October 16, 2007

Fokus: Jika Kopi tak Lagi Menjanjikan

-- Udo Z. Karzi dan Budi Hutasuhut

KOPI lampung! Ini sudah jadi merek (ikon) Lampung yang mengglobal. Tapi, dari hari ke hari petani kopi di Lampung tak beranjak nasibnya. Harga yang tak pernah menggembirakan membuat sebagian petani berkata, "Putus hubungan dengan kopi!"

Maka sayang sekali sebetulnya. Pernah sekitar April 2002, saat tanaman kopi marak berbunga, sebagian petani di Lampung yang menjadi sentra utama kopi nasional malah beramai-ramai membongkar kebunnya. Lahannya dialihkan untuk ditanami sayur-mayur atau tanaman hortikultura lainnya.

Aksi petani itu di sejumlah kecamatan penghasil kopi Lampung, seperti di Kecamatan Sumberjaya, Fajarbulan, Way Tenong, Belalau, Batubrak, dan Liwa (Lampung Barat), Pulau Panggung dan Talangpadang (Tanggamus), Banjit (Way Kanan). Mereka kecewa karena harga kopi bukannya naik malah turun. "Kini kopi kurang menjanjikan untuk memperbaiki hidup," kata seorang petani waktu itu.

Ya, bagaimana tidak harga kopi di petani waktu itu hanya dalam kisaran Rp2.500--Rp3.500 per kilogram (kg). Kopi biji dengan kadar air 15 persen dihargai Rp3.500 per kg, sedang pada eksportir Rp4.400 per kg.

Rendahnya harga kopi membuat petani tidak bergairah mengurus kebun kopinya. Selain menelantarkan, sebagian besar petani malah sampai tahap pembongkaran tanaman kopi di kebunnya untuk digantikan tanaman jenis lain, terutama sayur-mayur.

Petani membongkar kebun kopi mulai dengan memangkas ranting dan cabangnya, lalu mencongkel pohonnya hingga akar-akarnya tercabut. Daun dan rantingnya dibakar, batangnya dijadikan kayu bakar.

Tindakan itu merupakan puncak kekecewaan atas rendahnya harga kopi biji tadi. Sebetulnya protes dimulai petani pada 2001, tetapi saat itu mereka hanya sebatas menebang pohon.

"Sekarang kami bongkar saja. Habis mau diapain lagi. Harga kopi di sini Rp2.500 per kg, tidak cukup untuk membeli sekilogram gula Rp3.200," kata Sakat, petani di Fajarbulan, Lampung Barat, waktu itu.

Beberapa petani membongkar kebunnya untuk ditanami sayur-mayur seperti tomat, cabai, sawi, kol, dan bayam.

Ekonomis Sayuran

Dalam kalkulasi petani saat itu, ketika harga kopi anjlok seperti kini, adalah lebih ekonomis jika menanam sayur-mayur. Kalau kopi dipanen hanya sekali setahun, sayur-mayur bisa dua sampai tiga kali panen. Misalnya sawi, tomat, kol, dan daun sop.

"Saya membongkar tiga rante (setara 1.200 meter persegi) untuk ditanami sayuran. Jika dibandingkan lahan kopi 1,5 hektare, hasil penjualan sayur lebih besar dibandingkan kopi," kata Siran, petani di Way Tenong.

Hasil kopi di sentra-sentra kopi Lampung Barat rata-rata 600 kg--700 kg per hektare. Jika dijual dengan harga Rp3.500 per kg (harga tertinggi kini di petani), hasilnya Rp2,5 juta per hektare atau Rp300.000 per bulan.

"Perolehan itu sungguh tidak mencukupi. Kalau dihitung dengan biaya produksi, pasti minus. Tahun lalu saya merugi Rp650.000 per hektare," kata Sujarwo Yusuf (30), petani kopi yang juga pengurus salah satu partai politik di Lampung Barat.

Sementara kalau petani menanam sayur, seperti tomat bisa tiga atau empat kali panen dalam setahun (demikian juga kol, sawi, dan daun untuk sop) keuntungan bisa Rp3 juta untuk satu jenis sayur. "Hasil tiga rante tanaman sayur bisa ngalahin hasil 1,5 hektare kopi," kata Siran.

Hampir 90 persen daerah Lampung Barat dan Tanggamus terdiri dari wilayah perbukitan dan dataran tinggi. Selain cocok untuk tanaman keras seperti kopi dan juga kakao, juga cocok untuk tanaman hortikultura seperti sawi, labu, kol, tomat, dan sayuran lainnya.

Wakil Kepala Dinas Perkebunan Lampung Tri Haryanto saat itu mengatakan kondisi pasar kopi kini membuat petani bingung. Tapi, ia tetap mengimbau petani tidak membongkar tanaman kopinya.

Harga kopi jatuh dalam empat tahun berturut-turut. Turunnya produksi dan harga kopi tidak lepas dari tiga faktor. Pertama, petani tidak serius mengurus kebun kopinya; kedua, tingginya biaya operasional perawatan seperti biaya pembelian pupuk; dan ketiga, kondisi alam yang tidak menentu.

Selain itu, kebun kopi sudah banyak alih fungsi, sedangkan pohon-pohon kopi condong dibiarkan begitu saja terbengkalai. Seharusnya, kata dia, meskipun dilakukan diversifikasi dengan tanaman lain, tanaman kopi sebagai tanaman pokok harus tetap dirawat, sehingga penghasilan petani tidak turun drastis.

Kondisi seperti ini membuat petani terkesan putus asa. Sebetulnya, kendala-kendala yang dihadapi petani kopi kini masih bisa ditanggulangi jika saja mereka mampu mengelola kebun kopinya dengan baik.

Caranya, pada masa belum panen, petani sebaiknya memanfaatkan kebunnya dengan diversifikasi tanaman, tapi kopi selaku tanaman pokok juga harus dipertahankan dan dirawat dengan baik.

Ada kesan pemerintah daerah agak menganaktirikan petani tanaman keras dibandingkan tanaman pangan. Untuk tanaman pangan, Pemda banyak membangun irigasi, bantuan bibit, dan penyuluhan-penyuluhan lainnya. Namun bagi petani tanaman keras, seperti kopi dan lada, Pemda lepas tangan.

