BANDAR LAMPUNG (Lampost): Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung untuk kesekian kalinya menggelar pelatihan teater.
Acara kali ini bertajuk Workshop Teater Mikro. Kegiatan ini akan berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu (16—17 Juli), di gedung Pusat Kegiatan mahasiswa (PKM) Universitas Lampung.
Ketua Umum UKMBS Unila 2011—2012 Devin Nodestyo menyambut baik event ini. "Pelatihan atau event teater semacam ini sangat dibutuhkan untuk terus meningkatkan kualitas pertunjukan teater di Lampung. Khususnya kalangan mahasiswa yang anggotanya terus berganti setiap tahunnya.”
Event-event yang bertajuk pelatihan atau capacity building merupakan langkah konkret dalam usaha memajukan dan mengembangkan kehidupan teater di masa mendatang. Menurut dia, teater mikro adalah salah satu solusi alternatif di tengah berbagai keterbatasan yang menyertai kehidupan teater di Lampung.
"Meskipun durasinya pendek karena bangunan pertunjukan tetap utuh, tetap menarik sebagai sebuah pertunjukan. Bahkan saya rasa akan menjadi tren baru bagi penciptaan teater di Lampung di kemudian hari," kata dia.
Yulizar Fadli, koordintaor Bidang Pendidikan dan Pelatihan Kober, mengungkapkan workshop teater ini akan dihadiri kelompok-kelompok teater yang berbasis kampus atau mahasiswa, seperti dari Bandar Lampung ada Teater Kurusetra (UKMBS Unila), Teater KSS FKIP Unila, dan UKMBS UBL.
Selanjutnya, UKMSBI IAIN Raden Intan, Green Teater Umitra. Sementara dari Metro diundang Teater Mentari Universitas Muhammadyah Metro, IMPAS STAIN Metro, Teater Kompeni Metro, PAKSI Metro, Teater Pelangi, Teater Akustik STKIP PGRI. Kemudian dari Kotabumi juga diundang Teater Sagkar Mahmud STKIP PGRI Kotabumi.
"Beberapa komunitas seni lain juga kami undang, meskipun selama ini belum eksis di bidang teater, seperti UKM Bidang Seni Teknokrat, Malahayati, UML, STKIP PGRI Bandar Lampung," kata Yulizar.
Workshop Teater Mikro merupakan satu rangkaian kegiatan yang akan dilanjutkan dengan Festival Teater Mikro yang akan diadakan pada minggu ketiga atau keempat bulan September 2011. Peserta workshop yang dianjurkan adalah aktor atau sutradara yang akan berpartisipasi pada event tersebut.
Selain sebagai ajang pelatihan, Workshop Teater Mikro adalah ajang silaturahmi bagi pelaku-pelaku teater di Lampung. Media untuk saling mengenal satu sama lain dan menciptakan sebentuk jaringan kerja sama. (MG1/S-2)
Sumber: Lampung Post, Jumat, 15 Juli 2011
July 15, 2011
July 14, 2011
2012 Lampung Barat Miliki Pusat Penangkaran Luwak
Liwa, Lampung, 14/7 (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lampung Barat berencana pada tahun 2012 akan membuat penangkaran luwak guna melestarikan populasi hewan tersebut dari kepunahan.
"Tahun depan pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan dan Pertenakan akan membuat lokasi penangkaran luwak (Musang), lokasi penangkaran dibuat nantinya sebagai upaya perhatian pemeritah terhadap binatang ini, yang semakin hari kian berkurang populasinya," kata Kepala Bidang Bina Usaha Perkebunan, Dinas Perkebunan Lampung Barat, Agustanto Basmar, di Liwa, Kamis.
Dia menjelaskan, penangkaran luwak yang dilakukan oleh pengusahan kopi tidak membuahkan hasil maksimal.
Menurut dia, penangkaran yang dibuat nantinya mampu meningkatkan populasi luwak di Lampung Barat.
"Melihat kondisi binatang ini semakin hari kian sedikit, menimbulkan keprihatinan pemerintah untuk meningkatkan populasinya kembali, sebab bila dibiarkan dengan kondisi yang sekarang ini, dapat dimuungkina tiga hingga empat tahun kedepan populasi luwak akan terancam punah," kata dia.
Dia menguraikan, sebagian besar binatang luwak mati di penangkaran masyarakat, sebab mereka kurang memahami kehidupan dan tingkah laku asli binatang tersebut.
Lampung Barat dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbesar di Provinsi Lampung, dimana didalamnya juga terdapat berlimpahnya populasi luwak (Musang) sebagai binatang penghasil kopi termahal saat ini.
Kopi luwak menjadi salah satu produk ungulan di Kabupaten Lampung Barat, sebab kualitas dan mutu kopi luwak di daerah ini terbaik ke dua dunia, dan membuat nama Lampung Barat semakin dikenal di mancanegara sebagai daerah penghasil kopi luwak terunggul.
Meningkatnya permintaan kopi luwak di pasaran membuat perajin kopi menambah stok ternak luwak, agar lonjakan permintaan tersebut dapat terpenuhi dengan jumlah luwak yang diternakan.
Sayangnya penangkaran luwak yang dilakukan pengusaha kopi luwak tidak membuahkan hasil maksimal, sebagian besar dari luwak yang ditangkarkan tersebut mati.
Berkurannya jumlah luwak yang ada mendorong pemerintah daerah untuk membuat lokasi penangkaran luwak agar populasi luwak tersebut dapat terselamatkan.
Masyarakat sendiri memburu binatang ini untuk dijual pada pengusaha kopi, rata rata harga luwak mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu perekor, tingginya harga luwak membuat hewan ini banyak diburu oleh masyarakat.
Disinyalir populasi luwak kurun waktu lima hingga enam tahun kedepan akan terancam punah, sebab melihat kondisi saat ini, populasi luwak semakin berkurang akibat ketidak cocoknya ekosistem kadang buatan yang dilakukan pengusaha.
Di Lampung Barat sendiri terdapat 20 pengusaha kopi luwak yang aktif, rata rata setiap pengusaha memiliki 30 hingga 50 ekor luwak untuk ditangkarkan dan menghasilkan kopi luwak dengan kualitas dunia.
Pembuatan penangkaran luwak akan dimulai pada tahun 2012 mendatang, dan penangkaran tersebut berfungsi sebagai penilitian dan pengembangan habitat sehingga populasi luwak tidak terancam punah.
"Saya berharap penagkaran yang dibuat nanti mampu meningkatkan dan menyelamatankan populasi luwak dari kepunahan, dan berharap pula pada masyarakat terutama pengusaha kopi luwak dapat berkoordinasi baik oleh pemkab dalam pelestarian luwak ini," katanya.
Sumber: Antara, 14 Juli 2011
"Tahun depan pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan dan Pertenakan akan membuat lokasi penangkaran luwak (Musang), lokasi penangkaran dibuat nantinya sebagai upaya perhatian pemeritah terhadap binatang ini, yang semakin hari kian berkurang populasinya," kata Kepala Bidang Bina Usaha Perkebunan, Dinas Perkebunan Lampung Barat, Agustanto Basmar, di Liwa, Kamis.
Dia menjelaskan, penangkaran luwak yang dilakukan oleh pengusahan kopi tidak membuahkan hasil maksimal.
