April 9, 2008

Karya Tulis: Lomba Menulis Surat kepada Calon Gubernur

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kelompok Belajar Kebudayaan (Kebuayan) Lampung menggelar lomba menulis surat kepada calon gubernur Lampung dalam bahasa Lampung. Lomba untuk siswa SMP yang belum memiliki hak pilih. Mereka harus memberi masukan apa yang harus dilakukan gubernur setelah terpilih.

Peserta sudah dapat mengirimkan karyanya mulai sekarang hingga 1 Juni 2008. Pada 10 Juni, panitia mengumumkan pemenang lomba. Karya peserta dapat dikirim ke Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) di kompleks Gelora Persada Blok A-1 No. 9 Rajabasa, Bandar Lampung. Atau dapat juga dikirim ke e-mail: kebuayan.lampung@yahoo.com.

Ketua Panitia Lomba Okky Sanjaya mengatakan panitia menyediakan hadiah senilai total Rp2,25 juta untuk tiga pemenang; Rp1 juta untuk juara I, Rp750 ribu (II), dan Rp500 ribu (III). Setiap juara juga akan mendapat piagam penghargaan. "Pemenang diundang dalam acara penyerahan hadiah sekaligus diminta membacakan surat masing-masing," kata Okky yang juga mahasiswa FKIP Universitas Lampung, Senin (7-4).

Persyaratan lain, peserta yang mengikuti lomba harus menyertakan fotokopi kartu tanda pelajar atau surat keterangan yang dibuat sekolah masing-masing. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu surat dan karya sendiri. "Tidak dilarang kalau peserta ingin berdiskusi lebih dahulu dengan rekan-rekan atau para guru untuk menentukan tema yang akan dijadikan surat," kata dia.

Menurut dia, surat tersebut boleh berbicara apa saja terkait kepentingan masyarakat Lampung, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan, maupun hukum.

Peserta harus mengaitkan persoalan yang dibicarakan dengan sosok calon gubernur Lampung tertentu dan menyimpulkan bagaimana seharusnya calon gubernur Lampung itu memainkan peran kalau nanti terpilih. "Sengaja kami memilih peserta siswa SMP. Mereka sering tidak diperhitungkan dalam hiruk-pikuk Pemilihan Gubernur Lampung akhir-akhr ini, padahal mereka generasi muda yang kelak menentukan siapa yang jadi pemimpin di provinsi ini," kata dia. n AAN/K-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 9 April 2008

Lingkungan: Kondisi DAS di Lampung Memburuk

Bandar Lampung, Kompas - Tiga dari enam daerah aliran sungai atau DAS di Lampung masuk dalam kategori sangat kritis. Hal itu akibat meluasnya pembukaan daerah tangkapan air di hulu dan pesatnya erosi.

Kepala Balai Pengelolaan DAS Sungai Way Seputih-Way Sekampung, Lampung, Lamris Sitompul seusai seminar konservasi tanah dan air, Selasa (8/4) di Bandar Lampung, mengatakan, yang kritis adalah DAS Way Sekampung, Way Semaka, dan Tulang Bawang.

Tahun 1999, DAS Way Sekampung merupakan DAS yang masuk prioritas pertama atau kategori sangat kritis, lima DAS lain masuk prioritas kedua. Pada penelitian tahun 2003, DAS Tulang Bawang dan DAS Way Semaka berubah menjadi prioritas pertama.

Penyebabnya, tutupan hutan di hulu DAS Way Sekampung kurang dari 30 persen, DAS Tulang Bawang kurang dari 20 persen, dan DAS Way Semaka sekitar 30 persen akibat pembukaan hutan menjadi kebun kopi. Hal itu dilakukan tanpa menerapkan konservasi tanah dan air sehingga fungsi hutan sebagai pengatur tata air hilang.

Dampak selanjutnya, tingkat erosi di hulu sangat tinggi dan meningkatkan sedimentasi di aliran sungai. Hal itu mengurangi kapasitas tampung sungai. Pada musim hujan akan terjadi banjir dan pada musim kemarau terjadi kekeringan.

Balai Pengelolaan DAS Way Seputih-Way Sekampung mencatat ada 500.000 hektar lahan kritis di sekitar tiga DAS. Namun, menurut Sitompul, pihaknya hanya mampu merehabilitasi 112.000 hektar lahan kritis akibat terbatasnya pendanaan.

Naik Sinukaban, guru besar Konservasi Tanah dan Air Institut Pertanian Bogor yang menjadi pembicara dalam seminar, mengatakan, sudah saatnya pemerintah memikirkan cara konservasi tanah yang sesuai dengan jenis tanah. Misalnya, penggunaan pupuk hijau, pupuk kandang, penanaman dan pengelolaan tanah menurut kontur, penanaman tanaman penutup tanah, dan membuat terasering.

Hutan bakau

Konversi lahan juga menjadi penyebab penyusutan hutan bakau di Provinsi Jambi sebesar 6 persen atau 64.498 hektar.

Senior Staff Wetlands International Indonesia Program Iwan Tri Cahyo Wibisono mengatakan, fungsi hutan bakau adalah melindungi daratan dari kemungkinan bencana, seperti tsunami atau air laut pasang. Sayangnya, hampir seluruh hutan bakau di Jambi telah dijadikan tambak.

”Hutan bakau di Jambi kini tinggal 251 hektar,” ujarnya dalam seminar nasional ”Penyelamatan Potensi Sumber Daya Lahan Basah Pesisir Pantai Timur Jambi”, Selasa di Jambi.

Kerusakan juga terjadi di kawasan gambut. Kerusakan besar- besaran terjadi tahun 1997, seluas 25.000 hektar di Taman Nasional Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Hal itu akibat kebakaran lahan serta pembukaan kanal untuk lahan kelapa sawit. (HLN/ITA)

Sumber: Kompas, Rabu, 9 April 2008

Pariwisata: Seminung Lumbok Resort di Lambar Tawarkan Pesona Danau Ranau

Bandarlampung, 9/4 (ANTARA) - Kawasan Wisata Terpadu Seminung Lumbok Resort (KWT SLR) di Lumbok, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, menawarkan pesona alam yang menantang di sekitar Danau Ranau.

KWT SLR dibangun dengan fasilitas wisata modern, layaknya hotel berbintang dan resort wisata ternama lainnya.

Awalnya KWT SLR dikelola oleh dinas pariwisata setempat, kini sepenuhnya ditangani badan usaha daerah Kabupaten Lambar.

Di kawasan itu terdapat hotel yang berada di tepi Danau Ranau, yang sebagian masuk wilayah Kabupaten Lambar, Provinsi Lampung dan sebagian lain masuk wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

Di sekelilingnya terdapat hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang merupakan salah satu kawasan hutan alam tropika basah seluas sekitar 350.000 Ha, yang oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai "situs warisan dunia".

Fasilitas lain adalah convention hall (ruang pertemuan) yang representatif dan beberapa cottage.

Selain bisa menikmati indahnya Danau Ranau, pengunjung dapat melakukan aktivitas alam seperti jungle track (jelajah hutan), berperahu motor tradisional, memancng di danau, pesta pinggir danau, serta berkemah pada area seluas sekitar 15 ha. Terdapat pula pemandian air panas tak jauh dari lokasi itu.

Bupati Lambar, Mukhlis Basri, menegaskan, pihaknya akan gencar mempromosikan potensi wisata di daerahnya, termasuk pesona Danau Ranau itu.

Perjalanan ke kawasan wisata itu dapat ditempuh sekitar 30 menit dari Liwa, ibukota Kabupaten Lampung Barat. Selama perjalanan disuguhi
pemandangan pesona alam yang asri dan iklim yang sejuk, dengan kebun kebun dan pepohonan rindang di sekitarnya.

Hotel di kawasan wisata itu memiliki 16 kamar. Terdapat dua cottage dengan kolam renang pribadi. Pada setiap kamar terdapat TV saluran nasional. Tarif kamar hotel dan cottage berkisar Rp300.000 hingga Rp1,1 juta.

Convention Hall berkapasitas 400 orang, bisa 200 orang setara ruang kelas dan 100 orang peserta konferensi serta 450 orang untuk pesta koktail, dan 250 orang untuk banquet.

Namun perjalanan panjang mesti dijalani untuk menuju Liwa, yang harus ditempuh selama tujuh sampai delapan jam dari Bandarlampung.

Potensi wisata di Kabupaten Lambar merupakan salah satu jalur dari "segitiga emas" objek wisata unggulan Lampung, mulai dari Pusat Latihan Gajah dan Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur ke kawasan Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Danau Ranau di Lampung Barat itu.

Sumber: Antara, 9 April 2008

April 8, 2008

Seni: Teater Satu Sukses Pentaskan 'Wanci' di TUK

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Satu Lampung sukses mementaskan monolog Wanci karya Imas Sobariah di Teater Utan Kayu (TUK) Jakarta selama dua hari berturut-turut, 28--29 Maret lalu.

Imas Sobariah dari Teater Satu mengemukakan pementasan yang dilakukan ini merupakan undangan dari TUK kepada Teater Satu untuk mementaskan karyanya. "Kami sangat surprise ketika pada hari pertama pertunjukan penontonnya membeludak. Bahkan di hari kedua pertunjukan banyak mereka yang tidak bisa masuk karena tempat sudah penuh," kata Imas, Minggu (6-4).

