October 25, 2019

Apa Kabar Dramawan Lampung?

Oleh HM Indrajaya


Gedung Wanita yang diberikan Pemda untuk Kegiatan Kesenian di Lampung.

TAHUN-TAHUN belakangan ini statistik tidak resmi kegiatan teater di kawasan nusantara menunjukkan frekuensinya yang menaik terutama di kalangan remaja, lebih-lebih di Jakarta, pementasan, pergelaran, dan kegiatan drama tak putus-putus. Baik itu dinaikkan oleh group-group Teater Remaja maupun group-group yang sudah profesional.

Kegiatan semacam itu bukan saja di Jakarta, tetapi mendengung juga di Jogja, Bandung, Surabaya, Tegal, Semarang, Purwokerto, Ujung Pandang, dan lain-lain.

January 24, 2019

Kumpulan Orang-Orang ”Gila”

Oleh Hapris Jawodo


BAGI saya, penggalan kehidupan di Teknokra Unila selama empat tahun (1986-1990) merupakan catatan yang membekas sangat dalam. Selama di sini, semua pengalaman sebagai seorang mahasiswa rasanya sangat lengkap. Pun bergudang-gudang bekal ilmu, wawasan, dan pengalaman, yang kemudian menjadi modal penting pasca lulus kuliah.

Kehidupan di kampus ibarat di surga. Di sini, saya punya kawan yang seperti saudara. Di sini saya punya dosen-dosen yang bersikap seperti sahabat. Di sini saya kenal banyak mahasiswa, dosen, bahkan karyawan dan Satpam Unila, di mana mereka juga memberi akses yang sangat luas—yang orang lain belum tentu mendapatkannya.

Teknokra: Cinta, Benci dan Damai

Oleh Ferry Faturokhman



SAYA tak pernah bisa melupakan saat-saat awal mengenal Teknokra di akhir Agustus 1999. Saat itu saya bersama lima ribuan mahasiswa baru lainnya berada di GSG Unila (Gedung Serba Guna Universitas Lampung) mengikuti kegiatan propti (program pengenalan perguruan tinggi). Jadwal hari itu adalah pengenalan UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang ada di Unila. Ada Pramuka, Filateli, Menwa, Silat dan lain lain.

Setiap UKM mengenalkan diri dengan kekhasannya masing-masing. Mapala mengenalkan diri dengan meluncur membawa bendera Mapala dari ketinggian 20 meter langit-langit GSG. Saya menyukai panjat tebing dan naik gunung sejak SMA (Sekolah Menengah Atas). Di SMA 1 Serang, saya sempat tercatat sebagai anggota Wapala (Siswa Pecinta Alam). Beberapa gunung seperti Ciremai, Gede, Pangrango dan dua gunung di Banten pernah saya naiki. Tapi saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Lalu ada sebuah UKM, mengenalkan diri dengan cara unik membagikan koran seperti layaknya tukang koran pada mahasiswa baru. Saya mengambil satu, karena tak semuanya kebagian. Koran itu ternyata Tabloid Teknokra. Tampilannya profesional, seperti tabloid pada umumnya. Saya sempat membatin ”apa iya ini dibuat mahasiswa, rapih sekali.”

Teknokra, Sebuah Wadah Investasi Ilmu dan Masa Depan

Oleh Moh. Ridwan


SEORANG mahasiswa baru Universitas Lampung bertanya tentang aktivitas kampus yang kemungkinan akan digelutinya di luar bangku kuliah. Visinya bagus, dia ingin menjadi ‘mahasiwa plus’ yang kelak siap menghadapi dunia nyata selepas wisuda.

Dalam pikirannya, dunia sesungguhnya adalah dunia di luar bangku kuliah, yakni dunia kerja. Sementara kampus hanya untuk bekal  menyongsong masa depan yang ‘mungkin’ tidak pasti seiring ketatnya persaingan di dunia kerja. Dan, itu dikuatkan dengan masukan-masukan orang-orang dekatnya untuk berbuat lebih di kampus, bukan sekedar menjadi mahasiswa yang datang ke kampus, belajar, dan pulang ke rumah atau tempat kost.  

