BANDAR LAMPUNG, RABU- Kantor Balai Bahasa Lampung berupaya mengembangkan bengkel sastra musikalisasi puisi sebagai cara alternatif mengapresiasi puisi. Upaya itu ditempuh untuk mewadahi minat dan kreativitas berkesenian generasi muda Lampung.
Kepala Kantor Bahasa Lampung Agus Sri Danardana, Rabu (13/2), mengatakan, puisi sebagai salah satu aliran sastra yang tidak begitu diminati sebelumnya hanya tampil konvensional melalui tampilan deklamasi atau pendramaan puisi. Dalam tiga tahun terakhir, kegiatan musikalisasi puisi sebagai cara lain mengapresiasi puisi baik dalam bentuk festival atau pertunjukan makin marak di Lampung.
"Yang menggembirakan, peserta atau pelaku musikalisasi puisi tersebut adalah siswa-siswa SMA se-Lampung. Banyaknya peserta siswa SMA menjadikan pengembangan musikalisasi di Lampung akan lebih panjang dan diharapkan bisa bertahan lama," katanya.
Dalam kurun waktu 2006-2007, para peserta SMA itu tidak hanya mengikuti festival, melainkan juga memenangi festival. Diantaranya Festival Musikalisasi Puisi tingkat provinsi, festival se-Sumatera, dan festival nasional. Dalam pandangan Agus Sri, potensi dan bakat berkesenian tersebut harus diwadahi supaya tidak putus.
Saat ini musikalisasi puisi yang diwadahi dalam bentuk bengkel sastra Kantor Bahasa Lampung tengah melatih 36 siswa SMA se-Lampung yang berminat pada musikalisasi puisi. Pelatihan selama tiga hari mulai Selasa (12/2) hingga Kamis (14/2) dilakukan bekerja sama dengan Deavies Sanggar Matahari yang merupakan penggiat musikalisasi puisi dari Jakarta. Selama pelatihan, para siswa mendapat gemblengan tentang musikalisasi puisi. (HLN)
Sumber: Kompas.com, Rabu, 13 Februari 2008
February 14, 2008
Siswa Enggan Pelajari Bahasa Indonesia
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Para siswa enggan mempelajari bahasa Indonesia. Selain dianggap sebagai bahasa sendiri, juga karena penyajian dan penyampaian materi pelajaran tersebut tidak menarik.
Demikian disampaikan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, M. Hum., di sela-sela Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2).
Akibat minimnya minat siswa mempelajari pelajaran tersebut, banyak siswa mendapatkan nilai minim di rapor pada mata pelajaran ini. "Ini kan lucu. Padahal bahasa sendiri, kenapa mereka mendapatkan nilai minim. Itu semua karena materi penyajiannya tidak menarik sehingga membuat siswa bosan untuk mempelajari pelajaran tersebut," ujar dia.
Yang lebih parah lagi pelajaran Sastra Indonesia. Para siswa sama sekali tidak berminat mempelajari pelajaran tersebut.
Siswa enggan mempelajari bahasa Indonesia dan sastra karena terlalu banyak difokuskan kepada keilmuan bukan bagaimana cara memanfaatkan bahasa san sastra tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Parahnya, sebagian besar guru Bahasa Indonesia enggan mengajarkan sastra kepada siswa. Bahkan, ujar dia, dalam pelajaran sastra yang disatukan pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, banyak guru yang enggan "menyentuh" dan justru menghindari pelajaran tersebut. Mereka berpikir yang berkompeten memberikan pelajaran sastra hanya sastrawan bukan guru Bahasa Indonesia.
Dengan demikian, banyak guru "terpaksa" mengajar sastra karena tuntutan kurikulum bukan atas dasar bagaimana meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap sebuah karya sastra. "Sebab itu, saat mengajar, mereka hanya mengajarkan memperkenalkan, seperti Sutan Takdir Alisyahbana (STA) sebagai angkatan Pujangga Baru, tanpa mencoba bagaimana mengapresiasi karya STA tersebut," ujar dia.
Sebab itu, pemikiran tersebut harus diubah. Dia mencontohkan pelatih sepak bola, belum tentu mereka seorang pemain sepak bola andal. Juga guru Matematika bukan harus mereka ahli matematika.
Untuk meruntuhkan benteng tersebut, kata dia, perlu diberikan penyegaran dan pelatihan para guru Bahasa Indonesia agar mampu meningkatkan apresiasi dan membuat cara jitu dan menarik saat mengajar sehingga siswa mencintai pelajaran tersebut. Supaya pelajaran tersebut dapat menarik siswa harus dikemas dengan baik. Seperti saat mengajar guru sambil bercerita atau diajarkan bagaimana cara membuat karangan, tulisan yang baik, puisi, cara mengapresiasi karya sastra, dan sebagainya.
Untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia, pihaknya juga akan menggalakkan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI) kepada para siswa. Tahun ini juga dijadikan sebagai Tahun Bahasa dan Sastra. "Tahun sebelumnya jika setiap bulan Oktober merupakan bulan bahasa, maka tahun ini dijadikan Tahun Bahasa dan Sastra. Tahun ini harus kita jadikan momentum meningkatkan kecintaan terhadap bahasa sendiri," ujar dia.
Selain itu untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap puisi, pihaknya menggelar musikalisasi puisi yang diikuti 36 peserta dari 6 SMA, yaitu SMAN 2, SMAN 4, SMAN 11, dan SMA Taman Siswa Bandar Lampung, SMAN 1 Natar, Lampung Selatan, dan SMAN 1 Seputih Agung, Lampung Tengah. n AST/S-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Demikian disampaikan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, M. Hum., di sela-sela Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2).
Akibat minimnya minat siswa mempelajari pelajaran tersebut, banyak siswa mendapatkan nilai minim di rapor pada mata pelajaran ini. "Ini kan lucu. Padahal bahasa sendiri, kenapa mereka mendapatkan nilai minim. Itu semua karena materi penyajiannya tidak menarik sehingga membuat siswa bosan untuk mempelajari pelajaran tersebut," ujar dia.
Yang lebih parah lagi pelajaran Sastra Indonesia. Para siswa sama sekali tidak berminat mempelajari pelajaran tersebut.
Siswa enggan mempelajari bahasa Indonesia dan sastra karena terlalu banyak difokuskan kepada keilmuan bukan bagaimana cara memanfaatkan bahasa san sastra tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Parahnya, sebagian besar guru Bahasa Indonesia enggan mengajarkan sastra kepada siswa. Bahkan, ujar dia, dalam pelajaran sastra yang disatukan pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, banyak guru yang enggan "menyentuh" dan justru menghindari pelajaran tersebut. Mereka berpikir yang berkompeten memberikan pelajaran sastra hanya sastrawan bukan guru Bahasa Indonesia.