Menurut dia, penangkaran yang dibuat nantinya mampu meningkatkan populasi luwak di Lampung Barat.
"Melihat kondisi binatang ini semakin hari kian sedikit, menimbulkan keprihatinan pemerintah untuk meningkatkan populasinya kembali, sebab bila dibiarkan dengan kondisi yang sekarang ini, dapat dimuungkina tiga hingga empat tahun kedepan populasi luwak akan terancam punah," kata dia.
Dia menguraikan, sebagian besar binatang luwak mati di penangkaran masyarakat, sebab mereka kurang memahami kehidupan dan tingkah laku asli binatang tersebut.
Lampung Barat dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbesar di Provinsi Lampung, dimana didalamnya juga terdapat berlimpahnya populasi luwak (Musang) sebagai binatang penghasil kopi termahal saat ini.
Kopi luwak menjadi salah satu produk ungulan di Kabupaten Lampung Barat, sebab kualitas dan mutu kopi luwak di daerah ini terbaik ke dua dunia, dan membuat nama Lampung Barat semakin dikenal di mancanegara sebagai daerah penghasil kopi luwak terunggul.
Meningkatnya permintaan kopi luwak di pasaran membuat perajin kopi menambah stok ternak luwak, agar lonjakan permintaan tersebut dapat terpenuhi dengan jumlah luwak yang diternakan.
Sayangnya penangkaran luwak yang dilakukan pengusaha kopi luwak tidak membuahkan hasil maksimal, sebagian besar dari luwak yang ditangkarkan tersebut mati.
Berkurannya jumlah luwak yang ada mendorong pemerintah daerah untuk membuat lokasi penangkaran luwak agar populasi luwak tersebut dapat terselamatkan.
Masyarakat sendiri memburu binatang ini untuk dijual pada pengusaha kopi, rata rata harga luwak mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu perekor, tingginya harga luwak membuat hewan ini banyak diburu oleh masyarakat.
Disinyalir populasi luwak kurun waktu lima hingga enam tahun kedepan akan terancam punah, sebab melihat kondisi saat ini, populasi luwak semakin berkurang akibat ketidak cocoknya ekosistem kadang buatan yang dilakukan pengusaha.
Di Lampung Barat sendiri terdapat 20 pengusaha kopi luwak yang aktif, rata rata setiap pengusaha memiliki 30 hingga 50 ekor luwak untuk ditangkarkan dan menghasilkan kopi luwak dengan kualitas dunia.
Pembuatan penangkaran luwak akan dimulai pada tahun 2012 mendatang, dan penangkaran tersebut berfungsi sebagai penilitian dan pengembangan habitat sehingga populasi luwak tidak terancam punah.
"Saya berharap penagkaran yang dibuat nanti mampu meningkatkan dan menyelamatankan populasi luwak dari kepunahan, dan berharap pula pada masyarakat terutama pengusaha kopi luwak dapat berkoordinasi baik oleh pemkab dalam pelestarian luwak ini," katanya.
Sumber: Antara, 14 Juli 2011
July 13, 2011
Pesona Ratusan Lumba-lumba Lampung Barat
POPULASI ikan lumba-lumba yang berada di kawasan pesisir Lampung Barat terjaga dan menjadi daya tarik bagi wisata bahari daerah tersebut. Hal itu dikemukan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Barat, Nata Djudin Amran, di Liwa Senin (11/7).
Dia menjelaskan, sebagian besar masyarakat pesisir menjaga kelestarian populasi ikan tersebut.
Menurut dia, potensi jelajah bahari menjadi pilihan bagi wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung di Lampung Barat untuk menikmati ratusan lumba-lumba di perairan tersebut.
"Saya meyakini panorama laut yang indah itu mampu memberikan kontribusi besar terhadap kunjungan wisatawan asing dan domestik pesisir, dan terlihat hampir setiap harinya para turis itu menikmati kawanan lumba-lumba yang muncul di kawasan laut tersebut," kata dia.
Ditambahkan, wisata bahari di Lampung Barat belum terkelola dengan baik, dan menjadi peluang investasi bagi investor.
Kabupaten Lampung Barat memiliki berbagai potensi lokal yang layak untuk dikembangkan, kawasan pesisir Lampung Barat juga kaya akan potensi wisata bahari di mana terdapat dua pulau yang dapat dijadikan ekowisata bahari, yakni Pulau Betuah dan Pulau Pisang.
Dua pulau tersebut diketahui terdapat ratusan ribu ikan lumba-lumba. Terjaganya populasi ikan tersebut disebabkan larangan masyarakat untuk menangkap ikan lumba-lumba sehingga populasi ikan ini meningkat setiap tahunnya.
Ketinggian Ombak
Keelokan panorama laut memberikan penawaran bagi wisatawan asing dan domestik untuk menjelajah di perairan Lampung Barat, sehingga kegiatan tersebut sebagai sarana rekreasi dan pengetahuan.
Kawasan pesisir juga memiliki ketinggian ombak mencapai 5 meter dan panjang gelombang 200 meter.
Tanjung Setia menjadi salah satu pantai dengan ombak tertinggi di dunia. Setiap tahunnya tidak kurang dari 100 ribu wisatawan asing yang berasal dari Australia, Portugal, Belanda, Jepang dan Amerika berkunjung ke pantai ini untuk melakukan aktivitas surfing.
Sementara itu, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan, pemerintah akan memberikan kesempatan bagi pihak investor mengelola potensi bahari di Lampung Barat.
"Kami akan memberikan kemudahan bagi investor untuk mengembangkan kawasan bahari pesisir Lampung Barat. Keindahan yang dimiliki menawarkan peluang usaha sektor pariwisata," kata Bupati menambahkan.
"Saya berharap pemerintah pusat membantu Lampung Barat dalam mengembangkan pariwisata di kawasan pesisir ini, daerah ini dapat dijadikan tujuan wisata nasional dan internasioanl dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia." (ant-24)
Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 13 Juli 2011
Dia menjelaskan, sebagian besar masyarakat pesisir menjaga kelestarian populasi ikan tersebut.
Menurut dia, potensi jelajah bahari menjadi pilihan bagi wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung di Lampung Barat untuk menikmati ratusan lumba-lumba di perairan tersebut.
"Saya meyakini panorama laut yang indah itu mampu memberikan kontribusi besar terhadap kunjungan wisatawan asing dan domestik pesisir, dan terlihat hampir setiap harinya para turis itu menikmati kawanan lumba-lumba yang muncul di kawasan laut tersebut," kata dia.
Ditambahkan, wisata bahari di Lampung Barat belum terkelola dengan baik, dan menjadi peluang investasi bagi investor.
Kabupaten Lampung Barat memiliki berbagai potensi lokal yang layak untuk dikembangkan, kawasan pesisir Lampung Barat juga kaya akan potensi wisata bahari di mana terdapat dua pulau yang dapat dijadikan ekowisata bahari, yakni Pulau Betuah dan Pulau Pisang.
Dua pulau tersebut diketahui terdapat ratusan ribu ikan lumba-lumba. Terjaganya populasi ikan tersebut disebabkan larangan masyarakat untuk menangkap ikan lumba-lumba sehingga populasi ikan ini meningkat setiap tahunnya.