Padahal, dalam kondisi harga kopi merosot, petani sebetulnya membutuhkan bimbingan, terutama dalam hal mengubah budi daya monokultur kopi yang dijalani turun-temurun melalui program diversifikasi. Hingga kini petani belum terbiasa melakukan tumpang sari di sela-sela tanaman kopi. Yang banyak dilakukan petani sebagai upaya mengatasi kejatuhan harga kopi adalah menanam tanaman palawija dan padi di lahan lainnya.

Ibarat lingkaran setan, itulah yang terjadi pada komoditas kopi. Masalah harga, produksi, dan kemampuan petani saling bertautan, tetapi tidak pernah mampu diselesaikan. n

Sumber: Lampung Post, Minggu, 12 Juni 2005

October 8, 2007

Pustaka: Buku Dongeng Kenalkan Kalianda

KALIANDA (Lampost): Penerbit Matakata yang menerbitkan buku Kumpulan Dongeng dari Kalianda yang ditulis Rudi Suhaimi, Kepala Biro Lampung Post Lampung Selatan, diharapkan mampu menambah khazanah seni dan sastra tanah air.

Menurut Direktur Matakata Y. Wibowo, bahan penerbitan buku itu diperoleh dari hasil karya penulis yang sebelumnya telah dimuat di sejumlah media cetak di Provinsi Lampung.

"Karya itu layak terbit karena sudah pernah dimuat di sejumlah media cetak. Selain itu, isinya juga memuat kearifan lokal (local wisdom)," kata Y. Wibowo.

Sementara pengarang buku serial pendidikan budaya daerah kumpulan dongeng dari Kalianda, Rudi Suhaimi, mengatakan selama ini Kabupaten Lamsel dengan ibu kota Kalianda hanya dikenal dalam peta saja.

Namun, secara detail masih banyak yang belum tahu khazanah seni dan sastra yang terpendam di kabupaten ini sangat luar bisa.

"Saya terobsesi, bagaimana lebih mengenalkan Kalianda kepada dunia luar melalui karya karya tulisan itu. Saya berharap Kalianda menjadi objek kunjungan wisata, tidak hanya dikenal di Lamsel, tapi juga di dunia luar," kata pria kelahiran 24 Maret 1970 tersebut.

Rudi mengatakan kumpulan dongeng dari Kalianda yang ia goreskan itu merupakan hasil imajinasi.

"Kendati dari hasil imajinasi, serial pendidikan budaya daerah itu mempunyai pesan-pesan moral yang baik," ujar putra pasangan H. Suhaimi dan Mas Intan.

Wakil Bupati Lamsel Wendy Melfa mengatakan, dongeng yang dikarang Rudi Suhaimi diharapkan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut dapat menjadi suri teladan.

"Ceritanya mengandung sifat-sifat kepahlawanan, pendidikan, keagamaan, dan budi pekerti. Untuk itu, bagi adik-adik yang membacanya diharapkan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari," kata Wendy.

Sejak beredarnya buku kumpulan dongeng dari Kalianda itu, Kantor Biro Lampung Post Lamsel kerap dikunjungi anak-anak yang ingin membaca karangan Kepala Biro Lampung Post Lamsel tersebut.

Gusti Ayu Widya Lestari Yanti, salah satu pembaca buku kumpulan dongeng dari Kalianda itu, menilai buku karya Rudi Suhaimi tersebut mempunyai makna yang sangat bagus untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata di Kalianda.

Dongeng dalam buku itu bagus banget. Apalagi penulisnya begitu peduli memperkenalkan tempat-tempat wisata dalam cerita tersebut, kata Yanti, sapaan akrabnya yang mengaku membaca buku kumpulan dongeng karangan Rudi Suhaimi sejak pekan lalu.

Dengan adanya buku kumpulan dongeng dari Kalianda itu, Yanti mengharapkan tempat-tempat wisata di sekitar Kalianda dapat dikenal banyak orang.

"Kalau bisa buku itu sebagai ikonnya Kota Kalianda. Saya tunggu seri keduanya ya. Cari dan gali lagi tempat-tempat yang bagus di Kota Kalianda untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas," ujar mahasiswa semester VII STIH Muhamadiyah, Kalianda, tersebut, seraya mengharapkan Kepala Biro Lampung Post Lamsel itu lebih aktif lagi menulis seputar wisata di Lamsel. AL/D-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 22 September 2007

Lihat juga: Pustaka: Kisah Penuh Teladan

Budaya Politik: Debat tentang 'Mahan Agung'

-- Nanang Trenggono*

MENJELANG pemilihan gubernur, muncul gagasan kritis yang dilontarkan oleh calon gubernur M. Alzier Dianis Thabranie (Alzier), ketua Partai Golkar Provinsi Lampung mengenai fungsi dan penggunaan fasilitas rumah dinas gubernur. Ide yang dikemukakan, bila ia dipercaya rakyat menjadi gubernur Lampung mendatang, maka rumah dinas gubernur tidak semata-mata digunakan secara pribadi, tetapi diperuntukkan secara terbuka bagi rakyat Lampung.

Gagasan ini dipopulerkan dengan konsep "rumah rakyat". Pernyataan terbuka ini menimbulkan reaksi Gubernur Sjachroedin Z.P. secara pribadi. Selanjutnya, debat mengerucut secara diametral (dialogis) antara Alzier versus Sjachroedin. Bagaimana mengkaji debat ini? Apakah dari debat dua calon gubernur ini mengandung nilai positif?

***

Sedikit banyak sekarang ini, kita sedang berada dalam ruang kompetisi demokratis yakni dalam momen pemilihan gubernur secara langsung. Oleh karena itu, ada dua dasar pemikiran yang penting untuk memahami perdebatan dua calon gubernur tersebut.

Pertama, baik dari pengalaman yang ada di berbagai negara dunia maupun praktek politik di negeri ini, debat telah menjadi instrumen yang paling memuaskan dalam ruang publik ketika rakyat suatu daerah sedang dihadapkan pada momentum pemilihan pemimpinnya. Debat, dialog dan diskusi di hadapan publik harus ditempatkan sebagai metode untuk memenangkan pemahaman, kesadaran dan pilihan rakyat.

Debat tidak cepat-cepat dipahami apalagi disederhanakan menjadi perseteruan atau pertentangan yang akan mengurangi nilai-nilai kerukunan sosial atau harmoni kolektif. Bahkan Homi Bhabha (1994) menegaskan, bahwa "politik hanya bisa memenuhi kepentingan secara representatif bila dilakukan melalui debat publik yang benar".