Dengan demikian, banyak guru "terpaksa" mengajar sastra karena tuntutan kurikulum bukan atas dasar bagaimana meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa terhadap sebuah karya sastra. "Sebab itu, saat mengajar, mereka hanya mengajarkan memperkenalkan, seperti Sutan Takdir Alisyahbana (STA) sebagai angkatan Pujangga Baru, tanpa mencoba bagaimana mengapresiasi karya STA tersebut," ujar dia.
Sebab itu, pemikiran tersebut harus diubah. Dia mencontohkan pelatih sepak bola, belum tentu mereka seorang pemain sepak bola andal. Juga guru Matematika bukan harus mereka ahli matematika.
Untuk meruntuhkan benteng tersebut, kata dia, perlu diberikan penyegaran dan pelatihan para guru Bahasa Indonesia agar mampu meningkatkan apresiasi dan membuat cara jitu dan menarik saat mengajar sehingga siswa mencintai pelajaran tersebut. Supaya pelajaran tersebut dapat menarik siswa harus dikemas dengan baik. Seperti saat mengajar guru sambil bercerita atau diajarkan bagaimana cara membuat karangan, tulisan yang baik, puisi, cara mengapresiasi karya sastra, dan sebagainya.
Untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia, pihaknya juga akan menggalakkan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI) kepada para siswa. Tahun ini juga dijadikan sebagai Tahun Bahasa dan Sastra. "Tahun sebelumnya jika setiap bulan Oktober merupakan bulan bahasa, maka tahun ini dijadikan Tahun Bahasa dan Sastra. Tahun ini harus kita jadikan momentum meningkatkan kecintaan terhadap bahasa sendiri," ujar dia.
Selain itu untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap puisi, pihaknya menggelar musikalisasi puisi yang diikuti 36 peserta dari 6 SMA, yaitu SMAN 2, SMAN 4, SMAN 11, dan SMA Taman Siswa Bandar Lampung, SMAN 1 Natar, Lampung Selatan, dan SMAN 1 Seputih Agung, Lampung Tengah. n AST/S-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Seni: Musikalisasi Puisi Makin Berkembang
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Musikalisasi puisi di Indonesia makin berkembang, khususnya di daerah-daerah. Terbukti dengan diborongnya penghargaan festival musikalisasi puisi tingkat nasional di Jakarta beberapa waktu lalu, seluruh pemenangnya adalah siswa sekolah menengah atas (SMA) dari daerah.
Pimpinan Deavies Sanggar Matahari Jakarta, Fredie Arsi, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di sela-sela kegiatan Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2). Dia mengatakan awal berkembangnya seni musikalisasi puisi sekitar tahun 1990 lalu. "Saat itu pertama kali digelar Festival Musikalisasi Puisi untuk tingkat pelajar SMA yang diadakan Kantor Pusat Bahasa. Setelahnya kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya," kata Fredie.
Kemudian pada tahun 1994, Kantor Bahasa mengeluarkan program Bengkel Sastra di mana dilakukan semacam pelatihan bagi guru dan siswa yang semakin peduli mengembangkan musikalisasi puisi. "Barulah pada tahun 1999, Bengkel Sastra mulai didirikan di daerah seperti Medan, Semarang, Surabaya, dan Banjarmasin. Dan saat ini, hampir di seluruh provinsi di Indonesia sudah ada," ujar dia.
Kemudian oleh Balai Bahasa, program musikalisasi puisi semakin dikenalkan kepada pelajar di setiap daerah. "Meskipun musikalisasi puisi ini sudah ada sejak dulu dan berkembang dalam budaya kita seperti dari Aceh yang memiliki budaya bersyair. Atau budaya di Riau di mana saat akan menangkap madu juga melafalkan mantra seperti bentuk musikalisasi puisi," ujarnya.
Karena itu, perkembangan musikalisasi puisi bagi pelajar SMA di daerah berkembang dengan baik. "Selain juga terjalinnya hubungan yang baik antarpeserta dengan pelatih dan Kantor Bahasa. Sehingga makin memupuk rasa kedekatan emosional yang mendorong perkembangan musikalisasi puisi di daerah berjalan dengan baik," ujar dia. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Pimpinan Deavies Sanggar Matahari Jakarta, Fredie Arsi, mengemukakan hal tersebut saat ditemui di sela-sela kegiatan Pelatihan Musikalisasi Puisi untuk Pelajar SMA Provinsi Lampung yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2). Dia mengatakan awal berkembangnya seni musikalisasi puisi sekitar tahun 1990 lalu. "Saat itu pertama kali digelar Festival Musikalisasi Puisi untuk tingkat pelajar SMA yang diadakan Kantor Pusat Bahasa. Setelahnya kegiatan ini menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahunnya," kata Fredie.
Kemudian pada tahun 1994, Kantor Bahasa mengeluarkan program Bengkel Sastra di mana dilakukan semacam pelatihan bagi guru dan siswa yang semakin peduli mengembangkan musikalisasi puisi. "Barulah pada tahun 1999, Bengkel Sastra mulai didirikan di daerah seperti Medan, Semarang, Surabaya, dan Banjarmasin. Dan saat ini, hampir di seluruh provinsi di Indonesia sudah ada," ujar dia.
Kemudian oleh Balai Bahasa, program musikalisasi puisi semakin dikenalkan kepada pelajar di setiap daerah. "Meskipun musikalisasi puisi ini sudah ada sejak dulu dan berkembang dalam budaya kita seperti dari Aceh yang memiliki budaya bersyair. Atau budaya di Riau di mana saat akan menangkap madu juga melafalkan mantra seperti bentuk musikalisasi puisi," ujarnya.
Karena itu, perkembangan musikalisasi puisi bagi pelajar SMA di daerah berkembang dengan baik. "Selain juga terjalinnya hubungan yang baik antarpeserta dengan pelatih dan Kantor Bahasa. Sehingga makin memupuk rasa kedekatan emosional yang mendorong perkembangan musikalisasi puisi di daerah berjalan dengan baik," ujar dia. TYO/S-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Tokoh: Alhusniduki Hamim Berpulang ke Rahmatullah
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Mantan Rektor Universitas Lampung yang juga Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Wahana Raharja Alhusniduki Hamim, meninggal dunia di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Rabu (13-2) sekitar pukul 18.50 WIB.
Mantan Rektor Unila periode 1990--1998 itu mengidap kanker usus sejak tiga bulan lalu. Alhusniduki meninggalkan seorang istri, Hj. Dewi Sriyati dan 7 putra-putri.
Menurut Rudi Priya Jaya, menantu Alhusniduki, mertuanya masuk RS Dharmais sejak dua pekan lalu. "Masuk rumah sakit baru dua pekan. Kalau pengobatan sudah ada empat bulanan," ujar Rudi.
Tadi malam, jenazah Ketua Umum Dewan Pendidikan Lampung itu langsung dibawa ke Lampung. Hari ini (14-2), tokoh yang wafat dalam usia 69 tahun itu akan dimakamkan di Menggala, Tulangbawang. "Lokasi pastinya masih menunggu rembukan keluarga," ujar Rudi.