Malahan menurut dia, banyak dari penonton yang mengharapkan pementasan kali ini digelar selama tiga hari. "Tapi kami tidak mewujudkan permintaan tersebut karena kami meneken kontrak dengan TUK untuk dua hari pertunjukan saja," ujar dia.

Lebih menggembirakan lagi yang menyaksikan pertunjukan tidak hanya seniman dan masyarakat Indonesia saja, tapi ada warga negara China. "Mereka datang dengan mengajak keluarganya. Selain itu juga, apresiasi juga disampaikan penyanyi Ria dari grup vokal Warna sangat tertarik dengan dialog yang ditampilkan," ujar dia.

Imas mengemukakan pertunjukan kali ini, ada beberapa adegan dan dialog yang dibuat berbeda dari pertunjukan Wanci beberapa waktu lalu. "Ya kesemuanya dilakukan demi perbaikan lakon dan naskah yang dibawakan. Alhamdulillah, ternyata mendapatkan apresiasi yang baik."

Sedangkan untuk pemainnya sendiri, kata dia, masih dibawakan oleh Ruth Marini atau Uthe yang merupakan pemain terbaik dalam gelaran festival Monolog DKL 2007 lalu. "Untuk tim Teater Satu yang tampil terdapat delapan orang yang meliputi pemusik, penata panggung, artistik, konstum, make up, dan sebagainya," tambah Imas lagi.

Selain itu, Imas juga mengemukakan bulan Juli 2008 mendatang akan menggelar Teater Satu Ekspo di Jakarta selama satu pekan. "Jadi kami akan melakukan tujuh pementasan monolog selama sepekan di TUK serta pementasan teater di Gothe Institute," ujar dia. n TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 8 April 2008

April 7, 2008

Lampung Pilih Duta Bahasa Tahun 2008

Bandarlampung, 7/4 (ANTARA) - Kantor Bahasa Provinsi Lampung (KBPL) segera menyeleksi para calon dari kalangan pelajar dan mahasiswa di daerahnya untuk dipilih menjadi Duta Bahasa Provinsi Lampung tahun 2008, kata Kepala KBPL Agus Sri Danardana, di Bandarlampung, Senin (7/4)

Menurut Agus Sri Danardana, keberadaan Duta Bahasa Provinsi Lampung itu akan mendukung peran dan fungsi KBPL memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sekaligus mendorong pelestarian bahasa daerah Lampung dan pengenalan seni dan budaya daerahnya.

Dia menyebutkan, para duta bahasa itu selama ini dinilai berperan cukup baik dalam pemasyarakatan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, pengenalan seni dan budaya daerah Lampung, termasuk bahasa Lampung, khususnya di kalangan remaja dan generasi muda di daerah itu.

Pendaftaran untuk mengikuti seleksi mulai 1 April 2008 hingga 9 Mei 2008 di Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Persyaratan yang diperlukan, antara lain, menguasai bahasa Indonesia, bahasa Lampung, dan bahasa asing secara proporsional. Berusia 17-25 tahun, berpenampilan menarik, memiliki tinggi dan berat badan ideal (minimal 157 cm untuk putri dan 162 cm untuk pria), menyerahkan fotocopy KTP atau identitas lain yang sah, menyertakan foto close-up, serta memiliki wawasan budaya Lampung yang memadai.

Tahap seleksi akan berlangsung dua kali pada pertengahan dan akhir Mei 2008, sekaligus untuk memeriahkan Tahun Bahasa 2008.

Duta Bahasa yang terpilih akan mewakili daerah Lampung dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional di Pusat Bahasa di Jakarta.

Sumber: Antara, 7 April 2008

April 6, 2008

Profil Minggu Ini: Perupa itu Harus Sabar

* Ari Susiwa Manangisi
Perupa Lampung


BERSENI rupa merupakan olah rasa, sebagai jalan mencari kebenaran hakiki. Dan kebenaran itu adalah Tuhan.

"Saya mengenal agama bukan dari pesantren, tetapi lewat melukis," ujar Ari Susiwa Manangisi, pria keturunan Makassar-Jawa dan China-Betawi yang dikenal sebagai perupa Lampung dan lebih banyak melukis, komikus, membuat karya patung serta dekorasi.

Goresan warna membentuk objek adalah perjalanan, yang diakuinya sebagai wujud olah rasa untuk mengagumi segala ciptaan-Nya. Proses menghasilkan karya yang membutuhkan waktu, dari pagi hingga larut malam adalah mengendapkan sifat kesabaran, arif, dan berusaha bijak menghadapi segala masalah dalam kehidupan.

Perjalanannya sebagai perupa mengalami pengalaman suka dan duka. Mulai dari menjual lukisan dari rumah ke rumah dengan harga rendah Rp30 ribu per lukisan, bekerja di percetakan, hingga menggelar puluhan pameran di berbagai daerah, bahkan ke negeri China.

Tahun 2006, pria kelahiran Lubuk Linggau, 10 Oktober 1952, ini berpameran di Hu Bei Art College Wu Han (China) dengan tema The Gate: Pre-Discourse. Sebelumnya, ia harus melalui seleksi di berbagai pameran yaitu Art Expo Sumatranformation Bandar Lampung tahun 2004, pameran berantai Rhe Realistage Juni-September di Goong Galeri Bandung, Semar Galeri Malang, dan Museum Widayat Magelang.

Dari sekian pameran, Ari kerap mengikuti pameran pada Jambore Seni Rupa di Ancol. Saat ini, sudah hampir empat tahun Ari terjalin kontrak dengan House of Grace Gallery and Frame yang beralamat di Telukbetung. Galeri ini memberikan sertifikat hak cipta untuk setiap karyanya dan mempromosikannya untuk berpameran di luar Lampung. Di galeri ini, sudah terjual 25 lukisan. Lukisan-lukisan pertamanya bisa terjual dengan harga Rp1 juta. Dari nilai tersebut, waktu demi waktu nilainya meningkat. Dua tahun terakhir ini, bisa di atas Rp10 juta untuk ukuran 1 x 1,5 meter. Harapannya, dia bersama rekan sesama perupa akan membuat gerai lukisan tahun ini, sebagai agennya perupa, sehingga dapat berpameran sendiri dan memasarkan karya.

Perupa yang sudah empat kali menjuarai penulisan naskah komik tingkat nasional ini berbagi pengalaman kepada wartawan Lampung Post Dwi Wahyu Handayani di kediamannya yang sederhana, Kamis (4-4), seusai gelaran pameran Seni Lukis Kopi di Bandar Lampung. Berikut petikannya.

Bagaimana menurut Anda tentang seni yang ditekuni ini?

Kepekaan hidup sosial di luar diri. Semua cabang seni itu adalah olah rasa, nurani, dan batin. Saya pun sering menumpahkan segala sesuatu dengan syair puisi. Sekarang sudah buku ke empat yang saya buat, dengan 100 lebih puisi. Saya mengenal Tuhan bukan dari pesantren, tetapi lewat seni. Dari berbagai objek yang saya lukis, di situlah proses pencarian kebenaran. Bukankah itu tujuan manusia, dan kebenaran sejati itu adalah Tuhan.

Masyarakat beranggapan perupa itu tidak menjanjikan sebagai mata pencarian. Bagaimana Anda membuktikan itu tidak benar?

Istri kedua, belum tahu bagaimana profesi saya sebagai pelukis, yang sering menghabiskan waktu untuk menyelesaikan sebuah karya, hingga larut malam. Keluarga istri juga tidak begitu yakin, apa profesi saya bisa menghidupi keluarga. Saya ingin membuktikan. Tahun 2004, saya membuat naskah komik untuk lomba yang saya kerjakan hingga malam, dengan hanya diterangi lampu sentir. Istri terus mengingatkan agar tidur. Saat kepanikan itu, air hujan merembes dari atap yang bocor kemudian tertampung di plastik agar tak langsung jatuh, ternyata tumpah. Rumah saya memang sederhana. Akibatnya, satu halaman yang terkena air harus diganti dan membutuhkan waktu seharian untuk mengerjakan. Syukurlah, karya komik itu menang. Tetapi keluarga masih belum tergugah, antara percaya dan tidak. Beruntung saya menang membuat komik hingga empat kali, tetapi masih belum sepenuhnya keluarga mengubah anggapan. Apalagi, hadiah dari empat kali menang hanya berkisar dua hingga empat juta. Tetapi, ketika saya mendapat order 400 lukisan dari pabrik interior funitur senilai 70 juta. sedikit demi sedikit anggapan itu mengikis. Saya pun bisa membangunkan rumah untuk istri di Mesuji dan satu hektare kebun lada.

Anda terlihat sabar ketika harus membuktikan bisa hidup sebagai perupa?

Kenapa benalu dianggap parasit. Sebenarnya itu gambaran hidup manusia. Tuhan juga menciptakan orang yang tidak sempurna, yang membutuhkan bantuan orang lain untuk menopang hidupnya. Benalu pun hanya menempel pada pohon besar, yang dianggap mampu dan tidak merasa diberatkan.