Kedua, dalam pemilihan kali ini perlu dibangun sikap positif dalam kesadaran kolektif terhadap siapa saja yang mencalonkan diri menjadi gubernur Lampung ke depan. Bahkan jika perlu, didorong bagi semua tokoh yang memiliki kapasitas cukup dalam penilaian umum, untuk berpartisipasi mencalonkan diri dalam pemilihan gubernur langsung.

Kita tekan dalam-dalam sikap apriori dan kecenderungan menjelek-jelekkan terhadap tokoh-tokoh yang ingin menjadi gubernur. Dengan demikian, perdebatan Alzier versus Sjachroedin dalam isu utama rumah dinas gubernur tidak disederhanakan sebagai perseteruan pribadi, tetapi sebaliknya ditempatkan menjadi wacana publik (public discourse) yang bisa diambil nilai positifnya. Lalu, apa hikmah dari debat publik tersebut?

***

Yang tidak luput dari perhatian publik, jika melewati rumah dinas gubernur Lampung yang saat ini didiami oleh Sjachroedin, maka dapat dibaca papan nama bertuliskan "mahan agung". Dalam bahasa Lampung berarti "rumah besar atau agung", yang dalam sejarah merupakan sebutan khusus terhadap rumah yang dihuni oleh pangeran.

Untuk bersikap konsisten terhadap pendekatan tulisan ini, maka tidak perlu dibahas lebih dalam suatu pertanyaan penting, "mengapa demikian?" Sebab, seperti halnya rumah-rumah dinas pejabat negara di negeri ini, banyak dipengaruhi oleh budaya Jawa, dengan sebutan "pendopo" atau "pendopo agung". Lalu, telinga kita merasa familiar dengan sebutan-sebutan pendopo gubernur atau pendopo gubernuran, pendopo bupati atau pendopo kabupaten, pendopo kecamatan atau pendopo kepala desa.

Bila teks "mahan agung" disejajarkan dengan kata "pendopo" maka hampir tidak ada bedanya, semata-mata suatu istilah yang menunjukkan rumah yang dihuni oleh pejabat negara (rumah pejabat). Boleh jadi ada sedikit perbedaan, kalau istilah "mahan agung" belum sepopuler kata "pendopo", selain kesan publik terhadap sebutan "mahan agung" bisa bervariasi.

Tapi ada yang luput dari perhatian publik karena tidak pernah diungkap oleh media massa, yakni suatu gagasan yang dimunculkan oleh seorang tokoh sekelas Alzier mengenai rumah dinas gubernur memiliki dasar pemikiran. Berdasarkan pengalaman, kiprah dan perjalanan hidupnya, dapat diduga bahwa perspektif sejarah (historical approach) tentang fungsi dan nilai rumah dinas pejabat (gubernur) menjadi landasan untuk dikemukakan menjadi wacana publik.

Satu periode yang lalu, pada zaman pemerintahan daerah dijabat Gubernur Oemarsono, sebutan terhadap rumah dinas gubernur masih konservatif yakni "pendopo gubernur". Tapi pada saat itu, fungsi rumah dinas gubernur, selain menjadi tempat tinggal pribadi Oemarsono dan keluarganya, juga menjadi rumah terbuka bagi masyarakat Lampung yang ingin menggunakan pendopo gubernur untuk keperluan hajatan keluarga, diskusi mahasiswa, seminar daerah dan nasional atau acara-acara publik lainnya.

Bahkan, di awal jabatannya sebagai gubernur, Oemarsono telah beberapa kali menggelar ekspose program utama yang menjadi andalannya dalam memimpin daerah, yaitu program pembangunan desa dan pembangunan singkong rakyat yang populer dengan sebutan program DMSS (Desaku Maju Sakai Sambayan) dan Ittara (Industri Tepung Tapioka Rakyat).

Nilai yang dapat diambil dari fungsi rumah dinas gubernur pada masa pemerintahan Oemarsono adalah menjadi semacam "rumah aspirasi". Dari kacamata komunikasi, maka rumah dinas gubernur dibentuk menjadi medium komunikasi politik. Dengan demikian, gubernur secara langsung bisa merasakan, mendengar atau melihat rakyatnya dari jarak dekat.

Pada zaman Orde Baru bahkan mungkin masih dipertahankan sampai sekarang, sudah menjadi kesadaran publik bahwa walaupun tidak tepat analogi azas kekluargaan dalam politik pemerintahan, tetapi gubernur sebagai pemimpin daerah dimaknai secara simbolis sederhana sebagai bapak dan rakyat kebanyakan sebagai anak.

Rumah dinas gubernur disimbolkan sebagai rumah keluarga besar Lampung. Hal ini menjadi semacam rumah muumbi yang dalam suku asli Kenya menjadi pusat legitimasi bagi penyelesaian persoalan-persoalan sosial dan kehidupan rakyat.

Sekarang ini, pada masa kepemimpinan Gubernur Sjachroedin, rumah dinas gubernur yang diberi nama "mahan agung" memiliki kecenderungan tertutup bagi acara-acara publik. Walaupun karakter sederhana, sejuk dan nuansa elegan dari rumah gubernur ini masih tetap terjaga. Tampaknya, kemarakan rumah dinas gubernur sebagai simbol rumah aspirasi tidak terasakan lagi.

Boleh jadi, kondisi yang tenang, diam dan sepi memang menjadi karakter yang ingin dicitrakan dalam kepemimpinan Gubernur Sjachroedin. Tidak menutup kemungkinan juga, pola komunikasi politik dan penyerapan aspirasi publik diserahkan secara fungsional pada jajaran birokrasi pemerintahan daerah.

Pada sisi berbeda, pemikiran-pemikiran Alzier tentang rumah aspirasi tercerminkan dalam praktek kehidupan sosial dan politik baik sebagai sosok pribadi, tokoh masyarakat maupun ketua partai politik. Rumah merupakan tempat tinggal keluarga yang harus memberikan rasa nyaman, betah dan aman. Namun, rumah juga bisa berfungsi sebagai kantor dalam mengelola dan memimpin jabatan-jabatan publik, terbuka bagi kawan-kawan dan tamu siapa saja baik siang maupun malam.

