Oleh Tjahjono Widarmanto
KEBERAKSARAAN sudah lama membedakan diri dengan ketertinggalan melalui tradisi aksara. Kelisanan dianggap sebagai hal yag tidak ideal dan menutup berbagai akses komunikasi dan pengetahuan. Adapun, keberaksaran membukakan peluang tak hanya bagi kata, kalimat atau informasi pengetahuan namun juga menguatkan eksistensi manusia yang membedakannya dengan mahluk lain. Tak bisa terbayangkan bagaimanakah wujud eksistensi manusia tanpa tradisi keberaksaraan.
Sungguh pun demikian bukan berarti kelisanan merupakan kehinaan. Kelisanan dapat menghasilkan karya dan renungan-renungan diluar jangkauan orang melek aksara, misalnya Odyssey. Namun, keberaksaraan membantu mendorong permata-permata kelisanan menjadi lebih dikenal, menjadi lebih luas penyebarannya, menjadi mudah diakses, dan yang lebih penting menjadi lebih terbuka dan memungkinan ditafsir ulang.
KEBERAKSARAAN sudah lama membedakan diri dengan ketertinggalan melalui tradisi aksara. Kelisanan dianggap sebagai hal yag tidak ideal dan menutup berbagai akses komunikasi dan pengetahuan. Adapun, keberaksaran membukakan peluang tak hanya bagi kata, kalimat atau informasi pengetahuan namun juga menguatkan eksistensi manusia yang membedakannya dengan mahluk lain. Tak bisa terbayangkan bagaimanakah wujud eksistensi manusia tanpa tradisi keberaksaraan.
Sungguh pun demikian bukan berarti kelisanan merupakan kehinaan. Kelisanan dapat menghasilkan karya dan renungan-renungan diluar jangkauan orang melek aksara, misalnya Odyssey. Namun, keberaksaraan membantu mendorong permata-permata kelisanan menjadi lebih dikenal, menjadi lebih luas penyebarannya, menjadi mudah diakses, dan yang lebih penting menjadi lebih terbuka dan memungkinan ditafsir ulang.