Alhusniduki menjabat rektor Unila selama delapan tahun. Almarhum menjadi PNS sejak 1961--2005. Pada 1978--1981, tokoh yang akrab disapa Pak Duki ini menjabat pembantu rektor (PR) I Unila.
Dekan Fakultas Ekonomi Unila dijabat 1985--1988, kemudian dikukuhkan sebagai rektor 1990--1998.
Terakhir, Duki menjabat direktur utama Perusahaan Daerah Wahana Raharja periode 2005--2009.
Rektor Unila Prof. Sugeng P. Hariyanto dan civitas academica Unila sangat kehilangan dengan kepulangan cendekiawan muslim itu. Menurut rencana, Unila melakukan upacara khusus sebelum pemakaman.
"Kami sudah mengutus PR II untuk meminta kepada keluarga beliau agar Pak Duki dapat disemayamkan di Unila. Kami akan menggelar upacara khusus jika keluarga mengizinkan," kata Sugeng, tadi malam.
Direktur Umum PD Wahana Raharja Ferdi Gunsan mengatakan Alhusniduki tidak aktif sebagai dirut sejak November lalu. "Beliau menjalani pengobatan ke Tokyo, Jepang," ujar Plt. Dirut PD Wahana Raharja itu.
"Bagi saya, Pak Duki itu tokoh besar, akademisi, dan seorang profesional yang membanggakan," ujar Ferdi.
Alhusniduki lahir di Menggala, 10 Desember 1939. Dia menamatkan Sekolah Rakyat pada 1953, SMP (1956), SMA (1959), sarjana muda ekonomi Universitas Sriwijaya (1963), dan sarjana ekonomi Unila (1968). Duki menyelesaikan master of agricultural development economics di Australian National University, Canberra, Australia (1977), master of science in agricultural economics, University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (1984), dan kandidat doktor IPB, Bogor (1985). n KIM/U-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Baca juga: Unila Dibangun oleh Pejuang
Mantan Rektor Unila periode 1990--1998 itu mengidap kanker usus sejak tiga bulan lalu. Alhusniduki meninggalkan seorang istri, Hj. Dewi Sriyati dan 7 putra-putri.
Menurut Rudi Priya Jaya, menantu Alhusniduki, mertuanya masuk RS Dharmais sejak dua pekan lalu. "Masuk rumah sakit baru dua pekan. Kalau pengobatan sudah ada empat bulanan," ujar Rudi.
Tadi malam, jenazah Ketua Umum Dewan Pendidikan Lampung itu langsung dibawa ke Lampung. Hari ini (14-2), tokoh yang wafat dalam usia 69 tahun itu akan dimakamkan di Menggala, Tulangbawang. "Lokasi pastinya masih menunggu rembukan keluarga," ujar Rudi.
Alhusniduki menjabat rektor Unila selama delapan tahun. Almarhum menjadi PNS sejak 1961--2005. Pada 1978--1981, tokoh yang akrab disapa Pak Duki ini menjabat pembantu rektor (PR) I Unila.
Dekan Fakultas Ekonomi Unila dijabat 1985--1988, kemudian dikukuhkan sebagai rektor 1990--1998.
Terakhir, Duki menjabat direktur utama Perusahaan Daerah Wahana Raharja periode 2005--2009.
Rektor Unila Prof. Sugeng P. Hariyanto dan civitas academica Unila sangat kehilangan dengan kepulangan cendekiawan muslim itu. Menurut rencana, Unila melakukan upacara khusus sebelum pemakaman.
"Kami sudah mengutus PR II untuk meminta kepada keluarga beliau agar Pak Duki dapat disemayamkan di Unila. Kami akan menggelar upacara khusus jika keluarga mengizinkan," kata Sugeng, tadi malam.
Direktur Umum PD Wahana Raharja Ferdi Gunsan mengatakan Alhusniduki tidak aktif sebagai dirut sejak November lalu. "Beliau menjalani pengobatan ke Tokyo, Jepang," ujar Plt. Dirut PD Wahana Raharja itu.
"Bagi saya, Pak Duki itu tokoh besar, akademisi, dan seorang profesional yang membanggakan," ujar Ferdi.
Alhusniduki lahir di Menggala, 10 Desember 1939. Dia menamatkan Sekolah Rakyat pada 1953, SMP (1956), SMA (1959), sarjana muda ekonomi Universitas Sriwijaya (1963), dan sarjana ekonomi Unila (1968). Duki menyelesaikan master of agricultural development economics di Australian National University, Canberra, Australia (1977), master of science in agricultural economics, University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (1984), dan kandidat doktor IPB, Bogor (1985). n KIM/U-1
Sumber: Lampung Post, Kamis, 14 Februari 2008
Baca juga: Unila Dibangun oleh Pejuang
February 12, 2008
Suoh Miliki Potensi Wisata Panas Bumi dan Danau
Bandarlampung, 12/2 (ANTARA) - Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat atau sekitar 250 Km dari Bandarlampung memiliki potensi wisata yang cukup bagus berupa panas bumi yang setiap saat airnya mengeluarkan gelembung dan letupan serta empat buah danau berukuran cukup luas.
Mantan Camat Suoh, Rusli Rasyid, mengatakan di Bandarlampung, Selasa (12/2), objek wisata itu terletak di Dusun Kalibata, Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, pada kedua tempat itu potensi panas bumi dan danau belum dikelola secara baik oleh pemerintah kabupaten setempat untuk dijadikan kawasan wisata.
Menurutnya kedua objek wisata itu sangat bagus dan jika dikelola secara baik oleh pemerintah setempat tidak mustahil turis lokal maupun mancanegara akan banyak yang datang untuk melihat keindahan alam di sana.
"Lokasi panas bumi dan danau berada di bawah pegunungan di sekitar kawasan antara hutan lindung dan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS)," katanya.
Ia menyebutkan ada sekitar belasan lubang berbentuk kolam, baik besar maupun kecil mengeluarkan gelembung air yang sedang mendidih dan mengeluarkan bunyi letupan-letupan kecil serta asap yang membumbung ke udara.
Bau belerangpun di sekitar kolam-kolam itu sangat menyengat hidung. Warga setempat banyak memberikan nama-nama di lokasi panas bumi tersebut seperti Keramikan, Pasirkuning, gunung goyang, dan nama lainnya.
Sementara di lokasi itu juga terdapat empat danau besar yang cukup indah, yakni Danau Asem, Danau Minyak, Danau Belibis, dan Danau Lebar.
Luas masing-masing danau bisa mencapai ratusan hektare, Danau Asem misalnya memiliki luas kurang lebih 160 ha.
Pengunjung objek wisata itu didominasi oleh warga sekitar sisanya dari kabupaten/kota lain serta turis dan peneliti asing.
Rendahnya kunjungan ke tempat itu akibat sarana dan prasarana jalan kurang baik. Jalan menuju kelokasi wisata itu tidak beraspal melainkan berbatu dan tanah merah.
"Kawasan ini masih terisolasi karena infrastrukturnya belum memadai," tambahnya.