Ketinggian Ombak
Keelokan panorama laut memberikan penawaran bagi wisatawan asing dan domestik untuk menjelajah di perairan Lampung Barat, sehingga kegiatan tersebut sebagai sarana rekreasi dan pengetahuan.
Kawasan pesisir juga memiliki ketinggian ombak mencapai 5 meter dan panjang gelombang 200 meter.
Tanjung Setia menjadi salah satu pantai dengan ombak tertinggi di dunia. Setiap tahunnya tidak kurang dari 100 ribu wisatawan asing yang berasal dari Australia, Portugal, Belanda, Jepang dan Amerika berkunjung ke pantai ini untuk melakukan aktivitas surfing.
Sementara itu, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan, pemerintah akan memberikan kesempatan bagi pihak investor mengelola potensi bahari di Lampung Barat.
"Kami akan memberikan kemudahan bagi investor untuk mengembangkan kawasan bahari pesisir Lampung Barat. Keindahan yang dimiliki menawarkan peluang usaha sektor pariwisata," kata Bupati menambahkan.
"Saya berharap pemerintah pusat membantu Lampung Barat dalam mengembangkan pariwisata di kawasan pesisir ini, daerah ini dapat dijadikan tujuan wisata nasional dan internasioanl dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia." (ant-24)
Sumber: Suara Merdeka, Sabtu, 13 Juli 2011
Pulau Pisang Makin Tergerus
Liwa, Lampung, 13/7 (ANTARA)- Pesisir Pulau Pisang di Kabupaten Lampung Barat makin tergerus sehubungan penghijauan tetap minim di pesisir pulau tersebut.
"Abrasi meluas juga disebabkan kondisi kawasan pesisir pulau ini selalu kena hantam gelombang tinggi," kata salah satu warga Pulau Pisang, Zainal, saat dihubungi dari Krui Lampung Barat, Rabu.
Ia menyebutkan, saat gelombang tinggi air laut kini sudah hampir sampai ke permukiman warga.
"Setiap ada badai yang diikuti dengan gelombang tinggi, penduduk pulau ini cemas karena pesisir pantai tergerus terus," katanya.
Dia menyebutkan, meski pesisir pantai sudah tergerus, tetapi sampai sekarang belum ada dibangun pemerintah pemecah ombak.
"Kami berharap pemerintah memperhatikan keselamatan warga di pulau ini," katanya.
Pulau Pisang dihuni sekitar 145 kepala keluarga (KK).
Menurut warga Pulau Pisang lainnya, Taulan, sebagian warga akan meninggalkan pulau tersebut jika penggerusan terus berlangsung.
"Satu demi satu keluarga mulai meningggalkan Pulau Pisang ini, mereka takut sebab kawasan pantai semakin terkikis habis," katanya.
Selain itu, kata dia, ancaman terjadinya bencana gempa dan tsunami juga menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk meninggalkan Pulau Pisang.
Menurut dia, pemerintah semestinya membangun pemecah ombak untuk mencegah penggerusan pantai meluas.
Sebelumnya, populasi penyu di Kabupaten Lampung Barat juga dilaporkan makin terancam abrasi pantai.
"Kawasan pantai di pesisir Lampung Barat minim penghijauan, dan kondisi ini akan berdampak terhadap populasi penyu yang tidak mau lagi mendarat di lokasi pantai tersebut," kata penangkar penyu Desa Sukamaju, Kecamatan Ngambur, Lampung Barat, H Ahyar (56).
Dia menjelaskan, saat ini jumlah telur penyu yang ditemukan semakin sedikit dan letaknya jauh dari lokasi penangkaran.
"Penghijauan pantai harus segera dibenahi, bila dibiarkan maka penyu tidak akan pernah mendarat lagi. Kalaupun melakukan pendaratan, penyu tersebut berada jauh dari area konservasi, sehingga berpotensi terjadi pencurian telur" kata dia.
Sumber: Antara, 13 Juli 2011
"Abrasi meluas juga disebabkan kondisi kawasan pesisir pulau ini selalu kena hantam gelombang tinggi," kata salah satu warga Pulau Pisang, Zainal, saat dihubungi dari Krui Lampung Barat, Rabu.
Ia menyebutkan, saat gelombang tinggi air laut kini sudah hampir sampai ke permukiman warga.
"Setiap ada badai yang diikuti dengan gelombang tinggi, penduduk pulau ini cemas karena pesisir pantai tergerus terus," katanya.
Dia menyebutkan, meski pesisir pantai sudah tergerus, tetapi sampai sekarang belum ada dibangun pemerintah pemecah ombak.
"Kami berharap pemerintah memperhatikan keselamatan warga di pulau ini," katanya.
Pulau Pisang dihuni sekitar 145 kepala keluarga (KK).
Menurut warga Pulau Pisang lainnya, Taulan, sebagian warga akan meninggalkan pulau tersebut jika penggerusan terus berlangsung.
"Satu demi satu keluarga mulai meningggalkan Pulau Pisang ini, mereka takut sebab kawasan pantai semakin terkikis habis," katanya.
Selain itu, kata dia, ancaman terjadinya bencana gempa dan tsunami juga menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk meninggalkan Pulau Pisang.
Menurut dia, pemerintah semestinya membangun pemecah ombak untuk mencegah penggerusan pantai meluas.
Sebelumnya, populasi penyu di Kabupaten Lampung Barat juga dilaporkan makin terancam abrasi pantai.
"Kawasan pantai di pesisir Lampung Barat minim penghijauan, dan kondisi ini akan berdampak terhadap populasi penyu yang tidak mau lagi mendarat di lokasi pantai tersebut," kata penangkar penyu Desa Sukamaju, Kecamatan Ngambur, Lampung Barat, H Ahyar (56).
Dia menjelaskan, saat ini jumlah telur penyu yang ditemukan semakin sedikit dan letaknya jauh dari lokasi penangkaran.
"Penghijauan pantai harus segera dibenahi, bila dibiarkan maka penyu tidak akan pernah mendarat lagi. Kalaupun melakukan pendaratan, penyu tersebut berada jauh dari area konservasi, sehingga berpotensi terjadi pencurian telur" kata dia.
Sumber: Antara, 13 Juli 2011
July 11, 2011
Ikan Lumba-Lumba Lampung Barat Punya Daya Tarik
Liwa, Lampung, 11/7 (ANTARA) - Populasi ikan lumba lumba yang berada di kawasan pesisir Lampung Barat terjaga dan menjadi daya tarik bagi wisata bahari daerah tersebut.
"Ratusan lumba lumba yang ada di perairan pesisir Lampung Barat terjaga baik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata bahari daerah ini," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Barat, Nata Djudin Amran, di Liwa, Senin.
Dia menjelaskan, sebagian besar masyarakat pesisir menjaga kelestarian populasi lumba lumba.
Menurut dia, potensi jelajah bahari menjadi pilihan bagi wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung di Lampung Barat untuk menikmati ratusan lumba lumba di perairan tersebut.
"Saya meyakini panorama laut yang indah itu, mampu memberikan kontribusi besar terhadap kunjungan wisatawan asing dan domestik pesisir, dan terlihat hampir setiap harinya para turis itu menikmati kawanan lumba lumba yang muncul di laut kawasan laut tersebut," kata dia.
