BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Satu akan mementaskan lakon Aruk Gugat di Taman Budaya Lampung (TBL) selama tiga hari, mulai Kamis (11-3), pukul 15.30. Lakon karya Iswandi Pratama ini dipentaskan atas kerja sama TBL Provinsi Lampung dengan Teater Satu.
Naskah Aruk Gugat menceritakan lakon yang diangkat cerita rakyat Lampung. Naskah ini bercerita tentang seorang anak bernama Aruk. Aruk adalah anak pandai yang harus menanggung ambisi ayahnya untuk meneruskan kejayaan.
Silsilah keluarga sebagai keturunan bangsawan Lampung. Aruk dididik untuk mengerti apa saja mulai dari seni, politik, sepak bola hingga penangkapan ikan. Aruk harus mengerti masalah besar hingga masalah terkecil sekalipun.
Dengan dukungan keluarganya, Aruk diterima menjadi salah seorang siswa pendidikan polisi. Namun setelah mengikuti serangkaian tes, Aruk dinyatakan gagal karena tidak mau mengikuti ujian menembak. Alasannya kalau dia bisa menembak, maka dia akan menembak siapa saja.
Gagal menjadi seorang polisi, Aruk menikah dengan betik hati dan menjadi seorang nelayan. Namun dia tak pernah mendapat ikan selama menjadi seorang nelayan.
Dalam lamunannya dia ingin menjadi seorang kapten kapal militer. Lamunannya menjadikannya konflik dengan sang istri.
Terakhir, Aruk terpilih menjadi pamong desa. Dia memimpin desanya dengan menggelar rapat setiap hari. Dua tahun memimpin, rakyatnya mulai menggugat. Akhirnya dia frustrasi dan membakar balai desa. Akhirnya Aruk harus hidup di penjara. (MG9/K-1)
Sumber: Lampung Post, Rabu, 10 Maret 2010
March 10, 2010
March 8, 2010
Langkan: Krakatau Award Kembali Digelar
DEWAN Kesenian Lampung (DKL) kembali menggelar Krakatau Award 2010. Untuk tahun ini, penghargaan diberikan kepada empat penulis cerita pendek (cerpen) terbaik, serta enam nomine karya cerpen. Koordinator Krakatau Award 2010 Isbedy Stiawan ZS didampingi sekretaris Arman AZ, di Jakarta, Minggu (7/3), mengatakan, lomba Krakatau Award 2010 ini bertema ”Lampung: Lokal-Global”, di mana cerpen harus bersandar pada nilai-nilai adat, seni budaya, atau dunia wisata yang ada di Lampung. Bagaimana peran lokalitas dalam berhadapan dengan globalisasi yang tak bisa dihindari. Menurut Isbedy, panjang cerpen maksimal 10 halaman kuarto, 1 spasi, jenis huruf Times New Roman 12, usia peserta minimal 17 tahun, dan bisa mengirim 3 cerpen. Setiap karya disertai kartu identitas juga biodata atau keterangan lain tentang penulis pada lembar terpisah. Ketua Umum DKL Syafariah Widianti mengatakan, DKL konsisten menghargai karya seni. antara lain, melalui lomba penulisan puisi dan cerpen. Menurut dia, tak tertutup kemungkinan di masa mendatang DKL akan memberi penghargaan atas karya novel, serta esai sastra-budaya. (NAL)
Sumber: Kompas, Senin, 8 Maret 2010
Sumber: Kompas, Senin, 8 Maret 2010
March 7, 2010
Menelusuri Lampung lewat ‘Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong’
Oleh Imelda*
Siang menjelang sore hari pertama bulan Februari, saya mendapatkan sebuah pesan pendek dari seorang teman bahwa buku Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong (selanjutnya disebut CBNS) mendapatkan Hadiah Sastra Rancage 2010.
UNTUK berita itu saya sungguh bersuka cita sekaligus sepakat bahwa penghargaan itu pantas didapatkan oleh Asarpin Aslami, karena 17 cerbun (cerita buntak = cerita pendek) yang ditulisnya memang bagus dan hidup karena ketika membaca saya bisa merasakan emosi yang beragam. Terkadang sedih ketika tragedi yang diceritakan, terkadang marah ketika ketidakadilan diceritakan dan terkadang gembira sembari senyum-senyum ketika yang ia berkisah dengan lelucon khas Lampungnya yang segar. Pendek kata, cerbun ini memang "Nano-Nano".
Menjadi cerita pendek pertama berbahasa Lampung tidak membuat cerita ini hambar dibaca, tetapi emosi sedih, marah, dan gembira berhasil diciptakan Aslami. Di dalam cerbun-nya ia mengangkat tema-yang beragam, antara lain (1) sejarah, (2) perempuan Lampung, (3) tradisi dan (4) kenangan manis masa lalu. Dari empat tema tersebut, yang paling menarik dan menjadi pokok tema penting ialah sejarah dan perempuan. Untuk itu pula, dalam ulasan buku ini, saya hanya akan memfokuskan pada dua tema yang menurut saya memiliki nilai menarik dan substansi penting.
Sejarah dan Mitos Lampung
Cerbun CBNS memulai kisahnya dengan rekonstruksi perdagangan rempah masa lalu di Way Semaka (Bandar Negeri Semuong). Ia tidak hanya bercerita mengenai tempat, tetapi juga aktor-aktor, aktivitas, dan berbagai macam mitos yang mengiringi tempat itu di masa lalu. Kisah kesejarahan yang diilustrasikan, kemudian diperkuat juga dengan mitos mengenai buaya putih pada cerbun yang berjudul Teluk Semaka dan Bura Semaka. Di dalam dua cerita itu dikisahkan mitologi buaya putih yang menjadi penghuni perairan Way Semaka, yang hanya bisa ditaklukan oleh orang-orang sakti atau dukun Lampung.
Barangkali ada sebagian orang yang menganggap mitos yang diceritakan hanya sebagai isapan jempol, akan tetapi bagi orang Lampung yang masih mempercayai mitologi penguasa laut matu dan sungai (buaya putih), mitologi ini bukan omong kosong. Selain itu, dapat pula dikatakan bahwa mitologi itu menjadi pengikat kisah eksistensi nenek moyang dengan masa kini. Sebuah bentuk kesejarahan masa lalu atau local knowledge mengenai tempat-tempat penting yang tidak perlu diperdebatkan. Dengan kata lain, sejarah perdagangan masa lalu di Pesisir Selatan Lampung dan mitos ini bukan hanya memberikan informasi mengenai tempat, tetapi juga hubungan orang Lampung dengan masa lalunya.
Kisah lain yang masih berdimensi kesejarahan ialah kisah Batu Penyambung dan Gunung Putri. Cerita pertama memberikan paparan mengenai sebuah batu yang dipercayai terjadi karena ada orang yang berdosa dan disumpahi sehingga menjadi batu. Tempat di dalam kisah tersebut, saat ini, dikisahkan sebagai tempat keramat. Sementara itu, cerita kedua berkisah mengenai hubungan Kepaksian Lampung dan Kesultanan Banten yang digambarkan dengan hubungan perkawinan Pun Puri dari Lampung dan Maulana Yusuf dari Banten.
Mitos Batu Penyambung merupakan mitologi yang memberikan kisah mengenai moralitas, sekaligus tempat. Di dalamnya ada pesan bahwa berjudi itu perbuatan yang tidak baik, sehingga siapa pun yang berbuat itu, di masa lalu, dikutuk menjadi batu. Sementara itu, kisah Gunung Putri menjadi kisah yang memberikan gambaran betapa erat hubungan Lampung dan Banten karena hubungan tersebut diikat dengan perkawinan yang artinya mengikat batin.
Perempuan Lampung
Tema yang saya anggap penting, selain kesejarahan ialah mengenai Perempuan Lampung. Ada dua periode penting yang disoroti oleh Asarpin mengenai keperempuanan: gadis dan istri. Pada periode gadis, perempuan Lampung digambarkan sebagai perempuan yang malang Hiwang, perempuan yang sikop (Mala Suri) juga perempuan pemberani melawan pakem (Metudau).
Kemalangan perempuan digambarkan ketika ia tidak memiliki sanak famili. Setiawati yang menjadi tokoh utama dalam cerita Hiwang digambarkan sebagai seseorang yatim piatu yang ditipu-tipu. Semakin tragis ketika kisah ini berakhir dengan kematian sang tokoh saat perjalanan pulang ke kampung halaman. Cerita lain, perempuan yang cantik, digambarkan oleh mimpi seorang bujang mengenai perempuan Lampung yang bernama Mala Suri, berkulit putih yang diintip ketika mandi. Cerita ini sungguh berani bukan hanya menggambarkan impian liar sang jejaka, melainkan juga karena di akhir mimpinya, bujang itu terjaga karena Mala Suri ngusung lading dan menantangnya. Kisah yang unik dan menarik.
Terakhir, cerita mengenai perlawanan seorang perempuan terhadap adat yang tidak berpihak. Nurjanah mempertaruhkan dirinya disebut sebagai Nurjahanam setelah berani bersikap meninggalkan rumah dan menikahi lelaki yang dicintainya. Ini adalah sebuah tragedi ironik karena, diakhir cerita, sang perempuan pemberani masih memendam keinginan untuk melawan diskriminasi yang ia rasakan dengan cita-cita untuk memiliki anak perempuan yang pupus karena ia hanya dikaruniai anak lelaki. Kisah yang sejenis, tragedi cinta terlarang, juga bisa dibaca pada cerita Solbi wan Solha.
Perlakuan diskrimatif juga dirasakan ketika seorang perempuan menjadi istri. Dalam cerita Bebai Kejeruwan, perempuan Lampung yang menjadi istri digambarkan sebagai perempuan yang menanggung beban penderitaan. Dikisahkan tujuh orang perempuan yang setiap hari mencari kayu di hutan. Aktivitas itu dilakukan karena mereka memiliki tanggungan dapur yang harus terus mengepul dan anak yang menanti kiriman uang di kota.
Dengan gaya menulis yang berkelakar, Asarpin mengkritik perilaku lelaki/suami Lampung yang hanya sibuk merokok dan mengopi sambil berseloroh tidak sopan terhadap perempuan-perempuan pemberani yang dianggap telah menghabiskan harta warisan keluarga lelaki. Di lain cerita, Kembang Melor, rasa malas lelaki disindir manis dengan kisah ini. Perempuan (baca: keluarga) digambarkan dengan wujud kembang melor yang butuh banyak air kehidupan. Sebuah gambaran pertarungan gender yang manis.
Sejarah dan perempuan lampung yang diceritakan oleh Asarpin, saya kira, telah berhasil merebut hati dan tidak heran bila akhirnya cerbun ini meraih penghargaan. Buat saya, penghargaan yang diberikan sangat pantas karena penceritaannya yang mengalir. Selain itu di bagian akhir, Asarpin menyelipkan kritik terhadap penerbit yang mengganti bunyi /kh/ dan /gh/ dengan bunyi /r/. Ini membuktikan bahwa ia masih belum puas dengan penerbit. Sebuah bukti bahwa memang buku ini harus melengkapi diri dengan standar ortografi. Penulisan bunyi yang lainnya ialah bunyi /'/ yang selalu diletakkan setelah huruf /k/. Bagi saya itu sangat boros karena tanda /'/ (baca: hamzah) itu sudah mewakili bunyi /k/.
Kumpulan Cerbun Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong yang ditulis Asarpin telah memberikan semangat baru bagi penulisan teks berbahasa Lampung di tengah sepinya usaha pemerintah daerah yang hanya sibuk berwacana menggunakan bahasa Lampung. Asarpin selangkah lebih maju karena ia tidak hanya sekadar berwacana, tetapi do action.
* Imelda, Peneliti Ernolinguistik, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, LIPI
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Maret 2010
Siang menjelang sore hari pertama bulan Februari, saya mendapatkan sebuah pesan pendek dari seorang teman bahwa buku Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong (selanjutnya disebut CBNS) mendapatkan Hadiah Sastra Rancage 2010.