Sementara itu beberapa kalangan juga menilai pemerintah setempat sepertinya kurang peduli dengan objek wisata cukup bagus itu.
"Objek wisata berupa panas bumi sangat jarang ditemui bahkan di dunia pun sangat sedikit," kata Rusli lagi.
Selain itu pemerintah setempat kurang melakukan promosi tentang objek wisata itu, sehingga wajar dunia luar tidak mengetahuinya.
"Turis asing mengetahui lokasi wisata panas bumi ini dari mulut-ke mulut temannya yang telah mengunjungi tempat itu lebih dahulu," katanya.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
Mantan Camat Suoh, Rusli Rasyid, mengatakan di Bandarlampung, Selasa (12/2), objek wisata itu terletak di Dusun Kalibata, Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, pada kedua tempat itu potensi panas bumi dan danau belum dikelola secara baik oleh pemerintah kabupaten setempat untuk dijadikan kawasan wisata.
Menurutnya kedua objek wisata itu sangat bagus dan jika dikelola secara baik oleh pemerintah setempat tidak mustahil turis lokal maupun mancanegara akan banyak yang datang untuk melihat keindahan alam di sana.
"Lokasi panas bumi dan danau berada di bawah pegunungan di sekitar kawasan antara hutan lindung dan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS)," katanya.
Ia menyebutkan ada sekitar belasan lubang berbentuk kolam, baik besar maupun kecil mengeluarkan gelembung air yang sedang mendidih dan mengeluarkan bunyi letupan-letupan kecil serta asap yang membumbung ke udara.
Bau belerangpun di sekitar kolam-kolam itu sangat menyengat hidung. Warga setempat banyak memberikan nama-nama di lokasi panas bumi tersebut seperti Keramikan, Pasirkuning, gunung goyang, dan nama lainnya.
Sementara di lokasi itu juga terdapat empat danau besar yang cukup indah, yakni Danau Asem, Danau Minyak, Danau Belibis, dan Danau Lebar.
Luas masing-masing danau bisa mencapai ratusan hektare, Danau Asem misalnya memiliki luas kurang lebih 160 ha.
Pengunjung objek wisata itu didominasi oleh warga sekitar sisanya dari kabupaten/kota lain serta turis dan peneliti asing.
Rendahnya kunjungan ke tempat itu akibat sarana dan prasarana jalan kurang baik. Jalan menuju kelokasi wisata itu tidak beraspal melainkan berbatu dan tanah merah.
"Kawasan ini masih terisolasi karena infrastrukturnya belum memadai," tambahnya.
Sementara itu beberapa kalangan juga menilai pemerintah setempat sepertinya kurang peduli dengan objek wisata cukup bagus itu.
"Objek wisata berupa panas bumi sangat jarang ditemui bahkan di dunia pun sangat sedikit," kata Rusli lagi.
Selain itu pemerintah setempat kurang melakukan promosi tentang objek wisata itu, sehingga wajar dunia luar tidak mengetahuinya.
"Turis asing mengetahui lokasi wisata panas bumi ini dari mulut-ke mulut temannya yang telah mengunjungi tempat itu lebih dahulu," katanya.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
VLY 2009: Lampung Aktifkan Polisi Pariwisata
Bandarlampung, 12/2 (ANTARA) - Kepolisian Daerah (Polda) Lampung mengaktifkan kembali polisi pariwisata guna menunjang Visit Indonesia Year (VIY) 2008 dan Visit Lampung Year (VLY) 2009.
"Kita akui, kegiatan pariwisata di Lampung tidak sesibuk seperti di Bali atau Jogja, namun ada dua agenda nasional setiap tahun yakni Festival Krakatau dan Festival Way Kambas," kata Kapolda Lampung Brigjen Suharijono K, di Bandarlampung, Selasa (12/2).
Karena itu, lanjut dia, polisi pariwisata yang sudah ada akan dioptimalkan guna menunjang kegiatan tersebut, termasuk menunjang program pemerintah yakni VIY 2008 dan VLY 2009.
Ia menjelaskan, terkait VIY 2008 dan VLY 2009, sudah menyusun rencana pengamanan dan menyiapkan petugasnya.
Terkait kekhawatiran pemilik tempat usaha hiburan dengan kerapnya razia, Kapolda menjamin jika lokasi tersebut memang aman dan tidak disalahgunakan maka tidak akan dirazia.
"Razia ke tempat hiburan karena modus operandi penyalahgunaan narkoba menggunakan tempat-tempat tersebut. Apalagi, pada dasarnya dimana pun tempat jika ditengarai ada kegiatan pelanggaran akan dilakuan operasi," katanya.
Namun, ujar Kapolda Lampung itu, jajarannya tidak akan setiap saat merazia tempat hiburan, karena bisa mengganggu kenyamanan tamu, sehingga razia dilaksanakan tetap dalam koridor kewajaran.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
"Kita akui, kegiatan pariwisata di Lampung tidak sesibuk seperti di Bali atau Jogja, namun ada dua agenda nasional setiap tahun yakni Festival Krakatau dan Festival Way Kambas," kata Kapolda Lampung Brigjen Suharijono K, di Bandarlampung, Selasa (12/2).
Karena itu, lanjut dia, polisi pariwisata yang sudah ada akan dioptimalkan guna menunjang kegiatan tersebut, termasuk menunjang program pemerintah yakni VIY 2008 dan VLY 2009.
Ia menjelaskan, terkait VIY 2008 dan VLY 2009, sudah menyusun rencana pengamanan dan menyiapkan petugasnya.
Terkait kekhawatiran pemilik tempat usaha hiburan dengan kerapnya razia, Kapolda menjamin jika lokasi tersebut memang aman dan tidak disalahgunakan maka tidak akan dirazia.
"Razia ke tempat hiburan karena modus operandi penyalahgunaan narkoba menggunakan tempat-tempat tersebut. Apalagi, pada dasarnya dimana pun tempat jika ditengarai ada kegiatan pelanggaran akan dilakuan operasi," katanya.
Namun, ujar Kapolda Lampung itu, jajarannya tidak akan setiap saat merazia tempat hiburan, karena bisa mengganggu kenyamanan tamu, sehingga razia dilaksanakan tetap dalam koridor kewajaran.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
Hak Anak dan Budaya Lampung akan Diatur dalam Perda
Bandarlampung, 12/2 (ANTARA) - Pemerintah Daerah Provinsi Lampung tengah membahas sembilan rancangan peraturan daerah, diantaranya pelayanan terhadap hak anak, pemeliharaan budaya Lampung dan retribusi penggantian biaya administrasi.
Wakil Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu, di Bandarlampung, Selasa (12/1), mengatakan, perda tersebut dibentuk dalam rangka menyelenggarakan kewajiban pemerintah daerah, khususnya di bidang sosial kemasyarakatan, budaya, dan pelayanan terhadap masyarakat.
Ia menjelaskan, raperda tentang pelayanan terhadap hak-hak anak dan
pemeliharaan kebudayaan Lampung itu merupakan objek baru yang belum pernah diatur sebelumnya di daerah lain dalam bentuk peraturan daerah.
