Oleh Febrie Hastiyanto**
SELAMA ini publik telah mengenal sejumlah usaha partikelir-perorangan untuk merawat arsip dan kepustakaan di tanah air. Sebut saja H.B. Jassin yang bertahun-tahun setia mengkliping artikel seni dan budaya di koran untuk kemudian didokumentasikan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin. Usaha H.B. Jassin ini diikuti pula oleh Korrie Layun Rampan yang mengumpulkan terbitan sastra dan budaya dalam Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) Korrie Layun Rampan. Selain itu perpustakaan pribadi milik sejumlah tokoh yang menghargai buku tak terhitung jumlahnya, sebut saja Fadli Zon Library, yang dirintis Fadli Zon. Masih ada Perpustakaan Bung Hatta yang memuat koleksi buku sang Wakil Presiden pertama kita—yang kini kondisinya merana sebagaimana PDS H.B. Jassin sebelum teman-teman sastrawan bergerak menyelamatkannya dalam gerakan #koin sastra.
Seturut perkembangan dan kebutuhan peradaban, perpustakaan dan pusat-pusat dokumentasi tak hanya memposisikan diri sebagai tempat menyimpan pustaka, dokumen atau arsip belaka. Perpustakaan-perpustakaan yang ada—yang menggembirakan sebagian dikelola anak muda—kini semakin bersemangat membuka dan menjadikan dirinya sebagai ruang belajar literasi yang lebih kompleks. Perpustakaan-perpustakaan ini menjelma menjadi komunitas yang tidak hanya menjadi rumah baca namun sekaligus menjadi candradimuka, tempat lahirnya (calon) penulis-penulis baru. Sejumlah kegiatan dirintis, seperti workshop menulis, rangkaian lomba, diskusi, hingga penerbitan. Rumah Dunia yang dirintis Gola Gong di Banten, atau Rumah Baca Asma Nadia yang memiliki cabang di sejumlah daerah, termasuk Iboekoe, komunitas pustaka dan penerbitan yang digawangi anak-anak muda Yogyakarta—yang menonjol sebut saja Muhidin M. Dahlan—dapat disebut sebagai contoh.