Menjadi cerita pendek pertama berbahasa Lampung tidak membuat cerita ini hambar dibaca, tetapi emosi sedih, marah, dan gembira berhasil diciptakan Aslami. Di dalam cerbun-nya ia mengangkat tema-yang beragam, antara lain (1) sejarah, (2) perempuan Lampung, (3) tradisi dan (4) kenangan manis masa lalu. Dari empat tema tersebut, yang paling menarik dan menjadi pokok tema penting ialah sejarah dan perempuan. Untuk itu pula, dalam ulasan buku ini, saya hanya akan memfokuskan pada dua tema yang menurut saya memiliki nilai menarik dan substansi penting.
Sejarah dan Mitos Lampung
Cerbun CBNS memulai kisahnya dengan rekonstruksi perdagangan rempah masa lalu di Way Semaka (Bandar Negeri Semuong). Ia tidak hanya bercerita mengenai tempat, tetapi juga aktor-aktor, aktivitas, dan berbagai macam mitos yang mengiringi tempat itu di masa lalu. Kisah kesejarahan yang diilustrasikan, kemudian diperkuat juga dengan mitos mengenai buaya putih pada cerbun yang berjudul Teluk Semaka dan Bura Semaka. Di dalam dua cerita itu dikisahkan mitologi buaya putih yang menjadi penghuni perairan Way Semaka, yang hanya bisa ditaklukan oleh orang-orang sakti atau dukun Lampung.
Barangkali ada sebagian orang yang menganggap mitos yang diceritakan hanya sebagai isapan jempol, akan tetapi bagi orang Lampung yang masih mempercayai mitologi penguasa laut matu dan sungai (buaya putih), mitologi ini bukan omong kosong. Selain itu, dapat pula dikatakan bahwa mitologi itu menjadi pengikat kisah eksistensi nenek moyang dengan masa kini. Sebuah bentuk kesejarahan masa lalu atau local knowledge mengenai tempat-tempat penting yang tidak perlu diperdebatkan. Dengan kata lain, sejarah perdagangan masa lalu di Pesisir Selatan Lampung dan mitos ini bukan hanya memberikan informasi mengenai tempat, tetapi juga hubungan orang Lampung dengan masa lalunya.
Kisah lain yang masih berdimensi kesejarahan ialah kisah Batu Penyambung dan Gunung Putri. Cerita pertama memberikan paparan mengenai sebuah batu yang dipercayai terjadi karena ada orang yang berdosa dan disumpahi sehingga menjadi batu. Tempat di dalam kisah tersebut, saat ini, dikisahkan sebagai tempat keramat. Sementara itu, cerita kedua berkisah mengenai hubungan Kepaksian Lampung dan Kesultanan Banten yang digambarkan dengan hubungan perkawinan Pun Puri dari Lampung dan Maulana Yusuf dari Banten.
Mitos Batu Penyambung merupakan mitologi yang memberikan kisah mengenai moralitas, sekaligus tempat. Di dalamnya ada pesan bahwa berjudi itu perbuatan yang tidak baik, sehingga siapa pun yang berbuat itu, di masa lalu, dikutuk menjadi batu. Sementara itu, kisah Gunung Putri menjadi kisah yang memberikan gambaran betapa erat hubungan Lampung dan Banten karena hubungan tersebut diikat dengan perkawinan yang artinya mengikat batin.
Perempuan Lampung
Tema yang saya anggap penting, selain kesejarahan ialah mengenai Perempuan Lampung. Ada dua periode penting yang disoroti oleh Asarpin mengenai keperempuanan: gadis dan istri. Pada periode gadis, perempuan Lampung digambarkan sebagai perempuan yang malang Hiwang, perempuan yang sikop (Mala Suri) juga perempuan pemberani melawan pakem (Metudau).
Kemalangan perempuan digambarkan ketika ia tidak memiliki sanak famili. Setiawati yang menjadi tokoh utama dalam cerita Hiwang digambarkan sebagai seseorang yatim piatu yang ditipu-tipu. Semakin tragis ketika kisah ini berakhir dengan kematian sang tokoh saat perjalanan pulang ke kampung halaman. Cerita lain, perempuan yang cantik, digambarkan oleh mimpi seorang bujang mengenai perempuan Lampung yang bernama Mala Suri, berkulit putih yang diintip ketika mandi. Cerita ini sungguh berani bukan hanya menggambarkan impian liar sang jejaka, melainkan juga karena di akhir mimpinya, bujang itu terjaga karena Mala Suri ngusung lading dan menantangnya. Kisah yang unik dan menarik.
Terakhir, cerita mengenai perlawanan seorang perempuan terhadap adat yang tidak berpihak. Nurjanah mempertaruhkan dirinya disebut sebagai Nurjahanam setelah berani bersikap meninggalkan rumah dan menikahi lelaki yang dicintainya. Ini adalah sebuah tragedi ironik karena, diakhir cerita, sang perempuan pemberani masih memendam keinginan untuk melawan diskriminasi yang ia rasakan dengan cita-cita untuk memiliki anak perempuan yang pupus karena ia hanya dikaruniai anak lelaki. Kisah yang sejenis, tragedi cinta terlarang, juga bisa dibaca pada cerita Solbi wan Solha.
Perlakuan diskrimatif juga dirasakan ketika seorang perempuan menjadi istri. Dalam cerita Bebai Kejeruwan, perempuan Lampung yang menjadi istri digambarkan sebagai perempuan yang menanggung beban penderitaan. Dikisahkan tujuh orang perempuan yang setiap hari mencari kayu di hutan. Aktivitas itu dilakukan karena mereka memiliki tanggungan dapur yang harus terus mengepul dan anak yang menanti kiriman uang di kota.
Dengan gaya menulis yang berkelakar, Asarpin mengkritik perilaku lelaki/suami Lampung yang hanya sibuk merokok dan mengopi sambil berseloroh tidak sopan terhadap perempuan-perempuan pemberani yang dianggap telah menghabiskan harta warisan keluarga lelaki. Di lain cerita, Kembang Melor, rasa malas lelaki disindir manis dengan kisah ini. Perempuan (baca: keluarga) digambarkan dengan wujud kembang melor yang butuh banyak air kehidupan. Sebuah gambaran pertarungan gender yang manis.
Sejarah dan perempuan lampung yang diceritakan oleh Asarpin, saya kira, telah berhasil merebut hati dan tidak heran bila akhirnya cerbun ini meraih penghargaan. Buat saya, penghargaan yang diberikan sangat pantas karena penceritaannya yang mengalir. Selain itu di bagian akhir, Asarpin menyelipkan kritik terhadap penerbit yang mengganti bunyi /kh/ dan /gh/ dengan bunyi /r/. Ini membuktikan bahwa ia masih belum puas dengan penerbit. Sebuah bukti bahwa memang buku ini harus melengkapi diri dengan standar ortografi. Penulisan bunyi yang lainnya ialah bunyi /'/ yang selalu diletakkan setelah huruf /k/. Bagi saya itu sangat boros karena tanda /'/ (baca: hamzah) itu sudah mewakili bunyi /k/.
Kumpulan Cerbun Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong yang ditulis Asarpin telah memberikan semangat baru bagi penulisan teks berbahasa Lampung di tengah sepinya usaha pemerintah daerah yang hanya sibuk berwacana menggunakan bahasa Lampung. Asarpin selangkah lebih maju karena ia tidak hanya sekadar berwacana, tetapi do action.
* Imelda, Peneliti Ernolinguistik, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, LIPI
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Maret 2010
Putri Indonesia Promosikan Tambling dan Teluk Kiluan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Putri Indonesia 2009, Qory Sandioriva, akan mempromosikan keindahan Teluk Kiluan, Tanggamus, dan Tambling, Lampung Barat, dalam ajang Miss Universe 2010. Menurut Qory, masyarakat dunia tertarik dengan lumba-lumba. Jadi, lumba-lumba yang secara alami muncul di Teluk Kiluan patut dipromosikan.
PUTRI INDONESIA. Putri Indonesia 2009 Qory Sandioriva (kanan) dan Putri Lampung 2009 Feby Deliana, berpose di depan Kantor Redaksi Lampung Post, Sabtu (6-3). Kunjungan Putri Indonesia ini sebagai persiapan dalam menghadapi ajang Miss Universe 2010. (LAMPUNG POST/M. REZA)
Qory yang dinobatkan sebagai Duta Harimau Sumatera itu akan mempromosikan Tambling Wildlife Nature Conservastion (TNWC) karena menjadi habitat harimau sumatera. "Ini hal menarik dan patut dipromosikan dalam ajang Miss Universe," kata Qory di sela-sela kunjungan ke redaksi Lampung Post, Sabtu (6-3).
Dalam kunjungan itu, Qory didampingi Senior Executive Chaperone Business Development Yayasan Putri Indonesia, Silvia Handayani, Product Manager Mustika Ratu Retno Pratiwi, dan Area Supervisor Mustika Ratu Lampung Aris Munanto. Rombongan disambut Pemimpin Redaksi Sabam Sinaga.
Mahasiswi Jurusan Sastra Prancis Universitas Indonesia itu mengatakan tren pariwisata dunia mengarah kepada alam. Keindahan yang menonjolkan bentuk fisik alam Indonesia, menurut Qory, berpotensi menjadi daya tarik wartawan mancanegara ke Indonesia. Selain keindahan lokasi wisata, di ajang tersebut Qori mengampanyekan kondisi alam Indonesia yang mampu memasok 40% oksigen dunia.
Hal ini penting diketahui masyarakat internasional agar sadar kondisi alam Indonesia sangat penting dalam menunjang ketersediaan oksigen dunia. "Bila dunia mengetahui hal ini, mereka akan menjaga ekosistem dan lingkungan Indonesia agar tidak rusak dan tercemar," kata wanita keturunan suku Aceh Gayo ini.
Saat disinggung soal busana renang yang wajib dikenakan peserta pemilihan Miss Universe, Qory mengatakan dia menghargai keputusan Yayasan Putri Indonesia. "Saya belum tahu akan pakai baju renang yang bagaimana. Saya berharap masyarakat jangan memandang negatif hal ini. Kalau harus memakai baju renang, ya, mungkin itu cara menunjukkan wanita yang sehat, bugar, ceria, dan suka merawat kecantikan diri," kata wanita kelahiran 17 Agustus 1991 itu.
Dengan segala persiapan yang dilakukan, Qory berani menargetkan masuk sepuluh besar dalam ajang Miss Universe tahun ini. Qory yakin kepribadian yang dia miliki dan dukungan dari masyarakat Indonesia dapat membantu mencapai bahkan melebihi target tersebut. (MG3/RIN/R-3)
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Maret 2010
Qory yang dinobatkan sebagai Duta Harimau Sumatera itu akan mempromosikan Tambling Wildlife Nature Conservastion (TNWC) karena menjadi habitat harimau sumatera. "Ini hal menarik dan patut dipromosikan dalam ajang Miss Universe," kata Qory di sela-sela kunjungan ke redaksi Lampung Post, Sabtu (6-3).
Dalam kunjungan itu, Qory didampingi Senior Executive Chaperone Business Development Yayasan Putri Indonesia, Silvia Handayani, Product Manager Mustika Ratu Retno Pratiwi, dan Area Supervisor Mustika Ratu Lampung Aris Munanto. Rombongan disambut Pemimpin Redaksi Sabam Sinaga.
Mahasiswi Jurusan Sastra Prancis Universitas Indonesia itu mengatakan tren pariwisata dunia mengarah kepada alam. Keindahan yang menonjolkan bentuk fisik alam Indonesia, menurut Qory, berpotensi menjadi daya tarik wartawan mancanegara ke Indonesia. Selain keindahan lokasi wisata, di ajang tersebut Qori mengampanyekan kondisi alam Indonesia yang mampu memasok 40% oksigen dunia.
Hal ini penting diketahui masyarakat internasional agar sadar kondisi alam Indonesia sangat penting dalam menunjang ketersediaan oksigen dunia. "Bila dunia mengetahui hal ini, mereka akan menjaga ekosistem dan lingkungan Indonesia agar tidak rusak dan tercemar," kata wanita keturunan suku Aceh Gayo ini.
Saat disinggung soal busana renang yang wajib dikenakan peserta pemilihan Miss Universe, Qory mengatakan dia menghargai keputusan Yayasan Putri Indonesia. "Saya belum tahu akan pakai baju renang yang bagaimana. Saya berharap masyarakat jangan memandang negatif hal ini. Kalau harus memakai baju renang, ya, mungkin itu cara menunjukkan wanita yang sehat, bugar, ceria, dan suka merawat kecantikan diri," kata wanita kelahiran 17 Agustus 1991 itu.
