut merupakan rangkaian yang diawili berbagai lomba yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Parawisata setempat, di antaranya lomba tari kreasi Lampung, lomba lagu pop Lampung, lomba musik bambu, lomba film dokumenter, dan lomba desain kaus Pringsewu.


March 15, 2013

Rycko Menoza Dapat Gelar Adat "Pangikhan Nata Makhga"

Oleh Kristian Ali

BUPATI Lampung Selatan Rycko Menoza SZP mendapatkan gelar adat  (adok) Sesuhunan Tuan Pangikhan Nata Makhga Junjungan Khagom Mufakat 1 yang diberikan oleh Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL).

Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza (tengah) saat prosesi pemberian gelar adat di Kalianda, Lampung Selatan, Kamis (14/3), didampingi Sekdaprov Lampung Berlian Tihang (kanan) dan Ketua MPAL Kadarsyah Irsa. (FOTO: ANTARA LAMPUNG/Kristian Ali)
"Pemberian gelar ini merupakan salah satu bentuk komitmen dalam kekompakan menjaga persatuan dan kesatuan di Kabupaten Lampung Selatan," kata Bupati Rycko, usai menerima gelar tersebut bersama tujuh pejabat setempat, di Kalianda, Kamis (14/3) yang dihadiri oleh Ketua MPAL Provinsi Lampung Kadarsyah Irsa.


March 3, 2013

KIM Tanggamus dan Budaya Lampung (2-Habis)

Oleh Jauhari Zailani

MENGELILINGI rumah-rumah (kantor) kabupaten dan kota yang ada di Lampung. Saya menyaksikan sebuah tafsir pada budaya Lampung dan air. Secara umum terdapat dua ornamen yang bersinggungan, tarik-menarik, saling melengkapi antara jung sebagai alat transportasi, payung sebagai simbol keagungan adat, dan siger sebagai simbol keagungan kekuasaan. Tecermin dalam lambang dan logo daerah kabupaten dan kota, ornamen pagar, dinding bangunan, hingga gapura. Perjalanan itu digambarkan dalam ornamen yang menarik, jung berlayar membawa rombongan orang yang agung berpayung warna-warnai, menuju sebuah tempat. Tempat itu ditandai dengan siger yang menyangga paying keagungan. Apakah ini bermakna? Barangkali akan menarik jika ada yang melengkapi tulisan ini dengan menjelaskan makna dengan holistik antara jung, payung, dan siger.

Seperti telah dicanangkan dan dikukuhkan dalam peraturan daerah Lampung bahwa Lampung adalah Sai Bumi Ruwa Jurai. Bumi Lampung dihuni oleh dua masyarakat adat. Dua masyarakat adat yang dapat dibedakan dari dua karakter alam yang melingkupinya. Orang pantai yang berada di sekitar pesisir Samudera Hindia di Lampung Barat, orang yang hidup di sekitar Teluk Semaka di Kabupaten Tanggamus, orang yang hidup di daerah pantai Telukbetung, orang yang hidup di daerah pantai Selat Sunda dan Laut Jawa di daerah timur Lampung. Orang-orang yang hidup di sekitar pantai ini disebut dengan berbagai sebutan: orang Lampung Peminggir, atau juga orang Lampung Saibatin.


[Lentera] Tuti Melawan Bosan dengan Menulis

SIAPA bilang menjadi penulis adalah pekerjaan yang berat dan rumit? Menulis pun tidak perlu waktu khusus. Menjadi penulis tidak harus menjadi seorang sastrawan terlebih dahulu.

Rostuti Lusiwati Sitanggang menulis belasan buku di sela-sela kesibukannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan ibu rumah tangga. Buku-buku yang ditulis Tuti didasarkan pada pengalaman sehari-hari.


[Fokus] Telukbetung Potret Akulturasi Tionghoa di Lampung

KAWASAN Telukbetung bisa dikatakan pusat keberadaan warga Tionghoa di Lampung. Daerah yang dikenal sebagai pusat perdagangan ini memang didominasi oleh pertokoan milik orang Tionghoa.

Namun, peninggalan-peninggalan kebudayaan China hanya sedikit yang tersisa. Praktis, hanya rumah ibadah, wihara dan kelenteng, yang mencirikan arsitektur China. Tidak ada rumah dan permukiman warga yang mencirikan bangunan Tionghoa.


[Fokus] Jejak Tionghoa Kuno di Lampung

JEJAK Tionghoa di Bandar Lampung sengat terasa saat melewati kawasan Telukbetung. Tidak hanya banyaknya warga Tinghoa yang bermukim, juga peninggalan-peninggalan kebudayaan China yang masih terawat.

Setidaknya ada dua bangunan penting di Telukbetung Selatan yang menjadi saksi bisu bagaimana orang Tionghoa dahulu membangun permukiman di Bandar Lampung. Wihara Thai Hin Bio dan Kelenteng atau tempat kremasi Yayasan Meta Sarana merupakan dua bangunan kuno yang sudah berusia ratusan tahun.


[Fokus] Perayaan Imlek di Lampung

WARNA merah menyala itu dominan dari kejauhan. Sepasang patung naga kembar bertakhta bagai mahkota. Wihara Thai Hin Bio di Telukbetung Selatan itu lebih moncer sebulan terakhir, saat warga Tionghoa merayakan Imlek.

Perayaan pergantian tahun China (Imlek) di Lampung memang tidak semeriah di beberapa kota yang punya basis warga Tionghoa lain. Seperti pergantian tahun 2563 ke 2564, Minggu (10-2) lalu, pusat kemeriahan masih fokus di Wihara Thai Hin Bio.