April 9, 2007

Pameran: Menengok Lampung Tempo "Doeloe" Lewat Foto

-- Helena F Nababan

PERKEMBANGAN Lampung dari masa ke masa tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Lampung. Tepatnya ketika Lampung masih berstatus bagian dari keresidenan Palembang kemudian dikembangkan sebagai daerah kolonisasi oleh Pemerintah Belanda pada 1905-1942, dan akhirnya menjadi provinsi Lampung pada 18 Maret 1964.

Rentetan cerita mengenai perkembangan Lampung itu terekam apik melalui 72 karya foto yang dipamerkan pada Pameran Fotografi bertajuk "Lampoeng Tempo Doeloe" di Gedung Olahraga Saburai, Bandar Lampung, pada 30 Maret hingga 1 April 2007. Pameran merupakan bagian dari peringatan hari jadi Ke-43 Lampung pada 18 Maret 2007.

Selain menampilkan karya-karya hasil dokumentasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dan Pemerintah Kota (Pemkot) Metro, pameran fotografi itu juga menampilkan foto- foto yang merupakan koleksi pribadi dari keluarga pelaku sejarah berdirinya Lampung. Foto- foto yang ditampilkan koleksi milik Bastari Sinungan, AD Sutjipto, Solfian Akhmad, A Bachtiar, Markoem, Zaini, Kamaroedin Sampoernadjaya, Amin JP, dan Arifin Nitipradjo Tegamo’an.

Pameran diawali dengan foto pendirian kolonisasi di kota Metro pada 1937. Foto yang menampilkan para pendiri kota Metro itu disusul dengan foto kedatangan transmigran dari Jawa Tengah ke lokasi transmigrasi, permukiman para transmigran di Metro, pembangunan bendung pada saluran irigasi Way Sekampung di Trimurjo, hingga cacah jiwa di Metro.

Seusai menampilkan sejarah transmigrasi di Lampung, urutan perkembangan Lampung sedikit membuka dengan ditampilkannya foto aktivitas warga Tanjung Karang dan Teluk Betung pada era 1930-1960. Kedua kota ini akhirnya bersatu menjadi Bandar Lampung pada 1983.

Ada juga foto Presiden Soekarno yang tengah berpidato di lapangan besar di Tanjung Karang dengan gagahnya. Ada juga tampilan mengenai berbagai pembangunan infrastruktur kota, seperti jembatan dan jalan, sarana transportasi warga mulai dari bus dan kapal laut, hingga bangunan-bangunan fasilitas umum, seperti rumah sakit umum yang sekarang berkembang menjadi RSUD Abdul Moeloek dan bangunan stasiun Tanjung Karang yang tetap kokoh hingga sekarang.

Joko Irianta, kurator pada pameran fotografi itu, Jumat (30/3), mengatakan, terlepas dari ketidaksiapan panitia mempersiapkan pameran yang ditandai dengan tak adanya deskripsi mengenai foto dan terbatasnya jumlah foto yang ditampilkan, setidaknya penggalan-penggalan cerita mengenai masa lalu Lampung bisa terungkap melalui foto-foto yang dipamerkan.

Sementara Arifin Nitipradjo Tegamo’an (72), salah satu penggagas berdirinya Provinsi Lampung, pada kesempatan yang sama mengatakan, dengan melihat foto-foto itu, ia bisa dengan jelas mencermati, Lampung yang dulu sudah berbeda dengan Lampung yang sekarang.

Sekarang ini, Lampung belum menjadi provinsi maju seperti keinginan para penggagas dan pendiri provinsi. Pemprov Lampung memiliki banyak pekerjaan rumah, di antaranya upaya untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pembangunan tanpa meremehkan aspek konservasi lingkungan hidup.

"Tantangannya makin banyak di berbagai bidang," katanya.

Sumber: Kompas, Senin, 09 April 2007

No comments:

Post a Comment

Post a Comment