Oleh Jauhari Zailani
MENGELILINGI rumah-rumah (kantor) kabupaten dan kota yang ada di Lampung. Saya menyaksikan sebuah tafsir pada budaya Lampung dan air. Secara umum terdapat dua ornamen yang bersinggungan, tarik-menarik, saling melengkapi antara jung sebagai alat transportasi, payung sebagai simbol keagungan adat, dan siger sebagai simbol keagungan kekuasaan. Tecermin dalam lambang dan logo daerah kabupaten dan kota, ornamen pagar, dinding bangunan, hingga gapura. Perjalanan itu digambarkan dalam ornamen yang menarik, jung berlayar membawa rombongan orang yang agung berpayung warna-warnai, menuju sebuah tempat. Tempat itu ditandai dengan siger yang menyangga paying keagungan. Apakah ini bermakna? Barangkali akan menarik jika ada yang melengkapi tulisan ini dengan menjelaskan makna dengan holistik antara jung, payung, dan siger.
Seperti telah dicanangkan dan dikukuhkan dalam peraturan daerah Lampung bahwa Lampung adalah Sai Bumi Ruwa Jurai. Bumi Lampung dihuni oleh dua masyarakat adat. Dua masyarakat adat yang dapat dibedakan dari dua karakter alam yang melingkupinya. Orang pantai yang berada di sekitar pesisir Samudera Hindia di Lampung Barat, orang yang hidup di sekitar Teluk Semaka di Kabupaten Tanggamus, orang yang hidup di daerah pantai Telukbetung, orang yang hidup di daerah pantai Selat Sunda dan Laut Jawa di daerah timur Lampung. Orang-orang yang hidup di sekitar pantai ini disebut dengan berbagai sebutan: orang Lampung Peminggir, atau juga orang Lampung Saibatin.