March 2, 2008

Apresiasi: Bahasa dan Puisi Lampung (Untuk Buku 'Mak Dawah Mak Dibingi')

Oleh Asarpin*

AKHIRNYA setelah cukup lama ditunggu, terbit juga buku puisi Lampung. Pengarangnya, siapa lagi kalau bukan yang selama satu dekade terakhir ini kita kenal banyak menulis dengan bahasa dan idiom-idiom Lampung: Zulkarnain Zubairi atau Zul atau Udo Karzi. Saya lebih suka memanggilnya Karzi tanpa Udo karena agak bebas dari hierarki, lebih sugestif dan lebih terasa gestikulasi diksinya.

Buku analekta puisi Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam) memuat lima puluhan puisi yang ditulis dalam rentang waktu berbeda dan menampilkan tematik yang beragam. Pilihan judul kumpulan ini mirip salah satu lirik lagu Hiwang (lagu berlinang air mata) yang diiringi dengan gitar tunggal yang ditembangkan oleh Iwan Sagita. Dari segi tema dan gaya, tidak ada yang baru dari buku ini, kecuali bahasanya. Bahasa Lampung yang digunakan banyak ditakik dari bahasa lisan masyarakat Lampung pesisir dengan upaya untuk menjadikan keberaksaraan sebagai tujuan.

Karzi memang kerap kali bersemboyan seperti judul buku A. Teeuw: Kelisanan dan Keberaksaraan. Karzi belum merasa jadi sastrawan Lampung kalau berhenti hanya pada kelisanan tanpa melanjutkan dengan pengembaraan lewat keberaksaraan. Bukankah karya tulis tidak lain adalah memindahkan wadak kelisanan dalam bentuk tulisan? Semua bahasa tulis yang ada di dunia ini bermula dari bahasa lisan dan ribuan bahasa tulis kini masih dalam bentuk kelisanan. Terlampau menghamba pada tesis keberaksaraan akan menggiring kita justru menafikan kekayaan khazanah lisan nenek moyang kita dan menganggapnya seolah-olah karya kelas dua, padahal sastra lisan justru dikenal paling liar untuk bisa dijinakkan. Kalau sastra lisan sudah dituliskan, memang tak jarang akan terjinakkan, beku, mati. Namun, ya tulisan saja tidak usah mengklaim kita telah menjalankan titah keberaksaraan. Bukankah begitu?

Perubahan Bunyi

Menulis puisi dengan menggunakan bahasa Lampung ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Setidaknya, begitulah kesan saya sehabis membaca analekta puisi Karzi ini. Sekalipun kita tahu bahwa Karzi lahir sebagai orang Lampung dan sangat fasih berbahasa Lampung secara lisan, tapi bahasa tulisnya terasa masih mencari bentuk. Kalau Karzi sendiri yang sudah pengalaman menulis bahasa Lampung masih terasa kaku, apalagi yang tidak berpengalaman seperti saya dan kebanyakan orang Lampung.

Karzi bisa saja mendongeng secara lisan selama dua jam, tetapi ketika dituliskan, terasa mengalami banyak hambatan. Memang belum ada aturan baku tentang penulisan bahasa Lampung, apalagi untuk jenis puisi atau cerpen. Setiap orang yang ingin menulis harus meraba-raba sendiri dan mencari logat dan diksi yang menurut kita sesuai. Kelebihan Karzi, justru ia berani menerobos kebuntuan dan keragu-raguan dengan caranya sendiri. Salah satunya adalah mengubah secara total kh menjadi r, dalam arti mengubah bunyi. Bukankah puisi justru yang paling berhubungan dengan bunyi dan mengapa harus diubah?

Dalam buku puisi Lampung modern ini, Karzi tampaknya ingin menyuguhkan tata bahasa berikut niat melakukan "pembakuan" kosakata Lampung. Secara konsisten ia telah mengubah kata kh yang banyak dipungut orang Lampung dari Arab dan Persia itu menjadi huruf r yang sejak tahun 1980-an sering menjadi polemik di kalangan dosen Unila dan pemerhati sastra-budaya di Lampung. Tidak semua orang sepakat dengan perubahan yang dilakukan Karzi, lebih lagi jika teori semantik dan strukturalisme yang mengharamkan perubahan bunyi sekecil apa pun kita gunakan sebagai basis penilaian.

Ada segurat tanya yang terus muncul ketika saya membaca buku puisi ini: Siapakah sasaran pembaca yang dituju Karzi dalam buku puisi ini? Jika pembacanya adalah orang Lampung sendiri, dalam arti yang bisa bahasa Lampung, saya adalah orang Lampung pertama yang mengernyitkan kening saat membaca kumpulan puisi dengan kosakata Lampung yang seenaknya mengubah bunyi ini. Jika pembaca yang dituju tidak hanya orang Lampung, maka wajarlah jika perubahan kh menjadi r mesti dilakukan. Namun, apakah ada jaminan bahwa Susi, Damanhuri, Isbedy, Iswadi, Oyos Saroso HN, dan lain-lain., bisa menangkap artinya? Kalau juga tidak, untuk apa perubahan dilakukan?

Mempertahankan kata generik adalah penting, untuk menyusuri dari mana sumber kata itu berasal. Nenek moyang orang Lampung harus diakui banyak menyerap dari Arab dan Persia, dan wajar jika banyak kata kh sering kita dengar dalam penuturan dan penulisan. Ada banyak kosakata yang digunakan masyarakat Lampung yang diserap secara langsung dari Arab dan Persia nyaris tanpa perubahan sedikit pun. Dengan menampilkan apa adanya, para peneliti di kemudian hari tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk melakukan penelitian mengenai persinggungan kosakata Lampung dengan bahasa Arab dan Persia.

Bahasa Hibrid

Kita harus akui bahwa Karzi memang punya nyali yang tidak banyak dimiliki oleh penulis yang ingin menulis dengan bahasa ibunya. Dengan melakukan perubahan bunyi, Karzi terus menerabas kebuntuan. Dari segi bahasa, kosa kata yang digunakan kebanyakan berasal dari Lampung pesisir yang telah mengalami persentuhan dan asimilasi dengan bahasa lain. Nuansa bahasa Lampungnya mengajak kita untuk membuka diri dan menyesuaikan diri dengan cara bertanya. Kosakatanya tidak berambisi gagah-gagahan dan cukup kaya menghadirkan beberapa istilah antik dengan sentuhan kekinian. Hanya saja, sebagai genre puisi, beberapa kalimat masih belum bebas menari-nari dan belum terasa mengalir sebagaimana cerita lisan. Padanan kata atau logat yang digunakan pun belum begitu kaya.

Kosakata Lampung banyak berasal dari luar (terutama dari Campa, Khasi, Paluang). Beberapa kata berasal dari Campa misalnya: kata awi (bambu), jelatong (jelatang), punti/puti (pisang), langau (lalat besar), tabuan (tawon besar), dll. Kata bilangan (angka) yang digunakan orang Lampung merupakan campuran dari Melayu Sumatera dengan bahasa Campa, seperti bilangan telu (3), pitu (7), walu (8), siwa (9).

Lampung tidak mengenal kata tanya apa atau mana yang merupakan kata tanya dasar dalam bahasa Indonesia. Kata tanya yang digunakan orang Lampung Pesisir (atau dialek Api) berasal dari bahasa Khmer; avei, yang di Krui logatnya diambil penuh dari bahasa Khmer, yakni dipanjangkan dan tampak sangat medok: apei. Dalam bahasa Melawai dan bahasa Batak Karo kata ini berubah jadi apai (yang di Lampung artinya tikar). Bahasa Loda; ahai, dan Halmahera; pui. Sedangkan orang Lampung dialek Nyou atau o, banyak menyerap dari bahasa Palaung; mo, po. Bahasa Indonesia untuk kata tanya apa dan berapa, juga dipungut secara hibrid, yakni dari bahasa Khmer dan Palaung.

Sementara itu, kata kerja (tense) dalam bahasa Lampung lebih banyak menyerap dari Campa untuk kata payu (oke) yang dalam Campa ditulis padjau atau payuu. Kata mati dalam bahasa Melayu/Indonesia berasal dari bahasa Campa; matai, yang logatnya sama dengan yang digunakan masyarakat di Lampung Barat dan Lampung Timur. Kata penunjuk di sana dalam bahasa Lampung menjadi disan sama dengan yang digunakan masyarakat Batak Toba.