January 17, 2019

Ratusan Pelajar Mengecam Koruptor dan Belajar Puisi

Review Buku Serial PMK 7: Negeri Tanpa Korupsi


Oleh Sunaryo Broto

SAYA terima buku Puisi Menolak Korupsi 7: Negeri Tanpa Korupsi terbitan Buana Grafika, Yogya pada 11 Januari 2018 di rumah saya di pinggir hutan yang asri, Komplek Pupuk Kaltim, Bontang. Sampul buku masih tetap bergambar potongan sayap kupu-kupu. Buku tebal ini dikirim penyunting buku ini, Sosiawan Leak (bersama Rini Tri Puspohardini) karena saya sebagai koordinator Kaltim untuk serial penerbitan ini. Lalu buku didistribusikan pada penyair di wilayahnya. Memang hanya ada dua pelajar dari Kaltim –kebetulan diwakili dari Bontang, yang karyanya dimuat karena kendala waktu, publikasi dan geografis. Mungkin karena keterbatasan pula, dari Lampung, Banten, Kalimantan Barat hanya 1 puisi dan dari Yogya –yang dikenal gudang penyair, hanya 2 puisi. Beberapa bulan sebelumnya sudah terjalin komunikasi dari pengumuman, publikasi, diskusi, pengumpulan karya, seleksi dan penerbitan dari koordinator PMK dengan koordinator wilayah. Sudah terbentuk koordiantor wilayah seluruh provinsi di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Setidaknya infrastruktur koordinator wilayah ini bisa untuk proyek literasi berikutnya.

Kalau boleh saya berkata, saya respek pada stamina para koordinator PMK (Puisi Menolak Korupsi). Kerja volunteer dan tak ada gaji bisa menggawangi sekian karya buku dan acara. Mereka meluangkan waktunya selama sekitar 6 tahun untuk mengurusi penerbitan ini. Gerakan yang dimulai sejak Mei 2013, ini diprakarsai oleh Heru Mugiarso, sastrawan asal Semarang dan Sosiawan Leak sastrawan asal Solo. Lalu bergabung ratusan penyair dari berbagai kota yang menyatakan suara sama. PMK sudah menerbitkan buku-buku antara lain: Antologi Puisi Menolak Korupsi (85 penyair, 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2a (99 penyair, 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 2b (98 penyair, 2013), Antologi Puisi Menolak Korupsi 3: Pelajar Indonesia Menggugat (286 pelajar, 2014), Memo Untuk Presiden (196 penyair, 2014), Antologi Puisi Menolak Korupsi 4: Ensiklopegila Koruptor (174 penyair, 2015), Antologi Puisi Menolak Korupsi 5 : Perempuan Menentang Korupsi (100 penyair, September 2015), Bunga Rampai PMK, Bergerak dengan Nurani (Kumpulan Esai, 69 penulis, Maret 2017), Antologi Puisi Menolak Korupsi 6, Membedah Korupsi Kepala Daerah (200 penyair, Juni 2017).

December 22, 2018

Atje Padmawiganda, “Medan Ra’jat”, dan Sejarah Pers di Lampung

Oleh Arman AZ


BEBERAPA tahun lalu, dalam buku lama terbitan Dinas P & K Provinsi  Lampung tahun 80-an, saya memergoki nama Atje Padmawiganda (selain Kamaroeddin dan Mas Arga, nama yang lebih dulu familiar dalam sejarah pers di Lampung) dan perannya dalam penerbitan koran di Lampung. Nama itu mengeram dalam memori saya karena nyaris tidak pernah terdengar.



Koran Medan Ra'jat, Soeara Lampoeng, Fadjar Soematera, dan Pengharapan Banten koleksi perpustakaan Universitas Leiden (Foto: Arman AZ)

Hingga akhirnya saya bersua lagi dengan nama Atje, kali ini lengkap dengan arsip koran Medan Ra’jat di Perpustaan Leiden, Belanda. Apa yang selama ini saya ketahui tentang masa-masa awal kehidupan pers di Lampung, ternyata belum lengkap dan berbeda (jika tak mau dibilang keliru atawa tidak tepat).