"Pertimbangan pembentukan perda tersebut yakni dalam rangka penyelenggaraan kewajiban pemerintah daerah khususnya di bidang sosial kemasyarakatan dan budaya," kata dia.
Selain itu, agar pelayanan dan upaya perlindungan terhadap hak-hak anak dapat lebih terjamin dan kebudayaan Lampung dapat lebih tergali, terpelihara dan dapat dikembangkan secara optimal, terkoordinasi, berdayaguna dan berhasilguna yang akan menambah khasanah budaya nasional.
Kesembilan raperda tersebut yakni pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi penjualan produksi usaha daerah, retribusi penggantian biaya administrasi.
Kemudian, retribusi pelayanan tera, tera ulang dan kalibrasi alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya serta pengujian barang dalam keadaan terbungkus.
Selain itu adalah Raperda penyertaan modal daerah pada perseroan terbatas, pelayanan terhadap hak-hak anak, dan pemeliharaan kebudayaan Lampung.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
Wakil Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu, di Bandarlampung, Selasa (12/1), mengatakan, perda tersebut dibentuk dalam rangka menyelenggarakan kewajiban pemerintah daerah, khususnya di bidang sosial kemasyarakatan, budaya, dan pelayanan terhadap masyarakat.
Ia menjelaskan, raperda tentang pelayanan terhadap hak-hak anak dan
pemeliharaan kebudayaan Lampung itu merupakan objek baru yang belum pernah diatur sebelumnya di daerah lain dalam bentuk peraturan daerah.
"Pertimbangan pembentukan perda tersebut yakni dalam rangka penyelenggaraan kewajiban pemerintah daerah khususnya di bidang sosial kemasyarakatan dan budaya," kata dia.
Selain itu, agar pelayanan dan upaya perlindungan terhadap hak-hak anak dapat lebih terjamin dan kebudayaan Lampung dapat lebih tergali, terpelihara dan dapat dikembangkan secara optimal, terkoordinasi, berdayaguna dan berhasilguna yang akan menambah khasanah budaya nasional.
Kesembilan raperda tersebut yakni pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi penjualan produksi usaha daerah, retribusi penggantian biaya administrasi.
Kemudian, retribusi pelayanan tera, tera ulang dan kalibrasi alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya serta pengujian barang dalam keadaan terbungkus.
Selain itu adalah Raperda penyertaan modal daerah pada perseroan terbatas, pelayanan terhadap hak-hak anak, dan pemeliharaan kebudayaan Lampung.
Sumber: Antara, 12 Februari 2008
February 11, 2008
Udo Z. Karzi: Rebellious writer from Lampung
-- Oyos Saroso H.N., The Jakarta Post, Bandarlampung
WHEN Lampung literary figure Udo Z. Karzi was named as one of seven winners of the 2008 Rancage Literary Award, it surprised many customary leaders in his hometown of Lampung.
Udo Z. Karzi (JP/Oyos Saroso HN)
They found it hard to believe that a foundation from another province would recognize the work of a writer from Lampung, where the literary world and local language are hardly developed and even are under threat of extinction.
The awards were presented by the West Java-based Rancage Cultural Foundation in Bandung on Jan. 31 to seven people, including Udo, for their creative excellence as well as dedication to preserving local literary traditions.
On its 20th anniversary this year, Rancage gave the awards to Indonesian men and women who write in languages increasingly sidelined by modernization.
Udo Z. Karzi is the pen name of 37-year-old Zulkarnain Zubairi, a journalist who is also a literary figure.
Since 1999, the man, who was born in the West Lampung town of Liwa, has consistently gone against the grain by producing poetry in Lampung language.
One of his books, Mak Dawah Mak Dibingi (No Day and Night), saw him win the award, the brainchild of the chairman of the foundation's board, Ajip Rosidi.
When compiling his works into a book titled Momentum (Moment) back in 2002, Udo became a target of the customary leaders' anger. They believed his work depreciated the Lampung language since he was using the language used by common people, not the formal variety.
They insisted Lampung poetry have its own structure, which should not be violated. They also believed he failed to include Lampung's philosophical values, considered sacred by the customary leaders, in his works.
Through his works, Udo criticizes Lampung's tradition and custom, which he claims is responsible for the slow development of Lampung's literary world.
"Even I was criticized and became a target of people's anger ... I don't care," said the writer, who finished reading Sebatang Kara (On His Own), a novel by Hector Melot, when he was still a third-grader.
Receiving the award, he said, made him excited and nervous at the same time.
"I feel tense considering that the book, Mak Dawah Mak Dibingi, serves as an opening door to fight for Lampung's literary existence. After this, Lampung literary figures, who produce works in Indonesian, should try to produce their works in the Lampung language," he said.
He said the Rancage Literary Award he received should also encourage other Lampung literary figures, who are currently spellbound by oral traditions, to write.
"At least, there should be a kind of resurrection of the Lampung literary world along with a growing confidence among Lampung language speakers that their language can also be stylish, modern and be used as media for creative-imaginative work just like other languages, such as the Sundanese, Javanese and Balinese languages."
Udo said he became tired of trying to publish a compilation of his poetry, as he was continuously rejected by publishers who claimed that Lampung people were not aware of his poetry style.
"I was surprised by these rejections. If poetry written in Javanese, Sundanese and Balinese languages could get published, why can't those in the Lampung language? Fortunately for me, I met 'crazy people' who were willing to publish my work," he said.
He added, however, it would be difficult to develop Lampung's literary world since most young people in Lampung could not speak the language.
"If young Lampung people can not even speak the language, it will be hard for them to write it," he said.
The present reality is, he said, many people turn to Lampung oral traditions, with training even provided on the trend.
"I have no objection to the trend but I regret that many Lampung artists are deeply involved in oral traditions. There are those who have documented the oral traditions into recordings or books but the Lampung literary tradition still gets nowhere.
"With these concerns in mind, I write in the Lampung language in a hope the language will not become completely lost," said the father of one.
Another factor he believed was responsible for diminishing Lampung literary works was the absence of media, such as newspapers or magazines, which carry such works.
"Lampung language is different to Javanese, Sundanese or Balinese languages, which flourished due to the media that publish literary works in those languages.
"In Lampung alone, only 15 percent of some seven million people still speak the language. This is the main problem in developing the Lampung language and literary world," he said.
Aside from getting his work published, Udo has also turned to the Internet, creating his own blog (www.udozkarzi.blogspot.com), which showcases his works and thoughts, all in the Lampung language.
"If Lampung language becomes extinct, at least my writing on the blog can serve as a work of Lampung language that remains."
As of this year, the Rancage Foundation will regularly award literary works in four local languages - Sundanese, Javanese, Balinese and Lampung.
"In another words, there is no excuse. Lampung should publish its own literary books, or at least one book a year. This is good news for Lampung writers and is a big challenge."