Kemudian lanjut dia, wisata bahari di Lampung Barat belum terkelola dengan baik, dan menjadi peluang investasi bagi investor.
Kabupaten Lampung Barat memiliki berbagai potensi lokal yang layak untuk dikembangkan, kawasan pesisir Lampung Barat juga kaya akan potensi wisata bahari dimana terdapat dua pulau yang dapat dijadikan ekowisata bahari, yakni Pulau Betuah dan Pulau Pisang.
Dua pulau tersebut diketahui terdapat ratusan ribu ikan lumba lumba, terjaganya populasi ikan tersebut disebabkan larangan masyarakat untuk menangkap ikan lumba-lumba, sehingga populasi ikan lumba lumba meningkat setiap tahunnya.
Keelokan panorama laut memberikan penawaran bagi wisatawan asing dan domestik untuk menjelajah di perairan Lampung Barat, sehingga kegiatan tersebut sebagai sarana rekreasi dan pengetahuan.
Sebagian besar wisata bahari di pesisir Lampung Barat belum terkelola maksimal, sehingga menjadi peluang investasi bagi pemodal untuk bermitra dengan Lampung Barat.
Kawasan pesisir juga memiliki ketinggian ombak mencapai 5 meter dan panjang gelombang 200 meter, Tanjung Setia menjadi salah satu Pantai dengan ombak tertinggi di dunia, setiap tahunnya tidak kurang dari 100 ribu wisatawan asing yang berasal dari Australia, Portugal, Belanda, Jepang dan Amerika berkunjung ke pantai ini untuk melakukan aktivitas Surfing.
Potensi wisata bahari dapat berhasil bila semua pihak dapat bekerja ekstra, sehingga Lampung Barat dapat menjadi daerah tujuan wisata nasional juga internasional.
Sementara itu Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan, pemerintah akan memberikan kesempatan bagi pihak investor mengelola potensi bahari di Lampung Barat.
"Kami akan memberikan kemudahan bagi investor untuk mengembangkan kawasan bahari pesisir Lampung Barat, selain itu keindahan yang dimiliki menawarkan peluang usaha sektor pariwisata," kata Bupati menambahkan.
Bupati menjelaskan, keindahan pantai pesisir mampu memikat wisatawan mancanegara.
Menurut dia, wisata bahari Lampung Barat dapat menjadi tujuan wisata Nasional dan Internasional.
"Saya berharap pemerintah pusat membantu Lampung Barat dalam mengembangkan pariwisata di kawasan pesisir ini, sehingga Lampung Barat dapat dijadikan daerah tujuan wisata Nasional dan Internasioanl dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia," kata Bupati menambahkan.
Sumber: Antara, 11 Juli 2011
"Ratusan lumba lumba yang ada di perairan pesisir Lampung Barat terjaga baik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata bahari daerah ini," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Barat, Nata Djudin Amran, di Liwa, Senin.
Dia menjelaskan, sebagian besar masyarakat pesisir menjaga kelestarian populasi lumba lumba.
Menurut dia, potensi jelajah bahari menjadi pilihan bagi wisatawan asing maupun domestik yang berkunjung di Lampung Barat untuk menikmati ratusan lumba lumba di perairan tersebut.
"Saya meyakini panorama laut yang indah itu, mampu memberikan kontribusi besar terhadap kunjungan wisatawan asing dan domestik pesisir, dan terlihat hampir setiap harinya para turis itu menikmati kawanan lumba lumba yang muncul di laut kawasan laut tersebut," kata dia.
Kemudian lanjut dia, wisata bahari di Lampung Barat belum terkelola dengan baik, dan menjadi peluang investasi bagi investor.
Kabupaten Lampung Barat memiliki berbagai potensi lokal yang layak untuk dikembangkan, kawasan pesisir Lampung Barat juga kaya akan potensi wisata bahari dimana terdapat dua pulau yang dapat dijadikan ekowisata bahari, yakni Pulau Betuah dan Pulau Pisang.
Dua pulau tersebut diketahui terdapat ratusan ribu ikan lumba lumba, terjaganya populasi ikan tersebut disebabkan larangan masyarakat untuk menangkap ikan lumba-lumba, sehingga populasi ikan lumba lumba meningkat setiap tahunnya.
Keelokan panorama laut memberikan penawaran bagi wisatawan asing dan domestik untuk menjelajah di perairan Lampung Barat, sehingga kegiatan tersebut sebagai sarana rekreasi dan pengetahuan.
Sebagian besar wisata bahari di pesisir Lampung Barat belum terkelola maksimal, sehingga menjadi peluang investasi bagi pemodal untuk bermitra dengan Lampung Barat.
Kawasan pesisir juga memiliki ketinggian ombak mencapai 5 meter dan panjang gelombang 200 meter, Tanjung Setia menjadi salah satu Pantai dengan ombak tertinggi di dunia, setiap tahunnya tidak kurang dari 100 ribu wisatawan asing yang berasal dari Australia, Portugal, Belanda, Jepang dan Amerika berkunjung ke pantai ini untuk melakukan aktivitas Surfing.
Potensi wisata bahari dapat berhasil bila semua pihak dapat bekerja ekstra, sehingga Lampung Barat dapat menjadi daerah tujuan wisata nasional juga internasional.
Sementara itu Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan, pemerintah akan memberikan kesempatan bagi pihak investor mengelola potensi bahari di Lampung Barat.
"Kami akan memberikan kemudahan bagi investor untuk mengembangkan kawasan bahari pesisir Lampung Barat, selain itu keindahan yang dimiliki menawarkan peluang usaha sektor pariwisata," kata Bupati menambahkan.
Bupati menjelaskan, keindahan pantai pesisir mampu memikat wisatawan mancanegara.
Menurut dia, wisata bahari Lampung Barat dapat menjadi tujuan wisata Nasional dan Internasional.
"Saya berharap pemerintah pusat membantu Lampung Barat dalam mengembangkan pariwisata di kawasan pesisir ini, sehingga Lampung Barat dapat dijadikan daerah tujuan wisata Nasional dan Internasioanl dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia," kata Bupati menambahkan.
Sumber: Antara, 11 Juli 2011
July 3, 2011
[Buku] Menemukan Solusi Pasar Kerakyatan
Judul : Selamatkan Pasar TradisionalPenulis : Herman Malano
Penyusun : Fadilasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : 305 hlm
SEKITAR dua dekade terakhir, jumlah supermarket atau hypermarket maupun minimarket di Indonesia masih sangat sedikit. Namun, bandingkan sekarang. Sangat mudah bagi kita menemukan ketiganya. Bahkan, minimarket sudah merambah hingga ke desa-desa. Begitu banyak alasan orang lebih memilih belanja di sana. Selain nyaman, jenis barang yang beragam, hingga harga yang relatif lebih murah.
Lalu, pertanyaannya kemudian adalah, apakah kehadiran pasar-pasar modern yang menggurita itu akan menggilas keberadaan pasar tradisional? Apakah akan banyak pedagang pasar tradisional yang tersingkir? Bagaimana mencari jalan keluar atas kondisi ini? Pertanyaan-pertanyaan itulah mungkin yang coba direfleksikan Herman Malano dalam bukunya ini. Dalam buku ini, secara spesifik Herman memang menyebut para pelaku pasar tradional tersebut sebagai pedagang kecil dan mikro, atau yang biasa kita kenal sebagai pedagang kaki lima (PKL).