Dengan segala persiapan yang dilakukan, Qory berani menargetkan masuk sepuluh besar dalam ajang Miss Universe tahun ini. Qory yakin kepribadian yang dia miliki dan dukungan dari masyarakat Indonesia dapat membantu mencapai bahkan melebihi target tersebut. (MG3/RIN/R-3)
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Maret 2010
Jelajah Musi 2010: Aksara Kaganga, antara Ada dan Tiada
-- Helena F Nababan dan Agus Mulyadi
SEBANYAK 40 siswa kelas VI SD Negeri 2 Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Rabu (17/2) siang, tekun mendengarkan penjelasan guru. Sekali-sekali tangan mereka mencoretkan garis-garis miring di atas kertas bergaris kotak-kotak (kertas yang biasa dipakai untuk pelajaran Matematika).
Siswa kelas VI SD Negeri 2 Curup, Provinsi Bengkulu, Maliza, menulis kalimat dengan menggunakan aksara kaganga di kelas, Kamis (18/2). Pelajaran kaganga diberikan sejak dini untuk melestarikan budaya lokal itu. (KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)
Sekilas, coretan miring itu seperti tidak berbunyi. Namun, bagi siswa SD itu, coretan itu bermakna. Coretan-coretan itu adalah aksara kaganga, aksara yang berkembang di masyarakat Sumatera bagian selatan yang terdiri atas 19 huruf tunggal dan 8 huruf pasangan. Nama kaganga merujuk pada tiga aksara pertama pada urutan 28 huruf, yaitu ka, ga, nga, dan seterusnya.
Penulisannya unik karena huruf-huruf ditulis dengan cara ditarik ke kanan atas dengan kemiringan sekitar 45 derajat.
Kesibukan para siswa menyiratkan kekayaan budaya masyarakat di daerah hulu Sungai Musi. Aksara kaganga yang awalnya berkembang di Curup sering pula disebut aksara ulu. Aksara ini lalu menyebar ke daerah-daerah yang dilalui aliran Sungai Musi.
Sejak lima tahun lalu, aksara ini kembali diperkenalkan kepada generasi muda dan masuk kurikulum pelajaran SD dan SMP di Rejang Lebong. Bahkan, menurut Kepala SDN 2 Curup Sahril, dua tahun ini diajarkan pelajaran Bahasa Rejang yang di dalamnya terkandung pula aksara kaganga.
”Pengajarnya adalah guru-guru asal suku Rejang yang kebetulan mengerti aksara kaganga,” kata Sahril.
Kepala SDN 6 Curup Berlian mengakui, keterbatasan pengajar menjadi salah satu kendala belajar-mengajar kaganga para siswa. Meski demikian, rencananya Bahasa Rejang dengan aksara kaganga-nya akan diajarkan pula di tingkat SMA di Rejang Lebong.
Mengikuti Sungai Musi
”Aksara kaganga atau aksara ulu menyebar mengikuti aliran Sungai Musi sebagai dampak mobilitas penduduk waktu itu,” ujar Sarwit Sarwono, peneliti aksara kaganga dari Universitas Bengkulu, di Kota Bengkulu.
Sarwit mengatakan, berdasarkan dokumen Eropa, aksara ulu diperkirakan berkembang pesat di Sumatera bagian selatan pada abad ke-16-17 Masehi sebagai perkembangan dari aksara palawa dan kawi. Aksara kaganga sendiri banyak berkembang di Sumatera dan Sulawesi. Itu menandakan aksara kaganga berkerabat dengan aksara Batak dan Bugis. Sementara wilayah di luar Sumatera dan Sulawesi, seperti Bali dan Jawa, menggunakan aksara hanacaraka.
Karena mobilitas hulu hilir Musi, hampir seluruh masyarakat di Bengkulu, seperti di Rejang, Lebong, Curup, Kepahiang, Lembak, Seluma, Serawai, serta di Lampung dan Sumatera Selatan seperti di Pasemah, Lintang, Pagaralam, Ogan, hingga Komering, mengenal aksara tersebut. Penyebaran aksara kaganga diperkirakan berhenti pada awal abad ke-20.
Tulisan naskah dengan aksara kaganga, ujar Sarwit, biasanya ditulis di atas bahan kulit kayu atau kakhas dan gelondongan bambu. Naskah kuno juga ditemukan ditulis di atas bahan rotan, kulit hewan, atau lontar.
Di surat ulu masyarakat mengungkapkan banyak hal. Di antaranya seperti silsilah keluarga, mantra-mantra, pengobatan, tuah untuk ayam sebelum disabung, ramalan tentang nasib dan sifat manusia, hingga ajaran agama Islam, hukum adat, ataupun rukun haji.
”Sesuai bahasa daerah masing-masing, ada naskah berbahasa Rejang dengan aksara kaganga, ada naskah berbahasa Pasemah beraksara kaganga, juga ada naskah berbahasa Melayu dengan aksara kaganga,” ujar Sarwit.
Disimpan di warga
Kurator Museum Negeri Sumsel, Rapanie Igama, yang sejak tahun 1995 meneliti surat ulu di seluruh Sumsel, mengutarakan, ratusan surat ulu sampai sekarang masih tersimpan di rumah warga. Sejumlah surat ulu di Sumsel berada di Pagaralam, Lahat, dan Muara Enim.
Hanya saja, penyimpanan itu tidak disertai teknik penyimpanan yang tepat sehingga dikhawatirkan rusak karena lembab. Surat ulu biasanya diwariskan secara turun-temurun dari kepala marga (pesirah) kepada anak cucunya.
Menurut Rapanie, karena surat ulu itu diturunkan, pewaris surat ulu cenderung mengeramatkannya. Kondisi ini menyebabkan keberadaan surat ulu semakin terancam. Cara berpikir masyarakat yang tidak logis ikut menyebabkan kehancuran warisan budaya nenek moyang.
”Mereka menganggap surat ulu sebagai benda pusaka. Untuk membukanya saja harus menyembelih ayam atau kambing. Bahkan, ada surat ulu yang tidak boleh difoto dan dibaca karena ditakutkan nanti seluruh desa terbakar,” kata Rapanie.
Salah satu surat ulu di Desa Padang Bulan, Lahat, yang pernah dibaca Rapanie berisi tentang strategi perang melawan Belanda. Tidak heran pewaris ketakutan kalau surat ulu tersebut dibaca. ”Mungkin dia mendapat wasiat bahwa surat ulu itu tidak boleh dibaca siapa pun,” katanya.
Selain karena disimpan sembarangan, tidak banyak orang yang bisa membaca sekaligus bisa mengartikan aksara kaganga. Umumnya hanya sebatas membaca dan menulis. (wad)
Sumber: Kompas, Minggu, 7 Maret 2010
SEBANYAK 40 siswa kelas VI SD Negeri 2 Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Rabu (17/2) siang, tekun mendengarkan penjelasan guru. Sekali-sekali tangan mereka mencoretkan garis-garis miring di atas kertas bergaris kotak-kotak (kertas yang biasa dipakai untuk pelajaran Matematika).
Siswa kelas VI SD Negeri 2 Curup, Provinsi Bengkulu, Maliza, menulis kalimat dengan menggunakan aksara kaganga di kelas, Kamis (18/2). Pelajaran kaganga diberikan sejak dini untuk melestarikan budaya lokal itu. (KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)Sekilas, coretan miring itu seperti tidak berbunyi. Namun, bagi siswa SD itu, coretan itu bermakna. Coretan-coretan itu adalah aksara kaganga, aksara yang berkembang di masyarakat Sumatera bagian selatan yang terdiri atas 19 huruf tunggal dan 8 huruf pasangan. Nama kaganga merujuk pada tiga aksara pertama pada urutan 28 huruf, yaitu ka, ga, nga, dan seterusnya.
Penulisannya unik karena huruf-huruf ditulis dengan cara ditarik ke kanan atas dengan kemiringan sekitar 45 derajat.
Kesibukan para siswa menyiratkan kekayaan budaya masyarakat di daerah hulu Sungai Musi. Aksara kaganga yang awalnya berkembang di Curup sering pula disebut aksara ulu. Aksara ini lalu menyebar ke daerah-daerah yang dilalui aliran Sungai Musi.
Sejak lima tahun lalu, aksara ini kembali diperkenalkan kepada generasi muda dan masuk kurikulum pelajaran SD dan SMP di Rejang Lebong. Bahkan, menurut Kepala SDN 2 Curup Sahril, dua tahun ini diajarkan pelajaran Bahasa Rejang yang di dalamnya terkandung pula aksara kaganga.
”Pengajarnya adalah guru-guru asal suku Rejang yang kebetulan mengerti aksara kaganga,” kata Sahril.
Kepala SDN 6 Curup Berlian mengakui, keterbatasan pengajar menjadi salah satu kendala belajar-mengajar kaganga para siswa. Meski demikian, rencananya Bahasa Rejang dengan aksara kaganga-nya akan diajarkan pula di tingkat SMA di Rejang Lebong.
Mengikuti Sungai Musi
”Aksara kaganga atau aksara ulu menyebar mengikuti aliran Sungai Musi sebagai dampak mobilitas penduduk waktu itu,” ujar Sarwit Sarwono, peneliti aksara kaganga dari Universitas Bengkulu, di Kota Bengkulu.
Sarwit mengatakan, berdasarkan dokumen Eropa, aksara ulu diperkirakan berkembang pesat di Sumatera bagian selatan pada abad ke-16-17 Masehi sebagai perkembangan dari aksara palawa dan kawi. Aksara kaganga sendiri banyak berkembang di Sumatera dan Sulawesi. Itu menandakan aksara kaganga berkerabat dengan aksara Batak dan Bugis. Sementara wilayah di luar Sumatera dan Sulawesi, seperti Bali dan Jawa, menggunakan aksara hanacaraka.
Karena mobilitas hulu hilir Musi, hampir seluruh masyarakat di Bengkulu, seperti di Rejang, Lebong, Curup, Kepahiang, Lembak, Seluma, Serawai, serta di Lampung dan Sumatera Selatan seperti di Pasemah, Lintang, Pagaralam, Ogan, hingga Komering, mengenal aksara tersebut. Penyebaran aksara kaganga diperkirakan berhenti pada awal abad ke-20.
Tulisan naskah dengan aksara kaganga, ujar Sarwit, biasanya ditulis di atas bahan kulit kayu atau kakhas dan gelondongan bambu. Naskah kuno juga ditemukan ditulis di atas bahan rotan, kulit hewan, atau lontar.
Di surat ulu masyarakat mengungkapkan banyak hal. Di antaranya seperti silsilah keluarga, mantra-mantra, pengobatan, tuah untuk ayam sebelum disabung, ramalan tentang nasib dan sifat manusia, hingga ajaran agama Islam, hukum adat, ataupun rukun haji.
”Sesuai bahasa daerah masing-masing, ada naskah berbahasa Rejang dengan aksara kaganga, ada naskah berbahasa Pasemah beraksara kaganga, juga ada naskah berbahasa Melayu dengan aksara kaganga,” ujar Sarwit.
Disimpan di warga
Kurator Museum Negeri Sumsel, Rapanie Igama, yang sejak tahun 1995 meneliti surat ulu di seluruh Sumsel, mengutarakan, ratusan surat ulu sampai sekarang masih tersimpan di rumah warga. Sejumlah surat ulu di Sumsel berada di Pagaralam, Lahat, dan Muara Enim.
Hanya saja, penyimpanan itu tidak disertai teknik penyimpanan yang tepat sehingga dikhawatirkan rusak karena lembab. Surat ulu biasanya diwariskan secara turun-temurun dari kepala marga (pesirah) kepada anak cucunya.
Menurut Rapanie, karena surat ulu itu diturunkan, pewaris surat ulu cenderung mengeramatkannya. Kondisi ini menyebabkan keberadaan surat ulu semakin terancam. Cara berpikir masyarakat yang tidak logis ikut menyebabkan kehancuran warisan budaya nenek moyang.
”Mereka menganggap surat ulu sebagai benda pusaka. Untuk membukanya saja harus menyembelih ayam atau kambing. Bahkan, ada surat ulu yang tidak boleh difoto dan dibaca karena ditakutkan nanti seluruh desa terbakar,” kata Rapanie.