Lalu, tanah. Apa pun yang tumbuh akan seperti nasib atau takdirnya. Di tanah yang sama, pohon mbacang tumbuh dengan buahnya yang asam, tetapi di sebelahnya tumbuh tebu yang manis, itu tergantung bibitnya. Jadi yang penting sabar tadi. Air berkelok bukan karena tebing, tetapi karena air mengalah. Coba dibendung setinggi apa pun akan melimpah, sekuat apa pun segalanya bisa hancur dengan air, misal batu. Jadi sabar dulu dan mengalah sembari mencari solusi lain.

Ada cerita pahit?

Dulu saya pernah dua tahun tinggal di Palembang sekitar tahun 1978--1979. Dari Lampung saya berniat idealis sebagai pelukis di Palembang. Ternyata menjadi pelukis di kota ini sulit, termasuk untuk menjadikan mata pencarian. Terpaksa, saya ngasong lukisan dari rumah ke rumah. Benar-benar ekonomi saya hancur, tetapi saya tak ingin menjadi peminta. Anak kedua saya jatuh sakit, kurang gizi. Sementara lukisan saya tak laku-laku, saya tak sanggup beli makanan untuk mengganjal perut anak supaya tidak lapar. Apalagi untuk mengobatinya. Saya bertemu dengan seorang penjual kemplang. Dia berniat membantu, tetapi hanya kemplang yang dimiliki. Akhirnya, dia memberikan seplastik kemplang. Saya terima pemberiannya, tetapi saya pun memberikan satu lukisan. Akhirnya kembali ke Lampung, saya tak hanya mengandalkan sebagai pelukis tetapi bekerja di percetakan dan istri bekerja sebagai di RRI.

Bagaimana pencarian ide melukis dan membuat naskah komik?

Saya gali ide lukisan dari kontemplasi pada alam. Saya pencinta alam. Ke mana pergi selalu membawa kamera untuk mengabadikan objek. Foto itu bisa menjadi panduan ketika melukis. Jadi bisa mengetahui karakter objek. Saya juga senang mempelajari karakter orang, juga belajar filosofi. Setiap insiden kecil, baik maupun buruk, terekam dalam memori, lama-lama terjadi pengendapan. Suatu saat hendak dituangkan, rekaman itu timbul kembali. Kemudian rajin membaca berbagai buku. Ide itu tak pernah mati, asal kita sering mengamati ruang di luar diri.

Seperti apa apresiasi masyarakat Lampung terhadap karya lukis?

Dalam berapresiasi, masyarakat kita terbagi ada yang membeli lukisan karena prestise, senang, membeli untuk dijual lagi, atau plesetannya collect dol dan kolektor yang benar-benar penikmat karya lukis. Lampung masih didominasi membeli untuk dijual lagi dan beli karena prestise. Meskipun masih prestise, hanya untuk interior dan kebanggaan, tapi itu sudah bagus. Berbeda dengan sang kolektor, memiliki tetapi tak ingin diekspos. Ada juga yang memang senang karena dirinya memiliki pemahaman karya lukis yang bagus, tetapi tak mampu membeli dengan harga sesuai. Nah, kalau menghadapi ini, kadangkala pelukis pun rela memberikan lukisannya. Mengapa ada yang senang dengan lukisan kok dihalangi hanya karena nilai materi. Bahkan kalau bisa, lukisan itu diberi saja he...he....

Soal perkembangan dunia seni rupa di Lampung?

Cemerlang. Justru kuncinya dari perupa. Sudah melukis kok jadi tidak yakin. Berbuat kan terus berdoa, juga yakin dengan karya itu. Yakinlah bakat ini anugerah yang perlu disyukuri. Kita diberi kepekaan lebih dibanding orang lain dalam mengolah rasa dan karya. Ampas kopi dan apa pun berkat sentuhan seniman bisa menjadi emas.

Jika perupa tetap tidak yakin dengan karyanya dan terus menekuni bakat itu, bisa sepuluh tahun ketinggalan dari Sumatera Barat dan tiga tahun lagi bakal ketinggalan dengan Jambi. Kita tak berkarya, sementara di tempat lain terus berbuat dan berhasil.

Mengapa ketinggalan itu?

Anak-anak Sumbar yang kuliah di ISI Yogyakarta kemudian membentuk Kelompok Jendela. Mereka produktif berpameran, ada yang berhasil tembus di Balai Lelang. Terus di provinsi ini ada Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Pemerintah sangat solid mendukung senimannya, apalagi perupa yang kebetulan juga PNS giat sekali. Kalau Jambi, semula Pameran Lukisan dan Dialog Perupa Se-Sumatera (PLDPS) itu diadakan secara bergiliran di setiap daerah. Tetapi beberapa provinsi merasa keberatan menjadi tuan rumah karena anggaran. Jambi sejak 2007, menyanggupi event itu masuk dalam APBD-nya, sehingga setiap tahun rencananya akan digelar di sini. Anggaran yang dialokasikan pasti besar karena event ini juga kompetisi dengan juri yang kompeten dan tentunya dibarengi dengan pagelaran seni lainnya.

Bagaimana harusnya pemerintah mendukung perupa?

Saya diajari kehidupan untuk mandiri tidak atas bantuan siapa-siapa. Perupa harusnya tertantang berbuat, jangan melulu bermimpi mengandalkan dukungan.

Apa yang Anda lakukan untuk pemberdayaan pemula ataupun memunculkan bibit baru?

Saya dan teman-teman setelah pameran lukisan ampas kopi sudah sepakat untuk menyusun buku panduan melukis dengan ampas kopi. Kemudian, buku itu akan kami tawarkan sebagai referensi bagi ekskul di sekolah. Ini salah satu upaya jemput bola demi kaderisasi itu. Kami pun punya mimpi, suatu saat menggelar pameran lukisan ampas kopi dengan melibatkan pelukis-pelukis muda, bisa pelajar dan siapa pun. Tujuannya, agar Lampung juga dikenal sebagai asal lukisan ampas kopi. Karena Lampung pun dikenal sebagai penghasil kopi terbanyak. Jadi, kalau orang mencari lukisan kopi, ya di Lampung tempatnya. Dengan demikian, dari pameran itu kami berharap dapat menembus rekor MURI.

Selama ini banyak ajang perlombaan menggambar, apakah ini sesuatu yang positif bagi pemberdayaan itu?

Perlu dihargai kegiatan itu. Tetapi, kompetisi yang benar, juri juga yang memang kompeten. Kegiatan itu jangan sekadar mengumpulkan massa, untuk memeriahkan acara inti...yang dalam rangka ini dan itu. Tujuan kompetisi harus benar-benar menghasilkan jawara yang bagus. n M-1

***

Talenta Turun dari Sang Ayah


IBARAT pepatah bilang, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Talenta Ari Susiwa Manangisi ini pun berasal dari sang ayah yang pandai menggambar. Ayahnya pegawai PJKA pada waktu zaman Belanda. Atasan sang ayah yang banyak orang Belanda, kerap memesan lukisan wayang dan pemandangan. Di antara 9 bersaudara, hanya Ari yang menuruni talenta itu. Sejak SD, Ari kerap memenangkan lomba menggambar di sekolah.

"Waktu ada tugas menggambar, banyak teman yang menggambar gunung dan hamparan sawah. Saya menggambar sebuah perahu kandas di pinggir laut. Jika saya ingat gambar itu, saya sadari bahwa saat itu nalar saya sudah nyambung," kisahnya.

Ketika remaja, sering bertukar buku nyanyian dengan teman. "Saya tak hanya mengisinya dengan nyanyian, tetapi ada gambar dan kotak dialog seperti komik."

Kelima anak Ari pun menuruni talentanya, sebagai perupa. Ari, dan kedua anaknya, Qodri dan Wira, sering mendapat order pengerjaan taman di beberapa tempat, misal Balai Benih Sumberjaya dan Bumi Kedaton. Juga mengerjakan dekorasi panggung, membuat mobil hias dan patung. "Semua anak saya bisa melukis, tetapi yang serius menekuni baru Lila, anak ketiga. Dia sudah beberapa kali pameran, di antaranya juga bareng saya," ujarnya bangga.

Ari mengaku tidak pernah menekankan anaknya menjadi pelukis. Kelimanya sudah akrab dengan sarana lukisan sejak kecil, kanvas dan cat air. Lila, pun baru mulai menekuni sebagai pelukis saat kelas III STM. Ceritanya, 2 hari 2 malam Lila mengurung diri dalam kamar, usai dimarah ayah dan ibunya. Ternyata selama itu, Lila menumpahkan segala emosi berupa coretan gambar.

Ari juga terbiasa mengajak anaknya berdiskusi. "Saya mengajak diskusi tentang apa saja seolah dengan teman. Kalau tentang lukisan seolah berdiskusi antarpelukis," kata dia, yang telah puluhan kali mengikuti pameran sejak 1999. Lewat diskusi, Ari ingin membentuk karakter percaya diri, mandiri, membangun kreativitas, kebebasan berpendapat, dan menerapkan demokrasi pada mereka. "Berontak dari tradisi lama, jadi tidak dominan Bapak," ujar kakek 8 cucu ini.

Seringkali, Ari mengajak anak-anaknya pergi memancing dan mendaki gunung. Selain menjalin kebersamaan, Ari ingin anaknya paham, kedekatan dengan alam salah satu proses pencarian ide. "Ketika saya pameran, meskipun tinggal di tempat sempit, mereka sering ikut, agar tahu begini perjuangan ayahnya sebagai perupa."