Buku ini sangat detail membicarakan tentang kisah-kisah para PKL yang selalu dianggap sebagai penyebab kumuh dan semrawutnya kota. Para pelaku pasar tradisonal tersebut bahkan tak jarang disalahkan jika sebuah kota tak mendapat penghargaan Adipura, sebuah penghargaan untuk kota yang rapi dan bersih. Namun, bagaimanapun juga pasar tradisional adalah penggambaran realitas denyut nadi perekonomian rakyat kebanyakan. Di sana, masih banyak orang yang menggantungkan hidupnya, dari mulai para pedagang kecil, kuli panggul, pedagang asongan, hingga tukang becak.
Herman sangat mungkin paham sekali segala permasalahan yang dialami para PKL tersebut. Wajar saja, sejak dari usia tiga bulan, dalam usia yang masih bayi tersebut, ia sudah dibawa ibunya berdagang sebagai PKL di tanah kelahirannya di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Inilah salah satu buku yang begitu lengkap memaparkan karut-marutnya permasalahan PKL. Dibantu Fadilasari, seorang jurnalis kritis, bahasa buku ini menjadi ringan, disertai data-data yang akurat, hingga kisah-kisah yang menyentuh.
Di Indonesia ada lebih kurang 13.450 pasar tradisional. Jumlah itu mampu menampung sekitar 13 juta pedagang kios dan lebih dari sembilan juta pedagang yang berstatus PKL. Meskipun demikian, kini hampir 90% pasar tersebut tidak dikelola dengan baik. Bahkan, data dari Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Seluruh Indonesia (APPSI) pada 2005 seperti dikutip website Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa sekitar 400 toko di pasar tradisional harus tutup usaha setiap tahunnya.
Dalam buku ini banyak dijabarkan betapa PKL dengan pasar tradisionalnya menjadi sebuah permasalahan yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan. Mulai dari ekonomi, sosial, budaya, hingga politik. Pasar tradisional adalah tumpuan ekonomi jutaan pedagang menengah ke bawah serta tempat terbentuknya kontrak sosial budaya tegur sapa masyarakat yang lebih manusiawi. Di sana ada proses komunikasi, akad jual beli yang telah disepakati antara penjual dan pembeli, serta pelajaran berharga tentang cara bertahan hidup di dunia yang semakin kompetitif.
PKL juga nyatanya adalah bagian dari kehidupan politis. Dalam buku ini ditulis bagaimana para calon kepala daerah atau calon anggota legislatif rajin menyambangi PKL di pasar tradisional saat menjelang musim kampanye. Mereka rela berbaur dengan para pedagang itu, rela berbecek-becek, bahkan tak jarang menumpahkan air mata saat mendengar keluhan para pedagang.
Pada bab terakhir dijabarkan solusi untuk mengangkat harkat dan martabat PKL. Herman adalah orang pertama di Indonesia, bahkan diklaim di dunia yang mampu membuat pasar semimodern hasil swadaya para PKL dan tanpa bantuan dari pemerintah atau swasta. Hal ini dilakukannya setelah terpilih sebagai Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Lampung.
Proyek itu berwujud Bambu Kuning Square (BKS). Dana pembangunan BKS yang menghabiskan sekitar Rp28 miliar itu semuanya berasal dari sewa kios calon pedagang. Sewa kios pun bisa dicicil dengan uang muka 20%. Harga kios pun relatif murah. Hanya mulai dari Rp8 juta per meter persegi selama 20 tahun. Bandingkan dengan harga kios di daerah lain dengan ukuran yang sama harganya mulai dari Rp35 juta—Rp500 juta. n
Andry Kurniawan, mahasiswa Sosiologi FISIP Unila
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Juli 2011
Raperda: Bahasa Lampung Wajib Digunakan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bahasa Lampung wajib digunakan sebagai bahasa percakapan di sekolah satu hari dalam seminggu. "Dalam Raperda Penyelenggaraan Pendidikan, ada aturan yang mewajibkan setiap satuan pendidikan atau sekolah menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa percakapan satu hari dalam seminggu," kata kata Wakil Ketua Badan Legislasi (Banleg) DPRD Bandar Lampung Surya Jaya Ampera, Sabtu (2-7).
Menurut Surya, bahasa daerah diperbolehkan menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan. Namun, penggunaannya dibatasi hingga sampai sekolah dasar atau madrasah ibtidaiah. "Bahasa daerah dimungkinkan dipakai sebagai bahasa pengantar sejauh diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan atau keterampilan tertentu," kata dia.
Menurut Surya, dalam Raperda Penyelenggaraan Pendidikan, diatur penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar. Namun, penggunaannya sebagai bahasa pengantar hanya sampai kelas III SD atau MI. "Sejatinya bahasa pengantar dalam pendidikan adalah bahasa Indonesia. Namun, bila bahasa ibu diperlukan, dapat dipakai sebagai bahasa pengantar," kata dia.
Menurut Surya, bahasa Inggris dapat menjadi muatan lokal bagi siswa sekolah dasar. Sedangkan bahasa Lampung diwajibkan menjadi muatan lokal di sekolah. "Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya dapat digunakan sebagai bahasa pengantar kedua pada pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi," ujar Surya. (MG3/K-2)
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Juli 2011
Menurut Surya, bahasa daerah diperbolehkan menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan. Namun, penggunaannya dibatasi hingga sampai sekolah dasar atau madrasah ibtidaiah. "Bahasa daerah dimungkinkan dipakai sebagai bahasa pengantar sejauh diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan atau keterampilan tertentu," kata dia.
Menurut Surya, dalam Raperda Penyelenggaraan Pendidikan, diatur penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar. Namun, penggunaannya sebagai bahasa pengantar hanya sampai kelas III SD atau MI. "Sejatinya bahasa pengantar dalam pendidikan adalah bahasa Indonesia. Namun, bila bahasa ibu diperlukan, dapat dipakai sebagai bahasa pengantar," kata dia.
Menurut Surya, bahasa Inggris dapat menjadi muatan lokal bagi siswa sekolah dasar. Sedangkan bahasa Lampung diwajibkan menjadi muatan lokal di sekolah. "Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya dapat digunakan sebagai bahasa pengantar kedua pada pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi," ujar Surya. (MG3/K-2)
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Juli 2011
Pendidikan Seni: Buka Imajinasi Anak dengan Seni Kreasi
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Mengeksplorasi daya imajinasi harus diasah sejak masih kanak-kanak. Seni kreasi dan menggambar adalah satu cara terbaik untuk memberi ruang kebebasan anak mengungkapkan perasaannya.
MENGASAH IMAJINASI. Ratusan anak mengikuti lomba mewarnai yang digelar Lampung Post pekan lalu. Melalui seni kreasi dan menggambar, imajinasi anak akan tereksplorasi. (LAMPUNG POST/MG4)
Karena itu, jangan marah atau membentak jika si anak mencoret atau menggambar dinding rumah. Bagi anak, dengan melukis akan mendorong kemampuan imajinasinya sehingga membantu perkembangan keterampilannya (skill development).
