April 7, 2013

[Fokus] Sulitnya Mencari Tempat Kreativitas

BEBERAPA remaja yang kerap latihan break dance merasa kesulitan mencari tempat latihan yang layak. Taman-taman yang ada di Bandar Lampung tidak memadai untuk dijadikan tempat latihan mengasah kreativitas gerakan.

Meskipun tidak memadai, komunitas break dance tetap memaksakan diri berlatih di Taman Dipangga. Ade, salah seorang penari break dance, pernah dedera pada bagian tangan saat latihan di Taman Dipangga. Lantai yang tidak rata karena rusak, membuat mereka rentan cedera.


[Fokus] Bukan Sekadar Ruang Terbuka

TAMAN tidak hanya sekadar menjadi tempat rekreasi. Ruang publik ini akan menjadi wadah segala macam aktifitas sosial. Public space akan menjadi perekat sosial yang bisa meredam potensi konflik.

Rafael, balita subur itu berlarian menghindari kejaran Eva, ibunya yang memegang mangkok. Derai tawa seolah tak henti dalam canda tarik ulur dalam rangka makan sore sang bocah di Lapangan Kalpataru, Rabu ((3-4) sore lalu.

[Fokus] Bandar Lampung Darurat Taman Kota

Warga Bandar Lampung butuh ruang publik. Namun, pemerintah tak peduli. Maka, taman-taman darurat bermunculan.

Lapangan Kalpataru, Kemiling, Bandar Lampung, mulai ramai ketika menjelang sore hingga malam hari. Berbagai aktifitas menyatu dalam lapangan bola yang sudah disulap menjadi taman yang dilengkapi dengan fasilitas tempat duduk dan jogging trcak ini. Ada yang hanya duduk-duduk santai sambil mengobrol, banyak juga yang jogging sambil mendengarkan lagu melalui head set handphone.


March 31, 2013

Buku Biografi mantan Wakil Bupati Tulangbawang Diterbitkan

Oleh Gatot Arifianto

INDEPETH Publishing menerbitkan buku biografi Agus Mardihartono, Wakil Bupati Kabupaten Tulangbawang Provinsi Lampung periode 2007-2012 yang ditulis Maskut Candranegara,  alumnus Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Bandarlampung.

"Buku biografi yang ditulis oleh Maskut Candranegara dengan editor Adian Saputra tersebut berisi perjalanan karir Agus Mardihartono yang biasa dipanggil Cak Agus," ujar Managing Director Indepth Publishing, Tri Purna Jaya, di Bandarlampung, Minggu (31/3).


[Lentera] Motivasi “Mencontek” ala Suhendra

Suhendra
MENCONTEK tidak ada salahnya. Justru sangat dianjurkan untuk mencontek. Hal itulah yang ditekankan oleh motivator muda, Suhendra. Dia pun dengan lantang mengajak setiap pelajar untuk mencontek. 

Jangan berprsangka negatif dahulu. Mencontek yang dianjurkan Suhendra bukanlah mencontek saat ujian. Melainkan mencontek kesuksesan orang lain dengan meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang sukses. Dengan mencontek orang sukseS maka diharapkan bisa menjadi sukses, bahkan melampui orang yang dicontek.


March 30, 2013

Ikam Ulun Lampung

Oleh Tita Tjindarbumi

JAUH dari tanah Lampung biasanya membuat kita semakin jauh dari peradaban tanah kelahiran. Tetapi itu tak terjadi pada diri ikam. Saya memakai kata “ikam” karena saya asli putri kelahiran tanah Lampung. Tepatnya, nenek moyang ikam berasal dari Kalianda. Ikam justru merasa ingin lebih dekat dengan segala yang berbau lampung, berbicara dalam bahasa Lampung, menulis soal adat istiadat yang berlaku di tanah Lampung bahkan ingin bersastra dengan menggunakan bahasa Lampung.

Namun, ikam yang mengaku Ulun Lampung, sepertinya hanya sebagai sebutan saja. Kenapa begitu? Ikam yang katanya Ulun Lampung, keturunan asli marga Tjindarbumi asal Kalianda, nyata senyatanya, sejak kecil tidak pernah diakrabi dengan hal-hal yang berbau Lampung. Bagaimana mau berkomunikasi dalam bahasa daerah Lampung? Di sekolah sejak TK tidak pernah ada pelajaran bahasa daerah dan di rumah tak ada yang menggunakan bahasa Lampung dalam percakapan sehari-hari.