Demikian juga soal bunyi untuk menunjuk jarak dekat dan jarak jauh. Lampung tidak menyerap dari bahasa Melayu/Indonesia. Contoh: untuk penunjuk yang menggunakan i dan a di ujung untuk kata di sini (dekat) dan di sana (jauh), masyarakat Lampung menggunakan bunyi berbalik: dija (dekat), dudi (jauh) yang diambil dari bahasa Khasi yang keras. Untuk kata yang artinya tempat, orang Lampung menggunakan kata khang oleh Karzi diubah menjadi rang--yang diambil dari bahasa Palaung yang dilisankan dan ditulis oleh masyarakatnya sama dengan masyarakat Lampung, khang. Kalau diganti rang, maknanya sudah jauh berubah dan kesannya sangat taat asas pada perubahan bahasa Indonesia.

Pelacakan sumber semacam ini saya rujuk dari buku karya Slamet Muljana, Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara (Balai Pustaka, 1964), yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun kebudayaan di muka bumi ini yang bisa mengklaim bahasanya paling asli, paling murni, tanpa sentuhan dari unsur lain.

Begitu juga bahasa Lampung yang bagaimana pun berasal dari banyak sumber. Ini tidak masalah, dan tidak harus membuat orang Lampung menganggap tidak punya kebudayaan asli dan merasa rendah diri.

Apa yang agaknya menjadi masalah adalah dari mana masyarakat Lampung menyerap kata babai untuk jenis kelamin perempuan. Slamet Muljana tidak menyebutkan. Hanya mengatakan bahwa bahasa Campa menggunakan kata bibai dan binai yang berhubungan erat dengan nama binatang, tapi tidak menyebutkan binatang apa gerangan. Saya curiga binatang yang dimaksud adalah babi karena logat dan diksinya berdekatan. Jadi, babai di Lampung memang sering dicitrakan seperti babi, tidak layak dihargai, dianaktirikan, dinomorsepuluhkan, diperlakukan apa mau lelaki. Kalau ini benar, masyarakat Lampung jauh lebih diskriminatif dari masyarakat manapun juga dalam memandang perempuan.

Untuk kata bentuk ulangan, bahasa Lampung banyak menyerap dari Campa. Contoh, kata kucak-kacai (bertaburan), dalam bahasa Campa ditulis; khcat khcay . Begitu juga kata titarontos-titaroton dari kata trotes-troton (Campa). Demikian pula kata ulangan tandang-midang, hetak-hetoi, lintang-pukang, jelas dari Campa. Masyarakat Lampung menyebut jenis daun capa sama dengan bahasa Campa, yakni daun tjapa (ejaan lama) atau capa (ejaan baru).

Beberapa bentuk kata kerja pasif yang digunakan orang Lampung banyak menyerap dari Batak Dairi dan Palembang (terutama dari piagam Sriwijaya atau Piagam Talang Tuwo). Kata kerja pasif dengan indikator ni di awal-tengah-ujung, dengan pelaku orang pertama, mengambil dari Batak Dairi sekaligus Palembang. Contoh; ngenigelakh (Lampung), nigelarku (Palembang), nipepandenku (Batak Dairi). Kata pepadun di Lampung berasal dari Batak Dairi pepanden.

Lampung juga tidak mengenal dengan akrab aksara Kaganga yang selama ini diklaim sebagai aksara asli Lampung itu. Belum ada penelitian yang sungguh-sungguh mendasar dan bisa meyakinkan bahwa Lampung punya aksara murni; semua hanya klaim-klaim yang sempit. Saya pernah menanyakan kepada 20 orang tua yang masing-masing berada di Kota Agung, Padangratu Gedongtataan, Kedondong, Kelumbaian, Liwa, Lampung Timur (Maringgai dan Sukadana marga Subing), dan Menggala marga empat. Semua orang tua yang usianya di atas 75 tahun, bahkan datuk dari ibu saya yang kini usianya 89 tahun, tidak kenal aksara yang saya sodorkan dan saya bacakan.

Saya menduga (ini memang baru sebatas dugaan dan akan dilanjutkan penelitian) aksara Lampung hasil improvisasi atau hasil penerjemahan yang bersifat overinterpretasi (penerjemahan lebih dan mengambil alih) atau semacam asimilasi dari aksara Batak dan Bugis. Hanya sedikit perbedaan, hanya selisih beberapa huruf dan dielak dan logatnya.

* Asarpin, Pembaca Sastra, tinggal di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 Maret 2008


Telaah lebih lanjut baca (klik saja):

1. Peta Bahasa-Budaya Lampung


2. Bahasa dan Aksara Lampung

3. Standardisasi Bahasa Lampung

4. Standardisasi Bahasa Lampung, Beberapa Jawaban atas Tanggapan

5. Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung

6. Sastra Modern (Berbahasa) Lampung

Apresiasi: Meretas Dunia Kepenyairan Pelajar

LAMPUNG adalah negerinya para penyair. Karena di daerah ini bermunculan penyair-penyair baru yang bermunculan dengan karyanya yang mampu meramaikan kancah kepenyairan nasional sejak era 80-an hingga saat ini.

Tahun 1980-an merupakan masa keemasannya A.M. Zulkarnaen dan Isbedy Stiawan Z.S. Kemudian disusul Iwan Nurdaya Djafar, Syaiful Irba Tanpaka. Setelah itu, di era awal tahun 1990-an, muncul berbagai nama yang berasal dari kampus seperti Iswadi Pratama, A.J. Erwin, dan Panji Juperta Utama.

Kemudian dilanjutkan era 2000-an, merupakan masa kemunculan Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga. Lalu terdapat Lupita Lukman, Anton Kurniawan, Hendri Rosevelt, hingga yang terbaru adalah Fitriyani.

Namun ternyata meski banyak bermunculan nama-nama baru dalam kepenyairan di Lampung, pembelajaran akan dunia sastra terutama puisi bagi para pelajar masih sangat lemah. Sehingga dunia kepenyairan yang sepertinya sudah menjadi ikon bagi Lampung, sepertinya tidak tertularkan keilmuannya.

Hal ini paling tidak terlihat dari gelaran Pekan Seni Pelajar Lampung (Peksipel) yang baru saja usai pekan lalu, terutama lewat tangkai lomba penulisan puisi dan pembacaan puisi. Penyair perempuan, Inggit Putria Marga, usai melakukan penjurian lomba penulisan puisi mengemukakan pemahaman pelajar terhadap puisi masih sangat terbatas pada pengungkapan perasaan saja.

Dia mengatakan kondisi tersebut sangat terlihat dari karya-karya puisi yang dikirimkan para siswa. Kondisi ini, menurut Inggit, disebabkan karena guru bahasa Indonesia yang ada saat ini masih memiliki keterbatasan dalam melakukan sosialisasi terhadap dunia sastra terutama puisi dan metode penulisan puisi di sekolah.

"Secara kuantitas, jumlah peserta yang mengikuti lomba penulisan puisi ini sangat banyak karena mencapai jumlah ratusan karya. Namun memang bila berbicara kualitas, masih sangat jauh dari yang diharapkan," kata Inggit.

Bahkan pada umumnya, karya puisi para siswa yang diikutkan dalam perlombaan tersebut, masih terbatas pada pengungkapan perasaan yang dirasa para pelajar itu sendiri. "Karya mereka masih sangat telanjang dan sangat remaja. Diksi-diksi yang digunakan masih sangat verbal, bahkan kalau bisa dikatakan lebih mirip seperti curahan hati atau curhat."

Belum lagi bila itu berkaitan dengan susunan kalimat dan penggunaan kalimat yang masih sangat lemah sekali. "Tidak hanya terdapat pada pemilihan metafora terhadap karya yang diambil, tapi malahan kesalahan dasar bahasa banyak diketemukan. Misalnya masih bingungnya pelajar pada persoalan imbuhan, penempatan kata sifat dan benda, awalan yang kesemuanya masih sangat berantakan," ujar Inggit.