Banyaknya manfaat dari melukis ini membuat perkembangan belajar melukis di kalangan anak-anak meningkat dengan pesat di Lampung. Kegiatan menggambar dan melukis mulai tumbuh di Bumi Ruwa Jurai sekitar 1990-an. Pertumbuhannya kian marak saat memasuki era 2000-an. Hal itu terlihat tidak hanya dari jumlah peminatnya yang membeludak. Keberadaan sanggar belajar melukis saat ini bermunculan dan semakin variatif.
Sebut saja Sanggar Kismanu, Sanggar Papajo, atau Global Art. Tidak hanya di sanggar, seni melukis juga kini marak diajarkan di sekolah-sekolah. Bahkan, ada juga pengajar yang tidak memiliki sanggar tapi berkeliling mengajar menggambar dan melukis seperti Joko Irianta dan Salvator Yen Joenaidi.
Psikolog Dwi Hafsah Handayani, Sabtu (2-7), mengatakan melukis secara ilmiah dapat membantu menggali kemampuan daya pikir anak-anak. "Anak-anak memang perlu mendapatkan rangsangan dalam menggerakkan otak kanan dan kiri, salah satunya melalui kegiatan menggambar dan melukis," kata Dwi.
Tenaga fungsional atau pengajar dalam bidang seni pada Lembaga Pengembangan Mutu Pendidikan (LPMP) Lampung, Kismanu, Sabtu (2-7), mengatakan melukis berbeda dengan olahraga.
Menurut Kismanu, kegiatan seni itu tidak bisa diukur hanya dengan menjadi juara. "Hal ini yang masih salah kaprah sehingga belajar seni menggambar dan melukis hanya berorientasi pada keterampilan," kata Kismanu.
Lebih jauh pria yang kerap menjadi juri pada ajang lomba melukis tingkat anak-anak itu mengakui kalau perkembangan seni rupa di Lampung meningkat dan lebih maju. Namun, jika dilihat dari sisi objek lukisan, ternyata masih monoton. Hal itu menandakan tidak adanya imajinasi dari si pelukis.
Kismanu menjelaskan dalam konteks daya pikir, seorang anak yang menekuni seni rupa bisa memiliki kemampuan dalam mengolah kesadaran dengan lingkungan secara aktif. Hal ini yang terkadang membuat peserta lomba mampu menuangankan ide dan gagasannya secara konseptual melalui objek gambar.
Sementara itu, Rohyati Sari mengatakan sengaja mengajak anaknya untuk belajar melukis. Rohyati mengaku ingin menggali potensi diri anaknya supaya lebih baik. "Anak saya itu dulunya pendiam, tapi sekarang sudah timbul keberanian dan kepercayaan diri untuk bersosialisasi," ujar Rohyati.
Tidak hanya itu, Rohyati juga melihat anaknya itu telah memiliki jiwa yang sportif serta disiplin dalam mengerjakan sesuatu. "Selain untuk refreshing, melukis ternyata bisa membuat prestasi belajar anak di sekolah menjadi semakin baik," ujar dia.
Sementara Rifa Nabila Putri yang menjadi juara lomba melukis tingkat SD kelas IV hingga kelas VI yang digelar Lampung Post beberapa waktu lalu mengatakan dengan melukis dirinya lebih banyak memiliki ide. Rifa juga mengaku dia lebih mudah menangkap pelajaran di sekolah.
Mengajak anak ikut kursus melukis memang bermanfaat. Namun, hal itu hendaknya bukan ditekankan pada tujuan menjadi juara. "Anak melukis itu titik tekannya adalah memberi bekal. Bukan menjadikan si anak harus juara pada berbagai lomba," kata pengajar seni rupa Salvator Yen Joenaidi. Menurut Salvator, dengan belajar seni, terutama lukis, bisa menanamkan kebijakan.
Sedangkan psikolog Dwi Hafsah Handayani menjelaskan anak-anak pada umumnya belum mengerti tentang dampak dari setiap perbuatannya. Sebab itu, emosi anak perlu dilatih agar nantinya dapat digunakan di dalam lingkungannya. "Proses itu dapat dibantu melalui kegiatan melukis ini," kata dia.
Menurut Hafsah, emosi dan motorik anak akan lebih efektif jika dirangsang sejak usia balita sehingga daya pikirnya akan dapat terus dikembangkan. "Namun, untuk mengetahui lebih pasti, tentunya dengan menggunakan alat tes sehingga tidak sekadar menyimpulkan kemampuan anak," ujarnya. (YAR/U-2)
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Juli 2011
MENGASAH IMAJINASI. Ratusan anak mengikuti lomba mewarnai yang digelar Lampung Post pekan lalu. Melalui seni kreasi dan menggambar, imajinasi anak akan tereksplorasi. (LAMPUNG POST/MG4)Karena itu, jangan marah atau membentak jika si anak mencoret atau menggambar dinding rumah. Bagi anak, dengan melukis akan mendorong kemampuan imajinasinya sehingga membantu perkembangan keterampilannya (skill development).
Banyaknya manfaat dari melukis ini membuat perkembangan belajar melukis di kalangan anak-anak meningkat dengan pesat di Lampung. Kegiatan menggambar dan melukis mulai tumbuh di Bumi Ruwa Jurai sekitar 1990-an. Pertumbuhannya kian marak saat memasuki era 2000-an. Hal itu terlihat tidak hanya dari jumlah peminatnya yang membeludak. Keberadaan sanggar belajar melukis saat ini bermunculan dan semakin variatif.
Sebut saja Sanggar Kismanu, Sanggar Papajo, atau Global Art. Tidak hanya di sanggar, seni melukis juga kini marak diajarkan di sekolah-sekolah. Bahkan, ada juga pengajar yang tidak memiliki sanggar tapi berkeliling mengajar menggambar dan melukis seperti Joko Irianta dan Salvator Yen Joenaidi.
Psikolog Dwi Hafsah Handayani, Sabtu (2-7), mengatakan melukis secara ilmiah dapat membantu menggali kemampuan daya pikir anak-anak. "Anak-anak memang perlu mendapatkan rangsangan dalam menggerakkan otak kanan dan kiri, salah satunya melalui kegiatan menggambar dan melukis," kata Dwi.
Tenaga fungsional atau pengajar dalam bidang seni pada Lembaga Pengembangan Mutu Pendidikan (LPMP) Lampung, Kismanu, Sabtu (2-7), mengatakan melukis berbeda dengan olahraga.
Menurut Kismanu, kegiatan seni itu tidak bisa diukur hanya dengan menjadi juara. "Hal ini yang masih salah kaprah sehingga belajar seni menggambar dan melukis hanya berorientasi pada keterampilan," kata Kismanu.
Lebih jauh pria yang kerap menjadi juri pada ajang lomba melukis tingkat anak-anak itu mengakui kalau perkembangan seni rupa di Lampung meningkat dan lebih maju. Namun, jika dilihat dari sisi objek lukisan, ternyata masih monoton. Hal itu menandakan tidak adanya imajinasi dari si pelukis.