Salah satu surat ulu di Desa Padang Bulan, Lahat, yang pernah dibaca Rapanie berisi tentang strategi perang melawan Belanda. Tidak heran pewaris ketakutan kalau surat ulu tersebut dibaca. ”Mungkin dia mendapat wasiat bahwa surat ulu itu tidak boleh dibaca siapa pun,” katanya.
Selain karena disimpan sembarangan, tidak banyak orang yang bisa membaca sekaligus bisa mengartikan aksara kaganga. Umumnya hanya sebatas membaca dan menulis. (wad)
Sumber: Kompas, Minggu, 7 Maret 2010
[Perjalanan] Mengenang Kejayaan, Melestarikan Budaya
CATATAN kebesaran Kerajaan Tulangbawang memang tak banyak ditemukan. Namun, warisannya masih banyak ditemui. Setiap awal Maret, beberapa cuplikan kebesaran itu dapat dinikmati lewat Festival Megou Pak.




Lewat kegiatan pariwisata tahunan ini, keemasan kerajaan yang makmur dan berjaya bernama To-Lang Po-Hwang (Tulangbawang) di pedalaman Chrqse (Pulau Emas Sumatera), ini masih terasa. Paling tidak di Menggala, ibu kota Tulangbawang, yang pada masa sebelum kemerdekaan Kota Menggala berjuluk Paris Van Lampung.
Seperti tahun sebelumnya, Festival Megou Pak yang berlangsung mulai 22 Februari hingga 10 Maret, masih didominasi agenda kesenian. Bupati Tulangbawang Abdurrahman Sarbini, pada pembukaan, Rabu (3-3), mengatakan festival ini bertujuan menggali dan mengembangkan potensi daerah dan sumber daya manusia di Tulangbawang. "Festival ini diangkat dari empat kebudayaan adat Pepadun Megou Pak yakni Buay Bulan, Buay Suwai Umpu, Buay Tegamoan, dan Buay Aji," kata Mance, panggilan akrab Abdurrahman Sarbini.
Keseriusan Pemerintah Kabupaten Tulangbawang menggali kekayaan dan potensi budaya itu ditandai dengan hadirnya Gedung Kesenian R.A. Kartini di depan Islamic Centre, Menggala. Di jalur lintas timur Sumatera itu, kini berdiri gedung megah yang merupakan satu-satunya gedung kesenian yang dibangun pemerintah kota/kabupaten di Lampung.
Kehadiran gedung kesenian ini, menurut Mance, sebagai upaya mengembalikan Menggala sebagai kota budaya. Menggala merupakan salah satu kota tua yang berkembang sejak Belanda.
Ciri khas kehidupan tradisional, kesibukan sebagai kota pelabuhan sungai, pola permukiman, rumah tua, dan tata kehidupan asli masih terlihat. Bagi yang menyenangi budaya dan sejarah lama, kehidupan tradisional, dan kesibukan perdagangan tradisional, Menggala bisa jadi tujuan perjalanan. Kehidupan ini dapat dijumpai di Pasar Lama dan Pelabuhan Sungai Tulangbawang yang membelah Menggala.
Sebagai salah satu kota tertua di Lampung, sejak dahulu seni dan budaya berkembang baik. Sebagian besar Wilayah Tulangbawang berupa daerah rawa pasang surut. Pada musim hujan, rawa ini menjelma menjadi danau yang menarik untuk objek wisata air. Apalagi Tulangbawang dilalui sungai terbesar di Lampung, yaitu Way Tulangbawang, yang menyimpan banyak potensi pariwisata berbasis air.
Kemeriahan Berkurang
Tulangbawang yang dimekarkan menjadi Kabupaten Tulangbawang Barat dan Kabupaten Mesuji, banyak berpengaruh terhadap penyelenggaraan Festival Megou Pak. Penyelenggaraanya tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Tulangbawang, Ahmad Suharyo, mengatakan pemekaran Kabupaten Tulangbawang, ikut menyedot anggaran sehingga festival tahun ini diselenggaran sederhana.
Festival Megou Pak yang biasanya mengandalkan wisata sungai dan rawa (wet land), tahun ini tidak ada lagi. Agenda menikmati keindahan sungai dan kekayaan objek wisata Way Tulangbawang, tak diselenggarakan. Satu-satunya acara yang berbau air hanya lomba memancing di Kolam Pemancingan Astra Ksetra, Menggala.
Di tengah keterbatasan dana itu, Festival Megou Pak hanya mengusung acara pokok, yakni pemilihan muli mekhanai Tulangbawang (1--2 Maret), Megou Pak Music Concert (4 Maret), parade tari kreasi daerah Lampung (4 Maret), lomba tari bedana (5 Maret), parade lagu Lampung (9 Maret), dan lomba mancing (10 Maret).n AMIRUDDIN SORMIN
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Maret 2010
Seperti tahun sebelumnya, Festival Megou Pak yang berlangsung mulai 22 Februari hingga 10 Maret, masih didominasi agenda kesenian. Bupati Tulangbawang Abdurrahman Sarbini, pada pembukaan, Rabu (3-3), mengatakan festival ini bertujuan menggali dan mengembangkan potensi daerah dan sumber daya manusia di Tulangbawang. "Festival ini diangkat dari empat kebudayaan adat Pepadun Megou Pak yakni Buay Bulan, Buay Suwai Umpu, Buay Tegamoan, dan Buay Aji," kata Mance, panggilan akrab Abdurrahman Sarbini.
Keseriusan Pemerintah Kabupaten Tulangbawang menggali kekayaan dan potensi budaya itu ditandai dengan hadirnya Gedung Kesenian R.A. Kartini di depan Islamic Centre, Menggala. Di jalur lintas timur Sumatera itu, kini berdiri gedung megah yang merupakan satu-satunya gedung kesenian yang dibangun pemerintah kota/kabupaten di Lampung.
Kehadiran gedung kesenian ini, menurut Mance, sebagai upaya mengembalikan Menggala sebagai kota budaya. Menggala merupakan salah satu kota tua yang berkembang sejak Belanda.
Ciri khas kehidupan tradisional, kesibukan sebagai kota pelabuhan sungai, pola permukiman, rumah tua, dan tata kehidupan asli masih terlihat. Bagi yang menyenangi budaya dan sejarah lama, kehidupan tradisional, dan kesibukan perdagangan tradisional, Menggala bisa jadi tujuan perjalanan. Kehidupan ini dapat dijumpai di Pasar Lama dan Pelabuhan Sungai Tulangbawang yang membelah Menggala.
Sebagai salah satu kota tertua di Lampung, sejak dahulu seni dan budaya berkembang baik. Sebagian besar Wilayah Tulangbawang berupa daerah rawa pasang surut. Pada musim hujan, rawa ini menjelma menjadi danau yang menarik untuk objek wisata air. Apalagi Tulangbawang dilalui sungai terbesar di Lampung, yaitu Way Tulangbawang, yang menyimpan banyak potensi pariwisata berbasis air.
Kemeriahan Berkurang
Tulangbawang yang dimekarkan menjadi Kabupaten Tulangbawang Barat dan Kabupaten Mesuji, banyak berpengaruh terhadap penyelenggaraan Festival Megou Pak. Penyelenggaraanya tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Tulangbawang, Ahmad Suharyo, mengatakan pemekaran Kabupaten Tulangbawang, ikut menyedot anggaran sehingga festival tahun ini diselenggaran sederhana.
Festival Megou Pak yang biasanya mengandalkan wisata sungai dan rawa (wet land), tahun ini tidak ada lagi. Agenda menikmati keindahan sungai dan kekayaan objek wisata Way Tulangbawang, tak diselenggarakan. Satu-satunya acara yang berbau air hanya lomba memancing di Kolam Pemancingan Astra Ksetra, Menggala.
Di tengah keterbatasan dana itu, Festival Megou Pak hanya mengusung acara pokok, yakni pemilihan muli mekhanai Tulangbawang (1--2 Maret), Megou Pak Music Concert (4 Maret), parade tari kreasi daerah Lampung (4 Maret), lomba tari bedana (5 Maret), parade lagu Lampung (9 Maret), dan lomba mancing (10 Maret).n AMIRUDDIN SORMIN
Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Maret 2010
February 28, 2010
Pemerintah, Seniman, dan Kesenian
Oleh Tri Purna Jaya
PEMERINTAH sebagai pemegang kebijakan dan pengayom masyarakat harus ikut andil dalam upaya pelestarian dan keberlangsungan proses kesenian.
DISKUSI SENI. Sastrawan A.M. Zulqornain Ch. (berdiri) menyampaikan materi dalam diskusi Bilik Jumpa Seniman-Mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (Bijusa UKMBS) Unila di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (20-2). Dimoderatori Tanjung (kiri), tampil juga sebagai narasumber adalah manajemen Teater Satu Imas Sobariah dan perupa Joko Irianta. (LAMPUNG POST/M. REZA)
Hal tersebut mengemuka pada diskusi Bilik Jumpa Seniman Mahasiswa (Bijusa) yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (20-2).
Tampil sebagai nara sumber dalam diskusi bertema Merangkul Penikmat dan Peminat Karya Seni di Lampung tersebut insan-insan seni yang sudah lama bergelut di dunia kesenian di Bandar Lampung, yaitu manajemen Teater Satu Imas Sobariah, sastrawan Asaroedin Malik Zulqornain Ch. dan perupa Joko Irianta.
Imas Sobariah yang menyajikan makalah Manajemen dalam Teater mengatakan kembang-kempisnya kehidupan kesenian di Lampung disebabkan beberapa faktor, antara lain lemahnya setiap grup kesenian dalam memanajemen grup tersebut, baik itu dalam wilayah artistik ataupun nonartistik--dalam hal ini, Imas lebih menspesifikan paparannya mengenai grup-grup teater yang pernah ada di Lampung.
Manajemen tersebut, menurut Imas, sangatlah diperlukan untuk membuat sebuah grup kesenian dapat terus hidup. Kesadaran akan pentingnya manajemen organisasi yang baik, tentu saja akan melahirkan sebuah grup dengan pencapaian karya yang baik pula. "Wajib dipikirkan, bukan hanya artistik, melainkan nonartistiknya juga. Karena satu sama lain saling berkaitan," ujar Imas.
Alhasil, akibat manajemen grup yang berantakan, kata Imas, yang menjadi salah satu konseptor Liga Teater SMA (Sekolah Menengah Atas) di Lampung tersebut, banyak grup-grup yang berguguran. "Ada yang tinggal sutradaranya. Bahkan ada yang hanya nama grupnya saja," kata dia.
Ada beberapa catatan yang dibuat Imas mengenai permasalahan yang kerap "membungkus" grup-grup teater, semenjak ia berdomisili di Lampung pada 1994, antara lain mempunyai pola pikir dan ketergantungan terhadap segala sesuatunya menjadi tanggung jawab pemerintah; pola pikir bahwa teater itu kumuh, jorok, liar, dan membebaskan diri dari segala aturan; berteater baru hanya sebatas hobi, sehingga grup tak punya visi ke depan; terpusatnya konsentrasi pada wilayah artistik, sehingga wilayah nonartistik terabaikan; serta manajemen pambagian peran dan wilayah kerja yang kurang.
Dari catatan-catatannya tersebut, Imas yang menjadi pemateri tentang drama pada Woman Playwrights International Conference di Jakarta dan Ubud, Bali, pada 2006 tersebut, menemukan titik masalah yang paling penting. "Tidak semata-mata memikirkan produksi karya. Tapi wajib juga dipikirkan mengenai manajemen prduksinya," kata Imas.
Hal itu, kata Imas, membuat konsentrasi hanya berpusat pada permasalahan melulu tentang produksi sebuah karya, sehingga masalah-masalah lain, misalnya publikasi, biaya, dan lain-lain, terabaikan. "Mau tidak mau, akhirnya jadi melulu mengandalkan pemerintah, misalnya soal dana," kata Imas di hadapan sekitar 40 peserta diskusi yang terdiri dari mahasiswa, insan seni, serta penikmat seni di Bandar Lampung tersebut.
Namun, kata Imas, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kesenian di daerahnya, karena pemerintah mempunyai tanggung jawab moral untuk mengembangkan setiap kesenian pada daerah lokalnya, baik itu kesenian tradisi ataupun modern. "Ada anggarannya tersendiri," ujar Imas.