Padahal bila melihat dari kuantitas peserta, penulisan puisi mendapatkan apresiasi yang besar dari para pelajar. "Artinya pihak sekolah mesti melihat bahwa minat dari para pelajar dalam penulisan puisi yang lebih kreatif dan mengarah pada sastra lumayan besar. Sehingga dibutuhkan sosialisasi dan pembelajaran yang lebih terhadap dunia sastra terutama puisi lewat pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah."

Hal yang sama juga dikemukakan Iin Mutmainah, juri lomba baca puisi Peksipel. Dia mengatakan sangat miris saat melihat para peserta yang membacakan puisi. "Mengapa harus menjadi makhluk asing bahkan alien ketika membaca puisi. Padahal saat membacakan puisi, para pelajar lebih mengedepankan diri sendiri, tidak perlu menjadi orang lain."

Selain itu juga, dia melihat bahwa banyak pelajar yang malahan melakukan berbagai visualisasi atau gerakan untuk menggambarkan dari puisi yang dibawakan. "Padahal seharusnya masih ada ruang imajinasi yang mesti disisakan. Dan gerakan yang dilakukan para peserta saat membaca puisi seharusnya dilakukan dengan motivasi serta emosi yang terjalin haruslah tidak terputus," tambah Iin.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Edy Samudra Kertagama dan Christopan Dewansyah yang juga menjadi juri lomba membaca puisi. Keduanya masih melihat kelemahan hampir semua peserta yang mengikuti perlombaan karena masih merasa sangat asing dengan puisi terutama bahasa Indonesia. Sehingga penginterpretasian terhadap isi puisi tidak ada.

Dan ini tentu saja mendatangkan satu kemirisan tersendiri di tengah subur dan tumbuhnya para penyair, tetapi ternyata para anak muda yang seyogianya bisa menjadi penerus masa depan dunia kepenyairannya, ternyata masih sangat minim pengetahuannya. Sehingga diibaratkan ini bagaikan seekor tikus yang mati di dalam lumbung padi.

Peranan Dewan Kesenian

Namun, bila mau berbicara jujur, tentu saja persoalan keminiman pemahaman pelajar akan dunia sastra terutama puisi tidak hanya dilimpahkan kepada dewan guru. Terutama guru bahasa Indonesia ataupun guru kesenian di sekolah.

Sebab, para guru pun memiliki banyak tugas dan beban tersendiri. Di mana mereka harus mengajarkan apa yang sudah ada pada kurikulum pengajaran yang ada. Sehingga setiap mata ajar yang akan disampaikan, sudah diatur secara nasional. Tentunya ini menjadi persoalan tersendiri.

Apalagi ditambah dengan persoalan SDM yakni berkaitan dengan pengetahuan yang dimiliki para guru terhadap dunia kepenyairan yang sangat terbatas. Sehingga sangat wajar bila kemudian yang diajarkan kepada para siswa adalah apa yang diketahuinya tentang dunia sastra.

Terlebih bagi guru yang berasal dari daerah, kondisi ini semakin diperparah dengan sedikitnya akses dan informasi yang bisa didapat para guru. Sebab, sangat jarang adanya event seni budaya yang digelar yang bisa dijadikan ruang apresiasi bagi para guru bahasa Indonesia dan juga kesenian untuk menambah wawasan dan pengetahuannya, juga para pelajar tentunya.

Karena kondisi ini sangat berbeda dengan yang terjadi di Kota Bandar Lampung. Ruang akses begitu lebar terbentang karena begitu banyak event seni budaya bahkan hingga perlombaan yang banyak digelar. Sehingga para guru dan juga pelajar bisa mendapatkan ruang apresiasi yang sangat luas dan ini menjadi media pembelajaran yang sangat efektif tersendiri bagi para guru dan siswa. Makanya terlihat adanya perbedaan yang membentang antarkota dan daerah.

Dan inilah yang seharusnya coba diretas oleh Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang merupakan wadah para seniman Lampung berkumpul dan beraktivitas. Sehingga pemahaman akan dunia sastra oleh para pelajar dan guru terutama di daerah bisa berkembang, yang nantinya juga akan meningkatkan jumlah pengapresiasi dunia sastra itu sendiri, atau malah akan melahirkan para penayir-penyair masa depan.

Ini bisa dilakukan dengan menggelar semacam workshop yang ditujukan para guru dan pelajar dengan menghadirkan para seniman yang tentunya sangat mumpuni dan paham akan metode pengajaran, sehingga targetan yang akan dicapai bisa tercapai. Tentu saja, dalam pelatihan ataupun workshop juga dibarengi dengan dilakukannya pementasan pembacaan puisi yang menghadirkan penyair kaliber nasional misalnya, untuk memperlebar ruang apresiasi.

Namun hendaknya, workshop ataupun pelatihan ini tidak hanya dipandang oleh DKL sebatas program ataupun proyek an sich semata-mata. Sehingga pelaksanaanya sekenanya dan tidak kena sasaran. Karena dilakukan hanya sebatas melaksanakan program semata-mata saja apalagi untuk mencoba mengambil keuntungan semata-mata. Tapi kegiatan ini memang harus dilakukan dengan satu niatan tulus serta keinginan untuk membumikan dunia sastra terutama puisi di Lampung.

Atau juga dengan membentuk satu komunitas kecil yang bisa menjadi embrio bagi terbentuknya wadah bagi pelajar dan guru untuk belajar di daerah-daerah. Sebab ternyata cara ini sangat efektif untuk melahirkan rasa kecintaan dan keinginan untuk berinteraksi lebih intens dengan dunia kesusastraan. Sehingga siapa tahu, dari kelompok-kelompok kecil ini akan muncul para penyair besar yang kemudian akan membesarkan komunitas kecil tersebut menjadi sebuah kantung kesenian yang akan menyemarakan dunia seni di Lampung, juga nasional. Semoga. n TEGUH PRASETYO/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 Maret 2008

February 28, 2008

Pelestarian Budaya: SKL Desak DPRD Bahas Perda Bahasa Daerah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL) mendesak DPRD Lampung membahas dan mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Bahasa Daerah dan Kebudayaan Daerah yang disampaikan eksekutif kepada legislatif awal Februari 2008. Perda ini penting bagi masyarakat di Lampung yang hendak memasuki usia ke-44 pada 8 Maret mendatang.

"Hampir semua daerah di Indonesia sudah memiliki perda yang bertujuan menjaga dan melestarikan warisan leluhur budaya itu," kata Direktur Eksekutif Yayasan SKL Y. Wibowo didampingi Direktur Riset Budi Hutasuhut di Bandar Lampung, Kamis (28-2).

Menurut dia, dengan adanya perda akan makin jelas batasan-batasan tentang nilai-nilai budaya yang mesti direvitalisasi untuk disesuaikan dengan kondisi zaman saat ini.

Wibowo menjelaskan tidak adanya perda serupa menyebabkan setiap orang membuat definisi sendiri tentang nilai budaya masyarakat Lampung, sehingga kebudayaan Lampung menjadi sangat kaya akan versi. Kondisi ini memberikan kesulitan bagi setiap generasi muda untuk mempelajari budayanya masing-masing, yang akhirnya memutuskan untuk tidak mempelajari dan mewariskannya sama sekali.

Budi menambahkan dari sejumlah penelitian yang dilakukan Yayasan SKL menunjukkan tidak jelasnya batasan nilai budaya daerah akibat struktur budaya Lampung dan dibangun oleh ragam nilai budaya yang ada di Indonesia. "Kebudayaan Lampung merupakan hasil asimilasi sejumlah budaya, di mana pengaruh budaya melayu sangat dominan," kata dia.

Fakta ini sangat terasa setelah Yayasan SKL bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Lampung meneliti arsitektur rumah tradisional masyarakat Lampung. Rumah-rumah tua yang ada di Lampung diperkirakan berusi 200--300 tahun, merupakan rumah panggung yang sangat kuat dipengaruhi oleh arsitektur rumah-rumah masyarakat Melayu.