Ia melimpahkan ide di atas kanvas, dalam sebuah studio kecil, di lantai 2 rumah sangat sederhananya di Pasir Gintung. Ari membiarkan kondisi studio berantakan. "Kalau berantakan seperti ini, saya justru terpacu melukis. Seolah pekerjaan belum selesai dan harus cepat selesai." Kala melukis, tangan lincah menggoreskan cat minyak membentuk objek, kadangkala sinergis dengan musik yang diperdengarkan. Lagu-lagu tempo dulu, Koes Plus dan Franky senantiasa menemaninya melukis. n DWI/M-1

Biodata

Nama : Ari Susiwa Manangisi

Tempat/tanggal lahir : Lubuk Linggau, 10 Oktober 1952

Alamat : Jalan Pisang, Gang Garuda III No. 25, Pasir Gintung, Tanjungkarang, Bandar Lampung

Istri

1. Sari Bulan (alm.)

2. Syamsiar

Anak

1. Muhammad Qodri (wiraswasta sablon dan reklame)

2. Wira Alamanda (wiraswasta sablon dan reklame)

3. Lila Ayu Arini (perupa)

4. Swari Imanda (swasta)

5. Sisi Adelia Amanda (siswi SMPN 23 Bandar Lampung)

Penghargaan

1. Juara II Komik Nasional Cerita Remaja, Departemen Pendidikan Nasional RI, 2000.

2. Juara III Komik Berwarna Nasional, Departemen Pendidikan Nasional, 2001.

3. Juara Harapan I Ilustrasi Berwarna Buku Anak Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2001.

4. Juara III Komik Fiksi Ilmiah Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2002.

Pameran

1. Tahun 1999, Jambore Ancol (Jakarta), Bursa (Novotel, Jambi)

2. Tahun 2000, Gelar Lukisan Lampung, Pameran Lukisan dan Dialog Perupa se-Sumatera (PLDPS) VIII Jambi, Jambore Ancol (Jakarta).

3. Tahun 2001, bersama Ipe Maaruf (Kelompok Pelangi Nusantara Jakarta), Jambore Ancol (Jakarta), Realisme Lampung, Ulang tahun Pasar Seni Ancol.

4. Tahun 2002, Gelar Nusantara II Galeri Nasional Jakarta, Rupa-rupa Ekspresi di Lampung, Jambore Ancol (Jakarta).

5. Tahun 2003, bersama A. Rahino Sudjojono Gedung Graha BPPT (Jakarta), Penandaan Kelompok Lima (Sanggar Wisesa Lampung), Garis dan Warna Spirit Lima (Taman Budaya Lampung), Pertikaian Estetika Silaturahmi Nurani (Galeri Nasional Jakarta), Karya Pilihan Lampung, PPSS Jambi, LAF Lampung dan Jambore Ancol (Jakarta).

6. Tahun 2004, Demokrasi (Konjen Amerika, Medan) dan Art Expo Sumatranformation Bandar Lampung.

7. Tahun 2005, Peduli Aceh (Bentara Budaya, Jakarta), pameran berantai Rhe Realistage Juni-September (di Goong Galeri Bandung, Semar Galeri Malang dan Museum Widayat Magelang), Lampung Expo (Graha Wangsa, Bandar Lampung), Beinale Sastra dan Keterampilan Rupa (Taman Budaya Lampung) dan Kecil Tak Kecil (Taman Budaya Lampung).

8. Tahun 2006, The Gate: Pre-Discourse Soft Opening Semar Galeri (Malang), The Gate: Pre-Discourse Hu Bei Art College Wu Han (China)

9. Tahun 2007, Tebar Pesona (Kalianda Resort), Peduli Seni dengan Aksi Senayan City (Jakarta) dan PLDPS X Jambi.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 April 2008

Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru

-- Asarpin*

ADA dua cerpen S.W. Teofani yang pernah terbit di Lampung Post yang menggoda imaji saya saat membacanya: Gapura Pulau Panggung (12-2-2006) dan Gapura Doa (16-3-2008). S.W. Teofani belum begitu dikenal sebagai penulis cerpen, bahkan namanya sangat samar, tapi dua cerpennya ini hemat saya layak dipertimbangkan. Teofani mampu menghadirkan kersik kata-kata tanpa beban dalam berbahasa. Alunan rimanya terasa hening seperti peri kesepian-sejenis vibrasi yang hanya memberi perhentian sejenak untuk kemudian berjalan mengalir pelan dan bening menuju mata air sumber kecemerlangan.

Dua cerpen ini ingin saya lekatkan dalam satu laboratorium pembacaan teks yang hidup dalam menangkap daya kekuatan pengarang dalam mendayakan harkat kata dalam cerita yang memang pendek. Dua cerpen ini pantas disebut "cerita isotopi" dengan semangat kasih sayang yang menyuguhkan teknik penulisan cerita yang piawai dengan kata-kata yang isotopinya sendiri nyaris tandas.

Bahasa dari Duka yang Bisu


Metafora gapura dalam dua cerpen ini mendulang keakraban dan keintiman sang narator yang berusaha mempermainkan gebalau hidup di tengah chaos. Sang pengarang bahkan ingin menghadirkan suspens diam-diam dan sangat sederhana. Dalam cerpen Gapura Doa narator mengakhiri kisahnya semacam kamuflase yang tak mengejutkan karena ini memang bukan puisi: ini "Taqdir" katanya.

Dalam Gapura Pulau Panggung, S.W. Teofani-nama pena Susilowati ini-dengan intim menghayati gapura dengan menampilkan pernik-pernik psikologis antara pulang dan pergi: atau rumah dan pulang dalam cerpen. Cerpen ini mengungkai tematik cinta, takdir, dan maut yang penuh gelora. Pengarang tidak terjebak pada pskologis Freudian atau cinta Platonik, melainkan menghadirkan kisah cinta yang sejenis dengan cinta sufistik, penuh takzim pada keterbatasan dan kesementaraan manusia di hadapan Sang Khalik.

Amanah-amanah yang tampil dalam larik ceritanya memang harus tampil dan tidak mengurangi bobot diksi lirisnya. Doa sang tokoh perempuan dalam Gapura Doa tidak lagi menjelma sebagai doa syariat, melainkan sebuah puisi liris yang posesif. Bahasanya terasa gagu, kalimatnya pendek-pendek, dan tak hendak mengembang walau sering tergoda untuk berkembang. Metafora gapura pun begitu kuat menggoda imaji sang pengarang.

S.W. Teofani menampilkan denting suara penari yang meliuk seperti ranting bergoyang di dahan atau seperti menonton penyair yang menari dan bercerita dengan ringannya, berbaur seketika dengan alunan regium Mozart yang menyihir penyair. Kehadiran kembang dan bunga-bunga dalam cerpennya seakan menyuguhkan cerita fantasi yang mengajak kita masuk ke dalam cerita sembilan waktu model sufi Robiah Al-Adawiyah.

Cerpen Gapura Pulau Panggung dibuka dengan bahasa liris: Engkau datang dalam waktuku. Waktu yang selalu mempersembahkan kisah-kisah baru; entah nyata atau fatamorgana. Kita mengada di dalamnya, bersama dalam mimpi-mimpi yang menjelma dalam kenyataan. Kenyataan yang tersembunyi di balik mimpi-mimpi...Cerpen Gapura Doa dimulai dari: Aku coba melupa, menutup sirip kenangan dengan taburan doa, mengelupas tiap helai tanpa nada; meski tak pernah benar-benar mencapai amnesia. Gapura itu tetap dan selalu ada, di ceruk paling maya, mengada dalam taman jiwa. Gigir ngarai yang pernah kita sisir, memanggil dengan suara paling mesra...

Nuansa main-main masih terbaca kuat dan membuat saya terbetot oleh permainan gema, alunan detonasi dan desir pencarian yang seakan meloncatkan ludah harapan di pucuk klorofil daun damar kaca. Sebuah refleksi yang belum sampai satire tapi masuk dalam rasa hayatan yang kuat. Sayang sekali S.W. Teofani kurang teliti dalam mempermainkan logika kata-kata. Kalimatnya masih kurang pitch control dalam menyanyikan puisi kefanaan dan kehidupan lewat metafora gapura hingga seting ceritanya bunyar dan tidak masuk akal; di negeri salju (Eropa) tak berapa lama muncul harum bunga kopi dan musim durian; dalam keheningan menghayati syair khakhiwang di "tanah kelahiran", tiba-tiba muncul kata pendingin salju kutub dan gapura itu makin indah. Kalau idiom-idiom yang menunjukkan Lampung dihilangkan justru cerpen Gapura Doa jauh lebih menawan ketimbang dipaksakan karena bisa merusak kejadian yang sedang berlangsung.

Bahasa cerpen Gapura Pulau Panggung dan Gapura Doa hampir saja mendekati bahasa Khalil Gibran-pujangga pemuja cinta dan bayang-bayang. Dalam ketangkasan mengikuti arus ritmik berbahasa, sang pengarang menghadirkan kata-kata sampai mengeluarkan gema dan tak lagi terpaku pada satu rumusan gaya dan tema yang ditetapkan ideologi media, yang masih bersifat dicari-cari.