Meskipun demikian, Imas berpendapat hendaknya para seniman ataupun grup-grup kesenian di Lampung untuk sedikit merubah mindset-nya. "Kita tidak hanya mengandalkan pemerintah. Proses kesenian dapat terus berjalan, meski itu tanpa bantuan pemerintah," kata dia.
Seni Rupa
Joko Irianta melalui makalah Perupa dan Apresiator banyak menceritakan suka-duka berkesenian, khususnya dalam seni lukis. "Untuk seni rupa terapan, masih bagus apresiasinya. Tapi, tidak pada seni rupa murni, khususnya seni lukis. Seni lukis hanya "laku" pada pameran-pameran," kata Joko yang juga seorang kurator seni rupa.
Menurut pandangan Joko, ada kontradiksi. Untuk nilai apresiasi, seni lukis masih mendapat tempat di masyarakat Lampung. Namun, tidak pada sisi komersialnya. "Untuk seorang pelukis ternama di Lampung ini, lukisannya hanya laku dengan harga berkisar antara Rp2,5 juta--Rp12,5 juta. Itu pun terbatas pada pameran saja," kata dia.
Hal tersebut, menurut Joko, membuat banyak pelukis-pelukis Lampung yang sebenarnya memiliki potensi dan bakat yang diakui oleh dunia lukis nasional. "Ada beberapa pelukis yang sering diajak pameran dengan level nasional, Koliman dan Nurbaito salah satunya," kata dia.
Mirisnya, imbuh Joko, di Lampung sendiri apresiasi--dalam hal ini dari sisi komersil--terhadap karya-karya pelukis asal Lampung masih minim. "Kolektor lukisan di Lampung tidak diketahui. Jadi, selama ini hanya dengan sistem door-to-door," ujar dia.
Untuk hal tersebut, menurut Joko, ia dan beberapa pelukis serta rekan, bersedia membantu jika ada pelukis-pelukis Lampung yang ingin mengadakan pameran. "Kalau ada yang mau pameran, kami bersedia membantu memanajemeni. Sebab, untuk membuat sebauh pameran seni lukis tidaklah sederhana. Harus menarik dan berkonsep jelas. Mulai dari tema sampai kuratornya," kata Joko.
Apresiasi, menurut Joko, tidak melulu hanya berkutat pada laku atau tidaknya suatu lukisan. "Uang itu hanya sebagai "akibat". Apresiasi itu bisa juga dari mengamati, mengkritisi, atau pun menuliskannya agar khalayak bisa memahami seni rupa/lukis tersebut," ujar Joko.
Joko mencatat, perlu motivasi berlebih untuk bisa menghidupkan minta atau apresiasi terhadap kesenian dari warga Lampung, dalam konteks Joko adalah seni lukis. "Karena banyak bibit-bibit potensial di sini. Memahami seni rupa itu bertingkat-tingkat atau berulang-ulang," kata dia.
Berkaitan dengan apresiasi masyarakat terhadap seni/kesenian, A.M. Zulqornain mengatakan jika ingin sebuah seni/kesenian bisa "laku" atau diminati, hendaknya membuat sesuatu yang unik. Terpenting lagi, kata Zulqornain, warna lokal. Karena warna lokal tersebut menyangkut nilai-nilai tradisi.
"Ekspolitasilah nilai-nilai kearifan lokal yang ada. Itu perlu saat ini. Dan, saya lihat sekarang, masih belum belum kelihatan eksploitasi itu," kata dia.
Namun, kata Zulqornain, kesenian hendaknya dikembalikan ke hakikat asalnya, yakni "rasa". "Seni itu "rasa". Antilogika," ujar dia.
Alhasil, dengan melihat kondisi yang sedang terjadi sekarang di dunia kesenian Lampung, baik itu modern ataupun tradisi, pemerintah tidak boleh menutup mata, karena pemerintah adalah pengayom dan pembimbing masyarakat dan bukanlah penguasa an sich.
Di pihak para penggiat seni, hendaknya tidak selalu menggantungkan "nasib"-nya kepada pemerintah. Sebab, tanpa bantuan pemerintah, proses berkesenian akan tetap berjalan. Oleh sebab itu, para penggiat seni harus terus berkesenian.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Februari 2010
PEMERINTAH sebagai pemegang kebijakan dan pengayom masyarakat harus ikut andil dalam upaya pelestarian dan keberlangsungan proses kesenian.
DISKUSI SENI. Sastrawan A.M. Zulqornain Ch. (berdiri) menyampaikan materi dalam diskusi Bilik Jumpa Seniman-Mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (Bijusa UKMBS) Unila di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (20-2). Dimoderatori Tanjung (kiri), tampil juga sebagai narasumber adalah manajemen Teater Satu Imas Sobariah dan perupa Joko Irianta. (LAMPUNG POST/M. REZA) Hal tersebut mengemuka pada diskusi Bilik Jumpa Seniman Mahasiswa (Bijusa) yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (20-2).
Tampil sebagai nara sumber dalam diskusi bertema Merangkul Penikmat dan Peminat Karya Seni di Lampung tersebut insan-insan seni yang sudah lama bergelut di dunia kesenian di Bandar Lampung, yaitu manajemen Teater Satu Imas Sobariah, sastrawan Asaroedin Malik Zulqornain Ch. dan perupa Joko Irianta.
Imas Sobariah yang menyajikan makalah Manajemen dalam Teater mengatakan kembang-kempisnya kehidupan kesenian di Lampung disebabkan beberapa faktor, antara lain lemahnya setiap grup kesenian dalam memanajemen grup tersebut, baik itu dalam wilayah artistik ataupun nonartistik--dalam hal ini, Imas lebih menspesifikan paparannya mengenai grup-grup teater yang pernah ada di Lampung.
Manajemen tersebut, menurut Imas, sangatlah diperlukan untuk membuat sebuah grup kesenian dapat terus hidup. Kesadaran akan pentingnya manajemen organisasi yang baik, tentu saja akan melahirkan sebuah grup dengan pencapaian karya yang baik pula. "Wajib dipikirkan, bukan hanya artistik, melainkan nonartistiknya juga. Karena satu sama lain saling berkaitan," ujar Imas.
Alhasil, akibat manajemen grup yang berantakan, kata Imas, yang menjadi salah satu konseptor Liga Teater SMA (Sekolah Menengah Atas) di Lampung tersebut, banyak grup-grup yang berguguran. "Ada yang tinggal sutradaranya. Bahkan ada yang hanya nama grupnya saja," kata dia.
Ada beberapa catatan yang dibuat Imas mengenai permasalahan yang kerap "membungkus" grup-grup teater, semenjak ia berdomisili di Lampung pada 1994, antara lain mempunyai pola pikir dan ketergantungan terhadap segala sesuatunya menjadi tanggung jawab pemerintah; pola pikir bahwa teater itu kumuh, jorok, liar, dan membebaskan diri dari segala aturan; berteater baru hanya sebatas hobi, sehingga grup tak punya visi ke depan; terpusatnya konsentrasi pada wilayah artistik, sehingga wilayah nonartistik terabaikan; serta manajemen pambagian peran dan wilayah kerja yang kurang.
Dari catatan-catatannya tersebut, Imas yang menjadi pemateri tentang drama pada Woman Playwrights International Conference di Jakarta dan Ubud, Bali, pada 2006 tersebut, menemukan titik masalah yang paling penting. "Tidak semata-mata memikirkan produksi karya. Tapi wajib juga dipikirkan mengenai manajemen prduksinya," kata Imas.
Hal itu, kata Imas, membuat konsentrasi hanya berpusat pada permasalahan melulu tentang produksi sebuah karya, sehingga masalah-masalah lain, misalnya publikasi, biaya, dan lain-lain, terabaikan. "Mau tidak mau, akhirnya jadi melulu mengandalkan pemerintah, misalnya soal dana," kata Imas di hadapan sekitar 40 peserta diskusi yang terdiri dari mahasiswa, insan seni, serta penikmat seni di Bandar Lampung tersebut.
Namun, kata Imas, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kesenian di daerahnya, karena pemerintah mempunyai tanggung jawab moral untuk mengembangkan setiap kesenian pada daerah lokalnya, baik itu kesenian tradisi ataupun modern. "Ada anggarannya tersendiri," ujar Imas.
Meskipun demikian, Imas berpendapat hendaknya para seniman ataupun grup-grup kesenian di Lampung untuk sedikit merubah mindset-nya. "Kita tidak hanya mengandalkan pemerintah. Proses kesenian dapat terus berjalan, meski itu tanpa bantuan pemerintah," kata dia.
Seni Rupa
Joko Irianta melalui makalah Perupa dan Apresiator banyak menceritakan suka-duka berkesenian, khususnya dalam seni lukis. "Untuk seni rupa terapan, masih bagus apresiasinya. Tapi, tidak pada seni rupa murni, khususnya seni lukis. Seni lukis hanya "laku" pada pameran-pameran," kata Joko yang juga seorang kurator seni rupa.
Menurut pandangan Joko, ada kontradiksi. Untuk nilai apresiasi, seni lukis masih mendapat tempat di masyarakat Lampung. Namun, tidak pada sisi komersialnya. "Untuk seorang pelukis ternama di Lampung ini, lukisannya hanya laku dengan harga berkisar antara Rp2,5 juta--Rp12,5 juta. Itu pun terbatas pada pameran saja," kata dia.
Hal tersebut, menurut Joko, membuat banyak pelukis-pelukis Lampung yang sebenarnya memiliki potensi dan bakat yang diakui oleh dunia lukis nasional. "Ada beberapa pelukis yang sering diajak pameran dengan level nasional, Koliman dan Nurbaito salah satunya," kata dia.
Mirisnya, imbuh Joko, di Lampung sendiri apresiasi--dalam hal ini dari sisi komersil--terhadap karya-karya pelukis asal Lampung masih minim. "Kolektor lukisan di Lampung tidak diketahui. Jadi, selama ini hanya dengan sistem door-to-door," ujar dia.
Untuk hal tersebut, menurut Joko, ia dan beberapa pelukis serta rekan, bersedia membantu jika ada pelukis-pelukis Lampung yang ingin mengadakan pameran. "Kalau ada yang mau pameran, kami bersedia membantu memanajemeni. Sebab, untuk membuat sebauh pameran seni lukis tidaklah sederhana. Harus menarik dan berkonsep jelas. Mulai dari tema sampai kuratornya," kata Joko.
Apresiasi, menurut Joko, tidak melulu hanya berkutat pada laku atau tidaknya suatu lukisan. "Uang itu hanya sebagai "akibat". Apresiasi itu bisa juga dari mengamati, mengkritisi, atau pun menuliskannya agar khalayak bisa memahami seni rupa/lukis tersebut," ujar Joko.
Joko mencatat, perlu motivasi berlebih untuk bisa menghidupkan minta atau apresiasi terhadap kesenian dari warga Lampung, dalam konteks Joko adalah seni lukis. "Karena banyak bibit-bibit potensial di sini. Memahami seni rupa itu bertingkat-tingkat atau berulang-ulang," kata dia.
Berkaitan dengan apresiasi masyarakat terhadap seni/kesenian, A.M. Zulqornain mengatakan jika ingin sebuah seni/kesenian bisa "laku" atau diminati, hendaknya membuat sesuatu yang unik. Terpenting lagi, kata Zulqornain, warna lokal. Karena warna lokal tersebut menyangkut nilai-nilai tradisi.
"Ekspolitasilah nilai-nilai kearifan lokal yang ada. Itu perlu saat ini. Dan, saya lihat sekarang, masih belum belum kelihatan eksploitasi itu," kata dia.
Namun, kata Zulqornain, kesenian hendaknya dikembalikan ke hakikat asalnya, yakni "rasa". "Seni itu "rasa". Antilogika," ujar dia.
Alhasil, dengan melihat kondisi yang sedang terjadi sekarang di dunia kesenian Lampung, baik itu modern ataupun tradisi, pemerintah tidak boleh menutup mata, karena pemerintah adalah pengayom dan pembimbing masyarakat dan bukanlah penguasa an sich.