Kismanu menjelaskan dalam konteks daya pikir, seorang anak yang menekuni seni rupa bisa memiliki kemampuan dalam mengolah kesadaran dengan lingkungan secara aktif. Hal ini yang terkadang membuat peserta lomba mampu menuangankan ide dan gagasannya secara konseptual melalui objek gambar.
Sementara itu, Rohyati Sari mengatakan sengaja mengajak anaknya untuk belajar melukis. Rohyati mengaku ingin menggali potensi diri anaknya supaya lebih baik. "Anak saya itu dulunya pendiam, tapi sekarang sudah timbul keberanian dan kepercayaan diri untuk bersosialisasi," ujar Rohyati.
Tidak hanya itu, Rohyati juga melihat anaknya itu telah memiliki jiwa yang sportif serta disiplin dalam mengerjakan sesuatu. "Selain untuk refreshing, melukis ternyata bisa membuat prestasi belajar anak di sekolah menjadi semakin baik," ujar dia.
Sementara Rifa Nabila Putri yang menjadi juara lomba melukis tingkat SD kelas IV hingga kelas VI yang digelar Lampung Post beberapa waktu lalu mengatakan dengan melukis dirinya lebih banyak memiliki ide. Rifa juga mengaku dia lebih mudah menangkap pelajaran di sekolah.
Mengajak anak ikut kursus melukis memang bermanfaat. Namun, hal itu hendaknya bukan ditekankan pada tujuan menjadi juara. "Anak melukis itu titik tekannya adalah memberi bekal. Bukan menjadikan si anak harus juara pada berbagai lomba," kata pengajar seni rupa Salvator Yen Joenaidi. Menurut Salvator, dengan belajar seni, terutama lukis, bisa menanamkan kebijakan.
Sedangkan psikolog Dwi Hafsah Handayani menjelaskan anak-anak pada umumnya belum mengerti tentang dampak dari setiap perbuatannya. Sebab itu, emosi anak perlu dilatih agar nantinya dapat digunakan di dalam lingkungannya. "Proses itu dapat dibantu melalui kegiatan melukis ini," kata dia.
Menurut Hafsah, emosi dan motorik anak akan lebih efektif jika dirangsang sejak usia balita sehingga daya pikirnya akan dapat terus dikembangkan. "Namun, untuk mengetahui lebih pasti, tentunya dengan menggunakan alat tes sehingga tidak sekadar menyimpulkan kemampuan anak," ujarnya. (YAR/U-2)
Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Juli 2011
July 2, 2011
Seniman Lampung Barat Kembangkan Lukisan Bubuk Kopi
Liwa, Lampung, 2/7 (ANTARA) - Seniman lukis di Kabupaten Lampung Barat mengembangkan lukisan berbahan baku kopi bubuk.
"Awalnya saya hanya iseng untuk membuat lukisan berbahan baku kopi bubuk, dan ternyata setelah saya mencoba dan menekuninya, ternyata lukisan ini banyak diminati oleh masyarakat," kata pelukis Kota Liwa, Lampung Barat, Aris Susiwa Manangisi, di Bandarlampung, Sabtu.
Dia menjelaskan, membuat lukisan kopi bubuk dituntut kesabaran dan kejelian dari seniman.
Menurut dia, karya lukisan kopi bubk, menjadi karya seni baru yang mengadopsi dari potensi daerah.
"Provinsi Lampung, terutama di Kabupaten Lampung Barat memiliki potensi perkebunan kopi sangat besar, sehingga dari potensi tersebut, menumbuhkan ide kreatif, untuk melahirkan karya seni daripotensin daerah," katanya.
Kemudian, lanjut dia, lukisan kopi bubuk, mampu menjadi icon baru bagi Lampung Barat dan Provinsi Lampung.
"Karya seni yang dilahirkan ini, memberikan inspirasi besar terhadap seniman seperti kami, untuk membaca peluang potensi daerah yang dikembangkan melalui karya seni, sehingga kiprah kami sebagai seniman, dapat membantu dalam mempromosikan potensi daerah yang tertuang dalam karya lukisan," katanya.
Ide membuat lukisan dengan bahan ampas kopi, bubuk kopi, dan air kopi, menjadi ide seni cukup cemerlang dalam mengangkat potensi alam yang ada.
Kopi bubuk yang dipilih menghasilkan karya seni yang unik dan bernilai tinggi.
Pembuatan lukisan kopi membutuhkan waktu satu hingga dua hari, lamanya lukisan tergantung dengan objek yang akan dilukis.
Kesabaran memang dibutuhkan dalam melahirkan karya lukisan ini, sebab bila seniman itu tergesah gesah, maka hasil yang didapat tidak maksimal, katanya.
Harga sebuah lukisan kopi bubuk bervariasi, untuk ukuran besar mencapai Rp6 juta, ukuran sedang Rp1 juta, dan ukuran kecil 500 ribu.
Lahirnya lukisan kopi bubuk ini sudah ada sejak tahun 2010, dan sampai sekarang pelukis itu terus memproduksi karya seni lukisan dengan objek yang diminati konsumen.
Objek yang dipilih dalam karya lukisan itu di antaranya, pemandangan, dan lukisan wajah.
Karya seni lukisan kopi bubuk, menjadi salah satu daya tarik bagi Provinsi Lampung, terutama Lampung Barat sebagai daerah penghasil kopi terbesar, dan patutlah seniman tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah setempat.
Lukisan kopi bubuk dapat dijumpai di ajang Pameran "Lampung Fair" 2011 di PKOR Way Halim, dan terlihat lukisan itu, menjadi daya tarik bagi pengunjung stan Lampung Barat.
Rencananya lukisan kopi bubuk akan terus dipamerkan hingga Pameran "Lampung Fair" itu berakhir.
"Saya berharap karya seni ini dapat diterima baik oleh masyarakat, sehingga dengan dukungan itu, kami terus melahirkan karya seni yang apik, yang berkiblat terhadap potensi daerah dan kenaturalan alam," katanya.
Sumber: Antara, 2 Juli 2011
"Awalnya saya hanya iseng untuk membuat lukisan berbahan baku kopi bubuk, dan ternyata setelah saya mencoba dan menekuninya, ternyata lukisan ini banyak diminati oleh masyarakat," kata pelukis Kota Liwa, Lampung Barat, Aris Susiwa Manangisi, di Bandarlampung, Sabtu.
Dia menjelaskan, membuat lukisan kopi bubuk dituntut kesabaran dan kejelian dari seniman.
Menurut dia, karya lukisan kopi bubk, menjadi karya seni baru yang mengadopsi dari potensi daerah.
"Provinsi Lampung, terutama di Kabupaten Lampung Barat memiliki potensi perkebunan kopi sangat besar, sehingga dari potensi tersebut, menumbuhkan ide kreatif, untuk melahirkan karya seni daripotensin daerah," katanya.
Kemudian, lanjut dia, lukisan kopi bubuk, mampu menjadi icon baru bagi Lampung Barat dan Provinsi Lampung.
"Karya seni yang dilahirkan ini, memberikan inspirasi besar terhadap seniman seperti kami, untuk membaca peluang potensi daerah yang dikembangkan melalui karya seni, sehingga kiprah kami sebagai seniman, dapat membantu dalam mempromosikan potensi daerah yang tertuang dalam karya lukisan," katanya.