Rumah pun merupakan medium komunikasi politik masyarakat sekitar dan publik pada umumnya, dan menjadi sumber aspirasi dalam menentukan keputusan-keputusan atau kebijakan-kebijakan penting. Asumsi dasar tentang rumah melekat dalam perspektifnya mengenai waktu dan ruang. Rumah harus memiliki ruang yang lapang dan leluasa untuk berinteraksi banyak orang dan lingkungan yang asri, kondusif untuk bertukar pikiran, serta terbuka dua puluh empat jam untuk komunikasi politik.

Selain itu, pada saat ini, seseorang bisa menjadi pemimpin karena ditentukan oleh pilihan dan putusan rakyat. Oleh karena itu, aspek-aspek kehidupan internal dan kondisi eksternal dalam pemilihan gubernur langsung melandasi perspektifnya tentang rumah rakyat, yaitu rumah dinas gubernur akan diperuntukkan bagi kepentingan rakyat baik secara nyata maupun simbolis.

Dapat disimpulkan, dari debat publik tentang rumah dinas gubernur dalam konteks pemilihan gubernur langsung yang baru pertama kali terjadi ini telah memberi hikmah, yakni munculnya wacana publik tentang pola-pola komunikasi politik antara pemimpin dan rakyat.

* Nanang Trenggono, Dosen Universitas Lampung

Sumber: Lampung Post, Senin, 8 Oktober 2007

Sinematografi: Ranah Perfilman Lampung Menggeliat

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Ranah perfilman Lampung sedang menanjak. Banyak komunitas yang digawangi anak-anak muda menggarap film indie. Apalagi di Lampung kini hadir media televisi swasta yang memberi ruang kreatif bagi kreator film pendek.

Geliat sineas muda dalam menghasilkan karya film ini ditandai maraknya festival film pendek yang digelar di Lampung, kata sastrawan Lampung, Syaiful Irba Tanpaka, beberapa hari lalu. Bahkan, sineas muda Lampung Ibrahim Wadin dengan karya "Kasih yang Hilang" pernah masuk 20 besar festival film indie di salah satu stasiun TV terkemuka.

Menurut Syaiful, untuk lebih menggairahkan semangat dunia perfilman di Lampung, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. "Seiring dengan majunya perkembangan dunia film di Lampung, memang kualitas SDM perfilman harus ditingkatkan."

Untuk itu, sebagai penggiat perfilman di Lampung, Syaiful Irba Tanpaka menggalang kerja sama antarlembaga perfilman. Seperti kerja sama pelatihan, diskusi, dan workshop tentang perfilman.

Menurut dia, tiga faktor penting yang memengaruhi perkembangan dunia film membutuhkan kerja sama antara kreator film, pemodal (produser), dan stasiun TV (broadcast). Apabila ketiga komponen itu bekerja sama dengan baik dan berkesinambungan, akan meningkatkan dunia perfilman di Lampung. "Bila kerja sama itu terwujud beberapa tahun ke depan, Lampung bisa menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dalam ranah perfilman," kata dia. RLS/S-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 8 Oktober 2007

October 6, 2007

Pustaka: Kisah Penuh Teladan

Judul buku: Kumpulan Dongeng dari Kalianda
Penulis : Rudi Suhaimi Kalianda
Penerbit : Matakata dan BE Press, Bandar Lampung
Terbit : September 2007
Tebal : vii + 60 hlm


LAMPUNG sebagai sebuah masyarakat dan kebudayaan sesungguhnya menyimpan banyak khazanah seni-budaya. Salah satu sastra (tradisi) lisan yang kita kenal adalah warahan. Karena sifatnya yang lisan, cerita-cerita rakyat Lampung yang dituturkan dalam warahan itu, diwariskan turun-temurun melalui budaya oral.

Manakala tradisi warahan mulai ditinggalkan -- karena terpaan modernisasi dan globalisasi; maka generasi muda, anak-anak utamanya, semakin tidak mengenal cerita rakyat (warahan) itu. Padahal, inilah kekayaan seni-budaya yang kita miliki.

Di tengah langkanya cerita rakyat Lampung yang dibukukan, kita patut mengapresiasi Rudi Suhaimi Kalianda yang secara tekun mengumpulkan dan kemudian merangkumnya menjadi kisah-kisah yang menarik. Sekaligus, memulai sebuah upaya membangun tradisi keberaksaraan di tengah masyarakat Lampung yang masih asyik-musyuk dengan kelisanan. Ya, dari kelisanan menuju keberaksaraan.

Buku Dongeng dari Kalianda (Lampung Selatan) ini memuat lima cerita rakyat yang dari dulu hingga sekarang masih hidup di Kalianda, yaitu Putri Lijung, Asal Muasal Pulau Setiga, Ratu Kahai, Raden Pesona, serta Ikan Lumba-lumba dan Minak Katimbang.

Dongeng bukanlah sekadar dongeng. Beberapa dongeng mengandung nilai-nilai, bahkan filosofis dan juga sejarah. Nilai-nilai semacam kepahlawanan, pendidikan, keagamaan dan budi pekerti, nasihat untuk selalu rendah hati, kisah jenaka, adat-istiadat, dan percintaan adalah kisah yang baik untuk menjadi acuan bagi anak-anak.


Biodata Penulis

Rudi Suhaimi, lahir di kota kecil Kalianda, Lampung Selatan, 24 Maret 1970. Dia menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Kalianda (1982), Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kalianda (1985), dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kalianda (1988). Tahun 1988 melanjutkan jenjang pendidikan tinggi pada Fakultas Hukum Universitas Janabadra (selesai 1992).

Proses kreatif dalam mdunia tulis-menulis telah dimulai sejak di bangku SMA di Kalianda. Hal ini terus berlanjut di Jogja. Bahkan, hobinya kemudian berkembang tidak sebatas menulis dan mengarang, tetapi juga aktif bermain teater di kampusnya dan lewat Forum Komunikasi Pengembangan Teater Kampus, bakatnya dalam berteater dan pentas di beberapa kampus di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, novelet, dan naskah drama. Untuk puisi dan cerpennya tersebar di media cetak, antara lain Kedaulatan Rakyat, Bernas, Mingguan Minggu Pagi, Suara Merdeka, Lampung Post, dan Lampung Ekspres. Profesi yang dicintainya hingga kini, sebagai wartawan, juga berkat hobinya di dunia tulis-menulis. Saat ini menjabat Kepala Biro Harian Umum Lampung Post Kabupaten Lampung Selatan.

