May 3, 2013

Rembuk Seniman Lampung: Seniman Membuat Hidup Selalu Pas

KEHADIRAN seniman dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Mereka ibarat vitamin dalam yang menggairahkan kehidupan dan membuat takaran hidup menjadi pas dan nyaman.

Pemimpin Redaksi Lampung Post Gaudenisus Suhardi mengungkapkan hal itu  pada 'Rembuk Seniman Lampung' yang digelar di aula Lampung Post, Rabu (1-5).


Bahasa Lampung Masuk Kurikulum 2013

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bahasa Lampung akan masuk kurikulum 2013. Muatan lokal (mulok) ini terintergerasi ke dalam mata pelajaran Seni Budaya. Demikian disampaikan oleh Kepala Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhammad Hamka, saat workshop metodologi pembelajaran bahasa dan aksara Lampung di Hotel Kurnia, Bandar Lampung, Kamis (2-5).

Dimasukkannya mulok Bahasa Lampung ke kurikulum tersebut sesuai UUD 1945 Pasal 32 Ayat (1) menyebutkan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Serta Ayat (2) bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.


May 2, 2013

[Inspirasi] Djuhardi Basri: Pendidik yang Juga Sastrawan Lampung

Oleh Lukman Hakim


Djuhardi Basri dan istri
BAGI pria satu ini, puisi adalah menangkap kata-kata yang menggetarkan sehingga diksi menjadi unsur yang sangat penting dalam menciptakan puisi. Siapa lagi kalau bukan Djuhardi Basri. Dia dilahirkan di Kotabumi, 27 November 1960, putra dari pasangan Basri K.A. dan Nurhayati yang merupakan ulun (orang) Lampung asli. Ketekunan Djuhardi membaca karya-karya puisi Prancis semasa kuliah membawanya terinspirasi membuat karya-karya puisi sendiri.

Masa sekolahnya dari tingkat SD hingga SMA dia selesaikan di Lampung. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Dia juga pernah kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo, tetapi tidak diselesaikan.


April 28, 2013

[Buku] Pergulatan Udo Z Karzi untuk Kelampungan

Data buku
Feodalisme Modern, Wacana Kritis
tentang Lampung dan Kelampungan
Udo Z Karzi
Indepth Publishing, Bandar Lampung
I, April 2013
xii + 144 halaman
HARUS diakui bahwa pembicaraan tentang Lampung sebagai etnis (ethnic) yang inhern di dalamnya masyarakat (society), bahasa (language), sastra (literature),  kesenian (art),  adat-istiadat (customs) , kebiasaan (habit), dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan (culture) Lampung yang mahakompleks; boleh dikatakan sangat minim. Dalam skala nasional, kebudayaan Lampung boleh dibilang selalu luput dari perhatian.


Pertanyaan yang cukup keras adalah benarkah apa yang disebut dengan kebudayaan Lampung itu ada. Bukankah yang muncul di permukaan selama lebih seremoni-seremoni yang cenderung simbolik dan jauh dari esensi dari keberadaan adat (baca: kebudayaan) Lampung itu sendiri? Yang lebih kelihatan dari  ulun Lampung adalah klaim-klaim pihak-pihak tertentu atau sebaliknya, acap kali ada tendensi untuk meniadakan kebudayaan Lampung. Dan, yang paling sering adalah pemaknaan sporadis dan “menyesatkan” dari adat Lampung itu sendiri.


Makam H.N. van der Tuuk

Esai foto Arman AZ


NAMA Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894) mungkin tidak familiar di telinga awam, padahal dia berjasa besar bagi upaya pelestarian bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Dia yang pertama kali membuat kamus bahasa Batak-Belanda, pertama kali membuat kamus bahasa Bali-Kawi-Belanda, dan kamus Melayu-Belanda. 


Epitaf H.N. van der Tuuk, foto November 2012

April 24, 2013

Menyegarkan (Kembali) Rumusan Kelampungan

Oleh Darojat Gustian Syafaat


BUKU Feodalisme Modern Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan yang ditulis Udo Z. Karzi (diterbitkan Indepth Publishing, April 2013) menjadi suatu sumbangan pemikiran yang patut dikaji secara mendalam lagi, terutama oleh masyarakat Lampung sendiri.

Buku ini tampaknya memang interpretasi yang muram tentang Lampung dan kelampungan. Di dalamnya Udo Z. Karzi menggambarkan secara dramatis ulun Lampung yang bersikukuh untuk disebut sebagai “kesatuan (masyarakat) yang sekiranya (akan) sadar-diri mengenai keberasal-usalannya”. Namun, terus menerus mengalami kekisruhan akibat munculnya guncangan-guncangan yang mengakibatkan mandeknya penyegaran pemikiran yang murni  demi kemajuan ulun Lampung itu sendiri.


April 23, 2013

Pergelaran Raden Jambat Dibuka

BLAMBANGAN UMPU (Lampost) Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. membuka pergelaran Festival Raden Jambat VIII dalam rangka HUT ke-14 Kabupaten Way Kanan, Senin (22-4).

Sebelum pembukaan pergelaran, Gubernur Lampung meninjau jalannya ujian nasional di SMP Negeri 1 Blambangan Umpu. Setelah itu barulah menghadiri acara pembukaan acara Festival Raden Jambat di Islamic Center Blambangan Umpu.


April 22, 2013

Perupa Ari Susiwa Ikut Pameran Seni Rupa Nusantara

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lukisan bertajuk Mesuji "Amuk" Sidomulyo karya perupa Lampung Ari Susiwa Manangisi lolos dalam seleksi Panitia Pameran Seni Rupa Nusantara 2013 yang digelar Galeri Nasional Indonesia tahun ini.

Ari Susiwa Manangisi menjadi satu-satunya perupa Lampung yang bakal memajang lukisannya dalam pameran yang akan dibuka Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Wiendu Nuryanti.


Festival Radin Jambat Meriahkan HUT Way Kanan

BLAMBANGAN UMPU (Lampost) Pergelaran Festival Radin Jambat akan memeriahkan peringatan hari ulang tahun (HUT) Kabupaten Way Kanan. Festival itu mengambil tema Keanekaragaman budaya daerah wujud dari Bhinneka Tunggal Ika, sebagaimana bumi dipijak di situ langit akan dijunjung.

Pelaksanaannya akan dimulai 22?30 April, bertempat di Islamic Centre Blambangan Umpu dengan penanggung jawab acara dari Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporabudpar).


April 21, 2013

[Fokus] Berharap pada Kurir Buah

JALAN aspal di daerah Batuputu, Bandar Lampung, lengang, Rabu pekan lalu. Pada hari kerja, jalur di daerah perbukitan ini memang tidak seramai di pusat kota. Saat orang pulang kerja sore hari, lima pengendara sepeda motor justru baru memulai harinya. Mereka adalah pengantar dan pemburu buah lokal.

Pada bagian belakang sepeda motor, ada dua keranjang yang berisi penuh buah, pepaya dan pisang. Semua buah yang dibawa masih mentah. Sepeda motor yang dikendarai terlihat kotor, menjadi bukti kerja keras mereka mengantar dan berbubur buah.