Ide membuat lukisan dengan bahan ampas kopi, bubuk kopi, dan air kopi, menjadi ide seni cukup cemerlang dalam mengangkat potensi alam yang ada.
Kopi bubuk yang dipilih menghasilkan karya seni yang unik dan bernilai tinggi.
Pembuatan lukisan kopi membutuhkan waktu satu hingga dua hari, lamanya lukisan tergantung dengan objek yang akan dilukis.
Kesabaran memang dibutuhkan dalam melahirkan karya lukisan ini, sebab bila seniman itu tergesah gesah, maka hasil yang didapat tidak maksimal, katanya.
Harga sebuah lukisan kopi bubuk bervariasi, untuk ukuran besar mencapai Rp6 juta, ukuran sedang Rp1 juta, dan ukuran kecil 500 ribu.
Lahirnya lukisan kopi bubuk ini sudah ada sejak tahun 2010, dan sampai sekarang pelukis itu terus memproduksi karya seni lukisan dengan objek yang diminati konsumen.
Objek yang dipilih dalam karya lukisan itu di antaranya, pemandangan, dan lukisan wajah.
Karya seni lukisan kopi bubuk, menjadi salah satu daya tarik bagi Provinsi Lampung, terutama Lampung Barat sebagai daerah penghasil kopi terbesar, dan patutlah seniman tersebut mendapat apresiasi dari pemerintah setempat.
Lukisan kopi bubuk dapat dijumpai di ajang Pameran "Lampung Fair" 2011 di PKOR Way Halim, dan terlihat lukisan itu, menjadi daya tarik bagi pengunjung stan Lampung Barat.
Rencananya lukisan kopi bubuk akan terus dipamerkan hingga Pameran "Lampung Fair" itu berakhir.
"Saya berharap karya seni ini dapat diterima baik oleh masyarakat, sehingga dengan dukungan itu, kami terus melahirkan karya seni yang apik, yang berkiblat terhadap potensi daerah dan kenaturalan alam," katanya.
Sumber: Antara, 2 Juli 2011
July 1, 2011
Penyair Lampung Diundang ke PPN V Palembang
Bandarlampung, 1/7 (ANTARA) - Empat penyair Lampung diundang untuk mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) V, yang akan dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan, 16-19 Juli mendatang.
Salah satu penyair Isbedy Stiawan ZS, di Bandarlampung, Jumat menjelaskan, selain dirinya, tiga rekan sejawatnya juga diundang yaitu Inggit Putria Marga, Agit Yogi Subandi, dan Fitri Yani.
Menurut Isbedy, mewakili ketiga penyair Lampung itu, hingga kini mereka menyatakan siap memenuhi undangan pertemuan para penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand tersebut.
"Undangan ini sebagai bentuk bahwa kepenyairan di Lampung telah mendapat tempat di mancanegara," ujar dia.
Penyair Lampung yang telah memiliki banyak karya itu menjelaskan, PPN V akan dihadiri tak kurang 160 penyair dari 5 negara dan puluhan pembicara dan ratusan pula pecinta sastra.
"Puisi-puisi para penyair dimasukkan dalam antologi 'Akulah Musi' setebal 624 halaman, dan akan diluncurkan saat pembukaan PPN V oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin," jelas dia, yang juga salah satu kurator pada PPN V.
Masih kata Isbedy, selain keempat penyair Lampung itu, sebenarnya satu lagi penyair dari Natar, Lampung Selatan, Alya Salaisha-Sinta. Namun penyair Alya saat ini menetap di Bangka Belitung. "Kemungkinan dia berangkat dari sana," katanya.
Isbedy yakin kalau para penyair Lampung bisa memenuhi undangan bergengsi itu. Apalagi, Lampung-Palembang tidak begitu jauh.
"Meski begitu, sulit juga kami bisa berangkat, jika tak ada dana," ujar dia.
Itu sebabnya, ia akan mencoba mengajukan proposal ke pemprov sehingga duta seni dari Lampung tersebut bisa meramaikan sekaligus menimba ilmu dari even sastra 5 negara Asean tersebut.
"Ini momen penting bagi kepenyairan Lampung, karena tahun depan dijadwalkan akan dihelat di Thailand ataupun Singapura, dua negara ini yang belum mendapat jadwal. Tetapi, teman-teman kurator menginginkan tahun depan dilaksanakan di Thailand," kata Isbedy lagi.
PPN V rencananya dilaksanakan di Hotel Swarna Dhipa Palembang. Sedangkan malam baca puisi akan dilaksanakan di Kambang Iwak dan di depan Jembatan Ampera, serta di beberapa tempat lainnya. Pelaksanaan yang semula 17-20 Juli dimajukan menjadi 16-19 Juli 2011.
Sumber: Antara, 1 Juli 2011
Salah satu penyair Isbedy Stiawan ZS, di Bandarlampung, Jumat menjelaskan, selain dirinya, tiga rekan sejawatnya juga diundang yaitu Inggit Putria Marga, Agit Yogi Subandi, dan Fitri Yani.
Menurut Isbedy, mewakili ketiga penyair Lampung itu, hingga kini mereka menyatakan siap memenuhi undangan pertemuan para penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand tersebut.
"Undangan ini sebagai bentuk bahwa kepenyairan di Lampung telah mendapat tempat di mancanegara," ujar dia.
Penyair Lampung yang telah memiliki banyak karya itu menjelaskan, PPN V akan dihadiri tak kurang 160 penyair dari 5 negara dan puluhan pembicara dan ratusan pula pecinta sastra.
"Puisi-puisi para penyair dimasukkan dalam antologi 'Akulah Musi' setebal 624 halaman, dan akan diluncurkan saat pembukaan PPN V oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin," jelas dia, yang juga salah satu kurator pada PPN V.
Masih kata Isbedy, selain keempat penyair Lampung itu, sebenarnya satu lagi penyair dari Natar, Lampung Selatan, Alya Salaisha-Sinta. Namun penyair Alya saat ini menetap di Bangka Belitung. "Kemungkinan dia berangkat dari sana," katanya.
Isbedy yakin kalau para penyair Lampung bisa memenuhi undangan bergengsi itu. Apalagi, Lampung-Palembang tidak begitu jauh.
"Meski begitu, sulit juga kami bisa berangkat, jika tak ada dana," ujar dia.
Itu sebabnya, ia akan mencoba mengajukan proposal ke pemprov sehingga duta seni dari Lampung tersebut bisa meramaikan sekaligus menimba ilmu dari even sastra 5 negara Asean tersebut.
"Ini momen penting bagi kepenyairan Lampung, karena tahun depan dijadwalkan akan dihelat di Thailand ataupun Singapura, dua negara ini yang belum mendapat jadwal. Tetapi, teman-teman kurator menginginkan tahun depan dilaksanakan di Thailand," kata Isbedy lagi.
PPN V rencananya dilaksanakan di Hotel Swarna Dhipa Palembang. Sedangkan malam baca puisi akan dilaksanakan di Kambang Iwak dan di depan Jembatan Ampera, serta di beberapa tempat lainnya. Pelaksanaan yang semula 17-20 Juli dimajukan menjadi 16-19 Juli 2011.
Sumber: Antara, 1 Juli 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)