"Menjalani hidup harus dengan keseimbangan", begitu moto hidup yang ia jalani dengan penuh kebahagiaan bersama istri Evalina dan kedua putranya, Muhammad Ifkar Bilhaq Ramadhon dan Zikri Bilhaq Rajabi.

Seni: Apresiasi Pelajar terhadap Sastra Lampung Rendah

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Apresiasi pelajar terhadap sastra Lampung masih rendah. Faktor penguasaan bahasa menjadi kendala utamanya. Pasalnya, pelajaran Bahasa Lampung yang diajarkan di sekolah lebih menekankan penguasaan penulisan aksara ketimbang bahasanya.

Padahal, kata budayawan Lampung Drs. Havizi Hasan, penguasaan kosa kata dan bahasa adalah syarat utama mempelajari dan memperdalam sastra Lampung. Hal itu dia ungkapkan dalam dialog budaya yang diselenggarakan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Kamis (5-10).

"Strategi memasukkan sastra Lampung dalam mata pelajaran muatan lokal sudah benar. Namun, prakteknya siswa hanya bisa menulis aksara Lampung, tetapi tidak punya kemampuan berbahasa Lampung," kata Havisi Hasan.

Menurut dia, persoalan sastra adalah persoalan bahasa, sehingga tidak mungkin para pelajar bisa mengapresiasikan sastra Lampung apabila tidak menguasai bahasanya. Jadi, ujarnya, perkembangan sastra dan perkembangan bahasa adalah dua entitas yang saling mendukung. "Ini tidak bisa dipisahkan, siswa jangan hanya belajar menulis sastra, tetapi juga harus berkomunikasi menggunakan bahasa Lampung."

Selain masalah di atas, sastra Lampung makin sulit berkembang karena masyarakat Lampung sendiri yang tidak mencintai bahasa daerahnya. Masyarakat Lampung tidak memiliki kebanggaan terhadap bahasa ibunya, hal itu sangat berbeda dengan bahasa Minang dan bahasa Jawa yang berkembang di berbagai daerah. Bahkan, banyak kosakata bahasa Minang dan Jawa yang diadopsi menjadi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Untuk membangkitkan kembali kecintaan masyarakat Lampung terhadap bahasa daerahnya, dia mengusulkan pemerintah daerah menerapkan peraturan minimal penggunaan bahasa Lampung di sekolah-sekolah dan kantor-kantor. "Minimal sehari dalam satu pekan, masyarakat diwajibkan menggunakan bahasa Lampung di sekolah dan kantor," ujar dia. Tentu hal itu akan membangkitkan kebanggaan masyarakat Lampung terhadap bahasanya.

Pembina Dewan Kesenian Lampung (DKL), A.M. Zulqarnaen, juga mengusulkan pemerintah memiliki strategi memasyarakatkan bahasa Lampung. Antara lain dengan menerbitkan peraturan daerah tentang filsafat budaya Lampung.

Sementara itu, Kasubdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Dr. Khaidarmansyah, mengatakan untuk mendorong penggunaan bahasa Lampung, selain melalui mata pelajaran muatan lokal, pihaknya juga membina pemahaman penulisan bahasa Lampung untuk para guru. RIN/S-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 6 Oktober 2007

October 4, 2007

Obituarium: Prof. Hilman Hadikusuma Tutup Usia

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lampung kehilangan salah seorang putra terbaiknya, guru besar hukum adat yang juga budayawan, Prof. Hilman Hadikusuma.

Ia tutup usia di kediamannya Jalan Karel Satsuit Tubun 2, Bandar Lampung, Rabu, 30 Agustus 2006, sekitar pukul 2.10, dalam usia 79 tahun. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Jalan Teuku Umar, Bandar Lampung, sekitar pukul 14.00, dengan upacara militer.

Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P., Wakil Ketua DPRD Nurhasanah, para anggota Dewan, dan sejumlah pejabat, termasuk para tokoh masyakarat, tokoh agama, dan tokoh pemuda hadir menyampaikan belasungkawa di kediamannya.

Almarhum yang lahir di Kotabumi, 9 Juli 1927, tidak saja bergiat dalam hukum adat, tapi juga budayawan dan pakar antropologi budaya Lampung. Sudah banyak buku yang dia tulis semasa hidup, selain masalah hukum adat Indonesia juga tentang budaya Lampung.

Menurut putra sulung Prof. Hilman, Riza Mirhadi, yang juga anggota DPRD Lampung, ayahnya meninggal karena lama mengidap berbagai penyakit. Almarhum meninggalkan seorang istri, lima putra, dan 12 cucu.

Tanda jasa dan penghargaan yang diraih adalah Satyalancana Aksi Militer I, Satyalancana Aksi Militer II, Bintang Gerilya, Lencana Angkatan 45, Lencana Karya Siger Emas Sang Bumi Ruwa Jurai, dan Lencana Unila.

Pangkat terakhir saat aktif di TNI adalah Sersan Mayor Resimen Garuda Hitam Brigade Sumatera Selatan. Ia mundur dari dinas militer dan masuk sebagai pegawai sipil di berbagai jawatan.

Almarhum kemudian aktif di bidang pendidikan sebagai dosen Fakultas Hukum (FH) Unila dan pernah menjadi Ketua Jurusan Hukum Adat dan Dekan FH Unila. Dia pensiun sebagai PNS dan tetap aktif sebagai guru besar hukum adat hingga akhir hayatnya.

Hingga wafat, tenaganya masih dibutuhkan sebagai pengajar, guru besar dan pakar hukum adat, antropologi budaya Lampung di Universitas Lampung, Universitas Bandar Lampung (UBL), dan IAIN Raden Intan.

Almarhum pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Lampung pada 1964--1968.

Prof. Hilman Hadikusuma merupakan salah satu ahli dan pakar hukum adat Indonesia, khususnya menyangkut hukum adat Lampung dan ahli budaya Lampung.

Dia pernah melontarkan berbagai gagasan menyangkut eksistensi hukum adat yang berkaitan hak ulayat tanah masyarakat asli. Bahkan, saat aktif mengajar, dalam pernyataannya, Prof. Hilman mengemukakan bahwa hukum adat dan hukum nasional lain saling berkait dan melengkapi.

Menurut Prof. Hilman, hukum nasional juga bertumpu pada hukum adat dan hukum adat dengan hukum nasional saling berkait dan saling membutuhkan. Sebab itu, dia gigih memperjuangkan hukum adat Indonesia sebagai landasan hukum formal yang menjadi subjek dan pegangan seluruh sumber hukum di Indonesia. Sekaligus menjadi rujukan mahasiswa fakultas hukum di perguruan tinggi.