Menurut Budi, perda yang kini ada di DPRD Lampung harus membuat batasan tegas tentang bahasa daerah dan kebudayaan daerah karena pengaruh budaya lain ke dalam budaya Lampung tidak bisa diabaikan. "Struktur budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu sudah terbentuk dari pengaruh sekian banyak budaya di Indonesia. Pengaruh budaya Jawa, Sunda, dan Bali muncul pada masa kolonialisme sekitar abad ke-20," kata dia. n HES/S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 28 Februari 2008

Sastra: Imelda A. Sanjaya Luncurkan 'Goran'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Novelis asal Bumi Ruwa Jurai, Imelda A. Sanjaya, meluncurkan novel perdananya, Goran. Penerbit Serambi, Jakarta, menerbitkan novel alumnus SMAN 2 Tanjungkarang (kini SMAN 2 Bandar Lampung), sekitar akhir tahun lalu dan kini sudah bisa diperoleh di toko buku di Bandar Lampung.

Imelda, Rabu (27-2), mengatakan karya perdana ini dicetak sekitar 3.000 eksemplar. Ia menuturkan menulis novel ini awalnya tidak sengaja. Kesukaannya memang menulis. Hingga pada suatu waktu, saat menulis, ia terinspirasi meneruskan karya dalam bentuk novel.

"Awalnya ya hanya mengetik. Tidak diniatkan khusus menjadi novel. Namun, setelah dapat seratus halaman, saya memutuskan menjadikannya novel. Akhirnya selesai dan saya kirim via surat elektronik ke beberapa penerbit. Alhamdulillah, Penerbit Serambi yang pertama kali merespons karya itu, sehingga mereka yang kemudian menerbitkan," urai Imelda, kemarin.

Kini, Imelda tengah sibuk mempromosikan karyanya itu ke beberapa pihak. Media dunia maya ia jelajahi untuk memberi tahu semua kerabat bahwa ia sudah menerbitkan novel. "Iya nih, sekarang lagi sibuk promosi. Ngasih tahu teman-teman kuliah dan SMA supaya mereka beli. Kalau enggak gitu, khawatir tidak banyak yang tahu. Doain ya supaya novelnya laku," ujar dia.

Secara umum, novel ini hampir mirip dengan Harry Potter. Isinya fantasi, tapi tetap berhubungan dengan dunia luar dan realitas masyarakat sehari-hari. Tokoh utamanya Aniki Kodama, siswa SMA di Jepang yang punya kemampuan luar biasa. Dia punya kesaktian yang pada awalnya tidak dia sadari hingga suatu saat terbukalah rahasia mengapa Aniki punya kemampuan super. Ada lagi tokoh lain seperti Orphann dengan kelompok Theft Ryder-nya dan kendaraan semodel ladakh carp.

"Dijamin asyik deh membacanya," ujar Imelda sembari berpromosi. n */S-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 28 Februari 2008

February 27, 2008

Peksipel: SMAN 2 Raih Juara Umum

(Unila): Juri mengumumkan SMA Negeri 2 Bandar Lampung sebagai Juara Umum Pekan Seni Pelajar (Peksipel) 2008, Minggu (24/2).

Salah satu peserta Pekan Seni Pelajar (Peksipel) tengah menampilkan Tari Bedana Kreasi.

Pengumuman yang dilakukan di Gedung Taman Budaya Lampung (TBL) dihadiri Kepada Dinas Pendidikan Lampung Heri Suliyanto, Pembantu Rektor III Drs M Thoha B Sampurna Jaya MS, Pembantu Rektor IV Ir Anshori Djausal MT, serta para peserta pelajar yang menantikan para juara dari 14 tangkai lomba.

Menurut Thoha, even seperti ini (Pelsipel) diharapkan dapat diadakan secara secara berlanjut dan hingga tingkat nasional. "Pekan olaharaga mahasiswa nasional (Pomnas) ada, Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) juga ada, kenapa tidak untuk Peksipel tingkat nasional juga diadakan,"ujar Thoha berharap.

Thoha menjanjikan mereka yang meraih juara pertama akan diterima masuk Unila tanpa tes. "Nantinya mereka akan mendapat tiket gratis masuk Unila dan harus masuk Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS)," kata Thoha.

Sementara itu, Anshori juga berharap agar kegiatan seni seperti ini patut diselenggarakan terus-menerus. "Budaya itu mempersatukan kita semua,"kata Anshori yang juga Ketua Komite Pariwisata Provinsi Lampung ini.

Pada tangkai lomba Tari Bedana Kreasi, juara pertama diraih oleh SMAN 1 Krui. Sedangkan, secara berturut-turut juara kedua dan ketiga diraih oleh SMA Perintis I Bandar Lampung dan SMAN 1 Liwa Lampung Barat.

Sedangkan pada tangkai lomba Modern Dance, juara pertama direbut oleh SMAN 2 Bandar Lampung. Pada juara kedua dan ketiga, masing-masing direbut oleh SMA YP Unila, dan SMA Perintis 1 Bandar Lampung.

Pada lomba vocal group, menempati juara pertama adalah dari SMAN 1 Liwa, Lampung Barat. Pada juara kedua ditempati oleh SMAK BPK Penabur Bandar Lampung, dan juara ketiga oleh SMA YP Unila.

Pada lomba musik band, SMAN 1 Kalianda Lampung Selatan meraih juara pertama. Secara berturut-turut, juara dua dan ketiga diraih oleh SMA Perintis 1 Bandar Lampung dan SMAN 2 Bandar Lampung.

Lomba Story Telling, SMA Perintis 2 Bandar Lampung, sedangkan juara kedua dan ketiga secara berturut-turut diraih oleh SMAN 1 Liwa, Lampung Barat dan SMAN 9 Bandar Lampung.

Lomba Gambar Poster, juara pertama diraih oleh SMAN 2 Kota Agung, dengan judul "Narkoba Merusak Masa Depan". Sedangkan juara kedua dan ketiga diraih oleh SMAN 10 Bandar Lampung dan SMAN 4 Metro.

Pada lomba Pembaca Puisi Putra, juara pertama diraih oleh SMAN 1 Kalianda. Juara kedua diraih SMA Al Ahzar 3 Bandar Lampung. Dan juara ketiga diraih oleh SMAN 3 Kotabumi. Sedangkan lomba Pembaca Puisi Putri, juara pertama diraih oleh SMAN 1 Natar, juara kedua oleh SMA YP Unila, dan juara ketiga oleh SMAN 3 Kotabumi.

Pada lomba Penulis Cerpen, juara pertama diraih oleh SMAN 1 Metro, juara kedua oleh SMAN 1 Pringsewu, dan juara ketiga oleh SMAN Fransiskus Bandar Lampung.

Lomba Pop putri, juara pertama diraih oleh SMAN2 Bandar Lampung, juara kedua oleh SMAN 1 Kota Gajah dan juara ketiga oleh SMAN 9 Bandar Lampung. Sedangkan Pop putra, juara pertama direbut oleh SMAN 2 Bandar Lampung, juara kedua oleh SMAN 1 Kota Agung, dan juara ketiga oleh SMKN 4 Bandar Lampung. [erik/andhi]

Sumber: http://unila.ac.id, Senin, 25 February 2008

Rekrutmen PNS: Guru Bahasa Daerah Lowong

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Belasan formasi penerimaan calon pegawai negeri sispil daerah (CPNSD) Lampung 2007 untuk dokter spesialis dan guru bahasa daerah tidak terisi karena persyaratan pelamar yang ditentukan tidak terpenuhi.

"Formasi yang diajukan 10 kabupaten/kota ternyata tidak satu pun yang terisi. Pelamar tidak memenuhi persyaratan," kata Sekretaris Panitia CPNSD Lampung, Helmi Arsyad kepada Lampung Post, Selasa (26-2).

Penyebabnya, lanjut dia, faktor umur dan kategori lulusan calon pelamar. Seperti formasi dokter spesialis, kata Helmi, yang memenuhi persyaratan umur maksimal 35 tahun hanya satu orang, sedangkan sekolah ke jenjang spesialis cukup lama. "Kami minta ke menteri menambah batas umur khusus untuk formasi dokter spesialis."

Sedangkan guru bahasa daerah, tambah dia, formasi yang menjadi persyaratan adalah lulusan sarjana (S-1). Menurut dia, Universitas Lampung (Unila) dan perguruan tinggi lain tidak menyediakan jurusan pendidikan bahasa daerah. Bahkan, Unila sempat membuka jurusan ahli madya bahasa daerah diploma tiga (D-3), tetapi tidak meningkatkan kualifikasi ke sarjana.