Di pihak para penggiat seni, hendaknya tidak selalu menggantungkan "nasib"-nya kepada pemerintah. Sebab, tanpa bantuan pemerintah, proses berkesenian akan tetap berjalan. Oleh sebab itu, para penggiat seni harus terus berkesenian.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Februari 2010
[Perjalanan] Melapangkan Dada di Punduhpidada
SUNTUK sepekan di kota, meluncurlah ke Punduhpidada. Kalau tak sempat bermain pasir putih di pantai nan landai, atau mancing ikan di laut nan jernih, balik saja lagi, tak masalah. Sebab, panorama sepanjang perjalanan dari Bandar Lampung hingga kecamatan di Pesawaran itu sudah melapangkan dada.
Menyusuri ceruk Teluk Lampung. Suasana wisata mulai terasa saat perjalanan dari Bandar Lampung lepas dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing ke arah Padangcermin, Pesawaran. Gunung dengan hijauan yang masih lestari di sisi kanan memantulkan hawa jiwa yang tenang di pikiran dan dada. Menoleh ke sisi kiri, air laut membiru yang tak pernah jemu bergelegak dengan ombaknya adalah dinamika kesegaran yang luar biasa. Hidup dan hati dibuat terasa tenang sekaligus terasa lebih hidup.
Punduhpidada. Wilayah yang merupakan kecamatan di Kabupaten Pesawaran itu memang berada di ring 1 ceruk Teluk Lampung. Jika ingin menuju di tempat ini tanpa keperluan yang pasti, godaan terus membayang di hampir setiap lokasi.
Menanjak bukit yang dibelak jalan hotmix, saat sampai di posisi paling atas, rasanya ingin melewatkan beberapa waktu untuk singgah. Sebab, dari atas jalan di bukit itu, pemandangan laut Teluk Lampung yang biru dipagar pulau-pulau bergunung nan hijau sangat memukau mata.
Saat hari cerah, detail laut dan lekuk-liku pantainya terlihat jelas dan indah. Saat mendung, kabut tipis juga menjadi pemandangan yang membuat hati terasa dalam kesejukan. Terlebih jika lengkung kluwung, pelangi dengan paduan warna sempurna itu menambah keindahan panorama. Seperti saat kami melawat pada Selasa (24-2) sore.
Di bibir-bibir laut, kincir-kincir yang memutar air untuk sirkulasi tambak-tambak udang terlihat seperti mesin pembuat salju nan putih. Daun nyiur yang hijau klimis melambaikan kilau keelokan alamiah tak tertandingi. Pohon-pohon kelapa itu memang amat subur dengan janjangan dugan hijau yang ranum menyegarkan.
Jalan ke arah Padangcermin yang relatif sempit berliku menghindari ceruk dan mendaki punggung bukit bukan halangan. Lebar badan jalan yang hanya empat meter justru menegaskan garis liuknya. Sayang, beberapa ruas sudah mulai bopeng dan belum mendapat perbaikan.
Melewati sedikit keramaian di Hanura, suasana perdesaan indah kembali menguasai. Kompleks pangkalan TNI Angkatan Laut Lampung di Teluk Ratai yang berada di potongan ruas jalan ini tidak mengurangi keindahan suasana. Meski terasa murung oleh aura militer, tetapi suasana segera cair dengan adanya tempat rekreasi Kelapa Rapat (Klara) di lahan milik TNI AL yang dikelola oleh warga sekitar. Di lahan pantai sepanjang sekitar 300 meter yang dipagar sekenanya dengan bambu, pondok-pondok sederhana didirikan untuk disewakan kepada pengunjung yang menikmati panorama laut dan gunung.
Hadirnya Kompi Batalion 9 Marinir di ruas selanjutnya tidak mengubah suasana asri. Yang ada, justru jaminan rasa aman di lokasi wisata rakyat yang banyak dikunjungi.
Selepas kompleks Marinir, perkampungan warga kembali menguasai. Desa Dantar di wilayah Kecamatan Padangcermin yang baru disapu banjir bandang pekan lalu masih porak poranda. Tak apa, meski ada korban jiwa dan belasan rumah larut ke kali, warga mulai normal kembali.
Menuju Punduhpidada, setelah menemui jalan mentok, arahkan kendaraan Anda ke kiri. Sekitar dua kilometer, kompleks Marinir Batalion 7 kembali menguasai. Ada dermaga militer yang tampak digunakan warga untuk memosisikan diri di tengah laut agar bisa lebih dekat ikan saat melempar pancing.
Meneruskan perjalanan, maka Anda sudah berada di wilayah Kecamatan Punduhpidada. Di sini, suasana etnis Lampung terasa kental. Di beberapa ruas jalan, rumah-rumah panggung asli Lampung dengan arsitektur khas, ukiran-ukiran di balkon, dan tangga di bagian tengah menandai keaslian hunian-hunian kuno ini.
Pekon Ampai dan Kunyanyan dapat mewakili keaslian budaya dan arsitektur asli Lampung. Bahkan, perkampungan ini relatif masih lebih lestari ketimbang Desa Wana di Melinting, Lampung Timur, yang ditetapkan sebagai desa tradisional dan tujuan wisata. Sebab, perangkat-perangkat fasilitas kampung juga masih terlihat ada. Tampak, lumbung padi di pinggir jalan masih utuh berdiri. Meskipun, mungkin tidak lagi digunakan sebagai tempat menyimpan persediaan bahan pangan.
Budayanya tampaknya juga masih dipegang teguh. Itu terlihat dari kebiasaan orang-orang menikmati sore dengan bersantai di teras rumah panggung sambil menyantap kopi dan mengepulkas asap dari mulutnya.
Alung, seorang tokoh muda Padangcermin, mengatakan di Punduhpidada ini, beberapa kebiasaan masih dipegang tetua maupun pemuda. Ia menceritakan saat seorang bujang akan nganjang atau bertandang ke rumah gadis, harus melapor ke ketua bujang dulu. Setelah mendapat izin, kepala bujang akan mengutus beberapa pemuda untuk mendampingi sang bujang menyambangi rumah gadis hingga pulang kembali. "Prosesi adat dan berbagai aturan juga masih dipegang teguh masyarakat sini," kata Alung.
Kekayaan budaya hanya bagian dari spekta Punduhpidada. Wilayahnya yang berbatasan dengan Teluk Lampung memiliki bibir-bibir laut yang indah. Hampir semua pantainya berpasir putih dengan permukaan landai. Air lautnya juga masih sangat jernih karena terjaga dari polusi. Juga tetumbuhan pinggir laut yang asri. Sayang, banyak pantai indah yang disulap menjadi kompleks pertambakan. Maklum, ikan dan udang berkembang sangat subur di alam yang masih suci ini.
Salah satu pantai yang amat indah tetapi tidak pernah dinikmati pantainya ada di Desa Kampungbaru. Setelah menerobos kebun kelapa yang batangnya sudah tinggi-tinggi dan rapi, pantai indah itu terkuak. Oh, indahnya...
Menurut Alung, kawasan ini juga "surga" bagi pemancing pemula. Sebab, meskipun tidak terlalu serius memancing, dijamin pasti pulang membawa ikan. "Tetapi, kalau nelayan sini mencari ikannya ya jauh ke laut lepas," kata dia. Emhh... n SUDARMONO
Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Februari 2010
Menyusuri ceruk Teluk Lampung. Suasana wisata mulai terasa saat perjalanan dari Bandar Lampung lepas dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing ke arah Padangcermin, Pesawaran. Gunung dengan hijauan yang masih lestari di sisi kanan memantulkan hawa jiwa yang tenang di pikiran dan dada. Menoleh ke sisi kiri, air laut membiru yang tak pernah jemu bergelegak dengan ombaknya adalah dinamika kesegaran yang luar biasa. Hidup dan hati dibuat terasa tenang sekaligus terasa lebih hidup.
Punduhpidada. Wilayah yang merupakan kecamatan di Kabupaten Pesawaran itu memang berada di ring 1 ceruk Teluk Lampung. Jika ingin menuju di tempat ini tanpa keperluan yang pasti, godaan terus membayang di hampir setiap lokasi.
Menanjak bukit yang dibelak jalan hotmix, saat sampai di posisi paling atas, rasanya ingin melewatkan beberapa waktu untuk singgah. Sebab, dari atas jalan di bukit itu, pemandangan laut Teluk Lampung yang biru dipagar pulau-pulau bergunung nan hijau sangat memukau mata.
Saat hari cerah, detail laut dan lekuk-liku pantainya terlihat jelas dan indah. Saat mendung, kabut tipis juga menjadi pemandangan yang membuat hati terasa dalam kesejukan. Terlebih jika lengkung kluwung, pelangi dengan paduan warna sempurna itu menambah keindahan panorama. Seperti saat kami melawat pada Selasa (24-2) sore.
Di bibir-bibir laut, kincir-kincir yang memutar air untuk sirkulasi tambak-tambak udang terlihat seperti mesin pembuat salju nan putih. Daun nyiur yang hijau klimis melambaikan kilau keelokan alamiah tak tertandingi. Pohon-pohon kelapa itu memang amat subur dengan janjangan dugan hijau yang ranum menyegarkan.
Jalan ke arah Padangcermin yang relatif sempit berliku menghindari ceruk dan mendaki punggung bukit bukan halangan. Lebar badan jalan yang hanya empat meter justru menegaskan garis liuknya. Sayang, beberapa ruas sudah mulai bopeng dan belum mendapat perbaikan.
Melewati sedikit keramaian di Hanura, suasana perdesaan indah kembali menguasai. Kompleks pangkalan TNI Angkatan Laut Lampung di Teluk Ratai yang berada di potongan ruas jalan ini tidak mengurangi keindahan suasana. Meski terasa murung oleh aura militer, tetapi suasana segera cair dengan adanya tempat rekreasi Kelapa Rapat (Klara) di lahan milik TNI AL yang dikelola oleh warga sekitar. Di lahan pantai sepanjang sekitar 300 meter yang dipagar sekenanya dengan bambu, pondok-pondok sederhana didirikan untuk disewakan kepada pengunjung yang menikmati panorama laut dan gunung.
Hadirnya Kompi Batalion 9 Marinir di ruas selanjutnya tidak mengubah suasana asri. Yang ada, justru jaminan rasa aman di lokasi wisata rakyat yang banyak dikunjungi.
Selepas kompleks Marinir, perkampungan warga kembali menguasai. Desa Dantar di wilayah Kecamatan Padangcermin yang baru disapu banjir bandang pekan lalu masih porak poranda. Tak apa, meski ada korban jiwa dan belasan rumah larut ke kali, warga mulai normal kembali.
Menuju Punduhpidada, setelah menemui jalan mentok, arahkan kendaraan Anda ke kiri. Sekitar dua kilometer, kompleks Marinir Batalion 7 kembali menguasai. Ada dermaga militer yang tampak digunakan warga untuk memosisikan diri di tengah laut agar bisa lebih dekat ikan saat melempar pancing.
Meneruskan perjalanan, maka Anda sudah berada di wilayah Kecamatan Punduhpidada. Di sini, suasana etnis Lampung terasa kental. Di beberapa ruas jalan, rumah-rumah panggung asli Lampung dengan arsitektur khas, ukiran-ukiran di balkon, dan tangga di bagian tengah menandai keaslian hunian-hunian kuno ini.
Pekon Ampai dan Kunyanyan dapat mewakili keaslian budaya dan arsitektur asli Lampung. Bahkan, perkampungan ini relatif masih lebih lestari ketimbang Desa Wana di Melinting, Lampung Timur, yang ditetapkan sebagai desa tradisional dan tujuan wisata. Sebab, perangkat-perangkat fasilitas kampung juga masih terlihat ada. Tampak, lumbung padi di pinggir jalan masih utuh berdiri. Meskipun, mungkin tidak lagi digunakan sebagai tempat menyimpan persediaan bahan pangan.
Budayanya tampaknya juga masih dipegang teguh. Itu terlihat dari kebiasaan orang-orang menikmati sore dengan bersantai di teras rumah panggung sambil menyantap kopi dan mengepulkas asap dari mulutnya.
Alung, seorang tokoh muda Padangcermin, mengatakan di Punduhpidada ini, beberapa kebiasaan masih dipegang tetua maupun pemuda. Ia menceritakan saat seorang bujang akan nganjang atau bertandang ke rumah gadis, harus melapor ke ketua bujang dulu. Setelah mendapat izin, kepala bujang akan mengutus beberapa pemuda untuk mendampingi sang bujang menyambangi rumah gadis hingga pulang kembali. "Prosesi adat dan berbagai aturan juga masih dipegang teguh masyarakat sini," kata Alung.