Sumber: The Jakarta Post, February 11, 2008
WHEN Lampung literary figure Udo Z. Karzi was named as one of seven winners of the 2008 Rancage Literary Award, it surprised many customary leaders in his hometown of Lampung.
Udo Z. Karzi (JP/Oyos Saroso HN)They found it hard to believe that a foundation from another province would recognize the work of a writer from Lampung, where the literary world and local language are hardly developed and even are under threat of extinction.
The awards were presented by the West Java-based Rancage Cultural Foundation in Bandung on Jan. 31 to seven people, including Udo, for their creative excellence as well as dedication to preserving local literary traditions.
On its 20th anniversary this year, Rancage gave the awards to Indonesian men and women who write in languages increasingly sidelined by modernization.
Udo Z. Karzi is the pen name of 37-year-old Zulkarnain Zubairi, a journalist who is also a literary figure.
Since 1999, the man, who was born in the West Lampung town of Liwa, has consistently gone against the grain by producing poetry in Lampung language.
One of his books, Mak Dawah Mak Dibingi (No Day and Night), saw him win the award, the brainchild of the chairman of the foundation's board, Ajip Rosidi.
When compiling his works into a book titled Momentum (Moment) back in 2002, Udo became a target of the customary leaders' anger. They believed his work depreciated the Lampung language since he was using the language used by common people, not the formal variety.
They insisted Lampung poetry have its own structure, which should not be violated. They also believed he failed to include Lampung's philosophical values, considered sacred by the customary leaders, in his works.
Through his works, Udo criticizes Lampung's tradition and custom, which he claims is responsible for the slow development of Lampung's literary world.
"Even I was criticized and became a target of people's anger ... I don't care," said the writer, who finished reading Sebatang Kara (On His Own), a novel by Hector Melot, when he was still a third-grader.
Receiving the award, he said, made him excited and nervous at the same time.
"I feel tense considering that the book, Mak Dawah Mak Dibingi, serves as an opening door to fight for Lampung's literary existence. After this, Lampung literary figures, who produce works in Indonesian, should try to produce their works in the Lampung language," he said.
He said the Rancage Literary Award he received should also encourage other Lampung literary figures, who are currently spellbound by oral traditions, to write.
"At least, there should be a kind of resurrection of the Lampung literary world along with a growing confidence among Lampung language speakers that their language can also be stylish, modern and be used as media for creative-imaginative work just like other languages, such as the Sundanese, Javanese and Balinese languages."
Udo said he became tired of trying to publish a compilation of his poetry, as he was continuously rejected by publishers who claimed that Lampung people were not aware of his poetry style.
"I was surprised by these rejections. If poetry written in Javanese, Sundanese and Balinese languages could get published, why can't those in the Lampung language? Fortunately for me, I met 'crazy people' who were willing to publish my work," he said.
He added, however, it would be difficult to develop Lampung's literary world since most young people in Lampung could not speak the language.
"If young Lampung people can not even speak the language, it will be hard for them to write it," he said.
The present reality is, he said, many people turn to Lampung oral traditions, with training even provided on the trend.
"I have no objection to the trend but I regret that many Lampung artists are deeply involved in oral traditions. There are those who have documented the oral traditions into recordings or books but the Lampung literary tradition still gets nowhere.
"With these concerns in mind, I write in the Lampung language in a hope the language will not become completely lost," said the father of one.
Another factor he believed was responsible for diminishing Lampung literary works was the absence of media, such as newspapers or magazines, which carry such works.
"Lampung language is different to Javanese, Sundanese or Balinese languages, which flourished due to the media that publish literary works in those languages.
"In Lampung alone, only 15 percent of some seven million people still speak the language. This is the main problem in developing the Lampung language and literary world," he said.
Aside from getting his work published, Udo has also turned to the Internet, creating his own blog (www.udozkarzi.blogspot.com), which showcases his works and thoughts, all in the Lampung language.
"If Lampung language becomes extinct, at least my writing on the blog can serve as a work of Lampung language that remains."
As of this year, the Rancage Foundation will regularly award literary works in four local languages - Sundanese, Javanese, Balinese and Lampung.
"In another words, there is no excuse. Lampung should publish its own literary books, or at least one book a year. This is good news for Lampung writers and is a big challenge."
Sumber: The Jakarta Post, February 11, 2008
Kepurbakalaan: Museum Ruwa Jurai Kunjungi 150 Desa
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Museum Ruwa Jurai Provinsi Lampung akan mengunjungi 150 desa di kabupaten dan kota yang banyak memiliki benda cagar budaya.
Kepala Museum Ruwai Jurai Pulung Swandaru mengatakan di Bandar Lampung, Minggu (10-2), program kunjungan itu diberi label Museum Masuk Desa mulai tahun ini.
"Kami akan mengunjungi 150 desa dari seluruh daerah kabupaten dan kota, selain Bandar Lampung dan Way Kanan. Yang menjadi prioritas, adalah desa di Tulangbawang, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Selatan, dan Tanggamus," kata Pulung.
Dipilihnya lima kabupaten tersebut sebgai prioritas karena kelimanya banyak memiliki benda cagar budaya dan masih dimiliki masyarakat. "Terutama di Lampung Timur dan Tanggamus, banyak benda-benda cagar budaya yang dimiliki masyarakat, baik berupa bahan tekstil, logam, batu, dan lainnya."
Di Lampung Timur dan Tanggamus banyak memiliki situs bersejarah yang telah dibuka. "Memang, kini baru dilakukan survei ke desa-desa tersebut. Penyelenggaraannya diperkirakan sekitar Maret atau April," ujarnya.
Target yang diinginkan dari kegiatan Museum Masuk Desa tersebut adalah didapatkan kain-kain kuno yang masih dimiliki warga. Kini banyak masyarakat luar Lampung memiliki kain-kain kuno asal Lampung. Seperti Australia, Jakarta, serta negara dan daerah lain.
Begitu juga dengan berbagai senjata tradisional Lampung dan baju besi, yang konon digunakan tentara kerajaan yang ada di Lampung, dan naskah kuno baik di lempengan logam, lontar, atau situs batu. Secara kebiasaan, masyarakat Lampung termasuk suku yang sangat hati-hati melepas barang pusaka karena takut tertulah atau terputus trah-nya. Namun, berbeda ketika mereka diimingi banyak uang dari orang luar, akhirnya banyak barang kuno itu berpindah tangan.
Dia mengatakan dengan kegiatan ini masyarakat diharapkan memiliki pengetahuan tentang benda cagar budaya dan kemudian merawat serta menjaganya dengan baik. "Paling tidak mereka memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara merawat benda cagar budaya itu, walaupun mereka memiliki pengetahuan secara tradisional tentang cara merawat benda tersebut. Lebih baik lagi, jika mereka mau menyerahkannya ke museum untuk dirawat.
"Kini museum memiliki sekitar 4.500 koleksi dan yang terpajang hanya 2.000. Pemajangan bagi masyarakat pun dilakukan bergantian," kata dia. n TYO/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 11 Februari 2008
Kepala Museum Ruwai Jurai Pulung Swandaru mengatakan di Bandar Lampung, Minggu (10-2), program kunjungan itu diberi label Museum Masuk Desa mulai tahun ini.