Untuk itu, kata dia lag, tim panitia CPNSD akan berkonsultasi dengan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Mennegpan) untuk melonggarkan persyaratan formasi yang tidak terisi tersebut.

Sementara itu, Dekan FKIP Unila Dr. Sudjarwo mengharapkan Pemerintah Provinsi memiliki tanggung jawab terhadap lulusan Unila, khususnya jurusan bahasa daerah, untuk diterima menjadi PNS. "Buat apa dibuka jika lulusannya tidak tertampung lapangan kerja," kata dia.

Berkaitan dengan pengumuman CPNSD awal Maret mendatang, Ketua Panitia Penerimaan CPNSD 2007 Lampung Irham Jafar Lan Putra menjamin tidak akan ada "permainan" dalam seleksi penerimaan pegawai.

Menurut dia, proses pemeriksaan lembar jawaban komputer (LJK) berjalan transparan dan dilakukan Universitas Indonesia (UI) agar kredibilitas hasilnya terjaga. n AAN/DWI/R-1

Sumber: Lampung Post, Rabu, 27 Februari 2008

February 25, 2008

Seni Rupa: 2 Perupa Ikut Pameran Nasional

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dua perupa Lampung, Pulung Swandaru dan Subardjo, terpilih sebagai peserta pameran besar seni rupa Indonesia 2008 yang akan digelar di Galeri Nasional Jakarta, 21 Mei--6 Juni 2008. Pameran tersebut digelar sebagai peringatan satu abad kebangkitan nasional.

Pulung Swandaru mengatakan pemilihan peserta pameran tersebut dilakukan melalui seleksi oleh empat kurator lukisan nasional. Dari seluruh Indonesia, dipilih 100 perupa ikut acara tersebut.

"Saya terpilih karena memiliki kekritisan terhadap fenomena sosial yang mewarnai bangsa Indonesia sejak 1908 hingga sekarang. Kebetulan karya-karya saya selalu berbicara tentang perubahan-perubahan atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Mungkin itu salah satu alasan saya dipilih menjadi peserta," kata Pulung, Minggu (24-2) .

Setiap perupa yang terpilih diperbolehkan menampilkan satu karya, baik karya baru maupun karya lama. Pulung merencanakan membawakan sebuah karya baru berjudul Merahnya Merah Putih.

Menurut Pulung, karya tersebut menampilkan visualisasi sebuah batu zamrud yang berlubang menganga dan retak-retak. Sebagai bentuk kritik, kondisi retak-retak mengibaratkan kondisi masyarakat Indonesia yang bersikap acuh tidak acuh, skeptis terhadap segala permasalahan, serta sikap diam masyarakat Indonesia terhadap segala masalah.

Selanjutnya, retak-retak itu akan menimbulkan lubang menganga. "Gambaran ini berarti perpecahan di antara masyarakat sudah tidak terelakkan sehingga di antara masyarakat sendiri muncul lubang yang memisahkan, tidak lagi menyatukan masyarakat Indonesia," ujar Pulung.

Untuk mencegah perpecahan tersebut, disetiap retakan dibalut warna merah. Balutan merah menandakan persatuan. Merahnya Merah Putih ada di balutan itu.

Pulung mengatakan sebelum mengirim karya tersebut, dia dan Subardjo berencana melakukan bedah karya di Bandar Lampung. "Kami juga berencana melakukan diskusi seni rupa untuk mengawali pameran besar di Jakarta tersebut." n TYO/K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 25 Februari 2008

February 24, 2008

Khazanah: Bahasa Lampung, Warisan Leluhur yang kian Dilupakan

-- Budi P Hatees*

SETELAH karya sastra berbahasa Lampung mendapat Hadiah Rancage 2008, adakah yang bisa menjamin bahasa warisan budaya leluhur Lampung ini tetap memperkaya khazanah bahasa-bahasa ibu di negeri ini dan dunia pada puluhan tahun mendatang.

Pertanyaan itu pantas diajukan terhadap masa depan bahasa Lampung dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan PBB setiap 21 Februari. Tentu, masyarakat Lampung-- selaku ahli waris--paling bertanggung jawab untuk menjawabnya sehingga tidak ada lagi keraguan bahwa bahasa Lampung tidak akan pernah punah.

Namun, sebagai pihak yang punya peran membawa bahasa Lampung menerima Rancage 2008, dalam kapasitas selaku pengelola Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung yang menerbitkan Mak Dawah Mak Dibingi, buku kumpulan sajak dalam bahasa Lampung yang ditulis Udo Z Karzi, tidak berlebihan bila saya meragukan pengakuan serupa akan diterima pada tahun yang akan datang.

Sebab, untuk menghasilkan buku Mak Dawah Mak Dibingi, hampir tidak ada kalangan ahli waris bahasa Lampung yang memberikan perhatian serius terhadap program-program kerja penerbitan buku berbahasa Lampung yang digagas Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung dengan mendirikan Penerbit B-Press dan Penerbit MataKata. Beberapa pihak yang diajak bekerja sama untuk menerbitkan buku-buku dengan teks bahasa Lampung tidak memberi tanggapan yang membuat upaya pelestarian bahasa ibu ini berjalan lancar.

Sebuah keprihatinan layak diungkapkan atas rendahnya kepedulian masyarakat Lampung terhadap masa depan bahasa daerahnya. Rancage 2008 yang diperoleh tidak mendapat tanggapan serius dari masyarakat, padahal ini berdampak serius terhadap penerimaan sekaligus pengakuan masyarakat di berbagai pelosok negeri akan eksistensi bahasa Lampung dalam khazanah bahasa-bahasa daerah internasional.

Sebuah pengakuan

Pemberian Rancage 2008 oleh Yayasan Rancage yang digagas sastrawan Ajip Rosidi merupakan bukti betapa bahasa daerah Lampung mendapat pengakuan sebagai bahasa yang masih eksis di lingkungan masyarakatnya. Hadiah ini sekaligus menaikkan gengsi bahasa Lampung menjadi sejajar dengan gengsi bahasa Sunda, Jawa, dan Bali--tiga bahasa daerah yang selama ini menjadi langganan penerima Rancage.

Sejak digulirkan pada 1989, Rancage belum pernah diberikan untuk karya sastra berbahasa daerah dari luar Pulau Jawa dan Bali. Bahkan, tidak pernah terpikirkan karya sastra berbahasa Lampung akhirnya mengubah tradisi pemberian hadiah itu.

Karena itu, perhatian serius yang diberikan Yayasan Rancage terhadap eksistensi bahasa Lampung mesti ditanggapi masyarakat Lampung dengan menumbuhkan semangat baru untuk menyosialisasikan penggunaan bahasa Lampung di lingkungan masyarakat pemiliknya. Dengan begitu, bahasa Lampung tidak akan lagi mengalami persoalan krusial terkait krisis penutur, yang selama ini menjadi masalah serius sehingga berdampak terhadap pengajaran bahasa Lampung di sekolah-sekolah.

Bahasa Lampung masuk dalam mata pelajaran muatan lokal (mulok) sejak dekade 1980-an. Tetapi persoalan bahasa Lampung terkait krisis penutur semakin lama semakin krusial ditandai sulitnya menjumpai masyarakat yang menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Anak-anak didik yang belajar bahasa Lampung bisa dibilang tak pernah mempergunakan bahasa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, dalam proses belajar-mengajar, bahasa Lampung sering disampaikan dalam bahasa Indonesia karena sebagian besar guru bahasa Lampung ternyata bukan orang Lampung.

Penyebabnya, bahasa Lampung diajarkan kepada anak-anak didik bukan sebagai pengetahuan. Bahasa Lampung hanya sekadar memenuhi peraturan tentang pentingnya muatan lokal, namun tujuan dari muatan lokal itu tidak membuat generasi muda mencintai warisan leluhur budayanya. Kondisi ini semakin parah setelah Universitas Lampung menutup Jurusan Bahasa Lampung dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan, karena minat generasi muda lulusan SMA untuk memasuki jurusan tersebut sangat rendah.