Dalam mengiringi sebuah pemberangkatan ke negeri salju tempat bersemayam harapan dan anugerah, bahasanya menampilkan refleksi anti-sentimentalisme. Ketika sang tokoh pergi, tak ada lagi pikiran untuk bisa pulang kembali menghirup harum kopi dan laut biru atau "pulau yang damai" karena "kita terlupa tentang kehilangan"..."aku lupa jalan pulang"..."sunyi" dan "Hidup adalah hari ini yang mesti kita nikmati", bukan kemarin atau yang akan datang.

Walau gapura sudah di depan mata, katakan saja bahwa dawai lara putri Gibran telah membuat bimbang dan memutuskan tidak jadi pulang karena sayap-sayap patah tak sampai menemui-Nya, karena kata terus saja berkisar pada makna takdir penghabisan agar sang putri Gibran bisa sampai di pantai kesadaran imaji diam, atau karena hujan telah menjatuhkan putik bunga dari kuncupnya, atau ranting kayu yang terpelanting miring dari curuknya. Ahai, biarlah logika bertabrakan asal kisah yang dituliskan jadi semerbak wewangian, menjelma rajah peri kesepian yang ingin mendaki langit lazuardi kehidupan.

Susilowati seakan menjelmakan dirinya sebagai putri Gibran yang secara layak menafsirkan Sayap-Sayap Patah, Jiwa-Jiwa Pemberontak, Tuhan-tuhan Bumi hingga Taman Sang Nabi. Warna suram begitu kuat membayang sang monolog perempuan mirip Selma Karamy yang dilukiskan Gibran tatkala jiwanya terampas di hadapan takdir yang mematahkan sayap-sayap cintanya hingga takdirnya pun berakhir. Dua cerpen satu tema ini mampu menghadirkan dialog batin yang mengawali bencana cinta sang putri Gibran yang bimbang, yang dengan tangkas mengekspresikan pulang dan pergi antara negeri salju dan negeri kopi, negeri musim gugur dan negeri musim durian.

Sang perempuan adalah sang tokoh pembebasan yang menantang di hadapan kumbang jantan:" Andai kutinggal semua kenang, kau terlunta dalam sengsara. Bila kususuri jalan gapura, tidakkah ada yang terluka?" Sang perempuan tak ingin dijinakkan dan tunduk pada pesona cinta laki-laki dan memilih melepas semua kenangan walau ia tahu apa akibatnya. Kata-katanya menggemakan larik puisi dari sang pujangga yang terluka tapi tak ingin luka untuk kedua kalinya.

Kenangan yang menyakitkan seakan terayun-ayun di gaba-gaba kenangan oleh hempasan harapan dan kedamaian abadi yang "bukan patah dahan, kekasih", tapi sebuah keberangkatan yang sunyi menuju kehidupan. Renungan rantau yang tak ingin kembali. Sebuah ikhtiar pada ketakziman yang sementara. Sebuah renungan dalam menerima kehilangan secara lapang. Bukan meratapi atau melantunkan samudera air mata terhadap masa lalu, tapi kekinian yang menghidupkan kisah. Sebuah kematian sekaligus kehidupan. Amorfati, kata Nietzsche.

Membaca cerpen dengan desah gebalau, suatu renungan pribadi sunyi, suatu lirik bening atau bisikan senyap dari makna sepi yang hanya kedengaran bagi pembaca yang berhati besar, yang bersiap untuk paham, memang terasa nikmat. Sugesti puitik dengan klimak penampilan larik doa yang-sambil mengutip frase Dami N. Toda-sebuah rintik bening di tengah danau kehidupan yang hanya terdengar suara "plung" dengan satu kata: "Amin!" Maka larik ini dapat dibandingkan dengan puisi Terry McDonagh ini: suatu saat,/ketika kita tak berani/membicarakan beberapa sajakku/yang setengah jadi-Amin!

Metafora Pemikat Baru

Kadar makna cerpen Susilowati tidak ditentukan hanya dengan ukuran kata atau intrusi bahasa, melainkan metafora atau imajinasi. Metafora merupakan bentuk puitika bagi cerpen yang berfungsi sebagai sebuah kerja penakwilan. Kritik cerpen tidak berhenti pada sebatas ilustrasi dengan memaparkan dan menjelaskan isi sebuah cerita atau malah mencincangnya. Apa yang disebut ilustrasi (washf) kata Adonis (2007), kenyataannya cuma "bersifat gradasi"; suatu penyusunan yang "menggabungkan elemen-elemen sesuatu hingga karakteristiknya tampak melalui sifat-sifat yang sudah dikenal sebelum membacanya". Ilustrasi sering kali menyusun sesuatu dengan hati-hati dan tekun, lamban, sementara metafora berusaha menangannya secara cepat bagai kilat yang memberikan indikasi bahwa nilai dari suatu cerpen bukanlah ilustratif tapi metaforik.

Metafora mewujud dalam vibrasi yang melirik-mengenalkan sesuatu dengan cara yang berbeda. Apa yang penting bagi Susilowati bukan lagi sesuatu itu sendiri, melainkan hubungan yang ada antara sesuatu dengan sesuatu yang lain-sebuah atribut dan makna sunyi mencari yang muncul dari kontemplasi. Metafora bukan lagi cuma hiasan yang memberikan warna dan dinamika terhadap gaya bahasa, tapi sebuah ketaksaan yang terpola pascaluka yang membedakan inti kemaknaan dalam situasi yang "normal". Cara S.W. Teofani menyambung cerita cukup unik: "ini kali pertama kau kehilangan seorang sahabat" dan disambung "kita bertemu pada kali yang lain".

Ketika mengekspresikan kosmos secara metaforis, sang pengarang tak hendak mengubah alam menjadi citra sesuatu, tetapi jagad itu justru bisa berubah menjadi citra itu sendiri. Dari sini tampak bahwa metafora yang ditampilkan agak main-main dan segala kemungkinan dalam menerima kehilangan, sementara cerpenisnya sendiri tidak menerimanya-entah eksplisit maupun implisit.

Di sini metafora memperlihatkan transformasi yang menjadi tinanda dari pengalaman hidup yang kepenuhan. Sang pengarang mampu mengungkai pencarian intrusi sekaligus metafora yang hidup dan memancarkan pesona hingga mata terpana oleh bobot renungan dan bisa jadi kemunculannya hanya sekali dan disusul kelahiran dua kali untuk menepati janji.

Walhasil, inilah cerpen yang menghadirkan cerita metafora pemikat baru atau permajasan yang sublim. Sang pengarang menampilkan suatu kekayaan kemaknaan dan mentransformasikan dunia bawah sadarnya dengan penuh penghayatan untuk kemudian mentransformasikan suatu fiksi menurut citra dan gayanya sendiri.

* Asarpin, Pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 April 2008

Apresiasi: Ide Bersama 'Me-Rupa-kan Ampas Kopi'

SENI menuntut orisinalitas, kekhasan, momen, dan unik. Itu barangkali yang mengilhami gelaran Pameran Lukisan bertajuk Me-Rupa-kan Ampas Kopi pekan lalu di Bandar Lampung. Ke-bersama-an para perupa menggarap itu mungkin yang menjadi karya-karya ini terkesan dipaksakan.

Kopi lampung ternyata tidak hanya bisa dinikmati lewat secangkir hangatnya yang sampai membuat penyanyi campur sari ternama Didi Kempot membuat satu lagu berjudulkan Kopi Lampung. Sebab, kini kopi lampung bisa dinikmati dalam bentuk lain, yakni dengan mengapresiasi karya rupa. Sehingga akhirnya membuat decak kagum siapa pun yang melihatnya.

Itulah yang amat sangat terasa dalam Pameran Lukisan me-Rupa-kan Ampas Kopi yang digelar sejak 29 Maret hingga 2 April yang lalu di Taman Budaya Lampung. Pameran seni rupa yang bisa dikatakan kali pertamanya digelar di Indonesia di mana seluruh karya yang ditampilkan menggunakan media kopi dalam karya rupa yang dihasilkannya.

Pamerannya sendiri menghadirkan 40 karya dari delapan perupa Lampung asal Bandar Lampung, Metro, dan Tanggamus, yakni Ari Susiwa Manganisi, Sutanto, Koliman, Yulius, Joni Putra, Bambang Irianto, Tince Jonson, dan Rosmedi dengan dikuratori Joko Irianta. Dan hingga hari terakhir penyelenggaraan, tercatat tujuh karya yang laku terjual, yakni karya Tince; Ghaneshaku, Si Cantik, Sekawan, dan Lesung Pipit. Sedangkan dua karya Ari adalah Menampi dan Merpati Mahkota, serta satu karya Sutanto adalah Panen Kopi.

Ratna Sarumpaet, mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yang turut hadir dalam acara pembukaan pameran mengaku sangat apreciate dengan pameran yang digelar perupa Lampung. "Ini sangat unik dan menarik sekali. Mungkin ini adalah kali pertamanya pameran menggunakan media kopi yang digelar di Indonesia."

Terlebih lagi diakuinya, Lampung sebagai penghasil kopi terbesar di Indoensia dan telah memiliki branding yang kuat di masyarakat, paling tidak akan mendapatkan satu catatan penting manakala sudah mulai merambah masuk pada dunia seni rupa. "Makanya saya berani menyebut pameran ini sebagai pelopor. Mudah-mudahan akan ada terus perupa yang menekuninya," kata Ratna.