Bahkan, sebagai pakar budaya Lampung, Prof. Hilman sangat gigih agar budaya Lampung menjadi acuan dan masuk kurikulum pendidikan dasar sejak SD hingga perguruan tinggi, terutama bahasa, kesenian, dan sastra yang harus dilestarikan. n JUN/SA/R-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 31 Agustus 2006


Biodata

Prof. H. Hilman Hadikusuma, S.H., dilahirkan di Kotabumi, Lampung Utara, 9 Juli 1927, meninggal di Bandar Lampung, 30 Agustus 2007. Ia adalah anak tunggal dari ayah ibu pegawai rendahan yang berasal dari daerah Tulangbawang. Pendidikannya melalui tiga zaman. Pendidikan dasar diperolehnya dari sekolah Hollands Inlandsche Shcool (HIS) di daerah Lampung. Pendidikan Menengah Pertama dan Menengah Atas dapat diselesaikannya setelah ia keluar dari TNI pada tahun 1950 di Jakarta. Pada tahun 1954 ia diterima pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta, dan baru pada tahun 1968 ia menyelesaikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung. Sejak itu, ia menjadi tenaga pengajar pada almamaternya dengan mendalami mata ajaran Hukum Perdata Adat. Ada 25 karya tulisnya yang sudah terbit tentang hukum adat yang dititipkannya untuk terus dipelajari, diajarkan, diteliti, dan dikembangkan oleh para generasi selanjutnya.

Beberapa karya tulis lainnya: Antropologi Agama Bagian I (1993), Antropologi Agama Bagian II (1993), Pengantar Antropologi Hukum (2004), Hukum Waris Adat (HVS) (2003), Hukum Waris Indonesia Menurut Perundangan Hukum Adat, Hukum Agama Hindu-Islam (1996), Hukum Perjanjian Adat (1994), Hukum Perkawinan Adat (HVS) (2003), Hukum Adat dalam Yurisprudensi, Hukum Tanah, Jual-Beli, Perhutangan, dan Lainnya (1994), Hukum Adat dalam Yurisprudensi, Hukum Kekeluargaan, Perkawinan, Pewarisan (1993), dan Hukum Perekonomian Adat Indonesia (2001).

Sumber: Situs Penerbit PT Citra Aditya Bakti

Lihat juga: Guru Besar Hukum Adat Lampung...

October 3, 2007

Rendah, Kontribusi Media Menumbuhkembangkan Budaya Daerah

Bandar Lampung, Kompas - Kontribusi dan peran media dalam menumbuhkembangkan budaya daerah Lampung belum optimal. Media cetak ataupun elektronik belum menjadikan budaya sebagai komoditas utama dalam pemberitaannya. Kalaupun ada berita dan ulasan budaya, porsi pemberitaan bisa dikatakan sangat kecil.

Demikian kesimpulan yang diambil sebagai hasil diskusi dan dialog Budaya Visual yang diselenggarakan Subdinas Kebudayaan Dinas Pendidikan Lampung bekerja sama dengan para praktisi media cetak dan elektronik Lampung, Selasa (2/10). Selain dihadiri para praktisi media, diskusi juga dihadiri para seniman Lampung dari berbagai genre seni.

Salah satu praktisi media Lampung, Ardiansyah, dalam diskusi itu mengatakan, yang menjadi kendala minimnya pemberitaan budaya di media cetak dan elektronik adalah rendahnya nilai jual berita mengenai kesenian daerah. Padahal, media berprinsip apabila sesuatu informasi tidak menarik atau tidak menawarkan hal baru maka akan dianggap tidak layak terbit atau layak siar.

Layak ekspos

Ardiansyah mengatakan, masyarakat dan seniman Lampung seharusnya bisa memajukan seni pertunjukan supaya layak untuk diekspos. Tentunya, pertunjukan yang ditampilkan harus memiliki keunikan dan ada sentuhan-sentuhan baru sehingga memiliki nilai berita.

Dalam diskusi tersebut juga terungkap, para seniman Lampung seharusnya bisa mengkreasikan budaya Lampung supaya layak "jual". Untuk itu, selain dari kreativitas para senimannya, juga dibutuhkan niat baik dan kesadaran bersama untuk mengangkat budaya Lampung.

"Di sini peran media untuk menginformasikan dan menumbuhkembangkan iklim kesenian melalui pemberitaan-pemberitaan dan ulasan-ulasan di media akan terjadi," kata Ardiansyah.

Selama ini, minimnya nilai berita dari sebuah peristiwa atau kegiatan kesenian juga akibat minimnya dukungan kreativitas dari para seniman Lampung sendiri. Dalam diskusi tersebut terungkap, banyak seniman Lampung yang ternyata kebablasan dalam menafsirkan pakem-pakem budaya Lampung.

Misalnya, pakem pada tari-tarian klasik Lampung. Tari-tari klasik Lampung mempunyai pakem di mana dalam menari, penari wanita tidak melakukan gerakan yang memperlihatkan ketiaknya.

Gerak tari klasik Lampung yang lemah gemulai tidak bisa dipaksakan untuk menjadi dinamis, seperti tari Bali. Justru gerak tari yang lemah gemulai itu adalah kekuatan dan ciri khas tari Lampung yang dapat dijual. Apabila seniman ingin memunculkan tari kreasi baru, hendaknya ruh Lampung tetap menonjol sebagai ikon dan bukannya menjiplak kesenian daerah lain.

Para peserta diskusi juga sepakat, ke depan apabila seniman Lampung tetap berkreativitas tanpa meninggalkan pakem-pakem budaya khas Lampung, diharapkan upaya itu bisa menumbuhkembangkan budaya dan kesenian asli Lampung.

Selain itu, meski masih kecil, media juga tetap memiliki peran menumbuhkembangkan kesenian daerah. Yaitu melalui pemberitaan-pemberitaan yang terus-menerus dan ulasan-ulasan yang berbobot. (hln)

Sumber: Kompas, Rabu, 03 Oktober 2007

October 2, 2007

Pendidikan: Seniman Masuk Sekolah Dukung Kesenian

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Upaya seniman masuk sekolah (SMS) diharapkan dapat mendukung pembelajaran kesenian di sekolah yang selama ini terpinggirkan. Sekaligus mendukung kurikulum tingkat satuan pelajaran (KTSP) yang diprogramkan pemerintah.

Kasubdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Khaidarmansyah, mengemukakan hal tersebut dalam sambutan pembukaan kegiatan Seniman Masuk Sekolah yang digelar di SMAN 1 Gunungsugih, Lampung Tengah (Lamteng), Senin (1-10). "Kegiatan ini sangat penting dan strategis mengingat selama ini jam mata pelajaran dan materi kesenian kurang. Terutama dari berbagai tangkai seni berupa sastra, film, teater, tari, musik, dan seni rupa," kata Khaidarmansyah.

Padahal, menurut dia, pelajaran kesenian selayaknya juga mengenalkan siswa pada berbagai hal ikhwal mengenai kesenian, proses kreatif dan karya-karyanya. "Perkenalan ini merupakan tahapan untuk penyadaran atau awareness pada siswa terhadap hal-ihwal kesenian sebagai bagian dari pengejawantahan nilai-nilai etis dan estistika," ujar dia.

Kemudian tahap berikutnya menyusul dengan usaha membangkitkan minat atau interest siswa terhadap kesenian sebagai perwujudan daya cipta rasa dan karsa yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan kita sebagai makhluk individu maupun sosial. "Sehingga nantinya terbentuklah sikap atau attitude para siswa yang aspiratif terhadap karya seni seniman dan kesenian pada umumnya," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan A. Murad Noer mengatakan kegiatan SMS ini diselenggarakan untuk kedua kali. Kegiatan pertama digelar di SMAN 1 Gadingrejo dan diikuti sekitar 100 pelajar di Tanggamus. Pemateri kegiatan ini menghadirkan Dharmawan yang merupakan koreografer dan pengajar kesenian di SMAN 2 Kalianda.

Selain itu, kegiatan juga dimeriahkan dengan diskusi seni bersama penyair Christian Heru Cahyo Saputro. Pada kesempatan tersebut, Heru membedah buku kumpulan puisi Syaiful Irba Tanpaka yang berjudul Karena Bola Matamu.

Kepala SMAN 1 Gunungsugih, Lamteng, Munsir, menilai kegiatan ini sangat bagus. "Siswa dapat menimba pengalaman langsung dari seniman. Ini sekaligus bisa menambah wawasan dan motivasi siswa untuk berkarya. Apalagi kini ternyata seniman bisa dijadikan salah satu profesi yang menjanjikan."

Kegiatan roadshow dilanjutkan ke SMAN 2 Kalianda dengan menghadirkan pembicara Christian Heru Cahyo Saputro serta Ketua Umum Dewan Kesenian Langsung (DKL) Syafariah Widianti serta pembina DKL Maysary Berti Moegni. N TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 2 Oktober 2007

October 1, 2007

Mamak Kenut: (Katakanlah Ini Sebuah) Pengantar*

-- Juwendra Asdiansyah** dan Esti Malasofia***

AGAR terlihat seperti buku pada umumnya, Mamak Kenut perlu diberi pengantar. Sebagai editor, terpaksalah saya menulis pengantarnya. Tetapi... apa yang harus ditulis dalam pengantar ini?

Kehidupan meskipun tidak selalu menyenangkan, tidak pula penuh dengan kesusahan. Namanya juga hidup. Ia senantiasa memiliki warna sesuai dengan zamannya. Tak usah pula diperdebatkan zaman itu beubah atau berputar. Entah benar, entah tidak, terkadang memang ada semacam 'arus balik' kehidupan.
(Temon Do)

Arus balik? Mari kita bicarakan soal 'arus balik' sebagai menu pengantar buku ini.

Bahwa hidup tidak linier, semua orang tahu. Namun tidak banyak yang mampu bertahan; berdiri dalam ombang-ambing arus kehidupan; berjingkat dan berkelit-kelindan dari masa yang sering terbalik-balik. Udo Z. Karzi barangkali seorang dari kelompok yang tak banyak itu. Upaya warawan cum sastrawan ini untuk berakrobat, melompat, bahkan menari dalam dinding hidup yang kian menjepit, paling tidak dapat kita urut jejaknya dari buku ini: Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh.

Bahwa hidup itu warna warni, anak kecil juga tahu. Tapi, berapa banyak yang siap mengecap hidup dengan segala warnanya yang penuh warna: hitam, putih, kuning genteng, hejow dangdut atau merah janda. Bahwa hidup itu bianglala, itu pasti. Persoalannya, banyak kita mungkin lupa akan itu. Maka, membaca Mamak Kenut, mengingatkan kita soal hidup yang tidak 'tunggal' itu; hidup yang hitam putih, gelap terang, atas bawah, bolak-balik, enak susah, kaya miskin, tukang ojek-anggota DPR, preman-politisi, maling-birokrat... arus balik...

Irilah pada Mamak Kenut; dia yang bisa jadi siapa saja. Suatu kali ia jadi A, kali lain jadi B. Sungguh nikmat jadi Mamak Kenut; dia yang bisa bicara apa saja; ngoceh bau seenaknya. Ini hari ngomong X, besok XXX. Suatu kali ia mengeritik teman-temannya mantan aktivis:

... begitu mudahnya orang melupakan perlawanan begitu ia masuk ke dalam lingkar kekuasaan. Bukan hal aneh ketika menjadi aktivis begitu garang melawan rezim, tetapi begitu menjabat atau jangankan menjabat, dekat saja dengan si pejabat, segera saja menjadi "pak turut" atau "asal bapak senang".
(Lawan)

Mamak Kenut memang asal. Bisa jadi, itu karena idealismenya. Idealisme yang lama terkurung dan bergelegak--namun tetap terpelihara dan terjaga. Tidak banyak orang -- termasuk wartawan -- yang mampu keluar dari kerawanan itu. Udo Z. Karzi, dengan segala kesederhanaannya -- sebagian orang melihatnya sebagai keluguan -- ternyata masuk golongan yang mampu.

Cukup lama saya mengenal Udo. Kadang saya melihatnya sedikit naif. Ia ngotot untuk banyak hal. Jika Anda berbeda dengannya, Anda akan cepat berada dalam sebuah medan pertarungan yang dahsyah (terlalu hiperbolik nggak, ya?). Untuk sebuah prinsip, Udo akan membelanya sampai titik ludah penghabisan... Jadi, jika boleh saya sarankan, hindari bicara serius dengannya... Ha...ha...ha... tidak... saya becanda (Si Sarah makan kelanting, jangan marah just kidding). Yang ingin saya katakan, adalah di balik sosoknya yang ringkih, di antara kumis janggutnya yang satu satu, Udo menyimpan magma intelektualitas yang dahsyat -- yang jika tergoyang sedikit, maka akan menyembur dengan entakan yang sedahsyat-dahsyatnya.