Di tengah-tengah situasi krisis penutur bahasa Lampung, Yayasan Rancage justru memberikan penghargaan terhadap karya sastra berbahasa Lampung. Penghargaan ini tidak akan berarti banyak apabila sikap masyarakat Lampung dalam memperlakukan bahasa daerahnya masih saja seperti sebelumnya, terpaksa berbahasa Lampung karena tuntutan situasi misalnya saat digelar seremoni-seremoni adat.

Berbahasa Lampung tidak membanggakan bagi masyarakat Lampung. Sebaliknya, orang yang berbahasa Lampung acap dinilai kolot dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Padahal, di tengah-tengah lingkungan masyarakat Lampung dengan mudah dijumpai masyarakat Jawa yang tetap berbahasa Jawa. Bahkan, di wilayah Kota Metro, bahasa Jawa menjadi bahasa sehari-hari masyarakat, tidak saja di kalangan masyarakat Jawa tetapi juga di kalangan masyarakat Lampung, Palembang, Batak, dan etnik lainnya yang membentuk Kota Metro.

Sebuah tantangan

Rancage 2008 bisa menjadi pemicu bagi bangkitnya bahasa Lampung di lingkungan masyarakatnya. Membudayakan berbahasa Lampung harus menjadi satu-satunya cara untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap bahasa warisan leluhur budayanya ini.

Jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah yang ada di Pulau Sumatra, sebetulnya bahasa Lampung tidak layak mendapat Rancage 2008. Jangankan menjadi bahan cetakan, yang merupakan salah satu syarat pemberian Rancage, sebagai kelisanan saja bahasa Lampung sukar ditemukan. Penutur bahasa warisan leluhur budaya Lampung ini tidak sebanyak penutur bahasa Batak atau Minangkabau.

Masyarakat Batak dan masyarakat Minangkabau memiliki fanatisme luar biasa dalam berbahasa daerah. Bagi masyarakat Batak, berbahasa daerah berarti menunjukkan bangsa. Sebab itu, di mana pun mereka, bahasa Batak tidak akan pernah diabaikan, senantiasa dituturkan. Begitu juga halnya dengan masyarakat Minangkabau, selalu akan berbahasa Minangkabau. Konon lagi di daerah masing-masing, yang bahasa warisan leluhur masih menjadi bahasa pengantar dalam percakapan sehari-hari, bukan cuma dalam kegiatan-kegiatan seremonial kebudayaan.

Hal yang hampir sama juga terjadi di lingkungan masyarakat Aceh. Fanatisme masyarakat Aceh dalam berbahasa daerah bukan saja menunjukkan kecintaan dan kepedulian atas pelestarian bahasa ibu, tetapi juga menunjukkan eksistensi suku bangsa Aceh. Sebagai daerah yang lama hidup dalam tekanan rezim Orde Baru, sangat penting bagi masyarakat Aceh untuk menunjukkan eksistensi kedaerahannya sebagai bagian terpenting dari wilayah Nusantara.

Berbeda dengan bahasa daerah yang berkembang di wilayah Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau. Pada ketiga daerah di Pulau Sumatra yang merupakan wilayah pesisir ini, bahasa Melayu berkembang sangat pesat, sehingga menghasilkan dialek-dialek yang khas daerah masing-masing. Memang, di beberapa daerah di Sumatra Selatan, ada bahasa daerah yang sangat khas seperti bahasa Rejang yang bisa ditemukan jejak-jejaknya di lingkungan masyarakat yang tinggal di sepanjang daerah aliran Sungai Musi. Tapi, nasib bahasa-bahasa daerah khas Sumatra Selatan ini tidak berbeda jauh dengan nasib bahasa Lampung, sama-sama mengalami krisis penutur.

Sebab itu, karya sastra dalam bahasa Batak maupun Minangkabau jauh lebih pantas mendapatkan Hadiah Rancage ketimbang karya sastra berbahasa Lampung. Karena, fanatisme masyarakat Batak dan Minangkabau dalam berbahasa daerah hampir sebanding dengan fanatisme masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali. Bukan persoalan bagi mereka berada dalam lingkungan siapa, yang terpenting berbahasa daerah mengandung spirit kedaerahan yang mesti dijaga dan dilestarikan. Karena itu, tidak sulit menemukan masyarakat penutur bahasa Batak di lingkungan masyarakat yang bukan dominan masyarakat Batak. Sama mudahnya dengan menemukan penutur bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Minangkabau di berbagai pelosok negeri ini.

Sebaliknya, di Lampung sulit menemukan penutur bahasa Lampung di lingkungan masyarakatnya sendiri, seolah-olah bahasa warisan budaya leluhur ini bukanlah bahasa ibu yang lahir dan berkembang dalam lingkungan budaya Lampung. Konon lagi mengharapkan ada barang cetakan dalam bahasa Lampung yang secara kontinu akan muncul tiap tahun, sehingga Yayasan Rancage merasa layak memberi hadiah kepada karya sastra yang ditulis dalam bahasa Lampung ini.

Inilah tantangan yang harus dihadapi masyarakat Lampung. Agar Rancage bisa diperoleh setiap tahun yang akhirnya berdampak pada pelestarian bahasa Lampung, sebuah keharusan jika setiap tahun ada buku teks berbahasa Lampung yang dicetak dan diterbitkan. Buku-buku ini dapat menjadi bahan ajar untuk mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah, sehingga anak didik menjadi yakin bahwa bahasa daerah yang mereka pelajari telah menjadi pengetahuan bagi masyarakat di negeri ini.

* Budi P Hatees, Peneliti di Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 24 Februari 2008

Apresiasi: Peksipel, Hajat Besar Para Pelajar

SEBUAH hajatan seni bagi pelajar terbesar di Provinsi Lampung yang pertama kali digelar, Pekan Seni Pelajar Lampung (Peksipel), hari ini Minggu (24-2) akan usai. Sebuah ajang yang diharapkan bisa melahirkan bakat-bakat baru dalam bidang seni yang akan membawa nama Lampung dalam kancah nasional bahkan internasional.

Mengapa Peksipel disebut sebagai hajatan terbesar bagi pelajar Lampung? Tentu saja ini bisa dilihat dari item tangkai perlombaan yang digelar yang mencapai 14 tangkai lomba yakni tari kreasi bedana daerah Lampung, modern dance, penulisan puisi, penulisan cerita pendek, pembacaan puisi putra, pembacaan puisi putri, lomba story telling, lomba poster, lomba nyanyi tunggal pop hiburan putra, lomba nyanyi tunggal pop hiburan putri, lomba nyanyi tunggal dangdut putra, lomba nyanyi tunggal dangdut putri, lomba vokal grup, dan musik band.

Selain itu, gelaran yang diselenggarakan selama sepekan ini diikuti sebanyak 1686 pelajar yang berasal dari 101 sekolah setaraf SMA atau sederajat se-Provinsi Lampung. Dan ini bisa jadi merupakan ajang perlombaan seni yang pertama kali di Lampung yang melibatkan hingga ribuan pelajar. Tentu saja ini merupakan satu prestasi tersendiri yang perlu mendapatkan apresiasi.

Terlebih lagi, saat ini begitu banyak cap buruk yang melekat pada diri seorang pelajar yang kesemuanya dikarenakan sebuah proses pencarian jati diri yang salah kaprah. Sebab, biasanya usia remaja kerap melakukan berbagai tindakan yang hanya betujuan agar diterima oleh teman atau eksis pada satu kelompok (peer group) atau mendapatkan perhatian dari keluarga yang telah hilang.

Sehingga dengan masih banyaknya pelajar yang mengikuti gelaran ini, berarti menunjukan bahwa ternyata anak muda Lampung masih banyak juga jumlahnya yang aktif dalam berbagai kegiatan yang positif. Terlebih lagi aktivitas yang dilakukan bergerak di bidang seni yang sangat bermanfaat bagi pengembangan diri dan pikiran seorang pelajar sehingga kelak diharapkan bisa mendapatkan keseimbangan kecerdasan antara otak kanan dan kirinya.