Bahkan penggiat teater ini mengaku sangat menyukai hasil karya yang ditampilkan para perupa karena secara selintas, karya rupa yang dihasilkan sangat mirip dengan karya batik tulis. Warna kopi yang identik dengan cokelat dan hitam sekaan-akan mengingatkan Ratna akan keindahan batik tulis Jawa. "Mengingatkan saya akan batik kuno Jawa".

Meskipun diakuinya, dia tidak mempersoalkan style yang digunakan para perupa yang masih banyak menghadirkan karya naturalis dan realis. "Saya tidak mempersoalkan itu. Sebab, menurut saya, ketika seorang perupa sudah bisa melukiskan karya dalam bentuk realis, maka dia akan pandai mengungkapkan bahasa rupa dalam style yang berbeda," ujar dia lagi.

Apalagi menurut dia, ada juga perupa yang menghadirkan karya dalam bentuk simbol-simbol yang sangat kuat maknanya. "Sehingga saya bisa bilang karya yang dipamerkan sangat tidak standar. Dan yang membuatnya pioniur dan kreatif adalah penggunaan mediumnya. Ini yang perlu mendapatkan apresiasi lebih."

Hal yang sama juga dikemukakan kurator pameran lukisan, Joko Irianta. Dia mengungkapkan bahwa ini merupakan satu pameran lukisan yang kali pertama digelar dengan menggunakan medium ampas kopi. Sudah saatnya, kata Joko, hasil bumi kebanggaan Lampung yang menguasai 70 persen pasar kopi nasional diangkat ke permukaan dalam satu medium yang berbeda. Sehingga ini bisa mengangkat nama kopi lampung itu sendiri. Apalagi menurutnya, dari karya-karya yang dihasilkan para perupa ini memperlihatkan satu kelokalan yang ada di Lampung. Makanya dalam melakukan penilaian terhadap karya yang dipamerkan, yang dikedepankan adalah medium ampas kopi yang digunakan perupa dalam berkarya. "Sedangkan untuk karya kerupaan yang dihasilkan meski diperhatikan tapi belum terfokuskan," kata dia lagi.

Meskipun demikian,

Joko mengatakan bahwa hasil karya yang ditampilkan sangat beragam dan mengusung banyak style karya rupa. Jadi bahasa rupa, gaya, style, hingga aliran yang ditampilkan sangat berbeda antara satu karya dengan yang lain. Ini sangat layak untuk diapresiasikan oleh masyarakat. Terlebih lagi bahasa rupa yang tersajikan juga mengetengahkan persoalan wacana yang ada sekarang ini baik perkembangan teknologi, politik, sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya.

Dan lagi, menurut Joko, dengan penyelenggaraan pameran ini memperlihatkan dinamika perkembangan seni rupa di Lampung telah menunjukan perjalanan yang semakin maju. "Diharapkan dengan digelarnya kegiatan ini, dunia seni rupa di Lampung semakin menunjukan tajinya, tidak hanya di wilayah regional tapi juga skala nasional dan internasional."

Ide dan Apresiasi

Ketika dirunut asal muasal ide menggunakan kopi sebagai media rupa muncul, Sutanto beserta istrilah tenyata yang kali pertama mengeluarkan ide tersebut. Saat itu, dalam kegiatan memperingati Hari Pangan Nasional di Lampung dilakukan pembuatan patung raksasa dengan menggunakan biji kopi. Ketika itulah tercetus ide bagaimana melakukan demo melukis dengan menggunakan ampas kopi.

Namun kemudian ide tersebut bergulir hingga akhirnya disepakati bukan hanya demo melukis yang akan digelar, akan tetapi pameran karya rupa yang seluruh karya rupanya menggunakan medium ampas kopi. Sehingga akhirnya para perupa melakukan berbagai uji coba menggunakan ampas kopi ke atas kanvas; baik yang menggunakan lem fox hingga akhirnya menggunakan sebangsa aquaproof.

"Kami menghabiskan waktu hingga tiga bulan lamanya untuk terus menghasilkan bahan yang lengket di kanvas tapi tidak akan berjamur. Sebab, kami juga dalam finishing menggunakan pernis," kata Sutanto.

Hingga akhirnya terkumpul delapan perupa yang menghasilkan 40 karya dengan medium ampas kopi yang siap melakukan pameran. Ide dan kegelisahan perupa ini yang kemudian ditangkap Ketua MediArt Event Organizer, Dwi Permono Prastio yang selaku pelaksana kegiatan pameran untuk menggelar kegiatan dengan menggandeng berbagai pihak selaku penyokongnya.

Namun, ternyata sangat disayangkan, satu ide yang briliant tersebut, tidak begitu baik diapresiasi oleh masyarakat Lampung. Sehingga jumlah pengunjung yang menyaksikan pameran ini sangat tidak banyak. Padahal, kegiatan ini merupakan sejarah yang mesti tercatat dalam perkembangan seni rupa di Lampung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Bahkan, bagi para pelajar baik pelajar TK hingga SMA, kegiatan ini bisa menjadi satu pembelajaran dan pengenalan tidak hanya terhadap seni rupa, tapi juga kopi yang merupakan hasil bumi andalan Lampung.

Apalagi bila dilihat dari setiap event lomba menggambar dan mewarnai yang digelar, maka ratusan hingga ribuan peserta akan mengikuti kegiatan. Tidak hanya anak-anak yang sibuk mendaftar, tapi para orang tua pun sibuk kasak-kusuk. Seharusnya kegiatan ini bisa dijadikan media pembelajaran dari orang tua atau guru kepada anak-anaknya atau muridnya untuk meningkatkan wawasan serta kemampuannya dalam dunia kerupaan. Tapi sekali lagi ini yang tidak ditemui.

Meskipun Dwi selaku event organizer mengaku pihaknya hanya memiliki waktu yang sangat pendek untuk bisa melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Terlebih lagi penyelenggaraannya digelar di Taman Budaya Lampung, di mana banyak masyarakat Bandar Lampung sendiri sangat awam dengan lokasi ini. Namun tentu saja ini tidak selantasnya menjadi satu pembenaran.

Karena itu, selamat bagi para perupa Lampung yang telah melahirkan sebuah gagasan dan ide brilian untuk perkembangan seni rupa di Lampung. Sehingga akhirnya menghasilkan karya yang bisa merubah kegunaan terhadap kopi, di mana nantinya akan sangat banyak efek domino yang dihasilkan terutama sektor ekonomi, pariwisata, dan seni budaya di Lampung. Semoga saja, me'Rupa'kan ampas kopi ini bisa menggaungkan seni rupa Lampung dalam khazanah nasional dan internasional. n TEGUH PRASETYO/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 April 2008

Esai: Adakah Estetika pada Ampas Kopi?

-- Budi P. Hatees*

JANGAN pernah membuang ampas kopimu, karena kau bisa memanfaatkannya menjadi sesuatu yang sangat pantas dipajang di ruang tamu rumahmu, sesuatu yang bernilai estetika tinggi.

Itulah moral yang ingin disampaikan delapan perupa Lampung yang menggelar pameran lukisan bertajuk Me-rupa-kan Ampas Kopi di Ruang Seni Rupa Taman Budaya Lampung (29 Maret--2 April 2008). Mereka memanfaatkan ampas kopi sebagai pengganti cat, menggoreskan ragam bentuk rupa di atas medium kanvas, hingga terbentuk lukisan yang mewacanakan lokalitas Lampung.

Sebagai sebuah gagasan, kerja artistik para pelukis Lampung pantas mendapat apresiasi. Namun, kalau diandaikan bahwa kreativitas ini dapat mengatasi masalah sampah ampas kopi, jelas terlalu mengada-ada. Sebab, ampas kopi relatif tidak pernah menimbulkan masalah bagi masyarakat. Tidak sebanding dengan masalah akibat kafeina yang dikandungnya. Di samping mudah larut dalam air, produksi ampas kopi cenderung rendah. Apalagi di era sekarang, orang bisa menikmati secangkir kopi tanpa meninggalkan sebutir ampas pun.

Lantas, bagaimana memberi apresiasi atas kerja kreatif kedelapan perupa Lampung ini?

Ampas kopi bukan sekadar sebagai materi lukisan alternatif untuk menjawab mahalnya harga cat, bukan pula sebuah solusi untuk mengatasi persoalan sampah ampas kopi. Lebih dari semua itu, pameran lukisan yang digelar dalam rangka memperingati 44 tahun usia Provinsi Lampung ini, juga menjadi semacam gugatan atas kebijakan perkopian yang digerakkan pemerintah daerah.

Lukisan ampas kopi menjadi sangat kontekstual. Lampung sebagai salah satu produsen biji kopi di negeri ini, sudah lama sekali tidak lagi menjadi produsen. Pesona biji-biji kopi yang di pengujung abad 19 mengundang kolonialisme Belanda untuk mengeruknya, juga membuat petani dari Malaysia, Thailand, dan Vietnam datang untuk belajar budi daya kopi, kini tinggal sepenggal sejarah pahit tentang betapa buruknya pemerintah daerah mengatasi persoalan perkopian.

Perekonomian Lampung yang selama puluhan tahun sangat bergantung pada hasil pertanian dan perkebunan, tidak diimbangi pemerintah daerah dengan membuat kebijakan yang mampu menstimulasi para petani kopi. Sebaliknya, pemerintah daerah menunjukkan keberpihakan kepada pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) dengan memberi izin kepada asosiasi itu untuk menarik iuran dari setiap butir kopi yang dijual petani. Padahal, petani sudah menjadi sapi perah para pengekspor dengan mengendalikan harga kopi. Petani sebagai produsen kopi kini tidak merasa diuntungkan oleh budi daya kopi yang dilakukannya selama bertahun-tahun itu.