Kekayaan budaya hanya bagian dari spekta Punduhpidada. Wilayahnya yang berbatasan dengan Teluk Lampung memiliki bibir-bibir laut yang indah. Hampir semua pantainya berpasir putih dengan permukaan landai. Air lautnya juga masih sangat jernih karena terjaga dari polusi. Juga tetumbuhan pinggir laut yang asri. Sayang, banyak pantai indah yang disulap menjadi kompleks pertambakan. Maklum, ikan dan udang berkembang sangat subur di alam yang masih suci ini.
Salah satu pantai yang amat indah tetapi tidak pernah dinikmati pantainya ada di Desa Kampungbaru. Setelah menerobos kebun kelapa yang batangnya sudah tinggi-tinggi dan rapi, pantai indah itu terkuak. Oh, indahnya...
Menurut Alung, kawasan ini juga "surga" bagi pemancing pemula. Sebab, meskipun tidak terlalu serius memancing, dijamin pasti pulang membawa ikan. "Tetapi, kalau nelayan sini mencari ikannya ya jauh ke laut lepas," kata dia. Emhh... n SUDARMONO
Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Februari 2010
February 27, 2010
4 Pekon di Lambar Jadi Embrio Desa Wisata
LIWA (Lampost): Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dishubparbudpora) Lampung Barat mempersiapkan pembangunan empat pekon (desa) sebagai embrio desa wisata.
Persiapan tersebut dilatarbelakangi objek dan daya tarik wisata Lambar yang telah berkembang. Ini memberikan keyakinan Pemkab bahwa Lambar memiliki kekayaan dan keragaman aset pariwisata, budaya, dan bahari.
Kepala Bidang Pariwisata Arief Nugroho didampingi Kepala Seksi (Kasi) Tenaga Kerja Bidang Pariwisata Samba, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24-2), menjelaskan keempat pekon yang telah direncanakan menjadi embrio desa wisata itu, adalah pekon yang memiliki karakteristik khusus untuk menarik wisatawan baik lokal atau mancanegara. Masing-masing Pekon Hujung, Kecamatan Belalau; Pekon Lombok, Kecamatan Sukau; Pekon Tanjungsetia, Kecamatan Pesisir Selatan; serta Pekon Muaratembulih, Kecamatan Ngambur.
Karakteristik yang menonjol dari pekon-pekon tersebut, di antaranya objek wisata bahari dimiliki Pekon Tanjungsetia. Wisata tersebut saat ini sudah dikenal hingga mancanegara, terutama sebagai lokasi yang cukup baik bagi wisatawan yang memiliki hobi berselancar.
Selain itu, pantai Tanjungsetia dilengkapi dengan keindahan serta kealamian pantainya.
Pekon Muaratembulih dengan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) yang dimiliki, juga sangat menonjol di kabupaten tersebut. Di Pekon Muaratembulih saat ini wisatawan dapat melihat langsung pengembangbiakan penyu laut. Selain itu, lokasi Muaratembulih juga sangat cocok untuk berbagai macam kegiatan wisata alam, seperti menyusuri pantai, menikmati pemandangan pantai, fotografi, kamping, stay overnight. Selain cocok untuk lokasi outbound, cycling, dan menikmati suasana saat matahari tenggelam (sunset).
Pekon Hujung memiliki suasana perdesaan yang sejuk dan menyatu dengan alam. Selain itu, juga menawarkan kawasan wisata petualangan dan mendaki gunung. Di pekon setempat juga terdapat rumah-rumah adat yang berciri khas Lambar dengan konsep homestay.
Selain sebagai pintu gerbang menuju kawasan Gunung Pesagi, Pekon Hujung juga dipercaya sebagai asal mula Kerajaan Sekalabrak yang menurunkan penduduk asli Lambar.
Sedangkan Pekon Lumbok memiliki potensi alam Danau Ranau, Gunung Seminung, dan Bukit Barisan Selatan. Selain itu, masih banyak potensi lainnya, seperti potensi flora, fauna, dan budaya masyarakat Pesisir yang bersifat permisif, ramah, dan lebih halus dalam tatakrama. Hal tersebut menjadi potensi untuk menarik minat pengunjung.
Selain karakteristik dan potensi yang memang telah dimiliki Pekon Lumbok, sejak dahulu di pekon ini juga banyak terdapat keramba-keramba yang dikelola masyarakat. Potensi ini diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.n CK-7/D-1
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 27 Februari 2010
Persiapan tersebut dilatarbelakangi objek dan daya tarik wisata Lambar yang telah berkembang. Ini memberikan keyakinan Pemkab bahwa Lambar memiliki kekayaan dan keragaman aset pariwisata, budaya, dan bahari.
Kepala Bidang Pariwisata Arief Nugroho didampingi Kepala Seksi (Kasi) Tenaga Kerja Bidang Pariwisata Samba, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (24-2), menjelaskan keempat pekon yang telah direncanakan menjadi embrio desa wisata itu, adalah pekon yang memiliki karakteristik khusus untuk menarik wisatawan baik lokal atau mancanegara. Masing-masing Pekon Hujung, Kecamatan Belalau; Pekon Lombok, Kecamatan Sukau; Pekon Tanjungsetia, Kecamatan Pesisir Selatan; serta Pekon Muaratembulih, Kecamatan Ngambur.
Karakteristik yang menonjol dari pekon-pekon tersebut, di antaranya objek wisata bahari dimiliki Pekon Tanjungsetia. Wisata tersebut saat ini sudah dikenal hingga mancanegara, terutama sebagai lokasi yang cukup baik bagi wisatawan yang memiliki hobi berselancar.
Selain itu, pantai Tanjungsetia dilengkapi dengan keindahan serta kealamian pantainya.
Pekon Muaratembulih dengan kawasan konservasi laut daerah (KKLD) yang dimiliki, juga sangat menonjol di kabupaten tersebut. Di Pekon Muaratembulih saat ini wisatawan dapat melihat langsung pengembangbiakan penyu laut. Selain itu, lokasi Muaratembulih juga sangat cocok untuk berbagai macam kegiatan wisata alam, seperti menyusuri pantai, menikmati pemandangan pantai, fotografi, kamping, stay overnight. Selain cocok untuk lokasi outbound, cycling, dan menikmati suasana saat matahari tenggelam (sunset).
Pekon Hujung memiliki suasana perdesaan yang sejuk dan menyatu dengan alam. Selain itu, juga menawarkan kawasan wisata petualangan dan mendaki gunung. Di pekon setempat juga terdapat rumah-rumah adat yang berciri khas Lambar dengan konsep homestay.
Selain sebagai pintu gerbang menuju kawasan Gunung Pesagi, Pekon Hujung juga dipercaya sebagai asal mula Kerajaan Sekalabrak yang menurunkan penduduk asli Lambar.
Sedangkan Pekon Lumbok memiliki potensi alam Danau Ranau, Gunung Seminung, dan Bukit Barisan Selatan. Selain itu, masih banyak potensi lainnya, seperti potensi flora, fauna, dan budaya masyarakat Pesisir yang bersifat permisif, ramah, dan lebih halus dalam tatakrama. Hal tersebut menjadi potensi untuk menarik minat pengunjung.
Selain karakteristik dan potensi yang memang telah dimiliki Pekon Lumbok, sejak dahulu di pekon ini juga banyak terdapat keramba-keramba yang dikelola masyarakat. Potensi ini diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.n CK-7/D-1
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 27 Februari 2010
February 22, 2010
Menyelamatkan Bahasa Lampung
Oleh Farida Ariyani*
Tabik pun, tabik ngalimpura jama kuti rumpok, sikam nyelang ngebista bak pasal bahasa Lampung.
PENULIS mengingat kembali pisaan Kiai Ir. Akhmad Syarnadi H.M., M.S. (Cemungak Beresio) pada seminar bahasa dan tulisan Lampung (kerja sama Lampung Sai dan Unila) 1999 berikut: Tahun bebalin tahun, bahaso mak teguno, budayo jarang luwah, sai nundo kepunahan; Semanjang tegei ngelamun, adat kurang te cammo, cepalo mak ti pubalah, nayah nyapang aturan; Tano rang milih inggun, kak sako curak merro; Jinno semapeu wayah, Keder mak keraso-an.
Sebagai ketua panitia ketika itu, penulis mencermati dan memaknai pisaan tersebut, ada kesedihan yang mendalam akan ’’keterancaman dan kepunahan bahasa Lampung’’ baik sebagai bahasa ibu maupun bahasa daerah. Alhamdulillah, selama sepuluh tahun sudah banyak yang dapat dilakukan untuk tetap memberi napas kehidupan bahasa Lampung (BL), baik dari segi pendidikan formal maupun nonformal. Unila membuka program D-3 BL yang menghasilkan guru bidang studi bahasa Lampung, pemda melalui Dinas Pendidikan menjadikan bahasa Lampung sebagai muatan lokal, dan masyarakat Lampung tetap mewarisi bahasa Lampung dalam ranah keseharian walaupun belum maksimal.
Bahasa Lampung sebagai bahasa ibu dan juga sebagai bahasa daerah yang diwariskan generasi tua (bakas/kakek dan siti/nenek) ke generasi menengah (buya/ayah, ummi/ibu, pak lebu, induk lebu, kemaman, dan minan) dan ke generasi muda (anak-anak) memerlukan upaya yang serius dengan berlandaskan pada asas keyakinan dan kesungguhan. Keyakinan bahwa bahasa Lampung masih memiliki manfaat dalam kehidupan. Kesungguhan bertumpu kepada tekad masyarakat Lampung untuk melestarikan bahasa Lampung sebagai identitas budayanya dan bagian dari kebudayaan nasional.
Sejak 1951, UNESCO merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan dan menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Berkaitan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2010, sudah sewajarnya kita mengoreksi kembali kekhawatiran punahnya bahasa Lampung sebagai bahasa ibu seiring berkurangnya penggunaan bahasa Lampung.
Ada baiknya, kita merujuk kriteria skala tingkat keterancaman dan kepunahan bahasa yang digunakan UNESCO. Menurut Grenoble dan Whaley dalam Saragih (2010), kriteria skala tersebut mencakup enam skala. Yakni bahasa yang aman, berisiko, mulai terancam, kondisi parah, hampir punah, dan punah. Lalu, di manakah skala bahasa Lampung?
Menarik untuk diketahui apakah tentang kepunahan bahasa Lampung itu sudah terjadi pada masyarakat Lampung. Dalam hal ini, Gunarwan (1994) melakukan penelitian kebocoran diglosia dan menemukan bahwa bahasa Lampung sudah mengalaminya karena desakan bahasa Indonesia (BI). Dari penelitian diketahui, dalam keluarga Lampung yang diamati kebocoran diglosia terjadi pada orang-orang Lampung pada kelompok umur 41–50 (nilai rata-rata pemilihan=1,21), yang berimplikasi bahwa bahasa Indonesia sudah mulai dipakai di ranah rumah.
Yang memprihatinkan adalah bahwa semakin rendah kelompok umur keluarga Lampung, semakin tinggi nilai rata-rata pemilihan bahasanya. Hal ini mengisyaratkan bahwa semakin muda keluarga Lampung, semakin sering bahasa Indonesia digunakan alih=alih bahasa Lampung. Selanjutnya, hal ini mengisyaratkan bahwa kebocoran diglosia menjadi makin besar. Kalau dibiarkan, kebocoran akan semakin besar, dan jika dibiarkan tanpa usaha menambal kebocoran itu, bahasa Lampung dapat punah dalam perkiraan waktu 75–100 tahun lagi.
Perkiraan kasar itu dibuat Gunarwan (1994) berdasarkan temuan yang disajikan dalam tabel di atas. Dengan asumsi bahwa bilangan-bilangan dalam tabel itu akurat, anak-anak yang pada waktu ini berumur 10 tahun (yakni nilai tengah dari kelompok umur 20 tahun) atau lebih muda akan menjadi orang tua (suami-istri) dalam satu generasi (25 tahun) lagi. Artinya, mereka menjadi orang Lampung dalam kelompok umur 31–40 tahun.