"Kami akan mengunjungi 150 desa dari seluruh daerah kabupaten dan kota, selain Bandar Lampung dan Way Kanan. Yang menjadi prioritas, adalah desa di Tulangbawang, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Selatan, dan Tanggamus," kata Pulung.
Dipilihnya lima kabupaten tersebut sebgai prioritas karena kelimanya banyak memiliki benda cagar budaya dan masih dimiliki masyarakat. "Terutama di Lampung Timur dan Tanggamus, banyak benda-benda cagar budaya yang dimiliki masyarakat, baik berupa bahan tekstil, logam, batu, dan lainnya."
Di Lampung Timur dan Tanggamus banyak memiliki situs bersejarah yang telah dibuka. "Memang, kini baru dilakukan survei ke desa-desa tersebut. Penyelenggaraannya diperkirakan sekitar Maret atau April," ujarnya.
Target yang diinginkan dari kegiatan Museum Masuk Desa tersebut adalah didapatkan kain-kain kuno yang masih dimiliki warga. Kini banyak masyarakat luar Lampung memiliki kain-kain kuno asal Lampung. Seperti Australia, Jakarta, serta negara dan daerah lain.
Begitu juga dengan berbagai senjata tradisional Lampung dan baju besi, yang konon digunakan tentara kerajaan yang ada di Lampung, dan naskah kuno baik di lempengan logam, lontar, atau situs batu. Secara kebiasaan, masyarakat Lampung termasuk suku yang sangat hati-hati melepas barang pusaka karena takut tertulah atau terputus trah-nya. Namun, berbeda ketika mereka diimingi banyak uang dari orang luar, akhirnya banyak barang kuno itu berpindah tangan.
Dia mengatakan dengan kegiatan ini masyarakat diharapkan memiliki pengetahuan tentang benda cagar budaya dan kemudian merawat serta menjaganya dengan baik. "Paling tidak mereka memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara merawat benda cagar budaya itu, walaupun mereka memiliki pengetahuan secara tradisional tentang cara merawat benda tersebut. Lebih baik lagi, jika mereka mau menyerahkannya ke museum untuk dirawat.
"Kini museum memiliki sekitar 4.500 koleksi dan yang terpajang hanya 2.000. Pemajangan bagi masyarakat pun dilakukan bergantian," kata dia. n TYO/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 11 Februari 2008
February 10, 2008
Khazanah: Syair Ringgok-Ringgok, Nyanyian Di Pesta Perkawinan
-- Anton Bae bin Yazid Amri bin Abdul Kohar*
SYAIR ringgok-ringgok merupakan peninggalan leluhur (puyang) masyarakat Komering, Sumatera Selatan, yang biasanya dinyanyikan dalam acara perkawinan (sebelum atau sesudah akad nikah), dimana para tetangga dan keluarga besar yang punya hajatan sedang berkumpul atau bertatap-tatap muka di dalam rumah, baik saat memasak di dapur, atau bercerita sebelum tidur di kamar, atau pada saat bercerita di ruang tamu.
Tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun itu, biasanya, didendangkan di tempat keluarga yang mengadakan hajatan perkawinan.
Bila dikategorikan sebagai bagian dari sastra tutur yang ada di Sumatera Selatan, syair ringgok-ringgok memiliki keunikan tersendiri, yaitu didendangkan secara bergantian. Ketika si penutur pertama merasa lelah, akan diganti oleh penutur berikutnya, begitu seterusnya tanpa ada rencana terlebih dahulu. Hampir sama dengan gayung bersambut dalam pantun, tetapi berbeda isi dan cara penyampaian.
Masih diperdebatan pengertian ringgok-ringgok tersebut. Ada yang mengatakan berasal dari bahasa Komering yaitu ghringgok yang artinya bergerak.
Pendapat itu bisa dibenarkan, karena biasanya dalam mendendangkan syair tersebut, si penutur dan si pendengar dalam posisi sedang duduk sambil memasak, atau sedang tidur (tidur ayam), atau sedang membersihkan rumah. Pada saat itu mereka dalam perasaan gembira, walaupun ada juga tangisan yang keluar dari keluarga yang mengadakan hajatan ketika mendengar syair tersebut, karena akan berpisah dengan saudara atau dengan anak kandungnya.
SEBENARNYA, apa yang ditawarkan dari syair yang mengalun seperti aliran Sungai Komering itu ---sungai yang bila musim hujan penuh dengan air, dan bila kemarau kering seperti padang pasir.
Syair itu mengandung unsur nasihat. Hanya saja pemilihan kata dan gaya bahasanya menggunakan bahasa satir. Biasanya, bila isinya berupa humor, maka akan terdengar tawa dan saling sahut-menyahut antar pendengar seakan mereka sedang menertawakan diri mereka. Sementara itu, apabila syair tersebut sedih, biasanya akan terjadi hujan air mata di dalam keluarga yang punya hajatan. Di sinilah letak keberhasilan syair tersebut, yaitu ketika ada respon dari si pendengar, baik tangis maupun tawa.
Dilihat dari isi dan cara penyampaian, ada tiga hal menarik dalam tradisi lisan itu. Pertama, syair itu diciptakan sesuai keadaan, dan biasanya langsung dikarang hari itu atau secara improvisasi oleh si yang menuturkan. Misalnya, penutur mengetahui bahwa acara pernikahan itu adalah perpisahan seorang ibu dengan anaknya yang akan menikah, yang dihibur adalah ibu. Atau mengenai adik yang menikah mendahului kakak perempuannya, yang dihibur adalah kakak. Misalnya jodohnya seharusnya si ini, kenapa dengan si itu. Si itu yang bakal dihibur atau bahkan disindir halus, agar dia berpikir jodoh itu ada di tangan Tuhan.
Salah satu contoh syair ringgok-ringgok dengan tema adik mendahului kakak (perempuan):
Dang da suya niai
Nyak haga kahwin mona
Redhoko nyak niai
Sambah sujudku munih
Jodohku ko wat rik kyai di hulu
Ku konalko rik niku dang niku maa pandai
Sija silindangku ju ko rik niku
Ghuai pelangkahku rik niai
Dang da niku miwang
Sodihmu sodihku munih.
(Janganlah kau marah ayuk/ mbak
Aku mau kawin dulu
Ridhokan aku
Sembah sujudku pula
Jodohku sudah ada, dengan kakak di ulu
Kukenalkan denganmu, jangan sampai tidak tahu
Ini selendang kuberikan padamu
Untuk pelangkahku dengan ayuk
Janganlah kau menangis
Sedihmu sedihku pula)
Kedua, syair ringgok-ringgok didendangkan tidak terpaku dimana tempat, kapan, dan alat apa yang digunakan. Baik di dapur pada saat memasak, di ruang tamu, di kamar, atau di halaman. Penutur sengaja mendendangkannya sebagai media hiburan, sebagai jeda atau pelepas sepi.