Riwayat pohon kopi di Lampung, riwayat masa depan petani kopi yang sehitam warna kopi. Petani menebangi pohon kopi, mengganti dengan tanaman produksi lainnya seperti kakao. Ini membuat Lampung tidak lagi menjadi produsen kopi, sehingga sejumlah produsen bubuk kopi di daerah ini mengandalkan bahan baku dari petani-petani kopi di Sumatera Selatan. Kopi tidak lagi bisa mensejahterakan rakyat Lampung seperti pada dekade 1980-an.

Sebab itu, kerja kreatif para pelukis yang memosisikan ampas kopi sebagai materi penting dari lukisannya, mestinya memunculkan persoalan perkopian Lampung pada tataran tema lukisan. Dengan begitu, apa yang dilakukan para pelukis dapat meramaikan "pasar wacana" seni rupa Lampung, sesuatu yang makin jarang terdengar akhir-akhir ini. Sayangnya, lukisan-lukisan itu condong lebih mengutamakan "wacana pasar", di mana sangat kuat orientasi untuk menghasilkan lukisan-lukisan yang diminati oleh pasar.

Antara "pasar wacana" dengan "wacana pasar" mestinya mendapat perhatian yang sama dari para pelukis. Pertemuan "pasar wacana" dengan "wacana pasar" akan mengangkat para pelukis Lampung sebagai seniman yang mampu menghasilkan karya berkualitas artistik sekaligus berkualitas komersial. Kedua wacana ini hampir tidak bisa ditemukan tampil bersamaan dalam dunia seni rupa Lampung.

Padahal kedelapan pelukis, Ari Susiwa Manangisi, Bambang Irianto, Joni Putra, Koliman, Rosmedi Jamaluddin, Sutanto, Tince Megawati Johnson, dan Yulius Benardi, sudah malang melintang berpameran di sejumlah kota di Nusantara. Pengalaman berpameran tampaknya tidak begitu memengaruhi pada aras pemikiran tentang bagaimana menyejajarkan antara estetika dengan pasar. Setidaknya bisa dimulai dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya wacana karya.

Joni Putra, misalnya, yang dalam banyak karya sangat ekspresif dengan kemampuan luar biasa menampilkan aura tersembunyi dari objek-objek lukis yang sebagian besar manusia. Dalam pameran kali ini, lukisannya berjudul "Introspeksi", mewacanakan pentingnya membangun tradisi "berkaca". Di tengah persoalan deindividuasi yang merebak sebagai dampak kehadiran budaya massa, tradisi berkaca secara personal tidak lagi dianggap penting. Individu-individu lebih memilih "berkaca" pada massa, di mana dirinya bukan lagi sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari massa.

Pentingnya wacana karya telah membuat banyak perupa mendulang sukses kerja. Apa yang dilakukan pelukis-pelukis di Bandung, misalnya, dengan mengubah arus pemikiran dalam kerja kesenian membuat karya-karya mereka diterima secara terbuka baik oleh pasar komersial maupun kritikus. Sebut saja yang dialami Ay Tjoe Christine, Dikdik Sayahdikumulloh, dan Arin Dwihartanto, di mana pasar menerima mereka dengan gempita, yang akhirnya membuat pergeseran pada estetika para pelukis lain di Bandung.

Dunia seni rupa Lampung sampai pada Sumatranformatif yang melibatkan kurator almarhum Mamannoor dalam ajang Lampung Art Festival 2004, bisa dikatakan kehilangan perspektif wacana. Event-event pameran yang digelar para perupa di Lampung, sering digarap tanpa kehadiran sebuah tema yang memadai. Bahkan, event pameran di luar Lampung yang diikuti para pelukis terkesan tidak meningalkan jejak pada tingkat pemikiran, sehingga kerja seni yang dijalani para pelukis terkesan sebagai kerja tradisi. Mereka hanya melanjutkan kebiasaan, di mana yang diandalkan cuma keterampilan menampilkan gambar rupa di atas kanvas.

Begitu juga yang bisa ditangkap dari event Me-rupa-kan Ampas Kopi. Titik tolak berupa "ampas kopi" sesungguhnya bisa bicara banyak hal seandainya mengkristal dalam tema-tema garapan lukisan. Sayangnya, ampas kopi hanya menunjukkan satu hal yang justru kurang bisa mendukung penguatan wacana rupa, yakni upaya "memanfaatkan ampas kopi" atau "kerja alternatif menjawab mahalnya harga cat".

Sebab itu, terhadap para pelukis yang sudah malang-melintang, ikut dalam pameran Me-rupa-kan Ampas Kopi menjadi semacam fenomena filsafat: di mana bobot pengalaman mereka dihadirkan dalam ajang ini?

Masyarakat awan tentu akan sangat kagum, ampas kopi dapat diubah menjadi lukisan yang layak dipanjang di ruang tamu rumahnya. Di sini, yang bermain adalah selera publik yang dibentuk oleh minim pengalaman atas estetika seni rupa. Nmaun, kekaguman masyarakat awam tidak ada kaitannya dengan bobot kehadiran seni rupa. Cat minyak, arang, akrilik, cat air, pensil, tanah, kopi, darah, dan lain-lain bisa dipahami pada tingkat permainan media dengan ragam perluasan kemungkinan estetik dari konvensi yang ada. Artinya, persoalan materi dalam seni rupa tidak terlalu mempengaruhi kualitas estetika seni, karena semua itu hanya persoalan media.

Pascamunculnya dadaisme di Barat, apa pun dapat menjadi media dan apa pun adalah media. Koko Bae di Palembang melukis dengan darah, tak berbeda dengan pelukis yang melukis dengan kopi. Yang paling pokok bukan darah atau kopi, tetapi bagaimaa otoritas si seniman yang berfilsafat dengan materi-materi seni rupa itu.

Dalam hal inilah setiap pelukis perlu menyadari bahwa seni rupa bukan sekadar wahana untuk mengekspresikan egosentrisme sempit guna menciptakan monumen-monumen estetik paripurna, melainkan terjemahan langsung dari kegiatan si seniman di tengah masyarakatnya. Sebab itu, seni rupa harus menjadi sebuah perayaan atas ragam kemungkinan dari berbagai persoalan yang berlangsung di lingkungan si seniman, sehingga bisa dipahami bagaimana otorisasi si seniman dalam menyikapi persoalan-persoalan tersebut.

Dalam konteks inilah kedelapan pelukis mestinya bisa mengambil posisi sebagai orang yang berfilsaat dengan bahasa rupa. Apakah mereka akan memberikan pemahaman filsafat atas ampas kopi, sehingga otoritas mereka sebagai seniman menjadi begitu dikenang masyarakat, ataukah mereka tidak lebih bagus dari sekumpulan anak-anak yang baru saja mengikuti lomba mewarnai di halaman rumah dinas Gubernur Lampung?

Ada banyak kemungkinan dari ampas kopi yang bisa dikedepankan sehingga tak sekadar sebagai materi lukis.

* Budi P. Hatees, Esais, tinggal di Depok

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 April 2008

Khazanah: Kebudayaan Lampung Beban bagi Masyarakat

-- Budi P Hatees*

ADA banyak fakta yang bisa dikedepankan untuk menyimpulkan bahwa masyarakat Lampung (ulun Lampung) bersama kebudayaan warisan leluhur budayanya berada pada masa transisi dari kejatuhannya sebagai penata kebudayaan nasional.

Citra kebudayaan Lampung memperlihatkan sosoknya yang paling ironis karena para penganutnya merasa tidak nyaman dengan identitas yang mereka sandang, dan karenanya identitas kebudayaan daerah yang satu ini tidak lagi terjaga dan terpelihara. Dengan begitu, keberlangsungan hidup kebudayaan ini sangat diragukan, apalagi para penganut kebudayaan ini tidak memiliki kesadaran untuk melestarikannya, setidaknya tidak hanya menjaga keaslian tradisi yang diwariskan leluhur budayanya.

Jika kebudayaan mengandalkan tradisi, keberlangsungan kebudayaan Lampung akan terjaga, tetapi tidak ada jaminan berkembang lebih lanjut. Sementara itu, dinamika kehidupan memperlihatkan sosoknya yang dinamis, yang mengharuskan setiap penganut kebudayaan tidak hanya mengandalkan tradisi dalam menyikapi peradaban. Setiap penganut kebudayaan harus memerhatikan pentingnya reformasi agar tidak terjadi resistensi, bahkan penolakan dari tradisi itu sendiri.

Tidak memberi rasa nyaman


Tesis ini terkesan sebuah prasangka, tetapi menurut Ignas Kelden, kebudayaan tidak bisa dibicarakan tanpa pengaruh yang kuat dari prasangka karena sifat kebudayaan yang paling mudah untuk ditandai ialah selalu menjadi sebuah apriori bagi setiap orang. Di sinilah letak persoalan kebudayaan Lampung, ulun Lampung merasa tidak nyaman dengan identitas yang mereka miliki sehingga tidak merasa perlu menjadikan nilai-nilai kebudayaan itu sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari.

