March 24, 2013

[Buras] Selamatkan Liliput di TNWK!

Oleh H. Bambang Eka Wijaya

"DIPERGOKI lebih dari sekali oleh patroli petugas Taman Nasional Way Kambas (TNWK), kehadiran belasan orang kerdil (liliput) di taman itu sudah hampir bisa dipastikan!" ujar Umar. "Kehadiran makhluk sejenis manusia dengan tinggi badan dewasa 50 cm itu layak dihormati sebagai sesama ciptaan-Nya!"

"Untuk itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjaga keselamatan mereka di sekitar tempatnya ditemukan yang diduga sebagai habitatnya, terutama dari gangguan manusia dengan motif apa pun!" timpal Amir. "Apalagi mereka bermukim di taman nasional, yang merupakan suaka?tempat perlindungan?bagi semua makhluk, flora dan fauna! Jadi, kalau tumbuhan dan hewan saja di lokasi itu dilindungi, mereka pun tentu tak kecuali!"


Manusia Kerdil Terus Dicari

LABUHANRATU (Lampost) Petugas Kepolisian Hutan (Polhut) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terus mencari dan menemukan keberadaan manusia kerdil yang sempat terlihat dua kali.

Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) Balai TNWK Sukatmoko, Sabtu (23-3), mengatakan delapan petugas Polhut dilengkapi puluhan kamera jebakan masih berada di sekitar kawasan tempat manusia kerdil itu ditemukan.


[Lentera] Tarian Wayan untuk Keberagaman

I Wayan Mustika
TIDAK banyak peneliti yang mengkhususkan diri pada kesenian Lampung. Apalagi yang menempuh pendidikan formal hingga jenjang doktor dengan konsentrasi seni di Lampung.

I Wayan Mustika memperoleh gelar doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) atas disertasi tentang seni pertunjukan Lampung. Disertasinya berjudul Perkembangan Bentuk Pertunjukan Sakura Dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Lampung Barat Tahun 1986-2009. Bisa dikatakan dialah doktor pertama yang khusus mempelajari soal seni pertunjukan di daerah Sai Bumi Rua Jurai.


Kelampungan

Oleh Asaroeddin Malik Zulqornain


1

‘SENI budaya Lampung’ sebagai refleksi gejolak jiwa ulun Lappung sesungguhnya sudah sejak zaman purba (sampai tulisan ini disusun) telah menjadi Tuan Rumah di Sai Bumi Ruwa Jurai. Terbukti sampai hari ini pembaca masih sering mendengar istilah Cakak Pepadun, Cangget Bakha, Muli Mekhanai, Tapis, Tiyuh, Tari Sembah dan Bahasa Lampung.

Agaknya, sebagai tuan rumah yang baik, orang Lampung dengan piil pesenggiri yang mendarah daging di jiwanya, mengikhlaskan saudara-saudaranya yang datang“ "bertamu” ke Sai Bumi sebagai pendatang dipersilakan untuk menikmati kehidupannya diperantauan Lampung dengan budaya leluhurnya masing-masing!


March 23, 2013

Liliput Ditemukan Di TNWK

LABUHANRATU (Lampost): Petugas Polisi Kehutanan (Polhut) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memergoki belasan manusia kerdil saat melakukan patroli di kawasan hutan tersebut.

Manusia kerdil yang sempat dipergoki tersebut, menurut petugas Polhut, berambut gimbal, memegang tombak kayu, tinggi badannya tak lebih dari 50 cm, dan tidak mengenakan penutup tubuh sedikit pun. "Panjang rambutnya ada yang sampai sepinggul," ujar Humas TNWK Sukatmoko di kantornya kemarin.


[Inspirasi] Cinta Sang Antropolog Berlabuh di Lampung

TERLAHIR dari keluarga yang memiliki kesadaran pendidikan tinggi, terlebih ayahnya berprofesi sebagai dosen dan ibunya guru sekolah dasar (SD) di Sumatera Barat, membuat dia menutup mata terhadap profesi yang lain, selain pendidik.

Profesi yang memang dari dahulu dia impikan untuk bisa mengabdikan diri kepada negeri ini, membuka cakrawala kehidupannya untuk aktif dalam memajukan budaya Lampung. Perempuan satu ini pun berperan aktif sebagai antropolog yang bertanggung jawab tentang budaya di tanah harapan yang telah dia jalankan selama 8 tahun.


March 22, 2013

Doktor Termuda Unila Luncurkan Buku

Oleh Gatot Arifianto


DOKTOR ermuda Fakultas Hukum Unversitas Lampung (Unila), Rudi (32), akan segera meluncurkan buku bertajuk "Hukum Pemerintahan Daerah Perspektif Konstitusionalisme Indonesia".
       
"Buku tersebut diterbitkan Indepth Publishing, berisi berbagai wacana terkait pemerintahan daerah dalam bingkai konstitusionalisme," ujar Direktur Pelaksana Indepth Publishing, Tri Purna Jaya, di Bandarlampung, Jumat.
       

Media Group Tertarik Tangani Festival Krakatau

MEDIA Group berencana menggarap ajang Festival Krakatau 2013 yang digelar di Lampung. Kemarin, tim dari kelompok usaha media itu mengajukan tawaran kepada Kepala Dinas Pariwisata Lampung Sugiyarto.

Media group yang diperkuat Media Indonesia, Metro TV, dan Lampung Post menjanjikan agenda pariwisata tahunan itu akan sangat menguntungkan masyarakat dan pemerintah daerah. "Ada keuntungan ekonomis dan politis yang bisa diraih," kata Asisten Presiden Direktur Media Indonesia Shanty Nurpatria, seusai menemui Sugiyarto, di Bandar Lampung, kemarin.


March 17, 2013

[Fokus] Dari Bali Mengangkat Lampung

BEBERAPA orang suku Bali menggali dan mempelajari kesenian Lampung. Mereka melakukan penelitian ke berbagai pelosok untuk mempelajari seni dan budaya Lampung. Hasilnya, kesenian Lampung pun berkembang dan dikenal berkat sentuhan orang Lampung yang beretnis Bali.

I Wayan Mustika memperoleh gelar magister dan doktor dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berkat penelitiannya soal seni pertunjukan di Lampung. Wayan menjadi doktor pertama yang khusus meneliti soal kesenian Lampung. Anak transmigrasi asal Bali ini kini menjadi pengajar di Pendidikan Seni Tari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung.


[Fokus] Jejak Bali di Kota Tapis Berseri

WARGA Bali di Bandar Lampung membentuk komunitas-komunitas kecil yang dinamakan banjar. Setidaknya ada empat banjar di ibu kota Provinsi Lampung ini, yaitu Banjar Satria di Garuntang, Banjar Buana Santi di Way Halim, Banjar Tengah di Sukabumi, dan Banjar Satya Dharma di Perumahan Cendana.

Jumlah warga Bali di Bandar Lampung mencapai 700 kepala keluarga. Untuk ikut dalam satu banjar, diharuskan untuk mendaftar dan dikenakan iuran. Orang Bali yang akan masuk banjar menyampaikan keinginannnya tersebut dalam rapat banjar.