Ketiga, penutur syair tidak ditentukan siapa dan kapan dia mendendangkan. Biasanya, yang mendahului adalah orang tua yang mengerti (tidak dibedakan lelaki atau perempuan). Artinya, tradisi tersebut beranjak dari sebuah kesadaran, bukan atas perintah atau peraturan yang mengikat.
Terlepas dari semua itu, syair ringgok-ringgok adalah tradisi yang dipakai dalam adat Komering. Tradisi itu tidak akan digunakan di daerah lain. Walaupun yang punya hajatan adalah orang dari suku Komering, jika acara resepsi pernikahan tersebut di daerah lain, misalnya di daerah Pagaralam, tetap syair itu tidak akan dinyanyikan, karena ada perbedaan tradisi. Begitupun sebaliknya, bila acara diadakan di daerah Komering, maka syair itu akan dinyanyikan, sekalipun salah satu dari keluarga mempelai bukan dari suku Komering.
Banyak yang menarik dari tradisi perkawinan di daerah Komering, daerah yang dikenal dengan buah duku itu. Jika kita membukanya, seperti membaca koran, maka syair ringgok-ringgok hanya sebagian kecil dari tradisi Komering.
* Anton Bae bin Yazid Amri bin Abdul Kohar, pekerja seni
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 10 Februari 2008
SYAIR ringgok-ringgok merupakan peninggalan leluhur (puyang) masyarakat Komering, Sumatera Selatan, yang biasanya dinyanyikan dalam acara perkawinan (sebelum atau sesudah akad nikah), dimana para tetangga dan keluarga besar yang punya hajatan sedang berkumpul atau bertatap-tatap muka di dalam rumah, baik saat memasak di dapur, atau bercerita sebelum tidur di kamar, atau pada saat bercerita di ruang tamu.
Tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun itu, biasanya, didendangkan di tempat keluarga yang mengadakan hajatan perkawinan.
Bila dikategorikan sebagai bagian dari sastra tutur yang ada di Sumatera Selatan, syair ringgok-ringgok memiliki keunikan tersendiri, yaitu didendangkan secara bergantian. Ketika si penutur pertama merasa lelah, akan diganti oleh penutur berikutnya, begitu seterusnya tanpa ada rencana terlebih dahulu. Hampir sama dengan gayung bersambut dalam pantun, tetapi berbeda isi dan cara penyampaian.
Masih diperdebatan pengertian ringgok-ringgok tersebut. Ada yang mengatakan berasal dari bahasa Komering yaitu ghringgok yang artinya bergerak.
Pendapat itu bisa dibenarkan, karena biasanya dalam mendendangkan syair tersebut, si penutur dan si pendengar dalam posisi sedang duduk sambil memasak, atau sedang tidur (tidur ayam), atau sedang membersihkan rumah. Pada saat itu mereka dalam perasaan gembira, walaupun ada juga tangisan yang keluar dari keluarga yang mengadakan hajatan ketika mendengar syair tersebut, karena akan berpisah dengan saudara atau dengan anak kandungnya.
***
SEBENARNYA, apa yang ditawarkan dari syair yang mengalun seperti aliran Sungai Komering itu ---sungai yang bila musim hujan penuh dengan air, dan bila kemarau kering seperti padang pasir.
Syair itu mengandung unsur nasihat. Hanya saja pemilihan kata dan gaya bahasanya menggunakan bahasa satir. Biasanya, bila isinya berupa humor, maka akan terdengar tawa dan saling sahut-menyahut antar pendengar seakan mereka sedang menertawakan diri mereka. Sementara itu, apabila syair tersebut sedih, biasanya akan terjadi hujan air mata di dalam keluarga yang punya hajatan. Di sinilah letak keberhasilan syair tersebut, yaitu ketika ada respon dari si pendengar, baik tangis maupun tawa.
Dilihat dari isi dan cara penyampaian, ada tiga hal menarik dalam tradisi lisan itu. Pertama, syair itu diciptakan sesuai keadaan, dan biasanya langsung dikarang hari itu atau secara improvisasi oleh si yang menuturkan. Misalnya, penutur mengetahui bahwa acara pernikahan itu adalah perpisahan seorang ibu dengan anaknya yang akan menikah, yang dihibur adalah ibu. Atau mengenai adik yang menikah mendahului kakak perempuannya, yang dihibur adalah kakak. Misalnya jodohnya seharusnya si ini, kenapa dengan si itu. Si itu yang bakal dihibur atau bahkan disindir halus, agar dia berpikir jodoh itu ada di tangan Tuhan.
Salah satu contoh syair ringgok-ringgok dengan tema adik mendahului kakak (perempuan):
Dang da suya niai
Nyak haga kahwin mona
Redhoko nyak niai
Sambah sujudku munih
Jodohku ko wat rik kyai di hulu
Ku konalko rik niku dang niku maa pandai
Sija silindangku ju ko rik niku
Ghuai pelangkahku rik niai
Dang da niku miwang
Sodihmu sodihku munih.
(Janganlah kau marah ayuk/ mbak
Aku mau kawin dulu
Ridhokan aku
Sembah sujudku pula
Jodohku sudah ada, dengan kakak di ulu
Kukenalkan denganmu, jangan sampai tidak tahu
Ini selendang kuberikan padamu
Untuk pelangkahku dengan ayuk
Janganlah kau menangis
Sedihmu sedihku pula)
Kedua, syair ringgok-ringgok didendangkan tidak terpaku dimana tempat, kapan, dan alat apa yang digunakan. Baik di dapur pada saat memasak, di ruang tamu, di kamar, atau di halaman. Penutur sengaja mendendangkannya sebagai media hiburan, sebagai jeda atau pelepas sepi.
Ketiga, penutur syair tidak ditentukan siapa dan kapan dia mendendangkan. Biasanya, yang mendahului adalah orang tua yang mengerti (tidak dibedakan lelaki atau perempuan). Artinya, tradisi tersebut beranjak dari sebuah kesadaran, bukan atas perintah atau peraturan yang mengikat.
Terlepas dari semua itu, syair ringgok-ringgok adalah tradisi yang dipakai dalam adat Komering. Tradisi itu tidak akan digunakan di daerah lain. Walaupun yang punya hajatan adalah orang dari suku Komering, jika acara resepsi pernikahan tersebut di daerah lain, misalnya di daerah Pagaralam, tetap syair itu tidak akan dinyanyikan, karena ada perbedaan tradisi. Begitupun sebaliknya, bila acara diadakan di daerah Komering, maka syair itu akan dinyanyikan, sekalipun salah satu dari keluarga mempelai bukan dari suku Komering.
Banyak yang menarik dari tradisi perkawinan di daerah Komering, daerah yang dikenal dengan buah duku itu. Jika kita membukanya, seperti membaca koran, maka syair ringgok-ringgok hanya sebagian kecil dari tradisi Komering.
* Anton Bae bin Yazid Amri bin Abdul Kohar, pekerja seni
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 10 Februari 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)