October 2, 2018

Hadiah Sastra Rancage & Upaya Ajip Rosidi Lestarikan Bahasa Daerah

Oleh Irfan Teguh


Tahun ini, Hadiah Sastra Rancage memasuki usia yang ke-29. Para penerima hadiah adalah pengarang yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, dan Banjar.

Penganugerahaan Hadiah Sastra Rancage 2017. FOTO/Pemprov Jabar

tirto.id - Dalam acara peringatan ulang tahun Ajip Rosidi yang ke-50 pada 1988, panitia membagikan buku berjudul Ajip Rosidi Setengah Abad yang berisi kumpulan tulisan para sahabat Ajip. Pada kesempatan tersebut, Ajip juga membagikan buku bertajuk Hurip Waras! yang isinya berupa dua memoar yang ditulis dalam bahasa Sunda. Pertama, tentang perjalanan hidup Ajip memasuki dunia sastra, dan kedua tentang Kongres Pemuda Sunda yang digagas olehnya.

January 24, 2018

In Memoriam Daoed Joesoef

Oleh Udo Z Karzi


INNALILLAHI wainna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah seorang pemikir sosial-budaya.

Daoed Joesoef
Daoed Joesoef meninggal di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan pada Selasa (23/1/2018) pukul 23.55 WIB.

Semasa Orde Baru, pria lahir di Medan Kota, Sumatera Utara, 8 Agustus 1926 ini Mendikbud (1978-1983) yang kebijakannya sangat dibenci mahasiswa. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Mahasiswa (NKK/BKK) membelenggu aktivitas mahasiswa.


November 13, 2017

Mengulik Kata ‘Tabik Pun’

Oleh Novan Saliwa


Novan Saliwa. DOKPRI
POLA pergaulan masyarakat Lampung sangat mengedepankan etika sopan-santun. Norma yang diatur di dalam adat juga kental dengan ajaran dan nilai-nilai ke-Islaman, menghormati yang lebih tua, dan menggunakan panggilan sebagai bentuk penghormatan. Itu semua terkandung dalam falsafah hidup ulun Lampung piil pesenggiri, nemui nyimah, bejuluk beadok, sakai sambayan dan nengah nyappur.

Demikian juga dalam tata berbahasa memiliki pembeda. Bagaimana berbahasa dengan yang lebih tua, berbahasa di dalam musyawarah adat (himpun/peppung), berbahasa terhadap pemimpin adat atau disebut jugadudungan, dan bagaimana berbicara dalam pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya. Bahasa yang tersusun dan dipakai di dalam acara adat biasanya disebut dengan bahasa perwatin/merwatin. Dan, bahasa yang tertata rapih dan dipakai saat musyawarah dalam adat sai bain disebut tetangguhan atau butetangguh. Di dalamnya setiap kalimat telah tersusun mana yang dahulu mana yang akhir, mana kalimat pokok mana kalimat penghias atau perumpamaan.


October 23, 2017

Jejak Islam Lampung dan Problem Penulisan Sejarah*

Oleh Udo Z Karzi[1]

KAMI, Penerbit Pustaka LaBRAK, Satupena, dan Pusat Dokumentasi Lampung (PDL), baru saja meluncurkan buku Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler dan PJ Veth--Lampung Tumbai 2015 karya Frieda Amran di PDL, Langkapura, Bandar Lampung, 14 Oktober 2017 lalu. Buku mengenai Lampung tempo dulu (tumbai, bahasa Lampungnya) ini adalah yang kedua dari Frieda Amran yang antropolog dan pemerhati sejarah sosial budaya yang sangat konsen dengan Sumatera bagian selatan. Sebelumnya, terbit bukunya Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014 (2015 dan Edisi Kedua, 2016).


Kedua buku itu, terlepas bahwa ia bersumber pada tulisan ilmuwan, pegawai pemerintah Hindia Belanda dan penjelajah Inggris dan Belanda abad ke-19; menjadi sumbangan penting Frieda Amran bagi sejarah sosial budaya Lampung. Frieda Amran telah berbaik hati menyadur (bukan menerjemahkan!) sumber-sumber berbahasa Belanda kuno yang panjang dan berbelit-belit ke dalam bahasa Indonesia yang enak dan gurih.