Oleh sebab itu, tidak salah apabila Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Lampung M. Thoha Sampurnajaya mengemukakan bahwa Peksipel diharapkan bisa menjadi ajang tahunan yang bisa menunjang seni budaya daerah. "Sehingga ke depannya selain seni modern yang bisa digelar, harapannya juga bisa mengembangkan lomba baca dan tulis puisi berbahasa Lampung, pop daerah Lampung, dan dangdut daerah Lampung."

Bahkan dia mengharapkan acara ini bisa menjadi salah satu pendukung pengembangan dan penggalian budaya daerah terutama berkaitan dengan bahasa Lampung. "Sehingga ini bisa menjadi salah satu wadah bagi para guru bahasa daerah Lampung serta pelajar Lampung untuk berapresiasi dan menuangkan karyanya, dengan harapan bahasa Lampung bisa berkembang dengan baik," kata Thoha.

Selain itu juga, dia mengemukakan kegiatan ini diharapkan bisa melahirkan seniman-seniman baru yang bisa membawa nama Lampung pada kancah nasional bahkan internasional. "Makanya kami akan memberikan peluang bagi yang berprestasi untuk bisa diprioritaskan masuk Unila tanpa tes. Sebab selama ini UKMBS sudah dikenal sebagai sebagai salah satu kawah candradimuka Lampung dalam melahirkan seniman."

Thoha juga mengemukakan kegiatan ini merupakan salah satu penunjang dari sistem pembelajaran yang ada. "Karena proses pendidikan tidak hanya mengembangkan pada penilaian akademik semata-mata saja. Tapi juga dibutuhkan keterlibatan para siswa dan mahasiswa dalam berbagai ajang kegiatan ekstrakurikuler, sehingga ketika lulus dia akan memiliki kemampuan akademik dan emosional," ujarnya.

Sebab kata dia, saat ini pendidikan seyogianya tidak hanya mengembangkan otak kiri saja, tapi juga perlu ada keseimbangan dengan otak kanan. "Untuk itulah, Unila sangat concern dan mendukung berbagai kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa."

Hal yang tak jauh berbeda juga dikemukkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tibrizi Asmarantaka yang mengemukakan Pemprov sangat mendukung kegiatan positif yang digelar bagi anak muda. "Terlebih kegiatannya bertujuan untuk pengembangan seni budaya di daerah. Sehingga harapannya akan muncul anak muda yang bisa berprestasi dengan bersaing dengan daerah lain."

Dan dia menilai kegiatan ini bisa menjadi ajang silaturahmi bagi pelajar se-Provinsi Lampung. "Selain juga sebagai ajang untuk adu prestasi dengan membawa nama pribadi dan sekolah masing-masing. Sehingga harapannya nanti bisa membanggakan Provinsi Lampung," tambah Tibrizi lagi.

Berkaitan dengan animo yang begitu besar dari pelajar yang mengikuti kegiatan ini juga dirasakan Ketua Pelaksana Peksipel, Aan Primadona Roza. Dia mengaku tidak menyangka dengan jumlah peserta yang mencapai ribuan orang. "Padahal panitia hanya menargetkan sekolah yang mengikuti ajang ini hanya sekitar 50 sekolah, tapi ternyata jumlahnya mencapai 101 sekolah."

Peksipel, Sebuah Kritikan Membangun

Bila kita mau ingat sekitar tahun 90-an awal, di Jakarta, kegiatan sejenis digelar dengan mengangkat nama Bursa Orang Muda (BOM). Kegiatan yang digelar pun hampir sama, yakni menggelar berbagai lomba seni untuk anak-anak muda. Namun memang tangkai seninya sendiri tak sebanyak dengan Peksipel.

Pun juga di akhir tahun 90-an, di Provinsi Lampung pun pernah digelar acara sejenis yakni Pesta Pelajar yang digelar setiap Minggu selama satu bulan lamanya. Kegiatannya sendiri diisi dengan berbagai event lomba seperti lomba basket, cheers leader, band, dan masih banyak lainnya. Malahan di puncak acara, panitia menyuguhkan bintang tamu Base Jam yang ketika itu sedang naik daun. Bahkan acara ini dimeriahkan dengan liputan secara langsung oleh tim Planet Remaja Anteve. Sehingga acara ini menjadi sangat gebyar dan berkelas.

Dan bila berkaca dengan penyelenggaraan Peksipel, sebenarnya sangat disayangkan bila penyelenggaraannya terlihat tidak ada gaungnya. Padahal perlombaan yang digelar sangat banyak dan begitu besar jumlah pesertanya. Sehingga seharusnya gaungnya bisa mengalahkan kegiatan BOM ataupun Pesta Pelajar, tetapi kenyataannya?

Tentu saja, salah satu kelemahan yang terlihat dari penyelenggaraan Peksipel adalah penempatan lokasi perlombaan yang sangat tidak pas. Misalnya saja untuk perlombaan modern dance ataupun lomba menyanyi dangdut putra dan putri penyelenggaraannya digelar di Aula Islamic Center yang tentu saja sangat tidak pas. Pun dengan pemilihan aula tersebut dan gedung KNPI di Jalan Pramuka, Rajabasa, sebagai tempat penyelenggaraan lomba menyanyi lagu pop putra dan putri.

Permasalahan yang melekat dari kedua tempat tersebut adalah sangat jauh yang sulit dijangkau para pelajar yang ingin mendukung atau menyaksikan perlombaan tersebut. Meskipun mungkin saja dipilihnya gedung tersebut karena berada di dekat Unila, sehingga tidak terlalu jauh dengan sekretariat. Namun tentu saja ini akhirnya berkonsekuensi dengan kurang semaraknya kegiatan ini. Apalagi penyelenggaraan modern dance dan menyanyi dangdut, yang maaf, sangat tidak pas digelar di Islamic Center dengan pertimbangan kepatutan.

Padahal bisa saja berbagai kegiatan ini digelar dalam satu areal. Misalnya di Taman Budaya Lampung yang memiliki Gedung Teater Tertutup, Gedung Olah Seni, Gedung Pameran Lukisan, hingga Panggung Terbuka. Sehingga tidak hanya menggunakan Gedung Teater Tertutup saja untuk lomba. Sehingga sangat terasa saat lomba telling story digelar, penonton yang hadir sangat sepi karena terpecahnya kegiatan. Sementara saat lomba tari kreasi bedana, penonton sangat banyak. Mungkin saja kalau kegiatan ini dipusatkan, bisa jadi jumlah penontonnya sangat banyak.

Selain itu juga, kelemahan yang terasa dari sosialisasi panitia berkaitan dengan tangkai lomba yang masih minim. Ini terlihat dari lomba telling story di mana banyak pesertanya malahan lebih menyerapnya seperti lomba monolog. Pun juga dengan keluhan peserta telling story yang harus menunggu lama untuk dilakukannya orientasi panggung pada malam hari sebelum perlombaan karena keterlambatan panitia.

Namun tentu saja sebagai satu ajang perdana, apa pun yang dilakukan panitia merupakan satu kerja keras yang patut dihargai dan sebagai proses pembelajaran untuk penyelenggaraan selanjutnya. Sebab kegiatan ini adalah kali pertama digelar.

Terlebih lagi panitia yang terlibat adalah hampir seluruhnya para mahasiswa yang tergabung dalam UKMBS, sehingga keterlibatan dan keinginannya menggelar kegiatan bagi para pelajar saja sudah seharusnya mendapatkan ancungan jempol. Karena ternyata mahasiswa tidak lagi berada pada menara gading saja.

Tapi, tentu saja ini harus menjadi satu pembelajaran yang serius dari panitia bila memang kegiatan ini akan menjadi satu agenda tetap bagi pelajar. Sebab, tentu saja peserta yang mengikuti kegiatan ini tidak mau tahu apa pun alasan yang diberikan panitia. Karena mereka akan menjadi public relation atas kegiatan ini kepada teman-temannya bahkan adik kelasnya yang mungkin saja tahun depan akan mengikuti kegiatan ini. Sehingga kepuasan peserta serta keprofesionalan penyelenggaraan harus tetap dikedepankan. Terlebih lagi banyak peserta yang berasal dari luar kota. Sudah selayaknya pengorbanan yang sudah dikeluarkan mendapatkan penghargaan yang setimpal. Selamat kepada para juara dan selamat sukses kepada panitia. n Teguh Prasetyo/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 24 Februari 2008

February 23, 2008

Bingkai: Rindu Saya pada Puisi Lampung

-- Udo Z. Karzi*

bejuta hanipi ngeringkol dilom hati:
"jadikon hurikmu ngedok reti
jama niku, ulun tuhamu, rikmu
jama sapa riya!"