Namun, jangan khawatir. Semburan yang dahsyat itu, yang menggelegar itu, suatu waktu dapat mendayu-dayu, mengalun... lalu romantis. Simaklah:

Nora adalah sebuah kesejukan di tengah kesumpekan politik negeri ini. Barangkali saja, saat memandang Nora, berjuta kenangan melintas. Berjuta-juta mimpi mengembang. Berjuta-juta harapan membuncah. Mungkin saja, ada sesuatu yang memancar dari sorot mata dan senyum Nora yang dapat membangun hari esok.
(Nora [Pakai k])

Ah, adakah wanita yang mampu bertahan jika di-Nora-kan oleh Mamak Kenut (entah Minan Tunja)? Mamak Kenut memang aneh.

Membaca Mamak Kenut mungkin sebuah upaya mencari hiburan. Sebab, membacanya adalah menyimak humor yang satir. Ia mungkin adalah sebuah karikatur. Menyulap kisah atas banyak peristiwa, kehidupan, sifat dan polah-laku, lagak-lagu manusia, menjadi sebuah parodi. Renyah yang miris. Komedi yang perih.

Tiba-tiba, Mat Puhit datang mengeluh. "Payah. Aku kan diminta partisipasi. Aku pikir mau dikasih uang sakunya. Eh, panitia malah minta bantuan akomodasi. Gimana?

O... jadi akomodasi itu duit ya? Kalau kita, semisal rakyat miskin kelaparan, berarti tidak akomodatif. Kalau kita...

"Akomodatif dikitlah," kata Udien yang tiba-tiba nongol minta ditraktir ngopi.

Setelah kopi diminum, "Nah, itu baru akomodatif."
(Politik Akomodasi)

Mamak Kenut lucu juga kan... kadang (Udo Z. Karzi yang saya kenal, memang tidak lucu-lucu amat). Tetapi, nampaknya dia tidak benar-benar melucu, karena kesan serius lebih kuat menyendal. Mungkin bisa disebut kelucuan yang serius. Atau keseriusan yang lucu. Nah, kalau soal serius, sebenar-benarnya serius, Mamak jagonya. Ini buktinya:

... Kita sering salah mengartikan kemerdekaan. Merdeka seharusnya tak membuat kita berpisah. Kemerdekaan yang hakiki, barangkali membuat kita saling menghormati, saling bertoleransi, saling memaafkan, saling berjabat tangan, saling membantu satu sama lain. Kita sama: benci penindasan,, karena penindasan menafikan kemerdekaan.
(Kemerdekaan)

Mamak Kenut memang sok dalem begitu, suasana haru-biru:

Kesendirian barangkali saja sesuatu yang membahagiakan tanpa harus menggantungkan nasib pada situasi yang tidak pernah memihak kepada kita. Kepasrahan bukan kebodohan karena ia merupakan suatu pilihan saja dari suasana yang terasa menyumpekkan. Kepolosan boleh jadi semacam cara saja menghindari dari perasaan sakit hati atau frustasi....
(Temon Do)

Tetapi lain kali Mamak Kenut jadi malas tidak ketulungan.

Dalam rangka menuruti hawa nafsunya, Sugimin (44), mencabuli lima anak di bawah umur... Dalam rangka melestarikan dinasti dalam tubuh birokrasi, para pejabat di delapan kabupaten melakukan apa pun... Dalam rangka...
(Dalam Rangka simak pula Sementara Itu)

What ever (Mamak Kenut sesekali pakai bahasa ulun Inggris), syukur ada Mamak Kenut. Di tengah dahaga -- tatkala membalik-balik lembar-lembar halaman surat kabar daerah ini -- Mamak Kenut menjadi oase. Ketika koran sudah jadi gelanggang politisi busuk bin apek beradu iklan gadungan, ketika iklan ditukar dengan "kampanye terselubung", ketika berita dan "opini" jadi "barang dagangan" banyak wartawan, maka Mamak Kenut merawat harapan. Jika Anda jenuh dengan Lampung yang penuh birokrat ngaco, politisi asem, pengusaha kampret, aktivis matre, mahasiswa konyol, dan cendekia ngawur, atau malah preman romantis, sempatkan membaca Mamak Kenut.

Kebenaran memang barang langka. Yang paling banyak adalah orang-orang yang merasa benar sendiri. Tetapi tak pernah jelas ukurannya. Tetapi tak pernah terang letak kebenarannya. Boleh jadi kebenaran di tangan preman yang mengandalkan otot ketimbang otak. Barangkali pula kebenaran tak lebih dari sesuatu yang dipungut di jalan-jalan penuh debu.
(Temon Do lagi-lagi)

Pesan saya: Bacalah buku ini sampai selesai. Kalau di tengah jalan Anda ngantuk -- seperti yang kami (saya dan Esti) alami ketika mengedit buku ini -- jangan risau. Percayalah, kantuk itu bukan karena buku ini menjemukan. Tetapi karena kita menjadi lelah, penat dengan 'apa-apa' yang dibaca. Ini memang gara-gara Mamak Kenut juga. Kadang, ia sekadar ngoceh bau saja, asal njeplak, sehingga tak perlu dipikir serius, tak perlu dibawa ke dasar hati, ditanam ke sudut otak. Tetapi, lebih sering ia membuat kening berkerenyit. Mengajak kita berpikir, merenung, refleksi, berdebat (sendiri), lalu kontemplasi... dan ooouuaaakkhhhhh... ngantuk...ah.

Ya sudah, berhenti aja dulu! Nyalakan rokok, ngudut pai, pergi ke dapur, ambil cangkir...ngopi...ngupi pai...

Di tengah rasa frustasi menghadapi ketidakadilan, mungkin saja setelah menghirup beberapa teguk kafein, dunia terasa lebih indah...
(Dalam rangka)


* Pengantar editor untuk buku Udo Z. Karzi berjudul Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh (belum terbit juga)

** Juwendra Asdiansyah, editor, wartawan Harian Seputar Indonesia

***
Esti Malasofia, editor