Untuk keperluan praktis, misalkan nilai pemilihan bahasa untuk kelompok umur ini tetap 3,43 (seperti yang ditemukan pada waktu penelitian) dan perbedaan nilai kelompok umur <20 style="font-style: italic;">ulun lampung yang jumlahnya sekitar tiga juta orang. Pada saat itu tidak seorang pun lagi yang memahami dan menggunakan bahasa dan tulisan Lampung. Orang Lampung tidak lagi mengenal lima prinsip pedoman bermasyarakat Lampung, yaitu piil pesengiri, nengah nyappur, nemui nyimah, sakai sambayan, dan bejuluk beadek. Orang Lampung tidak lagi mengenal begawi, mepadun, dan berbagai bentuk kelengkapan adat. Tidak lagi mengenal seni budaya Lampung, seperti canggot, sesad, pisaan, pepaccur, ngedio, dan ringget. Sangatlah beralasan kekhawatiran tersebut karena media penyelenggaraan adat piranti tersebut yaitu bahasa Lampung tidak dipergunakan dan tidak dikuasai lagi.
Sepuluh tahun, tidak terasa bagi penulis untuk tetap berupaya mengajak masyarakat Lampung tetap melestarikan, membina, dan menghidupkan bahasa Lampung, baik jalur formal maupun nonformal. Merujuk kepada pendapat kedua pakar tersebut, mendorong penulis untuk tetap berbuat walau sedikit. Secara sadar, perihal pembinaan dan pengembangan bahasa Lampung harus disosialisasikan. Karena itu, Gubernur Lampung Bapak Sjachroedin Z.P. melalui Perda No. 2/2008 sudah memberikan payung hukum sebagai legal formal pembinaan dan pengembangan bahasa dan aksara Lampung.
Kegiatan dilanjutkan sosialisasi ke empat belas kabupaten/kota yang dilaksanakan Biro Hukum Lampung dan Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) pada Desember–Januari 2010. Keberadaan perda tersebut sejalan pemikiran Anton M. Moeliono (1985) yang mengatakan bahwa pembinaan bahasa berkenaan peningkatan jumlah pemakai bahasa dan mutu pemakaian bahasa lewat penyebaran hasil pembakuan, penyuluhan, serta bimbingan dan pengembangan bahasa berkenaan dengan pengembangan sandi bahasa (code). Secara garis besar, Anton M. Moeliono (1985) membaginya menjadi tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian.
Dalam situasi terdesaknya bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah tidak kurang dari 442, di dalamnya termasuk bahasa Lampung, ternyata lahir usaha-usaha untuk membelanya. Sebagai cetusan dari kesetiaan, baik sekadar pernyataan verbal maupun yang berupa usaha yang konkret. Berkaitan otonomi daerah, pelestarian bahasa Lampung dapat dilakukan dengan lebih leluasa merujuk pada UU No. 22/1999. Sejalan usaha-usaha tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa Lampung sebagai alat komunikasi dalam ranah keluarga; masuknya bahasa dan aksara Lampung sebagai muatan lokal sejak pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi; membuka kembali program studi bahasa Lampung atau fakultas bahasa dan budaya Lampung; serta melakukan penelitian dan penerbitan hasil penelitian.
Kemauan untuk memelihara bahasa Lampung dengan sengaja dan terprogram saat ini wajib disambut baik masyarakat Lampung, baik pengguna, pembelajar, dan peneliti bahasa. Karena itu, tidaklah berlebihan jika kita mau pasti kita mampu dan jika kita mampu hurus mau; Mak ganta kapan lagi, mak ram sapa lagi. Jadikanlah bahasa Lampung dengan keragaman variasi dialeknya, penanda kekayaan yang patut dilestarikan sehingga berfungsi sebagai salah satu lambang identitas, kebanggaan, dan alat perhubungan antarmasyarakat Lampung.
* Farida Ariyani, Pendidik dan Pemerhati Bahasa Lampung
Sumber: Radar Lampung, Senin, 22 Februari 2010
Tabik pun, tabik ngalimpura jama kuti rumpok, sikam nyelang ngebista bak pasal bahasa Lampung.
PENULIS mengingat kembali pisaan Kiai Ir. Akhmad Syarnadi H.M., M.S. (Cemungak Beresio) pada seminar bahasa dan tulisan Lampung (kerja sama Lampung Sai dan Unila) 1999 berikut: Tahun bebalin tahun, bahaso mak teguno, budayo jarang luwah, sai nundo kepunahan; Semanjang tegei ngelamun, adat kurang te cammo, cepalo mak ti pubalah, nayah nyapang aturan; Tano rang milih inggun, kak sako curak merro; Jinno semapeu wayah, Keder mak keraso-an.
Sebagai ketua panitia ketika itu, penulis mencermati dan memaknai pisaan tersebut, ada kesedihan yang mendalam akan ’’keterancaman dan kepunahan bahasa Lampung’’ baik sebagai bahasa ibu maupun bahasa daerah. Alhamdulillah, selama sepuluh tahun sudah banyak yang dapat dilakukan untuk tetap memberi napas kehidupan bahasa Lampung (BL), baik dari segi pendidikan formal maupun nonformal. Unila membuka program D-3 BL yang menghasilkan guru bidang studi bahasa Lampung, pemda melalui Dinas Pendidikan menjadikan bahasa Lampung sebagai muatan lokal, dan masyarakat Lampung tetap mewarisi bahasa Lampung dalam ranah keseharian walaupun belum maksimal.
Bahasa Lampung sebagai bahasa ibu dan juga sebagai bahasa daerah yang diwariskan generasi tua (bakas/kakek dan siti/nenek) ke generasi menengah (buya/ayah, ummi/ibu, pak lebu, induk lebu, kemaman, dan minan) dan ke generasi muda (anak-anak) memerlukan upaya yang serius dengan berlandaskan pada asas keyakinan dan kesungguhan. Keyakinan bahwa bahasa Lampung masih memiliki manfaat dalam kehidupan. Kesungguhan bertumpu kepada tekad masyarakat Lampung untuk melestarikan bahasa Lampung sebagai identitas budayanya dan bagian dari kebudayaan nasional.
Sejak 1951, UNESCO merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan dan menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Berkaitan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2010, sudah sewajarnya kita mengoreksi kembali kekhawatiran punahnya bahasa Lampung sebagai bahasa ibu seiring berkurangnya penggunaan bahasa Lampung.
Ada baiknya, kita merujuk kriteria skala tingkat keterancaman dan kepunahan bahasa yang digunakan UNESCO. Menurut Grenoble dan Whaley dalam Saragih (2010), kriteria skala tersebut mencakup enam skala. Yakni bahasa yang aman, berisiko, mulai terancam, kondisi parah, hampir punah, dan punah. Lalu, di manakah skala bahasa Lampung?
Menarik untuk diketahui apakah tentang kepunahan bahasa Lampung itu sudah terjadi pada masyarakat Lampung. Dalam hal ini, Gunarwan (1994) melakukan penelitian kebocoran diglosia dan menemukan bahwa bahasa Lampung sudah mengalaminya karena desakan bahasa Indonesia (BI). Dari penelitian diketahui, dalam keluarga Lampung yang diamati kebocoran diglosia terjadi pada orang-orang Lampung pada kelompok umur 41–50 (nilai rata-rata pemilihan=1,21), yang berimplikasi bahwa bahasa Indonesia sudah mulai dipakai di ranah rumah.
Yang memprihatinkan adalah bahwa semakin rendah kelompok umur keluarga Lampung, semakin tinggi nilai rata-rata pemilihan bahasanya. Hal ini mengisyaratkan bahwa semakin muda keluarga Lampung, semakin sering bahasa Indonesia digunakan alih=alih bahasa Lampung. Selanjutnya, hal ini mengisyaratkan bahwa kebocoran diglosia menjadi makin besar. Kalau dibiarkan, kebocoran akan semakin besar, dan jika dibiarkan tanpa usaha menambal kebocoran itu, bahasa Lampung dapat punah dalam perkiraan waktu 75–100 tahun lagi.
Perkiraan kasar itu dibuat Gunarwan (1994) berdasarkan temuan yang disajikan dalam tabel di atas. Dengan asumsi bahwa bilangan-bilangan dalam tabel itu akurat, anak-anak yang pada waktu ini berumur 10 tahun (yakni nilai tengah dari kelompok umur 20 tahun) atau lebih muda akan menjadi orang tua (suami-istri) dalam satu generasi (25 tahun) lagi. Artinya, mereka menjadi orang Lampung dalam kelompok umur 31–40 tahun.
Untuk keperluan praktis, misalkan nilai pemilihan bahasa untuk kelompok umur ini tetap 3,43 (seperti yang ditemukan pada waktu penelitian) dan perbedaan nilai kelompok umur <20 style="font-style: italic;">ulun lampung yang jumlahnya sekitar tiga juta orang. Pada saat itu tidak seorang pun lagi yang memahami dan menggunakan bahasa dan tulisan Lampung. Orang Lampung tidak lagi mengenal lima prinsip pedoman bermasyarakat Lampung, yaitu piil pesengiri, nengah nyappur, nemui nyimah, sakai sambayan, dan bejuluk beadek. Orang Lampung tidak lagi mengenal begawi, mepadun, dan berbagai bentuk kelengkapan adat. Tidak lagi mengenal seni budaya Lampung, seperti canggot, sesad, pisaan, pepaccur, ngedio, dan ringget. Sangatlah beralasan kekhawatiran tersebut karena media penyelenggaraan adat piranti tersebut yaitu bahasa Lampung tidak dipergunakan dan tidak dikuasai lagi.
Sepuluh tahun, tidak terasa bagi penulis untuk tetap berupaya mengajak masyarakat Lampung tetap melestarikan, membina, dan menghidupkan bahasa Lampung, baik jalur formal maupun nonformal. Merujuk kepada pendapat kedua pakar tersebut, mendorong penulis untuk tetap berbuat walau sedikit. Secara sadar, perihal pembinaan dan pengembangan bahasa Lampung harus disosialisasikan. Karena itu, Gubernur Lampung Bapak Sjachroedin Z.P. melalui Perda No. 2/2008 sudah memberikan payung hukum sebagai legal formal pembinaan dan pengembangan bahasa dan aksara Lampung.
Kegiatan dilanjutkan sosialisasi ke empat belas kabupaten/kota yang dilaksanakan Biro Hukum Lampung dan Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) pada Desember–Januari 2010. Keberadaan perda tersebut sejalan pemikiran Anton M. Moeliono (1985) yang mengatakan bahwa pembinaan bahasa berkenaan peningkatan jumlah pemakai bahasa dan mutu pemakaian bahasa lewat penyebaran hasil pembakuan, penyuluhan, serta bimbingan dan pengembangan bahasa berkenaan dengan pengembangan sandi bahasa (code). Secara garis besar, Anton M. Moeliono (1985) membaginya menjadi tiga tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap penilaian.
Dalam situasi terdesaknya bahasa daerah di Indonesia yang berjumlah tidak kurang dari 442, di dalamnya termasuk bahasa Lampung, ternyata lahir usaha-usaha untuk membelanya. Sebagai cetusan dari kesetiaan, baik sekadar pernyataan verbal maupun yang berupa usaha yang konkret. Berkaitan otonomi daerah, pelestarian bahasa Lampung dapat dilakukan dengan lebih leluasa merujuk pada UU No. 22/1999. Sejalan usaha-usaha tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa Lampung sebagai alat komunikasi dalam ranah keluarga; masuknya bahasa dan aksara Lampung sebagai muatan lokal sejak pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi; membuka kembali program studi bahasa Lampung atau fakultas bahasa dan budaya Lampung; serta melakukan penelitian dan penerbitan hasil penelitian.
Kemauan untuk memelihara bahasa Lampung dengan sengaja dan terprogram saat ini wajib disambut baik masyarakat Lampung, baik pengguna, pembelajar, dan peneliti bahasa. Karena itu, tidaklah berlebihan jika kita mau pasti kita mampu dan jika kita mampu hurus mau; Mak ganta kapan lagi, mak ram sapa lagi. Jadikanlah bahasa Lampung dengan keragaman variasi dialeknya, penanda kekayaan yang patut dilestarikan sehingga berfungsi sebagai salah satu lambang identitas, kebanggaan, dan alat perhubungan antarmasyarakat Lampung.
* Farida Ariyani, Pendidik dan Pemerhati Bahasa Lampung
Sumber: Radar Lampung, Senin, 22 Februari 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)