"APA artinya," tanya Pak Dian Komarsyah, pembimbing saya ketika membaca bait puisi ini dalam lembar halaman motto di skripsi berjudul "Hubungan Komitmen dengan Penegakan Disiplin Pegawai Negeri Sipil" sebagai tugas akhir di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung (1996).

Pak Dian wajar tidak mengerti petikan sajak Kehaga I (Damba I) yang saya cantumkan itu karena ia memang tidak beretnis Lampung. Dan, saya juga yakin meski sudah lama di Lampung, dia sangat jarang mendengar orang bertutur dengan bahasa Lampung.

Tapi, yang terjadi ini: Ayah-ibu saya Lampung yang paseh berbahasa Lampung. Tapi, saya tidak bisa berbahasa Lampung. Di rumah sehari-hari berbahasa Indonesia. Dan, saya tengah memperdalam kemampuan berbahasa Inggris saya.

Ah, itulah yang terjadi pada anak saya, keponakan-keponakan saya, dan beberapa generasi tahun 1980-an hingga kini.

***

Meskipun tulisan ini jauh dari ilmiah, tetapi saya perlu menyampaikan beberapa istilah yang saya pakai dalam tulisan ini.

Sastra Lampung merujuk pada sastra yang ditulis dengan menggunakan bahasa Lampung. Sebab, sastra adalah seni berbahasa. Sastra Lampung berbahan baku bahasa Lampung. Karena itu tidak saya tulis dengan "sastra berbahasa Lampung". Dengan begitu, sastrawan Lampung adalah sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung dalam kerja kesesusastraan (proses kreatif)-nya.

Turunan dari (sebagai bagian dari/salah satu jenis) sastra Lampung adalah puisi/sajak Lampung. Puisi Lampung jelas ditulis dengan bahasa Lampung, sehingga tidak harus dipanjangkan "puisi berbahasa Lampung" atau "sajak berbahasa Lampung". Dan karena itu, penyair Lampung adalah penulis puisi yang menuliskan syair (sajak/puisi) dalam bahasa Lampung.

Batasan ini saya pakai hanya dalam tulisan ini.

***

Sekarang saya hanya mau bercerita bagaimana saya bersentuhan dengan sastra Lampung atau lebih spesifiknya puisi Lampung sejak masih lahir. Orang Lampung harusnya bisa bersyukur karena nenek moyang yang sangat kreatif. Mereka mewariskan suku Lampung dengan sistem budaya, bahasa, sastra, dan aksara.

Sebuah warisan yang tidak ternilai harganya sebenarnya. Tapi, kebanyakan kita orang Lampung atau setidaknya yang mengaku Lampung (soalnya banyak juga yang malu menyatakan diri Lampung) tidak menyadari ini.

Tapi, saya beruntung (atau malah sebuah 'kesialan') lahir di Liwa, sebuah tempat yang -- kata istri saya sendiri -- terlalu jauh dari Bandar Lampung. Dulu, seingat saya saya, hampir tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lain dalam kehidupan sehari-hari, kecuali di ruang kelas sekolah.

Saya mendengar semua orang berbicara dalam bahasa Lampung, meski ada sedikit saja yang menggunakan bahasa Indonesia. Petani, pedagang, pegawai negeri, polisi, tentara, apa pun profesi mereka, tetap berbahasa Lampung. Di pasar, di kantor, di sekolah, di ladang, di terminal, di mana saja yang terdengar bahasa Lampung.

Dalam setiap ucapan orang-orang itu -- sungguh baru saya sadari beberapa tahun kemudian -- saya menemukan puisi. Puisi Lampung!

Jangankan di upacara-upacara adat yang menuntut kemampuan berbahasa Lampung yang mumpuni; dalam percakapan sehari-hari pun sesungguhnya orang Lampung seperti tengah berpuisi.

***

Masih di SMP saya menemukan sebuah buku tua yang hampir terbuang. Sebuah buku tentang aksara Lampung (Kaganga) karangan Moehammad Noeh. Waktu itu bahasa Lampung belum lagi menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah, sehingga saya pun tidak pernah belajar secara resmi membaca dan menulis huruf Lampung itu di sekolah.

Saya penasaran. Secara otodidak, saya pelajari sendiri buku itu, bagaimana membaca dan menuliskannya. Karena jarang saya pergunakan, saya tidak terlalu mahir menggunakan huruf Kaganga ini.

Tapi, huruf Lampung ini cukup membekas dalam ingatan saya. Apalagi ketika Pemerintah Provinsi Lampung kemudian menjadikan bahasa Lampung -- sebenarnya cuma huruf Lampung -- sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah. Saya jelas, tidak bersekolah lagi.

***

Dalam ingatan saya, puisi Lampung bisa kita dengar ketika muli-meranai segata (berbalas pantun) dalam nyambai (di tempat lain nama yang mirip: miyah damar, cangget bara, dan sebagainya). Puisi juga saya dengar ketika orang-orang tua burasan (melamar), buhimpun (bermusyawarah), butetah (pemberian adok), serta dalam rangkaian berbagai upacara adat dari lahir, sunat, menikah hingga meninggal.

Ada pula setekut/sesiah (berbicara dengan batas dinding antara muli dan meranai di tengah malam) yang penuh bahasa puisi.

Seorang yang hendak menikah tetapi melangkahi kakaknya mampu melahirkan puisi. Seorang yang ditinggal orang yang sangat ia kasihi menghadirkan puisi. Seseorang yang tengah bergembira membuahkan puisi. Seseorang yang jatuh cinta menelurkan puisi. Orang sakit diobati dengan memmang (mantera). Pendeknya, puisi lahir kapan dan dimana, dan oleh siapa saja.

Tapi, tidak ada yang berani berani berkata, "Saya penyair." Sebab, puisi lahir sebagai sebuah spontanitas saja. Untuk merayu seorang muli yang sedang lewat, misalnya. Puisi lahir seperti angin lewat saja. Setelah itu, dilupakan tidak apa.

Lain waktu akan lahir puisi baru lagi.

***

Tibalah saatnya saya memasuki kehidupan urban Bandar Lampung selepas SMP. Bandar Lampung! Saya tidak perlu bercerita lagi tentang bagaimana kehidupan di Bandar Lampung. Yang jelas, saya semakin sulit menemukan puisi Lampung dalam keseharian di kota ini, kecuali di komunitas yang sangat kecil di tempat tinggal saya di Pakis Kawat dulu.

Rindu saya terhadap puisi Lampung sesekali memang terobati saat pulang pekon mengikuti rangkaian nayuh (pesta pernikahan) dan acara muli-meranai (nyambai).

Tapi, kini acara-acara penuh puisi itu sudah semakin jarang. Berganti dengan organ tunggal, dangdut, dan kesibukan kaum muda berkunjung ke tempat-tempat hiburan dan rekreasi. Anehnya, meski sering mendatangi tempat-tempat indah, kita tetap tak mampu berpuisi. Hahahaa….

***

Ada lebih dari 30 jenis sastra lisan Lampung, kata pengamat sastra Lampung.

Wah, buat sastrawan Lampung atau penyair Lampung, jelas ini (seharusnya) menjadi stok bahan bakar yang banyak untuk berpuisi ria. Saya merindukan puisi Lampung. Tapi, rasanya tidak mungkin saya selalu hadir ketika orang-orang Lampung tengah berpesta puisi.

Maka, tidak ada jalan lain, puisi Lampung itu harus ditulis, dikreasi ulang, diperkaya dengan imaji baru. Ya, puisi Lampung atau sastra Lampung harus memasuki era yang lebih modern dengan ciri utama: keberaksaraan, tidak anonim, kebaruan (walau tetap tidak melupakan ruh kelampungannya), dan mungkin juga semangat perlawanan (pemberontakan atas kemapanan).

Semoga.

* Udo Z. Karzi, perantau yang selalu merindui puisi Lampung

Dimuat di Lampung Post, Minggu, 24 Februari 2008