March 27, 2013

TNWK Buka Pintu untuk Tim Peneliti Liliput

LABUHANRATU (Lampost): Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung Timur mempersilakan para akademisi melacak dan meneliti sekelompok orang kerdil yang dipergoki anggota Polhut di dalam hutan tersebut pekan lalu.

"Kalau ada peneliti yang ingin membantu guna membuktikan keberadaan atau memastikan manusia kerdil, itu sangat bagus, karena sifatnya membantu kami," kata Humas TNWK Sukatmoko, Selasa (26-3).

March 26, 2013

Manifesto Kelampungan Udo Z. Karzi*

Oleh Febrie Hastiyanto**

SELAMA ini publik telah mengenal sejumlah usaha partikelir-perorangan untuk merawat arsip dan kepustakaan di tanah air. Sebut saja H.B. Jassin yang bertahun-tahun setia mengkliping artikel seni dan budaya di koran untuk kemudian didokumentasikan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin. Usaha H.B. Jassin ini diikuti pula oleh Korrie Layun Rampan yang mengumpulkan terbitan sastra dan budaya dalam Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) Korrie Layun Rampan. Selain itu perpustakaan pribadi milik sejumlah tokoh yang menghargai buku tak terhitung jumlahnya, sebut saja Fadli Zon Library, yang dirintis Fadli Zon. Masih ada Perpustakaan Bung Hatta yang memuat koleksi buku sang Wakil Presiden pertama kita—yang kini kondisinya merana sebagaimana PDS H.B. Jassin sebelum teman-teman sastrawan bergerak menyelamatkannya dalam gerakan #koin sastra.

Seturut perkembangan dan kebutuhan peradaban, perpustakaan dan pusat-pusat dokumentasi tak hanya memposisikan diri sebagai tempat menyimpan pustaka, dokumen atau arsip belaka. Perpustakaan-perpustakaan yang ada—yang menggembirakan sebagian dikelola anak muda—kini semakin bersemangat  membuka dan menjadikan dirinya sebagai ruang belajar literasi yang lebih kompleks. Perpustakaan-perpustakaan ini menjelma menjadi komunitas yang tidak hanya menjadi rumah baca namun sekaligus menjadi candradimuka, tempat lahirnya (calon) penulis-penulis baru. Sejumlah kegiatan dirintis, seperti workshop menulis, rangkaian lomba, diskusi, hingga penerbitan. Rumah Dunia yang dirintis Gola Gong di Banten, atau Rumah Baca Asma Nadia yang memiliki cabang di sejumlah daerah, termasuk Iboekoe, komunitas pustaka dan penerbitan yang digawangi anak-anak muda Yogyakarta—yang menonjol sebut saja Muhidin M. Dahlan—dapat disebut sebagai contoh.

Keberadaan Liliput Tantangan bagi Para Akademisi

BANDAR LAMPUNG (Lampost) Keberadaan liliput atau makhluk kerdil yang ditemukan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) beberapa waktu lalu menjadi tantangan bagi akademisi untuk menelitinya. Hal itu terkait keberadaan suku pertama di Lampung, yakni Suku Tumi di Skala Brak, yang juga mempunyai postur kerdil.

Akademisi Universitas Lampung, Bartoven Vivit Nurdin, mengatakan belum ada penelitian ilmiah terkait keberadaan liliput yang sempat terlihat anggota polisi khusus kehutanan (polhut) TNWK itu. ?Saya mau meneliti seperti ini. Tapi waktu, kesempatan, dan biaya belum ada untuk sementara ini,? ujar Bartoven yang juga dosen antropologi FISIP Unila saat dihubungi tadi malam.


Buku 'Menjadi Hakim Progresif' Diluncurkan

BANDAR LAMPUNG (Lampost) Fakultas Hukum Unila dan Indepth Publishing meluncurkan buku Menjadi Hakim Progresif karya J.P. Widodo di ruang sidang Fakultas Hukum pada hari ini pukul 09.00.

Acara ini digelar untuk menghormati dedikasi almarhum semasa mengabdi di Fakultas Hukum Unila. Kolega almarhum, H.S. Tisnanta, menjelaskan buku ini adalah rancangan disertasi almarhum yang belum sempat diujikan.