February 10, 2007

Esai: Bermimpi tentang Kota Budaya

-- Oyos Saroso HN*


BARU-BARU ini Dewan Kesenian Kota Bandar Lampung (DKBL) menggagas terbentuknya Kota Bandar Lampung sebagai kota budaya. Gagasan awal itu muncul lewat serangkaian diskusi dan musyawarah pembentukan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Dewan Kesenian Kota Bandar Lampung.

Sepintas, gagasan tentang kota budaya adalah pekerjaan sepele. Namun, jika kita telaah lebih jauh upaya menjadikan Bandar Lampung sebagai kota budaya bukanlah persoalan mudah. Sebab, upaya itu harus melibatkan banyak sektor, stakeholder, dan kesadaran dari berbagai kalangan.

Bukan hanya kesadaran dari para seniman-budayawan di Bandar Lampung, melainkan juga kesadaran dan kepedulian yang tinggi dari aparat birokrasi dan legislatif. Tanpa adanya kesadaran dan kepedulian dari banyak pihak, gagasan Bandar Lampung sebagai kota budaya hanya akan menjadi teriakan parau dari menara gading. Alhasil, proses pembentukan kota budaya pada akhirnya terhenti sebagai proyek.

Rencana besar DKBL sebenarnya bukanlah gagasan yang terlampau muluk-muluk atau mengada-ada. Ini kalau landasan pijakannya adalah sejarah demografi Bandar Lampung yang multietnis--sehingga memiliki keragaman seni budaya--dan fakta bahwa Bandar Lampung saat ini menjadi kota yang sangat diperhitungkan dalam percaturan sastra di Tanah Air.

Di Bandar Lampung, hampir ada semua suku bangsa di Indonesia. Mereka hidup berdampingan dengan tetap melanjutkan tradisi budaya sukunya masing-masing. Pluralisme budaya semacam ini nyaris hanya bisa dijumpai di Bandar Lampung dan Jakarta. Kemajemukan budaya itu jelas sebuah kekuatan jika bisa dikelola dengan baik. Bukan hanya kekuatan untuk menempatkan Bandar Lampung sebagai kota multietnis yang paling toleran di Indonesia, melainkan juga menjadi kekuatan untuk menjadi aset wisata.

TEATER. Komunitas Berkat Yakin (KoBER), Lampung mementaskan lakon "Pinangan" karya Anton Chekov.

Tantangan yang terbesar, tentu saja, tata ruang kota yang telanjur kacau balau dan mentalitas warga kota yang payah. Kita tahu selama ini Bandar Lampung telanjur menjadi "kota ruko" yang menafikan unsur arsitektur. Ke depan, citra "kota ruko" itu harus diubah agar arsitektur dan tata ruang kota lebih manusiawi.

Seperti apa wajah Bandar Lampung jika menjadi kota budaya? Sesuai dengan makna budaya yang luas--tidak hanya menyangkut kesenian--kalau kita setuju bahwa kota budaya adalah kota yang dalam seluruh aspek kehidupannya mencerminkan nilai-nilai budaya, maka gambaran kota Bandar Lampung ke depan adalah kota yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, seni budaya yang dipelihara dengan baik. Kedua, gedung-gedung penting yang menghiasi wajah kota memiliki sentuhan nilai arsitektur yang tinggi.

Ketiga, adanya ruang terbuka yang memungkinkan warga kota menghirup udara segar sambil rekreasi. Termasuk di sini adalah tersedianya jalan atau jalur khusus tukang becak, trotoar yang sesuai dengan peruntukannya (untuk jalan kaki), dan taman kota nan asri yang mencerminkan penghuni kota yang memiliki cita rasa seni.

Keempat, adanya sarana berkesenian yang memadai bagi para seniman untuk mengembangkan kreativitasnya. Termasuk di sini adalah gedung kesenian yang memenuhi standar, lembaga kesenian dan lembaga kebudayaan yang profesional.

Untuk menjadi kota budaya, tentu membutuhkan banyak prasyarat. Prasyarat itu, antara lain landasan hukum yang jelas, rencana strategis yang jelas dan terukur, komitmen seluruh warga kota yang tinggi, tersedianya daya dukung fasilitas yang memadai, dan adanya komitmen dari Pemda Bandar Lampung untuk terus melanjutkan perjuangan terciptanya kota budaya.

Landasan hukum bisa diwujudkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang Bandar Lampung sebagai Kota Budaya. Dengan adanya Perda tersebut diharapkan akan ada tanggung jawab dari semua elemen masyarakat dan warga kota untuk mewujudkan Bandar Lampung sebagai kota budaya.

Dalam perda itu juga bisa diatur soal tanggung jawab dan kewajiban bagi para pemilik hotel berbintang untuk turut mendukung terciptanya Bandar Lampung sebagai kota budaya. Secara sederhana, misalnya, dengan mewajibkan para pemilik hotel untuk menyediakan sedikit tempat di ruang lobi hotel bagi pertunjukan kesenian tradisi tiap hari. Komitmen ini sebenarnya sudah dimulai oleh Hotel Sheraton Lampung dengan menampilkan seni musik cetik. Hal yang sama sebenarnya juga dilakukan oleh sejumlah hotel di Yogyakarta, Jakarta, Bali, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya.

Rencana strategis sangat penting karena untuk membangun kota sebagai kota budaya tidak bisa dilakukan secara serampangan dalam tempo singkat. Pembangunan kota budaya harus direncanakan secara matang dan tidak boleh terhenti hanya karena wali kotanya berganti. Dengan begitu, "proyek besar" ini bukan semata-mata kemauannya Dewan Kesenian Kota Bandar Lampung atau proyek politiknya Wali Kota Eddy Sutrisno. Jika perencanaan dan pelaksanaan cita-cita besar ini dilakukan dengan baik dan serius, saya yakin akan banyak manfaatnya bagi warga kota, dan akan membantu siapa pun yang menjadi wali kota Bandar Lampung untuk menciptakan Bandar Lampung sebagai kota terbersih. Logikanya sederhana saja, jika program ini berhasil maka tidak ada lagi perilaku warga kota yang antibudaya. Dengan begitu, keindahan kota akan terawat dan keamanan warga lebih terjamin.

Alhasil, Kota Bandar Lampung tidak saja nyaman sebagai tempat tinggal warganya, tetapi juga menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan domestik maupun mancanegara. Lebih jauh lagi, Kota Bandar Lampung akan menjadi kota yang diperhitungkan dalam percaturan seni budaya di level nasional maupun internasional.

Kalau mimpi itu terwujud, saya membayangkan dua puluh tahun lagi pada malam-malam tertentu anak-anak saya akan bisa menyaksikan pertunjukan drama modern di gedung kesenian yang megah yang disuguhkan Teater Satu pimpinan Iswadi Pratama atau Teater Kober pimpinan Ari Pahala Hutabarat dengan harga karcis Rp200 ribu. Pada malam lain, saya bayangkan anak-anak saya bersama teman-temannya menyaksikan tari bedana, ringget, atau warahan yang dipentaskan para remaja.

* Oyos Saroso HN, pengamat seni-budaya

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 10 Februari 2007

No comments:

Post a Comment

Post a Comment