Penyebabnya bisa dilacak dari faktor sejarah kebudayaan Lampung. Nilai-nilai kebudayaan itu tidak pernah berlaku universal bagi seluruh ulun Lampung karena kebudayaan Lampung tumbuh dari atau dan membentuk dua lingkungan yang saling bertolak belakang. Hilman Hadikusuma, budayawan Lampung, mendefinisikan ulun Lampung sebagai orang Lampung asli yang asal-usul keturunannya dari zaman Tulangbawang dan Skala Brak, yang berbahasa dan beradat Lampung.

Dari definisi itu, kita bisa melihat bahwa di Lampung dikenal dua kultur dan memiliki dialek bahasa masing-masing. Perbedaan kultur itu terjadi dalam hal adat-istiadat dan sistem sosial masyarakatnya sehingga Lampung disebut juga dengan nama Sang Bumi Ruwa Jurai--bumi kediaman mulia dari dua golongan masyarakat yang berbeda asal usul. Ullun Lappung sebagai masyarakat adat dibedakan dalam dua kelompok budaya, pepadun dan peminggir (saibatin).

Apa yang dimaksud dengan masyarakat sulit mendefinisikannya. Soerjono Soekanto dan Soleman B Taneko memberi definisi masyarakat dengan melihat ciri-cirinya. Masyarakat terdiri dari manusia yang hidup bersama, yang secara teoritis berjumlah dua orang dalam ukuran minimalnya, dan mereka bergaul antara satu dan lainnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Mereka pun sadar bahwa hubungan di antara mereka merupakan satu kesatuan yang akan menghasilkan kebudayaan. Artinya, masyarakat merupakan suatu sistem, yakni sistem sosial. Sementara itu, suatu sistem merupakan suatu keseluruhan terangkai, yang mencakup unsur-unsur, bagian-bagian, konsistensinya, kelengkapan, dan konsepsi-konsepsi atau pengertian-pengertian dasarnya.

Tiap-tiap kelompok budaya Lampung diatur sistem sosial masing-masing. Sistem sosial menunjuk pada suatu keseluruhan terangkai, menyangkut hubungan antara manusia dan kelompok, yang tercakup dalam pengertian interaksi sosial. Setiap manusia memiliki apa yang dimaksud dengan perilaku, yakni suatu totalitas dari gerak motoris, persepsi, dan fungsi kognitif dari manusia. Salah satu unsur dari perilaku adalah gerak sosial, yakni suatu gerak yang terikat oleh empat syarat, yakni diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, terjadi pada situasi tertentu, diatur kaidah-kaidah tertentu, dan terdorong oleh motivasi-motivasi tertentu.

Setiap gerak sosial merupakan suatu sistem yang mencakup subsistem budaya, subsistem sosial, subsistem kepribadian, dan subsistem organisme perilaku. Pembagian ulun Lampung ke dalam dua kelompok budaya bisa dipahami jika dilihat dari struktur sosialnya. Yang dimaksud dengan struktur sosial adalah pola-pola dari organisasi intern suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup segala hubungan antara anggota-anggota kelompok sosial tersebut beserta hubungan antara anggota-anggota dan kelompoknya. Lampung sebagai sebuah masyarakat memiliki struktur dan organisasi dengan genealogis yang tegas, faktor teritorial menjadi faktor yang sangat penting.

Menurut strukturnya, masyarakat Lampung merupakan masyarakat hukum adat yang bertingkat genealogis teritorial. Kepala adat yang merupakan kepala dari masyarakat hukumnya dinamakan penyimbang yang berarti pengganti. Kepenyimbangan seseorang bersifat sebagai kewarisan, putra sulung suatu keluarga yang mempunyai hak-hak istimewa.

Setiap lingkungan kebudayaan memiliki dimensi yang khas dan dapat dibedakan. Kedua kutub itu tercerai berai antara satu dan lainnya sehingga tidak ada kemungkinan terjadi dialektika. Para penganut kebudayaan yang berseberangan itu, dengan cara yang sangat ganjil dan tidak masuk akal, tidak pernah berupaya memikirkan, memperbaharui, dan membangun kebudayaan yang bisa diterima di setiap lapisan masyarakat.

Berharap pada konsep negara


Awalnya, konsep negara kebangsaan yang menawarkan cita-cita kebersamaan dan diwujudkan dalam pembentukan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Lampung diharapkan memberi dampak bagi terwujudnya sebuah nasionalisme dengan segala perbedaan menjadi larut di dalamnya. Kenyataannya, organisasi modern yang diperkenalkan lewat konsep pemerintah daerah menjadi pemicu utama menajamnya resistensi antardua kutub kebudayaan yang ada. Karena upaya mengintegrasikan keduanya tidak hanya tergantung kepada masyarakatnya, tetapi sangat terkait pada bentuk-bentuk interaksi sosial yang dibawa organisasi modern tersebut. Artinya, integrasi kedua kultur yang bertolak belakang hanya bisa diwujudkan jika terjadi perubahan pandangan dan sistem nilai (aspek kognitif dan normatif) bukan saja pada masyarakat, melainkan juga pada kalangan eksekutif pemerintah dan kaum politisi.

Dalam hal program pembangunan, misalnya, besarnya perhatian terhadap kultur pepadun oleh eksekutif pemerintahan signifikan dengan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan kampung tua (PPEK-KT) yang digulirkan Pemda Provinsi Lampung pada 2002. Program untuk mengatasi kesenjangan pembangunan di kampung tua (sebutan dalam program bagi kampung-kampung asli yang dihuni ulun Lampung) lebih banyak digulirkan untuk para penganut kultur pepadun. Program ini punya andil tidak sedikit dalam memodernisasi pola pikir ulun Lampung dengan memperkenalkan konsep-konsep demokrasi, meskipun risikonya semakin memiskinkan ulun Lampung yang tinggal di kampung-kampung tua dan menggiring mereka dalam perangkap kasus korupsi dana program tersebut.

Penyebabnya, partisipasi ulun Lampung yang digerakkan melalui Lembaga Musyawarah Masyarakat Adat (LMMA) tidak muncul seperti diharapkan, karena keberadaan mereka dalam program hanya sebagai pelengkap penderita. Rendahnya tingkat pemahaman tokoh-tokoh adat terhadap nilai-nilai demokrasi modern membuat posisi mereka dalam program hanya sebatas penyambung lidah para fasilitator program. Revitalisasi kelembagaan adat yang menjadi tujuan program tersebut hanya menyisakan fakta negatif sejumlah kasus korupsi dana program yang sampai kini masih mengendon dalam berkas-berkas kasus yang ditangani Kejaksaan Tinggi Lampung, tetapi tidak pernah ada keputusan karena melibatkan sekian banyak elite kebudayaan dan pemerintahan

Selain itu, PPEK-KT yang dijalankan dalam bentuk pemberian modal kerja bagi ulun Lampung untuk membuat usaha produktif skala rumah tangga itu tidak dibarengi dengan menciptakan pasar bagi seluruh hasil produksi tersebut. Program kurang memperhatikan pentingnya diferensiasi produk dan kualitas barang produksi sehingga banyak hasil produksi yang tidak laku di pasar karena tidak bisa bersaing dengan produk yang sudah ada sebelumnya. Sebagai contoh, usaha skala rumah tangga yang digerakkan dalam program tidak beranjak dari usaha kopi bubuk, keripik pisang, keripik singkong, sulam usus, sablon, percetakan, dan kerajinan tapis. Sementara itu, produk-produk tersebut telah diproduksi secara massal dengan kualitas dan kemasan yang jauh lebih bagus.

Itu sebabnya, kemiskinan yang terjadi di Lampung membuat provinsi ini menjadi daerah termiskin di Pulau Sumatra--di bawah posisi Provinsi Bangka Belitung. Sepuluh kabupaten/kota di Lampung, semuanya, menjadi penyumbang angka kemiskinan, bahkan ada tiga daerah yang masuk dalam klasifikasi rawan pangan. Dari penelitian Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL), kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal dan rawan pangan itu dominan dihuni ulun Lampung.

Fakta-fakta serupa ini punya andil besar untuk meruntuhkan rasa nyaman dalam diri ullun Lappung terhadap kebudayaannya. Akibatnya, jika terhadap kebudayaan lain yang tumbuh di Nusantara kita bisa menerapkan apa yang diungkapkan penyair Prancis, Rene Char, bahwa pada awalnya kebudayaan bagi kita adalah nasib, baru kemudian kita memanggulnya sebagai tugas, bagi ulun Lampung, kebudayaan bukanlah nasib dan bukan tugas. Kebudayaan bagi ullun Lappung adalah beban, sesuatu yang harus dilepaskan karena dapat menghambat ruang gerak sosial.

Alasan ini yang membuat bahasa Lampung tidak memberikan kenyamanan bagi pemiliknya, juga terhadap aksara Lampung. Bahasa Lampung hanya ditemukan dalam rumah tangga-rumah tangga ulun Lampung, tidak pernah terdengar di halaman rumah mereka. Di dalam pergaulan sehari-hari, ulun Lampung lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia.

Penolakan ulun Lampung dalam berbahasa Lampung sekaligus merupakan penolakan mereka terhadap kebudayaan Lampung.

* Budi P Hatees, peneliti pada Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung, dosen Universitas Sang Bumi Ruwah Jurai

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 6 April 2008