May 16, 2013

Genta Kencana Open Casting Film

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Genta Kencana Entertainment (GKE), sebuah Rumah Produksi (Producion House) hadir menyemarakkan kehidupan dunia perfilman di Lampung. Komitmennya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan karakter bangsa.

Menurut Direktur GKE, Agus Effendi mengatakan, sebagai “gebrakan” tahun ini, GKE membuka kesempatan bagi masyarakat Lampung mengikuti “Open Casting Film” untuk mencari bintang-bintang berbakat sebagai aktor dan aktris. PH-nya telah siap memproduksi beberapa episode FTV dengan judul besar “Kembang Tanah Air”.


May 15, 2013

Advokat Kebudayaan Lampung

Oleh Asarpin


SEORANG advokat kebudayaan umumnya memiliki kecenderungan sebagai seorang pembela gigih nilai-nilai budaya yang diyakninya benar.  Maka tak heran jika di antara mereka ada yang menjadi pemuja kebudayaan lokal, sekaligus menjadi pejuang gigih warisan kebudayaan primordial. Dalam sikap dan tindakannya, para advokat kebudayaan model ini sangat apologetik dan eksklusif. Mereka akan mempertahankan mati-matian apa yang diyakini benar tanpa mau membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan pihak lain.

Seorang advokat memiliki kecenderungan berdebat dan mengkritik. Bagi mereka, perdebatan adalah ajang unjuk kebolehan argumentasi, unjuk keilmiahan teori, dan ajang memojokkan lawan yang dianggap berbeda dan tak sepaham. Sementara kritik bagi mereka menjadi semacam keharusan untuk membangun wacana kritis di bidang kebudayaan.


May 11, 2013

Horison Lampung untuk Kaum Muda

Oleh Andry Saputra

SANGAT menarik membaca tulisan Darojat Gustian Syafaat berjudul Menyegarkan (Kembali) Rumusan Kelampungan (Lampung Post, 24 April 2013) dan tulisan Hardi Hamzah berjudul Obsesi Punahnya Lampung? (Lampung Post, 3 Mei 2013).

Dua tulisan yang membahas buku Feodalisme Modern Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan, karya Udo Z. Karzi (diterbitkan Indepth Publishing, April 2013), membuat saya merenung apakah kita sedang berada di penghujung kekuatan atau kelemahan.


May 8, 2013

[Inspirasi] Arman A.Z.:Menekuni Ihwal Kelampungan

Oleh Lukman Hakim


Arman A.Z
KEBIASAAN membaca sejak SMP mengantarkan pria satu ini menjadi seorang penulis Lampung. Dia ingat buku-buku sastra yang pernah dibacanya, seperti buku-buku Ahmad Tohari, Motinggo Busye, Hamsad Rangkuti, Gola Gong, dan Seno Gumira Ajidarma.

Buku-buku itu dipinjam Arman A.Z. dari perpustakaan sekolah atau Perpustakaan Daerah Lampung. Kini, dia lebih dikenal sebagai cerpenis meskipun juga menulis esai, cerita anak, atau, feature.


May 6, 2013

Mukhlis Ajak Warga Lestarikan Budaya Nyambai

LIWA (Lampost): Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melesatrikan adat dan budaya sebagai salah satu kekayaan yang menjadi warisan leluhur dan telah turun-temurun terjaga di bumi Lampung.

Mukhlis Basri, Minggu (5-5), mengatakan di tengah modernisasi zaman dan kecanggihan teknologi saat ini ternyata kekayaan budaya sebagai warisan nenek moyang masih memiliki nilai tersendiri di mata masyarakat, tetapi upaya pelestarian budaya mulai kurang diminati oleh kaum muda.


May 5, 2013

Budaya Lampung Versus Budaya Global

Oleh M. Benyamin E. Djauhar


AKULTURASI budaya yang semakin njlimet di indonesia mengingatkan penulis pada Umar Kayam, yang menuturkan bahwa pertumbuhan budaya yang semestinya berstandar pada hakikat kebudayaan dan tradisi rakyat.

Ya, kebudayaan kita njlimet karena berbaur dengan menguatnya kebudayaan massa yang jauh dari prospek pertumbuhan jati diri bangsa. Gencarnya dunia informatika yang telah dijuluki ?tuhan kedua? simultan menggeser nilai-nilai tradisi dan budaya kita yang semakin rapuh. Budi pekerti yang disirnakan oleh proses tonggak reformasi yang mencabik nilai nilai hakiki kita, suka atau tidak suka telah merampas spiritualitas secara universal.


Mahasiswa Kritisi Pemerintah lewat Foto

BANDAR LAMPUNG (Lampost) Mengkritisi pemerintah tidak hanya melalui aksi massa turun ke jalan. Unit Kegiatan Penerbitan Teknokra Unila mengkritik kinerja aparatur pemerintah melalui pameran foto bertema PR untuk pemimpin Lampung di Plaza Lotus, Sabtu (4-5).

Ketua pelaksana kegiatan, Novalinda Silviana, mengatakan Rally Foto Season 7 UKPM Teknokra Unila ini dimulai sejak 28 April. Kemarin panitia memamerkan foto- foto yang menang dengan mengambil empat sub meliputi pembangunan, kemacetan, kemiskinan, dan lingkungan. "Hari ini (kemarin, red) kami pamerkan foto-foto yang menang, di antaranya foto pembangunan, kemacetan, kemiskinan, dan lingkungan," kata Novalinda.


May 4, 2013

[Tajuk] Menghidupkan Kesenian

PEMBANGUNAN selama ini yang hanya memuja politik dan ekonomi telah meninggalkan luka bangsa teramat mendalam, yaitu bangsa berwatak korup. Sudah saatnya bangsa ini menempatkan kesenian sebagai prioritas perhatian.

Kesenian ialah oasis. Sungguh tak terbayangkan kehidupan sebuah bangsa tanpa kesenian. Tapi, justru itulah yang selama ini diabaikan pemerintah, termasuk pemerintah daerah di Lampung. Bukan cerita baru jika nasib seniman selalu memprihatinkan. Hampir tidak ada perhatian berarti pemerintah daerah di Lampung terhadap seniman dan kehidupan kesenian.


May 3, 2013

Obsesi Punahnya Lampung?

Oleh Hardi Hamzah


KEGELISAHAN Udo Z. Karzi (selanjutnya disebut Udo), memang patut mendapat perhatian kita bersama. Udo terus memetakan Lampung dalam artian yang sebenarnya.

Betapa pun, torehan-torehan yang hadir dari bukunya yang berjudul Feodalisme Modern, Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan (Indepth Publishing, April 2013) menggugah cakrawala kesadaran kita, di mana, apa, dan  bagaimana mengidentifikasi Lampung secara metodelogis dan terukur dalam dimensi kesejarahan dan keilmuan.


Rembuk Seniman Lampung: Membangun 'Ruang Kreatif' Seniman

ADOLF Ayatullah Indrajaya bersemangat menceritakan pengalamannya bersama sekelompok musisi yang menggelar cetik on street pada Ramadan tahun lalu. Ketika itu, para seniman ini mencari pengusaha swasta sebagai sponsor kegiatan cetik on the street untuk mengisi acara ngabuburit. Tentunya dengan kesepakatan mereka mereka harus mempromosikan produk perusahaan tersebut.

Namun sayang, sponsorship itu batal karena nego harga yang ditolak mentah-mentah oleh pihak pengusaha. “Waduh, gara-gara nego harga dari Rp10 juta menjadi Rp11 juta, kita malah ditolak,” ujar Adolf yang juga Pemimpin Redaksi Lampung Ekspres Plus ini mengutip keluhan teman-temannya waktu itu.